Anda di halaman 1dari 13

Page |1

Bagaimana Cara dan Ceritanya hingga Pak Teguh Menjadi Full Time Stock Investor?
Teguh Hidayat, Bandung, 26 Januari 2018

Sooo.. Semuanya berawal pada bulan Oktober 2017 lalu, dimana ketika itu kondisi pasar
saham sedang ‘tidak jelas’ sehingga penulis memutuskan untuk wait n see saja, alias gak
melakukan aktivitas trading sama sekali, dan juga tidak lagi intens mengamati pasar seperti
biasanya (dan actually kita sebagai investor memang gak perlu ‘serajin’ itu mengamati pasar,
karena kalau misalnya terjadi peristiwa penting, misalnya IHSG break new high, maka anda
akan mengetahuinya dengan sendirinya). Ketika itu posisi porto kita kalo gak salah 60%
saham, 40% cash. Jadi anggapannya adalah, kalau misalnya pasar koreksi atau kenapa-napa,
maka kita masih peluru untuk belanja lagi. However, mengingat kondisi pasarnya ketika itu,
maka kemungkinan kita gak akan langsung belanja dalam waktu dekat melainkan, sekali lagi,
sebaiknya wait n see dulu.

Karena itulah, pada bulan Oktober tersebut penulis jadi lebih santai seperti biasanya. Dan
mungkin karena membaca buletin bulanan yang saya kirim, para temen-temen member
buletin bulanan juga jadi santai gak banyak nanya-nanya lagi, sehingga penulis yang biasanya
harus balas sekitar 50 email per hari, ketika itu cuma harus balas 10 email saja per harinya.
Nah, sebagai investor, kita memang terbiasa kerja santai, tapi kalau terlalu santai gitu kadang
jadinya malah bosen. Jadi penulis sengaja pergi berlibur ke Jepang selama dua minggu, but
still, saya tetap merasa bosan. Karena, you know, pada akhirnya seseorang pada usia
produktifnya (penulis saat ini 31 tahun) memang harus bekerja dan menghasilkan sesuatu
yang produktif dan berkontribusi bagi orang lain, dan bukannya malah leha-leha gak jelas. Ini
bukan soal menghasilkan uang, ini soal memberikan manfaat bagi orang banyak.

Alhasil penulis kemudian menawarkan kepada para member buletin bulanan, sok lah kalo
mau tanya apa-apa silahkan, nanti saya jawab, termasuk pertanyaan yang OOT (out of topic)
sekalipun. Misalnya, bagaimana dulu ceritanya Pak Teguh bisa jadi investor saham full time??

Tapi ternyataaaa.. hampir semua pertanyaan yang masuk ya soal itu: Soal menjadi investor
full time. Jadi ya sudah, here’s your answer! Tapi pertama-tama kita coba sepakati dulu, apa
sih yang dimaksud dengan investor full time??

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |2

Definisi Investor Full Time

Investor full time, selanjutnya kita singkat IFT, adalah mereka yang benar-benar hanya
menjadi investor saja, tanpa menjalani pekerjaan lainnya lagi diluar bidang pasar saham.
Seorang IFT mungkin hanya mengelola dana miliknya sendiri, tapi bisa juga mengelola dana
milik orang lain, dimana ia kemudian menerima komisi dari profit yang dihasilkan. Atau ada
juga yang seperti penulis, yang tidak sampai mengelola dana milik orang lain tapi hanya
sebatas memberikan analisa saham, menulis buku, hingga edukasi/seminar. Beberapa IFT
yang penulis kenal juga memiliki sekuritas/perusahaan broker, dimana selain memperoleh
keuntungan dari kenaikan harga saham (atau disebut capital gain) dan dividen, dia juga
memperoleh komisi dari trading yang dilakukan nasabahnya. Pada level IFT kelas kakap,
maka mereka juga biasanya membeli saham sebuah perusahaan dalam jumlah besar,
sehingga mereka menjadi pemegang saham mayoritas yang ikut aktif mengelola perusahaan.
Contohnya Hary Tanoe, Garibaldi Thohir (Direktur ADRO), Nirwan Bakrie, dst. Penulis sendiri
mungkin suatu hari nanti akan sampai pada level kakap tersebut, tapi hingga ketika tulisan
ini dibuat, saya masih nyaman sebagai stock advisor saja.

Tapi intinya, sekali lagi, seorang IFT tidak memiliki pekerjaan lain diluar bidang pasar saham.
Kalau penulis suka kasih seminar tapi tentang resep masak ala Gordon Ramsay, misalnya,
maka artinya penulis bukanlah IFT. Kalau anda sudah main saham sejak lamaaa tapi sampe
sekarang anda masih jadi karyawan atau punya usaha/toko, maka anda juga bukan IFT.

Dan menjadi seorang IFT memang banyak sekali keuntungannya. Salah satunya, anda akan
punya banyak sekali waktu luang. Yup, karena jangankan kalau anda cuma investor ritel
biasa seperti penulis, jika anda adalah Direktur Utama dari Astra International sekalipun,
yang notabene harus mengelola investasi senilai ratusan trilyun yang tersebar di banyak
sekali anak usaha baik yang dipegang secara mayoritas maupun minoritas, maka penulis
pernah mendengar cerita bahwa Pak Prijono Sugiarto gak pernah lembur atau meeting
dengan jajaran direksi Astra hingga larut malam, melainkan kerja normal saja: Masuk kantor
pagi, sore sudah pulang. Padahal posisi beliau itu Direktur Utama lho! Yang notabene masih
harus kerja karena dia masih punya atasan yakni para pemegang saham, tapi tetap saja
kerjanya santai. Jadi bisakah anda bayangkan bagaimana cara kerja dari Grup Jardine, yang
merupakan owner dari Astra itu sendiri? Contoh lainnya ya penulis sendiri, yang sejak tahun

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |3

2012 lalu lebih banyak kerja dari rumah saja (saya memang punya kantor di Sudirman,
Jakarta, tapi saya cuma kesitu kalo ada ketemu orang penting saja). Dan anda bisa lihat foto-
foto penulis di Instagram kalau saya sering melakukan kegiatan yang aneh-aneh untuk
mengisi waktu, terutama travelling (sayangnya penulis gak begitu suka foto-foto, padahal
saya sering sekali bepergian).

Nah, jadi kalo orang bilang time is money, atau dengan kata lain anda harus menghabiskan
waktu yang anda miliki untuk bekerja dan memperoleh sejumlah uang, maka seorang IFT
bilangnya beda lagi: I have my money work for me. So instead of working, I can use my time
for everything else. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kita punya yang disebut dengan
‘money’ tadi? Kemudian, bagaimana caranya agar money tersebut ‘work for me’??

Dua Syarat Utama: Pengalaman, dan Modal

Seperti halnya lowongan pekerjaan lainnya, untuk bisa menempati ‘posisi’ sebagai investor
full time maka anda harus memenuhi beberapa syarat. Kabar baiknya, hanya ada dua syarat
untuk pekerjaan ini. Meski disisi lain perlu penulis sampaikan bahwa itu bukanlah syarat
yang mudah.

Syarat No. 1, pengalaman yang cukup sebagai investor itu sendiri. Syarat No. 2,
uang/modal yang cukup. Kedua syarat ini sama pentingnya, tapi biasanya orang hanya
fokus pada syarat No. 2, yakni soal modal. Penulis sering sekali menerima pertanyaan, Pak
Teguh, berapa modal minimum yang diperlukan untuk bisa trading/invest for living? Dan
penulis jawab, mau anda pegang dana hingga Rp1 trilyun sekalipun, tapi masih gak tau apa
itu ROE? Apa itu PBV? Apa itu right issue, stock split? Maka, anda belum siap untuk
menjadi investor.

Nah, jadi sekarang kita coba bahas lebih rinci dulu untuk Syarat No. 1: Berapa lama, atau
seperti apa pengalaman yang dimaksud disini?

Banyak orang salah kaprah soal ‘pengalaman’. Misalnya, terdapat anggapan bahwa investor
yang sudah beli saham sejak katakanlah tahun 2002 adalah lebih berpengalaman dibanding
investor lainnya yang baru beli saham tahun 2010. Padahal itu kurang tepat. Kata kuncinya

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |4

disini adalah, tak peduli meski anda sudah ‘invest saham’ selama 20 tahun sekalipun, tapi jika
sampai hari ini anda masih saja trading tik tok gak jelas di saham-saham gorengan tanpa
dasar analisa, tanpa investment planning, selalu kebingungan setiap saat, maka: Anda tidak
ada bedanya dengan pemula! Yup, jadi yang dimaksud ‘investor berpengalaman’ bukanlah
mereka yang sudah lama di market, melainkan mereka yang:

1. Sudah mampu membuat analisis saham serta investment/trading plan untuk dirinya
sendiri berdasarkan sumber-sumber primer (laporan keuangan dll, jadi bukan lagi
liat data sekuritas, RTI, atau semacamnya), termasuk secara rutin melakukan
evaluasi portofolio.
2. Memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas, mulai dari sektor perbankan hingga
industri kimia, makroekonomi, hingga sejarah pasar saham itu sendiri.
3. Mau sahamnya naik atau turun, mau IHSG naik, sideways, atau turun, mereka selalu
tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan ketika harus cut loss, mereka bisa
melakukannya dengan tegas/tanpa rasa bimbang.
4. Melakukan jual beli saham berdasarkan analisa serta pertimbangan yang logis (jadi
bukan karena ‘gatel pengen trading’, ‘takut ketinggalan kereta’, atau semacamnya).
5. Mampu membedakan rumor dan berita sungguhan.
6. Mampu bersabar, dimana alih-alih nungguin sahamnya naik, ia tetap menjalani
hidup/bekerja seperti biasa, dan tidak tergoda membeli ‘saham yang lagi terbang’.
7. Mentalnya sudah sangat stabil, ditandai dengan tidak lagi melihat harga sahamnya
setiap saat, gak stress ketika harus cut loss, dan sebaliknya gak euforia atau malah
pamer ketika profit (biasa saja lah!), dan
8. Sudah pernah mengalami/melewati periode market crash, minimal satu kali.

Diluar delapan poin diatas, sebenarnya masih ada banyak lagi kriteria ‘investor
berpengalaman’, yang membedakan mereka dengan investor pemula/orang lain pada
umumnya. Tapi dari delapan kriteria diatas saja, maka anda sebagai investor bisa jadi belum
memenuhi semuanya bukan? (atau malah gak memenuhi satupun diantaranya??). Jika
demikian, well, artinya anda masih belum memiliki bekal pengalaman yang cukup, alias
masih pemula.

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |5

Kabar baiknya adalah, investor berpengalaman dimanapun, termasuk Warren Buffett


sekalipun, mereka tentu saja tidak tiba-tiba langsung menjadi investor berpengalaman,
melainkan harus menjalani tahun-tahun awal sebagai pemula. Termasuk penulis, saya juga
pernah mengalami masa-masa dimana saya, 1. Tidak tahu cara membaca laporan keuangan
(atau bahkan tidak tahu dimana memperolehnya), 2. Tidak ngerti apa-apa soal perbankan dll,
3. Mau saham saya naik, turun, atau bahkan gak gerak-gerak sekalipun, saya tetep aja
bingung, 4. Beli saham cuma karena gatel kalo nggak trading, 5. Langsung panik kalo ada
rumor jelek, 6. Kalau saya beli saham tapi tiga hari kemudian dia tetep aja gak naik-naik,
maka langsung stress, 7. Gak bisa tidur kalau ada saham yang nyangkut, dan 8. Belum pernah
mengalami, dan selalu takut/kepikiran tentang gimana kalau nanti terjadi krisis/market
crash.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, satu per satu problem-problem diatas teratasi
dengan sendirinya. Contoh, saya lupa kapan persisnya tapi harinya adalah Jumat pagi, saya
beli PNLF senilai Rp5 juta di harga 150, karena melihat bahwa valuasinya masih murah
(ketika itu saya sedikit-sedikit sudah ngerti value investing). Tapi masih di hari yang sama,
PNLF itu malah drop ke 140-an, dan saya menderita kerugian yang belum direalisasi sebesar
beberapa ratus ribu Rupiah (which is very very big! Mengingat ketika itu penulis kalo mau
beli nasi pake ayam seharga Rp7,000 aja masih mikir-mikir). Alhasil ketika penulis pergi
Shalat Jumat, maka shalatnya sama sekali gak konsentrasi/kepikiran terus sama itu PNLF.
Termasuk di malam harinya saya gak bisa tidur, dan penulis kemudian menjalani akhir pekan
dengan sangat tidak bersemangat, gara-gara nyangkut di PNLF ini.

Tapi beberapa waktu kemudian, penulis mulai terbiasa/bisa tidur nyenyak lagi bahkan meski
nyangkut dalam jumlah yang lebih besar (karena untuk PNLF tersebut, belakangan dia
beneran naik sampai 200-an, meski sayangnya penulis langsung menjualnya di 150-an, sekali
lagi, karena sudah terlanjur stress duluan). Hingga pada tahun 2013, penulis sempat dua
minggu full mengurung diri dirumah setelah kita rugi 50% dari BKSL. Dan major loss terakhir
yang bikin saya stress, adalah ketika saya menjual SIMP di harga 700 (modalnya di 900) di
tahun 2014, dimana meski persentase ruginya gak separah BKSL, tapi nilai kerugiannya kali
ini sudah menembus angka ratusan juta Rupiah.

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |6

But the show must go on! Dan pada hari ini, meski penulis masih sering nyangkut atau cut
loss dengan nilai kerugian yang lebih besar lagi (semakin besar dana yang anda pegang,
semakin besar juga ruginya kalo anda salah pilih saham), maka penulis tetap bersikap
santai saja.

Tapi yang perlu diperhatikan disini adalah, proses dari bagaimana saya gak bisa tidur hanya
karena rugi/nyangkut beberapa ratus ribu Rupiah, hingga bersikap santai ketika kita
nyangkut pada nilai yang jauuuuuh lebih besar dari itu, maka itu memerlukan proses
selama beberapa tahun, dalam hal ini lebih dari lima tahun, dimana selama itu penulis
berkali-kali jatuh dan bangkit, lalu jatuh lagi, dan bangkit lagi! Jadi kalau orang lain mungkin
langsung give up dan memutuskan untuk menutup rekeningnya sama sekali ketika rugi besar
(misalnya di tahun 2015 lalu, ketika IHSG drop 12.1%), maka penulis terus saja maju
kedepan hingga saya menjadi terbiasa dan pada akhirnya mampu berpikir jernih, soal apa
yang harus dilakukan setiap kali saham saya turun.

Dan demikian pula dengan kemampuan menganalisa, wawasan yang luas soal
makroekonomi, dst, dimana kesemuanya memerlukan waktu untuk bisa anda kuasai
sepenuhnya. Beberapa investor mungkin butuh waktu 2 – 3 tahun untuk berangkat dari fase
dimana ia masih bingung dengan ‘Apa itu saham?’, hingga mencapai fase dimana ia paham
apa dan bagaimana mekanisme serta pengaruh dari RUPS, pembayaran dividen, right issue,
stocksplit, private placement, warrant, dst. Sementara beberapa investor lainnya mungkin
butuh waktu 5 – 7 tahun, atau lebih lama lagi. Tapi yang pasti, anda tidak mungkin bisa
menguasai segala pengetahuan tentang investasi saham hanya dalam semalam.
Termasuk, anda tidak bisa mencapai ke-delapan ‘poin pengalaman’ diatas, hanya dalam
beberapa hari setelah anda membuka rekening di sekuritas. Itu semua, sekali lagi,
memerlukan waktu dan juga kerja keras.

Sayangnya, penulis sendiri sudah sering ketemu investor yang, meski sudah bertahun-tahun
di stock market, tapi tetap saja tidak memenuhi delapan kriteria diatas. Lalu apa yang
membuat penulis, yang sebenernya juga masih relatif baru di market (saya angkatan tahun
2009, jadi belum genap 10 tahun) bisa menyandang status sebagai ‘investor berpengalaman’?
Soal ini akan kita bahas nanti.

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |7

Berapa Modal Minimum yang Diperlukan?

Terkait menjadi investor full time, penulis juga sering menerima pertanyaan berikut, Pak
Teguh dulu modalnya berapa? Dan sekarang sudah jadi berapa? Pertanyaan ini muncul, sekali
lagi, karena kebanyakan pemula berpikir bahwa satu-satunya problem mereka untuk
menjadi IFT adalah di kurangnya modal, dan bukan di kurangnya pengalaman. Tapi justru
kalau ada yang bertanya seperti itu, maka penulis bisa simpulkan bahwa yang bertanya
memang belum berpengalaman, sama sekali.

Tapi baiklah, biar penulis share disini: Ketika saya pertama kali belajar saham di tahun 2009,
satu-satunya pemasukan saya adalah gaji sebagai karyawan sebesar Rp3 juta per bulan.
Karena pada tahun tersebut anda harus menyetor minimal Rp5 juta kalau buka rekening di
sekuritas, maka saya harus menabung selama 5 bulan hingga akhirnya terkumpul Rp5 juta
(jadi nabungnya Rp1 juta per bulan, dan itu adalah masa-masa yang sangat sulit karena untuk
kamar kost saja sudah Rp500,000 per bulan), dan barulah setelah itu saya buka rekening.
Penulis ketika itu sebenernya bisa saja pinjem duit ke papa mertua atau lainnya, tapi saya
sejak awal gak mau bergantung apalagi berhutang kepada orang lain, siapapun itu (dan
sampai sekarang saya gak mau menerima bantuan/tambahan modal dari siapapun. Dari
jaman modalnya cuma Rp5 juta, kita ya invest saham pake duit 5 juta itu saja).

Setelah itu penulis rutin menyetor Rp1 juta per bulan ke sekuritas, dan tetap menjalani gaya
hidup hemat (masak sendiri di kosan, kemana-mana jalan kaki buat menghemat bensin dan
parkir, dst). Setahun kemudian, di penghujung 2010, penulis baru punya tambahan
penghasilan dari blog www.teguhhidayat.com, dimana seluruhnya saya setor lagi ke
sekuritas. Gaji penulis sendiri ketika itu sudah naik jadi Rp4.5 juta, jadi setoran perbulannya
ke sekuritas mulai naik banyak. Dengan cara inilah, meski kinerja investasi penulis ketika itu
masih naik turun karena kurangnya pengalaman, tapi nilai porto kita tetap naik terus dari
bulan ke bulan. Pada satu titik, penulis pernah menyetor sampai Rp20 juta ke sekuritas.
Jumlah yang besar sekali ketika itu.

Hingga di tahun 2011, setelah mental penulis mulai stabil, mampu menyusun investment
planning dst, kita mulai profit besar dari saham. Dan kebetulan sekali, pada tahun tersebut
ada banyak saham-saham yang kita pegang yang berterbangan, mulai dari MNCN (dari 300 ke

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |8

900), CPIN (400 ke 1,500), KKGI (1,700 ke 8,000), GTBO (103 ke 900), dan seterusnya. Pada
tahun inilah kita cuan besar-besaran, dimana dana Rp5 juta yang penulis setor ke sekuritas di
akhir tahun 2009, tiba-tiba saja menjadi Rp700 jutaan pada akhir tahun 2011 (tidak
semuanya berasal dari profit, karena dari hasil menulis di blog dan gaji sebagai karyawan,
penulis secara bertahap menyetor total sekitar Rp250 juta selama dua tahun tersebut).

Penulis kemudian memutuskan untuk mencairkan sebagian porto untuk beli rumah di
Jakarta Selatan secara tunai, dan setelah itu tiba-tiba saja segalanya jadi lebih mudah,
dimana stockpick kita selanjutnya hampir semuanya profit signifikan. Pada tahun 2012, putri
pertama saya lahir, dan saya untuk pertama kalinya mengisi seminar saham. Pada tahun ini
pula saya resign dari kantor untuk selanjutnya fokus invest, dan menulis di blog
TeguhHidayat.com.

Pertanyaannya sekarang, kok bisa Pak Teguh berani resign di tahun 2012, bahkan justru
ketika anda baru saja memiliki anak pertama yang tentunya butuh biaya susu dll?? Ada
beberapa pertimbangan. Pertama, ketika itu penulis sudah punya aset (rumah tadi), dimana
kalau saya ternyata gagal total di stock market dan nilai porto menjadi nol, maka saya masih
bisa cari kerja lagi, tapi selama proses mencari pekerjaan saya tidak akan kelaparan karena
masih bisa jual rumah, dimana uangnya seharusnya bakal cukup untuk bertahan hidup di
kontrakan barang 2 – 3 tahun (dengan asumsi terburuk bahwa penulis akan nganggur
selama itu). Kedua, usia saya ketika itu masih 26 tahun, jadi jiwa muda saya sedang
semangat-semangatnya untuk berkembang, dan saya sejak awal menyadari bahwa kalau
mau sukses di stock market ya harus full time, agar pikiran kita bisa fokus. Ketiga, saya
masih punya source income dari teguhhidayat.com, jadi gak perlu narik dana dari sekuritas
kalau sekedar untuk biaya sehari-hari. Actually, mengharapkan income dari analisa, seminar
dll, itu juga merupakan pertaruhan berisiko, karena kalau misalnya analisa/rekomendasi
saham yang kita buat gak berkualitas/sering salah, maka dikasih gratis juga orang gak
akan mau. Dan nyatanya memang ada banyak sekali blog-blog yang mencoba untuk menjadi
seperti teguhhidayat.com, tapi kemudian gagal/jualan analisanya gak laku, dan menghilang.
Tapi penulis ketika itu cukup percaya diri bahwa analisa/rekomendasi saham yang saya buat
akan cukup akurat karena memang berdasarkan analisa fundamental yang logis, serta
menggunakan metode investasi yang terbukti ‘works’, yakni value investing (sementara
blog-blog saham lainnya hanya pake teknikal, atau lebih buruk lagi cuma modal copy-paste).

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


Page |9

Dan memang sampai hari ini, blog ‘Indonesia Value Investing’ tidak pernah sepi pengunjung,
dan konsisten sebagai website saham tipe blog No. 1 (berdasarkan peringkat Alexa) di
Indonesia, padahal kita cuma posting artikel seminggu sekali.

Jadi, yap, sejak awal penulis memang tidak perlu khawatir kehilangan gaji sebagai karyawan,
karena saya masih punya income. Malah, diluar untuk beli rumah di Jakarta dan membangun
satu lagi rumah yang lebih besar di Bandung, tahun 2017 kemarin, penulis sampai sekarang
belum pernah menarik dana sepeserpun dari sekuritas, dimana setiap keuntungan yang
dihasilkan dipakai untuk beli saham lagi. Dengan cara inilah pertumbuhan aset kita jadi
‘digulung’ terus setiap tahunnya karena efek bunga berbunga (compunding interest, coba
googling untuk penjelasan lebih lanjut), plus karena penulis juga masih rutin nyetor lagi
(hasil dari seminar dll).

Dan alhasil, jika dulu penulis harus nabung selama 5 bulan hanya untuk mengumpulkan Rp5
juta, maka untuk saat ini bisa penulis katakan bahwa kami memegang aset yang cukup besar,
jauh diatas rata-rata dana milik investor ritel di Indonesia, meski juga masih belum sebesar
dana milik Pak Lo Kheng Hong, misalnya (malah kecil banget lah, kalo perbandingannya Pak
LKH). Tapi dengan mempertimbangkan jam terbang penulis yang belum genap 10 tahun,
maka pencapaian tersebut saya nilai sudah cukup baik, terutama karena kita benar-benar
mulai dari nol. Mungkin kalimat ‘mulai dari nol’ ini perlu digaris bawahi, karena penulis
sendiri sering juga ketemu investor milyader yang lumayan sukses, tapi jarang diantara
mereka yang punya humble background seperti penulis, yang ketika datang mengadu nasib ke
Jakarta hanya berstatus sebagai fresh graduate biasa, pernah bekerja sebagai karyawan biasa
dengan gaji ala kadarnya, pernah gak punya uang sama sekali, dan pernah harus masak nasi
dan lauknya sendiri di kamar kost.

Dan karena disisi lain penulis tetap mempertahankan gaya hidup sederhana, dimana kami
sekeluarga terbiasa hidup hemat, maka jadilah pengeluaran rutin kami tidak meningkat
terlalu besar, dan bahkan tidak lagi menjadi beban. Untuk ilustrasi, let say terjadi market
crash dan aset penulis di saham turun hingga 50%, dan saya juga kehilangan income sama
sekali karena seminar dll gak laku lagi. Maka dari sisa aset yang 50% tersebut kami hanya
perlu mencairkan sebagian kecil diantaranya, dan itu sudah cukup untuk menjalani gaya

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


P a g e | 10

hidup yang normal (untuk makan, sekolah anak, jalan-jalan, dst) selama lima tahun kedepan.
Dan setelah lima tahun tersebut, ketika ekonomi akhirnya kembali pulih, dan IHSG kembali
naik, kami masih punya sisa aset untuk mulai invest lagi dari awal. So, yeah, there is nothing
to worry about! Terutama karena kita juga gak punya utang atau cicilan apapun (rumah dan
mobil semuanya dibeli secara tunai).

Kalau gain/loss portofolio anda sudah seperti diatas, maka apakah anda masih akan bertanya
soal ‘trading for living’? (Hanya ilustrasi, bukan milik penulis).

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalo saya gak bisa nulis atau mengisi seminar seperti
yang dilakukan Pak Teguh? Ya kalo gitu anda bisa tetap menjalani pekerjaan anda seperti
biasa, dan terus menyetor secara rutin ke sekuritas hingga satu titik dimana aset anda cukup
besar, dan profit yang anda hasilkan dalam satu tahun sudah jauh lebih besar dibanding
gaji/penghasilan anda selama setahun tersebut. Warren Buffett sendiri, sebelum membuka
Buffett Partnership pada usia 26 tahun, ia bekerja sebagai analis di Graham Partnership,
menjadi broker saham di Buffett-Falk Co., hingga menjadi pengajar ‘Investment Principles’ di
kampus Columbia Business School. Singkat kata, meski Buffett sudah mengenal saham
bahkan sejak usia 11 tahun, tapi dia baru berani untuk full time sebagai investor/fund
manager pada usia 26 tahun, alias lamaaa kemudian. Sebelum itu ya dia bekerja seperti biasa!

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


P a g e | 11

Dan penulis sendiri menganggap bahwa posisi kita sekarang ini adalah seperti Buffett ketika
menjalankan Buffett Partnership-nya, dimana jika pertumbuhan aset pribadi Buffett bisa ter-
leverage/tumbuh lebih cepat berkat profit sharing yang ia peroleh dari klien-kliennya, maka
aset penulis juga tumbuh lebih cepat karena kita ada income dari blog yang langsung kita
setor lagi ke sekuritas. Bedanya, karena penulis mengambil jalan yang lebih aman dengan
tidak secara langsung mengelola dana milik klien, melainkan hanya memberikan
analisis/advice saham (karena sebenernya anda tidak boleh melakukan kegiatan
pengumpulan dana kecuali memperoleh izin OJK), maka ‘profit sharing’ yang kita peroleh
juga sebatas biaya langganan analisis tersebut (jadi mau anda profit sampai milyaran
sekalipun, saya gak akan minta bagian sepeserpun, that’s your money), dan alhasil
pertumbuhan aset kita tidak secepat Buffett. But still, itu tetap lebih baik dibanding
mengharapkan pertumbuhan aset hanya dari profit investasi itu sendiri.

Tapi seperti halnya Buffett pada akhirnya menutup partnership-nya, untuk kemudian fokus
di Berkshire Hathaway, maka jika suatu hari nanti aset kami terus tumbuh hingga sampai
pada satu titik dimana, let say, Avere bisa menggelar IPO, maka pada saat itulah
teguhhidayat.com tidak akan lagi menampilkan tulisan soal saham, termasuk tidak akan ada
lagi seminar dll (atau tetap ada, tapi pembicaranya bukan lagi penulis), melainkan hanya
akan menyajikan tulisan tentang pandangan penulis tentang banyak hal, dan actually itulah
rencana penulis. Tapi jangan khawatir karena itu masih lama.

Kesimpulan

Okay, jadi balik lagi ke inti pertanyaan diatas: Berapa modal minimum yang dibutuhkan
untuk full di saham? Well, anda mengharapkan jawaban yang terus terang bukan? So here we
go: Harus lebih besar dari beberapa milyar Rupiah. Kalau masih kurang dari itu, ya nggak
bisa. Kalau anda berpikir bahwa dengan modal Rp10 juta bisa dapet cuan Rp10 juta juga per
bulannya untuk kebutuhan sehari-hari, maka coba pikirkan lagi.

Kabar baiknya, anda tidak perlu langsung mulai dengan dana sebesar itu, dan memang
sebaiknya jangan langsung mulai dengan dana sebesar itu (bahkan meski anda sejak awal
sudah punya dana segitu), melainkan bisa dengan cara menabung sedikit demi sedikit,

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


P a g e | 12

katakanlah dengan rutin menyetor Rp1 – 2 juta per bulan ke sekuritas, dimana di waktu yang
bersamaaan anda juga bisa menabung pengalaman. Di buku ‘Value Investing: Beat the
Market in Five Minutes!’, penulis sudah menyampaikan iustrasi dimana kalau anda menyetor
Rp10 juta per tahun (per tahun ya, jadi per bulannya cuma Rp830 ribu), dan bisa profit
rata-rata 20 – 25% per tahun (itu adalah target profit yang realistis, jadi kita gak perlu
muluk-muluk profit ratusan persen disini), maka aset anda akan tumbuh menjadi Rp2.2 – 4.3
milyar, setelah 20 tahun. Nah, karena penulis percaya bahwa anda bisa menyetor jauh lebih
besar dari sekedar Rp830,000 per bulan ke sekuritas, maka anda tidak akan butuh waktu
selama itu, untuk meraih total aset yang juga lebih besar dari sekedar Rp2 – 3 milyar
(penulis katakan ‘sekedar’, karena kalau anda nanti sudah megang duit segitu, anda akan
menyadari bahwa itu ternyata masih kecil dan tidak seberapa).

Jadi setelah beberapa tahun sejak anda pertama kali buka rekening, setelah mental lebih
stabil dan sekaligus modal anda sudah besar, dan terutama sudah mampu meraih profit
konsisten, maka barulah anda bisa mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaaan, untuk
selanjutnya full time di saham.

Yang perlu dicatat disini adalah, seperti yang disebut diatas, kemampuan setiap orang untuk
fokus dan konsisten pada kegiatan investasinya, itu berbeda-beda. Anda mungkin bisa
mencapai status ‘investor berpengalaman’ dalam waktu kurang dari 5 tahun, dan ketika
itupun modal anda sudah meningkat jadi besar, tapi investor lainnya mungkin butuh waktu
sampai 10 tahun, atau lebih lama lagi. Faktanya, penulis buku ‘The Intelligent Investor’, Ben
Graham, beliau punya banyak murid termasuk Warren Buffett, namun hanya Buffett yang
kemudian nongol di Majalah Forbes sebagai orang terkaya di dunia (murid-murid yang
lainnya juga tetep sukses kok, cuma gak sesukses Buffett).

Jadi apa yang, berdasarkan latar belakang keluarga, pendidikan, cara berpikir, kebiasaan
dalam kehidupan sehari-hari, yang membedakan Buffett dengan para investor lainnya? Atau
dalam hal ini, diluar faktor pengalaman dan modal, apa lagi yang membedakan Pak Teguh
dengan para pelaku pasar lainnya??

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com


P a g e | 13

Well, soal ini, dan juga soal banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya, nanti penulis akan
bahas lebih lengkap di buku yang sedang penulis kerjakan, berjudul ‘Investing for (More
Than) Living’. Just stay tune!

How To Be a Full Time Investor, TeguhHidayat.com