0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
266 tayangan9 halaman

Prinsip Dasar Elektrogravimetri

Percobaan ini bertujuan untuk memisahkan dan menentukan kadar ion Cu2+ dan Zn2+ secara elektrogravimetri. Proses elektrolisis dilakukan untuk mengendapkan ion logam pada katoda, kemudian endapan ditimbang untuk menentukan kadarnya. Hukum Faraday digunakan untuk menghitung jumlah zat yang dihasilkan berdasarkan jumlah arus listrik yang melalui sel selama percobaan.

Diunggah oleh

Refanny Anindya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
266 tayangan9 halaman

Prinsip Dasar Elektrogravimetri

Percobaan ini bertujuan untuk memisahkan dan menentukan kadar ion Cu2+ dan Zn2+ secara elektrogravimetri. Proses elektrolisis dilakukan untuk mengendapkan ion logam pada katoda, kemudian endapan ditimbang untuk menentukan kadarnya. Hukum Faraday digunakan untuk menghitung jumlah zat yang dihasilkan berdasarkan jumlah arus listrik yang melalui sel selama percobaan.

Diunggah oleh

Refanny Anindya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Judul Percobaan
Elektrogravimetri
B. Hari/Tanggal Percobaan
Selasa, 30 April 2019, 07.00 WIB
C. Selesai Percobaan
Selasa, 30 April 2019, 09.30 WIB
D. Tujuan Percobaan
1. Memisahkan dan menentukan kadar ion Cu2+ dan Zn2+ dalam suatu aplikasi
secara elektrogravimetri.
E. Dasar Teori
1. Elektrolisis
Elektrolisis adalah peristiwa terjadinya perubahan kimia karena
mengalirnya arus listrik melalui elektrolit. Penguraian elektrolit terjadi
karena atom atau ion melepaskan atau menerima elektron pada elektroda.
Elektroda positif disebut anoda, sedangkan elektroda negatif disebut katoda.
Ion positif (kation) dalam larutan bergerak menuju katoda dan terjadi reaksi
reduksi. Ion negatif (anoda) menuju katoda dan terjadi oksidasi.
Ketentuan pada elektrolisa:
a) Pada katoda
 Ion positif dari logam sebelah kiri H pada deret volta akan tetap
berada dalam larutan. jika ada H+ yang berasal dari air akan
mengalami reduksi pada katoda menjadi H2.
 Ion positif sebelah kanan deret volta akan mengendap pada katoda
meskipun ada H+ yang berasal dari H2
b) Pada anoda
Ion negatif yang tidak mengandung oksigen, akan dioksidasi pada anoda
(Underwood, 1999).
2. Elektrogravimetri
Elektrogravimetri merupakan salah satu metode penentuan
secara kuantitatif. Secara sederhana komponen yang dianalisis diendapkan

1
pada suatu elektrode yang telah diketahui beratnya dan setelah terjadi
pengendapan yang sempurna ditimbang kembali elektrode dan endapannya.
Secara ideal endapan harus melekat kuat pada elektrode, rapat dan halus
sehingga apabila dicuci, dikeringkan dan ditimbang tidak menyebabkan
kehilangan berat (Harjadi, 1993).
Endapan yang terbentuk haruslah berbutir halus, seragam dan nampak
seperi logam. Apabila endapan berbentuk sponge, serbuk dan gumpalan
yang tidakmelekat baik pada elektrode maka mempunyai kemurnian yang
kurang. Faktor utama yang mempengaruhi sifat fisis endapan adalah rapat
arus, temperatur, ada tidaknya zat pengompleks. Besarnya rapat arus yang
baik sehingga diperoleh endapan yang sempurna adalah < 0,1 A/cm2.
Pengendapanbersama dengan gas hydrogen dapat merapuhkan dantidak
menguntungkan. Pembentukan gas hidrogen dapat dicegah dengan
penambahan suatu depolarisasi katoda. Misal, ion nitrat.
NO3- + 10H+ + 8e- ↔ NH4+ + 3H2O
Pada umumnya digunakan elektrode Pt, keuntungannya adalah
bersifat inert, dapat dipijarkan untuk menghilangkan lemak, bahan organik
atau gas tanpa merusak logam Pt. Untuk logam-logam Zn, Bi dan Ga
tidaklah diendapkan secara langsung pada elektrode Pt, tetapi elektrode Pt
akan dilapisi dulu dengan logam tembaga.

Pengendapan Tembaga
Tembaga dapat diendapkan dari
larutan H2SO4/HNO3 atau campuran diantara keduanya, dimana potensial
listrik yang digunakan sebesar 2 – 3 Volt sehingga reaksi yang terjadi:
Katode: Cu2+ + 2e ↔ Cu
2H+ + 2e ↔ H2
Anode: 4OH- ↔ O2 + 2H2O + 4e

2
Konsentrasi asam di dalam larutan tidak boleh terlalu tinggi
karena pengandapan tembaga tidaklah sempurna dan endapan tidak melekat
secara sempurna. Asam nitrat yang digunakan haruslah asam nitrat yang
bebas dari nitrit karena ion nitrit dapat merintangi pengendapan tembaga
secara sempurna. Sebelumnya sam nitrat dididihkan terlebih dahulu
sebelum digunakan dan ditambahkan dengan urea (Basri, 1996).
2H+ + 2NO2- + CO(NH2)2 ↔ 2N2 + CO2 + H2O
Asam nitrit dapat dihilangkan dengan penambahan sedikit asam sulfamat :
H+ + NO2- + -O.SO2.NH2 ↔ N2 + HSO42- + H2O
Alasan menghindarkan sistem dari ion klorida adalah:
a. Klor yang dibebaskan pada anoda akan menyerang Pt. Hal ini dapat
diatasidengan suatu zat pendepolarisasi anodik seperti garam hidrazium
atauhidroksilamonium.
b. Cu(I) distabilkan sebagai suatu kompleks-kloro dan tetap tinggal
dalam larutan sampai teroksidasi kembali pada anode.

Tabel 1. Beberapa unsur yang dapat ditentukan


secara elektrogravimetri.
Ditimbang
Ion Kondisi
Sebagai
Cd2+ Cd Larutan sianida basa
Larutan sulfat
Co2+ Co
beramoniak
Larutan dengan
Cu2+ Cu
HNO3/H2SO4
Fe3+ Fe Larutan [NH4]2C2O4
Pb2+ PbO2 Larutan HNO3
Larutan sulfat
Ni2+ Ni
beramoniak

3
Cd2+ Cd Larutan sianida basa
Larutan sulfat
Co2+ Co
beramoniak
Larutan dengan
Cu2+ Cu
HNO3/H2SO4

Syarat - syarat yang harus dipenuhi untuk analisa secara


elektrogravimetri adalah :
1. ion logam dengan elektrolisa akan mengendap pada katoda.
2. efisiensi elektrolisa tidak perlu 100 %, tetapi efisiensi pengendapan harus
100%.
3. bila sampel terdiri dari campuran logam - logam, maka untuk mengambil
salah satu logamnya cukup dengan mengatur potensial elektrolisa yang
sesuai untuk logam yang diinginkan.
Analisis secara elektrogravimetri didasarkan pada prinsip sel
elektrolisis dimana penentuan jumlah listrik dan variabel waktu menjadi
sangatlah penting. Pada elektrolisis, katode merupakan kutub negatif dan
anode merupakan kutub positif. Pada katode akan terjadi reaksi reduksi dan
pada anode terjadi reaksi oksidasi.

Esel = Ekatode – Eanode

4
Elektrolisis air adalah peristiwa penguraian senyawa air (H2O) menjadi
oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan menggunakan arus listrik yang
melalui air tersebut. Pada katode, dua molekul air bereaksi dengan
menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidrokida (OH-).
Sementara itu pada anode, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen
(O2), melepaskan 4 ion H+ serta mengalirkan elektron ke katode. Ion H+ dan
OH- mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air.
Reaksi keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan sebagai
berikut.

Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan dari reaksi ini membentuk
gelembung pada elektrode dan dapat dikumpulkan. Prinsip ini kemudian
dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen dan hidrogen peroksida (H2O2)
yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan hydrogen (Hogness,
1954).
Hukum elektrolisis Faraday
1. Jumlah zat yang dihasilkan di elektroda sebanding dengan jumlah arus
listrik yang melalui sel.
2. Bila sejumlah tertentu arus listrik melalui sel, jumlah mol zat yang
berubah di elektroda adalah konstan tidak bergantung jenis zat.
Misalnya, kuantitas listrik yang diperlukan untuk mengendapkan 1 mol
logam monovalen adalah 96 485 C(Coulomb) tidak bergantung pada
jenis logamnya.
C (Coulomb) adalah satuan muatan listrik, dan 1 C adalah muatan yang
dihasilkan bila arus 1 A (Ampere) mengalir selama 1 s. Tetapan fundamental
listrik adalah konstanta Faraday F, 9,65 x104 C, yang didefinisikan sebgai
kuantitas listrik yang dibawa oleh 1 mol elektron. Dimungkinkan untuk
menghitung kuantitas mol perubahan kimia yang disebabkan oleh aliran arus
listrik yang tetap mengalir untuk rentang waktu tertentu (Faraday, 1834).

5
F. Daftar Pustaka:
Basri. 1996. Kamus Kimia. Jakarta: Rineka Cipta.
Day, R.AUnderwood. 1999. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga.
Faraday, M. 1834. On Electrical Decomposition. USA: Philosophical
Transaction Of The Royal.
Harjadi. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hogness. 1954. Analisis Kualitatif dan Keseimbangan Kimia. New York:
Henry Holt and Company.

G. Lampiran
1. Dokumentasi
Alur Gambar Keterangan
Ditimbang serbuk Massa serbuk Cu
Cu 12,486 gram.

6
50 mL cuplikan Serbuk Cu dilarutkan
CuSO4 dalam 50 mL
aquades

Ditambah 1 mL Larutan CuSO4


HNO3 ditambahkan dengan
1 mL larutan HNO3

Kawat Cu Kawat Cu yang telah


dibuat spiral dan
diamplas

Ditimbang kawat Massa kawat Cu


Cu sebelum
dielektrolisis 1,268

7
gram

Rangkaian katoda Kawat spiral


dan anoda (katoda) dan
elektroda karbon
(anoda) dicelupkan
ke dalam larutan
aplikan

Dielektrolisis 10 Terdapat gelembung


menit pada anoda dan pada
katoda kawat Cu
berubah menjadi
berkarat.

Katoda Kawat Cu
dimasukkan ke dicelupkan dalam
dalam larutan larutan aseton
aseton

8
Kawat Cu Kawat Cu
dikeringkan dikeringkan dengan
cara diangin-
anginkan

Ditimbang Massa kawat Cu


kembali kawat Cu setelah dielektrolisis
sebesar 1,295 gram

Anda mungkin juga menyukai