0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan4 halaman

Karakter dan Etika dalam Pendidikan

Erie Sudewo mendefinisikan karakter sebagai sifat-sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari untuk menjalankan tanggung jawab sesuai amanah. Karakter merupakan salah satu faktor penentu kualitas kehidupan seseorang. Etika dapat membentuk karakter melalui standar perilaku yang baik dan nilai-nilai moral seperti hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, serta hak dan kewajiban. Pembent

Diunggah oleh

Aurell
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan4 halaman

Karakter dan Etika dalam Pendidikan

Erie Sudewo mendefinisikan karakter sebagai sifat-sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari untuk menjalankan tanggung jawab sesuai amanah. Karakter merupakan salah satu faktor penentu kualitas kehidupan seseorang. Etika dapat membentuk karakter melalui standar perilaku yang baik dan nilai-nilai moral seperti hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, serta hak dan kewajiban. Pembent

Diunggah oleh

Aurell
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pembentukan Karakter dengan Etika

Oleh Raistra Aurel, 2006572876

Nama pembicara: Erie Sudewo


Judul sumber: Membentuk Karakter, Membangun Bangsa: Erie Sudewo at TEDxTangsel
Penerbit: Youtube TEDx Talks
Link: https://www.youtube.com/watch?v=tH8iZs_dSuo&t=283s

Karakter telah menjadi topik yang sering dibicarakan saat ini. Terutama istilah
‘pendidikan karakter’ ataupun ‘pembentukan karakter’ yang sudah cukup banyak dibahas
oleh para pakar. Namun, tak jarang muncul berbagai pertanyaan mengenai karakter.
Diantaranya adalah, apa sebenarnya yang dimaksud dengan karakter? Mengapa pendidikan
dan pembentukan karakter dibutuhkah? Dan adakah hubungan antara karakter dengan etika
dalam kualitas kehidupan manusia? Persoalan tersebut timbul sebagai pemicu kali ini. Erie
Sudewo, seorang praktisi character building, berdialog mengenai hal tersebut.

Erie Sudewo mendefinisikan karakter sebagai sejumlah sifat baik yang menjadi
perilaku sehari-hari, untuk menjalankan peran sesuai amanah dan tanggung jawab. Karakter
merupakan salah satu dari faktor penentu kualitas kehidupan seseorang. Tanpa karakter,
seseorang akan kehilangan arah dalam menjalani kehidupannya. Faktor penentu kualitas
kehidupan seseorang lainnya ialah kompetensi (seperti pengetahuan dan keterampilan)
Karakter merupakan pondasi dari kompetensi, artinya, walaupun seseorang pandai dan
terampil dalam suatu hal, tetapi karakter yang dimiliki masih belum baik, maka sebagai
manusia ia susah berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Erie juga menyinggung perihal ​bangsa Indonesia yang pemimpinnya banyak


melakukan tindakan korupsi, rakyatnya tak disiplin, dan pengusahanya serakah. Akar
masalahnya adalah, kita telah kehilangan karakter yang seharusnya menjadi fondasi
bangunan bangsa kita. ​Karena itu, pembentukan karakter dibutuhkan untuk kemajuan
pembangunan bangsa. Terutama mahasiswa yang merupakan calon pemimpin bangsa,
pembentukan karakter dan pendidikan karakter berperan penting untuk kemajuan negara.
Membangun bangsa bukanlah tentang seberapa kaya sumber daya alamnya, tetapi tentang
kualitas setiap individu bangsa tersebut, karena sumber daya alam itu bisa habis tetapi
karakter kuat suatu bangsa akan tetap ada selamanya. Karakter yang kuat memberikan
dampak positif untuk kehidupan diri sendiri atau orang lain, ciri atau kekuatan yang
dikandungnya baik secara moral dan beretika yang sesuai.

Etika dapat membentuk karakter seseorang​. Sasaran etika sebagai suatu bidang studi
ialah menentukan standar untuk membedakan antara karakter yang baik dan yang tidak baik​.
Pembahasan mengenai etika sendiri sebenarnya dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu
etika deskriptif, etika normatif, metaetika, dan etika terapan (Bertens, 2004: 15—26, 263)
Etika deskriptif adalah etika yang menggambarkan perilaku berdasarkan moralitas suatu
budaya tertentu. Misalnya adat kebiasaan, atau tindakan yang diperbolehkan atau tidak
diperbolehkan. Etika normatif merupakan etika ​yang menetapkan perilaku yang seharusnya
dimiliki oleh manusia berlandaskan pada kewajiban yang harus dipatuhi. Metaetika adalah
kajian etika yang membahas ​benar atau tidaknya suatu tindakan atau peristiwa berlandaskan
aspek moralitas. Pembagian etika yang terakhir ada etika terapan. Etika terapan yang bersifat
aplikatif dan praktis berhadapan dengan kasus yang harus dicermati secara kritis, rasional, dan
etis dalam menganalisisnya. Etika sebagai unsur penting karakter, memuat beberapa kaidah yang
sifatnya fundamental.

Kaidah pertama yang akan kita singgung adalah hati nurani. Hati nurani berperan untuk
mempertimbangkan tindakan seseorang agar tindakan itu di mata orang lain dan diri sendiri
dianggap baik dan bermoral. Setelah itu ada kaidah kebebasan dan tanggung jawab. Kebebasan
merupakan unsur hakiki yang dimiliki manusia, karena kebebasan adalah salah satu faktor
bagaimana manusia itu bertindak sesuai dengan keinginannya. Namun, kebebasan yang dimiliki
seseorang bukanlah sebuah kesewenangan, melainkan kebebasan yang yang dibatasi oleh
kebebasan anggota masyarakat lainnya. Penting untuk disadari bahwa kita hidup berdampingan
dengan orang lain yang memiliki kebebasan juga, maka pembatasan kebebasan dibutuhkan dalam
kehidupan. Pembatasan tersebut memberi ruang bagi seseorang untuk memiliki rasa tanggung
jawab atas tindakan yang dilakukannya. Melalui kesadarannya seseorang dapat menentukan sikap
tanggung jawabnya dengan tepat tanpa merugikan orang lain. Kebebasan dan tanggung jawab
merupakan dua komponen manusia yang sangat hakiki, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang
lain, karena dua komponen tersebut menjadi salah satu faktor manusia untuk berperilaku atau
memiliki tindakan yang dianggap baik. Kaidah berikutnya merupakan hak dan kewajiban. Hak
adalah aturan tentang apa yang boleh dilakukan atau dimiliki seseorang​, sedangkan k​ewajiban
adalah segala sesuatu yang harus dilakukan sesuai aturan dan norma yang berlaku. Ada
bermacam hak yang dapat memperjelas perspektif etika terhadap hak. Maka, akan dijelaskan
jenis-jenis hak seperti hak legal dan hak moral, hak khusus dan hak umum, hak individual dan
hak sosial, serta hak positif dan hak negatif (Bertens, 2004 :177— 193) Pertama, hak legal dan
hak moral. Hak legal merupakan hak yang berdasarkan pada hukum. Misalkan, undang-undang,
peraturan, dokumen, dan lain sebagainya. Sedangkan, hak moral berupa hak yang berlandaskan
pada sistem moral. Hak khusus adalah hak yang muncul antara relasi individu dengan fungsi
khusus. Hak umum merupakan hak yang dimiliki seluruh manusia tanpa pengecualian. Biasanya
hak umum juga disebut dengan Hak Asasi Manusia atau HAM. Berikutnya, hak positif dan
negatif. Hak positif yaitu hak bahwa setiap individu untuk mendapatkan tindakan orang lain atas
tindakan individu tersebut. Sementara itu, hak negatif adalah hak yang dimiliki seseorang karena
kebebasannya dan orang lain tidak dapat menghalangi kebebasan itu. Kaidah terakhir dalam
etika adalah nilai moral dan norma moral. Nilai moral memiliki arti sebagai perbuatan manusia
yang menunjukan kebaikan atau tidak. Nilai moral terkait pada hati nurani seseorang serta
tanggung jawabnya. Norma moral adalah aturan perilaku manusia sebagai manusia. Adapun
fokus penilaian dalam norma moral adalah tanggung jawab seseorang tentang apa yang
dilakukan.

Melihat pembahasan di atas mengenai pembentukan karakter hingga etika, terlihat bahwa
etika sebagai ​prinsip moral yang mengatur perilaku dapat mempengaruhi karakter seseorang.
Untuk mencapai kualitas karakter yang optimal, diperlukan pembelajaran mengenai etika dan
moralitas. Pembelajaran mengenai etika dan moralitas akan berarti jika semua orang mau
menaati, bukan karena takut atas hukuman yang diterima apabila melanggarnya, akan tetapi taat
karena sadar bahwa semua itu untuk kepentingan bersama.

Daftar Pustaka

Raharjo, Sabar Budi, (2010). ​Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak
Mulia.

Djoko, S., dan Warsito, F. (2018). ​Etika Moral Berjalan, Hukum Jadi Sehat.​

Ritaudin, M. Sidi, (2014). ​Wawasan Etika Politik, Membangun Sikap Kritis dan Rasional
Politik Bangsa.
S. Putra, Riadi, (2010). ​Hak atau Kewajiban​. Penerbit Direktorat Pendidikan Masyarakat
dan Pendidikan Khusus–Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan
Pendidikan Menengah–Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dewantara, A. (2018). ​Filsafat Moral (Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia)​.


Penerbit Kanisius

Anda mungkin juga menyukai