Anda di halaman 1dari 19

Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Sumber daya alam merupakan penunjang utama bagi kehidupan
manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Interaksi antara manusia
dengan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya merupakan salah satu
bentuk pemanfaatan yang dilakukan manusia dalam mengelola sumber daya
alam.
Secara umum sumber daya dapat dibagi menjadi dua golongan.
Pertama yaitu sumber daya yang dapat diperbarui seperti kayu, tanaman
pangan, hewan ternak, dan sebagainya. Kedua, sumber daya yang tidak dapat
diperbarui seperti minyak bumi, batu bara, gas alam, dan barang tambang
lainnya.
Indonesia merupakan negara yang terletak di khatulistiwa yang
memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah disamping letaknya yang
strategis secara geografis. Sumber daya alam tersebut mulai dari kekayaan
laut, hutan, hingga barang tambang yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke. Salah satu produksi sumber daya pangan di Indonesia yang utama
adalah dari sektor pertanian.
Di Jawa Barat hasil tanaman pangan meliputi beras, kentang manis,
jagung, buah-buahan dan sayuran, disamping itu juga terdapat komoditi
seperti teh, kelapa, minyak sawit, karet alam, gula, coklat dan kopi.
Jawa Barat merupakan 'Rumah Produksi' bagi ekonomi Indonesia,
hasil pertanian Provinsi Jawa Barat menyumbangkan 15 persen dari nilai total
pertanian Indonesia. Hal tersebut dikarenakan hampir 23 persen dari total luas
29,3 ribu kilometer persegi dialokasikan untuk produksi beras.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis bermaksud untuk membuat
suatu tulisan dalam bentuk makalah yang akan membahas mengenai pertanian
di Provinsi Jawa Barat.
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 2

I.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini yaitu sebagai
berikut:
1. Bagaimana kondisi wilayah Provinsi Jawa Barat?
2. Bagaimana kondisi Pertanian di Provinsi Jawa Barat?
3. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pertanian di Provinsi Jawa
Barat?
4. Bagaimana sistem pertanian di Provinsi Jawa Barat?
I.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu mahasiswa agar
dapat:
1. Mengetahui kondisi wilayah Provinsi Jawa Barat
2. Mengetahui kondisi pertanian di Provinsi Jawa Barat
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertanian di Provinsi Jawa
Barat
4. Mengetahui sistem pertanian di Provinsi Jawa Barat
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 3

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Deskripsi Wilayah Provinsi Jawa Barat


1. Kondisi Geografis
Propinsi Jawa Barat secara astronomis terletak di antara 5 50' LS - 7
50' LS dan 104 48' BT - 108 48' BT. Secara geografis, Provinsi Jawa Barat
disebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah Timur dengan Jawa
Tengah, sebelah Selatan dengan Samudra Hindia dan sebelah
Barat berbatasan dengan DKI Jakarta dan Provinsi Banten.
Dengan daratan dan pulau-pulau kecil (48 Pulau di Samudera
Indonesia, 4 Pulau di Laut Jawa, 14 Pulau di Teluk Banten dan 20 Pulau di
Selat Sunda), luas wilayah Jawa Barat 44.354,61 Km2 atau 4.435.461 Ha.
Dengan ditetapkannya Wilayah Banten menjadi Provinsi Banten, maka luas
wilayah Jawa Barat saat ini menjadi 35.746,26 Km2. Kondisi geografis yang
strategis ini merupakan keuntungan bagi daerah Jawa Barat terutama dari
segi komunikasi dan perhubungan. Kawasan utara merupakan daerah
berdatar rendah, sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit
pantai serta dataran tinggi bergunung-gunung ada di kawasan tengah.
Secara administratif, tahun 2013 Pemerintahan Provinsi Jawa barat
terdiri dari 18 Kabupaten, 9 Kota, 626 Kecamatan, 2.671 Kelurahan dan
3.291 Desa. 18 wilayah kabupaten dan 9 wilayah kota di Provinsi Jawa Barat,
yaitu:
1. Kab. Bandung 10. Kab. Karawang 20. Kota Banjar
2. Kab. Bandung 11. Kab. Kuningan 21. Kota Bekasi
Barat 12. Kab. Majalengka 22. Kota Bogor
3. Kab. Bekasi 13. Kab. Pangandaran 23. Kota Cimahi
4. Kab. Bogor 14. Kab. Purwakarta 24. Kota Cirebon
5. Kab. Ciamis 15. Kab. Subang 25. Kota Depok
6. Kab. Cianjur 16. Kab. Sukabumi 26. Kota Sukabumi
7. Kab. Cirebon 17. Kab. Sumedang 27. Kota Tasikmalaya
8. Kab. Garut 18. Kab. Tasikmalaya
9. Kab. Indramayu 19. Kota Bandung
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 4

2. Demografi
Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat berdasarkan hasil sensus 2010
adalah sebanyak 43.053.732 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat
tinggal di daerah perkotaan sebanyak 28.282.915 jiwa (65,69 persen) dan di
daerah perdesaan sebanyak 14.770.817 jiwa (34,31 persen). Persentase
distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah
sebesar 0,41 persen di Kota Banjar hingga yang tertinggi sebesar 11,08
persen di Kabupaten Bogor.
Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Barat sebanyak 21.907.040 jiwa
dan perempuan sebanyak 21.146.692 jiwa. Seks Rasio adalah 104, berarti
terdapat 104 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks rasio menurut
kabupaten/kota yang terendah adalah Kabupaten Ciamis sebesar 98 dan
tertinggi adalah Kabupaten Cianjur sebesar 107. Seks Rasio pada kelompok
umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima
tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 97 sampai dengan 113, dan dan
kelompok umur 65-69 sebesar 96.
Median umur penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2010 adalah 26,86
tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Barat
termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan
penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median
umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun.
Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Jawa Barat adalah 51,20.
Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun)
terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang
menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio
ketergantungan di daerah perkotaan adalah 48,84 sementara di daerah
perdesaan 55,92.
3. Bentang Alam
Proses geologi yang terjadi jutaan tahun lalu menyebabkan Provinsi
Jawa Barat denganluas 3,7 juta hektar terbagi menjadi sekitar 60 % daerah
bergunung dengan ketinggian antara 500 - 3.079 meter dpl dan 40 % daerah
dataran yang memiliki variasi tinggi antara 0 - 500 meter dari permukaan
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 5

laut. Wilayah pegunungan umumnya menempati bagian tengah dan selatan


Jawa Barat. Pada bagian tengah dapat ditemukan gunung-gunung apiaktif
seperti Gunung. Salak (2.211 m), Gede-Pangrango (3.019 m) , Ciremai
(3.078 m) dan Tangkuban Perahu (2.076) berpadu dengan deretan
pegunungan yang sudah tidak aktif seperti Gunung Halimun (1.744 m), Gn.
Ciparabakti (1.525 m) dan Gn. Cakrabuana (1.721m). Demikian pula halnya
di wilayah selatan, gunung-gunung api masih umum dijumpai seperti Gunung
Galunggung (2.168 m), Papandayan (2.622 m), dan Guntur (2.249 m);
bersama deretan pegunungan yang sudah tidak aktif seperti pegunungan
selatan Jawa.Keadaan sebaliknya dijumpai di wilayah utara Jawa Barat yang
merupakan daerah dataran sedang hingga rendah dengan didominasi oleh
dataran alluvial. Daerah daratan Jawa Barat dapat dikelompokkan menjadi
beberapa karakter sebagai berikut:
a. Daerah pegunungan curam di bagian selatan dengan ketinggian > 1.500
mdpl
b. Daerah lereng bukit landai di bagian tengah dengan ketinggian 100-1.500
mdpl
c. Daerah dataran rendah yang luas di bagian utara dengan ketinggian 0-10
mdpl
4. Geologi
Secara geologis daratan Jawa Barat merupakan bagian dari busur
kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung
utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Jawa Barat
didominasi oleh endapan alluvial yang terdapat di bagian utara dan sebagian
di selatan. Endapan lainnya yang cukup dominan adalah Elosen yang terdapat
di bagian tengah-timur, dan alluvial faces gunung api di bagian tengah-barat.
Kondisi geologi ini sangat mempengaruhi kegiatan penduduk dalam
memanfaatkan sumberdaya alam, khususnya kegiatan penambangan.
5. Hidrologi
Menurut Balai Dinas Pengelolaan Air Provinsi Jawa Barat, di Jawa
Barat terdapat 40 sungai yang berarti ada 40 Daerah Aliran Sungai (DAS).
DAS-DAS tersebut dikelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok DAS.
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 6

Kelompok yang memiliki area terluas adalah DAS Citarum disusul kemudian
oleh Kelompok DAS Cisadane-Cimandiri. Daerah Alirah Sungai (DAS) di
Jawa Barat.
II.2 Sejarah Pertanian di Provinsi Jawa Barat
Pola pertanian berladang yang di daerah Jawa Barat dikenal dengan
istilah ngahuma rupanya sudah dikenal sejak zaman Neolitihicum, ketika
manusia masih menggunakan alat/perkakas untuk keperluan hidupnya terbuat
dari batu yang telah diasah. Perkakas itu umumnya berupa kapak batu dan
sejenisnya.
Menurut laporan FAO (Food Agriculture Organizations) tahun 1957,
di seluruh dunia tanah yang diolah dengan cara berladang meliputi luas kira-
kira 14.000.000 mil persegi, tersebar di daerah tropis dan subtropis di Afrika,
Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia), Oceania, dan Amerika.
Kelompok masyarakat yang memiliki kecenderungan ke arah
bercocok tanam biasanya tinggal dalam lingkungan alam yang memiliki
curah hujan cukup banyak, sehingga pertumbuhan tanaman terus terjamin.
Oleh karena itu, daerah yang didiami oleh tipe masyarakat tersebut terdiri
dari areal hutan lebat, tanahnya basah dan mungkin pula berawa-rawa.
Daerah Jawa Barat yang beriklim antara tropis dan subtropis
merupakan daerah agraris yang subur. Dahulu daerah ini, terutama daerah
pedalaman, memiliki banyak hutan lebat serta daerah rawa.
Keadaan ini memungkinkan timbulnya cara-cara bercocok tanam
yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman berupa
pertanian di ladang yang disebut ngahuma dan pola pertanian menetap, yaitu
bersawah.
Saat ini, tingkat kepadatan penduduk Jawa Barat secara teoritis tidak
memungkinkan lagi masyarakat setempat melakukan bercocok tanam dengan
cara ngahuma seperti semula. Kegiatan ngahuma hanya mungkin dilakukan
di daerah yang masih jarang penduduknya.
Menurut para ahli, tingkat kepadatan penduduk yang memungkinkan
dilakukannya pola pertanian ngahuma (berladang) adalah sekitar 50 orang
untuk tiap kilometer persegi. Sekarang di Jawa Barat tingkat kepadatan
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 7

penduduk di daerah yang paling jarang pun, yaitu di daerah bagian selatan,
sudah mencapai rata-rata 200 orang tiap kilometer persegi.
Oleh karena itu, di daerah Jawa Barat bagian selatan, pola pertanian
ngahuma bergeser ke arah pola pertanian tumpang sari. Sistem pertanian
yang disebut terakhir adalah bentuk pertanian yang dikerjakan masyarakat di
atas tanah milik kehutanan yang sedang direboisasi. Sistem pertanian
tumpang sari berlangsung pula di daerah Bandung Utara, Cianjur, dan
Sukabumi Selatan. Di daerah Garut, sistem pertanian tersebut dikenal dengan
istilah ngultur.
Setiap orang yang mengolah tanah kehutanan dengan sistem tumpang
sari diwajibkan untuk memelihara tanaman kayu yang baru tumbuh sampai
menjadi besar. Bilamana pohon kayu telah besar, Jawatan Kehutanan
melarang melakukan tanaman tumpang sari. Para petani tumpang sari
kemudian mencari tanah kehutanan lain untuk diolah.
Dengan demikian, pola pertanian tumpang sari pun merupakan sistem
pertanian berpindah-pindah, tetapi perpindahan itu disesuaikan dengan
rencana reboisasi Jawatan Kehutanan. Kebijakan itu diambil oleh pemerinah
agar tidak terjadi lagi penebangan hutan secra liar, sehingga ekosistem dan
kelestarian lingkungan tetap terpelihara.
II.3 Kondisi Pertanian di Provinsi Jawa Barat
1. Pertanian
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat mencatat
produksi padi Jawa Barat pada tahun 2013 mencapai 12.083.160 ton yang
terdiri dari 11.538.472 ton padi sawah dan 544.688 ton padi ladang. Jumlah
ini mengalami kenaikan sebesar 811.299 ton dibanding tahun 2012 dengan
total produksi 11.271.861 ton yang terdiri dari 10.753.612 ton padi sawah dan
518.249 ton padi ladang. Produktivitas padi sawah maupun padi ladang pada
tahun 2013 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 60,78 dan 41,44
kuintal/hektar dibanding tahun 2012 sebesar 59,98 dan 41,14 kuintal/hektar.
Komoditas unggulan pertanian di Jawa Barat pada tahun 2013 masih
didominasi oleh beberapa komoditas palawija, tanaman semusim dan
sayuran. Untuk palawija, luas panen jagung masih merupakan yang terluas,
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 8

yaitu mencapai 152.923 hektar dengan jumlah produksi 1.101.998 ton.


Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2012 dengan luas panen
148.601 hektar dan jumlah produksi 1.028.653 ton. Namun produksi terbesar
dalam komoditas palawija adalah ubi kayu 2.138.532 ton dengan
produktivitas sebesar 223,92 kuintal per hektar.
2. Peternakan
Hewan ternak unggulan di Jawa Barat didominasi oleh sapi potong,
sapi perah, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, ayam buras, ayam ras
petelur, ayam ras pedaging, dan itik. Pada tahun 2013, populasi sapi potong
sebanyak 382.949 ekor atau turun 10.87 persen dibanding tahun 2012 yaitu
sebanyak 382.949 ekor. Populasi sapi perah turun sebesar 23,68 persen dari
tahun 2013 sebanyak 136.054 ekor menjadi 103.832 ekor pada tahun 2012.
Pertumbuhan populasi domba pada tahun 2013 sebesar 18,20 persen, ayam
buras 17,99 persen, kambing 11,13 persen, ayam ras petelur 4,97 persen,
ayam ras pedaging 4,93 persen dan populasi itik turun sebesar 5,50 persen.
Populasi sapi perah di Jawa Barat terutama dikembangkan di dua
kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung,
masing-masing sebesar 25,41 persen dan 33,23 persen dari total populasi sapi
perah di Jawa Barat, pengembangan sapi potong terbesar terdapat di
Kabupaten Tasikmalaya sebesar 11,19 persen dan Kabupaten Bogor sebesar
8,61 persen. Untuk ternak domba, daerah pengembangan terdapat di
Kabupaten Karawang sebesar 30,27 persen dari total populasi ternak domba,
dan Kabupaten Purwakarta sebesar 16,65 persen.
Daerah pengembangan ternak ayam ras petelur adalah Kabupaten
Bogor sebanyak 38,44 persen dari total populasi ayam ras petelur di Jawa
Barat, dan Kabupaten Sukabumi serta Kabupaten Cianjur masing-masing
sebesar 17,99 persen dan 10,98 persen. Sedangkan untuk ternak itik, daerah
yang memiliki populasi terbanyak adalah Kabupaten Karawang dan
Kabupaten Indramayu, masing-masing sebesar 24,303 persen dan 19,12
persen dari total populasi itik di Jawa Barat.
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 9

3. Kehutanan dan Perkebunan


Perkembangan pemasaran produksi kayu bulat yang dihasilkan
Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat pada tahun 2013 menunjukkan adanya
kenaikan sebesar 689,36 persen dibandingkan tahun 2012. Produksi kayu
bulat jati pada tahun 2013 sebanyak 53.794 m3 dari 7.392 m3 pada tahun
2012. Sedangkan produksi kayu bulat rimba mengalami kenaikan dibanding
tahun 2012 dari 27.960 pada tahun 2012 menjadi 193.361 m3 pada tahun
2013. Sementara itu, untuk produksi hasil hutan non kayu, cenderung terjadi
penurunan produksi pada kurun waktu tahun 2012-2013 untuk berbagai jenis
hasil hutan non kayu.
Dari 30 jenis komoditas perkebunan yang diusahakan di Jawa Barat,
sembilan komoditas perkebunan yang menjadi unggulan Jawa Barat adalah
komoditas kelapa, tebu, teh, karet, kopi, aren, tembakau, cengkeh, dan
mendong. Sedangkan untuk komoditas perkebunan lainnya termasuk ke
dalam jenis komoditas prospektif dan rintisan di Jawa Barat. Dalam kurun
waktu 2010-2013, komoditas perkebunan cenderung menunjukkan penurunan
jumlah produksi.
II.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertanian di Provinsi Jawa Barat
1. Topografi
Ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan
gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau
Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Daratan Jawa Barat dapat
dibedakan atas wilayah pegunungan curam (9,5% dari total luas
wilayah Jawa Barat) terletak di bagian Selatan dengan ketinggian lebih
dari 1.500 m di atas permukaan laut (dpl); wilayah lereng bukit yang landai
(36,48%) terletak di bagian Tengah dengan ketinggian 10 - 1.500 m dpl; dan
wilayah dataran luas (54,03%) terletak di bagian Utara dengan ketinggian
0 10 m dpl.
Tutupan lahan terluas di Jawa Barat berupa kebun campuran
(22,89%) dari luas wilayah Jawa Barat), sawah (20,27%), dan perkebunan
(17,41%), sementara hutan primer dan hutan sekunder di Jawa Barat hanya
15,93% dari seluruh luas wilayah Jawa Barat.
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 10

Berdasarkan fisiografi, Jawa Barat dapat distratifikasikan kedalam


tiga stara wilayah, yaitu:
1) Strata wilayah daratan rendah pantai utara, yaitu wilayah dengan
topografi datar, dengan dominasi lahan sawah dan lahan keringnaya
sangat terbatas. Meliputi kabupaten Bekasi, Karawang, Subang,
Indramayu dan Cirebon. Dengan dominasi lahan tersebut, maka usaha
tani yang dominan juga adalah padi sawah, sehingga dijuluki dengan
lumbung padi/beras, baik bagi Jawa Barat maupun bagi Nasional.
2) Strata wilayah dataran tinggi bagian tengah, dimana antara lahan sawah
dan lahan kering hampir berimbang, dengan topografi umumnya berbukit
sehingga berbagai komoditi dapat dikembangkan: padi, palawija, sayuran,
buah-buahan, tanaman hias dan aneka tanaman lainnya. Meliputi
Kabupaten Bogor, Purwakarta, Bandung, Sumedang, Kuningan,
Majalengka, serta bagian utara Kab. Sukabumi, Cianjur, Garut,
Tasikmalaya dan Ciamis.
3) Strata wilayah Jawa Barat Selatan, dengan topografi didominasi oleh
bukit pegunungan, dengan hanya sedikit lahan datar, sehingga luas sawah
terbatas umumnya disekitas sungai dan sekitar pantai. Pengembangan
usaha tani tanaman pangan harus hati-hati dengan mempertimbangkan
kemiringan lahan dan dengan usaa tani knservasi. Meliputi bagian selatan
dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya Dan Ciamis.
2. Iklim
Jawa Barat merupakan daerah hampir selalu basah dengan curah
hujan berkisar antara 1.000 - 6.000 mm, dengan pengecualian untuk daerah
pesisir yang berubah menjadi kering pada musim kemarau. Pada daerah
selatan dan tengah, intensitas hujan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah
utara.
Pada tahun 2013 sampai dengan pertengahan tahun 2014, curah hujan
rata-rata di Jawa Barat adalah 228,80 mm, dengan hari hujan tergolong cukup
tinggi dengan rata-rata 21,15 hari hujan per bulan. Sedangkan untuk suhu
rata-rata di Jawa Barat selama tahun 2013 sampai dengan pertengahan tahun
2014, terendah mencapai 20C dan tertinggi mencapai 28,80C. Untuk lebih
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 11

jelasnya data mengenai curah hujan, hari hujan dan temperatur pada tahun
2013-2014 di Jawa Barat dapat dilihat pada tabel 9 berikut:
Tabel II.1 Curah Hujan, Temperatur dan Hari Hujan Tahun 2013-2014
Temperatur Temperatur
Curah Hujan Hari Hujan
Bulan Maksimum Minimum
(mm) (Hari)
(C) (C)
Tahun 2013
Januari 28,3 21,0 216,9 26
Februari 28,6 20,3 250,0 23
Maret 29,6 20,4 305,0 24
April 29,1 20,7 286,0 26
Mei 28,7 20,3 171,0 23
Juni 28,5 20,3 231,5 16
Juli 28,0 19,0 159,0 16
Agustus 29,4 18,5 74,0 9
September 30,1 19,1 172,0 10
Oktober 30,0 19,6 234,0 21
November 29,8 20,0 164,0 19
Desember 28,4 20,1 418,0 27
Rata-rata 29,0 19,9 223,4 20
Tahun 2014
Januari 27,0 20,2 309,0 27
Februari 27,8 20,2 88,9 17
Maret 29,0 20,0 418,7 25
April 29,6 20,4 216,6 22
Mei 29,4 20,0 176,7 23
Juni 28,9 19,9 195,5 20
Rata-rata 28,6 20,1 234,2 22,3
Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Jawa Barat
Kecepatan angin rata-rata di Jawa Barat tahun 2013 sampai dengan
pertengahan 2014 mencapai 3,15 knot sedangkan rata-rata kecepatan angin
terbesar mencapai 13 knot terutama terjadi pada bulan April 2014.
Untuk lebih jelasnya data mengenai Keadaan Tekanan Udara
Kelembaban dan Kecepatan Angin di Jawa Barat pada tahun 2010 sampai
dengan pertengahan tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut:
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 12

Tabel II.2 Tekanan Udara, Kelembaban dan Kecepatan Angin


Tahun 2013-2014
Kecepatan Kecepatan Lama
Kelembaban
Bulan Angin Rata- Angin Terbesar Penyinaran
Nisbi (%)
rata (Knot) (Knot) Matahari (%)
Tahun 2013
Januari 4 12 49 79
Februari 4 10 52 80
Maret 4 9 58 79
April 3 10 52 82
Mei 3 9 53 82
Juni 3 10 61 78
Juli 3 9 58 77
Agustus 3 9 79 71
September 3 8 77 70
Oktober 3 10 69 73
November 4 11 64 74
Desember 3 13 40 80
Rata-rata 3 13 59 77
Tahun 2014
Januari 4 9 63 82
Februari 4 12 47 80
Maret 3 10 52 82
April 3 30 64 81
Mei 3 9 58 81
Juni 3 8 57 80
Rata-rata 3,3 13 56,8 81
Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Jawa Barat
3. Jenis tanah
Tanah di Jawa Barat dibagi menjadi 9 (sembilan) jenis tanah (soil
group). Perbedaan jenis tanah tersebut akan sangat berpengaruh terhadap
jenis usahatani yang dilaksanakan pada tanah tersebut.
Tabel II.3 Penggunaan Tanah Menurut Jenisnya di Jawa Barat
Jenis Tanah Penggunaan
Padi, Palawija, Kopi, Coklat, Lada, buah-
Latosol
buahan, Sayuran, Ubi kayu.
Podsolik Merah Kuning Ladang, Hutan, Karet
Aluvial Padi, Palawija, Perikanan Darat
Sayuran, bunga, teh, kina, kopi tropis,
Andosol
baik untuk obyek turisme
Regosol Kedelai, Kacang tanah, Kentang, Tebu,
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 13

Kapas, Sisal, Karet, Kina, Kelapa, Kelapa


sawit, Coklat, Teh dan Kina.
Glei Padi, Lada, Ubi jalar
Perkebunan, padi, kedelai, tebu, kacang-
Grumusol
kacangan, Tembakau, Hujan jati.
Mediteran Padi, Jagung, Kapas
Organosol Palawija, Padi, Karet
Sumber Data : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jawa Barat
Berdasarkan angka BPS, luas baku lahan di Jawa Barat tahun 2012
seluas 3.576.754 hektar, terdiri dari lahan sawah seluas 938.058 hektar, lahan
kering seluas 986.585 ha dan lahan bukan pertanian seluas 1.652.111 ha.
II.5 Sistem Pertanian di Provinsi Jawa Barat
1. Sistem Irigasi
Pertanian di Provinsi Jawa Barat rata-rata menggunakan sistem irigasi
permukaan dengan menggunakan sungai sebagai sumber utama dalam irigasi.
sistem ini adalah sistem yang diterapkan pemerintah kolonial belanda ketika
menjajah Indonesia, dimana sistem ini digunakan dalam mengairi perkebunan
tebu dan tembakau.
Kekurangan sistem irigasi permukaan ini yaitu pada musim hujan air
irigasi akan terbuang sia-sia dikarenakan debit air di sungai sangat besar dan
lahan sawah di sekitar daerah aliran sungai juga akan mengalami pengerosian
yang parah karena tergerus aliran debit air yang melimpah. Pada musim
kemarau, lahan sawah yang terletak lumayan jauh (radius 2 km) akan
mengalami kesulitan mendapatkan air, hal ini disebabkan karena volume air
di musim kemarau sedikit, dan air sendiri mengalami evaporasi serta terserap
kedalam tanah, sehingga debit sangat rendah dan berdampak pada pencapaian
air yang sulit menjangkau daerah yang jauh dari sungai.
Keuntungan dari penggunaan sistem irigasi permukaan yaitu pada
musim penghujan volume air melimpah karen air yang mengalir dipermukaan
berasal dari 2 sumber yaitu air dari dalam tanah dan air hujan. Pada musim
kemarau air yang mengalir di permukaan sebagian besar berasal dari air
dalam tanah misalnya daerah di sekitar kaki bukit maupun daerah perbukitan
mampu menghasilkan sumber mata air yang banyak karena memiliki
cadangan air cukup banyak dari pepohonan. Daerah yang berada di sekitar
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 14

sungai pada musim kemarau masih memiliki sumber air yang digunakan
sebagai irigasi walaupun debitnya sangat kecil.
Contoh sistem irigasi pertanian di Provinsi Jawa Barat, yaitu di daerah
Sumedang, Jawa Barat. Sumber air yang digunakan sebagai irigasi yaitu
aliran air dari waduk jatigede. Aliran air waduk jatigede memulai aliran ke
Bendung Rentang di Majalengka yang merupakan pintu gerbang pembagian
air bagi irigasi lahan pertanian dan suplay air ke Sungai Cimanuk. Air dari
sungai ini bakal mengairi kawasan pangan di Kabupaten Majalengka,
Cirebon dan Indramayu. Debit aliran air Waduk Jatigede berkisar antara
21,27 m3/s hingga 116,89 m3/s. Dengan debit air itu pemenuhan terhadap
kebutuhan debit air bisa mencapai 64%-100%. Sistem yang diberlakukan
yaitu sistem buka tutup pintu irigasi yang melalui Bendung Rentang,
bergantian setiap 12 jam. dengan diberlakukannya sistem tersebut, debit
aliran Waduk Jatigede yaitu 60 m3/s yang sampai di Bendung Rentang sekitar
50 m3/s maka ditaksir jumlah kehilangan air yaitu sekitar 16%.
2. Pengunaan Pupuk
Kementrian Pertanian (KEMENTAN) telah menerbitkan Peraturan
Menteri Pertanaian (PERMENTAN) No.60/Permentan/SR.310/12/2015 yang
ditetapkan pada tanggal 03 Desember 2015 lalu. Dalam Permentan itu
disebutkan kuota pupuk subsidi untuk Jawa Barat tahun 2016 yaitu urea
571.940 ton, NPK 336.080 ton, dan jenis organik 56.750 ton. Apabila
dibandingkan dengan kuota pupuk urea subsidi tahun 2015 sesuai Peraturan
Gubernur Jawa Barat jumlahnya berkurang.
Kuota pupuk urea bersubsidi untuk Jawa Barat, tahun 2016 berkurang
sekitar 10 ribu ton dibandingkan tahun 2015. Apabila sesuai pergub Jawa
Barat kuota pupuk urea tahun 2015 itu sebanyak 581.250 ton sedangkan
tahun 2016 sesuai peraturan menteri pertanian kuota pupuk subsidi urea
ditetapkan sebanyak 571.940 ton. Berkuragnya kuota tersebut disebabkan
karena pihak dari kementrian pertanian yang hanya menerima dan
menyalurkan pupuk subsidi tahun 2016 sesuai permintaan.
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 15

II.6 Kebijakan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat


Kebijakan dan Program merupakan strategi Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Provinsi Jawa Barat. Kebijakan pada dasarnya merupakan ketentuan-
ketentuan yang telah di tetapkan oleh yang berwenang untuk dijadikan
pedoman, pegangan atau petunjuk dalam pengembangan ataupun
pelaksanaan program atau kegiatan guna tercapainya kelancaran dan
keterpaduan dalam perwujudan sasaran, tujuan visi dan misi pemerintahan.
Adapun Kebijakan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa
Barat adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan produksi tanaman pangan yang cukup, berkualitas dan
aman dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional
b. Meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha melalui pengembangan
produk dan peningkatan nilai tambah produk olahan
c. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di pedesaan
d. Pengembangan komoditas unggulan bernilai ekonomi yang memiliki
pangsa pasar besar dan memiliki keunggulan kompetitif
e. Pengembangan kawasan hortikultura yang didasarkan pada kesesuaian
sumberdaya lahan dan agroklimat
f. Pengembangan mutu produk secara bertahap untuk memenuhi standar
mutu konsumsi segar maupun bahan baku industri
g. Pengembangan perbenihan dan sarana produksi mendukung ketersediaan
benih/bibit varietas/klone unggul bermutu
h. Pengembangan perlindungan hortikultura mendukung pengemanan
produksi, keamanan konsumsi dan pemenuhan standar akspor
i. Pengembangan kelembagaan yang sesuai dengan sosial ekonomi dan
budaya petani
j. Peningkatan kompetensi petugas untuk dapat membina petani dengan
baik dan peningkatan kompetensi petani agar dapat memproduksi produk
bermutu tinggi yang sesuai dengan preferensi konsumen
Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 16

II.7 Tipe Pertanian


1. Pertanian Intensif
Tujuan utama usahatani adalah mendapatkan keuntungan maksimum.
Produksi per ha tinggi dan sedikit potensi lahan yang terbuang. Jenis tanaman
yang diusahakan yang secara ekonomis menguntungkan. Pertanian intensif
dijumpai di negara yang padat penduduknya dan di negara maju yang langka
lahan. Hasil usaha tani dengan pertanian intensif biasanya sangat tinggi
karena didukung oleh teknologi yang didasarkan pada berbagai riset terlebih
dahulu.
Pertanian intensif memperhatikan/melaksanakan:
a. Crop rotation (pergiliran tanaman)
b. Dihindarkan saat kerja/kosong
c. Penggunaan bibit, pupuk, dan pengelolaan terencana dengan teknologi
tepat guna
d. Pembuatan teras (pengelolaan lingkungan fisik yang maksimum)
e. Menggunakan/ dengan sistem tanaman campuran (mixed croping)
2. Pertanian Subsisten
Pertanian subsisten adalah pertanian swasembada (self-sufficiency) di
mana petani fokus pada usaha membudidayakan bahan pangan dalam jumlah
yang cukup untuk mereka sendiri dan keluarga. Ciri khas pertanian subsisten
adalah memiliki berbagai variasi tanaman dan hewan ternak untuk dimakan,
terkadang juga serat untuk pakaian dan bahan bangunan.
Meski dikatakan mengutamakan swasembada diri sendiri dan
keluarga, sebagian besar petani subsisten juga sedikit memperdagangkan
hasil pertanian mereka (secara barter maupun uang) demi barang-barang yang
tidak terlalu berpengaruh bagi kelangsungan hidup mereka dan yang tidak
bisa dihasilkan di lahan, seperti garam, sepeda, dan sebagainya. Kebanyakan
petani subsisten saat ini hidup di negara berkembang.
3. Pertanian Ekstensif
Dalam ekonomi pertanian, pertanian ekstensif adalah sistem
pembudidayaan tanaman (atau hewan) dengan menggunakan masukan modal
dan tenaga kerja yang rendah, relatif terhadap luas lahan usaha yang dipakai.
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 17

Hasil yang diperoleh banyak bergantung pada kesuburan tanah asal,


topografi, iklim, dan ketersediaan air. Masukan teknologi biasanya bukan hal
yang mendesak karena dalam pertanian semacam ini luas lahan yang menjadi
penentu utama.
Pertanian berkelanjutan mengandalkan bentuk-bentuk pertanian
ekstensif dengan memasukkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan
sehingga tidak merusak tanah serta lingkungan. Contoh pertanian ekstensif
adalah perkebunan tanaman industri, seperti kebun kelapa sawit. Peternakan
sapi tradisional di Swiss juga dapat digolongkan sebagai pertanian ekstensif
karena mencakup lahan yang luas dan tenaga kerja yang terbatas.
4. Pertanian Perkebunan
Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman
tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang
sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut,
dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta
manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan
dan masyarakat.
5. Pertanian Peternakan
Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan
membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari
kegiatan tersebut. Pengertian peternakan tidak terbatas pada pemeliharaaan
saja, memelihara dan peternakan perbedaannya terletak pada tujuan yang
ditetapkan. Tujuan peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan
prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi yang telah
dikombinasikan secara optimal. Kegiatan di bidang peternakan dapat dibagi
atas dua golongan, yaitu peternakan hewan besar seperti sapi, kerbau dan
kuda, sedang kelompok kedua yaitu peternakan hewan kecil seperti ayam,
kelinci.
II.8 Masalah Pertanian di Provinsi Jawa Barat
1. Pengalihfungsian Lahan Pertanian
Alih fungsi lahan disebabkan karena renggangnya perijinan untuk
pembangunan bangunan properti dan industri pada lahan pertanian sehingga
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 18

lahan yang dulunya merupakan lahan pertanian beralih menjadi lahan


perindustrian. pengalihfungsian lahan juga disebabkan dengan adanya sistem
adat yakni warisan.
2. Penyusutan Lahan Pertanian
Terjadi penyusutan lahan pertanian akibat lonjakan penduduk,
modernisasi dan alih fungsi lahan menjadi properti ataupun industri yang saat
ini masih terjadi. menyusutnya lahan pertanian juga disebabkan oleh banjir
dan musim kemarau yang berkepanjangan.
3. Penurunan Produktivitas Padi
Uneef menuturkan kendala banjir, kekeringan dan organisme
pengganggu tanaman atau hama sering kali menyebabkan pasang surut
peningkatan produktivitas padi. Sehingga berakibat pada hasil panen yang
tidak menentu.
Pada tahun 2014 produktivitas padi mengalami penurunan sebesar
11,566 juta dan penyusutan lahan sebanyak 3000 hektar. Penurunan tersebut
diakibatkan oleh banjir pada bulan Desember-Januari 2014. Kemudian, tahun
2015 kembali mengalami penurunan akibat dari musim kemarau yang
berkepanjangan, yaitu sebanyak 112 ribu hektar luas sawah terkena dampak
kekeringan.
II.9 Solusi
1. Pemerintah membuat kebijakan yang tegas terkait alih fungsi lahan, misalnya
lahan pertanian tidak boleh dijadikan lahan non-pertanian.
2. Perijinan mengenai pembangunan bangunan properti dan industri dilahan
produktif harus diperketat.
3. Untuk mengantisipasi penyusutan lahan guna meningkatkan produktifitas
pertanian, Pemprov telah mengalokasikan dana melalui program cetak sawah
sebanyak 100 ribu hektar hingga 2018 mendatang yang dilakukan secara
swadaya maupun oleh pemerintah.
4. Bekerja sama dengan beberapa universitas untuk melakukan observasi
dengan mengembangkan benih yang tahan terhadap hama, berkualitas, rasa
yang enak dan dapat meningkatkan produktivitas lahan.
Geografi Pertanian Provinsi Jawa Barat | 19

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Provinsi Jawa Barat secara astronomis terletak di antara 5 50' LS -
7 50' LS dan 104 48' BT - 108 48' BT. Secara geografis, Provinsi Jawa
Barat disebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah Timur dengan
Jawa Tengah, sebelah Selatan dengan Samudra Hindia dan sebelah
Barat berbatasan dengan DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Secara
administratif terdiri dari 18 kabupaten dan 9 kota.
Kondisi iklim Jawa Barat pada tahun 2013 sampai dengan
pertengahan tahun 2014, curah hujan rata-ratanya adalah 228,80 mm,
dengan hari hujan tergolong cukup tinggi dengan rata-rata 21,15 hari hujan
per bulan. Sedangkan untuk suhu rata-rata terendah mencapai 20C dan
tertinggi mencapai 28,80C. Kecepatan angin rata-rata mencapai 3,15 knot
sedangkan rata-rata kecepatan angin terbesar mencapai 13 knot terutama
terjadi pada bulan April 2014.
Topografi Jawa Barat dapat dibedakan atas wilayah pegunungan
curam (9,5% dari total luas wilayah Jawa Barat) terletak di bagian
Selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut (dpl);
wilayah lereng bukit yang landai (36,48%) terletak di bagian Tengah dengan
ketinggian 10 - 1.500 m dpl; dan wilayah dataran luas (54,03%) terletak di
bagian Utara dengan ketinggian 0 10 m dpl.
Kondisi pertanian di Jawa Barat dipengaruhi oleh faktor topogafi,
iklim dan jenis tanah. Dengan sistem irigasi yang digunakan yaitu sistem
irigasi permukaan dimana sungai sebagai sumber irigasi utamanya.
penggunaan pupuk berdasarkan PERMENTAN tahun 2015 yaitu pupuk urea
571.940 ton, NPK 336.080 ton, dan jenis organik 56.750 ton. Sangat kurang
ditemukan penggunaan bioteknologi dalam pertanian di Jawa Barat.
Adapun tipe pertanian di Provinsi Jawa Barat lebih dominan
pertanian ekstensif termasuk peternakan dan perkebunan.