Anda di halaman 1dari 1

Diskusi Kelompok 2 tentang Kasus 1 Manajemen Stratejik : “Penutupan Gerai Giant”

Giant adalah salah satu supermarket besar yang memiliki cukup banyak cabang di Indonesia. Giant
berada dibawah naungan PT. Hero Supermarket (Tbk) bersama dengan beberapa bisnis lain seperti
Hero Supermarket, Guardian, dan IKEA. Pada pertengahan Juni 2019, muncul kabar bahwa Giant
akan menutup 6 gerainya yang berada diwilayah Jakarta, Depok dan Bekasi. Hal ini diperkuat
dengan adanya spanduk yang berisikan tentang diskon yang diberikan kepada konsumen sebelum
gerai Giant menghentikan aktivitas bisnisnya di tanggal 28 Juli 2019. Terlihat banyak konsumen
yang tergiur akan diskon yang diberikan sehingga antrian membeludak di gerai Giant yang akan
ditutup tersebut. Dalam kasus ini, kelompok kami memilih menganalisis penutupan gerai Giant
dengan menggunakan “The Five Forces Model of Industry Competition”.
Komponen pertama dari the Five Forces Model adalah persaingan kompetitif diantara anggota
industri. Dalam kasus ini, Giant kalah saing dengan sejumlah supermarket sejenis untuk
mempertahankan eksistensinya di industri tersebut. Berbagai promosi yang ditawarkan oleh
banyak supermarket sejenis mengakibatkan banyak konsumen akan lebih selektif dalam memilih
tempat berbelanja mereka. Hal ini juga dipertimbangkan konsumen dari segi kenyamanan saat
berbelanja, promo dan harga yang ditawarkan supermarket dan pelayanan yang pastinya akan
berbeda pada setiap supermarket yang ada di Indonesia. Komponen kedua, ancaman dari
pendatang baru dalam industri. Munculnya peritel online yang semakin menjamur, mengakibatkan
beberapa peritel offline seperti Giant tidak mampu bersaing. Kemudahan berbelanja online di era
ini, cenderung membuat konsumen memilih untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dari para
peritel online. Komponen ketiga, ancaman dari produk pengganti. Di zaman ini, muncul berbagai
barang substitusi yang lebih aman dan terjangkau sehingga konsumen akan memiliki banyak
pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Konsumen akan cenderung membeli barang
substitusi ketika barang utama yang dibutuhkannya susah dicari atau dari segi harganya yang lebih
mahal dari barang substitusinya. Dampaknya adalah penjualan di supermarket Giant menurun
karena konsumen mungkin lebih memilih mencukupi kebutuhannya dengan membeli barang
substitusi yang tidak dijual oleh Giant. Komponen keempat, kekuatan tawar-menawar pembeli.
Sama seperti komponen ketiga, konsumen akan lebih memilih mencukupi kebutuhannya dengan
harga yang paling terjangkau. Konsumen cenderung membeli barang yang harganya lebih
terjangkau dan dengan adanya peritel online yang menawarkan banyak promo dan cashback
mengakibatkan Giant sebagai peritel offline makin sepi pengunjung. Komponen terakhir yaitu
kekuatan tawar-menawar dari pemasok. Komponen ini menekankan tentang pemasok yang lebih
memilih membuka usahanya sendiri sehingga perusahaan yang berada di industri yang sama akan
mendapatkan dampak dengan bertambahnya persaingan yang muncul dari para pendatang baru.
Beberapa pemasok mungkin akan memilih melebarkan bisnisnya dengan membuka supermarket
sendiri sehingga supermarket yang biasanya menjadikannya sebagai partner kerja akan kehilangan
pemasok untuk memenuhi kebutuhan konsumennya.
Saran dari kelompok kami untuk kasus ini adalah Giant sebagai sebuah supermarket besar di
Indonesia sebaiknya melakukan banyak inovasi dalam bisnisnya dan memperhatikan ancaman-
ancaman yang muncul dari lingkungan eksternal perusahaan. Perbaikan layanan dan kemudahan
berbelanja harus dipikirkan oleh pihak manajemen dalam kegiatan operasional perusahaan. Seperti
yang banyak diketahui masyarakat bahwa bisnis offline seperti Matahari Department Store juga
pernah menutup beberapa gerainya dan sekarang manajemennya sudah mulai membuat inovasi
dengan membuka sebuah situs belanja online yang diberi nama Matahari Mall.