Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

WAHAM

OLEH:
AINUL FITRI, S. Kep
21.300.0184

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


UNIVERSITAS CAHAYA BANGSA
TAHUN 2022
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
WAHAM

OLEH:
AINUL FITRI, S. Kep
21.300.0184

Banjarmasin, April 2022

Preseptor Akademik Preseptor Klinik

( ) (Dahlia, S. Kep., Ns)


LEMBAR KONSULTASI

No Hari/tanggal Saran Paraf


LAPORAN PENDAHULUAN
WAHAM

A. MASALAH UTAMA
Perubahan Isi Pikir : Waham

B. PROSES TERJADINYA MASALAH


1. Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien. Manifestasi klinik waham
yaitu berupa: klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang
agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai
orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan),
takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan /
realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung.
Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep
diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan
perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya
diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.

2. Rentang Respon
Adaftif maladaptif
Pikiran logis proses pikir gangguan proses pikir : waham
Persepsi akurat kadang ilusi PSP : halusinasi
Emosi konsisten emosi +/- kerusakan emosi
Perilaku sesuai perilaku tidak sesuai perilaku tidak sesuai
Hubungan sosial menarik diri isolasi sosial terorganisir
3. Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala yang dihasilkan atas penggolongan waham (Standar
Asuhan Keperawatan Jiwa RSJP Bogor di kutip oleh RSJP Banjarmasin)
yaitu:
a. Waham dengan perawatan minimal
1) Berbicara dan berperilaku sesuai dengan realita.
2) Bersosialisasi dengan orang lain.
3) Mau makan dan minum.
4) Ekspresi wajah tenang.
b. Waham dengan perawatan parsial
1) Iritable.
2) Cenderung menghindari orang lain.
3) Mendominasi pembicaraan.
4) Bicara kasar.
c. Waham dengan perawatan total
1) Melukai diri dan orang lain.
2) Menolak makan / minum obat karena takut diracuni.
3) Gerakan tidak terkontrol.
4) Ekspresi tegang.
5) Iritable.
6) Mandominasi pembicaraan.
7) Bicara kasar.
8) Menghindar dari orang lain.
9) Mengungkapkan keyakinannya yang salah berulang kali.
10) Perilaku bazar.
4. Penyebab
a. Faktor Predisposisi
1) Genetis : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem
saraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.
2) Neurobiologis : adanya gangguan pada korteks pre frontal dan
korteks limbic.
3) Neurotransmiter : abnormalitas pada dopamine, serotonin dan
glutamat.
4) Psikologis : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.
b. Faktor Presipitasi
1) Proses pengolahan informasi yang berlebihan
2) Mekanisme penghantaran listrik abnormal
3) Adanya gejala pemicu

5. Jenis-Jenis Waham
a. Waham Kebesaran
Penderita merasa dirinya orang besar, berpangkat tinggi, orang yang
pandai sekali, orang kaya.
b. Waham Berdosa
Timbul perasaan bersalah yang luar biasa dan merasakan suatu dosa
yang besar. Penderita percaya sudah selayaknya ia di hukum berat.
c. Waham Dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa di kejar-kejar oleh orang lain atau
kelompok orang yang bermaksud berbuat jahat padanya.
d. Waham Curiga
Individu merasa selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya.
Individu curiga terhadap sekitarnya. Biasanya individu yang
mempunyai waham ini mencari-cari hubungan antara dirinya dengan
orang lain di sekitarnya, yang bermaksud menyindirnya atau menuduh
hal-hal yang tidak senonoh terhadap dirinya. Dalambentuk yang lebih
ringan, kita kenal “Ideas of reference” yaitu ide atau perasaan bahwa
peristiwa tertentu dan perbuatan-perbuatan tertentu dari orang lain
(senyuman, gerak-gerik tangan, nyanyian dan sebagainya) mempunyai
hubungan dengan dirinya.
e. Waham Cemburu
Selalu cemburu pada orang lain.
f. Waham Somatik atau Hipokondria
Keyakinan tentang berbagai penyakit yang berada dalam tubuhnya
seperti ususnya yang membusuk, otak yang mencair.
g. Waham Keagamaan
Waham yang keyakinan dan pembicaraan selalu tentang agama.
h. Waham Nihilistik
Keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau dirinya sendiri sudah
meninggal.
i. Waham Pengaruh
Yaitu pikiran, emosi dan perbuatannya di awasi atau dipengaruh ioleh
orang lain ataukekuatan.

C. POHON MASALAH

Resiko tinggi
Kerusakan mencederai diri, orang
komunikasi verbal lain dan lingkungan

Perubahan isi
pikir : Waham
Gangguan konsep diri :
harga diri rendah

D. MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


Masalah Keperawatan :
1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
2. Kerusakan komunikasi : verbal
3. Perubahan isi pikir : waham
4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

E. DATA YANG PERLU DIKAJI


Data Yang Perlu Dikaji :
1. Resiko Tinggi Mencederai Diri, Orang Lain Dan Lingkungan
a. Data Subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada
seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak
barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri.
b. Data Objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara
menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan
melempar barang-barang.
2. Kerusakan Komunikasi : Verbal
a. Data Subjektif
b. klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
c. Data Objektif
d. Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang
didengar dan kontak mata kurang.
3. Perubahan Isi Pikir : Waham ( Paranoid)
a. Data Subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
b. Data Objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,
merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat
waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah
klien tegang, mudah tersinggung.

4. Gangguan Harga Diri Rendah


a. Data Subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
b. Data Objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup.

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko Mencederai Diri, Orang Lain Dan Lingkungan
2. Perubahan Isi Pikir : Waham (Paranoid)
3. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

G. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
a. Tujuan Umum : Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
b. Tujuan Khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Rasional : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk
kelancaran hubungan interaksinya
Tindakan :
a) Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan
diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang
tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
b) Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan
perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan
anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak
mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak
membicarakan isi waham klien.
c) Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi:
katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di
tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran
jangan tinggalkan klien sendirian.
d) Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan
perawatan diri
2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Rasional : Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien,
maka akan memudahkan perawat untuk mengarahkan
kegiatan yang bermanfaat bagiklien dari pada hanya
memikirkannya.

Tindakan :
a) Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang
realistis.
b) Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada
waktu lalu dan saat ini yang realistis.
c) Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk
melakukannya saat ini (kaitkan dengana ktivitas sehari-hari
dan perawatan diri).
d) Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai
kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepadaklien bahwa
klien sangat penting.
3) Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Rasional : Dengan mengetahui kebutuhanklien yang belum
terpenuhi perawat dapat merencanakan untuk
memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan
klien tersebut sehingga klien merasa nyaman dan
aman.
Tindakan :
a) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
b) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama
di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
c) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya
waham.
d) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien
dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika
mungkin).
e) Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk
menggunakan wahamnya.

4) Klien Dapat Berhubungan Dengan Realitas


Rasional : Menghadirkan realita dapat membuka pikiran bahwa
realita itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan
klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang
ada
Tindakan :
a) Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,
tempat dan waktu).
b) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi
realitas.
c) Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
5) Klien Dapat Menggunakan Obat Dengan Benar
Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan
mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan
efek dan efek samping obat.
Tindakan :
a) Diskusikan dengan klien tententang nama obat, dosis,
frekuensi, efek dan efek samping minu mobat.
b) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama
pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
c) Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat
yang dirasakan.
d) Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

6) Klien Dapat Dukungan Dari Keluarga


Rasional : Dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien
akan mambantu proses penyembuhan klien
Tindakan :
a) Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga
tentang: gejala waham, cara merawat klien, lingkungan
keluarga dan follow up obat.
b) Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga

H. STRATEGI PELAKSANAAN
SP I
a. Membantu orintasi realita
b. Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
c. Membantu px memenuhi kebutuhannya
d. Menganjurkan px memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP II
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian px
b. Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki
c. Melatih kemampuan yang dimiliki
SP III
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian px
b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara
teratur
c. Menganjurkan px memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk. 2015. Pedoman asuhan keperawata njiwa. Semarang: RSJD Dr.
Amino Gondoutomo
Keliat Budi A. 2014. Proses keperawata nkesehatanjiwa. Edisi 1. Jakarta:
EGC.
Tim Direktorat Keswa. 2014. Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa.
Edisi 1. Bandung: RSJP
Townsend M.C. 2016. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri;
pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai