TUGAS AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
“DISKUSI KASUS BAB II AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK”
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
VENSIE MEYLINA SURYANTO / 130316050 / B
WINDA DWI OKTAVIANI / 130316276 / B
*ALAMANDA NUR M. / 130315246 / B
UNIVERSITAS SURABAYA
FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMIKA
SEMESTER GENAP 2018/2019
Pertanyaan Diskusi Kasus
Seringkali pemerintah tidak dapat beroperasi dalam situasi mekanisme pasar murni
namun hanya bersifat semi pasar. Sebagai contoh pemerintah tidak dapat
memberlakukan penetapan harga atau tarif barang dan pelayanan publik tertentu
berdasarkan mekanisme pasar murni. Pemerintah harus memberikan subsidi atas suatu
barang atau pelayanan atau menjualnya sebatas untuk pemulihan biaya bukan untuk
mencari laba. Penghitungan akuntansi biaya dan penetapan harga pada organisasi
sektor publik memiliki kompleksitas dan kekhususan tersendiri dibandingkan di sektor
bisnis. Di sisi lain pemerintah dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang
berkualitas, efisien, efektif, profesional serta dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
SOAL KASUS
1.) Buatlah analisi cara perhitungan biaya produk dan penentuan tarif atau harga atas
barang dan pelayanan public tersebut.
a. Perhitungan biaya produk dan harga bahan bakar minyak (BBM)
b. Perhitungan biaya produk dan harga/tarif PDAM
c. Perhitungan biaya produk dan harga tiket kereta api
d. perhitungan biaya produk dan harga / tarif jalan tol
e. perhiutngan biaya produk dan harga / tarif tiket angkutan umum
f. perhitungan biaya produk dan harga / tiket kapal laut
g. perhitungan biaya produk dan harga / tiket pesawat udara
h. perhitungan biaya produk dan harga pelayanan kesehatan di rumah sakit
pemerintah.
2.) berikan pendapat anda bagaimanakah cara yang harus ditempuh pemerintah untuk
dapat memberikan pelayanan public yang berkualitas dengaan biaya relative murah
dan terjangkau oleh masyarakat.
PEMBAHASAN
1. A.) Misal harga minyak mentah dunia per 27 Maret 2012= USD 130/barrel
harga MOPS per tri semester 2012= USD 138/barrel
besaran alpha ditetapkan 10% dari harga MOPS
pajak ditetapkan 15% dari jumlah MOPS dan alpha
1 USD= Rp 9500,- per trimester 2012
1 barrel=158,8457 liter atau dibulatkan 159 liter
harga minyak mentah di Indonesia: USD 138+(138*0,1)= USD 151,8/barrel
jika dirupiahkan: USD 151,8*Rp 9500=Rp 1.442.100,-/barrel
jika dikonversi ke liter: Rp 1.442.100/159=Rp 9069,8113/liter atau dibulatkan Rp
9070,-/liter
Konsumsi BBM jenis premium atau RON (Research Octane Number) 88 di Indonesia
adalah 26 juta kiloliter per tahun atau 71232,8767 kiloliter/hari sedangkan produksi
minyak nasional adalah 900.000 barrel/hari atau 143.100.000 liter/hari atau 143100
kiloliter/hari. Walau terlihat surplus daripada total konsumsi, jumlah 143100
kiloliter/hari adalah jumlah minyak mentah bukan jumlah premium. Untuk itulah
dilakukan penyulingan supaya minyak mentah tersebut bisa diolah menjadi premium
siap pakai, umumnya untuk minyak bumi dari Indonesia mampu menghasilkan 10-
20% gasoline atau premium dari hasil penyulingan minyak mentah hampir sama
dengan minyak mentah dari Arab Saudi (data bisa dilihat disini). Jadi dari 143100
kiloliter/hari tadi maksimal hanya 28620 kiloliter/hari saja yang bisa dijadikan
premium.
Oleh karena itu terdapat defisit sebesar: 71232,8767-28620= 42612,8767
kiloliter/hari. Jumlah defisit inilah yang harus diimpor dari negara lain menggunakan
dana APBN selain itu dana subsidi juga dipakai untuk mencapai harga jual pokok
sebesar Rp 4500,-/liter dari harga produksi murni sebesar Rp. 9070,-/liter.
B.) Tarif PDAM dibedakan menjadi 4 type yaitu :
Tarif rendah
adalah tarif bersubsidi, yakni tarif lebih rendah dari proyeksi Biaya dasar.
Kebijakan tarif rendah ini sebagal floor price pollicy. Oleh karena itu penetapan tarif
rendah tidak
dianjurkan lebih rendah dari biaya produksi air (cost of goods sold) yang terdir
i dari komponenbiaya sumber, biaya pengolahan dan biaya transmisi dan distribu
si. Jika hal itu terjadi, makadiperlukan adanya subsidi. Besaran subsidi yang akan
diberikan untuk tarif rendah ditetapkan oleh masing-
masing PDAM dengan persetujuan pemerintah daerah dan disesuaikan dengan
kondisi masingmasing daerah. Oleh karena itu besar tarif rendah dapat bervarias
i antar segmen
pelanggan dan merefleksikan kebijakan pemerintah daerah terhadap peran PDA
M dalam mengemban misi dan fungsl pelayanan terhadap kebutuhan dasar
masyarakat atau public service obligation.
• Tarif dasar
nilainya sama atau ekuivalen dengan biaya dasar. Bagi pelanggan yang
dikenakan tarif dasar, berarti tidak memperoleh subsidi dan tidak pula
memberikan subsidi kepada pelanggan lainnya.
• Tarif penuh
nilainya lebih besar dibandingkan biayadasar dan besarnya dapat bervariasi. Di
dalam tarif penuh terkandung komponen tingkat keuntungan yang wajar dan
kontra subsidi silang. Artinya, pelanggan yang dibebani tarif penuh
memberikan subsidi silang kepada pelanggan yang membayar dangan tarif
rendah.
• Tarif yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan
ditentukan oleh PDAM berdasarkan kesepakatan dengan masing-
masing konsumen/pelanggan. Dalam menentukan kesepakatan, diperlukan
komunikasi berdasarkan kesukarelaan yangsaling menguntungkan kedua belah
pihak.
BBM
Dari data yang diperoleh konsumsi HSD adalah 0,7 liter per kilometer tiap
KRD. Harga HSD saat penelitian ada- lah Rp. 3.672,-. Dalam satu kali perjalanan
Kereta Madiun Jaya Ekspres menggunakan 4 unit KRD. Biaya pema- kaian HSD
dalam sehari dengan 4 kali perjalanan relasi Yogyakarta (Yogyakarta – Solo = 61km )
dan 1 kali perja- lanan relasi madiun 2 kali perjalanan relasi Madiun (Madiun –
Yogyakarta = 151 km) adalah :
Biaya HSD = (0,7 Lt/km/KRD x((2 x 151)+(4 x
61))km x 4 KRD x Rp 3.672,-.) x 31 hari = (Rp. 5.613.754,- ) x 31 hari = Rp.
174.026.374,- per bulan
C.) On Train Cleaning (OTC)
Berdasarkan sumber data sekunder yang diberikan
oleh pekerja OTC Kereta api Madiun Jaya Ekspres, biaya pe- meliharaan kebersihan
kereta per bulan adalah Rp 75.000,- dan biaya pekerja OTC per hari adalah Rp.
27.500,-. Pekerjaan ini dikerjakan oleh dua petugas cuci. Total biaya cucian sarana
dalam satu bulan adalah :
Biaya OTC= 2 x Rp. 27.500,- x 31 hari + Rp. 75.000,- =
Rp. 1.780.000,-
Cucian Sarana
Berdasarkan sumber data sekunder PT. KAI DAOP VII
Madiun tahun 2011-2012, biaya cucian sarana harian ke- reta madiun jaya
ekspres per bulan adalah Rp 27.000,-. Pekerjaan ini dikerjakan oleh dua
petugas cuci. Total biaya cucian sarana dalam satu bulan adalah 2 x Rp.
27.000,- x 31 hari = Rp. 1.674.000,-
Pelumas
Pemakaian minyak pelumas untuk tiap jenis minyak pelumas yang
berbeda. Biaya pemakaian minyak pelumas dengan jarak total tempuh 546 km
untuk seluruh KRD yang dimiliki adalah sebagai berikut :
Pemakaian pelumas
= Rp. 218.708,- = Rp. 966.667,-
Pelumas tegula valfoin
Jumlah (liter) 3,5 32,25
Harga satuan Rp 33.000 Rp 37.500
Total harga
Rp 462.000 Rp 4.837.500 Rp. 5.299.500,-
Total pemakaian pelumas dalam satu bulan pengoperasian
D.) Penghitungan biaya produk dan harga/ tarif jalan toll
Dalam kepustakaan ekonomi transportasi, tarif didefinisikan sebagai harga atau nilai
kompensasi yang harus dibayar konsumen atas pengkonsumsian suatu produk jasa,
baik melalui mekanisme perjanjian sewa menyewa, tawar menawar, maupun
ketetapan pemerintah (Warpani dalam Sinaga , 2007). Salah satu jenis tarif yang perlu
dipahami dalam sistem transportasi di Indonesia adalah tarif jalan tol. Tol adalah
sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk pemakaian jalan tol. Besarnya tarif tol
maksimum tidak boleh melebihi 70% nilai BKBOK, yang merupakan selisih antara
BOK melalui jalan non tol dan BOK melalui jalan tol (BKBOK = BOK non tol –
BOK tol).
Pendekatan yang digunakan dalam penentuan tarif jalan tol di Indonesia, yaitu tarif tol
dihitung berdasarkan besar keuntungan biaya operasi kendaraan, kelayakan investasi,
kemampuan membayar pengguna jalan tol dan keinginan membayar. Ability to Pay
(ATP) merupakan kemampuan seseorang untuk membayar jasa pelayanan yang
diterima berdasarkan penghasilan yang dianggap ideal. Pendekatan yang digunakan
dalam analisa ATP didasarkan pada alokasi biaya untuk transportasi dari pendapatan
rutin yang diterimanya.
Dengan kata lain, ATP adalah kemampuan masyarakat dalam membayar ongkos
(tarif) perjalanan yang dilakukannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ATP
diantaranya:
• Besar penghasilan;
• Kebutuhan transportasi;
• Intensitas (frekuensi) perjalanan;
• Biaya transportasi;
• Persentase penghasilan yang digunakan untuk biaya transportasi.
Willingness to Pay (WTP) adalah kemauan pengguna jasa memberikan suatu bayaran
atas jasa yang diperoleh. Pendekatan yang digunakan adalah berdasarkan persepsi
terhadap tarif dari jasa transportasi tersebut. Sasaran dari WTP adalah mendapatkan
besaran tarif tol yang paling optimum dan realistis sesuai keinginan atau kemauan
membayar masyarakat namun masih tetap menarik investor untuk berinvestasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam besarnya WTP adalah :
• Produk yang ditawarkan atau disediakan oleh operator jasa pelayanan transportasi;
• Kualitas dan kuantitas pelayanan yang disediakan;
• Utilitas pengguna terhadap jasa transportasi tersebut;
• Perilaku (karakteristik) pengguna.
E.) Penghitungan biaya produk dan harga/tarif tiket angkutan umum
Biaya Operasional Kendaraan
Biaya operasional kendaraan adalah total biaya yang dikeluarkan oleh pemakai jalan
dengan menggunakan moda tertentu dari zona asal ke zona tujuan. Biaya operasi
kendaraan terdiri dari
dua komponen yang biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap (fixed xost) adalah
biaya yang tidak berubah ( tetap walaupun terjadi perubahan pada volume produksi
jasa sampai tingkat tertentu), sedangkan biaya tidak tetap (variable cost) adalah biaya
yang berubah apabila terjadi perubahan pada volume produksi jasa. Menurut:
1. Button (1993) Dalam penetapan nilai operasi kendaraan, menyatakan bahwa
penetapan harga layanan transportasi (pricing) bertujuan untuk memaksimasi
kepentingan penyedia jasa transportasi dengan tetap mempertimbangkan
kesejahteraan masyarakat (maximizing welfare). Kondisi ini akan stabil untuk jangka
panjang atau Long Run Marginal Cost (LRMC). LRMC merupakan komponen biaya
yang mempengaruhi penetapan harga dengan memperhatikan biaya-biaya kapital atau
biaya-biaya tetap lainnya yang mempengaruhi kelangsungan kendaraan pada kondisi
yang akan datang.
2. Surat Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 89 Tahun 2002, tentang
mekanisme penetapan tarif dan formula perhitungan biaya pokok angkutan
penumpang dengan mobil bus umum kelas ekonomi, pengelompokkan biaya pokok
operasi kendaraan menurut hubungannya dengan produksi jasa yang dihasilkan, dibagi
atas :
1. Biaya Langsung
Biaya langsung yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan produk jasa yang
dihasilkan, yang terdiri atas biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable
cost). Penghitungannya adalah sebagian biaya dapat secara langsung dihitung per km
kendaraan, tetapi sebagian biaya lagi dihitung per km kendaraan setelah dihitung
biaya per tahun.
2. Biaya Tidak Langsung
Biaya tidak langsung yaitu biaya yang secara tidak langsung berhubungan dengan
produk jasa yang dihasilkan yang terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak
tetap (variable cost). Penghitungannya tidak dapat secara langsung per km kendaraan
karena mengandung komponen yang tidak terkait langsung dengan operasi kendaraan
seperti biaya total per tahun pegawai selain awak kendaraan dan biaya pengelolaan
meliputi pajak perusahaan, pajak kendaraan, penyusutan bangunan kantor, dll.
3. Biaya Pokok
Biaya pokok per kendaraan kilometer dihitung dengan menjumlahkan biaya langsung
dan biaya tidak langsung
F. ) Penghitungan biaya produk dan harga/tiket kapal laut
Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 57 Tahun 2006 Tentang
Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif Angkutan Penumpang Laut
Dalam Negeri.
BAB III Formulasi Perhitungan Tarif Pasal 14
(1) Tarif dasar diperoleh dari hasil perhitungan biaya pokok Per SDUM (Satuan
Dasar Unit Muatan) per mil pada faktor muatan (load factor) minimal 70 %
ditambah margin keuntungan 10%.
(2) Tarif jarak diperoleh dari hasil perkalian antara tarif dasar dikali jarak koefisien
pada masing-masing kelompok jarak.
(3) Skala Koefisien jarak untuk menghitung jarak koefisien sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), adalah sebagai berikut :
a. jarak sid 50 mile = 1,50;
b. jarak 51 sid 200 mile = 1,30;
c. jarak 201 sid 400 mile = 1,10;
d. jarak 401 sid 600 mile = 1,05;
e. jarak 601 sid 800 mile = 1,00;
f. jarak 801 sid 1.000 mile = 0.90;
g. jarak lebih dari 1.000mile = 0.85.
(4) Rumus perhitungan dalam menghitung jarak koefisien dari masingmasing
kelompok jarak, adalah sebagai berikut :
a. jarak sid 50 mile = (50 mile x 1.50) = 75 mile;
b. jarak 51 sid 200 mile = «75 mile) + (Jarak-50» x 1.30);
c. jarak 201 sid 400 mile = «270 mile) + (Jarak-200» x 1.10);
d. jarak 401 sid 600 mile = «490 mile) + (Jarak-400) x 1.05);
e. jarak 601 sid 800 mile = «700 mile) + (Jarak-600) x 1,00);
f. jarak 801 sid 1.000mile = «900 mile) + (Jarak-800) x 0,90);
g. jarak > dari 1.000mile = «1.080 mile) + (Jarak-1000) x 0.85);
G.) RUMUS HARGA TIKET DOMESTIK
Berikut ini adalah cara menghitung tiket pesawat domestik secara manual.
RUMUS : Nett + PPN 10 % + IWJR
Infant (INF) : 10 % Nett + PPN 10 % + IWJR
Child (CHD) : 67 % Nett + PPN 10 % + IWJR
Premium (P) : Nett + PPN 10 % + IWJR
Business (C) : Nett + PPN 35 % + IWJR
Contoh :
DIK. Harga Tiket BDO-DPS 25DEC13 IDR 969.000,-
IWJR IDR 10.000,0 (One Way)
1. Infant (INF) : 10 % Nett + PPN 10 % + IWJR
Maka harga tiket Infant
= 10% (969.000) + 10% + IWJR
= 96.900 + 96.900 + 10.000
= 203.800 IDR
2. Child (CHD) : 67 % Nett + PPN 10 % + IWJR
Maka harga tiket Child
= 67% (969.000) + 10% + IWJR
= 649.230 + 96.900 + 10.000
= 756.130 IDR
3. Premium (P) : Nett + PPN 10 % + IWJR
Maka harga Premium
= 969.000 + 10% + IWJR
= 969.000 + 96.900 + 10.000
= 1.075.900 IDR
4. Business (C) : Nett + PPN 35 % + IWJR
Maka harga Business
= 969.000 + 35% + IWJR
= 969.000 + 339.150 + 10.000
= 1.318.150 IDR
H.) Ketentuan Pemerintah
Di negara-negara yang berorientasi socialized medicines, seperti di Eropa dan
Jepang, tarif rumah sakit seringkali sangat dipengaruhi oleh peraturan pemerintah,
baik langsung maupun tidak langsung. Bahkan di negara Amerika juga ada ketentuan
pemerintah yang mengekang rumah sakit meningkatkan tarifnya pada batas tertentu
yang ditetapkan tiap tahun. Di Indonesia misalnya, tarif perawatan di kelas III
ditentukan oleh Kanwil Kesehatan setempat. Tujuannya adalah terjadinya subsidi
silang di rumah sakit swasta atau rumah sakit swadana. Di rumah sakit pemerintah,
tarif tersebut tentu saja disubsidi oleh anggaran pemerintah, baik pusat maupun
daerah. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa masyarakat kelas bawah dapat
Untuk menghitung tarif dengan perhitungan atau pendekatan biaya sebenarnya
sederhana saja. Rumus untuk mendapatkan tarif adalah sebagai berikut:
P x Q = TFC + (UVC x Q) + DI
p = tarif /harga
Q = volume pelayanan terjual
TFC = total fixed cost
UVC = variable cost per unit
DI = desired income
Contoh perhitungan
Unit Swasta Kelas I
TFC = Rp 20.000.000 per kamar (AIC)
UVC = Rp 100.000 per hari per kamar
Q = 300 (kira-kira 80% BOR)
DI = Rp 5.000.000
P x 300 = 20.000.000 + (300 x 100) + 5.000.000
P = Rp 183.333
Dibulatkan = Rp 180.000 - Rp 200.000
Unit Swasta Kelas III
TFC = Tidak dihitung
UVC = Rp 100.000 per hari per kamar (4 TT)
= Rp 25.000 per TT
Q = 1200 (kira-kira 80% BOR, 4 TT)
DI = Rp 2.000.000 (Biaya modal)
P x 1200 = 0 + (1200 x 25) + 2.000.000
P = Rp26.666
Dibulatlkan = Rp 30.000 per TT per hari
Tarif perawatan sebesar Rp 180.000 untuk kelas I atau Rp 30.000 untuk kelas
tiga, meskipun telah memenuhi faktur utama yaitu kebutuhan biaya, akan tetapi harus
di periksa apakah tarif tersebut berada dalam lingkup peraturan yang berlaki. Jika
lebih tinggi dari tarif yang dibolehkan, maka tentu saja tarif tersebut harus diturunkan
lagi. Demikian juga pada pasar dengan tingkat persaingan yang cukup tinggi, harus
diperhitungkan dengan tarif dari pesaing-pesaing lain.
2. Cara pemerintah memberikan pelayanan publik yang berkualitas
a. ) Peningkatan kualitas perilaku dan keprofesionalan aparatur pemerintah.
Peningkatan kualitas dan keprofesionalan aparatur pemerintah adalah salah satu
strategi dalam menciptakan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat. Sebab
dewasa ini, keluhan-keluhan yang datang dari masyarakat yang menilai pelayanan
publik yang diberikan kepada mereka terkendala akibat masih belum tingginya sikap
atau perilaku sumber daya manusia aparatur yang langsung berhadapan dengan
masyarakat.
b.) Menciptakan kebijakan pelayanan publik yang tidak terlalu prosedural dan
berbelit-belit.
Langkah selanjutnya sebagai salah satu strategi peningkatan pelayanan publik adalah
dengan menciptakan kebijakan-kebijakan yang mendukung terselenggaranya
peningkatan pelayanan publik kepada masyarakat. Diharapkan dengan penerbitan
kebijakan mengenai peningkatan pelayanan publik itu akan semakin mendorong
terciptanya kualitas pelayanan yang efektif, efisien dan akuntabel.
c.) Peningkatan fasilitas yang menunjang kualitas pelayanan publik.
Selain memperhatikan kedua aspek diatas, salah satu sisi lain yang patut diperhatikan
oleh pemerintah dalam upaya peningkatan pelayanan publik adalah dengan
meningkatkan penyediaan fasilitas yang menunjang kualitas pelayanan public
tersebut. Sebab, tanpa didukung tersedianya fasilitas yang lengkap maka akan
menghambat proses penyelenggaraan pelayanan public kepada masyarakat.
DAFTAR REFERENSI
https://www.kompasiana.com/yplaksana/550ed521a33311a42dba83b2/mari-
menghitung-harga-bahan-bakar-minyak-secara-sederhana
http://blogs.brpamdki.org/dasar-penentuan-tarif-pelanggan-air-
minum/#sthash.OdZU8Eah.dpbs
http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/permen/2018/PM_17_TAHUN_2018.pdf
https://jurnal.usu.ac.id/index.php/jts/article/download/5623/2354
https://media.neliti.com/media/publications/187669-ID-analisis-tarif-berdasarkan-
biaya-operasi.pdf
http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/permen/2016/KM_57_TAHUN_2006.pdf
http://embrioiscome.blogspot.com/2016/11/cara-menghitung-tiket-domestik-
dan.html?m=1
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/hasbulah/material/penetapantarifrs.pdf
https://jeksonreynolcibro.wordpress.com/2011/12/03/strategi-peningkatan-pelayanan-
publik/