0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
236 tayangan11 halaman

Sap Perawatan Luka

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai satuan acara penyuluhan tentang apendisitis. Penyuluhan akan diselenggarakan di RSU Hasanudin Damrah Manna pada 25 Oktober 2017 untuk keluarga pasien dan akan membahas tentang pengertian, penyebab, gejala dan pencegahan apendisitis.

Diunggah oleh

elva
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
236 tayangan11 halaman

Sap Perawatan Luka

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai satuan acara penyuluhan tentang apendisitis. Penyuluhan akan diselenggarakan di RSU Hasanudin Damrah Manna pada 25 Oktober 2017 untuk keluarga pasien dan akan membahas tentang pengertian, penyebab, gejala dan pencegahan apendisitis.

Diunggah oleh

elva
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Apendisitis


Sasaran : Keluarga Pasien
Tempat : Bangsal Bedah RSU Hasanudin Damrah Manna
Hari / Tgl Pelaksanaan : Rabu, 25 Oktober 2017

A. LATAR BELAKANG
Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh infeksi
bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai
sekarang belum dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor
penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) appendiks oleh
timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan
limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer
dan striktur. Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering
ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyabab adalah faktor
penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid.
Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri
untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia
sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli,
inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada
peradangan usus buntu.
Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya
sering kali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap kesaluran appendiks
sebagai benda asin, Begitu pula terjadinya pengerasan tinja/feces
(konstipasi) dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip
masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media
kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang
menimbulkan peradangan usus buntu tersebut.
B. TUJUAN
A. Tujuan umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan peserta dapat
memahami dan mengerti tentang Appendicitis.
B. Tujuan khusus
Setelah mengikuti penyuluhan, diharapkan 75% peserta dapat :
a) Menyebutkan pengertian Appendisitis dengan bahasa sendiri.
b) Menyebutkan factor-faktor pemicu terjadinya bronkopneumonia.
c) Menyebutkan tanda dan gejala terjadinya bronkopneumonia.
d) Menjelaskan cara penangan dan pencegahan bronkopneumonia.

C. TARGET
Keluarga Pasien Di Ruangan Bangsal Anaka Rumah Sakit Umum
Hasanudin Damrah Manna.

D. PENGORGANISASIAN
 Penanggung Jawab : YUNITA APRIZA, S.Kep
 Moderator : APRIANTO, S.Kep
 Penyaji : ICAN KUMBARA, S.Kep
 Observer : 1. TATI, S.Kep
2. KURNIA WILASTRI, S.Kep
3. DESY PARLYNA, S.Kep
4. HERMA NENGSIH, S.Kep
5. ERMAWATI, S.Kep

E. SUSUNAN ACARA
No Kegiatan Mahasiswa Kegiatan Waktu Media
keluarga dan
pasien
1 Pembukaan :
 Memberi salam  Menjawab salam 05 menit

 Perkenalan dengan dosen  Mendengarkan


 Menjelaskan tujuan dan
 Menjelaskan kontrak waktu memperhatikan
2 Pelaksanaan : 20 menit Leaflet
 Menggali pengetahuan  Mengemukakan Lembar
balik
peserta tentang pendapat
Appendisitis  Mendengarkan
 Memberikan reinforcement dan
positif atas jawaban peserta memperhatikan
 Meluruskan konsep  Mendengarkan
pengertian Appendisitis dan menjelaskan
 Menggali pengetahuan  mendengarkan
peserta tentang faktor
penyebab Appendisitis
 Memberikan reinforcement
positif atas jawaban peserta
 Meluruskan konsep faktor
penyebab Appendisitis
 Menggali pengetahuan
peserta tentang tanda dan
gejala Appendisitis
 Memberikan reinforcement
positif atas jawaban peserta
 Meluruskan konsep tanda
dan gejala Appendisitis
 Menggali pengetahuan
peserta tentang cara
pencegahan Appendisitis.
 Memberikan reinforcement
positif atas jawaban peserta
 Meluruskan konsep cara
pencegahan Appendisitis
3. Penutup : 05 menit
 meminta pasien atau  Mengemukakan
keluarga pasien mngulang pendapat
beberapa informasi yang
telah diberikan.  Mendengarkan
 Memberi reinforcemen (+)  Memperhatikan
 Menyimpulkan materi  Menjawab
 Menutup dengan salam salam

F. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi / tanya jawab
3. Demonstrasi

G. MEDIA
1. Lembar Bolak Balik
2. Leafleat

H. SETTING TEMPAT

Keterangan
: Penyaji
: Moderator
: Keluarga Pasien
: Observer

I. MATERI
1. Pengertian Appendisitis
2. Penyebab Appendisitis
3. Tanda dan gejala Appendisitis
4. Cara pencegahan Appendisitis
J. KRITERIA EVALUASI
1. Kegiatan
Jadwal, tempat, alat, bantu atau media, pengorganisasian, proses
penyuluhan berlangsung dengan cukup baik dan lancar.
2. Hasil penyuluhan, memberi pertanyaan keluarga dan pasien dapat
menyebutkan :
 Pengertian Appendisitis
 Penyebab Appendisitis
 Tanda dan gejala Appendisitis
 Cara pencegahan Appendisitis
3. Pertanyaan dari keluarga pasien :

K. DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN


NO NAMA PESERTA TANDA TANGAN

10

11

12

13

14

15
MATERI
APPENDISITIS

I. PENGERTIAN
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau
umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila
infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan
saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar
atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan
terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun,
lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir.
(Anonim, Apendisitis, 2007)

II. MACAM-MACAM APENDISITIS


Macam-macam apendisitis terbagi atas 2 yakni :
1. Apendisitis akut,
Dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh
akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah
bertumpuk nanah.
2. Apendisitis kronis,
Dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan
timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring,
biasanya ditemukan pada usia tua.

III. PENYEBAB
Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh:
1. Infeksi bakteri,
2. Faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) appendiks
oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit),
3. Hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid,
4. Penyakit cacing, parasit,
5. Benda asing dalam tubuh,
6. Cancer primer dan striktur.

IV. TANDA DAN GEJALA


1. Anoreksia biasanya tanda pertama
2. Lekositosis
3. Rasa nyeri yang dimulai dari bagian tengah perut dan berpindah kebagian
bawah sebelah kanan perut, dengan perut kaku seperti papan.
4. Nafsu makan hilang, sehingga badan terasa lemah.
5. Rasa nyeri semakin meningkat dan terasa ada tekanan pada bagian kanan
bawah saat berjalan.
6. Sembelit sehingga penderita memerlukan obat pencahar.
7. Bagian kiri bawah perut terlalu lunak untuk disentuh, diperkirakan bagian
perut mengalami peradangan.
8. Demam, suhu badan akan meninggi, dan akan merasa mual sampai
menusuk. Rasa mual di sebabkan rangsangan usus buntu yang meradang
pada selaput lendir perut (peritoneum).

V. KOMPLIKASI
 Perforasi
 Peritonitis
 Infeksi luka
 Abses intra abdomen
 Obstruksi intestinum

VI. PEMERIKSAAN RADIOLOG


 Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit.
 Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis
apendisitis (71 – 97 %), terutama untuk wanita hamil dan anak-anak.
 Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan
(93 – 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks.
VII. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 Pemeriksaan darah : leukosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana
lebih dari 13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya
leukositosis tidak menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis: terdapat
pergeseran ke kiri
 Pemeriksaan urin : sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit
lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau
vesika.
 Pemeriksaan laboratorium leukosit meningkat sebagai respon fisiologis
untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada
apendisitis akut dan perforasi akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi
lagi.
 Hb (hemoglobin) nampak normal.
 Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrate.
 Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.

VIII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :
1. Pencegahan
Salah satu kiat agar terhindar dari penyakit radang usus buntu adalah
mengkonsumsi makanan yang kaya serat. Mengkonsumsi makanan yang
kaya serat akan membantu melunakkan makanan sehingga tidak menginap
terlalu lama di dalam usus besar. Hal itu bisa mencegah sebagian sampah
makanan nyasar ke dalam usus buntu. Sehingga kemungkinan terjadinya
radang usus buntu bisa diperkecil. Makanan kaya serat juga merupakan
nutrisi yang cocok untuk kehidupan bakteri 'baik' di dalam usus besar, tetapi
tidak disukai bakteri patogen (yang menimbulkan penyakit). Karena itu,
banyak mengkonsumsi
2. Sebelum operasi
 Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
 Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
 Rehidrasi
 Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara
intravena.
 Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil
untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah
rehidrasi tercapai.
 Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.
3. Operasi
 Apendiktomi.
 Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.
 Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin
mengecil,atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu
beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi
elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.
4. Pasca operasi
 Observasi TTV.
 Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan
lambung dapat dicegah.
 Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
 Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama
pasien dipuasakan.
 Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa
dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal.
 Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30
ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya
diberikan makanan lunak.
 Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat
tidur selama 2×30 menit.Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk
di luar kamar.
 Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

IX. PENGOBATAN TRADISIONAL


Berikut ini adalah ramuan obat tradisional yang dapat mengatasi radang usus
buntu atau apendisitis, adalah :
 Resep 1.
15 gram sambiloto kering + 90 daun lidah buaya secukupnya (dikupas kulit
luarnya dan dipotong-potong) + 30 gram rumput lidah ular atau rumput
mutiara kering, masukan dalam wadah dan ditutup, lalu direbus dengan 800
cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, kemudian airnya diminum untuk 2
kali sehari.
 Resep 2.
60 gram jombang + 60 gram krokot, dicuci dan direbus dengan 800 cc air
hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
 Resep 3.
100 gram umbi bidara upas + 60 gram krokot + 60 gram gendola, dicuci
sampai bersih lalu dijus, airnya diminum. Lakukan 2 kali sehari.
 Resep 4.
Beberapa ruas kunir + Air perasan jeruk nipis + Gula merah secukupnya,
dan Sedikit garam dapur. Lalu campurlah semua bahan yang disebutkan
diatas menjadi satu, kemudian diseduh dengan air panas. Aduklah hingga
rata, lalu biarkan beberapa saat. Ramuan tersebut diminum bila sudah
dingin. lakukan setiap hari 2 kali sampai penyakit tersebut dapat
disembuhkan.
Catatan :
 Pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur
 Untuk perebusan gunakan periuk tanah, atau panci kaca
 Kasus apendiksitis yang serius harus melalui operasi.
 Tetap konsultasi ke dokter.

Anda mungkin juga menyukai