Nama : Naura Nawal A
No : 26
Kelas : XI-F
RENSENSI CERPEN
Identitas Cerpen
Judul cerpen : Orang yang Tak Bisa Berbohong
Pengarang : Mardi Luhung
Penerbit : Koran Kompas
Tahun terbit : 27 Maret 2017
Pendahuluan
Mardi Luhung: Lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Puisinya tersebar di sejumlah
media. Buku puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku (1996), Wanita yang Kencing di
Semak (2002), Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007), Buwun (2010), Belajar Bersepeda (2012),
Musim, Jarum dan Baskom (2015), dan Teras Mardi (2015). Tahun 2010 mendapatkan anugerah
Khatulistiwa Literary Award. Kumpulan cerpen pertamanya, Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku
(2011).
Sinopsis Cerpen
Dulu ada peristiwa yang menggemparkan, yang terjadi di kampung, tentang uang yang
hilang. Uang itu milik pak Zain. Uang hasil penjualan tiga ekor sapinya. Lalu orang-orang
mencarinya. Dan pencarian itu pun mengerucut pada diri Gondo. Pemuda kampung yang
luntang-lantung. Yang ketika ditangkap, sedang termenung di bawah pohon trembesi. Dari
kantong tas kresek Gondo, orang-orang menemukan sejumlah uang. Jumlah uang itu demikian
banyak. Yang tak mungkinlah dipunyai Gondo yang luntang-lantung itu. Sayangnya, Gondo lupa
di jalan mana menemukan uang itu. Sehingga hanya bisa menjawab: ”Mungkin, mungkin, dan
mungkin. Ya, mungkin di jalan ini, mungkin di jalan itu, juga mungkin di jalan ini dan itu.”
Akibatnya, orang-orang jadi marah. Merangsek. Dan ingin menghakimi.
Tepat ketika suasana menaik. Suasana ketika orang-orang akan bertindak, tiba-tiba Dia
muncul. Dan entah kenapa, orang-orang jadi menenang. Dan suasana yang semula panas jadi
mendingin. Lalu ada seseorang yang berkata: ”Hei, orang yang tak pernah berbohong, katakan,
apa benar Gondo yang mencuri uang pak Zein?” .”Katakan, ayo, katakan!”
Dia pun menghampiri Gondo. Berbisik. Gondo pun menjawab dengan bisik. ”Gondo
memang menemukan uang itu di salah-satu jalan yang mengarah ke luar kampung. Tapi Gondo
lupa itu jalan yang mana. Sebab saat itu malam hari,” begitu kata Dia setelah saling berbisik
dengan Gondo. ”Cobalah kalian pikir, kenapa Gondo lupa di jalan mana uang itu
ditemukannnya. Sebab, semua jalan yang mengarah ke luar kampung, terutama malam hari
sama. Gelap, rusak, dan tak ada tanda-tanda arah jalannya. Hayo siapa yang salah. Jika Gondo
tak mengenali lagi di jalan mana uang itu ditemukannya?” Orang-orang tercekat. ”Jadi, daripada
ribut, ambil saja uang yang ada di tas kresek Gondo. Lalu segera kita perbaiki jalan-jalan yang
rusak itu”. Memang, selama ini mereka abai terhadap kondisi jalan-jalan yang menghubungkan
kampung mereka dengan kampung-kampung yang lain. Padahal, kampung mereka jauh berada
di pelosok. Tak ada angkutan umum yang beroperasi. Sedangkan, untuk jalan kaki, dibutuhkan
waktu kurang lebih tiga-hari dua-malam. Untuk naik motor minta ampun susahnya. Dan
seminggu ke depan, semua penduduk kampung pun bergotong-royong memperbaiki jalan-jalan
yang mengarah ke luar kampung itu.
”Nah, kini kita mesti membikin rapat pembentukan panitia,” kata pak kepala kampung
ketika urusan gotong-royong memperbaiki jalan-jalan selesai. Empat hari kemudian rapat panitia
itu digelar di balai kampung. Rapat itu begitu meriah. Usulan-usulan pun dilontarkan. Lalu,
setelah rapat hampir selesai, barulah Dia, orang yang tak bisa berbohong itu, dipersilakan
memberikan masukannya. Dan Dia pun maju. Tatapannya biasa-biasa. Lagak-lagunya juga
biasa-biasa. Tepat di podium, Dia ngomong begini: ”Selamat atas terbentuknya panitia. Saya
cuma berharap, kampung kita tetap aman-aman. Sebab, semakin kampung terang, nanti akan
semakin banyak uang yang hilang.” Byar! Orang-orang yang mendengar pun ribut. Dan Dia pun
diturunkan dengan paksa dari podium.
Dan sejak itu, sejak panitia penerimaan jaringan listrik bekerja, Dia dilupakan. Rasanya,
setiap orang yang ada di kampung, sudah tak mau lagi menerima keberadaannya. Dia ada atau
tak ada, dianggap tak ada.
Kelebihan Cerpen
Bahasa pada cerpen ini yang mudah dipahami memudahkan pembaca untuk memahami
isi cerpen tersebut, alurnya jelas dan permasalahan dalam cerpen terjadi dalam kehidupan sehari-
hari (sesuai dengan kenyataan). Cerpen ini juga memiliki pesan moral yang dapat diambil oleh
pembaca dan diterapkan dalam kehidupannya.
Kesimpulan
Cerpen Orang yang Tak Bisa Berbohong, karya Mardi Luhung ini sangat cocok dibaca
oleh kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Pada cerpen ini terdapat pesan moral yang dapat
kita ambil dan kita jadikan pelajaran dalam hidup kita sehari-hari. Seperti jangan asal menuduh
orang, menghakimi orang, dll. Selain itu bahasa dan alur yang mudah dipahami oleh pembaca
membuat pembaca tidak akan merasa bosan. pilihan kata yang digunakan seakan-akan membuat
kita semakin ingin membacanya dan mengetahui alur ceritanya. Permasalahan dalam cerpen ini
juga diangkat dari kehidupan sehari-hari.