Anda di halaman 1dari 15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Batuan Metamorf

Batuan metamorf atau bisa disebut juga dengan batuan malihan adalah
salah satu kelompok utama batuan yang hasil dari transformasi atau ubahan dari
suatu tipe batuan yang sudah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu metode yang
disebut dengan metamorfisme, yang berarti perubahan bentuk. Batuan asal atau
protolith yang dikenai panas (lebih tidak kecil dari 150 derajat Celsius) serta
tekanan ekstrem (1500 bar), akan mengalami suatu perubahan fisika dan/atau
kimia yang lebih besar. Protolith bisa berupa batuan sedimen, batuan beku,
ataupun batuan metamorf lain yang lebih tua.
Batuan metamorf membentuk bagian yang sangat besar dari kerak bumi
dan diklasifikasikan berdasarkan dengan struktur, selain itu juga oleh susunan
mineral dan susunan kimianya (fasies metamorfik). Batuan varian ini
bisa terbentuk sebagai selaku, ala, menurut, mudah akibat berada di dalam
kedalaman tinggi, mengalami suhu tinggi dan sebuah tekanan lebih besar dari
lapisan batuan pada atasnya. Mereka bisa terbentuk dari proses tektonik misalnya
tabrakan benua, yang mengakibatkan suatu tekanan horisontal, gesekan lalu
distorsi.
Mereka juga terbentuk ketika batuan terpanaskan akibat dari intrusi dari
batuan cair dan panas yang dianggap magma dari interior bumi. Studi tentang
batuan metamorf (yang sekarang tersingkap di permukaan bumi gara-gara erosi
dan pengangkatan) memberikan informasi tentang suhu lalu tekanan yang terjadi
dalam kedalaman yang besar di kerak bumi. Beberapa contoh dari batuan
metamorf yaitu record, filit, sekis, gneis, dan lain sebagainya (Bitar, 2016).

2.2. Proses Pembentukan Batuan Metamorf


Batuan metamorf merupakan batuan hasil malihan dari batuan yang telah
ada sebelumnya yang ditunjukkan dengan adanya perubahan komposisi mineral,

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 3


tekstur dan struktur batuan yang terjadi pada fase padat (solid rate) akibat adanya
perubahan temperatur, tekanan dan kondisi kimia di kerak bumi (Ehlers and Blatt,
1982). Metamorfosis dapat terjadi di setiap kondisi tektonik, tetapi yang paling
umum dijumpai pada daerah kovergensi lempeng (daerah tumbukan antar
lempeng tektonik).
Jadi batuan metamorf terjadi karena adanya perubahan yang disebabkan
oleh proses metamorfosa. Proses metamorfosa merupakan suatu proses
pengubahan batuan akibat perubahan tekanan, temperatur dan adanya aktifitas
kimia fluida/gas atau variasi dari ketiga faktor tersebut. Proses metamorfosa
merupakan proses isokimia, dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur kimia
pada batuan yang mengalami metamorfosa. Temperatur berkisar antara 2000 C
8000 C, tanpa melalui fase cair (Diktat Praktikum Petrologi, 2006). Kondisi-
kondisi yang harus terpenuhi dalam pembentukan batuan metamorf adalah:
1. Terjadi dalam suasana padat
2. Bersifat isokimia
3. Terbentuknya mineral baru yang merupakan mineral khas metamorfosa
4. Terbentuknya tekstur dan struktur baru.

Proses metamorfisme kadang-kadang tidak berlangsung sempurna,


sehingga perubahan yang terjadi pada batuan asal tidak terlalu besar, hanya
kekompakkan pada batuan saja yang bertambah. Proses metamorfisme yang
sempurna menyebabkan karakteristik batuan asal tidak terlihat lagi. Pada kondisi
perubahan yang sangat ekstrim, peningkatan temperatur mendekati titik lebur
batuan, padahal perubahan batuan selama proses metamorfisme harus tetap dalam
keadaan padat. Apabila sampai mencapai titik lebur batuan maka proses tersebut
bukan lagi proses metamorfisme tetapi proses aktivitas magma.
Fasies metamorfosis dicirikan oleh mineral atau himpunan mineral yang
mencirikan sebaran T dan P tertentu. Mineral-mineral itu disebut sebagai mineral
index. Beberapa contoh mineral index antara lain:
1. Staurolite: intermediate high-grade metamorphism
2. Actinolite: low intermediate metamorphism

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 4


3. Kyanite: intermediate high-grade
4. Silimanite: high grade metamorphism
5. Zeolite: low grade metamorphism
6. Epidote: contact metamorphism

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya metamorfosa adalah


perubahan temperatur, tekanan dan adanya aktifitas kimia fluida atau gas (Huang,
1962).
Perubahan temperatur dapat terjadi oleh karena berbagai macam sebab,
antara lain oleh adanya pemanasan akibat intrusi magmatit dan perubahan gradien
geothermal. Panas dalam skala kecil juga dapat terjadi akibat adanya gesekan atau
friksi selama terjadinya deformasi suatu massa batuan. Pada batuan silikat batas
bawah terjadinya metamorfosa pada umumnya pada suhu 1500 C + 500C yang
ditandai dengan munculnya mineral-mineral Mg carpholite, Glaucophane,
Lawsonite, Paragonite, Prehnite atau Slitpnomelane. Sedangkan batas atas
terjadinya metamorfosa sebelum terjadi pelelehan adalah berkisar 6500C-11000C,
tergantung pada jenis batuan asalnya (Bucher & Frey, 1994).
Tekanan yang menyebabkan terjadinya suatu metamorfosa bervariasi
dasarnya. Metamorfosa akibat intrusi magmatik dapat terjadi mendekati tekanan
permukaan yang besarnya beberapa bar saja. Sedangkan metamorfosa yang terjadi
pada suatu kompleks ofiolit dapat terjadi dengan tekanan lebih dari 30-40 kBar
(Bucher & Frey, 1994).
Aktivitas kimiawi fluida dan gas yang berada pada jaringan antara butir
batuan, mempunyai peranan yang penting dalam metamorfosa. Fluida aktif yang
banyak berperan adalah air beserta karbon dioksida, asam hidroklorik dan
hidroflorik. Umumnya fluida dan gas tersebut bertindak sebagai katalis atau
solven serta bersifat membentuk reaksi kimia dan penyetimbang mekanis (Huang
WT, 1962).

Berikut adalah beberapa dari tahapantahapan proses Metamorfime, yang


terdiri dari 3 yaitu:

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 5


2.2.1 Rekristalisasi
Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, disini terjadi
penyusunan kembali kristal-kristal dimana elemen-elemen kimia yang sudah
ada sebelumnya sudah ada.
2.2.2 Reorientasi
Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, disini pengorientasian
kembali dari susunan kristal-kristal, dan ini akan berpengaruh pada tekstur dan
struktur yang ada.
2.2.3 Pembentukan mineral-mineral baru
Proses ini terjadi dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimiawi
yang sebelumnya telah ada (Yahya, 2014).
2.2.3.1 Dalam metamorfosa yang berubah adalah : tekstur dan asosiasi mineral,
yang tetap adalah komposisi kimia dan fase padat (tanpa melalui fase cair).
2.2.3.2 Teksturnya selalu mereflesikan sejarah pembentukannya.
2.2.3.3 Ditinjau dari perubahan P & T, dikenal:
1. Progresive metamorfosa : perubahan dari P & T rendah ke P & T tinggi.
2. Retrogresive metamorfosa : perubahan dari P & T tinggi ke P & T
rendah.

Kondisi yang mengontrol metamorfosa/mempengaruhi rekristalisasi


dan tekstur, diantaranya yakni:

2.2.3.1 Tekanan (Tekanan Hidrostatik dan Tekanan searah/stress). Di sini


dikenal 2 kelompok mineral yaitu:
1. Stress mineral : yaitu mineral-mineral yang tahan terhadap tekanan.
Contoh : staurolit, kinit.
2. Anti stress mineral : yaitu mineral-mineral yang jarang dijumpai pada
batuan yang mengalami stress. Contoh : olivin, andalusit
2.2.3.2 Temperatur : pada umumnya perubahan temperatur jauh lebih efektif
daripada perubahan tekanan dalam hal pengaruhnya bagi perubahan
mineralogi.

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 6


Katalisator: berfungsi mempercepat reaksi, terutama pada metamorfose
bertemperatur rendah. Ada 2 hal yang dapat mempercepat reaksi yaitu:
1. Adanya larutan-larutan kimia yang berjalan antar ruang butiran.
2. Deformasi batuan, dimana batuan pecah-pecah menjadi fragmen-fragmen
kecil sehingga memudahkan kontak antar larutan nimia dengan fragmen-
fragmen.
2.2.3.3 Fluid
2.2.3.4 Komposisi
Proses metamorfisme membentuk batuan yang sama sekali berbeda
dengan batuan asalnya, baik tekstur maupun komposisi mineral. Mengingat
bahwa kenaikan tekanan atau temperatur akan mengubah mineral bila batas
kestabilannya terlampaui, dan juga hubungan antar butiran / kristalnya.
Proses metamorfisme tidak mengubah komposisi kimia batuan. Oleh karena
itu disamping faktor tekanan dan temperatur, pembentukan batuan metamorf
ini jika tergantung pada jenis batuan asalnya. (Prabowo, 2015).
2.3. Faktor yang memperngaruhi Proses Metamorfisme
Komposisi batuan asal sangat mempengaruhi pembentukan himpunan
mineral baru, demikian pula dengan suhu dan tekanan. Suhu dan tekanan tidaklah
berperan langsung, akan tetapi juga ada atau tidaknya cairan serta lamanya
mengalami panas dan tekanan yang tinggi, dan bagaimana tekanannya, searah,
terpuntir dan sebagainya.

2.3.1. Pengaruh cairan terhadap reaksi kimia


Pori-pori yang terdapat pada batuan sedimen atua batuan beku terisi ole
cairan (fluida), yang merupakan larutan dari gas-gas, garam dan mineral yang
terdapat pada batuan yang bersangkutan. Pada suhu yang tinggi intergranular
ini lebih bersifat uap dan pada cair, dan mempunyai peran yang penting dalam
metamorfisme. Di bawah suhu dan tekanan yang tinggi akan terjadi pertukaran
unsur dari larutan ke mineral-mineral dan sebaliknya. Fungsi cairan ini sebagai
media transport dari larutan ke mineral dan sebaliknya, sehingga mempercepat
proses metamorfisme. Jika tidak ada larutan atau jumlahnya sedikit sekali,

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 7


maka metamorfismenya akan berlangsung lambat, karena perpindahannya akan
melalui diffusi antar mineral yang padat.

2.3.2 Suhu dan tekanan


Batuan apabila dipanaskan pada suhu tertentu akan
membentukmineralmineral baru, yang hasil akhirnya adalah batuan metamorf.
Sumber panasnya berasal dari panas dalam bumi. Batuan dapat terpanaskan
oleh timbunan (burial) atau terobosan dapat juga menimbulkan perubahan
tekanan, sehingga sukar dikatakan metamorfisme hanya disebabkan ole
keniakan suhu saja. Tekanan dalam proses metamorfisme bersifat sebagai
stress yang mempunyai besaran serta arah. Tekstur batuan metamorf
memperlihatkan bahwa batuan ini terbentuk di bawah differensial stress, atau
tekanannyatidak sama besar dari segala arah.

Berbeda dengan batuan beku yang terbentuk melalui lelehan dan di


bawah pengaruh uniform stress, atau mempunyai bersaran yang sama dari
semua arah.

2.3.3 Waktu
Untuk mengetahui berapa lama berlangsungnya proses metamorfisme
tidaklah mudah dan sampai saat ini masih belum diketahui bagaimana caranya.
Dalam percobaan di laboratorium memperlihatkan bahwa di bawah tekanan
suhu tinggi serta waktu reasi yang lama akan menghasilkan kristal dengan
ukuran yang besar. Dan dalam kondisi yang sebaliknya dihasilkan kristal yang
kecil. Dengan demikian untuk sementara ini disimpulkan bahwa batuan
berbutir kasar merupakan hasil metamorfisme dalam waktu yang panjang serta
suhu dan tekanan yang tinggi. Sebaliknya yang berbutir halus, waktunya
pendek serta suhu dan tekanan yang rendah. Batuan metamorf terbentuk akibat
perubahan tekanan dan atau temperatur, dalam keadaan padat serta tanpa
merubah komposisi kimia batuan asalnya (Prabowo, 2015).

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 8


2.4. Tipe-Tipe Metamorfosa
Bucher dan Frey (1994) mengemukakan bahwa berdasarkan tatanan
geologinya, metamorfosa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
2.4.1. Metamorfosa Regional / Dinamothermal
Metamorfosa regional atau dinamothermal merupakan metamorfosa
yang terjadi pada daerah yang sangat luas. Metamorfosa ini terjadi pada daerah
yang sangat luas. Metamorfosa ini dibedakan menjadi tiga yaitu : metamorfosa
orogenik, burial, dan dasar samudera (ocean-floor).
2.4.1.1. Metamorfosa Orogenik
Metamorfosa ini terjadi pada daerah sabuk orogenik dimana terjadi
proses deformasi yang menyebabkan rekristalisasi. Umumnya batuan
metamorf yang dihasilkan mempunyai butiran mineral yang terorientasi dan
membentuk sabuk yang melampar dari ratusan sampai ribuan kilometer.
Proses metamorfosa ini memerlukan waktu yang sangat lama berkisar antara
puluhan juta tahun lalu.
2.4.1.2. Metamorfosa Burial
Metamorfosa ini terjadi oleh akibat kenaikan tekanan dan temperatur
pada daerah geosinklin yang mengalami sedimentasi intensif, kemudian
terlipat. Proses yang terjadi adalah rekristalisai dan reaksi antara mineral
dengan fluida.
2.4.1.3. Metamorfosa Dasar dan Samudera
Metamorfosa ini terjadi akibat adanya perubahan pada kerak samudera
di sekitar punggungan tengah samudera (mid oceanic ridges). Batuan
metamorf yang dihasilkan umumnya berkomposisi basa dan ultrabasa.
Adanya pemanasan air laut menyebabkan mudah terjadinya reaksi kimia
antara batuan dan air laut tersebut.
2.4.2. Metamorfosa Lokal
Merupakan metamorfosa yang terjadi pada daerah yang sempit berkisar
antara beberapa meter sampai kilometer saja. Metamorfosa ini dapat dibedakan
menjadi :

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 9


2.4.2.1. Metamorfosa Kontak
Terjadi pada batuan yang menalami pemanasan di sekitar kontak
massa batuan beku intrusif maupun ekstrusif. Perubahan terjadi karena
pengaruh panas dan material yang dilepaskan oleh magma serta oleh
deformasi akibat gerakan massa. Zona metamorfosa kontak disebut contact
aureole. Proses yang terjadi umumnya berupa rekristalisasi, reaksi antara
mineral, reaksi antara mineral dan fluida serta penggantian dan penambahan
material. Batuan yang dihasilkan umumnya berbutir halus.

Gambar 2.1 Metamorfisme Kontak dan Mineral Penyusun Batuan

2.4.2.2. Pirometamorfosa/ Metamorfosa optalic/Kaustik/Thermal.


Pirometamorfosa adalah jenis khusus metamorfosa kontak yang
menunjukkan efek hasil temperatur yang tinggi pada kontak batuan dengan
magma pada kondisi volkanik atau quasi volkanik. Contoh pada xenolith atau
pada zone dike.
2.4.2.3. Metamorfosa Kataklastik/Dislokasi/Kinemati/Dinamik
Terjadi pada daerah yang mengalami deformasi intensif, seperti pada
patahan. Proses yang terjadi murni karena gaya mekanis yang mengakibatkan
penggerusan dan sranulasi batuan. Batuan yang dihasilkan bersifat non-foliasi
dan dikenal sebagai fault breccia, fault gauge, atau milonit.

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 10


2.4.2.4. Metamorfosa Hidrotermal/Metasotisme
Terjadi akibat adanya perkolasi fluida atau gas yang panas pada
jaringan antar butir atau pada retakan-retakan batuan sehingga menyebabkan
perubahan komposisi mineral dan kimia. Perubahan juga dipengaruhi oleh
adanya confining pressure.
2.4.2.5. Metamorfosa Impact
Terjadi akibat adanya tabrakan hypervelocity sebuah meteorit. Kisaran
waktunya hanya beberapa mikrodetik dan umumnya ditandai dengan
terbentuknya mineral coesite danstishovite. Metamorfosa ini erat kaitannya
dengan pab\nas bumi (geothermal).
2.4.2.6. Metamorfosa Retrogade/Diaropteris
Terjadi akibat adanya penurunan temperature sehingga kumpulan
mineral metamorfosa tingkat tinggi berubah menjadi kumpulan mineral stabil
pada temperature yang lebih rendah (Combs, 1961).

Gambar 2.2 Lokasi dan Tipe Metamorfisme

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 11


2.5. Struktur Batuan Metamorf
Struktur Batuan Adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran,
bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut. (Jacson, 1997). Secara
umum struktur batuan metamorf dapat dibadakan menjadi struktur foliasi dan
nonfoliasi (Jacson, 1997).
2.5.1. Struktur Foliasi
Kenampakan struktur planar pada suatu massa. Foliasi ini dapat terjadi
karena adnya penjajaran mineral-mineral menjadi lapisan-lapisan (gneissoty),
orientasi butiran (schistosity), permukaan belahan planar (cleavage) atau
kombinasi dari ketiga hal tersebut (Jacson, 1970). Struktur foliasi yang
ditemukan adalah :
2.5.1.1. Slaty Cleavage
Umumnya ditemukan pada batuan metamorf berbutir sangat halus
(mikrokristalin) yang dicirikan oleh adanya bidang-bidang belah planar
yang sangat rapat, teratur dan sejajar. Batuannya disebut slate (batusabak).

Gambar 2.3 Struktur Slaty Cleavage dan Sketsa Pembentukan Struktur

2.5.1.2. Phylitic
Srtuktur ini hampir sama dengan struktur slaty cleavage tetapi
terlihat rekristalisasi yang lebih besar dan mulai terlihat pemisahan mineral
pipih dengan mineral granular. Batuannya disebut phyllite (filit)

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 12


Gambar 2.4 Struktur Phylitic

2.5.1.3. Schistosic
Terbentuk adanya susunan parallel mineral-mineral pipih, prismatic
atau lentikular (umumnya mika atau klorit) yang berukuran butir sedang
sampai kasar. Batuannya disebut schist (sekis).

Gambar 2.5 Struktur Schistosic dan Sketsa Pembentukan Struktur

2.5.1.4. Gneissic/Gnissose
Terbentuk oleh adanya perselingan., lapisan penjajaran mineral yang
mempunyai bentuk berbeda, umumnya antara mineral-mineral granuler
(feldspar dan kuarsa) dengan mineral-mineral tabular atau prismatic
(mioneral ferromagnesium). Penjajaran mineral ini umumnya tidak menerus
melainkan terputus-putus. Batuannya disebut gneiss.

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 13


Gambar 2.6 Struktur Gneissic dan Sketsa Pembentukan Struktur

2.5.2. Struktur Non Foliasi


Terbentuk oleh mineral-mineral equidimensional dan umumnya terdiri
dari butiran-butiran (granular). Struktur non foliasi yang umum dijumpai antara
lain:
2.5.2.1. Hornfelsic/granulose
Terbentuk oleh mozaic mineral-mineral equidimensional dan
equigranular dan umumnya berbentuk polygonal. Batuannya disebut hornfels
(batutanduk)

Gambar 2.7 Sruktur Granulose

2.5.2.2. Kataklastik
Berbentuk oleh pecahan/fragmen batuan atau mineral berukuran kasar
dan umumnya membentuk kenampakan breksiasi. Struktur kataklastik ini
terjadi akibat metamorfosa kataklastik. Batuannya disebut cataclasite
(kataklasit).

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 14


2.5.2.3. Milonitic
Dihasilkan oleh adanya penggerusan mekanik pada metamorfosa
kataklastik. Cirri struktur ini adalah mineralnya berbutir halus, menunjukkan
kenampakan goresan-goresan searah dan belum terjadi rekristalisasi mineral-
mineral primer. Batiannya disebut mylonite (milonit).

Struktur 2.8 Milonitic


2.5.2.4. Phylonitic
Mempunyai kenampakan yang sama dengan struktur milonitik tetapi
umumnya telah terjadi rekristalisasi. Cirri lainnya adlah kenampakan kilap
sutera pada batuan yang ,mempunyai struktur ini. Batuannya disebut
phyllonite (filonit).

2.6 Tekstur Batuan Metamorf


Textur batuan Merupakan kenampakan batuan yang berdasarkan pada
ukuran, bentuk dan orientasi butir mineral dan individual penyusun batuan
metamorf. Penamaan tekstur batuan metamorf umumnya menggunakan awalan
blasto atau akhiran blastic tang ditambahkan pada istilah dasarnya. (Jacson, 1997).
2.6.1. Tekstur Berdasarkan Ketahanan Terhadap Proses Metamorfosa
Berdasarkan ketahanan terhadap prose metamorfosa ini tekstur batuan
metamorf dapat dibedakan menjadi:
2.6.1.1. Relict/Palimset/Sisa
Merupakan tekstur batuan metamorf yang masih menunjukkan sisa
tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan asalnya nasih tampak pada batuan
metamorf tersebut.
2.6.1.2. Kristaloblastik

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 15


Merupakan tekstur batuan metamorf yang terbentuk oleh sebab proses
metamorfosa itu sendiri. Batuan dengan tekstur ini sudah mengalami
rekristalisasi sehingga tekstur asalnya tidak tampak. Penamaannya
menggunakan akhiran blastik.
2.6.2. Tekstur Berdasarkan Ukuran Butir
Berdasarkan butirnya tekstur batuan metmorf dapat dibedakan menjadi:
1. Fanerit, bila butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata
2. Afanitit, bila ukuran butir kristal tidak dapat dilihat dengan mata.
2.6.3. Tekstur berdasarkan bentuk individu kristal
Bentuk individu kristal pada batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
1. Euhedral, bila kristal dibatasi oleh bidang permukaan bidang kristal itu
sendiri.
2. Subhedral, bila kristal dibatasi oleh sebagian bidang permukaannya sendiri
dan sebagian oleh bidang permukaan kristal disekitarnya.
3. Anhedral, bila kristal dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan kristal lain
disekitarnya.
Berdasarkan bentuk kristal tersebut maka tekstur batuan metamorf dapat
dibedakan menjadi:
1. Idioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk euhedral.
2. Xenoblastik/Hypidioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal
berbentuk anhedral.
2.6.4. Tekstur Berdasarkan Bentuk Mineral
Berdasarkan bentuk mineralnya tekstur batuan metamorf dapat dibedakan
menjadi:
1. Lepidoblastik, apabila mineralnya penyusunnya berbentuk tabular.
2. Nematoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk prismatic.
3. Granoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular,
equidimensional, batas mineralnya bersifat sutured (tidak teratur) dan
umumnya kristalnya berbentuk anhedral.

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 16


4. Granoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular,
equidimensional, batas mineralnya bersifat unsutured (lebih teratur) dan
umumnya kristalnya berbentuk anhedral.

Selain tekstur yang diatas terdapat beberapa tekstur khusus lainnya


diantaranya adlah sebagai berikut:
1. Perfiroblastik, apabila terdapat mineral yang ukurannya lebih besar tersebut
sering disebut porphyroblasts.
2. Poikloblastik/Sieve texture, tekstur porfiroblastik dengan porphyroblasts
tampak melingkupi beberapa kristal yang lebih kecil.
3. Mortar teksture, apabila fragmen mineral yang lebih besar terdapat
padamassadasar material yang barasal dari kristal yang sama yang terkena
pemecahan (crhusing).
4. Decussate texture yaitu tekstur kristaloblastik batuan polimeneralik yang
tidak menunjukkan keteraturan orientasi.
5. Saccaroidal Texture yaitu tekstur yang kenampakannya seperti gula pasir.
6. Batuan mineral yang hanya terdiri dari satu tekstur saja, sering disebut
berstektur homeoblastik (Setyobudi, 2012)

Laporan Praktikum Mineralogi dan Petrologi | 17