0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
294 tayangan26 halaman

DC Syok

Dokumen tersebut membahas tentang defibrilasi ventrikel dan kardioversi, yaitu prosedur memberikan renjatan listrik langsung ke jantung untuk menghentikan takikardia dan fibrilasi ventrikel. Defibrilasi dilakukan dengan menggunakan defibrilator yang dapat memberikan renjatan listrik sinkron atau asinkron dengan energi antara 50-400 joule."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
294 tayangan26 halaman

DC Syok

Dokumen tersebut membahas tentang defibrilasi ventrikel dan kardioversi, yaitu prosedur memberikan renjatan listrik langsung ke jantung untuk menghentikan takikardia dan fibrilasi ventrikel. Defibrilasi dilakukan dengan menggunakan defibrilator yang dapat memberikan renjatan listrik sinkron atau asinkron dengan energi antara 50-400 joule."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DC SYOK (KARDIOVERSI DAN

DEFIBRILASI VENTRIKEL)
Februari
28 undefined
den ger
Defenisi:
Suatu cara memberikan renjatan arus listrik langsung ke jantung lewat sepasang elektroda
yang diletakkan pada dinding toraks untuk menghentikan takikardia ventricular dan
supraventrikuler.
 Pemberian renjatan sinkron gelombang R(Kompleks QRS).
 Renjatan listrik mendepolarisasi sel pemacu jantung automatic dan sel miokardial serta
menghilangkan atritmia.
 Nodus sinoatrial, nodus atrioventrikular dan system purkinje mengambil alih irama jantung.

Indikasi:
 Kardioversi darurat,
1. Takikardi supraventrikular, fluter atrial, dan fibrilasi atrial dengan hipotensi, hipoperfusi
sistemik, gagal jantung kongestif, atau iskemia miokard.
2. Takikardia ventrikel dengan nadi palpasi gagal berubah ke irama sinus dengan lidokain
atau amiodaron.

 Kardioversi elektif.
Kardioversi dilakukan elektif pada takikardia supraventrikuler, fluter atrial, dan fibrilasi
atrial, yang gagal berubah ke irama sinus dengan digitalis, propranolol, adrofonium,
fenilefrin, kuinidin, atau verapanil.
Irama sinus lebih baik daripada aritmia karena curah jantung lebih banyak dan lebih rendah
angka embolisme.
 Kontraindikasi:
1. Intoksikasi digitalis.
Fibrilasi ventrikel dapat terjadi walaupun dilakukan kardioversi sinkron, Stimulasi cepat
atrium dengan pemacu temporer(TPM) dapat merubah atritmia supraventrikular.
2. Penyakit sistem konduksi. Blok atrioventrikular dipasang profilaktik Temporer Pace Maker
(TPM).
3. Pasien dengan tidak mampu bertahan pada irama sinus.
4. Fibrilasi atrial yang telah lama atu bertahun.
5. Kardioversi dengan fibrilasi atrial cepat berulang, dengan dosis kuinidin profilaktik.
6. Post operasi baru katup jantung, kardioversi ditunda 10-14 hari, TPM dapat menghentikan
takiaritmia.

Evaluasi Pasien:
Evaluasi tentang hipertiroidisme, intake, digitalis, hipoksemia, stress psikologik, anemia,
hipokalemia, hiperkalemia, hipokalsemia, hipomagnesemia, atau gangguan metabolic
autonom lain yang menyebabkan aritmia.
Persiapan Pasien:
1. Jelaskan prosedur secara penuh kepada pasien, termasuk komplikasi potensialnya dan
dapatkan izin tertulis.
2. Berikan antikoagulan profilaktik, dianjurkan pada pasien atrial fibrilasi dengan riwayat
embolisme, stenosis mitral, gagal jantung kongestif, atau pembesaran atrium kiri.
3. Hentikan digitalis, 24 jam sebelum kardioversi dan 48-72 jam pada pasien tua. Digoxin
bekerja selama 2-5 hari.
4. Berikan kuinidin(300 mg tiap 6 jam) selama 2 hari sebelum kardioversi, menurunkan 40%
pemulihan ke irama sinus, tetapi kadang pencetus VT atau VF.
5. Puasakan pasien 6 jam sebelum tindakan kardioversi.
6. Rawat pasien dengan monitor EKG, untuk evaluasi irama dan evaluasi EKG 12 lead.
7. Letakkan lempeng resusitasi jantung di bawah dada pasien.

Personalia:
Dokter atau perawat terampil kardioversi, anestesi dibutuhkan untuk penatalaksanaan
intubasiendotrakeal.

Persiapan Alat:
1. Kardioverter arus searah (DC) dengan monitor osiloskop, modus sinkronisasi tombol
seleksi tingkat energi, pedal elektroda dan jelly elektroda.
2. Obat sedasi: amnesia atau anastesi selama kardioversi dengan diazepam(valium), pentothal
atau brevithal.
3. Resusitasi: Lempeng dipunggung, section, oksigen, intubasi set(ETT, lavingoskope, guidel,
jelly, spatel) ambubag dan obat atropine serta antiaritmia.

Penatalaksanaan Kardioversi.
1. Letakkan pasien terlentang di atas lempeng resusitasi jantung.
2. Pasang elektroda monitor EKG pada dada pasien.
3. Nyalakan tombol kardioversi dan sinkronisasi.
4. Singkirkan oksigen atau peralatan atau bahan yang mudah terbakar.
5. Berikan obat sedative perlahan, pantau frekuensi jantung, respirasi dan tekanan darah.
6. Berikan jelly pada pedal elektroda kardioversi, bantalan kasa larutan garam tidak dipakai
karena menyebabkan lengkungan arus.
7. Tipe kardioverter anteroapikal, elektroda pertama diletakkan di bawah klavikula kanan
tepat lateral sternum dan elektroda kedua diletakkan di bawah putting susu anterior aksilaris.
8. Pilih tingkatan energi 100 joule.
9. Pastikan tidak ada kontak operator, orang lain dan pasien terhadap bahan
konduktor(logam, air, ventrikulator).
10. Berikan renjatan listrik bila sedasi pasien memadai dengan tekanan mantap 11,25 kg pada
pedal elktroda.
11. Periksa nadi pasien, EKG, dan jalan napas segera setelah renjatan listrik kardioversi.
Reaksi kardiovaskuler setelah renjatan listrik tampak vagal dengan bradikardia disusul
takikardia 30 detik reaksi simpatis.
Aritmia ventrikel atau kelainan gelombang ST dapat menunjukkan kerusakan miokard akibat
renjatan atau interaksi obat denga renjatan listrik.
12. Bila renjatan gagal, tingkatkan dosis energi secara bertahap 100, 200, 300, 360 joules
sampai aritmia dikonversi atau sampai 360mjoules gagal,
Biarkan 2 menit di antara renjatan listrik untuk supraventrikular takikardia, karena lambat
berkonversi.

Asuhan Keperawatan Post Kardioversi.


1. Lakukan pemeriksaan singkat, kaji komplikasi segera seperti hipotensi, embolisasi
sistemik, edema paru, dan aspirasi.
2. Periksa EKG 12 lead dan pantau irama EKG pasien selama beberapa jam.
3. Pasien bedrest total.
4. Lanjutkan obat antiaritmia maintenance amiodaron 450 mg/24 jam.

Komplikasi kardioversi.
1. Luka baker kulit. Kontak elektroda tidak memadai atau renjatan berulang dapat timbul luka
baker derajat I-II.
2. Aritmia. Irama qtrioventrikuler, VES, VT dan VF dapat timbul setelah renjatan.
3. Kerusakan otot jantung. Perubahan gelombang T dan ST terjadi sekitar 1% dan
peningkatan CKMB sekitar 9% pasien.
4. Pembesaran jantung.
5. Edema paru. Diduga paralisis atrial kiri.
6. Embolisasi sistemik, sekitar 0,8% lebih tinggi pada atrium kiri besar, stenosis mitral, CHF,
atau emboli sebelumnya.
7. Hipotensi. Singkat dan berakhir beberapa jam.
8. Pneumonia aspirasi.
DC SHOCK / DEFIBRILLATOR
Defibrillator adalah peralatan elektronik yang dirancang untuk memberikan kejut listrik
dengan waktu yang relatif singkat dan intensitas yang tinggi kepada pasien penyakit jantung.
Pengulangan pemberian kejut listrik paling lama 45 detik sejak jantung berhenti. Energi
Externalyang diberikan antara 50 sampai 400 Joule. Energi Internal yang diberikan maximum
1/10 External 
Posisi elektroda (paddles) : anterior - anterior (apex - sternum) atau anterior posterior.
Diameter elektroda antara 8 - 10 cm untuk dewasa. Pengaturan energi, dan pemeberian energi
di kontrol oleh mikrokontroler. Energi yang tersimpan pada C : W =  ½ CV²
Sebelum Pemberian pulse defibrillator pada permukaan elektroda diberikan gel elektrolit.
Ada dua jenis defibrillator: a.c defibrillator dan d.c defibrillator. Untuk a.c defibrillator sudah
tidak digunakan lagi. Mempunyai elektroda (paddles) yang mempunyai diameter 8 - 10 cm
(untuk dewasa). Energi yang diberikan berkisar antara : 50- 400 Joules. Pemberian
defibrillator dapat dilakukan dengan cara sinkronisasi atau asinkronisasi. Posisi elektroda
(Paddles) dapat diletakkan  pada posisi anterior - anterior (Apex-sternum) atau posterior
anterior. Pada saat pemberian defibrillator hindari bersentuhan antara pengguna alat dengan
pasien. Energi yang tersimpan pada C :  W = ½ CV²
Paduan d.c defibrillator terdiri dari trafo berkekuatan besar dan pada sekundernya
terdapat penyearah dan capastor.Penyearah ini akan megisi energi listrik pada kapasitor,
besarnya energi listrik akan dikontrol oleh mikrokontrol. Pada saat discharge (pemberian)
energi pada pasien dengan menekan switch yang berada pada ujung elektroda. Bila memilih
jenis sinkron, dapat dilakukan dengan menekan key board (sinkron).
\

Pada Prinsipnya Prosedur Pengoperasian Defibrillator Dibagi Dalam Tiga Tahap


  Pemilihan besarnya energi dan mode pengoperasian
  Pengisian energi (charge) pada kapasitor
  Pembuangan energi dari kapasitor ke pasien (discharge).
Prinsip Dasar Defibrillator

  Besarnya energi dilakukan dengan memutar selector pemilihan energi R3, set Level yang akan
mengatur besarnya tegangan yang akan timbul pada pengisian kapasitor C1.
  Bila tombol charge ditekan maka akan terjadi pengisian kapasitor C1,  dan tegangan pada
kapasitor C1, dideteksi oleh detector A1 melalui pembagi tegangan R 1 dan R2yang
bersesuaian dengan tegangan pada C1.
  Bila tegangan pada pembagi tegangan telah lebih besar dari tegangan R3, maka A1
keluarannya akan menyebabkan High-voltage DC supply  tidak lagi mensupply tegangan ke
kapasitror C1.
  Bila ditekan tombol discharge tegangan pada kapasitor C 1 akan berpindah sehingga tubuh atau
jantung akan mendapatkan energi listrik dari kapasitor C 1. Bentuk tegangan yang diberikan
pada pasien dipengaruhi oleh adanya induktor

Bentuk Energi Yang Diberikan Ke Pasien


 

Satu phase (Monophasic)

            Dua phase (Biphasic)

               Untuk besarnya energi listrik Biphasic yang diberikannya berkisar 2 sampai dengan 200
joule

Mempunyai 2 buah elektroda yang telah terpasang pada dada pasien (pads electrode)
  Strenum
 
Apeks 
Metode defibrillator
  Asinkron
    Pemberian shock listrik jika jantung sudah tidak berkontraksi lagi, secara manual setelah pulsa
R.
  Sinkron
Pemberian shock listrik harus disinkornkan dengan signal ECG dalam keadaan berfibrasi,
jadi bila tombol discharge ditekan kapanpun maka akan membuang setelah pulsa R secara
otomatis.

DEFIBRILATOR “DEFIGARD 5000 SCHILLER”

Pada alat ini terdapat beberapa indicator pengukuran


  Monitor :
                                SPO2, NIBP, ECG, Trend Display
  Defibrilasi
  Pacemaker                                                                    
Paddle                                                  

 Petunjuk Operasional

  Ambil paddles dari sisi samping alat


  Yakinkan dalam keadaan kering
  Beri krim pada permukaan paddle
  Tempelkan paddle pada pasien diposisi apeks dan sternum
  Tekan tombol energy
  Lakukan pengisian dengan menekan satu tombol pada paddle, lalu proses pengisian dapat
dilihat di monitor
  Jangan menyentuh pasien
  Setelah proses pengisiian selesai maka akan terdengar suara “beep”, pada display muncul
tulisan “Defibrillator Ready” dan pada tombol paddle akan menyala
  Tekan paddle agak menekan ke tengkorak
  Untuk pengosongan tekan kedua tombol pada paddle secara bersamaan
  Lihat pada monitor
  Setelah selesai pilih switch pada tombol energy menunjukkan angka “0”
  Tekan tombol power

Petunjuk Pengamanan
Selama terapi kejut ada yang harus diperhatikan, yaitu
  Pasien harus
1.       Tidak ada kontak dengan orang lain
2.       Tidak ada kontak dengan barang berbahan metal atau konduktor
  Saat paddle kontak dengan pasien, pastikan juga paddle tidak terhubung dengan barang
berbahan metal
  Pastikan dada pasien kering
  Karena dialiri arus yang besar, kemungkinan terjadi luka bakar pastikan peletakkan paddle
yang tepat

Siklus Pemeliharaan

Maintenance
  Pengecekan secara fisik
1.       Apakah chasing dalam keadaan baik
2.       Kabel elektroda rusak
3.       Pengepakan elektroda yang sudah kadaluarsa
  Pengetesan Defiblirator
                Pengecekan pada paddle

1. Hubungkan kabel paddle dan gabungkan


2. Set ke energy level 90 joule
3. Tahan paddle dan lakukkan trigger
4. Lalu lihat pada monitor apakah tertulis “OK”

Cleaning
Pastikan alat dalam keadaan mati dan tidak terhubung dengan listrik, Pembersihan dapat
dilakukan dengan cara
  Usap penutup dengan menggunakan kain halus dan bersih, beri cairan disinfektan (alcohol 70
%). Pastikan tidak ada cairan yang masuk ke dalam alat
  Musnahkan aksesoris sekali pakai sesegera mungkin untuk mencegah penggunaan kembali
  Untuk paddle dapat diusap dengan kain halus beserta cairan disinfektan atau air sabun,
pastikan sampai kering
  Spoon electrode dapat dibersihkan dengan cara penguapan, radiasi, dan memakai ethylene
oxide
  Untuk membersihkan lead sensor dapat menggunakan disifektan juga, tapi pastikan celah
terlepas dari alatnya
DAFTAR PUSTAKA
http://www.google.co.id/
DC Shock

Obed Yosia*, Donni Indra Kusuma **

ABSTRACT

Delivery of direct current (DC) shocks to the heart has long been used successfully to convert

abnormal heart rhythms back to normal sinus rhythm. In 1775, Abildgaard reported using

electricity to both induce and revive a hen from lifelessness.

Transient delivery of electrical current causes a momentary depolarization of most cardiac cells

allowing the sinus node to resume normal pacemaker activity. In the presence of ventricular

Fibrilation (VF) and asystole ventricular tachycardia (VT), electrical defibrilation restores to

be a sinus rhythm.

Two types of defibrillators are in use today for external cardioversion and defibrillation: a

monofasic sinusoidal waveform (positive sine wave) and a bifasik truncated waveform. The more

recent use of bifasik cardioversion has shown that less energy is required to convert an

arrhythmia to a normal sinus rhythm

Energy requirements for atrial fibrillation are 100-200 J initially and 360 J for subsequent

shocks. A study showed good response to higher energy shocks of 720 J for the treatment of

refractory atrial fibrillation

Keyword : Dc shock, defibrillation, cardioversion

ABSTRAK

Pemberian direct current (DC) shocks untuk kasus jantung telah lama digunakan dan sukses

mengubah irama jantung yang tidak normal menjadi kembali normal. Pada tahun 1775,

Abildgaard melaporkan menggunakan listrik untuk menghidupkan seekor ayam betina dari

kematian.

1
*Coassistant Anestesi FK Universitas Tarumanagara periode 22 Juli 2013 – 10 Agustus 2013

**Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif BLU RSUD Kota Semarang

Pemberian gelombang listrik sementara dapat mengakibatkan depolarisasi dari hampir semua sel

jantung dan mengakibatkan nodus sinus pacemaker kembali normal. Pada keadaan seperti

ventricular Fibrilation (VF) dan ventricular takikardi (VT) tanpa nadi, defibrilasi

mengembalikan ke irama sinus.

Saat ini ada 2 jenis alat yang digunakan untuk kardioversi dan defibrilasi, yaitu gelombang

monofasik sinusoidal (gelombang positif) dan gelombang bifasik. Pada penggunaan kardioversi

bifasik menunjukkan kebutuhan energi yang dibutuhkan untuk mengkonversi aritmia menjadi

irama normal lebih sedikit.

Kebutuhan energi untuk atrial fibrilasi adalah 100 – 200 J untuk terapi inisial dan 360 J untuk

kejutan listrik berikutnya. Dari hasil penelitian menunjukkan respon yang baik untuk energi

besar (720 J) untuk penatalaksanaan Atrial fibrilasi yang refrakter.

Keyword : Dc shock, defibrilasi, kardioversi

PENDAHULUAN

Defibrilasi adalah suatu tindakan terapi dengan cara memberikan aliran listrik yang kuat dengan

metode asinkron ke jantung pasien melalui elektroda yang ditempatkan pada permukaan dada

pasien. Tujuannya adalah untuk koordinasi aktivitas listrik jantung dan mekanisme pemompaan,

ditunjukkan dengan membaiknya cardiac output, perfusi jaringan dan oksigenasi.

American Heart Association (AHA) merekomendasikan agar defibrilasi diberikan secepat

mungkin saat pasien mengalami gambaran VT non-pulse atau VF, yaitu 3 menit atau kurang

untuk setting rumah sakit dan dalam waktu 5 menit atau kurang dalam setting luar rumah sakit.

Defibrilasi dapat dilakukan diluar rumah sakit karena sekarang ini sudah ada defibrillator yang

bisa dioperasikan oleh orang awam yang disebut automatic external defibrillation (AED).

1A. INDIKASI DEFIBRILASI

Defibrilasi merupakan tindakan resusitasi prioritas utama yang ditujukan pada:

- Ventrikel fibrilasi (VF)

- Ventrikel takikardi tanpa nadi (VT non-pulse)

2
Gambar 1. Ventricular Fibrilation (dikutip dari kepustakaan no 3)

Gambar 2. Ventricular Tachycardia (dikutip dari kepustakaan no 4)

Meskipun defibrilasi merupakan terapi definitive untuk VF dan VT non-pulse, penggunaan

defibrilasi tidak berdiri sendiri tetapi disertai dengan resusitasi. kardiopulmonari (RKP). Peran

aktif dari penolong atau tenaga kesehatan pada saat mendapati pasien dengan cardiac arrest,

dimana sebagian besar menunjukkan VF dan VT, untuk bertahan terbukti meningkat.

1B. Prinsip Defibrilasi

Memberikan energi dalam jumlah banyak dalam waktu yang sangat singkat (beberapa detik)

melalui pedal positif dan negative yang ditekankan pas dinding dada atau melalui adhesive pads

yang ditempelkan pada sensing dada pasien. Arus listrik yang mengalir sangat singkat ini bukan

merupakan loncatan awal bagi jantung untuk berdetak, tetapi mekanismenya adalah aliran listrik

yang sangat singkat ini akan mendepolarisasi semua miokard, menyebabkan berhentinya

aktivitas listrik jantung atau biasa disebut asistole. Beberapa saat setelah berhentinya aktivitas

listrik ini, sel-sel pace maker akan ber-repolarisasi secara spontan dan memungkinkan jantung

untuk pulih kembali. Siklus depolarisasi secara spontan dan repolarisasi sel-sel pacemaker yang

reguler ini memungkinkan jantung untuk mengkoordinasi miokard untuk memulai aktivitas

kontraksi kembali

1,5

1C. MONOFASIK VS BIFASIK

Selama beberapa dekade, defibrillator telah menggunakan bentuk gelombang monofasic. Dengan

bentuk gelombang monofasic, arus mengalir dalam satu arah, dari satu elektroda ke yang lain,

menghentikan jantung sehingga memiliki kesempatan untuk memulai kembali sendiri. Dengan

bentuk gelombang bifasik, arus mengalir dalam satu arah pada tahap pertama shock dan

kemudian membalikkan untuk tahap kedua. Bentuk gelombang bifasik sekarang "standar emas"

untuk alat defibrilator.

Penelitian menunjukkan bahwa bentuk gelombang bifasik lebih efektif dan menimbulkan lebih

sedikit risiko cedera pada jantung daripada bentuk gelombang monofasik, bahkan ketika tingkat

energi kejut adalah sama. Inilah sebabnya mengapa produsen defibrillator eksternal sekarang

menggunakan bentuk gelombang bifasik di perangkat mereka.

Bentuk gelombang Bifasik menjadi standar baru perawatan di defibrillator eksternal. Di masa
lalu hanya ada satu jenis defibrilasi transthoracic, yaitu standar sinus gelombang kejut

monofasic. Selama bertahun-tahun penelitian, teori impedansi dan waktu guncangan sudah

diperdebatkan untuk dijadikan suatu standar baku.

Studi-studi telah menunjukkan bahwa awalnya ada perubahan segmen ST yang signifikan terkait

dengan energi tinggi defibrilasi, yang dapat berlangsung sampai beberapa bulan (jika pasien

bertahan).

Dengan sistem Bifasik ada yang lebih tinggi tingkat keberhasilan konversi kejutan awal dari VT

(ventrikel takikardi) atau VF (ventrikel fibrilasi) dibandingkan monofasic (85,2% vs 97,6%

monofasic bifasik ), energi dalam Joule secara signifikan kurang (360j monofasic, 200j bifasik)

yang akan mempengaruhi kebutuhan cadangan energi, Bifasik lebih efektif dalam membalikkan

VF berkelanjutan.

6,7

Defibrilasi bifasik menawarkan khasiat sama atau lebih baik pada energi rendah dari gelombang

Monofasic tradisional defibrillator-dengan risiko lebih kecil pasca-shock komplikasi seperti

disfungsi miokard dan luka bakar kulit.

Tidak seperti perangkat monofasic, defibrillator bifasik menggunakan teknologi gelombang yang

berbeda: baik bifasik terpotong eksponensial (BTE) gelombang atau gelombang Bifasik kotak.

Bentuk gelombang eksponensial bifasik dipotong pada awalnya dikembangkan untuk aplikasi

rendah impedansi internal yang defibrilasi jantung. Sudah diadaptasi untuk defibrilasi eksternal

oleh dua vendor. Heartstream (sekarang Agilent / Philips) memelopori pendekatan rendah

energi. The defibrilator BTE kedua, yang dikembangkan oleh Medtronic Physio-Control,

menggunakan energi-tinggi (lebih dari 200 joule) protokol.

Bentuk gelombang Bifasik kotak dikembangkan khusus untuk defibrilasi eksternal dan

dipertimbangkan tingkat impedansi tinggi dan beragam pasien (pemblokiran aliran arus yang

disebabkan oleh bulu dada, ukuran dada besar, dan miskin elektroda-ke-dada kontak). Hanya

defibrillator Zoll menggunakan gelombang ini. Bentuk gelombang kotak mempertahankan

bentuk stabil sebagai respon terhadap impedansi, dan arus konstan pada tahap pertama

mengurangi arus puncak yang berpotensi membahayakan.


Bentuk gelombang BTE dikembangkan untuk penggunaan internal, di mana impedansinya

rendah. Bentuk gelombang bifasik terpotong eksponensial (BTE) digunakan dalam alat pacu

jantung internal untuk lebih dari 10 tahun. Jika digunakan dalam perangkat transthoracic seperti

defibrillator, impedansinya dapat mempengaruhi bentuk gelombang. Bentuk gelombang kotak

tetap stabil dalam bentuk bagaimanapun. Hal ini mengurangi efek merugikan dari impedansi

pasien pada defibrilasi sukses.

Ketika impedansi rendah (50 ohm), sebuah 360-joule BTE defibrilator memperlihatkan hasil

yang lebih baik. Pada impedansi pasien rata-rata 75 ohm, 360 joule-BTE dan 200-joule

defibrillator kotak sama-sama efektif. Dengan impedansi tinggi (lebih besar dari 100 ohm),

shock 200-joule kotak memberikan arus rata-rata lebih tinggi dari shock BTE 360-joule,

sehingga membuat lebih efektif dengan tingkat energi yang lebih rendah.

Perbandingan klinis langsung antara dua jenis bifasik bentuk gelombang masih harus dilakukan

dalam uji coba, prospektif acak dengan kontrol yang sesuai. Studi terbaru defibrilator energi

tinggi BTE membutuhkan energi hampir 50% lebih untuk memberikan rata-rata yang sama saat

ini sebagai defibrilator rendah energi kotak.

Lima penelitian, dengan lebih dari 900 peserta manusia, telah membandingkan kemanjuran

bentuk gelombang bifasik dibandingkan monofasik. Secara acak menunjukkan bahwa energi

yang rendah-130-joule kejutan BTE secara klinis sama dengan shock 200-joule monofasik. Studi

lain menemukan bahwa kejutan BTE 130 joule secara klinis sama dengan shock 200-joule

monofasik tetapi rendah energi guncangan BTE tampaknya kurang efektif bila impedansi

transthoracic tinggi.

Sebuah studi pasien terbaru meng-evaluasi efikasi pemberian tiga guncangan dengan energi

rendah (150 joule) BTE defibrilator dan menemukan kombinasi ini 100% efektif untuk

mengkonversi VF. Pasien defibrillated dengan rendah energi guncangan bifasik juga memiliki

hasil neurologis yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang menggunakan konvensional

energi tinggi guncangan.

7,8

1D. FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN KEBERHASILAN

DEFIBRILASI

Lamanya kesuksesan defibrilasi tergantung dari status metabolisme miokard dan jumlah miokard
yang rusak selama periode hipoksia karena arrest. Semakin lama waktu yang digunakan untuk

memulai defibrilasi maka semakin banyak persediaan ATP yang digunakan miokard untuk

bergetar sehingga menyebabkan jantung memakai semua tenaga sampai habis dan keadan ini

akan membuat jantung menjadi kelelahan.

Keadaan dan kondisi miokard Hipoksia, asidosis, gangguan elektrik, hipotermi dan penyakit

dasar jantung yang berat menjadi penyulit bagi pemulihan aktivitas kontraksi jantung.

Besarnya jantung, makin besar jantung, makin besar energi yang dibutuhkan untuk defibrilasi.

Ukuran diameter pedal dewasa yang dianjurkan adalah 8,5-12 cm dan untuk anak-anak berkisar

4,5-4,8 cm. ukuran pedal terlalu besar membuat tidak semua permukaan pedal menempel pada

dinding dada dan menyebabkan banyak arus yang tidak sampai ke jantung. Untuk itu,

penggunaan pedal pada anak-anak bisa disesuaikan dengan ukuran tubuhnya.

Letak pedal hal yang sangat penting tetapi sering kali diabaikan adalah peletakan pedal pada

dinding dada saat dilakukan defibrilasi. Pedal atau pad harus diletakkan pada posisi yang tepat

yang memungkinkan penyebaran arus listrik kesemua arah jantung. Posisi sternal, pedal

diletakkan dibagian kanan atas sternum dibawah klavikula. Pedal apeks diletakkan disebelah kiri

papilla mamae digaris midaksilaris. Pada wanita, posisi pedal apeks ada di spasi interkosta 5-6

pada posisi mid-axilaris. Pada pasien yang terpasang pacemaker permanent, harus dihindari

peletakan padel diatas generator pacemaker, geser pedal setidaknya 1 inchi dari tempat itu.

Defibrilasi langsung ke generator pacemaker dapat menyebabkan malfungsi pace maker secara

temporary atau permanent. Setelah dilakukan defibrilasi atau kardioversi harus dicek ambang

pacing dan sensibilitasnya serta dilihat apakah alat masih bekerja sesuai dengan setting program.

Hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan defibrilasi adalah posisi pedal atau pads,

keduanya tidak boleh saling menyentuh atau harus benar-benar terpisah.

Energi Pada defibrilator monofasik energi yang diberikan 360 joule, sedangkan pada defibrilator

bifasik 200J. Untuk anak-anak, energi yang diperlukan adalah 1-2 joule/kg BB, maksimal 3 j/kg

BB

Jelli/Gel Saat menggunakan pedal, jangan lupa memberikan jelli khusus untuk defibrilasi atau
kardioversi pada pedal. Jelli berfungai sebagai media konduksi untuk penghantar arus listrik.

Tujuan dari pemberian gel adalah untuk mengurangi resistensi transtorakal dan mencegah luka

bakar pasien. Yang harus diperhatikan juga adalah jangan sampai gel tersebut teroles dikulit

diantara sternum dan apeks, atau jelli dari salah satu atau ekdua pedal mengalir menghubungkan

keduanya pada saat ditekan ke dada pasien. Jika ini terjadi akan mengakibatkan arus hanya

mengalir dipermukaan dinding dada, aliran arus ke jantung akan missing dan memancarkan

bunga api yang menyebabkan sengatan listrik pasien pada pasien dan alat-alat operator.

1E. PERSIAPAN SEBELUM PROSEDUR DEFIBRILASI

Persiapan Peralatan

- Defibrillator dengan monitor EKG dan pedalnya

- Jelly

- Obat-obat Emergency (Epinephrine, Lidocain, SA, Procainamid, dll)

- Oksigen

- Face mask

- Papan resusitasi

- Peralatan intubasi dan suction

Persiapan Pasien

a. Pastikan pasien dan atau keluarga mengerti prosedur yang akan dilakukan

b. Letakkan pasien diatas papan resusitasi pada posisi supine

c. Jauhkan barang-barang yang tersebut dari bahan metal dan air disekitar pasien

d. Lepaskan gigi palsu atau protesa lain yang dikenakan pasien untuk mencegah obstruksi jalan

nafas

e. Lakukan RKP secepatnya jika alat-alat defibrillator belum siap untuk mempertahankan

cardiac output yang akan mencegah kerusakan organ dan jaringan yang irreversible.

f. Berikan oksigen dengan face masker untuk mempertahankan oksigenasi tetap adekuat yang

akan mengurangi komplikasi pada jantung dan otak

g. Pastikan mode defibrillator pada posisi asyncrone

h. Matikan pace maker (TPM) jika terpasang.

1F. PROSEDUR DEFIBRILASI


1. Oleskan Jelly pada pedal secara merata

2. Pastikan posisi kabel defibrillator pada posisi yang bisa menjangkau sampai ke pasien

3. Nyalakan perekaman EKG agar mencetak gambar EKG selama pelaksanaan defibrilasi

4. Letakkan pedal pada posisi apeks dan sternum

5. Charge pedal sesuai energi yang diinginkan

6. Pastikan semua clear atau tidak ada yang kontak dengan pasien, bed dan peralatan pada

hitungan ketiga (untuk memastika jangan lupa lihat posisi semua personal penolong)

7. Pastikan kembali gambaran EKG adalah VT atau VF non-pulse

8. Tekan tombol pada kedua pedal sambil menekannya di dinding dada pasien, jangan langsung

diangkat, tunggu sampai semua energi listrik dilepaskan.

9. Nilai gambaran EKG dan kaji denyut nadi karotis

10. Jika kejutan kedua tidak berhasil, lakukan tahapan ACLS berikutnya

11. Bersihkan jelly pada pedal dan pasien

1G. AlGORITMA DEFIBRILASI

f. Hipotensi

g. Disfungsi pace-maker

KESIMPULAN

Defibrilasi adalah suatu tindakan terapi dengan cara memberikan aliran listrik yang kuat dengan

metode asinkron ke jantung pasien melalui elektroda yang ditempatkan pada permukaan dada

pasien. Tujuannya adalah untuk koordinasi aktivitas listrik jantung dan mekanisme pemompaan,

ditunjukkan dengan membaiknya cardiac output, perfusi jaringan dan oksigenasi.

Defibrilasi merupakan tindakan resusitasi prioritas utama yang ditujukan pada ventrikel fibrilasi

(VF) dan ventrikel takikardi tanpa nadi (VT non-pulse).

Gelombang Bifasik lebih efektif dan menimbulkan lebih sedikit risiko cedera pada jantung

daripada bentuk gelombang Monofasic, bahkan ketika tingkat energi kejut adalah sama. Inilah

sebabnya mengapa produsen defibrillator eksternal sekarang menggunakan bentuk gelombang

bifasik di perangkat mereka.

Defibrillator bifasik menggunakan teknologi gelombang yang berbeda: baik bifasik terpotong

eksponensial (BTE) gelombang atau gelombang Bifasik kotak.

Energi Pada defibrilator monofasik energi yang diberikan 360 joule, sedangkan pada defibrilator
bifasik 200J. Untuk anak-anak, energi yang diperlukan adalah 1-2 joule/kg BB, maksimal 3 j/kg

BB.

Komplikasi pasca defibrilasi adalah henti jantung-nafas dan kematian, anoxia cerebral sampai

dengan kematian otak, gagal nafas, asistole, luka bakar, hipotensi, disfungsi pace-maker

DAFTAR PUSTAKA

1. Ashok K Kondur. Defibrilation and cardioversion .[internet] 2012 Desember

Available from : http://emedicine.medscape.com/article/80564-overview, Cited on 28

July 2013

2. Karo Karo S, Rahajoe Anna U, Sulistyo Sigit, Kosasih A. Bantuan hidup Jantung Lanjut

Edisi 2011. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 2011 : 24

– 31.

3. Scheidt S . Basic Electrocardiography: Abnormalities of Electrocardiographic

Patterns.Ciba : Ciba Pharmaceutical Company, 1994 ; Vol. 6/36 Page 32 .

4. Goldman MJ . Principles of Clinical Electrocardiography, 12th ed. Los Altos, Cal :

Lange Medical Publications, 1998, 460

5. Rudolph W. Koster. A Randomized Trial Com0paring Monophasic and Biophasic

Waveform Shocks for external Cardioversion of Atrial Fibrillation .[internet] 2004

Available from : http://www.medscape.com/viewarticle/477538_4, Cited on 28 July 2013

6. Schneider T, Martens PR, Paschen H, Kuisma M, Wolcke B, Gliner BE, et

al. Multicenter, acak, percobaan dikontrol dari 150-J guncangan biphasic dibandingkan

dengan 200 - untuk 360-J guncangan monophasic dalam resusitasi out-of-rumah sakit

korban serangan jantung. Dioptimalkan Respon untuk Penyidik Penangkapan Jantung

(ORCA). Sirkulasi 2000; 102: 1780-7.

7. Mittal S, S Ayati, Stein KM, Schwartzman D, Cavlovich D, Tchou PJ,

dkk. Transthoracic kardioversi fibrilasi atrium: perbandingan kotak guncangan sinus

biphasic dibandingkan teredam gelombang Monophasic. Sirkulasi 2000; 101: 1282-7.

8. Walker RG, Melnick SB, Chapman FW, Walcott GP, PW Schmitt, Ideker

RE. Perbandingan enam defibrillator eksternal klinis digunakan pada babi. Resusitasi

2003; 57: 73-83.

9. Karo Karo S, Rahajoe Anna U, Sulistyo Sigit, Kosasih A. Bantuan hidup Jantung Dasar

Edisi 2011. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 2011 : 10 -


23

12

10. Niemann JT, Walker RG, Rosborough JP. Ischemically Induced Ventricular Fibrilasi

(VF): Sebuah Perbandingan defibrilasi Energi Tetap dan Meningkat. Acad Pgl Med 2003;

10: 454.

11. Sean C Beinart, MD, FACC, FHRS. Synchronized electical cardioversion.[internet]

2013 Juni Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1834044-

overview#a15, Cited on 28 July 2013

Download

of 13

DC SHOCK defibrilator Referat makalah


by obedyosia

on Jan 02, 2016

Report

Category:

Documents

Download: 2

Comment: 0

711

views

Share

Comments

Description
DC SHOCK Referat makalah
Download DC SHOCK defibrilator Referat makalah

Transcript
DC Shock Obed Yosia*, Donni Indra Kusuma ** ABSTRACT Delivery of direct current (DC) shocks to
the heart has long been used successfully to convert abnormal heart rhythms back to normal sinus
rhythm. In 1775, Abildgaard reported using electricity to both induce and revive a hen from
lifelessness. Transient delivery of electrical current causes a momentary depolarization of most
cardiac cells allowing the sinus node to resume normal pacemaker activity. In the presence of
ventricular Fibrilation (VF) and asystole ventricular tachycardia (VT), electrical defibrilation restores
to be a sinus rhythm. Two types of defibrillators are in use today for external cardioversion and
defibrillation: a monofasic sinusoidal waveform (positive sine wave) and a bifasik truncated
waveform. The more recent use of bifasik cardioversion has shown that less energy is required to
convert an arrhythmia to a normal sinus rhythm Energy requirements for atrial fibrillation are 100-
200 J initially and 360 J for subsequent shocks. A study showed good response to higher energy
shocks of 720 J for the treatment of refractory atrial fibrillation Keyword : Dc shock, defibrillation,
cardioversion ABSTRAK Pemberian direct current (DC) shocks untuk kasus jantung telah lama
digunakan dan sukses mengubah irama jantung yang tidak normal menjadi kembali normal. Pada
tahun 1775, Abildgaard melaporkan menggunakan listrik untuk menghidupkan seekor ayam betina
dari kematian. Pemberian gelombang listrik sementara dapat mengakibatkan depolarisasi dari
hampir semua sel jantung dan mengakibatkan nodus sinus pacemaker kembali normal. Pada
keadaan seperti ventricular Fibrilation (VF) dan ventricular takikardi (VT) tanpa nadi, defibrilasi
mengembalikan ke irama sinus. Saat ini ada 2 jenis alat yang digunakan untuk kardioversi dan
defibrilasi, yaitu gelombang monofasik sinusoidal (gelombang positif) dan gelombang bifasik. Pada
penggunaan kardioversi bifasik menunjukkan kebutuhan energi yang dibutuhkan untuk
mengkonversi aritmia menjadi irama normal lebih sedikit. Kebutuhan energi untuk atrial fibrilasi
adalah 100 – 200 J untuk terapi inisial dan 360 J untuk kejutan listrik berikutnya. Dari hasil penelitian
menunjukkan respon yang baik untuk energi besar (720 J) untuk penatalaksanaan Atrial fibrilasi yang
refrakter. Keyword : Dc shock, defibrilasi, kardioversi PENDAHULUAN Defibrilasi adalah suatu
tindakan terapi dengan cara memberikan aliran listrik yang kuat dengan metode asinkron ke jantung
pasien melalui elektroda yang ditempatkan pada permukaan dada pasien. Tujuannya adalah untuk
koordinasi aktivitas listrik jantung dan mekanisme pemompaan, ditunjukkan dengan membaiknya
cardiac output, perfusi jaringan dan oksigenasi. 1 American Heart Association (AHA)
merekomendasikan agar defibrilasi diberikan secepat mungkin saat pasien mengalami gambaran VT
non-pulse atau VF, yaitu 3 menit atau kurang untuk setting rumah sakit dan dalam waktu 5 menit
atau kurang dalam setting luar rumah sakit. Defibrilasi dapat dilakukan diluar rumah sakit karena
sekarang ini sudah ada defibrillator yang bisa dioperasikan oleh orang awam yang disebut automatic
external defibrillation (AED). 2 1A. INDIKASI DEFIBRILASI Defibrilasi merupakan tindakan resusitasi
prioritas utama yang ditujukan pada: - Ventrikel fibrilasi (VF) - Ventrikel takikardi tanpa nadi (VT non-
pulse) Gambar 1. Ventricular Fibrilation (dikutip dari kepustakaan no 3) Gambar 2. Ventricular
Tachycardia (dikutip dari kepustakaan no 4) Meskipun defibrilasi merupakan terapi definitive untuk
VF dan VT non-pulse, penggunaan defibrilasi tidak berdiri sendiri tetapi disertai dengan resusitasi.
kardiopulmonari (RKP). Peran aktif dari penolong atau tenaga kesehatan pada saat mendapati pasien
dengan cardiac arrest, dimana sebagian besar menunjukkan VF dan VT, untuk bertahan terbukti
meningkat. 2 1B. Prinsip Defibrilasi Memberikan energi dalam jumlah banyak dalam waktu yang
sangat singkat (beberapa detik) melalui pedal positif dan negative yang ditekankan pas dinding dada
atau melalui adhesive pads yang ditempelkan pada sensing dada pasien. Arus listrik yang mengalir
sangat singkat ini bukan merupakan loncatan awal bagi jantung untuk berdetak, tetapi
mekanismenya adalah aliran listrik yang sangat singkat ini akan mendepolarisasi semua miokard,
menyebabkan berhentinya aktivitas listrik jantung atau biasa disebut asistole. Beberapa saat setelah
berhentinya aktivitas listrik ini, sel-sel pace maker akan ber-repolarisasi secara spontan dan
memungkinkan jantung untuk pulih kembali. Siklus depolarisasi secara spontan dan repolarisasi sel-
sel pacemaker yang reguler ini memungkinkan jantung untuk mengkoordinasi miokard untuk
memulai aktivitas kontraksi kembali 1,5 1C. MONOFASIK VS BIFASIK Selama beberapa dekade,
defibrillator telah menggunakan bentuk gelombang monofasic. Dengan bentuk gelombang
monofasic, arus mengalir dalam satu arah, dari satu elektroda ke yang lain, menghentikan jantung
sehingga memiliki kesempatan untuk memulai kembali sendiri. Dengan bentuk gelombang bifasik,
arus mengalir dalam satu arah pada tahap pertama shock dan kemudian membalikkan untuk tahap
kedua. Bentuk gelombang bifasik sekarang "standar emas" untuk alat defibrilator. Penelitian
menunjukkan bahwa bentuk gelombang bifasik lebih efektif dan menimbulkan lebih sedikit risiko
cedera pada jantung daripada bentuk gelombang monofasik, bahkan ketika tingkat energi kejut
adalah sama. Inilah sebabnya mengapa produsen defibrillator eksternal sekarang menggunakan
bentuk gelombang bifasik di perangkat mereka. Bentuk gelombang Bifasik menjadi standar baru
perawatan di defibrillator eksternal. Di masa lalu hanya ada satu jenis defibrilasi transthoracic, yaitu
standar sinus gelombang kejut monofasic. Selama bertahun-tahun penelitian, teori impedansi dan
waktu guncangan sudah diperdebatkan untuk dijadikan suatu standar baku. 6 Studi-studi telah
menunjukkan bahwa awalnya ada perubahan segmen ST yang signifikan terkait dengan energi tinggi
defibrilasi, yang dapat berlangsung sampai beberapa bulan (jika pasien bertahan). Dengan sistem
Bifasik ada yang lebih tinggi tingkat keberhasilan konversi kejutan awal dari VT (ventrikel takikardi)
atau VF (ventrikel fibrilasi) dibandingkan monofasic (85,2% vs 97,6% monofasic bifasik ), energi
dalam Joule secara signifikan kurang (360j monofasic, 200j bifasik) yang akan mempengaruhi
kebutuhan cadangan energi, Bifasik lebih efektif dalam membalikkan VF berkelanjutan.6,7 Defibrilasi
bifasik menawarkan khasiat sama atau lebih baik pada energi rendah dari gelombang Monofasic
tradisional defibrillator-dengan risiko lebih kecil pasca-shock komplikasi seperti disfungsi miokard
dan luka bakar kulit. Tidak seperti perangkat monofasic, defibrillator bifasik menggunakan teknologi
gelombang yang berbeda: baik bifasik terpotong eksponensial (BTE) gelombang atau gelombang
Bifasik kotak. Bentuk gelombang eksponensial bifasik dipotong pada awalnya dikembangkan untuk
aplikasi rendah impedansi internal yang defibrilasi jantung. Sudah diadaptasi untuk defibrilasi
eksternal oleh dua vendor. Heartstream (sekarang Agilent / Philips) memelopori pendekatan rendah
energi. The defibrilator BTE kedua, yang dikembangkan oleh Medtronic Physio-Control,
menggunakan energi-tinggi (lebih dari 200 joule) protokol. 7 Bentuk gelombang Bifasik kotak
dikembangkan khusus untuk defibrilasi eksternal dan dipertimbangkan tingkat impedansi tinggi dan
beragam pasien (pemblokiran aliran arus yang disebabkan oleh bulu dada, ukuran dada besar, dan
miskin elektroda-ke-dada kontak). Hanya defibrillator Zoll menggunakan gelombang ini. Bentuk
gelombang kotak mempertahankan bentuk stabil sebagai respon terhadap impedansi, dan arus
konstan pada tahap pertama mengurangi arus puncak yang berpotensi membahayakan. Bentuk
gelombang BTE dikembangkan untuk penggunaan internal, di mana impedansinya rendah. Bentuk
gelombang bifasik terpotong eksponensial (BTE) digunakan dalam alat pacu jantung internal untuk
lebih dari 10 tahun. Jika digunakan dalam perangkat transthoracic seperti defibrillator, impedansinya
dapat mempengaruhi bentuk gelombang. Bentuk gelombang kotak tetap stabil dalam bentuk
bagaimanapun. Hal ini mengurangi efek merugikan dari impedansi pasien pada defibrilasi sukses.
Ketika impedansi rendah (50 ohm), sebuah 360-joule BTE defibrilator memperlihatkan hasil yang
lebih baik. Pada impedansi pasien rata-rata 75 ohm, 360 joule-BTE dan 200-joule defibrillator kotak
sama-sama efektif. Dengan impedansi tinggi (lebih besar dari 100 ohm), shock 200-joule kotak
memberikan arus rata-rata lebih tinggi dari shock BTE 360-joule, sehingga membuat lebih efektif
dengan tingkat energi yang lebih rendah.7 Perbandingan klinis langsung antara dua jenis bifasik
bentuk gelombang masih harus dilakukan dalam uji coba, prospektif acak dengan kontrol yang
sesuai. Studi terbaru defibrilator energi tinggi BTE membutuhkan energi hampir 50% lebih untuk
memberikan rata-rata yang sama saat ini sebagai defibrilator rendah energi kotak. Lima penelitian,
dengan lebih dari 900 peserta manusia, telah membandingkan kemanjuran bentuk gelombang
bifasik dibandingkan monofasik. Secara acak menunjukkan bahwa energi yang rendah-130-joule
kejutan BTE secara klinis sama dengan shock 200-joule monofasik. Studi lain menemukan bahwa
kejutan BTE 130 joule secara klinis sama dengan shock 200-joule monofasik tetapi rendah energi
guncangan BTE tampaknya kurang efektif bila impedansi transthoracic tinggi. Sebuah studi pasien
terbaru meng-evaluasi efikasi pemberian tiga guncangan dengan energi rendah (150 joule) BTE
defibrilator dan menemukan kombinasi ini 100% efektif untuk mengkonversi VF. Pasien defibrillated
dengan rendah energi guncangan bifasik juga memiliki hasil neurologis yang lebih baik dibandingkan
dengan mereka yang menggunakan konvensional energi tinggi guncangan. 7,8 1D. FAKTOR-FAKTOR
YANG MENENTUKAN KEBERHASILAN DEFIBRILASI Lamanya kesuksesan defibrilasi tergantung dari
status metabolisme miokard dan jumlah miokard yang rusak selama periode hipoksia karena arrest.
Semakin lama waktu yang digunakan untuk memulai defibrilasi maka semakin banyak persediaan
ATP yang digunakan miokard untuk bergetar sehingga menyebabkan jantung memakai semua
tenaga sampai habis dan keadan ini akan membuat jantung menjadi kelelahan. Keadaan dan kondisi
miokard Hipoksia, asidosis, gangguan elektrik, hipotermi dan penyakit dasar jantung yang berat
menjadi penyulit bagi pemulihan aktivitas kontraksi jantung. Besarnya jantung, makin besar jantung,
makin besar energi yang dibutuhkan untuk defibrilasi. Ukuran diameter pedal dewasa yang
dianjurkan adalah 8,5-12 cm dan untuk anak-anak berkisar 4,5-4,8 cm. ukuran pedal terlalu besar
membuat tidak semua permukaan pedal menempel pada dinding dada dan menyebabkan banyak
arus yang tidak sampai ke jantung. Untuk itu, penggunaan pedal pada anak-anak bisa disesuaikan
dengan ukuran tubuhnya. 2 Letak pedal hal yang sangat penting tetapi sering kali diabaikan adalah
peletakan pedal pada dinding dada saat dilakukan defibrilasi. Pedal atau pad harus diletakkan pada
posisi yang tepat yang memungkinkan penyebaran arus listrik kesemua arah jantung. Posisi sternal,
pedal diletakkan dibagian kanan atas sternum dibawah klavikula. Pedal apeks diletakkan disebelah
kiri papilla mamae digaris midaksilaris. Pada wanita, posisi pedal apeks ada di spasi interkosta 5-6
pada posisi mid-axilaris. Pada pasien yang terpasang pacemaker permanent, harus dihindari
peletakan padel diatas generator pacemaker, geser pedal setidaknya 1 inchi dari tempat itu.
Defibrilasi langsung ke generator pacemaker dapat menyebabkan malfungsi pace maker secara
temporary atau permanent. Setelah dilakukan defibrilasi atau kardioversi harus dicek ambang pacing
dan sensibilitasnya serta dilihat apakah alat masih bekerja sesuai dengan setting program. Hal yang
harus diperhatikan pada saat melakukan defibrilasi adalah posisi pedal atau pads, keduanya tidak
boleh saling menyentuh atau harus benar-benar terpisah. 9 Energi Pada defibrilator monofasik
energi yang diberikan 360 joule, sedangkan pada defibrilator bifasik 200J. Untuk anak-anak, energi
yang diperlukan adalah 1-2 joule/kg BB, maksimal 3 j/kg BB 2 Jelli/Gel Saat menggunakan pedal,
jangan lupa memberikan jelli khusus untuk defibrilasi atau kardioversi pada pedal. Jelli berfungai
sebagai media konduksi untuk penghantar arus listrik. Tujuan dari pemberian gel adalah untuk
mengurangi resistensi transtorakal dan mencegah luka bakar pasien. Yang harus diperhatikan juga
adalah jangan sampai gel tersebut teroles dikulit diantara sternum dan apeks, atau jelli dari salah
satu atau ekdua pedal mengalir menghubungkan keduanya pada saat ditekan ke dada pasien. Jika ini
terjadi akan mengakibatkan arus hanya mengalir dipermukaan dinding dada, aliran arus ke jantung
akan missing dan memancarkan bunga api yang menyebabkan sengatan listrik pasien pada pasien
dan alat-alat operator. 1E. PERSIAPAN SEBELUM PROSEDUR DEFIBRILASI Persiapan Peralatan 9 -
Defibrillator dengan monitor EKG dan pedalnya - Jelly - Obat-obat Emergency (Epinephrine, Lidocain,
SA, Procainamid, dll) - Oksigen - Face mask - Papan resusitasi - Peralatan intubasi dan suction
Persiapan Pasien 9 a. Pastikan pasien dan atau keluarga mengerti prosedur yang akan dilakukan b.
Letakkan pasien diatas papan resusitasi pada posisi supine c. Jauhkan barang-barang yang tersebut
dari bahan metal dan air disekitar pasien d. Lepaskan gigi palsu atau protesa lain yang dikenakan
pasien untuk mencegah obstruksi jalan nafas e. Lakukan RKP secepatnya jika alat-alat defibrillator
belum siap untuk mempertahankan cardiac output yang akan mencegah kerusakan organ dan
jaringan yang irreversible. f. Berikan oksigen dengan face masker untuk mempertahankan oksigenasi
tetap adekuat yang akan mengurangi komplikasi pada jantung dan otak g. Pastikan mode
defibrillator pada posisi asyncrone h. Matikan pace maker (TPM) jika terpasang. 1F. PROSEDUR
DEFIBRILASI 1. Oleskan Jelly pada pedal secara merata 2. Pastikan posisi kabel defibrillator pada
posisi yang bisa menjangkau sampai ke pasien 3. Nyalakan perekaman EKG agar mencetak gambar
EKG selama pelaksanaan defibrilasi 4. Letakkan pedal pada posisi apeks dan sternum 5. Charge pedal
sesuai energi yang diinginkan 6. Pastikan semua clear atau tidak ada yang kontak dengan pasien, bed
dan peralatan pada hitungan ketiga (untuk memastika jangan lupa lihat posisi semua personal
penolong) 7. Pastikan kembali gambaran EKG adalah VT atau VF non-pulse 8. Tekan tombol pada
kedua pedal sambil menekannya di dinding dada pasien, jangan langsung diangkat, tunggu sampai
semua energi listrik dilepaskan. 9. Nilai gambaran EKG dan kaji denyut nadi karotis 10. Jika kejutan
kedua tidak berhasil, lakukan tahapan ACLS berikutnya 11. Bersihkan jelly pada pedal dan pasien 1G.
AlGORITMA DEFIBRILASI Gambar 3. Algoritma Bantuan Hidup Dasar (dikutip dari kepustakaan no 9)
1H. PASCA DEFIBRILASI Monitoring Pasien Setelah Defibrilasi10 a. Evaluasi status neurology.
Orientasikan klien terhadap orang, ruang, dan waktu b. Monitor status pulmonary (RR, saturasi O2)
c. Monitor status kardiovaskuler (TD, HR, Ritme) setiap 15 menit d. Monitor EKG e. Mulai berikan
obat anti disritmia intravena yang sesuai f. Kaji apakah ada kulit yang terbakar g. Monitor elektrolit
(Na. K, Cl) Dokumentasi dan laporan setelah tindakan 1. Print out EKG sebelum, selama dan sesudah
defibrilasi 2. Status neurology, respirasi dan kardioversi sebelum dan sesudah defibrilasi 3. Energi
yang digunakan untuk defibrilasi 4. Semua hasil yang tidak diinginkan dan intervensi yang telah
diberikan 1I. KOMPLIKASI DEFIBRILASI a. Henti jantung-nafas dan kematian 11 b. Anoxia cerebral
sampai dengan kematian otak c. Gagal nafas d. Asistole e. Luka bakar f. Hipotensi g. Disfungsi pace-
maker KESIMPULAN Defibrilasi adalah suatu tindakan terapi dengan cara memberikan aliran listrik
yang kuat dengan metode asinkron ke jantung pasien melalui elektroda yang ditempatkan pada
permukaan dada pasien. Tujuannya adalah untuk koordinasi aktivitas listrik jantung dan mekanisme
pemompaan, ditunjukkan dengan membaiknya cardiac output, perfusi jaringan dan oksigenasi.
Defibrilasi merupakan tindakan resusitasi prioritas utama yang ditujukan pada ventrikel fibrilasi (VF)
dan ventrikel takikardi tanpa nadi (VT non-pulse). Gelombang Bifasik lebih efektif dan menimbulkan
lebih sedikit risiko cedera pada jantung daripada bentuk gelombang Monofasic, bahkan ketika
tingkat energi kejut adalah sama. Inilah sebabnya mengapa produsen defibrillator eksternal sekarang
menggunakan bentuk gelombang bifasik di perangkat mereka. Defibrillator bifasik menggunakan
teknologi gelombang yang berbeda: baik bifasik terpotong eksponensial (BTE) gelombang atau
gelombang Bifasik kotak. Energi Pada defibrilator monofasik energi yang diberikan 360 joule,
sedangkan pada defibrilator bifasik 200J. Untuk anak-anak, energi yang diperlukan adalah 1-2
joule/kg BB, maksimal 3 j/kg BB. Komplikasi pasca defibrilasi adalah henti jantung-nafas dan
kematian, anoxia cerebral sampai dengan kematian otak, gagal nafas, asistole, luka bakar, hipotensi,
disfungsi pace-maker DAFTAR PUSTAKA 1. Ashok K Kondur. Defibrilation and cardioversion .
[internet] 2012 Desember Available from : http://emedicine.medscape.com/article/80564-overview,
Cited on 28 July 2013 2. Karo Karo S, Rahajoe Anna U, Sulistyo Sigit, Kosasih A. Bantuan hidup
Jantung Lanjut Edisi 2011. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 2011 :
24 – 31. 3. Scheidt S . Basic Electrocardiography: Abnormalities of Electrocardiographic
Patterns.Ciba : Ciba Pharmaceutical Company, 1994 ; Vol. 6/36 Page 32 . 4. Goldman MJ . Principles
of Clinical Electrocardiography, 12th ed. Los Altos, Cal : Lange Medical Publications, 1998, 460 5.
Rudolph W. Koster. A Randomized Trial Com0paring Monophasic and Biophasic Waveform Shocks
for external Cardioversion of Atrial Fibrillation .[internet] 2004 Available from :
http://www.medscape.com/viewarticle/477538_4, Cited on 28 July 2013 6. Schneider T, Martens PR,
Paschen H, Kuisma M, Wolcke B, Gliner BE, et al. Multicenter, acak, percobaan dikontrol dari 150-J
guncangan biphasic dibandingkan dengan 200 - untuk 360-J guncangan monophasic dalam resusitasi
out-of-rumah sakit korban serangan jantung. Dioptimalkan Respon untuk Penyidik Penangkapan
Jantung (ORCA). Sirkulasi 2000; 102: 1780-7. 7. Mittal S, S Ayati, Stein KM, Schwartzman D, Cavlovich
D, Tchou PJ, dkk. Transthoracic kardioversi fibrilasi atrium: perbandingan kotak guncangan sinus
biphasic dibandingkan teredam gelombang Monophasic. Sirkulasi 2000; 101: 1282-7. 8. Walker RG,
Melnick SB, Chapman FW, Walcott GP, PW Schmitt, Ideker RE. Perbandingan enam defibrillator
eksternal klinis digunakan pada babi. Resusitasi 2003; 57: 73-83. 9. Karo Karo S, Rahajoe Anna U,
Sulistyo Sigit, Kosasih A. Bantuan hidup Jantung Dasar Edisi 2011. Jakarta : Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 2011 : 10 - 23 10. Niemann JT, Walker RG, Rosborough
JP. Ischemically Induced Ventricular Fibrilasi (VF): Sebuah Perbandingan defibrilasi Energi Tetap dan
Meningkat. Acad Pgl Med 2003; 10: 454. 11. Sean C Beinart, MD, FACC, FHRS. Synchronized electical
cardioversion.[internet] 2013 Juni Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/1834044-overview#a15, Cited on 28 July 2013 *Coassistant
Anestesi FK Universitas Tarumanagara periode 22 Juli 2013 – 10 Agustus 2013 **Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif BLU RSUD Kota Semarang 1 2

Recommended

Sorority Appearance Guidelines

I cannot stress how important Spanx are.

Exit 6 Starbucks letter

A Cottleville watering hole has written an open letter to Starbucks and mailed a check for $6
after receiving a cease and desist letter from the coffee chain over the use…
Postal Service traffic ticket tussle

The Jan. 22 and Jan. 31 letters between American Traffic Solutions and the U.S. Postal
Service regarding unpaid traffic infractions by mail carriers in East Cleveland, Ohio.

Jade Helm Martial Law WW3 Prep Document 1

Please see original article at All News Pipeline: http://www.allnewspipeline.com/index.php?


pr=Jade_Helm_2015Two month long WW3 -martial law exercises to be held in 7 southern…

Adam Lanza Search Warrants

Police warrants and evidence logs from the search of Newtown school shooter Adam Lanza’s
home and car. A Connecticut court made the documents public on Thursday. Not included…
Beats3

Beats3

Gerald Gerald Conti’s retirement letterConti Letter

Westhill High School history teacher Gerald “Jerry” Conti’s retirement letter decrying the
changes in education has been a big hit on the Internet.

Marin PD on Williams

Robin Williams investigation


The 2012 Debates - Memorandum of Understanding Between the Obama and
Romney Campaigns

Before the 2012 Debates, there was the 'Memorandum of Understanding Between the Obama
and Romney Campaigns' - an agreement that establishes the rules of the debates…

All About Beer

View more

Anda mungkin juga menyukai