0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan15 halaman

Motivasi Belajar dan Peran Guru

Makalah ini membahas tentang motivasi dalam belajar. Motivasi dijelaskan sebagai usaha untuk mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak demi mencapai tujuan. Fungsi motivasi antara lain mendorong, mengarahkan, dan memilih tindakan. Teori-teori motivasi meliputi teori kebutuhan, teori atribusi, dan teori harapan-hasil. Guru dapat meningkatkan motivasi dengan member
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan15 halaman

Motivasi Belajar dan Peran Guru

Makalah ini membahas tentang motivasi dalam belajar. Motivasi dijelaskan sebagai usaha untuk mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak demi mencapai tujuan. Fungsi motivasi antara lain mendorong, mengarahkan, dan memilih tindakan. Teori-teori motivasi meliputi teori kebutuhan, teori atribusi, dan teori harapan-hasil. Guru dapat meningkatkan motivasi dengan member
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“MOTIVASI DALAM BELAJAR”

OLEH :

KELOMPOK 4 :

1. Aisyah Amini (18029056)


2. Rania Insyara (18029114)
3. Suci Ramadani (18029118)
4. Silvia Hanifah Rahma (18029168)
5. Syafira Wati (18029171)
6. Arinda Nahdah Kurnia (18052042)

Dosen Pengampu : Dr.Marlina,S.Pd.,M.Si

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat serta karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah yang berjudul “Motivasi
Dalam Belajar” ini menjelaskan tentang pentingnya motivasi dalam belajar.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat di kehidupan masyarakat baik bagi penulis maupun
pembaca. Selesainya penulisan makalah ini semata-mata berkat bantuan dari berbagai pihak, yang
telah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk kepada penulis. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu
penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca, guna menyempurnakan makalah ini.

Padang, November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................2
2.1 Pengertian Motivasi...............................................................................................................2
2.2 Fungsi Motivasi.....................................................................................................................3
2.3 Teori-teori Motivasi Dalam Belajar........................................................................................6
2.4 Upaya Guru Untuk Meningkatkan Motivasi Dalam Belajar..................................................9
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................11
3.1 Kesimpulan................................................................................................................................11
3.2 Saran..........................................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................12

ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Motivasi memegang peranan yang penting dalam proses belajar. Apabila guru dan orang
tua dapat memberikan motivasi yang baik pada siswa atau anaknya, maka dalam diri siswa atau
anak akan timbul dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Memberikan motivasi yang baik
dan sesuai, maka anak dapat menyadari akan manfaat belajar dan tujuan yang hendak dicapai
dengan belajar tersebut. Motivasi belajar juga diharapkan mampu menggugah semangat belajar,
terutama bagi para siswa yang malas belajar sebagai akibat pengaruh negative dari luar diri siswa.
Selanjutnya dapat membentuk kebiasaan siswa senang belajar, sehingga prestasi belajarnya pun
dapat meningkat.
Pada hakekatnya inti dari pendidikan di sekolah adalah proses belajar mengajar. Semua
pihak yang tersangkut di dalamnya, baik kepala sekolah, guru, konselor, siswa, petugas lainnya
maupun orang tua siswa sangat mengharpkan terjadinya proses belajar mengajar yang optimal.
Terjadinya proses belajar yang optimal, diharapkan siswa akan mampu meraih prestasi yang
tinggi. Untuk itu, selain senantiasa menyempurnakan sistem pengajarannya, disekolah juga
mengupayakan terjadinya motivasi belajar.
Motivasi dalam belajar memiliki fungsi serta dilandasi oleh teori – teori yang mendukung
agar siswa memiliki motivasi dalam belajar. Oleh karena itu kami membahas tentang apa saja
fungsi teori – teori motivasi dalam belajar, serta bagaimana peranan guru dalam meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian motivasi dalam belajar?
2. Apa saja fungsi motivasi dalam belajar?
3. Apa saja teori-teori motivasi dalam belajar?
4. Bagaimana upaya guru untuk meningkatkan motivasi dalam belajar?
1.3 Tujuan
2. Menjelaskan pengertian motivasi dalam belajar.
3. Menjelaskan fungsi motivasi dalam belajar.
4. Menjelaskan teori-teori motivasi dalam belajar.
5. Menjelaskan upaya guru untuk meningkatkan motivasi dalam belajar.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Motivasi


Motivasi adalah usaha yang didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah seseorang agar
ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Menurut Sartain (Purwanto, 1990: 61) mengatakan bahwa pada umumnya suatu motivasi atau
dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan
tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive). Dari pernyataan Sartain di
atas bahwa motivasi timbul karena adanya tujuan yang merupakan perangsang untuk
mengarahkan tingkah laku seseorang dalam melakukan sesuatu hal.
Dalam buku belajar dan pembelajaran Ali Imron (1996) mengemukakan ada enam unsur atau
faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran. Yaitu :
a. Cita-cita atau aspirasi pembelajar. Cita-cita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
motivasi belajar. Hal ini bisa diamati dari banyaknya kenyataan motivasi seorang pemelajar
menjadi begitu tinggi ketika ia sebelumnya sudah memiliki cita-cita.

b. Kemampuan pemelajar. Manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, karena itu


sering terlihat seseorang memiliki kemampuan di bidang tertentu belum tentu memiliki
kemampuan di bidang lainnya.

c. Kondisi pemelajar. Hal ini bisa terlihat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis pemelajar.
Pada kondisi fisik ada hubungannya dengan motivasi bisa dilihat dari keadaan fisik seseorang.
Apabila kondisi psikis seseorang sedang tidak bagus maka motivasi pun akan menurun.

d. Kondisi lingkungan pemelajar. Kondisi lingkungan pemelajar menjadi factor yang


mempengaruhi motivasi bisa diamati dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang
mengitari si pembelajar.

e. Unsur-unsur dinamis belajar atau pembelajaran. Faktor dinamisasi belajar dapat diamati pada
sejauh mana upaya memotivasi si pemelajar dilakukan, bagaimana juga dengan bahan
pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar dan sebagainya.
Menurut Muhidin Syah (1995:108-115), ada 2 faktor yang berperan dalam mempengaruhi motivasi
belajar siswa yaitu :

1. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang berupa sikap,
kepribadian, pendidikan, pengalaman dan cita-cita.

2
2. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri yang terdiri dari :
a. Lingkungan sosial, yang meliputi lingkungan masyarakat, tetangga, teman, orangtua/keluarga
dan teman sekolah.
b. Lingkungan non sosial meliputi keadaan gedung sekolah, letak sekolah, jarak tempat tinggal
dengan sekolah, alat-alat belajar, kondisi ekonomi orangtua dan lain-lain.

2.2 Fungsi Motivasi


Fungsi motivasi dalam pembelajaran diantaranya :
Menurut Sardiman (2007:85), fungsi motivasi ada tiga, yaitu:
a. Mendorong manusia untuk berbuat, motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari
setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b. Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai, sehingga motivasi
dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan
tujuannya.
c. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakanyang
serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat
bagi tujuan tersebut.

Menurut Hamalik (2000:175) ada tiga fungsi motivasi, yaitu:


a. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu
perbuatan misalnya belajar.
b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan
yang diinginkan.
c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar
kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Berikut ini ada beberapa jenis-jenis motivasi yaitu :


1. Berdasarkan Arahnya :
a. Motivasi Tugas
Motivasi tugas adalah motivasi yang ditimbulkan oleh tugas-tugas yang ditetapkan
sama ada oleh guru, murid sendiri, mahupun yang dirancangkan oleh guru dan murid secara
bersama-sama. Pelajar yang memiliki motivasi tugas memperlihatkan keterlibatan dan
ketekunan yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar. Motivasi tugas hendaklah
dibangun di dalam diri pelajar dan ini dapat dilakukan oleh guru kalau dia mengetahui cara-
caranya.

b. Motivasi aspirasi

3
Yaitu motivasi yang tinggi tumbuh dengan subur kalau pelajar memiliki perasaan
sukses. Perasaan gagal dapat menghancurkan aspirasi pelajar dalam belajar. Oleh kerana itu
guru jangan menjadikan pelajar selalu gagal, walaupun ini bukan bermakna guru harus
menjadikan pelajar sukses terus menerus. Suatu konsep yang harus ditanam oleh guru kepada
pelajar agar ia memiliki aspirasi yang tinggi adalah bahawa kesuksesan atau kegagalan
ditentukan oleh ‘usaha’, bukan oleh kemampuan atau kecerdasan.

c. Motivasi Persaingan
Persaingan yang sehat dapat menjadi motivasi yang kuat dalam belajar. Namun
memupuk rasa persaingan yang berlebih-lebihan, di kalangan pelajar dalam belajar dapat
menimbulkan persaingan yang tidak sihat, kerana pelajar bukan menjadi giat belajar, tetapi
dengan berbagai cara berusaha mengalahkan pelajar lain untuk mendapatkan status.
Membangun persaingan dengan diri sendiri pada setiap pelajar akan menimbulkan motivasi
persaingan yang sihat dan berkesan dalam belajar.

d. Motivasi afiliasi
Motivasi afilisi adalah dorongan untuk melaksanakan kegiatan belajar dengan sebaik-
baiknya, kerana ingin diterima dan diakui oleh orang lain. Pelajar-pelajar yang masih kecil
berusaha meningkatkan usaha dan prestasi dalam belajar agar dia dapat diterima dan diakui
oleh orang dewasa, iaitu guru dan ibu bapanya. Namun para remaja lebih terdorong belajar
untuk mendapatkan penerimaan dan perakuan dari rakan sebaya. Oleh kerana itu, guru-guru
yang mengajar pelajar-pelajar yang masih kecil hendaknya memberikan perhatian dan
penghargaan yang penuh terhadap peningkatan usaha dan hasil belajar yang ditampilkan oleh
pelajar. Bagi pelajar remaja, guru hendaknya dapat memanfaatkan kelompok untuk
meningkatkan usaha dan prestasi belajar ahli kelompok.

e. Motivasi kecemasan
Kecemasan dapat mendorong usaha dan hasil belajar. Tetapi kecemasan yang
berlebihan dapat menurunkan keghairahan dan hasil belajar. Pelajar yang telah memiliki
motivasi yang tinggi dalam belajar jika mengalami kecemasan dapat menurunkan
motivasinya itu. Demikian juga dengan pelajar-pelajar yang memiliki kecerdasan (IQ) rendah
kalau mengalami kecemasan menyebabkan usaha dan hasil belajar mereka menjadi
bertambah merosot. Tetapi kecemasan sangat berkesan untuk meningkatkan usaha dan hasil
belajar pelajar yang bermotivasi rendah dan yang memiliki kecerdasan tinggi.

f. Motivasi penguatan
Motivasi penguat dapat ditimbulkan melalui diagram kemajuan belajar murid,
memberikan komentar pada setiap kertas tugas, ujian dan peperiksaan pelajar dan

4
memberikan penghargaan. Guru hendaklah menjauhi pemahaman bahawa pemberian angka
sebagai sumber utama untuk menimbulkan motivasi penguatan, kerana menitik-beratkan
pemberian angka dalam memotivasi pelajar dapat menimbulkan persaingan yang tidak sihat
dan akan menimbulkan kecemasan di dalam kelas.

g. Motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri


Motivasi ini sangat berkesan dalam meningkatkan motivasi pelajar dalam belajar.
Pelajar-pelajar ini menunjukkan tingkah laku yang mandiri dalam belajar dan mempunyai
sistem nilai yang baik yang melatar-belakangi tingkah laku mereka itu. Pembentukan sistem
nilai-nilai yang menjadi tanggung jawab guru pada setiap pelajar, sehingga pelajar-pelajar
memiliki motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri adalah sangat penting. Bagi pelajar-pelajar
yang telah memiliki motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri, guru hanya perlu memberikan
pelayanan yang sesuai dengan tuntutan aktiviti belajar mereka.

2. Berdasarkan faktor pembangkitnya:


a. Motivasi internal (intrinsik)
Motivasi internal (intrinsik) adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang
dikarenakan orang tersebut senang melakukannya. Sebagai ilustrasi, seorang siswa membaca
sebuah buku, karena ia ingin mengetahui kisah seorang tokoh, bukan karena tugas sekolah.
Motivasi memang mendorong terus, dan memberi energi pada tingkah laku. Setelah siswa
tersebut menamatkan sebuah buku maka ia mencari buku lain untuk memahami tokoh yang
lain. Keberhasilan membaca sebuah buku akan menimbulkan keinginan baru untuk membaca
buku yang lain. Dalam hal ini, motivasi intrinsik tersebut telah mengarah pada timbulnya
motivasi berprestai.

Lepper dan Ryan menjelaskan bahwa motivasi intrinsik didefisinikan sebagai


ketertarikan  dan kenyamanan di dalam melakukan aktivitas di dalam pekerjaan itu sendiri,
sedangkan Hirst (1988) mengatakan bahwa motivasi intrinsik adalah keyakinan individu
tentang tingkat, yang mana sesuatu aktiviatas dapat dilakukan dengan nyaman dan atas dasar
keinginan diri sendiri. Konsep dari motivasi intrinsik tidak hanya ada pada definisi praktisnya,
tetapi konsep motivasi intrinsik juga masuk dalam teori-teori utama di dalam motivasi kerja,
seperti teori hierarkinya Maslow yang menyatakan babwa motivasi intrinsik ada di dalam
hierarki yang   paling tinggi, yaitu aktualisasi diri. Pendapat ahli lain mengenai motivasi
intrinsik dikemukakan oleh Beach (1980). Ia mengatakan bahwa motivasi intrinsik sebagai
suatu hal yang terjadi ketika seseorang menikmati suatu aktivitas dan memperoleh kepuasan
selama melakukan tugas dari aktivitas tersebut.

Telaah dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli di atas dapat diambil
intisari bahwa motivasi intrinsik merupakan suatu bentuk motivasi dari dalam diri individu

5
dalam menyikapi suatu tugas dan pekerjaan yang diberikan kepa individu dan membuat tugas
dan pekerjaan tersebut mampu memberikan kekuatan batin bagi individu sendiri. ( M. Nur
Ghufron, dkk, Teori-teori Psiologi, 2011: 86-87)                                    

b.   Motivasi eksternal (ekstrinsik)


Motivasi ekternal (ekstrinsik) adalah dorongan terhadap perilaku seseorang tang ada di
luar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu, karena dorongan dari luar seperti
adanya hadiah dan menghindari hukuman. Sebagai ilustrasi, seorang siswa kelas satu SMP
belum mengetahui tujuan belajar di SMP. Semula ia hanya ingign ikut-ikutan belajar di SMP
karena teman sebayanya juga belajar di SMP. Berkat penjelasan wali kelas satu SMP, ssiswa
memahami faedah belajar di SMP bagi dirinya. Siswa tersebut belajar dengan giat dan
bersemangat. Hasil belajar siswa tersebut sangat baik, dan ia berhasil lulus SMP dengan NEM
sangat baik. Ia menyadari pentingnya belajar dan melanjutkan pelajaran di SMA.Di SMA ia
belajar dengan penuh semangat karena ia ingin masuk AKABRI. Berkat ketekunan dan
semangat belajarnya maka ia lulus SMA dengan nilai sangat baik, dan diterima  di AKABRI.
Dalam contoh tersebut, motivasi ekstrinsik membuat siswa yang belajar dengan
tujuannya sendiri, berkat informasi guru. Selanjutnya siswa menyadari pentingnya belajar, dan
ia belajar bersungguh-sungguh penuh semangat. Dalam hal ini motivasi ekstrinsik dapat
berubah menjadi motivasi instrinsik, yaitu pada saat siswa menyadari pentingnya belajar, dan
ia belajar dengan sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain. (Dimyati, dkk, Belajar dan
Pembelajaran, 2009: 91)

2.3 Teori-teori Motivasi Dalam Belajar


a) Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada
pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : (1) kebutuhan
fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa
aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan
intelektual; (3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem
needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi
diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan
potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-


kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan
primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas
dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan
intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan

6
individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan
tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

b) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)


Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for
Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan
kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan
kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan
yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-
ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi
yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak
untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan
kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”

Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers)


memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan
derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena
upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya;
dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan
dengan mereka yang berprestasi rendah.

c) Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)

Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer
merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi),
R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan
akan pertumbuhan)

Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara
konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan
Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam
teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut
konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut
Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu
diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan
tampak bahwa :

7
 Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk
memuaskannya;
 Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila
kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
 Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar
keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.

d) Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)

Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman
motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari
motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.

Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong
berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang
dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik
yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan
seseorang.

e) Teori penetapan tujuan (goal setting theory)

Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam
mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan
mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang
strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model
instruktif tentang penetapan tujuan.

f) Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )

Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation”


mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini,
motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang
bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya,
apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk
memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.

Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika
seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang
bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya,

8
jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan
menjadi rendah.

g) Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi

Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam
arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha
mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai
kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan
para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan
dengan prestasi seseorang individu .

2.4 Upaya Guru Untuk Meningkatkan Motivasi Dalam Belajar

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar
siswa, sebagai berikut:
a. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar hendaknya
seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai
siswa. Tidak cukup sampai di situ saja, tapi guru juga bisa memberikan penjelasan tentang
pentingnya ilmu yang akan sangat berguna bagi masa depan seseorang, baik dengan norma
agama maupun sosial. Makin jelas tujuan, maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b. Hadiah. Berikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu
siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang belum berprestasi akan
termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli siswa yang telah berprestasi. Hadiah di
sini tidak perlu harus yang besar dan mahal, tapi bisa menimbulkan rasa senag pada murid,
sebab merasa dihargai karena prestasinya. Kecuali pada setiap akhir semester, guru bisa
memberikan hadiah yang lebih istimewa (seperti buku bacaan) bagi siswa ranking 1-3.
c. Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai
sebelumnya.
d. Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
Tentunya pujian yang bersifat membangun. Bisa dimulai dari hal yang paling kecil seperti,
“beri tepuk tangan bagi si Budi…”, “kerja yang bagus…”, “wah itu kamu bisa…”.
e. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar
mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan
berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman di sini hendaknya yang mendidik, seperti
menghafal, mengerjakan soal, ataupun membuat rangkuaman. Hendaknya jangan yang

9
bersifat fisik, seperti menyapu kelas, berdiri di depan kelas, atau lari memutari halaman
sekolah. Karena ini jelas akan menganggu psikis siswa.
f. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan
memberikan perhatian maksimal ke peserta didik, khususnya bagi mereka yang secara
prestasi tertinggal oleh siswa lainnya. Di sini guru dituntut untuk bisa lebih jeli terhadap
kondisi anak didiknya. Ingat ini bukan hanya tugas guru bimbingan konseling (BK) saja, tapi
merupakan kewajiban setiap guru, sebagai orang yang telah dipercaya orang tua siswa untuk
mendidik anak mereka.
g. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ajarkan kepada siswa cara belajar yang baik,
entah itu ketika siswa belajar sendiri maupun secara kelompok. Dengan cara ini siswa
diharapkan untuk lebih termotivasi dalam mengulan-ulang pelajaran ataupun menambah
pemahaman dengan buku-buku yang mendukung.
h. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Ini bisa
dilakukan seperti pada urutan ke f.
i. Menggunakan metode yang bervariasi. Guru hendaknya memilih metode belajar yang tepat
dan berfariasi, yang bisa membangkitkan semangat siswa, yang tidak membuat siswa merasa
jenuh, dan yang tak kalah penting adalah bisa menampung semua kepentingan siswa. Sperti
Cooperative Learning, Contectual Teaching & Learning (CTL), Quantum Teaching, PAKEM,
mapun yang lainnya. Karena siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda satu sama
lainnya. Ada siswa yang hanya butuh 5 menit untuk memahami suatu materi, tapi ada siswa
yang membutuhkan 25 menit baru ia bisa mencerna materi. Itu contoh mudahnya. Semakin
banyak metode mengajar yang dikuasai oleh seorang guru, maka ia akan semakin berhasil
meningkatkan motivasi belajar siswa.
j. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Baik itu media
visual maupun audio visual.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Motivasi adalah usaha yang didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah seseorang agar
ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Fungsi motivasi dalam belajar diantaranya adalah mendorong manusia untuk berbuat,
menentukan arah perbuatan, menyeleksi perbuatan, mendorong timbulnya tingkah laku atau
perbuatan, motivasi berfungsi sebagai pengarah, motivasi berfungsi sebagai penggerak cepat atau
lambatnya suatu pekerjaan.
Teori – teori motivasi dalam belajar adalah Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan),
Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi), Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG), Teori
Herzberg (Teori Dua Faktor), Teori penetapan tujuan (goal setting theory), Teori Victor H.
Vroom (Teori Harapan ), Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi
Upaya guru meningkatkan motivasi siswa dalam belajar adalah menjelaskan tujuan belajar ke
peserta didik, hadiah, saingan/kompetisi, pujian, hukuman, membangkitkan dorongan kepada
anak didik untuk belajar, membentuk kebiasaan belajar yang baik, membantu kesulitan belajar
anak didik secara individual maupun kelompok, menggunakan metode yang bervariasi,
menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

3.2 Saran
Motivasi dalam belajar sangat penting untuk di pelajari oleh peserta didik karena dari situlah
mereka bisa memahami apa fungsi motivasi dalam belajar serta mereka dapat termotivasi untuk
belajar. Oleh sebab itu penulis menyarankan makalah ini dibaca dan dipelajari dengan baik serta
dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

11
DAFTAR PUSTAKA

Muhibbin Syah, 2000.psikologi Pendidikan.Bandung:Remaja Rosda Karya


http://www.omkris.com/2012/05/motivasi-motivasi-belajar-fungsi.html - .U0TaSKykrIU
Hamalik. 2000. http://www.omkris.com/2012/05/motivasi-motivasi-belajar-fungsi.html -
.U0TaSKykrIU (di akses 17 November 2019)
Anonim.https://www.academia.edu/34590137/MAKALAH_PSIKOLOGI_PENDIDIKAN_TENTANG_MO
TIVASI_DALAM_BELAJAR (di akses 17 November 2019)

12

Anda mungkin juga menyukai