Anda di halaman 1dari 32

PANDUAN MAHASISWA KEPERAWATAN

KUMPULAN ASUHAN
KEPERAWATAN
(Askep Mioma Uteri)

2012

WWW.SAKTYAIRLANGGA.WORDPRESS.COM
Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus, yang dalam
kepustakaan ginekologi juga terkenal dengan istilah-istilah fibrimioma uteri, leiomyoma
uteri atau uterine fibroid. (Prawirohardjo,1996:281) Mioma uteri adalah tumor jinak
uterus yang berbatas tegas yang terdiri dari otot polos dan jaringan fibrosa.
(Sy/lvia A.P, 1994)

Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa
(48%), submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%)
1. Mioma submukosa
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini
dijumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan
perdarahan. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan
perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan
gangguan perdarahan.
Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya
benjolan waktu kuret, dikenal
sebagai currete bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi
tangkai tumor.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa
pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang
mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan
nama mioma geburt atau mioma yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi
dan infark. Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena
proses di atas.
2. Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena pertumbuhan
tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi
tumor. Bila di dalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan
mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol dengan konsistensi yang padat. Mioma yang
terletak pada dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong
kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
3. Mioma subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan
uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan
ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma intraligamenter

www.saktyairlangga.wordpress.com Page 15
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke
ligamentum atau omentum kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut
wondering parasitis fibroid. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu
uterus. Mioma pada servik dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium
uteri eksternum berbentuk bulan sabit.

Gambar 1. Gambar Jenis-jenis mioma uterus


Etiologi
2.2.1 Faktor terbentuknya tumor
1. Faktor Internal
Terjadi kesalahan replikasi pada saat sel-sel yang mati diganti oleh sel yang baru.
Merupakan kesalahan genetika yang diturunkan dari orang tua. Kesalahan ini biasanya
mengakibatkan kanker pada usia dini. Bila seorang ibu mengidap kanker payudara, tidak
serta merta semua anak gadisnya akan mengalami hal yang sama, karena sel yang
mengalami kesalahan genetik harus mengalami kerusakan lebih dulu sebelum berubah
menjadi sel kanker. Hanya saja individu pembawa sel genetika yang salah, memang lebih
beresiko terkena kanker daripada yang tidak memiliki mutasi gen yang salah.
Faktor mutasi gen secara internal, tidak dapat dicegah namun faktor eksternal
dapat dicegah. Menurut WHO, 10% – 15% kanker, disebabkan oleh faktor internal dan
85%, disebabkan oleh faktor eksternal. Jadi, sekalipun tidak 100%, sebenarnya kanker
dapat kita cegah atau hindari dangan menghindari faktor eksternal.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dapat merusak gen adalah virus, polusi udara, makanan,
radiasi, dan berasal dari bahan kimia, baik bahan kimia yang ditambahkan pada makanan,
maupun bahan kimia yang berasal dari polusi. Bahan kimia yang ditambahkan dalam
makanan, seperti pengawet dan pewarna makanan. Cara memasak juga dapat mengubah
makanan menjadi senyawa kimia yang berbahaya. Daging atau ikan yang dipanggang
hingga gosong, mengandung zat kimia seperti benzo-a-piren, amin heterosoklik, dioxin,
dan lain-lain. Kuman yang hidup dalam makanan juga dapat menyebarkan racun,
misalnya racun aflatoksin pada kacang-kacangan, sangat erat hubungannya dengan kanker
hati. Makin sering tubuh terserang virus makin besar kemungkinan sel normal menjadi sel
kanker. Proses detoksifikasi yang dilakukan oleh tubuh, dalam prosesnya sering
menghasilkan senyawa yang lebih berbahaya bagi tubuh, yaitu senyawa yang bersifat
radikal atau korsinogenik. Zat korsinogenik dapat menyebabkan kerusakan pada sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor
predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.
1. Estrogen.
Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat pertumbuhan
tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan
mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan
kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan
fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia endometrium
(9,3%).Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan
wanita dengan sterilitas. 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol
(sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini
berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen
yang lebih banyak daripada miometrium normal.
2. Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron
menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B
hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang
mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode
ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan
mingkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.

Patofisiologi
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil di dalam miometrium dan
lambat laun membesar karena pertumbuhan itu miometrium terdesak menyusun semacam
pseudekapsula atau simpai semu yang mengelilingi tumor di dalam uterus mungkin
terdapat satu mioma, akan tetapi mioma biasanya banyak. Jika ada satu mioma yang
tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar dan konstipasi
padat. Bila terletak pada dinding depan uterus, uterus mioma dapat menonjol ke depan
sehingga menekan dan mendorong kandung kencing ke atas sehingga sering
menimbulkan keluhan miksi.
Tetapi masalah akan timbul jika terjadi: berkurangnya pemberian darah pada mioma
uteri yang menyebabkan tumor membesar, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan mual.
Selain itu masalah dapat timbul lagi jika terjadi perdarahan abnormal pada uterus yang
berlebihan sehingga terjadi anemia. Anemia ini bisa mengakibatkan kelemahan fisik,
kondisi tubuh lemah, sehingga kebutuhan perawatan diri tidak dapat terpenuhi. Selain itu
dengan perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan seseorang mengalami kekurangan
volume cairan.
(Sastrawinata S: 151)

Manifestasi klinik
Kebanyakan mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan
panggul rutin ataupun saat pemeriksaan ultrasonogafi (USG). Gejala yang timbul
bergantung pada lokasi dan besarnya tumor, namun yang paling sering ditemukan adalah :
1. Perdarahan yang banyak dan lama selama masa haid.
2. Penekanan organ di sekitar tumor oleh mioma uteri seperti kandung kemih, saluran
kemih (ureter), usus besar (rektum) atau organ rongga panggul lainnya sehingga
menimbulkan gangguan buang air besar dan buang air kecil, pelebaran pembuluh darah
vena dalam panggul, gangguan ginjal karena penekanan saluran kemih (ureter).
3. Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkal tumor, serta adanya reaksi
peradangan steril di dalam rahim.
4. Teraba benjolan pada bagian bawah perut dekat rahim yang terasa kenyal.
5. Gangguan sulit hamil (infertilitas) karena terjadi penekanan pada saluran indung telur
ataupun menyebabkan keguguran berulang (recurrent pregnancy loss).
6. Rasa nyeri biasanya diakibatkan oleh perubahan mioma uteri yang disebut degenerasi
atau kontraksi uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim.
Gejala sulit hamil ataupun keguguran berulang dapat disebabkan gangguan sumbatan
pada saluran telur (tuba fallopi) dan gangguan implantasi sel telur yang telah dibuahi
pada endometrium.
7. Sedangkan mioma uteri selama kehamilan dapat mengganggu kehamilan itu sendiri
berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat
kontraksi rahim, pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan
plasenta. Sebaliknya, kehamilan juga dapat merangsang pertumbuhan mioma uteri.
Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar seiring dengan meningkatnya kadar
hormon wanita (estrogen) selama kehamilan. Pembesaran yang cepat ini memicu
perubahan dari mioma uteri (degenerasi) yang dapat menimbulkan rasa nyeri.

Pemeriksaan penunjang
a. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan
adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama lebih bermanfaat untuk
mendeteksi kelainain pada rahim, termasuk mioma uteri. Uterus yang besar lebih baik
diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri dapat menampilkan
gambaran secara khas yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran
uterus. Sehingga sangatlah tepat untuk digunnakan dalam monitoring (pemantauan)
perkembangan mioma uteri.
b. Hiteroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri submukosa, jika
tumornya kecil serta bertangkai. Pemeriksaan ini dapat berfungsi sebagai alat untuk
penegakkan diagnosis dan sekaligus untuk pengobatan karena dapat diangkat.
c. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma tetapi jarang
diperlukan karena keterbatasan ekonomi dan sumber daya. MRI dapat menjadi alternatif
ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.

Penatalaksanaan
1. Pengobatan
Saat ini pemakaian Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis
memberikan hasil yang baik memperbaiki gejala klinis mioma uteri. Tujuan
pemberian GnRH agonis adalah mengurangi ukuran mioma dengan jalan mengurangi
produksi estrogen dari ovarium. Pemberian GnRH agonis sebelum dilakukan tindakan
pembedahan akan mengurangi vaskularisasi pada tumor sehingga akan memudahkan
tindakan pembedahan. Terapi hormonal yang lainnya seperti kontrasepsi oral dan
preparat progesteron akan mengurangi gejala pendarahan tetapi tidak mengurangi
ukuran mioma uteri (Hadibroto, 2005).

2. Operasi pembedahan
Indikasi terapi bedah untuk mioma uteri menurut American College of obstetricians and
Gyneclogist (ACOG) dan American Society of Reproductive Medicine (ASRM) adalah
a. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif
b. Sangkaan adanya keganasan
c. Pertumbuhan mioma pada masa menopause
d. Infertilitas kerana ganggaun pada cavum uteri maupun kerana oklusi tuba
e. Nyeri dan penekanan yang sangat menganggu
f. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
g. Anemia akibat perdarahan (Hadibroto,2005)
Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi atau histerektomi.
1. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma sahaja tanpa pengangkatan
uterus.Miomektomi ini dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan funsi
reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi. Tindakan ini dapat dikerjakan misalnya
pada mioma submukosum dengan cara ekstirpasi lewat vagina. Apabila miomektomi ini
dikerjakan kerana keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan
adalah 30-50% (Prawirohardjo, 2007).
Tindakan miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi, histeroskopi maupun
dengan laparoskopi. Pada laparotomi, dilakukan insisi pada dinding abdomen untuk
mengangkat mioma dari uterus. Keunggulan melakukan miomektomi adalah lapangan
pandang operasi yang lebih luas sehingga penanganan terhadap perdarahan yang mungkin
timbul pada pembedahan miomektomi dapat ditangani dengan segera. Namun pada
miomektomi secara laparotomi resiko terjadi perlengketan lebih besar, sehingga akan
mempengaruhi faktor fertilitas pada pasien, disamping masa penyembuhan paska operasi lebih
lama, sekitar 4-6 minggu.
Pada miomektomi secara histeroskopi dilakukan terhadap mioma submukosum yang
terletak pada kavum uteri.Keunggulan tehnik ini adalah masa penyembuhan paska operasi
sekitar 2 hari. Komplikasi yang serius jarang terjadi namun dapat timbul perlukaan pada
dinding uterus, ketidakseimbangan elektrolit dan perdarahan.
Miomamektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi. Mioma yang
bertangkai diluar kavum uteri dapat diangkat dengan mudah secara laparoskopi. Mioma
subserosum yang terletak didaerah permukaan uterus juga dapat diangkat dengan tehnik ini.
Keunggulan laparoskopi adalah masa penyembuhan paska operasi sekitar 2-7 hari. Resiko
yang terjadi pada pembedahan ini termasuk perlengketan, trauma terhadap organ sekitar
seperti usus, ovarium,rektum serta perdarahan.
Sampai saat ini miomektomi dengan laparoskopi merupakan prosedur standar bagi wanita
dengan mioma uteri yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya (Hadibroto,
2005).
2. Histerektomi
Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya adalah tindakan terpilih
(Prawirohardjo, 2007).Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30% dari seluruh
kasus. Histerektomi dijalankan apabila didapati keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan
obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu
(Hadibroto, 2005).
Tindakan histerektomi dapat dilakukan secara abdominal (laparotomi), vaginal dan pada
beberapa kasus dilakukan laparoskopi.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total abdominal
hysterectomy (TAH) dan subtotal abdominal histerectomy (STAH). Masing-masing prosedur
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH dilakukan untuk menghindari resiko operasi
yang lebih besar seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter, kandung kemih
dan rektum. Namun dengan melakukan STAH kita meninggalkan serviks, di mana
kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Pada TAH, jaringan granulasi yang
timbul pada tungkul vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan perdaraahn
paska operasi di mana keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH.
Histerektomi juga dapat dilakukan pervaginanm, dimana tindakan operasi tidak melalui
insisi pada abdomen. Secara umum histerektomi vaginal hampir seluruhnya merupakan
prosedur operasi ekstraperitoneal, dimana peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga
trauma yang mungkin timbul pada usus dapat diminimalisasi. Maka histerektomi pervaginam
tidak terlihat parut bekas operasi sehingga memuaskan pasien dari segi kosmetik. Selain itu
kemungkinan terjadinya perlengketan paska operasi lebih minimal dan masa penyembuhan
lebih cepat dibandng histerektomi abdominal.
Histerektomi laparoskopi ada bermacam-macam tehnik. Tetapi yang dijelaskan hanya 2
iaitu; histerektomi vaginal dengan bantuan laparoskopi (Laparoscopically assisted vaginal
histerectomy / LAVH) dan classic intrafascial serrated edged macromorcellated hysterectomy
(CISH) tanpa colpotomy.
Pada LAVH dilakukan dengan cara memisahkan adneksa dari dinding pelvik dengan
memotong mesosalfing kearah ligamentum kardinale dibagian bawah, pemisahan pembuluh
darah uterina dilakukan dari vagina.
CISH pula merupakan modifikasi dari STAH, di mana lapisan dalam dari serviks dan
uterus direseksi menggunakan morselator. Dengan prosedur ini diharapkan dapat
mempertahankan integritas lantai pelvik dan mempertahankan aliran darah pada pelvik untuk
mencegah terjadinya prolapsus. Keunggulan CISH adalah mengurangi resiko trauma pada
ureter dan kandung kemih, perdarahan yang lebih minimal,waktu operasi yang lebih cepat,
resiko infeksi yang lebih minimal dan masa penyembuhan yang cepat. Jadi terapi mioma uteri
yang terbaik adalah melakukan histerektomi. Dari berbagai pendekatan, prosedur histerektomi
laparoskopi memiliki kelebihan kerana masa penyembuhan yang singkat dan angka morbiditas
yang rendah dibanding prosedur histerektomi abdominal (Hadibroto, 2005).

Komplikasi
1. Pertumbuhan Leiomiosarkoma
Yaitu tumor yang tumbuh dari miometrium, dan merupakan 50 – 70 % dari
semua sarkoma uteri. Ini timbul apabila suatu mioma uteri yang selama beberapa
tahun tidak membesar, sekonyong-konyong menjadi besar, apalagi jika hal itu terjadi
sesudah menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Ada kalanya tungkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau
proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan
nekrosis jaringan, dan akan nampak gambaran klinik dari abdomen akut.
3. Nekrosis dan Infeksi
Pada mioma submukosum, yang menjadi polip, ujung tumor kadang-kadang
dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan di vagina. Dalam hal ini ada ada
kemungkinan gangguan sirkulasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.
(Prawiroharjo, 1996)

Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif. Myomectomi yang
extensif dan secara significant melibatkan miometrium atau menembus endometrium,
maka diharuskan SC (Sectio caesarea) pada persalinan berikutnya. Myoma yang kambuh
kembali (rekurens) setelah myomectomi terjadi pada 15-40% pasien dan 2/3-nya
memerlukan tindakan lebih lanjut.
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian tanggal: 14-2-2008 Jam :
Tanggal MRS: 12-2-2008No. RM : 854620
Ruang/Kelas:Dx. Medis: Mioma uteri

Nama Ibu: Ny. JM Nama Suami: Tn. Ruhaidi Ke: I


Identitas

Umur: 41 tahun Umur: 42 tahun


Agama: Islam Agama: Islam
Pendidikan: SMA Pendidikan: SMA
Pekerjaan: Wiraswasta Pekerjaan: Wiraswasta
Suku/Bangsa: Sasak/ WNI Suku/Bangsa: Sasak/WNI
Alamat: Bengkel Timur kecamatan Labu Alamat: Bengkel Timur kecamatan
Labu Api Api
Keluhan Utama:
Gangguan haid sejak 5 tahun SMRS
Riwayat penyakit/prenatal/ intranatal/ postpartum (coret yang tidak perlu) saat ini:
Klien MRS tanggal 12-2-2008 dengan keluhan gangguan haid sejak 5 tahun SMRS.
Dalam sebulan haid sebanyak 1 kali. Setiap haid lamanya 7-20 hari. Setiap hari ganti
pembalut 4 sampai 5 kali. Darah haid berwarna merah kehitaman. Sakit perut saat haid
(-). Riwayat keputihan (-). Klien juga mengeluh rasa penuh dan berat sejak 2 tahun
yang lalu pada perut bagian bawah. Nyeri dan rasa kemeng di daerah perut bagian
bawah. Gangguan BAK berupa BAK sering, sedikit-sedikit, nyeri saat/ sebelum/
sesudah BAK (-). Sulit buang air besar dan nyeri saat BAB (-). Teraba benjolan di
perut (-). Kemudian pasien MRS melalui poli kandungan dan direncanakan untuk
operasi elektif histerektomi.

Penyakit/operasi yang pernah diderita:


- Riwayat abortus (-)
- Riwayat penyakit dahulu (-)
- Riwayat penyakit yang pernah diderita : sakit biasa seperti demam, flu
dan batuk.
- Sebelum MRS pasien pernah memeriksakan kesehatannya di dokter Sp.OG
pada tanggal 17-1-2008 karena gangguan haid. Dari hasil pemeriksaan USG di
dokter Sp.OG tersebut didapatkan uterus membesar dengan ukuran 10 x 7 cm
dan didiagnosis mioma uteri.

Penyakit yang pernah diderita keluarga:


- Riwayat penyakit keluarga : penyakit menular (-), mioma (-), penyakit
keturunan dan kejiwaan (-).
- Riwayat penyakit keganasan pada keluarga (-).

Riwayat alergi: O ya tidak Keterangan: -

Lain-lain:
1. Riwayat penggunaan KB (-), pasien tidak pernah menggunakan KB setelah
hamil anak kedua.

2. Riwayat pernikahan : suami ke I, menikah 1x selama 20 tahun.


Jumlah anak : 2 orang, hidup 2 orang.
Usia anak terkecil : 13 tahun.
Menarche: umur 15 tahun. Siklus: teratur 30 hari sekali
Riwayat Menstruasi Banyaknya: normal (2-3 pembalut/ hari) Lama: 7 hari
HPHT: 11-2-2008 Dismenorhea: -
Usia Kehamilan: - Taksiran Partus: -
Lain-lain:

G....P.................
Riwayat Obstetri

Hamil Usia Jenis Usia anak KB/ Jenis/


Penolong Penyulit BB/PB
ke- kehamilan persalinan saat ini Lama

Keterangan:
Genogram

Keadaan umum: _Baik _ Kesadaran: _Compos Mentis


Observasi

Berat badan: 76_ kg ; Tinggi badan: 165_ cm


Tanda Vital: 120/80 mmHg ; Nadi: 82 x/mnt ; Suhu: 36,30C ; RR: 22x/mnt
CRT: < 2 dtk ; Akral: _hangat ; GCS: _4 5 6
Lain-lain: -

Rambut: hitam
Kepala dan leher

Mata: konjungtiva merah muda ; Sklera jernih_ ; Pupil isokor


O Edema palpebra ; O Penglihatan kabur ; lain-lain: _-
Hidung: O Epistaksis ; lain-lain: _-
Mulut: mukosa bibir _Lembab ; lidah _Normal ; gigi _Normal
Kebersihan mulut: _Baik ; lain-lain: _-
Telinga: gangguan pendengaran: _- ; O Otorhea ; O otalgia ;
O tinitus ; kebersihan: _- ; lain-lain: _-
Cloasma: _- ; Jerawat: _-
O Nyeri telan ; O pembesaran kelenjar tiroid ; O Vena jugularis
Lain-lain: Kepala Normocephali;
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah

Jantung: Irama: _reguler ; S1/S2: _tunggal ; Nyeri dada: _-


Dada (Thoraks)

Bunyi: normal / murmur / gallop ;


Nafas: Suara nafas: vesikuler / wheezing / stridor / Ronchi, Keterangan:
Jenis: dispnoe / kusmaul / ceyne stokes, Keterangan:
Batuk: _- ; Sputum: _- ; Nyeri: _- _ Payudara:
konsistensi normal ; areola _normal ; papilla _menonjol
Simetris/asimetris ; Produksi ASI _normal ; Nyeri _-
Lain-lain: -
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah
 Ginekologi:
Pembesaran: ada / tidak ; benjolan: ada / tidak , area: Fundus uteri 3 jari di atas
simpisis pubis

Ascites: ada / tidak ; Peristaltik: _3 x/mnt ; Nyeri tekan: _-


Luka: _- ; Lain-lain: teraba massa mioma
berukuran 11 x 8 cm,
konsistensi kenyal dan bersifat
mobile; klien mengeluh rasa
penuh dan berat sejak 2 tahun
yang lalu pada perut bagian
bawah. Nyeri dan rasa kemeng
di daerah perut bagian bawah.
 Prenatal dan Intranatal:
Inspeksi: Striae: ; Línea:
Palpasi: Leopold I :
Leopold II :
Leopold III:
Leopold IV:
DJJ:
Lain-lain:
 Postpartum:
Fundus uteri: ; kontraksi uterus:
Luka: ; Lain-lain:
Lain-lain:
Masalah keperawatan: Gangguan rasa nyaman (nyeri)

Keputihan: _- ; Perdarahan: _-
Genitalia

Laserasi: ; VT: Ø ; eff:


Miksi: _BAK sering tapi sedikit sedikit ; Defekasi: _normal
Lain-lain: -
Masalah keperawatan: Gangguan eleminasi urin

Kemampuan pergerakan: bebas / terbatas ; Kekuatan otot: 5 5


Tangan dan kaki

5 5

Refleks: Patella _+ ; Triceps _+ ; Biceps _+__ ; Babinsky: _-


Brudzinsky: _-__ ; Kernig _- Keterangan:
Edema: _- ; Luka: _-
Lain-lain: -
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah
Aspek Sebelum Sesudah
hamil*/melahirkan*/sakit* hamil*/melahirkan*/sakit*
Nutrisi Makan sehari 3 x 1 porsi habis Tidak ada penurunan nafsu
makan
Eliminasi BAK normal sesuai input BAK sering tapi sedikit
Istirahat/tidur Tidur sehari 7 jam Tidur tidak nyenyak karena
nyeri
Aktivitas Bebas beraktivitas Tidak ada penurunan aktivitas
Seksual Belum menikah Belum menikah
Kebersihan Diri Personal hygiene baik Personal hygiene baik
Koping
Ibadah Sholat 5 waktu Sholat 5 waktu
Konsep diri Percaya diri Merasa rendah diri karena
mioma

*) coret yang tidakperlu

Kontrasepsi: -
Pengetahuan dan Perilaku

Perawatan bayi/diri (coret yang tidak perlu): baik


Kesehatan

Merokok: -

Obat-obatan/Jamu: -

Lain-lain: Klien merasa cemas karena perencanaan operasi Histerektomi

Masalah keperawatan: Ansietas


Laboratorium Foto/Radiologi USG Lain-lain
22-01-2008 : - 17-1-2008 : -
Tampak uterus
Hb : 10,4 g/ul
membesar dengan
Leu : 6800 /ul ukuran : 10 x 7 cm
Erit : 5,1.106 /ul
Pemeriksaan Penunjang dan Terapi

Plt : 331.000 /ul


Hct : 32,2 %
LED : 9
HbSAg : (-)
AST : 17 u/l
ALT : 32 u/l
BUN : 19 mg%
Kreatinin
Terapi/ : 0,6 mg%
Tindakan medis:
Konsul anastesi
Rencana untuk dilakukan Total Abdominal Histerektomi (TAH) tanggal 15-2-2008

Surabaya,…………………….
Ners,

( )
FORMAT ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH


DS: Klien mengeluh rasa Pertumbuhan tumor di uterus Gangguan rasa nyaman (nyeri
penuh dan berat sejak 2 tahun akut)
yang lalu pada perut bagian Mendesak jaringan otot
bawah. Nyeri dan rasa sekitar Uterus
kemeng di daerah perut
bagian bawah. Gangguan sirkulasi

Nekrosis
DO:
- Skala nyeri : 4 Inflamasi
- Klien tampak menyeringai
menahan nyeri Nyeri
- Fundus uteri 3 jari di atas
simpisis pubis, teraba
massa mioma berukuran
11 x 8 cm, konsistensi
kenyal dan bersifat mobile.
- USG : Tampak uterus
membesar dengan ukuran :
10 x 7 cm

DS: klien mengeluh susah Mioma berada di dinding Gangguan eleminasi urin
BAK berupa BAK sering, depan uterus
sedikit-sedikit, tapi tidak
nyeri. Hiperplasia endometrium

Tekanan Intra abdomen


DO:
- BAK sering tapi sedikit- menekan kandung kemih
sedikit
- Fundus uteri 3 jari di atas Disuria / retensi urin
simpisis pubis, teraba
massa mioma berukuran
11 x 8 cm, konsistensi
kenyal dan bersifat mobile.

DS: Mioma membesar dan teraba Ansietas


Klien merasa cemas karena terdapat massa
perencanaan operasi
Histerektomi perencanaan operasi
Histerektomi

DO: kurang pengetahuan


- Pasien terlihat gelisah dan
mengeluarkan keringat cemas
dingin
DAFTAR PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN (P-E-S)

1. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan inflamasi karena


penambahan massa dalam uterus

2. Gangguan eleminasi urin berhubungan dengan penekanan kandung kemih oleh mioma

3. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang operasi Histerektomi


FORMAT INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


Tanggal Rencana (Intervensi) Keperawatan Rasional
Keperawatan (P-E-S) Hasil
14-2-2008 Gangguan rasa nyaman Tujuan : 1. Observasi skala nyeri yang dialami 1. Observasi skala nyeri diperlukan
(nyeri akut) berhubungan
Setelah dilakukan tindakan klien (1-10) agar kita dapat mengetahui tingkat
dengan inflamasi karena
penambahan massa dalam keperawatan selama 2x24 jam, nyeri yang dialami klien sehingga
uterus
nyeri klien dapat berkurang atau kita bisa memberikan intervensi yang
hilang. tepat bagi klien
2. Tentukan luas, lokasi, dan intensitas 2. Untuk mengetahui lokasi nyeri yang
Kriteria hasil : nyeri dialami klien, nyeri pada abdomen
1. Skala nyeri (1-10) = 1-3. dapat mengindikasikan kemungkinan
2. RR = 16-24 kali/menit. terjadinya komplikasi
3. Nadi = 80-100 kali/menit. 3. Beri posisi duduk sambil memeluk 3. Dapat memberikan rasa nyaman
Ekspresi klien tidak bantal atau posisi yang dirasa nyaman pada klien
menunjukkan tanda-tanda nyeri
oleh klien
dan tampak rileks.
4. Beri instruksi dalam teknik relaksasi 4. Teknik relaksasi dan nafas dalam
dan teknik nafas dalam dapat meningkatkan rasa nyaman
dan mengurangi tingkat nyeri yang
dialami klien
5. Anjurkan klien untuk menggunakan 5. Kompres hangat dapat
kompres hangat memvasodilatasi pembuluh darah

www.saktyairlangga.wordpress.com Page 20
pada lokasi nyeri sehingga nyeri
dapat berkurang
6. Kolaborasi dalam pemberian 6. Pemberian analgesik sangat
analgesik/nonnarkotik, sedatif, dan diperlukan apabila tingkat nyeri klien
antiemetik, sesuai indikasi bila dalam skala nyeri adalah 7-10,
diperlukan analgesik ini meningkatkan relaksasi,
menurunkan perhatian terhadap
nyeri, dan mengontrol efek samping
tindakan
7. Berikan informasi tentang penggunaan 7. Instruksi khusus tentang penggunaan
analgesik yang diresepkan atau yang obat, meningkatkan kewaspadaan
tidak diresepkan akan keamanan penggunaan dan efek
samping

8. Evaluasi tanda-tanda vital klien 8. Untuk mengetahui kondisi klien


setelah di lakukan intervensi
sehingga dapat menentukan tindakan
selanjutnya
14-2-2008 Gangguan eleminasi urin Tujuan : 1. Catat pola miksi dan monitor 1. Untuk mengetahui kemampuan dan
berhubungan dengan
Setelah dilakukan tindakan pengeluaran urine kondisi klien dalam berkemih
penekanan kandung kemih
oleh mioma keperawatan selama 3x24 jam,
pola eliminasi urin klien dapat 2. Palpasi di atas simfisis pubis 2. Palpasi di atas simfisis pubis dapat
kembali normal. mendeteksi adanya urin dalam
kandung kemih dan derajat
Kriteria hasil : kepenuhan. Pengosongan tidak
1. Urin dapat keluar lancar komplet dari kandung kemih dapat
dengan warna urin kuning terjadi karena penurunan sensasi dan
jernih dan baunya khas tonus
amonia 3. Bandingkan masukan dan haluaran dan 3. Haluaran harus kurang lebih sama
2. Balance cairan Intake = catat jumlah, warna, konsentrasi, dan dengan masukan. Penurunan
Output berat jenis urin haluaran dapat terjadi karena
3. Tidak terdapat tanda- dehidrasi
tanda dehidrasi (mata 4. Kolaborasi dalam kateterisasi sebagai 4. Melancarkan pengeluaran urin bila
tidak cowong, turgor kulit persiapan preoperasi terjadi pengosongan tidak komplet
baik, mukosa lembab, dari kandung kemih dapat terjadi
bibir lembab dan tidak karena penurunan sensasi dan tonus
kering) dan sebagain persiapan pre operasi
5. Perhatikanlah apakah posisi selang 5. Untuk menjaga posisi kateter agar
kateter dalam keadaan baik, monitor pengeluaran urin tidak terhambat
intake autput, bersihkan daerah akibat kesalahan posisi kateter
pemasangan kateter satu kali
dalamsehari, periksa keadaan selang
kateter (kekakuan,tertekuk )
6. Kolaborasi dalam pemberian cairan 6. Untuk membantu mempermudah
perperental dan obat obat untuk perkemihan klien dan meningkatkan
melancarkan urine rasa nyaman klien
7. Evaluasi masukan dan haluaran dan 7. Untuk mengetahui balance cairan
catat jumlah, warna, konsentrasi, dan dan konsentrasi urin, serta
berat jenis urin mengetahui ada tidaknya tanda-tanda
dehidrasi

14-2-2008 Ansietas berhubungan Tujuan : 1. Jelaskan bahwa tindakan histerektomi 1. meningkatkan pengetauan klien
dengan kurang pengetahuan
tentang operasi Setelah dilakukan tindakan abdominal mempunyai kontraindikasi tentang proses pembedahan agar
Histerektomi keperawatan selama 1x24 jam,
yang sedikit tapi membutuhkan waktu tidak terjadi syok
pengetahuan klien tentang
operasi Histerektomi dapat yang lama untuk pulih, menggunakan
bertambah dan kecemasan klien
anatesi yang banyak dan memberikan
berkurang
rasa nyeri yang sangat setelah operasi
Kriteria hasil: 2. Jelaskan efek dari pembedahan terhadap 2. meningkatkan pengetahuan klien
1. Klien mengatakan menstruasi dan ovulasi tentang efek pembedahan terhadap
rasa cemas berkurang kondisi tubuhnya
2. Klien kooperatif terhadap 3. Jelaskan prosedur-prosedur yang harus 3. mempersiapkan kondisi fisik dan
prosedur/ berpartisipasi saat dilakukan saat pre operasi mental pasien dalam menghadapi
pre operasi operasi yang akan dilaksanakan
3. Klien tampak rileks
4. Jelaskan aktivitas yang tidak boleh
4. mencegah terjadinya kecelakaan atau
dilakukan
hal-hal yang tidak diinginkan yang
bisa memperburuk kondisi klien

5. Jelaskan bahwa pengangkatan uterus 5. meningkatkan pengetahuan klien


secara total menyebabkan tidak bisa tentang post op,serta membantu klien
hamil dan menstruasi untuk bisa menerima kondisinya
6. Jika klien memakai therapy 6. untuk meningkatkan pengetahuan
estrogen maka ajari klien : klien tentang terapi estrogen
 Bahwa estrogen itu biasanya sehingga cemas berkurang
diberikan dengan dosis rendah,
dengan sirklus penggunaannya
adalah selama 5 hari kemudian
berhenti selama dua hari begitu
seterusnya sampai umur menopause.
 Diskusi tentang rasional penggunaan
therapy yaitu memberikan rasa
sehatdan mengurangi resiko
osteoporosis
 Jelaskan resiko penggunaan therapy
FORMAT IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan Tanggal Implementasi Tanggal Evaluasi (SOAP) Paraf


dan Jam dan Jam
1. Gangguan rasa nyaman 14-2-2008 1. Mengobservasi skala nyeri yang 14-2-2008
(nyeri akut) berhubungan 16.00 wita 17.00 wita
dengan inflamasi karena dialami klien (1-10)
penambahan massa dalam 2. Menentukan luas, lokasi, dan
uterus
intensitas nyeri
3. Memberi posisi duduk sambil
memeluk bantal atau posisi yang
dirasa nyaman oleh klien
4. Memberi instruksi dalam teknik
relaksasi dan teknik nafas
dalam
5. Menganjurkan klien untuk
menggunakan kompres
hangat
6. Kolaborasi dalam pemberian
analgesik/nonnarkotik, sedatif,
dan antiemetik, sesuai indikasi
bila diperlukan
7. Memberikan informasi tentang
penggunaan analgesik yang diresepkan
atau yang tidak diresepkan
8. Mengevaluasi tanda-tanda vital klien

2. Gangguan eleminasi urin 14-2-2008 1. Mencatat pola miksi dan monitor 14-2-2008
berhubungan dengan 18.00 wita 19.00 wita
penekanan kandung kemih pengeluaran urine
oleh mioma 2. Mempalpasi di atas simfisis pubis
3. Membandingkan masukan dan
haluaran dan catat jumlah,
warna, konsentrasi, dan berat
jenis urin
4. Kolaborasi dalam kateterisasi sebagai
persiapan preoperasi
5. Memperhatikanlah apakah posisi
selang kateter dalam keadaan baik,
monitor intake autput, bersihkan
daerah pemasangan kateter satu kali
dalamsehari, periksa keadaan selang
kateter (kekakuan,tertekuk )

6. Kolaborasi dalam pemberian cairan


perperental dan obat obat untuk
melancarkan urine
7. Mengevaluasi masukan dan haluaran
dan catat jumlah, warna, konsentrasi,
dan berat jenis urin

Ansietas berhubungan dengan 15-2-2008 1. Menjelaskan bahwa tindakan 15-2-2008 S : (-)


kurang pengetahuan tentang 05.00 wita histerektomi abdominal mempunyai 09.00 wita O : K U : Baik
operasi Histerektomi
kontraindikasi yang sedikit tapi Tensi : 140/80
membutuhkan waktu yang lama mmHg Nadi :
untuk pulih, menggunakan anatesi 80x/menit Nafas :
yang banyak dan memberikan rasa 12x/menit Suhu :
nyeri yang sangat setelah operasi 360C
2. Menjelaskan efek dari pembedahan Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-)
terhadap menstruasi dan ovulasi Thorak : Cor□ S1, S2 tunggal,
3. Menjelaskan prosedur-prosedur yang reguler, murmur (-)
harus dilakukan saat pre operasi Pulmo□ vesikuler-/-, rhonki-/-,
4. Menjelaskan aktivitas yang wheezing-/-
tidak boleh dilakukan A : Mioma Uteri
5. Menjelaskan bahwa pengangkatan P : • Temuan Operasi : Uterus
uterus secara total menyebabkan tidak b/c∞ 12-14 minggu,Tuba kanan dan
bisa hamil dan menstruasi kiri dalam batas normal
6. Mengajari klien : • Tindakan Operasi : Total Abdominal
 Bahwa estrogen itu biasanya Histerektomi (TAH) & memasang
diberikan dengan dosis rendah, drainage
dengan sirklus penggunaannya - Kaltrofen 3 x 1 ampul
adalah selama 5 hari kemudian - Transamin 3 x 1 ampul
berhenti selama dua hari begitu
seterusnya sampai umur
menopause.
 Diskusi tentang rasional
penggunaan therapy yaitu
memberikan rasa sehatdan
mengurangi resiko osteoporosis
 Menjelaskan resiko penggunaan
therapy
PENUTUP
Kesimpulan
Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang tumbuh dalam otot uterus. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35-45 tahun (kurang lebih 25%)
dan jarang pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause. Salah satu gejala yang paling sering pada mioma uteri adalah menometroragia. Diagnosis pasti mioma
uteri dengan USG dan penanganan mioma uteri adalah dengan konservatif dan operatif. Keluhan utama hiperplasia endometrium adalah perdarahan uterus
abnormal, penatalaksanaan hiperplasia endometrium, salah satunya curettage bertingkat. Curettage bertingkat sangat bermanfaat dalam menentukan diagnosis dan
terapi.
Saran
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan patologi anatomi karena sangat bermanfaat dalam menentukan diagnosis dan terapi selanjutnya, memperbaiki gaya hidup,
dan usahakan selalu rutin kontrol ke dokter spesialis untuk mencegah komplikasi tindakan dan perkembangan penyakit yang diderita.
DAFTAR PUSTAKA

Thomas EJ. The aetiology and pathogenesis of fibroid. In: Shaw RW.eds. Advances in reproductive endocrinology uterine fibroids. England-New Jersey. The
Phartenon Publishing Group. 1992; 1-8

Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH. Dalam: Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI, 2003;
151-156

Lepine L, Hillis S, Marchbanks P, et al. Hysterectomy surveilances United States 1980-1993. MMWR Mortal Morbid Wkly Rep. CDC Surveill Summ. 1997; 46:
1-15

Prawirohardjo, S. 2000. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Anonim. 2009. Teori Tentang Mioma Uteri. Diakses di http://spesialis-torch.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=225 pada tanggal 3 Oktober
2011 pukul 20.00

Anonim. Konsep Dasar Mioma Uteri. Diakses di http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-ariastuti0-5245-1-babi.pdf pada tanggal 4 Oktober 2011
pukul 06.30

Moorhouse, Mary. Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana perawatan Maternal Bayi. Edisi 2. Jakarta ; EGC

Vanessa, I Dewa Ayu. 2008. Laporan Kasus Mioma Uteri. Mataram : FK UNRAM. Diakses di 2011 pukul 09.30
Galle, Danielle. Charette, Jane.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta ; EGC
WOC MIOMA UTERI
Teori stimulasi : Hormon esterogen Teori cellnest atau Predisposisi
Faktor genitoblas : Genetik ( esterogen, progesteron, GH), umur, paritas, ras, genetik, dan fungsi ovarium.

ng kali tumbuh lebih cepat


Sel-sel
padaotot
masa
imatur
hamil,
yang
mengalami
terdapat atrofi
pada cell
sesudah
nest yang
menopause
selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen

Inaktivasi supressor gen p53 , aktivasi protoonkogen

Perubahan alel tunggal

Mutasi sel

Merusak protein G dan aktifitas GTPase

Konsentrasi c AMP meningkat

Sekresi hormon pertumbuhan berlebihan


Sel tumbuh tanpa terkendali (abnormal)
Mioma Uteri

Mioma submukosa Mioma intramural Mioma subserosa Mioma intraligamenter

bawah endometrium dan menonjol ke


Terdapat
dalam rongga
di dinding
uterus
uterus di antara serabut
Mioma
miometrium
tumbuh keluar dinding uterus hingga lapisan serosa
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum

Pertumbuhan tumor di uterus Mioma


Hiperplasia Endometrium Permukaan endometrium yang berada di dinding depanMioma
meluas uterusmembesar dan teraba terdapat massa
Atrofi endometrium

Mendesak jaringan otot sekitar Uterus


Hiperplasia endometrium Kurang pengetahuan
Terjadi ulserasi

Gangguan sirkulasi Tekanan Intra abdomen MK : ansietas


Menoragia,metroragia

Nekrosis Pecahnya pembuluh darah


menekan kandung kemih

Inflamasi Perdarahan abnormal


Disuria
Dismenore
MK : PK MK: Gangguan Eliminasi Urine
MK : Gg rasa nyaman / nyeri w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o mPage 33
Perdarahan
/ Post operasi
Pre operasi

Luka pembedahan Kurang pengetahuan dampak operasi


Peningkatan masa
Peningkatan Perlawanan pada neoplasma
Perlawanan pada Puasa pra operasi
Puasa pra
masa neoplasma operasi

Pertahanan tubuh tidak Kerusakan jaringan s.saraf


Pembesaran uterus
Pembesaran Pertahanan tubuhadekuat
Membran mukosa kering
Membran
tidak adekuat mukosa kering perdarahan MK : ansietas
uterus

Risiko
Kerusakan sensorik dan kelumpuhan saraf
nyeri
Penyempitan saraf simpatis Risiko
Penyempitan Risiko infeksi
infeksi anorexia
anorexia kekurangan
volume Retensi Urin
saraf simpatis
cairan

nyeri Intoleransi aktivitas


Intoleransi
nyeri
aktivitas
www.saktyairlangga.wordpress.com Page 34

Anda mungkin juga menyukai