Anda di halaman 1dari 29

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tentang Hiperglikemia

2.1.1 Definisi

Hiperglikemia didefinisikan sebagai kadar glukosa serum puasa

yang lebih tinggi dari 110 mg/dl. Mempertahankan kadar glukosa darah

puasa normal bergantung pada produksi glukosa hepar, ambilan glukosa

jaringan perifer, dan hormon yang mengatur metabolisme glukosa.

Manifestasi klinis hiperglikemia jika telah berkembang secara penuh

dapat mengakibatkan gangguan metabolisme berupa hilangnya toleransi

terhadap karbohidrat. Pasien dengan kelainan toleransi glukosa

(gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa) dapat

beresiko mengalami komplikasi metabolik diabetes.2

Diabetes melitus adalah gangguan endokrin yang paling banyak

dijumpai. Gejala-gejala akut diabetes mellitus disebabkan oleh efek

insulin yang tidak adekuat karena insulin adalah satu-satunya hormon

yang dapat menurunkan kadar glukosa darah. Salah satu gambaran

diabetes melitus yang paling menonjol adalah peningkatan kadar

glukosa darah atau hiperglikemia.3

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010,

Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik

5
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi

insulin, kerja insulin dan keduanya.3

Diabetes melitus merupakan sekelompok kalainan heterogen yang

ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.3

Secara klinis Diabetes Melitus dapat ditemukan dengan keluhan klasik

DM, berupa: poliuria, polidipsi, polifagia dan penurunan berat badan.

Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara, antara lain: 1)

adanya keluhan klasik dan pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >

200mg/dl, 2) pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl dengan

adanya keluhan klasik, 3) tes toleransi glukosa oral (TTOG) dilakukan

dengan standart WHO, menggunakan 75g glukosa anhidrus yang

dilarutkan kedalam air, dengan kadar gula plasma 2 jam ≥200mg/dl.3

Diabetes Melitus memiliki dua varian utama, berdasarkan

kemampuan pankreas mengeluarkan insulin: Diabetes tipe 1 dan

diabetes tipe 2. Diabetes Melitus tipe 2, merupakan DM yang paling

banyak diderita 90-95% dari seluruh penyandang DM. Diabetes Melitus

tipe 2 yaitu diabetes yang tidak tergantung insulin dapat terjadi akibat

penurunan sensivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat

penurunan jumlah produksi insulin. Berbagai faktor genetik dan gaya

hidup bisa menyebabkan diabetes tipe 2, obesitas merupakan faktor

resiko terbesar, 90% penderita diabetes tipe 2 mengalami obesitas.8

6
2.1.2 Epidemiologi

Menurut WHO (organisasi kesehatan sedunia) tahun 2011 terdapat

lebih dari 366 juta orang dengan penderita diabetes melitus di dunia

.Angka ini akan bertambah menjadi 552 juta orang ditahun 2030.9

Negara berkembang seperti Indonesia menempati urutan ke 4

jumlah penderita diabetes melitus di dunia setelah India, Cina dan

Amerika Serikat.Pada tahun 2013, proporsi penduduk Indonesia yang

berusia ≥15 tahun dengan diabetes melitus adalah 6,9 persen. Prevalensi

diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta

(2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%), dan Kalimantan

Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau

berdasarkan gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%),

Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara

Timur (3,3%Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riskesdas (2007)

dari 24417 responden berusia > 15 tahun , 10,2% mengalami toleransi

glukosa tergangggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama

4 jam diberikan beban glukosa sebanyak 75 gram).9

2.1.3 Klasifikasi

Klasifikasi terbaru tahun 2013 oleh American Diabetes

Association lebih menekankan penggolongan berdasarkan penyebab

dan proses penyakit. Ada 4 jenis diabetes melitus berdasarkan

klasifikasi terbaru, yaitu :10

7
1. Diabetes melitus tipe 1 : IDDM (Insulin Dependent Diabetes melitus)

Ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pancreas, kombinasi faktor

genetik imunologi dan mungkin pula lingkungan (virus) diperkirakan

turut menimbulkan distraksi sel beta

2. Diabetes melitus tipe 2 : NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes

melitus) disebabkan oleh resistensi insulin dan gangguan sekresi

insulin

3. Diabetes tipe spesifik lain, Misalnya: gangguan genetik pada fungsi

sel beta, gangguan genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas

dan yang dipicu oleh obat atau bahan kimia

4. Gestasional Diabetes mellitus

2.1.4 Faktor Risiko

Penyakit diabetes melitus bukan merupakan penyakit menular,

namun penyakit yang diturunkan .Namun, bukan berarti mutlak bahwa

bila orang tua terkena diabetes melitus, pasti anaknya terkena penyakit

diabetes melitus juga, walaupun kedua orang tua terkena diabetes

melitus kadang-kadang anaknya tidak terkena diabetes mellitus. namun,

bila dibandingkan dengan kedua orang tua yang normal (tidak ada

riwayat diabetes melitus), penderita diabetes melitus lebih cenderung

memiliki anak yang akan menderita diabetes melitus juga.11

Risiko – risiko bagi seseorang yang kemungkinan menderita

diabetes melitus bila ditemukan kondisi-kondisi berikut ini :11

1. Riwayat kedua orangtua yang mengidap diabetes mellitus

8
2. Riwayat salah satu orang tua atau saudara kandung terkena

penyakit diabetes mellitus

3. Riwayat salah satu anggota keluarga (nenek, kakek, paman, bibi,

sepupu) mengidap penyakit diabetes mellitus

4. Seorang yang gemuk / obesitas (> 20 % BB ideal) atau indeks masa

tubuh (IMT) > 27 kg/m2

5. Umur diatas 40 tahun dengan faktor yang disebutkan diatas

6. Seseorang dengan tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg)

7. Seseorang dengan kelainan profil lipid darah (dislipidema) yaitu

kolesterol HDL < 35 mg/dl, dan / atau trigliserida > 250 mg/dl

8. Seseorang yang sebelumnya dinyatakan sebagai toleransi glukosa

terganggu (TGT) atau gula darah puasa (terganggu) (GDPT)

9. Wanita yang sebelumnya mengalami diabetes kehamilan

10. Wanita yang melahirkan bayi > 4.000 gr

11. Semua wanita hamil 24 – 28 minggu

12. Riwayat menggunakan obat-obatan oral atau suntikan dalam jangka

waktu lama, obat golongan kortikosteroid (untuk pengobatan asma,

kulit, rematik dan lainnya)

13. Riwayat terkena infeksi tertentu antara lain virus yang menyerang

kelenjar air liur (penyakit gondongan), virus morbili. Infeksi virus

ini sering dijumpai pada anak-anak dan penderita yang masih hidup

harus setiap hari disuntik insulin.

9
2.1.5 Patofisiologi

Gejala diabetes melitus sangat bervariasi. Biasanya gejala baru

ditemukan pada saat pemeriksaan penyaring atau pemeriksaan untuk

penyakit selain diabetes. Bisa juga gejala timbul secara mendadak.

Gejala khas yang umumnya dirasakan penderita diabetes adalah lebih

sering buang air kecil terutama pada malam hari (poliuria), sering

merasa haus (polidipsia), dan sering merasa lapar walaupun sudah

makan (polifagia).3

Ketika kadar glukosa darah meninggi ke tingkat pada saat jumlah

glukosa yang difiltrasi melebihi kapasitas sel-sel tubulus melakukan

reabsorpsi, glukosa akan timbul di urin (glukosuria). Glukosa di urin

menimbulkan efek osmotik yang menarik air bersamanya,

menimbulkan diuresis osmotik yang ditandai oleh poliuria. Cairan yang

berlebihan keluar dari tubuh menyebabkan dehidrasi, yang pada

gilirannya dapat menyebabkan kegagalan sirkulasi perifer karena

volume darah turun mencolok. Kegagalan sirkulasi apabila tidak

diperbaiki, dapat menyebabkan kematian karena aliran darah ke otak

turun atau menimbulkan gagal ginjal sekunder akibat tekanan filtrasi

yang tidak adekuat. Selain itu, sel-sel kehilangan air karena tubuh

mengalami dehidrasi akibat perpindahan osmotik air dari dalam sel ke

cairan ekstrasel yang hipertonik. Gejala khas lain pada diabetes melitus

adalah polidipsia yang sebenarnya merupakan mekanisme kompensasi

untuk menghindari dehidrasi.3

10
Defisiensi glukosa intrasel menyebabkan nafsu makan meningkat

sehingga timbul polifagia. Akan tetapi, walaupun terjadi peningkatan

pemasukan makanan, berat badan menurun secara progresif akibat efek

defisiensi insulin pada metabolisme lemak dan protein. Sintesis

trigliserida menurun saat lipolisis meningkat, sehingga terjadi

mobilisasi besar-besaran asam lemak dari simpanan trigliserida.

Peningkatan asam lemak dalam darah sebagian besar digunakan oleh

sel sebagai sumber alternatif.

Peningkatan penggunaan lemak oleh hati menyebabkan

pengeluaran berlebihan badan keton ke dalam darah dan menimbulkan

ketosis. Karena badan-badan keton mencakup beberapa asam seperti

asam asetoasetat yang berasal dari penguraian tidak sempurna lemak

oleh hati, ketosis ini menyebabkan asidosis metabolik progresif.

Tindakan kompensasi untuk asidosis metabolik adalah peningkatan

ventilasi untuk meningkatkan pengeluaran karbon dioksida pembentuk

asam. Ekshalasi salah satu badan keton yaitu aseton yang menyebabkan

napas berbau buah.3

2.1.6 Manifestasi Klinis

Penyakit diabetes melitus ini pada awalnya sering tidak dirasakan

dan tidak disadari oleh penderita. Manifestasi klinis hiperglikemia

biasanya sudah bertahun – tahun mendahului timbulnya kelainan klinis

dari penyakit vaskularnya.1 Gejala-gejala muncul tiba-tiba pada anak

atau orang dewasa muda. Sedangkan pada orang dewasa > 40 tahun,

11
kadang- kadang gejala dirasakan ringan sehingga mereka menganggap

tidak perlu berkonsultasi ke dokter. Penyakit diabetes melitus diketahui

secara kebetulan ketika penderita menjalani pemeriksaan umum

.Biasanya mereka baru datang berobat, bila gejala-gejala yang lebih

spesifik timbul misalnya penglihatan mata kabur, gangguan kulit dan

saraf, impotensi. Secara umum gejala-gejala dan tanda-tanda yang

ditemui meliputi ;12,13

A. Gejala dan tanda awal

a. Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah

Penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat, merupakan

gejala awal yang sering dijumpai, selain itu rasa lemah dan cepat

capek kerap dirasakan.

b. Banyak kencing (poliuria)

Jika dalam pembuluh darah terdapat banyak glukosa maka

konsentrasi darah akan meningkat, selanjutnya pada aliran darah

melalui ginjal terutama pada daerah tubulus, akan terjadi

penurunan reabsorbsi air ke dalam tubuh sehingga cairan yang

dikeluarkan atau urin yang terbentuk menjadi lebih banyak.

Proses inilah yang mendasari terjadinya poliuria

c. Banyak minum (polidipsia)

Akibat banyak urin yang keluar, kebutuhan air akan semakin

meningkat sehingga klien merasa kehausan dan memerlukan

banyak minum (polidipsi).

12
d. Banyak makan (polifagia)

Penderita sering makan (banyak makan) dan kadar glukosa darah

semakin tinggi, namun tidak dapat seluruhnya dimanfaatkan

untuk masuk ke dalam sel.12

B. Gejala Kronis

a. Gangguan penglihatan

Pada mulanya penderita diabetes melitus ini sering mengeluh

penglihatannya kabur, sehingga sering mengganti kaca mata

untuk dapat melihat dengan baik.

b. Gangguan saraf tepi / kesemutan

Pada malam hari, penderita sering mengeluh sakit dan rasa

kesemutan terutama pada kaki.

c. Gatal-gatal / bisul

Keluhan gatal sering dirasakan penderita, biasanya gatal di daerah

kemaluan, atau daerah lipatan kulit seperti ketiak, paha atau

dibawah payudara, kadang sering timbul bisul dan luka yang lama

sembuhnya akibat sepele seperti luka lecet terkena sepatu atau

tergores jarum.

d. Rasa tebal di kulit kaki

Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf – saraf sensorik,

keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak

terdeteksinya infeksi yang menyebabkan gangren.Infeksi dimulai

dari celah–celah kulit yang mengalami hipertropi, pada sel–sel

13
kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki yang

menebal, dan kalus, demikian juga pada daerah–daerah yang

terkena trauma.

e. Gangguan fungsi seksual

Gangguan ereksi /disfungsi seksual / impotensi sering dijumpai

pada penderita laki-laki yang terkena diabetes melitus, namun

pasien diabetes melitus sering menyembunyikan masalah ini

karena terkadang malu menceritakannya pada dokter.

f. Keputihan

Pada penderita diabetes melitus wanita, keputihan dan gatal

merupakan gejala yang sering dikeluhkan, bahkan merupakan

satu-satunya gejala yang dirasakan. hal ini terjadi karena daya

tahan penderita diabetes melitus kurang, sehingga mudah terkena

infeksi antara lain karena jamur.12

2.1.7 Diagnosis dan Pemeriksaan

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang

diabetes melitus. Kecurigaan adanya diabetes melitus perlu

dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik diabetes melitus, antara

lain :12

a. Keluhan klasik diabetes melitus berupa : poliuria, polifagia, dan

penurunan berat badan yang tidak dijelaskan sebabnya.

14
b. Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata

kabur dan disfungsi ereksi pada laki-laki serta pruritus vulva pada

perempuan.

Selain dengan keluhan, diagnosa diabetes melitus harus

ditegakkan berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah dengan

cara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan

darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler sesuai kondisi

dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang

berbeda sesuai pembakuan WHO .Sedangkan untuk tujuan

pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan

pemeriksaan glukosa darah kapiler. Kadar glukosa darah sewaktu

dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis diabetes melitus

(mg/dl).

Tabel 2.1 Diagnosis Diabetes Mellitus (PERKENI 2006)12

Bukan Belum Pasti Diabetes Mellitus


Diabetes Diabetes Mellitus
Mellitus
Kadar Plasma Vena <100 100-199 ≥ 200
Glukosa Darah Kapiler
<90 90-199 ≥ 200
Darah

Sewaktu

Kadar Plasma Vena < 100 100-125 ≥ 126


Glukosa Darah Kapiler
<90 90-99 ≥ 100
Darah Puasa

15
Langkah-langkah untuk menegakkan diagnosa diabetes melitus

adalah :

a. Didahului dengan adanya keluhan-keluhan khas yang dirasakan

dan dilanjutkan dengan pemeriksaan glukosa darah.

b. Pemeriksaan glukosa darah menunjukkan hasil : pemeriksaan

glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl (sudah cukup menegakkan

diagnosis), pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl

(patokan diagnosis diabetes melitus).12

2.1.8 Komplikasi

Komplikasi diabetes melitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut

dan komplikasi kronis (jangka panjang) :12,13,14,15

1. Komplikasi akut, adalah komplikasi akut pada diabetes melitus

yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar

glukosa darah dalam jangka waktu pendek, ketiga komplikasi

tersebut adalah :14,15

a. Diabetes Ketoasidosis

Ketoasidosis diabetik merupakan defisiensi insulin berat dan

akut dari suatu pengalaman penyakit diabetes melitus. Diabetik

katoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak

cukupnya jumlah insulin yang nyata.

b. Koma Hiperosmolar Non Ketotik

16
Koma hiperosmolar non ketotik merupakan keadaan yang

didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan

disertai perubahan tingkat kesadaran. Salah satu perubahan

utamanya dengan ketoasidosis diabetik adalah tidak tepatnya

ketosik dan asidosis pada koma hiperosmolar nonketotik.

c. Hipoglikemia

Terjadi kalau kadar glukosa darah turun dibawah 50 hingga 60

mg/dl (2,7 hingga 3,3 mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi

akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan

konsumsi makan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik

yang berat. Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang

atau malam hari.

2. Komplikasi kronis

Diabetes melitus pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh

darah di seluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik) dibagi

menjadi 2 :12,13

1) Mikrovaskuler

Penyakit mikrovaskuler diabetik (mikroargiopati) ditandai oleh

penebalan membran basalis pembuluh kapiler. Membran

basalis mengelilingi sel-sel endotel kapiler. Ada dua tempat

dimana gangguan fungsi kapiler dapat berakibat serius .Kedua

tempat tersebut adalah mikrosirkulasi retina mata dan ginjal.

17
2) Makrovaskuler

a) Penyakit jantung koroner

Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes maka

terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan

darahnya ke seluruh tubuh sehingga tekanan darah akan

naik. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah

menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis) dengan

resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke.

b) Pembuluh darah kaki

Timbul karena adanya anesthesis fungsi saraf-saraf

sensorik, keadaan ini menyebabkan gangren infeksi

dimulai dari celah celah kulit yang mengalami hipertropi

,pada sel-sel kuku kaki yang menebal dan halus demikian

juga pada daerah-daerah yang terkena trauma.

c) Pembuluh darah ke otak

Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan

sehingga suplai darah ke otak menurun.

2.1.9 Penatalaksanaan

Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala,

mengusahakan keadaan gizi dimana berat badan ideal dan

18
mencegah terjadinya komplikasi Secara garis besar

pengobatannya dilakukan dengan :12,13

1. Diet

Disesuaikan dengan keadaan penderita. Prinsip umum:

diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari

penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada

penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan

berikut ini :

a. Memberikan semua unsur makanan esensial (misal :

vitamin dan mineral)

b. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai

Memenuhi kebutuhan energi

c. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya

dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati

normal melalui cara-cara yang aman dan praktis.

d. Menurunkan makan pada penderita diabetes melitus

2. Obat-obatan

Obat antidiabetik oral, dibagi menjadi 2 golongan yaitu :

a. Golongan sulfonilurea

1) Cara kerja :

a) Merangsang sel beta pancreas untuk mengeluarkan

insulin, jadi hanya bekerja bila sel-sel beta utuh

19
b) Menghalangi pengikatan insulin

c) Mempertinggi kepekaan jaringan terhadap insulin

d) Menekan pengeluaran glukogen

2) Indikasi :

a) Bila BB ideal ± 10% dan BB ideal

b) Bila kebutuhan insulin < 40 u/hr

c) Bila tidak ada stress akut, misal: infeksi berat /

operasi

d) Dipakai pada diabetes dewasa, baru dan tidak pernah

ketoasidosis sebelumnya

3) Efek samping :

a) Mual, muntah, sakit kepala, vertigo dan demam

b) Dermatitis, pruritus

c) Lekopeni, trombositopeni, anemia

4) Kontra indikasi :

Penyakit hati, ginjal dan thyroid

b. Golongan biguanid

Tidak sama dengan sulfonilurea, karena tidak

merangsang sekresi insulin.

1. Menurunkan kadar gula darah menjadi normal dan tidak

menyebabkan hipoglikemia

2. Cara kerja belum diketahui secara pasti, tetapi jelas

terdapat:

20
a) Gangguan absorbsi glukosa dalam usus

b) Peningkatan kecepatan ambalan glukosa dalam otot

c) Penurunan glukoneogenesis dalam hepar

3. Efek samping:

a) Nausea

b) Muntah

c) Diare

c. Insulin

1) Indikasi

a) Semua penderita diabetes melitus dari setiap umur

(baik IDDM/ NIDDM) dalam keadaan ketoasidosis

b) Diabetes yang masuk dalam klasifikasi IDDM yaitu

juvenile diabetes

c) Penderita yang kurus

d) Bila dengan obat oral tidak berhasil

e) Kehamilan

f) Bila ada komplikasi mikroangiopati, misal:

retinopati / nefropati

2) Jenis insulin

a) Yang kerjanya cepat: reguler insulin (RI) masa kerja

2-4 jam

b) Yang kerjanya sedang : NPH dengan masa kerja 6-

12 jam

21
c) Yang kerjanya lambat : protamine zinc insulin (PZI)

monotardultralente (MC) masa kerja 18-24 jam

3) Efek samping

a) Lipodistrofi : atrofi jaringan subkutan pada tempat

penyuntikan

b) Hipoglikemia : dosis insulin berlebih atau kebutuhan

insulin yang berkurang

c) Reaksi alergi

d) Resistensi terhadap insulin.

22
2.2 Tinjauan Umum Tentang Kacang Merah (Phaseolus Vulgaris L.)

2.2.1 Morfologi

Gambar 2.1 Kacang Merah (Phaseolus Vulgaris L.)16

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Rosales

Famili : Leguminoseae

Sub Famili : Papilionoideae

Genus : Phaseolus

Spesies : Phaseolus vulgaris L.

23
Tanaman kacang merah tergolong dalam tanaman semak

merambat yang membutuhkan penyangga ketika tumbuh. Kacang

merah tumbuh dengan memiliki tinggi sekitar 3,5 m hingga 4,5 m.

Sedangkan buahnya berbentuk polong serta memanjang. Dalam satu

polong umumnya terdapat 2 hingga 3 biji kacang merah. Bentuk biji

kacang merah memiliki ukuran lebih besar dibanding biji kacang

hijau ataupun kacang panjang dengan kulit biji berwarna merah tua

atau merah bata. Jika kulit biji dikupas, maka akan terlihat biji

kacang yang berwarna putih.17

Daun kacang merah agak kasar dan tipe polongnya lebih pipih

dari pada kacang panjang. Dengan aroma polong yang agak langu,

ukuran polongnya pendek sekitar 12 cm, ada yang lurus atau

bengkok dengan warna beraneka macam, bentuknya ada yang pipih

dan ada yang gilig.16

2.2.2 Ekologi dan Penyebaran

Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) atau kacang jogo

(kacang buncis tipe tegak) berasal dari Amerika. Penyebarluasan

tanaman kacang merah dari Amerika ke Eropa dilakukan sejak abad

16. Daerah pusat penyebaran adalah Inggris dan pengembangan

dimulai sejak tahun 1594, ke negara-negara Eropa dan Afrika hingga

ke Indonesia. Pembudidayaan tanaman kacang merah di Indonesia

telah meluas ke berbagai daerah. Tahun 1961-1967 luas areal

penanaman kacang merah di Indonesia sekitar 3.200 Ha, tahun 1969-

24
1970 seluas 20.000 Ha dan tahun 1991 mencapai 79.254 Ha dengan

produksi 168.829 ton. Di Indonesia, daerah yang banyak ditanami

kacang jogo adalah Lembang (Bandung), Pacet (Cipanas), Kota Batu

(Malang), dan Pulau Lombok.

Temperatur yang dibutuhkan kacang merah untuk tumbuh

adalah sekitar 16oC hingga 27oC dengan curah hujan antara 900 mm

hingga 1.500 mm per tahunnya. Namun dapat pula tumbuh pada

curah hujan antara 500 mm hingga 600 mm tetapi dalam satu musim

penanaman. Kacang merah akan tumbuh dengan baik pada lahan

yang memiliki pH antara 6.0 hingga 6.8 dengan sistem drainase yang

baik.17

2.2.3 Kandungan dan Khasiat

Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.) merupakan sumber

serat yang baik, dimana setiap 100 gr kacang merah kering

menyediakan serat sekitar 4 gr , yang terdiri atas serat larut dan juga

serat tidak larut. Serat larut secara signifikan menurunkan gula

darah, karena serat larut dapat menurunkan respon glikemik pangan

secara bermakna. Kacang merah, sebagaimana kacang polong

lainnya, mengandung beberapa komponen zat inhibitor seperti asam

fitat, tannin, tripsin inhibitor, dan oligosakarida. Asam fitat tergolong

zat anti gizi karena ia membentuk ikatan kompleks dengan zat besi

atau mineral lain, seperti seng (zinc), magnesium, dan kalsium,

menjadi bentuk yang tidak larut dan sulit diserap tubuh. Zat inhibitor

25
pada kacang merah ternyata dapat memperlambat pencernaan

karbohidrat di dalam usus halus, sehingga Indeks Glikemik pangan

akan turun.7

Salah satu cara untuk mengatasi keniakan kadar gula darah

yang cepat adalah dengan pengaturan diet makanan. Pengaturan diet

makanan dapat membantu memperlambat kenaikan kadar gula

darah antara lain dengan mengkonsumsi makanan tinggi serat dan

berindeks glikemik rendah.23

Serat dianggap mempunyai efek hipoglikemik karena mampu

memperlambat pengosongan lambung, mengubah peristaltik

lambung, memperlambat difusi glukosa, menurunkan aktifitas

amilase akibat meningkatnya viskositas isi usus, dan menurunkan

waktu transit yang mengakibatkan pendeknya absorbsi glukosa dan

berpengaruh terhadap peningkatan sekresi insulin dan pemakaian

glukosa oleh sel hati, dengan demikian kadar gula darah menjadi

berkurang.24

Peran pangan yang berindeks glikemik rendah, akan dicerna

dan diubah menjadi glukosa secara bertahap dan perlahan, sehingga

puncak kadar glukosa darah juga akan rendah yang berarti fluktuasi

peningkatan kadar glukosa darah relatif pendek.25

Viskositas diet kacang merah mempunyai nilai tertinggi yaitu

53,50 cps.26 Penelitian secara in vitro menunjukkan bahwa diet

kacang merah dapat menurunkan daya absorbsi glukosa pada usus

26
halus tikus sebesar 48,43%. Pemberian diet kacang merah terbukti

dapat menurunkan daya absorbsi glukosa pada usus halus tikus. Pada

pengamatan dalam 15 menit, terjadi penurunan absorbsi glukosa.

Pada sebuah penelitian dengan membandingkan beberapa bahan

makanan, kacang merah dapat memberikan penurunan daya absorbsi

glukosa yang lebih besar dibandingkan dengan diet yang lain.27

Di Indonesia daftar Indeks Glisemik masih langka. Penelitian

pada beberapa makanan khas Indonesia menunjukkan bahwa ubi

(Dioscorea alata LINN) mempunyai Indeks Glisemik yang cukup

rendah yaitu 73, sedang sukun, singkong dan pisang tanduk masing-

masing adalah 90, 73 dan 92.28

Peneliti yang sama juga melaporkan bahwa Indeks Glisemik

kacang merah sangat rendah yaitu 26, sedang kacang hijau, kacang

tunggak, kacang gude, kapri dan kedelai berturut-turut adalah 76, 51,

35, 30 dan 31.29

Didalam tubuh glukosa akan mengalami dua kali proses

penyerapan, yang pertama terjadi pada saat makanan masuk kedalam

mulut, esophagus hingga ke lambung. Di sini akan terjadi

pemecahan glukosa dalam bentuk majemuk ke bentuk molekul

tunggal yang lebih sederhana. Pada tahap kedua, gugusan glukosa

dalam bentuk tunggal tadi melalui pembuluh darah kapiler

menembus dinding usus dengan membentuk ikatan dengan protein

27
pengangkut dan masuk kedalam aliran vena porta. Selanjutya kadar

dalam darah akan dijaga keseimbangannya oleh hormon insulin.30

Kandungan zat anti gizi Kacang merah serta daya viskus yang

tinggi pada kacang merah, nantinya akan mencegah terjadinya

penyerapan pada dinding lumen usus halus dengan menghambat

terjadinya ikatan dengan protein pengangkut dan daya viskus pada

kacang merah mampu memperlambat proses penyerapan sehingga

dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah.7

Kacang - kacangan mengandung zat anti gizi, antara lain

antitripsin, saponin, hemaglutinin, asam fitata, maupun polifenol

(tannin).31 Senyawa senyawa yang berperan sebagai anti gizi ini akan

bersifat toksik jika dikonsumsi dalam jumlah besar, dan selain itu

juga dapat menimbulkan efek merugikan terhadap status gizi. Tetapi

dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa kandungan asam fitat

dan Polifenol (Tannin) dalam kacang - kacangan dapat digunakan

sebagai pangan antidiabetes.32

2.2.3.1 Asam fitat dan Tannin

Asam fitat merupakan merupakan asam lemak jenuh yang

terdapat pada biji-bijian seperti padi, jagung, kedelai, dan kacang –

kacangan. karena tidak memiliki enzim fitase sehingga menjadi

bentuk yang tidak larut. Asam fitat akan keluar bersama kotoran dan

tidak diserap ke dalam tubuh.33

28
Asam fitat mampu mengikat Zn, Fe, Ca, dan Mg karena

memiliki daya ikat yang kuat terhadap mineral tersebut sehingga

dapat menurunkan penyerapan zat gizi di usus. Asam fitat akan

berikatan dengan mineral di atas dan membentuk presipitat yang

sukar larut sehingga mineral tersebut tidak dapat diserap oleh tubuh.

Namun konsumsi makanan yang mengandung asam fitat terlalu

sering dapat meningkatkan resiko defisiensi mineral.18

Senyawa polifenolik sering juga disebut dengan tannin

merupakan agen pereduksi yang kuat dan banyak terkandung

didalam tanaman pangan.34 Senyawa ini dapat membentuk kompleks

dengan protein sehingga menurunkan daya cerna protein dan mutu

protein. Polifenol juga dapat menghambat aktivitas enzim

pencernaan sehingga dapat menurunkan daya cerna pati.35 Zat Anti

gizi seperti tannin dan Asam fitat ini banyak dikandung oleh jenis

kacang – kacangan, salah satunya kacang merah.36

Dari penelitian yang dilakukan oleh Almasyhuri (1990)

menyatakan bahwa kadar tannin dalam kacang merah per 100 g

adalah 0,197 g sementara kadar asam fitat dalam kacang merah per

100 g adalah1,824 g. kadar zat anti gizi dalam kacang – kacangan

dapat mengalami penurunan pada saat terjadi proses pemasakan.36

29
2.3 Tinjauan Umum Tentang Aloksan

2.3.1 Definisi dan Struktur Kimia

Aloksan adalah suatu substrat yang secara struktural adalah

derivat pirimidin sederhana. Aloksan diperkenalkan sebagai hidrasi

aloksan pada larutan encer.Nama aloksan diperoleh dari

penggabungan kata allantoin dan oksalurea (asam oksalurik). Rumus

kimia aloksan adalah C4H2N2O4.Aloksan adalah senyawa kimia

tidak stabil dan senyawa hidrofilik. Waktu paruh aloksan pada pH

7,4 dan suhu 37o C adalah 1,5 menit.37

2.3.2 Pengaruh Aloksan terhadap Kerusakan Sel Beta Pankreas

Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk

menginduksi diabetes pada binatang percobaan. Pemberian aloksan

adalah cara yang cepat untuk menghasilkan kondisi diabetik

eksperimental (hiperglikemik) pada binatang percobaan. Aloksan

dapat diberikan secara intravena, intraperitoneal, atau subkutan pada

binatang percobaan.Aloksan dapat menyebabkan Diabetes Melitus

tergantung insulin pada binatang tersebut (aloksan diabetes) dengan

karakteristik mirip dengan Diabetes Melitus tipe 1 pada

manusia.Aloksan bereaksi dengan merusak substansi esensial di

dalam sel beta pankreas sehingga menyebabkan berkurangnya

granula-granula pembawa insulin di dalam sel beta

pankreas.Aloksan meningkatkan pelepasan insulin dan protein dari

sel beta pankreas tetapi tidak berpengaruh pada sekresi glukagon.

30
Efek ini spesifik untuk sel beta pankreas sehingga aloksan dengan

konsentrasi tinggi tidak berpengaruh terhadap jaringan lain.37

Aksi sitotoksik aloksan dimediasi oleh radikal bebas. Aloksan dan

produk reduksinya, asam dialurik, membentuk siklus redoks dengan

formasi radikal superoksida. Radikal ini mengalami dismutasi

menjadi hidrogen peroksida.Radikal hidroksil dengan kereaktifan

yang tinggi dibentuk oleh reaksi Fenton.Aksi radikal bebas dengan

rangsangan tinggi meningkatkan konsentrasi kalsium sitosol yang

menyebabkan destruksi cepat sel beta.37

31
2.4 Kerangka Teori

Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) Diabetes Mellitus

Asam Fitat Tannin Serat Larut Gangguan sekresi/kerja


Insulin

- Membentuk ikatan dengan mineral, protein


dan pati Glukosa tidak dapat
- Meningkatkan sekresi Insulin masuk ke dalam sel
- Menurunkan waktu transit
- Peningkatan utilisasi glukosa oleh sel hati

- Menghambat penyerapan KH di usus halus


- Menurunkan aktifitas amilase akibat meningkatnya Kadar glukosa darah
viskositas usus meningkat
- Penurunan respon terhadap indeks glikemik pangan

Kadar Glukosa darah

Hiperglimia

: Menyebabkan

: Menghambat

32
2.5 Kerangka Konsep

- Membentuk ikatan dengan mineral,


Kacang merah protein dan pati
Perubahan kadar
- Meningkatkan sekresi Insulin
gula darah
(Phaseolus Vulgaris L.) - Menurunkan waktu transit di usus
- Peningkatan utilisasi oleh sel hati

= Variabel dependen

= Variabel Independen

= Variabel Antara

= Variabel yang diteliti

= variabel yang tidak diteliti

2.6 Hipotesis

Hipotesis nol (H0) :

- Terdapat penurunan kadar gula darah yang bemakna pada mencit

setelah pemberian kacang merah

Hipotesis alternatif (Ha) :

- Terdapat penurunan kadar gula darah yang bermakna pada mencit

setelah pemberian kacang mera

33