Anda di halaman 1dari 10

PERMASALAHAN YANG TERJADI DI PERAIRAN TAWAR YAITU DANAU

CONTOH DANAU

DANAU Sebagai sumber air paling praktis, danau sudah menyediakannya melalui terkumpulnya
air secara alami melalui aliran permukaan yang masuk ke danau, aliran sungai-sungai yang menuju
ke danau dan melalui aliran di bawah tanah yang secara alami mengisi cekungan dimuka bumi ini.
Bentuk fisik danaupun memberikan daya tarik sebagai tempat membuang yang praktis.

Jika semua dibiarkan demikian, maka akan mengakibatkan danau tak akan bertahan lama berada di
muka bumi. Saat ini terlihat ekosistem danau tidak dikelola sebagaimana mestinya. Sebaliknya,
untuk memenuhi kepentingan manusia, lingkungan sekitar danau diubah untuk dicocokkan dengan
cara hidup dan cara bermukim manusia, atau bahkan kawasan ini sering dirombak untuk
menampung berbagai bentuk kegiatan manusia seperti permukiman, prasarana jalan, saluran limbah
rumah tangga, tanah pertanian, rekreasi dan sebagainya (Connell & Miller,1995).

Sementara, kondisi ekosistem danau tidak lepas dari pengaruh kondisi sungai-sungai yang mengalir
masuk (inlet) bagi danau. Danau merupakan bagian hulu dari DAS. Dari hasil penelitian, daerah
aliran sungai (DAS) telah mengalami degradasi lingkungan, akibat kegiatan-kegiatan pembangunan
pada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, pariwisata dan industri di DAS Maninjau. Hal ini
mengakibatkan perubahan penggunaan lahan yang selain memberikan manfaat juga menimbulkan
dampak negatif terhadap fungsi ekologi, ekonomi, dan estetika ekosistem danau.

Sehingga seringkali terjadi pemanfaatan danau dan konservasi danau yang tidak berimbang, dimana
pemanfaatan danau lebih mendominasi sumberdaya alam danau dan kawasan daerah aliran sungai
(watershed). Hal ini mengakibatkan danau berada pada kondisi suksesi, yaitu berubah dari
ekosistem perairan ke bentuk ekosistem daratan. Pendangkalan akibat erosi, eutrofikasi merupakan
penyebab suksesi suatu perairan danau. Hilangnya ekosistem danau mengakibatkan kekurangan
cadangan air tanah pada suatu kawasan/wilayah yang bakal mengancam ketersediaan air bersih bagi
kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Akibatnya, keberlanjutan suatu lingkungan hidup
yang didalamnya terdapat manusia dan alam terancam tak dapat berlanjut. Oleh karena itu,
diperlukan suatu kajian menyeluruh mengenai pola dan struktur pemanfaatan ruang di kawasan
danau ini, yang kemudian dimanifestasikan menjadi peraturan daerah ke dalam bentuk Rencana
Tata Ruang Kawasan Danau.

Umumnya, danau memiliki outlet sungai, di sekitarnya terdapat permukiman penduduk.


Penggunaan lahan di kawasan danau tersebut biasanya terbagi ke dalam sembilan macam tipe
penggunaan : (1) Pemukiman; (2) Pertanian lahan kering; (3) Kebun kelapa; (4) Rumput rawa dan
sagu; (5) Hutan; (6) Sawah; (7) Perikanan danau (8) Pembangkit Listrik Tenaga Air; (9) Sarana dan
prasarana wisata, dan penggunaan lain-lain. Dengan kondisi tersebut, umumnya permasalahan yang
timbul adalah:
1. Tidak jelasnya batas tata ruang pemanfaatan di kawasan danau yang mengakibatkan
kerusakan hutan, pendangkalan danau secara terus menerus
2. Tandusnya gunung-gunung di sekitar danau sebagai daerah tangkapan air mengakibatkan
debit air danau menurun di musim kemarau dan banjir di musim hutan.
3. Budidaya perairan danau dengan teknik karamba/floating net di danau yang tidak teratur
mengakibatkan pencemaran sampah dan meningkatnya proses penyuburan rumput danau (arakan)
yang menyebabkan tekanan ekologis terhadap habitat beberapa ikan dan biota danau endemik
lainnya, yang terus berlangsung secara intensif.
4. Orientasi komersil masyarakat lokal di kawasan danau terhadap pertanian mengakibatkan
monokultur yang tidak ramah lingkungan
5. Tekanan ekonomi secara umum dan kurangnya pemahaman masyarakat lokal terhadap
pelestarian nilai dan potensi sumberdaya alamnya sejak lama mengakibatkan pengurasan
sumberdaya alam dan menurunnya populasi keanekaragaman hayati endemik di kawasan sekitar
danau
6. Pengembangan daerah pemukiman, pariwisata, dan pembangunan sarana publik di kawasan
sekitar danau yang tidak memperhatikan aspek lingkungan mengakibatkan perusakan ekosistem
daerah aliran sungai (DAS) secara tidak langsung
7. Menurunnya debit air danau mengancam suplai air untuk pembangkit listril tenaga air (PLTA),
persawahan masyarakat dan PDAM setempat.

Selain itu, danau juga dapat dilihat sebagai kawasan yang memiliki potensi alam sumberdaya hayati
ikan tawar dan merupakan daya tarik tersendiri bagi industri perikanan dan pariwisata. Tetapi
sayangnya, karakteristik masyarakat setempat dalam memanfaatkan potensi alamnya masih sangat
sederhana dalam berbagai aspek pengelolaannya. Permasalahan umum yang sering timbul adalah:
1. Pengembangan sarana wisata yang tidak terkendali mengakibatkan masyarakat lokal
kehilangan akses terhadap tanah dan sumber daya alam.
2. Adanya perbedaan kepentingan antara Pemerintah Daerah dan Dinas Kehutanan dalam
pengelolaan kawasan sekitar danau.
3. Pola penangkapan ikan yang merusak lingkungan oleh nelayan luar kawasan danau yang
merugikan nelayan setempat
4. Meningkatnya pencemaran sampah padat dari sungai-sungai yang bermuara ke danau dan
kegiatan sekitar danau serta kegiatan wisata yang mengurangi nilai estetika dan meningkatnya
kerusakan ekosistem
5. Pengelolaan sumberdaya alam yang tidak teratur karena keterdesakan permasalahan di atas
dan tekanan ekonomi secara umum yang dihadapi masyarakat lokal serta kurangnya pemahaman
terhadap pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan sehingga menimbulkan tindakan-tindakan
yang merusak ekosistem

Berdasarkan hasil penelitian (LPPM Univ. Bung Hatta, Bambang Istijono) dan beberapa opini
tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan yang dikutip dari Harian Kompas dan Suara Karya,
April 2002, maka dapat digambarkan beberapa hipotesi persoalan kawasan Danau Maninjau adalah
sebagai berikut:
Menurunnya kualitas lingkungan Danau Maninjau karena tercemarnya air danau selama 5 tahun
terakhir, yang disebabkan oleh blooming fitoplankton, tingginya limbah masyarakat di sekitar
danau, dan/atau dibendungnya sungai (batang) antokan sebagai outlet aliran air menyebabkan:
1) Konsumsi air masyarakat di sekitar danau menjadi tidak sehat,
2) Menurunnya sumber protein dari komoditas ikan yang diternak di Danau Maninjau,
3) Merosotnya intensitas kunjungan wisatawan untuk menginap,
4) Terganggunya sistem pengambilan air oleh PLTA.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persoalan air Danau Maninjau disebabkan oleh faktor
manusia (human error) yang memanfaatkan kawasan di sekitar danau tersebut tanpa
mempertimbangkan faktor lingkungan. Adanya dampak negatif pembangunan PLTA yang
menyumbat aliran air yang membawa endapan/limbah menunjukkan lemahnya kajian secara
komprehensif terhadap pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, penting suatu kajian untuk mengatur
alokasi pemanfaatan ruang sekarang dan akan datang yang lebih mempertimbangkan aspek
lingkungan.

A. Penentuan Fungsi Kawasan Danau


Tahapan ini merupakan awal dari penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Maninjau.
Fungsi dan peran Kawasan Danau Maninjau penting untuk ditetapkan karena mempertimbangkan
keberadaannya yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga sangat berkait dengan kegiatan yang
bersifat regional, nasional, bahkan internasional. Oleh karena itu, ada 2 (dua) jenis fungsi Kawasan
Danau Maninjau yang perlu dianalisis, yaitu :
1. Fungsi Danau, yang dapat dikaji dari sudut pandang ekologi, sumber air bersih,
manfaatnya bagi penduduk sekitar, dan lain-lain
2. Fungsi Kawasan, yang dikaji dari kontribusi kawasan danau tersebut terhadap
Kabupaten Agam dan Propinsi Sumatera Barat.

Analisis dari kedua fungsi ini akan menghasilkan informasi tentang bagaimana seharusnya suatu
kawasan danau berfungsi dan jenis kegiatan yang harus dialokasikan di kawasan tersebut,
mengingat pengaruh Danau Maninjau tidak hanya dibatasi oleh faktor geografisnya saja.

Untuk menghasilkan ketetapan fungsi yang ingin dijalankan, dilakukan kajian teknis terhadap
fungsi danau, selain melakukan pendekatan konsensus kepada para stakeholder yang terkait dengan
kawasan Danau Maninjau, tidak hanya masyarakat daerah Kabupaten Agam, tetapi juga aktor
pemerintah, swasta di tingkat propinsi dan nasional.

Pendekatan konsesus ini merupakan media yang menjembatani antara proses pendekatan ilmiah
yang dilakukan dalam penyusunan tata ruang dan perwujudan konsep tata ruang yang partisipatif,
forum diskusi (konsultasi) dapat dijadikan salah satu metoda yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianti, 2000. Kamus Istilah Perikanan. Kanisius. Yogyakarta.

Afrianto, L. dan Liviawati, 1994. Teknik Pembuatan Tambak Udang. Kanisius. Yogyakarta.

Alaerts, G. dan S. Santika, 1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional. Surabaya.

Alfan, M.S., 1995. Evaluasi Kualitas Fisika Kimia Air, sungai Ciliwung di Wilayah Kota
Administrasi Depok bagi Kepentingan Perikanan. Skripsi. IPB. Bogor.

Anggoro, S., 1983. Permasalahan Kesuburan Pertanian Bagi Peningkatan Produksi Ikan di Tambak.
Paper M.A. Kolokium. Jurusan Ilmu Perairan. Fakultas Pasca Sarjana. IPB. Bogor.

Basyarie, A., 1995. Pengamatan Kualitas Perairan di kawasan Pemeliharaan Ikan Ekor Kuning
(Yellow Tail) dalam Keramba Jaring Apung. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi
Pertanian. Bojonegoro. Serang

Pedoman Pengelolaan Ekosistem Danau

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2008

BAB III PERMASALAHAN EKOSISTEM DANAU

3.1. Sumber dan Dampak Kerusakan Ekosistem Danau

Ekosistem danau yang terdiri dari ekosistem akuatik dan ekosistem terestrial daerah tangkapan air
danau, banyak menghadapai berbagai permasalahan lingkungan yang berdampak kepada
kelestariannya serta fungsinya sebagai sumber daya hayati dan sumber daya air.

Pada daerah aliran sungai (DAS) dan daerah tangkapan air danau (DTA) serta sempadan danau,
potensi kerusakan yang dapat terjadi pada umumnya adalah:

Kerusakan lingkungan dan erosi lahan yang disebabkan oleh penebangan hutan dan pengolahan
lahan yang tidak benar, sehingga menimbulkan erosi dan sedimentasi dan menyebabkan
pendangkalan serta penyempitan danau.
Pembuangan limbah penduduk, industri, pertambangan dan pertanian yang menyebabkan
pencemaran air danau.
Berbagai kegiatan yang berlangsung pada perairan danau juga berpotensi merusak ekosistem
akuatik, yaitu:

Penangkapan ikan dengan cara yang merusak sumber daya (overfishing).


Pembudidayaan ikan dengan keramba jaring apung yang tidak terkendali sehingga berpotensi
pembuangan limbah pakan ikan dan pencemaran air.
Pengambilan air danau sebagai air baku ataupun sebagai tenaga air (PLTA) yang kurang
memperhitungkan keseimbangan hidrologi danau sehingga mengubah karakteristik permukaan air
danau dan sempadan danau.
Berbagai sumber dan dampak permasalahan tersebut telah merusak ekosistem akuatik danau dan
berpotensi atau telah terjadi pada beberapa danau di Indonesia (Tabel 3.1). Kerusakan yang terjadi
antara lain adalah sebagai berikut:

Pendangkalan dan penyempitan danau, yang telah merusak ekosistem danau bertipe paparan banjir.
Pencemaran kualitas air danau yang menggangu pertumbuhan biota akuatik dan pemanfaatan air
danau. Bila terjadi bencana arus balik (overturn) bahan pencemaran dari dasar danau terangkat ke
permukaan air.
Kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity).
Pertumbuhan gulma air sebagai akibat pencemaran limbah organik dan zat hara (unsur Nitrogen dan
Phosphor).
Pertumbuhan alga atau marak alga (algae bloom) yang disebabkan proses penyuburan air danau
akibat pencemaran limbah organik dan zat penyubur.
Perubahan fluktuasi muka air danau, yang disebabkan oleh kerusakan DAS dan DTA serta
pengambilan air dan tenaga air, sehingga mengganggu keseimbangan ekologis daerah sempadan
danau.

3.2. Pendangkalan Danau

Lahan kritis pada DAS dan DTA danau telah menyebabkan pendangkalan dan penyempitan danau.
Pendangkalan danau telah terjadi pada danau dangkal maupun danau dalam. Pada danau dangkal
dampaknya sangat nyata dan menghawatirkan karena lambat laun status danau berubah menjadi
rawa dan seterusnya menjadi lahan daratan. Padahal kondisi dan fungsi ekosistemnya sejak awal
adalah danau. Perubahan status tersebut akan menyebabkan kehilangan nilai ekosistem yang
sesungguhnya merupakan ciri khas danau tersebut. Upaya pemulihan dengan cara pengerukan
sangat mahal, jauh lebih mahal dari pada upaya pencegahannya.

Masalah pendangkalan danau tipe dangkal terjadi antara lain pada Danau Tempe dan Danau
Limboto. Pendangkalan dan penyempitan tersebut selain mengubah ekosistem juga mengakibatkan
bencana banjir karena daya tampung danau yang berkurang.

Pendangkalan pada danau dalam terjadi antara lain pada Danau Sentani. Danau yang indah sebagai
sumber daya perikanan dan pariwisata tersebut tanpa disadari telah menjadi tempat buangan
sampah terbesar, serta terbuangnya berbagai sisa lahan dan bahan. Selain itu danau tipe medium dan
dalam yang terjadi dalam bentuk danau vulkanik dan danau tektonik, banyak yang berada pada DTA
yang curam, sehingga longsoran juga telah menyebabkan pendangkalan.
3.3. Pencemaran Air

Sumber pencemaran air danau adalah limbah domestik berupa bahan organik dari permukiman
penduduk di daerah tangkapan air dan sempadan danau. Adanya kegiatan lain berupa usaha
pertanian, peternakan, industri rumah dan pariwisata menambah limbah bahan organik yang masuk
ke perairan danau. Limbah tersebut terurai menjadi bahan anorganik, yaitu unsur hara Nitrogen dan
Phosphor yang sangat berpotensi menyuburkan air danau.

Gambar 3.1. Limbah domestik yang dibuang langsung ke Danau Toba tanpa pengolahan

Tingkat kesuburan air biasanya mulai dari fase oligotrof (miskin unsur hara) ke fase mesotrof
(cukup unsur hara) kemudian ke fase eutrof (kaya unsur hara) dan memuncak ke fase hyper-eutrof
yaitu fase sangat kaya unsur hara sehingga terjadi kerusakan ekosistem perairan yang juga dikenal
sebagai perairan rusak (dystrof). Istilah kesuburan pada penilaian status trofik sesungguhnya adalah
peningkatan atau pencemaran unsur hara Nitrogen dan Phosphor yang berdampak mempengaruhi
kualitas air fisika dan kimia.

Oleh karena itu beberapa negara ada yang menggolongkan kualitas air berdasarkan tingkat
kesuburan ini. Oligotrof sebagai golongan A atau Kelas 1, mesotrof sebagai golongan B atau Kelas
2, eutrof sebagai golongan C atau Kelas 3, dan hyper-eutrof sebagai golongan D atau Kelas 4.

Bahan organik dari limbah domestik yang masuk ke perairan danau sebagian akan terserap oleh
tumbuhan air. Sisanya, bersama hasil peruraian massa tumbuhan air akan mengendap ke dasar
perairan yang afotik. Bila sewaktu-waktu terjadi pembalikan massa air zona afotik ke fotik,
peristiwa blooming alga dapat mengancam kehidupan di perairan. Ancaman biasanya terjadi
pada malam hari akibat adanya persaingan kebutuhan oksigen antara tumbuhan dengan hewan.
Bila pembalikan massa air berasal dari kolom hypolimnion, peristiwanya akan lebih fatal, tidak
hanya di malam hari tapi juga di siang hari. Hal ini terjadi karena massa air kolom hypolimnion
selain anaerob juga mengandung gas-gas beracun H2S (Hidrogen Sulfida), NH3 (Amoniak), dan
CH4 (Methan). Endapan material di dasar perairan danau merupakan bom waktu bagi
kehidupan di perairan danau (Tabel 3.3). Kejadian arus balik (overturn) pernah terjadi di Danau
Maninjau dan Danau Singkarak, sehingga gas beracun dari dasar danau naik ke permukaan air dan
mematikan ikan budidaya KJA dan ikan endemik (ikan bilih di Danau Singkarak).

3.4. Keanekaragaman Hayati (Biodiversity)

Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi artinya Indonesia mempunyai banyak
jenis tumbuhan dan hewan, dan dikenal sebagai megabiodiversity. Suatu ekosistem yang
mempunyai keanekaragam yang tinggi mempunyai kestabilan ekologi yang tinggi pula. Pada
suatu ekosistem danau misalnya apabila tumbuh massal gulma air atau algae berarti didominasi
oleh satu jenis tumbuhan, keanekaragamannya rendah. Khususnya di negara tropik mempunyai
keanekaragam yang tinggi dibandingkan dengan negara subtropik, misalnya hutan hujan tropis,
demikian pula lautannya mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi.

Sebagai sumber plasma nutfah dan genetik, perairan danau memiliki keanekaragaman jenis ikan
yang tinggi. Ikan endemik antara lain hidup di danau-danau Laut Tawar, Toba, Maninjau,
Singkarak, Limboto, Poso, Matano, Mahalona, Towuti, dan Sentani.

Ancaman terhadap keanekaragaman hayati ekosistem air tawar disebabkan oleh 5 faktor, yaitu:

Penangkapan berlebihan (over exploitation) dan dengan cara yang merusak seluruh biota air.
Kerusakan habitat oleh pelumpuran, pendangkalan dan penurunan permukaan air serta
penyempitan perairan danau.
Kerusakan kualitas air oleh pencemaran dari DAS, DTA, sempadan dan kegiatan pada perairan
danau
Perubahan pola aliran air
Invasi oleh jenis-jenis hewan eksotis.
Sebagian dari ancaman tersebut berpotensi terjadi pada beberapa danau di Indonesia.

Pemanfaatan air danau untuk kebutuhan listrik atau pemanfaatan lainnya dengan pembuatan
bangunan di keluaran air (outlet) danau dapat mengganggu ruaya beberapa jenis ikan. Ikan yang
akan memijah di hulu sungai atau danau (ikan anadromous) dan sebaliknya ikan yang akan
memijah di hilir sungai atau laut (ikan catadromous) misalnya ikan sidat, pasti akan kesulitan
dengan adanya bangunan yang dimaksud. Pembuatan alur ikan (fish way) agar supaya ikan tidak
terganggu merupakan tindakan yang bijak meski biaya pembuatannya cukup mahal.

3.5. Tumbuhan Air

Pertumbuhan massal gulma air/tumbuhan pada suatu danau atau waduk akan mengganggu
peruntukan danau atau waduk, karena akan mempercepat pendangkalan dan proses
evapotranspirasi, mengganggu lalu lintas perairan, mengurangi nilai estetika, mengganggu
kegiatan olahraga air. Pertumbuhan massal gulma air/tumbuhan air terjadi akibat dari penyuburan
(eutrofikasi) perairan, yaitu berlimpahnya unsur hara (nutrien) Nitrogen dan Phosphor.
Penanggulangan yang dilakukan dapat secara biologi yaitu dengan jenis ikan tertentu yaitu grass
carp/white amur (Ctenopharyngodon idella), secara mekanis (dengan mesin) dan manual (diangkat
dengan tenaga manusia). Penanggulangan secara kimiawi tidak dianjurkan karena akan
mencemari lingkungan perairan.

Perkembangan tumbuhan air di perairan danau sangat bergantung pada sediaan unsur hara
perairan, sehingga dapat dijadikan indikator kesuburan air danau yang pada umumnya terbatas di
pinggiran (daerah litoral) danau. Indonesia memiliki beberapa jenis tumbuhan air yang
digolongkan sebagai gulma (tumbuhan pengganggu). Tiga jenis diantaranya termasuk gulma yang
dominan, yaitu eceng gondok (Eichhornia crassipes), kiambang (Salvinia molesta), dan ganggang
(Hydrilla verticilata). Dua jenis gulma pertama adalah gulma mengapung dan yang terakhir adalah
gulma tenggelam.

Gambar 3.2. Eceng gondok yang menghambat kegiatan transportasi di Danau Toba

Pencemaran air akibat meningkatnya kandungan unsur hara selain memicu pertumbuhan vegetasi
dapat pula mengganggu kehidupan hewan airnya. Vegetasi yang berupa tumbuhan mikro dan
makro dapat berperan ganda, baik positif maupun negatif. Peran positif tumbuhan air selain
sebagai pakan dan tempat berlindung serta berkembang biak hewan air, juga sebagai pemasok
oksigen bagi kehidupan hewan air melalui proses fotosintesis.

Melalui proses ini pula tumbuhan air mampu menyerap unsur hara termasuk unsur-unsur logam
berat yang berbahaya dan mengendapkan partikel koloid lumpur sehingga air perairan menjadi
lebih bersih.

Selain mengurangi volume air dan mempercepat laju penguapan, tumbuhan air mengganggu
transportasi dan estetika wisata, dan juga mengganggu turbin PLTA apabila danau tidak dilengkapi
dengan jaring penahan (trash boom).

3.6. Rantai Makanan (Food Chain) dan Jaring Makanan (Food Web)

Ekosistem danau memiliki kehidupatan biota akuatik yang tersusun dalam bentuk rantai makanan
dan beberapa rantai membentuk jaring makanan. Rantai makanan secara umum digambarkan
sebagai berikut:

Tumbuhan Herbivora Karnivora Kecil Karnivora Besar dan seterusnya

Tumbuhan berklorofil (merupakan produsen) dimakan oleh Herbivora (konsumen 1) kemudian


dimakan oleh karnivora kecil (konsumen 2); konsumen 2 dimakan oleh karnivora besar
(konsumen 3). Produsen, konsumen 1, 2 dan 3 menunjukkan tingkat tropik (trophic level) yang
berbeda pada sistem rantai makanan dan jaring makanan.

Di dalam suatu ekosistem perairan (danau dan/atau waduk) tumbuhan berklorofil dapat berupa
fitoplankton dimakan oleh zooplankton, zooplankton dimakan ikan pemakan plankton (plankton
feeder) misalnya ikan nilem, ikan nilem (kecil) dimakan oleh karnivora besar misalnya ikan lele.
Ataupun dapat saja tumbuhan berklorofil tingkat tinggi (spermatofita) misalnya ganggeng
(Hydrilla verticillata) dan/atau eceng gondok (Eichhornia crassipes) dimakan oleh ikan herbivora
misalnya ikan tawes (Puntius javanicus) dan/atau herbivora lainnya yaitu ikan koan/white
amur/grass carp (Ctenopharyngodon idella).

Penerapan prinsip rantai makanan dalam penanggulangan gulma air atau tumbuhan air
pengganggu, telah berhasil dilakukan oleh Puslit Limnologi LIPI di Danau Kerinci yang banyak
ditumbuhi Hydrilla dan eceng gondok; kedua jenis gulma air ini dapat dikendalikan secara
biologis. Hal ini dilakukan juga di Waduk Jatiluhur yang telah mengalami blooming alga (marak
algae), pengendaliannya dilakukan dengan penebaran ikan nilem yang merupakan plankton feeder,
namun hasilnya belum terlihat.

Maraknya fitoplankton dan gulma air disebabkan eutrofikasi pada suatu perairan, selain itu karena
tidak berjalannya prinsip rantai makanan, oleh karena tidak adanya musuh alami yang dapat
memakan atau memanfaatkannya. Apabila pada suatu ekosistem terdapat beberapa jenis
konsumen yang sama niche/relungnya (occupacation), maka akan terjadi persaingan diantara
mereka.

Contoh lain yang sederhana, di ekosistem sawah yang banyak/timbul hama tikus, hal ini terjadi
karena tidak adanya musuh alami berupa predator yaitu ular sebagai pemangsa (predator)
sedangkan tikus adalah yang dimangsa (prey). Contoh lain pada suatu padang rumput, dimana
akan terjadi persaingan baik antara konsumen 1 (herbivora) maupun konsumen 2 (karnivora)
karena mereka mempunyai niche yang sama. Sehingga akan terjadi makin sedikitnya suatu jenis
konsumen dan konsumen lainnya berkembang ataupun dapat terjadi rumput (tumbuhan berupa
produsen) makin sedikit. Apabila tidak ada campur tangan akan musnah.

3.7. Alga/Ganggang Biru (Microcystis)

Pertumbuhan marak algae pada suatu danau atau waduk disebabkan karena banyaknya kandungan
nutrisi N dan P, khususnya NO3 dan PO4 pada suatu perairan. Maraknya algae Microcystis di
Waduk Ir. H. Djuanda/Jatiluhur, telah mengganggu perairan tersebut, biasanya menimbulkan bau
tidak sedap. Microcystis mengeluarkan sejenis racun (toxin) yaitu microcystin yang dapat
mematikan organisme lainnya. Ikan sulit untuk mencerna Mycrocystis karena tubuhnya diselaputi
cairan lignin.

3.8. Perubahan dan Fluktuasi Permukaan Air dan Luas Danau

Perubahan fluktuasi muka air danau antara lain disebabkan oleh kerusakan DAS dan DTA.
Perubahan karakteristik aliran air di musim hujan dan musim kemarau terjadi karena lahan tidak
mampu menyerap dan menyimpan air hujan. DAS dan DTA yang rusak menyebabkan fluktuasi
debit banjir di musim hujan dan debit sangat rendah di musim kemarau dengan perbedaan yang
sangat drastis. Sebagai akibatnya, luas dan kedalaman danau juga berubah cepat mengikuti musim,
seperti yang terjadi pada danau dangkal dan danau paparan banjir (Tempe dan Limboto).

Lahan sempadan danau yang terjadi akibat penyusutan dan penyempitan perairan danau, selain
berakibat pada peralihan ekosistem danau menjadi ekosistem rawa lebak, juga mengakibatkan
terjadinya perubahan status kepemilikan dan pengelolaan lahan sempadan dan daratan yang
ditimbulkannya oleh penduduk di sekitarnya.

Pengambilan air untuk air baku, air irigasi, dan tenaga air, berpotensi mengganggu keseimbangan
ekologis daerah sempadan danau apabila menganggu keseimbangan hidrologi danau. Pengambilan
air danau berlebihan dapat mengakibatkan permukaan air danau surut yang mengubah ekosistem
perairan, karena hamparan sempadan danau apabila tergenang air serta keliling pantainya
merupakan sumber kehidupan dan habitat berbagai biota air.