BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Prosa fiksi berasal dari kata fictio yang berarti pembentukan, angan – angan,
khayalan. Menurut Moeliono dkk, berarti : cerita rekaan (cerpen, roman, novel). Prosa
fiksi merupakan cerita hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, serta
penilaiyan tentang peristiwa yang berlangsung dalam hayal pengarang saja. Menurut
M Saleh dan anton “dalam soedjijono, 1984:64), yang dimaksud dengan prosa fiksi
ialah (bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, kelakuan, peristiwa,
dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi”
Berdasarkan penjelasan – penjelasan diatas, tidaklah jauh berhubungan dengan
cerita pendek. Bahkan juga cerita pendek telah berada dalam bentuk prosa fiksi. Oleh
karena itu, Prosa Fiksi menjadi salah satu hal yang kami anggap perlu di kaji. Dengan
harapan dapat memotifasi serta menambah pengetahuan kita secara aplikatif dari
materi Prosa Fiksi ini.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dari prosa fiksi ?
2. Apa sajakah jenis-jenis prosa fiksi ?
3. Apa sajakah ciri-ciri dari prosa fiksi?
4. Bagaimanakah pendekatan dalam apresiasi prosa fiksi ?
1.3 Tujuan Makalah
Tujuan dari penulisan makalah ini seperti halnya dalam rumusan masalah di atas
yaitu :
1. Untuk mengetahui pengertian dari prosa fiksi.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis prosa fiksi.
3. Untuk mengetahui ciri-ciri dari prosa fiksi.
4. Untuk mengetahui pendekatan dalam apresiasi prosa fiksi.
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Prosa Fiksi
Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Karya
sastra fiksi
atau biasa disebut cerita rekaan, merupakan salah satu jenis karya sastra yang
beragam prosa. Adapun pengertian prosa fiksi menurut Aminuddin dalam Djuanda
dan Iswara (2006: 158) adalah “kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku
tertentu dengan pemeran, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang
bertolak dari hasilimajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita”. Prosa yang
sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya naratif yang
menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh - sungguh terjadi di dunia
nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal ini berbeda dengan
karya nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh, peristiwa, dan latar bersifat faktual atau dapat
dibuktikan di dunia nyata, Abrams ( Nurgiyantoro, 1994 : 2).
Dengan demikian, karya fiksi, adalah suatu karya yang menceritakan sesuatu yang
bersifat rekaan, khayalan, serta hal yang tidak terjadi sunguh – sungguh sehingga tidak
perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Ada tidaknya, atau dapat tidaknya sesuatu
yang dikemukakan dalam suatu karya dibuktikan secara empiris, inilah antara lain yang
membedakan karya fiksi dengan karya nonfiksi. Tokoh, peristiwa, dan tempat yang
bersifat imajinatif, sedangkan karya nonfiksi bersifat faktual (Nurgiantoro, 1994 : 2).
Karya Fiksi dapat diartikan sebagai cerita rekaan, akan tetapi, pada kenyataannya
karya yang tidak mengandung unsur rekaan pun disebut sebagai karya fiksi. Dewasa ini
tampaknya penyebutan untuk karya fiksi lebih ditujukan terhadap karya yang berbentuk
prosa naratif (atau biasa juga disebut teks naratif). Karya – karya lain yang penulisannya
tidak berbentuk prosa, misalnya berupa dialog seperti dalam drama atau sandiwara,
termasuk skenario untuk film, juga puisi – puisi drama (drama puisi) dan puisi – puisi
balada, pada umumnya tidak disebut sebagai karya fiksi. Bentuk – bentuk karya itu
dipandang sebagai genre yang berbeda. Walau demikian sebenarnya kita tidak dapat
menyangkal bahwa karya – karya itu juga mengandung unsur rekaan.
Dalam penulisan ini istilah dan pengertian fiksi sengaja dibatasi pada karya yang
berbentuk prosa, prosa naratif, atau teks naratif (narrative text). Karya fiksi, seperti halnya
dalam kesastraan Inggris dan Amerika, menunjuk pada karya yang berwujud novel dan
cerita pendek. Novel dan cerita pendek (juga dengan roman) sering dibedakan orang,
walaupun tentu saja hal itu lebih bersifat teoritis. Disamping itu, orang juga membedakan
antara novel serius dengan novel populer yang bersifat teoritis dan tentatif. Hasil
pembedaan itu seperti mudah diduga sebelumnya, tentulah tidak semua orang mau
menerimanya (Nurgiyantoro, 1994 : 8 - 9) .
2
2.2 Jenis-jenis Prosa Fiksi
1. Prosa Modern
Yang termasuk kedalam prosa modern yaitu :
a. Cerita pendek/cerpen, adalah cerita berbentuk prosa yang pendek.
b. Novelet, adalah cerita yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi
lebih pendek dari novel.
c. Novel/roman, adalah cerita berbentuk prosa yang menyajikan permasalahn-
permasalahan secara kompleks, dengan penggarapan unsur-unsurnya secara
lebih luas dan rinci.
d. Cerita anak, adalah cerita yang mencakup rentang umur pembaca beragam,
mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun (bahkan 13 dan 14) tahun.
e. Novel remaja (chicklit dan teenlit), adalah novel yang ditulis untuk segmen
pembaca remaja.
2. Prosa lama
Yang termasuk kedalam prosa lama yaitu :
a. Dongeng, adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau
khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah
terjadi.
b. Fabel adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para
pelakunya binatna g yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si
Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Harimau, dan lain-lain.
c. Hikayat adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca
untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk
meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam,
dan lain-lain.
d. Legenda adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu
tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula
Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lain-
lain.
e. Mite adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal
yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan
mengandung hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.
f. Cerita Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead
karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini
mengandung unsur komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan,
ketololan dan kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap
3
perilaku manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak
Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain.
g. Cerita Perumpamaan adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat
yang berisi nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan
dinasihati dengan cerita seorang Haji Bakhil.
2.3 Ciri – ciri dan Fungsi Prosa Fiksi
Ciri-ciri prosa dari fiksi yaitu sebagai berikut :
1 Bersifat fiksi/rekaan
2 Menyerupai kenyataan
3 Bentuk karangan biasanya narasi
4 Memiliki tokoh, peristiwa, latar, alur, dan pesan/ajaran
5 Fungsi moral, yaitu melalui prosa dapat dipahami suatu nilai-nilai yang baik dan buruk
6 Fungsi didaktif, prosa memiliki nilai pembelajaran bagi pembacanya, artinya
prosa dapat dijadikan objek pembelajaran untuk dapat dipahami dan dikaji ataupun
diterapkan nilai-nilainya pada kehidupan yang sebenarnya.
7 Fungsi budaya, prosa merupakan hasil cipta, karya, dan karsa seseorang yang
berperan dalam pelestarian dan pengembangan hasil hasil cipta manusia.
8 Fungsi hiburan, prosa memberikan keindahan bagi penggiat prosa karena memiliki
nilai estetika yang meliputi keselarasan, keserasian, dan keseimbangan
4
BAB III
PENUTUP
A. Kritik
Sering kita merasa tidak punya ide untuk menulis prosa fiksi / cerpen. Di lain
kesempatan kita juga dihadapkan pada kebingungan apa yang harus kita tulis dengan
tugas menulis prosa fiksi /cerpen.
B. Saran
1) Pilih salah satu ide yang menarik.
2) Yakinlah ide yang akan kita pilih semuanya berpotensi menarik. Jadi jangan ragu;
jangan pernah berpikir ide kita biasa saja. Cerpen yang luar biasa adalah cerpen yang
mengangkat ide-ide biasa tetapi mendapat respon pembaca yang luar biasa.
3) Meringkas ide apabila ide terlalu luas.
5
DAFTAR PUSTAKA
Nurgiantoro, 2010. “Sastra Anak dan Pembentukan Karakter”, dalam
Cakrawala Pendidikan, Jurnal Ilmiah Pendidikan, Th. XXIX, Mei, hlm. 25-40.
Sayuti, Suminto A. 1988. Dasar-dasar Analisis Fiksi. Yogyakarta: LP3S (diktat)
Nurgiantoro, Burhan.2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press