Anda di halaman 1dari 17

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

CARSINOMA PAROTIS

Telah disetuji pada :


Hari :
Tanggal :

DISUSUN OLEH

THALIA HANA SEPTIARA MULYANA

201820461011091

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING LAHAN


I. KONSEP DASAR TEORI
A. Definisi
Karsinoma parotis adalah tumor kelenjar saliva minor atau mayor biasanya
timbul pada kelenjer parotis submaksila dan sublingual. Sel-sel pada tumor inti masih
memiliki fungsi yang sama dengan asalnya. Tumor-tumor jinak dari glandula parotis
yang teretak di bagian medial n.facialis dapat menonjol ke dalam oropharynx, dan
mendorong tonsil ke medial. Tumor didefinisikan sebagai pertumbuhan baru suatu
jaringan dengan multiplikasi sel-sel yang tidak terkontrol dan progresif, disebut juga
neoplasma. Kelenjar Parotis adalah kelenjar air liur terbesar yang terletak di depan
telinga (Erindra, Rahman, & Hafiz, 2018).
B. Etiologi dan Faktor Resiko
Etiologi dan faktor resiko dari karsinoma parotis dapat berupa (Erindra, Rahman, &
Hafiz, 2018):
1. Idiopatik
Idiopatik adalah jenis yang paling sering dijumpai. Siklus ulserasi yang sangat
nyeri dan penyembuhan spontan dapat terjadi beberapa kali disdalam setahun.
Infeksi virus, defisiensi nutrisi, dan stress emosional, adalah factor etiologik yang
umum.
2. Genetik
Resiko kanker / tumor yang paling besar diketahui ketika ada kerabat utama dari
pasien dengan kanker / tumor diturunkan dominan autososom. Onkogen
merupakan segmen DNA yang menyebabkan sel meningkatkan atau
menurunkan produk produk penting yang berkaitan dengan pertumbuhan dan
difesiensi sel .akibatnya sel memperlihatkan pertumbuhan dan penyebaran yang
tidak terkendali semua sifat sieat kanker fragmen fragmen genetic ini dapat
merupakan bagian dari virus virus tumor.
3. Bahan-bahan kimia
Obat-obatan hormonal Kaitan hormon hormon dengan perkembangan kanker
tertentu telah terbukti. Hormon bukanlah karsinogen, tetapi dapat
mempengaruhi karsigogesis Hormon dapat mengendalikan atau menambah
pertumbuhan tumor.
4. Faktor imunologis
Kegagalan mekanisme imun dapat mampredisposisikan seseorang untuk
mendapat kan kanker tertentu.Sel sel yang mempengaruhi perubahan (bermutasi)
berbeda secara antigenis dari sel sel yang normal dan harus dikenal oleh system
imun tubuh yang kemudian memusnahannya.Dua puncak insiden yang tinggi
untuk tumbuh nya tumor pada masa kanak kanak dan lanjut usia, yaitu dua
periode ketika system imun sedang lemah.
C. Klasifikasi
Klasifikasi tipe-tipe tumor yang dapat terjadi di kelenjar air liur berdasarkan
klasifikasi World Health Organization, secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel
berikut (Erindra, Rahman, & Hafiz, 2018):
Tabel Klasifikasi tumor kelenjar liur jinak dan ganas berdasarkan histiologi
TUMOR JINAK PADA ANAK DAN DEWASA
Tumor kelenjar liur jinak yang paling sering pada anak-anak adalah
hemangioma kelenjar parotis. Tumor ini akan menunjukkan peningkatan ukuran yang
sedikit demi sedikit selama empat sampai enam bulan pertama kehidupan, tetapi
mulai tampak resolusinya pada usia dua tahun. Yang mirip dengan hemangioma
adalah limfangioma, yang juga timbul pada daerah kelenjar parotis. Adenoma
pleomorfik merupakan tumor ketiga terbanyak yang ditemui, dan paling sering tumor
padat, ditemukan pada anak-anak. Tumor jinak lain termasuk neurofibroma dan
lipoma. Tumor kelenjar liur pada anak-anak paling sering mengenai kelenjar parotis,
sedang daerah submandibula dan kelenjar liur minor jarang terjadi.
Pada orang dewasa, tumor kelenjar liur jinak yang sering terjadi antara lain
adenoma pleiomorfik, tumor Warthin, adenoma oksifil, adenoma sel serosa dan
onkositoma.
1. Adenoma Pleiomorfik atau tumor campur jinak
Tumor ini menyebabkan 75% tumor kelenjar parotis, baik jinak maupun
ganas pada dewasa, kebanyakan pada usia 40 tahun ke atas. Tidak ada perbedaan
kejadian antara laki-laki dan perempuan. Nama pleiomorf diambil berdasarkan
gambaran histologi. Walaupun tumor ini tidak bermetastasis, biasanya tingkat
diferensiasinya tinggi dan kapsulnya sering disusupi tumor yang menjadi dasar
tingginya kekambuhan.
Kelainan ini paling sering pada daerah parotis, dimana tampak sebagai
pembengkakan tanpa nyeri yang bertahan untuk waktu lama di daerah depan
telinga atau daerah kaudal kelenjar parotis. Tumor ini tidak menimbulkan rasa
nyeri atau kelemahan saraf fasialis. Pada daerah parotis, meskipun diklasifikasikan
sebagai tumor jinak, dalam ukurannya tumor dapat bertambah besar dan menjadi
destruktif setempat. Reseksi bedah total merupakan satu-satunya terapi.
Perawatan sebaiknya dilakukan untuk mencegah cedera pada saraf fasialis dan
saraf dilindungi walaupun jika letaknya sudah berdekatan dengan tumor.
Secara klinis didapat benjolan pada kelenjar parotis yang ditandai dengan
terangkatnya cuping telinga ke lateral. Tumor bersifat tidak nyeri, berbatas tegas,
dan permukaan licin. Tumor ini tumbuh berangsur dan jika dibiarkan dapat
menjadi besar sekali.
Tumor dapat berkembang pertama kali pada lobus profunda dan meluas ke
daerah retromandibula. Pada keadaan ini saraf fasialis dilindugi secara hati-hati
dan diretraksi dengan lembut sehingga tumor dapat diangkat dari lokasinya yang
dalam ke ruang parafaringeal. Kadang-kadang adenoma pleomorfik lobus
profunda tampak di dalam mulut. Hal ini dapat kita sadari dengan adanya deviasi
palatum mole dan arkus tonsilaris ke garis tengah oleh massa lateral dari daerah
tonsil. Reseksi sebaiknya dilakukan melalui leher daripada melalui dalam mulut.
Ketika mengangkat tumor parotis, seluruh lobus superficial, atau bagian kelenjar
lateral dari saraf fasialis, diangkat sekaligus untuk keperluan biopsy, dipotong
dengan mempertahankan saraf fasialis. Pemeriksaan patologis dari pemotongan
beku tidak dapat memberikan asal tumor yang sebenarnya dan operasi radikal
mungkin dibutuhkan jika hasil pemotongan permanen sudah diperoleh.
“Pelepasan” adenoma pleomorfik pada lobus superficial kelenjar parotis tidak
dianjurkan karena kemungkinan kekambuhan yang tinggi.
Secara histologi, adenoma pleomorfik berasal dari bagian distal saluran liur,
termasuk saluran intercalated dan asini. Campuran dari epitel, mioepitel dan bagian
stroma diwakilkan dengan namanya: tumor campur jinak. Dari ketiga jenis diatas
dapat lebih mendominasi dibandingkan jenis lain namun ketiga jenis tersebut
harus ada untuk mengkonfirmasi diagnosis.
Pada saat operasi massa tumor tampak berkapsul, tetapi pemeriksaan
patologis menunjukkan perluasan keluar kapsul. Jika seluruh tumor dengan massa
kelenjar parotis yang normal mengelilingi tumor direseksi, insidens kekabuhannya
kurang dari 8%. Seandainya adenoma pleomorfik kambuh, terdapat kemungkinan
cedera yang besar pada paling sedikit satu dari bagian saraf fasialis ketika tumor
direseksi ulang.
Meskipun tumor ini dianggap jinak, terdapat kasus kekambuhan yang berkali-
kali dengan pertumbuhan yang berlebihan di mana tumor meluas dan mengenai
daerah kanalis eksterna dan dapat meluas ke rongga mulut dan ruang
parafaringeal. Tumor yang kambuh dapat mengalami degenerasi maligna, tetapi
insidens ini kurang dari 6%. Terapi radiasi terhadap tumor yang kambuh
berulang kali dan tidak dapat direseksi diberikan pengobatan paliatif.
Transformasi menjadi ganas terjadi pada 2-10% adenoma yang diobservasi
untuk waktu yang lama, paling sering menjadi adenokarsinoma.7,9
2. Limfomatosum adenokistoma papilar atau tumor Warthin
Tumor Warthin merupakan tumor jinak kedua tersering pada kelenjar
parotis, yaitu sekitar 6-10% diantara semua tumor parotis. Tumor ini kebanyakan
didapatkan pada pria usia pertengahan atau tua (60-70 tahun), sering pada
kelenjar parotis, dan sering terjadi bilateral. Namun insidensinya pada wanita
mulai meningkat kemungkinan seiring dengan banyaknya wanita yang merokok.
Tanda dan gejalanya sama dengan adenoma pleiomorfik. Secara histologi
didapatkan infiltrasi limfositik dan proliferasi epitel kistik. Pengobatan yang
dianjurkan adalah parotidektomi superfisial dengan preservasi n. fasialis untuk
mencegah kekambuhan. Transformasi menjadi ganas jarang terjadi.
3. Onkositoma
Tumor kelenjar liur jinak lain adalah onkositoma yang insidensnya kurang
dari 1% dari semua tumor parotis. Tumor ini paling sering pada usia 60an dan
angka kejadiannya tidak berbeda pada perempuan maupun laki-laki. Onkositoma
sering berupa massa yang tidak nyeri di lobus superfisial kelenjar parotis dan
parotidektomi dengan preservasi n. fasialis merupakan terapi pilihan.
TUMOR GANAS PADA ANAK DAN DEWASA
1. Karsinoma mukoepidermoid
Tumor ganas parotis pada anak jarang. Tumor paling sering pada
anak adalah karsinoma mukoepidermoid, biasanya derajatnya rendah.
Insidensinya sekitar 30% dari semua keganasan parotis. Karsinoma
mukoepidermoid biasanya diklasifikasikan sebagai derajat rendah, menengah,
dan tinggi. Derajat tinggi berhubungan dengan prognosis yang buruk. Tumor
derajat rendah memiliki presentasi sel mukoid yang tinggi, dimana sel
epithelial lebih dominan di tumor derajat tinggi. Tumor derajat rendah
biasanya kecil dan sebagian ditutupi kapsul, sedangkan tumor derajat tinggi
biasanya lebih besar dan invasif lokal.
Pada keadaan tertentu, bahkan setelah dilakukan reseksi adekuat, jika
terdapat bukti penyakit metastasis, terapi radiasi pasca-operasi disarankan.
Perlu dipertimbangkan secara hati-hati untuk memberikan radiasi pada anak
untuk mendapatkan gambaran komplikasi potensial yang akan datang. Pada
keadaan tertentu seperti jika timbul invasive pada saraf atau pembuluh darah,
atau timbulnya penyakit metastasis perlu dilakukan radiasi.
2. Adenokarsinoma
Adenokarsinoma merupakan keganasan parotis kedua tersering pada
anak-anak. Adenokarsinoma paling sering terjadi di kelenjar liur minor,
diikuti oleh kelenjar parotis. Insidensinya sekitar 15% dari semua tumor
parotis ganas. Tumor ini memiliki potensi yang kuat untuk kambuh dan
metastasis.
3. Karsinoma adenokistik (silindroma)
Karsinoma adenokistik (silindroma) merupakan tumor kelenjar liur
spesifik yang termasuk tumor dengan potensial ganas derajat tinggi. Sekitar
10-15% tumor parotis ganas merupakan karsinoma adenokistik. Tumor ini
beresiko sama untuk laki-laki maupun perempuan, pada usia sekitar 50 tahun.
Paralisis wajah dan nyeri sebagai gejala awal hanya timbul di sebagian kasus.
Tumor ini berbeda dari tumor-tumor sebelumnya karena mempunyai
perjalanan penyakit yang panjang ditandai oleh kekambuhan lokal yang
sering, dan kekambuhan dapat terjadi setelah 15 tahun. Penderita dengan
karsinoma adenokistik mempunyai angka harapan hidup tinggi hingga lima
tahun, angka harapan hidup yang secara keseluruhan sepuluh tahun
ditemukan kurang dari 20%.
Terapi tumor ganas derajat tinggi meliputi reseksi bedah radikal
tumor primer, jika perlu struktur vital yang berdekatan seperti mandibula,
maksila, dan bahkan tulang temporalis. Agar eksisi yang sempurna pada
tumor-tumor ganas ini, bagian saraf fasialis yang berdekatan dengan tumor
harus dieksisi. Pencangkokan saraf untuk mengembalikan kontinuitas saraf
dapat dipertimbangkan manfaatnya karena dapat mengembalikan fungsi saraf
fasialis tersebut. Jika telah menunjukkan paralisis saraf fasialis, maka
prognosisnya buruk.
4. Karsinoma sel asini
Terjadi pada sekitar 5-11% dari tumor kelenjar liur dan mayoritas
pada kelenjar parotis. Tumor ini menyerang lebih banyak wanita dibanding
pria. Puncak insidens antara usia dekade 4 dan 6. Tumor ini merupakan
tumor derajat sedang dengan potensial keganasan yang rendah. Tumor bisa
bilateral atau multisentrik dan biasanya padat, jarang kistik.
5. Karsinoma sel skuamosa
Umumnya jarang terjadi pada kelenjar parotis dan metastasis dari
tempat lain dapat dieksklusikan. Tumor ini lebih sering pada pria usia tua (70
tahun). Memiliki insidensi tinggi unuk metastasis regional dan jauh. Terapinya
terdiri dari reseksi total dan terapi radiasi pasca operasi. Prognosis tumor ini
buruk.
6. Karsinoma duktus saliva
Tumor ini jarang dan merupakan tumor yang sangat agresif. Tumor
ini terdiri atas dua tipe. Tipe sel ductal kebanyakan jinak dan jarang
metastasis. Tipe neuroendokrin lebih sering agresif dan memiliki potensi
metastatik yang tinggi.
7. Tumor Ganas campuran
Istilah tumor ganas campuran berdasarkan temuan klinis dan
histologi, terdiri atas: carcinoma ex-pleomorphic adenoma, karsinosarkoma, dan
tumor metastasis campuran. Tumor ini paling sering muncul dari adenoma
pleomorfik yang berulang (carcinoma ex-pleomorphic adenoma). Insidensi tumor
ini sebesar 2-5% dari semua tumor kelenjar liur. Tumor ini juga dapat
berkembang secara de novo (karsinosarkoma), dimana semakin lama suatu
adenoma, maka semakin tinggi pula kesempatan untuk degenerasi menjadi
keganasan.
8. Limfoma maligna
Limfoma maligna primer dari kelenjar saliva jarang, pada umumnya di
dapat pada lelaki usia tua. Hal ini juga diamati pada sekitar 5-10% pasien
dengan tumor Warthin kelenjar parotis. Terapi optimal adalah biopsy dengan
terapi radiasi pada daerah itu.
9. Metastasis ke Kelenjar Parotis dari tempat lain
Kelenjar parotis dapat menjadi tempat metastasis dari keganasan yang
berasal dari kulit, ginjal, paru, payudara, prostat, dan saluran pencernaan.
D. Manifestasi Klinis
Tanda gejala pada karsinoma parotis dapat berupa (Erindra, Rahman, & Hafiz, 2018):
1. Adanya benjolan yang mudah digerakkan
2. Pertumbuhan amat lambat
3. Tidak memberikan keluhan
4. Paralisis fasial unilateral
E. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan fisik biasanya akan menunjukkan adanya pembesaran
kelenjar liur dan biasanya hanya pada satu sisi. Selanjutnya kita dapat melakukan
pemeriksaan penunjang, seperti (Erindra, Rahman, & Hafiz, 2018):
1. Pemeriksaan rontgen dari kelenjar liur (ptyalogram atau sialogram) untuk melihat
adanya tumor.
2. USG, CT-scan, atau MRI untuk mengkonfirmasi adanya pertumbuhan, dan
untuk melihat jika kanker telah menyebar ke kelenjar limfe di leher.
3. Biopsi kelenjar liur atau fine needle aspiration (FNAB) untuk membedakan apakah
tumor jinak atau ganas. Penggunaan FNAB pada kasus suspek keganasan masih
menjadi perdebatan. Beberapa peneliti mengatakan pemeriksaan ini memiliki
sensitivitas yang rendah, namun Bussu et al dalam penelitiannya menemukan
bahwa FNAB dapat bermanfaat dalam beberapa hal:
 Ketika hasil (+), hal ini hampir mengkonfirmasi kecurigaan keganasan
(spesifisitas tinggi) dan membuat kita tidak hanya berencana untuk
melakukan pembedahan dan juga memungkinkan untuk prosedur
rekonstruksi n. fasialis.
 Ketika pembedahan tidak diindikasikan karena karakteristik dari pasien
(kondisi umum buruk) tetapi juga tumor itu sendiri (penyakit menular),
maka menegakkan diagnosis pada lesi parotis dengan FNAB sangatlah
penting.
 Jika hasil FNAB menunjukkan suatu limfoma, maka alur diagnostic dan
terapeutiknya akan berubah dan parotidektomi dapat dihindari.
F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis untuk tumor parotis yaitu dengan tindakan ekstervasi
(pengangkatan). Glandula submandibularis dan glandula sublingualis
 Tumor – tumor jinak :Eksis local yang luas dari seluruh kelenjer ludah
dengan sebagian daerah sekitarnya.
 Tumor-tumor ganas: Disseksi kelenjer leher “en-bloc” dan eksisi luas
kedua kelenjer ludah, radioterapi.
Massa tersendiri pada kelenjer saliva harus dipertimbangkan sebagai suatu
kemungkinan keganasan. Riwayat dan pemeriksaan fisik memberikan tanda-
tanda penting apakah suatu lesi kelenjer saliva adalah keganasan. Resolusi
lengkap dan trial terapeutik adekuat. Aspirasi jarum halus dapat membantu untuk
merencanakan bedah eksisi. MRI memberikan informasi anatomi paling baik
tentang ukuran tumor dan penetrasi. Sialografi, atau injeksi bahan kontras ke
dalam duktus stenson atau Wharton, berguna untuk memperlihatkan perbedaan
perubahan stenotik kronis pada lesi-lesi limfoepitelial dari penyumbatan karena
batu. 80% batu kelenjer submandibular adalah radioopak. (Schwartz, 2000)
2. Penatalaksanaan non medis
Tumor parotis juga dapat diobati dengan obat tradisional atau disembuhkan
dengan meminum rebusan daun sirsak. Kanker merupakan penyakit yang
mematikan dan pengobatan nya melewati kemoterapi. Pengobatan-pengobatan
kimia walaupun berhasil membunuh kanker, tetapi tidak menutup kemungkinan,
sel-sel akan tumbuh kembali dan menyebar. Daun sirsak baru diketahui memiliki
khasiat sebagai pembunuh kanker, walaupun sebenarnya khasiat ini sudah
ditemukan dari beberapa tahun silam. Menurut hasil riset Dr. Jerry McLaughlin
dari Universitas Purdue, Amerika Seikat, daun sirsak mengandung senyawa
acetoginis yang terdiri dari annomuricin F yang bersifat sitotoksik atau
membunuh kanker. Untuk pengobatan, daun sirsak selain di konsumsi tunggal,
akan lebih baik bila di konsumsi berbarengan dengan herbal jenis lainnya seperti
sambiloto, temu putih atau temu mangga. Perpaduan beberapa jenis herbal akan
bersifat sinergis dan saling mendukung untuk mempercepat proses penyembuhan
penyakit. (Erindra, Rahman, & Hafiz, 2018)
G. Komplikasi
Komplikasi – komplikasi pengobatan kanker kepala dan leher dapat di
kelompokkan sebagai anatomis, fisiologis, teknik atau fungsional. Pendekatan paling
baik pada komplikasi adalah pencegahan. Perbaikan dini keseimbangan mellitus, dan
penghentian ketergantungan alcohol adalah pengukuran non-spesifik yang penting.
Penggunaan antibiotic praoperasi tampaknya menurunkan kecendrengunan infeksi
luka dan gejala sisa nya. Pengobatan radiasi pra operasi diberikan dalam dosis
terapeutik jelas meningkatkan resiko komplikasi. Pendidikan untuk penderita sangat
penting untuk mendapatkan kerjasama dimana mungkin terjadi penyulit rehabilitasi
pascaoperasi (Erindra, Rahman, & Hafiz, 2018).
H. Pathway
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengakjian merupakan langkah awal dasar dari proseskeperawatan. Tujuan
utama dari pengkajian ini adalah untuk mendapatkan data secara lengakap dan akurat
karena dari data tersebut akan ditentukan masalah keperawatan yang dihadapi klien.
1. Pengkajian umum :
a. Identitas klien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, tanggal
pengkajian, diagnosa medis, rencana terapi
b. Identitas penanggung jawab : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat
c. Alasan masuk rumah sakit
2. Data riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat klien pernah menderita penyakit akut / kronis, Riwayat klien pernah
menderita tumor lainnya, Riwayat klien pernah memakai kontrasepsi
hormonal, pil ,suntik dalam waktu yang lama, Riwayat klien sebelumnya
sering mengalami peradangan kelenjer parotis.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Perlu diketahui:
 Lamanya sakit: Lamanya klien menderita sakit kronik / akut
 Factor pencetus: Apakah yang menyebabkan timbulnya nyeri, sters,
posisi, aktifitas tertentu
 Ada tidak nyakeluhan sebagai berikut: demam, batuk, sesak nafas,
nyeri dada, malaise
c. Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular atau
kronis.Menderita penyakit kanker atau tumor.
3. Pemeriksaan fisik
 Keadaan umum
 TTV
 Tingkat kesadaran
 Rambut dan hygiene kepala. Keadaan rambut biasanya kotor, berbau,
biasanya juga ada lesi, memar,dan bentuk kepala
 Mata. Pemeriksaan mata meliputi konjungtiva, sclera mata, keadaan pupil
 Gigi dan mulut. Meliputi kelengkapan gigi, keadaan gusi, mukosa bibir,
warna lidah, peradangan pada tonsil.
 Leher
 Inspeksi dalam keadaan istirahat: pembengkakan yang abnormal,
Penderita juga diperiksa dari belakang. Kulitnya abnormal, Dinilai
saluran-saluran keluar kelenjer ludah dan melakukan pemeriksaan
intraoral. Inspeksi pada gerakan. Dinilai fungsi n.facialis,
n.hipoglosus dan otot-otot, trismus fiksasi pada sekitarnya ada
pembnengkakkan atau tidak.
 Palpasi: Selalu bimanual, dengan satu jari di dalam mulut dan jari-
jari tangan lainnya dari luar. Tentukan lokalisasi yang tepat,
besarnya (dalam ukuran cm), bentuk, konsistensi dan fiksasi
kepada sekitarnya.
 Stasiun-stasiun kelenjer regional: Selalu dinilai dengan teliti dan
dicatat besar, lokalisasi, konsistensi, dan perbandingan terhadap
sekitarnya. Selalu diperlukan pemeriksaan klinis daerah kepala dan
leher seluruhnya.
 Dada / thorak: Biasanya jenis pernapasan klien dada dan perut, terjadi
perubahan pola nafas dan lain-lain
 Cardiovaskuler: Biasanya akan terjadi perubahan tekanan darah klien dan
gangguan irama jantung
 Pencernaan/Abdomen: Ada luka, memar, keluhan (mual, muntah, diare)
dan bising usus
 Genitalia: Kebersihan dan keluhan lain nya
 Ekstremitas: Pembengkakan, fraktur, kemerahan, dan lain-lain.
4. Aktifitas sehari-hari
Pada aktifitas ini biasanya yang perlu diketahui adalah masalah, makan, minum,
bak, bab, personal, hygine, istirahat dan tidur. Biasanya pada klien dengan tumor
parotis tidak terjadi keluhan pada saat beraktifitas karena kien tidak ada
mengeluhkan nyeri sebelum dilakukan operasi.
5. Data social ekonomi
Menyangkut hubungan pasien dengan lingkungan social dan hubungan dengan
keluarga
6. Data psikologis
Kesadaran emosional pasien
7. Data spiritual
Data diketahui, apakah pasien/keluarga punya kepercayaan yang bertentangan
dengan kesehatan.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
suplai nutrisi.

2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipermetabolisme


ke jaringan CA.
3. Nyeri akut berhubungan dengan interupsi sel syaraf sekunder terhadap
hyperplasia sel
4. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan perfusi jaringan terganggu
5. Cemas berhubungan dengan Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis
dan kebutuhan pengobatan
6. Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawatan,pengobatan kurang paparan
terhadap informasi
7. Gangguan body image
C. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
suplai nutrisi.
NOC : Nutritional Status: food and Fluid Intake
a. Adanya peningkatan berat badan 4
b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan 4
c. Identifikasi kebutuhan nutrisi 4
d. Tanda-tanda malnutrisi 4
e. Penurunan berat badan 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Nutrition Management

1. Kaji adanya alergi makanan


2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5. Berikan substansi gula.
6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
7. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipermetabolisme
ke jaringan CA.
NOC : Circulation status dan Tissue Prefusion : cerebral
a. Tekanan darah systole 4
b. Tekanan darah diastole 4
c. Ortostatikhipertensi 4
d. Peningkatan tekanan intrakranial 4
e. Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan 4
f. Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi 4
g. Memproses informasi 4
h. Membuat keputusan dengan benar 4
i. Tingkat kesadaran 4
j. Gerakan gerakan involunter 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5= Tidak ada deviasi dari kisaran normal
NIC : Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer)

1. Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap


panas/dingin/tajam/tumpul.
2. Monitor adanya paretese.
3. Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lsi atau laserasi.
4. Gunakan sarun tangan untuk proteksi.
5. Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung.
6. Monitor kemampuan BAB.
7. Kolaborasi pemberian analgetik.
8. Monitor adanya tromboplebitis.
9. Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi.
3. Nyeri akut berhubungan dengan interupsi sel syaraf sekunder terhadap
hyperplasia sel.
NOC : Kontrol nyeri
a. Intensitas nyeri 4
b. Skala nyeri 4
c. Frekuensi nyeri 4
d. Tanda-tanda vital 4
e. Ekspresi wajah meringis 4
Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Manajemen nyeri


1. Lakukan pengkajian ulang nyeri.
2. Observasi reaksi non verbal pasien.
3. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.
5. Tingkatkan istirahat.
6. Ajarkan teknik non farmakologi.
7. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
8. Evaluasi keefektifan control nyeri.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions
Classification (NIC), edisi ke-6. Singapore: Elsevier.

Erindra, A., Rahman, S., & Hafiz, A. (2018). Penatalaksanaan Karsinoma Kelenjar Parotis. Jurnal
Kesehatan Andalas.

Herdman, H. T., & Kamitsuru, S. (2015). Nanda International Inc. diagnosis keperawatan: definisi dan
klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC),
5th edition. Singapore: Elsevier.