Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

KATARAK

OLEH :

THALIA HANA SEPTIARA MULYANA

201820461011091

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2019
A. KONSEP DASAR MEDIS
I. PENGERTIAN
Katarak adalah kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur – angsur
penglihatan kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya. Katarak adalah terjadinya
opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul lensa. Umumnya akibat dari proses
penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun (Fitria, 2017).
II. ETIOLOGI
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Maria, 2017):
1. Usia lanjut dan proses penuaan.
2. Congenital atau bisa diturunkan.
3. Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti rokok atau
bahan beracun lainnya.
4. Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya
diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti (Maria, 2017):
1. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan
metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang seperti
kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetic.
III. KLASIFIKASI
Berdasarkan garis besar katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut (Maria,
2017):
1. Katarak perkembangan ( developmental ) dan degenerative.
2. Katarak trauma : katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata.
3. Katarak komplikata (sekunder): penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti
DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan pada lensa yang akan
menimbulkan katarak komplikata.
Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam (Maria, 2017) :

1. Katarak kongeniatal, Katarak yang di temukan pada bayi ketika lahir (sudah
terlihat pada usia dibawah 1 tahun).
2. Katarak juvenile, Katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan di bawah usia 40
tahun.
3. Katarak presenil, Katarak sesudah usia 30-40 tahun.
4. Katarak senilis, Katarak yang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Jenis katarak
ini merupakan proses degenerated (kemunduran) dan yang paling sering
ditemukan.
Adapun tahapan katarak senilis adalah (Maria, 2017):
1. Katarak insipien : pada stadium insipien (awal) kekeruhan lensa mata masih
sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa.
Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur.
Penderita pada stadium ini seringkali tidak merasakan keluhan atau gangguan
pada penglihatannya sehingga cenderung diabaikan.
2. Katarak immataur : lensa masih memiliki bagian yang jernih.
3. Katarak matur : Pada stadium ini proses kekeruhan lensa terus berlangsung dan
bertambah sampai menyeluruh pada bagian lensa sehingga keluhan yang sering
disampaikan oleh penderita katarak pada saat ini adalah kesulitan saat membaca,
penglihatan menjadi kabur, dan kesulitan melakukan aktifitas sehari-hari.
4. Katarak hipermatur : terdapat bagian permukaan lensa yang sudah merembes
melalui kapsul lensa dan bisa menyebabkan peradangan pada stuktur mata yang
lainnya.
IV. MANIFESTASI KLINIK
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain (Maria, 2017):
1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta
gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
2. Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari.
Gejala objektif biasanya meliputi (Maria, 2017):
1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tidak akan
tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah opak, cahaya akan dipendarkan
dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada
retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
2. Pupil yang normalnya hitam akan tampakh abu-abu putih. Penglihatan seakan-
akan melihat asap dan pupil mata seakan bertambah putih.
3. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih,
sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negative.
Gejala umum gangguan katarak meliputi (Maria, 2017):

1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.


2. Gangguan penglihatan bisa berupa.
3. Peka terhadap sinar atau cahaya.
4. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
5. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
6. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Gejala lainya adalah (Maria, 2017) :
1. Sering berganti kaca mata.
2. Penglihatan sering pada salah satu mata.
V. PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal transparansi lensa terjadi karena adanya

keseimbangan antara protein yang dapat larut dengan protein yang tidak dapat larut

dalam membran semipermeable. Apabila terjadi peningkatan jumlah protein yang

tidak dapat diserap, mengakibatkan jumlah protein dalam lensa melebihi jumlah

protein pada bagian lain sehingga membentuk massa transparan atau bintik kecil di

sekitar lensa, membentuk suatu kapsul yang dikenal dengan katarak. Terjadinya

penumpukan cairan dan disintegrasi pada serabut tersebut mengakibatkan jalannya

cahayanya terhambat dan mengakibatkan gangguan penglihatan (Fitria, 2017).


VI. KOMPLIKASI
1. Glaucoma
2. Uveitis
3. Kerusakan endotel kornea
4. Sumbatan pupil
5. Edema macula sistosoid
6. Endoftalmitis
7. Fistula luka operasi
8. Pelepasan koroid
9. Bleeding
(Maria, 2017)
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan
kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit system saraf,
penglihatan ke retina.
2. Lapang Penglihatan : penuruan mngkin karena massa tumor, karotis, glukoma.
3. Pengukuran Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg).
4. Pengukuran Gonioskopi : membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma.
5. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glukoma.
6. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optic,
papilledema, perdarahan.
7. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
8. EKG, kolesterol serum, lipid
9. Tes toleransi glukosa : kotrol DM
10. Keratometri.
11. Pemeriksaan lampu slit.
12. A-scan ultrasound (echography).
13. Penghitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi & implantasi.
14. USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak.
(Maria, 2017)
VIII. PENCEGAHAN
Disarankan agar banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung
vitamin C, B2, A, dan E. Selain itu, untuk mengurangi pajanan sinar matahari (sinar
UV) secara berlebihan, lebih baik menggunakan kaca mata hitam dan topi saat keluar
pada siang hari (Maria, 2017).
IX. PENATALAKSANAAN
1. Pembedahan

Metoda yang paling populer dalam mengeluarkan katarak adalah ECC

(extracapsular cataract extraction) atau ekstraksi lensa ekstrakapsular.

Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan

akut untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam

penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi

bila ketajaman pandangan mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup atau bika

visialisasi segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan

berbagai penyakit retina atau saraf optikus seperti : diabetes dan glaukoma. Ada

dua macam teknik pembedahan, yaitu ekstraksi katarak intra kapsuler dan

esktraksi katarak ekstra kapsuler (Fitria, 2017).

2. Koreksi lensa

Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilaton pupil dan retraksi kuat

sampai titik dimana kelayan melakukan aktivitas sehari – hari, maka penanganan

konservatif.

Dilakukan karena lensa atau isi lensa dikeluarkan maka perlu

menggantikannya, yaitu dengan lensa intraokular. Ini yang paling sering.

Sedangkan metode lain adalah lensa eksternal, kaca mata katarak atau lensa

kontak (contact lens) (Fitria, 2017).


X. PATHWAY

XI. Trauma Degeneratif Penyakit lain

Perubahan serabut Kompresi sentral Jumlah protein meningkat

Densitas

Keruh

Lensa mata

Katarak

Menghambat jalan cahaya

Penurunan ketajaman penglihatan

Pembedahan Penglihatan berkurang /


buta

Pre Operasi Post Operasi Gangguan Persepsi Resiko Cedera


Sensori Visual

Ansietas Nyeri Akut


B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak adalah :
1. Keterangan lain mengenai identitas pasien.
Pada pasien dengan katarak konginetal biasanya sudah terlihat pada usia di bawah
1 tahun, sedangakan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia < 40 tahun,
pasien dengan katarak presenil terjadi pada usia sesudah 30-40 tahun, dan pasien
dengan tarakan senilis terjadi pada usia >40 tahun.
2. Riwayat penyakit sekarang
Merupakan penjelasan dari keluhan utama. Misalnya yang sering terjadi pada
pasien dengan katarak adalah penurunan ketajaman penglihatan.
3. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM<
hipertensi, pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolis lainnya
memicu resiko katarak.
4. Aktifitas istirahat
Gejala yang terjadi pada aktifitas istirahat yakni perubahan aktifitas biasanya atau
hobi yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.
5. Neurosensori
Gejala yang terjadi pada neurosensori adalah gamgguam penglihatan kabur/tidak
jelas, sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan
perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat atau merasa di ruang gelap.
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahay/pelangi di sekita sinar,
perubahan kacamata, pengobatan tidak memperbaiki penglihatan, fotophobia
(glukoma akut).
Gejala tersebut ditandai dengan mata tampak kecoklatan atau putih susu pada
pupil (katarak), pupil menyempit dan merah atau mata keras dan kornea berawan
(golukoma berat atau peningkatan air mata).
6. Nyeri / kenyamanan
Gejalanya yaitu ketidaknyamanan ringan / atau mata berair. Nyeri tiba-tiba/berat
menetap atau tekanan pada atau sekitar mata, dan sakit kepala.
7. Pembelajaran / pengajaran
Pada pengkajian klien dengan gangguan mata ( katarak ) kaji riwayat keluarga
apakah ada riwayat diabetes atau gangguan system vaskuler. Kaji riwayat stress,
alergi, gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena,
ketidakseimbangan endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi,
steroid/toksisitas fenotiazin.
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre operasi
1. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan
gangguan penerimaan sensori/status organ indera.
2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan –
kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi,
kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif.
4. Ansietas berhubungan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan.
5. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.
Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan trauma insisi.
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasive insisi
jaringan tubuh.
3. Gangguan persepsi-sensori perseptual penglihatan berhubungan dengan
gangguan penerimaan sensori/status organ indera.
4. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan –
kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
III. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang proses
penyakit.
NOC : Kowlwdge : disease process dan Kowledge : health Behavior
a. Paham tentang penyakit 4
b. Paham tentang kondisi penyakit 4
c. Paham tentang prognosis peyakit 4
d. Paham tentang program pengobatan penyakit 4
Keterangan outcomes:
1 = Berat
2 = Cukup berat
3 = Sedang
4 = Ringan
5 = Tidak ada

NIC : Teaching: disease Process

1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit


yang spesifik
2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan
dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara
yang tepat
4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
7. Hindari harapan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang
tepat
9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
13. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada
pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
NOC : Kontrol nyeri
a. Intensitas nyeri 4
b. Skala nyeri 4
c. Frekuensi nyeri 4
d. Tanda-tanda vital 4
e. Ekspresi wajah meringis 4

Keterangan outcomes:
1 = Deviasi berat dari kisaran normal
2 = Deviasi cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal

NIC : Manajemen nyeri


1. Lakukan pengkajian ulang nyeri.
2. Observasi reaksi non verbal pasien.
3. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.
5. Tingkatkan istirahat.
6. Ajarkan teknik non farmakologi.
7. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
8. Evaluasi keefektifan control nyeri.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016). Nursing Interventions
Classification (NIC), edisi ke-6. Singapore: Elsevier.

Fitria, N. (2017). Katarak. e-jurnal keperawatan.

Keliat, B. A., Mediani, H. S., & Tahlil, T. (2018). NANDA-I diagona keperawatan : definisi dan klasifikasi
2018-2020 (11 ed.). Jakarta: EGC.

Maria, A. (2017). Penatalaksanaan Katarak. e-jurnal keperawatan.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes Classification (NOC),
5th edition. Singapore: Elsevier.