Anda di halaman 1dari 26

A.

Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan
penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 42 Tahun 2019).
Imun adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan
mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka serangan kuman tertentu. Jadi imunisasi
adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin
kedalam tubuh. (Depkes RI, 2018).
Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan
(imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit. (Yupi S, 2020).
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan pada antigen yang serupa, tidak
terjadi penyakit. (Ranuh dkk, 2018).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan
pada bayi dan anak dengan memasukkan antigen yang berupa virus atau bakteri ke dalam
tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.
Sedangkan yang dimaksud vaksin adalah bahan yang di pakai untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin
BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin Polio.
Pemberian imunisasi pada anak yang mempunyai tujuan agar tubuh kebal terhadap
penyakit tertentu, kekebalan tubuh juga dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya
terdapat tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi, potensi antigen yang
disuntikan, waktu antara pemberian imunisasi, mengingat efektif dan tidaknya imunisasi
tersebut akan tergantung dari faktor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh
dapat diharapkan pada diri anak.
B. Jenis-Jenis Imunisasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 42 Tahun 2013, berdasarkan sifat
penyelenggaraannya, imunisasi dikelompokkan menjadi imunisasi wajib dan imunisasi
pilihan.
1. Imunisasi wajib
Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah untuk
seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan
dan masyarakat sekitarnya dari penyakit menular tertentu. Imunisasi wajib diberikan
sesuai jadwal sebagaimana ditetapkan dalam pedoman penyelenggaraan imunisasi.
Imunisasi wajib terdiri atas:
a. Imunisasi rutin
Imunisasi rutin merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan secara terus
menerus sesuai jadwal. Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi
lanjutan. Imunisasi dasar diberikan pada bayi sebelum berusia 1 (satu) tahun. Jenis
imunisasi dasar yaitu:
1) Bacillus Calmette Guerin (BCG)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau
yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG,
pencegahan imunisasi BCG untuk TBC yang berat seperti TBC pada selaput
otak, TBC milier (pada seluruh lapangan paru), atau TBC tulang. Imunisasi
BCG berfungsi untuk mencegah penularan Tuberkulosis (TBC) tuberkulosis
disebabkan oleh sekelompok bakteria bernama Mycobacterium tuberculosis
complex. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC
yang telah dilemahkan. Menurut Nufareni (2003), Imunisasi BCG tidak
mencegah infeksi TB tetapi mengurangi risiko TB berat seperti meningitis TB
atau TB miliar. Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah 1 kali dan waktu
pemberian imunisasi BCG pada umur 0 – 11 bulan, akan tetapi pada umumnya
diberikan pada bayi umur 2 – 3 bulan, kemudian cara pemberian imunisasi
BCG melalui intradermal. Efek samping pada BCG dapat terjadi ulkus pada
daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional dan reaksi panas. Untuk
pemberian kekebalan aktif terhadap tuberculosis.Cara pemberian dan dosis
imunisasi BCG :
a) Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu.
Melarutkan dengan menggunakan alat-alat suntik steril dan menggunakan
cairan pelarut (NacL 0,9 %) sebanyak 4 cc
b) Dosis pemberian 0,05 ml sebanyak 1 kali
c) Disuntikkan secara intracutan di daerah lengan kanan atas pada insersio
musculus deltoideus
d) Vaksin harus digunakan sebelum lewat 3 jam dan Vaksin akan rusak bila
terkena sinar matahari langsung. Botol kemasan, biasanya terbuat dari
bahan yang berwarna gelap untuk menghindari cahaya karena cahaya atau
panas dapat merusak vaksin BCG sedangkan  pembekuan tidak merusak
vaksin BCG. Vaksin BCG di buat dalam vial, di mana kemasannya ada 1 cc
dan 2 cc.
e) Kontra indikasi : Uji Tuberculin > 5 mm, Sedang menderita HIV, Gizi
buruk, Demam tinggi, Infeksi kulit luas, dan Pernah menderita TBC
f) Efek samping
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi umum seperti demam. Setelah 1-
2 minggu penyuntikan biasanya akan timbul indurasi dan kemerahan di
tempat suntikan yang akan berubah menjadi pustula dan akan pecah
menjadi luka dan hal ini tidak perlu pengobatan dan akan sembuh spontan
dalam 8-12 minggu dengan jaringan parut. Kadang-kadang terjadi
pembesaran kelenjar limfe di ketiak atau pada leher yang terasa padat dan
tidak sakit serta tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal dan tidak
memerlukan pengobatan dan akan hilang dengan sendirinya.
2) Diphtheria Pertusis Tetanus (DPT)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit diphteri, pertusis dan tetanus. Imunisasi DPT ini merupakan vaksin
yang mengandung racun kuman diphteri yang telah dihilangkan sifat racunnya
akan tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat anti (Toxoid). Frekuensi
pemberian imunisasi DPT adalah 3 kali dengan maksud pemberian pertama zat
anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan
mengaktifkan organ – organ tubuh membuat zat anti, kedua dan ketiga
terbentuk zat anti yang cukup. Waktu pemberian imunisasi DPT antara umur 2
– 11 bulan dengan interval 4 minggu. Cara pemberian imunisasi DPT melalui
intramuscular. Cara pemberian imunisasi DPT adalah melalui injeksi
intramuskular. Cara memberiakn vaksin ini, sebagai berikut:
a) Letakkan bayi dengan posisi miring diatas pangkuan ibu dengan seluruh
kaki telanjang
b) Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi
c) Pegang paha dengan ibu jari dan jari telunjuk
d) Masukkan jarum dengan sudut 90 derajat
e) Tekan seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga masuk ke
dalam otot. Untuk mengurangi rasa sakit, suntikkan secara pelan-pelan.
Efek samping pada DPT mempunyai efek ringan dan efek berat, efek ringan
seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan, demam sedangkan
efek berat dapat menangis hebat kesakitan kurang lebih 4 jam, kesadaran
menurun, terjadi kejang, enchefalopati, dan syok.
3) Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair. Frekuensi
pemberian imunisasi hepatitis 3 kali. Waktu pemberian imunisasi hepatitis B
pada umur 0 – 11 bulan. Cara pemberian imunisasi hepatitis ini adalah
intramuscular. Cara Pemberian dan Dosis imunisasi hepatitis B :
a) Sebelum digunakan vaksin dikocok terlebih dahulu agar suspense menjadi
homogeny
b) Vaksin disuntikan dengan dosis 0,5 ml secara IM sebaiknya pada
anterolateral paha.
c) Pemberian imunisasi Hepatitis B sebanyak 3 x
d) Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari dan selanjutnya dengan interval
waktu minimal 4 minggu.
e) Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin dan penderita infeksi berat disertai
kejang, masih diizinkan untuk pasien batuk/pilek.
f) Efek Samping
(1)Reaksi local seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakkan disekitar 
tempat bekas penyuntikan.
(2)Reaksi sistemik seperti demam ringan, lesu dan perasaan tidak enak pada
saluran cerna
(3)Reaksi yang terjadi akan hilang dengan sendirinya setelah 2 hari.
4) Polio
Merupakan imunisasi yang bertujuan mencegah penyakit poliomyelitis.
Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Terdapat 2 macam
vaksin polio:
a) Inactivated Polio Vaccine (IPV = Vaksin Salk), mengandung virus polio
yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan.
b) Oral Polio Vaccine (OPV = Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang
telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Frekuensi pemberian imunisasi Polio adalah 4 kali. Waktu pemberian
imunisasi Polio antara umur 0 – 11 bulan dengan interval 4 minggu. Cara
pemberian imunisasi Polio melalui oral. Cara pemberian dan dosis imunisasi
polio :
a) Diberikan secara oral sebanyak 2 tetes di bawah lidah langsung dari botol
tanpa menyentuh mulut bayi. Diberikan 4 x dengan interval waktu minimal
4 minggu
b) Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru.
c) Kontraindikasi
(1) Pada individu yang menderita imunedeficiency tidak ada efek yang
berbahaya yang timbul akibat pemberian Polio pada anak yang sedang
sakit. Namun, jika ada keraguan misalnya sedang menderita diare atau
muntah, demam tinggi >38,5˚C, maka dosis ulangan dapat di berikan
setelah sembuh.
(2) Pasien yang mendapat imunosupresan
d) Efek samping
Pada umumnya tidak ada efek samping. Tetapi ada hal yang perlu
diperhatikan setelah imunisasi polio yaitu setelah anak mendapatkan
imunisasi polio maka pada tinja si anak akan terdapat virus polio selama 6
minggu sejak pemberian imunisasi. Karena itu, untuk mereka yang
berhubungan dengan bayi yang baru saja diimunisasi polio supaya menjaga
kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.
5) Campak
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular. Penyakit
infeksi ini disebabkan oleh virus morbilli yang menular melalui droplet. Gejala
awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada bagian
telinga, dahi dan menjalar kewajah dan anggota badan. Selain itu, timbul
gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan (konjungtivitis). Setelah
3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan
tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh , kulit akan tampak
seperti bersisik. Imunisasi campak diberikan pada anak usia 9 bulan sebanyak
satu kali dengan rasional kekebalan dari ibu terhadap penyakit campak
berangsur akan hilang sampai usia 9 bulan. Kandungan vaksin ini adalah virus
yang dilemahkan. Waktu pemberian imunisasi campak pada umur 9 – 11
bulan. Cara pemberian imunisasi campak melalui subkutan kemudian efek
sampingnya adalah dapat terjadi ruam pada tempat suntikan dan panas.
2. Imunisasi lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat
kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. Imunisasi lanjutan
diberikan pada :
1) anak usia bawah tiga tahun (Batita)
Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia bawah tiga tahun
(Batita) terdiri atas Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB) atau
Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus Influenza type B (DPT-
HB-Hib) dan Campak.
2) anak usia sekolah dasar
Imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar diberikan pada Bulan
Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada
anak usia sekolah dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terdiri atas
Diphtheria Tetanus (DT), Campak, dan Tetanus diphteria (Td).
3) wanita usia subur
Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada wanita usia subur berupa
Tetanus Toxoid (TT).
3. Imunisasi tambahan
Imunisasi tambahan diberikan pada kelompok umur tertentu yang paling berisiko
terkena penyakit sesuai kajian epidemiologis pada periode waktu tertentu.
Pemberian imunisasi tambahan tidak menghapuskan kewajiban pemberian
imunisasi rutin.
4. Imunisasi khusus
Imunisasi khusus merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan untuk
melindungi masyarakat terhadap penyakit tertentu pada situasi tertentu. Situasi
tertentu antara lain persiapan keberangkatan calon jemaah haji/umroh, persiapan
perjalanan menuju negara endemis penyakit tertentu dan kondisi kejadian luar
biasa. Jenis imunisasi khusus antara lain terdiri atas imunisasi Meningitis
Meningokokus, imunisasi demam kuning, dan imunisasi Anti Rabies (VAR).
5. Imunisasi pilihan
Imunisasi pilihan merupakan imunisasi yang dapat diberikan kepada seseorang
sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dari
penyakit menular tertentu. Jenis imunisasi pilihan dapat berupa imunisasi
Haemophillus influenza tipe b (Hib), Pneumokokus, Rotavirus, Influenza,
Varisela, Measles Mumps Rubella, Demam Tifoid, Hepatitis A, Human
Papilloma Virus (HPV), dan Japanese Encephalitis.
a. Imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Vaksin MMR bertujuan untuk mencegah Measles (campak), Mumps
(gondongan) dan Rubella merupakan vaksin kering yang mengandung virus
hidup, harus disimpan pada suhu 2–80C atau lebih dingin dan terlindung dari
cahaya. Vaksin harus digunakan dalam waktu 1 (satu) jam setelah dicampur
dengan pelarutnya, tetap sejuk dan terhindar dari cahaya, karena setelah
dicampur vaksin sangat tidak stabil dan cepat kehilangan potensinya pada
temperatur kamar. Vaksin MMR harus diberikan sekalipun ada riwayat
infeksi campak, gondongan dan rubella atau sudah mendapatkan imunisasi
campak; anak dengan penyakit kronis seperti kistik fibrosis, kelainan jantung
bawaan, kelainan ginjal bawaan, gagal tumbuh, sindrom Down; anak berusia
≥ 1 tahun day care yang centre, berada family day di care dan playgroups;
dan anak yang tinggal di lembaga cacat mental.

Kontra Indikasi:
1) Anak dengan penyakit keganasan yang tidak diobati atau dengan
gangguan imunitas, yang mendapat pengobatan dengan imunosupresif
atau terapi sinar atau mendapat steroid dosis tinggi (ekuivalen dengan 2
mg/kgBB/hari prednisolon)
2) Anak dengan alergi berat (pembengkakan pada mulut atau tenggorokan,
sulit bernapas, hipotensi dan syok) terhadap gelatin atau neomisin
3) Pemberian MMR harus ditunda pada anak dengan demam akut, sampai
penyakit ini sembuh
4) Anak yang mendapat vaksin hidup yang lain (termasuk BCG dan vaksin
virus hidup) dalam waktu 4 minggu. Pada keadaan ini imunisasi MMR
ditunda lebih kurang 1 bulan setelah imunisasi yang terakhir. Individu
dengan tuberkulin positif akan menjadi negatif setelah pemberian vaksin
5) Wanita hamil tidak dianjurkan mendapat imunisasi MMR (karena
komponen rubela) dan dianjurkan untuk tidak hamil selama 3 bulan
setelah mendapat suntikan MMR.
6) Vaksin MMR tidak boleh diberikan dalam waktu 3 bulan setelah
pemberian imunoglobulin atau transfusi darah yang mengandung
imunoglobulin (whole blood, plasma). Dengan alasan yang sama
imunoglobulin tidak boleh diberikan dalam waktu 2 minggu setelah
vaksinasi.
7) Defisiensi imun bawaan dan didapat (termasuk infeksi HIV). Sebenarnya
HIV bukan kontra indikasi, tetapi pada kasus tertentu, dianjurkan untuk
meminta petunjuk pada dokter spesialis anak (konsultan).
Dosis: Dosis tunggal 0,5 ml suntikan secara intra muskular atau subkutan
dalam.
Jadwal:
1) Diberikan pada usia 12–18 bulan.
2) Pada populasi dengan insidens penyakit campak dini yang tinggi,
imunisasi MMR dapat diberikan pada usia 9 (sembilan) bulan.
b. Imunisasi Thypus Abdominalis
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit thypus abdominalis, dalam persediaannya, khususnya di Indonesia
terdapat 3 jenis vaksin thypus abdominalis diantaranya kuman yang
dimatikan, kuman yang dilemahkan (vivotif, berna), dan antigen kapsular
Vi Polysaccharide (Typhimvi, Pasteur meriux). Pada vaksin kuman yang
dimatikan, dapat diberikan untuk bayi 6 – 12 bulan adalah 0,1 mL, 1 – 2
tahun 0,2 mL, dan 2 – 12 tahun adalah 0,5 mL, pada imunisasi awal dapat
diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu kemudian penguat
setelah 1 tahun kemudian. Pada vaksin kuman yang dilemahkan dapat
diberikan dalam bentuk capsul enteric coated sebelum makan pada hari 1, 2,
5, pada anak diatas usia 6 tahun dan pada antigen kapsular diberikan pada
usia diatas 2 tahun dan dapat diulang tiap 3 tahun.
c. Imunisasi Varicella
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit varicella (cacar air). Vaksin varicella merupakan virus hidup
varicella zoster strain OK yang dilemahkan. Vaksin diberikan mulai umur
masuk sekolah (5 tahun) Pada anak ≥ 13 tahun vaksin di anjurkan dua kali
selang 4 minggu. Pada keadaan terjadi kontak dengan kasus varisela, untuk
pencegahan vaksin dapat diberikan dalam waktu 72 jam setelah penularan
(dengan persyaratan: kontak dipisah/tidak berhubungan).
Kontra Indikasi:
1) Demam tinggi
2) Hitung limfosit kurang dari 1200/µl atau adanya bukti defisiensi
imun selular seperti selama pengobatan induksi penyakit keganasan
atau fase radioterapi
3) Pasien yang mendapat pengobatan dosis tinggi kortikosteroid (2
mg/kgBB per hari atau lebih)
4) Alergi neomisin
Dosis dan Jadwal: Dosis 0,5 ml suntikan secara subkutan, dosis
tunggal
d. Imunisasi Hepatitis A
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
hepatitis A.
Rekomendasi:
1) Populasi risiko tinggi tertular Virus Hepatitis A (VHA).
2) Anak usia ≥ 2 tahun,didaerahterutamaendemis.Padaanakusia>2 tahun
antibodi maternal sudah menghilang. Di lain pihak, kehidupan
sosialnya semakin luas dan semakin tinggi pula paparan terhadap
makanan dan minuman yang tercemar.
3) Pasien Penyakit Hati Kronis, berisiko tinggi hepatitis fulminan bila
tertular VHA.
4) Kelompok lain: pengunjung ke daerah endemis; penyaji makanan; anak
usia 2–3 tahun di Tempat Penitipan Anak (TPA); staf TPA; staf dan
penghuni institusi untuk cacat mental; pria homoseksual dengan
pasangan ganda; pasien koagulopati; pekerja dengan primata bukan
manusia; staf bangsal neonatologi.

Kontra Indikasi:
Vaksin VHA tidak boleh diberikan kepada individu yang mengalami
reaksi berat sesudah penyuntikan dosis pertama
Dosis dan Jadwal:
1) Dosis vaksin bervariasi tergantung produk dan usia resipien
2) Vaksin diberikan 2 kali, suntikan kedua atau booster bervariasi antara 6
sampai 18 bulan setelah dosis pertama, tergantung produk
3) Vaksin diberikan pada usia ≥ 2 tahun
e. Vaksin Tifoid
Vaksin tifoid oral dibuat dari kuman Salmonella typhi galur non patogen
yang telah dilemahkan, menimbulkan respon imun sekretorik IgA,
mempunyai reaksi samping yang lebih rendah dibandingkan vaksin
parenteral. Kemasan dalam bentuk kapsul. Penyimpanan pada suhu 2 –
80C. Vaksin tifoid oral diberikan untuk anak usia ≥ 6 tah
Kontra Indikasi:
1) Vaksin Tifoid Oral
a) Vaksin tidak boleh diberikan bersamaan dengan antibiotik,
sulfonamid atau antimalaria yang aktif terhadap Salmonella.
b) Pemberian vaksin polio oral sebaiknya ditunda dua minggu setelah
pemberian terakhir dari vaksin tifoid oral (karena vaksin ini juga
menimbulkan respon yang kuat dari interferon mukosa)
2) Vaksin tifoid polisakarida parenteral
a) Alergi terhadap bahan-bahan dalam vaksin.
b) Pada saat demam, penyakit akut maupun penyakit kronik progresif.
Dosis dan Jadwal:
1) Vaksin tifoid oral
a) Satu kapsul vaksin dimakan tiap hari, satu jam sebelum makan
dengan minuman yang tidak lebih dari 370C, pada hari ke 1, 3 dan
5.
b) Kapsul ke 4 diberikan pada hari ke 7 terutama bagi turis.
c) Kapsul harus ditelan utuh dan tidak boleh dibuka karena kuman
dapat mati oleh asam lambung.
d) Imunisasi ulangan diberikan tiap 5 tahun. Namun pada individu
yang terus terekspose dengan infeksi Salmonella sebaiknya
diberikan 3–4 kapsul tiap beberapa tahun.
e) Daya proteksi vaksin ini hanya 50%-80%, walaupun telah
mendapatkan imunisasi tetap dianjurkan untuk memilih makanan
dan minuman yang higienis.
2) Vaksin tifoid polisakarida parenteral
a) Dosis 0,5 ml suntikan secara intra muskular atau subkutan pada
daerah deltoid atau paha
b) Imunisasi ulangan tiap 3 tahun
c) Daya proteksi vaksin ini hanya 50%-80%, walaupun telah
mendapatkan imunisasi tetap dianjurkan untuk memilih makanan
dan minuman yang higienis
f. Imunisasi HiB (Haemophilus influenza tipe B)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit influenza tipe B. Vaksin Hib adalah vaksin polisakarida
konyugasi dalam bentuk liquid, yang dapat diberikan tersendiri atau
dikombinasikan dengan vaksin DPaT (tetravalent) atau DpaT/HB
(pentavalent) atau DpaT/HB/IPV (heksavalent).
Kontra Indikasi: Vaksin tidak boleh diberikan sebelum bayi berumur 2
bulan karena bayi tersebut belum dapat membentuk antibodi
Dosis dan Jadwal:
1) Vaksin Hib diberikan sejak umur 2 bulan, diberikan sebanyak 3 kali
dengan jarak waktu 2 bulan.
2) Dosis ulangan umumnya diberikan 1 tahun setelah suntikan terakhir.

Imunisasi sebagai salah satu cara untuk menjadikan kebal pada bayi dan anak dari
berbagai penyakit, diharapkan bayi atau anak tetap tumbuh dalam keadaan sehat. Pada
dasarnya dalam tubuh sudah memiliki pertahanan secara sendiri agar berbagai kuman
yang masuk dapat dicegah, pertahan tubuh tersebut meliputi pertahanan nonspesifik dan
pertahanan spesifik, proses mekanisme pertahanan dalam tubuh pertama kali adalah
pertahanan nonspesifik seperti complemen dan makrofag dimana complemen dan
makrofag ini yang pertama kali akan memberikan peran ketika ada kuman yang masuk
ke dalam tubuh. Setelah itu maka kuman harus melawan pertahanan tubuh yang kedua
yaitu pertahanan tubuh spesifik terdiri dari system humoral dan seluler. System
pertahanan tersebut hanya bereaksi terhadap kuman yang mirip dengan bentuknya.
System pertahanan humoral akan menghasilkan zat yang disebut imonuglobulin (IgA,
IgM, IgG, IgE, IgD) dan system pertahanan seluler terdiri dari limfosit B dan limfosit T,
dalam pertahanan spesifik selanjutnya akan menghasilkan satu sel yang disebut sel
memori, sel ini akan berguna atau sangat cepat dalam bereaksi apabila sudah pernah
masuk ke dalam tubuh, kondisi ini yang digunakan dalam prinsip imunisasi. Berdasarkan
proses tersebut diatas maka imunisasi dibagi menjadi dua yaitu imunisasi aktif dan
imunisasi pasif.
1. Imunisasi aktif
Merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi suatu
proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imonologi spesifik yang
menghasilkan respons seluler dan humoral serta sel memori, sehingga apabila benar-
benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespons. Dalam imunisasi aktif
terdapat empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya antara lain :
a. Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba
guna terjadinya semacam infeksi buatan dapat berupa poli sakarida, toksoid atau
virus dilemahkan atau bakteri dimatikan.
b. Pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur jaringan.
c. Preservatif, stabilizer, dan antibiotika yang berguna untuk menhindari tubuhnya
mikroba dan sekaligus untuk stabilisasi antigen.
d. Adjuvant yang terdiri dari garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan
imonogenitas antigen.
2. Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara
pemberian zat imunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi
yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui
plasenta) atau binatang (bisa ular) yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang
sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
C. Cara Pemberiaan Imunisasi
Berikut ini adalah cara pemberiaan dan waktu yang tepat untuk pemberian
imunisasi. Cara Pemberiaan Imunisasi Dasar. (Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 42
Tahun 2013)
Jenis Dosis Cara Pemberian Tempat
Vaksin
Hepatitis B 0,5 ml Intra Muskuler Paha
BCG 0,05 ml Intra Kutan Lengan kanan atas
Polio 2 tetes Oral Mulut
DPT-HB-Hib 0,5 ml Intra Muskuler Paha untuk bayi
Lengan kanan
untuk batita
Campak 0,5 ml Sub Kutan Lengan kiri atas
DT 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas
Td 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas
TT 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas

Jarak minimal antar dua pemberian imunisasi yang sama adalah 4 (empat) minggu.
Tidak ada batas maksimal antar dua pemberian imunisasi.

D. Waktu Pemberiaan Imunisasi


Waktu Yang Tepat Untuk Pemberiaan Imunisasi Dasar (Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 42 Tahun 2013)
Umur Jenis
0 bulan Hepatitis B0
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3
4 bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4
9 bulan Campak

Jadwal imunisasi lanjutan pada anak bawah tiga tahun

Umur Jenis Imunisasi


18 bulan DPT-HB-Hib
24 bulan Campak

Jadwal imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar

Waktu
Sasaran Imunisasi
Pelaksanaan
Kelas 1 SD Campak Agustus
DT November
Kelas 2 SD Td November
Kelas 3 SD Td November

E. Rantai Dingin (Cold Chain)


Merupakan cara menjaga agar vaksin dapat digunakan dalam keadaan baik, atau
tidak rusak sehingga mempunyai kemampuan atau efek kekebalan pada penerimanya,
akan tetapi apabila vaksin diluar temperature yang dianjurkan maka akan mengurangi
potensi kekebalannya.
Dibawah ini potensi vaksin dalam temperature :

Vaksin 2 – 8oC 35 – 37o C

DT 3 – 7 tahun 6 minggu

Pertusis 18 – 24 bulan Dibawah 50% dalam 1 minggu

BCG
1 tahun
- Kristal Dibawah 20% dalam 3 – 14 hari
Dipakai dalam 1 kali
- Cair Dipakai dalam 1 kali kerja
kerja

Campak
2 tahun
- Kristal 1 minggu
Dipakai dalam 1 kali
- Cair Dipakai dalam 1 kali kerja
kerja

Polio 6 – 12 bulan 1 – 3 hari

F. Pemberian Imunisasi
Apapun imunisasi yang diberikan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan
perawat, yaitu sebagai berikut :
1. Orang tua anak harus ditanyakan aspek berikut.
a. Status kesehatan anak saat ini, apakah dalam kondisi sehat atau sakit,
b. Pengalaman/reaksi terhadap imunisasi yang pernah didapat sebelumnya,
c. Penyakit yang dialami di masa lalu dan sekarang.
2. Orang tua harus mengerti tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I) terlebih dahulu sebelum menerima imunisasi
(informed consent). Pengertian mencakup jenis imunisasi, alasan diimunisasi, manfaat
imunisasi, dan efek sampingnya.
3. Catatan imunisasi yang lalu (apabila sudah pernah mendapat imunisasi sebelumnya),
pentingnya menjaga kesehatan melalui tindakan imunisasi.
4. Pendidikan kesehatan untuk orang tua. Pemberian imunisasi pada anak harus didasari
pada adanya pemahaman yang baik dari orang tua tentang imunisasi sebagai upaya
pencegahan penyakit. Perawat harus memberikan pendidikan kesehatan ini sebelum
imunisasi diberikan pada anak. Gali pemahaman orang tua tentang imunisasi anak.
Gunakan pertanyaan terbuka untuk mendapatkan informasi seluas luasnya tentang
pemahaman orang tua berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan anak melalui
pencegahan penyakit dengan imunisasi supaya dapat memberikan pemahaman yang
tepat. Pada akhirnya diharapkan adanya kesadaran orang tua untuk memelihara
kesehatan anak sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
5. Kontraindikasi pemberiaan imunisasi. Ada beberapa kondisi yang menjadi
pertimbangan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak, yaitu:
a. Flu berat atau panas tinggi dengan penyebab yang serius
b. Perubahan pada system imun yang tidak dapat memberi vaksin virus hidup.
c. Sedang dalam pemberian obat-obat yang menekan system imun, seperti
sitostatika, transfuse darah, dan imonoglobulin
d. Riwayat alergi terhadap alergi terhadap pemberian vaksin sebelumnya seperti
e. pertusis.

Tabel Distribusi Umur Balita Berdasarkan Mendapat kapsul Vitamin A, Manfaat


Vitamin A, Pernah Tidaknya Imunisasi dan Lengkap Tidaknya Imunisasi di RT
03/ RW 01 Kelurahan petuk katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Umur Jumlah Persentase
(Bulan) (%)
12- 36-
35 60
1 Mendapat Kapsul Vitamin A
a. Ya 5 7 12 63,2
b. Tidak 5 2 7 36,8
2 Manfaat Kapsul Vitamin A
a. Ya 5 7 12 63,2
b. Tidak 5 2 7 36,8
3 Pernah Diimunisasi
a. Ya 5 7 12 63,2
b. Tidak 5 2 7 36,8

4 Lengkap Imunisasi dari yang


Pernah diimunisasi
a. Lengkap 5 7 12 63,2
b. Tidak Lengkap 5 2 7 36,8
Jumlah Balita 19 100%
Berdasarkan tabel Distribusi Umur Balita Berdasarkan Mendapat kapsul Vitamin A
(Ya) Umur (bulan) 12-35 sebanyak 5 orang (36,8%) dan 36-60 sebanyak 7 orang (63,2%) ,
Manfaat Vitamin A (Ya) Umur (bulan) 12-35 sebanyak 5 orang (36,8%) dan 36-60
sebanyak 7 orang (63,2%). Pernah Tidaknya (Ya) Umur (bulan) 12-35 sebanyak 5 orang
(36,8%) dan 36-60 sebanyak 7 orang (63,2%), dan Lengkap Tidaknya Imunisasi (Ya)
Umur (bulan) 12-35 sebanyak 5 orang (36,8%) dan 36-60 sebanyak 7 orang (63,2%).
A. Definisi KB
Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan jarak
kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, pemerintah mencanangkan program atau
cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati, 2019).
Kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau
pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuiahi ke dinding rahim (Mulyani, 2018).
Kontrasepsi pascapersalinan adalah inisiasi pemakaian metode kontrasepsi dalam waktu 6
minggu pertama pascapersalinan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang btidak
diinginkan, khususnya pada 1-2 tahun pertama pascapersalinan (Mulyani, 2018)
B. Tujuan Program KB
Tujuan dilaksanakan program KB yaitu untuk membentuk keluarga kecil sesuai dengan
kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak agar
diperoleh suatu keluarga bahagia dansejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
(Sulistyawati, 2019).
C. Jenis Kontrasepsi1
1. Mal
Metode Amenorrhea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan
pemberian air susu ibu (ASI).Syarat MAL sebagai kontrasepsi adalah menyusui
secara penuh (full breast feeding), belum haid, umur bayi kurang dari 6 bulan. Harus
dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya.Bekerja dengan
penundaan ovulasi.
2. Kontrasepsi metode sederhana
a. Metode pantang berkala atau yang lebih dikenal dengan sistem kalender
merupakan salah satu cara/metode kontrasepsi sederhana yang dapat dikerjakan
sendiri oleh pasangan suami-istri dengan tidak melakukan senggama pada masa
subur.
b. Metode kontrasepsi suhu basal berdasarkan kenaikan suhu tubuh setelah ovulasi
sampai sehari sebelum menstruasi berikutnya. Untuk mengetahui bahwa suhu
tubuh benar-benar naik, maka harus selalu diukur dengan termometer yang sama
dan pada tempat yang sama setiap pagi setelah bangun tidur sebelum
mengerjakan pekerjaan apapun dan dicatat pada tabel.
c. Metode lendir serviks atau Metode Ovulasi Billings (MOB) adalah suatu
cara/metode yang aman dan ilmiah untuk mengetahui kapan masa subur wanita.
Cara ini dapat dipakai baik untuk menjadi hamil maupun menghindari atau
menunda kehamilan.
d. Coitus Interuptus juga dikenal dengan metode senggama terputus. Teknik ini
dapat mencegah kehamilan dengan cara sebelum terjadi ejakulasi pada pria,
seorang pria harus menarik penisnya dari vagina sehingga tidak setetes pun
sperma masuk ke dalam rahim wanita.
e. Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang terbuat dari karet/lateks,
berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat
dan dilengkapi kantung untuk menampung sperm
3. Kontrasepsi Oral
a. Mekanisme kerja pil merupakan kombinasi kerja estrogen dan progestin, saat
ini tersedia 3 variasi pil kombinasi :
1) Monofasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet megandung
hormon aktif estrogen atau progestin dalam dosis yang sama dengan 7
tablet tanpa hormon aktif.
2) Bifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet menganduk
hormon aktif estrogen atau progestin dalam dua dosis yang berbeda dan 7
tablet tanpa hormon aktif.
3) Trifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon estrogen atau progestin dalam tiga dosis yang berbeda dan
mengandung 7 tablet tanpa hormon aktif.
b. Keuntungan Pemakaian Pil KB
1) Bila meminum pil KB sesuaiaturan maka krmungkinan akan berhasil
100%
2) Dapat dipakai dalam beberapa macam masalah, misalnya ketegangan
menjelang menstruasi, perdarahan menstruasi yang tidak teratur, nyeri
saat
menstruasi,pengobatan penyakit endometritis, dapat meningkatkan libido
c. Kerugian Pemakaian PIL KB
1) Harus diminum secara teratur
2) Dalam waktu yang panjang dapat menekan fungsi ovarium
3) Penyulit ringan diantaranya berat badan bertambah, rambut rontok, timbul
jerawat, mual sampai muntah
4. Kontrasepsi Suntik
Metode suntikan KB telah menjadi gerakan keluarga berencana nasional serta
peminatnya semain bertambah. Tingginya peminat suntikan KB karena aman,
sederhana, efektif, tida menimbulkan gangguan dan dapat digunakan pasca
persalinan. Ada tersedia 2 jenis alat kontrasepsi suntik yang mengandung progestin
yaitu Depo Mendroxyprogesteron Acetat (DMPA), mengandung 150 mg DMPA
yang diberikan setiap bulan. Dan Depo Neuretisteron Enantat (Depo Noriterat),
mengandung 200 mg noretindron, yang diberikan setiap 3 bulan sekali dengan cara
disuntikkan secara intramuscular pada sepertiga SIAS.
Keuntungan menggunakan suntik KB
a. Pemberiannya sederhana setiap 8-12 minggu
b. Tingkat efektivitasnya tinggi
c. Hubungan seksual bebas, tidak ditentukan oleh pantangan kalender,jika
menggunakan KB suntik
5. Alat Kontrasepsi dalam Rahim
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan kontrasepsi yang dimasukkan
melalui serviks dan dipasang di dalam uterus. AKDR mencegah kehamilan dengan
merusak kemampuan hidup sperma dan ovum karena adanya perubahan pada tuba
dan cairan uterus
a. Implan Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) Alat Kontrasepsi Bawah
Kulit (AKBK) adalah alat kontrasepsi berupa batang silastik yang dipasang
dibawah kulit.
b. MOW Metode Operasi Wanita (MOW) dan Metode Operasi Pria (MOP)
MOW (Medis Operatif Wanita)/ Tubektomi merupakan tindakan penutupan
terhadap kedua saluran telur kanan dan kiri yang menyebabkan sel telur tidak
dapat melewati saluran telur, dengan demikian sel telur tidak dapat bertemu
dengan sperma laki laki sehingga tidak terjadi kehamilan, oleh karena itu
gairah seks wania tidak akan turun (BKKBN, 2012).
Syarat dilakukan MOW Menurut Saiffudin (2019) yaitu sebagai berikut:
a. Syarat Sukarela meliputi pengetahuan pasangan tentang cara cara
kontrasepsi lain, resiko dan keuntungan kontrasepsi mantap serta
pengetahuan tentang sifat permanen pada kontrasepsi ini.
b. Syarat Bahagia dilihat dari ikatan perkawinan yang syah dan harmonis,
umur istri sekurang kurangnya 25 tahun dengan sekurang kurangnya 2
orang anak hidup dan anak terkecil lebih dari 2 tahun.
c. Syarat Medik, setiap calon peserta kontrasepsi mantap wanita harus
dapat memenuhi syarat kesehatan, artinya tidak ditemukan hambatan
atau kontraindikasi untuk menjalani kontrasepsi mantap. Pemeriksaan
seorang dokter diperlukan untuk dapat memutuskan apakah seseorang
dapat menjalankan kontrasepsi mantap. Ibu yang tidak boleh
menggunakan metode kontrasepsi mantap antara lain ibu yang
mengalamai peradangan dalam rongga panggul, obesitas berlebihan
dan ibu yang sedang hamil atau dicurigai sdang hamil .Tindakan
pembedahan teknik yang digunakan dalam pelayanan tubektomi
antara lain Minilaparotomi dan Laparoskopi.
Waktu Pelaksanaan MOW antara lain Masa Interval (selama waktu
selama siklus menstrusi), Pasca persalinan (post partum), Pasca
keguguran Indikasi MOW antara lain yaitu Indikasi medis umum atau
adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih berat bila
wanita ini hamil lagi, Gangguan fisik misalnya tuberculosis
`pulmonum, penyakit jantung, dan sebagainya, Gangguan psikis yang
dialami yaitu seperti skizofrenia (psikosis), sering menderita psikosa
nifas, dan lain lain, Indikasi medik obstetri yaitu toksemia gravidarum
yang berulang, seksio sesarea yang berulang, histerektomi obstetri, dan
sebagainya, Indikasi medis ginekologi adalah pada waktu melakukan
operasi ginekologik dapat pula dipertimbangkan untuk sekaligus
melakukan sterilisasi, Indikasi sosial ekonomi berdasarkan beban
sosial ekonomi yang sekarang ini terasa bertambah lama bertambah
berat. Kontraindikasi MOW antara lain adalah Kontra indikasi mutlak
seperti adanya Peradangan dalam rongga panggul, Peradangan liang
senggama aku (vaginitis, servisitis akut), Kavum dauglas tidak bebas,
ada perlekatan. Kontraindikasi relative misalnya Obesitas berlebihan,
adanya bekas laparotomy.
Keuntungan MOW adalah Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan
sangat tinggi, tidak mengganggu kehidupan suami istri, tidak
mempengaruhi kehidupan suami istri, tidak mempengaruhi ASI, Lebih
aman (keluhan lebih sedikit), praktis (hanya memerlukan satu kali
tindakan), lebih efektif (tingkat kegagalan sangat kecil), lebih
ekonomis.
Kerugian MOW yaitu antara lain:
a. Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini
tidak dapat dipulihkan kembali
b. Klien dapat menyesal dikemudian hari
c. Resiko komplikasi kecil meningkat apabila digunakan anestesi
umum
d. Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah
tindakan
e. Dilakukan oleh dokter yang terlatih dibutuhkan dokter spesalis
ginekologi atau dokter spesalis bedah untuk proses laparoskopi
f. Tidak melindungi diri dari IMS.
c. MOP ( Medis Operatif Pria ) / vasektomi MOP adalah alat kontrasepsi
jenis sterilisasi melalui pembedahan dengan cara memotong saluran sperma
yang menghubungkan testikel (buah zakar) dengan kantung sperma sehingga
tidak ada lagi kandungan sperma di dalam ejakulasi air mani pria.
Vasektomi dilakukan dengan cara pemotongan Vas Deferens sehingga
saluran transportasi sperma terhambat dan proses penyatuan dengan ovum
tidak bekerja. Seorang pria yang sudah divasektomi, volume air maninya
sekitar 0,15 cc yang tertahan tidak ikut keluar bersama ejakulasi karena
scrotum yang mengalirkannya sudah dibuat buntu. Sperma yang sudah
dibentuk tidak akan dikeluarkan oleh tubuh, tetapi diserap & dihancurkan
oleh tubuh.
Syarat MOP antara lain adalah sukarela, bahagia, bila hanya mempunyai 2
orang anak, maka anak yang terkecil paling sedikit umur sekitar 2 tahun ,
umur isteri paling muda sekitar 25 tahun, Kesehatan tidak ditemukan adanya
hambatan atau kontraindikasi untuk menjalani kontap. Oleh karena itu setiap
calon peserta harus diperiksa terlebih dahulu kesehatannya oleh dokter,
sehingga diketahui apakah cukup sehat untuk dikontap atau tidak. Selain itu
juga setiap calon peserta kontap harus mengikuti konseling (bimbingan tatap
muka) dan menandatangani formulir persetujuan tindakan medik (Informed
Consent).
Cara Pemasangan MOP yaitu kulit skrotum di daerah operasi dibersihkan.
Kemudian dilakukan anastesia local dengan larutan xilokain. Anastesia
dilakukan di kulit skrotum dan jaringan sekitarnya di bagian atas dan pada
jaringan di sekitar vas deferens. Vas dicari dan stelah ditentukan lokasinya,
dipegang sedekat mungkin di bawah kulit skrotum. Setelah itu, dilakukan
sayatan pada kulit skrotum sepanjang 0,5 – 1 cm di dekat tempat vas
deferens. Setelah vas kelihatan, dijepit dan dikeluarkan dari sayatan ( harus
diyakinkan bahwa vas yang dikeluarkan itu ), vas dipotong sepanjang 1 – 2
cm dan kedua ujungnya diikat. Setelah kulit dijahit, tindakan diulangi pada
sebelah yang lain.
Teknik Melakukan MOP dengan cara operatif dan indikasi MOP adalah
bahwa pasangan suami-istri tidak menghendaki kehamilan lagi dan pihak
suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya.
Kontraindikasi MOP antara lain adalah adanya Infeksi kulit lokal, misalnya
Scabies, Infeksi traktus genetalia, kelainan skrotum , adnya riwayat penyakit
sistemik, riwayat perkawinan. Keuntungan MOP yaitu efektif, aman,
morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas, sederhana., cepat, hanya
memerlukan waktu 5-10 menit, biaya rendah.
Kerugian MOP adalah diperlukan suatu tindakan operatif, kadang-kadang
menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi, kontrasepsi mantap
pria belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa, yang
sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens
dikeluarkan, problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual
mungkin bertambah parah setelah tindakan operatif yang menyangkut sistem
reproduksi.

PENYAJIAN DATA KESEHATAN IBU DAN ANAK


10.1 PUS
10.1 Tabel Distribusi Umur Wanita Usia Subur (WUS) Berdasarkan PUS Dan Akseptor KB
di RT 03
No Karakteristik Umur Jumlah Pe
(tahun) rsentase
(%)
1 Wanita Usia Subur (WUS)
Ya 80 80 100
Tidak - - -
2 Pasangan Usia Subur (PUS)
Ya 122 122 100
Tidak 24 24 100
3 PUS termasuk Akseptor KB
Ya 122 122 100
Tidak 24 24 100
4 Yang Ikut KB
Bapak 1 1 100
Ibu 61 61 100
5 Alasan tidak ber KB
Ragu-ragu 1 1 100
Tidak dijinkan 2 2 100
Ingin punya anak 16 16 100
Lain-lain - - -
100%

Berdasarkan tabel di atasmenunjukan Distribusi Umur Wanita Usia Subur (WUS) berjumlah
80 orang ,yang termasuk pasangan usia subur (PUS) 122 orang dan yang tidak berjumlah
orang, PUS termasuk akseptor KB berjumlah 61 orang dan yang tidak berjumlah 15 orang
yang ikut KB Ibu berjumlah 61 orang, alasan tidak ber KB yang terbanyak adalah termasuk
dalam lain-lain berjumlah 19 orang dan yang paling sedikit tidak diijinkan berjumlah 3
orang.
2.5.1 Pengertian PHBS

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola


hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan yang
senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.
(Anik, M. 2013)

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua prilaku


kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau
keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan
aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.

PHBS itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang


gizi: makan beraneka ragam makanan, minum tablet tambah darah,
mengkonsumsi garam beryodium, memberi bayi dan balita kapsul vitamin A.
Tentang kesehatan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya,
membersihkan lingkungan. Setiap rumah tangga dianjurkan untuk
melaksanakan semua prilaku kesehatan. (Arikunto, S. 2010)

2.5.2 Tujuan PHBS

Tujuan perilaku hidup bersih dan sehat itu adalah untuk meningkatkan
pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan keluarga agar berdaya
dalam berprilaku hidup bersih dan sehat. (Dewi, 2007).

2.5.3 10 Indikator PHBS

1. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan.


Persalinan yang mendapat pertolongan dari pihak tenaga kesehatan baik
itu dokter, bidan ataupun paramedis memiliki standar dalam penggunaan
peralatan yang bersih, steril dan juga aman. Langkah tersebut dapat
mencegah infeksi dan bahaya lain yang beresiko bagi keselamatan ibu dan
bayi yang dilahirkan.
2. Pemberian ASI eksklusif
Kesadaran mengenai pentingnya ASI bagi anak di usia 0 hingga 6 bulan
menjadi bagian penting dari indikator keberhasilan praktek perilaku hidup
bersih dan sehat pada tingkat rumah tangga.
3. Menimbang bayi dan balita secara berkala
Praktek tersebut dapat memudahkan pemantauan pertumbuhan bayi.
Penimbangan dapat dilakukan di Posyandu sejak bayi berusia 1 bulan
hingga 5 tahun. Posyandu dapat menjadi tempat memantau pertumbuhan
anak dan menyediakan kelengkapan imunisasi. Penimbangan secara
teratur juga dapat memudahkan deteksi dini kasus gizi buruk.
4. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih
Praktek ini merupakan langkah yang berkaitan dengan kebersihan diri
sekaligus langkah pencegahan penularan berbagai jenis penyakit berkat
tangan yang bersih dan bebas dari kuman.
5. Menggunakan air bersih
6. Air bersih merupakan kebutuhan dasar untuk menjalani hidup sehat.
1) Menggunakan jamban sehat
2) Jamban merupakan infrastruktur sanitasi penting yang berkaitan
dengan unit pembuangan kotoran dan air untuk keperluan pembersihan.
7. Memberantas jentik nyamuk
1) Nyamuk merupakan vektor berbagai jenis penyakit dan memutus siklus
hidup makhluk tersebut menjadi bagian penting dalam pencegahan
berbagai penyakit.
8. Konsumsi buah dan sayur
1) Buah dan sayur dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral serta
serat yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh optimal dan sehat.
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
1) Aktivitas fisik dapat berupa kegiatan olahraga ataupun aktivitas bekerja
yang melibatkan gerakan dan keluarnya tenaga.
10. Tidak merokok di dalam rumah
1) Perokok aktif dapat menjadi sumber berbagai penyakit dan masalah
kesehatan bagi perokok pasif. Berhenti merokok atau setidaknya tidak
merokok di dalam rumah dapat menghindarkan keluarga dari berbagai
masalah kesehatan. (Diva, F, 2013).
2.5.4 Manfaat Rumah Tangga Ber-PHBS
1) Bagi Rumah Tangga
(1) Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit.
(2) Rumah tangga yang sehat dapat meningkatkan produktivitas kerja
anggota keluarga.
(3) Anak tumbuh sehat dan cerdas.
(4) Anggota keluarga giat bekerja.
(5) Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi
gizi keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah
pendapatan keluarg.
2) Bagi masyarakat
(1) Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat.
(2) Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan.
(3) Masyarakat memamfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
(4) Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) seperti Posyandu, tabungan ibu bersalin,
arisan jamban, ambulans desa dan lain-lain.(Lina, H,P. 2016)
(5)
PENYAJIAN DATA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
6.1 Tabel distribusi Kebiasaan Merokok, Mencuci Tangan, Mandi dan Menyikat Gigi Keluarga di RT
03 RW 1 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)
Kebiasaan Merokok
1. Ada 42 11,7
2. Tidak ada 314 88,3
Berdasarkan tabel di atas Kebiasaan Merokok yang paling banyak yaitu (Ada) berjumlah 314
penduduk (88,3%), yang mnejawab (Tidak Ada) berjumlah 42 penduduk (11,7).