Motivasi Belajar dan Peran Guru
Motivasi Belajar dan Peran Guru
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“MOTIVASI DALAM BELAJAR”
OLEH :
KELOMPOK 4 :
2019
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat serta karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul “Motivasi
Dalam Belajar” ini menjelaskan tentang pentingnya motivasi dalam belajar.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat di kehidupan masyarakat baik bagi penulis maupun
pembaca. Selesainya penulisan makalah ini semata-mata berkat bantuan dari berbagai pihak, yang
telah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk kepada penulis. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu
penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca, guna menyempurnakan makalah ini.
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................2
2.1 Pengertian Motivasi...............................................................................................................2
2.2 Fungsi Motivasi.....................................................................................................................3
2.3 Teori-teori Motivasi Dalam Belajar........................................................................................6
2.4 Upaya Guru Untuk Meningkatkan Motivasi Dalam Belajar..................................................9
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................11
3.1 Kesimpulan................................................................................................................................11
3.2 Saran..........................................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................12
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar. Apabila guru dan orang
tua dapat memberikan motivasi yang baik pada siswa atau anaknya, maka dalam diri siswa atau
anak akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Memberikan motivasi yang baik
dan sesuai, maka anak dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai
dengan belajar tersebut. Motivasi belajar juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar,
terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negative dari luar diri siswa.
Selanjutnya dapat membentuk kebiasaan siswa senang belajar, sehingga prestasi belajarnya pun
dapat meningkat.
Pada hakekatnya inti dari pendidikan di sekolah adalah proses belajar mengajar. Semua
pihak yang tersangkut di dalamnya, baik kepala sekolah, guru, konselor, siswa, petugas lainnya
maupun orang tua siswa sangat mengharpkan terjadinya proses belajar mengajar yang optimal.
Terjadinya proses belajar yang optimal, diharapkan siswa akan mampu meraih prestasi yang
tinggi. Untuk itu, selain senantiasa menyempurnakan sistem pengajarannya, disekolah juga
mengupayakan terjadinya motivasi belajar.
Motivasi dalam belajar memiliki fungsi serta dilandasi oleh teori – teori yang mendukung
agar siswa memiliki motivasi dalam belajar. Oleh karena itu kami membahas tentang apa saja
fungsi teori – teori motivasi dalam belajar, serta bagaimana peranan guru dalam meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian motivasi dalam belajar?
2. Apa saja fungsi motivasi dalam belajar?
3. Apa saja teori-teori motivasi dalam belajar?
4. Bagaimana upaya guru untuk meningkatkan motivasi dalam belajar?
1.3 Tujuan
2. Menjelaskan pengertian motivasi dalam belajar.
3. Menjelaskan fungsi motivasi dalam belajar.
4. Menjelaskan teori-teori motivasi dalam belajar.
5. Menjelaskan upaya guru untuk meningkatkan motivasi dalam belajar.
1
BAB II
PEMBAHASAN
c. Kondisi pemelajar. Hal ini bisa terlihat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis pemelajar.
Pada kondisi fisik ada hubungannya dengan motivasi bisa dilihat dari keadaan fisik seseorang.
Apabila kondisi psikis seseorang sedang tidak bagus maka motivasi pun akan menurun.
e. Unsur-unsur dinamis belajar atau pembelajaran. Faktor dinamisasi belajar dapat diamati pada
sejauh mana upaya memotivasi si pemelajar dilakukan, bagaimana juga dengan bahan
pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar dan sebagainya.
Menurut Muhidin Syah (1995:108-115), ada 2 faktor yang berperan dalam mempengaruhi motivasi
belajar siswa yaitu :
1. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang berupa sikap,
kepribadian, pendidikan, pengalaman dan cita-cita.
2
2. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri yang terdiri dari :
a. Lingkungan sosial, yang meliputi lingkungan masyarakat, tetangga, teman, orangtua/keluarga
dan teman sekolah.
b. Lingkungan non sosial meliputi keadaan gedung sekolah, letak sekolah, jarak tempat tinggal
dengan sekolah, alat-alat belajar, kondisi ekonomi orangtua dan lain-lain.
b. Motivasi aspirasi
3
Yaitu motivasi yang tinggi tumbuh dengan subur kalau pelajar memiliki perasaan
sukses. Perasaan gagal dapat menghancurkan aspirasi pelajar dalam belajar. Oleh kerana itu
guru jangan menjadikan pelajar selalu gagal, walaupun ini bukan bermakna guru harus
menjadikan pelajar sukses terus menerus. Suatu konsep yang harus ditanam oleh guru kepada
pelajar agar ia memiliki aspirasi yang tinggi adalah bahawa kesuksesan atau kegagalan
ditentukan oleh ‘usaha’, bukan oleh kemampuan atau kecerdasan.
c. Motivasi Persaingan
Persaingan yang sehat dapat menjadi motivasi yang kuat dalam belajar. Namun
memupuk rasa persaingan yang berlebih-lebihan, di kalangan pelajar dalam belajar dapat
menimbulkan persaingan yang tidak sihat, kerana pelajar bukan menjadi giat belajar, tetapi
dengan berbagai cara berusaha mengalahkan pelajar lain untuk mendapatkan status.
Membangun persaingan dengan diri sendiri pada setiap pelajar akan menimbulkan motivasi
persaingan yang sihat dan berkesan dalam belajar.
d. Motivasi afiliasi
Motivasi afilisi adalah dorongan untuk melaksanakan kegiatan belajar dengan sebaik-
baiknya, kerana ingin diterima dan diakui oleh orang lain. Pelajar-pelajar yang masih kecil
berusaha meningkatkan usaha dan prestasi dalam belajar agar dia dapat diterima dan diakui
oleh orang dewasa, iaitu guru dan ibu bapanya. Namun para remaja lebih terdorong belajar
untuk mendapatkan penerimaan dan perakuan dari rakan sebaya. Oleh kerana itu, guru-guru
yang mengajar pelajar-pelajar yang masih kecil hendaknya memberikan perhatian dan
penghargaan yang penuh terhadap peningkatan usaha dan hasil belajar yang ditampilkan oleh
pelajar. Bagi pelajar remaja, guru hendaknya dapat memanfaatkan kelompok untuk
meningkatkan usaha dan prestasi belajar ahli kelompok.
e. Motivasi kecemasan
Kecemasan dapat mendorong usaha dan hasil belajar. Tetapi kecemasan yang
berlebihan dapat menurunkan keghairahan dan hasil belajar. Pelajar yang telah memiliki
motivasi yang tinggi dalam belajar jika mengalami kecemasan dapat menurunkan
motivasinya itu. Demikian juga dengan pelajar-pelajar yang memiliki kecerdasan (IQ) rendah
kalau mengalami kecemasan menyebabkan usaha dan hasil belajar mereka menjadi
bertambah merosot. Tetapi kecemasan sangat berkesan untuk meningkatkan usaha dan hasil
belajar pelajar yang bermotivasi rendah dan yang memiliki kecerdasan tinggi.
f. Motivasi penguatan
Motivasi penguat dapat ditimbulkan melalui diagram kemajuan belajar murid,
memberikan komentar pada setiap kertas tugas, ujian dan peperiksaan pelajar dan
4
memberikan penghargaan. Guru hendaklah menjauhi pemahaman bahawa pemberian angka
sebagai sumber utama untuk menimbulkan motivasi penguatan, kerana menitik-beratkan
pemberian angka dalam memotivasi pelajar dapat menimbulkan persaingan yang tidak sihat
dan akan menimbulkan kecemasan di dalam kelas.
Telaah dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli di atas dapat diambil
intisari bahwa motivasi intrinsik merupakan suatu bentuk motivasi dari dalam diri individu
5
dalam menyikapi suatu tugas dan pekerjaan yang diberikan kepa individu dan membuat tugas
dan pekerjaan tersebut mampu memberikan kekuatan batin bagi individu sendiri. ( M. Nur
Ghufron, dkk, Teori-teori Psiologi, 2011: 86-87)
6
individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan
tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer
merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi),
R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan
akan pertumbuhan)
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara
konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan
Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam
teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut
konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut
Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu
diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan
tampak bahwa :
7
Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk
memuaskannya;
Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila
kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar
keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman
motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari
motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong
berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang
dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik
yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan
seseorang.
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam
mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan
mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang
strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model
instruktif tentang penetapan tujuan.
Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika
seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang
bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya,
8
jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan
menjadi rendah.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam
arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha
mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai
kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan
para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan
dengan prestasi seseorang individu .
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar
siswa, sebagai berikut:
a. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar hendaknya
seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai
siswa. Tidak cukup sampai di situ saja, tapi guru juga bisa memberikan penjelasan tentang
pentingnya ilmu yang akan sangat berguna bagi masa depan seseorang, baik dengan norma
agama maupun sosial. Makin jelas tujuan, maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b. Hadiah. Berikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu
siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang belum berprestasi akan
termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli siswa yang telah berprestasi. Hadiah di
sini tidak perlu harus yang besar dan mahal, tapi bisa menimbulkan rasa senag pada murid,
sebab merasa dihargai karena prestasinya. Kecuali pada setiap akhir semester, guru bisa
memberikan hadiah yang lebih istimewa (seperti buku bacaan) bagi siswa ranking 1-3.
c. Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai
sebelumnya.
d. Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
Tentunya pujian yang bersifat membangun. Bisa dimulai dari hal yang paling kecil seperti,
“beri tepuk tangan bagi si Budi…”, “kerja yang bagus…”, “wah itu kamu bisa…”.
e. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar
mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan
berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman di sini hendaknya yang mendidik, seperti
menghafal, mengerjakan soal, ataupun membuat rangkuaman. Hendaknya jangan yang
9
bersifat fisik, seperti menyapu kelas, berdiri di depan kelas, atau lari memutari halaman
sekolah. Karena ini jelas akan menganggu psikis siswa.
f. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan
memberikan perhatian maksimal ke peserta didik, khususnya bagi mereka yang secara
prestasi tertinggal oleh siswa lainnya. Di sini guru dituntut untuk bisa lebih jeli terhadap
kondisi anak didiknya. Ingat ini bukan hanya tugas guru bimbingan konseling (BK) saja, tapi
merupakan kewajiban setiap guru, sebagai orang yang telah dipercaya orang tua siswa untuk
mendidik anak mereka.
g. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ajarkan kepada siswa cara belajar yang baik,
entah itu ketika siswa belajar sendiri maupun secara kelompok. Dengan cara ini siswa
diharapkan untuk lebih termotivasi dalam mengulan-ulang pelajaran ataupun menambah
pemahaman dengan buku-buku yang mendukung.
h. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Ini bisa
dilakukan seperti pada urutan ke f.
i. Menggunakan metode yang bervariasi. Guru hendaknya memilih metode belajar yang tepat
dan berfariasi, yang bisa membangkitkan semangat siswa, yang tidak membuat siswa merasa
jenuh, dan yang tak kalah penting adalah bisa menampung semua kepentingan siswa. Sperti
Cooperative Learning, Contectual Teaching & Learning (CTL), Quantum Teaching, PAKEM,
mapun yang lainnya. Karena siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda satu sama
lainnya. Ada siswa yang hanya butuh 5 menit untuk memahami suatu materi, tapi ada siswa
yang membutuhkan 25 menit baru ia bisa mencerna materi. Itu contoh mudahnya. Semakin
banyak metode mengajar yang dikuasai oleh seorang guru, maka ia akan semakin berhasil
meningkatkan motivasi belajar siswa.
j. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Baik itu media
visual maupun audio visual.
10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Motivasi adalah usaha yang didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah seseorang agar
ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Fungsi motivasi dalam belajar diantaranya adalah mendorong manusia untuk berbuat,
menentukan arah perbuatan, menyeleksi perbuatan, mendorong timbulnya tingkah laku atau
perbuatan, motivasi berfungsi sebagai pengarah, motivasi berfungsi sebagai penggerak cepat atau
lambatnya suatu pekerjaan.
Teori – teori motivasi dalam belajar adalah Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan),
Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi), Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG), Teori
Herzberg (Teori Dua Faktor), Teori penetapan tujuan (goal setting theory), Teori Victor H.
Vroom (Teori Harapan ), Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi
Upaya guru meningkatkan motivasi siswa dalam belajar adalah menjelaskan tujuan belajar ke
peserta didik, hadiah, saingan/kompetisi, pujian, hukuman, membangkitkan dorongan kepada
anak didik untuk belajar, membentuk kebiasaan belajar yang baik, membantu kesulitan belajar
anak didik secara individual maupun kelompok, menggunakan metode yang bervariasi,
menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
3.2 Saran
Motivasi dalam belajar sangat penting untuk di pelajari oleh peserta didik karena dari situlah
mereka bisa memahami apa fungsi motivasi dalam belajar serta mereka dapat termotivasi untuk
belajar. Oleh sebab itu penulis menyarankan makalah ini dibaca dan dipelajari dengan baik serta
dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
11
DAFTAR PUSTAKA
12