Anda di halaman 1dari 9

Geografi Pariwisata

A. PENDAHULUAN

Geografi Pariwisata merupakan bidang Ilmu terapan yang berusaha mengkaji unsur - unsur geografis
suatu daerah untuk kepentingan kepariwisataan. Unsur - unsur geografis suatu daerah memiliki potensi
dan karakteristik yang berbeda-beda. Bentang alam pegunungan yang beriklim sejuk, pantai landai yang
berpasir putih, hutan dengan beraneka ragam tumbuhan yang langka, danau dengan air yang bersih,
merupakan potensi suatu daerah yang dapat dikembangkan untuk usaha industri pariwisata. Unsur
geografis yang lain seperti lokasi/letak, kondisi morfologi, penduduk, berpengaruh terhadap
kemungkinan pengembangan potensi obyek wisata.

Dengan adanya Undang-undang No. 32 tahun 2003 tentang Otonomi Daerah, setiap daerah di Indonesia
berupaya memperoleh Pendapatan Asli Daerah Setempat (PADS). Salah satu upaya untuk memperoleh
pemasukan pendapatan tersebut dengan menggalakkan kegiatan pariwisata yang ada di daerah.

Pengembangan pariwisata sangat ditentukan oleh seberapa besar potensi supply dan demand. Potensi
supply memberikan gambaran seberapa besar daya tarik obyek wisata yang dimiliki oleh suatu Daerah
Tujuan Wisata (DTW). Sedangkan potensi demand memberikan gambaran seberapa besar potensi
wisatawan yang datang dari Daerah Asal Wisatawan (DAW).

B. BEBERAPA KONSEP KEPARIWISATAAN

Dalam Undang-undang No. 9 tahun 1990 tentang Kepariwasataan disebutkan beberapa konsep sebagai
berikut :

1. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata;

2. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek
dan daya tarik wisata;

3. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara
sukarela bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata.

C. KETERKAITAN GEOGRAFI DENGAN PARIWISATA

Makalam (1996), keterkaitan geografi dengan pariwisata dapat dilihat dari analisa terhadap sistem
kepariwisataan dalam perjalanan pariwisata. Dalam sistem ini terdapat tiga sub sistem yang saling
berkaitan, yaitu sub sistem DAW, sub sistem DTW dan sub sistem Route. Peranan geografi dalam sistem
ini adalah sebagai penghubung diantara ketiga sub sistem tersebut. Keterkaitan sistem tersebut akan
baik jika jarak atau gangguan geografis dapat dikenali dan disiasati oleh ketiga sub sistem tersebut.
Menurut penulis, keterkaitan ini tidak sekedar sebagai penghubung sistem kepariwisataan dan
mengenali/menyiasati gangguan geografis, tetapi lebih penting dari itu bahwa geografi memberikan
sumbangan yang sangat besar berupa kajian tentang kondisi alam, kondisi manusia, dan interaksi
diantara keduanya. Kajian unsur-unsur geografis inilah yang dapat menentukan potensi pariwisata.

D. JENIS - JENIS PARIWISATA

Yoety (1989) membuat klasifikasi jenis pariwisata sebagai berikut :

1. Menurut obyek : wisata budaya, wisata konvensi, wisata kesehatan, wisata bahari, wisata alam,
wisata kota;

2. Menurut jumlah orang yang melakukan perjalanan : wisata individu, wisata kelompok;

3. Menurut tujuan perjalanan : leisure tourism, culturan tourism, health tourism, sport tourism,
convention tourism.

E. UNSUR - UNSUR PARIWISATA

Ada tiga unsur pokok dalam pariwisata yaitu rekreasi (recreation), waktu senggang (leisure time) dan
perjalanan (travelling). Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam
membentuk aktivitas-aktivitas kepariwisataan. Rekreasi yang berdiri sendiri tidak dapat disebut sebagai
kegiatan pariwisata, demikian pula perjalanan yang tidak melibatkan rekreasi dan waktu senggang tidak
dapat dikatakan sebagai kegiatan pariwisata.

Menurut Pendit (1990), unsur-unsur industri pariwisata meliputi : politik pemerintah, perasaan ingin
tahu, sifat ramah, jarak dan waktu, atraksi, akomodasi, pengangkutan, harga-harga, publisitas dan
promosi, dan kesempatan berbelanja.

Sessa dalam Page and Hall (1999), menyebutkan bahwa unsur-unsur industri pariwisata meliputi tourism
resources, general and tourism infrastructure, receptive facilities, entertainment and sport facilities, dan
tourism reception services.

F. PENELITIAN PENGEMBANGAN PARIWISATA

Penggabungan dari dua teori yaitu Pearce (1989) dan Nuryanti (1994), menghasilkan teori baru bahwa
kepariwisataan pada hakekatnya merupakan kegiatan matching and adjustment antara sisi supply dan
sisi demand. Sisi supply dari kegiatan pariwisata merupakan unsur-unsur/potensi wisata yang ada di
daerah tujuan wisata, yaitu: 1) daya tarik/atraksi, 2) akomodasi, 3) transportasi, 4) fasilitas pelayanan, 5)
prasarana, 6) pencapaian/aksesibilitas, 7) peraturan pemerintah. Sedangkan sisi demand dari kegiatan
pariwisata merupakan unsur-unsur/potensi wisatawan yang ada atau berasal dari daerah asal
wisatawan, yaitu: 1) jumlah wisatawan, 2) segmen wisatawan, 3) pendapatan wisatawan, 4) pendidikan
wisatawan, 5) promosi wisatawan.

Dalam kegiatan penelitan pengembangan pariwisata kajian geografis sangat berperan, terutama dalam
kajian yang berhubungan dengan potensi alam, potensi penduduk, tingkat pencapaian/aksesibilitas,
transpportasi dan lainnya.

G. PENUTUP

Geografi seabagai bidang ilmu yang mengkaji kondisi alam, kondisi manusia, serta interaksi antara
keduanya sangat berperan dalam upaya menyumbang usaha kepariwisataan. Dengan memahami,
mengenali karakteristik unsur-unsur geografis, memahami unsur-unsur pariwisata suatu daerah, maka
dapat disimpulkan apakah suatu daerah memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan
wisata atau tidak.

Geografi Pariwisata

A. Pengertian Pariwisata Menurut Para Ahli

Secara etimologis pariwisata berasal dari bahasa sansekerta, yang terdiri dari dua suku kata Pari yang
berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar, lengkap. Dan kata wisata yang berarti perjalanan, bepergian
yang bersinonim dengan kata travel dalam bahasa Inggris, maka dapat di artikan bahwa pariwisata
adalah perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari satu tempat ke tempat lain (Yoeti
1996:112)

Menurut UU No.9 tahun 1990 Bab 1 Pasal 1:

Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara
sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Pariwisata adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta
usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan penyelenggaraan pariwisata. Artinya semua kegiatan dan urusan yang ada kaitannya dengan
perencanaan, pengaturan, pelaksanaan, pengawasan, pariwisata baik yang dilakukan oleh pemerintah,
pihak swasta dan masyarakat disebut Kepariwisataan.[1]

Menurut James J. Spillance


Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang bersifat sementara, dilakukan
perorangan atau kelompok sebagai usaha mencari keseimbangan, keserasian dalam dimensi sosial
budaya dan ilmu.

Menurut Mc. Intosh dan Goelder

Pariwisata adalah ilmu atau seni dan bisnis yang dapat menarik dan menghimpun pengunjung, termasuk
didalamnya bebagai akomoditasi dan catering yang dibutuhkan dan diminati oleh pengunjung.

Menurut Gluckmann

Keseluruhan hubungan antar manusia yang hanya berada sementara waktu dalam suatu tempat dengan
manusia yang tinggal di tempat itu

Menurut Oka A Yoeti

Suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke
tempat lain dengan maksud bukan mencari nafkah ditempat yang dikunjunginya tetapi semata-mata
untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya memenuhi keinginan yang beragam.[2]

B. Pariwisata dalam Kajian Geografi

Setiap ilmu pasti tidak ada yang dapat berdiri sendiri. Setiap ilmu saling berhubungan satu sama lainnya.
Begitupun dengan ilmu pariwisata tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan geografi.

Seperti yang dikemukakan oleh Robinson (1976) yang dikutip oleh Maryani (2000:67) pariwisata menjadi
bidang kajian geografi, dengan beberapa alasan dibawah ini:

1. Geografi berhubungan dengan lingkungan baik alam maupun manusia. Ilmu geografi selalu
berhubungan dengan lokasi suatu fenomena, hubungan antara fenomena dan distribusi keruangan.
Pariwisata erat kaitannya pada pemanfaatan ruang, lokasi-lokasi daerah tujuan wisata, lokasi dimana
wisatawan bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Dengan demikian geografi mempunyai peranan
yang sangat penting dalam menyediakan ruang sebagai daerah tujuan wisata yang sesuai dengan
permintaan wisatawan dan memberikan kepuasan wisatawan yang berbeda karakternya.

2. Pariwisata erat kaitannya dengan struktur, bentuk, penggunaan lahan dan perlindungan bentang
alam (landscape). Di satu sisi pariwisata menyebabkan berubahnya bentang alam menjadi kawasan
budaya. Geografi sebagai ilmu tata guna lahan dapat memberikan solusi bagaimana ruang dapat
dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung dengan meminimalkan resiko kerusakan.

3. Pariwisata adalah aktivitas ekonomi komersial, berbagai aktivitas ekonomi di permukaan bumi
secara khusus dikaji oleh geografi ekonomi. Pariwisata mendorong timbulnya berbagai aktivitas baik yang
secara langsung memanfaatkan alam maupun tidak.
4. Geografi selalu tertarik pada pergerakan barang dan orang, dalam bentuk transportasi dan
perdagangan. Pariwisata telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap adanya
perdagangan secara regional, nasional dan internasional. Distribusi orang, barang, dan uang antara satu
tempat ke tempat lain sangat diperlukan untuk mendukung berlangsungnya usaha pariwisata.

5. Antar hubungan (relationship) dan pengaruh (effect) suatu fenomena terhadap fenomena lain, baik
di dalam suatu tempat maupun ke tempat lain selalu menjadi kajian geografi. Pariwisata memberikan
dampak yang luas baik secara ekonomi, budaya, sosial, maupun alam. Lingkup dampaknya pun secara
lokal, regional, nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata sangat relevan
menjadi kajian geografi.[3]

C. Sumberdaya Geografi untuk Pengembangan Pariwisata

Sumberdaya adalah segala sesuatu yang bernilai apabila diproduksi, diolah dan digunakan. Pengertian
bernilai disini sangat subyektif, tergantung pada pandangan individu, kemajuan teknologi dalam
masyarakat dan waktu. Sumberdaya geografi untuk pariwisata adalah segala sesuatu baik yang berupa
alam maupun hasil budaya manusia yang menarik dan unik bagi wisatawan. Ada beberapa ciri
sumberdaya geografi menurut Abdurrahman dan Maryani (1997:77) bagi pariwisata:

1. Sumberdaya tersebut dapat berupa kenampakan dalam dan budaya yang bernilai ekonomis untuk
diolah dalam industri pariwisata.

2. Sumberdaya yang dipasarkan tidak berdiri sendiri, artinya harus selalu ditunjang oleh pengelolaan,
penataan, dan ditunjang fasilitas yang terkait dengan kepariwisataan.

3. Sumberdaya pada umumnya mempunyai fungsi ganda, jadi tidak hanya sebagai objek wisata yang
dapat dilihat saja, tapi harus ada sesuatu yang dapat dikerjakan dan dibeli sebagai oleh-oleh. Ruang
untuk kawasan wisata pun berfungsi ganda, seperti kawasan pertanian, perkebunan, perikanan,
kehutanan, cagar alam, konservasi dan sebagainya.

Sumberdaya geografi untuk pariwisata menunjukkan adanya keterkaitan satu sama lain, contoh iklim
dengan morfologi, morfologi dengan penggunaan lahan dan aktivitas penduduk. Sumberdaya geografis
yang dijadikan objek wisata menurut Abdurrahman dan Maryani (1997:77-78) antara lain:

1. Iklim

Unsur-unsur iklim yang erat kaitannya dengan pariwisata adalah suhu, angin, curah hujan, dan awan
(kecerahan). Rekreasi di luar rumah, selain dipengaruhi oleh waktu libur, juga ditentukan oleh iklim.
Permintaan rekreasi di luar rumah meningkat tatkala cuaca sedang baik. Kondisi cuaca pun akan
menentukan jenis aktivitas yang dilakukan dan perlengkapan yang harus dibawa selama berwisata.
Misalnya berwisata di daerah dingin berbeda dengan daerah panas, baik dalam hal jenis pakaian,
makanan maupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama berpariwisata.
2. Morfologi

Dipermukaan bumi terdapat bermacam-macam bentuk lahan. Tapi pada umunya dapat dibedakan atas
pegunungan, perbukitan, dataran tinggi (plato) dan dataran (plan). Morfologi ini akan berkaitan erat
dengan cuaca. Di daerah pengunungan banyak dikembangkan objek wisata berupa cagar alam dan
taman nasional, dengan segala keanekaragaman flora dan faunanya. Objek wisata lain yang erat
kaitannya dengan pegunungan adalah fenomena gunung api, berupa kawah dan sumber air panas.

3. Tata air

Air permukaan bumi menduduki persentase terbesar. Air ini dapat berupa laut, sungai, danau, dan air
dalam tanah. Laut menjadi objek wisata yang menarik sepanjang zaman.

4. Flora dan Fauna

Flora dan fauna suatu tempat mempunyai kaitan erat dengan iklim baik secara horizontal maupun
vertikal. Setiap daerah umumnya mempunyai flora dan fauna khas yang menjadi unggulan daya tarik
wisata.[4]

Adapun beberapa sumberdaya yang dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke suatu
daerah tujuan wisata, yaitu:

1. Sumberdaya yang bersifat alamiah (Natural Amenities) meliputi:

a. Iklim: cuaca cerah, banyak cahaya matahari, sejuk, kering, panas, hujan dan lain-lain

b. Bentuk tanah dan pemandangan: tanah yang datar, lembah pegunungan, danau, sungai, pantai, air
terjun, gunung berapi dan pemandangan yang menarik.

c. Hutan belukar

d. Flora dan fauna, seperti tumbuhan yang aneh, burung-burung, ikan, binatang buas, cagar alam,
daerah perburuan dan lain-lain.

e. Pusat kesehatan, yang termasuk kelompok ini adalah: sumber air mineral, mandi lumpur, sumber
air panas.

2. Sumberdaya buatan manusia (man made supply) seperti:

a. Monumen bersejarah dan sisa peradaban masa lampau.

b. Museum, art galery, perpustakaan, kesenian rakyat.

c. Acara tradisional, pameran, festival, upaca perkawinan, khitanan.

d. Rumah-rumah beribadah, seperti masjid, gereja, pura, kuil, candi.


3. Tata cara hidup masyarakat (way of life). Seperti: tarian, sandiwara, drama, upacara-upacara
keagamaan. (Oka A. Yoeti, 1996: 172-176).[5]

D. Dampak Pariwisata

Banyak sekali manfaat yang dapat diberikan oleh pengembangan sektor industri pariwisata. Menurut
buku Pegangan Penatar dan Penyuluh Kepariwisataan Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata, sedikitnya manfaat dan dampak negatif yang ditimbulkan tersebut dapat
ditinjau dari empat aspek:

(a) aspek ekonomi,

(b) aspek social-budaya,

(c) aspek berbangsa dan bernegara, dan

(d) aspek lingkungan.

Di samping manfaat yang diberikan dari perkembangan dan pertumbuhan industri pariwisata, juga perlu
diantisipasi dampak-dampak negatif yang mungkin ditimbulkan bila perlu mengurangi atau bahkan dapat
menghilangkannya.

· Dampak Positif

1. Aspek Ekonomi

a. Menambah devisa negara

b. Membuka kesempatan berusaha

c. Menambah lapangan kerja

d. Meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah

e. Mendorong pembangunan daerah

2. Aspek Sosial Budaya

a. Pelestarian budaya dan adat

b. Meningkatkan kecerdasan masyarakat

c. Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani


d. Mengurangi konflik sosial mental dengan demikian pengembangan pariwisata merupakan salah
satu cara dalam upaya untuk melestarikan lingkungan

e. Memperoleh nilai tambah atas pemanfaatan dari lingkungan yang ada

3. Aspek Berbangsa dan Bernegara

a. Mempererat persatuan dan kesatuan

b. Menumbuhkan rasa memiliki dan kecintaan terhadap tanah air

c. Memelihara hubungan baik secara internasional

4. Aspek Lingkungan

a. Melestarikan lingkungan

b. Menumbuhkan suasana hidup tenang dan bersih

c. Meningkatkan kesegaran fisik dan mental

d. Jauh dari polusi, santai dapat mengembalikan kesehatan fisik dan mental dengan demikian
pengembangan pariwisata merupakan salah satu cara dalam upaya untuk melestarikan lingkungan

e. Memperoleh nilai tambah atas pemanfaatan dari lingkungan yang ada

· Dampak Negatif

1. Aspek ekonomi

a. Harga barang dan jasa pelayanan menjadi naik, karena banyaknya pengunjung atau wisatawan
yang dianggap selalu membawa uang banyak

b. Harga tanah naik akibat dari banyaknya para investor yang memerlukan tanah untuk pembangunan
hotel dan sarana penunjang industri pariwisata

2. Aspek Sosial Budaya

a. Penduduk khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatawan yang tidak sesuai dengan
budaya dan kepribadian bangsa kita sendiri

3. Aspek Berbangsa dan Bernegara

a. Banyaknya peluang dan pemanfaatan wisatawan juga mengandung perilaku yang tidak
bertanggung jawab misalnya: pemerasan, perjudian, prostitusi, pencurian, peredaran barang-barang
terlarang, penipuan dan lain sebagainya

4. Aspek Lingkungan
a. Terjadi pengrusakan lingkungan, baik karena pembangunan prasarana dan sarana pariwisata,
maupun karena ulah pengunjung atau tangan-tangan jahil orang yang tidak bertanggung jawab