0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan24 halaman

Pengantar Kongruensi Modulo dalam Matematika

Dokumen tersebut membahas tentang konsep kongruensi modulo m. Kongruensi modulo m mendefinisikan hubungan kesetaraan antara dua bilangan bulat jika sisa bagi m sama. Dokumen tersebut menjelaskan definisi, contoh, teorema, dan sifat-sifat penting dari kongruensi modulo m seperti sifat refleksif, simetris, dan transitifnya.

Diunggah oleh

Vani Rahmawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
202 tayangan24 halaman

Pengantar Kongruensi Modulo dalam Matematika

Dokumen tersebut membahas tentang konsep kongruensi modulo m. Kongruensi modulo m mendefinisikan hubungan kesetaraan antara dua bilangan bulat jika sisa bagi m sama. Dokumen tersebut menjelaskan definisi, contoh, teorema, dan sifat-sifat penting dari kongruensi modulo m seperti sifat refleksif, simetris, dan transitifnya.

Diunggah oleh

Vani Rahmawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

(EVIATATIN AZIZA PUTRI)

Definisi Biarkan m menjadi bilangan bulat positif. Jika a dan b adalah bilangan
bulat, kita mengatakan bahwa a kongruen dengan b modulo m jika m(a-b).

Jika a kongruen b modulo m, kita tulis a  b (mod m). Jika m (a – b ), kita


menuliskan a  b (mod m), dan mengatakan bahwa a dan b tidak kongruen dengan
modulo m. bilangan bulat m disebut modulus kongruensi. bentuk jamak modulus
adalah moduli.

Contoh 4.1 kita punya 22  4 (mod 9), akibatnya 9  (22 – 4) = 18. Demikian
juga 3  -6 (mod 9) dan 200  2(mod 9). Dilain sisi 13 ≢ 5 (mod 9) sejak 9 ∤ ( 13
– 5) = 8

Teorema 4.1 jika a dan b adalah bilangan bulat, maka a  b (mod m) dan hanya
jika ada bilangan bulat k sehingga a = b + km

Bukti:

jika a  b (mod m), maka m  ( a- b ). ini berarti bahwa ada sebuah bilangan bulat
k dengan km = a – b , sehingga a = b + km

Sebaliknya , jika ada bilangan bulat k dengan a  b (mod m), maka km = a+ b,


oleh karena itu m (a-b), akibatnya a  b (mod m).

Contoh 4.2 kita punya 19  -2 (mod 7) dan 19 = -2 + 3.7

Proposisi berikut menetapkan beberapa sifat penting dari kongruensi

Teorema 4.2 biarkan m adalah bilangan bulat positif. Kongruensi modulo m


memenuhi sifat berikut.:

(i) Properti refleksif, jika a adalah bilangan bulat , maka a  b


(mod m)
(ii) Properti simetris, jika a dan b adalah bilangan bulat sehingga a
 b (mod m), maka b  a (mod m).
(iii) Properti transitif, jika a, b, dan c adalah bilangan bulat dengan a
 b (mod m) dan b  c (mod m), maka a  c ( mod m)

Bukti

(i) Kita melihat bahwa a  a (mod m), akibatnya m (a –a) = 0


(ii) Jika a  b (mod m) maka m  (a-b). Oleh karena itu, ada
bilangan bulat k sehingga km = a – b. ini menunjukkan bahwa
(-k)m = b-a, oleh karena itu m(b – a). Akibatnya b  a (mod
m)
(iii) Jika a  b(mod m), maka m (a-b) dan m(b-c). Sejak, ada
bilangan bulat k dan l sehingga km = a-b dan lm = b-c. Oleh
sebab itu , a-c = (a-b) + (b-c) = km + lm = (k+l )m. Itu
mengikuti bahwa m (a-c) dan a  c(mod m)

Pada teorema 4.2, kita melihat bahwa himpunan bilangan bulat yang dibagi
menjadi m himpunan yang berbeda disebut kelas kongruensi modulo m, masing
masing bilangan bulat tersebut satu sama lain kongruen modulo m.

Teorema 4.3 Empat kongruensi dengan modulo 4, diberikan dengan

..... -8  -4  0  4  8  ..... (mod 4)

..... -7  -3  1  5  9  ..... (mod 4)

..... -6  -2  2  6  10  ..... (mod 4)

..... -5  -1  3  7  11  ..... (mod 4)

Misal m adalah bilangan bulat positif, diberikan bilangan bulat a, pada divisi
algoritma kita punya a = bm + r, dimana 0 ≤ r ≤ m-1. Kita sebut a sisa tidak
negatif tekecil pada modulo m. Kita menganggap r adalah hasil mengurangi a
dari modulo m. Demikian juga kita tahu bahwa a tidak membagi m , kita sebut r
adalah sisa positif terkecil pada modulo m.

Catatan baru bahwa dari persamaan a = bm + r , itu menguikuti bahwa a  r


(mod m). Oleh karena itu, setiap bilangan bulat kongruen modulo m untuk satu
bilangan bulat pada himpunan 0, 1, ...., m-1, yaitu sisa ketika dibagi m, akibatnya
tidak ada dua bilangan bulat 0, 1,....., m-1 kongruen dengan modulo m, kita
punya m bilangan bulat sehingga setiap bilangan bulat kongruen tepatnya satu
bilangan bulat m.

Definisi sistem lengkap residu modulo m adalah himpunan bilangan bulat


sehingga setiap bilangan bulat kongruen dengan modulo m untuk tepat satu
bilangan bulat pada himpunan

Contoh 4.5 biarkan m adalah bilangan bulat positif . maka himpunan bilangan
bulat adalah

m−1 m−3 m−3 m−1


- ,- , ...., -1, 0 , 1,.... , , ,
2 2 2 2

Teorema 4.3 jika a, b, c, dan m adalah bilangan bulat dengan m0 sehingga a  b
(mod m), maka

(i) a + c  b + c(mod m)
(ii) a - c  b – c (mod m)
(iii) ac  bc (mod m ).

Bukti.

Karena a  b (mod m ) , kita tahu bahwa m  ( a-b) ,dari identitas (a+b) – (b+c) =
a-b , kita melihat bahwa m  ((a+b) – (b+c)), sehingga

(i) m  ((a+b) – (b+c)), maka a + b  b + c(mod m)


(ii) mengikuti dari fakta bahwa ( a – c ) – ( a - b ) = a – b maka a – c  b
– c (mod m)
(iii) dicatat bahwa ac - bc = c( a – b ). Karena m  ( a-b ), itu mengikuti
bahwa m  c(a-b)dan karenanya ac  bc(mod m).
Contoh 4.6 karena 193(mod 8), mengikuti dari teorema 4.3 bahwa 26 = 19 + 7
 3 + 7 = 10 (mod 8 ) , 15 = 19 – 4 = -1(mod 8), dan 38 = 19 . 2  3 . 2 =6(mod
8).

Teorema 4.4 jika a, b, c dan m adalah bilangan bulat sehingga m  0 , d = (c,m),


dan ac = bc (mod m), maka a  b(mod m/d )

Bukti jika ac  bc (mod m), kita tahu bahwa m  (ac – bc) = c(a-b). Ada bilangan
bulat k dengan c(a-b) = km, dengan membagi kedua sisi d , kita punya (c /d)(a-b)
= k(m/d ). Karena (m/d , c /d ) = 1 . pada lemma 3.4 itu mengikuti m/d (a-b),
sejak a  b (mod m/d )

contoh 4.8. karena 50  20(mod 15)dan ( 10 , 15) = 5, kita ketahui bahwa 50/10
 20/10(mod 15/5), atau 5  2 (mod 3).

Corollary 4.4.1 jika a, b, c dan m adalah bilangan bulat sehingga m  0, (c,m) =


1 dan ac  bc(mod m), maka a  b(mod m)

Contoh 4.9 misal 42  7(mod 5) dan (5,7) = 1, kita bisa menyimpulkan bahwa
42 /7  7 /7 (mod 5 , atau 6  1(mod 5)

(FANI RAHMAWATI HUSNA)

Teorema 4.5 Jika a,b,c, d, dan m adalah bilangan bulat sedemikian hingga m>0, a
≡ b (mod m), dan c ≡ d (mod m), maka

(i) a + c ≡ b + d (mod m)

(ii) a – c ≡ b – d (mod m)

(iii) ac ≡ bd (mod m)

Bukti. Karena a = b (mod m) dan c ≡ d (mod m), maka kita tahu bahwa m | (a – b)
dan m | (c – d). Akibatnya, ada bilangan bulat k dan l dengan km = a – b dan lm =
c – d.
Untuk membuktikan (i), catat bahwa (a + b) – (b + d) = (a – c) + (c – d) = km +
lm = (k + l)m. Akibatnya, m | [(a + c) – (b + d)]. Maka dari itu, a + c ≡ b + d (mod
m).

Untuk membuktikan (ii), catat bahwa (a – c) – (b – d) = (a – b) – (c – d) = km –


lm = (k-l)m. Akibatnya, m | [(a –c) – (b – d)]. Maka dari itu, a – c ≡ b – d (mod
m).

Untuk membuktikan (iii), catat bahwa ac – bd = ac – bc + bc – bd = c (a – b) + b


(c – d) = ckm + blm = m (ck + bl). Akibatnya, m | (ac – bd). Maka dari itu, ac ≡
bd (mod m).

Contoh. Karena 13 ≡ 3 (mod 5) dan 7 ≡ 2 (mod 5), menggunakan Teorema 3.5,


menghasilkan 20 = 13 + 7 ≡ 3 + 2 ≡ 5 (mod 5), 6 = 13 – 7 ≡ 3 – 2 ≡ 1 (mod 5),
dan 91 = 13.7 = 3.2 = 6 (mod 5).

Lemma 4.1 Sebuah himpunan m bilangan bulat inkongruen modulo m


membentuk sebuah himpunan lengkap residu modulo m.

Bukti. Misalkan bahwa sebuah himpunan m bilangan bulat inkongruen modulo m


tidak membentuk sebuah himpunan lengkap residu modulo m. Ini menyiratkan
bahwa setidaknya satu bilangan bulat a tidak kongruen dengan bilangan bulat apa
pun dalam himpunan. Oleh karena itu, tidak ada bilangan bulat dalam himpunan
kongruen modulo m dengan sisa dari a ketika ini dibagi oleh m. Oleh karenanya,
terdapat paling banyak m-1 sisa berbeda dari bilangan bulat ketika mereka dibagi
oleh m. Ini mengakibatkan (dengan prinsip sarang burung, yang mana dikatakan
bahwa jika lebih dari n objek yang didistribusikan ke n kotak, paling sedikit 2
objek di dalam kotak yang sama) bahwa pada paling sedikit 2 anggota dalam
himpunan memiliki sisa yang sama modulo m. Ini tidak mungkin, sebab bilangan
bulat tersebutadalah inkongruen modulo m. Oleh karena itu, beberapa m bilangan
bulat inkongruen modulo m membentuk sebuah sistem lengkap residu modulo m.

Teorema 4.6 Jika r1, r2, ..., rm adalah sebuah sistem lengkap residu modulo m, dan
jika a adalah bilangan bulat positif dengan (a,m)=1, maka

ar1+b, ar2+b, ..., arm+b


adalah sebuah sistem lengkap residu modulo m untuk nilangan bulat b.

Bukti. Pertama, kita menunjukkan bahwa tidak ada 2 dari bilangan bulat ar1+b,
ar2+b, ..., arm+b adalah kongruen modulo m. Untuk memeriksanya, catat bahwa
jika arj+b ≡ ark+b (mod m), maka berdasarkan Teorema 4.3 (ii), kita tahu bahwa
arj ≡ ark (mod m). Karena (a,m)=1, Corollary 4.4.1 menunjukkan bahwa rj ≡ rk
(mod m). Diberikan bahwa rj ≡ rk (mod m) jika j≡k, kita menyimpulkan bahwa j =
k. Berdasarkan Lemma 4.1, karena himpunan bilangan bulat dalam pertanyaan
mengandung m inkongruen bilangan bulat modulo m, bilangan bulat tersebut
membentuk sebuah sistem lengkap residu modulo m.

Teorema berikut menunjukkan bahwa sebuah kongruensi dipertahankan ketika


kedua belah pihak dinaikkan ke pangkat integral positif yang sama.

Teorema 4.7 Jika a, b, k, dan m adalah bilangan bulat sedemikian hingga k > 0, m
> 0, dan a ≡ b (mod m), maka ak ≡ bk (mod m).

Bukti. Karena a ≡ b (mod m), kita punya m | (a – b), dan karena

ak – bk = (a – b) (ak-1 + ak-2 b + ... + abk-2 + bk-1). Kita lihat bahwa (a – b) | (ak – bk).
Maka dari itu, dari Teorema 1.8 ini menyebabkan m | (ak – bk). Akibatnya, ak ≡ bk
(mod m).

Contoh. Karena 7 ≡ 2 (mod 5), maka benar jika 73 ≡ 23 (mod 5) atau 343 ≡ 8 (mod
5).

Hasil berikut menunjukkan bagaimana menggabungkan kongruensi dua angka ke


moduli berbeda.

Teorema 4.8 Jika a ≡ b (mod m1), a ≡ b (mod m2), ... , a ≡ b (mod mk), dimana a,
b, m1, m2, ... mk adalah bilangan bulat dengan m1, m2, ... mk positif, maka

a ≡ b (mod [m1, m2, ... mk ]) dimana [m1, m2, ... mk ] adalah KPK dari m1, m2, ... mk.

Bukti. Karena a ≡ b (mod m1), a ≡ b (mod m2), ... , a ≡ b (mod mk), kita tahu
bahwa m1 | (a – b), m2 | (a – b), ..., mk | (a – b). Berdasarkan pembuktian kelipatan
persekutuan terkecil (KPK), maka
[m1, m2, ... mk ] | (a – b)

Akibatnya a ≡ b (mod [m1, m2, ... mk ])

Hasil berikut adalah konsekuensi langsung dan berguna dari teorema ini.

Corollary 4.8.1 Jika a ≡ b (mod m1), a ≡ b (mod m2), ... , a ≡ b (mod mk), dimana
a dan b adalah bilangan bulat dan m1, m2, ... mk adalah bilangan bulat positif
relatif berpasangan, maka

a ≡ b (mod m1 m2 ... mk)

Bukti. Karena m1, m2, ... mk adalah bilangan bulat positif relatif berpasangan,
Exercise 68 dari

[m1, m2, ... mk ] = m1 m2 ... mk.

Akibatnya, dari Teorema 4.8, kita tahu bahwa

a ≡ b (mod m1 m2 ... mk)

Pangkat Modular

Pada pembelajaran kita selanjutnya, kita akan mengerjakan kongruensi dengan


melibatkan pangkat bilangan bulat. Sebagai contoh, kita ingin menemukan sisa
positif dari 2644 modulo 645. Jika kita menghitungnya secara manual, akan sangat
tidak mungkin. Sebagai gantinya, untuk menemukan 2644 modulo 645 pertama kita
mengubah eksponen 644 dalam notasi biner.

2 ≡ 2 (mod 645)

22 ≡ 4 (mod 645)

24 ≡ 16 (mod 645)

28 ≡ 256 (mod 645)

216 ≡ 391 (mod 645)


232 ≡ 16 (mod 645)

264 ≡ 256 (mod 645)

2128 ≡ 391 (mod 645)

2256 ≡ 16 (mod 645)

2512 ≡ 256 (mod 645)

Sekarang kita dapat menghitung 2644 modulo 645 dengan mengalikan sisa positif
dari pangkat dari 2 yang sesuai.

2644 = 2512+128+4 = 2512212824 = 256.391.16 = 1.601.536 = 1 (mod 645).

Kita baru saja mengilustrasikan sebuah prosedur umum untuk pangkat modular.
Untuk menghitung bN modulo m, dimana b,m, dan N adalah bilangan bulat positif.
Pertama kita menyatakan pangkat N dalam notasi biner, sebagai N = (akak-1...a1a0)2.
k
Kemudian kita akan mencari sisa positif dari b2, b4, ..., b 2 modulo m, dengan
menguadratkan berturut-turut dan mengurangkan modulo m. Akhirnya, kita
j
mengalikan sisa positif modulo m dari b 2 untuk j dengan aj = 1, mengurangkan
modulo m setelah masing-masing perkalian.

Dalam diskusi kita berikutnya, kita akan membutuhkan estimasi untuk jumlah
operasi yang diperlukan untuk eksponensial modular. Ini disediakan oleh proporsi
berikut.

Teorema 4.9 Misal b,m, dan N adalah bilangan bulat positif dengan b < m. Maka
sisa positif dari bN modulo m dapat dihitung menggunakan O((log2 m)2 log2 N)
operasi bit.

Bukti. Untuk mencari sisa positif bN modulo m, kita dapat menggunakan


algoritma yang baru saja dijelaskan. Pertama, kita mencari sisa positif dari b2,
k
b4, ..., b 2 modulo m, dimana 2k ≤ N < 2k+1 , dengan menguadratkan secara
berturut-turut dan mengurangkan modulo m. Ini membutuhkan total O((log2 m)2
log2 N) operasi bit, karena kita menunjukkan [log2 N] menguadratkan modulo m,
masing-masing membutuhkan O((log2 m)2) operasi bit. Kemudian, kita kalikan
bersama sisa bilangan positif dari bilangan bulat b2^j bersesuaian dengan bilangan
biner dari N yang sama dengan satu, dan kita mengurangkan modulo m setelah
masing-masing perkalian. Ini juga membutuhkan O((log2 m)2 log2 N) operasi bit,
karena ada paling banyak log2 N perkalian, masing-masing membutuhkan O((log2
m)2) operasi bit. Untuk itu, total dari O((log2 m)2 log2 N) operasi bit diperlukan.

(JESSIKA VARDA ‘ISHMAH)

Invers Modular

a. Definisi

Diberikan suatu bilangan bulat a dengan (a,m) = 1, suatu solusi


dari ax ≡ 1 (mod m) disebut invers dari modulo m.

b. Soal

Tentukan invers dari 7 (mod 31)

Penyelesaian :

ax ≡ 1 (mod m)

7x ≡ 1 (mod 31)

7x = 1 + 31k, dimana k adalah bilangan bulat

1+ 31k
x=
7

misalkan :

k=0

1+ 31.0
x= = x bukan bilangan bulat
7

k=1
1+ 31.1
x= = x bukan bilangan bulat
7

k=2

1+ 31.2
x= =9
7

maka, invers dari 7 (mod 31) adalah 9 (mod 31)

Theorema 4.11

Misalkan p adalah bilangan prima. Bilangan bulat positif a adalah invers


dari dirinya sendiri modulo p jika dan hanya jika a ≡ 1 (mod p) atau a ≡ -1 (mod
p)

Bukti :

Jika a ≡ 1 (mod p) atau a ≡ -1 (mod p), maka a² ≡ 1 (mod p). Sehingga, a


adalah invers dari dirinya sendiri modulo p.

Sebaliknya, jika a adalah invers dari dirinya sendiri modulo p, maka a² =

a . a ≡ 1 (mod p). Sehingga, p | (a² - 1). Karena a² - 1 = ( a – 1 ) ( a + 1 ), maka p |


( a – 1 ) atau p | ( a + 1 ). Maka dari itu a ≡ 1 (mod p) atau a ≡ -1 (mod p).

Theorema 4.12 (Teorema Sisa Cina)

Misalkan m 1, m 2, ... , mr adalah bilangan bulat positif saling relatif prima.


Maka sistem kongruensinya adalah

x ≡ a1 (mod m 1),

x ≡ a 2 (mod m 2),

x ≡ a r (mod m r )

memiliki solusi tunggal modulo M = m 1 m2 ... mr


Bukti :

Pertama, kita buat solusi simultan ke sistem kongruensi. Misalkan mk =


M / m k = m 1 m2 ...m k−1 mk +1 ... m r . Kita tahu bahwa ( M k , mk ) = 1, karena (m j , mk ) =
1 dimana j ≠ k. Maka, dengan menggunakan Theorema 4.10 kita dapat
menemukan invers y k dari M k modulo m k , dengan demikian M k y k ≡ 1 (mod m k ).

x = a 1 M 1 y 1 + a 2 M 2 y 2 + ... + a r M r y r

Bilangan bulat x adalah solusi simultan dari kongruensi r. Kita harus


menunjukkan bahwa x ≡ a k (mod mk ) untuk k = 1, 2, ... , r. Karena m k | M j dimana
j ≠ k, kita mempunyai M j ≡ 0 (mod m k ). Oleh karena itu, pada penjumlahan untuk
x, semua suku kecuali suku ke t adalah kongruen dengan 0 (mod m k ). Maka, x ≡
a k M k y k ≡ a k (mod m k ), karena M k y k ≡ 1 (mod m k ). Kita sekarang menunjukkan
bahwa ada dua solusi yang kongruen modulo M. Misalkan x 0 dan x 1keduanya
adalah solusi simultan untuk sistem kongruen r. Untuk setiap k, x 0 ≡ x 1 ≡ a k (mod
m k ), maka m k | ( x 0 - x 1). Dengan menggunakan teorema 4.8, kita tahu bahwa M | (
x 0 - x 1). Oleh karena itu, x 0 ≡ x 1( mod M ). Ini menunjukkan bahwa solusi
simultan dari sistem kongruensi r adalah solusi tunggal modulo M.

a. Soal

Selesaikan sistem dibawah ini

x ≡ 1 (mod 3)

x ≡ 2 (mod 5)

x ≡ 3 (mod 7)

Penyelesaian :

1. m 1 = 3, m 2 = 5, m3 = 7
2. M = m1 m2 m3M = 3.5.7
M = 105

3. M 1 = M / m1 M 1 = 105 / 3
M 1 = 35

M 2 = M / m2
M 2 = 105 / 5
M 2 = 21

M 3 = M / m3
M 3 = 105 / 7
M 3 = 15

4. M 1 y 1 = 1 (mod m 1)
35 y 1 = 1 (mod 3)
1+ 3 k
y1 =
35
y 1 = 2, saat k = 23

M 2 y 2 = 1 (mod m 2)
21 y 2 = 1 (mod 5)
1+ 5 k
y2 =
21
y 2 = 1, saat k = 4

M 3 y 3 = 1 (mod m3)
15 y 3 = 1 (mod 7)
1+ 7 k
y3 =
15
y 3 = 1, saat k = 2

5. x ≡ a 1 M 1 y 1 + a 2 M 2 y 2 + a 3 M 3 y 3
x ≡ 1.35.2 + 2.21.1 + 3.15.1
x ≡ 70 + 42 + 45
x ≡ 157 ≡ 52 (mod 105)
Kita check bahwa x memenuhi sistem kongruensi dengan x ≡ 52 (mod
105) dengan catatan bahwa 52 ≡ 1 (mod 3), 52 ≡ 2 (mod 5), dan 52 ≡
3 (mod 7)

Lemma 4.2

Jika a dan b adalah bilangan bulat positif, maka sisa positif terkecil dari 2a
– 1 modulo 2b – 1 adalah 2r – 1, dimana r adalah sisa positif terkecil dari a
modulo b.

Bukti :

Dari algoritma pembagian, a = bq + r, dimana r adalah sisa positif terkecil


dari a modulo b. Kita memiliki 2a – 1 = 2bq+ r – 1 = (2b – 1)(2b ( q−1)+r + ... + 2b +r + 2r
) +¿ ¿ – 1), yang mana ini menunjukkan bahwa sisanya ketika 2a – 1 dibagi dengan
2b – 1 adalah 2r – 1; ini adalah sisa positif terkecil dari 2a – 1 modulo 2b – 1.

Teorema 4.15. Lemma Hensel. Misalkan f ( x ) adalah sebuah polinomial dengan


koefisien bilangan bulat k dengan k ≥ 2, dan p adalah bilangan prima. Selanjutnya,
misalkan r adalah solusi untuk kongruensi f ( x ) ≡0 (mod pk−1). Maka,

i. Jika f ' ( r ) ≢ 0 (mod p), maka terdapat satu bilangan bulat t, untuk 0 ≤ t< p,
sehingga f ( r+ t pk−1 ) ≡0 (mod pk ), diberikan dengan

t ≡− f ' ´( r ) (f ( r ) / pk−1 ) (mod p),

dimana f '´( r ) adalah invers dari f ' ( r ) modulo p;

ii. Jika f ' ( r ) ≡0 (mod p) dan f ( r ) ≡ 0 (mod pk ), maka f ( r+ t pk−1 ) ≡0 (mod pk )


untuk semua bilangan bulat t;
iii. Jika f ' ( r ) ≡0 (mod p) dan f ' ( r ) ≢ 0 (mod pk ), maka f ( x ) ≡0 (mod pk ) tidak
mempunyai solusi dengan x ≡ r (mod pk−1).

Pada kasus (i), kita dapat melihat bahwa solusi untuk f ( x ) ≡0 (mod pk−1)
membawa pada solusi tunggal untuk f ( x ) ≡0 (mod pk ), dan pada kasus (ii) dan
(iii), solusi seperti itu akan membawa pada p incongruent (tidak sesuai) dengan
solusi modulo pk atau tidak sama sekali.

Lemma 4.6. jika f ( x ) adalah sebuah polinomial dengan pangkat n dan a dan b
adalah bilangan real, maka

f ( a+b ) =f ( a ) + f ' ( a ) b +f ' ' ( a ) b2 /2!+ .. .+ f (n ) ( a ) b /n! ,

Dimana untuk setiap nilai tertentu koefisien a (yaitu, 1, f ' ( a ), f ' ' ( a ) b2 / 2! , . . .,
(n ) n
f ( a ) b /n!) adalah polinomial di a dengan koefisien bilangan bulat.

Bukti. Setiap polinomial f pangkat n adalah jumlah kelipatan fungsi x m, dimana


m ≤n. Selanjutnya, dengan Lemma 4.4, kita dapat membuktikan Lemma 4.6 untuk
polinomial f m ( x )= xm , dimana m adalah bilangan bulat positif.

Dengan teorema binomial, kita mempunyai


m
( a+ b ) =∑ m am− j b j
m

j=0 j
()
Dengan Lemma 4.5, kita tahu bahwa f (mj ) ( a )=m ( m−1 ) .. .(m− j+ 1)am − j. Oleh
karena itu,

f (mj ) ( a ) ∕ j != m am− j
() j

Karena (mj ) adalah bilangan bulat untuk semua bilangan bulat m dan j sehingga
0 ≤ j ≤m, maka koefisien f (mj ) ( a ) ∕ j ! adalah bilangan bulat. Dengan ini bukti cukup.

Sekarang kita memiliki semua bahan untuk membuktikan Lemma Hensel,


kami akan mulai membuktikan.

Bukti. Jika r adalah solusi untuk f ( r ) ≡ 0 (mod pk ), maka itu juga merupakan
solusi untuk f ( r ) ≡ 0 (mod pk−1). Karenanya, itu sama dengan r +t p k−1 untuk
beberapa bilangan bulat t. Bukti berikut setelah kami menentukan kondisi pada t.

Dengan Lemma 4.6, bahwa


f ( r+ t pk−1 )=f ( r ) +f ' ( r ) t p k−1+ f ' ' ( r )(t pk−1)2 / 2 !+. . .+ f ( n) ( r ) (t pk−1 )n /n!

Dimana f (k ) ( r ) ∕ k ! adalah bilangan bulat untuk k =1 ,2 , . .. , n. Mengingat bahwa


k ≥ 2, itu sebabnya k ≤ m ( k−1 ) dan pk| p m (k−1 ) untuk 2 ≤m ≤ n. Oleh karena itu,

f ( r+ t pk−1 ) ≡ f ( r )+ f ' ( r ) t p k−1 (mod pk ).

Karena r +t p k−1 adalah solusi untuk f ( r+ t pk−1 ) (mod pk ). Itu sebabnya bahwa
f ' ( r +t pk−1 ) ≡−f (r) (mod pk ).

Selain itu kita dapat membagi kongruensi ini dengan pk−1, karena f ( r ) ≡ 0
(mod pk−1). Ketika kita melakukannya dan menyusun kembali persyaratannya,
kita mendapatkan kongruensi linear pada t, yaitu,

f ' ( r ) ≡−f (r )/ p k−1 (mod p).

Dengan memeriksa solusi modulo p, kita dapat membuktikan tiga teorema.

Misalkan bahwa f ' ( r ) ≢ 0 (mod p). Berarti ( f ' ( r ) , p) = 1. Menerapkan


Corollary 4.11.1, kita dapat melihat bahwa kongruensi untuk t mempunyai solusi
tunngal,

t ≡(−f ( r ) / p k−1) f ' ´( r ) (mod p),

Dimana f '´( r ) adalah invers dari f ' ( r ) modulo p. Ini pembuktian kasus (i).

Ketika f ' ( r ) ≡ 0 (mod p), kita memiliki ( f ' ( r ) , p) = p. Dengan teorema


4.11, jika p|(f (r )/ p k−1), yang berlaku jika dan hanya jika f ( r ) ≡ 0 (mod pk ),
maka semua nilai t adalah solusi. Ini berarti bahwa x=r +t p k−1 adalah solusi
untuk k =0 , 1 ,. . . , p−1. Ini pembuktian kasus (ii).

Terakhir, perhatikan kasus ketika f ' ( r ) ≡ 0 (mod p), tetapi p ∤ ( f ( r ) ∕ p k−1 ).


Kita mempunyai ( f ' ( r ) , p) = p dan f ( r ) ≢ 0 (mod pk ); jadi, dengan teorema 4.11,
tidak ada nilai t yang memiliki solusi. Ini pembuktian kasus (iii).

Corollary berikut ini menunjukkan bahwa kita dapat berulang kali


mengangkat solusi, dimulai dengan solusi modulo p, ketika kasus (i) dari Lemma
Hensel berlaku.

Corollary 4.15.1. Misalkan bahwa r adalah solusi untuk kongruensi polinomial


f ( x ) ≡0 (mod p), dimana p adalah bilangan prima. Jika f ( r ) ≢ 0 (mod p), maka
ada solusi tunggal r k modulo pk , k=2, 3 , .. . ,sehingga r 1=r dan
r k =r k−1−f ( r k−1 ) f ' ´( r ),

Dimana f '´( r ) adalah invers dari f ' ( r ) modulo p.

Bukti. Menggunakan hipotesis, kita dapat melihat dengan Lemma Hensel r


membawa pada solusi tunggal r 2 modulo p2 dengan r 2=r+ tp, dimana
t=− f ' ´( r ) ( f ( r ) ∕ p ). Oleh karena itu,

r 2=r−f (r ) f ' ´( r ) .

Karena r 2 ≡r (mod p), berarti f ' (r ¿¿ 2)≡ f ' (r )≢ 0 ¿ (mod p). Menggunakan
Lemma Hensel lagi, kita tahu bahwa terdapat solusi tunggal r 3 modulo p3, yang
dapat ditunjukkan sebagai r =r −f (r ) f '´( r ) . Jika kita mengikuti cara ini, kita
3 2 2

akan menemukan bahwa corollary tersebut untuk semua bilangan bulat k ≥ 2.

Sistem kongruensi linier

Misalkan kita ingin mencari semua bilangan bulat x dan y sehingga keduanya
kongruen

[]

[]

Untuk menghilangkan y, kita kalikan kongruensi pertama dengan 5 dan


kongruensi kedua dengan 4, maka didapat

[]

[]

Kita kurangi kongruensi pertama dengan kongruensi kedua, kita temukan

[]

Karena 2 adalah invers dari 7 (mod 13), kita kalikan kedua sisi dengan 2.
Diperoleh

[]

[]

Demikian juga untuk menemukan y, kita mengeliminasi x dengan mengalikan


kongruensu pertama dengan 2 dan kongruensi kedua dengan 3, didapat

[]
[]

Kemudian kita kurangi kongruensi kedua dengan kongruensi pertama, kita


dapatkan

[]

Untuk menemukan y, kita kalikan kedua sisi dengan 2, yang merupakan invers 7
modulo 13. Kita dapatkan

[]

[]

Maka kita dapatkan setiap solusi ( x , y ) harus memenuhi

[] (mod 13), [] (mod 13)

Ketika kita masukkan kongruensi x dan y pada persamaan awal, didapatkan :

[]

[]

Oleh karena itu, solusi dari sistem kongruensi pasangan ( x , y ) adalah [] (mod 13)
dan [] (mod 13).

Teorema 4.16. Misalkan a, b, c, d, e, f , dan m merupakan bilangan bulat dengan


[], dan [], dimana []. Maka sistem kongruensinya

[]

[]

Modulo m mempunyai solusi tunggal, diberikan dengan

[]

[]

Dimana [] adalah invers dari [] modulo m.

Bukti. Untuk mengeliminasi y, kita kalikan kongruensi pertama dari sistem


dengan d dan kongruensi kedua dengan b, didapat

[]

[]

Kemudian kita kurangi kongruensi pertama dengan kongruensi kedua, ditemukan


[]

Karena [], maka

[]

Selanjutnya kita kalikan kedua sisi kongruensi ini dengan [], invers dari [] modulo
m, dapat disimpulakan bahwa

[]

Dengan cara yang sama, untuk mengeliminasi x, kita kalikan kongruensi pertama
dengan c dan kongruensi kedua dengan a, didapat

[]

[]

Kita kurangi kongruensi pertama dengan kongruensi kedua, ditemukan

[]

[]

Terakhir, kita kalikan kedua sisi kongruensi ini dengan [] diperoleh bahwa

[]

Dari sini dapat ditunjukkan bahwa jika ( x , y ) adalah solusi dari sistem
kongruensi, maka

[] []

Kemudian kita dapat dengan mudah mengecek bahwa setiap pasangan ( x , y )


adalah solusi. Ketika [] dan [], dapat diperoleh

[]

[]

[]

[]

[]

Dan

[]
[]

[]

[]

[]

Teorema terbukti.

(RIKE CAHYA PERTIWI)

Teorema 4.1.6

A dan B adalah matriks n x k dengan A≡B (mod m). C adalah matriks k x p, dan D
adalah matriks p x n. Semua entri adalah bilangan bulat, maka AC≡BC (mod m)
dan DA≡DB (mod m)

Pembuktian.

Biarkan entri-entri dari A dan B adalah a ij dan bij, masing-masing, untuk 1≤ i≤ n


dan 1 ≤ j ≤ k ,dan biarkan entri-entri dari C adalah c ij untuk 1 ≤i ≤k dan 1≤ j ≤ p .
k k
Entri-entri ke (i , j) dari AC dan BC adalah∑ ait c tj dan ∑ bit c tj, masing-masing,
t =1 t =1

untuk 1≤ i≤ n dan 1 ≤ j≤ p . Karena A≡B (mod m), kita tahu bahwa a it ≡ bit (mod
k
m) untuk semua idan k. Karenanya, dari teorema 4.3, kita lihat bahwa ∑ ait c tj ≡
t =1
k

∑ bit c tj (mod m). Karena itu, AC≡BC (mod m).


t =1

Pembuktian bahwa DA≡DB (mod m) adalah mirip dan dihilangkan.

Sekarang kita perhatikan sistem kongruensi

a 11 x 1 +a12 x 2 +…+ a1 n x n ≡b1 (mod m)

a 21 x1 + a22 x 2+ …+a2 n x n ≡ b2 (mod m)

a n1 x 1+ an 2 x 2 +…+a nn x n ≡ bn (mod m).

Menggunakan notasi matriks, dapat diketahui bahwa sistem n kongruensi ini


setara dengan matriks kongruensi AX ≡B (mod m), dimana
a11 a12 ⋯ a1 n x1 b1
a
A = 21
an1
(

a22

an 2
⋯ a2 n
⋱ ⋮
⋯ a nn
,
) () x
X= 2 ,

xn
()
b
dan B = 2 .

bn

Contoh 4.25

3 x+ 4 y ≡5 (mod 13)

2 x+5 y ≡7(mod 13)

Dapat ditulis sebagai

(32 45) ( xy )≡ (75) (mod 13).


Kita dapat mengembangkan sebuah metode untuk memecahkan kongruensi dari
bentuk AX ≡ B (mod m). Metode ini berdasarkan temuan sebuah matriks Á
sedemikian hingga Á A ≡ I (mod m), dimana I adalah matriks identitas.

Definisi.

Jika A dan Á adalh matriks bilangan bulat n x n dan Á A ≡ A Á ≡ I (mod m),

1 0 ⋯ 0
Dimana I =
0

0
( 1

0



0

1
dengan invers dari A modulo m.
)
adalah identitas matriks ordo n, maka Á juga disebut

Jika Á adalah suatu invers dari A dan B ≡ Á (mod m), maka B adalah juga suatu
invers dari A. Ini mengikuti bentuk Teorema 4.16, karena BA ≡ Á A ≡ I (mod m).
Sebaliknya, jika B1 dan B2 adalah kedua invers dari A , maka B1 ≡ B2 (mod m).
Menggunakan teorema 4.16 dan kongruensi B1 A ≡ B2 A ≡ I (mod m). Karena
AB 1≡ I ( mod m ) ,kita simpulkan bahwa B 1 ≡ B2 (mod m).

Contoh 4.26

Diberikan

(12 34 ) (31 42) = (106 1016 ) = (10 01) (mod 5)


Dan
(31 42) (12 34) = (115 2511 ) = (10 01) (mod 5)
Matriks (31 42) adalah invers dari (12 34) modulo 5.
Teorema 4.17

Misal A = ( ac db ) adalah suatu matriks dari bilangan bulat, sedemikian hingga


∆=det A=ad−bcadalah relatif prima untuk bilangan bulat positif m.

Bukti

Untuk memeriksa bahwa matriks Á adalah suatu invers A modulo m, kita hanya
memeriksa bahwa A Á ≡ Á A ≡ I (mod m).

Catat bahwa

A Á ≡ ( ac db) ∆´ (−cd −b
a ) (
≡ ∆´
ad−bc
0
0
−bc +ad )
∆ 0 ∆´ ∆ 0 ≡ 1 0
≡ ∆´ ( 0 ∆
≡) (0 ∆´ ∆ 0 1 ) ( )
= I (mod m)

Dan

A Á ≡ ∆´ (−cd −b a b
)( ) (
a c d
≡ ∆´
ad−bc
0
0
−bc+ ad )
∆ 0 ∆´ ∆ 0 ≡ 1 0
≡ ∆´ (
0 ∆
≡ ) (
0 ∆´ ∆ 0 1 ) ( )
= I (mod m)

Dimana ∆´ adalah suatu invers dari ∆ (mod m), yang ada karena (∆ ,m) = 1

Contoh 4.27

Missal A = (32 45). Karena 2 adalah invers dari det A = 7 modulo 13, kita
memiliki

Á ≡2 5 −4 ≡ 10 −8 (mod 13)
( )( )
−2 3 −4 6
Untuk menetapkan suatu formula untuk suatu invers dari matriks n x n, dimana n
adalah suatu bilangan bulat bulat lebih dari 2, kita perlu sebuah hasil dari aljabar
linier. Ini melibatkan notasi dari adjoint dari suatu matriks, sebagaimana
didefinisikan sebagai berikut

Definisi

Adjoint dari suatu matriks A n x n adalah matriks n x n dengan entri ke(I,j)c ji,
dimana c ji adalah (−1)i+ j dikali dengan determinan dari suatu matriks diperoleh
dengan menghapus baris ke I dan kolom ke j dari A. Adjoint dari A adalah
dilambangkan dengan adj (A), atau adj A.

Teorema 4.18

Jika A adalah suatu matriks n x n dengat det A ≠ 0, maka A (adj A) = (det A)I,
dimana adj A adalah adjoint dari A.

Teorema 4.19

Jika A adalah suatu matriks n x n dengan entri-entri bilangan bulat dan m adalah
suatu bilangan bulat positif sedemikian hingga (det A,m) = 1, maka matriks Á = ∆´
(adj A) adalah suatu invers dari A modulo m, dimana ∆´ adalah invers dari ∆ = det
A modulo m.

Bukti.

Jika (det A,m) = 1, maka kita tahu bahwa det A ≠ 0. Karenanya, dari teorema
4.18, kita memiliki

A (adj A) = (det A) I = ∆I

(det A,m) = 1, ada suatu invers


∆´ dari ∆=det A modulo m. Karenanya , A ( ∆´ adj A ) ≡ A ∙ ( adj A ) ∆´ ≡ ∆ ∆´ I ≡ I ( mod m)
,

Dan

∆´ ( adj A )A≡ ∆´ ((adj A)A) ≡ ∆´ ∆I ≡ I (mod m)

Ini menunjukkan bahwa Á = ∆´ (adj A) adalah invers dari A modulo m.

Contoh 4.28
2 5 6
( )
Misal A = 2 0 1 . Maka det A = -5. Selanjutnya, kita memiliki (det A,7) = 1,
1 2 3
dan kita lihat bahwa 4 adalah suatu invers dari det A = -5 (mod 7). Karena itu,
kami menemukan bahwa

−2 −3 5 −8 −12 20 6 2 6
(
Á = 4(adj A) = 4 −5 0 10 = −20 0
4 1 −10 )(
40 = 1 0 5 (mod 7)
16 4 −40 2 4 2 )( )
Kita dapat menggunakan suatu invers dari A modulo m untuk menyelesaikan
sistem

AB ≡ B (mod m)

Dimana (det A,m) = 1. Berdasarkan teorema 4.16, ketika kita mengalikan kedua
sisi dari kongruensi ini dengan suatu invers Á dari A, kami memperoleh

Á ( AX ) ≡ Á B ( mod m )

( Á A ) X ≡ Á B(mod m)

X ≡ Á B(mod m)

Karenanya,kita menemukan solusi X dengan membentuk Á B(mod m).

Catat bahwa metode ini menyajikan pembuktian lain dari teorema 4.15. Untuk

melihatnya, misal AX = B, dimana A = ( ac db), X = ( xy ), dan B = ( ef). Jika ∆ =


det A = ad – bc adalah relative prima untuk m, maka

( xy ) = X ≡ Á B ≡ ∆´ (−cd −b e
)( ) (
a f
= ∆´
de −bf
af ce )
(mod m).

Contoh 4.29

kita mempertimbangkan sistem dari tiga kongruensi

2 x1 +5 x2 +6 x 3 ≡ 3(mod 7)

2 x1 +❑ x3 ≡ 4( mod 7)

❑x 1 +2x 2 +3 x3 ≡1(mod 7)
2 5 6 x1 3
( 2 0 1
1 2 3 )( ) ( )
x 2 ≡ 4 (mod 7).
x3 1

6 2 6 2 5 6
( ) ( )
1 0 5 invers dari 2 0 1 (mod 7)
2 4 2 1 2 3

x1 6 2 6 3 32 4

( ) ( )( ) ( ) ( )
x2
x3
= 1 0 5 4
2 4 2 1
= 8
24
≡ 1 (mod 7)
3

Anda mungkin juga menyukai