Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut ini penulis akan menguraikan tentang hasil dan pembahasan

asuhan keperawatan gerontik dengan masalah reumotoid atritis sesuai dengan

urutan dari tahap-tahap proses keperawatan.

A. Hasil

1. Pengkajian

Pengkajian keperawatan pada Ny.S dilaksanakan pada tanggal 23

Januari 2019 pada pukul 14.30-15.20 WITA melalui kunjungan dirumah

klien dusun Bambapuang kecamatan Anggeraja kabupaten Enrekang.

Pengumpulan data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara

dengan pasien, pemeriksaan fisik dan catatan umum lainnya. Data umum

Ny.S umur 60 tahun, pendidikan terakhir SD, beragama Islam, sudah

menikah, TB 143 cm dan BB 45kg.

Saat ini Ny.S tinggal di rumah bersama suaminya yaitu Tn. L

bersama 2 saudara kandung Ny.S dan anak kandung yang ke 7 yaitu Tn.

S. Kedua orang tua Ny. S telah meninggal dunia dan teridentifikasi

riwayat penyakit yang sama (rematoid artritis) dialami oleh bapak klien.

Saat ini Ny. S bekerja sebagai ibu rumah tangga disamping

mengurus bisnis rumah tangga yaitu warung yang dikelolanya sendiri

dibantu oleh saudara dan anaknya. Mobilitas untuk mengakses sarana

publik dan sarana kesehatan adalah memiliki mobil dan sepeda motor.

Pendapatan keluagra cukup memenuhi kebutuhan anggota keluarga


dengan rata-rata pendapatan perbulan Rp. 4.000.000-6.000.000, dan

semua anggota keluarga terdaftar aktif dalam jaminan kesehatan (BPJS).

Ny.S tinggal dirumah sendiri dengaan tipe rumah permanen,

memiliki kamar tidur 4, dapur, ruang keluarga, ruang tamu, kamar mandi

dan WC, memiliki ventilasi rumah yang cukup baik dan sinar matahari

dapat masuk. Jumlah orang yang tinggal dirumah 5 orang, sehingga

disimpulkan derajar privasi setiap anggota keluarga terjaga dengan baik.

Aktivitas rekreasi dalam rumah nonton TV, Ny.S dan keluarganya

biasanya pergi berlibur ke wisata terdekat dan Ny.S tidak pernah

mengikuti kegiatan organisasi masyarakat

Sistem pendukung kesehatan yang dimiliki adalah sendiri yaitu

dokter sebagai dokter pribadi keluarga sebagai tempat konsultasi

perawatan dan pengobatan, jarak rumah ke puskesmas 3 km dan rumah

sakit 13 km, kegiatan perawatan yang dilakukan Ny.S dan keluarganya

sehari-hari yaitu membersihkan lingkungan rumah disamping

pengawasan minum obat pada Ny. S., tidak mengikuti kegatan

keagamaan akan tetapi kadang-kadang mengikuti pengajian di masjid.

Ny.S mengalami rematoid artritis dan keluhan utama Ny. S saat ini

mengatakan kaki kanan dan kirinya sakit, nyeri, kekakuan dan terkadang

sulit digerakkan saat melakukan aktivitas, hal itu dirasakan oleh Ny.S

sejak 2 tahun terakhir. Nyeri dirasakan pada saat terlalu lama berdiri atau

melakukan aktivitas dan berkurang jika istirahal dan minum obat. Nyeri

dengan intensitas sedang yaitu skala nyeri 6, nyeri dirasakan dibagian

kaki kanan dan kiri kadang-kadang menyebar ke pergelangan kaki, nyeri


timbul ketika cuaca dingin dan setelah selesai beraktivitas, ekspresi muka

meringis saat melakukan gerakan,

Ny. S mengatakan tahu bahwa saat ini mengalami rematoid artritis

dapat menjelaskan tanda dan gejalanya serta jenis makanan yang harus

dihindari dan telah menggunakan obat-obatan yang diresepkan khusunya

untuk mengatasi nyeri akan tetapi belum memahami cara perawatan nyeri

secara non farmaklogis.

Saat ini Ny. S mendapatkan obat tunggal piroxicam 3 x 1 ( anti

inflamasi nonsteroid.mengurangi rasa nyeri, bengkak, dan kaku pada

sendi). Ny S mengatakan tidak ada riwayat allergi makanan maupun obat-

obatan. Untuk memenuhi kebutuhan cairannya Ny.S mengkomsumsi air

dalam sehari ± 2.500 cc, makan 3 kali sehari yaitu nasi, sayur dan lauk

pauk. Ny.S mengatakan tidak mengalami masalah eliminasi BAB 1 x

sehari dan BAK 3x sehari. Saat ini mengalami masalah istirahat dan tidur

akibat nyeri.

Ny. S mengatakan dapat bersosialisasi dengan tetangganya dengan

baik, Status emosi stabil dan kooperatif saat diajak bicara dan

mengatakan selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu.

Pada pengkajian indeks katz Ny. S mandiri dalam hal makan,

kontinen ( BAK/BAB ), berpindah, kekamar kecil, mandi dan berpakaian,

disimpulkan klien mandiri (indeks A). pengkajian Inventaris Depresi

Beck menunjukkan tidak mengalami defresi skor 4 dimana klien

mengalami kesulitan bekerja sebaik sebelumnya dan mengeluh

mengalami keletihan lebih dari biasanya. Status Mental menunjukan


fungsi intelaktual utuh dengan menggunakan Short Portable Mental

Status Questioner (SPSMQ) dengan total skor 10. Aspek Kognitif Dari

Fungsi Mental skor 30 (Nilai >23) maka aspek kognitif dari fungsi

mental baik. Dukungan keluarga baik melalui pengkajian APGAR

keluarga diperoleh skor 8.

Keadaan umum Ny.S saat ini nampak sakit sedang, kesadaran

composmentis, tekanan darah 130/85 mmHg, nadi :88 kali permenit,

Suhu: 37°C, RR: 18 kali permenit. Kepala berbentuk bulat dengan rambut

bersih dan berwarnah hitam kebutihan ( beruban), mata kiri dan kanan

simetris sklera berwarna putih penglihatan menurun, saat diberikan

rangsangan pupil mata mengecil, telinga simetris tampak bersih, tes

berbisik baik dan hidung nampak bersih, pada bagian leher tidak ada

pembesaran tiroid dan Ny.S mengatakan tidak ada hambatan saat

menelan. Pada bagian dada terlihat simetris gerakan dada saat bernafas

teratur, terlihat juga postur tubuh Ny.S berubah bentuk ( membungkuk ),

pada abdomen berbentuk datar dengan bunyi bising usus 8x/ menit,

ektremitas atas pada kedua tangan dapat digerakkan secara bebas ke

segalah arah tanpa ada keluhan sedangkan ekstremitas bawah kedua kaki

dapat digerakkan secara bebas akan tetapi Ny.S mengatakan merasakan

nyeri dan gerakan fleksi dan ekstensi sendi lutut kanan mengalami

hambatan, pada pemeriksaan genetalia Ny.S menolak karna menurutnya

pemeriksaan itu adalah privasi, Ny.S juga mengatakan bahwa ia sudah

menopause.
2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan analisa data teridentifikasi masalah keperawatan pada

Ny. S adalah :

a. Nyeri kronik berhubungan dengan agen pencedera: distensi jaringan

oleh akumulasi cairan/proses inflamasi, dekstruksi sendi ditandai

dengan:

1) Data subjektif : Ny. S mengatakan kaki kanan dan kirinya sakit,

nyeri dirasakan pada saat terlalu lama berdiri atau melakukan

aktivitas dan berkurang jika istirahal dan minum obat. Nyeri

dengan intensitas sedang yaitu skala nyeri 6, nyeri dirasakan

dibagian kaki kanan dan kiri kadang-kadang menyebar ke

pergelangan kaki, nyeri meningkat ketika cuaca dingin dan setelah

selesai beraktivitas,

2) Data Objektif ekspresi muka meringis saat melakukan gerakan,

Klien terlihat memegangi kakinya yang sakit, tekanan darah

130/85 mmHg, nadi :88 kali permenit.

b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri ditandai dengan:

1) Data subjektif : Ny. S mengatakan mengalami keslitan bergerak

kaibat nyeri sendi, membatasi rentang gerak, kekakuan pada

persendian kaki dan terkadang sulit digerakkan saat melakukan

aktivitas.

2) Data Objektif : nampak mengalami kseulitan berjalan dan ekpresi

meringis, gerakan fleksi dan ekstensi sendi lutut kanan mengalami

hambatan.
3. Rencana Keperawatan

Selanjutnya untuk mengatasi masalah keperawatan pada Ny S disusun

rencana keperawatan dengan melibatkan klien. Berikut ini diuraikan

rencana asuhan keperawatan pada diagnosa utama nyeri kronik

berhubungan dengan agen pencedera: distensi jaringan oleh akumulasi

cairan/proses inflamasi, dekstruksi sendi. Tujuan perawatan adalah

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 × 24 jam pasien

diharapkan nyeri hilang dengan kriteria : kontrol nyeri (mengenali faktor

penyebab, mengenali onset/lamanya sakit, menggunakan metode

pencegahan, menggunakan metode nonanalgetik untuk mengurangi nyeri,

menggunakan analgetik sesuai kebutuhan, mengenali gejala-gejala nyeri

dan mencatat pengalaman nyeri sebelumnya melaporkan nyeri sudah

terkontrol) dan melaporkan nyeri sudah terkontrol. Untuk mnecapai

tujuan tersebut ditetapkan intervensi keperawatan : lakukan pengkajian

nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi, observasi reaksi nonverbal dari

ketidaknyamanan gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk

mengetahui pengalaman nyeri pasien, kaji kultur yang mempengaruhi

respon nyeri, kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi,

ajarkan tentang teknik non farmakologi, berikan analgetik untuk

mengurangi nyeri, evaluasi keefektifan kontrol nyeri dan kolaborasikan

dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil.

Pada diagnosa keperawatan hambatan mobilitas fisik berhubungan

dengan nyeri, tujuan perawatannya adalah setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 3 × 24 jam klien mampu mempertahankan fungsi

posisi dengan tidak hadirnya/pembatasan kontraktur, mempertahankan

atau pun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/atau kompensasi

bagian tubuh dan mendemostrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan

melakukan aktivitas. Intervensi yang ditetapkan adalah evaluasi/lanjutkan

pemantauan tingkat inflamasi/rasa sakit pada sendi, pertahankan istirahat

tirah baring/duduk jika diperlukan. Jadwal aktivitas untuk memberikan

periode istirahat yang terus-menerus dan tidur malam hari yang tidak

terganggu, bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikian juga latihan

resistif dan isometrik jika memungkinkan, dorong pasien

mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, berjalan. Berikan

lingkungan yang aman, mis menaikkan kursi atau kloset, menggunakan

pegangan tangga pada bak/pancuran dan toilet.

4. Implementasi

Implementasi dilakukan mengacu pada rencana keperawatan yang

telah disusun sebelumnya. Implementasi keperawatan dilakukan di rumah

klien sehingga diperlukan peran aktif dari keluarga sebagai suport sistem

bagi klien.

Implementasi pada diagnose keperawatan utama nyeri kronik

berhubungan dengan agen pencedera: distensi jaringan oleh akumulasi

cairan/proses inflamasi, dekstruksi sendi dilaksanakan pada tanggal 16

Januari 2019 pada pukul 09.00-09.40 wita dengan Melakukan pengkajian

nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi. Mengobservasi reaksi nonverbal


dari ketidaknyamanan, gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk

mengetahui pengalaman nyeri pasien. Mengkaji tipe dan sumber nyeri

untuk menentukan intervensi dan mengajarkan tentang manjemen nyeri :

kompres hangat. Memberikan 5 prinsip pengguna obat ananalgetik untuk

mengurangi nyeri dan mengevaluasi keefektifan kontrol nyeri.

Hasilnya respon subjektif klien mengatakan masih merasakan nyeri

di bagian lutut, munculnya nyeri biasanya saat dan setelah beraktifitas,

bila dibawa istirahat (tidur) nyeri berkurang, nyeri dirasakan skala 6

(sedang), munculnya nyeri tidak pasti, klien mengatakan mengerti cara

mengurangi nyeri dengan cara kompres air hangat. Klien tampak

memegang lututnya dan meringis nyeri. Respon objektif klien tampak

mengerti menajemen nyeri (kompres hangat) yang diajarkan oleh

perawat, klien tampak belum bisa mengontrol nyeri dan belum bisa

melakukan manejemen nyeri yang diajarkan perawat. Tekanan darah

130/80 mmHg dan Nadi 86 kali permenit. Berdasarkan respon subjektif

dan objektif menunjukkan masalah nyeri pada Ny. S belum teratasi,

sehingga intervensi dilanjutkan pada tanggal 27 Peburuari 2019.

Pada tanggal 27 Pebruari 2019 pukul 10.00-10.30

16.30-16.50 wita dilakukan tindakan untuk mengatasai masalah

keperawatan hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dengan

menyarankan aktivitas yang sesuai dengan pasien dan tidak melakukan

aktivitas yang berlebihan. Memberitahu pasien manfaat aktivitas yang

disarankan, memberi batasan aktivitas kepada pasien, menyarankan


pasien menggunakan tongkat saat melakukan aktivitas dan melakukan

penkes nyeri kronis kepada klien dan keluarga.

Respon subjektif klien mengatakan pada saat melakukan aktivitas

ringan kakinya masih nyeri dan sulit digerakkan. Sedangkan respon

objektifnya klien terlihat berhati – hati ketika berjalan, nampak sulit

menggerakkan kaki kirinya, terlihat kesulitan ketika berjalan dengan cara

menyeret – nyeret kakinya.

5. Evaluasi