Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali seperti perambahan
hutan dan penebangan liar menyebabkan hilangnya tutupan lahan hutan serta daya
dukung lingkungan menjadi lebih terbatas, sehingga sering terjadi bencana banjir
dan kekeringan. Daya dukung lingkungan yang terbatas tersebut dapat
meningkatkan kejadian banjir dan kekeringan dengan intensitas yang semakin
kuat. Secara nasional dari sektor pertanian tercatat rerata luas padi sawah yang
tergenang banjir mencapai 100 ribu ha/tahun, akibat kekeringan mencapai lebih
dari 200 ribu ha/tahun, dan kebakaran hutan lebih dari 100 ribu ha pada
tahuntahun El Nino (Pawitan 2003).
Kekeringan merupakan suatu kejadian alam yang sangat berpengaruh
terhadap ketersediaan cadangan air dalam tanah, baik yang diperlukan untuk
kepentingan pertanian maupun untuk kebutuhan manusia. Kekeringan juga
merupakan masalah sumber daya air yang kompleks, melibatkan banyak pihak
dan membutuhkan tindakan individual atau kolektif terpadu untuk mengamankan
pasokan air. Bencana kekeringan berlangsung dengan proses yang lambat
sehingga dikatakaan sebagai sebagai bencana merangkak (creeping disaster).
Datangnya tidak tiba-tiba seperti banjir atau gempa bumi, namun timbul secara
perlahanlahan sehingga sangat mudah diabaikan. Awal dan akhir bencana
kekeringan tidak bisa diketahui secara pasti.
Kekeringan merupakan ancaman yang paling mengganggu sistem produksi
pertanian Usaha yang penting untuk mengantisipasi kekeringan adalah
pemahaman terhadap karakteristik iklim dan analisis sifat-sifat hujan yang dapat
menggambarkan kondisi kekeringan secara fisik disuatu lokasi. Untuk
mengetahui tingakat kekeringan meteorologis bulanan di disuatu lokasi dapat
digunakan salah satu metodete analisis indek kekeringan SPI (Standardized
Precepitation Index). Analisis indeks kekeringan digunakan untuk menunjukkan
tingkat kelas atau derajat kekeringan, dimana tingkat kekeringan suatu wilayah

1
berbeda satu dengan lainnya sehingga dapat diketahui tingkat atau derajat
kekeringan yang terjadi.
Analisis keterkaitan antara karakter kekeringan dengan indeks adalah upaya
untuk menerjemahkan nilai-nilai dari indeks atau derajat kekeringan ke dalam
besaran fisik yang menunjukkan sifat-sifat dari parameter kekeringan yang diolah
berdasarkan data curah hujan. Delineasi wilayah rawan kekeringan adalah
tahapan menggambarkan kondisi dan sifat kekeringan di lokasi penelitian melalui
informasi secara spasial dalam bentuk peta sehingga dapat dilihat sebaran wilayah
yang mengalami kekeringan berdasarkan kriteria pada nilai indeks kekeringannya
(Suryanti 2008).

1.2 Maksud dan Tujuan


Untuk menghitung indeks kekeringan di Kabupaten Maros dengan
menggunakan metode SPI.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Standardized Precipitation Index (SPI)


Metode SPI (Standardized Precipitation Index) pertama kali dikembangkan
oleh McKee tahun 1993 yang merupakan salah satu metode perhitungan indeks

2
kekeringan yang sering digunakan untuk mengidentifikasi peristiwa kekeringan
dan untuk mengevaluasi tingkat kekeringan berdasarkan nilai-nilai dari
klasifikasi tingkat kekeringannya (McKee et al. 1993).
Menurut Bordi et al. (2009), SPI banyak digunakan karena dapat
memberikan perbandingan yang handal dan relatif mudah digunakan pada
kondisi iklim dan tempat yang berbeda. Metode ini dapat menggambarkan
dampak kekeringan baik jangka pendek maupun jangka panjang karena
menggunakan data statistik yang konsisten. Bersadasarkan deklarasi Lincoln
Decralation on droght Indices yang dihasilkandari Workshop on Indices and
Early Warning System for Drought di University of Nebraska-Lincoln myatakan
bahwa SPI akan mencerminkan sifat kekeringan meteorologi di Seluruh dunia.
Kelebihan SPI adalah sederhana dengan input hujan serta mampu
menjelaskan kekeringan menggunkan skala waktu, dan dapat mengidentifikasi
kering dan basah dengan cara yang sama. Kelemaha SPI adalah menggukan seri
waktu variable hujan yang cukup panjang dan handal dan hanya dapat
menjelaskan kekeringan meteorologi. Skala waktu mencerminkan kondisi
propogasi air hujan menjadi siklus hidrologi seperti pada skala waktu satubulan,
tiga bulan, enam bulan sapai 12 bulan (Bokal 2011).
Penelitian ini menggunakan metode SPI pada skala waktu satu bulan. Menurut
BMKG (2013) SPI merupak indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan
curah hujan terhadap normalnya, dalam satu periode waktu yang panjang (bulanan,
dua bulanan, tida bulanan dst.). Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik
probalistik berdasarkan selisih antara hujan yang sebenarnya terjadi dengan rata-rata
menggunakan skala waktu tertentu, dibagi dengan simpangan bakunya. Metode yang
digunakan untuk menghilangkan faktor musim pada deret data dengan sebaran
bulanan dilakukan transformasi data dengan mengubah data menjadi peluang kumulatif
dengan jenis distribusi Gamma. Selanjutnya diubah menjadi bentuk distribusi Normal
Baku (standar) dan nilai yang dihasilkan merupakan indeks kekeringan SPI. Derdasarkan
nilai SPI tingkat kekeringan dan kebasahan dapat dikategorikan sebagai berikut:

3
Nilai SPI Kategori
≥2 Sangat Basah
1.50 s/d 1.99 Basah
1.00 s/d 1.49 Agak Basah
-0.99 s/d 0.99 Normal
-1.00 s/d -1.49 Agak Kering
-1.50 s/d -1.99 Kering

≤ -2 Sangat Kering

2.2 Kekeringan
Kekeringan diawali dengan berkurangnya jumlah curah hujan dibawah
normal pada satu musim, kejadian ini adalah kekeringan meteorologis yang
merupakan tanda awal dari terjadinya kekeringan. Tahapan selanjutnya adalah
berkurangnya kondisi air tanah yang menyebabkan terjadinya stress pada
tanaman (disebut kekeringan pertanian), Tahapan selanjutnya terjadinya
kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah yang ditandai menurunya tinggi
muka air sungai ataupun danau (disebut kekeringan hidrologis). Kekeringan
dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
1. Kekeringan Meteorologi (Meteorology Drought) Didefiniskan sebagai
kekurangan hujan dari yang normal atau diharapkan selama periode waktu
tertentu. Perhitungan tingkat kekeringan meteorologis merupakan indikasi
pertama terjadinya kondisi kekeringan.
2. Kekeringan Pertanian (Agricultural Drought) Kekeringan pertanian ini
terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan meteorologis. Kekeringan ini
berhubungan dengan berkurangnya kandungan air dalam tanah (lengas
tanah) sehingga tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bagi tanaman
pada suatu periode tertentu. Dicirikan dengan kekurangan lengas tanah,
3. Kekeringan Hidrologi (Hydrological Drought) Didefinisikan sebagai
kekurangan pasok air permukaan dan air tanah dalam bentuk air di danau

4
dan waduk, aliran sungai, dan muka air tanah. Kekeringan hidrologis
diukur dari ketinggian muka air sungai, waduk, danau dan air tanah.

2.3 Metode Analisa Indeks Kekeringan


Kekeringan meteorologis merupakan indikasi awal dalam terjadinya
kekeringan, sehingga perlu dilakukan analisa untuk mengetahui tingkat
kekeringan yang terjadi. Adapun macam-macam analisa indeks kekeringan yang
telah dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Percent of Normal
2. Reclamation Drought Indeks (RDI)
3. Crop Moisture Index (CMI)
4. Standardized Precipitation Index (SPI)
5. Palmer Drought Severity Index
6. Theory of Run
Pada kajian ini akan digunakan Standardized Precipitation Index (SPI)
dalam menganalisa kekeringan.

2.4 Metode Standardized


Precipitation Index (SPI) Metode Standardized Precipitation Index (SPI)
merupakan metode yang dikembangkan oleh McKee pada tahun 1993.
Tujuannya adalah untuk mengetahui dan memonitoring kekeringan. Kriteria nilai
indeks kekeringan metode SPI diklasifikasikan dalam nilai seperti berikut :
1. Basah : nilai SPI : > 1.00
2. Normal : nilai SPI : -0.99 – 0.99
3. Cukup Kering : nilai SPI : -1.00 – 1.49
4. Sangat Kering : nilai SPI : -1.5 – -1.99
5. Amat sangat kering/ Ekstrim Kering : nilai SPI : < -2

2.5 Perhitungan Nilai Indeks Kekeringan


Nilai indeks kekeringan yang dihitung adalah indeks kekeringan Pulau
Sumatera dengan menggunakan data curah hujan dugaan 7 titik dari data yang
diperoleh dari pengelolah sumberdaya air . Indeks kekeringan yang digunakan
adalah SPI (Standardized Precipitation Index) dengan menggunakan data tahun
10 tahun terakhir dengan skala waktu persatu bulan.
1. Menghitung rata-rata curah hujan bulanan

5
Data pedugaan curah hujan TRMM yang didapatkan adalah nilai curah
hujan hujan harian maka data yang di dapatkan dijumlahkan setiap bulan
untuk mendapakan nilai curah hujan bulanan tahun. Perhitungan nilai rata-rata
curah hujan bulan dengan menggunakan persamaan berikut:

keterangan:
µ = Rata-rata curah hujan bulanan
X = Curah hujan bulanan (mm)
N = Jumlah hari setiap bulan
2. Menghitung standar deviasi curah hujan bulanan
Standar deviasi dihitung menggunakan persamaan berikut:

keterangan :
S = Standar deviasi curah hujan bulanan
X2 = Rata-rata curah hujan bulanan tahun
X1= Rata-rata curah hujan bulan
n = Jumlah tahun

3. Mengklasifikasikan indeks kekeringan


Indeks kekeringan SPI dihitung menggunakan persamaan berikut:

Keterangan:
Z = Indeks kekeringan
X1 = Rata-rata hujan bulanan tahun
X2= Rata-rata hujan bulan
S= Simapanganbaku bulan
SPI merupak indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan
curah hujan terhadap normalnya, dalam satu periode waktu yang panjang
(bulanan, dua bulanan, tida bulanan dst.).

6
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Cara perhitungan
1. Menghitung rata-rata curah hujan bulanan

Maka didapat hasil perhitungan curah hujan tahunan, contoh hasil

perhitungan rata-rata curah hujan tahunan stasiun maroangin

THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2008 35,94 36,61 29,24 21,00 11,67 14,00 0,00 10,00 22,50 8,33 23,60 23,29
2009 52,19 45,37 25,33 24,80 23,17 16,00 10,00 20,00 0,00 0,00 33,57 33,09
2010 31,44 28,57 38,57 32,69 0,00 27,00 27,00 16,63 17,93 18,21 22,92 30,32
2011 44,74 14,71 44,29 29,21 24,75 0,00 0,00 0,00 0,00 25,00 32,60 36,30
2012 30,53 27,00 27,00 15,26 12,38 20,00 0,00 0,00 4,00 29,25 17,27 15,33
2013 48,07 45,87 25,63 33,80 9,75 7,31 8,29 0,00 0,00 7,33 24,45 28,45
2014 32,54 15,50 15,44 20,00 12,64 0,00 4,25 3,25 0,00 0,00 0,00 0,00
2015 36,70 19,64 25,56 14,15 6,33 4,50 0,00 0,00 0,00 0,00 3,50 42,15
2016 8,67 0,00 0,00 14,50 14,88 9,90 13,20 1,00 5,50 17,75 20,58 21,11
2017 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,50 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Table 1.1 rata-rata curah hujan tahunan stasiun maroangin

2. Menghitung standar deviasi curah hujan bulanan

Contoh perhitungan standar deviasi curah hujan bulanan dengan Rata-rata

curah hujan bulanan tahun dikurangkan dengan Rata-rata curah hujan

bulan dibagi dengan jumlah tahun yang ada dalan satu stasiun.

S = 27,129

Dapat dilihat pada tabel :

NO X2 X1 µ S

7
1 19,68 1,30922 0,66 27,1289
2 23,63 0,79 45,518
3 24,27 0,81 48,10
4 20,97 0,70 35,63
5 16,50 0,55 21,69
6 19,91 0,66 32,04
7 8,63 0,29 5,21
8 12,71 0,42 12,47
9 10,59 0,35 8,35
10 0,21 0,01 -1,00
Table 1.2 rata-rata curah hujan
3. Mengklasifikasikan indeks kekeringan
Indeks kekeringan SPI dihitung menggunakan persamaan berikut:

Dimana contoh yang digunakan untuk indeks kekeringan di stasiun

maroangin tahun 2008 :

NO X2 X1 µ S Z
1 19,68 1,30922 0,66 27,1289 0,68
2 23,63 0,79 45,518 0,52
3 24,27 0,81 48,10 0,50
4 20,97 0,70 35,63 0,59
5 16,50 0,55 21,69 0,76
6 19,91 0,66 32,04 0,62
7 8,63 0,29 5,21 1,66
8 12,71 0,42 12,47 1,02
9 10,59 0,35 8,35 1,27
10 0,21 0,01 -1,00 -0,21

Kemudian hasil dari contoh perhitungan diatas , indeks kekeringan dapat di

klasifikasikan berdasarkan table di bawah :

8
Nilai SPI Kategori
≥2 Sangat Basah
1.50 s/d 1.99 Basah
1.00 s/d 1.49 Agak Basah
-0.99 s/d 0.99 Normal
-1.00 s/d -1.49 Agak Kering
-1.50 s/d -1.99 Kering

≤ -2 Sangat Kering

Maka indeks kekeringan stasiun maroangin tahun 2008 = normal.

3.2 Hasil
3.2.1 Stasiun Maroangin
1. Curah hujan stasiun Maroangin
THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2008 35,94 36,61 29,24 21,00 11,67 14,00 0,00 10,00 22,50 8,33 23,60 23,29
2009 52,19 45,37 25,33 24,80 23,17 16,00 10,00 20,00 0,00 0,00 33,57 33,09
2010 31,44 28,57 38,57 32,69 0,00 27,00 27,00 16,63 17,93 18,21 22,92 30,32
2011 44,74 14,71 44,29 29,21 24,75 0,00 0,00 0,00 0,00 25,00 32,60 36,30
2012 30,53 27,00 27,00 15,26 12,38 20,00 0,00 0,00 4,00 29,25 17,27 15,33
2013 48,07 45,87 25,63 33,80 9,75 7,31 8,29 0,00 0,00 7,33 24,45 28,45
2014 32,54 15,50 15,44 20,00 12,64 0,00 4,25 3,25 0,00 0,00 0,00 0,00
2015 36,70 19,64 25,56 14,15 6,33 4,50 0,00 0,00 0,00 0,00 3,50 42,15
2016 8,67 0,00 0,00 14,50 14,88 9,90 13,20 1,00 5,50 17,75 20,58 21,11
2017 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2,50 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun Maroangin


NO X2 X1 µ S Z

9
1 19,68 1,30922 0,66 27,1289 0,68
2 23,63 0,79 45,518 0,52
3 24,27 0,81 48,10 0,50
4 20,97 0,70 35,63 0,59
5 16,50 0,55 21,69 0,76
6 19,91 0,66 32,04 0,62
7 8,63 0,29 5,21 1,66
8 12,71 0,42 12,47 1,02
9 10,59 0,35 8,35 1,27
10 0,21 0,01 -1,00 -0,21

3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan


Tahun Indeks Kekeringan Keterangan
2008 0,68 Normal
2009 0,52 Normal
2010 0,50 Normal
2011 0,59 Normal
2012 0,76 Normal
2013 0,62 Normal
2014 1,66 Basah
2015 1,02 Agak basah
2016 1,27 Agak basah
2017 -0,21 Normal
Dari indeks kekeringan di stasiun maroangin 0,2 – 1,76 artinya tidak
terjadi kekeringan yang tergolong dalam kategori normal-agak basah
artinya tidak terjadi kekeringan distasiun ini.
3.2.2 Stasiun Manrimisi
1. Curah hujan stasiun Manrimisi
THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2008 0 0 0 29 15 18 7 14 6 33 23 35
2009 40 49 16 12 10 9 11 0 0 7 8 13
2010 23 18 24 18 17 17 15 16 19 15 39 24
2011 25 23 35 19 20 0 0 0 0 0 16 0
2012 26 16 25 0 0 0 9 0 5 26 14 31
2013 54 36 24 0 0 13 8 5 3 9 34 48

10
2014 144 26 19 22 23 12 5 3 0 0 0 0
2015 44 28 33 27 8 23 0 0 0 0 0 21
2016 27 42 27 22 10 26 34 0 15 21 0 0
47 23 28 20 24 21 0 0 0 0 14 36
2017

2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun manrimisi

NO X2 X1 µ S Z

1 15,0 1,38562 0,50 14,45 0,94


2 14,6 0,49 16,72 0,87
3 20,4 0,68 33,74 0,61
4 11,5 0,38 10,02 1,15
5 12,7 0,42 12,37 1,02
6 19,5 0,65 30,69 0,64
7 21,2 0,71 36,34 0,58
8 15,3 0,51 18,59 0,82
9 18,7 0,62 28,04 0,67
10 17,8 0,59 25,26 0,70
3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan
Indeks
Tahun Keterangan
Kekeringan
2008 0,52 Normal
2009 0,49 Normal
2010 0,68 Normal
2011 0,38 Normal
2012 0,42 Normal
2013 0,65 Normal
2014 0,71 Normal
2015 0,51 Normal
2016 0,62 Normal
2017 0,59 Normal
Dari indeks kekeringan di stasiun manrimisi, tidak terdapat indeks kekeringan
dapat dilihat pada tahun 2008 dan 2017 semua tergolong dalam keadaan
normal.
3.2.3 Stasiun Bontibonti
1. Curah hujan stasiun Bontibonti

11
THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2007 39,00 37,00 25,00 19,00 23,00 11,00 5,00 0,00 27,00 19,00 11,00 38,00
2008 34,00 37,00 36,00 20,00 8,00 36,00 10,00 9,00 15,00 19,00 18,00 35,00
2009 52,00 33,00 18,00 31,00 19,00 8,00 9,00 0,00 0,00 25,00 22,00 33,00
2010 39,00 29,00 23,00 14,00 23,00 15,00 20,00 15,00 19,00 20,00 21,00 27,00
2011 43,00 41,00 25,00 21,00 20,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14,00 25,00 30,00
2012 36,00 32,00 43,00 26,00 18,00 18,00 15,00 0,00 0,00 28,00 21,00 26,00
2013 56,00 38,00 29,00 34,00 14,00 20,00 14,00 0,00 17,00 17,00 29,00 37,00
2014 38,00 25,00 25,00 33,00 16,00 4,00 7,00 9,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2015 41,00 30,00 32,00 23,00 41,00 18,00 0,00 0,00 0,00 0,00 23,00 50,00
2016 34,00 44,00 27,00 29,00 31,00 20,00 41,00 0,00 33,00 29,00 18,00 27,00

12
2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun Bontibonti
NO X2 X1 µ S Z
1 21,17 1,79236 0,71 30,2803 0,64
2 23,08 0,77 43,4034 0,53
3 20,83 0,69 35,17 0,59
4 22,08 0,74 39,64 0,56
5 18,25 0,61 26,76 0,68
6 21,92 0,73 39,03 0,56
7 25,42 0,85 52,83 0,48
8 13,08 0,44 13,26 0,99
9 21,50 0,72 37,52 0,57
10 27,75 0,93 63,17 0,44

3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan


Tahun Indeks Kekeringan Keterangan
2007 0,64 Normal
2008 0,53 Normal
2009 0,59 Normal
2010 0,56 Normal
2011 0,68 Normal
2012 0,56 Normal
2013 0,48 Normal
2014 0,99 Normal
2015 0,57 Normal
2016 0,44 Normal

Dari indeks kekeringan di stasiun bontibonti, tidak terdapat indeks kekeringan


dapat dilihat pada tahun 2007 dan 2016 semua tergolong dalam keadaan
normal.

3.2.4 Stasiun Panyalingan


1. Curah hujan stasiun Panyalingan

THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES

13
2007 24,00 36,00 23,00 33,00 28,00 10,00 0,00 0,00 32,00 12,00 22,00 50,00
2008 20,00 89,00 37,00 15,00 0,00 31,00 7,00 43,00 5,00 25,00 17,00 44,00
2009 46,00 39,00 23,00 21,00 15,00 4,00 18,00 11,00 0,00 20,00 18,00 17,00
2010 21,00 17,00 21,00 17,00 22,00 16,00 16,00 15,00 16,00 12,00 19,00 25,00
2011 17,00 13,00 13,00 19,00 44,00 5,00 0,00 0,00 0,00 8,00 20,00 34,00
2012 29,00 35,00 25,00 19,00 19,00 11,00 8,00 4,00 4,00 28,00 18,00 24,00
2013 48,00 43,00 20,00 33,00 12,00 16,00 15,00 2,00 0,00 14,00 42,00 47,00
2014 37,00 19,00 34,00 28,00 18,00 4,00 8,00 2,00 0,00 0,00 12,00 36,00
2015 37,00 27,00 38,00 46,00 18,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8,00 44,00
2016 12,00 34,00 24,00 24,00 11,00 31,00 13,00 0,00 9,00 25,00 16,00 20,00

2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun Panyalingan


NO X2 X1 µ S Z
1 22,50 1,69722 0,75 35,063 0,59
2 27,75 0,93 63,1719 0,44
3 19,33 0,64 30,15 0,64
4 18,08 0,60 26,25 0,69
5 14,42 0,48 16,32 0,88
6 24,33 0,81 48,34 0,50
7 24,33 0,81 48,34 0,50
8 16,50 0,55 21,69 0,76
9 18,17 0,61 26,50 0,69
10 18,25 0,61 26,76 0,68

3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan


Tahun Indeks Kekeringan Keterangan
2007 0,59 Normal
2008 0,44 Normal
2009 0,64 Normal
2010 0,69 Normal
2011 0,88 Normal
2012 0,50 Normal
2013 0,50 Normal
2014 0,76 Normal
2015 0,69 Normal
2016 0,68 Normal

14
Dari hasil perhitungan indeks kekeringan di stasiun panyalingan yang
diperolah, tidak terdapat nilai kekeringan disetiap tahunnya dapat dilihat pada
tahun 2007 dan 2016 semua tergolong dalam keadaan normal.
3.2.5 Stasiun Salojirang
1. Curah hujan stasiun Salojirang

THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2006 29,00 34,00 38,00 40,00 14,00 16,00 7,00 0,00 0,00 0,00 10,00 29,00
2007 33,00 36,00 26,00 24,00 14,00 12,00 0,00 0,00 18,00 8,00 10,00 43,00
2008 27,00 27,00 30,00 26,00 8,00 7,00 6,00 6,00 0,00 13,00 15,00 52,00
2009 60,00 32,00 7,00 11,00 12,00 24,00 10,00 8,00 6,00 11,00 13,00 16,00
2010 41,00 18,00 39,00 14,00 23,00 12,00 19,00 8,00 10,00 12,00 19,00 24,00
2011 44,00 23,00 22,00 17,00 24,00 6,00 0,00 0,00 0,00 18,00 26,00 23,00
2012 33,00 22,00 24,00 15,00 18,00 16,00 12,00 0,00 0,00 24,00 22,00 24,00
2013 51,00 72,00 22,00 26,00 8,00 17,00 0,00 0,00 21,00 9,00 8,00 26,00
2014 35,00 24,00 2,00 14,00 23,00 6,00 13,00 8,00 0,00 0,00 7,00 22,00
2015 55,00 37,00 11,00 21,00 14,00 9,00 0,00 0,00 0,00 0,00 22,00 35,00

2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun Salojirang


NO X2 X1 µ S Z
1 18,08 1,48958 0,60 21,946 0,76
2 18,67 0,62 28,037 0,67
3 18,08 0,60 26,25 0,69
4 17,50 0,58 24,52 0,71
5 19,92 0,66 32,06 0,62
6 17,50 0,58 24,52 0,71
7 17,50 0,58 24,52 0,71
8 21,67 0,72 38,12 0,57
9 12,83 0,43 12,72 1,01
10 17,00 0,57 23,08 0,74
3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan
Tahun Indeks Kekeringan Keterangan
2006 0,76 Normal
2007 0,67 Normal
2008 0,69 Normal

15
2009 0,71 Normal
2010 0,62 Normal
2011 0,71 Normal
2012 0,71 Normal
2013 0,57 Normal
2014 1,01 Agak basah
2015 0,74 Normal

Dari hasil perhitungan indeks kekeringan di stasiun Salojirang yang diperolah,


tidak terdapat nilai kekeringan disetiap tahunnya dapat dilihat pada tahun
2007 dan 2016 semua tergolong dalam keadaan normal hanya pada tahun
2014 saja yang agak basah. Namun secara keseluruhan stasiun salojirang ini
masuk dalam kategori normal.
3.2.6 Stasiun Lekopancing
1. Curah hujan stasiun lekopancing

THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2007 23,00 28,00 26,00 20,00 19,00 25,00 6,00 4,00 23,00 33,00 19,00 34,00
2008 33,00 40,00 27,00 34,00 25,00 13,00 17,00 13,00 3,00 23,00 35,00 38,00
2009 48,00 48,00 59,00 30,00 63,00 36,00 18,00 0,00 35,00 12,00 19,00 30,00
2010 55,00 34,00 49,00 26,00 21,00 22,00 21,00 24,00 33,00 33,00 65,00 33,00
2011 38,00 29,00 38,00 35,00 37,00 20,00 0,00 0,00 27,00 18,00 30,00 38,00
2012 46,00 45,00 39,00 9,00 45,00 48,00 0,00 0,00 32,00 38,00 34,00 75,00
2013 57,00 57,00 48,00 42,00 23,00 36,00 29,00 0,00 0,00 27,00 38,00 52,00
2014 6,00 9,00 4,00 7,00 4,00 2,00 8,00 0,00 0,00 1,00 7,00 9,00
2015 42,00 49,00 45,00 49,00 59,00 46,00 0,00 0,00 30,00 0,00 25,00 60,00
2016 30,00 37,00 37,00 43,00 29,00 25,00 44,00 25,00 36,00 20,00 25,00 30,00
2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun Lekopancing
NO X2 X1 µ S Z
1 21,67 2,32361 0,72 30,1795 0,64
2 25,08 0,84 51,4311 0,49
3 33,17 1,11 90,67 0,37
4 34,67 1,16 99,15 0,35
5 25,83 0,86 54,61 0,47
6 34,08 1,14 95,81 0,36
7 34,08 1,14 95,81 0,36

16
8 4,75 0,16 0,88 5,40
9 33,75 1,13 93,92 0,36
10 31,75 1,06 83,01 0,38
3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan
Tahun Indeks Kekeringan Keterangan
2006 0,64 Normal
2007 0,49 Normal
2008 0,37 Normal
2009 0,35 Normal
2010 0,47 Normal
2011 0,36 Normal
2012 0,36 Normal
2013 5,40 Sangat basah
2014 0,36 Normal
2015 0,38 Normal

Dari hasil perhitungan indeks kekeringan di stasiun Lekopancing yang


dierolah, tidak terdapat nilai kekeringan disetiap tahunnya dapat dilihat pada
tahun 2006 dan 2017 semua tergolong dalam keadaan normal hanya pada
tahun 2014 saja yang sangat basah. Namun secara keseluruhan stasiun
salojirang ini masuk dalam kategori normal.

3.2.7 Stasiun Langi


1. Curah hujan stasiun Langi
THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2007 120,00 150,00 56,00 213,00 194,00 212,00 99,00 206,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2008 86,00 134,00 219,00 181,00 273,00 149,00 70,00 82,00 53,00 174,00 0,00 0,00
2009 154,00 39,00 95,00 137,00 147,00 52,00 82,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2010 171,00 133,00 168,00 99,00 242,00 324,00 210,00 159,00 161,00 201,00 191,00 50,00
2011 81,00 62,00 113,00 120,00 103,00 79,00 83,00 0,00 36,00 104,00 0,00 0,00
2012 36,00 150,00 136,00 238,00 181,00 113,00 61,00 86,00 15,00 99,00 203,00 217,00
2013 383,00 264,00 105,00 181,00 425,00 239,00 465,00 42,00 69,00 36,00 87,00 335,00
2014 247,00 89,00 120,00 192,00 305,00 384,00 133,00 141,00 0,00 29,00 23,00 45,00
2015 183,00 76,00 228,00 165,00 168,00 326,00 48,00 50,00 0,00 0,00 4,00 203,00

17
2016 138,00 287,00 213,00 221,00 156,00 128,00 170,00 38,00 64,00 196,00 198,00 292,00

2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun Langi


NO X2 X1 µ S Z
1 104,17 11,659 3,47 712,139 0,13
2 118,42 3,95 1167,54 0,10
3 58,83 1,96 287,45 0,20
4 175,75 5,86 2573,01 0,07
5 65,08 2,17 351,99 0,18
6 219,25 7,31 4004,88 0,05
7 219,25 7,31 4004,88 0,05
8 142,33 4,74 1687,23 0,08
9 120,92 4,03 1217,40 0,10
10 175,08 5,84 2553,51 0,07
3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan
Tahun Indeks Kekeringan Keterangan
2007 0,13 Normal
2008 0,10 Normal
2009 0,20 Normal
2010 0,07 Normal
2011 0,18 Normal
2012 0,05 Normal
2013 0,05 Normal
2014 0,08 Normal
2015 0,10 Normal
2016 0,07 Normal
Dari hasil perhitungan indeks kekeringan di stasiun Langi yang dierolah, tidak
terdapat nilai kekeringan disetiap tahunnya dapat dilihat pada tahun 2007 dan
2016 semua tergolong dalam keadaan normal.

3.2.8 Stasiun Camba


1. Curah hujan stasiun Camba

THN JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES
2007 18,00 15,00 12,00 23,00 16,00 17,00 9,00 10,00 7,00 16,00 13,00 11,00
2008 21,00 23,00 14,00 17,00 20,00 7,00 22,00 21,00 29,00 23,00 15,00 17,00

18
2009 32,00 20,00 15,00 14,00 16,00 19,00 10,00 15,00 12,00 13,00 18,00 17,00
2010 30,00 33,00 23,00 15,00 14,00 16,00 11,00 0,00 0,00 21,00 15,00 14,00
2011 16,00 19,00 22,00 12,00 9,00 17,00 13,00 7,00 10,00 9,00 15,00 7,00
2012 39,00 13,00 20,00 11,00 24,00 14,00 15,00 14,00 14,00 16,00 14,00 19,00
2013 35,00 17,00 12,00 17,00 11,00 13,00 8,00 9,00 0,00 0,00 19,00 11,00
2014 18,00 18,00 40,00 19,00 13,00 22,00 4,00 12,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2015 27,00 25,00 11,00 14,00 10,00 7,00 26,00 15,00 13,00 15,00 19,00 9,00
2016 25,00 21,00 13,00 11,00 9,00 21,00 14,00 16,00 21,00 16,00 18,00 14,00
2. Hasil perhitungan indeks kekeringan stasiun Camba

NO X2 X1 µ S Z
1 13,92 1,23958 0,46 12,3924 1,02
2 19,08 0,64 29,3478 0,65
3 16,75 0,56 22,38 0,75
4 16,00 0,53 20,33 0,79
5 13,00 0,43 13,08 0,99
6 12,67 0,42 12,37 1,02
7 12,67 0,42 12,37 1,02
8 12,17 0,41 11,34 1,07
9 15,92 0,53 20,11 0,79
10 16,58 0,55 21,92 0,76
3. Indeks Kekeringan Maksimum Tahunan
Tahun Indeks Kekeringan Keterangan
2007 1,02 Agak basah
2008 0,65 Normal
2009 0,75 Normal
2010 0,79 Normal
2011 0,99 Normal
2012 1,02 Agak basah
2013 1,02 Agak basah
2014 1,07 Agak basah
2015 0,79 Normal
2016 0,76 Normal
Dari hasil perhitungan indeks kekeringan di stasiun Camba yang diperolah,
tidak terdapat nilai kekeringan disetiap tahunnya dapat dilihat pada tahun
2007 dan 2016 semua tergolong dalam keadaan normal bahkan agak basah.

19
3.3 Pembahasan
Kekeringan kerap terjadi namun sering tidak disadari kapan awal mulanya
terjadi bencana tersebut. Proses terjadinya kekeringan diawali dengan berkurangnnya
jumlah curah hujan dibawah normal pada satu musim. Berkurangnya nilai curah
hujan tersebut merupakan proses awal terjadinya kekeringan meteorologis. Nilai
curah hujan dugaan yang didapatkan dari data pengembangan sumber daya air
digunakan untuk menghitung nilai indeks kekeringan daerah bulukumba.
Nilai SPI yang dihitung adalah indeks kekeringan setiap staiun bulan dari
tahun 10 per stasiun. Sebelum menghitung nilai indeks kekeringan dilakukan
pengujian konsistensi data curah hujan yang digunakan. Uji konsistensi data
dilakaukan dengan mebandingkan nilai curahujan kumulatif rata-rata tahunan. Nilai
indeks kekeringan yang didapatkan pada semua stasiun di daerah Maros memiliki
nilai nilai maksimum sebesar 5,40 yang memiliki kriteria sangat basah dan nilai SPI
minimum -0,21 yang memiliki kriteria normal.
Secara keseluruhan dari tahun 2006 hingga 2016 pada stasiun Maroangin,
Manrimisi, Bontibonti, Panyalingan, Salojirang, Lekopancing, Langi serta Camba
pada setiap tahunnya tidak terdapat nilai kekeringan dapat dilihat dari nilai indeks
kekeringannya yang kebanyakan berkisar antara -0,21 hingga 1,00 yang menurut
pengklasifikasian statistik probalistik distribusi gamma masuk dalam kategori normal.

20
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kekeringan kerap terjadi namun sering tidak disadari kapan awal mulanya
terjadi bencana tersebut. Proses terjadinya kekeringan diawali dengan
berkurangnnya jumlah curah hujan dibawah normal pada satu musim.
Berkurangnya nilai curah hujan tersebut merupakan proses awal terjadinya
kekeringan meteorologis. Nilai curah hujan dugaan yang didapatkan dari data
pengembangan sumber daya air digunakan untuk menghitung nilai indeks
kekeringan daerah Maros. Kekeringan terjadi karna adanya pergeseran musim
hujan yang mengakibatkan ketidaktepatan pola tanam. Deliniasi wilayah rawan
kekeringan perlu dilakukan untuk mengantisipasi Wilayah rawan kekeringan
dilihat dari tiga aspek yang berbeda yaitu, aspek klimatologis, hidrologis dan
agronomis.
Berdasarkan hasil perhitungan indeks kekeringan dengan metode SPI
maka diperorleh data dari tahun 2007 – 2016 berkisar antara -0,21 hingga 1,00
yang berarti di daerah Maros dari tahun 2007 sampai 2016 tidak terjadi
kekeringan melainkan dalam keadaan normal-agak basah.
4.2 Saran
Memperbanyak data curah hujan yang tingkat keakuratannya tinggi sebab
kurangnya data mengakibatkan perhitungan indeks kekeringan terbatas

DAFTAR PUSTAKA

21
Apriyanti D. 2010. Analisis sebaran indeks palmer di Kabupaten Klaten Provinsi
Jawa Tengah [skripsi]. Bogor :Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Institut Pertanian Bogor.

Sonjaya, Irman. 2007. Analisa Standardized Precipitation Index (SPI) di Kalimantan


Selatan. [Bakosurtanal]. Badan Konservasi Survei dan Pemetaan Nasional
`Peta Provinsi Sulawesi Selatan. http://www.bakosurtanal.go.id/bakosur
tanal/peta-provinsi/. [14 April 2011]

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2010. Data Luas Terkena Kekeringan Sulawesi.
Jakarta. [Dephut]. Departemen Kehutanan. 2006. Peta Jaringan Sungai.
Jakarta.

Adidarma, W., 2010, Diktat Pelatihan Kekeringan, Balai Hita, Puslitbang SDA,
Bandung.

22