Anda di halaman 1dari 2

 Pengawasan post operasi sebaiknya di ICU untuk monitoring jalan nafas.

Jika
diperlukan intubasi maka pemasangan harus hati-hati, atau dengan fiberoptic.
 Jika terdapat obstruksi jalan nafas, dipersiapkan krikotiroidotomi atau
 trakeostomi.
 Pemberian diet pada awal post tindakan sebaiknya dilakukan parenteral
 kemudian bertahap menjadi peroral mulai dari diet cair sampai padat. 9,13,14

3. Abses Parafaring
Abses parafaring dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari tonsil, faring, gigi,
mastoid dan ruang potensial lainnya melalui pembuluh limfe, pembuluh darah dan
perkontinuitatum. Infeksi dapat menyebar dari anterior ke posterior, dengan perluasan ke
bawah sepanjang sarung pembuluh darah besar, disertai oleh thrombosis v. Jugularis atau
mediastinitis. Infeksi dari bagian posterior dapat meluas ke atassepanjang pembuluh darah
dan mengakibatkan infeksi intrakranial atau erosi a. Karotis interna.10

Pada abses parafaring pada umumnya didapatkan spektrum kuman yang cukup luas yang
sebagian besar merupakan campuran kuman aerob dan anaerob. Kuman aerob meliputi
kelompok gram positif yaitu Streptococcus viridans, Staphylococcus aureus dan kuman gram
negatif pterigoideus interna, otot maseter, dan ramus mandibula. Walaupun infeksi pada
spatium faringomaksilaris yang berdekatan terutama akibat infeksi pada faring, ruang
mastikator paling sering terkena sekunder dari infeksi yang berasal dari gigi.7 Penyebab lainnya
adalah infeksi pada kelenjar air liur dan sinus. Kuman dapat berupa aerob dan anaerob ( Keat
Jin Lee. Essential otolaryngology: head & neck surgery. McGraw-Hill Professional. 2003.)

Patogenesis
Penyebab abses ini yang paling sering adalah infeksi gigi. Nekrosis pulpa karena karies
dalam yang tidak terawat dan periodontal pocket dalam merupakan jalan bakteri untuk
mencapai jaringan periapikal. Karena jumlah bakteri yang banyak, maka infeksi yang terjadi
akan menyebar ke tulang spongiosa sampai tulang cortical. Jika tulang ini tipis, maka infeksi
akan menembus dan masuk ke jaringan lunak. Penyebaran infeksi ini tergantung dari daya
tahan jaringan tubuh.

Odontogen dapat menyebar melalui jaringan ikat (perkontinuitatum), pembuluh darah


(hematogenous), dan pembuluh limfe (limfogenous). Yang paling sering terjadi adalah
penjalaran secara perkontinuitatum karena adanya celah/ruang di antara jaringan
yang berpotensi sebagai tempat berkumpulnya pus. Penjalaran infeksihubungan dengan
edema adalah daerah superior dan posterior, dengan akibat penyumbatan jalan nafas.10
Etiologi terbanyak biasanya berasal dari infeksi gigi, terutama M2 dan M3 rahang
bawah. Hal ini disebabkan adanya hubungan antara akar gigi tersebut melampaui ke bagian
bawah tempat insersi otot milohioid pada mandibula, yang langsung berbatasan dengan
ruang submaksilaris. Abses pada akar gigi tersebut dapat menembus korteks lingualis yang
relatif tipis di bawah garis insersi otot milohioid dan menginfeksi ruang submaksilaris,
kemudian dapat meluas ke ruang sublingualis. Bakteri yang terlibat adalah kombinasi
bakteri aerob dan anaerob.5,10
Dari anamnesis didapatkan odinofagi, trismus, drolling, hot potato voice, bengkak dan
nyeri pada leher atas, biasanya didahului riwayat infeksi gigi rahang bawah atau riwayat
penyabutan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut yang kurang baik. Pemeriksaan fisik
didapatkan demam, pembengkakan daerah submandibular seperti papan dan nyeri, lidah
terangkat ke atas dan terdorong ke belakang, dapat terjadi edema laring yang menyebabkan
takipnea, dipsnea dan stridor yang merupakan tanda obstruksi jalan nafas, keadaan ini
berjalan sangat progresif sehingga dapat menyebabkan kematian. Pada pseudo angina
ludovici, dapat terjadi fluktuasi.1