0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
698 tayangan12 halaman

Apresiasi Prosa

Makalah ini membahas analisis puisi "Duka Palu" dengan pendekatan sosiopsikologis dan menjelaskan manfaat dan fungsi apresiasi sastra.

Diunggah oleh

Rohmatul Ilma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
698 tayangan12 halaman

Apresiasi Prosa

Makalah ini membahas analisis puisi "Duka Palu" dengan pendekatan sosiopsikologis dan menjelaskan manfaat dan fungsi apresiasi sastra.

Diunggah oleh

Rohmatul Ilma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

APRESIASI PUISI:

ANALISIS PUISI ”DUKA PALU”

Dosen pengampu:

Siswanto,S.Pd., M.Pd. (198407222015041001)

Oleh:

Sheila Ayu Dwidarani M. (180210402094)

Adinda (1802104020

Yonda Deswi Ramadhanya 180210402095)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

JURUSAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat, taufik,
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat membuat dan menyelesaikan makalah “APRESIASI PUISI”
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, guna memenuhi tugas Mata Kuliah Apresiasi Puisi.

Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk
itu kami mengharap kritik dan saran yang bersifat konstruktif. Dalam penyelesaian makalah ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan semoga
bermanfaat bagi kita semua.

Jember, 22 Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Puisi atau khususnya sajak bisa dikatakan sebagai sebuah ungkapan atau curahan isi hati
seseorang yang dituangkan dalam bentuk kata-kata maupun bahasa yang memiliki daya
estetis dan keindahan. Jika dilihat sekilas memang membuat puisi sungguh mudah, tapi tidak
semua orang bisa membuat puisi sesuai kaidah dan unsur-unsur puisi. Karena membuat puisi
diperlukan keterampilan khusus dan juga butuh proses.

Setiap penyair memiliki ciri khas tersendiri dalam membuat puisi. Pada makalah ini tim
penulis akan menganalisis puisi karya yang berjudul “Duka Palu” dengan pendekatan
sosiopsikologis.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan pendekatan sosiopsikologis dalam pengkajian puisi?
2. Menganalisis puisi ‘Duka Palu’ menggunakan teori dan metode pendekatan
sosiopsikologis.

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, tujuan makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui p
1.4 Manfaat
Manfaat makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Hasil makalah ini dapat memberikan pengetahuan tentang tingkatan apresiasi sastra
2. Makalah ini dapat menjadi pengetahuan manfaat sastra
3. Menambah pengetahuan fungsi apresiasi sastra
4. Mengetahui prosa fiksi sebagai sebuah teks naratif
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tingkatan-tingkatan Apresiasi Sastra

2.2 Manfaat Apresiasi Sastra

Banyak sekali manfaat yang akan diperoleh setelah mengapresiasi atau selama
mengapresiasi sastra.melalui karya sastra seseorang dapat menambah pengetahuannya
tentang kosa kata suatu bahasa, tentang pola kehidupan suatu masyarakat. Selain itu, manfaat
yang diperoleh sewaktu atau setelah membaca karya sastra dibedakan dalam dua ragam,
yakni manfaat secara umum dan manfaat secara khusus.

a) Manfaat secara umum


Peminat atau pembaca sastra sangat beragam dalam masyarakat. Dalam butir
ini diungkapkan manfaat secara umum, maksudnya adalah manfaat membaca sastra
yang diperoleh oleh pembaca pada umumnya melalui generalisasi. Jika dalam
membaca sastra dijadikan sebagai pengisi waktu luang atau mendapat hiburan saja
maka manfaat kegiatan apresasinya akan hilang begitu saja. Olsen mengungkapkan
bahwa ada tiga elemen yang terkandung dalam cipta rasa 1). Aesthetic properties,
yang berhubungan dengan unsur-unsur instrinsik maupun media pemaparan suatu
cipta sastra, 2). Aesthetic dimension, berhubungan dengan dimensi keindahan yang
dikandung oleh suatu cipta sastra, dan 3). Aesthetic object, berhubungan dengan
kemampuan cipta sastra untuk dijadikan objek kegiatan manusia sesuai dengan
keanekaragaman tujuan yang ingin dicapainya. Dari pendapat Olsen tersebut dapat
disimpulkan bahwa cipta sastra dapat memberikan manfaat yang lebih bernilai
daripada sekedar pengisi waktu luang atau pemberi hiburan.
b) Manfaat secara khusus
Selain manfaat secara umum, terdapat pula manfaat secara khusus yang
diperoleh “pembaca khusus”. Pengertian manfaat secara khusus dapat diartikan
sebagai manfaat yang dicapai pembaca sehubungan dengan upaya pencapaian tujuan-

2
tujuan tertentu. Manfaat yang akan didapat diantaranya, 1). Memberikan informasi
yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan, dan 2). Memperkaya
pandangan atau wawasan kehidupan sebagai salah satu unsur yang berhubungan
dengan pemberian arti maupun peningkatan nilai kehidupan manusia itu sendiri. 3).
Pembaca dapat memperoleh dan memahami nilai-nilai budaya dari setiap zaman yang
menlahirkan cipta sastra itu sendiri,dan 4). Mengembangkan sikap kritis pembaca
dalam mengamati perkembangan zamannya. Cipta sastra pada dasarnya juga
mengandung nilai-nilai historis, sosiologis, kultural, dan juga mampu berfungsi
sebagai peramal dan pengevaluasi dari zamannya.
Manfaat khusus lain yang dapat diperoleh pembaca, yakni memberikan
katarsis dan sublimasi. Katarsis ialah kemampuan karya sastra menjernihkan batin
pembaca dari segala kompleksitas batin setelah pembaca melaksanakan kegiatan
apresiasi secara akrab dan sungguh-sungguh sehingga terjadi semacam peleburan
antara pembaca dengan dunia-dunia yang diciptakan pengarangnya. Hal tersebut akan
terjadi terutama apabila realitas yang dipaparkan pengarangnya memiliki pertautan
pengalaman atau permasalahan yang menjadi obsesi pembacanya sehingga terjadilah
semacam vicarious experience, yakni realitas yang dipaparkan pengarang seakan-
akan merupakan pengganti dari pengalaman individual yang dimiliki pembaca. Bila
pengalaman yang menjadi obsesi itu belum terpecahkan, ada kemungkinan
pemecahan itu dapat diperolehnya melalui kegiatan apresiasi tersebut. Di sisi lain
dunia yang diciptakan pengarang itu mungkin juga tidak merupakan wakil
pengalaman yang dimiliki pembaca, tetapi justru baru merupakan dunia impian
pembaca. Dalam situasi demikian, mungkin sekali realitas yang diciptakan pengarang
mampu menjadi semacam pengganti atau memberikan sublimasi kepada
pembacanya. Namun, bila sublimasi itu berkembang menjadi identifikasi diri, maka
justru segi negatiflah yang timbul karena dalam hal ini pembaca menjadi kehilangan
identitas diri sehingga hadirlah Don Kisot abad dua puluh.
Selain itu, manfaat apresiasi sastra diantaranya:
a. Membantu pembaca untuk lebih memahami kehidupan
b. Memperkaya dan mempertajam kepekaan sosial, budaya, religi, batin
c. Mengasah kepribadian dan memperhalus budi pekerti

3
2.3 Fungsi Apresiasi Sastra

Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga
timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan pikiran yang baik
terhadap cipta sastra. (S. Effendi, 1982:7) Fungsi apreasiasi secara umum adalah sebagai
bentuk ekspresi penghargaan kepada suatu karya. Berikut ini adalah beberapa fungsi
seni: Sebagai cara untuk memberikan penilaian, edukasi, empati, terhadap sebuah karya
seni atau sastra.
 Fungsi Aprsiasi Sastra :
Fungsi merupakan suatu jalan atau wahana tercapainya tujuan-tujuan apresiasi sastra.
Fungsi apresiasi sastra dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu :

a) Fungsi Eksperensial
Apresiasi sastra mengemban fungsi eksperensial (experiencial), yaitu fungsi
menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengalaman-
pengalaman manusia kepada pengapresiasi sastra agar ia dapat menjiwai, menghayati,
dan menikmati pengalaman-pengalaman manusia itu. Sejalan dengan itu, apresiasi
sastra harus mampu menjadi penyelenggara permenungan tentang makna pengalaman
manusia. Contoh : pada novel “Belenggu”
b) Fungsi Informatif
Apresiasi sastra juga mengemban fungsi, yaitu fungsi menyediakan, menawarkan,
menyuguhkan, dan menghidangkan pengetahuan-pengetahuan kepada pengapresiasi
sastra agar ia dapat menjiwai dan menikmati pengetahuan itu. Sejalan dengan itu,
apresiasi sastra menjadi penyelenggara pemaknaan lukisan pengetahuan
c) Fungsi Penyadaran
Di samping fungsi eksperensial dan informatif, apresiasi sastra juga mengemban
fungsi penyadaran, yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan
menghidangkan sinyal-sinyal kesadaran kepada pengapresiasi sastra. Setelah itu,
pengapresiasi diharapkan menyadari sesuatu, misalnya hakikat hidup, hakikat
manusia serta makna menjadi manusia.
d) Fungsi Rekreatif
Fungsi terakhir yang diemban oleh apresiasi sastra ialah fungsi rekreatif. Yang
dimaksud fungsi rekreatif adalah fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan,
dan menghidangkan hibura-hiburan kepada pengapresiasi sastra. Sebuah karya sastra
dapat diandaikan selalu memuat hiburan batiniah dan sukmawi, dan seorang
pengapresiasi bisa menjiwai, menghayati, dan menghidangkan hiburan batiniah dan
sukmawi.

4
2.4 Prosa Fiksi Sebuah Teks Naratif

Prosa dalam kesusastraan sering disebut juga dengan istilah fiksi. Kata prosa diambil dari
bahasa Inggris, yakni prose. Prosa atau fiksi memiliki arti sebuah karya naratif yang
menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, tidak ber-dasarkan kenyataan atau dapat
juga berarti suatu kenyataan yang yang lahir berdasar-kan khayalan. Kata ini sebenarnya
mengacu pada pengertian yang lebih luas, tidak hanya mencakup pada tulisan yang
digolongkan sebagai karya sastra, tapi juga karya non fiksi, seperti artikel, esai, dan
sebagainya. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi (fiction), teks naratif
(nartive text) atau wacana naratif (narrative discource). Sehingga istilah prosa atau fiksi atau
teks naratif, atau wacana naratif berarti cerita rekaan (cerkan) atau cerita rekaan.

Prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh banyaknya baris, banyaknya suku
kata, dalam setiap baris serta tak terikat oleh irama dan rimanya seperti dalam puisi. Prosa
berbeda dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta
bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin
"prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk
mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar,
majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa kadangkala juga
disebut dengan istilah "gancaran".

Kata “Fiksi” bersal dari bahasa Inggris yaitu“Fiction”yang artinya rekaan atau khayalan.
Fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyarankan (tidak mengacu) pada
kebenaran sejarah (Abrams, 1981:61). Istilah fiksi sering dipergunakan dalam
pertentangannya dengan realitas (sesuatu yang benar ada dan terjadi di dunia nyata sehingga
kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris). Benar tidaknya, ada tidaknya, dan
dapat tidaknya, sesuatu yang dikemukakan dalam suatu karya yang dibuktikan secara
empiris, inilah antara lain, yang membedakan karya fiksi dengan karya nonfiksi. Tokoh,
peristiwa, dan tempat yang disebut-sebut dalam fiksi adalah bersifat imajinatif, sedang pada
karya nonfiksi bersifat faktual.

Adapun pengertian prosa fiksi menurut Aminuddin dalam Djuanda dan Iswara (2006:158)
adalah “kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeran, latar
serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya
sehingga menjalin suatu cerita. Prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh
banyaknya baris, banyaknya suku kata, dalam setiap baris serta tak terikat oleh irama dan
rimanya seperti dalam puisi. Prosa berbeda dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang
dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa
berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya
digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan
untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.
Prosa kadangkala juga disebut dengan istilah "gancaran".

Cerita fiksi atau Fiksi sering di-maknai sebagai cerita khayalan. Secara umum fiksi lebih
sering dikaitkan dengan cerita pendek atau novel. Karya fiksi, se-bagaimana bentuk karya
sastra yang lainnya, seperti drama 2 dan puisi, dibangun atas unsur-unsur yang juga me-

5
nandai ke-khasan bentuk karya tersebut. Dalam cerita fiksi unsur-unsur pembangunnya antara
lain adalah plot, karak-ter, tema, latar, dan sudut pandang.

Penulisan cerita fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Semua unsur tersebut
adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat,
indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama
membaca cerita kita.

 Jenis cerita fiksi ada 3, yaitu:

1. Novel, yaitu sebuah karya fiksi prosa yang yang tertulis dan naratf.
2. Cerpen, yaitu suatu bentuk prosa naratif fiktf yang cenderung padat dan langsung
pada tujuannya.
3. Roman, novel yang lebih puitis dan epik.

 Berikut ini unsur di dalam cerita fiksi :

1. Tema, yaitu gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang
terkandung di dalam teks.
2. Tokoh, yaitu pelaku dalam karya sastra. Karya sastra dari segi peranan dibagi
menjadi dua yakni tokoh utama dan tokoh tambahan.
3. Alur/Plot, yaitu cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya
dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan
peristiwa yang lain.
4. Konflik, yaitu kejadian yang tergolong penting, merupakan sebuah unsur yang
sangat.diperlukan dalam mengem-bangkan plot.
5. Klimaks, yaitu saat sebuah konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan
saat itu merupakan sebuah yang tidak dapat dihindari.
6. Latar, yaitu tempat, waktu, dan ling-kungan sosial tempat terjadinya peri-stiwa-
peristiwa yang diceritakan.
7. Amanat, yaitu pemecahan yang diberi-kan pengarang terhadap persoalan di dalam
sebuah karya sastra.
8. Sudut pandang, yaitu cara pandang pengarang sebagai sarana untuk menyajikan
tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah
karya fiksi kepada pembaca.
9. Penokohan, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan tokoh.

 Struktur cerita fiksi terdiri 6 unsur berikut:

1. Abstrak, bagian ini adalah opsional atau boleh ada maupun tidak ada. Bagian ini
menjadi inti dari sebuah teks cerita fiksi.
2. Orientasi, berisi tentang pengenalan tema, latar belakang tema serta tokoh-tokoh
didalam novel. Terletak pada ba-gian awal dan menjadi penjelasan dari teks cerita
fiksi dalam novel.
3. Komplikasi, merupakan klimaks dari teks cerita fiksi karena pada bagian ini mulai
muncul berbagai permasalahan, biasanya komplikasi disebuah novel menjadi daya
tarik tersendiri bagi pem-baca.
4. Evaluasi, bagian dalam teks naskah novel yang berisi munculnya pembaha-san
pemecahan atau pun penyelesaian masalah.

6
5. Resolusi, merupakan bagian yang berisi inti pemecahan masalah dari masalah-
masalah yang dialami tokoh utama.
6. Koda (reorientasi), berisi amanat dan juga pesan moral positif yang bisa di-petik dari
sebuah naskah teks cerita fiksi.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

7
DAFTAR PUSTAKA

Drs. Aminuddin, M. (2015). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Penerbit Sinar Baru
Algensindo.

Drs. Azhar Umar, M. (2017). Mengapresiasi Karya Sastra Indonesia. In M. Drs. Azhar Umar, Sumber
Belajar Penunjang PLPG 2017 (p. 15). Yogyakarta: PLPG Universitas Sanata Dharma 2017.

https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-fiksi.html

https://www.google.com/search?client=firefox-b-
d&ei=hUR9XZbJFPnez7sPuNOl6A8&q=teks+naratif+adalah&oq=teks+naratif+adalah&gs_l=psy-
ab.3..0j0i22i30j0i22i10i30j0i22i30l5.5175.6543..6978...0.2..0.210.741.5j1j1......0....1..gws-
wiz.......0i71j0i67j0i10.qw55DWNFI00&ved=0ahUKEwjWn672itHkAhV573MBHbhpCf0Q4dUDCAo&ua
ct=5

http://bionet82.blogspot.com/2010/10/fiksi-sebuah-teks-prosa-naratif.html

http://seklianjarp.blogspot.com/2014/09/apresiasi-sastra.html

8
9

Anda mungkin juga menyukai