Anda di halaman 1dari 20

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)

F4. Gizi Masyarakat


Penatalaksanaan Diet Pada Penderita Hipertensi

Disusun Oleh:

dr.Misni Irianti Muhammad

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS SALOBULO
KECAMATAN SAJOANGING
WAJO - SENGKANG
2015
BAB I

LATAR BELAKANG

HIPERTENSI

Penyakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension) adalah suatu keadaan di mana
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh
angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah
menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa
(sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.

Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan,
tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHg. Dalam
aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil.
Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat
saat beraktifitas atau berolahraga.

Apabila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan


pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si
penderita ke dalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan
darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja sangat keras,
akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal,
otak dan mata. Penyakit hypertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan
serangan jantung (Heart Attack).

Penyakit hipertensi sering disebut sebagai the silent disease. Umumnya penderita
tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya.
Penyakit ini dikenal juga sebagai heterogeneous group of disease karena dapat menyerang
siapa saja dari berbagai kelompok umur dan kelompok sosial ekonomi.

Penyakit darah tinggi atau hipertensi dikenal dengan 2 tipe klasifikasi,


diantaranya Hipertensi Primary dan Hipertensi Secondary :
a) Hipertensi Primary

Hipertensi Primary adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi
sebagai akibat dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola
makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan
obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu
pula seseorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi stress tinggi sangat mungkin
terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahraga pun
bisa mengalami tekanan darah tinggi.

b) Hipertensi Secondary

Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan


darah tinggi sebagai akibat seseorang menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung,
gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh. Sedangkan pada Ibu hamil, tekanan
darah secara umum meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita
yang berat badannya di atas normal atau gemuk.

Pregnancy Induced Hypertension (PIH), ini adalah sebutan dalam istilah


kesehatan (medis) bagi wanita hamil yang menderita hipertensi. Kondisi Hipertensi pada
ibu hamil dapat tergolong sedang ataupun berbahaya. Seorang ibu hamil dengan tekanan
darah tinggi bisa mengalami Preeclampsia dimasa kehamilan.

Preeclamsia adalah kondisi seorang wanita hamil yang mengalami hipertensi,


sehingga merasakan keluhan seperti pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri
perut, muka yang membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah. Apabila
terjadi kekejangan sebagai dampak hipertensi maka disebut eclamsia.

2. PENYEBAB

Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa


obat hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus menerus
(sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga merupakan salah
satu faktor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi dikarenakan tembakau
yang berisi nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor
yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan
dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. Sebab lainnya
adalah faktor keturunan, bertambahnya jumlah darah yang dipompa jantung, penyakit
pada ginjal, kelenjar adrenal, dan sistem syaraf sipatis. Pada mereka yang hamil,
kelebihan berat badan, stres, dan tekanan mental, hipertensipun kerap
menghinggapinya. Akibat dari hipertensi bisa beragam, seperti komplikasi pembesaran
jantung, penyakit jantung koroner, dan pecahnya pembuluh darah otak.

3. PENCEGAHAN

Sebagaimana dijelaskan bahwa faktor penyebab utama terjadinya hipertensi


adalah aterosklerosis yang didasari dengan konsumsi lemak berlebih. Oleh karena untuk
mencegah timbulnya hipertensi adalah mengurangi konsumsi lemak yang berlebih dan
pemberian obat-obatan apabila diperlukan. Pembatasan konsumsi lemak sebaiknya
dimulai sejak dini sebelum hipertensi muncul, terutama pada orang-orang yang
mempunyai riwayat keturunan hipertensi dan pada orang menjelang usia lanjut.
Sebaiknya mulai umur 40 tahun pada wanita agar lebih berhati-hati dalam
mengkonsumsi lemak pada usia mendekati menopause.

Prinsip utama dalam melakukan pola makan sehat adalah “gizi seimbang”,
dimana mengkonsumsi beragam makanan yang seimbang dari kuantitas dan kualitas.
Selain itu, tindakan memeriksakan tekanan darah secara teratur sangat dianjurkan.
Selain dapat mencegah, tindakan tersebut juga dapat menghindari kenaikan tekanan
darah yang terlalu drastis.

4. PENANGANAN DAN PENGOBATAN HIPERTENSI

Pengobatan hipertensi dilakukan oleh penderita selama hidupnya sehingga


dituntut kerelaan dan kepatuhan penderita untuk menjalankan pengobatan dengan benar
dan tekun serta mematuhi nasehat dokter. Ada beberapa langkah untuk menurunkan
tekanan darah tinggi. Di antaranya, menurunkan nilai angka sistolik maupun diastolik,
dan pengobatan yang diarahkan untuk mengontrol tekanan darah sehingga tercapai
tekanan yang normal. Pada pertemuan Perkumpulan Hipertensi Eropa pada Juni 2004
diumumkan hasil penelitian Novartis tentang VALUE (Valsartan Antihypertensive
Long-term Use Evaluation) atau evaluasi pemakaian Valsartan antihipertensi dalam
jangka panjang. Evaluasi ini dimuat dalam jurnal kedokteran internasional The Lancet.
Studi itu berkaitan dengan pemberian Valsartan dengan unsur angiotensin reseptor
blocker (ARB) bagi penderita hipertensi yang berisiko tinggi mengidap penyakit
kardiovaskular. Hasilnya, Valsartan dapat menurunkan risiko timbulnya penyakit
diabetes mellitus sebesar 23 persen.

Pengobatan terhadap penderita hipertensi dapat dilakukan sebagai berikut:

 Pengobatan tanpa obat, antara lain dengan diet rendah garam, kolesterol, dan lemak
jenuh; peredaan stres emosional; berhenti merokok dan alkohol; serta latihan fisik
secara teratur.
 Pengobatan dengan menggunakan obat antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat
antihipertensi yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat antihipertensi yang tepat,
sebaiknya langsung menghubungi dokter.
 Pengobatan pada golongan khusus.

a) Hipertensi pada Wanita Hamil

Pemakaian obat pada masa kehamilan harus hati-hati. Hal ini disebabkan bila
salah obat dapat mengakibatkan penurunan tekanan darah yang diikuti berkurangnya
aliran darah plasenta sehingga kehidupan janin terganggu.

Obat antihipertensi diberikan pada ibu hamil bila tekanan diastolenya ≥ 90


mm Hg pada trimester pertama dan ≥ 100 mm Hg pada trimeseter ketiga. Obat yang
bisa diberikan pada ibu hamil sesuai dengan keadaan ibu hamil dan kehamilannya
serta derajat hipertensinya.

b) Hipertensi pada Hiperlipidemia

Hipertensi pada hiperlipidemia secara umum disebabkan karena kurang


sempurnanya komposisi kolesterol di dalam pembuluh darah arteri. Obat yang biasa
digunakan untuk mengatasi keadaan tersebut adalah gemfibrozil. Obat ini dapat
menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, dan meningkatkan
kadar kolesterol HDL secara nyata.
Pencegahan dan pengobatan melalui makanan pada hipertensi jenis ini adalah dengan
cara diet tinggi lemak tidak jenuh. Dalam Pemilihan makanan sehari-hari harus selalu
membatasi makanan yang kandungan lemak jenuhnya tinggi, yakni makanan yang
berasal dari hewan. Hal ini disebabkan lemak jenuh cenderung menaikkan kadar
kolesterol dan trigliserida darah. Sebaliknya, lemak tidak jenuh dapat menurunkan
kadar kolesterol darah.

c) Hipertensi pada Pembuluh Darah Otak

Tekanan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah.


Apabila yang pecah adalah pembuluh darah otak, keadaan ini dikenal dengan stroke.

d) Hipertensi pada Penyakit Jantung

Pada pengobatan hipertensi dengan kelainan jantung, harus diperhatikan


sebrapa jauh kelainan jantung yang dideritanya. Tekanan diastole maupun systolenya
perlu dikontrol. Tekanan systole berpengaruh pada beban jantung, penampilan
jantung, serta konsumsi oksigen otot jantung.

Pemberian obat pada hipertensi dengan kelainan jantung harus disesuaikan


dengan jenis gangguan pada jantung dan derajat hipertensinya. Pemeriksaan fungsi
jantung perlu dilakukan untuk menentukan pengobatannya.

e) Hipertensi pada Gagal Ginjal

Pengobatan hipertensi pada gagal ginjal dibedakan menjadi dua bagian besar,
yakni pengobatan pada nefrosklerosis benigna dan nefrosklerosis maligna.
Pengobatan pada nefrosklerosis benigna dilakukan dengan cara menurunkan tekanan
darah secara perlahan-lahan. Pegobatan ini bertujuan untuk memperbaiki fungsi ginjal
karena terjadi perbaikan hyperplasia arterioli. Pada nefrosklerosis maligna, penurunan
tekanan darah harus dilakukan secepatnya hingga mendekati normal. Penurunan
tekanan darah yang cepat akan mengurangi kerusakan akibat nekrosis arteroli
sehingga dalam jangka panjang diharapkan terjadi perbaikan fungsi ginjal.
Pengobatan dengan obat anti hipertensi lebih efektif untuk mencegah penyulit
penyakit akibat pengerasan pembuluh darah. Pengobatan antihipertensif dapat
memperbaiki gangguan ginjal pada nefrosklerosis benigna dan maligna.

Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat :

 Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}. Merupakan


golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi
karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan
konsumsi potasium harus dilakukan.
 Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}.
 Merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui
proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.
 Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting enzyme
(ACE)}.

Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah tinggi atau
Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga memperlebar pembuluh
darah.

 Valsartan vs Amlopidin

Hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes sangat erat kaitannya satu dengan
lainnya. Di Indonesia terdapat kecenderungan peningkatan jumlah penderita
hipertensi maupun diabetes mellitus. Dengan menekan risiko timbulnya diabetes
mellitus pada hipertensi, maka jumlah penyakit kardiovaskular dapat ditekan.
Valsartan punya nilai proteksi atau mengontrol hipertensi agar tidak menimbulkan
komplikasi.

Valsartan bersifat protektif jangka panjang dan mencegah timbulnya kasus


diabetes baru. Penelitian VALUE (Valsartan Antihypertensive Long-term Use
Evaluation) membandingkan antara pemberian Valsartan dan Amlodipin, obat yang
biasa digunakan untuk penderita hipertensi. Ternyata, Valsartan mampu menurunkan
angka kejadian diabetes mellitus sebesar 23 persen, atau lebih tinggi dari Amlopidin
yang hanya 13,1 persen.
5. PENATALAKSANAAN DIET BAGI PENDERITA HIPERTENSI

a) Kandungan garam (Sodium atau Natrium)

Seseorang yang mengidap penyakit hipertensi sebaiknya mengontrol diri dalam


mengkonsumsi garam. Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium
yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari hewan dan
tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh
karena itu, dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari
atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium.

Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air
dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Adapun
syarat-syarat diet garam rendah adalah :

· Cukup energi, protein, mineral, dan vitamin.

· Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.

· Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air
dan/atau hipertensi.

Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai dengan keadaan penyakit dapat
diberikan berbagai tingkat Diet Garam Rendah.

· Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na)

Diet ini diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan/atau hipertensi
berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur.
Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

· Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)

Diet ini diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan/atau hipertensi
tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet Garam
Rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan ½ sdt garam
dapur (2 g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
· Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)

Diet ini diberikan kepada pasien dengan edema dan/atau hipertensi ringan.
Pemberian makanan sehari sama dengan Diet Garam Rendah I. Pada
pengolahan makanannya boleh menggunakan 1 sdt garam dapur (4 g).

b) Kandungan Potasium atau Kalium

Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan


darah. Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran.
Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk dikonsumsi penderita
hipertensi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu
parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu,
makanan yang mengandung unsur omega 3 sagat dikenal efektif dalam membantu
penurunan tekanan darah (hipertensi).

Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg,
selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya
hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan
darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga
ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih,
tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula
penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan
diabetes mellitus.

A. MENGATUR MENU MAKANAN

Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk


menghindari dan membatasi makanan yang dapat meningkatkan kadar kolesterol darah
serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau
infark jantung.

Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:

1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biskuit, crakers, keripik
dan makanan kering yang asin).

3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan
dalam kaleng, soft drink).

4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur atau buah, abon, ikan asin, pindang,
udang kering, telur asin, selai kacang).

5. Susu full cream, mentega, margarin, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani
yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).

6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu
penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.

7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki rasa tawar
dengan menambah gula merah/putih. bawang (merah/putih), jahe, kencur dan bumbu
lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium. Makanan dapat ditumis
untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas meja makan dapat dilakukan
untuk menghindari penggunaan garam yang berlebih. Dianjurkan untuk selalu
menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam jangan lebih dari 1 sendok teh
per hari.

Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120 – 175 mEq/hari) dapat
memberikan efek penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian kalium
juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium akibat dan rendah natrium. Pada
umumnya dapat dipakai ukuran sedang (50 gram) dari apel (159 mg kalium), jeruk (250
mg kalium), tomat (366 mg kalium), pisang (451 mg kalium) kentang panggang (503 mg
kalium) dan susu skim 1 gelas (406 mg kalium). Kecukupan kalsium penting untuk
mencegah dan mengobati hipertensi: 2-3 gelas susu skim atau 40 mg/hari, 115 gram keju
rendah natrium dapat memenuhi kebutuhan kalsium 250 mg/hari. Sedangkan kebutuhan
kalsium perhari rata-rata 808 mg.
Pada ibu hamil makanan cukup akan protein, kalori, kalsium dan natrium yang
dihubungkan dengan rendahnya kejadian hipertensi karena kehamilan. Namun pada ibu
hamil yang hipertensi apalagi yang disertai dengan bengkak dan protein urin (pre
eklampsia), selain obat-obatan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi garam dapur
serta meningkatkan makanan sumber Mg (sayur dan buah-buahan).

B. SUPLEMENTASI ANTI OKSIDAN

Walaupun suplementasi anti oksidan masih memerlukan penelitian lebih


lanjut, namun saat ini banyak sekali suplemen yang dijual dan dikonsumsi oleh
masyarakat. Sebagai tenaga medis harus berhati-hati memberikan anjuran minuman
suplemen agar tidak terjadi overdosis.

1. Vitamin dan Penurunan Homosistein

Asam folat, vitamin B6, vitamin B 12 dan riboflavin merupakan ko-faktor


enzim yang essential untuk metabolisme homosistein. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa peningkatan kadar homosistein dalam darah akan meningkatkan risiko penyakit
arteri koroner. Kadar asam folat yang rendah berkaitan dengan peningkatan risiko
penyakit koroner dan kadar vitamin yang rendah juga berkaitan dengan peningkatan
risiko aterosklerosis, walaupun risiko aterosklerosis yang berhubungan dengan
rendahnya kadar vitamin B6 tidak berhubungan dengan konsentrasi homositein yang
tinggi. Sedangkan vitamin B12 tidak berhubungan dengan penyakit vaskuler.

2. Kacang Kedelai dan Isoflavon

Kedelai banyak mengandung fito estrogen yaitu isoflavon, yang memiliki


aktivitas estrogen lemah. Penelitian meta analisis pada tahun 1995 menyimpulkan bahwa
isoflavon dari protein kedelai lebih bermakna menurunkan kadar kolesterol total,
kolesterol LDL dan trigliserida, tanpa mempengaruhi kadar kolesterol HDL. Sehingga
dianjurkan mengkonsumsi protein kedelai (20 – 50 gram/hari) dengan modifikasi diet
pada penderita dengan kadar kolesterol (total dan LDL) yang tinggi. Tempe adalah hasil
pengolahan kedelai yang melalui proses fermentasi, dengan kandungan gizi lebih baik
dari kedelai. Sehingga tempe dianjurkan untuk di konsumsi oleh penderita hipertensi
sebagai sumber protein nabati.
3. Tempe

Tempe adalah salah satu makanan tradisional Indonesia, hasil fermentasi


kapang Rhizopus ohgosporis atau rhizopusoryzal pada biji kedelai yang telah direbus.
Ada berbagai macam tempe, yang dibicarakan disini adalah tempe yang terbuat dari
kedelai, yang merupakan produk kompak, terbungkus rata oleh miselium kapang
sehingga nampak berwarna putih, dan bila diiris kelihatan keping biji kedelai berwarna
kuning pucat, diantara miselium. Fermentasi kapang menghasilkan perubahan pada
tekstur kedelai, menjadi empuk dan nilai zat gizi tempe lebih baik dari kacang kedelai.

Nilai Gizi Tempe :

· Protein

Enzim-enzim yang dihasilkan kapang, menghasilkan asam amino bebas, sehingga


kadarnya meningkat sampai 85 kali kadar protein kedelai.

· Karbohidrat

Kedelai mengandung karbohidrat berupa sakrosa dan stakhiosa dan rifinosa (dua terakhir
menyebabkan pembentukan gas dalam perut). Fermentasi kedelai menjadi tempe
menghasilkan karbohidrat.

· Lemak

Enzim dalam kapang dapat menurunkan kadar lemak total dari 22,2% menjadi 14,4%
dan meningkatkan kadar asam lemak bebas dari 0,5% menjadi 21%.

· Mineral

Didalam kedelai terdapat asam fitat yang merupakan senyawa forfose, yang tidak dapat
dimanfaatkan oleh tubuh. Dengan fermentasi, kapang menghasilkan enzim fitase yang
menguraikan asam fitat, sehingga forfosenya dapat dimanfaatkan tubuh.
· Vitamin

Proses fermentasi dapat meningkatkan kadar vitamin B2 (Riboferum), Vitamin B6


(Piridoksin), asam folat, asam panthotenat, dan asam nikotinat. Sedangkan kadar
vitamin B1 menurun karena untuk pertumbuhan kapang dan terbentuk pula
vitamin B12 oleh bakteri yang tidak ada dalam produk nabati lainnya.

Manfaat Tempe :

Tempe merupakan sumber zat gizi yang baik, terutama bagi penderita hiper
kolesterolemia. Dari berbagai penelitian ternyata tempe dapat menurunkan kadar
kolesterol dalam darah serta mencegah timbulnya penyempitan pembuluh darah, karena
tempe mengandung asam lemak tidak jenuh ganda. Sehingga penderita hipertensi
dianjurkan untuk mengkonsumsi tempe setiap hari, disamping diet rendah lemak jenuh.

Tempe juga mengandung zat anti bakteri yang dapat menghambat pertumbuhan
beberapa jenis bakteri gram positif serta penyebab diare (Salmonella sp dan Shigella sp).
Oleh karena itu, tempe juga dianjurkan untuk dikonsumsi balita yang menderita diare.

4. Asam Lemak Omega 3

Mengkonsumsi satu porsi ikan yang tinggi lemak (atau minyak ikan ) tiap hari dapat
menjadi asupan asam lemak omega 3 (EPA dan DHA) sekitar 900 mg/dl, dan dilaporkan
dapat menurunkan kadar kolesterol dan mencegah penyakit jantung koroner.

5. Serat

Walaupun berbagi studi menunjukkan adanya hubungan antara beberapa jenis serat
dengan penurunan kolesterol LDL dan atau kolesterol total, namun belum ada bukti
langsung yang menunjukkan hubungan antara suplemen serat dengan penurunan
penyakit kardiovaskular.
C. TERAPI PENUNJANG

Selain pengobatan dan pengaturan menu makanan pada penderita hipertensi, diperlukan
juga terapi khusus lain seperti konseling masalah kejiwaan dan fisioterapi, terutama pada
penderita pasca stroke atau infark penting. Pengertian juga diberikan kepada keluarga
atau pengasuh untuk membantu menyiapkan makanan khusus serta mengingatkan
kepada penderita, makanan yang harus dihindari atau dibatasi.
BAB II

PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

Penyuluhan mengenai Penatalaksanaan Diet Pada Penderita Hipertensi berupa diskusi


dan pertanyaan- pertanyaan untuk menggali pengetahuan dasar pasien. Informasi ini
mencakup pengertian apa itu Hipertensi, pencegahan dan menu makanan yang dapat
menghidari terjadinya tekanan darah tinggi. Penyuluhan disampaikan dengan metode
langsung (direct communication/face to face communication).
BAB III

PELAKSANAAN

1. Waktu dan tempat pelaksanaan

Hari/Tanggal : Selasa, 8 September 2015

Waktu : Pukul 09.00 WITA

Tempat : Barangmamase

Topik : Penatalaksanaan Diet Pada Penderita Hipertensi

Peserta : Warga Baramamase yang datang pada saat puskel

Pemateri : dr. Misni Irianti Muhammad

2. Alur Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

a. Tahap Perkenalan dan Penggalian Pengetahuan Peserta

Setelah memberi salam dan perkenalan, pemateri terlebih dahulu menyampaikan

maksud dan tujuan diberikan penyuluhan sebelum materi disampaikan. Kemudian

pemateri memberi pertanyaan pembuka untuk mengetahui tingkat pengetahuan

peserta tentang materi yang akan diberikan.

Pertanyaan yang diberikan, sebagai berikut:

Ada yang tahu kapan seseorang dikatakan tekanan darah tinggi?

Bagaimana cara mencegah terjadinya tekanan darah tinggi?

Makanan yang bisa menyebabkan tekanan darah jadi tinggi?

b. Tahap Penyajian Materi

Penyajian materi penyuluhan melalui diskusi dengan bantuan poster. Adapun materi

penyuluhan meliputi :

 Pengertian Hipertensi?

 Kapan dikatakan seseorang menderita hipertensi?


 Gejala yang timbul ketika tekanan tinggi?

 Makanan yang bisa mengurangi tekanan darah tinggi?

c. Tahap Penutupan

Di akhir presentasi materi, pemateri memberikan kesempatan pada peserta untuk

bertanya langsung apabila ada materi yang tidak dimengerti. Setelah sesi tanya jawab

dan diskusi, penyuluhan ditutup dengan salam.


BAB IV

MONITORING DAN EVALUASI

1. Monitoring

a. Memperhatikan respon peserta saat penyuluhan dilaksanakan

b. Mengarahkan peserta untuk memberikan pertanyaan.

c. Menjawab pertanyaan yang diajukan.

2. Evaluasi

a. Evaluasi Struktur

Semua peserta mendengarkan dengan seksama materi yang disajikan

b. Evaluasi Proses

Pelaksanaan penyuluhan berjalan sebagaimana yang diharapkan dan peserta

antusias mengajukan pertanyaan kepada pemateri

c. Evaluasi Hasil

Peserta yang hadir mengerti dan memahami isi dari materi yang disampaikan.

Hal ini terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta dan terbentuknya

suatu diskusi yang berlangsung secara dua arah.


BAB VI

KESIMPULAN

Seseorang tidak bisa langsung dinyatakan menderita hipertensi. Ketika tekanan


darahnya 140/90, ia lalu divonis hipertensi. "Bukan seperti itu pengukurannya," Diperlukan
dua sampai tiga kali pengukuran. Dan singkirkan hal-hal yang membuat darah menjadi naik.
Misalnya kandung kemih penuh dan rasa nyeri.

"Hipertensi tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa dikontrol," Tekanan darah harus terus
dikontrol. Diet sudah bagus dan obat sudah dikonsumsi rutin, tetap saja bisa terkena
hipertensi. "Jangan lupakan fator genetiknya”. Hipetensi sekunder terjadi karena ada
penyebab lain. Sementara hipertensi esensial, tidak diketahui penyebabnya.

Pengaturan makanan bagi penderita hipertensi sangat dianjurkan dan bertujuan untuk
menghindari atau membatasi makanan yang dapat meningkatkan kadar kolesterol darah serta
meningkatkan tekanan darah sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark jantung.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier S. 2004. Penuntun Diet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Anonim. 2004. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.

______. 2008. http://www.infopenyakit.com/2008/01/penyakit-darah-tinggi-


hipertensi.html.

Astawan M. 2004 Cegah Hipertensi dengan Pola Makan.


http://www.depkes.go.id/index.php.

Purwati S, Rahayu S, Salimar. 2002. Perencanaan Menu untuk Penderita Tekanan


Darah Tinggi. Jakarta: Penebar Swadaya.