BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lalu lintas pelayaran ini dipenuhi oleh kapal kapal tradisional
dan modern yang dilengkapi bermacam macam sistem Navigasi.
Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi bidang pelayaran dari
tahun ke tahun, sistem Navigasi terus dikembangkan dan Instrument
model terbaru diperkenalkan agar sepenuhnya dapat menunjang
keselamatan pelayaran. Peranan sistem Navigasi dalam penentuan
arah dan posisi kapal sangat potensial dan merupakan bagian dari
kegiatan tugas Perwira di anjungan.
Untuk menentukan jarak, arah dan posisi kapal di dalam
melakukan suatu pelayaran dengan menggunakan sistem Navigasi
kompas dan Receiver GPS kadang – kadang timbul kesalahan.
Dengan adanya kesalahan yang terjadi pada system Navigasi kompas
dan Receiver GPS maka dapat membahayakan keselamatan
pelayaran baik bagi kapal, muatan, manusia dan lingkungan. Untuk
menghindari terjadinya hal tersebut maka dikeluarkanlah undang –
undang no. 21 tahun 1992 tentang pelayaran, peraturan pemerintah
serta peraturan perundang – undangan yang berkaitan dengan
keselamatan kerja dan pencegahan pencemaran. Dalam menentukan
2
jarak, arah, dan posisi kapal diperlukan suatu ketelitian agar diperoleh
jarak, arah dan posisi kapal yang fiks.
Dengan adanya kondisi seperti di atas maka perlu diadakan
suatu penelitian untuk menganalisa sejauh mana perbandingan antara
penggunaan sistem Navigasi Receiver GPS dan sistem Navigasi
kompas dalam menentukan jarak, arah dan posisi suatu kapal. .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas dan
untuk menghindari pemahaman yang luas dan fokus kajian yang lebih
terarah dan sistematis maka ruang lingkup penelitian dibatasi oleh
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana analisa perbandingan jarak, arah dan posisi kapal
antara alat Navigasi kompas dan Receiver GPS ditinjau dari sisi
efisiensi dan ekonomis.
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kurangnya tingkat akurasi
sistem Navigasi kompas dan Receiver GPS dalam menentukan
arah dan posisi kapal.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui perbandingan penentuan jarak, arah dan posisi
kapal antara alat Navigasi kompas dan Receiver GPS ditinjau dari
sisi efisiensi dan ekonomis.
3
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat akurasi
sistem Navigasi kompas dan Receiver GPS dalam menentukan
arah dan posisi kapal.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan pertimbangan bagi para Navigator dalam
menentukan jarak, arah dan posisi kapal.
2. Sebagai bahan referensi untuk pengetahuan dalam bidang
kemaritiman, khususnya sistem perlengkapan Navigasi kapal.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persyaratan Perlengkapan Navigasi Menurut SOLAS 1974
Dalam memenuhi ketentuan SOLAS (Safety of Life at Sea =
Keselamatan Jiwa di Laut) maka setiap negara-negara maritim
merativikasi SOLAS 1974 yaitu persyaratan perlengkapan Navigasi
yang ada di atas kapal. Oleh sebab itu setiap perusahaan harus
memiliki dokumen-dokumen atau sertifikat-sertifikat yang menunjukkan
bahwa kapal telah memenuhi persyaratan layak laut demi menjamin
keselamatan jiwa, muatan, kapal dan lingkungan.
Perlengkapan Navigasi elektronik di kapal diatur dalam SOLAS
1974 dan Protocol 1978 yaitu :
1. Setiap kapal yang berukuran 1600 GT atau lebih wajib dilengkapi
dengan sebuah radar.
2. Setiap kapal yang berukuran 10.000 GT atau lebih wajib dilengkapi
dengan 2 ( dua ) buah radar.
3. Setiap kapal yang berukuran 15.000 GT dan tanker berukuran
10.000 GT atau lebih, wajib dilengkapi dengan ARPA ( Automatic
Radar Plotting Aid ).
4. Setiap kapal yang berukuran 1600 GT atau lebih wajib dilengkapi
dengan sebuah gyro compass dan sebuah echosounding devices.
5
B. Fungsi Navigasi Menurut Seksi A-II STCW 1978 Amandemen 1995
Menurut seksi A-II STCW 1978 fungsi Navigasi dibedakan atas:
1. Fungsi Navigasi tingkat operasional (tabel A-II/1, Perwira jaga
Navigasi untuk kapal 500 Gross Tonnage atau lebih.
a. Kompetensi : merencanakan dan melaksanakan pelayaran
dan penentuan posisi kapal.
1) Pedoman magnet dan pedoman Gasing
a) Pengetahuan Gasing tentang prinsip kerja pedoman
magnet pedoman.
b) Kemampuan untuk menentukan kesalahan pedoman
(magnet dan Gasing) dengan menggunakan benda
angkasa dan benda daratan serta menerapkannya
dalam pengemudian kapal.
2) Sistem pengemudian kapal
Pengetahuan sistem pengemudian kapal,
prosedurpengoperasian dan merubah dari kemudi otomatis
ke kemudi manual dan sebaliknya. Penyetelan-penyetelan
untuk memperoleh kinerja yang terbaik (optimal).
2. Fungsi Navigasi pada tingkat manajemen (tabel A-II/2, Nakhoda
dan mualim satu untuk kapal-kapal 500 Gross Tonnage atau lebih.
Kompetensi : menentukan dan mengaplikasikan kesalahan
pedoman.
6
a. Kemampuan untuk menentukan dan mengaplikasikan
kesalahan pedoman Gasing.
b. Pengetahuan tentang prinsip kerja pedoman magnet dan
pedoman Gasing.
c. Pemahaman tentang sistem pada pengendalian Master Gyro
dan penelitian tentang operasi dan perawatan Type utama
pedoman Gasing.
3. Fungsi Navigasi pada tingkat operasional (tabel A-II/3, Perwira jaga
Navigasi untuk kapal-kapal lebih kecil dari 500 Gross Tonnage.
Kompetensi : merencanakan dan melaksanakan pelayaran dan
penentuan posisi kapal.
a. Pengetahuan dari pada kesalahan dan koreksi pada pedoman
magnet.
b. Kemampuan untuk menentukan kesalahan pedoman dengan
menggunakan benda daratan dan mengaplikasikannya dalam
Navigasi.
Pedoman Magnet dan Pedoman Gasing
1. Pedoman Magnet
Pedoman magnet adalah satu-satunya jenis pedoman yang
tidak menggunakan kelistrikan kapal. Sehingga tetap dapat bekerja
walaupun listrik padam. Oleh karena itu IMO (International Maritime
Organization) melalui konvensi SOLAS (Safety of Life At Sea)
mensyaratkan semua kapal niaga untuk dilengkapi dengan
7
pedoman magnet dengan menetapkan persyaratan konstruksi dan
jumlahnya yang harus ada di kapal.
Menurut konstruksinya pedoman magnet dibagi atas 2 :
a. Pedoman magnet kering
a. Pedoman magnet basah
Menurut fungsi dan penempatannya, terdapat 3 pedoman magnet
yaitu :
a. Pedoman tolok (Standard Compass) yang diletakkan di atas
anjungan, digunakan untuk membaring benda diluar kapal,
penempatannya diusahakan tidak terhalang oleh bagian-bagian
kapal sehingga dapat digunakan pada busur 360 0.
Pedoman ini juga digunakan sebagai patokan bagi pedoman
magnet lainnya.
b. Pedoman kemudi (Steering Compass) yaitu pedoman magnet
yang diletakkan didepan roda kemudi, sehingga Juru Mudi
dapat melihat setiap saat pada saat mengemudikan kapal.
Pedoman ini diletakkan tepat di bawah pedoman standar agar
Juru Mudi mudah memeriksa perbedaan antara penunjukan
pedoman tolok dan pedoman kemudi.
c. Pedoman cadangan (Spare Compass), berfungsi untuk
mengganti salah satu pedoman tolok atau pedoman kemudi bila
terdapat kerusakan secara fisik.
Sifat-sifat magnet batang/jarum – jarum magnet :
8
a. Memiliki gaya tarik menarik dan tolak menolak terhadap logam
bermagnet lainnya (baja dan besi).
b. Kekuatan gaya tarik-tolak terdapat pada ujung-ujungnya.
c. Ujung-ujung magnet batang diberi nama kutub magnet, yaitu
kutub utara dan kutub selatan magnet.
d. Kutub-kutub yang senama dari dua buah magnet batang akan
saling tolak-menolak dan kutub yang tidak senama akan tarik-
menarik.
e. Apabila sebuah magnet batang ditempatkan pada bidang
horizontal sedemikian rupa sehingga bebas berputar (misalnya
digantung), maka ujung-ujungnya akan mengarah ke kutub-
kutub magnetis bumi. Ujung yang mengarah ke kutub utara
magnetis bumi disebut kutub utara dan ujung yang mengarah
ke kutub selatan magnetis bumi disebut kutub selatan magnet.
f. Besarnya kekuatan gaya tarik/tolak antara 2 buah magnet
batang yang berbeda, berbanding lurus dengan hasil kali
kekuatan magnet kedua kutub yang bersangkutan dan
berbanding terbalik dengan jarak antara kutub-kutub pangkat
dua (Hukum Coloumb).
m1 x m 2
K=
R2
Penyimpanan atau peletakan pedoman magnet di kapal harus :
a. Sedapat mungkin pada pertengahan kapal (di atas garis lunas
kapal).
9
b. Jauh dari massa besi, yang terbagi tidak sama pada kedua sisi.
c. Tidak ditempatkan dekat linggi karena disini terdapat kutub-
kutub magnetisme permanent (P & Q).
d. Jauh dari massa besi yang besar dan vertical (cerobong asap,
tiang baja, penopang, dll).
e. Jauh dari besi lunak membujur dan melintang yang berjalan
terus(Most Continous Iron/Stell).
f. Bebas pemandangan (untuk pedoman tolok).
2. Magnetisme Kapal
Pada waktu pembangunan kapal, terjadi berbagai kegiatan
seperti pengelasan, getaran-getaran, pemindahan dan
penempatan berbagai macam massa besi yang masing-masing
memiliki kekerasan yang berbeda. Pada akhirnya terbentuklah
magnetisme yang mempengaruhi penunjukan arah dari pada
magnet batang yang digunakan pada pedoman magnet kapal
(industri magnetisme). Pengaruh tersebut secara horizontal ada
yang membujur kapal (batang B), melintang kapal (batang C), dan
secara vertical (batang R). Oleh karenanya pedoman magnet tidak
mampu menunjuk tepat pada arah utara-selatan magnetik bumi.
Sudut penyimpangan ini disebut deviasi pedoman. Pengaruh
tersebut ada yang bersifat tetap (Permanent Magnetism), Semi
Permanent atau sementara (Induced Remanent Magnetism), dan
sekilas (Induced, Transient Magnetism).
10
Karena pengaruh magnetisme yang tidak beraturan,
kemungkinan besar deviasi pedoman menjadi sangat besar pada
beberapa haluan dan tidak beraturan atau tidak merata pada setiap
perubahan haluan. Haluan pada saat pembangunan kapal sangat
mempengaruhi induksi yang terjadi. Haluan pembangunan kapal
utara atau selatan lebih baik dibanding dengan pembangunan pada
haluan timur atau barat karena induksi magnetisme secara
horizontal (H) pada arah batang magnetik menunjuk utara selatan
tidak terbentuk.
Menurut H.R. Soebekti dalam buku menimbal pedoman 1
dan 2 (hal 23) tujuan penimbalan :
a. Membuat deviasi sekecil mungkin.
b. Perubahan deviasi pada perubahan-perubahan haluan agar
terjadi secara berangsur-angsur.
c. Sebanyak mungkin memperkuat gaya pengarah dan disamakan
pada semua haluan.
Deviasi yang terlampau besar mempunyai kerugian sebagai
berikut:
a. Deviasi berubah cepat, pada perubahan haluan mawar kadang-
kadang menjadi tidak tenang dan kadang-kadang lamban
sehingga berlayar dalam perairan sempit menjadi sulit
karenanya.
b. Mudah terjadi kekeliruan apabila jika berlayar dibawah pandu.
11
c. Deviasi yang besar mengakibatkan perubahan besar dalam
gaya pengarah sehingga pada haluan-haluan tertentu mawar
menjadi terlampau lamban.
d. Jika simpangan sangat besar, maka pada waktu kapal oleng,
mawar akan menjadi tidak tenang.
Asas penimbalan :
a. Gaya magnetis yang menyebabkan deviasi, dilenyapkan oleh
gaya yang sama dan sejenis tetapi bekerja dalam arah yang
berlawanan.
b. Kutub permanent di dalam kapal harus ditambal oleh magnet
permanent. Kutub transient di dalam besi lunak vertikal harus
ditimbal oleh massa besi lunak vertikal. Kutub transient di
dalam besi lunak horizontal harus ditimbal pula massa besi
lunak horizontal yang sejenis.
Pada umumnya di dalam menimbal pedoman digunakan alat – alat
sebagai berikut :
a. Magnet tetap
1) Magnet membujur untuk menimbal uraian horizontal
membujur dari magnetisme kapal yang permanent ialah
P/H.
2) Magnet melintang untuk menimbal uraian horizontal
melintang dari magnetisme kapal yang permanent, ialah
Q/H.
12
b. Batang flinders
Yakni batang besi lunak yang diarahkan tegak lurus di geladak
dipertengahan kapal, untuk menimbal magnetisme transient di
dalam besi lunak vertikal ialah C tg i.
c. Korekter D
Yakni massa besi lunak dalam bentuk bola atau selinder,
setinggi pedoman untuk menimbal bagian utama dari
simpangan kuadrantal, ialah koefisien D.
d. Magnet senget
Yakni magnet permanent yang dipasang dalam arah tegak
lurus, tepat di bawah pertengahan pedoman.
3. Magnetisme Bumiawi
Kita dapat mengibaratkan bahwa bumi adalah suatu magnet
yang sangat besar yang dikelilingi oleh gaya magnetisme
(Magnetik Flux), dimana kutub-kutub magnetnya terletak di dekat
kutub utara bumi (kutub selatan magnetik atau kutub biru) dan
kutub selatan bumi (kutub utara magnetik atau kutub merah).
Garis-garis gaya magnetisme bumi berjalan pada permukaan bumi,
menyebar dari utara ke selatan dengan sudut datang yang
berbeda-beda. Kutub-kutub magnetik bumi tidak berimpit dengan
kutub-kutub utara-selatan bumi, maka penunjukan arah utara-
selatan magnetik senantiasa berbeda dengan arah utara-selatan
bumi. Sudut yang dibentuk oleh arah utara-selatan sejati dengan
13
arah utara-selatan magnetik ini kita kenal dengan nama “variasi”.
Oleh karena letak dari kutub-kutub magnetis selalu berobah, maka
nilai variasi di berbagai tempat akan mengalami perubahan dalam
kurun waktu tertentu. Sedangkan dibeberapa tempat lain boleh jadi
nilai variasi tetap. Garis-garis yang menghubungkan tempat-tempat
dengan nilai variasi tetap tersebut kita kenal sebagai garis “Agone”.
Besarnya nilai variasi di suatu tempat dapat kita lihat pada mawar
pedoman peta-peta laut atau peta pelayaran yang kita gunakan.
Adapun keterangan yang tertera didalamnya adalah sebagai
berikut :
a. Increasing Annually artinya bertambah besar setiap tahunnya
(increasing 1’ Annually = bertambah 1’ setiap tahun).
b. Decreasing Annually artinya berkurang setiap tahunnya
(Decreasing 2’ Annually = berkurang 2’ setiap tahunnya).
c. Stationary artinya nilainya tetap sepanjang masa (sampai
ditetapkan kemudian).
Contoh :
Pada peta laut kita membaca mawar pedoman, nilai variasi tertulis
“Variation 20 30’ E “ (1956), Increasing 1,5 Annually. Berapakah
variasi ditempat itu pada tahun 2003 ?
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
14
Dari tahun 1956 sampai 2003 = 47 tahun. Artinya nilai bertambah
1,5 x 47 = 70,5 menit = 1 0 10’ 30’’. Jadi variasi pada tahun 2003 = 2 0
30’ 00’’ + 30 40’ 30’’ E (Timur).
4. Pedoman Gasing
a. Pengenalan Gyroscope
Gyroscope berasal dari kata “Gyros” artinya berputar
dan “Skopein” artinya melihat. Jadi Gyroscope berarti melihat
bumi berputar, ditemukan oleh seorang bangsa Perancis
bernama Leon Foucoult. Gyroscope terdiri atas sebuah benda
yang dapat berputar sangat cepat (6000 RPM), mengelilingi
sebuah poros dan dapat berputar bebas sekeliling 3 buah arah
yang bergerak tegak lurus satu sama lain, dimana arah-arah itu
saling memotong di titik berat benda tersebut.
Syarat-syarat sebuah Gyroscope adalah :
1) Resultan semua gaya harus bertumpu pada titik berat
Gasing.
2) Ketiga poros harus berdiri tegak lurus satu sama lain.
3) Ketika poros saling memotong di titik berat garis.
4) Kecepatan putar harus cukup besar dan tetap, sehingga
dapat berlaku hukum Gasing I (antara 6000 sampai 13000
RPM).
Pada Gyroscope berlaku hukum-hukum Gasing yaitu :
(1) Hukum Gasing I
15
Hukum Gasing I berbunyi poros suatu Gasing yang berputar
sangat cepat, yang terpasang bebas dalam 3 bidang, salah
satu ujung porosnya akan menunjuk ke suatu titik tetap di
angkasa. Dari hukum Gasing I ini diperoleh apa yang
disebut Inertia yaitu suatu gaya yang dimikliki oleh sebuah
benda yang terputar untuk mempertahankan kedudukannya
terhadap angkasa. Sebagai akibat dari perputaran bumi
pada porosnya (rotasi), maka arah suatu titik tetap di
angkasa itu selalu berubah terhadap bidang derajah
seorang pengamat di bumi.
(2) Hukum Gasing II
Hukum Gasing II berbunyi “apabila poros sebuah Gasing
yang berputar sangat cepat bekerja suatu kopel tersebut,
tetapi ia bergerak ke suatu arah yang tegak lurus
terhadapnya. ”Dari hukum Gasing II ini diperoleh Presesi
yaitu apabila sebuah Gasing mendapat gaya dari luar maka
Gasing akan bergerak/menyimpang dengan arah tegak
lurus terhadap gaya tersebut.
b. Beberapa kedududkan Gyroscope di bumi
Sesuai dengan gerakan sebuah kapal yang melayari
lautan maka Gyroscope mempunyai kemungkinan berada
dibeberapa tempat dipermukaan bumi. Perputaran bumi pada
16
porosnya (rotasi) akan mempengaruhi kedudukan poros
Gyroscope terhadap permukaan bumi, antara lain:
1) Apabila Gyroscope diletakkan di katulistiwa dengan poros
diarahkan ke timur dan sejajar dengan permukaan bumi,
maka seiring dengan perputaran bumi (rotasi), oleh karena
Gyroscope selalu mengarah ke suatu titik tetap di angkasa
raya, dari pengamatan kita Gyroscope itu akan berobah
kedudukan porosnya membuat sudut dengan arah
horizontal, dimana perobahan adalah sebesar 45 0 setiap 3
jam atau 150 setiap jam. Dalam waktu 24 jam akan kembali
ke kedudukan semula. Perubahan sudut yang terjadi antara
permukaan bumi (arah horizontal) dan poros Gyroscope
dalam arah vertical yang disebabkan oleh komponen
horizontal dari putaran bumi ini disebut Tilting.
2) Apabila Gyroscope diletakkan di kutub utara bumi pada
kedudukan poros mendatar, seiring dengan rotasi bumi, kita
amati bahwa seolah-olah poros Gyroscope berputar dengan
arah mendatar. Perubahan sudut yang terjadi antara garis
meridian bumi dengan poros Gyroscope dalam arah
horizontal yang disebabkan oleh komponen vertical dari
putaran bumi ini disebut Drifting.
3) Apabila Gyroscope diletakkan di khatulistiwa dan porosnya
menghadap arah utara selatan maka tidak akan terjadi
17
perubahan sudut baik secara tegak maupun mendatar, atau
tidak terjadi Tilting dan Drifting.
4) Apabila Gyroscope diletakkan di sembarang tempat di bumi
diantara khatulistiwa dan kutub, kedudukan mendatar dan
porosnya mengarah ke kutub utara, maka di lintang utara,
seolah – olah ujung poros Gyroscope berputar membentuk
sebuah kerucut. Dengan kata lain, akan terjadi Tilting dan
Drifting, yang besarnya tergantung dari lintang tempat di
bumi dimana Gyroscope ditempatkan.
Kita ketahui bahwa Gyroscope memiliki 2 sifat yaitu
Inertia dan Preccession sedangkan bumi mem;punyai gravitasi
yang erat kaitannya dengan besarnya massa Gyroscope dan
rotasi yang berpengaruh pada besarnya Tilting dan Drifting.
Dengan cara mengkombinasikan antara sifat-sifat Gyroscope
dan sifat-sifat bumi, kita dapat membuat pedoman Gasing
(Gyro-Compass).
5. Kesalahan pada Pedoman Gasing
Pada pedoman Gasing bterdapat kesalahan – kesalahan haluan
dan kecepatan, kesalahan lintang (kesalahan peredaman),
kesalahan balistik, kesalahan ayunan / olengan dan kesalahan
konstan (indeks error).
a. Kesalahan haluan dan kecepatan
18
Pedoman Gasing di kapal,akan dipengaruhi oleh rotasi bumi
dan gerakan laju kapal. Kedua gaya yang bekerja tersebut
arahnya tidak sejajar satu sama lain tetapi membentuk sudut.
Poros Gasing akan menempatkan diri tegak lurus pada bidang
maya rotasi bumi. Artinya poros Gasing akan mengambil
kedudukan di luar bidang derajah penilik. Arah gerakan sebuah
titik di bumi sebagai akibat dari rotasi bumi adalah timur (90 0).
Dengan percobaan-percobaan di khatulistiwa dan di lintang
tinggi, ternyata terjadi kesalahan-kesalahan yang berbeda
besarannya.
Kesalahan haluan dan kecepatan tergantung dari :
1) Lintang tempat dimana gyro berada (L)
2) Haluan kapal (H)
3) Kecepatan kapal (V)
Kesalahan dalam derajat dapat dihitung dengan rumus berikut :
d 0 = - 0,0637 V cos H sec L
Dari pembuktian rumus di atas, sebenarnya diperoleh nilai
positip tetapi kenyataanya nilai kesalahan selalu negatif. Oleh
karena dibagian depan rumus untuk selalu diberi tanda negatif
(-) untuk haluan sejati utara dan positif (+) untuk haluan sejati
selatan.
Pada pedoman Gasing terdapat bagian yang disebut “Semi
Automatic Corrector“ yang berfungsi untuk memberikan koreksi
19
pada kesalahan lintang dan kecepatan dengan cara memutar
ulir/sekerup dibagian bawah korrektor, sehingga skala lintang
bertemu dengan skala kecepatan, dimana dengan koreksi ini
dimaksudkan agar garis layar bergeser kekiri/ kekanan dan
dengan menggunakan “Cossinus Cam” kemudian dipindahkan
ke mawar pedoman induk. Selain dari itu daftar ilmu pelayaran
(Haverkamp, daftar XXXVI) juga memberikan besarnya nilai
dan tanda kesalahan haluan dan lintang, haluan dan kecepatan
kapal yang berfungsi untuk mengganti koreksi bila terjadi
kerusakan pada korektor yang terdapat pada pedoman Gasing.
b. Kesalahan lintang (kesalahan peredaman)
Kesalahan ini terdapat pada pedoman Gasing Type Sperry,
yaitu pedoman Gasing yang menggunakan pengendalian
beban atas/puncak, karena pada proses peredaman, makin
tinggi lintang penilik pada akhir oscilasi tidak dicapai pusat
ellips. Oleh karena itu kesalahan ini juga disebut kesalahan
peredaman. Pada pedoman Sperry bisanya terdapat bagian
untuk mengoreksi kesalahan ini yaitu dengan memutar ulir
kedua (disamping Semi Automatic Corrector).
c. Kesalahan Balistik
Kesalahan Balistik adalah kesalahan yang disebabkan adanya
percepatan dan percepatan terjadi karena adanya perubahan
kecepatan.
20
Apabila kapal tiba-tiba kecepatannya bertambah, maka sebuah
benda yang digantung bebas pada titik 0 akan mendapat
percepatan. Jadi pada kapal yang menambah kecepatan, poros
Gasing tetap mendatar, tetapi karena adanya kelembaman
terjadi perpindahan cairan air raksa pada Mercury Ballistic.
Pada haluan utara akan terjadi kopel yang akan menekan salah
satu ujung poros ke arah bawah U sehingga ujung poros U
akan menyimpang ke barat, sedangkan pada haluan selatan
ujung poros Gasing akan menyimpang ke timur.
Pada haluan timur atau barat, kopel itu akan bekerja pada
suatu bidang tegak lurus poros Gasing dan tidak presesi,
artinya kesalahan Balistik = 0.
Untuk menghilangkan kesalahan balistik pada pedoman Gasing
dilakukan:
1) Gyro digantung pada poros mendatar.
2) Gasing ditera (Balancing) sehingga semua berat menjadi
simetri dan tidak timbul adanya gaya sentrifugal.
d. Kesalahan ayunan/olengan
Apabila kapal mengoleng/mengangguk, pedoman Gasing tidak
akan terpengaruh langsung karena pedoman di letakkan pada
Phantom-ring (cincin-cincin lenja), sehingga dapat bergerak
bebas. Namun menurut percobaan yang telah dilakukan pada
haluan-haluan tertentu bila terjadi olengan/anggukan kapal,
21
terjadi kesalahan pedoman. Walaupun kesalahan ini sangat
tergantung pada haluan kapal namun fokusnya adalah
anggukan dan olengan kapal. Oleh karena itu dinamakan
kesalahan ayunan/olengan dimana akan terjadi kesalahan
maksimum apabila kapal berlayar dengan haluan Timur laut,
Tenggara, Barat daya, dan Barat laut.
Tindakan yang dilakukan untuk mencegah kesalahan ayunan :
1) Sensitive element harus dibalance.
2) Pipa penghubung antara bejana mercury harus dipersempit.
3) Di atas bejana harus diberi pemberat.
4) Pada spider – frame diberi sisir berbentuk lengkungan.
5) Spider-frame digantung pada selinder minyak atau memakai
torak sebagai faktor Damper (peredaman goncangan).
e. Kesalahan konstan (Indeks Error)
Kesalahan ini terjadi pada saat merakit pesawat atau pada saat
pemasangan di kapal. Untuk menghilangkannya adalah dengan
menggeser pelat garis layar, yaitu dengan membuka sekerup
pada Lubber Ring, kemudian dengan hati-hati pelat garis layar
digeser.
6. Penataan Pedoman Gasing di Kapal
Sebagaimana disyaratkan oleh SOLAS 1974, bahwa setiap
kapal yang memiliki isi kotor (Gross Tonnage) 1600 GT atau lebih,
22
selain pedoman magnet, harus juga dilengkapi dengan sedikitnya
satu unit pedoman Gasing.
Bagian-bagian utama dari pada penataan pedoman
Gasing di kapal adalah sebagai berikut :
a. Power Supply Unit
Bagian yang mampu memberikan aliran tenaga listrik baik AC
(Alternating Current = listrik arus bolak – bolik) dan DC (Direct
Current = listrik arus searah), dengan tegangan dan frequensi
yang tetap (Constant Voltage and Constant Frequency).
b. Control panel
Yaitu bagian yang memberikan kendali terutama tentang
kelistrikan, baik untuk Master Gyro, Amplifier, dan repeater –
repeater.
c. Master Gyro
Yaitu bagian yang paling utama dari penataan pedoman
Gasing. Master Gyro terdiri dari bagian-bagian seperti :
1) Sensitive element. Dimana bagian penting pada element ini
adalah Gyroscope.
2) Phantom element. Bagian penting pada element ini adalah
piringan pedoman.
3) Control element. Bagian penting pada element ini adalah
peredam/pengendali (Mercury Ballistic atau pipa minyak
berongga).
23
4) Spider element. Bagian penting pada elemen ini adalah
Spider Frame dan Semi Automatic Corrector.
5) Binnacle (rumah pedoman). Bagian penting pada Binnacle
adalah cincin lenja.
d. Junction Box
Yaitu bagian yang menghubungkan control panel dengan
repeater-repeater.
e. Repeater-Repeater
Yaitu pengulang penunjukan pada Master-Gyro, yang
dihubungkan dengan alat-alat Navigasi lain seperti : RDF,
Radar, Auto pilot, Off-Course Alarm Unit, pesawat baring dan
lainnya.
7. Menentukan Tempat Dengan Baringan
a. Defenisi – defenisi
1) Baringan adalah sudut antara salah satu arah utara dengan
sinar baringan.
2) Membaring adalah menentukan arah sebagaimana kita dari
kapal melihat suatu benda.
3) Titik baringan adalah benda yang dibaring.
4) Garis baringan adalah garis lurus di peta laut yang ditarik
dari titik baringan berlawanan dengan sejati.
5) Baringan sejati adalah sudut antara utara sejati dengan
garis baringan, dihitung dari utara ke kanan.
24
6) Baringan magnetis adalah sudut antara utara magnetis
dengan garis baringan, dihitung dari utara ke kanan.
7) Baringan pedoman adalah sudut antara utara pedoman
dengan baringan, dihitung dari utara ke kanan.
b. Menentukan Posisi Kapal
Sewaktu – waktu dalam pelayaran, posisi kapal perlu diketahui
dengan pasti, agar supaya bahaya-bahaya dapat dihindari dan
kapal tidak terlalu jauh menyimpang dari garis haluan.
Untuk penentuan posisi kapal, kita harus mengambil baringan-
baringan benda darat, tanjung, gunung, pelampung, atau
baringan benda angkasa. Agar posisi kapal kita benar, maka
seyogyanya baringan yang kita ambil itupun harus benar
(sejati). Untuk itu kita harus selalu mengetahui kesalahan
pedoman kita, selain itu diusahakan agar pengambilan posisi
kapal itu sedapat mungkin lebih dari satu benda, agar
kesalahan pengambilan dapat di Check.
Pembagian baringan :
1) Satu benda dibaring satu kali
a) Baringan dengan jarak
b) Baringan dengan garis tinggi
2) Satu benda dibaring dua kali
a) Baringan dengan geseran
b) Baringan sudut berganda
25
c) Baringan 4 surat
d) Baringan istimewa
3) Dibaring dua benda
a) Baringan silang
b) Baringan silang dengan geseran
c) Baringan dengan pengukuran sudut dalam bidang datar
4) Dibaring tiga benda
Baringan silang dengan baringan pemeriksa.
Pada penentuan posisi dengan memakai baringan 3 benda
kadang – kadang timbul segitiga kesalahan yang cukup besar.
Hal ini disebabkan hal –hal sebagai berikut :
1. Kekeliruan mengenal benda.
2 Kekeliruan waktu melukis baringan.
3. Tidak tepat waktu membaring.
4. Salah pedoman tidak diketahui atau salah.
5. Jarak waktu antara 2 baringan cukup lama.
6. Kemungkinan peta yang dipakai tidak teliti pada waktu
pembuatannya, surveinya sudah terlalu lama atu belum
dikoreksi dengan BPI terakhir sehingga tidak up to date.
Baringan akan baik hasilnya kalau memilih benda baringan
yang tepat dan baik pula.
Menurut Willem de Rosari dalam buku menjangka peta (hal 26-
27) baringan yang diambil harus :
26
a) Ambillah baringan benda-benda yang jauh, yang tidak cepat
berubah terlebih dahulu.
b) Baringan yang satu dengan yang lain mempunyai beda
sudut tegak lurus satu yang lain.
c) Benda – benda yang diambil harus dikenal (ada dipeta).
d) Janganlah mengambil benda-benda baringan yang bertolak
belakang atau hampir bertolak belakang satu sama lain.
D. Sistem Navigasi Menggunakan Global Positioning Sistem (GPS)
1. Sistem Navigasi Satelit
Sistem navigasi satelit pada awalnya digunakan oleh US.
Navy dengan nama NNSS (Navy Navigation Satellite System) atau
dikenal nama transit satelit, yang terdiri dari 6 satelit yang
mengorbit bumi melalui kedua kutub (polar orbit) pada ketinggian
1000 km dan kecepatan 27.000 km per jam dan bekerja pada dua
frequensi yaitu 150 MHz dan 400 MHz. Penentuan posisi kapal
didasarkan pada perhitungan Doppler Effect.
Teknologi baru didalam system satelit navigasi yang
dikembangkan oleh US. Department of Defense adalah GPS,
dimana system ini terdiri dari 24 satelit yang mengorbit bumi yang
dilengkapi dengan 4 stasiun tracking di USA yang memonitor dan
mengatur gerakan dan pemancaran signal dari satelit tersebut,
yang bekerja dengan pengukuran Doppler juntuk menghitung
koordinat satelit. Data tersebut dikirimkan kembali kepada tiap
27
satelit. Untuk disimpan dalam memori dan dipancarkan kepada
pesawat penerima di kapal. Setiap 12 jam stasiun tracking
memberikan data koordinat sehingga posisi satelit dapat dihitung
dengan cermat. System navigasi satelit ini bekerja pada 2
frequensi yaitu 1575 MHz dan 1227 MHz. Disamping dapat
diperoleh posisi kapal dalam tiga dimensi yaitu latitude, longitude,
dan altitude di atas permukaan air, didapat pula data tentang
kecepatan dengan UTC (Universal Time Coordinate).
2. Pengertian Global Positioning System (GPS)
Global Positioning System (GPS) adalah system navigasi
yang terdiri atas satelit angkasa dan instrument di bumi yang
menerima tanda dari satelit dan Receiver GPS pengguna. Sistem
satelit GPS terdiri dari 24 satelit khususnya yang secara tetap
mengelilingi bumi. Pada awalnya GPS di buat untuk kepentingan
militer tetapi pada tahun 1980 penggunaan GPS mulai
diperkenalkan untuk kepentingan sipil, baik untuk keperluan survey
maupun keperluan Navigasi.
3. Mekanisme kerja GPS
Receiver mengetahui tiap satelit berada karena posisi satelit
telah disimpan dalam memorinya. Receiver GPS mengetahui jarak
suatu tempat dengan mengukur waktu berapa lama sinyal tiba dari
satelit dan kemudian menghitung jaraknya berdasarkan kecepatan
sinyal radio tersebut. Sinyal yang meninggalkan satelit diberi kode
28
sehingga Receiver GPS dapat mengetahui saat signal
meninggalkan satelit dan membaca kode tersebut serta
menghitung perbedaan waktu keberangkatan dan kedatangan
signal dari satelit. Karena jarak dihitung berdasarkan pengukuran
waktu yang tepat, maka perlu penyesuaian antara jam satelit dan
jam pada Receiver GPS.
Alat Receiver GPS menerima signal elektromagnetik dari
satelit GPS dan menggunakan informasi tersebut di permukaan
bumi. Dengan menggunakan Receiver GPS, kita dapat mengetahui
posisi dimana kita berada dalam system koordinat standart. Sistem
koordinat merupakan sepasang angka yang memiliki garis yang
menghubungkan sisi kanan dan kiri pada peta (garis lintang) serta
garis yang menghubungkan bagian atas dan bagian bawah peta
(garis bujur). Receiver GPS dapat bekerja dalam berbagai kondisi
cuaca, di berbagai tempat, di seluruh belahan bumi secara terus –
menerus selama 24 jam.
Sumber kesalahan yang tidak dapat kita kontrol karena satu
dan lain hal adalah konfigurasi satelit. Jika semua satelit
berkelompok di satu tempat di angkasa, perhitungan posisi tidak
seakurat jika satelit – satelit tersebut tersebar secara luas. Karena
masing – masing satelit dari 24 satelit GPS bergerak dalam
orbitnya sendiri atau memiliki garis edar mengelilingi bumi,
sehingga satelit – satelit tersebut selalu mengubah konfigurasi di
29
angkasa. Ketika satelit – satelit tersebut berada dalam bidang
pandang Receiver GPS dan tersebar melintasi angkasa, lokasi
yang dihitung sangat akurat.
4. Penyesuaian Receiver GPS Dengan Lokasi Penggunaan
Ada banyak model Receiver GPS dan setiap receiver
memiliki tombol yang yang berbeda untuk penyesuaiannya.
Berikut ini hal – hal dasar yang penting dalam penyesuaian
Receiver GPS :
a. Sistem koordinat yang digunakan.
b. Satuan pengukuran sebaiknya menggunakan Nautical.
c. Sesuaikan waktu.
d. Penyesuaian datum.
5. Membaca Receiver GPS
Setiap model Receiver GPS memiliki konfigurasi tampilan
yang berbeda dan komposisi tombol serta kegunaannya yang
berbeda pula. Sebagian besar informasi yang dibutuhkan adalah
perihal koordinat, yang secara otomatis diperlihatkan. Untuk
mengetahui nilai akurasi koordinat yang disajikan Receiver GPS,
biasanya setiap modal Receiver GPS dilengkapi dengan nilai EPE
atau PDOP pada halaman satelitnya.
PDOP adalah singkatan dari Precesion Dilution of Position.
PDOP merupakan suatu estimasi atas akurasi koordinat yang
didasarkan pada distribusi satelit. PDOP membantu anda untuk
30
mengetahui akurasi relative koordinat yang diberikan Receiver
GPS anda. Ketika Receiver telah mengkalkulasikan posisinya dari
sekurang – kurangnya 4 satelit, Receiver tersebut
mengkalkulasikan estimasi akurasi menurut geometri atau
distribusi satelit pada saat pembacan koordinat. Setiap angka
PDOP di bawah 7 dapat digunakan, tetapi semakin kecil angka
PDOP maka akurasi akan semakin baik. Hal ini disebabkan karena
satelit – satelit selalu bergerak secara relative terhadap satu sama
lainnya. Ketika satelit mengelompok dan saling berdekatan akan
memberi angka PDOP yang tinggi, maka satelit – satelit tersebut
akan bergerak ke arah konfigurasi yang lebih baik (memberi angka
PDOP yang rendah).
Receiver GPS juga menampilkan informasi tentang status
24 satelit. Setiap model Receiver GPS menampilkan informasi ini
secara berbeda, beberapa secara grafis dan beberapa dengan
terminology khusus.
Umumnya informasi perihal satelit yang ada pada Receiver
GPS adalah :
a. Jumlah satelit.
b. Status dan kekuatan sinyal dari setiap satelit yang ada dalam
bidang pandang.
c. Posisi setiap satelit dengan azimuth dan sudut di atas horizon.
31
Data ini hanya untuk kepentingan anda sebagai pengguna
Receiver GPS. Sebagai contoh, jika anda tidak memahami
mengapa Receiver GPS tersebut memerlukan waktu yang lama
untuk mengkalkulasi koordinat, lihatlah posisi dan status satelit,
sehingga anda dapat mengetahui bahwa konfigurasi tersebut tidak
bagus, karena hanya sedikit satelit yang muncul pada bidang
pandang dan satu atau dua satelit mempunyai sinyal yang lemah.
Receiver GPS hanya dapat menerima sinyal satelit jika tidak ada
halangan di atas antena. Untuk penggunaan pada kapal biasanya
dilengkapi dengan antenna eksternal yang di pasang di atas top
dek.
6. Cara Menggunakan GPS
Adapun cara-cara di bawah ini yang harus diketahui oleh
setiap pengguna dalam menggunakan Receiver GPS :
a. Untuk mengaktifkan GPS tekan tombol SLP.
b. Putar Switch ke RTE kemudian tekan # O tekan ENTER, kalau
bunyi alarm tekan CLR, kemudian putar Switch ke Waypoint.
c. Tekan #, kemudian tekan nomor Waypoint misalnya 1,
kemudian tekan ‘’ENTER’’.
d. Untuk membuat lintang misalnya lintang 02 0 - 54’,89 U tekan
terlebih dahulu + ‘’MEM’’ diikuti angka tersebut kemudian
‘’ENTER’’, dimana angka bujur akan berkedip.
32
e. Untuk membuat bujur tekan angka bujur yang dikehendaki,
misalnya bujur 1030 – 24’,00 E kemudian ‘’ENTER’’.
f. Tekan nomor Waypoint berikutnya misalnya waypoint nomor 2
dan seterusnya kemudian tekan ‘’ENTER’’, dan teruskan
prosedur yang sama mulai dengan membuat lintang.
g. Putar Switch ke posisi ‘’RTE’’ lalu tekan #, kemudian tekan 102
dan tekan ‘’ENTER’’, kalau alarm tekan ‘’CLR’’.
h. Tekan ‘’ENTER’’ maka angka di bawah akan berkedip dan
tekan 1 diikuti nomor waypoint terakhir yang sudah dibuat dan
tekan ‘’ENTER’’.
i. Tekan ‘’A/M’’ maka dua huruf ‘’AS’’ dipojok kiri bawah akan
berkedip, untuk mengakhiri tekan ‘’ENTER’’.
j. Putar Switch ke L/L maka GPS sudah siap digunakan sebagai
pedoman navigasi untuk mengikuti trayek sesuai yang
dilukiskan di peta.
k. Apabila belum digunakan GPS diistrahatkan dengan tekan
‘’SLP’’, demikian juga kalau ingin digunakan tekan ‘’SLP’’.
33
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa perbandingan sistem Navigasi
kompas, dan Receiver GPS, maka penulis dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Dari Plotting rute di atas peta diperoleh :
a. Sistem Navigasi menggunakan kompas.
Total jarak rute dari Waypoint pertama sampai ke Waypoint
tujuan = 596 Mil laut.
Kecepatan rata-rata kapal = 10,5 Knot.
Sehingga waktu tempuh = 56,8 Jam.
b. Sistem Navigasi menggunakan Receiver GPS.
Total jarak rute dari Waypoint pertama sampai ke Waypoint
tujuan = 548,3 Mil,
Kecepatan rata-rata kapal = 10,5 Knot
Sehingga waktu tempuh = 52,2 Jam.
Dari hasil perbandingan diperoleh, bahwa sistem Navigasi
menggunakan Receiver GPS dapat menghemat waktu 4,6 Jam
pelayaran dan selisih jarak tempuh 47,7 Mil laut, dibandingkan
dengan sistem Navigasi yang menggunakan kompas 33agnetic
sebagai pedoman arah dan penentuan posisi kapal.
34
2. Dalam penentuan arah pelayaran, sistem Navigasi yang
menggunakan kompas dan Receiver GPS, dapat menentukan
arah dengan baik ( tingkat akurasi < 50 ).
3. Dari hasil perbandingan diperoleh bahwa sistem Navigasi Receiver
GPS lebih efisien dan ekonomis digunakan didalam pelayaran.
B. Saran – Saran
1. Untuk memperoleh waktu yang lebih efisien dalam menghitung
jarak ke tujuan akhir sebaiknya menggunakan sistem Navigasi
Receiver GPS dibandingkan dengan sistem Navigasi kompas.
2. Sebaiknya kapal dilengkapi dengan sistem Navigasi Receiver GPS
untuk memperkecil biaya operasional kapal.