Anda di halaman 1dari 15

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : AFRILEO GALINDO PUTRA

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 042216498

Tanggal Lahir : 30 Juli 2001

Kode/Nama Mata Kuliah : Kriminologi / HKUM4205

Kode/Nama Program Studi : ILMU HUKUM/311

Kode/Nama UPBJJ : 76/ JEMBER

Hari/Tanggal UAS THE : 16 Desember 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS TERBUKA
Surat Pernyataan
Mahasiswa
Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama Mahasiswa : AFRILEO GALINDO PUTRA

NIM : 042216498

Kode/Nama Mata Kuliah : Kriminologi / HKUM4205

Fakultas : HUKUM

Program Studi : ILMU HUKUM

UPBJJ-UT : 76/ JEMBER

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media
apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik
Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat
pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik
yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

JEMBER., 20 Desember 2020

Yang Membuat Pernyataan

AFRILEO GALINDO PUTRA


LEMBAR JAWABAN

1. (1) a. Bidang ilmu Sosiologi Hukum. Bidang ilmu ini lebih memfokuskan perhatiannya pada
objek studi Kriminologi, yakni kejahatan. Upaya ini dilakukan dengan mempelajari hal-
hal yang terkait dengan kondisi terbentuknya hukum pidana, peranan hukum dalam
mewujudkan nilai-nilai sosial, serta kondisi empiris perkembangan hukum.
b. Bidang Ilmu Etiologi Kriminal. Bidang ini lebih memfokuskan perhatiannya pada objek
studi Kriminologi, yakni penjahat. Upaya ini dilakukan dengan mempelajari alasan
mengapa seseorang melanggar hukum (pidana), atau melakukan tindak kejahatan
sementara orang laintidak melakukannya. Pertimbangannya harus didasarkan berbagai
faktor (multiple factors), tidak lagi hanya faktor hukum atau legal saja (singlefactor)
c. Bidang ilmu Penologi. Bidang ilmu ini lebih memfokuskan perhatiannya pada objek studi
Kriminologi, yakni reaksi sosial. Upaya ini dilakukan dengan mempelajari hal-hal yang
terkait dengan berkembangnya hukuman, arti dan manfaat yang berhubungan dengan
“control of crime” (penghukuman dan pelaksanaan penghukuman).
d. Bidang ilmu Viktimologi. Bidang ilmu ini memfokuskan perhatiannya pada objek studi
Kriminologi, yakni korban kejahatan. Ini dilakukan dengan mempelajari hal-hal yang
terkait dengan kedudukan korban dalam kejahatan, interaksi yang terjadi antara korban
dan penjahat, tanggung jawab korban pada saat sebelum dan selama kejahatan terjadi.
(2) Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang mencoba menjelaskan masalah-masalah yang
terkait dengan kejahatan dan penjahat, dalam perkembangannya, tidak terlepas dari
berbagai bidang studi yang juga berorientasi pada eksistensi hubungan sosial dan produk
yang dihasilkan dari hubungan sosial yang ada., seperti antropologi, sosiologi, psikologi
kriminalistrik serta ilmu hukum pidana. Semakin kompleks pusat perhatian kriminologi
maka semakin bermanfaat pula pemahaman-pemahaman dari berbagai bidang ilmu dalam
hal menyumbangkan ke arah penjelasan yang lebih komprensif yang merupakan tugas
dari kriminologi tersebut, karena sifatnya yang multidisipliner, perkembangan teori dan
metodologi pada disiplin ilmu yang lain sangat berpengaruh terhadap perkembangan
kriminologi dalam menganalisis kejahatan.
(3) Ruang Lingkup Kriminologi murni, meliputi :
a. Antropologi Kriminal
Ilmu pengetahuan ini mempelajari dan meneliti penjahat dari segi tingkah laku,
karakter dan ciri tubuhnya. Bidang ini juga meliputi : apakah ada hubungan antara
suku bangsa dengan kejahata? Dan seterusnya. Apakah tingkah laku dan budaya
masyarakat yang dapat menimbulkan kejahatan dan melahirkan pelaku-pelaku
kejahatan?
b. Sosiologi Kriminal
Ilmu pengetahuan ini mempelajari dan meneliti kejahatan sebagai suatu gejala masyarakat
untukmengetahui dimana letak sebab-sebab kejahatan dalam masyarakat.pertanyaan-
pertanyaan yang dicari jawabannya oleh bidang ilmu ini antara lain : apakah
masyarakat melahirkan kejahatan? Termasuk kepatuhan dan ketaatan masyarakat
terhadap peraturan perundang-undangan. Apakah norma-norma masyarakat tidak
berfungsi dalam mencegah kejahatan?
c. Psikologi Kriminal
Ilmu pengetahuan ini mempelajari dan meneliti kejahatan dari sudutkejiwaan
penjahatan. Pertanyaan-pertanyaan yang dicari jawabannya di bidang ilmu ini antara
lain : apakah kejiwaannya yang melahirkan kejahatan? Ataukah karena lingkungan
atau sikap masyarakat yang melahirkan kejahatan
d. Psikopatologi dan Neuropatologi Kriminal
Ilmu pengetahuan ini mempelajari danmeneliti kejahatan dan penjahat yang sakit jiwa
atau urat syaraf. Pernyataan-pernyataan yang dicari jawabannya oleh bidang ilmu ini
antara
lain: apakah urat syaraf atau sakit jiwa yang menimbulkan kejahatan dan kejahatan apa
yang timbul akibat sakit jiwa atau urat syaraf tersebut
e. Penologi
Ilmu pengetahuan ini mempelajari dan meneliti kejahatan dari penjahat-penjahat yang
telah dijatuhi hukuman. Pernyataan-pernyataan yang dicari jawabannya oleh bidang
ilmu antara lain : apakah penjahat yang dijatuhi hukuman tersebut akan menjadi warga
masyarakat yang baik atau masih melakukan kejahatan? Atau bahkan mungkin akan
meningkat kualitas kejahatannya? Apakah pemidanaan dikaitkan dengan latar
belakang dan adanya keseimbangan antara pemidanaan dengan kejahatan yang
dilakukan?
(4) Kriminologi sebagai disiplin ilmu yang mempelajari kejahatan, Pada dasarnya sangat
tergantung pada disiplin ilmu-ilmu lainnya yang mempelajari kejahatan, bahkan dapat
dikatakan bahwa keberadaan kriminologi itu merupakan hasil dari berbagai disiplin ilmu
yang mempelajari kejahatan tersebut. Dengan demikian, kriminologi itu bersifat
“interdisipliner”, artinya suatu disiplin ilmu yang tidak berdiri sendiri, melainkan hasil
kajian dari ilmu lainnya terhadap kejahatan. Jadi, Pendekatan interdisipliner merupakan
pendekatan dari berbagai disiplin ilmu terhadap suatu objek yang sama, yakni kejahatan.
Kriminologi merupakan sarana ilmiah bagi studi kejahatan dan penjahat (crime and
criminal). Dalam wujud ilmu pengetahuan, kriminologi merupakan “the body of
knowledge” yang ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan hasil penelitian dari berbagai
disiplin, sehingga aspek pendekatan terhadap obyek studinya luas sekali, dan secara inter-
disipliner dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta dalam pengertian yang luas
mencakup pula kontribusi dari ilmu eksakta. Kriminologi dengan cakupan kajiannya;
a. orang yang melakukan kejahatan
b. penyebab melakukan kejahatan
c. mencegah tindak kejahatan
d. cara-cara menyembuhkan orang yang telah melakukan kejahatan.

2. (1) Karena menjelaskan sebab-sebab terjadinya korban (viktimisasi). Kajian ini menyerupai
salah satu ruang lingkup dalam kriminologi yang disebut sebagai etiologi kriminil. Namun
aspek yang dilihat berbeda. Dalam kriminologi dilihat dari aspek pelaku, sedangkan dalam
viktimologi yang dilihat dari aspek korbannya.Sebenarnya setiap orang tidak tergantung
pada usia, jenis kelamin, bangsa, pekerjaan, strata sosial atau penggolongan lainnya terbuka
bagi kemungkinan suatu serangan tindak pidana. Dengan kata lain semua anggota
masyarakat berpeluang menjadi korban. Namun berdasarkan kajian viktimologi, dapat
dideskripsikan tentang kecenderungan-kecenderungan terjadinya korban yang dikaitkan
dengan berbagai factor. Dalam kajian viktimologi, terjadinya viktimisasi peranan korban
dapat menjadi faktornya. Artinya korban dipandang dapat memainkan peran dan menjadi
unsure yang penting dalam terjadinya tindak pidana yang menimbulkan korban.
(2) a. Pengalaman langsung (sebagai korban atau saksi)
b. Hubungan interpersonal dengan individu lainnya secara langsung atau pengalaman
langsung dari orang lain dan
c. Media massa.
Tiga hal yang dikemukakan diatas merupakan sikap dan kepentingan yang
mempengaruhi selektif informasi terhadap individu, contohnya bagaimana individu cenderung
berprasangka melihat pelaku kejahatan yang ditayangkan dalam berita di media massa tentang
kejahatan, dan berfikir bahwa orang tersebut jahat. Dan informasi tentang kejahatan sebagai
faktor-faktor yang menyebabkan fear of crime terhadap kejahatan terorisme yang
mempengaruhi intensitas aktifitas masyarakat di tempat yang pernah terjadi kejahatan
terorisme. Informasi tentang kejahatan tersebut membuat individu menggambarkan kejahatan
dalam beberapa hal yaitu:
a. Tingkat kejahatan (saat itu maupun pada lingkungannya)
b. Sifat kejahatan (proporsi yang relatif dari berbagai jenis kejahatan)
c. Karateristik dari pelaku
d. Konsekwensi dari kejahatan (luka, kerugian dan stigma)
Gambaran ini memberi informasi kepada individu tentang isyarat bahaya tentang
kejahatan yang dapat di simpulkan oleh individu seperti kehadiran orang asing atau “ketidak
sopanan” di lingkungannya. Kemudian, gambaran tentang kejahatan ini memberikan persepsi
tentang risiko terhadap kejahatan.
(3) Kemudian, gambaran tentang kejahatan ini memberikan persepsi tentang risiko terhadap
kejahatan. Ada 4 (empat) pertimbangan yang di lakukan Garofalo dalam menjelaskan
gambaran tentang fear of crime berdasarkan penilaian risiko, yaitu:
a. Prevalensi ( beberapa jenis kejahatan di tempat-tempat dan situasi tertentu)
b. Kemungkinan (menjadi target)
c. Kerentanan (melihat karakteristik individu sehingga menjadi target)
d. Konsekwensi (luka dan kerugian)
Selanjutnya, persepsi terhadap risiko ini menimbulkan fear of crime secara aktual dan
antisipatif.
(4) Peran dari pengaruh pengalaman tidak langsung tentang kejahatan juga sangat menonjol dalam
pembentukan fear of crime.Jika seseorang tinggal di lingkungan yang ia ketahui tinggi
tingkatkejahatannya, umumnya ia akanmerasa bahwa lingkungan tersebutsebagai tempat
beresiko. Dengan demikian orang tersebut akan memiliki fear of crime lebih besar (Sacco,
1990).Pengetahuan tentang viktimisasi orang lain ini bisa didapat dari sumber tidak
langsung, misalnya informasi mulut ke mulut antar tetangga.

3. (1) Mazhab klasik muncul pada abad ke-18 yang dipelopori oleh Cesare Beccaria,
aliran ini timbul di Inggris paada abad pertengahan ke-19. Alaran ini, dengan Doktrin of
free will-nya, mendasarkan pada filsafat hedonistis yang memandang bahwa manusia
mempunyai kebebasan memilih perbuatan yang dapat memberikan kebahagian dan
menghindari perbuatan-perbuatan yang akan memberikan penderitaan. Pada dasarnya
Beccaria menerapkan doktrin ini sebagai sebagai doktrin dalam penologi. Menurut
Beccaria, setiap orang yang melanggar hukum telah memperhitungkan rasa sakit yang
diperoleh dari perbuatan tersebut. “That the act which I do is the act which I think will give
me most pleasure. Demikianlah Jeremy Bentham, mengungkapkannya.Cesare Beccaria
(1738-1798), beliau berusaha menentang kesewenangan lembaga peradilan pada saat itu,
dalam kritiknya pada intinya adalah menentang terhadap hukum pidana, hukum acara
pidana dan sistem penghukuman. Dengan demikian, aliran ini dikenal dengan aliran
kriminologi klasik yang berkembang di Inggris dan Negara Amerika. Dasar dar mazab ini
adalah Hedonistic-Psycology yang mempergunakan metodenya adalah armchair (tulis
menulis). Psikologi yang menjadi dasar aliran ini adalah sifat individualistis. Intelectualistis
serta voluntarsitis.
Landasan dari aliran Kriminologi klasik ini adalah, bahwa individu dilahirkan bebas
dengan kehendak bebas (free will). Untuk menentukan pilihannya sendiri, individu
memiliki hak asasi di antaranya hak untuk hidup, kebebasan untuk memiliki harta
kekayaan, pemerintahan Negara dibentuk untuk melindungi hak-hak tersebut dan muncul
sebagai perjanjian sosial antara yang diperintah dan yang memerintah, setiap warga Negara
hanya menyerahkan sebagian haknya kepada Negara sepanjang diperlukan oleh Negara
untuk mengatur masyarakat demi kepentingan sebagian besar masyarakat kejahatan
merupakan pelanggaran perjanjian sosial dank arena itu dikatan sebagai kejahatan
moral.Dalam kajian konteks tersebut sehingga dapat dipahami, cirri-ciri atau landasan
kriminologi klasik dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Manusia dilahirkan dengan kehendak bebas (free will) untuk menentukan pilhannya
sendiri.
b. Manusia memiliki hak asasi di antaranya hak untuk hidup, kebebasan serta memiliki
kekayaan.
c. Pemerintah Negara dibentuk untuk melindungi hak-hak tersebut dan muncul sebagai
hasil perjanjian sosial antara yang diperintah dan yang memerintah.
d. Setiap warga Negara hanya menyerahkan sebagian hak asasinya kepada Negara
sepanjang diperlukan oleh Negara untuk mengatur masyarakat dan demi kepentingan
sebagian terbesar dari masyarakat.
e. Kejahatan merupakan pelanggaran terhadap perjanjian sosial, oleh karena itu kejahatan
merupakan kejahatan moral.
f. Hukuman hanya dibenarkan selama hukuman itu ditujukan untuk untuk memlihara
perjanjian sosial. Oleh karena itu tujuan hukuman adalah untuk mencegah kejahatan di
kemudian hari.
g. Setiap orang dianggap sama di depan hukum, oleh karena itu seharusnya setiap orang
diperlakukan sama.
(2) Terjadinya pertentangan antara pihak gereja dan kekuasaan raja dengan intelectualisme dan
rationalism dari the social contract writers yang dictuskan oleh (Thomas Hobbes, John Locke,
Montesquieu, Voltaire dan Rousseau) itu adalah dimana masa yang penuh dengan rasa
ketidakpuasan dan diwarnai dengan protes terhadap kesewenang wenangan terhadap hukum
acara pidana dan terhadap eksistensi manusia.
(3) Pandangab beccaria ini besar pengaruhnya terhadap pembentukan undang undang perancis
(french code) tahun 1971. Oleh karena itu sifat dari mashab klasik ini sering pula identik
dengan "administrative and legal criminology". Konsep keadilan menurut mashab ini adalah :
" Suatu hukuman yang pasti untuk perbuatan perbuatan yang sama tanpa memperhatikan sifat
dari si pembuat dan pula tanpa memperhatikan kemungkinan adanya peristiwa peristiwa
tertentu yang memaksa terjadinya perbuatan tersebut".
(4) Sifat pemikiran kritis yang selalu menggugat hakekat atas realitas yang tampak tentang apa
yang disebut sebagai kejahatan dan penjahat,menunjukkan adanya proses dinamisasi berpikir
dalam mazhab ini yang terus berlangsung. Dalam konteks kriminilogi, dinamika pemikiran
kritis diatas sangat pemting untuk memahami proses proses yang menjadikan sesuatu
perbuatan sebagai kejajatan dan proses proses yang menjadikan seseorang mengalami ritual
labelling sebagai penjahat. Sehingga dari pemahaman yang benar proses proses tersebut
selanjutnya dapat dijadikan dasar untuk menetapkan strategi kebijakan yang tepat dalam
menanggulangi kejahatan. Dalam konteks indonesia mengingat sifat serta fungsi pemikiran
kritis sebagaimana ditegaskan di atas maka mazhab pemikiran kritis ini dipandang sangat
urgen dalam upaya upaya pengembangan ilmu kriminologi di masa mendatang. Hakekat
pengembangan adalah suatu dinamika sedangkan diantara ketiga pemikiran besar dalam
kriminologi yang telah diuraikan diatas tampaknya hanya mazhab kritis yang memenuhi
kriteria sebagai pemikiran yang dinamis terutama karena sifatnya yang selalu
mempertanyakan hakekat dari realitas yang tampak.

4.(1) Dalam usaha mencari dan meneliti sebab-sebab kejahatan dalam lingkungan masyarakat.
Terdapat beberapa teori-teori berbeda dengan teori-teori lainnya, teori dari aspek sosiologis
memiliki alasan-alasan penyebab kejahatan di dalam lingkungan sosial. Teori-teori penyebab
kejahatan dari aspek sosiologis tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori umum, yaitu :
a. Anomie (ketiadaan norma) atau Strain (keterangan)
b. Cultural Deviance (penyimpangan budaya)
c. Social Control (control sosial)
Teori Anomie dan penyimpangan budaya,memusatkan perhatian pada kekuatan-kekuatan
sosial (social forces) yang menyebabkan orang melakukan aktivitas kriminal. Teori ini
berasumsi bahwa kelas sosial dan tingkah laku kriminal saling berhubungan. Pada penganut
teori anomie beranggapan bahwa seluruh anggota masyarakat mengikuti seperangkat nilai-
nilai budaya, yaitu nilai-nilai budaya kelas menengah, yakni adanya anggapan bahwa nilai
budaya terpenting adalah kesuksesan dalam ekonomi. Oleh karena orang-orang kelas bawah
tidak mempunyai sarana-sarana yang sah (legitimate means) untuk mencapai tujuan tersebut,
seperti gaji tinggi, bidan usaha yang maju, dan lain-lain, mereka menjadi frustasi dan beralih
menggunakan sarana-sarana yang tidak sah (illegitimate means). Lain halnya dengan teori
penyimpangan budaya yang mengklaim bahwa orang-orang dari kelas bawah memiliki
seperangkat nilai-nilai yang berbeda, dan cederung konflik dengan nilai-nilai kelas
menengah. Sebagai konsekuensinya, manakala orang-orang bawah mengikuto sistem nilai
mereka sendiri. Mereka mungkin telah melanggar norma-norma konvensional.
(2) Kejahatan konvensional adalah kejahatan terhadap jiwa, harta benda, dan kehormatan yang
menimbulkan kerugian baik fisik maupun psikis baik dilakukan denga cara-cara biasa
maupun dimensi baru, yang terjadi di dalam negeri. Kejahatan konvensional merupakan
kejahatan dengan isu paling mendasar dan sering terjadi di tengah masyarakat, memiliki
lingkup lokal dan meresahkan masyarakat. Bentuk kejahatan tersebut di antaranya perjudian,
pencurian kekerasan/pemberatan, pencurian kendaraan bermotor, penganiayaan,
pernbunuhan, perkosaan, penipuan, penggelapan, pembakaran, pengrusakan, pemalsuan,
penculikan, dan pemerasan. Termasuk premanisme dan kejahatan jalanan yang perlu
penanganan secara intensif, terutama yang terjadi di lokasi obyek vital, yang dapat
berimplikasi pada kerugian ekonomi dan, kepercayaan internasional.
(3) White Collar Crime dalam aspek tipologis berbeda dari Blue Collar Crime. Biasanya istilah
White Collar Crime ditujukan bagi aparat dan petinggi negara sedangkan Blue Collar Crime
dipakai untuk menyebut kejahatan-kejahatan yang terjadi di kelas sosial bawah dengan
kualitas dan kuantitas yang lebih rendah dari kejahatan yang dihasilkan oleh White Collar
Criminal. Kejahatan kerah putih secara umum mengacu pada kejahatan yang dimotivasi
secara finansial dan biasanya dilakukan oleh para profesional dalam bidang bisnis dan aparat
pemerintah. Kasus-kasus kejahatan kerah putih sulit dilacak karena biasanya dilakukan
pejabat yang mempunyai kekuasaan, memiliki kuasa untuk memproduksi hukum dan
berperan dalam membuat berbagai keputusan vital. Kejahatan kerah putih (White Collar
Crime) juga sangat sulit tersentuh oleh hukum karena terjadi dalam suatu lingkungan yang
tertutup.Pencucian uang merupakan suatu bentuk kejahatan kerah putih hal ini disebabkan
dalam kebanyakan kasus-kasus pencucian uang yang menjadi aktor utama di dalamnya
merupakan orang-orang yang memiliki profil kelas atas, memiliki kedudukan tinggi di
pemerintahan ataupun di perusahaan, memiliki sumber daya dan kekuasaan dalam jabatan
dan posisinya, memiliki peran yang besar di masyarakat, dan status sosio-ekonomi yang
tinggi.
(4) Beberapa faktor yang paling sangat terkait dengan pelaku melakukan kekerasan terhadap
pasangannya di antaranya;
a. Usia Menikah Muda, Tren menikah muda biasanya di Indonesia adalah salah satu faktor
yang mendorongtingginya angka kekerasan dalam rumah tangga, biasanya mereka yang
menikah usia usiamuda masih berada di fase remaja awal, dimana fase tersebut secara
emosional belum matang dalam berpikir(Tsany, 2017). Berdasarkan data SDKI tahun
2013 menunjukkan kejadian domestic violence lebih banyak dialami oleh ibu rumah
tangga yang berumur 18-24 tahun yaitu sebanyak 38% dibandingkan dengan ibu rumah
tangga yang berumur 45 tahun keatas (BPS Aceh, 2013).
b. Tingkat Pendidikan, Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mepengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga
melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan, Pendidikan adalah hubungan
melayani manusia dalam hubungannya dengan manusia lain secara terus menerus dalam
kehidupan yang efektif, dengan melalui pendidikan manusia distimulasi untuk berpikir,
menghargai dan berbuat sesuatu agar berkualitas (Miriam, 2006). Rendahnya tingkat
pendidikan masing-masing suami istri bisa juga menjadi pemicu dari timbulnya domestic
violence (WHO, 2017). Hal ini terbukti dari beberapa kasus domestic violence yang
melapor ke P2TP2A kota Banda Aceh salah satu faktornya adalah masih banyak
pendidikan suami-istri yang rendah (Laporan P2TP2A Banda Aceh, 2019). Dampak dari
kepala rumah tangga yang berpendidikan rendah adalah suami memiliki sifat ego, tidak
mampu mengontrol emosional dan minimnya pengetahuan, suami yang memiliki
berpendidikan rendah memungkinkan melakukan kekerasan pada pasangannya (Garcia-
Moreno et al., 2006)
c. Menggunakan Alkohol dan obat-obatan, Menurut Noviana & Wilujeng (2014) ada
beberapa alasan tindak kekerasan yang dilakukan oleh pria. Pria kadang kehilangan
kontrol terhadap arah hidup, maka pria mungkin menggunakan kekerasan untuk
mengendalikan hidup orang lain melampiaskan kekesalannya. Faktor yang terkait dengan
domestic violence tidak hanya terbatas pada factor sosial, agama, dan ekonomi tetapi
faktor individu seperti peminum berat, merokok, (Adjah & Agbemafle, 2016). Beberapa
penyebab domestic violence yang melapor di P2TP2A Kota Banda Aceh adalah suami
menggunakan narkoba, bahkan meminta uang kepada istri untuk membeli ganja atau sabu,
sehingga menjadi pemicu keributan di dalam rumah tanggga (P2TP2A Kota Banda Aceh,
2019).
d. Gangguan Kepribadian, Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sapkota et al. (2016)
mengenai fakor yang berhubungan dengan terjadinya domestic violence pada wanita yang
sudah menikah di Nepal menunjukkan istri dengan suami yang suka mengendalikan,
penuh tekanan dan mempunyai kesehatan mental yang buruk memiliki resiko yang lebih
tinggi untuk mengalami domestic violence dibandingkan dengan wanita dengan pasangan
kepribadian buruk. Berdasarkan hasil penelitian Sunmola et al. (2018) di Nigeria
pasangan yang otoriter (controling husband) seringkali membuat aturan yang berlaku
sepihak di dalam rumah tangga lebih berisiko terjadi domestic violence di dalam rumah
tangga mereka, selain itu pelaku yang bersifat otoriter cenderung merasa dirinya paling
benar dan membawa kebaikan tanpa memikirkan perasaan lain.
e. Sejarah Masa Lalu, Samudera (2016) menyebutkan penyebab terjadinya kekerasan di
rumah tanggga sangat dipengaruhi oleh kepribadian dan kondisi psikologis suami yang
tidak stabil, dimana suami pernah mengalami kekerasan pada masa kanak-kanak,
terutama anak laki-laki yang hidup dengan orang tua yang sering melakukan kekerasan
pada ibunya atau dirinya yang dilakukan oleh sang ayah selaku kepala keluarga, sehingga
kekerasan di tiru oleh anak.
f. Pekerjaan Suami, Studi yang pernah dilakukan oleh peneliti psikolog tentang hak
perempuan sebagai sebagai korban domestic violence menyimpulkan lelaki melakukan
tindak domestic violence disebabkan tidak memiliki pekerjaan yang tetap dan tingkat
pendidikan rendah serta memiliki karakter tempramental. Pekerjaan sangat
mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga, karena pekerjaan berhubungan dengan
pendapatan yang didapat, dalam hasil penelitian Nuraini (2014) menunjukan bahwa
pekerjaan suami berhubungan dengan terjadinya domestic violence.
g. Religuisitas Suami, Kekerasan dalam rumha tangga terhadap bila ditelaah lebih mendalam
di dalam alquran hadist rasullullah bahwa tidak ada satu ayat pun atau hadist yang
memberi peluang untuk memperlakukan perempuan secara semena-mena di dalam rumah
tangga, dengan adanya agama lahirnya sebuah istilah religiusitas yaitu sebuat komitmen
yang berhubungan dengan agama dan iman yang dapat dilihat melalui aktifitas fisik atau
perilaku yang bersangkutan dengan agama atau keyakinan yang di anut (Fakih, 2008).
Religiusitas diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan
seseorang, praktek serta seberapa dalam penghayatan yang dianutnya (Stark & Glock,
1968) .
h. Relationship Factor, Adapun menurut WHO (2017), faktor-faktor yang terkait dengan
risiko kekerasan pada perempuan yang dilakukan oleh pasangnya :
1) Ketidakpuasaan suami, Domestic violence juga disebabkan oleh frustasi, stress dan
gangguan mental yang berlebihan, misalkan di saat suami merasa ketidakpuasaan atas
pekerjaan yang di lakukan oleh istri maka suami menunjukkan rasa kemarahannya dan
menggunakan kekerasan fisik (Chuisairi, 2000).
2) Dominan Laki-laki Dalam Keluarga. Domestic violence bukan hanya sekedar masalah
rumah tangga semata, namun juga masalah kekerasan berbasis gender, dimana
menjadikan perempuan berada di posisi yang lebih rendah. Selain itu, suami
menganggap kedudukannya dirumah tangga lebih tinggi daripada istri dilihat dari segi
norma sosial, agama dan budaya di Indonesia (Chuisairi, 2000).
3) Pendapatan Keluarga (Ekonomi)Di Indonesia masih banyak argumen masyarakat
bahwa istri sepenuhnya kepada suami. Istri hanya bertugas mengurus suami, anak dan
rumah tangga. Sedangkan mencari nafkah adalah tugas utama dari suami
(Purwaningsih, 2008). Berdasarkan laporan P2TP2A kota Banda Aceh setiap tahunnya
salah satu penyebab terjadinya domestic violence adalah pendapatan keluarga yang
tidak mencukupi, bahkan penyebab perceraian yang paling dominan yang terjadi di
Kota Banda Aceh pada tahun 2017 adalah masalah pendapatan keluarga, masalah
ekonomi, suami yang tidak bertanggung jawab, dan penganiayaan yang dilakukan oleh
suami (Laporan Mahkamah Syariah Kota Banda Aceh 2017). Pendapatan rumah
tangga menentukan tingkat konsumsi secara seunit kecil atau dalam keseluruhan
ekonomi pendapatan mempengaruhi banyaknya barang yang dikonsumsi, Misalnya
himpitan ekonomi (kemiskinan), kehilangan pekerjaan (pengangguran), hal tersebut
memungkinkan seseorang mengalami stress dan kemudian dapat memicu terjadinya
kekerasan dalam rumah tangga (Sadono, 2011). Tentang status ekonomi dari keluarga
korban kekerasan sangat penting, mengingat adanya salah satu faktor terjadinya
kekerasan dalam rumah tangga adalah ketidakmampuan keluarga dalam membiayai
hidup sehari-hari. Hal ini terbukti dengan adanya data semakin ke bawah derajat
ekonomi responden semakin rawan munculnya kekerasan dalam rumah tangga, namun
asumsi ini bisa saja terbalik belum tentu keluarga yang berkecukupan ekonominya jauh
dari tindakan domestic violence (Ariawan, 2008).
4) Perselingkuhan, Perselingkuhan pada umumnya banyak terjadi pada anggota keluarga
yang kurang memiliki kualitas keagamaan yang bagus, lemahnya dasar cinta,
komunikasi yang kurang lancar dan harmonis, juga sikap egois dari masing-masing
pasangan, emosi yang kurang stabil, dan kurang mampu membuat penyesuaian diri
(Muhajarah, 2017). Perselingkuhan dalam rumah tangga menimbulkan dampak
terhadap rumah tangga pelaku perselingkuhan itu sendiri, hilangnya keharmonisan
dalam rumah tangga pada akhirnya dapat terjadinya kekerasan dalam rumah tangga
bahkan berujung dengan perceraian (Buss, 2018). Studi yang dilakukan Olson et al.,
(2006) terhadap lebih dari 2000 orang yang telah menikah di Amerika ditemukan
bahwa perselingkuhan memberikan dampak pada perceraian dua kali lebih besar dari
masalah lainnya di dalam rumah tangga Salah satu penyebab domestic violence adalah
motif perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan, ketika salah satu pasangan dalam
sebuah ikatan merasa kesepian, kebutuhan akan berelasi dengan secara intim,
seseorang akan mencari pemenuhan atas kebutuhan untuk berelasi dengan orang lain
(Fisher, 2004). Kecenderungan subjektif seseorang untuk melakukan sesuatu ini
disebut intensitas, Schützwohl (2005) mengatakan intensi adalah kecenderungan yang
subjektif untuk menjalin relasi dengan orang lain tanpa sepengetahuan pasangannnya,
semakin sering seseorang menjali relasi makan semakin tinggi pula intensi.
5) Tingkat Pendidikan, Tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada suami berpeluang lebih
rendah terhadap domestic violence, sedangkan pada pendidikan wanita yang menikah
dengan suami dengan pendidikan formal lebih rendah kemungkinan akan mengalami
kekerasan oleh pasangan intimnya (Ackerson et al., 2008). Perbedaan tingkat
pendidikan merupakan salah satu pemicu berakhirnya suatu hubungan dalam rumah
tangga dimana tingkat pendidikan menjadi suatu perbedaan sehingga pasangan
mengalami ketikakcocokan yang akhirnya menyebabkan masalah dalam rumah
tangga.
i. Community and Societial Factor
1) Budaya, Negara Indonesia salah satu negara yang beragam budaya, salah satunya budaya
patriarki yang ada di tengah masyarakat Aceh saat ini beranggapan kekuasaan didalam
rumah tangga yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah daripada
laki- laki, karena laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga sehinga budaya patriarki
menyebabkan wanita mengalami berbagai bentuk diskriminasi (Harnoko, 2010).
Sebagian masyarakat menganggap bahwa tindak domestic violence adalah sebuah
wilayah pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain, bahkan sebagian
berpendapat domestic violence dianggap wajar (Purwaningsih, 2008). Dari hubungan
yang demikian seolah-olah laki-laki dapat melakukan apa saja kepada perempuan,
termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Dalam hal ini ada ketidaksetaraan antara laki-
laki dengan perempuan, seperti adanya marginalisasi pada perempuan, pelabelan dan
adanya beban ganda pada perempuan serta memungkinkan munculnya kekerasan di
dalam rumah tangga (Hermawati, 2007). Dalam sebuah penelitian yang meneliti dampak
budaya dan agama pada pengalaman dan praktik seksual wanita di masyarakat Tunisia,
mayoritas responden berpikir bahwa seksualitas pada wanita adalah tugas agama dan
bahwa mereka tidak memiliki hak untuk menolak suami atau memberontak (Fekih-
Romdhane et al., 2018).
2) Kemiskinan, Di negara berkembang seperti Indonesia, isu domestic violence yang kerap
mendera kaum wanita dan anak-anak, Berdasarkan P2TP2A Provinsi Jawa Barat dari
tahun 2011- 2015, KDRT mencapai 532 kasus salah satu penyebabnya adalah masalah
ekonomi yang menjadikan keluarga hidup dalam kemiskinan juga banyak memantik
kekerasan seksual pada anak dikarenakan kemiskinan tidak mampu menyediakan tempat
tinggal yang layak.
3) Status social, Kondisi sosial yang memudahkan terjadinya kekerasan seperti daerah
terisolasi, konflik dan perang, Situasi tersebut menyebabkan perempuan sering kali
menjadi korban (Mohamadian et al., 2016). Berdasarkan data laporan dari P2TP2A
Provinsi Aceh tahun 2019, saat ini masih ada korban domestic violence yang berasal
dari pendesaan atau kabupaten yang di rujuk ke ibukota untuk ditangani kasusnya oleh
P2TP2A Provinsi Aceh (P2TP2A Prov Aceh, 2019).
4) Sanksi Hukum Yang Lemah
Ada beberapa negara dibagian timur tengah, pelaku domestic violence tidak dihukum
sesuai dengan perbuatannya, bahkan kekerasan yang dilakukan oleh suami adalah akibat
dari kesalahan yang dilakukan oleh istri, hukuman bagi pelaku kekerasan sangat lemah
bahkan tidak tersentuh oleh hukum sehingga kemungkinan pelaku/suami dapat
bertindak lagi (WHO, 2017).
5) Hukum Perkawinan, Di dalam perkawinan tidak selamanya lancar, beberapa kasus
domestic violence yang terjadi salah satunya status perkawinan, Di negara maju pelaku
kekerasan pada perempuan adalah teman kencan yang tidak terikat oleh status
perkawinan (WHO, 2017). Berdasarkan Laporan P2TP2A Kota Banda Aceh tahun 2017
masih ada korban (klien) yang mendapatkan kekerasan dari suaminya yang dinikah
secara siri. (P2TP2A Kota Banda Aceh, 2019).