P2TL – Colreg
Bagian A : umum (3 aturan)
Bagian B : aturan menyimpang dan berlayar (16 aturan)
Bagian C : lampus dan sosoks benda (12 aturan)
Bagian D : isyarat bunyi dan cahaya (6 aturan)
Bagian pembebasan dari peraturan : (1 aturan)
Aturan 1 (pemberlakuan)
1. Berlaku untuk semua kapal di laut dan perairan yang terhubung dengan laut yang dapat
dilayari kapal
2. Masih di ijinkan dibuatnya aturan khusus oleh penguasa daerah untuk pengaturan
bandar Pelabuhan sungai Danao ataupun perairan Pedalaman tetapi tetap mengacu
pada P2TL
3. Masih di Ijinkan dibuat aturan sendiri oleh pemerintah negara untuk system
perlambangan atau isyarat bunyi tambahan bagi kapal perang kapal dalam konvoi kapal
ikan dalam armada tetapi tetap mengacu pada P2TL
4. Khusus untuk Traffic Separation Scheme(TSS) atau tanda pemisah alur dapat dibuat
sendiri tapi harus Dicantumkan dalam Ships Routering and TSS yang disahkan oleh Inter-
govermental Maritime Consultative Organization (IMCO)
5. Pemerintah negara dapat membuat aturan khusus bagi kapal yang kontraksinya
ataupun karena fungsinya tidak dapat memenuhi P2TL
Aturan 2 (pertanggungjawaban)
1. Kapal atau pemiliknya nahkoda atau APK bertanggung jawab atas pelaksanaan P2TL dan
Kewaspadaan terhadap keadaan situasi khusus kapal dan sekitarnya layaknya sebagai
seorang Pelaut
2. Dalam mengambil Tindakan pencegahan tubrukan di laut jika diperlukan dapat
mengambil Tindakan yang menyimpang dari P2TL
Aturan 3
Bagian A (definisi umum)
1. Kapal Setiap jenis kendaraan air dengan draf atau tidak pesawat terbang laut yang
digunakan untuk pengangkutan di air
2. Kapal Tenaga Kapal digerakkan dengan mesin
3. Kapal Layar Kapal bergerak dengan layer tanpa mesin
4. Kapal Ikan Kapal yang sedang menangkap ikan dengan alat yang membatasi olah
geraknya
5. Pesawat Terbang Laut Pesawat terbang yang mampu berolah gerak di air
6. Kapal yang tidak dapat diolah gerak Kapal yang karena keadaan khusus tidak mampu
berolah gerak
7. Kapal terbatas kemampuan olah geraknya Kapal yang karena pekerjaan atau sifat
pekerjaannya kemampuan olahraganya menjadi terbatas contoh pemasangan kabel,
pipa, marka laut, kerja bawa air, RAS, operasikan pesud, peranjauan, dan penundaan
8. Kapal terkekang syaratnya Kapal yang karena saratnya dan kedalaman atau lebar
perairan yang dilalui sulit berolah gerak
9. Sedang Berlayar Tidak berlabuh jangkar, tidak merapat di daratan dan tidak pula kandas
10. Panjang dan Luas Panjang keseluruhan dan luas terbesar
11. Saling melihat satu sama lain terlihat dengan mata telanjang
12. Penglihatan terbatas Daya tambak terbatas karena kabut, salju, angin, hujan, dan lain
lain
Bagian B (Aturan menyimpang dan berlayar)
1. Seksi 1 Sikap kapal dalam semua penglihatan
Aturan 4 (penerapan)
1. Semua aturan dalam seksi ini berlaku dalam semua kondisi penglihatan
Aturan 5 (pengawasan)
1. Tiap kapal harus selalu mengadakan pengawasan keliling baik visual, pendengaran,
ataupun dengan alat bantu untuk menghindari bahaya tubrukan, termasuk kapal yang
sedang Lego jangkar
Aturan 6 (kecepatan aman)
1. Kecepatan aman adalah kecepatan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi
sehingga masih dapat tindakan yang tepat dan efektif dalam menghindari tabrakan dan
mampu dihentikan dalam jarak aman Faktor factor untuk memperhitungkan kecepatan
aman -Tingkat penglihatan -Kepadatan lalu lintas -Kemampuan olah gerak -Datangnya
cahaya -Situasi angin, ombak, arus, dan bahaya navigasi -Sarat kapal dan kedalaman air
Aturan 7 (bahaya tabrakan)
1. Tiap kapal harus menggunakan setiap alat yang ada untuk Deteksi bahaya tabrakan.
Raku Raku harus dianggap ada baya
2. Gunakan radar setepat-tepatnya
3. Tidak boleh menggunakan data data yang tidak akurat
4. Pertimbangan dalam menentukan baya tubrukan
5. Baringan kapal yang mendekat relative tetap
6. Mendekati kapal besar atau kapal tunda sedang menunda atau mendekati kapal dengan
jarak yang sangat dekat
Aturan 8 (Tindakan hindari tubrukan)
1. Tindakan harus diambil secara tegas, waktu yang cukup, dan sesuai dengan ilmu
kepelautan P2TL
2. Perubahan Haluan atau kecepatan harus besar sehingga dapat dilihat perbedaan nya
3. Bila ruang gerak cukup, perubahan Halu yang besar sudah cukup
4. Harus menghasilkan jarak aman waktu melewati Kapal lain
5. Bila perlu kurangi kecepatan, stop mesin bahkan sampai dengan mesin mundur
Aturan 9 (alur sempit)
1. Berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur yang ada di lambung kanannya
2. Kapal yang panjangnya kurang dari 20 m atau kapal layer dilarang menghalangi alur
sebuah kapal yang hanya aman berlayar di alur sempit
3. Kapal yang sedang menangkap ikan dilarang menghalangi
Aturan 10 (bagian pemisah alur lalu lintas)
1. Berlayar sesuai arah lalu lintas
2. Sedapat mungkin jauhi garis pemisah
3. Masuk atau keluar alur pada ujung traffic
4. Hindari potongan alur jika terpaksa dengan sudut Siku Siku 90 °
5. Tidak berlayar di daerah pemisah kecuali
6. Hindari tubrukan
7. Keadaan darurat
8. Hindari berlabuh jangkar
Seksi 2
1. Sikap kapal yang saling melihat
Aturan 11 (penerapan)
1. Semua aturan dalam seksi ini berlaku dalam semak apa yang saling melihat
Aturan 12( kapal layar)
1. Jika mendapat angin dari lambung yang berbeda yang mendapat angin dari
lambung kiri harus menghindar
2. Jika keduanya mendapat angin dari Lampung yang sama yang berada di atas
angin harus menghindar
Aturan 13 (penyusulan)
1. Kapal yang menyusul menghindari kapal yang akan disusul
2. Jika mendekati kapal lain dari arah 22,5 ° lebih baik ke belakang dari arah
melintang nya
3. Pada malam hari hanya melihat lampu buritan
4. Pada alur pelayaran sempit harus disetujui kapal yang disusul
Aturan 14 (keadaan saling berhadapan)
1. Situasi berhadapan Dua kapal yang haluannya perlawanan atau hamper tepat
berlawanan sehingga mengakibatkan bahaya tabrakan maka kedua kapal
tersebut harus menghindar ke kanan
Aturan 15 (keadaan menyilang)
1. situasi menyilang
Dua kapal sedang menghilang sehingga ada resiko tabrakan maka kapal yang
mendapatkan kapal lain pada lambung kanannya atau melihat kapal lain pada
lambung kirinya atau lampu merah nyam aka kapal tersebut harus menghindar
tapi tidak boleh menyimpangi Haluan kapal lain tersebut
Aturan 16 (Tindakan kapal yang menyimpang)
1. Kapal yang menyimpang dilarang memotong di depan kapal lain
2. Tindakan harus tegas, nyata, dan sejauh mungkin
Aturan 17 (Tindakan kapal yang bertahan)
1. Kapal yang bertahan berarti pertahankan Halu dan cepat
2. Majid menghindar jika kapal seharusnya menghidar tidak melaksanakan aturan
P2TL
3. Dilarang merubah halu ke kiri
Aturan 18 (tanggung jawab antarkapal)
1. Tenaga harus menghindari
Kapal yang tidak dapat berolah gerak
Kapal terbatas kemampuan olah gerak nya
Kapal yang sedang tangkap ikan
kapal layar
2. kapal layar harus menghindari
kapal yang tidak dapat berolah gerak
Kapal terbatas kemampuan olah geraknya
Kapal yang sedang tangkap ikan
3. Kapal tangkap ikan harus menghindari
Kapal yang tidak dapat berolah gerak
Kapal terbatas kemampuan olah geraknya
Kapal yang sedang tangkap ikan
4. Setiap kapal harus hindari kapal terkekang oleh sarat nya kecepatan kapal tidak
dapat di olah gerak dan tbts olah geraknya
5. Pesawat terbang laut menghindari dan jauhi semua kapal
Aturan 19 (Sikap kapal dalam penglihatan terbatas) Semua aturan dalam melihat seksi
ini berlaku dalam semua kapal yang saling melihat
1. Bergerak dengan cepat,aman, sesuai keadaan, situasi, dan jarak tampak
2. Mesin siap manuver sewaktu waktu
3. Jaga jarak dengan kapal lain
4. Tindakan penghindaran harus dilaksanakan dalam waktu yang cukup
5. Melaksanakan Deteksi dengan semua sarana yang ada
6. Nyalakan lampu navigasi dan isyarat semboyan kabut
7. bernavigaasi dengan hati hati
Aturan 20 (penerapan)
1. Penerangan lampu
Malam hari
Penglihatan terbatas
2. Sosok beda Siang hari