0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
548 tayangan19 halaman

Analisis Biaya dan Tarif Sektor Publik

Dokumen tersebut membahas tentang perhitungan biaya produk dan penetapan harga atas barang dan jasa publik seperti BBM, PDAM, kereta api, jalan tol, angkutan umum, kapal laut, pesawat terbang, dan pelayanan kesehatan. Metode perhitungan meliputi biaya produksi, biaya operasional, kemampuan membayar masyarakat, dan kemauan membayar masyarakat. Tarif ditentukan berdasarkan biaya produksi namun juga

Diunggah oleh

Winda Oktaviani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
548 tayangan19 halaman

Analisis Biaya dan Tarif Sektor Publik

Dokumen tersebut membahas tentang perhitungan biaya produk dan penetapan harga atas barang dan jasa publik seperti BBM, PDAM, kereta api, jalan tol, angkutan umum, kapal laut, pesawat terbang, dan pelayanan kesehatan. Metode perhitungan meliputi biaya produksi, biaya operasional, kemampuan membayar masyarakat, dan kemauan membayar masyarakat. Tarif ditentukan berdasarkan biaya produksi namun juga

Diunggah oleh

Winda Oktaviani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

“DISKUSI KASUS BAB II AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 3

VENSIE MEYLINA SURYANTO / 130316050 / B

WINDA DWI OKTAVIANI / 130316276 / B

*ALAMANDA NUR M. / 130315246 / B

UNIVERSITAS SURABAYA

FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMIKA

SEMESTER GENAP 2018/2019


Pertanyaan Diskusi Kasus

Seringkali pemerintah tidak dapat beroperasi dalam situasi mekanisme pasar murni

namun hanya bersifat semi pasar. Sebagai contoh pemerintah tidak dapat

memberlakukan penetapan harga atau tarif barang dan pelayanan publik tertentu

berdasarkan mekanisme pasar murni. Pemerintah harus memberikan subsidi atas suatu

barang atau pelayanan atau menjualnya sebatas untuk pemulihan biaya bukan untuk

mencari laba. Penghitungan akuntansi biaya dan penetapan harga pada organisasi

sektor publik memiliki kompleksitas dan kekhususan tersendiri dibandingkan di sektor

bisnis. Di sisi lain pemerintah dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang

berkualitas, efisien, efektif, profesional serta dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.


SOAL KASUS

1.) Buatlah analisi cara perhitungan biaya produk dan penentuan tarif atau harga atas

barang dan pelayanan public tersebut.

a. Perhitungan biaya produk dan harga bahan bakar minyak (BBM)

b. Perhitungan biaya produk dan harga/tarif PDAM

c. Perhitungan biaya produk dan harga tiket kereta api

d. perhitungan biaya produk dan harga / tarif jalan tol

e. perhiutngan biaya produk dan harga / tarif tiket angkutan umum

f. perhitungan biaya produk dan harga / tiket kapal laut

g. perhitungan biaya produk dan harga / tiket pesawat udara

h. perhitungan biaya produk dan harga pelayanan kesehatan di rumah sakit

pemerintah.

2.) berikan pendapat anda bagaimanakah cara yang harus ditempuh pemerintah untuk

dapat memberikan pelayanan public yang berkualitas dengaan biaya relative murah

dan terjangkau oleh masyarakat.


PEMBAHASAN

1. A.) Misal harga minyak mentah dunia per 27 Maret 2012= USD 130/barrel

harga MOPS per tri semester 2012= USD 138/barrel

besaran alpha ditetapkan 10% dari harga MOPS

pajak ditetapkan 15% dari jumlah MOPS dan alpha

1 USD= Rp 9500,- per trimester 2012

1 barrel=158,8457 liter atau dibulatkan 159 liter

harga minyak mentah di Indonesia: USD 138+(138*0,1)= USD 151,8/barrel

jika dirupiahkan: USD 151,8*Rp 9500=Rp 1.442.100,-/barrel

jika dikonversi ke liter: Rp 1.442.100/159=Rp 9069,8113/liter atau dibulatkan Rp

9070,-/liter

Konsumsi BBM jenis premium atau RON (Research Octane Number) 88 di Indonesia

adalah 26 juta kiloliter per tahun atau 71232,8767 kiloliter/hari sedangkan produksi

minyak nasional adalah 900.000 barrel/hari atau 143.100.000 liter/hari atau 143100
kiloliter/hari. Walau terlihat surplus daripada total konsumsi, jumlah 143100

kiloliter/hari adalah jumlah minyak mentah bukan jumlah premium. Untuk itulah

dilakukan penyulingan supaya minyak mentah tersebut bisa diolah menjadi premium

siap pakai, umumnya untuk minyak bumi dari Indonesia mampu menghasilkan 10-

20% gasoline atau premium dari hasil penyulingan minyak mentah hampir sama

dengan minyak mentah dari Arab Saudi (data bisa dilihat disini). Jadi dari 143100

kiloliter/hari tadi maksimal hanya 28620 kiloliter/hari saja yang bisa dijadikan

premium.

Oleh karena itu terdapat defisit sebesar: 71232,8767-28620= 42612,8767

kiloliter/hari. Jumlah defisit inilah yang harus diimpor dari negara lain menggunakan

dana APBN selain itu dana subsidi juga dipakai untuk mencapai harga jual pokok

sebesar Rp 4500,-/liter dari harga produksi murni sebesar Rp. 9070,-/liter.

B.) Tarif PDAM dibedakan menjadi 4 type yaitu :

 Tarif rendah

adalah tarif bersubsidi, yakni tarif lebih rendah dari proyeksi Biaya dasar.

Kebijakan tarif rendah ini sebagal floor price pollicy. Oleh karena itu penetapan tarif

rendah tidak

dianjurkan lebih rendah dari biaya produksi air (cost of goods sold) yang terdir

i dari komponenbiaya sumber, biaya pengolahan dan biaya transmisi dan distribu

si. Jika hal itu terjadi, makadiperlukan adanya subsidi. Besaran subsidi yang akan

diberikan untuk tarif rendah ditetapkan oleh masing-

masing PDAM dengan persetujuan pemerintah daerah dan disesuaikan dengan


kondisi masingmasing daerah. Oleh karena itu besar tarif rendah dapat bervarias

i antar segmen

pelanggan dan merefleksikan kebijakan pemerintah daerah terhadap peran PDA

M dalam mengemban misi dan fungsl pelayanan terhadap kebutuhan dasar

masyarakat atau public service obligation.

• Tarif dasar

nilainya sama atau ekuivalen dengan biaya dasar. Bagi pelanggan yang

dikenakan tarif dasar, berarti tidak memperoleh subsidi dan tidak pula

memberikan subsidi kepada pelanggan lainnya.

• Tarif penuh

nilainya lebih besar dibandingkan biayadasar dan besarnya dapat bervariasi. Di

dalam tarif penuh terkandung komponen tingkat keuntungan yang wajar dan

kontra subsidi silang. Artinya, pelanggan yang dibebani tarif penuh

memberikan subsidi silang kepada pelanggan yang membayar dangan tarif

rendah.

• Tarif yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan

ditentukan oleh PDAM berdasarkan kesepakatan dengan masing-

masing konsumen/pelanggan. Dalam menentukan kesepakatan, diperlukan

komunikasi berdasarkan kesukarelaan yangsaling menguntungkan kedua belah

pihak.
BBM
 Dari data yang diperoleh konsumsi HSD adalah 0,7 liter per kilometer tiap

KRD. Harga HSD saat penelitian ada- lah Rp. 3.672,-. Dalam satu kali perjalanan

Kereta Madiun Jaya Ekspres menggunakan 4 unit KRD. Biaya pema- kaian HSD

dalam sehari dengan 4 kali perjalanan relasi Yogyakarta (Yogyakarta – Solo = 61km )

dan 1 kali perja- lanan relasi madiun 2 kali perjalanan relasi Madiun (Madiun –

Yogyakarta = 151 km) adalah :
 Biaya HSD = (0,7 Lt/km/KRD x((2 x 151)+(4 x

61))km x 4 KRD x Rp 3.672,-.) x 31 hari = (Rp. 5.613.754,- ) x 31 hari = Rp.

174.026.374,- per bulan

C.) On Train Cleaning (OTC)
 Berdasarkan sumber data sekunder yang diberikan

oleh pekerja OTC Kereta api Madiun Jaya Ekspres, biaya pe- meliharaan kebersihan

kereta per bulan adalah Rp 75.000,- dan biaya pekerja OTC per hari adalah Rp.

27.500,-. Pekerjaan ini dikerjakan oleh dua petugas cuci. Total biaya cucian sarana

dalam satu bulan adalah :
 Biaya OTC= 2 x Rp. 27.500,- x 31 hari + Rp. 75.000,- =

Rp. 1.780.000,-

 Cucian Sarana
 Berdasarkan sumber data sekunder PT. KAI DAOP VII
Madiun tahun 2011-2012, biaya cucian sarana harian ke- reta madiun jaya

ekspres per bulan adalah Rp 27.000,-. Pekerjaan ini dikerjakan oleh dua

petugas cuci. Total biaya cucian sarana dalam satu bulan adalah 2 x Rp.

27.000,- x 31 hari = Rp. 1.674.000,-

 Pelumas
 Pemakaian minyak pelumas untuk tiap jenis minyak pelumas yang

berbeda. Biaya pemakaian minyak pelumas dengan jarak total tempuh 546 km

untuk seluruh KRD yang dimiliki adalah sebagai berikut :

Pemakaian pelumas

= Rp. 218.708,- = Rp. 966.667,-

Pelumas tegula valfoin

Jumlah (liter) 3,5 32,25

Harga satuan Rp 33.000 Rp 37.500

Total harga

Rp 462.000 Rp 4.837.500 Rp. 5.299.500,-

Total pemakaian pelumas dalam satu bulan pengoperasian

D.) Penghitungan biaya produk dan harga/ tarif jalan toll

Dalam kepustakaan ekonomi transportasi, tarif didefinisikan sebagai harga atau nilai

kompensasi yang harus dibayar konsumen atas pengkonsumsian suatu produk jasa,

baik melalui mekanisme perjanjian sewa menyewa, tawar menawar, maupun


ketetapan pemerintah (Warpani dalam Sinaga , 2007). Salah satu jenis tarif yang perlu

dipahami dalam sistem transportasi di Indonesia adalah tarif jalan tol. Tol adalah

sejumlah uang tertentu yang dibayarkan untuk pemakaian jalan tol. Besarnya tarif tol

maksimum tidak boleh melebihi 70% nilai BKBOK, yang merupakan selisih antara

BOK melalui jalan non tol dan BOK melalui jalan tol (BKBOK = BOK non tol –

BOK tol).

Pendekatan yang digunakan dalam penentuan tarif jalan tol di Indonesia, yaitu tarif tol

dihitung berdasarkan besar keuntungan biaya operasi kendaraan, kelayakan investasi,

kemampuan membayar pengguna jalan tol dan keinginan membayar. Ability to Pay

(ATP) merupakan kemampuan seseorang untuk membayar jasa pelayanan yang

diterima berdasarkan penghasilan yang dianggap ideal. Pendekatan yang digunakan

dalam analisa ATP didasarkan pada alokasi biaya untuk transportasi dari pendapatan

rutin yang diterimanya.

Dengan kata lain, ATP adalah kemampuan masyarakat dalam membayar ongkos

(tarif) perjalanan yang dilakukannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ATP

diantaranya:

• Besar penghasilan;

• Kebutuhan transportasi;

• Intensitas (frekuensi) perjalanan;

• Biaya transportasi;

• Persentase penghasilan yang digunakan untuk biaya transportasi.


Willingness to Pay (WTP) adalah kemauan pengguna jasa memberikan suatu bayaran

atas jasa yang diperoleh. Pendekatan yang digunakan adalah berdasarkan persepsi

terhadap tarif dari jasa transportasi tersebut. Sasaran dari WTP adalah mendapatkan

besaran tarif tol yang paling optimum dan realistis sesuai keinginan atau kemauan

membayar masyarakat namun masih tetap menarik investor untuk berinvestasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam besarnya WTP adalah :

• Produk yang ditawarkan atau disediakan oleh operator jasa pelayanan transportasi;

• Kualitas dan kuantitas pelayanan yang disediakan;

• Utilitas pengguna terhadap jasa transportasi tersebut;

• Perilaku (karakteristik) pengguna.

E.) Penghitungan biaya produk dan harga/tarif tiket angkutan umum

Biaya Operasional Kendaraan

Biaya operasional kendaraan adalah total biaya yang dikeluarkan oleh pemakai jalan

dengan menggunakan moda tertentu dari zona asal ke zona tujuan. Biaya operasi

kendaraan terdiri dari

dua komponen yang biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap (fixed xost) adalah

biaya yang tidak berubah ( tetap walaupun terjadi perubahan pada volume produksi

jasa sampai tingkat tertentu), sedangkan biaya tidak tetap (variable cost) adalah biaya

yang berubah apabila terjadi perubahan pada volume produksi jasa. Menurut:
1. Button (1993) Dalam penetapan nilai operasi kendaraan, menyatakan bahwa

penetapan harga layanan transportasi (pricing) bertujuan untuk memaksimasi

kepentingan penyedia jasa transportasi dengan tetap mempertimbangkan

kesejahteraan masyarakat (maximizing welfare). Kondisi ini akan stabil untuk jangka

panjang atau Long Run Marginal Cost (LRMC). LRMC merupakan komponen biaya

yang mempengaruhi penetapan harga dengan memperhatikan biaya-biaya kapital atau

biaya-biaya tetap lainnya yang mempengaruhi kelangsungan kendaraan pada kondisi

yang akan datang.

2. Surat Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 89 Tahun 2002, tentang

mekanisme penetapan tarif dan formula perhitungan biaya pokok angkutan

penumpang dengan mobil bus umum kelas ekonomi, pengelompokkan biaya pokok

operasi kendaraan menurut hubungannya dengan produksi jasa yang dihasilkan, dibagi

atas :

1. Biaya Langsung

Biaya langsung yaitu biaya yang berkaitan langsung dengan produk jasa yang

dihasilkan, yang terdiri atas biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable

cost). Penghitungannya adalah sebagian biaya dapat secara langsung dihitung per km

kendaraan, tetapi sebagian biaya lagi dihitung per km kendaraan setelah dihitung

biaya per tahun.

2. Biaya Tidak Langsung

Biaya tidak langsung yaitu biaya yang secara tidak langsung berhubungan dengan

produk jasa yang dihasilkan yang terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak
tetap (variable cost). Penghitungannya tidak dapat secara langsung per km kendaraan

karena mengandung komponen yang tidak terkait langsung dengan operasi kendaraan

seperti biaya total per tahun pegawai selain awak kendaraan dan biaya pengelolaan

meliputi pajak perusahaan, pajak kendaraan, penyusutan bangunan kantor, dll.

3. Biaya Pokok

Biaya pokok per kendaraan kilometer dihitung dengan menjumlahkan biaya langsung

dan biaya tidak langsung

F. ) Penghitungan biaya produk dan harga/tiket kapal laut

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 57 Tahun 2006 Tentang

Mekanisme Penetapan dan Formulasi Perhitungan Tarif Angkutan Penumpang Laut

Dalam Negeri.

BAB III Formulasi Perhitungan Tarif Pasal 14

(1) Tarif dasar diperoleh dari hasil perhitungan biaya pokok Per SDUM (Satuan

Dasar Unit Muatan) per mil pada faktor muatan (load factor) minimal 70 %

ditambah margin keuntungan 10%.

(2) Tarif jarak diperoleh dari hasil perkalian antara tarif dasar dikali jarak koefisien

pada masing-masing kelompok jarak.

(3) Skala Koefisien jarak untuk menghitung jarak koefisien sebagaimana dimaksud

pada ayat (2), adalah sebagai berikut :

a. jarak sid 50 mile = 1,50;

b. jarak 51 sid 200 mile = 1,30;


c. jarak 201 sid 400 mile = 1,10;

d. jarak 401 sid 600 mile = 1,05;

e. jarak 601 sid 800 mile = 1,00;

f. jarak 801 sid 1.000 mile = 0.90;

g. jarak lebih dari 1.000mile = 0.85.

(4) Rumus perhitungan dalam menghitung jarak koefisien dari masingmasing

kelompok jarak, adalah sebagai berikut :

a. jarak sid 50 mile = (50 mile x 1.50) = 75 mile;

b. jarak 51 sid 200 mile = «75 mile) + (Jarak-50» x 1.30);

c. jarak 201 sid 400 mile = «270 mile) + (Jarak-200» x 1.10);

d. jarak 401 sid 600 mile = «490 mile) + (Jarak-400) x 1.05);

e. jarak 601 sid 800 mile = «700 mile) + (Jarak-600) x 1,00);

f. jarak 801 sid 1.000mile = «900 mile) + (Jarak-800) x 0,90);

g. jarak > dari 1.000mile = «1.080 mile) + (Jarak-1000) x 0.85);

G.) RUMUS HARGA TIKET DOMESTIK

Berikut ini adalah cara menghitung tiket pesawat domestik secara manual.

RUMUS : Nett + PPN 10 % + IWJR

Infant (INF) : 10 % Nett + PPN 10 % + IWJR

Child (CHD) : 67 % Nett + PPN 10 % + IWJR


Premium (P) : Nett + PPN 10 % + IWJR

Business (C) : Nett + PPN 35 % + IWJR

Contoh :

DIK. Harga Tiket BDO-DPS 25DEC13 IDR 969.000,-

IWJR IDR 10.000,0 (One Way)

1. Infant (INF) : 10 % Nett + PPN 10 % + IWJR

Maka harga tiket Infant

= 10% (969.000) + 10% + IWJR

= 96.900 + 96.900 + 10.000

= 203.800 IDR

2. Child (CHD) : 67 % Nett + PPN 10 % + IWJR

Maka harga tiket Child

= 67% (969.000) + 10% + IWJR

= 649.230 + 96.900 + 10.000

= 756.130 IDR

3. Premium (P) : Nett + PPN 10 % + IWJR

Maka harga Premium

= 969.000 + 10% + IWJR

= 969.000 + 96.900 + 10.000

= 1.075.900 IDR
4. Business (C) : Nett + PPN 35 % + IWJR

Maka harga Business

= 969.000 + 35% + IWJR

= 969.000 + 339.150 + 10.000

= 1.318.150 IDR

H.) Ketentuan Pemerintah

Di negara-negara yang berorientasi socialized medicines, seperti di Eropa dan

Jepang, tarif rumah sakit seringkali sangat dipengaruhi oleh peraturan pemerintah,

baik langsung maupun tidak langsung. Bahkan di negara Amerika juga ada ketentuan

pemerintah yang mengekang rumah sakit meningkatkan tarifnya pada batas tertentu

yang ditetapkan tiap tahun. Di Indonesia misalnya, tarif perawatan di kelas III

ditentukan oleh Kanwil Kesehatan setempat. Tujuannya adalah terjadinya subsidi

silang di rumah sakit swasta atau rumah sakit swadana. Di rumah sakit pemerintah,

tarif tersebut tentu saja disubsidi oleh anggaran pemerintah, baik pusat maupun

daerah. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa masyarakat kelas bawah dapat

Untuk menghitung tarif dengan perhitungan atau pendekatan biaya sebenarnya

sederhana saja. Rumus untuk mendapatkan tarif adalah sebagai berikut:

P x Q = TFC + (UVC x Q) + DI
p = tarif /harga

Q = volume pelayanan terjual

TFC = total fixed cost

UVC = variable cost per unit

DI = desired income

Contoh perhitungan

Unit Swasta Kelas I

TFC = Rp 20.000.000 per kamar (AIC)

UVC = Rp 100.000 per hari per kamar

Q = 300 (kira-kira 80% BOR)

DI = Rp 5.000.000

P x 300 = 20.000.000 + (300 x 100) + 5.000.000

P = Rp 183.333

Dibulatkan = Rp 180.000 - Rp 200.000

Unit Swasta Kelas III

TFC = Tidak dihitung

UVC = Rp 100.000 per hari per kamar (4 TT)

= Rp 25.000 per TT
Q = 1200 (kira-kira 80% BOR, 4 TT)

DI = Rp 2.000.000 (Biaya modal)

P x 1200 = 0 + (1200 x 25) + 2.000.000

P = Rp26.666

Dibulatlkan = Rp 30.000 per TT per hari

Tarif perawatan sebesar Rp 180.000 untuk kelas I atau Rp 30.000 untuk kelas

tiga, meskipun telah memenuhi faktur utama yaitu kebutuhan biaya, akan tetapi harus

di periksa apakah tarif tersebut berada dalam lingkup peraturan yang berlaki. Jika

lebih tinggi dari tarif yang dibolehkan, maka tentu saja tarif tersebut harus diturunkan

lagi. Demikian juga pada pasar dengan tingkat persaingan yang cukup tinggi, harus

diperhitungkan dengan tarif dari pesaing-pesaing lain.

2. Cara pemerintah memberikan pelayanan publik yang berkualitas

a. ) Peningkatan kualitas perilaku dan keprofesionalan aparatur pemerintah.

Peningkatan kualitas dan keprofesionalan aparatur pemerintah adalah salah satu

strategi dalam menciptakan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat. Sebab

dewasa ini, keluhan-keluhan yang datang dari masyarakat yang menilai pelayanan

publik yang diberikan kepada mereka terkendala akibat masih belum tingginya sikap

atau perilaku sumber daya manusia aparatur yang langsung berhadapan dengan

masyarakat.
b.) Menciptakan kebijakan pelayanan publik yang tidak terlalu prosedural dan

berbelit-belit.

Langkah selanjutnya sebagai salah satu strategi peningkatan pelayanan publik adalah

dengan menciptakan kebijakan-kebijakan yang mendukung terselenggaranya

peningkatan pelayanan publik kepada masyarakat. Diharapkan dengan penerbitan

kebijakan mengenai peningkatan pelayanan publik itu akan semakin mendorong

terciptanya kualitas pelayanan yang efektif, efisien dan akuntabel.

c.) Peningkatan fasilitas yang menunjang kualitas pelayanan publik.

Selain memperhatikan kedua aspek diatas, salah satu sisi lain yang patut diperhatikan

oleh pemerintah dalam upaya peningkatan pelayanan publik adalah dengan

meningkatkan penyediaan fasilitas yang menunjang kualitas pelayanan public

tersebut. Sebab, tanpa didukung tersedianya fasilitas yang lengkap maka akan

menghambat proses penyelenggaraan pelayanan public kepada masyarakat.


DAFTAR REFERENSI

https://www.kompasiana.com/yplaksana/550ed521a33311a42dba83b2/mari-
menghitung-harga-bahan-bakar-minyak-secara-sederhana

http://blogs.brpamdki.org/dasar-penentuan-tarif-pelanggan-air-
minum/#sthash.OdZU8Eah.dpbs

http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/permen/2018/PM_17_TAHUN_2018.pdf

https://jurnal.usu.ac.id/index.php/jts/article/download/5623/2354

https://media.neliti.com/media/publications/187669-ID-analisis-tarif-berdasarkan-
biaya-operasi.pdf

http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/permen/2016/KM_57_TAHUN_2006.pdf

http://embrioiscome.blogspot.com/2016/11/cara-menghitung-tiket-domestik-
dan.html?m=1

http://staff.ui.ac.id/system/files/users/hasbulah/material/penetapantarifrs.pdf

https://jeksonreynolcibro.wordpress.com/2011/12/03/strategi-peningkatan-pelayanan-
publik/

Anda mungkin juga menyukai