Anda di halaman 1dari 77

Politik devide et impera

Belanda datang ke Indonesia dengan membawa Politik devide et impera dengan tujuan untuk
menggagalkan berdirinya Indonesia pasca kemerdekaan 1945.
Politik Devide et impera adalah strategi memecah belah suatu bangsa agar bisa ditaklukkan dengan
tujuan untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi
kelompok-kelompok kecil agar lebih mudah untuk dikuasai.
Selama 1947–1948, ketika Belanda datang lagi ke Indonesia, Belanda membentuk negara boneka
dengan menjanjikan kemerdekaan terhadap beberapa negara boneka yang telah dibuatnya, diantaranya
Negara Indonesia Timur (sekarang Papua), Negara Sumatera Timur, Negara Madura, Negara
Pasundan, Negara Sumatra Selatan, dan Negara Jawa Timur.
“Mengapa Belanda mempraktikan devide et impera?”
Pengertian secara definitif Divide et impera atau Politik pecah belah adalah kombinasi strategi politik,
militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah
kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain,
politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah
kelompok besar yang lebih kuat.
Apabila kita membaca sejarah bangsa ini maka kita akan tahu mengapa hal ini terjadi. Terdapat satu
komunitas yang terus menerus berjuang sementara di sisi yang lain berbaris komunitas-komunitas
yang sedang asyik menikmati rejeki hasil pengkhianatan. Lucunya, dengan enteng kita mengatakan
semuanya akibat politik divide et impera. Selalu orang lain yang disalahkan dan bukan mengapa kita
bisa diadu domba.
Perlawanan di berbagai daerah itu antara lain Perang Saparua, Maluku (1817) di bawah pimpinan
Pattimura. Perang Padri (1821 – 1837) di Sumatera Barat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.
Di Jawa muncul Perang Diponegoro (1825—1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, didukung
oleh Kyai Maja, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, dan Pangeran Mangkubumi. Perang Aceh (1873 –
1904) yang melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak
Dien, Teuku Ibrahim, dan Teuku Umar. Tokoh perlawanan dalam Perang Banjar, Kalimantan (1858 –
1866) adalah Pangeran Prabu Anom, Pangeran Hidayat, dan Pangeran Antasari. Tokoh Perlawanan di
dalam Perang Jagaraga, Bali (1849 – 1906) adalah Raja Buleleng, Gusti Gde Jelantik, dan Raja
Karangasem, dan sebagainya. Ini adalah bukti dari satu komunitas yang terus menerus berjuang
mempertahankan eksistensi idiologi dan politik yang tak sudi di rebut oleh tangan penjajah.
Ketika belajar sejarah, kita tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya dan dicerahkan pemikiran
kita untuk bertanya, “Mengapa Belanda mempraktikan devide et impera?” Belanda tentu tidak bodoh,
antropolog, sejarawan dan ilmuwan humaniora terbaik yang ada di seluruh Negeri Belanda tentunya
telah dipekerjakan untuk meneliti watak khas orang Indonesia sebelum Pemerintah Belanda
mengimplementasikan sebuah kebijakan.
“Batu turun keusik naek”
Tidak akan ada suatu kebijakan politik yang berhasil tanpa ada unsur pendukungnya, bagaimana pun
baiknya suatu kebijakan politik kalau tanpa partisipasi politik maka akan gagal total dan sebaliknya
sejelek-jeleknya kebijakan politik tetapi kalau ada unsur pendukung yang mengsukseskannya
tentunya kebijakan tersebut akan berjalan dengan sendirinya. Politik devide et impera adalah produk
penjajah yang tak kan sukses kalo tidak ada pihak yang bodoh dan haus kekuasaan sehingga mereka
lebih suka bekerja sama dengan Belanda selama mereka (bersama Belanda) dapat menjajah rakyat di
Nusantara ini.

Wilayah Perairan Teritorial Indonesia ketika merdeka


Pada 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada saat itu,
perairan yang termasuk kawasan Indonesia masih didasarkan pada Territoriale Zee en Maritieme
Kringen Ordonantie (TZMKO), 1939 (Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim, 1939).
Hukum laut tersebut merupakan produk hukum zaman Hindia Belanda. Berdasarkan hukum tersebut,
batas wilayah teritorial laut Indonesia hanya sebesar 3 mil (4,8 km) dari garis pantai. Jadi sebagian
besar perairan yang berada di antara pulau-pulau di Indonesia itu merupakan perairan internasional.
Berdasarkan konsep hukum laut TMZKO, perairan internasional yang berada di antara pulau-pulau
Indonesia malah dirasa menjadi sebagai pemisah antara wilayah Indonesia itu sendiri. Selain itu,
konsep ini juga dapat menjadi ancaman bagi keamanan dan keutuhan negara Indonesia. Sedangkan

1
dalam UUD 1945 juga tidak ada pembahasan mengenai batas wilayah Indonesia. Secara politik dan
ekonomi pun, Indonesia mengalami kerugian bila masih menggunakan konsep hukum laut TMZKO.
Oleh karena itu, pada tanggal 13 Desember 1957, dicetuskanlah sebuah deklarasi mengenai batas laut
Indonesia oleh Perdana Menteri RI yang menjabat yaitu Ir. Juanda Kartawijaya. Deklarasi tersebut
berisikan sebagai berikut,
“Semua perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau- pulau
yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya,
adalah bagian dari wilayah Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari
perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak Negara Republik Indonesia”.
Batas laut teritorial Indonesia juga mengalami perubahan. Semula, batas wilayah laut teritorial yang
hanya berjarak 3 mil, berubah menjadi 12 mil. Jarak tersebut diukur dari garis yang menghubungkan
titik-titik ujung terluar pada pulau-pulau terluar dari wilayah negara Indonesia pada saat air laut surut.
Deklarasi secara unilateral atau sepihak ini selanjutnya dikenal dengan Deklarasi Juanda. Kemudian,
deklarasi tersebut disahkan melalui UU No. 4/PRP/Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia. Oleh
karena itu, wilayah laut Indonesia yang semula 1 juta km persegi bertambah menjadi 3,1 juta km
persegi.
Setelah Deklarasi Juanda, banyak negara lain yang tidak setuju dengan konsep tersebut. Tantangan
tersebut umumnya dari negara yang memiliki kepentingan maritim dan merasa terganggu. Sehingga,
pemerintah Indonesia terus berjuang dengan mengerahkan ahli hukum lautnya dalam forum-forum
internasional supaya konsepsi Wawasan Nusantara dapat diakui oleh negara lain.
Konvensi PBB ke-1
Pada Konvensi PBB ke-1 merupakan perjuangan pertama dari Indonesia untuk membawa konsepsi
Wawasan Nusantara. Konferensi ini dilaksanakan di Jenewa pada Februari 1958 yang membahas
tentang Hukum Laut. Namun, pihak oposisi yang terlalu kuat menyebabkan Indonesia menarik lagi
usulannya sebelum ditolak secara resmi oleh dunia internasional. Oleh karena itu pemerintah
Indonesia kembali mematangkan konsepnya secara internal sebelum diajukan lagi di konferensi
internasional.
Konvensi PBB ke-2
Konvensi PBB ke-2 tentang Hukum Laut kembali dilaksanakan di Jenewa pada April 1960.
Sementara itu, Indonesia telah mengesahkan isi Deklarasi Juanda melalui UU No. 4/PRP/Tahun 1960
tentang Perairan Indonesia pada Februari 1960. Pada konferensi kedua ini, pembahasan lebih
dipusatkan pada batas terluar dari laut wilayah yang juga gagal mencapai kesepakatan. Dan
pemerintah Indonesia tetap menjalankan undang-undang yang telah disahkan sebelumnya meskipun
mendapatkan protes dari dunia maritime internasional.
Konvensi PBB ke-3
Konvensi Hukum Laut Internasional PBB ke-3 berlangsung dari 1973 hingga 1982. Pada Pertemuan
Konvensi Hukum Laut PBB ke-3 United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS)
tanggal 10 Desember 1982 di Montego Bay, Jamaika. Pada pertemuan itu, konsep Wawasan
Nusantara akhirnya diakui dunia sebagai The Archipelagic Nation Concept. Melalui UNCLOS 1982,
luas wilayah Indonesia bertambah menjadi 5,8 juta km persegi yang terdiri dari laut teritorial dan
perairan pedalaman seluas 3,1 juta km persegi dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas 2,7 juta km
persegi. UNCLOS 1982 ini kemudian diratifikasi oleh Indonesia melalui UU No. 17 tahun 1985 yang
berisi:
Indonesia sebagai Negara Kepulauan
Panjang garis pangkal kepulauan sampai dengan 100 mil laut
Sebanyak 3% dari jumlah garis pangkal kepulauan diperbolehkan sampai dengan 125 mil laut
Landas kontinen boleh sampai dengan 200 mil laut
Landas kontinen boleh diperluas sampai di luar 200 mil laut dengan adanya bukti
Status perairan pedalaman menjadi perairan kepulauan
sejarah perkembangan wilayah perairan Indonesia
Peta Wilayah Indonesia berdasarkan UNCLOS 1982 (Nontji, 2017)
Perubahan-Perubahan Lainnya
PP No 61 Tahun 1998
Pada tahun 1998, dikeluarkan Peraturan Pemerintah No 61 Tahun 1998. Dalam peraturan ini
disebutkan bahwa garis-garis pangkal kepulauan di Laut Natuna ditarik dari titik-titik terluar pada

2
garis air rendah pulau-pulau terluar. Sehingga wilayah laut Indonesia bertambah dengan penutupan
kantung Natuna.
PP No 38 Tahun 2002
Berdasarkan keputusan The International Court of Justice (ICJ) pada tanggal 7 Desember 2002
menyatakan bahwa kedaulatan atas Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan dimiliki oleh Malaysia.
PP No. 37 Tahun 2008
Bentuk penyempurnaan PP No. 38 Tahun 2002 dalam hal perubahan garis pangkal di Laut Sulawesi,
sekitar Pulau Timor, dan di selatan Pulau Jawa.
2011, Penambahan Landas Kontinen
Penambahan Landas Kontinen di area sebelah Barat Laut Sumatra yang disahkan tanggal 28 Maret
2011. Berdasarkan hal tersebut, luas wilayah yurisdiksi landas kontinen Indonesia bertambah seluas
4.209 km persegi.
Nah, begitulah kira-kira sejarah perkembangan wilayah perairan Indonesia. Dengan mengetahui
seberapa besarnya perjuangan pemerintah Indonesia dahulu kala untuk memperjuangkan konsepsi
negara Kepulauan ini, semoga membuat kita semakin mau mencintai dan menjaga keutuhan tanah air.

Sejarah Lengkap Peristiwa Bandung Lautan Api

Siapa yang tidak pernah mendengar istilah Bandung Lautan Api? Peristiwa bandung lautan api
merupakan salah satu peristiwa sejarah yang sangat populer. Peristiwa sejarah ini terjadi saat
Indonesia sedang menghadapi upaya untuk mempertahankan kemerdekaannya pasca proklamasi
kemerdekaan tahun 1945.
Bandung Lautan Api adalah sebuah sebutan untuk peristiwa terbakarnya kota Bandung, Provinsi Jawa
Barat, Indonesia dalam upaya menjaga kemerdekaan Indonesia. Pembakaran ini dilakukan oleh
masyarakat Bandung sebagai bentuk respon atas ultimatum oleh sekutu yang memerintahkan untuk
mengosongkan Bandung.
Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada bulan Maret 1946. Sejarah besar ini dilakukan oleh para
masyarakat Bandung yang jumlahnya sekitar 200.000 orang. Dalam waktu tujuh jam, mereka
melakukan pembakaran rumah serta harta benda mereka sebelum akhirnya pergi meninggalkan
Bandung.
Latar Belakang Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api ini dilatarbelakangi oleh banyak hal, yaitu Brigade Mac Donald atau
sekutu menuntut para masyarakat Bandung agar menyerahkan seluruh senjata dari hasil pelucutan
jepang kepada pihak sekutu. Sekutu mengeluarkan ultimatum yang berisi memerintahkan agar kota
Bandung bagian utara dikosongkan dari masyarakat Indonesia paling lambat tanggal 29 November
1945. Sekutu membagi Bandung menjadi dua sektor, yaitu sektor utara serta sektor selatan. Rencana
pembangunan kembali markas sekutu di Bandung.
Kronologi Terjadinya Bandung Lautan Api
Kronologi Bandung Lautan Api bisa dirunut dari peristiwa saat pasukan sekutu mendarat di Bandung.
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada Oktober 1945. Para pejuang
Bandung saat itu tengah gencar-gencarnya merebut senjata serta kekuasaan dari tangan Jepang.
Hubungan pemerintah RI dengan sekutu juga sedang tegang. Di saat seperti itu, pihak sekutu
menuntut agar seluruh senjata api yang ada di tangan masyarakat, kecuali TKR serta polisi,
diserahkan pada pihak sekutu.
Tetapi, sekutu yang baru tiba ini meminta pihak Indonesia untuk menyerahkan seluruh senjata hasil
pelucutan Jepang ini. Hal ini ditegaskan lewat ultimatum yang dikeluarkan pihak Sekutu. Isi
ultimatum itu yaitu agar senjata hasil pelucutan Jepang segera diserahkan pada Sekutu serta
masyarakat Indonesia segara mengosongkan kota Bandung paling lambat tanggal 29 November 1945
dengan alasan untuk keamanan rakyat.
Ditambah lagi, orang- orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan juga mulai melakukan
tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan rakyat. Hal semacam ini juga semakin mendorong
adanya bentrokan bersenjata pada Inggris serta TKR (Tentara Keamanan Rakyat) jadi tidak dapat
dijauhi.

3
Saat malam tanggal 21 November 1945, TKR serta sebagian badan perjuangan Indonesia
melancarkan serangan pada kedudukan-kedudukan Inggris di wilayah Bandung bagian utara. Hotel
Homann serta Hotel Preanger yang dipakai musuh sebagai markas juga tidak luput dari serangan.
Menanggapi serangan ini, tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum pada Gubernur
Jawa Barat. Ultimatum ini berisi agar Bandung Utara dikosongkan oleh masyarakat Indonesia,
termasuk juga dari pasukan bersenjata.
Masyarakat Indonesia yang mendengar ultimatum ini tak menghiraukannya. Karena itu, pecahlah
pertempuran pada sekutu serta pejuang Bandung di tanggal 6 Desember 1945.
Lalu, di tanggal 23 Maret 1946, sekutu kembali mengulang ultimatumnya. Sekutu memerintahkan
agar TRI (Tentara Republik Indonesia) segera meninggalkan kota Bandung. Mendengar ultimatum
itu, pemerintah Indonesia di Jakarta kemudian menginstrusikan agar TRI mengosongkan kota
Bandung untuk keamanan rakyat.
Walau demikian, perintah ini berbeda dengan yang diberikan dari markas TRI di Yogyakarta. Dari
Yogyakarta, keluar instruksi agar terus bertahan di Bandung. Dalam masa ini, sekutu juga membagi
Bandung dalam dua sektor, yaitu Bandung Utara serta Bandung Selatan. Lalu, sekutu meminta
masyarakat Indonesia untuk meninggalkan Bandung Utara.
Kondisi di kota Bandung jadi semakin genting. Situasi kota ini jadi mencekam serta dipenuhi orang
-orang yang panik. Para pejuang juga bingung dalam mengikuti instruksi yang berbeda dari pusat
Jakarta serta Yogyakarta. Pada akhirnya, para pejuang Indonesia memutuskan untuk melancarkan
serangan besar-besaran pada sekutu di tanggal 24 Maret 1946.
Para pejuang Indonesia menyerang pos-pos sekutu. Mereka juga membakar semua isi kota Bandung
Utara. Setelah berhasil membumihanguskan kota Bandung Utara, barulah mereka pergi
mengundurkan diri dari Bandung Utara. Aksi ini dilakukan oleh 200.000 orang selama 7 jam.
Keadaan Bandung yang dipenuhi dengan kobaran api laksana lautan inilah yang membuat peristiwa
tersebut dijuluki dengan sebutan Bandung Lautan Api.
Tujuan Membakar Bandung
Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung dan lalu meninggalkannya dengan alasan
tertentu. Maksudnya yaitu untuk mencegah tentara Sekutu serta tentara NICA Belanda dalam
memakai kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam Perang Kemerdekaan
Indonesia.
Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung dan lalu meninggalkannya dengan alasan
tertentu. Maksudnya yaitu untuk mencegah tentara Sekutu serta tentara NICA Belanda dalam
memakai kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam Perang Kemerdekaan
Indonesia.
Operasi pembakaran Bandung ini dikatakan sebagai operasi “bumihangus”. Keputusan untuk
membumihanguskan kota Bandung diambil lewat musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan
Priangan (MP3), yang dilakukan di depan seluruh kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia,
tanggal 23 Maret 1946.
Hasil musyawarah itu lalu diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion sebagai Komandan
Divisi III TRI. Ia juga memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Lalu, hari itu juga, rombongan besar
masyarakat Bandung mengalir. Pembakaran kota berlangsung malam hari sambil para penduduknya
pergi meninggalkan Bandung.

Sejarah Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki (1945 M)


Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki merupakan salah satu peristiwa paling menentukan dalam
Perang Dunia II di wilayah Pasifik. Serangan bom atom di dua kota itu seketika menghancurkan
mental pasukan Jepang yang sebelumnya enggan untuk menyerah. Di sisi lain, peristiwa itu juga
memakan banyak korban jiwa yang mayoritas berasal dari penduduk sipil. Tercatat ratusan ribu jiwa
menjadi korban dari ledakan bom atom itu, ditambah dengan kerusakan infrastruktur dan radiasi yang
dihasilkan. Sehingga tidak mengherankan muncul berbagai pro dan kontra seputar peristiwa
Hiroshima dan Nagasaki.
Latar Belakang Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki
Pada musim panas 1945, Perang Dunia II di wilayah Pasifik hampir berakhir. Sejak Desember 1941,
Amerika Serikat mulai memukul mundur pasukan Jepang hingga hanya tanah air mereka sendiri yang

4
tetap berada dalam kendali. Amerika Serikat bersiap meluncurkan invasi ke Jepang untuk mengakhiri
perang.
Sambil bersiap melakukan invasi, pada 26 Juli presiden A.S. Harry S. Truman dan perdana menteri
Inggris Clement Attlee, dengan presiden Nasionalis China Chiang Kai-shek, bersama-sama
mengeluarkan Deklarasi Potsdam. Deklarasi ini berisi seruan penyerahan tanpa syarat dari Jepang dan
mencantumkan persyaratan perdamaian tambahan.
Pada titik ini Truman tahu bahwa tes bom atom pertama di Alamogordo, New Mexico, telah berhasil
10 hari sebelumnya. Tes tersebut merupakan puncak dari proyek rahasia selama tiga tahun AS.
Reaktor atom buatan manusia pertama dibangun di lapangan squash, Universitas Chicago pada tahun
1942. Reaktor yang lebih canggih dibangun di Hanford, sekaligus sebagai tempat produksi plutonium.
Uji pertama bom plutonium dilakukan di Alamogordo pada tanggal 16 Juli 1945.
Meskipun Deklarasi Potsdam telah menjelaskan bahwa Jepang akan menghadapi konsekuensi berat
jika mereka memilih untuk melanjutkan perang, pada akhirnya Jepang tetap menolak ultimatum
tersebut.
Truman lalu memerintahkan penggunaan bom atom yang telah dites sebelumnya. Sekretaris Perang
AS, Henry L. Stimson, menganggap penggunaan bom tersebut lebih baik daripada mengorbankan
kehidupan pasukan A.S untuk invasi.
Penasihat militer Truman telah mengindikasikan bahwa invasi ke Jepang dapat mengakibatkan
hilangnya setengah juta tentara A.S. ditambah jutaan kehidupan militer dan sipil Jepang. Truman
menginginkan perang usai, dan ia menginginkan pukulan yang semaksimal mungkin untuk
mengakhiri perang tanpa invasi.
Militer A.S. memilih kota Hiroshima dan Kokura sebagai sasaran, karena keduanya termasuk di
antara kota-kota Jepang yang sejauh ini lolos dari serangan bom A.S. dan Sekutu.
Pada tanggal 6 Agustus 1945 tepatnya pukul 09.15 pagi waktu Tokyo, pesawat pembom B-29 Enola
Gay, yang dikemudikan oleh Paul W. Tibbets, terbang di langit Hiroshima. Misi Hiroshima adalah
untuk mengejutkan Tokyo agar menerima syarat penyerahan tanpa syarat Deklarasi Potsdam. Tanpa
disangka pemerintah Jepang, pesawat itu menjatuhkan sebuah bom atom uranium bernama Little Boy
di Hiroshima. Dalam hitungan menit, kota terbesar ketujuh Jepang telah rata dengan tanah dan ribuan
orang menjadi korban.
Hiroshima sebelum dan sesudah terkena bom atom
Di hari yang sama, bom lain disiapkan di Pulau Tinian untuk target kedua. Pada tanggal 9 Agustus,
pesawat B-29 Bock’s Car bersiap untuk mengebom Kokura. Namun, asap yang mengepul di atas
sasaran menyebabkan pilot Sweeney mencari target alternatif lain yaitu Nagasaki.
Kota industri Nagasaki hancur akibat bom yang diberi nama “Fat Man” pada pukul 11:02 pagi. Bom
itu meledak pada ketinggian1.800 kaki untuk memaksimalkan dampak ledakan tersebut. Fat Man
meratakan bangunan, menghancurkan sistem kelistrikan, dan menimbulkan kebakaran. Bom tersebut
menghancurkan 39 persen kota Nagasaki, dan memakan korban ribuan penduduk.
Secara keseluruhan dua bom atom tersebut menewaskan 210.000 orang Jepang – 140.000 di
Hiroshima dan 70.000 di Nagasaki.Dua pertiga di antaranya adalah wanita, anak-anak, dan orang tua.
Sementara jumlah korban dari militer dan tahanan asing tidak diketahui secara pasti.
Bom tersebut menghasilkan kebakaran, tekanan ledakan, dan tingkat radiasi yang sangat tinggi.
Keduanya diledakkan sekitar 600 meter di atas permukaan tanah, sehingga kontaminasi di bawah
tanah menjadi minim. Curah hujan selanjutnya mendepositkan bahan radioaktif ke timur Nagasaki
dan barat dan barat laut Hiroshima, namun sebagian besar bahan radioaktif terbawa ke atmosfer oleh
ledakan itu sendiri.
hiroshima dan nagasaki
Bom Nagasaki
Rata-rata korban tewas akibat terbakar, hasil dari panas yang diakibatkan ledakan tersebut. Orang-
orang meninggal saat rumah mereka meledak. Sementara yang lainnya terluka akibat terkena puing-
puing yang berterbangan.
Di Hiroshima, kira-kira 30 detik setelah bom diledakkan sebuah badai api muncul di tengah
kehancuran. Orang-orang yang berada dalam jarak 300 kaki dari titik ledakan menguap seketika.
Ledakan dan panas juga menanggalkan kulit dari tubuh, melelehkan bola mata, dan meledakkan perut.
Kematian akibat radiasi di tahun-tahun berikutnya mencapai sekitar 120.000 jiwa.

5
Radiasi yang parah menghasilkan kematian dalam beberapa hari. Cedera karena radiasi parah diderita
oleh semua orang dalam radius satu kilometer. Untuk jarak satu sampai dua kilometer mengalami
cedera serius hingga sedang. Sementara untuk radius dua sampai empat kilometer rata-rata mengalami
cedera ringan.
Selain 103.000 yang terbunuh oleh bom dalam empat bulan pertama, 400 lainnya meninggal karena
kanker dan leukemia selama 30 tahun berikutnya. Bom juga menghasilkan cacat lahir dan kematian
ketika melahirkan. Anak-anak korban selamat tampaknya tidak menderita kerusakan genetik. Pada
tahun 2004, sekitar 93.000 korban selamat terus dipantau.
Pro dan Kontra Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki
Pada tanggal 2 September 1945, pemerintah Jepang menyerah tanpa syarat. Winston Churchill
menganggap bahwa bom tersebut telah menyelamatkan nyawa 250.000 pasukan Inggris dan 1 juta
pasukan Amerika.
Sementara Presiden AS, Harry Truman, berargumen bahwa bom tersebut akan menyelamatkan
setengah juta tantara. Namun, argumen itu tidak meyakinkan para kritikus, yang sejak bertahun-tahun
telah mencatat bahwa orang Jepang siap untuk meminta perdamaian sebelum bom tersebut dijatuhkan
dan telah mencari jalan damai di bulan-bulan sebelumnya.
Bagi para kritikus, alasan sebenarnya dari penggunaan bom atom itu adalah keinginan Truman untuk
mengintimidasi dan membuat Uni Soviet terkesan. Seperti yang telah diketahui , pada akhir Perang
Dunia II Uni Soviet sudah berpindah dari sekutu menjadi saingan terbesar Amerika. Truman ingin
mengakhiri perang sebelum Soviet bisa memasuki Perang Pasifik dan mengajukan klaim atas
penyelesaian pascaperang.
Bom Hiroshima menggunakan 60 kilogram uranium-235 yang diperkaya untuk menghancurkan
sekitar 90 persen kota. sementara Bom Nagasaki menggunakan 8 kilogram plutonium-239. Bom-bom
itu seribu kali lebih kuat dari yang meledak sebelumnya. Empat tahun kemudian Amerika Serikat
meledakkan bom hidrogen pertama, dan tidak lama kemudian ada bom yang seribu kali lebih kuat
daripada yang dijatuhkan di Hiroshima.

Keikutsertaan KTN (Komisi Tiga Negara) Dalam Menyelesaikan Permasalahan Agresi Militer
SILVIA NORA / SI V/B

Serangan pasukan militer gabungan darat, laut, dan udara Belanda ke Djokjakarta dan daerah
Republik pada saat itu bertumpu sepenuhnya kepada unsur pendadakan strategis. Bahkan agar tidak
memancing perhatian negara-negara lain, serangan militer dengan nama sandi Operatie Kraai tersebut
sengaja disebut dengan istilah aksi polisionil. Operasi keamanan dan ketertiban dalam negeri. Selain
itu, agresi tersebut sengaja dilakukan menjelang hari libur Natal, di mana umumnya selalu menjadi
liburan panjang akhir tahun, sampai usai perayaan tahun baru. [1] Peluang inilah yang dimanfaatkan
oleh Letnal Jenderal Simon Spoor. Dia telah memperhitungkan, kalaupun sampai muncul reaksi,
spoor yakin semuanya bakal terlambat. Dengan demikian, dia akan bisa memaksa masyarakat
internasional menerima sebuah kenyataan kalau dia telah menguasai wilayah yang ditaklukannya.
Tujuan utama belanda melakukan serangan agresi militernya atas Republik Indonesia yang dimulai
sejak 21 juli 1947 adalah untuk menghancurkan pemerintahan Republik Indonesia dan menduduki
kota-kota yang ada di pulau jawa, Sumatra, dan Madura yang menurut isi perjanjian linggarjati masuk
pada wilayah Republik Indonesia.[2] Untuk mencapai tujuan tersebut, Belanda tidak bisa
melakukannya sekaligus, karena itu pada tahap pertama Belanda harus mencapai sasaran sebagai
berikut: 1. Politik, yaitu pengepungan ibukota RI dan penghapusan RI dari peta (menghasilkan de
facto RI) 2. Ekonomi, yaitu merebut daerah-daerah penghasil bahan makanan (daerah beras di Jawa
Barat dan Jawa Timur) dan bahan ekspor (perkebunan di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera serta
pertambangan di Sumatera) 3. Militer, yaitu penghancuran TNI.[3] Serangan yang dilakukan Jenderal
Spoor yaitu Operasi Kraai bersifat sapu bersih, pasukan republik harus langsung dihabisi, agar mereka
tidak sempat mengulur-ulur waktu. Kuncinya, bertumpu sepenuhnya kepada unsur pendadakan, sekali
pukul dan berlangsung cepat. Sejak awal jenderal spoor menyadari bahwa serangannya harus bisa
dengan sekali pukul, oleh karena itu dia juga sadar bahwa mata dunia tim pemantau genjatan senjata
dengan membawa mandate dari Dewan Keamanan, justrus sedang berada dipusat serangan. Dari hasil
pengamatan dari komisi konsuler mengatakan bahwa pada tanggal 30 juli sampai tanggal 4 agustus
1947 pihak dari belanda masih melakukan agresi militer terhadap Indonesia. Amerika serikat

6
mengusulkan kepada PBB agar membentuk komisi untuk mengawasi penghentian permusuhan antara
belanda dengan bangsa Indonesia, akhirnya dewan keamanan PBB menyetujui permintaan dari
amerika serikat. Belanda dan Indonesia diberi kesempatan untuk memilih satu negara sebagai wakil
untuk menjadi anggota komisi, australia yang diwakili oleh Richard Kirby yang dipilih oleh Indonesia
sebagai wakil untuk menjadi anggota komisi, sedangkan belanda diwakili oleh paul van zeeland dari
belgia. Austarlia dan belgia menunjuk amerika serikat sebagai penengah yang diwakili oleh Dr frank
graham dan komisi ini dikenal dengan komisi tiga negara (KTN). [4] Tim tersebut terdiri dari tiga
perutusan tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Australia, dan Belgia, dipimpin secara bergiliran dan
pada saat itu dipimpin diplomat senior asal AS, Merle Cochran. Pada akhir tahun tersebut, lewat
program bantuan Marshall yang digagas oleh Amerika Serikat, negara adidaya tersebut sedang
berusaha membangun kembali perekonomian Eropa Barat, termasuk Negeri Belanda, yang masih
porak poranda akibat Perang Dunia II. "Memalukan…" komentar Merle Cochran, sesudah
mengetahui tentara Belanda, tiba-tiba melanggar perjanjian gencatan senjata Renville dan malahan
langsung mendobrak garis demarkasi. Dalam pandangan pribadinya, sikap yang diambil Belanda
adalah tidak tahu malu,"… tangan kanan mereka masih sibuk menerima dana dari Marshall Plan,
tangan kirinya memukul Republik." Merle Cochran berusaha mencegah terjadinya perpecahan antara
Belanda dan Republik, tetapi perang akhirnya terjadi kembali. Sebelum pasukan komando KL bisa
sepenuhnya menguasai Djokja, dari Batavia Merle Cochran mengirim laporan kepada Dewan
Keamanan di Paris dan menguraikan sejumlah pelanggaran yang dilakukan tentara Belanda, dalam
posisinya selaku ketua bergilir KTN. Aksi pendadakan yang dikerjakan anggota jenderal spoor bukan
saja berubah jadi berantakan, tetapi juga menjadi bumerang dan tidak bisa meraih hasil, sebagaimana
yang telah direncanakan. Masyarakat dunia yang tinggal jauh dari area konflik juga terkejut karena
hampir semua Koran di Paris terbit dengan judul, "Pertempuran Kembali Berkobar di Jawa."
Djokjakarta pada saat malam hari, dalam waktu singkat memang bisa disergap oleh tentara Belanda.
Termasuk keberhasilan mereka meringkus Presiden Soekarno dan sejumlah pemimpin Republik
lainnya. Tetapi di kota Solo, yang hanya terpisah dalam jarak 60 km dari Djokja, operasi kraai
menerima kenyataan sangat buruk. Mereka terlambat mendobrak karena kendala hujan lebat,
jembatan-jembatan telah dihancurkan dan sengitnya perlawanan pasukan Republik. Kota terbesar
kedua di wilayah Republik tersebut telah terlanjur dibumihanguskan. Hampir semua bangunan
strategis dihancurkan, hanya disisakan rumah sakit, bangunan-bangunan keagamaan berikut keraton
soesoehoenan serta poero Mangkoenegaran. Kondisi tersebut semakin bertambah buruk karena
harapan jenderal spoor masyarakat dunia bakal bereaksi lambat tetapi malah sebaliknya. Laporan
mengenai serangan tersebut, berkat adanya beda waktu sekitar lima jam antara Batavia dan Paris,
telah sampai lebih dahulu di Dewan Keamanan, sebelum hari pertama pertempuran selesai. Jenderal
spoor semakin kaget karena di Paris Dewan Keamanan telah mendesak pemerintahan Belanda untuk
menjamin keselamatan anggota KTN beserta staf mereka yang sedang terjebak di Kalioerang. Posisi
terpojok berimbas kepada Wakil tetap belanda di Dewan Keamanan, Dr. JH Van Roijen. Lewat
telepon , Dewan Keamanan mendesak agar pemerintah Belanda bertanggung jawab atas nasib seluruh
kontingen antarbangsa, yaitu para anggota KTN. Sementara itu, ketiga delegasi Republik:
Mr.Soedjono, Prof. Soepomo bersama Joesoef Ronodipoero telah selesai merumuskan laporan untuk
dikirimkan kepada Duta Besar Dr. Soedarsono dan Menteri Keuangan Mr. Alex Maramis di New
Delhi, sekitar pernyataan Belanda tidak lagi mengakui Perjanjian Renville. Dalam kata lain, perang
bisa dipastikan bakal segera meletus. Laporan tersebut berhasil dikirim ke New Delhi lewat bantuan
Konsultan India di Batavia. Salah satu siaran radio, All India Radio telah memberitakan terjadinya
serangan mendadak ke Djokjakarta berdasarkan release Kedutaan Besar Republik di New Delhi.
Berita tersebut langsung dikutip oleh radio berbagai negara,sehingga membuka mata masyarakat
seluruh dunia, bahwa pertempuran telah berkobar kembali di Pulau Jawa. Berita tersebut juga
mengejutkan Nehru, Perdana Menteri India, karena pesawat terbang yang ia kirim ke Djokjakarta
menjeput Persiden Soekarna, masih tertahan di Singapura akibat terjadinya kerusakan teknis. Tetapi,
Nehru tidak membiarkan jatuhnya pemerintahan Republik berlalu begitu saja, melainkan ia langsung
melontarkan gagasan menyelengarakan pertemuan antarbangsa, dengan sebuah agenda tunggal,
mengutuk agresi militer ke Djokjakarta. Reaksi dunia terhadap serangan mendadak yang dilakukan
tentara Belanda, diluar dugaan semakin memancing reaksi keras. Impian masyarakat dunia atas
kehidupan yang aman, damai, dan tenteram, sesudah menghalami kehancuran selama perang dunia
empat tahun sebelumnya, ikut memicu timbulnya sentiment negative terhadap Operasi Kraai. Suasana

7
tersebut semakin menjadi, meski pihak belanda berpendapat tahap pertama operasi militer mereka
sudah meraih sukses, ternyata dengan cepat telah berubah, dan justru menebarkan citra yang negatif
dan memalukan. Negara yang sedang dibangun kembali dengan bantuan dana asing akibat perang,
justru telah menyerbu negara lain. Tidak mengherankan kalau pemerintahan belanda segera menuai
kecaman internasional, dan malah harus menerima tuduhan bahwa telah menyelewengkan bantuan
dana dari Amerika Serikat, guna membiayai agresi militer perang kolonial. Jenderal spoor masih
mengulur waktu karena operasi militer yang sedang ia lakukan di jawa dan juga sumatera masih
belum selesai. Tanggal 24 desember, ketika resolusi Dewan Keamanan keluar, sasaean-sasaran utama
Operasi Kraai di Jawa, masih belum bisa mereka taklukan. Sementara itu, Operasi Slot untuk merebut
daerah Banten malah baru saj akan dimulai. Sesudah melihat pihak Belanda belum juga menunjukan
tanda-tanda bersedia melaksanakan resolusi tanggal 24 desember, sehari setelah itu, tanggal 25
desember Dewan Keamanan mengulang kembali resolusi tadi. Bahkan kali ini dengan peringatan
yang keras dan ancaman akan menjatuhkan sanksi internasional, jika Pemerintahan Belanda tetap
tidak mau mengindahkan imbauan Dewan Keamanan. Resolusi ini sekaligus memberi mandat kepada
KTN, untuk secepatnya kembali mengaktifkan Military Executive Board, para perwira militer
pemantau gencatan senjata, yang saat itu masih berada di Batavia. Ternyata, sewaktu menerima
susulan Dewan Keamanan, mungkin karena telah membayangkan beratnya implikasi kalau mereka
masih tetap menolak, sikap pihak Belanda pun seketika juga berubah. Kepada Dewan Keamanan,
Belanda juga berjanji akan segera menghentikan operasi militernya terhadap pasukan TNI.

Persiapan kemerdekaan dilanjutkan oleh PPKI


Persidangan resmi PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945
Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan karena dianggap telah dapat menyelesaikan
tugasnya dengan baik, yaitu menyusun rancangan Undang-Undang Dasar bagi negara Indonesia
Merdeka, dan digantikan dengan dibentuknya "Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia" ("PPKI")
atau dalam bahasa Jepang: Dokuritsu Junbi Inkai dengan Ir. Soekarno sebagai ketuanya.
Tugas "PPKI" ini yang pertama adalah meresmikan pembukaan (bahasa Belanda: preambule) serta
batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Tugasnya yang kedua adalah melanjutkan hasil kerja
BPUPKI, mempersiapkan pemindahan kekuasaan dari pihak pemerintah pendudukan militer Jepang
kepada bangsa Indonesia, dan mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut masalah
ketatanegaraan bagi negara Indonesia baru.
Anggota "PPKI" sendiri terdiri dari 21 orang tokoh utama pergerakan nasional Indonesia, sebagai
upaya untuk mencerminkan perwakilan dari berbagai etnis di wilayah Hindia-Belanda, terdiri dari: 12
orang asal Jawa, 3 orang asal Sumatra, 2 orang asal Sulawesi, 1 orang asal Kalimantan, 1 orang asal
Sunda Kecil (Nusa Tenggara), 1 orang asal Maluku, 1 orang asal etnis Tionghoa. "PPKI" ini diketuai
oleh Ir. Soekarno, dan sebagai wakilnya adalah Drs. Mohammad Hatta, sedangkan sebagai
penasihatnya ditunjuk Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo. Kemudian, anggota "PPKI"
ditambah lagi sebanyak enam orang, yaitu: Wiranatakoesoema, Ki Hadjar Dewantara, Mr. Kasman
Singodimedjo, Mohamad Ibnu Sayuti Melik, Iwa Koesoemasoemantri, dan Mr. Raden Achmad
Soebardjo Djojoadisoerjo.
Secara simbolik "PPKI" dilantik oleh Jendral Terauchi, pada tanggal 9 Agustus 1945, dengan
mendatangkan Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.)
Radjiman Wedyodiningrat ke "Kota Ho Chi Minh" atau dalam bahasa Vietnam: Thành phố Hồ Chí
Minh (dahulu bernama: Saigon), adalah kota terbesar di negara Vietnam dan terletak dekat delta
Sungai Mekong.
Pada saat "PPKI" terbentuk, keinginan rakyat Indonesia untuk merdeka semakin memuncak.
Memuncaknya keinginan itu terbukti dengan adanya tekad yang bulat dari semua golongan untuk
segera memproklamasikan kemerdekaan negara Indonesia. Golongan muda kala itu menghendaki
agar kemerdekaan diproklamasikan tanpa kerjasama dengan pihak pemerintah pendudukan militer
Jepang sama sekali, termasuk proklamasi kemerdekaan dalam sidang "PPKI". Pada saat itu ada
anggapan dari golongan muda bahwa "PPKI" ini adalah hanya merupakan sebuah badan bentukan
pihak pemerintah pendudukan militer Jepang. Di lain pihak "PPKI" adalah sebuah badan yang ada
waktu itu guna mempersiapkan hal-hal yang perlu bagi terbentuknya suatu negara Indonesia baru.
Tetapi cepat atau lambatnya kemerdekaan Indonesia bisa diberikan oleh pemerintah pendudukan
militer Jepang adalah tergantung kepada sejauh mana semua hasil kerja dari "PPKI". Jendral Terauchi

8
kemudian akhirnya menyampaikan keputusan pemerintah pendudukan militer Jepang bahwa
kemerdekaan Indonesia akan diberikan pada tanggal 24 Agustus 1945. Seluruh persiapan pelaksanaan
kemerdekaan Indonesia diserahkan sepenuhnya kepada "PPKI". Dalam suasana mendapat tekanan
atau beban berat seperti demikian itulah "PPKI" harus bekerja keras guna meyakinkan dan mewujud-
nyatakan keinginan atau cita-cita luhur seluruh rakyat Indonesia, yang sangat haus dan rindu akan
sebuah kehidupan kebangsaan yang bebas, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Ir. Soekarno membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah diketik
oleh Mohamad Ibnu Sayuti Melik dan telah ditandatangani oleh Soekarno-Hatta
Sementara itu dalam sidang "PPKI" pada tanggal 18 Agustus 1945, dalam hitungan kurang dari 15
menit telah terjadi kesepakatan dan kompromi atas lobi-lobi politik dari pihak kaum keagamaan yang
beragama non-Muslim serta pihak kaum keagamaan yang menganut ajaran kebatinan, yang kemudian
diikuti oleh pihak kaum kebangsaan (pihak "Nasionalis") guna melunakkan hati pihak tokoh-tokoh
kaum keagamaan yang beragama Islam guna dihapuskannya "tujuh kata" dalam "Piagam Jakarta" atau
"Jakarta Charter".
Setelah itu Drs. Mohammad Hatta masuk ke dalam ruang sidang "PPKI" dan membacakan empat
perubahan dari hasil kesepakatan dan kompromi atas lobi-lobi politik tersebut. Hasil perubahan yang
kemudian disepakati sebagai "pembukaan (bahasa Belanda: "preambule") dan batang tubuh Undang-
Undang Dasar 1945", yang saat ini biasa disebut dengan hanya UUD '45 adalah:
Pertama, kata “Mukaddimah” yang berasal dari bahasa Arab, muqaddimah, diganti dengan
kata “Pembukaan”.
Kedua, anak kalimat "Piagam Jakarta" yang menjadi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,
diganti dengan, “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Ketiga, kalimat yang menyebutkan “Presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam”,
seperti tertulis dalam pasal 6 ayat 1, diganti dengan mencoret kata-kata “dan beragama Islam”.
Keempat, terkait perubahan poin Kedua, maka pasal 29 ayat 1 dari yang semula berbunyi:
“Negara berdasarkan atas Ketuhananan, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya” diganti menjadi berbunyi: “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.
"PPKI" sangat berperan dalam penataan awal negara Indonesia baru. Walaupun kelompok muda kala
itu hanya menganggap "PPKI" sebagai sebuah lembaga buatan pihak pemerintah pendudukan militer
Jepang, namun terlepas dari anggapan tersebut, peran serta jasa badan ini sama sekali tak boleh kita
remehkan dan abaikan, apalagi kita lupakan. Anggota "PPKI" telah menjalankan tugas yang
diembankan kepada mereka dengan sebaik-baiknya, hingga pada akhirnya "PPKI" dapat meletakkan
dasar-dasar ketatanegaraan yang kuat bagi negara Indonesia yang saat itu baru saja berdiri.
Kontingen Garuda disingkat KONGA atau Pasukan Garuda adalah pasukan Tentara Nasional
Indonesia yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Indonesia mulai turut serta
mengirim pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB sejak 1957.
ejarah
Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Mesir segera mengadakan
sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab. Pada 18 November 1946, mereka menetapkan
resolusi tentang pengakuan kemerdekaan RI sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan
tersebut adalah suatu pengakuan de jure menurut hukum internasional.
Untuk menyampaikan pengakuan ini Sekretaris Jenderal Liga Arab ketika itu, Abdurrahman Azzam
Pasya, mengutus Konsul Jenderal Mesir di India, Mohammad Abdul Mun'im, untuk pergi ke
Indonesia. Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh dengan rintangan terutama dari pihak
Belanda maka akhirnya ia sampai ke Ibu Kota RI waktu itu yaitu Yogyakarta, dan diterima secara
kenegaraan oleh Presiden Soekarno dan Bung Hatta pada 15 Maret 1947. Ini pengakuan pertama atas
kemerdekaan RI oleh negara asing.
Hubungan yang baik tersebut berlanjut dengan dibukanya Perwakilan RI di Mesir dengan menunjuk
HM Rasyidi sebagi Charge d'Affairs atau "Kuasa Usaha". Perwakilan tersebut merangkap sebagai
misi diplomatik tetap untuk seluruh negara-negara Liga Arab. Hubungan yang akrab ini memberi arti
pada perjuangan Indonesia sewaktu terjadi perdebatan di forum Majelis Umum PBB dan Dewan
Keamanan PBB yang membicarakan sengketa Indonesia-Belanda, para diplomat Arab dengan gigih
mendukung Indonesia.

9
Presiden Sukarno membalas pembelaan negara-negara Arab di forum internasional dengan
mengunjungi Mesir dan Arab Saudi pada Mei 1956 dan Irak pada April 1960. Pada 1956, ketika
Majelis Umum PBB memutuskan untuk menarik mundur pasukan Inggris, Prancis dan Israel dari
wilayah Mesir, Indonesia mendukung keputusan itu dan untuk pertama kalinya mengirim Pasukan
Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I atau KONGA I.

Pergerakan Nasional di Indonesia, Diawali


Organisasi Budi Utomo

Penulis Serafica Gischa | Editor Serafica Gischa KOMPAS.com - Pergerakan nasional merupakan
istilah yang digunakan pada fase sejarah Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Pergerakan
nasional terjadi dalam kurun waktu 1908-1945. Dalam buku Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia
(2015) karya Ahmadin, 1908 dijadikan sebagai awal pergerakan nasional karena pada masa tersebut
perjuangan yang dilakukan rakyat masuk dalam kategori bervisi nasional. Pergerakan yang dilakukan
untuk menentang kaum penjajah sebelum tahun ini, masih bersifat kedaerahan. Kemudian di 1908
lahir organisasi modern dengan cita-cita nasional. Istilah pergerakan nasional juga digunakan untuk
melukiskan proses perjuangan bangsa Indonesia dalam fase mempertahankan kemerdekaan.
Pergerakan masa ini untuk membendung hasrat kaum koloni yang ingin kembali merebut kekuasaan
Indonesia. Dalam buku Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan (2004)
karya Sudiyo, pergerakan nasional adalah menunjukkan sifat yang lebih aktif dan penuh menanggung
risiko dalam perjuangan. Baca juga: Istana Merdeka: Sejarah dan Tempat Kediaman Resmi Presiden
Munculnya Pergerakan Nasional Pergerakan nasional menjadi wujud protes atas penindasan kaum
kolonial kepada rakyat di Indonesia selama bertahun-tahun. Penyebab terjadinya pergerakan nasional
dibedakan dalam dua kelompok, yaitu: Faktor internal (dalam negeri) Beberapa faktor penyebab
timbulnya pergerakan nasional yang bersumber dari dalam negeri antara lain: Adanya tekanan dan
penderitaan yang berkelanjutan. Rakyat Indonesia harus melawan penjajah. Adanya rasa senasib yang
hidup dalam cengkraman penjajah dan timbul semangat bersatu membentuk negara. Adanya rasa
kedasaran nasional dan harga diri, menyebabkan kehendak untuk memiliki tanah air serta hak
menentukan nasib sendiri. Faktor eksternal (luar negeri) Beberapa faktor eksternal juga mendorong
proses timbulnya pergerakan nasional, di antaranya: Masuknya paham liberalisme dan human rights
Diterapkannya pendidikan sistem barat dalam pelaksanaan Politis Etis pada 1902. Sehingga
menimbulkan wawasan luas bagi pelajar Indonesia. Kemenangan jepang terhadap Rusia tahun 1905,
yang membangkitkan rasa percaya diri bagi rakyat Asia-Afrika dan bangkit melawan penjajah.
Gerakan Turki Muda pada 1896-1918 yang bertujuan menanamkan dan mengembangkan
nasionalisme Turki. Gerakan Pan-Islamisme yang ditumbuhkan oleh Djamaluddin al-Afgani yang
mematahkan dan melenyapkan imperialisme barat. Pergerakan nasional di Asia, seperti gerakan
Nasionalisme di India, Tiongkok, dan Philipina. Baca juga: Demokrasi: Pengertian, Sejarah Singkat
dan Jenis Organisasi pada pergerakan nasional di Indonesia Dalam buku Sejarah Pergerakan Nasional
Indonesia (2012) karya SJ Rutgers, terdapat beberapa organisasi yang ada selama pergerakan
nasional, di antaranya: Budi Utomo Oragnisasi yang diawali dr. Wahidin Soedirohoesodo yang
berkeliling Jawa untuk melakukan sosialisasi pentingnya pendidikan. Selain itu, terdapat dana
pendidikan untuk yang kurang mampu. Dana tersebut disebut dengan Studie Fond. Pada 1907,
Wahidin bertemu denghan Soetomo, mahasiswa STOVIA dan membentuk organisasi Budi Utomo
pada 20 Mei 1908. Organisasi ini merupakan organisasi pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia
dan beranggotakan mahasiswa STOVIA. Berdirinya organisasi merupakan awal kebangkitan nasional
atau pergerakan nasional. Sehingga ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional. Sarekat Islam
Organsiasi tersebut berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Haji Samanhudi di Solo
pada 1911. Organisasi tersebut dibentuk untuk melindungi pengusaha lokal agar dapat bersaing
dengan pengusaha non lokal dalam dagang batik. Kemudian SDI dirubah menjadi Sarekat Islam (SI)
dan diketuai oleh HOS Tjokroaminoto pada 1912. SI kemudian menjadi besar karena semua orang
boleh bergabung dalam organisasi jika beragam Islam. Namun pada 1921, SI terpecah menjadi dua
kubu yaitu SI Putih dan SI Merah. SI Putih berpusat di Yogyakarta dan SI Merah berpusat di
Semarang. Baca juga: Biografi RA Kartini, Pejuang Emansipasi Perempuan Indische Partij Didirkan
di Bandung pada 25 Desember 1912 oleh Tiga Serangkai, yaitu Dr EFE Douwes Dekker (Danudirja
Setiabudi), RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), serta dr Tjipto Mangoenkoesoemo.

10
Indische Partij bertujuan untuk mengembangkan rasa nasionalisme, menciptakan persatuan antara
orang Indonesia dan Bumiputera. Selain itu juga mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.
Organisasi tersebut mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Kritikan ditulis oleh RM Suwardi yang
berjudul Als ik een Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda). Sehingga pada 4 Mei 1913,
organisasi tersebut dianggap partai terlarang dan ketiga tokoh tersebut diasingkan ke Belanda.
Perhimpunan Indonesia Organisasi yang didirkan Belanda pada 1908 yang awalnya diberi nama
Indische Vereeniging oleh Soetan Kasajangan Soripada dan RM Noto Suroto. Kemudian 1925
dirubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Istilah Indonesia digunakan untuk menunjukkan
identitas diri bangsa dan negara serta menggantikan kata Hindia Belanda. Baca juga: Biografi
Samanhudi, Pahlawan dan Pedagang Batik Tokoh yang tergabung adalah Mohammad Hatta, Tjipto
Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Perhimpunan Indonesia berjuang dengan kekuatan
sendiri dan tidak meminta kepada pemerintah kolonial Belanda. Organisasi ini memiliki majalah
dengan nama Hindia Poetra dan menjadi Indonesia Merdeka. Indische Social Democratische
Vereeniging (ISDV) Didirikan pada 9 Mei 1914 oleh Henk Sneevliet, anggota Partai Buruh Sosial
Demokrat Belanda dan rekannya di Surabaya. Organisasi ini menganut paham Marxisme dan berganti
nama menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Pada Desember 1920 berubah nama lagi
menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI diketuai oleh Semaun. Pada tanggal 13 November
1926, PKI melancarkan pemberontakan di Jawa dan Sumatera yang kemudian dikalahkan oleh
kolonial Belanda. Partai Nasional Indonesia (PNI) PNI merupakan perkumpulan yang dibentuk
Soekarno pada tanggal 4 Juli 1927. PNI bergerak dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Setelah
Kongres tahun 1928 di Surabaya, anggotanya semakin meningkat sehingga mengkhawatirkan
pemerintah kolonial. Akhirnya pada 29 Desember 1929 empat tokoh PNI, yaitu Soekarno, Gatot
Mangkoeprodjo, Maskoen, dan Soepriadinata ditangkap dan dihukum oleh Pengadilan Bandung.
Soekarno kemudian menyampaikan pembelaan dengan Indonesia Menggugt.

Maklumat 3 November & Perbedaan Sukarno-Sjahrir soal Partai Politik

Perbedaan mencolok antara Sukarno dengan Sjahrir pada awal kemerdekaan adalah pandangan
mereka mengenai partai politik.
Gagasan tentang partai di Indonesia sudah muncul jauh sebelum kemerdekaan. Di era pergerakan
nasional, topik kepartaian telah memicu sejumlah diskusi dan perdebatan. Kelahiran Pendidikan
Nasional Indonesia (PNI) yang diinisiasi Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, misalnya, bukan hanya
sebagai jawaban atas Partai Nasional Indonesia (dan kemudian Partindo), melainkan juga dapat
diletakkan dalam konteks perdebatan tentang model-model kepartaian.
Perdebatan itu terus berlangsung dan memuncak pada awal-awal kemerdekaan. Beberapa elite politik
mulai memikirkan perlunya Indonesia menjadi negara demokratis. Dan untuk itu, perlu dibangun pula
infrastruktur demokrasi agar aspirasi dan suara rakyat bisa tersalurkan lewat jalur yang demokratis.
Di sisi lain, beberapa elite tidak menghendaki adanya banyak partai. Mereka menginginkan sistem
partai tunggal yang diharapkan bisa mengayomi seluruh rakyat Indonesia. Partai, bagi mereka,
hanyalah pemecah belah rakyat dan menjadi batu sandungan bagi terbentuknya persatuan dan
kesatuan bangsa.
Sukarno, misalnya, masih merawat hasrat keberadaan sebuah partai pelopor yang menjadi satu-
satunya partai. Dalam bayangan Sukarno, partai semacam itu akan menjadi wadah bagi seluruh
spektrum politik yang ada.
Baca juga: Sukarno dalam Polemik Piagam Jakarta
Ia sebenarnya sempat merealisasikan gagasan partai pelopor ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) menyetujui desakannya soal pembentukan partai negara pada 22 Agustus 1945.
Lima hari berikutnya, 27 Agustus, PPKI mengumumkan secara resmi berdirinya Partai Nasional
Indonesia (PNI) sebagai partai negara. Dalam pengumuman itu disebutkan juga mengenai
pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjalankan fungsi parlemen.

PNI cuma bertahan sangat singkat, hanya empat hari. Pada 1 September partai tersebut dibubarkan
lantaran dikhawatirkan bisa menjadi pesaing KNIP. Dalam Nationalism and Revolution in Indonesia
(1952), George Kahin mengungkapkan, "Partai Nasional yang monolitik itu dibubarkan karena dirasa
menyamai dan menyaingi KNIP sehingga mungkin kelak akan menimbulkan perpecahan" (hlm. 186).

11
Hanya dua bulan berselang, akibat dinamika yang begitu hebat, kondisi politik berubah arah.
Dari mereka yang memiliki gagasan perlunya pembentukan partai-partai politik, dan tidak hanya satu
partai, terbitlah sebuah keputusan pemerintah pada 3 November 1945, tepat hari ini 74 tahun lalu.
Sesuai dengan tanggal terbitnya, ia kemudian dikenal dengan nama “Maklumat Pemerintah 3
November 1945”.
Maklumat itu berisi anjuran agar masyarakat membentuk partai-partai politik dalam rangka, seperti
disebutkan di dalamnya, “memperkuat perdjuangan… mempertahankan kemerdekaan dan mendjamin
keamanan masjarakat.”
Maklumat Pemerintah 3 November 1945 adalah sebuah turning point bagi proses demokrasi dan
kehidupan kepartaian di Indonesia. Sejarah memperlihatkan, perbedaan pandangan mengenai sistem
partai tunggal dan multipartai sama menariknya dengan proses lahirnya partai-partai politik. Sebab
dari situlah dapat terlihat bagaimana pergulatan pemikiran para founding father, terutama dalam hal
cara mereka memberi makna pada demokrasi.
Dalam pergulatan soal partai politik tersebut, dua tokoh memegang peranan kunci dalam panggung
politik Indonesia masa itu: Sukarno dan Sutan Sjahrir.
Sukarno yang Eklektik & Sjahrir yang Westernized
Sebelum menjadi presiden, Sukarno tak pernah tinggal di luar Indonesia. Meski ia memperoleh
pendidikan Barat, pengalamannya diserap dari pergumulan kehidupan sehari-hari di negeri terjajah. Ia
tak pernah merasakan dan dan mengamati sendiri bagaimana liberalisme dan demokrasi berjalan di
suatu negara yang bebas.
Ciri paling khas dari karakter Sukarno yang tumbuh dalam lingkungan macam itu adalah
prasangkanya terhadap Barat dan sistem politik liberal. Ia memang tak menampik demokrasi, tapi
lebih menghendaki demokrasi yang sesuai dengan adat Indonesia.
“Indonesia,” serunya pada suatu kali, “carilah demokrasimu sendiri!”
Baginya, demokrasi yang “asli Indonesia” adalah demokrasi yang bernapaskan asas musyawarah
mufakat, bukan “demokrasi pemungutan suara” seperti di negeri-negeri Barat. Musyawarah mufakat
dianggap lebih mampu memelihara persatuan dan kesatuan seperti yang diasumsikan berlangsung
dalam masyarakat Nusantara selama ratusan tahun.
Sukarno sedari muda memang terobsesi dengan gagasan persatuan dan kesatuan dalam kerangka
negara integralistik. Sebuah negeri seperti Indonesia, yang terdiri dari bermacam suku bangsa, mesti
diikat dengan tali persatuan yang kokoh agar tidak tercerai berai di masa depan.
Dari gagasan pokok macam itu, tak mengherankan bahwa Sukarno lebih menghendaki sistem partai
tunggal daripada multipartai. Apalagi, selama tiga setengah tahun di bawah kekuasaan Jepang,
Sukarno menyaksikan sendiri betapa kuatnya Jepang sebagai negeri yang bersatu dengan
menggunakan sistem partai tunggal. Ini makin menambah tebal keyakinannya bahwa sistem partai
tunggal mesti diterapkan di Indonesia agar dapat menjadi negeri yang tangguh.
Baca juga: Kegagapan & Kebebalan Belanda Memahami Aspirasi Kemerdekaan
Terkait pandangannya mengenai konstitusi dan struktur pemerintahan—meski kita tak bisa
mengelakkan kenyataan bahwa keluasan bahan bacaannya jauh melampaui batas sempit negerinya—
Sukarno hanya pernah melihat secara langsung struktur negara Hindia Belanda. Dalam negara
kolonial ini, kekuasaan berada di tangan satu orang (gubernur jenderal) dan peran badan perwakilan
sebagai penasihat semata.

Tak mengherankan bahwa pada awal berdirinya Republik, Sukarno dengan tegas menyatakan sistem
yang berlaku di Indonesia adalah partai tunggal. Ketika itu ia mendukung didirikannya Partai
Nasional Indonesia (PNI) yang berfungsi sebagai staatspartij (partai negara). Pola partai tunggal
macam ini adalah ciri khas negara-negara fasis dan komunis totaliter.

Sukarno tidak melihat bahwa partai tunggal yang dikehendakinya bisa jatuh ke dalam kubangan
totaliterisme. Ia hanya melihat partai tunggal sebagai instrumen terbaik untuk mewujudkan persatuan
dan kesatuan nasional. Masyarakat yang tercerai berai karena sekat-sekat partai hanya akan membuat
ricuh proses persatuan itu. Ia juga melihat partai tunggal sebagai sistem yang paling cocok dengan
adat dan tradisi Indonesia.
Baca juga: Bagaimana Sukarno Menciptakan (Partai) Golkar?

12
Keengganan Sukarno atas partai-partai makin memuncak tatkala ia menyaksikan zaman demokrasi
liberal pada dekade 1950-an. Zaman ini memang ditandai menguatnya peran partai politik dalam
pemerintahan. Bagi Sukarno, partai-partailah, karena kepentingan masing-masing yang saling
bertentangan, yang menyebabkan instabilitas politik berkepanjangan. Sukarno muak dengan keadaan
itu sampai ia akhirnya mengeluarkan sebuah dekrit yang mengakhiri sistem demokrasi liberal pada
1959.
Sjahrir, sementara itu, memiliki ideal demokrasi yang jauh berbeda. Dengan gagasan-gagasannya
mengenai demokrasi parlementer dan sistem multipartai, Sjahrir bisa dibilang representasi “pemikiran
Barat” dalam jajaran bapak pendiri republik. Ia mewakili garis politik sosial-demokrat yang sangat
populer di kalangan intelektual Eropa sejak awal abad ke-20. Gagasannya tentang politik dilandasi
oleh hal ini.
Ia percaya kepada sistem demokrasi Barat yang tidak menerima gagasan partai tunggal yang
monolitik. Secara teoretis, ia memang mengakui bahwa staatspartij bisa saja memiliki komposisi yang
beraneka rupa dan merepresentasikan berbagai ideologi serta aliran yang ada dalam masyarakat.
Tetapi selalu terbuka kemungkinan bahwa partai itu akan diselewengkan, terutama oleh penguasa.
Baginya, partai tunggal cenderung merepresi berbagai perbedaan-perbedaan politik yang pokok,
bukannya sebagai medium untuk mengakomodasi segala macam perbedaan tersebut.
Hal lain yang dikhawatirkan Sjahrir adalah partai tunggal bisa menjadi alat penguasa untuk
mengontrol dan mendisiplinkan masyarakat. Ia menganggap itu jauh bertolak belakang dengan
prinsip-prinsip demokrasi yang memungkinkan segala perbedaan dalam masyarakat bisa berjalan
berbarengan.
Baca juga: Sepak Terjang Sjahrir, Amir, dan Tan Jelang Proklamasi RI
Sjahrir mencurigai gagasan partai tunggal sebagai warisan fasisme Jepang—ide yang ia tuduh sedang
tumbuh subur di kalangan elite nasionalis. Sebelumnya memang banyak kaum pergerakan yang
bekerja sama dengan pemerintahan balatentara Jepang. Ia sendiri memilih jalur berbeda dengan
Sukarno-Hatta dengan cara bergerak secara klandestin di luar kerangka Jepang.
Karena itu ia dianggap “bersih” dari noda fasisme Jepang dan lebih bisa diterima oleh Sekutu dan
Belanda. Selain itu ia juga punya kecerdasan politik tersendiri yang membuatnya mudah diterima
pihak lawan.
Ide Sjahrir yang menolak partai tunggal sebenarnya berasal jauh dari masa mudanya. Beda Sjahrir
dengan Sukarno terletak pada pengalaman masa lalunya sebagai intelektual berpendidikan Belanda.
Sjahrir menyaksikan sendiri bagaimana demokrasi parlementer dijalankan di Belanda tatkala kuliah di
sana. Pergaulannya dengan kelompok sosial-demokrat Belanda juga turut memberi warna pada
pemikirannya itu. Dalam hal ini, ia sebenarnya lebih cocok dengan gagasan Hatta.
Baca juga: Cara Legendaris ala Hatta Mengkritik Sukarno
Sedangkan Sukarno tidak pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Ia tak pernah melihat sendiri
bagaimana realitas sistem multipartai dalam kerangka demokrasi parlementer dijalankan.
Penolakan Sjahrir terhadap gagasan nasionalisme ala Sukarno juga mencerminkan pokok perbedaan
di antara kedua bapak bangsa ini. Sjahrir menolak gaya nasionalisme menggebu-gebu yang baginya
sangat berbahaya karena bisa mengarah kepada fasisme. Gagasan-gagasan Sjahrir yang sangat Barat
ini jelas tidak sesuai dengan ide-ide Sukarno yang cenderung sinkretis dan percaya kepada sistem
negara integralistik.
KTN

Sejalan dengan gelombang demonstrasi yang semakin membesar, keadaan politik dan ekonomi
Indonesia pun semakin parah. Harga barang melesat tinggi terutama harga BBM (Bahan Bakar
Minyak) yang mempengaruhi harga barang-barang lain. Inflasi mencapai 600% dan upaya pemerintah
melakukan devaluasi rupiah menyebabkan keresahan di masyarakat. Tuntutan pengadilan terhadap
pelaku G30S/PKI pun semakin meningkat.
Demonstrasi-demonstrasi ini dipelopori oleh kesatuan aksi makasiswa, pemuda dan pelajar di
antaranya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia
(KAPPI), dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI). Kemudian muncul juga Kesatuan Aksi Buruh
Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia
(KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI) yang mengikuti demonstrasi-demonstrasi ini,
dengan didukung oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

13
Kesatuan-kesatuan aksi ini menyatukan barisan mereka dengan membentuk Front Pancasila pada
tanggal 26 Oktober 1965, dan setelah itu gelombang demonstrasi semakin meluas. Akhirnya pada
tanggal 12 Januari 1966, KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi
Pemuda Pelajar Indonesia) yang tergabung dalam front pancasila mendatangi gedung DPR, dan
menyuarakan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yaitu pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya,
perombakan kabinet Dwikora, dan menurunkan harga pangan. Dua tuntutan pertama sudah pernah
dituntut oleh Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP-Gestapu), dan tuntutan
yang ketiga itu sangat relevan dengan kesulitan rakyat pada saat itu.
Sebagai respon atas tuntutan-tuntutan itu, akhirnya Presiden Sukarno mengumumkan reshuffle
kabinet pada tanggal 21 Februari 1966. Namun berlawanan dengan kehendak rakyat dan mahasiswa,
kabinet baru ini ternyata diisi oleh banyak tokoh yang diketahui sebagai simpatisan PKI.
Pada tanggal 24 Februari 1966, mahasiswa memboikot pelantikan menteri baru dengan memenuhi
sepanjang jalan menuju Istana Merdeka. Tjakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden, menghadang aksi
ini sehingga terjadi bentrok yang menyebabkan salah seorang mahasiswa, Arif Rahman Hakim,
meninggal. Kejadian ini menyebabkan situasi nasional semakin kritis.
Besoknya pada tanggal 25 Februari 1966, Presiden Sukarno membubarkan KAMI. Hal ini direspon
oleh mahasiswa di Bandung dengan mencetuskan "Ikrar Keadilan dan Kebenaran" untuk memprotes
pembubaran KAMI dan mengajak mahasiswa dan rakyat meneruskan perjuangan. Setelah itu
muncullah KAPI atau Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia yang meneruskan aksi KAMI. Selain
mahasiswa Bandung, Front Pancasila juga berunjukrasa memprotes pembubaran KAMI, dan karena
situasi yang berkembang menjadi tidak kondusif, mahasiswa menjadi brutal dan merusak gedung
Departemen Luar Negeri serta membakar kantor berita China.
Rentetan demonstrasi mahasiswa yang semakin meluas dan kekacauan yang terus terjadi akhirnya
menyebabkan Presiden Sukarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR)
kepada Suharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban
Kesimpulan
Reaksi mahasiswa dan masyarakat terkait pembubaran KAMI adalah mencetuskan "Ikrar Keadilan
dan Kebenaran" dan berdemonstrasi sebagai bentuk protes.
Pelajari lebih lanjut
Materi tentang protes terhadap pembubaran KAMI di brainly.co.id/tugas/14099176
Materi tentang isi Tritura di brainly.co.id/tugas/9671352
Materi Tentang peristiwa Tritura di brainly.co.id/tugas/4979610

SEJARAH REVOLUSI HIJAU: JALAN PINTAS YANG MENYESATKAN?

Revolusi Hijau, kutukan atau anugrah?Revolusi Hijau, kutukan atau anugrah?Manusia diciptakan oleh
Allah dengan tujuan agar menjadi Khalifah yang memakmurkan dunia dan beribadah kepada Allah.
Sehingga seharusnya manusia membangun kesejahteraan sesama secara merata, tidak terkonsentrasi
pada kelompok tertentu saja. Namun, pada akhir-akhir ini proses kesejahteraan berkembang hanya
kepada sekelompok orang. Sehingga ketika diteruskan akan membuat keberlangsungan kehidupan
manusia dan makhluk-makhluk Allah lain menjadi terancam. Sayangnya ketika diperingatkan,
sebagian orang berdalih sedang mengerjakan kebaikan, tetapi berjalan menuju kehancuran.
Krisis Pangan Setelah Perang Dunia II
Perang Dunia II, atau Perang Dunia Kedua (biasa disingkat menjadi PDII atau PD2), adalah sebuah
perang global yang berlangsung mulai tahun 1939 sampai 1945. Perang tersebut melibatkan banyak
sekali Negara-negara di dunia. Setelah berakhirnya perang tersebut, banyak Negara menjadi
kelaparan. Sehingga memunculkan krisis pangan, kelaparan dan penyakit banyak merebak di mana-
mana. Kematian ibu dan anak cukup tinggi sehingga membuat khawatir para pemimpin Negara,
khususnya pemimpin Negara-negara Eropa dan Amerika.
Ketakutan akan terulangnya kelaparan dan dampak buruknya, maka mereka berkumpul dan
membicarakan inisiatif global mengatasi kelaparan tersebut. Pembicaraan khususnya mengarah
kepada upaya-upaya yang perlu dilakukan agar produksi pangan bisa ditingkatkan sehingga kelaparan
bisa dihindari.
Pada tahun 1943, sebanyak 44 negara berkumpul di Virginia, Amerika Serikat untuk membicarakan
upaya-upaya tersebut. Negara-negara tersebut menyepakati pendirian organisasi permanen yang

14
dalam jangka pendek bertujuan untuk mengatasi kelaparan yang sedang terjadi dan dalam jangka
panjang mengatasi masalah pangan serta pertanian di dunia. Setelah itu keputusan itu ditindaklanjuti
dengan pendirian Food and Agriculture Organization (FAO) di Quebec, Kanada pada tanggal 16
Oktober 1945. FAO Kemudian dikenal sebagai lembaga khusus Persatuan Bangsa Bangsa (PBB)
yang memimpin usaha-usaha international untuk mengatasi kelaparan, kususnya dengan cara
mereplikasi sukses Amerika Serikat dan Eropa mengatasi kelaparan yang terjadi di wilayah tersebut.
Revolusi Hijau sebagai Jalan Pintas
Para pemimpin 44 negara dunia berkumpul untuk mengatasi kelaparan yang diyakini akibat
ketidakcukupan produksi pangan di Negara-negara yang jumlah penduduknya banyak dan mengalami
kelaparan. Oleh sebab itu, menurut mereka jalan keluarnya adalah meningkatkan produksi pangan di
Negara-negara tersebut. Namun, juga ada sebagian kelompok yang mementingkan diri mereka sendiri
yaitu mengusulkan juga pembatasan kelahiran pada beberapa tahun berikutnya.
Usaha untuk meningkatkan pangan dilakukan dengan cara meningkatkan produktifitas pertanian.
Caranya adalah dengan memberikan dukungan sebesar-besarnya bagi penelitian-penelitian untuk
menciptakan benih-benih “ajaib” atau sering disebut sebagai benih “unggul.” Harapannya agar benih-
benih tersebut dapat menghasilkan produktifitas lebih tinggi dan lebih tahan terhadap segala macam
faktor penghambat produksi, seperti penyakit, baik yang disebabkan oleh mikroorganisme maupun
perubahan kondisi alam.
Kondisi ini membuka peluang bagi para pengusaha untuk turut berpartisipasi, terutama dengan adanya
dukungan pemerintah yang cukup tinggi kala itu. Para pemimpin Negara-negara itu juga memberikan
jaminan atas pemberian hak paten bagi benih-benih yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut, bebas
pajak dan memberikan keleluasaan untuk melakukan monopoli karena hak paten tersebut.
Tidak perlu heran, karena ternyata keluarga Yahudi Zionisme yang paling berpengaruh di dunia,
Rockfeller, juga ikut turut berkecimpung dalam kancah pertanian dan pangan internasional ini.
Keluarga Rockfeller, melalui Rockfeller Foundation telah mendirikan berbagai organisasi penting di
dunia, tidak luput juga WHO serta Monsanto (perusahaan di Mexico yang membuat rekayasa genetika
pada tanaman-tanaman produktif, termasuk kedelai Indonesia).
Rockfeller bisa dengan mudahnya menguasai kebijakan dari semua organisasi dunia yang telah
mereka dirikan. Bagi sahabat yang ingin tahu lebih jauh tentang Zionisme, insyaAllah bisa membaca
di berbagai artikel di Internet atau di buku.
Pada tahun 1943, Rockfeller Foundation melakukan kerjasama dengan pemerintah Mexico dan
mendirikan Officer of Special Studies yang tujuan utamanya adalah untuk mengembangkan benih-
benih “unggul” tanaman jagung dan gandum serta tanaman lainnya. Benih unggul tersebut kemudian
menjadikan Mexico sebagai salah satu eksportir gandum pada tahun 1951. Pada era yang bersamaan,
pemerintah India bekerja sama dengan Ford Foundation berhasil mengembangkan benih di India.
Tahun 1943 – 1960 merupakan periode dimana terjadi revolusi besar pertanian yang kemudian
disebut sebagai REVOLUSI HIJAU, sebuah istilah yang pertama kali disebutkan oleh William Gaud,
Direktur USAID. Pernyataan REVOLUSI HIJAU digunakan untuk menggambarkan luasnya
penyebaran benih-benih “unggul” padi dan gandum di Asia dan perkembangan teknologi pertanian
yang menghasilkan peningkatan produksi secara revolusioner.
Sebagai sarana untuk memperluas perusahaan, maka pada tahun 1961, Ford Foundation dan
Rockfeller Foundation mendirikan International Rice Research Institude (IRRI) di Filipina yang
berfungsi untuk mengembangkan benih padi “unggul,” dengan label IR. Sejak saat itu REVOLUSI
HIJAU dimotori oleh keluarga keluarga Rockfeller melalui perusahaan-perusahaan besar dan
organisasi-organisasi penting dunia.
Korelasi Peningkatan Produksi Pangan dan Kelaparan Penduduk
Benih-benih “unggul” atau “ajaib” itu pada awalnya menghasilkan panen yang sangat mengagumkan.
Namun, hasil panen yang berlimpah itu ternyata tidak membebaskan dunia dari kelaparan. Hasil
produksi pangan yang berlimpah tidak mempengaruhi berkurangnya kelaparan penduduk, bahkan
masih tinggi. Ternyata ada banyak faktor yang berkontribusi pada situasi ini, termasuk penduduk
miskin yang tidak mempunyai lahan yang memadai, daya beli yang rendah dan terhambatnya jalur
distribusi pangan ke wilayah-wilayah tempat kelaparan sering terjadi. Selain itu, yang paling penting
adalah tidak adanya kontinyuitas tanaman dalam berproduksi secara berlimpah tersebut.
Indonesia secara revolusioner pernah sukses meningkatkan produksi beras sehingga menjadi Negara
swasembada beras. Swasembada berarti jumlah beras yang diproduksi selama setahun mencukupi

15
kebutuhan rakyat Indonesia pada tahun yang sama. Sehingga pada tahun 1984 Indonesia mendapat
penghargaan dari FAO. Padahal sejak 1960 Indonesia selalu kekurangan beras.
Ternyata walaupun sudah menjadi Negara swasembada beras, kelaparan pada tahun 1984 masih
cukup tinggi. Data yang didapat dari BAPPENAS 1984, jumlah keluarga di Indonesia yang
kekurangan protein sebangak 51% dan yang kekurangan kalori sebanyak 39,2%.
Masa Swasembada beras tidak berlangsung lama, pada kurun waktu tahun 1983 – 2002, ternyata
Indonesia hanya mengalami swasembada beras pada tahun 1985, 1986 dan 1993. Selain itu Indinesia
menjadi Negara pengimpor beras. Bahkan pada tahun 2000 – 2001, Indonesia menjadi Negara
pengimpor beras terbesar di dunia, menurut United States Department of Agriculture.
Korelasi antara kelimpahan pangan dan jumlah penduduk yang kelaparan tidak berbanding lurus.
Menurut Amartya Sen, dalam Poverty and Famines, Oxford University Press, pada tahun 1943,
Bengal terjadi kelaparan padahal pada tahun itu ketersediaan pangan di India sedang sangat baik.
Ethiopia juga mengalami hal yang serupa pada tahun 1973. Begitu juga dengan Argentina pada tahun
2001. Argentina memanen gandum lebih dari cukup bagi kebutuhan penduduk China dan India, dalam
kenyataannya Argentina yang kelaparan justru luar biasa besarnya.
Dampak Negatif Revolusi Hijau
Semangat eksploitasi alam dalam revolusi hijau untuk kesejahteraan manusia ternyata juga berkembag
pada eksploitasi manusia lainnya. Nilai-nilai kehidupan harmonis yang awalnya dimuliakan umat
manusia, secara perlahan tapi pasti telah menjadi semangat eksploitasi. Revolusi hijau menjadikan
manusia hidup dengan cara yang egois dan mau menang sendiri. Berbagai studi yang telah dilakukan
melahirkan banyak persoalan.
1. Petani terperangkap dalam sistem yang tidak mandiri
Petani hanya berperan menjadi pemakai teknologi yang diciptakan oleh pabrik. Petani tidak mampu
menciptakan benih “ajaib,” pupuk “ajaib,” dan pestisida ajaib, serta berbagai sarana produksi lainnya.
Sehingga petani telah berkurang daya kreatifitasnya untuk memecahkan berbagai permasalahan
dengan sumber daya lokalnya.
Pada awalnya, petani menggunakan teknologi ini disubsidi oleh pemerintah dengan menggunakan
dana hutang dari lembaga keuangan internasional, multilateral atau bilateral, seperti Bank Dunia dan
Bank Pembangunan Asia. Kemudian petani sudah masuk dalam sistem dan subsidi dihapus, sehingga
petani kelimpungan untuk membayar sendiri teknologi “ajaib” itu.
Pada Hari Senin, 10 Desember 2012, kemarin kami bertemu langsung dengan petani di daerah
Kemudo. Petani tersebut cukup mengeluhkan mahalnya bibit “ajaib” itu. Ketika bibit “ajaib” itu ingin
dibibitkan sendiri, ternyata hasilnya jelek dan tidak baik untuk ditanam. Sehingga mau tidak mau,
petani harus membeli dari perusahaan yang memegang hak paten bibit tersebut.
Tidak hanya sekedar bibit, namun juga pupuk kimia yang ketika semakin dipakai, ternyata membuat
tanah semakin ketergantungan dan tanaman membutuhkan pupuk kimia yang semakin tinggi dan
banyak macamnya. Padahal harga jual hasil pertanian di Indonesia masih kurang menentu.
Untuk keluar dari ketergantungan teknologi “ajaib” itu tidak lah mudah karena infrastruktur,
suprastruktur (keorganisasian dan penyuluhan) yang dibangun memang diciptakan untuk sistem
pertanian ala revolusi hijau. Pada awalnya petani yang mau memulai pertanian organik, kesulitan
mendapatkan benih lokal. Benih-benih yang ada di pasaran dikontrol oleh hanya 10 perusahaan. Nilai
perdagangan sebesar 32 milyar dolar berputar pada sepuluh perusahaan itu. Mereka membuat benih-
benih hasil rekayasa genetik (Genetic Modified Organizme/ GMO).
2. Petani menjadi korban pasar
Ketika musim panen tiba, komoditas hasil pertanian menjadi sangat murah sekali, harga jatuh dan
petani rugi. Karena pertanian yang diajarkan oleh Revolusi Hijau adalah pertanian monokultur.
Kemudian hasil pertanian Revolusi Hijau adalah produk yang tidak tahan lama. Sehingga mau tidak
mau, petani harus menjual daripada tidak sama sekali. Faktor yang lain juga masih banyak, termasuk
faktor tidak adanya tempat penampungan yang memadai serta produk dumping dari negara-negara
maju yang masuk ke pasar Internasional. Sehingga harga jatuh ke level yangtidak masuk akal. Di
seluruh dunia Ini, perdagangan hasil pertanian biji-bijian dikontrol oleh hanya lima perusahaan.
3. Petani kaya semakin kaya, petani miskin semakin miskin
Kebijakan subsidi dari pemerintah sebenarnya lebih banyak menguntungkan petani yang mempunyai
lahan besar. Petani yang mempunyai lahan besar pulalah yang lebih banyak untung ketika panen.
Petani yang mempunyai lahan lebih dari 0,5 ha sangat diuntungkan. Sedangkan petani yang

16
mempunyai lahan kurang dari 0,5 ha dan penggarap hanya menjadi penonton saja. Lebih jauh,
perangkap kemiskinan petani ini mengakibatkan petani menjual tanah pertaniannya. Bisa dijual ke
petani yang lebih kaya atau kepada para developer property.
Indonesia ini adalah negara agraris, negara yang seharusnya kaya dari hasil pertaniannya. Ketika
banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi perumahan, maka Indonesia bisa menjadi kufur
nikmat. Karena hanya mengejar untung sesaat, para developer perumahan bisa membuat harga 1 kg
beras seharga 1 rumah di perumahan. Sesungguhnya property paling menguntungkan di Indonesia
bukan pada perumahan, tetapi pada pertanian. Ketika mempunyai sebuah lahan yang subur organik
maka ketika ditanami, akan terus menghasilkan. Masih ingat tentang hadits ini:
“Tidaklah seorang muslim yg bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yg dimakannya bernilai
sedekah baginya, apa yg dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yg dimakan binatang liar
menjadi sedekah baginya, apa yg dimakan burung menjadi sedekah baginya, & tidaklah seseorang
mengambil darinya, melainkah ia menjadi sedekah baginya.” (HR Muslim 2900)
Umar adalah seorang yang juga sangat kaya.
Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan LADANG PERTANIANsebanyak 70.000 ladang,
yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti,
Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata LADANG
PERTANIAN saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8
Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan. Luar biasa kan?
Umar ra memiliki 70.000 properti. Umar ra selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak
menghabiskan gajinya untuk dikonsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti. Agar uang
mereka tidak habis hanya untuk dimakan. Oleh karena itu bagi Sahabat yang mempunyai ladang,
pekarangan, halaman rumah, sawah atau ruang sekecil apapun, Sahabat boleh berkonsultasi dengan
kami untuk menjadikannya pertanian organik. Pertanian organik ini bisa dalam bentuk apapun, bisa
dalam bentuk polybag, pot atau tanam di tanah. Jika lahannya cukup besar, bisa memberikan lapangan
pekerjaan bagi masyarakat sekitar juga. Ketika berbuah, dapat dijual atau dinikmati bersama tetangga.
Bahkan ketika dimakan ulat pun, dihitung sedekah. Belum lagi kita menghitung ada berapa banyak
oksigen segar yang dihirup oleh makhluk-makhluk di sekitar kita.
4. Rusaknya hubungan konsumen dan petani
Para konsumen hasil pertanian selama ini dilenakan dengan berita keajaiban di sektor produksi
pertanian. Konsumen, terutama masyarakat, kurang terdidik untuk memahami proses produksi dan
dampaknya terhadap kesehatan, lungkungan, maupun kesejahteraan umat manusia di muka bumi.
Baik di masa kini maupun di masa datang. Sehingga konsumen tidak peduli apakah terjadi eksploitasi
manusia dan alam sebesar-besarnya. Mungkin saja beras yang hari ini kita makan adalah beras yang
dijual dengan linangan air mata petani karena menjual di bawah harga produksi. Hubungan harmonis
yang dibangun antara petani dan konsumen hilang begitu saja. Oleh karena itu ketika membahas
pertanian organik, berarti kita juga membahas kesadaran para konsumen untuk mengkonsumsi produk
pertanian organik.
5. Dampak buruk revolusi hijau pada kesehatan
Dampak buruk revolusi hijau banyak diakibatkan oleh pestisida, tanaman GMO dan pupuk buatannya.
Penyakit yang ditimbulkan sangat banyak sekali, termasuk kanker dan tumor. Bahkan baru-baru ini
terungkap bahwa kedelai GMO dari Monsanto mengakibatkan kesuburan terganggu. Padahal produk
kedelai yang diimpor maupun ditanam di Indonesia mayoritas adalah kedelai GMO.
Kemarin kami diberitahu oleh salah satu petani bahwa dirinya tidak berani mengkonsumsi kubis dari
tanah pertaniannya. Alasannya adalah dia tahu betul bagaimana dirinya menyemprot tanaman kubis
tersebut dengan insektisida. Petaninya sendiri tidak berani mengkonsumsi kubisnya karena tahu
bahayanya. Bagaimana mungkin kita bisa sehat dengan mengkonsumsi sayuran dan buah seperti itu?
Ketika kami melihat bungkus insektisida yang digunakan, ternyata disana ditulis : “Bahaya,
insekstisida ini dapat masuk ke dalam kulit, pernafasan dan mulut serta dapat mengakibatkan
kematian.” Kalau insektisidanya bisa meresap ke dalam kulit, berarti bisa meninggalkan residu di
dalam tanaman yang kita makan. Petani tersebut juga menambahkan bahwa insektisida tersebut ketika
dipakai ternyata semakin membuat kebal (resistensi meningkat) para hama serangga. Sehingga
membutuhkan insektisida lebih banyak pula. Kondisi ini seperti yang terjadi pada tubuh kita yang
mengkonsumsi antibiotik.
6. Dampak buruk revolusi hijau pada kelestarian alam

17
Dampak buruknya bagi kelestarian alam antara lain:
a. Residu.
Bahan-bahan kimia sintetik sulit diurai dan masuk ke dalam rantai di alam. Sehingga residunya
membuat alam menjadi rusak dan menjadi racun.
b. Resistensi dan resurgensi
Penggunaan bahan kimia sintetik untuk membunuh hama menghasilkan masalah baru. Hama yang
tersisa melahirkan generasi baru yang lebih resisten terhadap pestisida yang digunakan. Kemudian
generasi baru ini lebih pesat perkembangannya dan sulit untuk dibunuh.
c. Kekayaan Plasma Nutfah terancam punah
Monokulturisasi mengakibatkan hilangnya plasma nutfah, yaitu tanaman-tanaman asli/ lokal. Padahal
tanaman lokal di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Untuk padi saja, bisa mencapai ribuan. Masing-
masing tanaman lokal ini telah beradaptasi dan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
Tanaman lokal menjadi lebih tahan haman, iklim dan lebih sehat. Diperkirakan akibat bibit “ajaib,”
dan revolusi hijau, setiap pekannya dua benih lokal hilang. Contoh ada di Filipina, benih padi lokal
jenisnya ribuan, tetapi pada tahun 1980-an 98% dari seluruh lahan pertanian di Filipina hanya
ditanami dengan dua varietas padi Revolusi Hijau. Varietas Revolusi Hijau ini tidak bisa spesifik
bertahan di suatu wilayah sehingga rentan dengan hama dan iklim. Kondisi ini mirip dengan yang
terjadi pada prinsip kesehatan holistik, bahwa dimana Anda menderita sakit di suatu daerah, maka
obatnya ada di sekitar itu pula. Virus atau bakteri yang sebenarnya tidak berbahaya bagi penduduk di
daerah tertentu, ketika menginfeksi penduduk di daerah lain, bisa menjadi penyakit yang berbahaya.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna.
d. Dan masih banyak lagi.
Siapapun Anda, baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, pengusaha maupun PNS,
bisa memulai membantu pertanian Organik. Baik dengan cara memilih mengkonsumsi pertanian
organik atau memanfaatkan lahan yang ada untuk bertani organik. Kami telah mengembangkan pupuk
organik yang bermanfaat untuk memperbaiki kemandirian tanah dan kesuburan tanaman. Serta kami
juga melengkapinya dengan Fungisida Organik maupun Insektisida Organik.
Bagi sahabat yang tertarik dan ingin bekerjasama, boleh menghubungi kami di

Lapangan Ikada
Lapangan Ikada merupakan lapangan luas di bagian pojok timur yang saat ini ditempati oleh kawasan
Monas. Sejak jauh sebelum Senayan dibangun, Lapangan Ikada yang sebelumnya dikenal sebagai
Lapangan Gambir, merupakan pusat kegiatan olahraga. Nama Lapangan Ikada baru muncul pada
masa pendudukan Jepang tahun 1942.
Ikada sendiri merupakan singkatan dari Ikatan Atletik Djakarta. Di sekitar kawasan tersebut terdapat
sejumlah lapangan sepak bola milik klub sepak bola era 1940-an dan 1950-an seperti Hercules, VIOS
(Voetbalbond Indische Omstreken Sport) dan BVC, yang merupakan kesebelasan papan atas
kompetisi BVO (Batavia Voetbal Organisatie). Setelah kemerdekaan, kesebelasan tersebut digantikan
oleh Persija. Selain lapangan sepak bola, di sekitarnya terdapat pula lapangan hoki dan lapangan
pacuan kuda untuk militer kavaleri.
Sebelum Stadion Gelora Bung Karno selesai dibangun untuk menyambut Asian Games IV tahun
1962, Ikada merupakan tempat latihan dan pertandingan PSSI. Pada acara Pekan Olahraga Nasional
(PON) ke-2 tahun 1952, dibangun Stadion Ikada di sebelah selatan lapangan ini.

Lapangan ini pada awalnya oleh Gubernur-Jenderal Herman William Daendels (1818). Mula-mula
bernama Champ de Mars karena bertepatan penaklukan Belanda oleh Napoleon Bonaparte. Ketika
Belanda berhasil merebut kembali negerinya dari Prancis, namanya diubah menjadi Koningsplein
(Lapangan Raja). Sementara rakyat lebih senang menyebutnya Lapangan Gambir, yang kini
diabadikan untuk nama stasiun kereta api di dekatnya.

Pembacaan teks proklamasi

Pembacaan teks proklamasi memang menjadi momentum penting dalam sejarah bangsa. Karena
peristiwa itu, Indonesia berhasil merebut kemerdekaannya sendiri. Tanpa dipapah atau dituntun oleh
Jepang, apalagi Belanda.

18
Momen proklamasi kemerdekaan tentu tidak akan terjadi bila pasukan sekutu tidak membombardir
Jepang, tepatnya di Hiroshima dan Nagasaki pada 15 Agustus 1945. Pascaserangan itu, Jepang takluk
dan akan memberikan seluruh tanah jajahannya kepada sekutu, termasuk Indonesia.
Namun, di dalam negeri, kabar takluknya Jepang tidak terpublikasi. Banyak masyarakat tidak
mengetahui peristiwa tersebut. Hal ini karena Jepang melarang rakyat Indonesia untuk memutar siaran
radio luar negeri atau internasional.
Tetapi, kabar kekalahan Jepang rupanya tak luput oleh sekelompok pemuda Indonesia, seperti Sutan
Sjahrir dan Adam Malik. Dengan keberanian, mereka memutar siaran radio internasional dan
akhirnya mengetahui peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki, yang membuat Jepang tunduk tak
berdaya.
Bung Karno, yang kala itu baru selesai melakukan kunjungan ke Saigon, memang belum mengetahui
secara pasti kabar kekalahan Jepang. Tetapi, desakan para pemuda untuk memproklamirkan
kemerdekaan semakin nyata dan menjadi-jadi. Bahkan, bila hal itu tidak dilakukan sesegera mungkin,
para pemuda mengancam akan menculiknya. Tetapi, Sukarno tak goyah. Bapak Bangsa itu adalah tipe
manusia yang pantang dipaksa atau dituntut. Ia masih memilih jalan untuk berunding dengan Jepang
untuk memerdekakan tanah airnya.
Pada 16 Agustus, tepat pukul 04.00 WIB, para pemuda, yang di antaranya digerakkan oleh Sukarni
dan Wikana, menyambangi kediaman Bung Karno, lalu menawannya. Hatta juga tak lupa diculik.
Keduanya dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.
Di Rengasdengklok, para pemuda memaksa lagi Sukarno untuk segera memproklamirkan
kemerdekaan. Tetapi, ia masih tetap kokoh dengan pendiriannya. Apalagi, saat itu sidang Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) akan segera digelar.
Mengetahui Sukarno diculik, Ahmad Subarjo, salah satu tokoh bangsa, akhirnya bertolak ke
Rengasdengklok. Setelah berunding dengan pemuda, Sukarno dan Hatta pun berhasil dibawa lagi ke
Jakarta oleh Subarjo.
Sekembalinya ke Jakarta, mereka langsung bertandang ke kediaman Laksamana Maeda. Dia adalah
tokoh Angkatan Laut Jepang yang sudi menyediakan tempatnya untuk merumuskan naskah
proklamasi. Hatta, Sukarno, dan beberapa tokoh kemerdekaan lainnya menyusun teks proklamasi di
sana yang ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta.
Rencananya, teks tersebut akan digaungkan di Lapangan Ikada, yang sekarang lebih dikenal dengan
Monas. Tetapi, dengan pertimbangan keamanan karena Jepang belum sepenuhnya minggat dari
Indonesia, rencana itu batal dilakukan.
Akhirnya, Bung Karno memilih kediamannya di bilangan Pegangsaan Timur No 56, yang saat ini
dikenal dengan Jalan Proklamasi, untuk dijadikan lokasi pembacaan teks proklamasi.
Tepat 17 Agustus 1945, sebelum dibacakannya teks proklamasi, sempat terjadi gesekan kecil antara
para pemuda dan Sukarno. Saat itu, para pemuda terus mendesak agar Sukarno tidak membuang
waktu dan segera memproklamirkan kemerdekaan.
Namun, saat itu Hatta belum tiba di kediamannya. Jelang pukul 10.00 WIB, Hatta pun datang. Dan
akhirnya, pembacaan teks proklamasi langsung dilaksanakan.

Prosesi momen bersejarah tersebut juga berlangsung sederhana. Tak ada ingar-bingar pesta atau
pidato yang menggelora. Hanya pengibaran bendera pusaka merah putih dan pembacaan teks
proklamasi oleh Sukarno dengan penuh kekhidmatan.
Tetapi, kini peristiwa sederhana itu telah dikenang sebagai momen epik sejarah lahirnya Indonesia.
Momen awal yang memutus cengkeraman penjajahan yang bercokol selama lebih dari 350 tahun. n
c23 ed: erdy nasrul

Pertemuan Tokyo, Indonesia Bahas Penangguhan Pembayaran Hutang Orde Lama

SENIN, 19 SEPTEMBER 1966 Pemerintah Indonesia menghadiri Pertemuan Tokyo yang membahas
soal penangguhan pembayaran (rescheduling) utang-utang Orde Lama. Hasil pertemuan ini adalah
bahwa Indonesia diizinkan untuk menangguhkan pembayaran kembali utangnya. Utang Indonesia
kepada pihak-pihak di luar negeri secara keseluruhan berjumlah sekitar 2.680 juta dolar AS. (DTS)

19
[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 01 Oktober 1965 – 27 Maret 1968”, hal 113 . Buku
ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan
diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta
Harian Sejarah - Pasca Perang Dunia II, melalui Konferensi Postdam pada tanggal 2 Agustus 1945,
wilayah Jerman yang diduduki oleh Sekutu akan dilakukan pembagian kepada negara-negara sekutu
seperti Amerikas Serikat, Inggris, Perancis, dan Uni Soviet
Pada awal tahun 1990 muncul ide untuk melakukan unifikasi atau penyatuan Jerman kembali. Ide itu
muncul pada pertemuan di Ottawa, Ibukota Kanada pada bulan Februari 1990 yang dihadiri oleh
keempat Menteri Luar Negeri dari negara-negara pemenang Perang Dunia II dan kedua Menteri Luar
Negeri dari Jerman Barat dan Jerman Timur. Pertemuan itu lebih dikenal dengan rumusan Dua Plus
Empat, yang terdiri dari Jerman Barat dan Jerman Timur dengan Amerika Serikat, Uni Soviet,
Inggris, dan Prancis.
Pembagian Jerman sesuai isi Konferensi Postdam 1945 (Foto: Alternate History Wiki)
Pertemuan-pertemuan selanjutnya tersus berlanjut membicarakan penyatuan Jerman dan para pejabat
dari enam negara itu telah mempersiapkan berbagai rapat kerja yang menghasilkan pertemuan para
menteri luar negeri. Pertemuan pertama diselenggarakan di Bonn, Ibukota Jerman Barat pada bulan
Mei 1990.
Sebulan kemudian pasca pertemuan di Bonn, diselenggarakan pertemuan di Berlin Timur dan Paris.
Memasuki babak akhir prosesi unifikasi, pada tanggal 12 September 1990, pertemuan
diselenggarakan di Moskow, Uni Soviet. Pada pertemuan tersebut tercipta rumusan mengenai
penyatuan Jerman.
Pertemuan Dua Plus Empat itu menjadi awal permulaan yang menghubungkan satu perundingan
dengan perundingan yang lainnya, salah satunya Sidang Pertemuan Puncak Ekonomi Internasional
pada bulan Juli 1990, kemudian Pertemuan Puncak NATO, serta pertemuan tentang pengurangan
persenjataan di Wina, Austria pada bulan Agustus 1990, pertemuan khusus dari Konferensi
Keamanan dan Kerja Sama Eropa di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di samping itu, keberhasilan perundingan dalam rangka mencapai kesepakatan penyatuan Jerman
tidak terlepas dari peran Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev yang berhasil menciptakan suatu
arus pemikiran baru dalam Politik Luar Negeri Uni Soviet. Demokratisasi dari Uni Soviet yang
menyebar terhadap negara-negara Komunis di Eropa Barat, Tengah dan Timur juga menjadi faktor
pendorong terciptanya proses Unifikasi Jerman.
Implementasi baru itu akhirnya mengubah tatanan politik yang ditancapkan oleh Rezim Joseph Stalin
yang selama ini bercokol di Eropa Timur dan Tengah. Politik baru itu memungkinkan rakyat Jerman
turun ke jalan untuk menyatukan Jerman sebagai satu kesatuan tanah air.
Penyatuan Jerman dalam kebebasan dan kedaulatan menjadi kenyataan bagi rakyat Jerman ketika
pada tanggal 3 Oktober 1990 Republik Federal Jerman (Jerman Barat) dan Republik Demokrasi
Jerman (Jerman Timur) bersatu kembali melalui suatu proses unifikasi yang berlangsung relatif cepat.
Runtuhnya tembok Berlin 1989 (Foto: sites.google.com)
Hal itu berarti kurang dari setahun ketika pada tanggal 9 November 1989 Tembok Berlin berhasil
diruntuhkan. Runtuhnya Tembok Berlin menjadi simbol bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur.

Latar Belakang Terbentuknya Gerakan Non-Blok Kompas.com - 30/01/2020, 20:00 WIB Bagikan:
Komentar Para pimpinan negara penggagas Gerakan Non-Blok dalam Konferensi Belgrade (1961),
dari kiri ke kanan: PM India Jawaharlal Nehru, PM sekaligus Preiden Ghana Kwame Nkrumah,
Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden Indonesia Soekarno, dan Presiden Yugoslavia Josip
Broz Tito. Lihat Foto Para pimpinan negara penggagas Gerakan Non-Blok dalam Konferensi
Belgrade (1961), dari kiri ke kanan: PM India Jawaharlal Nehru, PM sekaligus Preiden Ghana
Kwame Nkrumah, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden Indonesia Soekarno, dan Presiden
Yugoslavia Josip Broz Tito.(Dok. Non-Aligned Movement) Penulis Nibras Nada Nailufar | Editor
Nibras Nada Nailufar KOMPAS.com - Di awal kemerdekaan, Indonesia disegani negara lain karena
politik luar negerinya. Presiden Soekarno menolak Indonesia mengekor dua negara adidaya kala itu,
Amerika Serikat dan Uni Soviet. Indonesia memilih berdiri bersama negara-negara bekas koloni barat
lainnya dalam Gerakan Non-Blok. Tahukah kamu bagaimana gerakan itu terbentuk? Berikut sejarah
terbentuknya Gerakan Non-Blok seperti dikutip dari situs resmi Gerakan Non-Blok: Sejarah
terbentuknya Gerakan Non-Blok Setelah berhasil memerdekakan diri dan meraih pengakuan dunia,

20
Indonesia menggelar Konferensi Asia Afrika (KAA). Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Konferensi
Asia-Afrika Berakhir, Serukan Perdamaian KAA digelar di Bandung pada April 1955 dan dihadiri 29
pemimpin dari Asia dan Afrika. Konferensi itu membahas masalah-masalah yang dihadapi negara-
negara bekas koloni Barat yang baru berkembang. Dalam KAA juga disepakati prinsip dasar
hubungan internasional yang dikenal sebagai Dasasila Bandung. Namun KAA tak cukup. Sebab, ada
negara berkembang yang baru merdeka juga, yakni Yugoslavia yang berada di luar Asia dan Afrika.
Maka setelah KAA Bandung, pada tahun 1956 ada pula Deklarasi Brijuni yang digelar di Pulau
Brijuni, Yugoslavia. Baca juga: Konferensi Asia-Afrika, Saat Bandung Membuat Takjub Dunia...
Deklarasi itu ditandatangani Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, Perdana Menteri India Jawaharlal
Nehru, dan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser. Jawaharlal Nehru dan para pemimpin negara
berkembang tak ingin terseret pertarungan politik AS dengan Uni Soviet. Usai Perang Dunia II, AS
dan Uni Soviet terlibat dalam Perang Dingin. Perang Dingin adalah ketegangan politik yang terjadi
antara Barat (Amerika Serikat dan sekutu NATO) dengan Uni Soviet dan negara-negara satelitnya.
Keduanya berebut ideologi. AS dengan demokrasinya melawan Uni Soviet dan komunismenya. Yang
jadi sasarannya, negara-negara berkembang yang baru merdeka seperti Indonesia dan India. Baca
juga: Sejarah Berdirinya ASEAN, dari Peradaban Kuno hingga Perang Dingin Kondisi ini membuat
Jawaharlal Nehru dan pemimpin dunia lainnya menginisiasi Gerakan Non-Blok. GNB terbentuk lewat
Konferensi Beograd yang digelar pada 1961. Sebanyak 25 negara yang turut serta yakni Afghanistan,
Algeria, Yaman, Myanmar, Kamboja, dan Sri Lanka. Kemudian Kongo, Kuba, Cyprus, Mesir,
Ethiopia, Ghana, dan Guinea. Lalu India, Indonesia, Irak, Lebanon, Mali, Maroko, Nepal, Arab Saudi,
Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia, dan Yugoslavia. Lima tokoh penting yang jadi penggagas yakni
Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, PM India Jawaharlal Nehru, Presiden Indonesia Soekarno,
Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, dan PM sekaligus Preiden Ghana Kwame Nkrumah. Tujuan
Gerakan Non-Blok Dikutip dari situs Kementerian Luar Negeri, GNB berketetapan untuk mendirikan
suatu gerakan, bukan organisasi. Baca juga: Cerita Megawati Saat Jadi Delegasi Termuda Konferensi
Gerakan Non-Blok Pertama GNB tidak menjadikan negara pasif dalam politik internasional,
melainkan untuk menformulasikan posisi sendiri secara independen yang merefleksikan kepentingan
negara-negara anggotanya. Tujuan utama GNB semula mengupayakan hak menentukan nasib sendiri,
kemerdekaan nasional, kedaulatan,dan integritas nasional negara-negara anggota. Tujuan penting
lainnya adalah penentangan terhadap apartheid; dan tidak memihak pada pakta militer multilateral.
GNB juga menentang segala bentuk dan manifestasi imperialisme; perjuangan menentang
kolonialisme, neo-kolonialisme, rasialisme, pendudukan, dan dominasi asing. GNB mendukung
perlucutan senjata; tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan hidup berdampingan secara
damai. Baca juga: 5 Negara yang Dapat Bantuan dari Uni Soviet Sejak Era Perang Dingin GNB
menolak penggunaan atau ancaman kekuatan dalam hubungan internasional. GNB juga berkomitmen
dalam pembangunan ekonomi-sosial dan restrukturisasi sistem perekonomian internasional; serta
kerja sama internasional berdasarkan persamaan hak. Setelah tahun 1970-an, setelah Perang Dingin
berakhir, hingga saat ini, GNB lebih banyak berfokus pada masalah ekonomi dunia. Konferensi GNB
digelar setiap tiga tahun sekali. Sekarang ada 120 anggota, 17 negara pengamat, dan 10 organisasi
internasional yang tergabung dalam GNB. GNB adalah pengelompokan negara-negara terbesar
setelah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Syair lagu Indonesia Raya.

Nationalgeographic.co.id - Setelah bertahun-tahun mengikuti kakaknya tinggal di Makassar, Wage


Rudolf Supratman, kembali ke Pulau Jawa pada 1924. Ia bekerja sebagai wartawan di Bandung dan
menyumbangkan artikel-artikelnya ke surat kabar Kaoem Moeda, Kaoem Kita dan Sin Po. Dari sana
lah, W. R. Supratman tertarik dengan suasana pergerakan. Ia pun berkontribusi dalam menciptakan
lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat. Gubahan pertamanya adalah sebuah lagu yang
berjudul Dari Barat Sampai Ke Timur.
Suatu hari, Supratman membaca sebuah artikel yang menantang para komponis Indonesia untuk
menciptakan lagu kebangsaan tanah air. Menjawab hal tersebut, Supratman menggubah lagu
Indonesia Raya yang pada subjudulnya ia tulis “lagu kebangsaan”.
Pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan.
Kisah di baliknya sangat menarik.

21
Baca Juga: Kisah Alfred Rambaldo, Orang Belanda Pertama yang Terbang dengan Balon Udara di
Batavia
Pertama kali berkumandang di Kongres Pemuda II
Sebagai wartawan koran Sin Po, Supratman pernah meliput Kongres Pemuda I yang diselenggarakan
pada 30 April-2 Mei 1926. Oleh sebab itu, pada Kongres Pemuda II, ia pun diundang kembali untuk
meliputnya.
Dalam acara tersebut, Supratman bertemu dengan Soegondo Djojopoespito. Dalam pertemuan itu, ia
diminta Soegondo membawakan lagu Indonesia Raya dalam suatu acara di gedung Indonesische
Clubgebouw, tempat dilaksanakannya Kongres Pemuda II. Namun, untuk menghindari represi agen-
agen kolonial yang terus memantau keseluruhan acara, Supratman membawakan Indonesia Raya
dalam gesekan biola, tanpa syair. Meskipun, sebelumnya salinan naskah lagu telah disampaikan di
awal acara kepada sebagian pemuda yang hadir di kongres.
Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan sesaat setelah W.R. Supratman membawakan lagu
Indonesia Raya. Saat itu juga, Indonesia Raya diterima dan ditetapkan sebagai lagu kebangsaan
Indonesia.
Tak butuh waktu lama, naskah Indonesia Raya pun menyebar ke mana-mana. Koran Sin Po kemudian
menerbitkan pamflet berisi naskah lagu Indonesia Raya dengan harga 20 sen per lembar. Supratman
mendapatkan royalti sebesar 350 gulden atas penerbitan pamflet tersebut.
Sin Po kemudian menyiapkan sepuluh lembar pamflet untuk memenuhi permintaan warga, tapi dinas
intelijen politik Hindia-Belanda menyitanya. Bergemanya lagu Indonesia Raya di hampir seluruh
pelosok Nusantara membuat Belanda merasa terancam.
Pada 1930, lagu Indonesia Raya dilarang dinyanyikan di depan umum. Lagu tersebut dianggap
mengganggu ketertiban dan keamanan. Belanda khawatir, Indonesia Raya dapat memicu semangat
kemerdekaan atau memicu pemberontakan.
Supratman pun diinterogasi pemerintah Belanda. Ia ditanya mengapa memakai kata “merdeka,
merdeka”. Dia menjawab kata-kata itu diubah pemuda lainnya, sebab lirik aslinya “moelia, moelia”.
Protes pun berdatangan, sampai Volksraad turun tangan.
Pemerintah Hindia-Belanda terpaksa meninjau kembali larangan yang dimaklumatkan Gubernur
Jenderal. Mereka pun mengubahnya menjadi pembatasan. Akhirnya lagu Indonesia Raya minus lirik
“merdeka, merdeka” boleh dinyanyikan, asal dalam ruangan tertutup.

Akhir masa penjajahan


Setelah belasan tahun dilarang oleh pemerintah Hindia-Belanda, harapan datang ketika Jepang
mendarat di Indonesia dan mengusir penjajah Belanda. Awalnya, warga Indonesia mengira bahwa
kemerdekaan sudah di depan mata sehingga mereka bisa menyanyikan Indonesia Raya dengan bebas.

Namun ternyata, pendudukan Jepang tidak jauh berbeda dengan Belanda. Tak lama setelah
menduduki Indonesia, pemerintah Jepang melarang lagu Indonesia Raya. Bahkan, bendera merah
putih juga dilarang dikibarkan.
Pada 1944, ketika posisinya dalam Perang Dunia II semakin terdesak, Jepang merasa membutuhkan
bantuan pejuang Indonesia untuk bertahan. Dalam keadaan terjepit itu, mereka pun berjanji akan
memerdekan Indonesia dalam waktu dekat.
Baca Juga: Mata-mata Cilik di Balik Gemilang Serangan Umum 1 Maret 1949
Di tahun yang sama, para tokoh kemerdekaan membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Ada pula Panitia Lagu Kebangsaan yang terdiri atas Ir. Sukarno, Ki Hajar Dewantara, Akhiar,
Bintang Sudibyo, Darmawijaya, Kusbini, K.H Mansyur, Mohammad Yamin, Sastromulyono, Sanusi
Pane, Cornel Simanjuntak, A. Subarjo dan Utoyo.
Para Panitia Lagu Kebangsaan menetapkan sejumlah perubahan kecil dan penyempurnaan pada lagu
Indonesia Raya. Saat diciptakan pada 1928, bahasa Indonesia belum sempurna berkembang dari
bahasa Melayu sehingga terdapat beberapa kata janggal dalam liriknya. Penyempurnaan itu
menghasilkan lirik baru yang dipakai sampai sekarang.
Kemerdekaan Indonesia akhirnya menjadi kenyataan pada 17 Agustus 1945. Lagu kebangsaan
Indonesia Raya dinyanyikan bersama oleh mereka yang berkumpul di Jalan Pengangsaan Timur 56,
Menteng, Jakarta.

22
Pada 18 Agustus 1945, berdasarkan Undang-undang Dasar 1945, Indonesia ditetapkan secara
konstitusional sebagai lagu kebangsaan.
*) Dinukil dari buku Merayakan Indonesia Raya dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
Pada 1930, lagu Indonesia Raya dilarang dinyanyikan di depan umum. Lagu tersebut dianggap
mengganggu ketertiban dan keamanan. Belanda khawatir, Indonesia Raya dapat memicu semangat
kemerdekaan atau memicu pemberontakan.
Supratman pun diinterogasi pemerintah Belanda. Ia ditanya mengapa memakai kata “merdeka,
merdeka”. Dia menjawab kata-kata itu diubah pemuda lainnya, sebab lirik aslinya “moelia, moelia”.
Protes pun berdatangan, sampai Volksraad turun tangan.
Pemerintah Hindia-Belanda terpaksa meninjau kembali larangan yang dimaklumatkan Gubernur
Jenderal. Mereka pun mengubahnya menjadi pembatasan. Akhirnya lagu Indonesia Raya minus lirik
“merdeka, merdeka” boleh dinyanyikan, asal dalam ruangan tertutup.

Lembaga Pemerintah Non Departemen Dan Organisasi

Lembaga – Lembaga Pemerintah Non Departemen Dan Organisasi Lainnya Di Tingkat Pusat
A. Lembaga – Lembaga Pemerintah NonDepartemen (LPND)
Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) dibentuk untuk melaksanakan urusan pemerintahan di
bidang tertentu yang tidak dilaksanakan oleh departemen/instansi, bersifat nasional. Strategis, lintas
departemen/instansi, lintas sektor dan lintas wilayah. LPND merupakan unsur pemerintah pusat
berkedudukan sebagai suatu badan khusus yang membantu presiden di bidang tugasnya masing-
masing dan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. LPND bertugas
membantu Presiden dalam mengembangkan kebijakan nasional strategis dan/atau menyelenggarakan
pelayanan antar instansi, sesuai bidang tugas dan tanggung jawabnya.
LPND yang dibentuk pada kabinet Indonesia bersatu didasarkan pada Peraturan Presiden RI Nomor
11 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
kedudukan, tugas, fungsi dan kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Lembaga Pemerintahan Non
Departemen terdiri dari :
1. Lembaga Administrasi Negara (LAN)
2. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
3. Badan Kepegawaian Negara (BKN)
4. Perpustakaan Nasionla Republik Indonesia (PERPUSNAS)
5. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
6. Badan Pusat Statistik (BPS)
7. Badan Standarisasi Nasional (BSN)
8. Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (BAPETEN)
9. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
10. Badan Intelejen Negara (BIN)
11. Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG)
12. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
13. Lembaga Antariksa Nasional (LAPAN)
14. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAS)
15. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
16. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
17. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
18. Badan Koordinasi Penerapan Modal (BKPM)
19. Badan Pertahanan Nasional (BPN)
20. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
21. Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS)
22. Badan Metereologi dan Geofosika (BKMG)

Dalam melaksanakan tugasnya masing-masing LPND dikoordinasi oleh Menteri yang meliputi :
1. Menteri Dalam Negeri bagi BPN
2. Menteri Pertahanan bagi LEMSANEG dan LEMHANAS
3. Menteri Perdagangan bagi BKPM

23
4. Menteri Kesehatan bagi BPOM dan BKKBN
5. Menteri Pendidikan Nasional bagi PERPUSNAS
6. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara bagi LAN, BKN, BPKP dan ANRI
7 Menteri Negara Riset dan Teknologi bagi LIPI, LAPAN, BPPT, BATAN, BAPETEN,
BAKOSURTANAL dan BSN
8. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan bagi BAPPENAS dan BPS
9. Menteri Perhubungan bagi BMG
Koordinasi antara masing – masing Menteri dengan LPDN – LPDN tersebut meliputi koordinas
dalam perumusan kebijakan yang berkaitan dengan instansi pemerintah lainnya serta penyelesaian
permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan kebijakan. Koordinasi dilakukan dengan:
1. Memanfaatkan saluran / media komunikasi seperti media
elektronik, media cetak / tertulis maupun media tatap muka
2. Mengangkat koordinator
Dalam konteks SANKRI koordinasi merupakan salah satu fungsi manajemen yang dapat berperan
penting bagi tercapainya keselarasan gerak organisasi agar organisasi dapat mencapai sasaran yang
telah ditetapkan. Menurut pendapat Stoner dan Freeman (1992:322) yang diterjemahkan oleh
Alexander koordinasi adalah susut proses penyatupaduan tujuan – tujuan dan kegiatan dari unit – unit,
bagian – bagian atau bidang fungsional suatu organisasi yang terpisah untuk mencapai sasaran
organisasi secara efektif.
B. Organisasi Pemerintah Pusat Lainnya
Organisasi Pemerintah Pusat Lainnya meliputi :
1. Tentara Nasional Indonesia
2. Kepolisian Republik Indonesia (POLRI)
3. Kejaksaan Republik Indonesia
4. Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri
5. Kesekretariatan Lembaga Negara
6. Organisasi Ekstra/Non Struktural
C. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD)
Seiring dengan perubahan UU No 22/1999 menjadi UU o.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah,
pada tanggal 28 Maret 2005 diterbitkan Peraturan Presiden RI No. 28 Tahun 2005 tentang Dewan
Pertimbangan Pusat Otonomi Daerah sebagai dewan yang memberikan saran dan pertimbangan
kepada Presiden terhadap otonomi daerah dalam hal kebijakan otonomi daerah, mengenai rancangan
pembentukan, penghapusan dan penggabungan daerah serta pembentukan kawasan khusus, termasuk
pula perihal perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
D. Dewan Riset Nasional
Dewan Riset Nasional adalah lembaga Non Struktural yang dibetuk pemerintah untuk menggali
pemikiran dan pandangan dari pihak – pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Keanggotaan Dewan Riset Nasional berasal dari masyarakat
yang memiliki unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terdiri dari :
1. Perguruan Tinggi
2. Lembaga Penelitian dan Pengembangan
3. Badan Usaha
4. Lembaga Penunjang
Indonesia Moeda (EYD: Indonesia Muda) adalah organisasi pemuda yang diresmikan tanggal 31
Desember 1930 yang merupakan penggabungan antara organisasi Jong Java, Pemuda Indonesia dan
Jong Sumatra.
Ide penyatuan dan pembentukan organisasi ini diprakarsai oleh organisasi Jong Java yang
mengundang beberapa wakil perkumpulan pemuda untuk rapat di Jl. Kramat No. 106 Batavia
(sekarang Gedung Sumpah Pemuda, Jakarta) tanggal 23 April 1929. Keputusan pertemuan adalah
mengadakan Kongres Pemuda di Solo antara tanggal 28 Desember 1930 dan 2 Januari 1931.
Organisasi ini bertujuan memperkuat rasa persatuan di kalangan pemuda dan pelajar di Hindia
Belanda kala itu; sekaligus sebagai sebuah gerakan nasionalis untuk membangun kesadaran bertanah
air, berbangsa dan berbahasa Indonesia. Karena haluan nasionalistik ini, Indonesia Moeda juga kala
itu secara tegas mengakui Sumpah Pemuda, dan menjunjung bahasa Indonesia dan lagu Indonesia
Raya, dan bendera Merah Putih sebagai identitas organisasi ini. Walaupun organisasi ini secara resmi

24
tidak berkiprah dalam politik, organisasi ini adalah salah satu gerakan yang mempelopori terciptanya
Indonesia merdeka.

Riwayat Masuknya Modal Asing Ke Indonesia


Modal asing sudah masuk sejak zaman kolonial. Soeharto mengukuhkannya dengan alasan memutar
roda perekonomian.
Oleh M.F. Mukthi
Tim ahli ekonomi Presiden Soeharto. Kiri-kanan, atas: Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Soemitro
Djojohadikusumo, Radius Prawiro. Kiri-kanan, bawah: Mohammad Sadli, Emil Salim, Frans Seda,
dan Subroto. (Repro 30 Tahun Indonesia Merdeka 1965-1973).
DUA bulan setelah kup militer yang akhirnya menggulingkan Sukarno, CEO Freeport Langbourne
Williams menelepon Forbes Wilson, geolog Freeport. Dia mendapat kabar baik dari dua eksekutif
Texaco bahwa negosiasi Ertsberg akan segera dimulai.
Williams yakin, negoisasinya bakal mulus lantaran salah satu eksekutif Texaco, Julius Tahija, punya
koneksi kuat dengan Soeharto, yang punya kans kuat untuk naik ke puncak kekuasaan. Julius Tahija
adalah mantan tentara yang dekat Sukarno namun berubah menjadi penentang.
Sejatinya, pada April 1965 Freeport sudah mendapat lampu hijau untuk menambang di Ertsberg.
Namun negosiasi tak kunjung selesai lantaran pemerintahan Sukarno menutup negerinya dari
investasi asing. Ketika perubahan politik sudah menunjukkan akhir dari kekuasaan Sukarno, terlebih
mendapat pinjaman senilai 60 juta dolar dari lembaga-lembaga dana Amerika, kekuasaan, langkah
Freeport kian mantap.
Pada April 1967, tiga bulan sesudah pemberlakuan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU
PMA) No 1/1967, Freeport Sulphur Incorporated menandatangani sebuah kontrak karya untuk
mengeksplorasi dan menambah cadangan emas dan tembaga di Irian Jaya.
Penandatangan itu, “membuat Freeport Sulphur perusahaan asing pertama yang menandatangani
kontrak dengan pemerintah baru dan satu-satunya perusahaan yang menandatangani kontrak di bawah
kondisi yang luar biasa seperti itu,” tulis Denise Leith dalam The Politics of Power: Freeport in
Suharto’s Indonesia.
Penandatangan itu terbilang unik dan berani. Selain penandatangannya dilakukan ketua presidium
kabinet Ampera Jenderal Soeharto, bukan oleh presiden, wilayah konsesinya (Irian Barat), masih
dalam sengketa.
Menurut persyaratan kontrak itu, Freeport memperoleh masa bebas pajak selama tiga tahun serta
konsesi pajak sebesar 35 untuk tujuh tahun berikutnya dan pembebasan segala macam pajak atau
royalti selain lima persen pajak penjualan.
“Namun segera setelah kontrak ‘generasi pertama’ ini ditandatangani, pemerintah menyadari bahwa
kontrak itu perlu direvisi agar memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia,” ujar Mohammad
Sadli, yang ketika itu menjabat menteri pertambangan, dalam buku Pelaku Berkisah dengan editor
Thee Kian Wie. Sadli kelak menjadi anggota tim penasihat ekonomi Presiden Soeharto.
“Karena itu kontrak-kontrak ‘generasi kedua’ dibuat lebih restriktif dan kurang menguntungkan
investor asing, termasuk untuk perusahaan Kanada, Inco, yang menambang nikel di Soroako,
Sulawesi Selatan.”
UU PMA, produk hukum yang baru diciptakan di masa transisi kepemimpinan nasional, menjadi
salah satu langkah pemerintahan Soeharto untuk menarik modal asing demi memulihkan
perekonomian nasional.
Ekonomi Bukan Panglima
Investasi asing bukan barang baru di Indonesia. Pada masa kolonial, melalui Undang-Undang Agraria
1870, pemerintah membuka pintu bagi masuknya modal asing di sektor perkebunan. Sejumlah
pengusaha Eropa pun berdatangan. Pembukaan Terusan Suez pada 1869, yang memangkas waktu
perjalanan Hindia Belanda-Eropa, membuat jumlah investor asing meningkat. Begitu juga ketika
permintaan karet dunia melonjak. Sektor yang bisa dimasuki investor asing kemudian diperluas,
termasuk ke pertambangan dan perbankan. Nilai investasi asing di Hindia Belanda pada 1930
mencapai 4 milyar gulden.
Kegiatan investasi berhenti ketika pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia
mulai memikirkan pembangunan ekonomi yang porak-poranda akibat perang. Semangat kemerdekaan
mewarnai pemikiran dan kebijakan perekonomian nasional, termasuk soal modal asing.

25
“Seperti kebanyakan kaum nasionalis Indonesia lainnya, para pembuat kebijakan ekonomi di masa
awal kemerdekaan amat terpikat oleh cita-cita kaum sosialis. Mereka menolak kapitalisme, karena
kapitalisme diasosiasikan dengan kekuasaan kolonial,” tulis Thee Kian Wie dalam pengantar buku
Pelaku Berkisah. “Dalam kenyataan, banyak kaum nasionalis itu menafsirkan ‘sosialisme’ sebagai
‘Indonesianisasi’ atau ‘pribumisasi’.”
Rencana Urgensi Ekonomi, yang disusun Menteri Perdagangan dan Industri Soemitro
Djojohadikusumo pada 1951, dimaksudkan sebagai upaya mendorong industri sebagai penggerak
perekonomian –karenanya juga disebut Rencana Urgensi Industri. Kendati Kabinet Natsir berusia
pendek, Rencana Urgensi Ekonomi itu digunakan tiga kabinet selanjutnya. Kabinet Wilopo
membuatnya lebih rinci. Disebutkan, sasaran pembangunan industri harus dapat melepaskan
ketergantungan terhadap luar negeri. Perusahaan asing bisa menanamkan modal di luar industri kunci,
dengan syarat bekerjasama dengan perusahaan swasta nasional.
“Walaupun selama berlangsungnya rencana tersebut dapat dibangun beberapa pabrik,
pelaksanaannya bersifat sporadis,” tulis Thee Kian Wie. “Ketika menilai kemajuan program industri
jangka panjang, Sumitro menekankan buruknya organisasi, tidak kompetennya manajemen, kurang
praktisnya administrasi pemerintah dan peraturan keuangan, dan langkanya ahli teknik sebagai
penyebab tiadanya kemajuan.”
Rencana Urgensi Ekonomi kemudian dihapus pada 1956 dan diganti dengan Rencana Pembangunan
Lima Tahun Pertama Indonesia. Rencana baru ini disetujui Parlemen dua tahun kemudian sehingga
sebagian besar tak relevan lagi. Di sisi lain, pada tahun yang sama, Kabinet Karya di bawah PM
Djuanda mengeluarkan UU No. 78/1958 tentang Penanaman Modal Asing. UU ini, yang digodok
sejak 1953 dan mengalami beberapa kali revisi, sedikit demi sedikit menarik investor asing. Namun
kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda membuat UU itu jadi tak berarti. Ditambah
situasi politik dan keamanan yang tak stabil, investor asing ogah masuk ke Indonesia.
Munculnya Perpu No. 15/1960, yang menggantikan UU No. 78/1958, tak punya arti. Terlebih, sekali
lagi, pemerintah melakukan nasionalisasi modal dari Malaysia dan Inggris sebagai dampak
konfrontasi dengan Malaysia. Pada 1965, giliran perusahaan-perusahaan Amerika.
Halangan juga datang dari Partai Komunis Indonesia (PKI), yang mengecam kebijakan pemerintah
mengundang modal asing sebagai manifestasi dan masuknya kembali tangan-tangan nekolim. Pada 26
Mei 1963, misalnya, sebagai bagian dari program pembangunan yang bernama Deklarasi Ekonomi
(Dekon), pemerintah mengumumkan program stabilisasi ekonomi dengan berupaya melakukan
efìsiensi dan menarik modal asing. Muncullah sejumlah “peraturan-peraturan 26 Mei”. PKI
menentang dan menyebutnya sebagai “Kapitulasi 26 Mei”. Seiring perkembangan politik luar negeri
memanas, peraturan-peraturan itu dicabut pada April 1964.
Putar Haluan Kebijakan
Perubahan politik pasca-G30S 1965 mengubah arah ekonomi Indonesia. Menghadapi kebutuhan
mendesak untuk mengatasi masalah ekonomi yang serius, Soeharto berpaling pada sekelompok
ekonom muda dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Mereka adalah Widjojo Nitisastro,
Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Subroto, dan Emil Salim. Soeharto mengenal mereka ketika
mengikuti kursus di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung di mana
mereka kerap jadi pengajar.
Pada Januari 1966, Sejumlah ekonom mendiskusikan pemecahan masalah ekonomi dan keuangan di
Universitas Indonesia. Pada Mei, diskusi serupa kembali digelar. Saran-saran yang muncul dari
seminar-seminar itu jadi kebijakan ekonomi Kabinet Dwikora yang Disempurnakan dan
mempengaruhi rumusan-rumusan ketetapan MPRS tahun 1966 yang menjadi tonggak Orde Baru.
Komitmen Orde Baru pada pemecahan masalan ekonomi itu diperkuat ketika Angkatan Darat
menghelat Seminar AD II di Bandung pada 25 Agustus 1966. Widjojo dkk, ditempatkan di Subkomite
Masalah Ekonomi, bertugas menyusun naskah mengenai jalan keluar untuk menstabilkan dan
merehabilitasi perekonomian. Rekomendasi para ekonom itu diterima tanpa diskusi berkepanjangan.
“Seminar ini memberi pimpinan Angkatan Darat –yang merupakan unsur penting Orde Baru– ‘buku
masak’ berisi ‘resep-resep’ untuk menangani masalah-masalah ekonomi Indonesia yang serius,” ujar
Mohammad Sadli.
Tak lama sesudah seminar itu, 12 September 1966, mereka diangkat sebagai Staf Pribadi Ketua
Presidium Kabinet. Ketika Soeharto resmi menjabat presiden, mereka menjadi Tim Ahli Ekonomi

26
Presiden, dengan penambahan Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo, Menteri
Perhubungan Frans Seda, dan Gubernur Bank Indonesia Radius Prawiro.
“Tugas dari Tim ini ialah mengikuti perkembangan keadaan ekonomi, membahas masalah-masalah
ekonomi dan mengajukan pertimbangan-pertimbangan masalah ekonomi kepada Presiden, baik
diminta maupun tidak diminta,” ujar Subroto dalam “Begawan Ekonomi”, Kesan Para Sahabat
tentang Widjojo Nitisastro.
Baca juga:
Widjojo Nitisasto, Perancang Ekonomi Orde Baru
Merekalah yang merancang kebijakan ekonomi Orde Baru. David Ransom, wartawan Amerika,
menyebut mereka sebagai “Mafia Barkeley”, merujuk pada almamater mereka. Dalam tulisan “Mafia
Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia”, dimuat majalah Ramparts, Ransom menyebut
keterlibatan Amerika dalam kebijakan ekonomi Orde Baru. Ketika Widjojo kebingungan dalam
menyusun rencana stabilisasi ekonomi, David Cole, seorang ekonom dari Harvard, membantu
Widjojo. Begitu pula ketika Sadli hendak membuat UU Penanaman Modal Asing; dia mendapat
bimbingan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.
“Pada permulaan September 1967, ahli-ahli ekonomi itu berhasil menyelesaikan rancangannya. Dan
para jenderal diyakinkan akan manfaat rancangan tersebut,” tulis Ransom.
Dengan kebijakan pintu terbuka, investasi asing menjadi prioritas utama untuk mendapatkan dana,
selain utang luar negeri. Di bawah arahan para teknokrat, sebutan lain untuk penasehat ekonomi
Soeharto, upaya liberalisasi ekonomi diwujudkan. Orde Baru mengeluarkan UU No. 1/1967, setelah
melalui perdebatan sengit di parlemen, untuk menarik investor asing dan menjamin kemanan
investasinya di Indonesia. Pemerintah lalu membentuk Tim Teknis Penanaman Modal Asing dengan
ketua Mohammad Sadli.
Mereka mendapat tugas mengumpulkan informasi mengenai para investor asing potensial dan rencana
investasi mereka. Informasi ini diserahkan kepada kabinet, dan kabinet memutuskan apakah
menyetujui investasi yang direncanakan itu atau tidak. “Tim teknis ini juga ditugaskan mendorong
investasi asing,” ujar Sadli. “Pada akhir 1960-an saya sering melakukan perjalanan ke luar negeri
untuk tujuan promosi investasi.”
UU No. 1/1967 berisi berbagai insentif dan jaminan kepada para calon investor asing. Di dalamnya
termasuk masa bebas pajak dan jaminan tidak adanya nasionalisasi, kecuali dianggap perlu bagi
kepentingan nasional dan dengan kompensasi penuh sesuai hukum internasional. Kebijakan pintu
terbuka bagi modal asing ini menarik investor baru, terutama dari sektor pertambangan dan
manufaktur. Freeport jadi yang pertama masuk. Disusul kemudian perusahaan tambang dan kayu dari
sejumlah negara. Kekayaan alam dan tenaga kerja murah menjadi mantra pemikat.
Sejak pemberlakuannya, UU itu mendapat protes dan kritik keras. Di sektor pertambangan, kontrak
karya dianggap merugikan negara karena adanya sistem konsesi, bagi hasil yang tak imbang, dan
keringanan pajak untuk para investor. Belum lagi dampak sosial bagi masyarakat di sekitar lahan
konsesi.
Di bidang kehutanan, Hak Pengusahaan Hutan (HPH) merusak lingkungan dan tatanan sosial
masyarakat setempat. Secara umum, para teknokrat dituding membuat ekonomi Indonesia bergantung
pada bantuan dan modal asing. Akibatnya, kesenjangan ekonomi melebar serta berkembang
konglomerat, monopoli pemangsa, dan korupsi. Thee Kian Wie menyebut kritik itu tak adil karena
para pengkritik tak melihat gawatnya ekonomi Indonesia pada akhir 1960-an dan Indonesia memiliki
sedikit sumberdaya untuk bangkit dengan kekuatan sendiri.
Kritik terus mengiringi penerapan UU No.1/1967, kendati sedikitnya mengalami dua kali revisi,
namun pemerintah Orde Baru tetap bergeming.

Bab Dewan Perwakilan Daerah


Bab tentang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) adalah bab baru dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Bab ini terdiri atas dua pasal, yaitu Pasal 22C dan 22D dengan
rumusan sebagai berikut.
BAB VIIA
DEWAN PERWAKILAN DAERAH
Pasal 22C
(1) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum.

27
(2) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh
anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota Dewan
Perwakilan Rakyat.
(3) Dewan Perwakilan Daerah bersidang sedikitnya sekali dalam
setahun.
(4) Susunan dan kedudukan Dewan Perwakilan Daerah diatur dengan undang-undang.
Pasal 22D
(1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan
undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan
pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi
lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
(2) Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah;
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat
dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan
undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama.
(3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang
mengenai: otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta menyampaikan hasil
pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk
ditindaklanjuti.
(4) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat diber-hentikan dari jabatannya, yang syarat-syarat dan
tata caranya diatur dalam undang-undang.
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 melahirkan sebuah
lembaga baru dalam struktur ketatanegaraan Indonesia, yakni Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Dengan kehadiran DPD tersebut, dalam sistem perwakilan Indonesia, DPR didukung dan diperkuat
oleh DPD. DPR merupakan lem-baga perwakilan berdasarkan aspirasi dan paham politik rakyat
sebagai pemegang kedaulatan, sedangkan DPD merupakan lembaga perwakilan penyalur
keanekaragaman aspirasi daerah. Keberadaan lembaga DPD merupakan upaya menampung prinsip
perwakilan daerah.
Sistem perwakilan yang dianut Indonesia merupakan sistem yang khas Indonesia karena dibentuk
sebagai per-wujudan kebutuhan, kepentingan, serta tantangan bangsa dan negara Indonesia.
Ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur keberadaan
DPD dalam struktur ketatanegaraan Indonesia itu antara lain dimaksudkan untuk
1) memperkuat ikatan daerah-daerah dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memper-
teguh persatuan kebangsaan seluruh daerah;
2) meningkatkan agregasi dan akomodasi aspirasi dan kepentingan daerah-daerah dalam perumusan
kebijakan nasional berkaitan dengan negara dan daerah;
3) mendorong percepatan demokrasi, pembangunan dan kemajuan daerah secara serasi dan
seimbang.
Dengan demikian, keberadaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan otonomi
daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (5) berjalan sesuai dengan keberagaman daerah
dalam rangka kemajuan bangsa dan negara.
DPD memiliki fungsi yang terbatas di bidang legislasi, anggaran, pengawasan, dan pertimbangan.
Fungsi DPD berkaitan erat dengan sistem saling mengawasi dan saling mengimbangi dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia, yaitu
(1) dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan
dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang
berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;
(2) ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah; hubungan pusat
dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah; serta memberikan

28
pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan
dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan
agama;
(3) dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai: otonomi daerah,
pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara,
pajak, pendi-dikan, dan agama serta menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan
Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara
lain Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno
dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB, Soekarno dan Hatta
dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang
diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan
proklamasi akan dilaksanakan terutama setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di
Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa
yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung
rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung
Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA(yang sekarang telah menjadi lapangan
Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56. Dipilih rumah Bung Karno karena di
lapangan IKADA sudah tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga
tentara-tentara jepang sudah berjaga-jaga, untuk menghindari kericuhan, antara penonton-penonton
saat terjadi pembacaan teks proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur No.56.
Teks Proklamasi disusun di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong. Bendera Merah Putih sudah
dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk
proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan
pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana
dan Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk
menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno
dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada
tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan
teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik
yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman,
Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[1]
Pada waktu itu Soekarno dan Moh. Hatta, tokoh-tokoh menginginkan agar proklamasi dilakukan
melalui PPKI, sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya
tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan
agar Soekarno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir
apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi
seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
Sebelumnya golongan pemuda telah mengadakan suatu perundingan di salah satu lembaga
bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta, pada tanggal 15 Agustus. Dalam pertemuan ini diputuskan
agar pelaksanaan kemerdekaan dilepaskan segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari
Jepang. Hasil keputusan disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya tetapi ditolak oleh
Soekarno karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI.

Musyawarah Mufakat, Aklamasi, Atau Voting

DALAM setiap majelis atau perjamuan besar, pasti ada persoalan bersama yang dibahas. Dan,
nantinya akan menjadi sebuah ketetapan bersama. Persoalan bersama itu antara lain membahas
program kerja, juga pemilihan pengurus baru.

29
Rembuk desa, ini kalau di kampung, kongres, muktamar atau munas, kalau di partai. Esensinya sama,
yaitu bagaimana cara dan proses pengambilan keputusan ditempuh. Jika tidak mengagendakan
pergantian pengurus, biasanya, rapat dipimpin langsung oleh kepala desa, ketua RT, ketua RW, atau
ketua umum partai.
Namun, jika salah satu acara pentingnya adalah pergantian pengurus, atau kepala desa atau ketua
umum, rapat dibuka oleh ketua panitia yang ditunjuk. Seterusnya, peserta musyawarah menetapkan
pimpinan rapat. Pimpinan rapat yang dipilih oleh seluruh peserta itulah yang mengatur jalannya rapat.

Agar tertib, dibuatlah aturan main atau sering disebut tata tertib. Biasanya, tata tertib berisi tentang
tata cara dan persyaratan teknis. Semua diputuskan secara terbuka di forum rapat. Itulah
kebijaksanaan permusyawaratan yang kita kenal dengan sistem demokrasi. Selain demokrasi, tak ada
proses pengambilan keputusan secara kolektif, tapi berdasarkan titah atau perintah raja, atau presiden,
atau menteri, atau lurah sekalipun yang ditetapkan sesuai kehendaknya.
Beruntung, jika keputusan sepihak itu mampu mewujudkan keinginan warga atau rakyat, misalnya
menjamin kesehatan, kesejahteraan, maupun pendidikan, juga penyediaan pekerjaan yang layak.
Sebaliknya, keputusan itu akan menicu pertentangan atau perlawanan, juga konflik horisontal dan
vertikal, jika keputusan itu justru membuat warga dan masyarakat umum makin menderita, makin
miskin, hidup susah, kebebasan berekspresi dikekang.
Di alam demokrasi, pengambilan keputusan dapat ditempuh setidaknya dengan tiga cara. Yaitu,
musyawarah mufakat. Cara ini diyakini mampu mengakomodasi seluruh kepentingan, mayoritas dan
minoritas. Cara ini dianggap paling ideal, karena yang besar akan mengayomi yang kecil, sebaliknya
yang kecil tidak merongrong yang besar.
Cara berikutnya adalah voting, yaitu pemungutan suara (voting). Langkah itu ditempuh jika
musyawarah mufakat tidak tercapai. Konteksnya, semua pihak harus menghormati keputusan yang
ditempuh secara voting, apapun hasilnya, dan berapapun selisih suaranya.
Satu lagi, jalur aklamasi. Biasanya ditempuh jika sudah diketahui sikap mayoritas peserta. Sebetulnya,
aklamasi itu juga voting, tapi tidak dengan menempuh pola formal voting dengan pemungutan suara
dan dihitung jumlah suaranya. Begitu secara kasat mata mayoritas peserta setuju, keputusan langsung
dibuat tanpa harus menghitung ulang berapa yang setuju dan berapa yang menolak.
Aklamasi biasanya ditempuh dengan cara tunjuk jari. Soal siapa yang memiliki hak suara, itu yang
diatur dalam tata tertib. Bisa one man one vote (perorangan langsung) atau one grup one vote
(perwakilan).
Ketiga proses pengambilan keputusan itu demokratis di alam demokrasi Pancasila ini. Bisa dilakukan
di rapat-rapat DPR maupun munas partai. (b)

Aklamasi, Demokrasi, dan Musyawarah Mufakat


Bidikutama.com – Musyawarah dan mufakat merupakan warisan agung para leluhur bangsa
Indonesia. Dibanding negara-negara lain, bangsa Indonesia dengan musyawarah mufakatnya mampu
menciptakan dan menjaga ketentraman di tengah keberagaman.
Generasi muda Indonesia di masa silam pernah mencetak sejarah demokrasi yang sehat, yakni
memutuskan kebijakan dan ketetapan melalui musyawarah mufakat. Kongres Pemuda II, yang pada
kegiatannya memiliki makna mendalam yakni Sumpah Pemuda, merupakan salah satu hasil dari
kekuatan musyawarah. Kita bisa lihat, bagaimana para pemuda era tahun 30-an berdiskusi,
bermusyawarah, dan bermufakat sehingga dapat melahirkan sebuah ikrar besar yang sampai saat ini
mampu mempersatukan kita semua lewat Sumpah Pemuda.
Kemudian kita maju sedikit ke tahun-tahun dimana Indonesia hampir mendekati kemerdekaan.
Tepatnya pada sidang BPUPKI. Dari kejadian ini bisa kita lihat, bagaimana kekuatan musyawarah
yang menjadi teknis dalam persidangan tersebut juga telah melahirkan sesuatu yang besar, yaitu
Pancasila.
Kemudian pada 17 Agustus 1945, kita juga bisa lihat musyawarah yang lagi-lagi menjadi fondasi
dalam persidangan melahirkan keputusan yang tepat, yakni penetapan Soekarno sebagai Presiden
pertama dan Moh. Hatta menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Dan masih banyak sebenarnya momen penting yang keputusannya diambil lewat musyawarah
mufakat. Memang semangat musyawarah akhir-akhir ini menurun. Hal itu sering terjadi seiring

30
dengan perkembangan zaman yang serba instan dan digital. Akibatnya, media untuk melaksanakan
musyawarah mufakat bergeser.
Padahal musyawarah mufakat juga bagian dari demokrasi, lebih tepatnya konsep demokrasi di
Indonesia. Musyawarah mufakat juga menjadi local wisdom yang telah terbukti menjadi sendi bangsa
yang kokoh. Itu dibuktikan selama rentang usia Indonesia dari masa kemerdekaan sampai sekarang,
dimana melalui musyawarah mufakat Indonesia mampu menangani dan menyelesaikan berbagai
persoalan.
Bukan hanya itu, musyawarah mufakat sebagai demokrasi di Indonesia juga punya kelebihan
tersendiri dibanding demokrasi yang mengandalkan sistem one man one vote. Pertama, musyawarah
memberikan nilai tinggi untuk suara orang yang ahli dan berpendidikan di masing-masing bidang
sehingga dapat mengetahui secara jelas tentang hal yang harus dipertimbangkan sebelum ditetapkan
menjadi keputusan, sementara demokrasi biasa menyamaratakan semua suara, jadi tidak ada
perbedaan antara orang yang tidak berilmu dengan yang berilmu dalam pengambilan keputusan.
Kedua, musyawarah mengutamakan kekuatan argument yang logic, masuk akal, jelas, dan berdasar
sehingga satu orang yang argumentatif bisa mengalahkan seribu suara yang tidak argumentatif,
dengan demikian keputusan yang didapat terminimalisir dari keputusan yang tidak jelas dasarnya. Hal
ini berbeda dengan pemilihan yang hanya berpegang pada suara terbanyak walaupun tidak
argumentatif, bahkan acap kali pendapat aneh dan tidak masuk akal jadi putusan. Yang terakhir
adalah musyawarah itu adil dan tidak berlebihan sehingga menempatkan suara rakyat tetap sebagai
suara manusia yang memiliki kebenaran dan kekurangannya masing-masing, sedangkan demokrasi
menempatkan suara rakyat sebagai suara Tuhan tanpa membedakan baik dan buruknya.
Namun dengan demikian apakah berarti demokarasi one man one vote itu buruk? Tidak juga,
demokrasi pada umumnya tidak buruk. Namun, jika Indonesia memiliki sistem demokrasi yang lebih
baik mengapa tidak diterapkan? One man one vote tetap bisa menjadi pilihan ketika pada musyawarah
tidak mendapat mufakat, saat itulah one man one vote bisa diterapkan karena ketika sudah melakukan
musyawarah namun tidak mufakat, setidaknya sudah dipertimbangkan baik-buruknya suatu putusan,
selebihnya bagaimana cara orang yang terlibat dalam musyawarah tersebut mampu menterjemahkan
hasil musyawarahnya sebelum masuk ke pemilihan.
Musyawarah mufakat bukan hanya dilakukan untuk persidangan-persidangan besar negara, namun
juga baik untuk diterapkan dalam seluruh sendi dan lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah
satu di antaranya musyawarah untuk menentukan calon pimpinan di tingkat kampus.
Musyawarah mufakat tentu sangat baik untuk dilakukan, karena selain menjadi nafas demokrasi
bangsa ini, musyawarah juga menganut sistem keterbukaan. Jika satu sama lain mahasiswa saling
terbuka, maka akan muncul rasa toleran. Toleran ini adalah basis dasar dari musyawarah, karena
toleran muncul dari rasa saling mengerti atas kondisi yang sudah saling terbuka. Jika sudah sampai ke
tahap toleran, maka tahap puncaknya adalah kerukunan. Kerukuan sendiri merupakan tingkatan
tertinggi dalam bermasyarakat baik dalam konteks bermasyarakat secara umum maupun
bermasyarakat dalam lingkungan kampus, yang mengutamakan keterbukaan dan musyawarah sebagai
jalan untuk saling mengerti kemauan, kondisi, dan keadaan satu sama lain.
Musyawarah ini tidak sempit definisinya, keputusan aklamasi pada sebuah pemilihan juga terjadi
karena musyawarah. Dengan demikian aklamasi juga merupakan bagian dari musyawarah mufakat.
Maka dari itu aklamasi dalam suatu pemilihan umum di kampus baik itu tingkat Universitas, Fakultas,
maupun Jurusan bukanlah hal yang aneh dan selalu diduga-duga bersifat politis. Apalagi aklamasi
dikatakan sebagai penyakit turun-temurun. Jika aklamasi ini dikatakan sebagai penyakit, maka
seharusnya orang yang mengatakan itu memahami terlebih dahulu dasar dari aklamasi dan
musyawarah mufakat yang terjadi. Karena salah paham terjadi akibat adanya paham yang salah,
paham yang salah terjadi akibat tidak adanya keterbukaan, jika satu sama lain tidak terbuka maka sulit
untuk bisa saling toleran, dan jika tidak pernah toleran maka kerukunanpun tidak akan bisa terwujud.
Di Untirta sendiri yang tempo hari melaksanakan pesta demokrasi mahasiswa atau yang biasa disebut
Pemira, beberapa Fakultas dan Jurusan yang ada tidak melakukan pemilihan umum atau aklamasi.
Seperti yang ada di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), tercatat ada 14 HMJ-nya yang
melakukan aklamasi, yaitu HIMATIKA; HIMABIO; HMJ IPA; HMJ BK; ESA; HIMADIKSIO;
HIMAPETRO; HIMA SENI; HIMAFI; HIMA PKh; HIMADIRA; HIMA PPKn; HIMA PTM; dan
HMJ PNF. Kemudian di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ada satu calonnya yang melakukan
aklamasi, yakni pada jurusan Ekonomi Pembangunan atau HIMEPTA. Lalu di Fakultas Ilmu Sosial

31
dan Ilmu Politik (FISIP) sebenarnya juga terdapat satu paslon pada HIMA AP, namun karena tetap
diadakan pemilihan melawan kotak kosong pada hari H Pemira. Maka hal tersebut tidak dapat
dikatakan aklamasi, karena aklamasi sendiri memiliki arti pernyataan setuju terhadap suatu usul tanpa
melalui pemungutan suara. Dan yang terakhir adalah aklamasi yang terjadi pada Fakultas Pertanian,
dimana paslon di tingkat Fakultas yakni Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FAPERTA serta Calon
Ketua dan Wakil Ketua HIMAGRON, HIMAGRI, dan HIMAPI semuanya melakukan aklamasi. Hal
tersebut merupakan cerminan baik bahwa beberapa Fakultas dan Jurusan di Untirta sudah menentukan
calon ketua dan wakilnya melalui musyawarah yang dimufakati bersama.
Maka sebagai saran, orang yang mengatakan bahwa aklamasi adalah penyakit, segeralah untuk
terbuka, dan bermusyawarahlah. Jangan sampai kita teriak anti terhadap asing, tapi tidak mau bangga
dengan budaya sendiri, yaitu musyawarah dan mufakat.

Sejarah Satelit Palapa Pertama di Indonesia


JAKARTA - Satelit telekomunikasi, Palapa merupakan satelit geostasioner yang diambil dari nama
"Sumpah Palapa" oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada 1334. Catatan sejarah menunjukkan,
satelit pertama Indonesia diluncurkan lebih dari empat dekade lalu oleh roket Amerika Serikat.
Diambil dari berbagai sumber, satelit milik Indonesia perdana dikenal sebutan Palapa A1 dan Palapa
A2. Satelit ini diluncurkan dari landasan Tanjung Canaveral tepatnya pada 1976 dan 1977.
Satelit Palapa A1 digunakan untuk keperluan dalam negeri seperti transmisi televisi dan
telekomunikasi. Sementara Palapa A2, melayani telekomunikasi ASEAN dan keperluan pertahanan
dan keamanan.
Satelit memiliki usia yang terbatas, sehingga generasi baru dari satelit tersebut diluncurkan. Tercatat,
satelit penerus dari satelit perdana milik Indonesia ialah Palapa B1 dan Palapa B2.
Satelit Palapa B1 dan Palapa B2 menggantikan dua satelit sebelumnya yang habis masa operasinya
pada 1983 dan 1984. Ada perbedaan satelit Palapa B1 dan Palapa B2.
Satelit Palapa B2 memanfaatkan teknologi tinggi, sehingga harus diangkut dengan pesawat ulang alik
"Challenger" ke luar angkasa. Sedangkan Palapa B1 diluncurkan dengan cara konvensional.
Akan tetapi, satelit B2 mengalami kegagalan dan dijemput oleh STS-51A pada November 1984.
Kemudian, Palapa B2P diluncurkan mengitari orbit, bergerak dari barat ke timur dengan kecepatan
yang sama dengan rotasi Bumi.
Satelit B2P berada di ketinggian 36 ribu kilometer di atas khatulistiwa pada lokasi 113 BT. Lalu, pada
1996 Indonesia meluncurkan satelit Palapa C1. Satelit Palapa C1 ialah satelit komunikasi pertama
yang dioperasikan oleh PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo). Satelit-satelit sebelumnya sebagian
besar dikelola oleh Perumtel.
Palapa C1 dibuat oleh Hughes, Amerika Serikat, AS dan diluncurkan pada 31 Januari 1996 di
Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral (LC-36B) AS. Diluncurkan memanfaatkan roket Atlas
2AS.
Satelit tersebut dimaksudkan untuk mengganti satelit Palapa B4 pada Orbit Geo Stasioner slot 113 BT
dengan rentang operasi selama 7 tahun, tetapi terjadi kegagalan pengisian baterai pada 24 November
1998.
Akhirnya, Palapa C1 dinyatakan tidak layak beroperasi dan digantikan oleh Palapa C2. Satelit C2
beroperasi pada Orbit Geo Stasioner slot 113 BT di ketinggian 36.000 km. Operasional satelit ini lalu
dipegang PT. Indosat Tbk karena penggabungan Satelindo dengan Indosat.
Kemudian, satelit Palapa D diluncurkan sebagai satelit komunikasi yang dimiliki PT. Indosat Tbk.
Satelit tersebut mengangkasa pada 31 Agustus 2009 di Xichang Satellite Launch Center (XSLC)
menggunakan roket Long March (Chang Zheng) 3B.
Satelit Palapa D diproduksi Thales Alenia Space, Perancis. Palapa D menggantikan satelit Palapa C2
pada Orbit Geo Stasioner slot 113 BT yang selesai masa operasionalnya pada 2011.
Pengguna layanan Palapa D antara lain, televisi nasional serta televisi lokal di Tanah Air. Tidak hanya
itu, satelit juga mendukung sejumlah radio di Indonesia.
Pengertian Negara Kesatuan
Tahukah Anda apa itu negara kesatuan?? Negara kesatuan adalah suatu bentuk negara tunggal yang
hanya mempunyai satu bentuk pemerintahan pusat yang mengatur seluruh wilayah – wilayah atau
daerah – daerah dan tidak ada wilayah atau daerah yang bersifat seperti negara

32
Negara kesatuan ini mempunyai pemerintah pusat yang memegang penuh kekuasaan dan kedudukan
yang tertinggi dalam suatu bentuk pemerintahan, pada negara kesatuan pemerintah pusat dapat
melimpahkan wewenangnya ke kabupaten, kota atau satuan pemerintahan.
definisi negara kesatuan adalah
Selain itu pelimpahan wewenang ini tidak di atur dalam konstitusi melainkan melalui peraturan
perundang undangan. Sebagian kekuasaan pemerintah pusat dapat diberikan kepada pemerintah
daerah melalui otonomi, dengan hal ini sering disebut dengan Desentralisasi.
Meskipun dengan begitu pemerintah pusat masih memiliki peranan dan juga kekuasaan yang
tertinggi, dan negara kesatuan ini dapat dibagi menjadi dua macam yakni negara kesatuan sistem
desentralisasi dan juga negara kesatuan sistem sentralisasi.
Dan tahukah Anda apa itu negara kesatuan desentralisasi dan juga negara kesatuan sentralisasi??
Berikut penjelasan selengkapnya tentang negara kesatuan desentralisasi dan juga negara kesatuan
sentralisasi.
1. Negara Kesatuan Desentralisasi
arti dan ciri ciri negara kesatuan
Definisi dari negara kesatuan dengan sistem desentralisasi yaitu dimana pemerintah pusat tidak
memegang seluruh kekuasaan pemerintahan, sebagian pemerintahannya di berikan kepada daerah
daerah yang ada di negara tersebut, dan negara kesatuan dengan sistem desentralisasi ini memiliki ciri
– ciri yang melekat yaitu dekonsentrasi, desentralisasi dan juga tugas pembantuan. Dan dalam sistem
ini maka setiap daerah diberi kekuasaan untuk mengolah dan mengatur daerahnya sendiri -sendiri
dalam artian setiap daerah memiliki hak otonomi untuk menyelenggarakan kekuasaannya.
Ingin Menambah Ilmu dan Wawasan? Ketahui inti masalah ekonomi yang wajib Anda ketahui. Baca
selengkap artikel menarik menambah cakrawala dan pemahaman tentan pendidikan dan sosial, klik
www.draftgorenh.com dan dapatkan informasi menarik lainnya.
Ciri – ciri negara kesatuan itu meliputi sebagai berikut:
Terdiri dari satu undang – undang dasar, kepala negara atau presiden, dewan mentri, dan juga dewan
perwakilan rakyat.
Kedaulatan negara mencangkup kedaulatan ke dalam dan juga kedaulatan ke luar yang telah di tanda
tangani oleh pemerintah pusat.
Menganut dua sistem yaitu sistem sentralisasi dari pusat dan juga sistem desentralisasi dari daerah.
Hanya menggunakan satu kebijakan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi seperti masalah
ekonomi, budaya, sosial, politik, keamanan dan juga pertahanan.

2. Negara Kesatuan Sentralisasi


Sedangkan definisi dari negara kesatuan dengan sistem sentralisasi yaitu pemerintah pusat yang
memegang seluruh tampuk kepemimpinan pemerintahan dalam semua bidang apapun, sedangkan
pemerintah daerah hanya menjalankan atau melaksanakan program yang telah dibuat oleh pemerintah
pusat.
Pengertian Negara Serikat
Setelah kita mengetahui pengertian tentang negara kesatuan mari kita bahas lebih lanjut tentang
negara serikat atau federasi. Negara serikat atau federasi ini adalah negara yang bersusun jamak
dimana dalam suatu negara masih ada negara lagi dan itu biasa disebut dengan negara bagian.
Negara – negara bagian tersebut semuanya berdiri sendiri tetapi kemudian negara – negara tersebut
membentuk suatu ikatan dengan negara lain dan menggabungkan diri dalam satu federasi dengan
sistem pemrintahan yang federal. Dan ikatan yang dibentuk tersebut sifatnya tetap (fixed) jadi dimana
negara – negara bagian tersebut yang sudh bergabung tidak dapat keluar masuk lagi dari negara
serikat tersebut.
Nah itulah pengertian – pengertian tentang negara kesatuan dan juga negara serikat selanjutnya
dibawah ini adalah ciri – ciri yang ada pada negara kesatuan dan juga negara serikat. Berikut
selengkapnya.
Ciri – Ciri Negara Kesatuan

Terdiri dari satu undang – undang dasar, kepala negara atau presiden, dewan mentri, dan juga dewan
perwakilan rakyat.

33
Kedaulatan negara mencangkup kedaulatan ke dalam dan juga kedaulatan ke luar yang telah di tanda
tangani oleh pemerintah pusat.
Menganut dua sistem yaitu sistem sentralisasi dari pusat dan juga sistem desentralisasi dari daerah.
Hanya menggunakan satu kebijakan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi seperti masalah
ekonomi, budaya, sosial, politik, keamanan dan juga pertahanan.
Ciri – Ciri Negara Serikat atau Federasi
apa arti negara kesatuan dan ciri cirinya
Kepala negara yang dipilih rakyatnya harus bertanggung jawab penuh atas rakyatnya.
Kepala negara memiliki hak veto yang diajukan oleh parlemen.
Masing – masing negara bagian memiliki kekuasaan tetapi tidak memiliki kedaulatan.
Setiap negara mempunyai wewenang untuk menyusun undang undangnya sendiri.
Pemerintah pusat memiliki kedaulatan baik di dalam maupun di luar.
Nah itulah pengertian dan ciri-ciri negara pusat dan juga negara serikat atau federasi, semoga artikel
ini dapat membantu meningkatkan wawasan Anda sekian Terimakasih.

KEKUASAAN KEPALA NEGARA TIDAK TAK TERBATAS

RUMUSAN penyusun UUD 1945 “Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak Terbatas” tetap mempunyai
relevansi dan urgensi untuk senantiasa direnungkan kembali.
Kalimat yang termasyhur ini ditempatkan dalam Penjelasan UUD 1945 dan merupakan salah catu dari
7 (tujuh) buah kunci pokok Sistem Pemerintahan Negara yang dianut dan ditegaskan dalam UUD
1945.
Rumusan ini tidak pernah berubah atau diubah sejak berdirinya negara Republik Indonesia dan
sepanjang negara ini mempunyai UUD 1945 sebagai hukum dasar konstitusionalnya.
Relevansi dan bahkan urgensi untuk senantiasa merenungkan ulang kekuasaan kepala negara, (dalam
konteks selanjutnya dapat juga dibaca kekuasaan Presiden, kekuasaan Pemerintah) itu mempunyai
berbagai pertimbangan baik alasan juridis maupun alasan historis sebagai perwujudan nyata dari
ketentuan-ketentuan konstitusional UUD 1945 yang berkaitan dengan Kekuasaan Kepala
Negara/Presiden/Pemerintah itu.
Suara-suara yang pernah dilontarkan dalam sejarah pertumbuhannya kepada Negara Republik
Indonesia yang ber-UUD 1945, seperti Negara bikinan fascis, yang tentu bersifat fascis pula; negara
dengan pemerintahan yang diktatorial, dan lain sebagainya, khususnya di awal berdirinya Negara
Republik Indonesia yang masih muda, cukup santer diperdengarkan dan dilontarkan ke alamat negara
proklamasi oleh pihak-pihak yang tidak menyetujuinya.
Kemudian pengalaman-pengalaman yang tercatat dalam sejarah perkembangan ketatanegaraan
Republik Indonesia, dimana Kepala Negara/Presiden dapat misalnya mengeluarkan suatu bentuk
peraturan perundangan-perundangan berupa penetapan Presiden (Penpres) untuk membuat lembaga-
lembaga perwakilan rakyat yang notabene dilaksanakan di masa berlakunya kembali UUD 1945.
Pengalaman semacam itu masih belum hilang dari ingatan sementara warga negara Indonesia yang
pernah mengalaminya sendiri dan yang kini masih hidup di alam Indonesia Merdeka.
Pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat, yang adalah hasil sesuatu Pemilihan Umum, yang dilakukan
oleh seorang Presiden yang sendiri bukanlah hasil pemilihan serta penetapan sebuah Majelis
Permusyawaratan Rakyat, juga berkaitan dengan kekuasan Kepala Negara/Presiden yang kesemuanya
itu merupakan alasan yang CUKUP kuat untuk senantiasa merenungkan ulang perihal kekuasaan
Kepala Negara/Presiden/ Pemerintah yang dimaksud.
Dari sudut bahasa rumusan penyusun UUD 1945 “Kekuasaan Kepala Negara Cara Tidak Terbatas”
itu mungkin menimbulkan pertanyaan, apa sebab demikian rumusannya?
Tidak Tak Terbatas. Istilah “TIDAK” yang negatif itu, digandengkan dengan istilah “TAK” yang juga
negatif itu, hasilnyakan menjadi positif. Sehingga rumusan “Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak
Terbatas” artinya tidak lain dan tidak bukan adalah “Kekuasaan Kepala Negara (adalah positip)
Terbatas”
Agaknya perasaan bahasa subyektif dari konseptor asli dari rumusan tersebut turut memainkan
peranan yang menentukan. Di samping adanya dugaan (sebab tidak ada penjelasan otentik mengenai
hal ini), bahwa rumusan itu dimaksudkan justru untuk menekankan keterbatasan daripada kekuasaan
kepala negara itu.

34
Bahasa hukum UUD 1945 (yang juga cukup banyak mempergunakan istilahistilah hukum bahasa
asing itu), perlu mendapat perhatian dari para peminat dan para ahli.
Dengan mengingat, bahwa Negara Republik Indonesia sejak awal berdirinya adalah suatu negara yang
berdasar atas hukum (Rechtsstaat) dan tidak berdasarkan kekuasaan belaka (Matchtsstaat), maka
sebagai suatu negara hukum kekuasaan kepala negaranya adalah terbatas.
Kepala Negara dalam menjalankan hak-hak serta kewajiban-kewajiban konstitusionalnya dibatasi
oleh ketentuan-ketentuan UUD-nya, yang tidak boleh dilanggarnya.
Dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga tinggi negara seperti Dewan Perwakilan Rakyat
misalnya, Kepala Negara/Presiden itu sudah tertentu dan terbatas saling hubungannya, satu sama lain
Kepala Negara/Presiden tidak dapat membubarkan DPR dan sebaliknya DPR pun tidak bisa
menjatuhkan Presiden.
Andaikata Kepala Negara/Presiden itu kekuasaannya tidak terbatas, maka ia akan dapat membubarkan
DPR sekehendak hatinya, kapan saja dan di mana saja. Tetapi Presiden dalam naungan UUD 1945
adalah terbatas kekuasaannya, khususnya yang menyangkut hubungan timbal-baliknya dengan pihak
DPR
Keterbatasan lain di bidang perundang-undangan misalnya, jadi masih dalam rangka hubungan
timbal-balik antara Kepala Negara I Presiden dan DPR, maka Presiden memegang kekuasaan
membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. Tanpa persetujuan DPR tidak akan ada satupun
undang-undang yang hanya berdasarkan kekuasaan Presiden.
Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan DPR Jadi jelas kekuasaan Kepala
Negara/Presiden di bidang legislatif itu adalah tidak tak terbatas, alias terbatas adanya.
Demikian selanjutnya Presiden harus mendapat dari DPR persetujuan untuk menetapkan anggaran
pendapatan dan belanja negara yang sangat vital artinya bagi penghidupan dan kehidupan bangsa dan
negara.
MENGABAIKAN KAUM IBU, BERARTI MENUJU KE JURANG KEHANCURAN
PERUSAHAAN-PERUSAHAAN AGAR TAK SALING BAJAK TENAGA-TENAGA…
PII HARUS ATASI PEMBAJAKAN TENAGA KERJA INSINYUR
Ini berarti bahwa dalam bidang APBN pun kekuasaan Kepala Negara/Presiden adalah terbatas pula
adanya. Demikian satu dua faset dari hubungan Kepala Negara/Presiden dengan lembaga tinggi
negara bernama DPR, yang menggambarkan keterbatasan kekuasaan Kepala Negara/Presiden
Republik Indonesia itu.
Hal mana tentu masih dapat dilengkapi dengan pembatasan-pembatasan berdasarkan ketentuan-
ketentuan konstitusional lainnya.
Dalam kaitannya dengan lembaga tertinggi negara bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR),
maka keterbatasan daripada kekuasaan Kepala Negara itu dapat dibuktikan a.l. dengan penjelasan-
penjelasan berikut Kedaulatan di negara Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945-nya adalah di
tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR, sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia.
Majelis inilah yang memilih dan mengangkat Kepala Negara/Presiden. MPR inilah yang memegang
kekuasaan Negara yang tertinggi, sedang Presiden harus menjalankan haluan negara menurut garis-
garis besar yang telah ditetapkan oleh Majelis.
Presiden yang diangkat oleh Majelis, bertunduk (-ini istilah UUD 1945-) dan bertanggung jawab
kepada Majelis. Ia adalah “mandataris” dari Majelis, ia berwajib (-juga istilah UUD
1945-)menjalankan putusan-putusan Majelis. Presiden tidak “noben”, akan tetapi ”untergeordnet” (-
juga istilah dalam UUD 1945 -) kepada Majelis.

Bermanfaat
Agaknya, dari kalimat-kalimat Penjelasan UUD 1945 itu, jelas bahwa dengan adanya ketentuan-
ketentuan konstitusional yang mengatur hubungan antara MPR dan Kepala Negaral Presiden,
kekuasaan Kepala Negara/Presiden itu tidak tak terbatas.
Memang Presiden diberi kekuasaan untuk menjalankan putusan-putusan MPR dan ketentuan-
ketentuan yang telah ditetapkan dalam konstitusi. Dalam menjalankan kekuasaan-kekuasaannya itu,
Presiden tidak bisa bertindak tanpa batas sebagai seorang diktator.
Pada waktunya Presiden harus mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugasnya kepada MPR. Jadi
kekuasaan Kepala Negara/Presiden tidak tak terbatas.
Sama seperti DPR, maka MPR-pun tidak dapat dibubarkan oleh Kepala Negara/Presiden.

35
Bahwa keanggotaan MPR ditetapkan dengan Surat Keputusan Presiden (SK Presiden) tidaklah berarti
MPR itu kedudukannya lebih rendah dari Presiden. Bahkan sebaliknya UUD menegaskan, bahwa
Presiden tidak “noben”, akan tetapi “untergeordnet” kepada MPR.
SK Presiden bagi penetapan I pengangkatan keanggotaan MPR diperlukan untuk memenuhi
persyaratan administratif I keuangan, agar instansi-instansi pemerintahan yang bersangkutan misalnya
dapat mengeluarkan anggaran untuk keperluan-keperluan MPR, termasuk pembayaran gaji/honor para
anggota lembaga teninggi negara itu.
Dalam hal mengeluarkan SK penetapan/pengangkatan keanggotaan MPR itu, jelas juga kekuasaan
Kepala Negara/Presiden adalah terbatas, yakni dibatasi oleh ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Kepala Negara/Presiden bagaimana pun tidak dapat atas kehendak serta kemauan sendiri menetapkan
dan mengangkat begitu saja seorang warganegara Indonesia menjadi anggota MPR.
Apalagi kalau kita sebut Negara Republik Indonesia sebagai satu-satunya negara di seluruh dunia
yang mempunyai Pancasila sebagai dasar dan falsafah negaranya, maka jelas bahwa kekuasaan kepala
negaranya adalah terbatas, yakni untuk merealisasikan cita-cita proklamasi kemerdekaannya yang
berdasarkan Pancasila itu.
Negara Republik Indonesia bukan negara (bikinan) fascis. Kepala Negara nya bukan diktator.
Merenungkan ulang rumusan “Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak Terbatas” sebagai salah satu
kunci pokok dan sistem pemerintahan yang ditegaskan dalam UUD 1945, adalah bukan tidak
bermanfaat. (RA)

Pembacaan Teks Proklamasi

Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945– Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan


padahari jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang,
yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta bertempat di Jalan
Pengangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.
Perundingan antara golongan tua dan goolongan muda pada penyusunan teks Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia berjalan pada pukul 02.00 – 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis pada
ruang makan laksamana Tadashi Madea Jln Imam Bonjol No. 1. Para penyusun teks tersebut adalah
Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, serta Mr. Ahmad Soebarjo.
Penulis Teks Proklamasi
Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Pada ruang depan, hadir B.M Diah, Sukarni,
Sayuti Melik, dan Soediro. Sukarni mengusulkan supaya yang menandatangani teks proklamasi
tersebut adalah Ir. Soekarno Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Dan teks proklamasi
tersebut diketik oleh Sayuti Malik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, dikediaman Soekarno, Jln
Pegangsaan Timur 56 sudah hadir antara lain Soewirjo, Gafar Pringgodigdo, Wilopo, Trimurti, dan
Tabrani. Acara tersebut dimulai pukul 10.00 dengan pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan
disambung oleh pidato singkat tanpa teks. Lalu bendera Merah Putih, yang sudah dijahit oleh Ibu
Fatmawati, dikibarkan, dan disusul dengan sambutan oleh soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu
dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Awalnya Trimurti diminta untuk menaikan bendera tetapi ia menolak dengan alasan pengerakan
bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh karna itu ditunjuklah Latief Handraningrat,
seorang prajurit PETA, yang dibantu oleh Soehoed untuk melaksanakan tugas tersebut. Seorang
pemudi datang dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah
Putih), yang telah dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Sesudah bendera Merah Putih
berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai Sekarang, bendera pusaka itu masih
disimpan di Istana Merdeka.
Sesudah upacara selesai, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S. Brata
datang terburu-buru sebab mereka tidak mengetahui perubahan lokasi mendadak dari Ikada ke
Pengangsaan. Mereka nenuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, tetapi ditolak, Akhirnya
Hatta memberikan amanat sngkat terhadap mereka.
UUD Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
Di tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan,
mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik
Indonesia, yang selanjutnya dikenal dengan UUD 45. Dengan itu terbentuklah Pemerintahan Negara

36
Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan ditangan rakyat yang
dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari Oto Iskandardinata dan persetujuan dari PPKI
sebagai presiden dan juga wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil
persiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

Kartosoewirjo, Proklamator Negara Islam Indonesia

Ide mendirikan negara berlandaskan Islam sudah ada sejak dulu, sampai akhirnya Negara Islam
Indonesia (NII) diproklamasikan di Kabupaten Tasikmalaya, 7 Agustus 1949. Pelaku sejarahnya:
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.
“Saat kemenangan telah tiba, operasi untuk membebaskan Mosul telah dimulai”, kata Perdana
Menteri Irak, Haider al-Abadi dalam pidato resminya seperti dirilis BBC. “Hari ini saya menyatakan
dimulainya operasi heroik untuk membebaskan Anda dari Daesh,” lanjutnya, menyebut nama lain
untuk ISIS.
Mosul merupakan kota terbesar kedua di Irak yang direbut ISIS serta dijadikan basis pertahanan
mereka. Dari Mosul pula pimpinan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, mendeklarasikan kekhalifahan di
wilayah yang mereka kuasai, baik di Irak maupun di Suriah.
Jika melihat ke masa lampau, sesungguhnya upaya mendirikan negara Islam pernah ada di Indonesia.
Bedanya, ISIS punya tujuan kekhalifahan atau internasionalisme. Di Indonesia, lingkupnya "hanya"
Indonesia, yang dipimpin Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.
Masa Pembentukan Kartosoewirjo
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, begitu nama lengkap dari Kartosoewirjo alias SMK, adalah
pelaku sejarah kontroversial. Tahun kelahirannya pun terdapat dua versi.
Irfan S. Awass dalam Menelusuri Perjalanan Jihad SM Kartosuwiryo, serta tulisan Kholid O. Santoso
dalam Jejak-jejak Sang Pejuang Pemberontak menyebut bahwa Kartosoewiryo lahir pada tanggal 7
Februari 1905. Sementara Al Chaidar dalam bukunya Pengantar Pemikiran Politik Proklamator
Negara Islam meyakini SMK lahir pada 7 Januari 1907.
Namun menurut A. Ruhimat dalam Biografi S.M. Kartosoewirjo, SMK lahir di tengah pencerahan di
Hindia Belanda. Pada 1919, SMK mengikuti orangtuanya ke Bojonegoro. Saat perpindahan ke
Bojonegoro inilah SMK bertemu dengan Notodiharjo, tokoh Muhammadiyah yang kemudian
menanamkan banyak aspek kemodernan Islam ke dalam pola pikirnya. Ini menjadi satu-satunya
ajaran Islam yang diterima oleh SMK, selebihnya ia mengenyam pendidikan Belanda yang sekuler.
Setelah menamatkan sekolah di ELS (Europeesche Lagere School) pada 1923, SMK pindah ke
Surabaya melanjutkan studinya di sekolah kedokteran kolonial di Surabaya, Nederlandsch Indische
Artsen School (NIAS). Di NIAS inilah SMK terjun ke dalam dunia pergerakan, yakni dengan
bergabung dalam Jong Java pada 1923.
Pada 1925, timbul gejolak dalam tubuh Jong Java yang mengakibatkan perpecahan yaitu antara
anggota yang mengutamakan cita-cita keislaman dan anggota yang mengutamakan nasionalis sekuler.

Mereka yang mengutamakan cita-cita keislaman kemudian keluar dari Jong Java. dan mendirikan
organisasi baru, Jong Islamieten Bond (JIB), termasuk SMK yang kemudian menjadi ketua JIB
cabang Surabaya.
Pada posisi itulah Kartosoewirjo berkenalan dengan ketua Partai Sjarikat Islam (PSI) yakni Hadji
Oemar Said Tjokroaminoto dan kemudian pada September 1927 SMK ditawari menjadi sekretaris
pribadinya.
Menurut Al Chaidar, semasa berguru pada Tjokroaminoto, SMK banyak belajar tentang Islam,
metode organisasi, berkomunikasi dengan massa, dan membangun kekuatan umat. Bahkan menurut
Ruhimat, pada masa itu pulalah sosok “Islam ideologis” SMK mulai terbentuk. Ia mulai
mendambakan lahirnya negara Islam dan masyarakat Islam ideal di Indonesia.
Berkat pengaruh Tjokroaminoto, SMK menjadi kader Partai Serikat Islam (PSI) pada 1927, yang pada
1930 menjadi Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII). Karier politik SMK semakin jelas terlihat ketika
kongres PSII 1936 saat ia terpilih sebagai Ketua Muda PSII. Karena sikap politiknya yang radikal dan
tak kenal kompromi, ia pun diminta menulis brosur tentang hijrah.

37
Hijrah yang dimaksud oleh kongres saat itu tidak lebih dari istilah mengenai sikap partai terhadap
pemerintah kolonial. Namun, seperti ditulis A. Ruhimat, SMK benar-benar menyamakan
pengertiannya dengan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Hijrah menurut SMK adalah hal positif dan bahwa jihad selalu ada dalam sebuah perjuangan. Ia
membaginya dalam dua macam, yakni jihad kecil (asghar) untuk melindungi agama terhadap musuh-
musuh luar, dan jihad besar (akbar) yang ditunjukan untuk memerangi musuh dalam diri manusia itu
sendiri.
Kartosoewirjo dan Teks Proklamasi
Ketika Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia dan membentuk BPUPKI, Kartosoewirjo
melalui wakil-wakil Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Kiai Ahmad Sanusi mengusulkan ide-
ide tentang pembentukan negara Indonesia merdeka yang memberlakukan syariat.
Atas ide Kartosoewirjo inilah maka pada Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada bagian pertama
memuat tentang “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”, meskipun akhirnya kalimat
tersebut dihilangkan.
Tidak hanya itu, pada 14 Agustus 1945, tak lama setelah Jepang di bom atom oleh Amerika, SMK
meminta agar Kiai Joesoef Taudjiri segera memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia
(NII). Namun menurut Pinarti yang dikutip oleh Van Djik dalam Darul Islam: Sebuah
Pemberontakan, Kiai Joesoef menolak permintaan itu.
Al Chaidar malah menulis bahwa teks proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus
1945 merupakan salinan dari teks yang disiapkan oleh SMK untuk Kiai Joesoef Taudjiri pada 14
Agustus 1945.
“[... H]ari-hari menjelang proklamasi 17 Agustus 1945, Kartosoewirjo telah lebih dahulu menebar
aroma deklarasi kemerdekaan (negara) Islam, bahkan pada 13-14 Agustus 1945 Kartosoewirjo telah
menyiapkan naskah proklamasi yang diedarkannya kepada para elite pergerakan sehingga naskah
Proklamasi yang ditulis oleh Soekarno hanya berdasarkan ingatan tentang konsep proklamasi Islam
yang dipersiapkan oleh Kartosoewirjo, bukan pada konsep pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh
BPUPKI dan PPKI,” tulisnya
Proklamasi Negara Islam Indonesia (NII)
Setelah Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, secara resmi Indonesia
membebaskan diri dari penjajahan dan menjadi negara yang menentukan nasibnya sendiri. Tapi
Belanda tentu tak membiarkan upaya kemerdekaan ini.
Benar saja, Indonesia yang baru beberapa waktu berpesta dengan kemerdekaan harus kembali
merasakan rongrongan kolonial melalui Agresi Militer Belanda I dan II. Adanya agresi ini membuat
SMK semakin yakin untuk mendirikan Negara Islam Indonesia.
Dalam catatan Horikoshi, sebagaimana dikutip Ruhimat, pada awal 1948 sekali lagi SMK meminta
Kiai Joesoef Taudjiri memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Namun untuk kedua kalinya, sang
kiai menolak. Akhirnya pada Agustus 1949, SMK menganggap perlu menerbitkan Maklumat NII
No.7. Maklumat pada 12 Syawal 1368/7 Agustus 1949 itu berisi pernyataan pendirian NII.

Pada 7 Agustus 1949, melalui pertimbangan yang panjang, akhirnya SMK memproklamasikan Negara
Islam Indonesia (NII) di desa Cisampah, kecamatan Ciawiligar, kabupaten Tasikmalaya.
Proklamasi Negara Islam Indonesia tersebut disertai dengan sepuluh penjelasan, termasuk penegasan
bahwa Negara Islam Indonesia meliputi seluruh wilayah Indonesia dan seluruh bangsa Indonesia.
SMK juga telah mempersiapkan konsep-konsep bentuk dan sistem pemerintahan serta susunan Dewan
Imamah NII. Dalam susunan tersebut, SMK mengangkat dirinya sebagai imam, panglima tertinggi,
serta kuasa usaha. Sedangkan untuk wakil imam sekaligus sebagai komandan divisi adalah Karman.
Posisi menteri dalam negeri dan menteri penerangan masing-masing dipegang oleh Sanusi
Partawidjaja dan Thaha Arsyad. Untuk menteri keuangan dipegang oleh Udin Kartasasmita,
sedangkan menteri pertahanan dan kehakiman, masing-masing dipegang oleh Raden Oni dan Ghazali
Thusi.
Akhir Perjuangan
Negara Islam Indonesia yang dibentuk Kartosoewirjo dengan organisasinya Darul Islam (DI) dan
Tentaranya yang dikenal dengan nama Tentara Islam Indonesia (TII) dituduh oleh pemerintah
Indonesia melakukan gerakan separatisme dan pengrusakan.

38
Pemberontakan yang dilakukan DI/TII di pulau Jawa dan Sumatera menimbulkan saling curiga antara
pemerintah, ulama, dan masyarakat. Pemerintah menganggap para ulama berusaha melindungi DI/TII,
begitu pula ada saling tuduh di antara ulama sendiri.
Untuk mengurangi rasa saling curiga itu, akhirnya dibentuklah gagasan Badan Musyawarah Alim
Ulama yang kelak menjadi majelis ulama sekaligus menjadi cikal bakal Majelis Ulama Indonesia.
Tujuan dari Badan Musyawarah Alim Ulama ini adalah untuk memonitor gerak DI/TII sekaligus
membantu pemerintah dalam menumpas DI/TII.
Aksi untuk menumpas DI/TII semakin gencar dilakukan. Melalui konsep Pagar Betis yang diusulkan
oleh Danrem Bogor, akhirnya DI/TII pun dapat dikalahkan, dan pada 4 Juni 1962 akhirnya Aang
Panglima Tertinggi akhirnya tertangkap.
Pada 16 Agustus 1962, Pengadilan Mahkamah Darurat Perang (Mahadper) yang mengadili
Kartosoewirjo mengatakan bahwa gerakannya selama 13 tahun dalam menegakkan Negara Islam
Indonesia itu adalah pemberontakan dan hukuman mati pun dijatuhkan kepada SMK.
Pada 4 September 1962, Kartosoewirjo meminta bertemu dengan keluarganya, dan kemudian dibawa
ke regu tembak keesokan harinya. Ia dibawa dengan sebuah kapal pendarat milik Angkatan Laut dari
pelabuhan Tanjung Priok ke sebuah pulau sekitar Teluk Jakarta.
Pada pukul 5.50 WIB, hukuman mati dilaksanakan. Setelah meninggalnya SMK, juga sepeninggal
pemimpin DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi, semangat sebagian pengikut NII bisa jadi patah. Tapi
kenyataannya hingga kini tetap ada yang bercita-cita menegakkan negara Islam, bahkan berbaiat
kepada ISIS.
Tak seperti nyawa manusia, ideologi tak pernah bisa dibunuh.

HAK PILIH AKTIF DAN HAK PILIH PASIF


A. Hak pilih aktif adalah hak untuk memilih wakilnya yang
akan duduk dalam badan-badan perwakilan rakyat.
~ Syarat-syarat hak pilih aktif yaitu :
a. Warga negara yang sudah genap berumur 17 tahun atau pernah
menikah.
b. Telah terdaftar dalam daftar pemilih.
c. Bukan bekas anggota organisasi terlarang (PKI) termasuk
organisasi massanya.
d. Bukan orang yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam
G30 S/PKI atau organisasi terlarang lainnya.
e. Tidak sedang terganggu jiwa atau ingatannya.
f. Tidak sedang menjalani hukuman penjara.
g. Tidak sedang dicabut hak pilihnya oleh pengadilan.
B. Hak pilih pasif (hak dipilih) adalah hak untuk dipilih
menjadi anggota badan-badan perwakilan rakyat.
~ Syarat-syarat hak pilih pasif yaitu :
a. Warga negara yang sudah berumur 21 tahun dan bertakwa pada
Tuhan Yang Maha Esa.
b. Bertempat tinggal dalam wilayah RI yang dibuktikan dengan
KTP atau keterangan dari lurah atau kepala desa tentang
alamat yang sebenarnya.
c. Dapat berbahasa Indonesia, dapat membaca dan menulis.
d. Berpendidikan serendah-rendahnya SLTA atau
berpengetahuan sederajat dan berpengalaman dalam bidang
kemasyarakatan.
e. Setia pada Pancasila dan UUD 1945 dan cita-cita proklamasi
17 agustus 1945.
f. Bukan bekas anggota organisasi terlarang, yaitu PKI termasuk
organisasi massanya atau bukan orang yang terlibat
langsung atau tidak langsung dalam G30 S/PKI atau
organisasi terlarang lainnya.

39
Perjanjian internasional

Pernahkah kamu mendengar istilah perjanjian internasional? Istilah tersebut akhir-akhir ini begitu
populer diberitakan dalam situs pemberitaan Indonesia.
Salah satunya terkait dorongan Kementerian Perdagangan dalam urusan perjanjian berskala
internasional dengan berbasis digital.
Tapi, apa kamu sudah tau secara lengkap tentang perjanjian internasional?
Tenang, buat kamu yang belum tau tentang perjanjian internasional, kamu bisa nih simak pembahasan
lengkapnya berikut ini!
Pengertian Perjanjian Internasional
Tahukah kamu bahwa perjanjian yang dilakukan dalam skala internasional tersebut mempunyai
makna sebagai
Suatu perjanjian yang dibuat berdasarkan hukum internasional oleh beberapa negara maupun
organisasi-organisasi berskala internasional lainnya guna mengatur hak maupun kewajiban bagi
masing-masing pihak.
Seorang pakar di bidang hubungan internasional bernama G. Schawarzenberger mengemukakan
pernyataan bahwa
Perjanjian berskala internasional sejatinya merupakan suatu persetujuan yang terjadi di antara
subjek-subjek hukum internasional yang mana dapat menimbulkan berbagai kewajiban yang mengikat
dalam hokum internasional baik bilateral maupun multilateral sekalipun.
Selain pakar tersebut, terdapat pakar lainnya dalam hubungan internasional yang turut serta dalam
mengungkapkan definisi perjanjian skala internasional.
Menurut Mochtar Kusumatmadja yang dimaksud dengan perjanjian skala internasional ialah
Suatu perjanjian yang dilakukan oleh masyarakat dan bertujuan guna menyebabkan hokum akibat
tertentu.
Fungsi Perjanjian Internasional
Perjanjian berskala internasional yang melibatkan banyak negara di dunia tersebut memiliki beberapa
fungsi yang dapat kamu ketahui. Apa saja sih sebenarnya fungsi dari perjanjian berskala internasional
tersebut?

Sebuah negara senantiasa akan memperoleh pengakuan umum dari anggota-anggota masyarakat-
masyarakat bangsa-bangsa dunia.
Perjanjian berskala internasional tersebut senantiasa akan menjadi suatu sumber hokum internasional.
Perjanian internasional tersebut senantiasa akan mampu dijadikan sebagai suatu sarana guna
mengembangkan suatu bentuk kerjasama internasional maupun membangun kedamaian antar bangsa.
Perjanjian skala internasional tersebut juga bisa mempermudah adanya proses transaksi yang
dilakukan serta menjaga komunikasi antar bangsa agar senantiasa dapat terjaga dengan baik dan kuat.
Tahapan Perjanjian Internasional
1. Tahap perundingan
Tahapan Perjanjian Internasional perundingan
Tahap pertama dalam perjanjian skala internasional ialah tahapan perundingan. Pada tahap ini tiap-
tiap negara yang ikut tergabung dalam perjanjian tersebut harus mengirimkan satu delegasi yang
mempunyai kekuatan penuh bagi negaranya tersebut.
Tahapan perundingan bertujuan untuk melakukan musyawarah serta melakukan diskus pada
konferensi diplomatik yang mencakup keseluruhan perumusan perjanjian multilateral berbentuk
naskah.
Tahapan ini memiliki beberapa proses atau alur yang di antaranya ialah sebagai berikut.
Penjajakan
Alur pertama dari tahapan perundingan dalam perjanjian skala internasional ialah alur penjajakan.
Alur ini berisikan telaahan yang dilakukan oleh delegasi atas manfaat perjanjian bagi keoentingan
nasional.
Jadi, pada alur ini keseluruhan wakil-wakil negara akan mempertimbangkan poin-poin penting dalam
naskah perjanjian besar tersebut.
Perundingan

40
Perundingan pada alur ini berisikan perundingan guna merancang suatu bentuk perjanjian multilateral
yang melibatkan salah satu dari delegasi negara sebagai materi perjanjian sesuai dengan lingkupnya
masing-masing.
Perumusan masalah
Perumusan masalah ialah alur berikutnya dari tahapan perundingan. Dalam hal perumusan naskah
seluruh negara yang tergabung ke dalam suatu perjanjian multilateral tersebut berhak secara aktif
guna turut serta dalam perumusan naskah perjanjian skala internasional tersebut.
Penerimaan
Alur terakhir dalam tahapan perundingan suatu perjanjian internasional ialah alur penerimaan.
Alur penerimaan ini bermakna yaitu bagi tiap-tiap anggota negara yang ikut bergabung dalam
perjanjian tersebut berhak untuk menimbang dan kemudian memutuskan apakah naskah perjanjian
tersebut disetujui atau justru sebaliknya.
2. Tahap penandatanganan
Tahapan Perjanjian Internasional penandatanganan
Tahap selanjutnya dari tahapan perundingan ialah tahap penandatanganan.
Pada tahap ini bisa kamu ketahui bahwa apabila naskah perjanjian skala internasional tersebut
disetujui dan diterima, maka naskah perjanjian skala internasional tersebut harus disempurnakan.
Cara penyempurnaannya adalah dengan adanya penandatanganan naskah perjanjian oleh wakil-wakil
negara yang ikut dalam perjanjian itu.
3. Tahap pengesahan
Tahapan Perjanjian Internasional pengesahan
Tahap terakhir dari tahapan perundingan perjanjian skala internasional ialah tahap pengesahan.
Pada tahapan terakhir ini, seluruh naskah perjanjian skala internasional yang telah ditandatangani oleh
wakil-wakil negara harus diserahkan ke masing-masing negara.
Kemudian, naskah perjanjian tersebut tinggal disahkan saja dengan melalui tahapan ratifikasi dari
badan eksekutif, legislative atau gabungannya.
Pembatalan Perjanjian Internasional
Apakah perjanjian skala internasional bisa dibatalkan? Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan itu?
Jadi, perjanjian skala internasional tersebut ternyata bisa dibatalkan lho, guys!
Meski perjanjian ini mengikat bagi tiap-tiap anggotanya, akan tetapi perjanjian ini bisa tetap batal
apabila terkena beberapa sebab berikut.
Adanya pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu dari anggota perjanjian tersebut. Bahkan,
apabila pelanggaran tersebut menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan bagi salah satu negara,
maka negara yang bersangkutan bisa diperkenankan untuk mengundurkan diri.
Adanya usnur kesalahan dalam isi perjanjian skala internasional tersebut juga bisa menyebabkan
perjanjian tersebut batal.
Adanya indikasi penipuan maupun kecurangan dalam perjanjian skala besar tersebut juga bisa
menyebabkan perjanjian tersebut batal.
Munculnya ancaman maupun paksaan dari suatu negara yang terkesan sangat mengancam juga bisa
menyebabkan perjanjian tersebut batal.
Apabila pada kenyataannya perjanjian skala internasional tersebut tidak sesuai dengan hokum
internasional, maka perjanjian tersebut pun bisa batal.
Asas Perjanjian Internasional
1. Pacta sun servanda
Dalam Bahasa Indonesia asas pacta sun servanda lebih sering dikenal dengan sebutan asas kepastian
hukum.
Asas kepastian hukum tersebut merupakan sebuah asa perjanjian skala internasional yang mana
merupakan asas pertama dan harus diterima serta dilaksanakan oleh negara-negara subyek perjanjian
skala internasional.
2. Egality rights
Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, egality rights merupakan asas kesamaan hak-hak.
Asas kesamaan hak-hak yang termasuk ke dalam asas perjanjian skala internasional ini merupakan
asas yang menuntuk semua pihak untuk terlibat dalam perjanjian skala internasional yang menjunjung
tinggi kesamaan derajat.
3. Recriprocity

41
Asas perjanjian skala internasional berikutnya adalah recriprocity. Asas satu ini jika diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia, maka bisa disebut sebagai asas timbal balik.
Asas ini bermakna sebagai suatu asas yang mana tiap-tiap anggota dalam perjanjian skala
internasional tersebut harus mempunyai keuntungan yang serupa.
4. Bonafides
Asas perjanjian skala internasional selanjutnya adalah bonafides. Kata tersebut lebih familiar dengan
sebutan asas I’tikad baik.
Asas ini bermakna sebagai suatu asas yang harus muncul dalam hati nurani tiap-tiap anggota
perjanjian skala internasional.
Jadi, tiap-tiap anggota perjanjian skala internasional sudah seharusnya memiliki I’tikad baik dalam
melakukan perjanjian tersebut.
5. Courtessy
Asas courtesy merupakan salah satu asas dari perjanjian skala internasional yang lebih familiar dalam
Bahasa Indonesia sebagai asas kehormatan.
Asas kehormatan tersebut dapat dimaknai sebagai suatu asas yang mana mengharuskan seluruh
negara-negara yang terlibat dalam perjanjian berskala internasional tersebut untuk memegang rasa
saling menghormati.
6. Rebus sic stantibus
asas Rebus sic stantibus
Rebus sic stantibus adalah asas dari perjanjian terakhir yang perlu kamu ketahui, guys! Asas ini
apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia diketahui sebagai asas izin penangguhan.

Asas ini dapat dimaknasi sebagai suatu asas yang mengizinkan penangguhan maupun perubahan
terkait perjanjian dengan alasan fundamental yang amat mendasar. Bahkan asas ini telah diatur di
dalam konvensi Wina.

GENJATAN SENJATA MASANG

Perjanjian Perang Padri


Dalam pertempuran di Padri kemenangan pertama di mana-mana, sehingga posisi Anda adat dengan
sangat mendesak. Karena adat istiadat sangat mendesak dengan para pemimpin adat yaitu raja Suroso
diperintahkan untuk meminta batu-batu ke Belanda di Padang. Permintaan ini sangat menyewakan
Belanda, karena kemudian Belanda dapat memperluas kekuasaannya ke wilayah Minangkabau. Pada
tahun 1824, Belanda dan Padris membuat perdamaian (membuat perjanjian) yang berbunyi perjanjian
Masang:

Penentuan perbatasan di kedua sisi.


Padri seharusnya hanya melakukan perdagangan dengan Belanda.
Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda
untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin
Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan
maklumat "Perjanjian Masang" pada tanggal 15 November 1825.[2] Hal ini dimaklumi karena disaat
bersamaan Pemerintah Hindia Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di
Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro.
Selama periode gencatan senjata, Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan kekuatan dan juga
mencoba merangkul kembali Kaum Adat. Sehingga akhirnya muncul suatu kompromi yang dikenal
dengan nama "Plakat Puncak Pato" di Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar yang mewujudkan
konsensus bersama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang artinya adat Minangkabau
berlandaskan kepada agama Islam, sedangkan agama Islam berlandaskan kepada Al-Qur'an.[14]
Penempatan Jabatan Eselon II, Komisi ASN Warning WH Ikuti Aturan

Penempatan Jabatan Eselon II, Komisi ASN Warning WH Ikuti Aturan


Komisioner KASN, Sri Hadiati/RUS
RMOLBANTEN. Komisi Aparatur Sipil Negera (KASN) meminta Gubernur Banten Wahidin Halim
(WH) agar mengikuti UU ASN Nomor 5/2014 dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur

42
Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPAN-RB) Nomor 15/2019 tentang Pengisian Jabatan
Pimpinan Tinggi (JPT).
Berita Terkait
Gubernur WH Doakan Ibunda Presiden Jokowi Khusnul Khotimah
Banten Urutan Dua Covid-19 Terbanyak, WH Akan Tambah RS Rujukan
Warga Pondok Aren Meninggal Karena Corona Dibantah Camat, Pemkot Masih Membisu
Menjaga Indonesia 2019
Komisioner KASN, Sri Hadiati mengungkapkan, gubernur selaku pejabat pembina kepegawaian
(PPK) harus mengikuti semua aturan ASN dan penempatkan jabatan eselon II maupun I, yang
dilakukan melalui lelang jabatan atau open bidding.
"Beberapa waktu lalu. Ada dua jabatan yang dilakukan seleksi terbuka (Selter) atau lelang jabatan,
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) dan Asisten (Asda I) itu kita mintakan agar
diulang lagi. Dan itu harus dilakukan oleh PPK," terang Sri Hidayati ditemui disela-sela acara
pembinaan sistem merit untuk kabupaten/kota se Provinsi Banten di Pendopo KP3B, Curug, Kota
Serang, Rabu (4/3)
Dikatakan Ati sapaan Sri Hadiati, rekomendasi ulang lelang jabatan terhadap jabatan Kepala
Dindikbud dan Asda I, tidak boleh dilanggar oleh PPK dan harus diproses oleh panitia seleksi
(Pansel) yang sudah terbentuk.
"Jadi apapun rekomendasi KASN harus dijalankan, tidak boleh nggak," imbuhnya.

Jika dalam lelang jabatan kedua itu, Pansel tidak juga berhasil menemukan tiga nama calon yang
sesuai dengan kriteria, maka PPK melalui Pansel bisa melakukan perubahan perencanaan dari lelang
jabatan ke mutasi.
"Sesuai mekanismenya, kalau nanti pansel tidak juga menemukan calon-calon (lelang kedua) yang
nilainya diatas 70 seperti lelang pertama, bisa saja melakukan perencanaan (perubahan) melalui pola
mutasi jabatan. Dan itu harus dilaporkan ke KASN. Itu semua sidah diatur dalam PermenPAN-RB,"
ujarnya.
Senada diungkapkan Komisioner ASN lainnya, Mustari Irawan menyampaikan, untuk proses Selter
atau lelang jabatan, seluruhnya harus dikonsultasikan dan dilaporkan kepada pihaknya.
"Sesuai aturan, semuanya harus disampaikan ke kami. Banyak keuntungan yang didapat oleh
gubernur selaku PPK, karena proses lelang ini diharapkan sesuai aturan. Selter prosesnya dilakukan
oleh Pansel. Dan Pansel nya pun harus profesional," katanya.
Anggota Pansel kata Mustari harus punya kapasitas untuk jabatan-jabatan tertentu, tidak punya
kepentingan dan tidak berafiliasi dengan partai politik.
"Jadi aturan itu dibuat untuk menghasilkan pejabat yang berkualitas. Tentu ini menguntungkan
gubernur," paparnya.
Dengan aturan tersebut maka gubernur lanjut Mustari tidak bisa melompat atau melanggar.
"Jadi KASN bertugas mendampingi. Ada kekurangan, kita perbaiki. Dan kami menjaga PPK
(gubernur) dari kemungkinan memilih kucing dalam karung. Pansel juga harus berpengalaman, tidak
ada kepentingan," terangnya.
Bahkan untuk memastikan Pansel Lelang Jabatan profesional, KASN melakukan pengawasan, dengan
melihat secara langsung proses dan tahapan yang dilakukan Pansel.
"Kita selalu hadir, ketika ada wawancara peserta (lelang jabatan) saat diwawancara oleh Pansel. Ini
juga salah satu cara agar kita tahu apakah Pansel Lelang Jabatan itu profesional dan bebas dari
kepentingan. Misalkan, ketika ada wawancara, pansel harus hadir semua, tidak boleh ada yang tidak
datang. Termasuk pertanyaan disampaikan juga harus sama kepada semua peserta," terang Mustari.
Sementara itu Gubernur Banten, WH saat sambutan pada acara tersebut mengaku, masih belum
maksimal dalam penempatan jabatan.
"Saya dilantik pada Mei 2017, hampir tiga tahun. Tapi soal pegawai saya belum puas. Karena belum
memiliki diskresi untuk menata kepegawaian di Provinsi Banten," katanya.
"Saya setuju prinsip itu, makanya kita melakukan open bidding. Itu turut menolong kinerja saya.
Pansel saya beri keleluasaan. Siapa yang dapat nilai tinggi saya angkat," terangnya.
Namun WH berharap, ada kemerdekaan bagi kepala daerah untuk menentukan siapa yang diangkat.
Sebagai gubernur, dirinya membutuhkan pegawai berkualitas, berpotensi, dan kompeten.

43
"Sampai mana otoritas seorang gubernur dalam menentukan kepala OPD?. Berikan ruang kepada
gubernur dan pansel untuk melahirkan orang yang mengikuti open bidding memenuhi syarat,"
ungkapnya.
Masih dikatakan WH, dalam enam bulan dilarang mengangkat kepala dinas. Pelaksanaan delapan
aksi pencegahan korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu cara untuk
melihat kinerja kepala dinas.
"Eselon 2 belum ada yang Diklatpim 2. Akhirnya kita dorong BPSDMD untuk mampu melaksanakan
Diklatpim 2. Alhamdulillah kita juga bisa laksanakan pembinaan ASN dengan apel dan absensi,
sebagai upaya penegakan disiplin," paparnya.
Dalam kesempatan itu, WH juga menyinggung soal rekomendasi gubernur dalam pengangkatan
sekretaris daerah (Sekda) dan kenaikan pangkat jabatan di kabupaten/kota. Menurutnya, jika
rekomendasi gubernur tidak bersifat prinsip lebih baik tidak dilakukan.
"Berikan diskresi atau keleluasaan kepada bupati, walikota untuk mengangkat sekretaris daerah.
Kenaikan pangkat cukup bupati dan walikota atau sekretaris daerah. Kalau gubernur terlalu lama,"
ujarnya. [dzk]

Pengertian Ius Soli

Kata ius soli berasal dari bahasa Latin.


Secara bahasa, ius soli berarti hak menurut wilayah.
Dengan kata lain, seseorang memperoleh kewarganegaraannya berdasarkan tempat ia dilahirkan.
Jadi, seseorang, katakan saja A, yang lahir di suatu negara yang menganut asas ius soli akan menjadi
warga negara tersebut.
Dengan demikian, kewarganegaraan orangtua A tidak akan memiliki pengaruh pada kewarganegaraan
A sendiri.
Namun, penentuan kewarganegaraan di negara yang berasas ius soli tetap dilakukan berdasar pada
sistem hukum internasional, yaitu:
Negara yang menganut asas ius soli memiliki kewenangan hukum yang berhubungan dengan
keturunan atau yang dikenal dengan Lex Soli.
Lex Soli adalah asas hukum yang digunakan untuk menentukan status kewarganegaraan seseorang
yang berkaitan dengan organisasi internasional dan hubungan internasional sebuah negara.
Aturan tambahan tersebut diberlakukan jika ada perwakilan negara lain yang tinggal di negara
penganut ius soli untuk bekerja sebagai duta besar atau diplomat.
Lex Soli adalah pengecualian bagi utusan asing (diplomat/duta besar) yang melahirkan di negara
penganut ius soli.
Negara yang menganut asas ius soli adalah Amerika Serikat, Brazil, Argentina, Venezuela, Peru,
Meksiko, Guatemala, Fiji, Ekuador dan Chile.
Salah satu alasan negara-negara tersebut menganut asas ini karena ingin menambah jumlah warga
negaranya.
Sehingga, negara itu semakin besar dan eksis.

Pengertian Ius Sanguinis


Menurut bahasa, ius sanguinis adalah keterikatan keturunan. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa kewarganegaraan seseorang diakui berdasarkan kewarganegaraan orangtuanya.
Negara yang menganut asas kewarganegaraan ini sangat menghargai hubungan orangtua dan anak.
Asas ius sanguinis sudah digunakan di kekaisaran Asia Timur dan Eropa sejak lama.
Asas penentuan kewarganegaraan ini bertujuan untuk melestarikan garis keturunan.
Dengan adanya asas ini, kelompok etnis mayoritas akan muncul di negara penganutnya.
Selain itu, keturunan negara penganut ius sanguinis ini yang hidup di negara lain akan dapat
membangun komunitas yang lebih kokoh.
Beberapa negara yang menganut asas ini adalah Inggris, Belanda, Jerman, Cina, Turki, dan
Spanyol.
Lalu, apakah asas kewarganegaraan Indonesia?
Ada empat asas kewarganegaraan yang dianut oleh Indonesia, yaitu asas tunggal, asas
kewarganegaraan ganda terbatas, ius soli dan ius sanguinis.

44
Asas tunggal berarti bahwa setiap orang hanya boleh memiliki satu kewarganegaraan.
Sedangkan kewarganegaraan ganda hanya dibatasi pada anak-anak.

Perbedaan Ius Soli dan Ius Sanguinis


Kedua asas kewarganegaraan ini memiliki karakteristik yang berbeda.
Berikut ini beberapa poin perbedaan keduanya.
Cara pemerolehan status kewarganegaraan
Cara pemerolehan status kewarganegaraan seseorang dalam asas ius soli adalah berdasarkan negara
tempat ia dilahirkan, tidak peduli kewarganegaraan orangtuanya.
Cara pemerolehan status kewarganegaraan seseorang dalam asas ius sanguinis adalah berdasarkan
kewarganegaraan orangtuanya, tidak peduli dimana ia dilahirkan.
Tujuan penerapannya
Tujuan penerapan asas ius soli adalah untuk memperbanyak jumlah penduduk.yang ada di negara
yang menganut asas tersebut.
Tujuan penerapan asas ius sanguinis adalah untuk melestarikan dan mempertahankan keturunan
bangsanya di negara-negara lain.
Lokasi negara penganutnya
Lokasi negara yang menganut asas ius soli biasanya terletak di belahan bumi sebelah barat.
Kebanyakan dari mereka adalah negara baru dengan mayoritas warga koloni, seperti Amerika Serikat
dan Brazil.
Lokasi negara yang menganut asas ius sanguinis biasanya terletak di Asia Timur serta Eropa.
Mereka memiliki sejarah kekaisaran yang kuat, seperti Inggris, Jerman, dan Cina.
Masalah yang Sering Timbul dari Ius Soli dan Ius Sanguinis
masalah yang sering timbul karena ius soli dan sanguinis
Karena asas kewarganegaraan yang dianut oleh setiap negara tidak selalu sama, maka permasalahan
kewarganegaraan terkadang muncul.
Permasalahan yang timbul karena ius soli dan ius sanguinis ini ada dua.
Apatride adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki kewarganegaraan.
Masalah ini bisa terjadi jika seorang ibu yang berasal dari negara penganut ius soli melahirkan anak di
sebuah negara penganut ius sanguinis.
Contohnya, sepasang suami istri, John dan Jane, yang berkebangsaan Amerika Serikat tinggal di
Jerman.
Selama tinggal di negara ini, Jane hamil dan melahirkan seorang anak.
Karena Amerika Serikat hanya mengakui kewarganegaraan anak yang lahir di negaranya, maka anak
tersebut tidak dianggap sebagai warga Amerika serikat.
Di sisi lain, Jerman hanya akan mengakui kewarganegaraan seorang anak yang lahir dari pasangan
suami istri berkebangsaan Jerman.
Sehingga, anak tersebut juga tidak diakui sebagai warga negara Jerman.
Dengan demikian, anak John dan Jane tidak memiliki kewarganegaraan.
Kondisi tanpa kewarganegaraan ini juga disebut dengan istilah statelessness.
Dampak kondisi ini sangat besar.
Orang dengan status statelessness tidak memiliki identitas resmi, tidak memperoleh perlindungan
hukum dari negara mana saja, serta tidak dapat memperoleh pendidikan layak.
Untuk menghindari efek-efek buruk dari masalah ini, orangtua anak tersebut harus segera mengurus
kewarganegaraan anak mereka.
Jika anak ini telah dewasa, ia dapat mengurusnya sendiri dan memilih kewarganegaraan yang ia
inginkan.
Bipatride adalah keadaan dimana seorang anak memiliki kewarganegaraan ganda.
Kewarganegaraan ganda dapat terjadi jika seorang ibu yang berasal dari negara penganut asas ius
sanguinis melahirkan anak di negara penganut asas ius soli.
Contohnya, Alan dan Kate adalah suami istri berkebangsaan Inggris.
Mereka tinggal di Brasil untuk bekerja.
Selama mereka berada di negara ini, Kate melahirkan seorang anak.
Karena mereka berasal dari Inggris yang menganut asas ius sanguinis, maka anak ini diakui sebagai
warga negara Inggris.

45
Di sisi lain, karena anak tersebut lahir di Brasil yang menganut asas ius soli, maka ia juga diakui
sebagai warga negara Brasil.
Dengan demikian, anak Alan dan Kate memiliki dua kewarganegaraan.
Masalah bipatride atau kewarganegaraan ganda lebih banyak memberi manfaat dari pada keburukan.
Meski demikian, keadaan ini tidak boleh terus terjadi.
Indonesia sendiri hanya memperbolehkan kewarganegaraan ganda pada anak-anak.
Setelah anak-anak tersebut cukup umur, mereka harus memilih salah satu kewarganegaraan yang
mereka inginkan.

Contoh Penerapan Asas Ius Soli


Untuk lebih memahami penerapan ius soli, kamu dapat menyimak contoh berikut ini.
Marco dan Maria adalah pasangan suami istri berkewarganegaraan Argentina yang tinggal di Amerika
Serikat. Selama menikah, pasangan ini dikaruniai seorang anak. Karena anak ini lahir di Amerika
Serikat yang menganut asas ius Soli, maka anak dari Marco dan Maria diakui sebagai warga negara
Amerika Serikat.
Tomy yang berkebangsaan Brasil menikah dengan Eva yang berasal dari Inggris. Mereka tinggal di
Brasil selama menikah. Di negara ini, Eva melahirkan anak pertama mereka.
Karena anak Tomy dan Eva lahir di Brasil yang menganut asas ius soli, maka ia otomatis menjadi
warga negara Brasil sama seperti Tomy.
Sedangkan kewarganegaraan Inggris milik Eva sama sekali tidak berpengaruh.
Contoh Penerapan Asas Ius Sanguinis
Agar lebih paham tentang penerapan asas ius sanguinis, kamu dapat menyimak contoh berikut ini.
Han dan Ana adalah pasangan suami istri warga negara Cina yang tinggal di Indonesia. Saat tinggal di
sini, Ana melahirkan seorang anak. Karena kedua orangtua anak ini berasal dari Cina yang menganut
asas ius sanguinis, maka ia diakui sebagai warga negara Cina.
Jansen yang berkewarganegaraan Belanda menikah dengan Becky yang berkewarganegaraan Brasil.
Setelah menikah, mereka tinggal di Filipina untuk bekerja. Saat tinggal di negara ini, Baecky
melahirkan seorang anak. Filipina adalah negara yang menganut asas ius sanguinis, begitu pula
dengan Belanda. Oleh sebab itu, anak mereka diakui sebagai warga negara Belanda.
Meski demikian, ada juga negara yang menganut asas kewarganegaraan lebih dari satu, misalnya
Indonesia.
Dengan menganut beberapa asas, diharapkan bahwa masalah status kewarganegaraan tidak banyak
terjadi di negara ini.

Rechtsstaat adalah sebuah doktrin hukum Eropa Daratan yang berasal dari sistem hukum
Jerman. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini dapat diterjemahkan menjadi "negara hukum".

Negara Hukum (Konsep dasar dan Implementasinya di Indonesia )


Pengertian Negara Hukum
Aristoteles, merumuskan negara hukum adalah Negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin
keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi tercapainya kebahagiaan hidup
untuk warga Negara dan sebagai daripada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap
manusia agar ia menjadi warganegara yang baik. Peraturan yang sebenarnya menurut Aristoteles ialah
peraturan yang mencerminkan keadilan bagi pergaulan antar warga negaranya. maka menurutnya
yang memerintah Negara bukanlah manusia melainkan “pikiran yang adil”. Penguasa hanyalah
pemegang hukum dan keseimbangan saja.
Penjelasan UUD 1945 mengatakan, antara lain, “Negara Indonesia berdasar atas hukum (Rechtsstaat),
tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machsstaat)”. Jadi jelas bahwa cita-cita Negara hukum (rule of
law) yang tekandung dalam UUD1945 bukanlah sekedar Negara yang berlandaskan sembarang
hukum. Hukum yang didambakan bukalah hukum yang ditetapkan semata-mata atas dasar
kekeuasaan, yang dapat menuju atau mencerminkan kekuasaan mutlak atau otoriter. Hukum yang
demikian bukanlah hukum yang adil (just law), yang didasarkan pada keadilan bagi rakyat.
Konsep Dasar Negara Hukum Indonesia

46
Konsep rechtsstaat mengutamakan prinsip wetmatigheid yang kemudian menjadi rechtmatigheid.
1. unsur-unsur rechtsstaat :
a. adanya perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia (HAM).
b. adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan negara untuk menjamin perlindungan HAM,
c. pemerintahan berdasarkan peraturan,
d. adanya peradilan administrasi; dan

Dari uraian unsur-unsur rechtsstaat maka dapat dikaitkan dengan konsep perlindungan hukum, sebab
konsep rechtsstaat tersebut tidak lepas dari gagasan untuk memberi pengakuan dan perlindungan
terhadap hak asasi manusia. Dengan demikian rechtsstaat memiliki inti upaya memberikan
perlindungan pada hak-hak kebebasan sipil dari warga negara, berkenaan dengan perlindungan
terhadap hak-hak dasar yang sekarang lebih populer dengan HAM, yang konsekuensi logisnya harus
diadakan pemisahan atau pembagian kekuasaan di dalam negara. Sebab dengan pemisahan atau
pembagian kekuasaan di dalam negara, pelanggaran dapat dicegah atau paling tidak dapat
diminimalkan.
Di samping itu, konsep rechtsstaat menginginkan adanya perlindungan bagi hak asasi manusia melalui
pelembagaan peradilan yang independen. Pada konsep rechtsstaat terdapat lembaga peradilan
administrasi yang merupakan lingkungan peradilan yang berdiri sendiri.
Negara Anglo Saxon tidak mengenal Negara hukum atau rechtstaat, tetapi mengenal atau menganut
apa yang disebut dengan “ The Rule Of The Law” atau pemerintahan oleh hukum atau government of
judiciary.
Menurut A.V.Dicey, Negara hukum harus mempunyai 3 unsur pokok :
1 Supremacy Of Law
Dalam suatu Negara hukum, maka kedudukan hukum merupakan posisi tertinggi, kekuasaan harus
tunduk pada hukum bukan sebaliknya hukum tunduk pada kekuasaan, bila hukum tunduk pada
kekuasaan, maka kekuasaan dapat membatalkan hukum, dengan kata lain hukum dijadikan alat untuk
membenarkan kekuasaan. Hukum harus menjadi “tujuan” untuk melindungi kepentingan rakyat.
2 Equality Before The Law
Dalam Negara hukum kedudukan penguasa dengan rakyat dimata hukum adalah sama (sederajat),
yang membedakan hanyalah fungsinya, yakni pemerintah berfungsi mengatur dan rakyat yang diatur.
Baik yang mengatur maupun yang diatur pedomannya satu, yaitu undang-undang. Bila tidak ada
persamaan hukum, maka orang yang mempunyai kekuasaan akan merasa kebal hukum. Pada
prinsipnya Equality Before The Law adalah tidak ada tempat bagi backing yang salah, melainkan
undang-undang merupakan backine terhadap yang benar.
3 Human Rights
Human rights, maliputi 3 hal pokok, yaitu :
a. The rights to personal freedom ( kemerdekaan pribadi), yaitu hak untuk melakukan sesuatu
yang dianggan baik badi dirinya, tanpa merugikan orang lain.
b. The rights to freedom of discussion ( kemerdekaan berdiskusi), yaitu hak untuk mengemukakan
pendapat dan mengkritik, dengan ketentuan yang bersangkutan juga harus bersedia mendengarkan
orang lain dan bersedia menerima kritikan orang lain.
c. The rights to public meeting ( kemerdekaan mengadakan rapat), kebebasan ini harus dibatasi
jangan sampai menimbulkan kekacauan atau memprovokasi.
Persamaan Negara hukum Eropa Kontinental dengan Negara hukum Anglo saxon adalah keduanya
mengakui adanya “Supremasi Hukum”. Perbedaannya adalah pada Negara Anglo Saxon tidak
terdapat peradilan administrasi yang berdiri sendiri sehingga siapa saja yang melakukan pelanggaran
akan diadili pada peradilan yang sama. Sedangkan nagara hukum Eropa Kontinental terdapat
peradilan administrasi yang berdiri sendiri.

Indonesia sebagai Negara Hukum


Negara Hukum Indonesia diilhami oleh ide dasar rechtsstaat dan rule of law. Langkah ini dilakukan
atas dasar pertimbangan bahwa negara hukum Republik Indonesia pada dasarnya adalah negara

47
hukum, artinya bahwa dalam konsep negara hukum Pancasila pada hakikatnya juga memiliki elemen
yang terkandung dalam konsep rechtsstaat maupun dalam konsep rule of law.
Yamin menjelaskan pengertian Negara hukum dalam penjelasan UUD 1945, yaitu dalam Negara dan
masyarakat Indonesia, yang berkuasa bukannya manusia lagi seperti berlaku dalam Negara-negara
Indonesia lama atau dalam Negara Asing yang menjalankan kekuasaan penjajahan sebelum hari
proklamasi, melainkan warga Indonesia dalam suasana kemerdekaan yang dikuasai semata-mata oleh
peraturan Negara berupa peraturan perundang-undangan yang dibuatnya sendiri
Indonesia berdasarkan UUD 1945 berikut perubahan-perubahannya adalah negara hukum artinya
negara yang berdasarkan hukum dan bukan berdasarkan kekuasaan belaka. Negara hukum didirikan
berdasarkan ide kedaulatan hukum sebagai kekuasaan tertinggi
Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH ada dua belas ciri penting dari negara hukum diantaranya
adalah 1. Supremasi hukum
2. Persamaan dalam hukum
3. Asas legalitas
4. Pembatasan kekuasaan
5. Organ eksekutif yang independent
6. Peradilan bebas dan tidak memihak
7. Peradilan tata usaha negara
8. Peradilan tata negara
9. Perlindungan hak asasi manusia
10. Bersifat demokratis
11. Sarana untuk mewujudkan tujuan negara
12. Transparansi dan kontrol sosial.
Sedangkan menurut Prof. DR. Sudargo Gautama, SH. mengemukakan 3 ciri-ciri atau unsur-unsur dari
negara hukum, yakni:
Terdapat pembatasan kekuasaan negara terhadap perorangan
maksudnya negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang. Tindakan negara dibatasi oleh hukum,
individual mempunyai hak terhadap negara atau rakyat mempunyai hak terhadap penguasa.
Azas Legalitas
Setiap tindakan negara harus berdasarkan hukum yang telah diadakan terlebih dahulu yang harus
ditaati juga oleh pemerintah atau aparaturnya.
Pemisahan Kekuasaan
Agar hak-hak azasi itu betul-betul terlindung adalah dengan pemisahan kekuasaan yaitu badan yang
membuat peraturan perundang-undangan, melaksanakan dan mengadili harus terpisah satu sama lain
tidak berada dalam satu tangan.
Namun apabila dikaji secara mendalam bahwa pendapat yang menyatakan orientasi konsepsi Negara
Hukum Indonesia hanya pada tradisi hukum Eropa Continental ternyata tidak sepenuhnya benar,
sebab apabila disimak Pembukaan UUD 1945 alinea I (satu) yang menyatakan “Bahwa sesungguhnya
kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus
dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” menunjukkan keteguhan
dan kuatnya pendirian bangsa Indonesia menghadapi masalah kemerdekaan melawan penjajahan.
Dengan pernyataan itu bukan saja bangsa Indonesia bertekad untuk merdeka, tetapi akan tetap berdiri
di barisan yang paling depan dalam menentang dan menghapuskan penjajahan di atas dunia.
Alinea ini mengungkapkan suatu dalil objektif, yaitu bahwa penjajahan tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan dan oleh karenanya harus ditentang dan dihapuskan agar semua
bangsa di dunia ini dapat menjalankan hak atas kemerdekaan sebagai hak asasinya. Di samping itu
dalam Batang Tubuh UUD 1945 naskah asli, terdapat pasal-pasal yang memuat tentang hak asasi
manusia antara lain: Pasal 27, 28, 29, 30, dan 31. Begitu pula dalam UUD 1945 setelah perubahan
pasal-pasal yang memuat tentang hak asasi manusia di samping Pasal 27, 28, 29, 30 dan 31 juga
dimuat secara khusus tentang hak asasi manusia dalam Bab XA tentang Hak Asasi Manusia yang
terdiri dari Pasal 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I dan Pasal 28J. Hal ini menunjukkan
bahwa dalam konsep negara hukum Indonesia juga masuk di dalamnya konsepsi negara hukum Anglo
Saxon yang terkenal dengan rule of law.
Dari penjelasan dua konsep tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep negara hukum Indonesia tidak
dapat begitu saja dikatakan mengadopsi konsep rechtsstaat maupun konsep the rule of law, karena

48
latar belakang yang menopang kedua konsep tersebut berbeda dengan latar belakang negara Republik
Indonesia, walaupun kita sadar bahwa kehadiran istilah negara hukum berkat pengaruh konsep
rechtsstaat maupun pengaruh konsep the rule of law.
Selain istilah rechtstaat, sejak tahun 1966 dikenal pula istilah The rule of law yang diartikan sama
dengan negara hukum.
Dari berbagai macam pendapat, nampak bahwa di Indonesia baik the rule of law maupun rechtsstaat
diterjemahkan dengan negara hukum. Hal ini sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar, sebab sejak
tahun 1945 The rule of law merupakan suatu topik diskusi internasional, sejalan dengan gerakan
perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Dengan demikian, sulitlah untuk saat ini, dalam
perkembangan konsep the rule of law dan dalam perkembangan konsep rechtsstaat untuk mencoba
menarik perbedaan yang hakiki antara kedua konsep tersebut, lebih-lebih lagi dengan mengingat
bahwa dalam rangka perlindungan terhadap hak-hak dasar yang selalu dikaitkan dengan konsep the
rule of law, Inggris bersama rekan-rekannya dari Eropa daratan ikut bersama-sama menandatangani
dan melaksanakan The European Convention of Human Rights.
Dengan demikian, lebih tepat apabila dikatakan bahwa konsep negara hukum Indonesia yang terdapat
dalam UUD 1945 merupakan campuran antara konsep negara hukum tradisi Eropa Continental yang
terkenal dengan rechtsstaat dengan tradisi hukum Anglo Saxon yang terkenal dengan the rule of law.
Hal ini sesuai dengan fungsi negara dalam menciptakan hukum yakni mentransformasikan nilai-nilai
dan kesadaran hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya. Mekanisme ini merupakan
penciptaan hukum yang demokratis dan tentu saja tidak mungkin bagi negara untuk menciptakan
hukum yang bertentangan dengan kesadaran hukum rakyatnya. Oleh karena itu kesadaran hukum
rakyat itulah yang diangkat, yang direfleksikan dan ditransformasikan ke dalam bentuk kaidah-kaidah
hukum nasional yang baru.
Apabila dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 naskah asli, tidak secara eksplisit terdapat
pernyataan bahwa Indonesia adalah negara hukum, lain halnya dalam Konstitusi Republik Indonesia
Serikat (KRIS). Dalam KRIS dinyatakan secara tegas dalam kalimat terakhir dari bagian Mukadimah
dan juga dalam Pasal 1 ayat (1) bahwa Indonesia adalah negara hukum.
Implementasi Negara Hukum di Indonesia
Berbicara tentang negara hukum yang disebut supremasi hukum tentu saja tidak akan lepas dari
konsepsi dasar yang dipakai sebagai landasan untuk menciptakan sebuah negara nasional yang pada
tataran kenegaraan dan hukum tertinggi disebut konstitusi. Ini merupakan dasar yang bersifat
universal yang berlaku pada tiap-tiap negara.
Dalam tataran koridor konstitusional, maka persoalan mengenai supremasi hukum terwujud didalam
sebuah masyarakat nasional yang disebut negara hukum konstitusional, yaitu suatu negara dimana
setiap tindakan dari penyelenggara negara: pemerintah dan segenap alat perlengkapan negara di
pusat dan didaerah terhadap rakyatnya harus berdasarkan atas hukum-hukum yang berlaku yang
ditentukan oleh rakyat / wakilnya di dalam badan perwakilan rakyat. Sesuai prinsip kedaulatan
rakyat yang ada, di dalam negara demokrasi hukum dibuat untuk melindungi hak-hak azasi
manusia warga negara, melindungi mereka dari tindakan diluar ketentuan hukum dan untuk
mewujudkan tertib sosial dan kepastian hukum serta keadilan sehingga proses politik berjalan secara
damai sesuai koridor hukum/konstitusional.
UUD NRI 1945 sebenarnya telah mempunyai ukuran-ukuran dasar yang bisa dipakai untuk
mewujudkan negara hukum dimana supremasi hukum akan diwujudkan. Kalau dilihat dengan
seksama UUD NRI 1945 mejelaskan bahwa :
“Indonesia adalah negara berdasar atas negara hukum, tidak berdasar atas
kekuasaan belaka”
Ini sebenarnya Grundnorm yang telah diberikan oleh Founding father yang membangun negara ini.
Bagaimana kita akan menyusun negara hukum, bagaimana negara hukum itu akan diarahkan, dalam
arti untuk apa kita wujudkan negara hukum ini, sekaligus dituntut untuk menegakkan hukum sebagai
salah satu piranti yang bisa dipergunakan secara tepat di dalam mewujudkan keinginan atau cita-cita
bangsa. Formula UUD 1945 tersebut mengandung pengertian dasar bahwa di dalam negara yang
dibangun oleh rakyat Indonesia ini sebenarnya diakui adanya dua faktor yang terkait dalam
mewujudkan negara hukum, yaitu satu factor hukum dan yang kedua factor kekuasaan. Artinya
hukum tidak bisa ditegakkan inkonkreto dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat
tanpa adanya kekuasaan dan dimanesfestasikan di dalam UUD NRI 1945. Dengan demikian dua

49
factor hukum dan kekuasaan, tidak bisa dilepaskan satu sama lain, bagaikan lokomotif dan relnya
serta gerbong yang ditarik lokomotif. Artinya hukum tidak bisa ditegakkan bahkan lumpuh tanpa
adanya dukungan kekuasaan. sebaliknya kekuasaan sama sekali tidak boleh meninggalkan hukum,
oleh karena apabila kekuasaan dibangun dan tanpa mengindahkan hukum, yang terjadi adalah satu
negara yang otoriter. Fungsi kekuasaan pada hakekatnya adalah memberikan dinamika terhadap
kehidupan hukum dan kenegaraan sesuai norma-norma dasar atau grundnorm yang dituangkan
dalam UUD NRI 1945 dan kemudian dielaborasi lebih lanjut secara betul dalam hirarki
perundang-undangan yang jelas.
Rechtsstaat adalah sebuah "negara konstitusional" yang membatasi kekuasaan pemerintah dengan
hukum.[1] Istilah ini sering kali dikaitkan dengan konsep rule of law dalam sistem hukum Inggris-
Amerika, namun keduanya berbeda karena konsep rechtsstaat juga menegakkan sesuatu yang
dianggap adil (contohnya konsep kebenaran moral berdasarkan etika, rasionalitas, hukum, hukum
alam, agama atau equity). Maka dari itu, konsep ini merupakan lawan dari Obrigkeitsstaat (negara
yang didasarkan pada penggunaan kekuasaan yang sewenang-wenang).[2]
Di dalam sebuah negara hukum, kekuasaan negara dibatasi untuk melindungi warganya dari
penyalahgunaan kekuasaan. Warga-warga memiliki kebebasan-kebebasan sipil yang dijamin oleh
hukum dan mereka dapat pergi ke pengadilan untuk menegakkan hak mereka. Suatu negara tidak
dapat menjadi negara demokrasi liberal apabila mereka tidak memiliki konsep Rechtsstaat.

BENTUK NEGARA DAN KENEGARAAN

Bentuk negara menggambarkan dasar-dasar negara, susunan dan tertib suatu negara, berhubungan
dengan organ atau badan tertinggi dalam suatu negara dan kedudukan masing-masing organ itu dalam
negara itu dan dalam kekuasaan negara, sedangkan bentuk pemerintahan menggambarkan bekerjanya
organ-organ tertinggi itu sejauh organ-organ itu mengikuti ketentuan yang tetap.
Secara umum bentuk negara dibagi menjadi dua, yaitu:
1. KESATUAN (UNITARISME)
Yaitu negara merdeka dan berdaulat yang pemerintahannya diatur oleh pemerintah pusat. Sistem
pelaksanaan pemerintahan negara dapat dilaksanakan dengan baik dengan cara sentralisasi maupun
desentralisasi. Memiliki konstitusi hanya satu. Kepala negara dan pemerintahannya hanya satu dan
umumnya tidak memiliki hak veto.
2. SERIKAT (FEDERASI)
Yaitu suatu bentuk negara yang terdiri atas gabungan beberapa negara bagian. Negara-negara bagian
tersebut hanya menyerahkan sebagian urusannya kepada pemerintah federal (pusat) yang menyangkut
kepentingan bersama. Namun, kekuatan asli tetap ada pada negara bagian yang berhubungan langsung
dengan rakyatnya. Tiap negara bagian berwenang untuk membuat konstitusi selama tidak
bertentangan dengan pemerintah pusat. Kepala negara dan pemerintahannya hanya satu namun
memiliki hak veto untuk membatalkan keputusan yang diajukan parlemen (senat dan kongres),
adapun masing-masing negara bagian memiliki senat atau pimpinan daerah yang langsung dipilih oleh
rakyat, pimpinan daerah tersebut berhak memiliki kementerian.
3. BENTUK KENEGARAAN
A. Konfederasi (Statebund)
Adalah ikatan antara beberapa negara yang masing-masing tetap mempunyai kedaulatan baik ke
dalam ataupun ke luar.
B. Negara Uni (Personale dan Realuni)
Adalah gabungan dua atau lebih negara merdeka dan berdaulat dengan satu kepala negara yang sama
a. Uni personil, yaitu dua negara yang kebetulan memiliki raja yang sama sebagai kepala negara
b. Uni riil, yaitu dua negara berdasar traktat mengadakan ikatan yang dikepalai seorang raja dan
membentuk alat perlengkapan uni untuk mengatur kepentingan bersama.
C. Negara di Bawah Lindungan dan Pengawasan (Protektorat, Coloni, Mandat, Truteeship)
a. Protektorat, adalah negara yang berada di bawah lindungan negara yang kuat. Ada dua jenis
protektoraat, yaitu:
• Protektorat kolonial, adalah bentuk protektorat yang menyerahkan urusan hubungan luar
negeri, pertahanan keamanan serta dalam negeri kepada pemerintah pelindungnya.

50
• Protektorat internasional, adalah protektorat yang berdasarkan hukum internasional.
b. Koloni, adalah suatu negara yang menjadi jajahan dari negara lainnya.
c. Mandat, adalah negara yang tadinya merupakan daerah jajahan negara yang kalah perang dalam
perang dunia I dan diletakkan di bawah perlindungan suatu negara yang menang perang dengan
pengawasan Dewan Mandat Liga Bangsa-bangsa.
d. Truteeship, adalah wilayah jajahan negara-negara yang kalah dalam perang dunia II dan berada di
bawah naungan Dewan Perwalian Perserikatan Bangsa-bangsa dan negara yang menang perang.
D. Dominion
Adalah suatu negara yang tadinya merupakan jajahan Inggris yang telah merdeka dan berdaulat serta
mengakui raja atau ratu Inggris sebagai raja atau ratunya (lambang persatuan).
E. PBB dan organisasi internasional
PBB adalah organisasi internasional yang beranggotakan semua negara yang ada di dunia
Tujuan PBB yaitu :
1. Mempertahankan perdamaian dunia
2. Mempertahankan hubungan persahabatan diantara bangsa-bangsa
3. Mencapai kerjasama internasional dalam menyelesaikan urusan internasional
4. Meningkatkan penghargaan atas HAM dan dasar kemerdekaan untuk setiap orang
5. Menjadi pusat guna mencapai usaha segala bangsa dalam mencapai tujuan diatas
Badan-badan pokok (principal organ) PBB terdiri dari :
a. General assembly (Majelis Umum)
b. Security Council (Dewan Keamanan)
c. ECOSOV (Dewan Ekonomi & Sosial)
d. Trusteeship Council ( Dewan Perwakilan)
e. International count of justice (Mahkamah Agung Internasional)
f. Secretariat (Sekretariat) organisasi-organisasi khusus dalam PBB
a . UNESCO (United Nations Educational Scientific And Cultural Organization)
UNESCO adalah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB. Tugasnya
memajukan kerja sama antarbangsa melalui bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan
dalam rangka penegakan hukum, penegakan hak asasimanusia, dan penegakan keadilan. UNESCO
berdiri pada tanggal 4 November 1946 yang berkedudukan di Paris,Perancis.
b. UNICEF (United Nations International Childrens Emergency Fund)
UNICEF adalah Organisasi Dana Perkembangan anak-anak Internasional PBB. Tugasnya
memberikan bantuan dalam rangka menyejahterakan ibu dan anak. UNICEF didirikan pada tanggal
11 1946 di New York, Amerika Serikat.

c. WHO (World Health Organization)


WHO adalah Organisasi Kesehatan Sedunia. Organisasi ini didirikan pada tanggal 7 April 1948 yang
berkedudukan di Jenewa,Swiss. Tugasnya meningkatkan kesehatan bagi semua orang.
d. FAO (Food and Agricultural Organization)
FAO adalah Organisasi Bahan Makanan dan Pertanian. FAO berdiri pada tanggal 16 Oktober 1945
yang berkedudukan di Roma, Italia. Tugasnya meningkatkan efisiensi dan distribusi makanan dan
hasil-hasil pertanian ke berbagai pelosok dunia.
e. ILO (International Labour Organization)
ILO adalah Organisasi Perburuhan Internasional. Organisasi ini didirikan pada tanggal 11 April 1919
yang berkedudukan di Jenewa,Swiss. Pada tahun 1946 organisasi ini diterima sebagai organisasi
khusus dalam PBB. Organisasi ini bertugas memperbaiki taraf hidup dan aturan perburuhan.
f. IBRD (International Bank for Reconstruction And Development)
IBRD adalah Bank Dunia untuk Pembangunan dan Perkembangan. Organisasi ini berdiri pada tanggal
27 Desember 1945 yang berkedudukan di Washington, Amerika Serikat.
g. IMF (International Monetary Fund)
IMF adalah Dana Moneter Internasional. Organisasi ini berdiri pada tanggal 27 Desember 1945 yang
berkedudukan di Washington DC Amerika Serikat. IMF bertujuan memajukan kerja sama di bidang
ekonomi, keuangan, dan perdagangan sehingga memperluas kesempatan kerja.
h. ITU (International Telecommunication Union)

51
ITU merupakan Persatuan Telekomunikasi Internasional. Organisasi ini didirikan pada tahun 1865
dan diterima sebagai organisasi di bawah PBB pada tahun 1947. Tujuan ITU adalah untuk
menghimpun kerja sama internasional yang melayani masyarakat pengguna telepon, telegram, dan
radio. Markas ITU di Jenewa, Swiss.
i. WMO (World Meteorogical Organization)
WMO merupakan Organisasi Meteorologi Sedunia.Organisasi ini berdiri pada tanggal 23 Maret 1950.
Organisasi ini bertujuan saling tukar laporan mengenai cuaca dengan standar internasional. Markas
WMO di Jenewa, Swiss.
j. IMCO (Inter Govermental Maritime Consultative Organization)
IMCO merupakan Organisasi Konsultasi Maritim Antar Pemerintah. Organisasi ini berdiri pada
tanggal 13 Januari 1959. Bertujuan memberi nasihat dan konsultasi guna memajukan kerjasama
antaranggota. IMCO berkedudukan di London, Inggris.
k. UNDP (United Nations Development Programme)
yaitu program pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa.Tugasnya memberikan bantuan, terutama
untuk meningkatkan pembangunan negara-negara berkembang.
l. UNHCR (United Nations High Comissioner for Refugees)
atau Komisi Tinggi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tugasnya melindungi hak-hak
pengungsi di seluruh dunia.

BENTUK NEGARA INDONESIA


Dalam pasal 1 ayat (1) UUD negara RI tahun 1945 menyebutkan bahwa “ Negara Indonesia
ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik”. Indonesia memiliki suatu bentuk Negara yaitu
kesatuan, yang memiliki suatu arti yaitu suatu negara dimana memiliki pemerintahan yang bertugas
untuk menggenggam kedudukan paling tinggi serta mempunyai kekuasaan penuh atau tinggi dalam
suatu pemerintahan sehari - hari.
Negara kesatuan yang di dalamnya dapat beragam perbedaan baik dari segi ras, suku, agama, adat
istiadat, budaya, dan lain sebagainya.Namun Negara indonesia senantiasa bersatu serta tidak pernah
memandang segala perbedaan. Negara indonesia yang bersatu serta berdaulat ini mempunyai
semboyan yang menjadi pedoman bagi bangsa ini yaitu "BHINEKA TUNGGAL IKA" dimana
semboyan ini memiliki tujuan untuk menjadikan suatu Negara yang aman, nyaman, tertib serta
mensejahterakan rakyatnya.

Mengapa tirani dapat menjadi ujung


tak terhindarkan dari demokrasi

Lawrence Torcello tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari
perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah
mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.
Mitra
Pada awal munculnya demokrasi, Plato meramalkan sebuah akhir yang buruk, vangelis
aragiannis/Shutterstock.com
Plato, salah satu pemikir dan penulis paling awal mengenai demokrasi, meramal bahwa memberikan
kesempatan masyarakat untuk memerintah diri mereka sendiri pada akhirnya akan membawa rakyat
mendukung kekuasaan yang dikendalikan oleh para tiran.
Saat saya memberitahu para mahasiswa filsafat saya bahwa sekitar 380 tahun sebelum Masehi Plato
bertanya “tidakkah tirani tumbuh dari demokrasi”, mereka kadang terkejut, tidak menyangka adanya
hubungan itu.
Tapi melihat dunia politik modern sekarang, ramalan itu tidaklah sangat mustahil bagi saya. Dalam
negara demokratis seperti Turki, Inggris, Hungaria, Brasil, dan Amerika Serikat (AS), demagog anti-
elite sedang menunggangi gelombang populisme.
Bagi para filsuf, istilah “liberalisme” memiliki arti yang berbeda dari yang dipahami dalam politik
partisan di AS. Liberalisme adalah filosofi yang mengutamakan perlindungan hak individu, termasuk
kebebasan pemikiran, agama, dan gaya hidup dari opini massa dan penyalahgunaan kekuasaan
pemerintah.
Apa yang salah di Athena?

52
Di Athena pada era klasik, tempat lahirnya demokrasi, pertemuan demokratis adalah sebuah arena
yang berisi retorika yang tidak dibatasi oleh kesetiaan pada fakta atau kebenaran. Sejauh ini, tidak
asing bagi kita.
Aritoteles dan para muridnya belum menetapkan konsep dan prinsip dasar logika, sehingga mereka
yang ingin mempengaruhi orang lain harus belajar dari kaum sofis; mereka mengajarkan retorika dan
berfokus pada mengendalikan emosi pendengar alih-alih mempengaruhi logika berpikir mereka.
Di sini letak jebakannya: kekuasaan ada di tangan siapa pun yang dapat mengendalikan keinginan
kolektif warga negara dengan menggunakan emosi mereka, alih-alih menggunakan bukti dan fakta
untuk mengubah pendapat mereka.
Pericles berpidato di Athena. Philipp von Foltz/Wikimedia Commons
Memanipulasi orang menggunakan rasa takut
Dalam “Sejarah Perang Peloponnesia”, sejarawan Yunani Thukidides memberikan sebuah contoh
bagaimana negarawan Athena Pericles, yang terpilih secara demokratis dan tidak dianggap seorang
tiran, tetap mampu memanipulasi warga Athena:
“Apabila dia merasakan arogansi membuat mereka semakin percaya diri walau situasinya
sebaliknya, dia akan mengatakan sesuatu untuk menimbulkan rasa takut dalam hati mereka; dan
sebaliknya, bila dia melihat mereka merasa takut tanpa alasan jelas, dia akan mengembalikan
kepercayaan diri mereka lagi. Maka terjadilah sesuatu yang disebut demokrasi, tapi pada
kenyataannya adalah pemerintahan oleh satu laki-laki terkemuka.”
Pidato yang menyesatkan adalah elemen penting para pemimpin lalim, karena pemimpin lalim
membutuhkan dukungan dari rakyat. Manipulasi rakyat Athena oleh para demagog meninggalkan
warisan ketidakstablisan, pertumpahan darah, dan perang genosida, sebagaimana digambarkan oleh
Thukidides.
Catatan sejarah itulah alasan mengapa Socrates – sebelum diputuskan dihukum mati lewat
pengambilan suara secara demokratis – mencela demokrasi Athena karena mengutamakan pendapat
khalayak dan mengorbankan kebenaran. Sejarah berdarah Yunani juga menjadi alasan mengapa Plato
menghubungkan demokrasi dengan tirani dalam Buku VIII “Republik” karyanya.
Demokrasi Athena adalah demokrasi tanpa batasan terhadap dorongan-dorongan terburuk oleh
mayoritas.

Propenas
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai lembaga perencanaan, Bappenas telah
menyelesaikan tahap akhir dari penyusunan Program Pembangunan Nasional lima tahun (Propenas).
Penyus unan Propenas merupakan tugas Presiden, sebagai mandataris MPR, untuk menjabarkan
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999, sebagaimana penyusunan Rencana Pembangunan
Lima Tahun (Repelita) yang menjabarkan GBHN selama periode 1971 hingga 1998. Propenas
tentunya memiliki warna yang berbeda dengan Repelita karena disusun dalam suasana dan semangat
yang berlainan. Dokumen Propenas pada awal Juli 2000 sudah diserahkan pemerintah kepada
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan menunggu pembahasan lebih lanjut. Berikut ini disampaikan
ulasan singkat tentang hal-hal penting, seperti proses penyusunan dan isi Propenas serta produk
perencanaan ikutannya. GBHN 1999 sebagai Landasan Penyusunan Propenas Penyusunan kebijakan
dan program dalam Propenas bertitik awal dari tujuan pembangunan nasional, kondisi umum, visi
dan misi pembangunan nasional seperti yang diamanatkan oleh GBHN 1999-2004. Sebagai
penjabaran dari GBHN tentunya Propenas tidak bisa lepas dari maksud penetapan GBHN oleh MPR,
yaitu memberikan arah penyelenggaraan negara dengan tujuan mewujudkan kehidupan yang
demokratis, berkeadilan sosial, melindungi hak asasi ma nusia, menegakkan supremasi hukum dalam
tatanan masyarakat dan bangsa yang beradab, berakhlak mulia, mandiri, bebas, maju, dan sejahtera
untuk kurun waktu lima tahun ke depan. Selain itu muatan kebijakan dan program dalam Propenas
disusun lebi h rinci dan terukur daripada GBHN. Paradigma Propenas Berbeda dengan Repelita
Propenas adalah merupakan rencana program pembangunan nasional untuk jangka waktu 5 (lima)
tahunan. Selama 32 tahun terakhir, rencana program pembangunan nasional lima tahunan negara kita
disusun dalam apa yang disebut dengan Repelita. Paradigma yang digunakan dalam perumusan
Repelita pada waktu itu sangat mendalam (komprehensif) yaitu menguraikan secara panjang lebar
dan terinci rencana pembangunan menurut sektor dan daerah. Sedangkan dalam Propenas digunakan
paradigma yang menekankan pada skala prioritas dalam perumusan masalah dan penyelesaiannya

53
( strategic choices ). Dalam Propenas agenda-agenda kebijakan yang penting, mendesak, dan
mendasar yang menjadi prioritas bagi bangsa pada masa lima tahun ke depan lebih diutamakan dan
ditonj olkan. Pendekatan ini sejalan dengan keterbatasan pembiayaan dalam masa krisis ini. Propenas
kemudian dirinci ke dalam Rencana Pembangunan Tahunan (Repeta) yang memuat Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Naskah No. 20, Juli-Agustus 2000
2 Sesuai dengan GBHN bahwa Propenas memuat uraian kebijakan secara rinci dan terukur maka
untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci dari penjabaran masing-masing bidang dalam GBHN,
penulisan Propenas dilengkapi dengan matriks kebijakan yang berisi uraian program-pr ogram
nasional disertai dengan indikator- indikator kinerja yang rinci dan terukur. Pe ngertian terukur disini
dapat dinilai dari tujuan dan sasaran bidang yang dimaksud; baik yang bersifat kualitatif maupun
kuantitatif dibandingkan dengan titik to lak keadaan sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa Propenas
merupakan komitmen pemerintah untuk membenahi keadaan bangsa dengan menterjemahkan 9
bidang strategis dalam GBHN 1999-2004 (Hukum, Ekonomi, Politik, Agama, Pendidikan, Sosial dan
Budaya, Pembangunan Daerah, Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, Pertahanan dan
Keamanan) ke dalam 6 Bab Propenas serta 1 Lampiran tentang gambaran makro ekonomi yang berisi
faktor-faktor yang menjadi prakondisi bagi keberhasilan semua program dalam Propenas. Lima
Agenda Pembangunan Nasional Dalam Propenas dijabarkan 5 (lima) agenda kebijakan yang
merupakan prioritas
pembangunan nasional yaitu :
1. Upaya untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan serta meningkatkan kehidupan
demokrasi.
2. Mewujudkan supremasi hukum dan pemerintahan yang bersih.
3. Mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan ekonomi
berkelanjutan.
4. Membangun kesejahteraan rakyat dan ketahanan budaya.
5. Meningkatkan kapasitas daerah dan memberdayakan masyarakat. Agenda kebijakan ini kemudian
diuraikan lagi ke dalam strategi kebijakan dan program-program pembangunan nasional yang bersifat
prioritas disertai dengan indikator-indikator kinerjanya secara rinci dan terukur. Penggunaan
indikator kinerja ini merupakan alat ukur untuk menilai keberhasilan suatu program. Untuk
menjabarkan kelima agenda kebijakan tersebut, sistematika penulisan Propenas dibuat dalam enam
Bab.

Sistem Hukum di Indonesia | Pidana - Perdata – Negara

Sistem Hukum di Indonesia merupakan campuran dari beberapa sistem hukum, yakni sistem hukum
Eropa, hukum agama, dan hukum adat.
Sistem Hukum di Indonesia
Sistem adalah merupakan kesatuan yang terorganisir dan kompleks, berupa perpaduan ha-hal atau
bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan dalam mengalirkan informasi secara mudah dalam
mencapai tujuan.
Pengertian sistem menurut Wikipedia adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen
yang dihubungkan secara bersama untuk mengalirkan informasi secara mudah, baik materi ataupun
energi dalam mencapai tujuan. Berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma).
Sistem Hukum di Indonesia
Sedangkan pengertian dari Hukum itu sendiri hingga saat ini belum ada kesepahaman dari para ahli
mengenai apa itu hukum. Banyak ahli dan sarjana hukum yang telah mencoba untuk mendefinisikan
hukum, namun belum ada satu orang ahli atau sarjana hukum yang mampu memberikan pengertian
hukum itu dan dapat diterima oleh semua pihak.
Atas ketiadaan definisi hukum yang jelas dan diterima oleh semua pihak ini, tentu akan menjadi
kendala bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu hukum. Yang mana pemahaman awal atas hukum
secara umum sangat diperlukan, sebelum memulai untuk mempelajari apa itu hukum dengan berbagai
macam aspeknya.
Namun demikian, jika disimpulkan dari berbagai pengertian tentang hukum yang dibuat oleh para ahli
dan sarjana hukum, pada umumnya hukum adalah segala peraturan-peraturan dalam mengatur
kehidupan bersama dimasyarakat, yang dalam pelaksanaannya dapat diterapkan sanksi-sanksi sebagai

54
bentuk pemaksaan atas peraturan-peraturan tersebut agar tercipta rasa keadilan didalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
Berikut beberapa pendapat ahli dan Sarjana Hukum tentang apa itu Hukum!
1. Plato
Hukum merupakan sistem peraturan-peraturan yg teratur dan tersusun baik yang bersifat mengikat
masyarakat.
2. Aristoteles
Hukum hanya sebagai kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat masyarakat tetapi juga hakim.
Undang-undang adalah sesuatu yang berbeda dari bentuk dan isi konstitusi; karena kedudukan itulah
undang-undang mengawasi hakim dalam melaksanakan jabatannya dalam menghukum orang-orang
yang bersalah.
3. Austin
Hukum adalah sebagai peraturan yang diadakan untuk memberi bimbingan kepada makhluk yang
berakal oleh makhluk yang berakal yang berkuasa atasnya (Friedmann, 1993: 149).
4. Bellfoid
HuKum yang berlaku di suatu masyarakat mengatur tata tertib masyarakat itu didasarkan atas
kekuasaan yang ada pada masyarakat.
5. Mr. E.M. Mayers
Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan ditinjau kepada tingkah laku
manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman penguasa-penguasa negara dalam melakukan
tugasnya.
6. Ouguit
Hukum adalah tingkah laku para anggota masyarakat, aturan yang daya penggunaannya pada saat
tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama terhadap orang
yang melanggar peraturan itu.
7. Immanuel Kant
Hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak dari orang yang satu dapat
menyesuaikan dengan kehendak bebas dari orang lain memenuhi peraturan hukum tentang
kemerdekaan.
8. Van Kant
Hukum adalah serumpun peraturan-peraturan yang bersifat memaksa yang diadakan untuk mengatur
melindungi kepentingan orang dalam masyarakat.
9. Van Apeldoorn
Hukum adalah gejala sosial, tidak ada masyarakat yang tidak mengenal hukum maka hukum itu
menjadi suatu aspek kebudayaan yaitu agama, kesusilaan, adat istiadat, dan kebiasaan.

10. S.M. Amir, S.H.


Hukum adalah peraturan, kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma-norma dan sanksi-
sanksi.
11. E. Utrecht
Hukum adalah himpunan petunjuk hidup -perintah dan larangan- yang mengatur tata tertib dalam
suatu masyarakat, dan seharusnya ditaati oleh seluruh anggota masyarakat yang bersangkutan, oleh
karena itu pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau
penguasa itu.
12. M.H. Tirtaamidjata, S.H.
Hukum adalah semua aturan (norma) yang harus dituruti dalam tingkah laku tindakan-tindakan dalam
pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian jika melanggar aturan-aturan itu akan
membahayakan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan kehilangan kemerdekaannya, didenda
dan sebagainya.
13. J.T.C. Sumorangkir, S.H. dan Woerjo Sastropranoto, S.H.
Hukum itu ialah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan lingkah laku manusia
dalam lingkungan masyarakat, yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana
terhadap peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu dengan hukuman.
Sistem Hukum di Indonesia

55
Sedangkan bagi masyarakat awam sendiri tidaklah penting defenisi atau pengertian hukum itu, yang
jauh lebih penting bagi mereka adalah bagaimana hukum itu ditegakkan dan bagaimana hukum itu
dapat melindungi kehidupan mereka.
Dengan demikian, Sistem Hukum dapatlah diartikan suatu kesatuan yang terorganisir dan kompleks
dari beberapa elemen atau bagian-bagian yang saling berpadu untuk saling berinteraksi dan bekerja
sama dalam mengalirkan informasi secara mudah untuk membentuk suatu peraturan-peraturan yang
dapat dipaksakan dengan diterapkannya sanksi-sanksi untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat
dan negara dalam mencapai tujuan berupa terciptanya perlindungan serta rasa keadilan didalam
masyarakat.
Sistem Hukum di Indonesia
Sistem Hukum yang dianut di Indonesia merupakan perpaduan dari beberapa sistem hukum. Yakni
campuran atau perpaduan dari hukum agama, hukum adat, dan hukum Eropa terutama Belanda yang
dibawa saat menjajah Indonesia.
Warisan sistem hukum Belanda ini telah mengakar sebagai akibat dari lamanya penjajahan yang
dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia, yakni sekitar 350 tahun lamanya.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang telah memiliki budaya atau adat yang sangat kaya, jauh
sebelum Belanda datang menjajah Indonesia.
Hal ini dapat dibuktikan dengan peninggalan atau fakta sejarah yang menyatakan bahwa di Indonesia
dahulu banyak berdiri kerajaan-kerajaan hindu-budha yang daerah kekuasaannya sangat luas, bahkan
sampai pada negeri tetangga seperti malaysia.
Sriwijaya, Kutai, Majapahit, dan lain sebagainya adalah beberapa kerajaan yang dulu pernah berkuasa
dan telah meninggalkan warisan-warisan budaya yang hingga saat ini masih terasa, yang jika dilihat
dari sistem hukum di Indonesia, berupa peraturan-peraturan adat yang hidup dan tetap bertahan
hingga saat ini.
Dan hingga saat ini, nilai-nilai hukum adat yang masih melekat dan mengikat masyarakat Indonesia
telah menjadi salah satu sumber hukum di Indonesia.
Selain hukum Eropa yang dibawa oleh Belanda, dan hukum adat peninggalan nenek moyang bangsa
Indonesia, Hukum Agama, terutama Islam juga menjadi sumber Sistem Hukum di Indonesia yang
mana Indonesia sendiri adalah negara dengan penduduk muslim terbesar didunia.

Persamaan antara Negara Kerajaan dengan Negara Republik

Dinamika perkembangan Indonesia dari sejak kemerdekaannya, selalu miris dengan


banyaknya gejolak, hal ini sangat menarik untuk diikuti dan dicermati. Bukankah Indonesia yang
menganut sistim republik, seharusnya lebih mampu menjawab tantangan jaman ? Mengapa
kenyataannya justru Indonesia memasuki masa krisis? Apakah disebabkan oleh adanya kesalahan
dalam sistimnya, ataukah disebabkan oleh penyelenggara negara, ada yang kurang konsisten?
Mengingat sejarah Indonesia dari sebelum masa kemerdekaan, terdapat banyak kerajaan
hampir di seluruh pelosok nusantara, maka wajar kiranya jika dipertanyakan, apakah penyelenggaraan
negara Indonesia hanya namanya saja republik, tapi pada prakteknya adalah sebagaimana praktek di
kerajaan? Apakah diantara pejabat dan aparatur negara masih ada pertanyaan : Saudara dari keturunan
kerajaan apa, dan saudara keturunan generasi yang keberapa?
Diakui atau tidak, bahwa masyarakat Indonesia masih menghormati keturunan bangsawan, gelar
kebangsawanan masih merupakan kebanggaan. Apakah benar bahwa gelar kebangsawanan dari suatu
daerah, ada yang bisa diperjual-belikan? Apakah diantara masyarakat kita masih terdapat orang yang
berjiwa dan bermental kerajaan? Apakah generasi muda yang kurang menghargai keturunan
bangsawan, karena mereka kurang mengerti?
Pembahasan berikut, bukan untuk mengkaji semua permasalahan tersebut, tetapi untuk memberikan
gambaran umum tentang penyelenggaraan negara menurut sistim kerajaan dan republik, meliputi : a).
Persamaan antara negara kerajaan dengan negara republik; b). Perbedaan antara negara kerajaan
dengan negara republik; c). Modifikasi negara kerajaan; d). Defiasi negara republik.
A). Persamaan antara Negara Kerajaan dengan Negara Republik
Dikenal dua sistim penyelenggaraan negara, yakni sistim kerajaan dan sistim republik, keduanya
mempunyai persamaan sebagai berikut :

56
1.Keduanya menyelenggarakan urusan-urusan kepentingan umum, yakni berusaha meningkatkan
kesejahteraan moril dan materil semua rakyat.
2. Kudeta bisa terjadi pada keduanya, yang berbeda adalah pelakunya. Pada kerajaan pelakunya
umumnya adalah para sanak keluarga raja yang memiliki kekuasaan, tapi pada republik pelakunya
umumnya adalah para elit negara, atau pejabat negara yang memiliki kekuasaan.
3.Perpecahan bisa terjadi pada keduanya. Bedanya, perpecahan yang terjadi pada kerajaan disebabkan
kepala daerah (setingkat gubernur yang diangkat oleh raja) memisahkan diri dan mengangkat dirinya
menjadi raja dan mendirikan kerajaan sendiri, maka berpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
Perpecahan yang terjadi pada negara republik umumnya pada negara serikat, karena masing-masing
negara bagian memisahkan diri dan berdiri sendiri, contoh : hilangnya USSR, RPA dan lain-lain.
4. Pelanggaran hukum dapat terjadi pada keduanya. Pada negara kerajaan disebabkan lemahnya
pengawasan oleh seorang raja, sedang pada negara republik disebabkan lemahnya pengawasan oleh
para aparat penegak hukum.
5. Pelaksanaan yang diktator atau “tangan besi” bisa terjadi pada keduanya, jika kepala pemerintahan
mengendalikan semua kekuasaan negara lalu pelaksanaan pemerintahannya hanya dengan
menggunakan kekuatan tanpa musyawarah lagi.

B). Perbedaan antara Negara Kerajaan dengan Negara Republik


Perbedaan antara negara kerajaan dengan negara republik, mungkin dapat dijelaskan dalam
tabel berikut :
Negara Kerajaan Negara Republik
1. Sistem kerajaan yang berkuasa adalah raja dan pimpinan tertinggi negera dikepalai oleh Raja.
2. Siapa saja yang mempunyai kekuasaan yang besar dan pendukung setia yang banyak, dapat
membuat dinasti baru dan mengangkat dirinya menjadi raja.
3. Masa jabatan seorang raja ditentukan oleh kehendak raja sendiri, umumnya masa jabatannnya
seumur hidup.

4. Pemilihan raja baru ditentukan dan diangkat oleh raja sebelumnya, sebagai penggantinya.
5. Raja bersifat turun-temurun, umumnya putra mahkota yang menjadi raja, atau sanak keluarga dari
raja sebelumnya.
6. Semua pejabat dan aparatur negara dipilih, diangkat dan diberhentikan oleh raja dan menurut
kehendak raja.
7. Pendelegasian tugas dan wewenang kenegaraan, diatur langsung oleh raja sendiri termasuk
perubahannya semua diatur oleh raja sendiri.
8. Penetapan aturan hukum dan pelaksanaannya diatur, diawasi dan dikendalikan langsung oleh raja
sendiri. Raja bebas merubah-rubah hukum yang dibuatnya sendiri.
9. Raja mempunyai kedudukan yang lebih istimewa di mata hukum, raja bebas melakukan tindakan
hukum apa saja. Jika raja dan atau keluarga raja melanggar hukum, maka bebas dari sanksi hukum.
10. Setiap kerajaan umumnya saling berebut kekuasaan, berusaha untuk saling menjatuhkan dan
saling “mencaplok” yang lain. Terutama sekali bila rajanya sangat ambisius dengan kekuasaan. 1.
Sistem republik yang berkuasa adalah Presiden dan pimpinan tertinggi negara dikepalai oleh presiden.
2. Presiden hanya pilihan rakyat, siapapun tidak bisa mengangkat dirinya jadi presiden, karena tidak
akan diakui rakyatnya.
3. Masa jabatan presiden dibatasi, tidak bisa seumur hidup, paling lama 12 tahun (lihat
presiden/khalifah Usman bin Affan RA), tetapi umumnya berkisar 4-5 tahun.
4. Pemilihan presiden baru, tidak ditentukan oleh presiden lama, tapi dipilih, ditentukan, diangkat
dan oleh rakyat.
5. Siapapun yang memenuhi persyaratan dan disenangi rakyat banyak, bisa dipilih jadi presiden
baru.
6. Semua pejabat dan aparatur negara dipilih, diangkat dan diberhentikan sesuai ketentuan yang
berlaku.
7. Pendelegasian tugas dan wewenang kenegaraan, diatur ketentuan yang berlaku.
8. Penetapan aturan hukum dan pelaksanaannya diatur, diawasi dan dikendalikan oleh badan
Legislatif dan badan Yudikatif. Presiden mengesahkan dan menghormati hukum yang berlaku.

57
9. Semua orang kedudukannya sama dimata hukum, tidak ada yang lebih istimewa. Jika Presiden
dan atau keluarga presiden melanggar hukum, maka tetap akan terkena sanksi hukum.
10. Setiap negara republik umumnya menghargai hidup dan berkembangnya negara lain, bahkan ada
yang mengakui secara resmi kerajaan yang ada dan berkembang di wilayahnya.

Perbedaan Pemerintahan Indonesia Pada Masa Demokrasi Liberal Tahun 1950-1959 dengan Masa
Reformasi Tahun 1998 hingga Sekarang

Pada Demokrasi Liberal di Indonesia yang menggunakan UUDS yang berarti pemerintahan yang
dilakukan oleh kabinet bersifat parlementer (kabinet bertanggungjawab kepada parlemen). Pada masa
ini sering kali terjadinya pergantian kabinet karena parlemen dengan mudah mengeluarkan mosi tidak
percaya terhadap kabinet sehingga koalisi kabinet mudah jatuh. Sementara presiden tidak memiliki
kekuasaan secara nyata kecuali menunjuk formatur untuk membentuk kabinet-kabinet baru. Kabinet
pada masa ini juga rata-rata hanya bertahan selama 14 bulan. Akibat kabinet yang hanya bertahan
sebentar tersebut program-program kabinet tidak dapat diselesaikan, sementara parlemen yang
mengajukan mosi hanya untuk menjatuhkan kabinet dan lebih mengutamakan merebut kedudukan
partai daripada menyelamatkan rakyat. Akibatnya terjadilah gangguan-gangguan keamanan dari
Indonesia sendiri seperti Pemberontakan Kahar Muzakkar, DI/TII, Dewan-dewan Daerah, PRRI
Permesta. Dengan demikian terjadi ketidakstabilan politik pada masa Demokrasi Liberal ini.
-Masa Reformasi tahun 1998-sekarang: Ketika semakin besarnya ketidakpuasan masyarakat Indonesia
terhadapa pemerintahan Soeharto, maka terjadi demonstrasi, yang mengakibatkan mundurnya
Soeharto sebagai presiden. Sistem konstitusional pada era reformasi (sesudah amandemen UUD
1945) berdasarkan Check and Balances yaitu pembatasan kekuasaan setiap lembaga negara oleh UUD
tidak ada yang tertinggi dan tidak ada yang terendah semuanya sederajat dan saling mengawasi
berdasarkan fungsinya masing-masing
Pada masa ini sistem pemerintahan Indonesia adalah sistem pemerintahan presidensial yaitu presiden
sebagai kepala pemerintahan tidak bertanggung jawab kepada parlemen, akan tetapi
bertanggungjawab kepada rakyat dan senantiasa dalam pengawasan DPR. Menteri pada masa ini
sebagai pembantu presiden, menteri tidak bertanggungjawab kepada DPR. Adapun parlemen terdiri
atas DPR dan DPD keduanya merupakan anggota MPR, kekuasaan yudikatif dijalankan oleh MA.
Oleh karena itu,pada masa Demokrasi Liberal 1950-1959 ketika bangsa Indonesia berada pada masa
pembentukan pemerintahan untuk menyatukan Indonesia, ada rasa ketidakpuasan dari daerah-daerah
sehingga timbul berbagai macam gangguan menentang pemerintah pusat, karena merasa
dianaktirikan. Ditambah pula kabinet yang sering berganti-ganti, mengakibatkan tidak terjalannya
rencana program-program dari kabinet tersebut. Pada era reformasi 1998-sekarang, banyak dilakukan
perubahan, misalnya pada asas check and balances, kekuasaan eksekutif, yudikatif, legislatif ialah
sama sederajat dan saling mengawasi. Pada era reformasi kondisi politik di Indonesia menjadi lebih
stabil ketimbang pada era Demokrasi Liberal 1950-1959, sehingga program-program pemerintah
dapat dijalankan tanpa adanya gangguan keamanan.
Demokrasi liberal/parlementer secara singkat diartikan sebagai sistem demokrasi yang dikelola oleh
parlemen sehingga Presiden sebagai kepala negara hanya bertindak sebagai pengawas kinerja
parlemen. Pada demokrasi parlementer, kewenangan dalam mengangkat perdana menteri dan
menjatuhkan pemerintahan sepenuhnya di tangan parlemen. Menjatuhkan pemerintahan oleh
parlemen dilakukan dengan mengeluarkan mosi tidak percaya. Mosi tidak percaya adalah semacam
wewenang parlemen yang menyatakan bahwa wakil rakyat tidak memercayai kinerja pemerintah
sehingga pemerintah harus rela turun dari jabatannya.
Ciri Demokrasi Parlementer antara lain:
Presiden Sebagai Kepala Negara, Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan
Eksekutif Bertanggung jawab pada Legislatif
Kekuasaan Eksekutif dapat Dijatuhkan Oleh Legislatif
Hak Prerogatif Dimiliki Perdana Menteri
Eksekutif Ditunjuk oleh Legislatif
Menteri Bertanggungjawab pada Legislatif
Indonesia pernah menjankan demokrasi parlementer. Maklumat 14 November 1945 merupakan titik
perubahan sistem pemerintahan Indonesia, yang semula presidensil menjadi parlementer.

58
maklumat yang berisi,
“Pemerintah Republik Indonesia setelah mengalami ujian-ujian yang hebat dengan selamat, dalam
tingkatan pertama dari usahanya menegakkan diri, merasa bahwa saat sekarang sudah tepat untuk
menjalankan macam-macam tindakan darurat guna menyempurnakan tata usaha Negara kepada
susunan demokrasi. Yang terpenting dalam perubahan-perubahan susunan kabinet baru itu ialah,
tanggungjawab adalah di dalam tangan Menteri.”
Sistem pemerintahan presidensil yang ada di Indonesia tidak berlangsung lama. Hanya di awal
kemerdekaan, yaitu sejak 12 September 1945 sampai 14 November 1945. Sementara sejak 14
November 1945, dengan dikeluarkannya maklumat di atas, secara gamblang Indonesia menjadikan
dirinya sebagai negara kabinet parlementer di mana presiden bertanggung jawab kepada parlemen
(KNIP) yang berfungsi sebagai badan legislatif, sesuai dengan isi maklumat No.X 16 Oktober 1945
yang menyebutkan KNIP sebagai fungsi legislatif. Perdana Menteri pertama Indonesia adalah Sutan
Syahrir.

Demokrasi Parlementer di Indonesia berlangsung dari tahun 1945-1959. Beberapa perdana menteri
yang pernah menjalankan pemerintah di Indonesia antara lain:
Kabinet Syahrir I, 14 November 1945-12 Maret 1946.
Kabinet Syahrir II, 12 Maret 1946-20 Oktober 1946.
Kabinet Syahrir III, 20 Oktober 1946-27 Juni 1947.
Kabinet Amir Syarifuddin I, 3 Juli 1947-11 November 1947.
Kabinet Amir Syarifuddin II, 11 November 1947-29 Januari 1948.
Kabinet Hatta I (Presidensial), 29 Januari 1948-4 Agustus 1948.
Kabinet Darurat (PDRI), 19 Desember 1948-13 Juli 1949.
Kabinet Hatta II (Presidensial), 4 Agustus 1949-20 Agustus 1949.
Kabinet Hatta III masa RIS , 27 Desember 1949-17 Agustus 1950
Setelah kembali kebentuk NKRI, Indonesia kembali menggunakan sistem parlementer. Berikut ini
Perdana menteri yang pernah memerintah dari tahun 1950-1959:
Kabinet Natsir (6 September 1950 – 21 Maret 1951)
Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 23 Februari 1952)
Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)
Kabinet Ali – Wongso – Arifin atau Kabinet Ali (1 Agustus 1953 – 24 Juli 1955)
Kabinet Burhannuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956)
Kabinet Ali II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)
Kabinet Juanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959)
Perbedaan sistem pemerintahan di Indonesia pada masa kini dengan sistem pemerintahan pada masa
demokrasi liberal adalah pada masa kini Indonesia menggunakan sistem Presidensial, sedangkan pada
masa demokrasi liberal (1950 – 1959) mengunakan sistem Parlementer. Untuk perbedaannya dapat
dilihat pada pembahasan.

Perbedaan antara sistem Presidensial dengan sistem Parlementer.

1. Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan


Sistem Presidensial : dijabat oleh Presiden
Sistem Parlementer : Kepala Negara dijabat oleh Presiden, Kepala Pemerintahan dijalankan oleh
Perdana Menteri
2. Pemilihan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
Sistem Presidensial : dipilih oleh rakyat secara langsung dengan pelaksanaan Pemilu
Sistem Parlementer : Perdana Menteri dipilih langsung oleh parlemen, rakyat memilih parlemen.
3. Lembaga Supremasi Tertinggi
Sistem Presidensial : kedaulatan rakyatlah yang dijunjung tinggi
Sistem Parlementer : parlemen mempunyai kekuasaan besar dalam negara sebagai badan legislative
maupun badan perwakilan.
4. Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif
Sistem Presidensial : kekuasaan eksekutif dan legislatif sejajar

59
Sistem Parlementer : kedudukan antara legislatif dan eksekutif tidak sejajar sehingga dapat saling
menjatuhkan.
5. Pembagian Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif
Sistem Presidensial : pembagian kekuasaan yang jelas antara eksekutif dan legislatif baik secara
kepersonalan anggota maupun secara kelembagaan.
Sistem Parlementer : pembagian kekuasaan antara legislatif dengan eksekutif tidak begitu jelas
karena anggota eksekutif dipilih dari legislatif
6. Tanggung Jawab Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
Sistem Presidensial : Presiden bertanggung jawab terhadap kedaulatan rakyat
Sistem Parlementer : Perdana Menteri dan Menteri bertanggung jawab kepada parlemen.

7. Masa Jabatan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan


Sistem Presidensial : Presiden menduduki jabatan hanya selama 5 tahun, dan maksimal hanya
selama 2 periode.
Sistem Parlementer : tergantung pada parlemen
8. Pembentukan Kabinet
Sistem Presidensial : kabinet dipilih dan dilantik oleh presiden.
Sistem Parlementer : kabinet dibentuk oleh parlemen, setiap anggota kabinet adalah anggota yang
terpilih dari parlemen sehingga kabinet akan bertanggung jawab secara langsung kepada parlemen.
9. Peran Partai Politik
Sistem Presidensial : partai politik berperan menjadi fasilitator yang mengusung calon presiden
serta calon wakil presiden.
Sistem Parlementer : partai politik dapat memasukkan ideologi politik sehingga mempengaruhi
kepemimpinan presiden dan wakil presiden terpilih.
10. Pemilihan Umum
Sistem Presidensial : pemilu untuk memilih anggota legislatif untuk kabupaten/kota, propinsi, dan
pusat serta memilih secara langsung presiden dan wakil presiden.
Sistem Parlementer : pemilu diadakan semata-mata hanya untuk memilih anggota parlemen.

PERBEDAAN ILMU NEGARA DAN ILMU TATA NEGARA

Hal-hal yang diselidiki dan dipelajari dalam Ilmu Negara, antara lain:
1. Asal-usul berdirinya negara
2. Lenyapnya negara
3. Unsr-unsur negara
4. Perkembangan dan perjalanan negara
5. Tujuan yang hendak dicapai atau diwujudkan oleh negara, dan
6. Jenis atau bentuk-bentuk negara pada umumnya.
Ilmu Negara hanya membahas hal-hal yang mendasar dari negara sehingga bersifat abstrak, teoretis,
dan universal.
Adapun kajian lebih jauh mengenai negara dalam arti spesifik-operasional terdapat pada pembahasan
Ilmu Hukum Tata Negara.
Hal-hal pokok yang diselidiki dan dipelajari dalam ilmu Tata Negara:
1. alat-alat perlengkapan negara
2. susunan dan penyelenggaraan pemerintahan,
3. hubungan antara alat-alat perlengkapari negara, dan
4. Organisasi kekuasaan negara.
Berbeda dengan Ilmu Negara, IImu Tata Negara bersifat spesifik (khusus) karena telah membahas
negara-negara tertentu, misalnya ketatanegaraan Indonesia, di Amerika Serikat, di Mesir, dan lainnya.
Olehnya, Ilmu Tata Negara lebih mengarah pada hal-hal yg sifatnya teknis (praktis), khususnya dalam
penyelenggaraan pemerintahatahan disuatu negara tertentu.
OBYEK ILMU NEGARA
Bahwa salah satu per¬syaratan untuk dapat disebut sebagai suatu disiplin ilmu, adalah adanya obyek.
Obyek adalah sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan. Dengan demikian obyek merupakan apa
yang kita diamati, diteliti, dipelajari dan dibahas.

60
Dalam penjabarannya, obyek itu sendiri terdiri dari obyek materi dan obyek formal. Setiap obyek
materi dari suatu disiplin ilmu dapat sama dengan obyek materi ilmu pengetahuan lainnya. Tetapi
obyek formal, berbeda pada masing¬-masing disiplin ilmu. Hal ini karena perbedaan sudut pandang
dari masing-masing ilmu itu sendiri.
Jadi, pada prinsipnya obyek formal, meninjau sasaranhya hanya dari sudut pandang saja, yaitu dengan
caranya yang khusus.
Sebagai contoh dapat diambil perbedaan antara seorang ulama denga artis, terdapat perbedaan sudut
pandang dalam obyek for¬mal tetapi mempunyai kesamaan dalam obyek materi.
Misalnya dalam hal pakaian, ditinjau dari obyek materi, baik bagi seorang ulama maupun seorang
artis, mempunyai persepsi yang sama bahwa obyek materinya adalah kain. Akan tetapi ditinjau dari
obyek formal, seorang ulama berpakaian adalah ibadah, karena memenuhi perintah untuk menutup
aurat, sedangkan obyek formal pakaian bagi seorang artis adalah alat peragaan dan penampilan.
Bahkan ada kecenderungan pada beberapa individu dijadikan sebagai penonjolan dan penampilan
daya tarik tubuh.
Obyek materi sebagaimana disampaikan di atas, dapat disebut sebagai persoalan pokok (subyect
matter), sedangkan obyek formal dapat pula disebut sebagai pusat perhatian (focus of interest).
Untuk lebih jelasnya, kita tampilkan beberapa ilmu sebagai studi perbandingan:
DISIPLIN ILMU OBYEK MATERI OBYEK FORMAL
1. Ilmu Politik (Negara) Kekuasaan, kekuatan kelompok, Keresahan masyarakat, dsb.
2. Hukum Tata Negara (Negara) Peraturan, konvensi, yurisprudensi, traktat, dan keputusan hk
lainnya.
4. Administrasi Negara (Negara) Administrasi, Tata Usaha, manajemen, koordinasi, dsb.
5. Ilmu Negara (Negara) Teori Negara, sifat Negara, bntuk Negara, timbul-lenyapnya Negara, dsb
6. Ilmu Pemerintahan (Negara) Hubungan2 pmrintahan, gejala2 dan peristiwa-peristiwa pemrintahan,
dsb
Pertumpang-tindihan tersebut disebabkan oleh kesamaan obyek materi masing-masing disiplin ilmu
tersebut yaitu negara, sedangkan yang membedakan kelima ilmu-ilmu tersebut di atas adalah obyek
formalnya.

NEGARA SEBAGAI ORGANISASI KEKUASAAN


Pengertian negara sebagai organisasi kekuasaan dipelopori oleh Prof. j. H. A. Logemann dalam buku
Over De Theorie van Een Stelling Staatsrecht. Dalam buku itu, dikatakan bahwa keberadaan negara
bertujuan untuk mengatur serta menyelenggarakan masyarakat yang dilengkapi dengan ke¬kuasaan
tertinggi. Pandangan Logemann ini kemudian diikuti oleh Harold j. Laski, Max Weber, dan Leon
Duguit.
Pengertian tersebut, menempatkan negara sebagai organisasi kekuasaan. Dalam konteks organisasi
kekuasaan, di dalam negara terdapat suatu mekanisme tata hubungan kerja yang mengatur suatu
kelompok manusia (rakyat) agar berbuat atau bersikap sesuai dengan kehendak negara (yang
mempunyai kekuasaan).
Pandangan Lain tentang Ng sebagai sebuah Organisasi
– R. Kranenburg : Negara adalah organisasi kekuasaan
– Mac Iver : Organisasi yang menyelenggarakan penertiban berdasarkan sistem hukum dalam suatu
masyarakat disuatu wilayah tertentu dimana penyelengaraan peneriban itu dilakukan oleh
pemerintah yang diberikan kekuasaan untuk memaksa.
– Vinogradof : Masyarakat yang diorganisasikan untuk bertindak di bawah aturan- aturan hukum.
– Djokosutono: Suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada dibawah pemerintahan
yang sama.
Agar negara dapat mengatur rakyatnya, negara diberi kekuasaan (au¬thority) yang dapat memaksa
seluruh anggotanya untuk mematuhi segala peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh
negara. Untuk menghindari adanya kekuasaan sewenang-wenang, di sisi lain, negara juga menetapkan
cara-cara dan batas-batas sampai di mana kekuasaan dapat digunakan dalam kehidupan bersama itu,
baik oleh individu, golongan, asosiasi, maupun oleh negara itu sendiri.
UNSUR-UNSUR NEGARA
Menurut ahli kenegaraan, Oppenheimer dan Lauterpacht, syarat ber¬dirinya suatu negara haruslah
memenuhi unsur-unsur berikut:

61
1. Rakyat yang bersatu;
2. Daerah atau wilayah;
3. Pemerintah yang berdaulat; dan
4. Pengakuan dari negara lain.

Konvensi Montevideo pada tahun 1933 menyebutkan bahwa unsur-unsur berdirinya suatu negara
antara lain berupa rakyat (penghuni), wilayah yang permanen, penguasa yang berdaulat, kesanggupan
berhubungan dengan negara-negara lainnya, dan pengakuan (dekralatif).
Dari dua pendapat tersebut, unsur rakyat, wilayah, dan pemerintah yang berdaulat merupakan unsur
“konstitutif” karena keberadaannya mutlak harus ada. Sedangkan pengakuan dari negara lain
merupakan unsur “deklaratif”, yang bersifat formalitas karena diperlukan dalam rangka memenuhi
unsur tata aturan pergaulan internasional. Unsur deklaratif mempunyai arti strategis untuk membina
hubungan kerja sama, rasa penghormatan, dan pengakuan kedaulatan dari negara lain.
Pengertian Rakyat
Rakyat merupakan unsur terpenting negara karena rakyatlah yang per¬tama kali berkehendak
membentuk negara. Rakyat pula yang mulai me¬rencanakan, merintis, mengendalikan, dan
menyelenggarakan pemerintahan negara.
Di dalam suatu negara, rakyat dapat dibedakan menjadi: A. penduduk dan bukan penduduk; B. warga
negara dan bukan warga negara (warga negara asing).
a. Penduduk dan Bukan Penduduk.
Penduduk adalah mereka yang bertempat tinggal atau berdomisili di dalam suatu wilayah negara
(menetap). Biasanya, penduduk adalah me¬reka yang lahir secara turun-temurun dan besar di dalam
suatu negara tertentu.
Bukan Penduduk adalah mereka yang berada di dalam suatu wilayah negara hanya untuk sementara
waktu. Contohnya, para turis manca¬negara atau tamu-tamu instansi tertentu di dalam suatu negara.
Catatan: Antara penduduk dan bukan penduduk dapat dibedakan berdasarkan hak dan kewajibannya.
Misalnya, hanya yang berstatus penduduk saja yang dapat memiliki KTP di suatu negara. (Penduduk
dan Bukan Penduduk lebih ditekankan pada aspek sosiologis).
b. Warga Negara, dan Bukan Warga Negara
Sedangkan pembedaan rakyat berdasarkan hubungannya dengan pemerintah negaranya adalah sebagai
berikut.
Warga Negara adalah mereka yang berdasarkan hukum tertentu me¬rupakan anggota dari suatu
negara. Dengan kata lain, warga negara adalah mereka yang menurut undang-undang atau perjanjian
diakui sebagai warga negara. Warga negara dapat didapat melalui proses “naturalisasi”.
Bukan Warga Negara (orang asing) adalah mereka yang berada pada suatu negara tetapi secara
hukum tidak menjadi anggota negara yang bersangkutan, namun tunduk pada pemerintahan di mana
mereka berada (Contoh: Duta besar, Konsul, Kontraktor asing dan sebagainya).
Catatan: Antara warga negara dan bukan warga negara juga dapat dibedakan berdasarkan hak dan
kewajibannya. Misalnya, warga negara dapat memiliki tanah atau mengikuti pemilu, sedangkan yang
bukan warga negara tidak demikian. Antara warga negara dan bukan warga negara lebih ditekankan
pada aspek Yuridis.
TERJADINYA NEGARA
Ada dua yaitu secara primer dan sekunder.
A. Secara Primer
Terjadinya Negara Secara Primer adalah teori yang membahas tentang terjadinya negara yang TIDAK
dihubungkan dengan yang telah ada sebelumnya. Tapi dilihat secara evolusi.
Negara memang sudah pasti berevolusi. Karena manusialah yang lebih dulu ada dari pd negara. Dan
Manusia pula yang merencanakan, membuat atau membentuk negara.
Olehnya terjadinya Negara secara Primer, ber-evolusi melalui 4 tahap:
1. Pertama-tama dimulai dari persekutuan masyarakat/suku (genootschaft). Awal kehidupan manusia
dimulai dari keluarga, kemudia terus berkembang menjadi kelompok-kelompok masyarakat hukum
tertentu (suku).
Suku sangat terikat dengan adat serta kebiasaan-kebiasaan yang disepakati. Pimpinan suku (kepala
suku atau kepala adat) berkewajiban mengatur dan menyelenggarakan kehidupan bersama.

62
Peranan kepala suku dianggap sebagai primus inter pares, artinya orang yang pertama di antara yang
sederajat. Kemudian, satu suku, terus berkem¬bang menjadi dua, tiga suku, dan seterusnya menjadi
besar dan kompleks.
Perkembangan tersebut bisa terjadi karena faktor alami atau karena pe naklukan-penaklukan antar-
suku.
2. Kerajaan (Rijk)
Kepala suku yang semula berkuasa di masyarakat hukumnya, kemudian mengadakan ekspansi dengan
penaklukan-penaklukan ke daerah lain. Hal itu mengakibatkan berubahnya fungsi kepala suku dari
primus inter pares menjadi seorang raja dengan cakupan wilayah yang lebih luas dalam bentuk
kerajaan.
Pada tahap berikutnya, karena faktor sarana transportasi dan komunikasi yang tidak lancar, banyak
daerah taklukannya yang memberontak. Meng¬hadapi keadaan demikian, raja segera bertindak
dengan mencari dana se¬ banyak-banyaknya melalui perdagangan untuk membeli senjata guna
mem¬bangun tentara yang kuat dan sarana vital lainnya. Dengan tentara yang kuat, raja menjadi
berwibawa terhadap daerah-daerah kekuasaannya sehingga mulai tumbuh kesadaran akan kebangsaan
dalam bentuk negara nasional.
3. Negara Nasional
Pada awalnya, negara nasional diperintah oleh raja yang absolut dengan sistem pemerintahan ter-
sentralisasi. Semua rakyat dipaksa mematuhi ke¬hendak dan perintah raja. Hanya ada satu identitas
kebangsaan. Fase demikian dinamakan fase nasional di dalam terjadinya negara.
4. Negara Demokrasi
Dari fase negara nasional, secara bertahap rakyat mempunyai kesadaran batin dalam bentuk perasaan
kebangsaan. Adanya kekuasaan raja yang mut¬lak menimbulkan keinginan rakyat untuk memegang
pemerintahan sendiri, artinya kedaulatan/kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat. Rakyat berhak
memilih pemimpinnya sendiri yang dianggap dapat mewujudkan aspirasi mereka. Ini dikenal dengan
kedaulatan rakyat. Pemikiran seperti ini men¬darong lahirnya negara demokrasi.
B. Secara Sekunder
Terjadinya negara secara sekunder adalah teori yang membahas tentang terjadinya negara yang
dihubungkan dengan negara2 yang telah ada sebelumnya. Misalnya, adanya pengakuan baik secara de
facto maupun de jure.
Asal mula terjadinya Ng secara Sekunder, dapat dilihat dalam perspektif sejarah. Yaitu terjadinya Ng
berdasarkan kenyataan yang benar-benar terjadi atau diungkap berdasarkan sejarah negara yang
bersangkutan. Yakni sebagai berikut:
1. Occupatie (pendudukan)
Hal ini terjadi ketika suatu wilayah yang tidak bertuan dan belum dikuasai,kemudian diduduki dan
Contoh : Liberia yang diduduki budak-budak Negro dimerdekakan pada tahun 1847.
2. Fusi (peleburan )
Hali ini terjadi ketika negara-negara kecil yang mendiami suatu wilayah mengadakan perjanjian untuk
saling melebur menjadi Negara baru.
Contoh : Terbentuknya Federasi Kerajaan Jerman pada tahun 1871.
3. Cessie (penyerahan)
Hal I ni terjadi ketika suatu wilayah diserahkan kepada negara lain berdasarkan suatu perjanjian
tertentu.
Conyoh: Wilayah Sleeswijk diserahkan oleh Australia kepada Prusia (Jerman), karena ada perjanjian
bahwa Negara yang kalah perang harus memberikan Negara yang dikuasainya kepada negara yang
menang. Austria adalah salah satu Negara yang kalah pada PD l.
4. Accesie (Penaikan)
Hal ini terjadi ketika suatu wilayah terbentuk akibat penaikan Lumpur sungai atau timbul dari dasar
laut (delta). Kemudian wilayah tersebut dihuni oleh sekelompok orang sehingga terbentuknya Negara.
Contoh : wilayah negara Mesir yang terbentuk dari delta Sungai Nil.
5. Anexatie (Pencaplokan/Penguasaan)
Suatu Negara berdiri di suatu wilayah yang dikuasai (dicaplok) oleh bangsa lain tanpa reaksi berarti.
Contoh : Ketika pembentukan Negara Israel pada tahun 1948, wilayahnya banyak mencaplok daerah
Palestina, Surih, Yordania, dan Mesir.
6. Proclamation (Proklamasi)

63
Hal ini terjadi ketika penduduk pribumi dari suatu wilayah yang diduduki oleh bangsa lain
mengadakan perjuangan (perlawanan) sehingga berhasil merebut wilayahnya kembali, dan
menyatakan kemerdekaannya.
Contoh : Negara Republik Indonesia merdeka pada tahun 17 Agustus 1945 dari penjajahan Jepang
dan Belanda.
7. Innovation ( Pembentukan Baru)
Munculnya suatu negara di atas negara yang pecah kemudian lenyap. Contoh: Ng Columbia pecah
dan lenyap. Kemudian di wilayah negara itu muncul negara baru yaitu Venezuela dan Columbia Baru.
8. Separatise (pemisahan)
Suatu wilayah Negara yang memisahkan diri dari Negara yang semula menguasainya, kemudian
menyatakan kemerdekaannya.
Contoh: pada tahun 1939, Belgia memisahkan diri dari Belanda dan menyatakan kemerdekaannya.
HILANGNYA NEGARA
a. karena Faktor Alam
b. karena Faktor Sosial, antara lain:
– adanya penaklukan
– adanya revolusi
– adanya penggabungan
A. BENTUK NEGARA
a. Kesatuan
b. Serikat/Federal
B. BENTUK PEMERINTAHAN
a. Republik
b. Monarkhi/Kerajaan
C. SISTEM PEMERINTAHAN
a. Kabinet Presidensial
b. Kabinet Parlementer.
D. PAHAM PEMERINTAHAN atau PAHAM TUJUAN NEGARA
a. Paham Fasisme;
b. Paham Liberalisme/Individualisme/Kapitalisme;
c. Paham Sosialisme; dan
d. Paham Integralistik.

SISTEM PEMERINTAHAN PARLEMENTER DAN PRESIDENSIAL


A. Sistem Pemerintahan Parlementer
Ciri-ciri sistem pemerintahan parlementer, antara lain sebagai berikut.
a) Kekuasaan legislatif (DPR) lebih kuat daripada kekuasaan eksekutif (pemerintah = perdana
menteri).
b) Menteri-menteri (kabinet) harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya kepada DPR.
Artinya, kabinet harus mendapat kepercayaan (atau mosi) dari parlemen.
c) Program-program kebijaksanaan kabinet harus disesuaikan dengan tujuan politik sebagian besar
anggota parlemen. Bila kabinet melakukan penyimpangan terhadap program-program kebijaksanaan
yang dibuat, maka anggota parlemen dapat menjatuhkan kabinet dengan memberikan mosi tidak
percaya kepada pemerintah atau kabinet.
d) Kedudukan kepala negara (raja, ratu, pangeran atau kaisar) hanya sebagai lambang atau simbol
yang tidak dapat diganggu gugat.
B. Sistem Pemerintahan Presidensial
Sistem pemerintahan presidensial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Dikepalai oleh seorang presiden selaku pemegang kekuasaan eksekutif (kepala pemerintahan
sekaligus sebagai kepala negara).
b. Kekuasaan eksekutif presiden dijalankan berdasarkan kedaulatan rakyat yang dipilih dari dan oleh
rakyat, dengan atau tanpa melalui badan perwakilan.
c. Presiden mempunyai hak prerogatif untuk mengangkat dan mem¬berhentikan para pembantunya
(menteri), baik yang memimpin depar¬temen maupun nondepartemen.
d. Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada presiden dan bukan kepada DPR.

64
e. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Oleh sebab itu, antara presiden dan DPR tidak
dapat saling menjatuhkan atau membubarkan.
Warga menunjukkan contoh surat suara saat simulasi pemungutan dan pencoblosan surat suara
Pemilu 2019 di Taman Suropati, Jakarta, Rabu (10/4). Simulasi pemungutan surat suara dilakukan
untuk meminimalisir kesalahan dan kekurangan saat pencoblosan pemilu pada 17 April nanti
(Liputan6.com/Johan Tallo)
Liputan6.com, Jakarta - Angka warga yang yang memilih untuk tidak memilih, alias golongan putih
(Golput) diprediksi cukup tinggi di pilpres, April 2019 mendatang.
Dalam survei terbaru, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memprediksi potensi golput di pemilu tahun
ini bisa mencapai angka 30 persen.
Terkait prediksi tersebut, penggiat media sosial Hafyz Marshal mengatakan potensi golput memang
menjadi kekhawatiran dalam setiap kontestasi pemilu baik dalam Pilkada maupun pemilu nasional.
"Golput merupakan masalah sekaligus musuh utama dalam pemilu. Bukan cuma karena masyarakat
apatis, tapi sisa surat suara karena golput khawatir disalahgunakan,” ucap Hafyz dalam keterangan
tertulisnya, Senin, 15 April 2019.
Menurut Hafiz, jika angka golput cukup tinggi dalam kontestasi pemilu, maka legitimasi dari pemilu
itu sendiri menjadi kurang berkualitas dan selanjutnya dapat menjadi celah bagi pihak-pihak tertentu
untuk mempolitisasi hasil Pemilu.
"Golput bukanlah sebuah pilihan. Golput hadir dari rasa pesimistis dan apatisme sekelompok orang
terhadap calon pemimpin dan kondisi lingkungan. Gerakan Golput ini juga tidaklah membawa
perubahan yang baik bagi kondisi politik Indonesia,” ucap dia.
Menurut Hafiz, masyarakat harus berani menolak pada siapapun yang mengajak untuk tidak memilih.
"Sikap Golput seolah-olah melihat tidak ada lagi jalan keluar dan memandang cuma mereka saja yang
punya konsepsi ideal,” ucap dia.
Dalam kadar tertentu, golput merupakan sikap pengecut, tanda orang yang mengalah, dan merupakan
pertanda orang yang sudah putus harapan. "Jadi mulai sekarang Ayo Aktif," ucap dia.
2 dari 3 halaman
Jangan Takut Memilih
Aksi Kopral Bagyo Tolak Golput
Kopral Besar Bagyo serukan kepada warga untuk anti golput pada Pilpres 2019.(Liputan6.com/Fajar
Abrori)
Senada dengan ucapan Hafyz, Ketua Forum Pegiat Media Sosial Independen (FPMSI) Rusdil Fikri
mengingatkan agar publik tanah air turut serta, meramaikan dan memilih pemimpin yang memiliki
rekam jejak terbaik, dan sudah jelas kerjanya nyatanya.
"Kita masih butuh pemimpin yang track record baik, bersih, jujur dan tidak korupsi serta bekerja
dengan keras dan baik serta tulus. Lalu yang terpenting sudah jelas kerja nyatanya untuk Indonesia,"
tutur dia.
Rusdil Fikri Juga berharap Pemilu 2019 pada 17 April nanti dapat berjalan damai, berkualitas dan
bermartabat.
"Stop Ajakan Golput di Pilpres 2019, jangan takut memilih dan datang ke TPS untuk gunakan hak
suaramu dengan jernih dan cerdas," tutup Ketua FPMSI Rusdil Fikri dalam keterangan persnya
(15/4).

Golput Itu Apatis?

Menurut data DPT Pemilu 2019 dari KPU, ada sekitar 17,501,278 pemilih muda berusia < 20 tahun,
dan 42,843,792 pemilih berusia 21-30 tahun yang sudah memiliki hak suara di pemilu 2019 ini.
Berbagai kampanye agar masyarakat tidak golput pun terus digaungkan, mulai dari ormas-ormas, para
mahasiswa dan tentunya dari KPU sendiri selaku penyelenggara pemilu.
Namun, meski kekuatan suara anak muda, yang katanya suara generasi milenial di pemilu tahun ini
sangatlah banyak, fenomena golput tak dapat dihindari. Berbagai alasan untuk golput pun bertebaran
dimedia media sosial. Adakah yang salah dari fenomena tersebut?
Sebenarnya, tidak ada yang salah jika seseorang golput ataupun tidak golput (memilih). Toh golput
dan memilih juga merupakan suatu pilihan. Bedanya, seorang yang golput memilih untuk tidak
memilih, sedangkan yang tidak golput memilih untuk menggunakan hak suaranya. Namun, karena

65
perbedaan pandangan inilah tak jarang diantara kita ada yang beranggapan bahwa golput itu tidak
benar.
Golput itu tidak boleh dilakukan. Golput itu adalah pilihan yang salah. Dan golput itu apatislah, tidak
demokratislah, dan berbagai alasan lain. Alibi mereka, para pemilih, mengatakan bahwa kita harus
menggunakan hak suara kita. Karena apa? Karena dengan menggunakan hak pilih saat pemilihan baik
itu pemilihan Kepala Daerah, DPR, DPRD, DPD maupun Presiden dan Wakil Presiden, sama saja
kamu juga memperjuangkan kepentingan umum, dan menentukan keberlangsungan masa depan
Bangsa ini kedepannya.
Benarkah demikian? Ah tidak juga sebab, golput tidak semata-mata ekspresi apatis, antidemokrasi,
atau alienasi terhadap politik dan negara. Sebenarnya keberadaan golput ini dapat menjadi tolok ukur
bagi sistem elektoral politik di negeri ini. Semakin banyak yang golput, maka legitimasi politik para
calon akan semakin berkurang. Karenanya mereka akan mencari solusi atau perbaikan sistem menjadi
lebih baik lagi. Sehingga rakyat akan terpikat untuk memilih mereka (lagi).
Sebagai seorang perantau, juga sebagai seorang warga negara yang baik, sebetulnya saya ingin sekali
menyalurkan suara saya untuk memilih pemimpin "demi keberlangsungan masa depan bangsa".
Sebab satu suara saya, "turut andil dalam mengubah nasib bangsa ini kedepannya". Karena itu, demi
satu suara yang katanya sangat berharga ini, suara yang jauh (di luar negeri) dikejar-kejar. Sedangkan
suara yang dekat (rantauan lintas provinsi) dibiarkan begitu saja.
Memang, sudah ada mekanisme khusus bagi kasus rantau seperti kami ini agar dapat ikut merayakan
pesta demokrasi di TPS terdekat tempat domisili saat ini. Tetapi untuk mengurusnya cukup ribet. Dan
cukup menyita waktu. Apalagi demi satu suara (dalam kasus saya), kami harus menyoceh ratusan ribu
bahkan jutaan rupiah hanya untuk mencoblos. Ah bodoh amat. Mending golput. Golput bukan berarti
Memboikot Pemilu. Golput hanya tidak memilih saja.
Bukankah sejauh ini tidak ada dari para golputers yang mengkampanyekan permusuhan?,
menyebarkan berita hoax? Saling bertikai karena beda pilihan? Malah fakta membuktikan bahwa para
partisipan yang fanatik pada calon X atau calon Y cenderung mengkampanyekan permusuhan.
Menurutku, justru golput adalah upaya untuk menyembunyikan diri dari pertikaian dan tenggang rasa
antara kedua kubu. Entah ikut menyumbang untuk negara atau pun tidak, itu tidak bisa dinilai dari
golputnya seseorang. Toh kemarin yang tertangkap oleh KPK bukan hasil dari golput kan?
Yang jadi pertanyaan adalah kenapa gerakan "say no to golput" semakin gencar dilakukan? Seberapa
menakutkan golput itu untuk kita? Lalu, untuk apa sih golput itu dilakukan? Kamu pilih calon X atau
pun calon Y, yah itu urusanmu. Kita ini Indonesia. Bukankah semboyan negara kita Bhineka Tunggal
Ika? Lalu kenapa kalian memilih harus menolak golput sebagai perbedaan yang harus dilawan? Sekali
lagi, golput bukanlah tindakan apatis.
Perlu diketahui bahwa golput pada masa orde baru dan masa reformasi itu sangat berbeda jauh.
Golput pada masa orde baru merupakan sebuah bentuk perlawanan kepada penguasa saat itu.
Sedangkan golput pada era reformasi ini esensinya adalah sebagai sebuah kampanye tentang
ketidakpercayaan kepada calon pemimpin yang akan memimpin, kemudian menjadikan golput
sebagai refleksi dari sebuah kekecewaan terhadap sistem yang gagal dibawa oleh para pemimpin
akibat bobroknya kualitas pemimpin itu sendiri.

Golput memanglah sebuah pilihan. Dan setiap orang mempunyai aspek demokrasi untuk mengambil
pilihan itu. Oleh karena itu, sebagai warga negara yang baik, melibatkan diri dalam agenda negara
termasuk ikut berpartisipasi dalam pemilu harusnya menjadi sebuah kewajiban.
Sebagai penutup, saya mengambil kutipan bapak saya: "Kita boleh kecewa pada Jokowi, juga boleh
tidak percaya pada Prabowo. Tapi, kita harus akui bahwa baik Jokowi ataupun Prabowo adalah 2
putera terbaik bangsa. Jadi, tidak ada alasan untuk saling membenci karena beda pilihan". Karena baik
golput maupun non golput sama-sama dibutuhkam bangsa ini. Dengan mencoblos kita ikut
menjalankan sistem yang berlaku di negara ini, pun demikian tidak mencoblos berarti kita mengawal
dan menjaga sistem demokrasi kita. Keduanya saling melengkapi.

Sekretariat Jenderal
Sekretariat Jenderal (disingkat Setjen) atau Sekretaris Jenderal (disingkat Sekjen) adalah unsur
pembantu pemimpin atau pimpinan pada Kementerian atau Lembaga Negara yang mempunyai tugas
menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi

66
kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian atau Lembaga Negara. Sekretariat
Jenderal adalah Sekretariat pada Kementerian yang menangani urusan pemerintahan yang
nomenklatur kementeriannya dan ruang lingkupnya disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945`
Sekretariat Jenderal berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri atau Pimpinan Lembaga
Negara. Sekretariat Jenderal dipimpin oleh Sekretaris Jenderal. Sekretaris Jenderal adalah jabatan
struktural eselon I.a atau Jabatan Pimpinan Tinggi Madya.Dalam melaksanakan tugas, Sekretariat
Jenderal pada Kementerian menyelenggarakan fungsi[1]:
koordinasi kegiatan Kementerian;
koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran Kementerian;
pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian,
keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat, arsip, dan dokumentasi
Kementerian;
pembinaan dan penataan organisasi dan tata laksana;
koordinasi dan penyusunan peraturan perundangundangan serta pelaksanaan advokasi hukum;
penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara dan layanan pengadaan barang/jasa;
dan
pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Kedaulatan Indonesia Sebelum dan Sesudah Amendemen UUD 1945 Kompas.com - 06/02/2020,
18:30 WIB Bagikan: Komentar Ilustrasi Gedung MPR/DPR/DPD Lihat Foto Ilustrasi Gedung
MPR/DPR/DPD(KOMPAS.com/SABRINA ASRIL) Penulis Arum Sutrisni Putri | Editor Arum
Sutrisni Putri KOMPAS.com - Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum, maka dalam
menyelenggarakan pemerintahan melalui suatu sistem hukum. Sistem hukum Indonesia dimulai dari
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai hukum tertinggi. Kemudian
dijabarkan oleh peraturan perundang-undangan di bawahnya tanpa bertentangan dengan hukum
pokoknya. Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam UUD 1945
frasa kedaulatan rakyat dicantumkan pada Pembukaan alinea ke-4 yang berbunyi: "...maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang
terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa..." Tahukah kamu bahwa konsep kedaulatan rakyat di
Indonesia pernah mengalami perubahan? Baca juga: Apa itu Kedaulatan? Kedaulatan Rakyat sebelum
Perubahan UUD 1945 Kedaulatan rakyat dalam UUD 1945 sebelum amendemen (perubahan), diatur
pada pasal 1 ayat 2 yang menyatakan kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya
oleh Majelis Permusyawaraan Rakyat. Pengaturan kedaulatan rakyat pada ketentuan tersebut,
menempatkan kedaulatan berada di tangan rakyat namun pelaksanaan diserahkan sepenuhnya kepada
MPR. Dengan demikian, sesungguhnya kedaulatan tertinggi berada di tangan MPR sebagai
penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Dengan argumen demikian, menjadikan MPR sebagai lembaga
tertinggi negara. Konsekuensinya, adanya kewenangan MPR untuk mengangkat Presiden dan Wakil
Presiden serta menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dengan kewenangan tersebut,
MPR bahkan dapat meminta pertanggungjawaban Presiden. Secara doktrinal, sistem ketatanegaraan
Indonesia sebelum amendemen, khususnya terkait dengan kedaulatan, menganut sistem distribution of
power. Artinya terdapat distribusi kekuasaan lembaga-lembaga negara yakni dari lembaga tertinggi
negara kepada lembaga tinggi negara. Distribusi kewenangan tersebut yakni dari MPR selaku
lembaga tertinggi negara kepada lembaga-lembaga tinggi negara. Baca juga: Kedaulatan: Pengertian,
Jenis dan Sifat Kedaulatan Rakyat sesudah amendemen UUD 1945 Amendemen ketiga UUD 1945
merupakan hasil Sidang Tahunan MPR Tahun 2001 pada 1-9 November 2001. Setelah amendemen
UUD 1945 Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan
menurut Undang-undang Dasar. Rumusan tersebut apabila ditafsirkan mengandung makna bahwa
kekuasaan tertinggi dipegang atau berada pada kehendak rakyat. Namun penyelenggaraan kekuasaan
tersebut didasarkan pada UUD 1945. Sebab apabila kekuasaan rakyat dijalankan tanpa didasarkan
pada aturan tertentu akan mengakibatkan kondisi kacau dan mengancam persatuan dan kesatuan
Indonesia. Pelaksanaan kedaulatan menurut UUD tersebut ditindaklanjuti oleh peraturan perundang-
undangan di bawahnya. Peraturan perundang-undangan yang mengakomodir pengaturan terkait
dengan kedaulatan rakyat ialah undang-undang menyangkut Pemilihan Umum maupun Pemilihan
Umum Kepala Daerah beserta peraturan-peraturan senada lainnya.

67
Pengertian Demokrasi Pancasila, Prinsip, dan Penerapannya

Sebagai negara yang menggunakan sistem Demokrasi pancasila, sistem pemerintah di negara
Indonesia ini meletakkkan rakyat sebagai pemilik ataupun pemegang kedaulatan yang tertinggi di
dalam negara.
Daftar Isi hide
Pengertian Sistem Politik Demokrasi Pancasila
Ciri Khas Demokrasi Pancasila
Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila kedua : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Sila ketiga : Persatuan Indonesia
Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijakan dalam Permusyawaratan
perwakilan.
Sila kelima : Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila di Republik Indonesia
Pelaksanaan Demokrasi Pancasila di Negara Indonesia
1. Bentuk Negara
2. Kedaulatan Rakyat
3. Pemerintah Berdasarkan Konstitusi
4. Negara Berdasarkan Hukum
5. Sistem Perwakilan
6. Sistem Presidensil
Pengertian Sistem Politik Demokrasi Pancasila
Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang tidak langsung,yang artinya, meski kekuasaan
berada di tangan rakyat, namun rakyat memerintah secara tidak langsung yaitu dengan cara melewati
para wakilnya yang secara langsung dipilih oleh rakyat dengan adanya pemilu untuk menjabat di
badan-badan perwakilan rakyat.
Ciri Khas Demokrasi Pancasila
Demokrasi Pancasila mempunyai ciri khas yaitu terdapatnya keseimbangan dalam kebebasan serta
kebersamaan antar semua warganya. Hal ini termuat dalam butir sila-sila dalam pancasila yang
menjadi ajaran Demokrasi Pancasila sebagai berikut:
Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
Terdapatnya kebebasan pada setiap orang agar bisa memeluk agama yang menjadi hak bagi setiap
individu (hak asasi manusia) untuk memilih sesuai dengan keinginannya masing-masing. Hal ini
adalah hakikat dari adanya sistem Demokrasi.

Sistem Politik Demokrasi Pancasila

Sila kedua : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab


Terdapatnya perhargaan kepada harkat serta martabat manusia, sesuai dengan ajaran demokrasi.
Sila ketiga : Persatuan Indonesia
Terdapatnya penetapan mengenai perbedaan-perbedaan dalam masyarakat Indonesia agar sama-sama
bekerja sama, sehingga mampu menciptakan masyarakat yang aman serta tertib, sesuai dengan sistem
demokrasi ialah keamanan serta ketertiban.
Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijakan dalam Permusyawaratan
perwakilan.
Terdapatnya kekuasaan yang berada di tangan rakyat yang djalankan dengan cara sistem perwakilan
dengan proses permusyawaratan perwakilan. Dimana setiap dalam mengambil keputusan dengan cara
musyawarah untuk mufakat. Hal ini sebagai dasar prosedur dari Demokrasi Pancasila.
Sila kelima : Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Terdapat tujuan agar mampu mewujudkan keadilan serta kesejahteraan untuk semua rakyat indonesia.
Hal ini sesuai dengan sistem Demokrasi. Demokrasi Pancasila adalah cita-cita demokrasi Indonesia.
Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila di Republik Indonesia

68
Prinsip-prinsip demokrasi yang di dasarkan pada Pancasila alah sebagai berikut:
Demokrasi yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa
Dekorasi yang berlandaskan hak asasi manusia
Demokrasi yang berlandaskan kedulatan rakyat
Demokrasi yang berlandaskan kecerdasan rakyat
Demokrasi yang berlandaskan pemisahan kekuasaan negara
Demokrasi yang berlandaskan otonomi daerah
Demokrasi yang berlandaskan supremasi hukum (rule of law)
Demokrasi yang berlandaskan peradilan yang bebas
Demokrasi yang berlandaskan kesejahteraan rakyat
Demokrasi yang berlandaskan keadilan sosial
Pelaksanaan Demokrasi Pancasila di Negara Indonesia
Dalam Demokrasi Pancasila termuat prinsip-prinsip landasan dalam pelaksanaan sistem politik di
negara Indonesia yang berasal dari nilai-nilai yang termuat dalam Pancasila.
Baca juga : Pengertian Pancasila Sebagai Ideologi Indonesia, Peran & Fungsinya
Prinsip-prinsip asas pelaksanaan sistem politik Demokrasi pancasila yaitu sebagai berikut:
1. Bentuk Negara
Bentuk negara di Indonesia yang serasi ialah negara kesatuan serta bentuk pemerintahan republik.
2. Kedaulatan Rakyat
Kedaulatan yang berada ditangan rakyat, yang berarti rakyat mempunyai kekuasaan tertinggi dalam
memegang kekuasaan. Jadi, keinginan rakyat ialah landasan untuk pemerintahan demokrasi.
3. Pemerintah Berdasarkan Konstitusi
Dalam melaksanakan kedaulatannya, pemerintah berlandaskan pada UUD 1945, sehingga mempunyai
kedaulatan yang terbatas serta bertanggung jawab
4. Negara Berdasarkan Hukum
Indonesia merupakan negara yang berlandaskan pada hukum. Hukum yang terdapat di negara
Indonesia harus sama dengan pancasila. Semua aktivitas kegiatan yang berada dalam negara harus
dilandaskan pada hukum, sehingga tidak adanya kesewenang-wenangan ataupun penindasan.
5. Sistem Perwakilan
Rakyat tidak langsung memimpin negara namun melewati para wakilnya yang menduduki badan
perwakilan. Dalam aktivitas penyelenggaraan negara, pemerintah harus benar-benar mampu
menyuarakan amanat dari rakyat.
6. Sistem Presidensil

Presiden sebagai kepala negara serta kepala pemerintah. Sehingga, presiden merupakan
penyelenggara negara yang tertinggi.
Demikian artikel pada kesempatan kali ini yaitu tentang sistem politik demokrasi pancasila. Apabila
terdapat kekuarangan, kesalahan ataupun pertanyaan, silahkan beri komentar di bawah ini. Semoga
bermanfaat

Unsur-Unsur Pembentuk Negara (Konstitutif dan Deklaratif)

Sebuah negara terbentuk dari beberapa unsur yaitu pemerintah yang berdaulat, wilayah, masyarakat
serta pengakuan terhadap negara lain. Jika salah satu unsur tidak terpenuhi, maka negara tersebut
tidak bisa disebut sebagai negara.
Daftar Isi hide
Unsur-unsur Terbentuknya Negara
Unsur Konstitutif di Suatu Negara
1. Wilayah tertentu
2. Penduduk yang menetap
3. Pemerintah yang berdaulat
Unsur-Unsur Deklaratif Negara
Unsur-unsur Terbentuknya Negara
Dalam ringkasan Konvensi Montevideo (1993) mengatakan bahwa “Negara selaku sebuah pribadi
hukum internasional yang harusnya mempunyai pembagian-pembagian yaitu sebagai berikut:

69
(a) penduduk yang menetap; (b) memiliki wilayah tertentu; (c) sebuah pemerintahan; serta (d)
keahlian untuk bersoaialisasi dengan negara-negara lainnya.
Pendapat Mac Iver dalam bukunya yang berjudul “Encyclopedia of Goverment and Politics” yang
ditulis oleh Mary H serta Maourice K. (1992), sebuah negara harus memiliki 3 (tiga) unsur pokok,
ialah: pemerintahan, rakyat atau komunitas, serta mendiami wilayah tertentu.
Ketiga unsur di atas menurut Mahfud MD, sesuai yang tertulis dalam buku yang berjudul
“Menegakkan Keadilan dan Kemanusiaan” yang ditulis oleh Mansour Fakih, termasuk dalam unsur
konstitutif.
Ketiga unsur tersebut perlu dibarengi oleh unsur yang lainnya, misalkan pengakuan dari dunia
Internasional serta terdapatnya konstitutif yang mana menurut Mahfud sering dikenal dengan unsur
deklaratif.
Unsur Konstitutif di Suatu Negara
Unsur konsititif ialah unsur pembentuk yang menjadi unsur mutlak, unsur yang wajib ada sebagai
terbentuknya negara. Sebuah negara akan mengalami kesusahan untuk melaksanakan
penyelenggaraan kehidupannya, apabila masih mempunyai kesulitan dalam salah satu dari unsur
konstitutifnya.
Seperti, negara Palestina masih memiliki masalah yang berhubungan dengan wilayah negara.
Wilayahnya sedang mengalami sengketa dengan negara Israel, walaupun Palestina sudah mempunyai
rakyat serta pemerintahan.
Bangsa Eskimo yang yang hidup di Kutub Utara tidak mampu disebut sebagai negara, karena tidak
mempunyai pemerintahan. Unsur konstitutif negara ialah unsur yang menjadi penentu ada atau
tidaknya sebuah negara. Dengan tidak terdapatnya salah satu unsur berakibat tidak terdapatnya sebuah
negara.
Unsur konstitutif negara meliputi terdapatnya wilayah yang mecakup darat, udara, serta perairan
(secara khusus perairan tidak wajib), rakyat ataupun masyarakat, serta pemerintahan yang sudah
berdaulat.
1. Wilayah tertentu
Wilayah dalam suatu negara ialah unsur yang wajib ada, sebab tidak mungkin sebuah negara tidak
memiliki batas-batas teritorial yang jelas. Secara prinsipil, wilayah dalam suatu negara biasanya
meliputi daratan (wilayah darat), uadara (wilayah uara) serta perairan (wilayah perairan atau lautan).
Daratan (wilayah darat) dalam sebuah negara dibatasi pada wilayah darat atau laut (perairan) dari
negara lain. Perbatasan wilayah suatu negara biasanya ditetapkan berlandaskan pada perjanjian.

Perjanjian internasional yang telah disepakati oleh dua negara disebut dengan istilah perjanjian
bilateral (bi = dua); perjanjian yang telah disepakati oleh banyak negara biasanya disebuta dengan
istilah perjanjian multilateral (multi = banyak).
Perbatasan antara dua negara bisa meliputi: perbatasan alam,misalnya sungai, danau, lembah ataupun
pengunungan; perbatasan buatan, misalnya pagar kawar, tiang tembok, serta pagar tembok;
perbatasan ilmu yaitu dengan memanfaatkan garis lintang serta garis bujr yang terdapat di peta bumi.
Perairan atau wilayah laut sebagai komponen atau terlibat wilayah satu negara disebut dengan
perairan teritorial dari negara yang terlibat. Laut teritorial merupakan wilayah lautan yang memiliki
batas 12 mil yang berasal dari titik di ujung paling luar pulau-pulau di negara Indonesia ketika pasang
surut ke sisi laut. Lautan yang terdapat di luar perairan teritorial biasanya dikenaldengan lautan bebas
atau Mare Liberum.
Dikenaldengan lautan bebas, disebabkan oleh wilayah perairan ini tidak termuat dalam wilayah
kekuasaan sebuah negara, yang menyebabkan bebas untuk dimanfaatkan oleh siapapun.
Udara yang terdapat diwilayah daratan serta perairan teritorial sebuah negara adalah komponen di
wilayah udara suatau negara. Berhubungan dengan batas ketinggian suatu wilayah negara tidak
mempunyai batasan yang secara pasti, yang terpening adalah negara tersebut mempu
mempertahankannya.
2. Penduduk yang menetap
Penduduk ialah segolongan orang yang menempati suatu daerah tertentu, dengan jangka waktu
tertentu sesuai yang telah ditetapkan di dalam undang-undang. Setiap negara mamiliki penduduk,
serta kekuasaan negara yang meliputi seluruh penduduk yang terdapat di wilayahnya.

70
Setiap negara memiliki penduduk, serta kekuasaan negara yang meliputi seluruh penduduk yang
terdapat di wilayahnya. Penduduk yang terdapat di sebuah negara memiliki beberapa ciri yang
menjadi kekhasan mereka yang dapat membedakan antara penduduk atapun bangsa lainnya. Seperti,
masalah kebudayaannya, nilai politik, ataupun identitas nasionalnya.
Menurut Austin Renney, penduduk sebuah negara dikategorikan menjadi dua, yaitu antara lain: (1)
warga negara, serta (2) orang asing atau warga negara asing.
Warga negara ialah orang-orang yang mempunyai kedudukan secara resmi menjadi anggota penuh di
dalam sebuah negara. Mereka menyerahkan kesetiannya terhadap negara tersebut, memperoleh
perlindungan dari negara tersebut dan memperoleh hak dalam mengikuti kegiatan politik negara.
Sedangkan, orang asing ialah orang-orang yang akan bertempat tinggal disebuah negara tertentu baik
itu sementara ataupun menetap, namun bukan memiliki kedudukan sebagai warga negara. Mereka
ialah warga negara dari negara lain yang memiliki izin dari pemerintah untuk menempati suatu
wilayah di dalam negara yang bersangkutan.
Perbedaan lainnya adalah seorang warga negara memiliki ikatan yang tidak akan terputus terhadap
negaranya selama ia tidak berganti kewarganegaraan atau memutuskannya walaupun ia telah tinggal
lama di negara lain. Sedangkan, orang asing sekedar memiliki ikatan dengan negara yang tempati dan
akan terputus ketika ia kembali ke negara asalnya.
3. Pemerintah yang berdaulat
Pemerintah merupakan sarana kelengkapan negara yang memiliki tugas untuk memimpin badan
negara agar tercapai tujuan dari sebuah negara. Oleh sebab itu, pemerintah kadang-kadang menjadi
personifikasi suatu negara. Pemerintah melakukan penegakan terhadap hukum serta membenahi
kekacauan, melakukan perdamaian serta meluruskan kepentingan-kepentingan yang melenceng.
Pemerintah yang melakukan penetapan, menyatakan serta menjalankan keinginan-keinginan setiap
masyarakat yang termasuk dalam badan politik tersebut yang dimaksud adalah negaar. Pemerintah
merupakan lembaga yang melakukan pengaturan terhadap masalah sehari-hari, serta melaksanakan
kepentingan-kepentingan bersama.
Pemerintah menjalankan tujuan-tujuan negara serta melaksanakan fungsi-fungsi demi kesejahteraan
bersama. Pemerintah sebuah negara memiliki kekuasaan ke luar serta ke dalam. Kekuasaan ke luar,
maksudnya ialah pemerintah memiliki kuasa secara bebas, tidak terikat serta tidak tunduk terhadap
kedaulatan lainnya, mamiliki jabatan yang sama dengan negara lainnya, sehingga memiliki kebebasan
tanpa ada campur tangan dari negara lain. Berkuasa ke dalam, maksunya adalah pemerintah
mempunyai kekuasaan tertinggi untuk mengatur badan negara sesuai terhadap peraturan perundang-
undangan.
Unsur-Unsur Deklaratif Negara
Unsur deklaratif ialah unsur yang bentuknya pernyataan serta hanya sebagai pelengkap dari unsur
konstitutif. Walaupun unsur deklaratif tidak termasuk unsur pembentuk (konstitutif), dalam tata
peraturan internasional unsur deklaratif ini sangat diperlukan.
Sebuah negara yang baru merdeka perlu mamiliki unsur deklaratif, yang terpenting adalah adnya
pengakuan dari negara lainnya. Unsur-unsur deklaratif mencakup terdapatnya tujuan negara,
konstitusi, adanya pengakuan terhadap negara lain yaitu secara de jure ataupun secara de facto, serta
negara tersebut masuk dalam perhimpunan dalam bangsa, seperti PBB.
Pengakuan (recognition) pada sebuah negara ialah aktivitas yang bersifat bebas dari satu ataupun
lebih negara agar memberi pengakuan terhadap eksistensi sebuah negara tertentu yang ditempat
tinggali oleh masyarakat manusia yang mana secara politis sudah terorganisisr, tidak memiliki kaitan
terhadap negara yang sudah terlebih dahulu ada dan bisa melakukan kewajiban-kewajiban sesuai
hukum internasional.
Dengan perbuatan ini, negara yang sudah memberi pengakuan terhadap negara lain tersebut mampu
mengakui keberadaan negara tersebut sebagai negara yang termasuk dalam masyarakat internasional.
Pengakuan sebuah negara terhadap negara lain bukan termasuk unsur yang menjadi penentu terhadap
sebuah negara, tetapi termasuk dalam unsur yang begitu penting dalam melakukan hubungan
antarnegara. Tidak terdapat sebuah negara yang mampu menjalani aktivitasnya tanpa bantuan dari
negara lain.
Dengan adanya alat komunikasi yang semakin berkembang mampu memudahkan dalam melakukan
hubungan dengan negara-negara lainnya.

71
Arti dari pengakuan terhadap negara lain ialah agar menjalin sebuah negara baru mampu menempati
tempat yang sama sebagai sebuah badan politik yang merdeka serta berdaulat di dalam keluarga
bangsa internasional. Dengan itu, negara mampu melakukan hubungan terhadap negara lainnya secara
aman serta sempurna.
Negara tidak akan merasa khawatir jika jabatannya sebagai kesatuan politik akan merasa terganggu
dengan negara yang sudah ada.
Pengakuan sebuah negara terhadap keberadaan negara lain dilandaskan oleh banyak pertimbangan.
Pertimbangan yang utama ialah negara tersebut sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah negara.
Persyaratan tersebut ditentukan oleh hukum internasional, terkhusus pada Konvensi Montevideo
1933. Ciri-ciri pokok sebuah negara sebagai pelaku hukum internasional ialah mempunyai hal-hal
berikut ini:
Penduduk yang menetap.
Wilayah tertentu
Sebuah pemerintahan
Keahlian dalam menjalin hubungan terhadap negara-negraa lainnya.
Macam-macam pengakuan terhadap negara lain, ialah antara lain:
Pengakuan secara de jure, ialah pengakuan berlandaskan hukum. Menurut negara yang telah
memberi pengauan, negara yang telah diakui itu secara formal sudah melengkapi persyaratan yang
teah ditetapkan pada hukum internasional agar mampu berpartisipasi secara aktif dalam melakukan
hubungan internasional.
Pengakuan secara de facto, ialah pengakuan mengenai kenyataan tentang terdapatnya sebuah
negara. Sebuah negara dapat diakui sebagai negara sebab telah melengkapi unsur-unsur sebagai
negara.
Pengakuan de facto tidak sekuat seperti pengakuan de jure. Secara umum, sebelum memperoleh
pengakuan secara de jure, negara tersebut memperoleh pengakuan de facto terlebih dahulu dari negara
lain. Perbedaan dari pengakuan de jure dengan pengakuan de facto, ialah sebagai berikut:
Wakil-wakil negara yang mendapat pengakuan secara de facto tidak memiliki hak terhadap
kekebalan serta hak istimewa secara diplomatik
Pengakuan secara de facto tidak mampu ditarik ulang.
Negara yang telah mendapat pengakuan secara de jure mampu melakukan klaim terhadap semua
barang ataupun benda yang terdapat di dalam wilayah negara yang mengakuinya.

Demikian artikel yang saya tulis dalam kesempatan kali ini yaitu tentang unsur terbentunya negara
yang meliputi unsur konstitutif dan deklaratif. Apabila terdapat kesalahan, tambahan ataupun
pertanyaan, silahkan beri komentar dibawah ini. Semoga bermanfaat.

Pengertian Infrastruktur Politik Dan Suprastruktur

Kata infrastruktur mungkin tidak sedikit banyak dikenali masyarakat karena bukan kata serapan
sehari-hari. Namun bagi generasi yang hidup pada zaman Presiden Suharto pasti mengenali istilah ini
karena pada masa pemerintahan beliau infrastruktur dalam negeri terus digencarkan dengan sistem
pemerintahannya yang inward looking. Secara sederhana, infrastruktur dapat diartikan sebagai
pembangunan.
Sementara suprastruktur mungkin terdengar lebih awam lagi dengan makna sederhana yang cukup
rumit yaitu lebih mengarah pada unsur filosofis dari kata infrastruktur. Namun, pada penjelasan kali
ini tidak akan diulas mengenai infrastruktur dan suprastuktur dalam kaitannya dengan pembangunan
secara fisik namun lebih pada dunia politik dan birokrasi di dalam nya.
Pengertian Infrastuktur Politik
Secara singkat, infrastruktur memang diartikan sebagai pembangunan, namun dalam dunia politik
makna ini diartikan sebagai suatu lembaga pada masyarakat tertentu di suatu negara yang terdiri atas
lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi masyarakat (Ormas), partai politik, media massa,
interest group¸tokoh politik dan lain-lain yang bergerak secara independen.
Adapun beberapa fungsi infrastruktur politik sebagai berikut:
1. Pendidikan politik

72
Adanya wadah untuk terjun dalam dunia politik adalah dengan melalui infrastruktur ini seperti
keterlibatan dalam partai politik, media masa, organisasi masyarakat atau lembaga swadaya
masyarakat atau sekedar mengikuti berbagai pemilu mulai dari daerah hingga nasional diman dengan
hanya bertindak sebagai partisipan pendidikan politik secara tidak langsung sudah tertanam.
2. Media penyalur kepentingan
Hadirnya interest group atau kelompok kepentingan dalam birokrasi pemerintahan bukan lagi sebuah
aib namun memang seperti ada paket khusus bahwasannya setiap pengambilan keputusan pemerintah
pastilah merupakan penyaluran dari beberapa kelompok kepentingan sebagai ajang timbal balik dalam
suatu misi demi kelancaran proses pemilu.
3. Seleksi kepemimpinan
Infrastruktur dalam politik ini juga dimanfaatkan sebagai ajang penyeleksian kepemimpinan tingkat
desa hingg nasional yang dapat dilihat dari partai politik atau kelompok kepentingan yang
menyokongnya.
4. Komunitas politik
Fungsi dari adanya komunitas politik ini dapat dijadikan wadah sosialisasi masyarakat agar dapat
bertukar pemikiran mengenai situasi politik yang ada. Dari sekedar komunitas nanti nya akan
menuntun pada institusi yang sah sehingga dapat juga mengarah pada pembentukan organisasi
masyarakat.
Pengertian Suprastruktur
Jika infrastruktur merupakan lembaga yang bergerak secara independen, suprastruktur mengarah pada
level di atas nya yaitu bersifat terikat dengan kenegaraan. Suprastruktur untuk lebih singkatnya
merupakan lembaga politik yang menaungi kinerja trias politica oleh Mosterquieu yaitu legislative,
eksekutif and yudikatif.
1. Legislative
Legislatif merupakan lembaga yang menerima pendapat dan aspirasi masyarakat dimana di Indonesia
lembaga ini disebut sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sementara di Malaysia atau Amerika
Serikat dapat disebut senat yang memiliki fungsi untuk merancang undang-undang atau peraturan.
2. Eksekutif

Eksekutif merupakan lembaga di atas legislative yang memiliki wewenang dalam memutuskan dan
melaksanakan kebijakan atau undang-undang dengan susunan mulai dari kementerian hingga presiden
termasuk pengaturan untuk hampir seluruh jajaran birokrasi dengan sistem terpusat.
3. Yudikatif
Lembagai ini mungkin memiliki wewenang lebih tinggi dibanding legislative dan eksekutif karena
terikat dengan hukum yang sah dalam konstitusi. Yudikatif terdiri atas Mahkamah Agung dengan
hakim yang bertugas untuk mengawasi seluruh jajaran birokrasi dan mengadillinya sesuai dengan
hukum yang berlaku.
Infrastruktur dan suprastruktur dalam politik berkaitan erat dengan birokrasi dan aktor-aktor yang
bermain baik itu secara dependen mau pun independen yang salah satu fungsi nya memang dapat
memberi gambaran pada masyarakat mengenai papan permainan catur yang terjadi di negera mereka.

Sistem presidensial
Sistem pemerintahan yang dipakai bangsa Indonesia adalah sistem presidensial. Sistem presidensial
adalah sistem negara yang dipimpin oleh presiden. Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala
pemerintahan. Presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemelihan
umum (pemilu). Sistem pemerintahan merupakan suatu sistem sebagai alat untuk mengatur jalannya
pemerintahan sesuai pada kondisi negara dengan tujuan menjaga kestabilan negara. Sistem tersebut
terdiri dari berbagai macam komponen dan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Masing-masing komponen menjalin kerja sama yang kuat, memiliki keterikatan satu sama lain yang
memiliki satu tujuan dan satu fungsi dari pemerintahan. Baca juga: Sistem Pemerintahan Militer
Jepang di Indonesia Dilansir situs resmi portal informasi Indonesia, dalam menjalankan
pemerintahannya presiden dibantu oleh menteri-menteri. Presiden berhak mengangkat dan
memberhentikan para menteri. Para menteri atau disebut sebagai kabinet bertanggung jawab terhadap
presiden. Presiden dalam menjalankan pemerintahanya diawasi oleh parlemen. Parleman di Indonesia
ada dua, yakni Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Anggota

73
DPR dan DPD dipilih secara langsung oleh rakyat melalui sistem pemilu. Anggota DPD berasal dari
partai politik, sementara anggota DPD berasal dari calon perseorangan dengan syarat-syarat dukungan
tertentu yang mewakili wilayah administrasi tingkat 1 atau provinsi. Anggota DPR dan DPD
merupakan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). MPR merupakan lembaga tinggi negara
yan berwenang untuk mengubah dan menetapkan undang-undang dasar (UUD). MPR adalah lembaga
tinggi negara yang melantik presiden dan wakil presiden. MPR juga dapat memberhentikan presiden
dan atau wakil presiden dalam jabatannnya menurut UUD. Bentuk pemerintahan Indonesia
merupakan republik. Bentuk pemerintahan tersebut merupakan pemerintahan yang mandat
kekuasaannya berasal dari rakyat, melalui mekanisme pemilu dan biasanya dipimpin oleh presiden.
Baca juga: Sistem Pemerintahan Iran Ciri-ciri sistem pemerintahan presidensial, yakni: Presiden
sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden dipilih langsung oleh rakyat lewat
proses pemilu bukan parlemen. Presiden mengangkat menteri dalam kabinet dalam menjalankan tugas
pemerintahannya. Presiden juga bisa memberhentikan menteri. Para menteri bertanggung jawab
kepada presiden. Dalam sejarah, Indonesia pernah memakai berbagai sistem pemerintahan. Pada awal
pemerintahan setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 memakai sistem pemerintahan
presidensial. Pemakaian sistem tersebut mulai diperlakukan pada 1945-1949. Setelah itu terjadi
perubahan sistem pemerintahan. Berikut perkembangan sistem pemerintahan Indonesia sejak
kemerdekaan hingga sekarang: Sistem pemerintahan presidensial (19 Agustus 1945-27 Desember
1949) Sistem pemerintahan parlementer semu (27 Desember 1949-15 Agustus 1950) Sistem
pemerintahan parlementer (15 Agustus 1950-5 Juli 1959) Sistem pemerintahan presidensial zaman
Orde Lama (5 Juli 1959-22 Februari (1966) Sistem pemerintahan presidensial zaman Orde Baru (22
Februari 1966-21 Mei 1998) Sistem pemerintahan presidensial (21 mei 1998-sekarang). Baca juga:
Sistem Demokrasi di Indonesia Indonesia adalah negara berbentuk negara kesatuan dengan prinsip
otonomi daerah yang luas. Negara kesatuan adalah negara bentuk negara berdaulat yang
diselenggarakan sebagai satu kesatuan tunggal. Negara kesatuan menempatkan pemerintah pusat
sebagai otoritas tertinggi sedangkan wilayah-wilayah administratif di bawahnya hanya menjalankan
kekuasaan yang dipilih oleh pemerintah pusat untuk didelegasikan. Wilayah administratif di dalam
negara Indonesia saat ini terbagi menjadi 34 provinsi.

Bentuk Negara - NKRI - Negara Kesatuan Republik Indonesia

Di dunia terdapat banyak bentuk negara yang berbeda-beda antara lain negara kesatuan, negara
serikat, perserikatan negara (Konfederasi) , UNI, dibagi menjadi 2 yaitu Uni Riil dan Uni Personil,
dominion, koloni, protektorat, mandat, trust.
Pada awal kemerdekaan Indonesia, muncul perdebatan mengenai bentuk negara yang akan digunakan
Indonesia apakah negara kesatuan ataukah negara federal. Namun akhirnya disepakati bahwa
Indonesia merupakan negara kesatuan kemudian ditetapkan dalam UUD 1945 oleh PPKI pada 18
Agustus 1945.
Presiden Soekarno, dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 megatakan bahwa nasionalisme Indonesia atau
negara kesatuan merupakan sebuah takdir.
Bangsa Indonesia harus mengatasi badai besar ketika Belanda kembali datang untuk melakukan agresi
militer tahun 1948-1949 hingga akhirnya berkat perjuangan bangsa Indonesia melalui perjanjian-
perjanjian dengan Belanda, bentuk negara Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat.
Tujuan Belanda membentuk negara serikat adalah untuk melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia pada waktu itu. Banyak timbul pergolakan parlemen di Indonesia yang menjadi awal
pemicu diubahnya bentuk negara dari serikat menjadi kesatuan. Melalui Mosi Natsir yang didukung
oleh banyak fraksi di parlemen ini akhirnya mengantarkan Indonesia menjadi negara kesatuan sejak
17 Agustus 1950.
Meskipun telah kembali menjadi negara kesatuan sesuai dengan konstitusi yang berlaku UUDS1950
pasal1 ayat (1) banyak sekali timbul upaya pemberontakan di berbagai daerah hingga tahun 1958.
Kondisi ini membuat penyelenggaraan negara tidak optimal sehingga Presiden harus mengambil
tindakan dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya konstitusi Negara Kesatuan
Republik Indonesia kembali menggunakan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945.

74
Hal ini mampu meyakinkan kembali bahwa negara kesatuan merupakan yang terbaik dan
menghilangkan keraguan akan pecahnya negara Indonesia.
Dalam Pasal 1 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan naskah asli
mengandung prinsip bahwa ”Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.”
dan Pasal 37 ayat(5) "Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat
dilakukan perubahan".
Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin kokoh setelah dilaksanakan amandemen dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diawali dari adanya
kesepakatan MPR yang salah satunya yaitu tidak mengganti bunyi Pembukaan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sedikitpun & terus mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia menjadi bentuk final negara Indonesia. Kesepakatan untuk tetap mempertahankan
bentuk negara kesatuan dilandasi pertimbangan bahwa negara kesatuan merupakan bentuk yang
ditetapkan dari mulai berdirinya negara Indonesia & dianggap paling pas untuk mengakomodasi ide
persatuan sebuah bangsa yang plural/majemuk dilihat dari berbagai latar belakang (dasar pemikiran).
UUD RI tahun 1945 secara nyata memiliki spirit agar Indonesia terus bersatu, baik yang terdapat
dalam Pembukaan ataupun dalam pasal-pasal Undang-Undang Dasar yang langsung menyebutkan
tentang Negara Kesatuan RI dalam 5 Pasal, yaitu: Pasal 1 ayat (1), Pasal 18 ayat (1), Pasal 18B ayat
(2), Pasal 25A dan pasal 37 ayat (5) UUD RI tahun 1945.
Prinsip kesatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dipertegas dalam alinea keempat
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam upaya membentuk
suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia.
Dengan menyadari seutuhnya bahwa dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 adalah dasar berdirinya bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan, Pembukaan
tersebut tetap dipertahankan & dijadikan pedoman.
TUJUAN NKRI
Tujuan Utama dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 alinea ke-4" Kemudian daripada itu untuk
membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial …"
Indonesia adalah sebuah negara kesatuan namun terdapat pembagian kewenangan antara pemerintah
pusat dan daerah. Hal ini adalah untuk mendorong otonomi daerah dan mendorong pembangunan
daerah menjadi lebih pesat. Hubungan antara pemerintah pusat dan daerah dapat dijalankan secara
langsung. Undang-undang yang mengatur tegas adalah UU no 32/2004. Pemerintah pusat memiliki
wewenang sepenuhnya dalam hal pertahanan, keamanan, moneter, politik LN, pendidikan, dan
agama.
Pemerintah dapat menjalankan pemerintahan secara sentralisasi atau bisa juga desentralisasi. Jika
pemerintahan dijalankan secara terpusat(sentralisasi) semua wewenang termasuk pembuatan aturan
diambil alih oleh pemerintah pusat.
Berikut adalah Kelebihan dan Kekurangan NKRI
Kelebihan Sistem Sentralisasi
- Keseragaman peraturan di semua wilayah
- Kesederhanaan Hukum
- Pendapatan daerah dapat di alokasikan ke semua daerah dengan adil dan sesuai kebutuhan.
Kelemahan Sistem Sentralisasi
- Penumpukan pekerjaan di pusat, sehingga menghambat kinerja pemerintahan
- Tidak sinkron antara peraturan yang dibuat di pusat dan kondisi lapangan di daerah
- Pemerintah daerah menjadi pasif dan kurang inisiatif
- Peran masyarakat daerah sangat kurang mendapat kesempatan
- Keterlambatan respon dari pemerintah pusat karena kondisi geografis Indonesia yang luas dan berat.
Sedangkan jika negara menggunakan sistem desentralisasi, daerah memiliki kewenangan(otonomi)
mengatur rumah tangga daerah untuk membuat kebijakan dan membuat peraturan ( selain 6
kewenangan pemerintah pusat di atas) namun tetap harus selaras dengan pemerintah pusat .

75
Kelebihan Sistem Desentralisasi
- Daerah lebih berkembang, pembangunan lebih cepat
- Peraturan dan kebijakan lebih tepat dan sesuai kebutuhan daerah
- Kinerja pemerintahan lebih lancar
- Partisipasi rakyat lebih tinggi
Kekurangan Sistem Desentralisasi
- Ketidakseragaman peraturan pusat dan daerah

Sistem Pemerintahan Indonesia Malaysia

Dalam sisitem pemerintahan setiap negara pasti ada yang berbeda-beda,sama halnya dengan sistem
pemerintahan indonesia yang memiliki sistem pemerintahan presidensial yaitu dimana negara di
pimpin oleh presiden. Sistem Pemerintahan Indonesia menurut konstitusi RIS adalah sistem
Pemerintah Parlementer yang tidak murni. Pasal 118 konstitusi RIS antara lain :
a.Presiden tidak dapat di ganggu gugat
b.Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintahKetentuan pasal tersebut
menunjukkan bahwa RIS mempergunakan sistem pertanggung jawaban menteri
Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya negara indonesia ini adalah negara dengan mayoritas
muslim terbanyak di dunia. Jumlah penduk muslim di indonesia sudah mencapai

Mengapa negara indonesia yang mayoritas muslim terbesar di dunia tidak dapat disebut negara islam?
Dalam membicarakan hal ini negara indonesia adalah negara yang memiliki idologi pancasila dimana
negara yang memiliki lima dasar sebagai acuan berjalnnya sistem pemerintahan dan peraturan-
peraturan terhadap masyarakatnya.Dalam penentuan pemimpin negara indonesia mealakukan
pemilihan umum yang langsung di pilih oleh rakyat sebagai pemimpin mereka yang mereka percayai
Negara kesatuan republik indonesia sebagai negara kesatuan perlu adanya bawahan dari presiden
yaitu dewan perwakilan rakyat dan dewan perwakilan daerah yang menampung aspirasi rakyat demi
kesejahteraan rakyatnya. Baru-baru ini juga telah ada beberapa rakyat indonesia yang ingin
menjadikan negara ini sebgai negara khilafah dengan dalih sebagai negara dengan mayoritas muslim
terbanyak di duinia, akan tetapi apabila sistem khilafah di indonsia ini belum di butuhkan seperti
kutipan perkataan Dr. Hamid Fahmi zarksyi mengatakan dalam ceramah beliau di masjid jami'
universitas darussalam gontor "bahwasannya selama kita masih bisa menjalakan ibadah dan tidak
diganggu oleh pemerintah serta tidak dilarang maka kita masih bebas untuk bribadah di negara ini".
Dari perkataan tersebut bahwa saya menyimpulkan negara indonesia yang menjalankan
pemerintahannya seperti sekarang masih relevan untuk sampai sekarang ini.
Dalam pemerintahan indonesia terdapat tiga lembaga yaitu legislatif, yudikatif dan eksekutif dimana
DPR sebagai anggota legislatif yang memiliki wewenang mengubah dan menetapkan peraturan
perundang-undangan. Sedangkan lembaga yudikatif seperti mahkamah konstitusi dan komisi yudisial
adalah yang mengawas dan memberi hukuuman bagi siapa saja yang melanggar peraturan perundang-
undangan. Adapun lembaga eksekutif negara yaitu presiden yang memiliki wewnang tertinggi dalam
meustuskan sebuah poerkara yang di setujui oleh lembaga legislatif.
pemerintahan Malaysia adalah sebuah negara monarki konstitusional federal yang terletak di Asia
Tenggara. Negara ini terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah federal. Ibukotanya berada
di Kuala Lumpur dengan pemerintahan federal berada di Putrajaya. Pemerintah federal mengadopsi
prinspip pemisahan kekuasaan berdasarkan Pasal 127 Konstitusi Federal dan memiliki tiga cabang
yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Perlu diketahui, pemerintah federal atau pusat adalah otoritas
tertinggi di Malaysia dengan perdana menteri Malaysia sebagai kepala pemerintahan yang berbasis di
Putrajaya.
Sistem hukum Malaysia didasarkan pada sistem hukum common law, sebagai akibat langsung dari
penjajahan Malaya, Sarawak, dan Kalimantan bagian Utara oleh Inggris antara awal abad ke-19
sampai 1960-an. Undang-undang federal yang diberlakukan oleh Parlemen Malaysia berlaku di
seluruh negeri. Ada juga undang-undang negara bagian yang disahkan oleh sidang legislatif negara
bagian yang berlaku di bagian negara tertentu. Konstitusi Malaysia juga menyediakan sistem
peradilan ganda yang unik yakni hukum sekuler (hukum pidana dan perdata) dan hukum syariah.

76
Pasal 73 sampai 79 Konstitusi Federal menentukan pemerintah federal dan negara bagian dapat
membuat undang-undang. Parlemen memiliki kewenangan eksklusif untuk membuat undang-undang
mengenai hal-hal yang termasuk dalam Daftar Federal seperti kewarganegaraan, pertahanan,
keamanan dalam negeri, hukum perdata dan pidana.
Pemilu di Malaysia ada dua tingkat yaitu tingkat nasional dan tingkat negara bagian. Pemilu tingkat
nasional memilih keanggotaan Dewan Rakyat. Sedangkan pemilihan tingkat negara bagian adalah
untuk keanggotaan Legislatif Negara Bagian. Perdana Menteri, dipilih secara tidak langsung.
Salah satu penyebab pengurangan wewenang dan kekuasaan dari tangan raja ini ialah pihak Inggris
memberikan syarat untuk ia melepaskan negara Malaysia dari kuasa taklukannya, bahwa setelah
merdeka, Malaysia harus menggunakan undang-undang berbariskan undang-undang Inggris dan
menerima Perlembagaan Persekutuan sebagai konstitusi negara. Karena Malaysia terpaksa
menggunakan Perlembagaan Persekutuan sebagai konstitusi, dan karena konstitusi ini mengatur
bahwa kuasa membuat undang-undang terletak pada tangan badan bernama parlemen, maka Inggris
telah berhasil membatasi wewenang raja-raja dalam membuat undang-undang.
Undang-undang yang telah dibuat dan disetujui oleh Yang di-Pertuan Agung, akan disahkan oleh
pengadilan.

Dari sudut pandang dalam konsep pemerintahan, Parlemen Malaysia juga selaras dan sejalan dengan
konsep Ketatanegaraan Islam. Ia juga memiliki persamaan yang menunjukkan bahwa di Malaysia
juga ada mengamalkan sistem pemerintahan berlandaskan syariat Islam, diantaranya :
1.Musyawarah
Pemerintahan di Malaysia berasaskan sistem musyawarah. Dasar dan polisi negara diputuskan dalam
musyawarah berbagai tingkat, sama ada di tingkat Kabinet maupun di tingkat Parlemen. Disini konsep
Musyawarah dapat berjalan dengan baik karena para anggota Dewan Rakyat dan Dewan Negara akan
bermusyawarah dengan teliti sebelum mengambil sesuatu keputusan.
2.Demokrasi
Setiap individu rakyat akan memilih para wakil mereka melalui proses pemilu untuk menyuarakan
inspirasi da nisi hati mereka kepada pemerintah di dalam parlemen Malaysia. Wakil-wakil rakyat ini
bertanggung jawab dalam menjaga hak dan kepentingan rakyat, dengan membincangkan hal-hal yang
menjadi kepentingan rakyat umum didalam dewan.

77