Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK


DENGAN TUBERKULOSIS

Oleh :

1. Ifa Nurfiani (113119015)


2. Lulus Prasetyo (113119039)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP
2019
A. PENGERTIAN
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman
Mycobakterium tuberkculosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ
tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi
infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000).
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya,
terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda,
2001). Penyakit tuberkulosis pada anak merupakan penyakit yang bersifat
sistemik, yang dapat bermanifestasi pada berbagai organ, terutama paru. Sifat
sistemik ini disebabkan oleh penyebaran hematogen dan limfogen setelah
terjadi infeksi Mycobacterium tuberculosis. Data insidens dan prevalens
tuberkulosis anak tidak mudah dengan penelitian indeks tuberkulin dapat
diperkirakan angka kejadian prevalens tuberkulosis anak.
Kriteria masalah tuberkulosis di suatu negara adalah kasus BTA positif per
satu juta penduduk. Jadi sampai saat ini belum ada satu negara pun yang bebas
tuberkulosis. Tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan
pemberian imunisasi BCG pada anak dan pengobatan sumber infeksi, yaitu
penderita TB dewasa. Disamping itu dengan adanya penyakit karena HIV maka
perhatian pada penyakit TB harus lebih ditingkatkan. Anak biasanya tertular
TB, atau juga disebut mendapat infeksi primer TB, akan membentuk imunitas
sehingga uji tuberkulin akan menjadi positif, tidak semua anak yang terinfeksi
TB primer ini akan sakit TB.

B. ETIOLOGI
1. Merokok pasif : Merokok pasif bisa berdampak pada sistem kekebalan
anak, sehingga meningkatkan risiko tertular. Pajanan pada asap rokok
mengubah fungsi sel, misalnya dengan menurunkan tingkat kejernihan zat
yang dihirup dan kerusakan kemampuan penyerapan sel dan pembuluh
darah (Reuters Health, 2007).
2. Faktor Risiko TBC anak (admin., 2007)
a. Resiko infeksi TBC : Anak yang memiliki kontak dengan orang dewasa
dengan TBC aktif, daerah endemis, penggunaan obat-obat intravena,
kemiskinan serta lingkungan yang tidak sehat. Pajanan terhadap orang
dewasa yang infeksius. Resiko timbulnya transmisi kuman dari orang
dewasa ke anak akan lebih tinggi jika pasien dewasa tersebut
mempunyai BTA sputum yang positif, terdapat infiltrat luas pada lobus
atas atau kavitas produksi sputum banyak dan encer, batuk produktif dan
kuat serta terdapat faktor lingkungan yang kurang sehat, terutama
sirkulasi udara yang tidak baik. Pasien TBC anak jarang menularkan
kuman pada anak lain atau orang dewasa disekitarnya, karena TBC pada
anak jarang infeksius, hal ini disebabkan karena kuman TBC sangat
jarang ditemukan pada sekret endotracheal, dan jarang terdapat batuk5.
Walaupun terdapat batuk tetapi jarang menghasilkan sputum. Bahkan
jika ada sputum pun, kuman TBC jarang sebab hanya terdapat dalam
konsentrasi yang rendah pada sektret endobrokial anak.
b. Resiko Penyakit TBC : Anak ≤ 5 tahun mempunyai resiko lebih besar
mengalami progresi infeksi menjadi sakit TBC, mungkin karena
imunitas selulernya belum berkembang sempurna (imatur). Namun,
resiko sakit TBC ini akan berkurang secara bertahap seiring
pertambahan usia. Pada bayi < 1 tahun yang terinfeksi TBC, 43% nya
akan menjadi sakit TBC, sedangkan pada anak usia 1-5 tahun, yang
menjadi sakit hanya 24%, pada usia remaja 15% dan pada dewasa 5-
10%. Anak < 5 tahun memiliki resiko lebih tinggi mengalami TBC
diseminata dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi . Konversi
tes tuberkulin dalam 1- 2 tahun terakhir, malnutrisi, keadaan
imunokompromis, diabetes melitus, gagal ginjal kronik dan silikosis.
Status sosial ekonomi yang rendah, penghasilan yang kurang, kepadatan
hunian, pengangguran, dan pendidikan yang rendah.
C. PATOFISIOLOGI
Berbeda dengan TBC pada orang dewasa, TBC pada anak tidak menular.
Pada TBC anak, kuman berkembang biak di kelenjar paru-paru. Jadi, kuman
ada di dalam kelenjar, tidak terbuka. Sementara pada TBC dewasa, kuman
berada di paru-paru dan membuat lubang untuk keluar melalui jalan napas.
Nah, pada saat batuk, percikan ludahnya mengandung kuman. Ini yang
biasanya terisap oleh anak-anak, lalu masuk ke paru-paru (Wirjodiardjo, 2008).
Proses penularan tuberculosis dapat melalui proses udara atau langsung,
seperti saat batuk. Terdapat dua kelompok besar penyakit ini
diantaranya adalah sebagai berikut: tuberculosis paru primer dan tuberculosis
post primer. Tuberculosis primer sering terjadi pada anak, proses ini dapat
dimulai dari proses yang disebut droplet nuklei, yaitu statu proses terinfeksinya
partikel yang mengandung dua atau lebih kuman tuberculosis yang hidup dan
terhirup serta diendapkan pada permukaan alveoli, yang akan terjadi eksudasi
dan dilatasi pada kapiler, pembengkakan sel endotel dan alveolar, keluar fibrin
serta makrofag ke dalam alveolar spase. Tuberculosis post primer, dimana
penyakit ini terjadi pada pasien yang sebelumnya terinfeksi oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis (Hidayat, 2008).
Sebagian besar infeksi tuberculosis menyebar melalui udara melalui
terhirupnya nukleus droplet yang berisikan mikroorganisme basil tuberkel dari
seseorang yang terinfeksi. Tuberculosisadalah penyakit yang dikendalikan
oleh respon imunitas yang diperantarai oleh sel dengan sel elector berupa
makropag dan limfosit (biasanya sel T) sebagai sel imuniresponsif. Tipe
imunitas ini melibatkan pengaktifan makrofag pada bagian yang terinfeksi oleh
limfosit dan limfokin mereka, responya berupa reaksi hipersentifitas selular
(lambat). Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolar membangkitkan
reaksi peradangan yaitu ketika leukosit digantikan oleh makropag. Alveoli
yang terlibat mengalami konsolidasi dan timbal pneumobia akut, yang dapat
sembuh sendiri sehingga tidak terdapat sisa, atau prosesnya dapat berjalan terus
dengan bakteri di dalam sel-sel (Price dan Wilson, 2006).
Drainase limfatik basil tersebut juta masuk ke kelenjar getah bening
regional dan infiltrasi makrofag membentuk tuberkel sel epitelloid yang
dikelilingi oleh limfosit. Nekrosis sel menyebabkan gambaran keju (nekrosis
gaseosa), jeringan grabulasi yang disekitarnya pada sel-sel epitelloid dan
fibroblas dapat lebih berserat, membentuk jatingan parut kolagenosa,
menghasilkan kapsul yang mengeliligi tuberkel. Lesi primer pada paru
dinamakan fokus ghon, dan kombinasi antara kelenjar getah bening yang
terlibat dengan lesi primer disebut kompleks ghon. Kompleks ghon yang
mengalami kalsifikasi dapat terlihat dalam pemeriksaan foto thorax rutin pada
seseorang yang sehat (Price dan Wilson, 2006)
Tuberculosis paru termasuk insidias. Sebagian besar pasien menunjukkan
demam tingkat rendah, keletihan, anorexia, penurunan berat badan, berkeringat
malam, nyeri dada dan batuk menetal. Batuk pada awalnya mungkin
nonproduktif, tetapi dapat berkembang ke arah pembentukan sputum
mukopurulen dengan hemoptisis. Tuberculosis dapat mempunyai manifestasi
atipikal pada anak seperti perilaku tidak biasa dan perubahan status mental,
demam , anorexia dan penurunan berat badan. Basil tuberkulosis dapat
bertahan lebih dari 50 tahun dalam keadaan dorman (Smeltzer dan Bare, 2002).
Menurut Admin (2007) patogenesis penyakit tuberkulosis pada anak terdiri
atas :
1. Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan
kuman TBC. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat
melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus berjalan
sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat
kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di
paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan
membawa kuman TBC ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru, dan ini
disebut sebagai kompleks primer predileksinya disemua lobus, 70%
terletak subpelura. Fokus primer dapat mengalami penyembuhan
sempurna, kalsifikasi atau penyebaran lebih lanjut. Waktu antara terjadinya
infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu.
Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi
tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman
yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada
umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan
perkembangan kuman TBC2. Meskipun demikian, ada beberapa kuman
akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang
kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan
kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi
penderita TBC. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai
terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.
2. TBC Pasca Primer (Post Primary TBC)
TBC pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun
sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat
terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari TBC pasca primer
adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi
pleura.
3. TBC Reaktivasi
Pada tipe ini, infeksi primer biasanya bisa diatasi namun anak belum benar-
benar sembuh dari TB. Pada TBC reaktivasi, bakteri menjadi tiadk aktif
atau terhibernasi. Ketika kondisi tubuh mengalami penurunan, misalnya
karena penurunan kekebalan tubuh, bakteri akan aktif kembali. TB tipe ini
paling banyak menyerang anak usia sekolah dan orang dewasa. Gejala yang
paling menonjol adalah demam yang terus menerus disertai keringat
berlebih di malam hari. Selain itu, gejala lain yang mengikuti adalah
penurunan berat badan dan kelelahan apanila penyakit berkembang dan
rongga terbentuk di paru-paru, penderita akan mengalami batuk dan
produksi air liur, lendir tau dahak yang berpotensi mengandung darah.
D. Pathway

Mycobacterium tuberculosis

Masuk traktus respiratorius

Tinggal di alveoli

MK : Resiko tinggi Pertahanan primer tidak


infeksi adekuat

reaksi inflamasi Respon Gangguan


imun termoregulasi

Kerusakan
membran alveolar
Pembentukan
kapiler MK :
sputum dan
Hipertermi
sekret
Gangguan
respirasi
Penumpukan
secret

Ketidakseimbangan
Sesak nafas
suplai dan kebutuhan
oksigen MK : Bersihan jalan
nafas tidak efektif
S Sianosis

MK :
Intoleransi
Hipoksia
aktivitas
Pelepasan mediator
kimia seperti histamin,
MK : Gangguan pertukaran gas
bradikinin dan
prostaglandidn

Respon tubuh

MK : Nyeri menurun

Batuk refleks
muntah

Obstruksi

Anoreksia

MK :
ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Wirjodiardjo (2008) gejala TBC pada anak tidak serta-merta
muncul. Pada saat-saat awal, 4-8 minggu setelah infeksi, biasanya anak hanya
demam sedikit. Beberapa bulan kemudian, gejalanya mulai muncul di paru-
paru. Anak batuk-batuk sedikit. Tahap berikutnya (3-9 bulan setelah infeksi),
anak tidak napsu makan, kurang gairah, dan berat badan turun tanpa sebab.
Juga ada pembesaran kelenjar di leher, sementara di paru-paru muncul
gambaran vlek. Pada saat itu, kemungkinannya ada dua, apakah akan muncul
gejala TBC yang benar-benar atau sama sekali tidak muncul. Ini tergantung
kekebalan anak. Kalau anak kebal (daya tahan tubuhnya bagus), TBC-nya tidak
muncul. Tapi bukan berarti sembuh. Setelah bertahun-tahun, bisa saja muncul,
bukan di paru-paru lagi, melainkan di tulang, ginjal, otak, dan sebagainya. Ini
yang berbahaya dan butuh waktu lama untuk penyembuhannya.
Riwayat penyakit TBC anak sulit dideteksi penyebabnya, Penyebab TBC
adalah kuman TBC (mycobacterium tuberculosis). Sebetulnya, untuk
mendeteksi bakteri TBC (dewasa) tidak begitu sulit. Pada orang dewasa bisa
dideteksi dengan pemeriksaan dahak langsung dengan mikroskop atau
dibiakkan dulu di media. Mendeteksi TBC anak sangat sulit, karena tidak
mengeluarkan kuman pada dahaknya dan gejalanya sedikit. Diperiksa
dahaknya pun tidak akan keluar, sehingga harus dibuat diagnosis baku untuk
mendiagnosis anak TBC sedini mungkin. Yang harus dicermati pada saat
diagnosis TBC anak adalah riwayat penyakitnya. Apakah ada riwayat kontak
anak dengan pasien TBC dewasa. Kalau ini ada, agak yakin anak positif TBC
(Wirjodiardjo, 2008).
Gejala-gejala lain untuk diagnosa antara lain (Wirjodiardjo, 2008):
1. Apakah anak sudah mendapat imunisasi BCG semasa kecil. Atau reaksi
BCG sangat cepat. Misalnya, bengkak hanya seminggu setelah diimunisasi
BCG. Ini juga harus dicurigai TBC, meskipun jarang.
2. Berat badan anak turun tanpa sebab yang jelas, atau kenaikan berat badan
setiap bulan berkurang.
3. Demam lama atau berulang tanpa sebab. Ini juga jarang terjadi. Kalaupun
ada, setelah diperiksa, ternyata tipus atau demam berdarah.
4. Batuk lama, lebih dari 3 minggu. Ini terkadang tersamar dengan alergi.
Kalau tidak ada alergi dan tidak ada penyebab lain, baru dokter boleh
curiga kemungkinan anak terkena TBC.
5. Pembesaran kelenjar di kulit, terutama di bagian leher, juga bisa ditengarai
sebagai kemungkinan gejala TBC. Yang sekarang sudah jarang adalah
adanya pembesaran kelenjar di seluruh tubuh, misalnya di selangkangan,
ketiak, dan sebagainya.
6. Mata merah bukan karena sakit mata, tapi di sudut mata ada kemerahan
yang khas.
7. Pemeriksaan lain juga dibutuhkan diantaranya pemeriksaan tuberkulin
(Mantoux Test, MT) dan foto. Pada anak normal, Mantoux Test positif jika
hasilnya lebih dari 10 mm. Tetapi, pada anak yang gizinya kurang,
meskipun ada TBC, hasilnya biasanya negatif, karena tidak memberikan
reaksi terhadap MT.
Menurut Supriyatno (2009) skrining tuberkulosis pada anak antara lain
: Sesungguhnya mendiagnosa tuberculosis pada anak, terlebih pada anak-anak
yang masih sangat kecil, sangat sulit. Diagnosa tepat TBC tak lain dan tak
bukan adalah dengan menemukan adanya Mycobacterium tuberculosis yang
hidup dan aktif dalam tubuh suspect TB atau orang yang diduga
TBC. Caranya? Yang paling mudah adalah dengan melakukan tes
dahak. Pada orang dewasa, hal ini tak sulit dilakukan. Tapi lain ceritanya,
pada anak-anak karena mereka, apalagi yang masih usia balita, belum mampu
mengeluarkan dahak. Karenanya, diperlukan alternatif lain untuk
mendiagnosa TB pada anak.
1. Kesulitan lainnya, tanda-tanda dan gejala TB pada anak seringkali tidak
spesifik (khas). Cukup banyak anak yang overdiagnosed sebagai pengidap
TB, padahal sebenarnya tidak. Atauunderdiagnosed, maksudnya terinfeksi
atau malah sakit TB tetapi tidak terdeteksi sehingga tidak memperoleh
penanganan yang tepat. Diagnosa TBC pada anak tidak dapat ditegakkan
hanya dengan 1 atau 2 tes saja, melainkan harus komprehensif. Karena
tanda-tanda dan gejala TB pada anak sangat sulit dideteksi, satu-satunya
cara untuk memastikan anak terinfeksi oleh kuman TB, adalah melalui uji
Tuberkulin (tes Mantoux). Tes Mantoux ini hanya menunjukkan apakah
seseorang terinfeksiMycobacterium tuberculosis atau tidak, dan sama sekali
bukan untuk menegakkan diagnosa atas penyakit TB. Sebab, tidak semua
orang yang terinfeksi kuman TB lalu menjadi sakit TB.
2. Sistem imun tubuh mulai menyerang bakteri TB, kira-kira 2-8 minggu
setelah terinfeksi. Pada kurun waktu inilah tes Mantoux mulai
bereaksi. Ketika pada saat terinfeksi daya tahan tubuh orang tersebut sangat
baik, bakteri akan mati dan tidak ada lagi infeksi dalam tubuh. Namun pada
orang lain, yang terjadi adalah bakteri tidak aktif tetapi bertahan lama di
dalam tubuh dan sama sekali tidak menimbulkan gejala. Atau pada orang
lainnya lagi, bakteri tetap aktif dan orang tersebut menjadi sakit TB.
3. Uji ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil (0,1 ml) kuman
TBC, yang telah dimatikan dan dimurnikan, ke dalam lapisan atas (lapisan
dermis) kulit pada lengan bawah. Lalu, 48 sampai 72 jam kemudian, tenaga
medis harus melihat hasilnya untuk diukur. Yang diukur adalah indurasi
(tonjolan keras tapi tidak sakit) yang terbentuk, bukan warna kemerahannya
(erythema). Ukuran dinyatakan dalam milimeter, bukan
centimeter. Bahkan bila ternyata tidak ada indurasi, hasil tetap harus ditulis
sebagai 0 mm.
4. Secara umum, hasil tes Mantoux ini dinyatakan positif bila diameter
indurasi berukuran sama dengan atau lebih dari 10 mm. Namun, untuk bayi
dan anak sampai usia 2 tahun yang tanpa faktor resiko TB, dikatakan positif
bila indurasinya berdiameter 15 mm atau lebih. Hal ini dikarenakan
pengaruh vaksin BCG yang diperolehnya ketika baru lahir, masih
kuat. Pengecualian lainnya adalah, untuk anak dengan gizi buruk atau anak
dengan HIV, sudah dianggap positif bila diameter indurasinya 5 mm atau
lebih.
5. Namun tes Mantoux ini dapat memberikan hasil yang negatif palsu (anergi),
artinya hasil negatif padahal sesungguhnya terinfeksi kuman TB. Anergi
dapat terjadi apabila anak mengalami malnutrisi berat atau gizi buruk (gizi
kurang tidak menyebabkan anergi), sistem imun tubuhnya sedang sangat
menurun akibat mengkonsumsi obat-obat tertentu, baru saja divaksinasi
dengan virus hidup, sedang terkena infeksi virus, baru saja terinfeksi bakteri
TB, tata laksana tes Mantoux yang kurang benar. Apabila dicurigai terjadi
anergi, maka tes harus diulang.
Pendekatan diagnosis Tb pada anak di Indonesia menggunakan sistem
skoring yang disusun kementrian kesehatan dan ikatan dokter anak indonesia
atau (IDAI) sistem skoring TB anak merupakan pembobotsn terhadap gejala,
tanda klinis, dan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan di sarana
pelayanan terbatas. Masing-masing gejala pada sistem skoring harus dilakukan
analisis untuk menentukan apakah termasuk dalam parameter sistem skoring
Parameter 0 1 2 3 skor
Kontak TB Tidak Jelas - Laporan BTA (+)
Keluarga,
BTA (-)/
BTA tidak
jelas/Tidak
Tau
Ujituberkulin Negatif - - Positif (≥ 10 mm
atau ≥ 5 mm pada
imunokompromais
Berat badan / - BB/TB < 90% Klinis gizi -
keadaan gizi atau BB/U buruk atau
<80% BB/TB<70%
atau BB/U
<60
Demam yang - ≥ 2 minggu - -
tidak diketahui
penyebabnya
Batuk Kronik - ≥ 3 minggu - -
Perbesaran - ≥ 1 cm, > 1 cm, - -
keenjar limfe Nyeri
Pembengkakan - Ada - -
tulang/sendi pembengkakan
panggul,
mulut, falang
Foto Toraks Normal/tak Gambaran - -
ada sugestif TB
kelainan
Skor Total
Tabel skoring untuk mendiagnosis TB Anak Indonesia
Kontak dengan pasien pasien dewasa TB BTA positif diberi skor 3, hanya
bila ada bukti tertulis hasil laboratorium BTA dari orang dewasa sebagai
sumber penularan. Data ini dapat diperoleh dari formulir TB 01 atau dari hasil
laboratorium. Penentuan status gizi anak dilakukan dengan parameter BB/TB
atau BB/U dengan Berat Badan, Panjang atau Tinggi Badan, dan Umur diukur
saat pasien datang (moment opname). Penentuan status gizi untuk anak usia <5
tahun menggunakan panduan buku KIA terbitan Kemenkes RI, sedangkan
untuk anak usia >5 tahun menggunakan kurva CDC terbitan tahun 2000.
Apabila BB kurang, anak juga harus diberikan upaya perbaikan gizi dan
dievaluasi selama 1 bulan.
Gejala klinis demam (≥2 minggu) dan batuk (≥3 minggu) lama, dapat
bernilai apabila tidak membaik setelah diberikan pengobatan, sesuai baku
terapi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Selain itu, gambaran foto toraks
yang mendukung TB dapat berupa pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal
dengan atau tanpa infiltrat, atelektasis, konsolidasi segmental atau lobar, milier,
kalsifikasi dengan infiltrat, ataupun tuberkuloma. Foto toraks bukan
merupakan alat diagnostik utama pada TB anak
Diagnosis TB pada anak dengan sistem skoring sebaiknya ditegakkan oleh
dokter. Apabila di fasilitas pelayanan kesehatan tidak ada dokter, pelimpahan
wewenang terbatas dapat diberikan kepada petugas kesehatan lainnya. Namun
demikian, seharusnya hanya kepada petugas yang sudah dilatih tentang strategi
DOTS, untuk menegakkan diagnosis dan tatalaksana TB anak. Dalam sistem
skoring ini, anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6, dengan skor maksimal
13. Anak dengan skor 6 yang diperoleh dari poin kontak dengan pasien BTA
positif dan hasil uji tuberkulin positif, tetapi TANPA gejala klinis, maka pada
anak tersebut belum perlu diberikan OAT. Anak tersebut cukup dilakukan
observasi atau diberi INH profilaksis, tergantung dari umur anak.
Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dengan gejala klinis yang
meragukan, maka pasien tersebut dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
rujukan, untuk evaluasi lebih lanjut . Anak dengan skor 5 yang terdiri dari poin
kontak BTA positif dan 2 gejala klinis lain, pada fasilitas pelayanan kesehatan
yang tidak tersedia uji tuberkulin, maka dapat didiagnosis, diterapi ,dan
dipantau sebagai TB anak. Pemantauan dilakukan selama 2 bulan terapi awal,
dan apabila terdapat perbaikan klinis, maka terapi OAT dilanjutkan sampai
selesai 6 bulan. Semua bayi dengan reaksi cepat (<2 minggu) setelah
pemberian imunisasi BCG, seharusnya dicurigai telah terinfeksi TB, dan harus
dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
F. KOMPLIKASI
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada
penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena
tersumbatnya jalan napas.
2. Atelektasis (parumengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus
akibat retraksi bronchial.
3. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kultur sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.
2. Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan
darah) positif untuk basil asam cepat.
3. Test kulit : (PPD, Mantoux, potongan vollmer) ; reaksi positif (area durasi
10 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intra dermal. Antigen
menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara
berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang
secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi
disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda.
4. Elisa / Western Blot : dapat menyatakan adanya HIV.
5. Foto thorax ; dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas,
simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan
menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa.
6. Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster ; urien dan
cairan serebrospinal, biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium
tubrerkulosis.
7. Biopsi jarum pada jarinagn paru ; positif untuk granula TB ; adanya sel
raksasa menunjukan nekrosis.
8. Elektrolit, dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex
;Hyponaremia, karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas.
GDA dapat tidak normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada
paru.
9. Pemeriksaan fungsi pada paru ; penurunan kapasitas vital, peningkatan
ruang mati, peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan
penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim /
fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis
luas).

H. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksananaan Medis
Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :
a. Jangka pendek. Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan
jangka waktu 1 – 3 bulan.
1) Streptomisin inj 750 mg.
2) Pas 10 mg.
3) Ethambutol 1000 mg.
4) Isoniazid 400 mg.
Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang, tata cara
pengobatannya adalah setiap 2 x seminggu, selama 13 – 18 bulan,
tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi. Therapi
TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan
dengan jenis
1) INH.
2) Rifampicin.
3) Ethambutol
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan
kesembuhan menjadi 6-9 bulan.
b. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila
ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi
obat
1) Rifampicin.
2) Isoniazid (INH).
3) Ethambutol.
4) Pyridoxin (B6).
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Hidayat (2008) perawatan anak dengan tuberculosis dapat
dilakukan dengan melakukan
a. Pemantauan tanda-tanda infeksi sekunder
b. Pemberian oksigen yang adekuat
c. Latihan batuk efektif
d. Fisioterapi dada
e. Pemberian nutrisi yang adekuat
f. Kolaburasi pemberian obat antutuberkulosis (seperti: isoniazid,
streptomisin, etambutol, rifamfisin, pirazinamid dan lain-lain)
Intervensi yang dapat dilakukan untuk menstimulasi pertumbuhan
perkembangan anak yang tenderita tuberculosis dengan membantu
memenuhi kebutuhan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas
perkembangan, yaitu (Suriadi dan Yuliani, 2001)
a. Memberikan aktivitas ringan yang sesuai dengan usia anak
(permainan, ketrampilan tangan, vidio game, televisi)
b. Memberikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulus
yang bervariasi bagi anak
c. Melibatkan anak dalam mengatur jadual harian dan memilih aktivitas
yang diinginkan
d. Mengijinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama di rumah
sakit, menganjurkan anak untuk berhubungan dengan teman melalui
telepon jika memungkinkan
F. PENCEGAHAN
1. Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak
anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
2. Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati
sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi
penularan.
3. Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak.
4. Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.
5. Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak
melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan
dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi
udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
6. Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak
meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan
tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan
untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas
pendek), demam, menggigil.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak
(tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam
subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat
badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak
sub kutan.
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum
hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan
kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks
paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural),
sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.),
perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal
(penyebaran bronkogenik).
d. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum
hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan
kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks
paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural),
sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.),
perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal
(penyebaran bronkogenik).
e. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Objektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah,
nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga
timbul pleuritis.
f. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak
berdaya/tak ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan,
mudah tersinggung.
g. Keamanan
Subyektif: adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif: demam rendah atau sakit panas akut.
h. Interaksi Sosial
Subyektif: Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular,
perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas
fisik untuk melaksanakan peran.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan proses infeksi.
b. Defisit pengetahuan tentang proses infeksi berhubungan dengan
kurang sumber informasi.
c. Risiko gangguan dalam menjalankan peran sebagai orang tua yang
berhubungan dengan isolasi pasien.
d. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya sekret.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia
3. Perencanaan
a. Perluasan infeksi tidak terjadi
b. Anak menunjukkan tanda-tanda pertukaran gas yang adekuat.
c. Anak menunjukkan tanda-tanda pola nafas efektif
d. Anak berangsur menunjukkan jalan nafas yang efektif
e. Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan nutrisi.
f. Anak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas
perkembangan selama menjalani isolasi dari teman sebaya atau
anggota keluarga.
4. Implementasi
a. Mencegah perluasan infeksi
1) Tempatkan anak pada ruang khusus.
2) Pertahankan isolasi yang ketat di rumah sakit pada anak dengan
TB aktif.
3) Gunakan prosedur perlindungan infeksi jika melakukan kontak
dengan anak.
4) Lakukan uji tuberkulin dan berikan penilaian hasil uji tersebut,
ambil bahan untuk pemeriksaan bakteri (analisis bilasan
lambung).
5) Berikan antituberkulosis sesuai kebutuhan.
b. Meningkatkan pertukaran gas yang adekuat
1) Monitor tanda-tanda vital.
2) Observasi adanya sianosis pada mulut.
3) Kaji irama, kedalaman, dan ekspansi pernapasan.
4) Lakukan auskultasi suara napas dan dokumentasikan adanya
suara abnormal (ronkhi, mengi).
5) Ajarkan cara bernafas efektif.
6) Berikan oksigen sesuai indikasi
7) Monitor hasil analisis gas darah.
c. Meningkatkan pola nafas yang efektif dan kepatenan jalan napas
1) Kaji ulang status pernapasa (irama, kedalaman, suara napas,
penggunaan otot bantu pernapasan, bernapas melalui mulut.
2) Kaji ulang tanda-tanda vital (denyut nadi, irama dan frekuensi).
3) Berikan posisi tidur semi fowler/fowler.
4) Bantu klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan
kemampuannya.
5) Anjurkan anak untuk banyak minum.
6) Berikan oksigenasi sesuai indikasi.
7) Berikan obat-obatan yang dapat meningkatkan efektifnya jalan
nafas, seperti bronkodilator, antikolinergik, dan anti peradangan.
d. Memenuhi kebutuhan nutrisi
1) Kaji ketidakmampuan anak ntuk makan.
2) Izinkan anak untuk makan makanan yang dapat ditoleransi anak,
rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera
makan anak meningkat.
3) Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk
menigkatkan kualitas intake nutrisi.
4) Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral jika kebutuhan
nutrisi melalui oral tidak mencukupi kebutuhan gizi anak.
5) Nilai indikator terpenuhinya kebutuhan nutrisi (berat badan,
lingkar lengan, membran mukosa).
6) Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan
porsi kecil tapi sering.
7) Timbang berat badan setiap hari pada waktu dan skala yang
sama.
8) Pertahankan kebersihan mulut anak.
9) Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk
penyembuhan penyakit.
e. Membantu memenuhi kebutuhan aktivitas sesuai dengan usia dan
tugas perkembangan
1) Berikan aktivitas ringan yang sesuai dengan usia anak
(permainan, ketrampilan tangan, video game).
2) Berikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulur yang
bervariasi bagi anak.
3) Libatkan anak dalam mengatur jadwal harian dan memilih
aktivitas yang diinginkan.
4) Izinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama dirumah
sakit, anjurkan anak berhubungan dengan teman melalui telepon
jika memungkinkan.
5. Perencanaan Pemulangan
a. Jelaskan terapi yang diderikan; dosis, efek samping, lama pemberian
dan cara meminum obat.
b. Lakukan imunisasi jika imunisasi belum lengkap sesuai dengan
prosedur.
c. Tekankan pentingkan kontrol ulang sesuai jadwal.
d. Informasikan jika terdapat tanda-tanda terjadinya kekambuhan.
H. Pemberdayaan Guru Dalam Melakukan Deteksi Dini dan Screening TB
Pada Anak Seklah
Pelaksanaan pemberdayaan guru sekolah dalam melakukan deteksi dini
dan screening tuberkulosis pada anak sekolah di Kecamatan Sedong
Kabupaten Cirebon dapat dilaksanakan dengan baik. Kegiatan pengabdian
masyarakat ini meliputi pelatihan pemberdayaan guru sekolah, praktikum
pemeriksaan fisik deteksi dini TB pada anak, Small Group Discussion (SGD)
pembahasan kasus TB pada anak, screening penemuan kasus TB pada anak
sekolah di masing-masing sekolah dasar negeri di wilayah Kecamatan
Sedong Kabupaten Cirebon, dan pendokumentasian/supervisi hasil screening
penemuan kasus, serta diseminasi informasi hasil penemuan kasus dan
pembahasan rencana tindak lanjut dengan pihak terkait.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan guru
sebelum dilakukan kegiatan pemberdayaan adalah 46 (SD: 0,46), dan rata-
rata skor pengetahuan guru setelah dilakukan kegiatan adalah 97,6 (SD: 0,21),
dengan rata-rata peningkatan skor 50, 92 (SD: 0,45), dan kemampuan
psikomotor peserta 100% dalam kategori baik. Berdasarkan hasil screening
didapatkan 52 dari 612 anak (8,46%) memiliki skoring pemeriksaan fisik
yang dicurigai TB dan perlu mendapat pemeriksaan lanjutan.
Pelaksanaan deteksi dini dan screening tuberkulosis pada anak sekolah
oleh guru sekolah hendaknya dilakukan secara rutin dan menjadi kegiatan
tetap yang dilakukan di sekolah dasar sebagai upaya untuk melakukan
pemantauan anak sekolah. Kegiatan ini dapat dilakukan setiap tiga bulan atau
enam bulan untuk memantau perkembangan kesehatan anak sekolah.
Diperlukan upaya pendampingan dan memotivasi guru sekolah dasar saat
pelaksanaan kegiatan deteksi dini dan screening tuberkulosis pada anak
sekolah oleh mitra terkait yaitu petugas puskesmas dan UPTD Dinas
Pendidikan Kecamatan Sedong. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan
motivasi guru sekolah dalam menjalankan tugasnya sebagai ”change agent”
untuk meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah hendaknya diberikan
suatu penghargaan atau reinforcement positif dari mitra terkait yaitu UPTD
Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. Perlu diadakannya program SD
Binaan sebagai percontohan dalam program deteksi dini dan screening TB
pada anak sekolah dan mengusulkan diadakannya pertemuan rutian minimal
setiap 3 bulan untuk membahas kesehatan siswa yang melibatkan guru
sekolah, komite sekolah, orang tua murid dan petugas kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.A. (2008). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan


Kebidanan. Cetakan I. Yakarta : Penerbit salemba Medika
Nastiti N Rahajoe, dkk. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. 2005. Jakarta :
UKK Pulmonologi PP IDAI : 33-50
Noenoeng Rahajoe, dkk. Perkambangan dan Masalah Pulmonologi Anak Saat Ini.
1994. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI : 161-179

Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC
Suriadi dan Yuliani, R. (2001). Buku Pegangan Praktik Klinik Asuhan
Keperawatan Anak. Edisi 1. Jakarta : Penerbit CV Sagung Seto
Reuters Health , (2007). Merokok pasif dikaitkan dengan risiko TB pada anak-anak