0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan315 halaman

RKS Pembangunan Pusat Literasi

Dokumen ini berisi spesifikasi teknis material untuk pembangunan gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam. Spesifikasi tersebut meliputi atap, dinding, kusen, pintu, jendela, alat penggantung, penutup celah, dan fire stop.

Diunggah oleh

ptababyl absolute
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Bahan,
  • Pekerjaan Kaca,
  • Sertifikasi,
  • Pekerjaan Epoxy,
  • Pekerjaan Railing,
  • Pekerjaan Dinding,
  • Pengawasan,
  • Pekerjaan Struktur,
  • Pekerjaan Lain,
  • Regulasi
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan315 halaman

RKS Pembangunan Pusat Literasi

Dokumen ini berisi spesifikasi teknis material untuk pembangunan gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam. Spesifikasi tersebut meliputi atap, dinding, kusen, pintu, jendela, alat penggantung, penutup celah, dan fire stop.

Diunggah oleh

ptababyl absolute
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Bahan,
  • Pekerjaan Kaca,
  • Sertifikasi,
  • Pekerjaan Epoxy,
  • Pekerjaan Railing,
  • Pekerjaan Dinding,
  • Pengawasan,
  • Pekerjaan Struktur,
  • Pekerjaan Lain,
  • Regulasi

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM


UNIT PERCETAKAN AL-QURAN
Jalan Raya Puncak KM. 65, Ciawi – Bogor 16720
Telpon (0251) 8292488 – 8294594 Fax. (0251) 8249379
Email: upq@kemenag.go.id

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT


(RKS)

Pekerjaan Pembangunan Pusat


Pelayanan Literasi Keagamaan Islam
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG
PUSAT PELAYANAN LITERASI KEAGAMAAN ISLAM
TAHUN ANGGARAN 2023
PEKERJAAN ARSITEKTUR

NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

A PEKERJAAN PENUTUP ATAP


1 Pekerjaan Penutup Atap Metal bergelombang Zincalume / BlueScope, Union,
Galvalume tebal 0,4 mm Cahaya Benteng Mas
2 Pekerjaan Waterproofing Waterproofing membrane bakar tebal 4 BASF, Fosroc
(Untuk Dak Atap) mm
3 Pekerjaan Waterproofing Waterproofing Coating System Propan, Fosroc
Metal lembaran Zincalume / Galvalume
tebal 0,4 mm dengan penyangga besi BlueScope, Union,
4 Pekerjaan Talang Datar
strip 3mm dan rangka besi hollow Cahaya Benteng Mas
40.40.2
5 Pekerjaan Talang Tegak PVC Wavin, Vinilon, Unilon

B PEKERJAAN DINDING
1 Bata Merah Batu bata merah (dari tanah liat) daerah Produk Lokal
setempat dari kualitas yang baik dengan
ukuran 5 x 10,5 x 22 cm yang dibakar
dengan baik, warna merah merata, keras
dan tidak mudah patah, bersudut
runcing dan rata tanpa cacat
2 Bata Ringan Ukuran yang dipakai 200 x 600 x 100 Hebel, Celcon, Grand
mm, 8.8 buah per m2 Elephant
3 Mortar/ Plester Adukan terdiri dari bahan Dry-Mix dan Mortar Nasional, TOP
air dipakai untuk pemasangan dinding Mortar, Mortar Utama
batu bata ringan. Komposisi adukan
sesuai dengan yang disyaratkan oleh
fabrikan.
4 Dinding Partisi 1. Panel Gypsum Tahan Api T. 12 mm Jayaboard, Royal Board
- 16 mm Fire Rating Hard
2. Papan Gypsum T. 12 mm
5 Rangka Rangka metal untuk pemasangan dan Jayabord, Royal Board
penumpu panel partisi harus terbuat
dari bahan baja ringan lapis seng dan

1
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK
alumunium seperti Zincalume atau
Galvalum.
6 Cubical Toilet Bahan yang digunakan adalah panel Panel solid phenolic
solid phendic berkualitas tinggi yang berkualitas tinggi setara
diperuntukan untuk daerah basah / produk Matrix Cubicles
tingkat kelembaban tinggi setara produk seri 30-50 atau I-Cubix
type SCL 13

C KUSEN, PINTU DAN JENDELA


1 Kusen, Jendela, Curtain Wall Alumunium dari jenis alumunium alloy YKK, Alexindo
Alumunium yang memenuhi ketentuan SNI 07-
0603-1989 dan ATSM B221 M, clear
anodized minimal 16 mikron yang diberi
lapisan warna akhir powder coating di
pabrik dalam warna sesuai Skema warna
putih.
2 Pintu Baja/ Steel Door 1. Plat daun 0,8 mm Marks, Bostinco
2. Plat kusen ketebalan frame/kusen: 1.5
mm
3. Powder Coating
4. Vision Glass
5. Door Seal
3 Pintu Besi dan Pintu Tahan Api Fire door atau pintu tahan api secara Marks, Bostinco
khusus dirancang dengan bahan isolasi
berkualitas tinggi untuk memenuhi
kinerja tinggi untuk sebagai persyaratan
proteksi kebakaran yang telah diuji dan
mendapatkan sertifikasi dari pemadam
kebakaran.
4 Pintu Engineering Wood 1. Rangka finger joint laminated board Daiken, MSU
lebar 10 cm dan tebal 30 mm
2. Isi dalam honeycomb core
3. Frame kayu meranti
4. lapis PVC laminated Sheet
5 Pintu Automatic Original Daun pintu 2 set, uk. 2200 x Manusa, Besam, Nabco
1700 mm, stailess steel hairline finished
dengan clear tepered glass 10 mm

2
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK
standar untuk masing-masing pintu
lengkap dengan handle

D ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI


Semua kunci harus terdiri dari :
- Kunci tipe silinder yang terbuat dari
bahan nikel stainless steel atau
kuningan dengan 2 kali putar,
dengan 3 (tiga) buah anak kunci.
- Hendel/pegangan bentuk gagang
atau kenop diatas plat yang terbuat
dari bahan nikel stainless steel hair
line.
a. Engsel Dekkson, BRS
b. Hak Angin. Dekkson, BRS
c. Pengunci Jendela. Dekkson, BRS
d. Grendel Tanam / Flush Dekkson, BRS
Bolt.
e. Gembok. Dekkson, BRS
f. Penahan Pintu (Door Stop). Dekkson, BRS
g. Pull Handle Dekkson, BRS
h. Door closer Dekkson, BRS
i. Dust Strike Semua alat penggantung dan berwarna Dekkson, BRS
matt chrome/stainless steel hair line
finish, kecuali bila ditentukan lain.

E PENUTUP DAN PENGISI CELAH


1 Tipe Umum : Bahan penutup dan pengisi celah untuk Dow Corning 795
bagian – bagian bangunan yang sifatnya Silicone Building
non – struktural harus merupakan Sealant, GE Silglaze N 10
produk yang dibuat dari bahan silikon, atau yang setara
yang sesuai untuk daerah tropis dengan
kelembaban tinggi dan dapat
diaplikasikan pada berbagai jenis bahan
2 Tipe Struktural : Bahan penutup dan pengisi celah untuk GE Ulgraglaze 4400.
bagian – bagian bangunan yang sifatnya

3
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK
struktural harus merupakan produk
yang dibuat dari bahan silikon dengan
formula khusus sehingga mampu
menahan beban struktural seperti angin
3 Fire Stop (Pada Penetrasi) Pengadaan dan pemasangan Firestop / Lockwell, Carboline
Penyekat Api pada bukaan / penetrasi
jalur kabel power, jalur pipa plumbing,
jalur pipa ducting, dan jalur pipa hydrant
antar lantai dan atau antar ruangan

F PENUTUP PLAFOND
1. Plafond Gypsum Panel Produk yang sesuai daerah tropis, Jayaboard, Royal Board
ketebalan minimal 9 mm, plafond dan 12
mm ,untuk dinding dan ukuran modul
sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja,
atau setara.
Rangka Plafon Metal Furing Galvalum
Rangka Jayaboard, Royal Board
0,45 BMT
2. Plafond Metal Ceilling Tile Aluminium non perforated tile powder AMF Mondena, Dampa,
coating finish 0,6 mm tick (Clip In Tile) Armstrong Tiles
Rangka Rangka Plafon Metal C Chanel Carrier & AMF Mondena, Dampa,
DP 12 Carrier Armstrong Tiles
3. Plafond Calsiboard Panel GRC 9 mm APlus, Royal Board
Rangka Plafond Metal Furing Galvalum
Rangka Jayaboard, Royal Board
0,45 BMT

G PELAPIS LANTAI
1 Homogenous Tile Ukuran 60 x 60 cm Polish, Ukuran 60 x Granito, Niro Granite,
60 cm Unpolish Sierra Tile
2 Floor Hardener Heavy Duty; Fin. Waterproofing + Seperti Sika Grout 214-
Screed 11, Conbextra GPXtra
dari Fosroc
3 Carpet Tile 100% Nylon, Fibre nonwoven fabric for Nora, Tajima, DIM
(backing), Fire Resistance E 1150154
4 Polymer Flooring
Type : Epoxy Coating System (tebal ±500
mic) Propan, Stoneshield, BASF

4
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK
- Good Chemical Resistance
- Slip Resistance
- Dust Proof and Easy to Clean
- Gloss Finish
- Solvent Free

Tahap Aplikasi :

1. Beton Grinding
2. Sealer : CA 0,2 kg/m2
3. Seal Coat : CA 0,2 kg/m2
Top Coat : CA 0,75 kg/m2

H PELAPIS DINDING
1 Homogenous Tile Ukuran 30 x 60 cm, sesuai gambar Granito, Niro Granite,
perencanaan Sierra Tile
2 Alumunium Composite Panel Aluminium Composite Panel (ACP) Fire Seven, Maco, Dekkson
Retardant (FR) / Corrugated, alloy 5005
PVDF dengan skin tick 0,5 mm atas dan
bawah (tertulis dibelakang lembaran
ACP nya)
3 Batu Alam Granit 300 x 300 mm, 300 x 600 mm Nero Assoluto, Imperial
red
4 Granit (Untuk meja counter) 2 cm tick original stone 600 x 600, 1200 Produk Lokal
x 600 (polish)
5 Batu buatan pabrik Batu Goa . 20 x 20 cm Ex. Cisangkan

I PEKERJAAN CAT
1 Cat Dasar - Water-based sealer alkaline resistant Dulux Professional,
untuk permukaan pelesteran, beton, Propan, Mowilex
papan gipsum dan panel kalsium
silikat
- Masonry sealer untuk permukaan
pelesteran yang akan menerima cat
akhir berbahan dasar minyak
- Wood primer sealer good adhesion
untuk permukaan kayu yang akan

5
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK
menerima cat akhir berbahan dasar
minyak
- Solvent-based anti - corrosive zinc
phosphate untuk permukaan
besi/baja
2 Cat Akhir - Economy Acrylic Emulsion Untuk Dulux Professional,
permukaan plafond interior Propan, Mowilex
pelesteran, beton, papan gipsum dan
panel kalsium silikat
- Special Acrylic Emulsion untuk
permukaan dinding interior
pelesteran, beton, papan gipsum dan
panel kalsium silikat
- Acrylic solvent-based finish untuk
permukaan interior pelesteran beton,
papan gipsum dan panel kalsium
silikat
- Alkyd solvent-based gloss/semi gloss
finish untuk permukaan kayu, besi,
dan baja
- Polyurethane solvent - based anti-
corrosive untuk permukaan besi dan
baja

J PEKERJAAN KACA
1 Kaca Canopy Tempred Glass 12 mm clear glass Asahimas, Mulia
2 Kaca Eksterior Stopsol Glass 8 mm mm Asahimas, Mulia
(Supersilvergreen)
3 Kaca Jendela Interior Kaca Tempered Glass 10 mm, Kaca Polos Asahimas, Mulia
6 mm
4 Kaca Cermin Mirror Glass 5 mm Asahimas, Mulia
5 Glass Block Type: Diamond Mulia/ setara

K PEKERJAAN SANITAIR
1 Water Closet Duduk Bahan porselen, lengkap dengan stop TOTO type CW 668J/
kran dan peralatan lain (warna SW 668J, ROCA
standard)

6
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

2 Water Closet Jongkok Bahan porselen (warna standard) TOTO type CE 6, ROCA

3 Wastafel Meja Porselen lengkap dengan keran, siphon TOTO atau ROCA
dan lain (warna standard)perlengkapan

4 Sink dapur TOTO atau ROCA


5 Urinoir TOTO Type Moeslem U
370 M, ROCA

6 Sekat Urinoir Toto type A 100, ROCA

7
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK
7 Keran Air TOTO type T30ARQ13N,
ROCA

8 Floor Drain TOTO type square flange


TX 1BN, ROCA

9 Paper Holder TOTO type TX 703


AESVI, ROCA

10 Shower Spray TOTO type TX 423


SMCR, ROCA

8
NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK
11 Soap Holder TOTO type S 156N,
ROCA

12 Shower TOTO type DONNA TX


432 SD, ROCA

L SITE DEVELOPMENT
1 DPT dan Pagar (Precast) Indonusa, BEP
2 Jalan dan Parkir Asphalt
3 Saluran U - DITCH Indonusa, BEP

9
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PUSAT PELAYANAN LITERASI

KEAGAMAAN ISLAM

PEKERJAAN STRUKTUR

NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

A PEKERJAAN SUB STRUKTUR

1 Pondasi Bore Pile Ø600 - Penulangan tiang menggunakan besi Krakatau Steel, Master Steel
tulangan ulir D19 sebagai tulangan atau setara dengan acuan

utama dengan mutu minimal BJTS- mutu fy 420 Mpa dan sesuai
dengan SNI Baja Tulangan
42 dan Tulangan Ulir D 13- 150
Beton
untuk penulangan sengkang dengan
mutu baja BJTS-42 (Detail Gambar)
- Mutu Beton Ready Mix f’c = 22,5 MPa SCG Jayamix, Dynamix,
Adhimix (Memenuhi Syarat
Sesuai RKS)

2 Pile Cap - Mutu Beton Ready Mix f’c = 25 MPa SCG Jayamix, Dynamix,
Adhimix (Memenuhi Syarat
Sesuai RKS)

- Penulangan Pile Cap menggunakan besi Krakatau Steel, Master Steel

D22 mm dan D16 sebagai tulangan utama atau setara dengan acuan

dan D13 mm untuk penulangan badan mutu fy 420 Mpa dan sesuai

(Detail Gambar) dengan SNI Baja Tulangan


Beton

B PEKERJAAN UP STRUKTUR
1 Kolom - Mutu Beton Ready Mix f’c = 25 MPa SCG Jayamix, Dynamix,
Adhimix (Memenuhi Syarat
Sesuai RKS)

Krakatau Steel, Master Steel


- Penulangan kolom menggunakan besi
atau setara dengan acuan
D22 mm, D19mm, D16 sebagai tulangan
mutu fy 420 Mpa dan sesuai
utama dan D10, D13 mm untuk
dengan SNI Baja Tulangan
penulangan sengkang
Beton

1
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PUSAT PELAYANAN LITERASI

KEAGAMAAN ISLAM

PEKERJAAN STRUKTUR

NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

2 Sloof, Balok - Mutu Beton Ready Mix f’c = 25 MPa SCG Jayamix, Dynamix,
Adhimix (Memenuhi Syarat
Sesuai RKS)

- Penulangan Balok menggunakan besi Krakatau Steel, Master Steel


D19- D16 mm sebagai tulangan utama atau setara dengan acuan
dan D10 untuk penulangan sengkang mutu fy 420 Mpa dan sesuai
dengan SNI Baja Tulangan
Beton

3 Pelat Lantai - Mutu Beton Ready Mix f’c = 25 MPa SCG Jayamix, Dynamix,
Adhimix (Memenuhi Syarat
Sesuai RKS)
- Penulangan pelat lantai menggunakan Krakatau Steel, Master Steel
besi D10 mm dan D16 atau setara dengan acuan
mutu fy 420 Mpa dan sesuai
dengan SNI Baja Tulangan
Beton

- Jika menggunakan Wire mesh Union Metal, Lion Mesh,


Penulangan dengan wire mesh sesuai Krakatau Wiremesh

ketentuan yang berlaku

C MATERIAL POKOK
1 Semen PC Type IV Gresik, Tigaroda, Dynamix

2 Pasir Pasir pasang, plester, cor Pasir lokal yang sesuai


persyaratan SNI

3 Besi Tulangan Tulangan ulir dengan tegangan leleh 4200 Krakatau Steel, Master Steel
kg/cm2 dan Tulangan Polos dengan tegangan atau setara dengan acuan
leleh 2800 kg/cm2 mutu fy 420 MPa dan fy 280
MPa atau sesuai dengan SNI
Baja Tulangan Beton

2
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG PUSAT PELAYANAN LITERASI

KEAGAMAAN ISLAM

PEKERJAAN STRUKTUR

NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

4 Baja Profil Mutu baja profil beserta tegangan leleh baja Gunung Steel Group (GSG),
yang disyaratkan adalah ST-37 dengan Krakatau Steel, atau sesuai
tegangan leleh baja sebesar 2400 kg/cm2 dengan RKS
sesuai SII

3
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEKERJAAN PLUMBING & MEKANIKAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN

NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

A SISTEM AIR BERSIH DAN AIR KOTOR

Kapasitas : sesuai gambar perencanaan Wilo KBL, Bombas,


Head : sesuai gambar perencanaan Groundfos
Putaran : 1500 RPM
Shaft Sealing : Gland Packing
Material Pompa
Pompa Air Bersih (Transfer
1 - Casing : Cast Iron
Pump)
- Impeller : Bronze
- Shaft : 403 Stainless Steel
Motor Output : sesuai gambar perencanaan
Jenis : Centrifugal, end suction
Stage : Multi Stage
Kapasitas : sesuai gambar perencanaan Wilo KBL, Bombas,
Head : sesuai gambar perencanaan Groundfos
Shaft Sealing : Mechanical Seal
Shaft Pressur : 2.5 KgF/cm2
Stop Pressur : 4.4 KgF/cm2 Wilo KBL, Bombas,
Material Pompa : Groundfos
- Casing : Cast Iron
- Impeller : Bronze
- Shaft : 403 Stainless Steel
Motor Output : sesuai gambar perencanaan
Pompa Booster (Packaged
2 Kelengkapan Komponen
Booster pump)
- Pump & Elektromator
- Diaphragm Tank
- Quick Closing Check Valve
- Control Panel
- Pressure Gauge
- Pressure Switch
- Flow Switch
- Gate Valve
Sistem Two Pump. Paralel alternate dilengkapi
Inverter frequency
Polyprophylene (PPr) PN-10 (air dingin), PN-20 ATP Toro25, Agrusan,
3 Pipa Air Bersih
(Air panas) Polytherm
4 Air Kotor / Bekas PVC Class 10 kG/cm2 (AW class) Rucika, Vinilon, Westfex
5 Air Hujan PVC Class 10 kG/cm2 (AW class) Rucika, Vinilon, Westfex
PP-M /C (Polypropylene
6 Pipa Buangan Lab Vulcathene, Magnaplast
Monopolymer/Copolymer)
Kapasitas : 250 liter
Tekanan kerja : 10 Kg/cm
7 Diafragma Tank Lokal
Jenis : Diafragma

8 Roof Tank FRP Module FRP system Farmel, Multitech, MWF


9 Valve Cast iron, Broze Toyo,Kitz, Conex, Yuta
10 Roof drain Besi Cor Lokal
11 Electric Water Heater Kapasitas sesuai Gambar Solahart, Elterra
Hi-Cop, Solahart,
12 Heat Pump Water Heater Direct Heating
Handal
Farmel, Multibiotech,
13 STP Bioseptic Aerob / Anaerob System
MWF

1
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEKERJAAN PLUMBING & MEKANIKAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN

NO. PEKERJAAN SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

B TATA UDARA DAN VENTILASI

Daikin, Panasonic,
1 Air Conditioning (AC) Umum Split Unit Sesuai gambar
Toshiba, LG

CONEXA, Panasonic,
2 Exhaust/ Intake Fan Propeller Fan
Kruger
3 Plat Seng BjLs 30,40,50,60,80 Gajah Tunggal, Lokfom
Insulflex , K-Flex,
4 Isolasi Ducting / Pipa Freon XLPE atau NBR
Maxflex
5 Aluminium Foil Double side Polyfoil, Insfoil
6 Ductape Double side PPC, Lenden
Toyooda, Mueller, Apic,
7 Pipa tembaga (Refrigrant) ASTM B2 80 Klas L
DSP
9 Suply Air Diffuser, Grille Aluminium finish catbakar Comfort Aire, Polar Grill

D SISTEM PEMADAM KEBAKARAN (HYDRANT)

1 Pompa Kebakaran : Refer to NFPA 20, Wilo KBL, Bombas,


Horizontal split casing pump Grundfos
Engine Standart NFPA 20 Clarke, Volvo
Wilo KBL, Bombas,
2 Pompa Jockey Vertical Multi Stage Grundfos
Wilo KBL, Bombas,
3 Pompa Elektrik Horizontal split casing pump Grundfos
Motor Standart NFPA 20 WEG, Siemens

4 Thermatic Fire Suppression IG-55 agent Strashield, Kidde


5 Black Steel Pipe Sch 40 PPI, Bakrie, Spindo
6 Valve Class 20 K Toyo, Kitz, Yuta
7 Hydrant Box Type B Yamato, Appron
8 Hydrant Pillar Two way Appron, Yamato
9 Siamese Two way Appron, Yamato

2
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

1. SPESIFIKASI PERALATAN TEGANGAN MENENGAH

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

1. Transformator Step Down


Kapasitas : Sesuai gambar -Scheneider
-LS Electric
Type : Step Up
-Trafindo
Dry Type – Cast Resin -Master Green
Cu Foil / Sheet Winding
Rangkaian : c/w Fan
Tegangan : Dyn 5
Frekwensi : 380-400 V / 20 kV
Accessories : 50 Hz
Housing Cover IP 20 & Fan

LL
Panel TM 20 KV Incoming : V.C.B Schneider
ABB
Outgoing : V.C.B / LBS Fuse
ULUSOY
Type : Air Insulated
- Breaking Capacity : 16KA – 3 detik

3. Kabel MV Multi core N2XSYGbY 120 mm2 Kabelindo,


Single core N2XSYGbY 120 mm2 Kabelmetal,
Supreme,
4. Generator Set (Genset)  Sesuai gambar Catterpillar, Perkin,
Cammin,AGG
Power

5. Automatic Transfer ATS harus mampu mentransfer antara dua sumber - ASCO
Switch (ATS)
melakukan transfer “brake before make” secara - Onan
otomatis
- Thomson

1
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

2. SPESIFIKASI PERALATAN TEGANGAN RENDAH

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

1. Komponen Panel PQCR: ABB, Schneider,


Terdiri dari fungsi Active Harmonic Filter untuk Elecnova
kompensasi adanya harmonik arus dan kompensasi
daya reaktif menggunakan Static VAR Generator

1. Air Circuit Breaker & MCCB ABB, Schneider,

LS Electric

Terasaki

2. MCB Schneider, ABB,


Terasaki,

LS Electric

3. Contactor/Relay Socomec,
Schneider

LS Electric
Kabelindo,
2. Kabel LV Jenis/kapasitas: Sesuai gambar (NYA, NYM, NYY,
Kabelmetal,
NYFGbY)
Supreme

 XLPE Insulated Pyrotex ,First


Fire Resistance:
 LSZH (Low Smoke Zero Halogen) Cable, Betaflame
 Double Layered
 BS 6387 : C, W, Z
 9000C dan 6500C W/ Shower

2
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

3. Lampu Penerangan Jenis


Jenis/Type : sesuai Gambar.
LED PANEL, DOWN Philips, Opple,
Cat Powder Coating Osram, Artolite
LIGHT, LAMPU TAMAN,
a. Armature : LED PANEL INTEGRETED
LAMPU AREA JALAN

b. Tube : LED PANEL INTEGRETED


c. Efikasi : 100 Lumen/Watt (Minimum)
d. Colour : Cool Daylight
e. Capasitor : Built-in
f. Lamp Holder :
g. Starter :
h. Power Pack : C/w Battery 4 Hours duration

4. Stop Kontak & Saklar Legrand,


Panasonic
5. BUSDUCT  IP 55 Aluminium Furutec, GE
Spectra, Optimus
- UPVC Legrand, Clipsal,
5. Pipa & Fitting
- Galvanized Lesso

3
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

- Bahan galvanis sheet steel, ketebalan 2.0 mm. Anugerah Rak,


6. Cable Tray/Cable Ladder
- Materials harus berupa Hot Rolled Steel, criteria Interack, Tri abadi
SPHC JIS3131G atau Equivalent.
- Minimum Material Yield Point tidak lebih dari 235
N/mm2.
- Materials harus di-coated dengan Zinc Coating
melalui Hot Dip Galvanized yang sesuai dengan
standar ASTM A-123 atau sesuai dengan standar
proteksi denganPowder coating untuk indoor yaitu
ISO 6272 and ISO 2409.
- Load Test : NEMA VE-1 2002 untuk Method A dan
Method B.
- Design Type : Standart NEMA VE-1 2002.
- Coating Thickness Test
- Powder Coating: minimum thickness 45μm.
- Hot Dip Galvanized : 55 – 65 μm.

7. Multi Transit Cable Fire Rating ± 2 (dua) jam.

Chrystalized in high temperature at ≥ 800 C Betaflame,


Pyrotex, First
(Volume Expansion > 4 times)
Cable
Standart : JIS, BS, NFPA Fire Rating

Trias/Legrand,
8. Under Floor Duct
Double-H,Tri abadi

Socomec,
9. Relay Switch Sesuai Gambar
Schneider
LS Electric
Riello, Vektor,
10. UPS Efisiensi > 96%
Delta
Power Factor > 0,96

Thdi < 3%

4
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

Back up time 5 menit @ full load untuk back up


switching dari main line ke CDPK (Catu Daya
Pengganti Khusus)
Analog ( 3 Phase ) LS Electric,
11. Power/Digital Meter
Socomec, ABB
Digital ( 3 Phase / 1 Phase ) Legrand, Socomec,
ABB
- CU Rod masip φ 25 cm
12. Pentanahan Lokal
- BC conductor 50 mm dan 70 mm
- Cooper Tape (kemurnian 90%)

Schneider, ABB,
13. Box Listrik Unit Box Fiber
Legrand,
LS Electric
EF, KURN,
14. Peredam Petir Bola bergulir, Coverage Area sesuai gambar
Thomas, LPI
perencana

Jumlah : sesuai gambar


 Head: Tembaga
 Jenis penghantar : BC

EF, KURN,
15. Arrester Spesifikasi & jumlah : sesuai gambar
Thomas, LPI
 CU Rod masip  20 cm
16. Pentanahan Lokal
 BC conductor 70 mm

17. Panel Maker Sub Distribution, Power Panel, Lighting Panel CRT, DJE, ICSL,
LS.Electric

18.

19. LVMDP, MDP LVMDP & MDP Type Test Panel, dengan form CRT, DJE, ICSL,
agregasi 3B LS Electric

SDP Type Test Panel, dengan form agregasi 2B

5
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

3. SPESIFIKASI PERALATAN SISTEM TELEPHONE PABX

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

1 PABX Alcatel, NEC, Siemens,


Panasonic
2 Hand Set Telepon Non Disply Alcatel, NEC, Siemens,
Panasonic

3 Master Key Telepon C/W disply dan DSS Alcatel, NEC, Siemen,
Panasonic
4 Unintrrupptible Sealed Lead Acid Vektor,Riello, Delta
Power Supply (UPS)

4. SPESIFIKASI PERALATAN SISTEM DETEKSI DINI & ALARM KEBAKARAN

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

Peralatan Utama Honeywell, Siemens,


1. Fully Point Addressable Intelligent System
(MCFA, FACP) dan Notifier
Unit Fire Detector

- NYA Kabelindo, Kabelmetal,


2. Kabel
Supreme

Kabel FRC : Pyrotex ,First Cable,


 XLPE Insulation Betaflame
 LSZH (Low Smoke Zero Halogen)
 Double Layered
 BS 6387 : C, W, Z

 900ºC dan 650ºC with shower

- Intercom Cable Kabelindo, Kabelmetal,


Supreme
- UPVC Legrand, Clipsal, Lesso
3. Conduit/Fitting
- Galvanized Bakrie, PPI, Matsushita

6
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

4. Multi Transit Cable Fire rating 2 (dua) jam Pyrotex ,First Cable,
Betaflame
Chrystalized in high temperature at ≥ 800 C

(Volume Expansion > 4 times)

Standart : JIS, BS, NFPA

5. SPESIFIKASI PERALATAN SISTEM TATA SUARA

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

1. Peralatan Utama Sesuai uraian dalam buku RKS TOA, Bosch, Auduc

Sentral Tata Suara


dan Unit Speaker

- NYA Kabelindo, Kabelmetal,


2. Kabel
Supreme

Betaflame, Pyrotex, First


Kabel FRC :
Cable
 XLPE Insulation
 LSZH (Low Smoke Zero Halogen)
 Double Layered
 BS 6387 : C, W, Z

 900ºC dan 650ºC with shower

- Intercom Cable Kabelindo, Kabelmetal,


Supreme

- UPVC Legrand, Lesso, Clipsal


3. Conduit/Fitting
- Galvanized Bakrie, PPI, Matsushita

- Sesuai RKS ABB, Legrand,


4. Racking System
Commscope

7
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

6. SPESIFIKASI PERALATAN SISTEM MATV

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

1 Peralatan Utama - Antena Yagi Ex.Lokal


MATV
- Antena UHF Ex.Lokal
- Booster Antena IRCO, KOOVIK, FEEDER
- DVD Player Pioner,Yamaha
- TV Monitor Sony, Toshiba

2 Peralatan Bantu - Active Combiner Amplifier IRCO, KOOVIK, FEEDER


- RF Directional IRCO, KOOVIK, FEEDER
- Attenuator IRCO, KOOVIK, FEEDER
- Outlet TV Berker, MK, Clipsal, Legrand
- Connector DX, Apenol
- Terminal Box Prastiwahyu, DJE, CRT, LS Electric
- Kabel 4 Besar
- Terminal kabel 3M,Utilux

8
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

7. SPESIFIKASI KOMPONEN PASIF SISTEM ICT

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

1. Closed Distribution Frame untuk terminasi OLT Fiber Optik di Ruang Data CISCO, D-LINK,
(CDF) Center. LINKSYS

Kotak CDF di Core Switch harus dari tipe


pasangan dalam dengan kapasitas sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja, dan harus
memiliki karakteristik minimal sebagai berikut :
 Rumah dibuat dari reinforced polyester,
 Dilengkapi dengan pintu yang dapat
dilepas untuk terminasi kabel.

Dilengkapi dengan ventilasi pada bagian atas


dan bawah untuk sirkulasi udara dan
mencegah kelembaban

2. Kotak CDF di setiap Kotak CDF di setiap bangunan merupakan CISCO, D-LINK,
bangunan kotak terminsi kabel UTP ke ONU dengan tipe LINKSYS
dan kapasitas sesuai petunjuk dalam Gambar
Perencanaan, harus memiliki karakteristik
minimal sebagai berikut:
 Dapat dipasang Flooer Standng di setiap
gedung,
 Mudah di pasang,
 Ringan dan Kuat,
 Kotak dibuat dari resin daur ulang,
 Bagian metal dibuat dari bahan baja anti
karat AISI 304,
 Dapat dibuka sampai 90°,
 Tahan terhadap UV dengan proteksi
indeks IP 53/54,

Dapat dikunci

9
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

3. Kabel Serat Optik Kabel Serat Optik dalam gedung yang keluar MMC, PANDUIT,
atau masuk dari Kotak CDF merupakan serat HELUKABEL
optic jenis Multi Mode.

Kabel serat optic yang dimaksud harus dari jenis


kabel serat optik berisolasi PVC dengan pita
pelindung statis, seperti tipe R-V (Pe) V, yang
memenuhi ketentuan SNI 04-2077-1990.

Minimal memilik karakteristik minimal sebagai


4. Kabel UTP MMC, PANDUIT,
berikut:
HELUKABEL
 Diameter 0,6mm.
 Berisi 4 pasang UTP untuk setiap data.
 Atenuasi maksimal (dB yang hilang per
100m) :
1MHz : 1.8dB
4MHz : 3.2dB
10MHz : 5dB
16MHz : 6.2dB
20MHz : 7dB
31.25MHz : 8.8dB
62.5MHz : 12.5dB
100MHz : 16dB

 Near end crosstalk loss minimal (dB yang


hilang per 100m):
1MHz : 65dB
4MHz : 55dB
10MHz : 50dB
16MHz : 47dB
20MHz : 45dB

31.25MHz : 42dB

62.5MHz : 38dB
100MHz : 35dB

10
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

8. SPESIFIKASI KOMPONEN AKTIF SISTEM ICT

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK

1. Core Switch, Access Sesuai RKS Cisco


Switch, Switch / HUB

2. Wireless Access Point Sesuai RKS Cisco

3. IP Camera / IP Surveillance Sesuai RKS Honeywell, DIS, Bosch,


& NVR Samsung

4. UPS Efisiensi > 96% Reillo, Vektor, Delta

Power Factor > 0,96

Thdi < 3%

Back up time 5 menit @ full load untuk back


up switching dari main line ke CDPK (Catu
Daya Pengganti Khusus)

9. SPESIFIKASI PERALATAN SISTEM CCTV

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK


1 IP Fix Dome Camera Panasonic, Illustra,
Bosch
2 IP Fix Bullet Camera Panasonic, Illustra,
Bosch
3 Network Video Recorder ( Panasonic, Illustra,
NVR 64 Channel ) Bosch
4 Security Entrance Control PH - 855 Panasonic, Illustra,
Unit Bosch
5 Vidio Entrance Station Panasonic, Illustra,
(CCTV) Bosch
6 Electric Door Release Panasonic, Illustra,
Bosch
7 Video Booster Neotech
8 Pan / Till & 200 mm Control Panasonic, Illustra,
Bosch
9 Pan / Till Camera Panasonic, Illustra,
Bosch
10 Kabel Instalasi Data Camera UTP Cat. 6 MMC, Panduit,
Helukabel

11
OUTLINE SPESIFIKASI MATERIAL
PEMBANGUNAN GEDUNG UNIT PERCETAKAN AL,QUR,AN
PEKERJAAN ELEKTRIKAL

NO JENIS MATERIAL SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK/MERK


11 Kabel Instalasi Daya Power NYM 3 x 1,5 mm2 4 Besar
Camera

12
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

DAFTAR ISI
BAB I
PENJELASAN UMUM

I. URAIAN UMUM ............................................................................................................... 1


1.1. PEKERJAAN ....................................................................................................... 1
1.2. BATASAN/PERATURAN PELAKSANAAN PEKERJAAN ................................. 1
1.3. DOKUMEN KONTRAK ........................................................................................ 2

II. LINGKUP PEKERJAAN ................................................................................................. 3


2.1. KETERANGAN UMUM........................................................................................ 3
2.2. SARANA DAN CARA KERJA ............................................................................. 3
2.3. PEMBUATAN RENCANA JADUAL PELAKSANAAN ........................................ 4
2.4. KETENTUAN DAN SYARAT-SYARAT BAHAN ................................................. 5

III. SITUASI DAN PERSIAPAN PEKERJAAN..................................................................... 6


3.1. SITUASI/LOKASI ................................................................................................. 6
3.2. AIR DAN DAYA ................................................................................................... 6
3.3. SALURAN PEMBUANGAN ................................................................................. 7
3.4. KANTOR KONTRAKTOR, LOS DAN HALAMAN KERJA, GUDANG DAN
FASILITAS LAIN .................................................................................................. 7
3.5. KANTOR PENGAWAS (DIREKSI KEET) ........................................................... 7
3.6. PAPAN NAMA PROYEK ..................................................................................... 7
3.7. PEMBERSIHAN HALAMAN ................................................................................ 8
3.8. PAGAR SEMENTARA ........................................................................................ 8
3.9. PERMUKAAN ATAS LANTAI (PEIL) .................................................................. 8
3.10. JARING PENGAMAN .......................................................................................... 8
3.11. PENGAMANAN DEBU ........................................................................................ 8
3.12. PENGUKURAN ................................................................................................... 9
3.13. PENGAWASAN DAN JAM KERJA................................................................... 10
3.14. RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA K3 .......................... 11
3.15. KETENTUAN-KETENTUAN DARI PEMBERI TUGAS..................................... 11
3.16. KEWAJIBAN KONTRAKTOR ........................................................................... 12
3.17. TUGAS KONTRAKTOR DALAM PELAKSANAAN ......................................... 13
3.18. TUGAS SUBKONTRAKTOR DALAM PELAKSANAAN .................................. 14
3.19. KOORDINASI PELAKSANAAN DILAPANGAN ............................................... 15
3.20. INSTRUKSI KONSULTAN MANAJEMEN KONTRUKSI .................................. 15
3.21. LAPORAN-LAPORAN ....................................................................................... 16
3.22. PERUBAHAN RENCANA ................................................................................. 17
3.23. PENYERAHAN PEKERJAAN ........................................................................... 17
3.24. PENYELESAIAN DAN MASA PEMELIHARAAN ............................................. 18

Daftar Isi - i
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

SPESIFIKASI TEKNIS

BAB I

PERSYARATAN TEKNIS UMUM

I. URAIAN UMUM
1.1. PEKERJAAN
a. Pekerjaan ini adalah Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi
Keagamaan Islam

b. Istilah “Pekerjaan” mencakup penyediaan semua tenaga kerja (tenaga ahli,


tukang, buruh dan lainnya), bahan bangunan dan peralatan/perlengkapan yang
diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan termaksud.

c. Termasuk dalam lingkup pekerjaan adalah pekerjaan Persiapan, Pekerjaan Air


Kerja, Listrik Kerja , Pagar Proyek, Direksikeet, Gudang, Papan nama proyek
dan seluruh perijinan termasuk pengurusan K3 adalah tanggung jawab
kontraktor, untuk itu kontraktor pelaksana dalam penawaran biaya totalnya
sudah harus memperhitungkan pekerjaan tersebut.

d. Pekerjaan harus diselesaikan seperti yang dimaksud dalam RKS, Gambar-


gambar Rencana, Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan serta Addenda
yang disampaikan selama pelaksanaan.

e. Metode Pembayaran mengacu pada Kontrak Gabungan (Lumpsum dan Harga


Satuan) yaitu kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh
pekerjaan dalam batas waktu tertentu, berdasarkan harga satuan yang pasti
dan tetap, untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis
tertentu, yang volume pekerjaannya masih bersifat sementara, pembayarannya
didasarkan Pada hasil pengukuran bersama atas volume Pekerjaan yang
benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa.

1.2. BATASAN/PERATURAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


Dalam melaksanakan pekerjaannya Kontraktor harus tunduk kepada :
a. Undang – Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa
Konstruksi
b. Undang – Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung
c. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan
Barang / Jasa Pemerintah.
d. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 22/PRT/M/2018 tentang Pedoman
Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
e. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI No. 07/PRT/M/2019 tetang Standar dan
Pedoman Jasa Konstruksi melalui penyedia.

Bab 1 - 1
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

f. Peraturan Menteri 29/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan


Gedung
g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI 14/2017 tentang Persyaratan Teknis
Aksesibilitas Kemudahan Bangunan Gedung
h. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI 26/2008 tentang Persyaratan Teknis
Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan
i. Peraturan Meteri Pekerjaan Umum RI No. 21/PRT/M/2019 tentang Pedoman
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi
j. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum RI 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan
Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan
k. Standar Nasional Indonesia (SNI)
l. Peraturan Perburuhan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
m. Peraturan-peraturan di Indonesia (Tentang Pengarahan Tenaga Kerja)
n. Peraturan Umum Instalasi Air (AVWI)
o. Algemenee Voorwarden (AV)
p. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung
dan Nongedung SNI 1726 : 2019.
q. Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI
2847: 2019.
r. Spesifikasi untuk Bangunan Gedung Baja Struktural SNI 1729: 2019.
s. Beban desain minimum dan kriteria terkait untuk Bangunan Gedung dan
Struktur lain SNI 1727: 2019.
t. Persyaratan Perancangan Geoteknik , SNI 8460 : 2017.

1.3. DOKUMEN KONTRAK


a. Dokumen Kontrak yang harus dipatuhi oleh Kontraktor terdiri atas :
 Surat Perjanjian Pekerjaan
 Surat Penawaran Harga dan Perincian Penawaran
 Gambar-gambar Kerja/Pelaksanaan
 Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
 Bill of Quantity (BoQ)
 Addendum yang disampaikan oleh Konsultan Pengawas Lapangan/MK
selama masa pelaksanaan

b. Kontraktor wajib untuk meneliti gambar-gambar, RKS dan dokumen kontrak


lainnya yang berhubungan. Apabila terdapat perbedaan/ketidak-sesuaian
antara RKS, gambar-gambar pelaksanaan dan BoQ, atau antara gambar satu
dengan lainnya, Kontraktor wajib untuk memberitahukan/melaporkannya
kepada Konsultan Pengawas Lapangan / Konsultan Manajemen Konstruksi .
Pada prinsipnya antara dokumen yang satu dengan yang lainnya adalah saling
melengkapi.
Persyaratan teknik pada gambar dan RKS yang harus diikuti adalah :
1. Bila terdapat perbedaan antara gambar rencana dengan gambar detail,
maka gambar detail yang diikuti.
2. Bila skala gambar tidak sesuai dengan angka ukuran, maka ukuran dengan
angka yang diikuti, kecuali bila terjadi kesalahan penulisan angka tersebut
yang jelas akan menyebabkan ketidaksempurnaan/ketidaksesuaian
konstruksi, harus mendapatkan keputusan Konsultan Pengawas
Lapangan/MK lebih dahulu.
3. Bila tedapat perbedaan antara RKS dan gambar, maka RKS yang diikuti
kecuali bila hal tersebut terjadi karena kesalahan penulisan, yang jelas

Bab 1 - 2
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

mengakibatkan kerusakan/kelemahan konstruksi, harus mendapatkan


keputusan Konsultan Pengawas Lapangan/MK.
4. RKS dan gambar saling melengkapi bila di dalam gambar menyebutkan
lengkap sedang RKS tidak, maka gambar yang harus diikuti demikian juga
sebaliknya.
5. Bila terdapat perbedaan antara BoQ dan Gambar, antara lain:
a. Bila di Gambar ada di BoQ tidak ada  acuan adalah gambar
b. Bila di BoQ ada dan di Gambar tidak ada  acuan BoQ (dikeluarkan
Gambar addendum oleh perencana)
6. Yang dimaksud dengan RKS dan gambar di atas adalah RKS dan gambar
setelah mendapatkan perubahan/penyempurnaan di dalam berita acara
penjelasan pekerjaan.

c. Bila akibat kekurangtelitian Kontraktor Pelaksana dalam melakukan pelaksanan


pekerjaan, terjadi ketidaksempurnaan konstruksi atau kegagalan struktur
bangunan, maka Kontraktor Pelaksana harus melaksanakan pembongkaran
terhadap konstruksi yang sudah dilaksanakan tersebut dan
memperbaiki/melaksanakannya kembali setelah memperoleh keputusan
Konsultan Pengawas tanpa ganti rugi apapun dari pihak-pihak lain.

II. LINGKUP PEKERJAAN


2.1. KETERANGAN UMUM
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam
tersebut secara umum meliputi pekerjaan standar maupun non standar.

Secara teknis, pekerjaan ini mencakup keseluruhan proses pembangunan dari


persiapan sampai dengan pembersihan/pemberesan halaman, dan dilanjutkan
dengan masa pemeliharaan seperti yang ditentukan, mencakup :
a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Tanah
c. Pekerjaan Pondasi
d. Pekerjaan Struktur
e. Pekerjaan Atap
f. Pekerjaan Arsitektur
g. Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal, Plumbing
h. dll
i. Pekerjaan lain-lain
Pekerjaan yang jelas terkait langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa
dipisahkan dengan pekerjaan utama sesuai dengan gambar dan RKS

2.2. SARANA DAN CARA KERJA


a. Kontraktor wajib memeriksa kebenaran dari kondisi pekerjaan meninjau tempat
pekerjaan, melakukan pengukuran-pengukuran dan mempertimbangkan
seluruh lingkup pekerjaan yang dibutuhkan untuk penyelesaian dan
kelengkapan dari proyek.
b. Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja serta tenaga ahli yang cakap dan
memadai dengan jenis pekerjaan yang dilaksanakan, serta tidak akan
mempekerjakan orang-orang yang tidak tepat atau tidak terampil untuk jenis-
jenis pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Kontraktor harus selalu menjaga
disiplin dan aturan yang baik diantara pekerja/karyawannya.

Bab 1 - 3
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

c. Kontraktor harus menyediakan alat-alat kerja dan perlengkapan seperti beton


molen, pompa air, timbris, waterpas, alat-alat pengangkut dan peralatan lain
yang diperlukan untuk pekerjaan ini. Peralatan dan perlengkapan itu harus
dalam kondisi baik.
d. Kontraktor wajib mengawasi dan mengatur pekerjaan dengan perhatian penuh
dan menggunakan kemampuan terbaiknya. Kontraktor bertanggung jawab
penuh atas seluruh cara pelaksanaan, metode, teknik, urut-urutan dan
prosedur, serta pengaturan semua bagian pekerjaan yang tercantum dalam
Kontrak.
e. Shop Drawing (gambar kerja) harus dibuat oleh Kontraktor sebelum suatu
komponen konstruksi dilaksanakan.
f. Shop Drawing harus sudah mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas
dan Konsultan Perencana sebelum elemen konstruksi yang bersangkutan
dilaksanakan.
g. Sebelum penyerahan pekerjaan kesatu, Kontraktor Pelaksana sudah harus
menyelesaikan gambar sesuai pelaksanaan yang terdiri atas :
 Gambar rancangan pelaksanaan yang tidak mengalami perubahan dalam
pelaksanaannya.
 Shop drawing sebagai penjelasan detail maupun yang berupa gambar-
gambar perubahan.
h. Penyelesaian yang dimaksud pada ayat g harus diartikan telah memperoleh
persetujuan Konsultan Pengawas Lapangan/MK setelah dilakukan pemeriksaan
secara teliti.
i. Gambar sesuai pelaksanaan dan buku penggunaan dan pemeliharaan
bangunan merupakan bagian pekerjaan yang harus diserahkan pada saat
penyerahan kesatu, kekurangan dalam hal ini berakibat penyerahan pekerjaan
kesatu tidak dapat dilakukan.
j. Pembenahan/perbaikan kembali yang harus dilaksanakan Kontraktor, bila :
 Komponen-komponen pekerjaan pokok/konstruksi yang pada masa
pemeliharaan mengalami kerusakan atau dijumpai kekurangsempurnaan
pelaksanaan.
 Komponen-komponen konstruksi lainnya atau keadaan lingkungan diluar
pekerjaan pokoknya yang mengalami kerusakan akibat pelaksanaan
konstruksi (misalnya jalan, halaman, dan lain sebagaunya).
k. Pembenahan lapangan yang berupa pembersihan lokasi dari bahan-bahan
sisa-sisa pelaksanaan termasuk bowkeet dan direksikeet harus dilaksanakan
sebelum masa kontrak berakhir, kecuali akan dipergunakan kembali pada tahap
selanjutnya.

2.3. PEMBUATAN RENCANA JADUAL PELAKSANAAN


a. Kontraktor Pelaksana berkewajiban menyusun dan membuat jadual
pelaksanaan dalam bentuk barchart yang dilengkapi dengan grafik prestasi
yang direncanakan berdasarkan butir-butir komponen pekerjaan sesuai dengan
penawaran.
b. Pembuatan rencana jadual pelaksanaan ini harus diselesaikan oleh Kontraktor
Pelaksana selambat-lambatnya 10 hari setelah dimulainya pelaksanaan di
lapangan pekerjaan. Penyelesaian yang dimaksud ini sudah harus dalam arti
telah mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas.
c. Bila selama 10 hari setelah pelaksanaan pekerjaan dimulai, Kontraktor
Pelaksana belum menyelesaikan pembuatan jadual pelaksanaan, maka
Kontraktor Pelaksana harus dapat menyajikan jadual pelaksanaan sementara

Bab 1 - 4
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

minimal untuk 2 minggu pertama dan 2 minggu kedua dari pelaksanaan


pekerjaan.
d. Selama waktu sebelum rencana jadual pelaksanaan disusun, Kontraktor
Pelaksana harus melaksanakan pekerjaannya dengan berpedoman pada
rencana pelaksanaan mingguan yang harus dibuat pada saat dimulai
pelaksanaan. Jadual pelaksanaan 2 mingguan ini harus disetujui oleh Konsultan
Pengawas.

2.4. KETENTUAN DAN SYARAT-SYARAT BAHAN


a. Kontraktor harus menyediakan bahan-bahan bangunan dalam jumlah dan
kualitas yang sesuai dengan lingkup pekerjaan yang dilaksanakan. Sepanjang
tidak ada ketentuan lain dalam RKS ini dan Berita Acara Rapat Penjelasan,
maka bahan-bahan yang dipergunakan maupun syarat-syarat pelaksanaan
harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku di Indonesia.
b. Sebelum memulai pekerjaan atau bagian pekerjaan, Pemborong harus
mengajukan contoh bahan yang akan digunakan kepada Konsultan Pengawas
yang akan diajukan User dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan
persetujuan. Bahan-bahan yang tidak memenuhi ketentuan seperti disyaratkan
atau yang dinyatakan ditolak oleh Konsultan Pengawas tidak boleh digunakan
dan harus segera dikeluarkan dari halaman pekerjaan selambat-lambatnya
dalam waktu 2 x 24 jam.
c. Apabila bahan-bahan yang ditolak oleh Konsultan Pengawas ternyata masih
dipergunakan oleh Kontraktor, maka Konsultan Pengawas memerintahkan
untuk membongkar kembali bagian pekerjaan yang menggunakan bahan
tersebut. Semua kerugian akibat pembongkaran tersebut sepenuhnya menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
d. Jika terdapat perselisihan mengenai kualitas bahan yang dipakai, Konsultan
Pengawas berhak meminta kepada Kontraktor untuk memeriksakan bahan itu
ke Laboratorium Balai Penelitian Bahan yang resmi dengan biaya Kontraktor.
Sebelum ada kepastian hasil pemeriksaan dari Laboratorium, Kontraktor tidak
diizinkan untuk melanjutkan bagian-bagian pekerjaan yang menggunakan
bahan tersebut.
e. Penyimpanan bahan-bahan harus diatur dan dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga tidak mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan
terhindarnya bahan-bahan dari kerusakan.
f. Persyaratan mutu bahan bangunan secara umum adalah seperti di bawah ini,
sedangkan bahan-bahan bangunan yang belum disebutkan disini akan
diisyaratkan langsung di dalam pasal-pasal mengenai persyaratan pelaksanaan
komponen konstruksi di belakang.

 Air
Air yang digunakan sebagai media untuk adukan pasangan plesteran, beton
dan penyiraman guna pemeliharaan harus air tawar, tidak mengandung
minyak, garam, asam dan zat organik lainnya yang telah dikatakan
memenuhi syarat, sebagai air untuk keperluan pelaksanaan konstruksi oleh
laboratorium tidak lagi diperlukan rekomendasi laboratorium.

 Semen Portland (PC)


Semen Portland yang digunakan adalah jenis satu harus satu merek untuk
penggunaan dalam pelaksanaan satu satuan komponen bengunan, belum

Bab 1 - 5
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

mengeras sebagai atau keseluruhannya. Penyimpanannya harus dilakukan


dengan cara dan didalam tempat yang memenuhi syarat sebagai air untuk
menjamin kebutuhan kondisi sesuai persyaratan di atas.

 Pasir (Ps)
Pasir yang digunakan adalah pasir sungai, berbutir keras, bersih dari
kotoran, lumpur, asam, garam, dan bahan organik lainnya, yang terdiri atas.
1. Pasir untuk urugan adalah pasir dengan butiran halus, yang lazim
disebut pasir urug.
2. Pasir untuk pasangan adalah pasir dengan ukuran butiran sebagian
terbesar adalah terletak antara 0,075 sampai 1,25 mm yang lazim
dipasarkan disebut pasi pasang
3. Pasir untuk pekerjaan beton adalah pasir cor yang gradasinya
mendapat rekomendasi dari laboratorium.

 Batu Pecah (Split)


Split untuk beton harus menggunakan split dari batu kali hitam pecah, bersih
dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai dengan
syarat-syarat yang tercantum dalam Persyaratan Beton Struktural untuk
Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.

III. SITUASI DAN PERSIAPAN PEKERJAAN


3.1. SITUASI/LOKASI
a. Lokasi proyek Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan
Islam berada di Jl. Raya Puncak Gadog No.Km 65, Ciawi, Kec. Ciawi,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16720. Halaman proyek akan diserahkan
kepada Kontraktor. Kontraktor hendaknya mengadakan penelitian dengan
seksama mengenai keadaan tanah halaman proyek tersebut.
b. Kekurang-telitian atau kelalaian dalam mengevaluasi keadaan lapangan,
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor dan tidak dapat dijadikan
alasan untuk mengajukan klaim/tuntutan.

3.2. AIR DAN DAYA


a. Kontraktor harus menyediakan air atas tanggungan/biaya sendiri yang
dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini, yaitu :
 Air kerja untuk pencampur atau keperluan lainnya yang memenuhi
persyaratan sesuai jenis pekerjaan, cukup bersih, bebas dari segala macam
kotoran dan zat-zat seperti minyak, asam, garam, dan sebagainya yang
dapat merusak atau mengurangi kekuatan konstruksi.
 Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air dan
kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk keperluan
tersebut harus cukup terjamin.
b. Kontraktor harus menyediakan daya listrik atas tanggungan/biaya sendiri
sementara yang dibutuhkan untuk peralatan dan penerangan serta keperluan
lainnya dalam melaksanakan pekerjaan ini. Pemasangan sistem listrik
sementara ini harus memenuhi persyaratan yang berlaku. Kontraktor harus
mengatur dan menjaga agar jaringan dan peralatan listrik tidak membahayakan
para pekerja di lapangan. Kontraktor harus pula menyediakan penangkal petir
sementara untuk keselamatan.

Bab 1 - 6
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

3.3. SALURAN PEMBUANGAN


Kontraktor harus membuat saluran pembuangan sementara untuk menjaga agar
daerah bangunan selalu dalam keadaan kering/tidak basah tergenang air hujan atau
air buangan. Saluran dihubungkan ke parit/selokan yang terdekat atau menurut
petunjuk Pengawas.

3.4. KANTOR KONTRAKTOR, LOS DAN HALAMAN KERJA, GUDANG DAN


FASILITAS LAIN
Kontraktor harus membangun kantor dan perlengkapannya, los kerja, gudang dan
halaman kerja (work yard) di dalam halaman pekerjaan, yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan sesuai Kontrak. Kontraktor harus juga menyediakan untuk
pekerja/buruhnya fasilitas sementara (tempat mandi dan peturasan) yang memadai
untuk mandi dan buang air.
Kontraktor harus membuat tata letak/denah halaman proyek dan rencana konstruksi
fasilitas-fasilitas tersebut. Kontraktor harus menjamin agar seluruh fasilitas itu tetap
bersih dan terhindar dari kerusakan.
Dengan seijin Kuasa Pengguna Anggaran, Kontraktor dapat menggunakan kembali
kantor, los kerja, gudang dan halaman kerja yang sudah ada.

3.5. KANTOR PENGAWAS (DIREKSI KEET)


Kontraktor harus menyediakan untuk Direksi di tempat pekerjaan ruang kantor
sementara beserta seperangkat furniture termasuk kursi-kursi, meja dan lemari.
Kualitas dan peralatan yang harus disediakan adalah sebagai berikut :
a. Ruang : ukuran 50 m2
b. Konstruksi : rangka kayu ex borneo, lantai plesteran, dinding double
plywood tidak usah dicat, atap asbes gelombang
c. Fasilitas : air dan penerangan listrik
d. Furnitur : 10 meja kerja 1/2 biro dan 10 kursi
1 meja rapat bahan plywood 18 mm ukuran 120 x 240 cm, dan
10 kursi
2 unit komputer dan printer
2 whiteboard ukuran 120 x 80 cm
2 rak arsip gambar plywood 12 mm ukr. 120 x 240 x 30 cm
Kontraktor harus selalu membersihkan dan menjaga keamanan kantor tersebut
beserta peralatannya.
Dengan seijin Kuasa Pengguna Anggaran / Pejabat Pembuat Komitmen, Kontraktor
dapat menggunakan Direksi Keet yang sudah ada dengan diadakan
penyempurnaan dan perlengkapan peralatan jika dianggap perlu..

3.6. PAPAN NAMA PROYEK


Kontraktor wajib membuat dan memasang papan nama proyek di bagian depan
halaman proyek sehingga mudah dilihat umum. Ukuran dan redaksi papan nama
tersebut 90 x 150 cm dipotong dengan tiang setinggi 250 cm atau sesuai dengan
petunjuk Pemerintah Daerah setempat. Kontraktor tidak diijinkan menempatkan atau
memasang reklame dalam bentuk apapun di halaman dan di sekitar proyek tanpa
ijin dari Pemberi Tugas.

Bab 1 - 7
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

3.7. PEMBERSIHAN HALAMAN


a. Semua penghalang di dalam batas tanah yang menghalangi jalannya pekerjaan
seperti adanya pepohonan, batu-batuan atau puing-puing bekas bangunan
harus dibongkar dan dibersihkan serta dipindahkan dari tanah bangunan kecuali
barang-barang yang ditentukan harus dilindungi agar tetap utuh.
b. Pelaksanaan pembongkaran harus dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk
menghindarkan bangunan yang berdekatan dari kerusakan. Bahan-bahan
bekas bongkaran tidak diperkenankan untuk dipergunakan kembali dan harus
diangkut keluar dari halaman proyek.

3.8. PAGAR SEMENTARA


Kontraktor harus memasang pagar sementara yang sifatnya melindungi dan
menutupi lokasi yang akan dibangun dengan persyaratan kualitas sebagai berikut :
a. Bahan dari BWG 32 dengan rangka kayu dicat sementara.
b. Tinggi pagar minimum 2,1 m.
c. Ruang gerak selama pelaksanaan dalam lokasi berpagar harus cukup leluasa
untuk lancarnya pekerjaan.
d. Pada tahap selanjutnya Kontraktor harus menyediakan/memasang pengaman
secukupnya disekeliling konstruksi bangunan untuk mencegah jatuhnya bahan-
bahan bangunan dari atas yang membahayakan baik pekerja maupun aktivitas
lain disekitar bangunan.

Kontraktor bisa menggunakan kembali pagar yang sudah ada dengan melakukan
perbaikan-perbaikan terlebih dahulu bila diperlukan.

3.9. PERMUKAAN ATAS LANTAI (PEIL)


a. Peil  0,00 Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam
ikuti gambar kerja
b. Semua ukuran ketinggian galian, pondasi, sloof, kusen, dak beton, dan lain-lain
harus mengambil patokan dari peil  0, 00 tersebut.

3.10. JARING PENGAMAN


a. Selama pelaksanaan pekerjaan/konstruksi khususnya setelah menginjak lantai
dua, kontraktor harus memasang jaring pengaman proyek terhadap benda
jatuh, debu dan barang/material lainnya sehingga tidak membahayakan
manusia disekitar radius proyek dan lingkungan sekitar proyek.
b. Jaring pengaman dipasang mengelilingi area gedung dengan tetap
memperhatikan keleluasaan aktifitas kerja dan manufer alat dan material
sehingga tidak mengganggu jalannya pekerjaan.
c. Jaring pengaman harus dipasang dengan baik, rapi dan kuat baik dengan tiang
tersendiri atau diikat pada alat bantu scafolding keliling bangunan.
d. Jaring pengaman terbuat dari bahan nylon atau yang lainnya yang terajut
membuat suatu jaring dengan lobang kecil kuat dan dipasang dengan rapi.
e. Kontraktor harus merawat dengan baik jaring ini sampai dengan pekerjaan
exterior selesai dan jaring pengaman sudah tidak diperlukan lagi.

3.11. PENGAMANAN DEBU


a. Selama pelaksanaan pekerjaan/konstruksi kontraktor harus memasang
pelindung agar debu akibat kegiatan proyek terhadap area /ruangan yang

Bab 1 - 8
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

dianggap bebas dari debu sehingga tidak membahayakan manusia, peralatan


perkantoran/peralatan medis dll disekitar proyek.
b. Pelindung debu dipasang mengelilingi area gedung dengan tetap
memperhatikan keleluasaan aktifitas kerja dan manufer alat dan material
sehingga tidak mengganggu jalannya pekerjaan.
c. Pelindung debu harus dipasang dengan baik, rapi dan kuat baik dengan tiang
tersendiri atau diikat pada alat bantu scafolding keliling bangunan.
d. Pengaman debu terbuat dari bahan Plastik/Triplek atau yang lainnya yang dapat
mengisolasi masuknya debu kearea yang tidak diharapkan.
e. Kontraktor harus merawat dengan baik Pelindung debu ini sampai dengan
pekerjaan selesai.

3.12. PENGUKURAN
a. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan pengukuran batas / garis dan elevasi
persiapan lahan dan pekerjaan pengukuran lainnya yang ditentukan dalam
Gambar Kerja dan / atau yang ditentukan Konsultan Pengawas Lapangan/MK
dan termasuk penyediaan team ukur yang berpengalaman dan peralatan
pengukuran lengkap dan akurat yang memenuhi ketentuan spesifikasi ini.

b. Prosedur Umum
a) Data Standar Pengukuran
Standar pengukuran berdasarkan poligon tertutup tiga titik koordinat dan
patok akan disediakan Pemilik Proyek dan akan menjadi patokan
pengukuran yang dilakukan Kontraktor.
Bila Kontraktor berkeberatan atas penentuan sistem koordinat tersebut,
maka dalam 1 (satu) minggu setelah penentuan, Kontraktor dapat
mengajukan keberatan secara tertulis beserta data pendukung untuk
kemudian akan dipertimbangkan oleh Konsultan Pengawas Lapangan/MK.

b) Persyaratan Pengukuran
Kontraktor harus melaksanakan perhitungan pengukuran dan pemeriksaan
untuk mendapatkan lokasi yang tepat sesuai Gambar Kerja dan harus
disetujui Konsultan Pengawas Lapangan/MK.
Setiap kali melakukan pengukuran, pemeriksaan ketepatan harus dilakukan
dengan Poligon tertutup. Kesalahan maksimal yang diijinkan dari Poligon
tertutup adalah sebagai berikut :
 Kerangka Horizontal (Poligon) :
Salah pentutup sudut = 10  n
(n = banyak titik / sudut)
Salah relatif  1 /10000
 Kerangka Vertikal (Sipat Datar) :
Salah pentutup beda tinggi = 10  D km (mm)
(D = total jarak terpendek)
Semua jarak kemiringan harus dikurangkan ke jarak tegak.

c) Tim Pengukur dan Peralatan


Kontraktor harus menyediakan tim ukur yang ahli, yang disetujui terlebih
dahulu oleh Konsultan Pengawas Lapngan/MK, dan mereka bertanggung
jawab memberikan informasi dan data yang berkaitan dengan pengukuran
kepada Konsultan Pengawas Lapangan/MK, Kontraktor harus menggunakan

Bab 1 - 9
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

sejumlah peralatan pengukuran yang memadai, akurat dan memiliki sertifikat


dan disetujui Konsultan Pengawas Lapangan/MK.

d) Pelaksanaan Pekerjaan
Perhitungan dan Catatan Pengukuran
Catatan lengkap harus mencakup semua pengukuran lapangan, rapih dan
teratur. Pengukuran harus dengan jelas menyebutkan nama proyek, lokasi,
tanggal, nama. Buku yang dijilid harus digunakan untuk catatan.
Catatan lapangan yang terpisah harus dibuat untuk setiap kategori berikut :
o Pemeriksaan melintang
o Ketinggian patok
o Lokasi pengukuran
o Konstruksi pengukuran
o Potongan melintang

Koordinat seluruh patok, titik pemeriksaan dan lainnya harus dihitung


sebelum pengukuran.
Sketsa harus disiapkan untuk setiap patok pemeriksaan dan titik acuan yang
menunjukkan jarak dan azimut ke setiap titik acuan.
Profil dan bidikan elevasi topografi harus dicatat dalam buku lapangan.
Semua catatan dan perhitungan harus dibuat permanen, dan dijaga di
tempat yang aman. Penyimpanan data lapangan yang tidak berlaku lagi
dilakukan oleh Konsultan Pengawas Lapangan/MK.

e) Pemeriksaan Ketepatan
Semua elemen pengukuran, pemeriksaan dan penyetelah harus diperiksa
Konsultan Pengawas Lapangan/MK pada waktu – waktu tertenu selama
pelaksanaan proyek. Kontraktor harus membantu Konsultan MK selama
pemeriksaan pengukuran lapangan.
Perhitungan berikut harus digunakan untuk memeriksa catatan lapangan:
Kesalahan sudut menyilang e1 = 1’ n
Kesalahan garis menyilang e2 =  (L2 + D2)
L = perbedaan antara garis lintang utara dan garis lintang selatan
D = perbedaan antara titik keberangkatan timur dan titik keberangkatan
barat
e
Ketepa tan 
perimeter
Pengukuran yang tidak sempurna yang dikerjakan Kontraktor, harus
diperbaiki dan diulang tanpa tambahan biaya.
Kontraktor harus menjaga semua tanda dan garis yang dibutuhkan agar
tetap terlihat jelas selama pemeriksaan.
Setiap pemeriksaan yang dilakukan Konsultan Pengawas Lapangan/MK
tidak membebaskan Kontraktor dari seluruh tanggung jawabnya membuat
pengukuran yang tepat untuk kerataan, elevasi, kemiringan, dimensi dan
posisi setiap struktur atau fasilitas.

3.13. PENGAWASAN DAN JAM KERJA


a. Pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh konsultan
manajemen konstruksi.

Bab 1 - 10
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

b. Konsultan manajemen konstruksi berhak pada setiap waktu yang dianggap perlu
tanpa memberitahukan sebelumnya, untuk mengadakan inspeksi/pemeriksaan :
- Terhadap jenis pekerjaan yang dipersiapkan didalam atau diluar site.
- Terhadap gudang penyimpanan bahan- bahan.
- Terhadap pengolahan material maupun sumber - sumbernya.
c. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengawasan
konsultan manajemen konstruksi tetap menjadi tanggungjawab kontraktor. Jika
diperlukan harussegera dibuka sebagian atau seluruhnya untuk kepentingan
pemeriksaan.
d. Jam kerja normal yang berlaku diproyek ini adalah pukul 07.00 sampai pukul
18.00. Dalam hal kontraktor memerlukan waktu lebih dari yang ditetapkan diatas,
maka harus dimintakan izin tertulis dari konsul- tan manajemen konstruksi, biaya
pengawa- san akibat lembur diluar jam kerja diatas menjadi tanggung-jawab
kontraktor.

3.14. RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA K3


Keamanan dan keselamatan kerja :
a. Selama pelaksanaan pekerjaan, kontraktor wajib mengadakan segala yang
diperlukan untuk menjamin keamanan, keselamatan kerja.
b. Kontraktor juga wajib memenuhi segala peraturan tata-tertib, ordonansi
pemerintah ataupun pemerintah setempat.
c. Kontraktor bertanggung-jawab atas biaya, kerugian atau tuntutan ganti rugi yang
diakibatkan adanya kecelakaan selama pelaksanaan pekerjaan.
d. Kontraktor harus mengkoordinir keamanan dan keselamatan kerja proyek
sampai dengan serah terima kedua pekerjaan. Kontraktor harus membuat
laporan tentang keamanan, keselamatan kerja dan tidak adanya bahaya lain
yang mungkin timbul. Laporan harus diserahkan kepada konsultan manajemen
konstruksi setiap hari pada akhir kegiatan proyek.
e. Semua pekerja yang bekerja didaerah berbahaya harus memakai perlengkapan
pengamanan kerja seperti safety belt, helm.
f. Semua orang yang berada didalam areal proyek dilarang merokok.

3.15. KETENTUAN-KETENTUAN DARI PEMBERI TUGAS.


Ketentuan-ketentuan dari pemberi tugas :
a. Kelalaian-kelalaian yang dibuat oleh kontraktor seperti :
- Tanpa ada alasan ternyata meninggalkan pekerjaan sebelum pekerjaan
seluruhnya selesai atau apabila tidak mengindahkan segala instruksi yang
diberikan oleh konsultan manajemen konstruksi atau pemberi tugas.
- Apabila tidak dapat melanjutkan pekerjaannya secara teratur dan baik,
- Atau dalam hal telah menyerahkan bagian yang menjadi tanggung-jawabnya
kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari konsultan manajemen
konstruksi.
- Tidak menghadiri rapat-rapat teknis.
b. Apabila dalam waktu 7 (tujuh) hari sesudah menerima instruksi tertulis dari
konsultan manajemen konstruksi atau pemberi tugas masih belum ada tanda
adanya perubahan yang berarti atau belum dilaksanakan instruksi termaksud,
maka konsultan manajemen konstruksi akan mengeluarkan peringatan tertulis.
Apabila dalam 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya peringatan tertulis, masih
belum ada perubahan yang berarti maka konsultan manajemen konstruksi dapat
mengambil tindakan dengan tidak mempertimbangkan alasan- alasan apapun

Bab 1 - 11
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

yang terjadi sebelumnya. Tindakan tersebut dapat berupa dialihkan nya tugas
termaksud kepada pihak lain dengan biaya dibebankan kepada kontraktor.
c. Apabila ternyata kontraktor tersebut mengalami kebangkrutan (bankrupt) atau
telah terjadi pengambil-alihan oleh pihak lain atas perusahaannya secara hukum
atau tindakan-tindakan lain yang senada dengan tindakan tersebut diatas, maka
pekerjaan kontraktor dibawah kontrak ini akan diadakan tindakan lebih lanjut.
Pekerjaan tersebut dapat dilanjutkan sesuai dengan kontrak tersendiri, hanya
apabila telah terdapat persetujuan antara pemberi tugas dengan pihak lain yang
telah mengambil-alih semua kegiatan kontraktor tersebut.
d. Apabila dengan tindakan seperti tercantum diatas ternyata pekerjaan tidak dapat
berjalan dengan baik dan lancar, maka :
1) Pemberi tugas akan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan memberikan
kepada pihak lain, dengan menggunakan semua fasiltas dan peralatan yang
telah berada di lapangan seperti bangunan-bangunan darurat, gudang,
peralatan-peralatan kerja, barang- barang, material, termasuk barang-
barang yang telah dibeli (tetapi belum sampai ditempat) yang akan digunakan
untuk mnyelesaikan pekerjaan dilapangan.
2) Bila dipandang perlu oleh pemberi tugas / konsultan manajemen konstruksi
maka dalam waktu 10 (sepuluh) hari sesudah dikenakannya suatu tindakan,
kontraktor harus tetap menyerahkan barang-barang dan material yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dilapangan sesuai dengan isi
kontrak ini, melalui supplier atau sub-kontraktor yang menyerahkan barang-
barang dan material sesuai dengan kontrak ini, yang mana ternyata sebegitu
jauh belum dibayar oleh kontraktor yaitu dengan memotong bagian yang
harus dibayarkan kepada kontraktor sesuai penilaian prestasi.
3) Apabila dianggap perlu oleh pemberi tugas maka semua barang yang masih
tinggal di lapangan seperti peralatan- peralatan kerja, barangbarang material
dan barang-barang yang disewanya, harus segera dikeluarkan dari lapangan
dan semua biaya untuk hal tersebut menjadi beban kontraktor. Apabila dalam
waktu 7 (tujuh) hari ternyata hal tersebut diatas tidak dilaksanakan, maka
akan diselesaikan menurut kebijaksanaan pemberi tugas, dengan tidak
bertanggung-jawab atas kerusakan atau hilangnya barang-barang tersebut.
Ketentuan tersebut juga berlaku bagi kontraktor yang karena satu dan lain
hal ternyata dihentikan kontrak kerjanya oleh pemberi tugas.

3.16. KEWAJIBAN KONTRAKTOR


a. Kontraktor harus menyelesaikan pekerjaan secara lengkap seluruhnya sesuai
dengan ketentuan-ketentuan didalam kontrak.
b. Selekas mungkin sejak dikeluarkannya Surat Perintah Kerja (SPK) atau
selambat- lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum berakhirnya masa belaku Jaminan
Penawaran, kontraktor harus menyediakan Jaminan Pelaksanaan yang
dikeluarkan oleh Bank atau Badan Keuangan lain yang disetujui oleh pemberi
tugas. Apabila Jaminan Pelaksanaan belum diserahkan kepada Pemberi Tugas
didalam jangka waktu tersebut, maka hal ini berarti kontraktor mengundurkan diri
dari pelaksanaan pekerjaan kontrak ini. Demikian pula, apabila dalam waktu 7
(tujuh) hari setelah dikeluarkannya Surat Perintah Kerja (SPK), kontraktor belum
mulai melaksanakan pekerjaan di lapangan dan / atau belum membayar dan /
atau belum menyerahkan Jaminan Pelaksanaan, maka hal ini berarti kontraktor
menolak melaksanakan pekerjaan dan mengundurkan diri dari pelaksanaan
pekerjaan tersebut.

Bab 1 - 12
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

c. Apabila ternyata dalam gambar-gambar kontrak terdapat perbedaan-perbedaan


atau penyimpangan-penyimpangan dengan apa yang telah tercantum didalam
kontrak sehingga menimbulkan keragu-raguan dalam pekerjaan, maka
kontraktor harussegera memberitahukan hal ini kepada Konsultan Manajemen
Konstruksi untuk diadakan penyelesaian.
d. Apabila terdapat perbedaan-perbedaan antara gambar-gambar dengan
ketentuan-ketentuan dalam uraian Rencana Kerja dan Syarat-syarat
pelaksanaan (RKS), maka ketentuan yang paling lengkaplah yang mengikat.
e. Yang dimaksud dengan “gambar” adalahgambar pelaksanaan, gambar kerja,
gambar-gambar detail dan gambar-gambar lainnya yang dibuat untuk pekerjaan
ini sebelum atau pada saat pelaksanaan pekerjaan.
f. Apabila terdapat perbedaan antara gambar-gambar tersebut, maka gambar yang
berskala lebih besarlah yang mengikat. Apabila pada waktu pelaksanaan, oleh
konsultan perencana diadakan perubahan-perubahan dalam penggunaan bahan
danukuran-ukuran maka pada saat penyerahanpertama kontraktor diwajibkan
menyerahkantiga set gambar perubahan yang dikerjakandiatas gambar cetakan
asli dengan tinta berwarna.
g. Atas perintah konsultan manajemen konstruksi kepada kontraktor dapat
dimintakan gambar-gambar penjelasan dan rincian atas bagian-bagian
pekerjaan khusus. Gambar-gambar tersebut yang telah dibubuhi tanda
persetujuan dari konsultan manajemen konstruksi selanjutnya dianggap sebagai
gambar pelengkap dari perencana. Kontraktor diwajibkan untuk menyerahkan
tiga set cetakannya kepada konsultan manajemen konstruksi.
h. Biaya pembuatan semua keperluan gambar-gambar yang dibutuhkan selama
masa kontrak, baik gambar asli dan atau gambarperubahan yang diperlukan
dalam pelaksa-naan untuk kepentingan kontraktor maupun gambar-gambar
yang memerlukan persetujuan dari konsultan manajemen konstruksi / konsultan
perencana yang harus dibuat diatas kertas kalkir, dan biaya pencetakan gambar-
gambar tersebut menjadi tanggungjawab kontraktor.
i. Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah dikeluarkannya Surat Perintah
Kerja (SPK), kontraktor harus telah mulai dengan pekerjaan pembangunan fisik
dalam arti kata yang nyata. Untuk itu syarat-syarat yang diwajibkan agar dapat
dimulainya pekerjaan harus dipenuhi terlebih dahulu.
j. Kontraktor wajib mempelajari dan mema-hami semua Undang-undang,
Peraturan Pemerintah, Persyaratan Umum maupun supplementnya, Persyaratan
Standard Internasional dan Persyaratan yang dikeluarkan produsen serta tidak
menyimpang dari ketentuan didalam dokumen pelelangan serta segala petunjuk-
petunjuk tertulis yang telah dikeluarkan.
k. Kontraktor diharuskan menyediakan sedikitnya satu set gambar-gambar
pelaksanaan dan RKS ditempat pekerjaan dalam keadaan yang tetap rapih dan
bersih yang dapat dilihat setiap saat oleh pemberi tugas, konsultan manajemen
konstruksi ataupun petugas-petugas lainnya.Kontraktor berhak meminta
penjelasan kepada Konsultan Manajemen Konstruksi, Konsultan Perencana
atau pihak lain yang ditunjuk pemberi tugas bilamana menurut pendapatnya ada
bagian-bagian dari dokumen kontrak, gambar atau hal-hal lainnya yang kurang
jelas.

3.17. TUGAS KONTRAKTOR DALAM PELAKSANAAN


Tugas kontraktor dalam pelaksanaan:
a. Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah Surat Perintah Kerja (SPK)
kontraktor telah mulai dengan pekerjaan pembangunan fisik dalam arti kata yang

Bab 1 - 13
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

nyata. Untuk itu syarat-syarat yang diwajibkan agar dapat dimulainya pekerjaan,
harus segera dipenuhi.
b. Kontraktor harus mempunyai dan menyediakan atas biayanya sendiri semua
tenaga dan peralatan yang dibutuhkan untuk terlaksananya pekerjaan sesuai
dengan kontrak.
c. Kontraktor harus menyerahkan
 Daftar / susunan Staf Pelaksana yang ditempatkan dilapangan.
 Daftar dan schedule peralatan yang akan digunakan untuk pelaksanaan.
 Detail rencana waktu penyelesaian pekerjaan (time schedule).
 Schedule pengadaan meterial.
 Dan lain-lain yang diperlukan.
d. Kontraktor harus mematuhi segala peraturan dan ketentuan-ketentuan hukum
yang berlaku, serta instruksi-instruksi tertulis yang dikeluarkan oleh Pemerintah /
Penguasa setempat sehubungan dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan.
e. Kontraktor wajib berkoordinasi dengan pihak lainnya dalam kelancaran
pelaksanaan pekerjaan proyek terutama berkoordinasi dengan pihak Sub-
kontraktor langsung dari kontraktor.
f. Sub-kontraktor harus melaksanakan pekerjaannya diselaraskan dengan jadwal
pelaksanaan pekerjaan kontraktor, yang telah disetujui konsultan manajemen
konstruksi dan pemberi tugas. Dalam hal sub-kontraktor tidak mengindahkan
teguran tertulis dari kontraktor dalam hal penyelarasan jadwal dengan
pelaksanaan pekerjaan sub-kontraktor dapat dikenakan sanksi denda/teguran.
g. Kontraktor harus mematuhi segala peraturan dan ketentuan-ketentuan yang
berlaku serta instruksi-instruksi tertulis yang dikeluarkan oleh pemerintah /
penguasa setempat sehubungan dengan pekerjaan yang dilaksanakan
h. Didalam melaksanakan pekerjaan ini, kontraktor harus :
Memperhatikan, melaksanakan dan mengikuti semua ketentuan yang
dikeluarkan oleh kontraktor utama sehubungan dengan fungsinya sebagai
koordinator pelaksanaan pekerjaan sepanjang ketentuan tersebut berhubungan
dengan pelaksanaan kontrak ini.
 Bekerjasama dan saling tidak mengganggu dengan pihak lainnya
(kontraktor utama, sub-kontraktor lainnya dan pihak-pihak lain
yang disetujui oleh pemberi tugas untuk melaksanakan pekerjaan
tertentu) didalam melaksanakan pekerjaan yang merupakan bagian
dari pembangunan proyek ini
 Menjamin pihak-pihak lainnya sebagai mana tersebut diatas dari
segala macam kerugian yang diderita oleh pihak lain tersebut didalam
melaksanakan pekerjaannya yang disebabkan oleh kelalaian dan
kesalahan sub-kontraktor.

3.18. TUGAS SUBKONTRAKTOR DALAM PELAKSANAAN


Sub-kontraktor :
a. Penunjukkan Sub-kontraktor oleh kontraktor hanyalah dapat dilakukan dengan
sepengetahuan dan seizin tertulis dari pemberi tugas dan konsultan manajemen
konstruksi.
b. Apabila hasil kerja sub-konraktor tidak memenuhi semua persyaratan Rencana
Kerja dan syarat-syarat pelaksanaan (RKS) ini ataupun tidak memenuhi target
prestasi yang harus dicapai pada suatu tahap pekerjaan, maka kontraktor tidak
dibenarkan untuk meninggalkan atau menyerahkan kontrak ini sebagian atau
seluruhnya yang menjadi kewajibannya kepada yang ahli (sub-kontraktor) tanpa
terlebih dahulu memberitahukan kepada pemberi tugas.

Bab 1 - 14
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

c. Apabila tidak disebutkan didalam kontrak, maka kontraktor tidak dibenarkan


untuk mensubkan sebagian dari pekerjaan yang menjadi kewajibannya tanpa
persetujuan pemberi tugas / konsultan manajemen konstruksi. Dalam hal sudah
mendapat persetujuan pemberi tugas / konsultan manajemen konstruksi, maka
kontraktor utama tetap bertanggung jawab penuh atas hasil pekerjaan dan
segala kelalaian serta kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh subnya.
d. Sub - kontraktor adalah pihak yang mempunyai kontrak langsung dengan
kontraktor, yaitu dalam menyediakan dan mengerjakan bagian-bagian pekerjaan
khusus sesuai keahliannya.

Khusus untuk pekerjaan dewatering, pekerjaan harus dilaksanakan oleh


sub kontraktor spesialis dewatering yang berpengalaman. Didalam penawaran,
kontraktor harus melampirkan surat pernyataan kerja sama dengan sub-
kontrak tor spesialis dewatering, brosur alat pengukur settlemen.

3.19. KOORDINASI PELAKSANAAN DILAPANGAN


a. Kontraktor wajib melakukan koordinasi dengan semua pihak yang terkait dalam
pelaksanaan pekerjaan yang tercakup dalam proyek ini.
Tugas koordinasi tersebut meliputi :
1) Memberi petunjuk dan pengarahan kepada Sub-kontraktor mengenai saat
dimulai dan diselesaikannya suatu bagian / keseluruhan pekerjaan dengan
berpedoman kepada Master Schedule dan keadaan kondisi lapangan.
2) Mengatur dan memberi keleluasaan kerja kepada para Sub-kontraktor dan
memperhatikan urutan-urutan pekerjaan suatu kontraktor dengan yang
lainnya yang saling berkaitan agar keseluruhan pekerjaan dapat
dilaksanakan sebaik - baiknya.
3) Memberi data-data tentang suatu bagian pekerjaan dimana Sub-kontraktor
akan melakukan kegiatan mengenai pengukuran, Gambar detail dsb,
sehingga Sub-kontraktor dapat mempersiapkan serta membuat rencana
kerja terperinci yang tepat.
4) Mengadakan rapat koordinasi antara semua kontraktor yang terlibat didalam
proyek ini guna mencapai kesepakatan dan konsensus dalam rencana kerja
dan / atau dalam membahas suatu masalah yang timbul sebelum diajukan
kedalam rapat lapangan.
b. Sub-kontraktor bertanggung-jawab untuk mengganti kerugian yang diderita oleh
kontraktor dan / atau sub-kontraktor lainnya tersebut mengalami gangguan dan
/ atau kerusakan yang disebabkan oleh kelalaian sub-kontraktor.

3.20. INSTRUKSI KONSULTAN MANAJEMEN KONTRUKSI


Instruksi konsultan manajemen konstruksi :
a. Kontraktor harus mematuhi dan melaksanakan semua instruksi tertulis yang
dikeluarkan oleh konsultan manajemen konstruksi. Apabila dalam waktu 2 (dua)
hari sesudah menerima instruksi tersebut, ternyata masih belum ada realisasinya
maka kontraktor akan diberi peringatan tertulis dari konsultan manajemen
konstruksi. Apabila dalam waktu 2 (dua) hari setelah peringatan tertulis
dikeluarkan ternyata masih belum ada realisasi dari pelaksana instruksi tertulis
tersebut, maka kontraktor dapat dikenakan tindakan administratip seperti yang
disebut dalam dokumen kontrak.
b. Semua instruksi dari konsultan manajemen konstruksi harus dikeluarkan secara
tertulis (Instruksi tertulis). Suatu instruksi lisan bukan mutlak merupakan

Bab 1 - 15
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

pekerjaan yang harus segera dilaksanakan. Oleh karena itu apabila dalam waktu
2 (dua) hari tidak dikeluarkan instruksi tertulis, hal tersebut tidak perlu ditanggapi
kontraktor. Tetapi sebaliknya kontraktor bertanggung-jawab penuh atas biayanya
sendiri untuk segala pekerjaan yang telah dilaksanakannya tanpa adanya
instruksi tertulis dari konsultan manajemen konstruksi.
c. Instruksi tertulis dari konsultan manajemen konstruksi tersebut dapat berupa :
 Teguran atas sesuatu cara pelaksanaan yang salah sehingga
membahayakan bagi keteguhan konstruksi, atau pekerjaan finishing yang
kurang baik atau hal - hal lain yang menyimpang dari persyaratan-
peryaratan teknis dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat pelaksanaan
(RKS) dan gambar pelaksanaan.
 Instruksi untuk menyingkirkan material / bahan yang tidak memenuhi syarat
dan harus diangkut keluar areal proyek.
 Instruksi untuk mengganti Pelaksana (foreman) dari kontraktor yang
dianggap kurang mampu (un-skilled).
 Instruksi untuk suatu pekerjaan perubahan (pengurangan dan penambahan
pekerjaan) yang sudah waktunya dilaksanakan dengan segera.
 Instruksi untuk mengganti sub-kontraktor yang dianggap kurang mampu,
baik dari segi mutu kerja maupun kecepatan kerja.
 Instruksi untuk mempercepat pelaksanaan suatu bagian pekerjaan.
 Dan instruksi-instruksi lainnya yang Termasuk dalam lingkup tugas
kontraktor.
d. Bilamana ada instruksi lisan, kontraktor berhak untuk melaksanakan pekerjaan
tersebut, atau mengadakan konfirmasi kepada konsultan manajemen konstruksi.
Tetapi sebaliknya kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala pekerjaan
yang telah dilaksanakan tanpa adanya instruksi tertulis dari konsultan
manajemen konstruksi.

3.21. LAPORAN-LAPORAN
Kontraktor diwajibkan membuat :
a. Laporan Harian yang berisi :
 Tahap berlangsungnya pekerjaan.
 Pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan oleh sub-kontraktor (jika diizinkan).
 Catatan dan instruksi konsultan manajemen konstruksi yang
disampaikan tertulis maupun lisan.
 Hal ikhwal mengenai bahan-bahan (yang masuk dan yang ditolak).
 Keadaan cuaca.
 Jumlah tenaga kerja dan alat.
 Masalah yang terjadi.

Setiap laporan harian pada tanggal yang sama harus diperiksa dan disetujui oleh
konsultan manajemen konstruksi.

b. Laporan Mingguan.
Laporan mingguan dibuat berdasarkan laporan harian dan disampaikan
langsung kepada Konsultan Manajemen Konstruksi. Penugasan-penugasan
dan instruksi dari konsultan manajemen konstruksi baru dianggap berlaku dan
mengikat apabila telah dimuat dalam laporan harian dan telah diperiksa dan
disetujui oleh konsultan manajemen konstruksi.

Bab 1 - 16
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

c. Foto-Foto Kegiatan Proyek


Foto - foto dalam bagian atau tahapan kegiatan penting sebanyak 3 (tiga) set
berikut album yang diserahkan kepada konsultan manajemen konstruksi untuk
setiap tahapan pelaksanaan.

d. Laporan Bulanan
Laporan bulanan yang dibuat berdasarkan laporan mingguan.

3.22. PERUBAHAN RENCANA


Penyerahan pekerjaan :
a. Atas instruksi dan persetujuan konsultan manajemen konsruksi, Konsultan
Perencana berhak mengadakan suatu perubahan atas rencana yang telah ada
dengan memberi instruksi tertulis kepada kontraktor untuk dilaksanakan. Dalam
hal ini kontraktor harus bertanggung-jawab atas pekerjaan yang tidak sesuai
dengan instruksi tersebut.
b. Yang dimaksud dengan perubahan tersebut adalah perubahan (alternatif atau
modifikasi) dari pada design, kwalitas maupun kwantitas dari pekerjaan seperti
yang tercantum idalam gambar-gambar kerja (kontrak). Perubahan tersebut
termasuk penambahan, pembatalan atau penggan tian dari suatu pekerjaan,
perubahan dari jenis atau standard dari suatu bahan, peralatan atau mesin yang
dipergunakan didalam pekerjaan.
c. Kuantitas dan nilai dari semua perubahan akan dihitung oleh konsultan
manajemen konstruksi menurut ketentuan yang berlaku didalam kontrak ini dan
apabila diperlukan, kontraktor diberi kesempatan untuk mengikuti perhitungan
yang dibuat. Untuk perhitungan nilai dan perubahan, metode atau cara berikut
ini harus dipakai :
1. Harga-harga yang tertera didalam kontrak dipakai untuk menghitung nilai dari
item pekerjaan yang bersifat sama.
2. Untuk item pekerjaan dimana sifatnya berbeda maka harga-harga yang
tertera didalam Penawaran merupakan dasar perhitungan dari nilai suatu
perubahan, sepanjang nilai yang didapat adalah wajar dan hanya untuk sifat
yang berbeda saja yang dinilai perubahannya.

3.23. PENYERAHAN PEKERJAAN


Penyerahan pekerjaan :
a. Penyerahan pertama dilaksanakan selambat-lambatnya pada tanggal yang
telah ditetapkan dalam Surat Perjanjian Pemborongan, sesuai dengan
penjelasan tentang waktu penyelesaian yang ditetapkan dalam aanwijzing.
b. Perpanjangan waktu penyerahan hanya dapat diterima jika alasan-alasan
tersebut sesuai dengan alasan-alasan yang diperkenankan dan tertulis dalam
Rencana Kerja dan Syarat-syarat pelaksanaan (RKS).
c. Rencana dan tanggal penyerahan pertama harus diajukan kepada konsultan
mana- jemen konstruksi, selambat-lambatnya 2 (dua) minggu sebelum tanggal
yang dimaksud, dimana konsultan manajemen konstruksi akan mengadakan
pemeriksaan seksama atas hasil keseluruhan. Hasil pemeriksaan ini akan
disampaikan kepada kontraktor. Sebelum penyerahan pertama, pemeriksaan
dapat diadakan lebih dari satu kali. Pada saat-saat pemeriksaan maupun
penyerahan dibuatkan Berita Acara.

Bab 1 - 17
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

d. Keadaan yang dapat digunakan sebagai alasan dalam mengajukan


permohonan perpanjangan waktu penyelesaian atau pengunduran waktu
penyerahan adalah keadaan-keadaan force majeure.

3.24. PENYELESAIAN DAN MASA PEMELIHARAAN


a. Setelah pekerjaan dianggap terlaksana 100%, maka pihak pemberi tugas (tim
PHO), pengelola teknis, konsultan manajemen konstruksi dan kontraktor
bersama-sama menandatangani suatu Berita Acara Penyerahan-I. Bertepatan
dengan ini berlangsunglah penyerahan pekerjaan pertama.
b. Masa pemeliharaan adalah 180 hari kalender, terhitung sejak tanggal
dilakukannnya penyerahan pertama pekerjaan dari kontraktor kepada pemberi
tugas.
c. Kontraktor bertanggung jawab untuk mengganti atau memperbaiki cacat-cacat
maupun kekurangan-kekurangan yang timbul dalam masa pemeliharaan yang
disebabkan oleh pemakaian bahan-bahan maupun kwalitas pekerjaan yang
tidak memenuhi ketentuan-ketentuan didalam kontrak. Penggantian ataupun
perbaikan harus dilaksanakan secepat setelah ditemukannya cacat-cacat atau
kekurangan-kekurangan tersebut. Apabila hal ini tidak segera dilakukan
konsultan manajemen konstruksi berhak untuk menunjuk pihak lain untuk
melaksanakan perbaikan tersebut dan biaya untuk itu merupakan beban
kontraktor.
d. Jika Pemberi Tugas menganggap perlu ia boleh mengeluarkan instruksi agar
kontrak-tor memperbaiki segala cacat, susut dan kesalahan lainnya yang
disebabkan oleh bahan-bahan dan cara-cara pelaksanaan yang tidak sesuai
dengan kontrak.
e. Setelah semua instruksi perbaikan selesai dilaksanakan, maka dibuatkan Berita
Acara.
f. Setelah masa pemeliharaan dilampaui dan sesudah semua perbaikan-
perbaikan dilaksanakan dengan baik, tim pemberi kerja (panitia FHO),
pengelola teknis, konsultan manajemen konstruksi akan mengeluarkan
Sertifikat Penyelesaian Pekerjaan Perbaikan (SP3) yang berarti penyerahan
kedua dari pihak kontraktor kepada Pemilik, merupakan berakhirnya masa
pemeliharaan.

Bab 1 - 18
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

DAFTAR ISI

BAB II
PERSYARATAN TEKNIS ARSITEKTUR
I. PEKERJAAN PASANGAN DINDING BATU BATA .............................................................. 1
1.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................ 1
1.2. STANDAR / RUJUKAN ........................................................................................... 1
1.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................... 1
1.4. BAHAN .................................................................................................................. 1
1.5. PELAKSANAAN ...................................................................................................... 2
1.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN........................................................................... 3
II. DINDING PARTISI ......................................................................................................... 4
2.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................ 4
2.2. STANDAR / RUJUKAN ........................................................................................... 4
2.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................... 4
2.4. BAHAN - BAHAN ................................................................................................... 4
2.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................... 5
2.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN........................................................................... 5
III. DINDING PARTISI CUBIKAL TOILET................................................................................ 5
3.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................ 5
3.2. STANDAR YANG DIGUNAKAN ............................................................................... 5
3.3. KOMPONEN .......................................................................................................... 6
3.4. BAHAN – BAHAN .................................................................................................. 6
3.5. PERSIAPAN ........................................................................................................... 6
3.6. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................... 6
3.7. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN........................................................................... 7
IV. PEKERJAAN PAGAR PANEL BETON PRECAST ................................................................. 7
4.1. PENDAHULUAN .................................................................................................... 7
4.2. BAGIAN DARI PAGAR PANEL BETON ..................................................................... 7
4.3. SPESIFIKASI DAN KEUNGGULAN PAGAR PANEL BETON........................................ 7

Daftar Isi - i
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

4.4. METODE PEMASANGAN PAGAR PANEL BETON ................................................... 8


4.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN........................................................................... 9
V. PEKERJAAN ADUKAN DAN PLESTERAN ......................................................................... 9
5.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................ 9
5.2. STANDAR / RUJUKAN ........................................................................................... 9
5.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................... 9
5.4. BAHAN - BAHAN ................................................................................................. 10
5.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 10
5.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 12
VI. PEKERJAAN KUSEN PINTU, JENDELA ALUMUNIUM ..................................................... 12
6.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 12
6.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 12
6.3. DESKRIPSI SISTEM............................................................................................... 13
6.4. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 13
6.5. BAHAN – BAHAN ................................................................................................ 14
6.6. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 15
6.7. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 16
VII. PEKERJAAN DAUN DAN RANGKA PINTU BESI.............................................................. 16
7.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 16
7.2. DESKRIPSI ........................................................................................................... 16
7.3. REFERENSI .......................................................................................................... 17
7.4. PERSYARATAN SISTEM........................................................................................ 18
7.5. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN ......................................................................... 19
7.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 19
VIII. PEKERJAAN ENGINEERING DOOR ............................................................................... 20
8.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 20
8.2. PERSYARATAN BAHAN........................................................................................ 20
8.3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN ........................................................................ 20
8.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 21
IX. PEKERJAAN KACA ...................................................................................................... 21
9.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 21
9.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 21

Daftar Isi - ii
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

9.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 21


9.4. BAHAN ................................................................................................................ 21
9.5. PELAKSANAAN .................................................................................................... 22
9.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 23
X. PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI ..................................................... 23
10.1. KETERANGAN ..................................................................................................... 23
10.2. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 23
10.3. BAHAN ................................................................................................................ 24
10.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 25
10.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 26
XI. PEKERJAAN BESI NON STRUKTURAL ........................................................................... 26
11.1. KETERANGAN ..................................................................................................... 26
11.2. BAHAN ................................................................................................................ 26
11.3. PELAKSANAAN .................................................................................................... 27
11.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 27
XII. PENUTUP DAN PENGISI CELAH ................................................................................... 27
12.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 27
12.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 27
12.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 27
12.4. BAHAN - BAHAN ................................................................................................. 28
12.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 28
12.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 29
XIII. PEKERJAAN LANGIT-LANGIT GYPSUM ........................................................................ 29
13.1. KETERANGAN ..................................................................................................... 29
13.2. BAHAN ................................................................................................................ 29
13.3. PELAKSANAAN .................................................................................................... 29
13.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 29
XIV. PEKERJAAN PELAPIS DINDING KERAMIK ..................................................................... 30
14.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 30
14.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 30
14.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 30
14.4. BAHAN ................................................................................................................ 30

Daftar Isi - iii


Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

14.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 31


14.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 32
XV. PEKERJAAN PENUTUP DINDING ALUMUNIUM COMPOSITE PANEL (ACP) ............................. 32
15.1. UMUM ................................................................................................................ 32
15.2. MATERIAL ........................................................................................................... 33
15.3. PELAKSANAAN .................................................................................................... 34
15.4. PEMASANGAN .................................................................................................... 34
15.5. PEMBERSIHAN .................................................................................................... 38
15.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 38
XVI. PEKERJAAN GRC CETAK (ORNAMEN GRC) ........................................................................... 38
16.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 38
16.2. SPESIFIKASI ......................................................................................................... 39
16.3. CARA PEMASANGAN .......................................................................................... 39
XVII.PEKERJAAN PENUTUP LANTAI KERAMIK ............................................................................. 39
17.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 39
17.2. BAHAN ................................................................................................................ 39
17.3. PELAKSANAAN .................................................................................................... 40
17.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 41
XVIII.PENTUP LANTAI EPOXY SELF LEVELING .............................................................................. 41
18.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 41
18.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 41
18.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 41
18.4. BAHAN – BAHAN ................................................................................................ 41
18.5. INSPEKSI & PERSIAPAN PERMUKAAN ................................................................. 42
18.6. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 42
18.7. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 43

XIX. PEKERJAAN FLOOR HARDENER ........................................................................................... 43


19.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 43
19.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 43
19.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 43
19.4. BAHAN - BAHAN ................................................................................................. 43

Daftar Isi - iv
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

19.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 44


19.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 44
XX. PEKERJAAN PENGECATAN .................................................................................................. 45
20.1. KETERANGAN ..................................................................................................... 45
20.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 45
20.3. BAHAN ................................................................................................................ 45
20.4. PELAKSANAAN .................................................................................................... 46
20.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 49
XXI. PEKERJAAN PERABOT TETAP DAN KELENGKAPAN INTERIOR LAINNYA ................................. 49
21.1. PEKERJAAN PERABOT TETAP .............................................................................. 49
21.2. BAHAN – BAHAN ................................................................................................ 50
21.3. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 50
21.4. PEKERJAAN KELENGKAPAN INTERIOR LAINNYA ................................................. 51
21.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 51
XXII. PEKERJAAN ALAT-ALAT SANITAIR ....................................................................................... 51
22.1. KETERANGAN ..................................................................................................... 51
22.2. BAHAN ................................................................................................................ 51
22.3. PELAKSANAAN .................................................................................................... 52
22.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 53
XXIII.PEKERJAAN WATERPROOFING COATING ............................................................................ 53
23.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 53
23.2. PERSYARATAN BAHAN........................................................................................ 53
23.3. PERSYARATAN PELAKSANAAN............................................................................ 53
23.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN......................................................................... 54
XXIV.PEKERJAAN PENUTUP ATAP METAL ................................................................................... 55
24.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 55
24.2. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 55
24.3. BAHAN - BAHAN ................................................................................................. 55
24.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 56
XXV.PEKERJAAN TALANG ........................................................................................................... 57
25.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 57
25.2. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 57

Daftar Isi - v
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

25.3. BAHAN - BAHAN ................................................................................................. 57


25.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 58
XXVI.PEKERJAAN CANSTEIN ....................................................................................................... 58
26.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 58
26.2. STANDAR / RUJUKAN ......................................................................................... 58
26.3. PROSEDUR UMUM ............................................................................................. 58
26.4. BAHAN - BAHAN ................................................................................................. 59
26.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................. 59

Daftar Isi - vi
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

SPESIFIKASI TEKNIS

BAB II

PERSYARATAN TEKNIS ARSITEKTUR

I. PEKERJAAN PASANGAN DINDING BATU BATA


1.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, peralatan, alat – alat bantu yang dibutuhkan,
bahan dan semua pasangan batu bata pada tempat – tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar
Kerja atau disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis ini.
Pekerjaan ini terdiri tetapi tidak terbatas pada hal – hal berikut :
 Pasangan batu bata
 Adukan
 Pengaplikasian bahan penutup celah antara dinding dengan kolom bangunan, dinding
dengan bukaan dinding dan dinding dengan peralatan.

Sesuai dengan petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.

1.2. STANDAR / RUJUKAN


1.2.1. American Society for Testing and Materials (ASTM)
1.2.2. Standar Nasional Indonesia (SNI)
1.2.3. Spesifikasi Teknis :
 Beton Cor di Tempat
 Adukan dan Plesteran
 Penutup dan Pengisi Celah

1.3. PROSEDUR UMUM


1.3.1. Keterangan.
Pekerjaan ini mencakup seluruh pekerjaan dinding yang terbuat dari batu bata dan bata
ringan disusun ½ bata, meliputi penyediaan bahan, tenaga dan peralatan untuk
pekerjaan ini.

1.3.2. Pengiriman dan Penyimpanan.


Semua bahan harus disimpan dengan baik, terlindung dari kerusakan.
Bata harus disusun dengan baik dan teratur dengan tinggi maksimal 150 cm.
Semen harus dikirim dalam kemasan aslinya yang tertutup rapat dimana tertera nama
pabrik serta merek dagangnya.
Penyimpanan semen harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis Beton Cor
di Tempat.

1.4. BAHAN
1.4.1. Bata Batu Merah
1) Batu bata merah (dari tanah liat) yang dipakai adalah produksi dalam negeri eks
daerah setempat dari kualitas yang baik dengan ukuran 5 x 10,5 x 22 cm yang
dibakar dengan baik, warna merah merata, keras dan tidak mudah patah, bersudut
runcing dan rata, tanpa cacat atau mengandung kotoran. Meskipun ukuran bata yang

Bab 2 - 1
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

bisa diperoleh di suatu daerah mungkin tidak sama dengan ukuran tersebut diatas,
harus diusahakan supaya ukuran bata yang akan dipakai tidak terlalu menyimpang.
Kualitas bata harus sesuai dengan pasal 81 dari A.V. 1941. Kontraktor harus
menunjukkan contoh terlebih dahulu kepada Pengawas Lapangan/MK. Pengawas
Lapangan berhak menolak bata dan menyuruh bongkar pasangan bata yang tidak
memenuhi syarat. Bahan-bahan yang ditolak harus segera diangkut keluar dari
tempat pekerjaan.

2) Bata merah yang digunakan harus mempunyai kuat tekan minimal 25 kg/cm2, sesuai
ketentuan SNI 15-2094-2000.

1.4.2. Bata Ringan


Batu bata ringan yang dipakai adalah produksi Grant Elephant, Celcon, Leibel ukuran
20 x 60 tebal 10 cm, atau 8,3 buah per m2, memiliki kekuatan tekna minimal 1 MPa
sampai 15 MPa. Kontraktor harus menunjukkan contoh terlebih dahulu kepada Konsultan
Pengawas/MK. Konsultan Pengawas /MK berhak menolak bata ringan yang tidak
memenuhi syarat. Bahan-bahan yang ditolak harus segera diangkut keluar dari
tempat pekerjaan.

1.4.3. Mortar/Plester
Adukan terdiri dari bahan Dry-Mix dan air dipakai untuk pemasangan dinding batu bata
ringan. Komposisi adukan sesuai dengan yang disyaratkan oleh Fabrikan.
Bahan Dry-Mix yang dipakai adalah produk GE Mortar, Dry Mix, Mortar Nasional
(Monas).

1.4.4. Adukan
Adukan terdiri dari semen, pasir dan air dipakai untuk pemasangan dinding batu
bata. Komposisi adukan adalah 1 pc : 5 pasir untuk dinding biasa, 1 Pc : 3 pasir untuk
tasram

Semen PC yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik Gresik, Tigaroda
yang mempunyai kualitas standar konstruksi).
Adukan harus dibuat dalam alat tempat mencampur, diatas permukaan yang keras,
bukan langsung diatas tanah. Bekas adukan yang sudah mulai mengeras tidak boleh
digunakan kembali.

1.4.5. Beton Non Struktural


Beton Non Struktural dibuat untuk rangka penguat dinding bata, yaitu : sloof, kolom
praktis dan ringbalk atau balok latai.
Komposisi bahan beton rangka penguat dinding (sloof, kolom praktis, ringbalk)
adalah 1 pc : 2 pasir : 3 kerikil.

Semen PC yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik (satu merek
untuk seluruh pekerjaan). Pasir beton harus bersih, bebas dari tanah/lumpur dan zat-
zat organik lainnya. Kerikil/split dari pecahan batu keras dengan ukuran 1 - 2 cm,
bebas dari kotoran.

1.5. PELAKSANAAN
Dinding harus dipasang (uitzet dengan peralatan yang memadai) dan didirikan menurut
masing-masing ukuran ketebalan dan ketinggian yang disyaratkan seperti yang ditunjukkan
dalam gambar.
1.5.1. Sloof, kolom praktis dan ringbalk
Ukuran rangka penguat dinding bata (non struktural) : sloof 15 x 20 cm, kolom
praktis 12 x 12 cm atau 10 x 10, ringbalk 15 x 12 dan balok latai 10 x 15 cm. Kolom
praktis, balok latai dan ringbalk diplester sekaligus dengan dinding bata sehingga
mencapai tebal 15 cm dan 11 cm untuk bata ringan. Bekisting terbuat dari kayu

Bab 2 - 2
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

terentang/kayu hutan lainnya dengan tebal minimum 2 cm yang rata dan berkualitas
papan baik.
Pemasangan bekisting harus rapi dan cukup kuat. Celah-celah papan harus rapat
sehingga tidak ada air adukan yang keluar. Bekisting baru boleh dibongkar setelah
beton mengalami proses pengerasan.
Kecuali ditentukan lain pemasangan balok latai dipasang tepat diatas kusen pintu
maupun jendela.

1.5.2. Pasangan Bata Merah.


Bata yang akan dipasang harus direndam dalam air terlebih dahulu sampai jenuh.
Tidak diperkenankan memasang Bata Merah :
1. Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air dan kebutuhan
lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk keperluan tersebut harus cukup
terjamin.
2. Yang ukurannya kurang dari setengahnya
3. Lebih dari 1 (satu) meter tingginya setiap hari di satu bagian pemasangan
4. Pada waktu hujan di tempat yang tidak terlindung atap
5. Setiap luas pasangan dinding bata mencapai 12 m2 harus dipasang beton praktis
(kolom, dan ring balk)

Bata dipasang tegak lurus dan berada pada garis-garis yang seharusnya dengan
bentang benang yang sipat datar. Kayu penolong harus cukup kuat dan benar-benar
dipasang tegak lurus.

Dinding yang menempel pada kolom beton harus diberi angker besi setiap jarak 40 cm.
Permukaan beton harus dibuat kasar. Pemasangan bata diatas kusen harus dibuat balok
lantai 12/12 atau dilengkapi dengan pasangan rollaag. Pemasangan harus dijaga
kerapihannya, baik dalam arah vertikal maupun horizontal. Sela-sela disekitar kusen-
kusen harus diisi dengan aduk.

1.5.3. Pasangan Bata Ringan


Bata ringan yang akan dipasang harus direndam dalam air terlebih dahulu sampai jenuh.
Tidak diperkenankan memasang Bata Ringan:
1. Yang ukurannya kurang dari setengahnya
2. Pada waktu hujan di tempat yang tidak terlindung atap
3. Setiap luas pasangan dinding bata ringan mencapai 12 m2 harus dipasang beton
praktis (kolom, dan ring balk)
Bata ringan dipasang tegak lurus dan berada pada garis-garis yang seharusnya dengan
bentang benang yang sipat datar. Kayu penolong harus cukup kuat dan benar-benar
dipasang tegak lurus.

Dinding yang menempel pada kolom beton harus diberi angker besi setiap jarak 40 cm.
Permukaan beton harus dibuat kasar. Pemasangan bata ringan diatas kusen harus
dibuat balok latei 10/10. Pemasangan harus dijaga kerapihannya, baik dalam arah
vertikal maupun horizontal. Sela-sela disekitar kusen-kusen harus diisi dengan aduk

1.5.4. Perawatan dan Perlindungan.


Siar atau celah antara dinding dengan kolom bangunan, dinding dengan bukaan dinding
atau dinding dengan peralatan, harus ditutup dengan bahan pengisi celah seperti
disebutkan dalam Spesifikasi Teknis - Penutup & Pengisi Celah.

1.5.5. Plesteran dan Pengacian.


Plesteran dan pengacian harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis - Adu
kan & Plesteran.

1.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus

Bab 2 - 3
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

II. DINDING PARTISI


2.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini mencakup pngangkutan, pengadaan bahan, tenaga kerja dan alat kerja serta
pemasangan partisi dan perlengkapannya, sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis
ini.

2.2. STANDAR / RUJUKAN


2.2.1. Standar Nasional Indonesia (SNI)
2.2.2. Spesifikasi Teknis Terkait
- Kaca dan Aksesoris.
- Cat.

2.3. PROSEDUR UMUM


2.3.1. Contoh Bahan dan Data Teknis.
Sebelum pengadaan bahan, Kontrktor harus menyerahkan contoh dan data teknis/brosur
bahan yang akan digunakan, untuk disetujui Pengawas Lapangan/MK.

2.3.2. Gambar Detail Pelaksanaan.


Sebelum pelaksanaan, Kontraktor wajib membuat dan menyerahkan Gambar Detail
Pelaksanaan kepada Pengawas Lapangan/MK untuk diperiksa dan disetujui.
Gambar Detail Pelaksanaan harus memperlihatkan dimensi, tata letak, detail-etail
pertemuan, cara pengencangan dan penyelesaian, dan detail penyelesaian lainnya.

2.3.3. Pengiriman dan Penyimpanan


2.3.3.1. Semua bahan yang didatangkan harus disimpan ditempat yang terlindung
sehingga terhindar dari kerusakan, baik sebelum dan selama pemasangan.
2.3.3.2. Bahan yang didatangkan harus dilengkapi dengan label, dat teknis dari pabrik
pembuat untuk menjamin bahwa bahan yang didatangkan tersebut sesuai
dengan yang telah disetujui.

2.4. BAHAN - BAHAN


2.4.1. Umum
Semua bahan yang akan digunakan untuk pekerjaan partisi harus berasal dari seperti
disebutkan dalam Spesifikasi ini dan sesuai dengan persetujuan Pengawas
Lapangan/MK.

2.4.2. Panel Partisi


2.4.2.1. Panel Gypsum Tahan Api Tebal 12 mm - 16 mm Fire Rating Hard
2.4.2.2. Papan Gypsum Tebal 12 mm
2.4.2.3. Rekomendasi Produk Jayaboard, Gyproc, Knauf

2.4.3. Rangka Metal.


Rangka metal untuk pemasangan dan penumpu panel partisi harus dibuat dari bahan
baja ringan lapis seng dan alumunium seperti Zincalume atau Galvalum, dalam bentuk
damn ukuran yang dibuat khusus untuk pemasangan papan gipsum, sebagai panbel
partisi, seperti buatan Jof Metal, Buman, Jayaboard

Bab 2 - 4
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

2.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


2.5.1. Umum.
2.5.1.1. Pabrikasi partisi harus dilaksanakan sesuai dengan pentunjuk Gambar Detail
Pelaksanaan yang telah disetujui, serta sesuai petunjuk Pengawas
Lapangan/MK.
2.5.1.2. Setiap kesalahan yang disebabkan karena kesalahan pengukuran dimensi
harus menjadi tanggung jawab Kontrktor, tanpa biaya tambahan dari Pemilik
Proyek.
2.5.1.3. Partisi pertama yang dibuat harus disetujui Pengawas Lapangan/MK sebelum
memulai produksi masal.

2.5.2. Pemasangan.
2.5.2.1. Kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja, semua panel partisi dari papan
gipsum dan kaca akan terdiri dari :
- Rangka Metal :
- Batang tegak,
- Batang tepi atas, bawah dan tengah/pembagi.
Dengan bentuk, dimensi dan ketebalan sesuai standar pabrik pembuat.
- Alat pengencang.

2.5.3. Penyelesaian.
2.5.3.1. Panel Partisi.
Panel partisi harus diselesaikan dengan cara-cara yang direkomendasikan
pabrik pembuat papan.

Kecuali ditentukan lain, semua permukaan panel partisi harus diberi lapisan cat
dalam warna yang sesuai ketentuan Skema Warna yang diterbitkan kemudian,
atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan/MK.

Bahan cat dan cara pelaksanaannya harus sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis
Pengecatan.

2.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

III. DINDING PARTISI CUBIKAL TOILET


3.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini mencakup pengangkutan, pengadaan bahan, tenaga kerja dan alat kerja serta
pemasangan partisi dan perlengkapannya, sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis
ini.

3.2. STANDAR YANG DIGUNAKAN


1. Semua pekerjaan yang disebutkan dalam bab ini harus dikerjakan sesuai dengan standar
dan spesifikasi dari pabrik.
2. Bahan-bahan yang dipakai harus memenuhi standar-standar antara lain :
a. ASTM : American Society for Testing and Materials
b. BS : British Standard
c. DIN : Deutsches Institut fur Normung
d. NEN : Netherlandse Normen
Bab 2 - 5
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

e. NF : Norme Francaise
f. NEMA : National Electrical Manufactures Association
g. ISO 9001 dan ISO 14001

3.3. KOMPONEN
1. Pintu Cubicle lengkap dengan aksesoris.
2. Kaki alumunium.
3. Mohair strip
4. Head section alumunium.
5. Alumunium U-Channel
6. Skrup

3.4. BAHAN – BAHAN


1. Bahan yang dipakai untuk dinding partisi cubical adalah panel phenolic standar tebal 12 mm,
tinggi partisi cubical adalah 2.00 dengan pesdestal 15 cm dari lantai.
2. Rangka dinding partisi cubikal yang digunakan adalah pipa mill steel ukuran sesuai dengan
pabrik penghasil. Semua engsel dan kunci adalah stainles steel dengan indikator lecth dari
sisi luar.
3. Cubikal toilet boleh dipasang setelah pekerjaan dinding bata dan dinding partisi serta
pekerjaan pelapis dinding selesai dikerjakan.
4. Sebelum melaksanakan pekerjaan ini kontraktor harus mengajukan gambar shop drawing
kepada Pengawas /Konsultan MK untuk mendapatkan persetujuan.
5. Cubicle Toilet yang digunakan dari produk Marathon Cubicles, Pro Cubix, Facio Cubic

3.5. PERSIAPAN
1. Pengajuan dan persetujuan gambar shop drawing pekerjaan cubicle toilet phenolic panel.
2. Approval material yang akan digunakan.
3. Persiapan lahan kerja.
4. Persiapan material kerja, antara lain : panel phenolic, pedestal atau kaki, engsel grafity,
hookatau gantungan baju, pengunci dll.
5. Persiapan alat bantu kerja, antara lain : waterpass, meteran, steiger, unting-unting, gerinda,
borscrew driver, cutter, selang air, dll

3.6. PELAKSANAAN PEKERJAAN


 Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam pekerjaan ini dengan
menunjukan surat keterangan referensi pekerjaann-pekerjaan yang pernah dikerjakan
kepada direksi lapangan untuk mendapatkan persetujuan.
 Toilet Cubicle yang digunakan untuk seluruh proyek harus dari satu macam saja.
 Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk mempermudah
serta mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan yang akurat, teliti dan tepat
pada posisinya.
 Metode pemasangan antara lain :
- Pengerjaan partisi ini dilakukan setelah pekerjaan finishing arstektur (kondisi lapangan
sudah terpasang keramik, saniter, dll)
- Pengukuran, menentukan dan menandai (marking) pada bagian lantai dan dinding
pemasangan cubicle toilet.
- Partisi toilet terdiri dari dua komponen yaitu bagian panel partisi dan hardwere
- Untuk bagian panel partisi terdiri dari panel divider yang terdapat pada sisi pembatas
dan yang kedua adalah panel frontal yakni terdapat pada bagian sisi muka termasuk
bagian pintu
- Pertama Panel divinder dipasang sesuai gambar shop drawing
- Selanjutnya panel frontal sesuai gambar berikutnya panel pintu bisa dipasang dan
lengkapi aksesories ( hook kunci dll)
- Pemasangan Panel dan asesorisnya.

Bab 2 - 6
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 Frekuensi pembersihan dan perawatan serta pemilihan bahan pembersih yang cocok sangat
tergantung pada penggunaan. Pembersihan dapat dilaksanakan dengan air dan spons atau
sikat lembut Apabila pengotoran lebih berat bisa ditambahkan dengan aceton.

3.7. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

IV. PEKERJAAN PAGAR PANEL BETON PRECAST


4.1. PENDAHULUAN
Pagar panel beton adalah lembaran berbentuk persegi panjang yang dapat disusun bersama
panel lainnya dan diperkuat dengan bantuan tiang kolom. Panel beton ini banyak difungsikan
sebagai pagar karena susunannya bisa menghasilkan dinding beton yang kokoh dan tidak kalah
dengan beton konvensional. Produk ini akhirnya banyak digunakan oleh industri untuk membatasi
dan melindungi lahannya dari gangguan luar. Pagar panel beton dibuat dari komposisi campuran
beton seperti semen, pasir, abu batu, dan kerikil. Material ini diproduksi secara massal oleh pabrik
beton pracetak dengan menggunakan cetakan yang terbuat dari plat besi. Pagar panel beton di
golongkan sebagai produk beton pracetak basah karena pembuatannya menggunakan
campuran beton basah.

4.2. BAGIAN DARI PAGAR PANEL BETON


Secara umum, pagar beton precast ini terdiri dari dua komponen utama dan satu komponen
pendukung, yaitu daun panel, tiang kolom dan kawat berduri.

a. Daun panel beton


Daun panel beton sendiri memiliki ukuran yang bervariasi. Dimensi panjang 240 cm dengan
ketebalan 5 cm adalah salah satu yang paling banyak digunakan. Ketinggian tiap panel terdiri
dari dua ukuran yaitu 40 cm dan 45 cm. Daun panel ini berfungsi sebagai badan dinding dari
pagar beton precast.

Daun panel beton biasanya berbentuk segi empat solid. Namun untuk menyesuaikan
kebutuhan masyarakat, terdapat juga daun panel beton tembus pandang. Jenis ini adalah
panel beton berongga sehingga tidak menghalangi pandangan.

b. Tiang kolom beton


Sementara itu, sebagai komponen yang kedua, tiang kolom juga terbuat dari campuran
beton. Fungsi tiang ini adalah sebagai penjepit dan tumpuan daun panel agar tetap tegak
berdiri. Ukuran panjang tiang kolom ini pun beragam sesuai dengan ketinggian pemasangan
pagar beton precast.

4.3. SPESIFIKASI DAN KEUNGGULAN PAGAR PANEL BETON


Spesifikasi material yaitu Tiang Beton memiliki Panjang 225-425 cm, lebar 18 cm, dan tebal 18
cm. Sedangkan untuk spesifikasi Panel Beton Precast memiliki panjang 240 cm, dengan lebar
40 cm, dan 45 cm memiliki ketebalan 5 dan 6 cm.

Dibandingkan dengan pagar beton konvensional, pagar panel beton memiliki kelebihan pada
banyak hal, di antaranya :
a. Praktis
Seperti produk beton siap pakai lainnya, pagar panel lebih praktis digunakan. Pagar beton

Bab 2 - 7
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

yang biasa mengharuskan Anda mengumpulkan material, membuat campuran, kerangka,


dan membangunnya. Namun lain halnya jika Anda menggunakan pagar beton precast.

Yang perlu Anda lakukan hanya sekadar menyiapkan komponen pagar, membuat pondasi,
dan menyusunnya. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh susunan pagar
terbilang cukup singkat daripada pagar konvensional.

b. Hemat
Sedikitnya proses persiapan pada pagar panel beton, membuatnya lebih hemat dalam
pengeluaran. Anda bisa lebih berhemat lagi dengan memanfaatkan jasa pemasangan pagar
panel ini seperti yang disediakan oleh ASIACON. Biaya yang dikeluarkan untuk
pembangunan pagar beton ini dihitung berdasarkan panjang pemasangan pagar panel beton
per meter. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan pembelian komponen secara satuan.

c. Bisa dipindah dan digunakan ulang


Kelebihan lain dari pagar panel berbahan beton ini adalah kemungkinannya untuk digunakan
ulang. Misalnya, Anda berencana untuk mengubah area yang akan dipagari. Pagar dari
panel beton bisa dilepas dan disusun ulang di tempat yang baru.
Hal ini sangat tidak mungkin pada pagar beton biasa karena Anda harus menghancurkannya
dan membangun kembali yang baru.

4.4. METODE PEMASANGAN PAGAR PANEL BETON


a. Tahapan Cara Pemasangan Pagar Panel Beton Precast
Pagar panel beton diproses secara pracetak di pabrik, jadi bahan material sudah berupa
panel - panel pagar yang nantinya dipasang pada site. Produk pracetak yang dibutuhkan
untuk pembuatan pagar beton adalah daun panel beton, tiang kolom beton, serta panel
caping atau penutup (disesuaikan dengan desain). Untuk pembuatan pondasi dilakukan
dengan metode pekerjaan cast in situ atau cetak ditempat.
Berikut ini adalah urutan metode pemasangan pagar panel beton :
1. Pengukuran titik tiang kolom
Langkah pertama dalam metode pemasangan pagar panel beton precast yaitu membuat
bowplank untuk mengukur peletakan kolom. Jarak di sesuaikan dengan panjang panel
yang diinginkan. Semisal, pagar yang digunakan ukuran 240 x 40 x 5 cm, untuk tinggi
pagar 160 cm. Penggunaaan kolom yang diijinkan yaitu berukuran 225 x 18 x 19 cm.
Maka perhitungan jarak antar tiang kolom adalah: 240 cm + (18/2) = 249 cm.
Jadi titik-titik kolom yang dibuat adalah per kelipatan 249 cm. Setiap panjang 249 cm
sebaiknya diberikan tanda seperti pemasangan kayu patok (membuat bowplank).

2. Galian tiang kolom pagar beton


Setelah titik kolom ditemukan sesuai dengan keliling bangunan yang akan dibuat, maka
pada titik tersebut dibuat galian dengan diameter sesuai yang dipersyaratkan pabrik.
Secara struktural untuk pagar beton precast cukup menggunakan diameter 30 cm dengan
kedalaman 50 cm. Galian dibuat di setiap titik kolom (bowplank) yang telah dibuat.

3. Pemasangan pondasi
Proses selanjutnya adalah membuat pondasi pada lubang pondasi dengan proses cast
in situ. Pertama ditancapkan dulu logam pengaku dari bahan metal yang telah tergalvanis
sebagai perkuatan. Peletakannya harus ditengah agar tepat tertancap pada lubang kolom
panel precast. Agar peletakannya lurus sebaiknya menggunakan waterpass. Setelah
logam lurus, maka adukan agregat dimasukkan sampai dengan ketinggian yang
diinginkan. Pondasi ditunggu hingga mengeras.

4. Pemasangan tiang kolom beton


Panel yang terdistribusi di site diangkat baik secara manual ataupun menggunakan
crane. Panel kolom diletakkan tepat pada tiang logam yang telah dibuat sebagai
perkuatan kolom. Biasanya pada logam diberi penyiku agar kolom terletak tepat ditengah

Bab 2 - 8
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

ketika dimasukkan. Perlakuan selanjutnya adalah pengisian agregat beton pada lubang
kolom dan dilakukan setelah pemasangan panel.

5. Pemasangan daun panel beton


Pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan panel pagar beton. Sama halnya dengan
panel kolom, pemasangannya dapat dilakukan secara manual atau menggunakan crane.
Panel diletakkan pada sisi dalam kolom yang berbentuk I. Untuk mempermudah
pemasangan urutannya adalah kolom pada dua sisi kemudian panel ditengahnya. Hal ini
untuk mempermudah selayaknya kita memasang lego.

6. Pemasangan caping (jika ada Kemudian dipasang penutup diatas kolom. Saat bagian
tengah kolom diberi adukan agregat maka agregat diisi hingga melebihi kolom sebagai
bantalan dan penyambung penutup dengan kolom. Fungsi caping ini juga dapat sebagai
penyambung kolom dengan panel.

7. Grouting
Setelah seluruh bagian-bagian panel terpasang maka saatnya untuk melapisi bagian
yang kurang sempurna (grouting). Proses ini di lakukan dengan menggunakan bahan
campuran air, semen dan pasir ataupun abu batu.

8. Pelapisan
Setelah proses pelapisan untuk memperbaiki bagian-bagian yang kuransempurna
selesai dan semen telah kering. Proses selanjutnya adalah pengecatan panel sesuai
dengan desain yang diinginkan. Biasanya jika ada desain-desain yang berwarna-warni
dapat langsung dibuat secara pracetak. Proses terakhir adalah pelapisan agar pagar
panel beton yang telah terpasang aman terhadap cuaca. Tahapan diatas adalah cara
pemasangan pagar panel beton dengan cepat, sehingga diperoleh pagar yang kuat dan
tahan terhadap cuaca. Dan dari tahapan tersebut tergambar kemudahan dan cepatnya
pemasangan pagar panel beton.

4.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

V. PEKERJAAN ADUKAN DAN PLESTERAN


5.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan adukan dan plesteran (kasar dan halus), seperti
dinyatakan dalam Gambar Kerja atau disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis ini.

5.2. STANDAR / RUJUKAN


5.1.1. American Society for Testing and Materials (ASTM)
5.1.2. American Concrete Institute (ACI)
5.1.3. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI-2,1971)
5.1.4. Standar Nasional Indonesia (SNI)
5.1.5. American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO)

5.3. PROSEDUR UMUM


5.3.1. Contoh Bahan.
Contoh bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan/ MK

Bab 2 - 9
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

untuk disetujui terlebih dahulu sebelum dikirim ke lokasi proyek.

5.3.2. Pengiriman dan Penyimpanan.


5.3.2.1. Pengiriman dan penyimpanan bahan semen dan bahan lainnya harus sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis Beton Cor di Tempat.
5.3.2.2. Pasir harus disimpan di atas tanah yang bersih, bebas dari aliran air, dengan
kata lain daerah sekitar penyimpanan dilengkapi saluran pembuangan yang
memadai, dan bebas dari benda – benda asing. Tinggi penimbunan tidak lebih
dari 1200 mm agar tidak berhamburan.

5.4. BAHAN - BAHAN


5.4.1. Adukan dan Plesteran Dibuat di Tempat.
5.4.1.1. Semen.
Semen tipe I harus memenuhi standar SNI 15-2049-1994 atau ASTM C 150-
1995 serta Spesifikasi Teknis Beton Cor di Tempat, seperti Gresik, Tigaroda.

5.4.1.2. Pasir.
Pasir harus bersih, keras, padat dan tajam, tidak mengandung lumpur atau
kotoran lain yang merusak.
Perbandingan butir – butir harus seragam mulai dari yang kasar sampai pada
yang halus, sesuai dengan ketentuan ASTM C 33.

5.4.1.3. Bahan Tambahan.


Bahan tambahan untuk meningkatkan kekedapan terhadap air dan menambah
daya lekat harus berasal dari merek yang dikenal luas, seperti Super Cement,
Febond SBR, Barra Emulsion 57 .

5.4.2. Adukan dan Plesteran Siap Pakai.


5.4.2.1. Adukan dan Plesteran Khusus
Adukan khusus untuk pemasangan Bata Ringan harus terdiri dari bahan semen,
pasir silika dengan besar butir maksimal 3 mm, bahan pengisi untuk
meningkatkan kepadatan, dan bahan tambahan yang larut air, yang dicampur
rata dalam keadaan kering sehingga adukan siap pakai dengan hanya
menambahkan air dalam jumlah tertentu, seperti MU-300 buatan GE Mortar,
Dry Mix, Mortar Nasional (Monas) .

5.4.2.2. Acian Khusus.


Acian khusus untuk permukaan pasangan Bata Ringan. harus terdiri dari bahan
semen, tepung batu kapur dan bahan tambahan lainnya yang telah dicampur
rata dalam keadaan kering sehingga adukan siap pakai dengan hanya
menambahkan air dalam jumlah tertentu.

5.4.3. Air.
Air harus bersih, bebas dari asam, minyak, alkali dan zat – zat organik yang bersifat
merusak.

Air dengan kualitas yang diketahui dan dapat diminum tidak perlu diuji. Pada dasarnya
semua air, kecuali yang telah disebutkan di atas, harus diuji sesuai ketentuan AASHTO
T26 dan / atau disetujui Pengawas Lapangan/ MK.

5.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


5.5.1. Perbandingan Campuran Adukan dan / atau Plesteran.
5.5.1.1. Campuran 1 semen dan 3 pasir digunakan untuk adukan kedap air, adukan
kedap air 150 mm di bawah permukaan tanah sampai 200 mm di atas lantai,
tergambar atau tidak tergambar dalam Gambar Kerja, plesteran permukaan

Bab 2 - 10
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

beton yang terlihat dan tempat – tempat lain seperti ditunjukkan dalam Gambar
Kerja.
5.5.1.2. Campuran 1 semen dan 5 pasir untuk semua pekerjaan adukan dan plesteran
selain tersebut di atas.
5.5.1.3. Bahan tambahan untuk menambah daya lekat dan meningkatkan kekedapan
terhadap air harus digunakan dalam jumlah yang sesuai dengan petunjuk
penggunaan dari pabrik pembuat.

5.5.2. Pencampuran.
5.5.2.1. Umum.
Semua bahan kecuali air harus dicampur dalam kotak pencampur atau alat
pencampur yang disetujui sampai diperoleh campuran yang merata, untuk
kemudian ditambahkan sejumlah air dan pencampuran dilanjutkan kembali.
Adukan harus dibuat dalam jumlah tertentu dan waktu pencampuran minimal 1
sampai 2 menit sebelum pengaplikasian.
Adukan yang tidak digunakan dalam jangka waktu 45 menit setelah
pencampuran tidak diijinkan digunakan.

5.5.2.2. Adukan Khusus.


Adukan khusus untuk pasangan batu bata ringan harus dicampur sesuai
petunjuk dan rekomendasi dari pabrik pembuatnya.

5.5.3. Persiapan dan Pembersihan Permukaan.


5.5.3.1. Semua permukaan yang akan menerima adukan dan / atau plesteran harus
bersih, bebas dari serpihan karbon lepas dan bahan lainnya yang mengganggu.
5.5.3.2. Pekerjaan plesteran hanya diperkenankan setelah selesainya pemasangan
instalasi listrik dan air dan seluruh bagian yang akan menerima plesteran telah
terlindung di bawah atap. Permukaan yang akan diplester harus telah berusia
tidak kurang dari dua minggu. Bidang permukaan tersebut harus disiram air
terlebih dahulu dengan air hingga jenuh dan siar telah dikerok sedalam 10 mm
dan dibersihkan.

5.5.4. Pemasangan.
5.5.4.1. Plesteran Permukaan Bata Merah.
 Pekerjaan plesteran dapat dimulai setelah pekerjaan persiapan dan
pembersihan selesai.
 Untuk memperoleh permukaan yang rapi dan sempurna, bidang plesteran
dibagi – bagi dengan kepala plesteran yang dipasangi kelos – kelos
sementara dari bambu.
 Kepala plesteran dibuat pada setiap jarak 100 cm, dipasang tegak dengan
menggunakan kepingan kayu lapis tebal 6 mm untuk patokan kerataan
bidang.
 Setelah kepala plesteran diperiksa kesikuannya dan kerataannya,
permukaan dinding baru dapat ditutup dengan plesteran sampai rata dan
tidak kepingan – kepingan kayu yang tertinggal dalam plesteran.
 Seluruh permukaan plesteran harus rata dan rapi, kecuali bila pasangan
akan dilapis dengan bahan lain.
 Sisa – sisa pekerjaan yang telah selesai harus segera dibersihkan.
 Tali air (naad) selebar 4 mm digunakan pada bagian-bagian pertemuan
dengan bukaan dinding atau bagian lain yang ditentukan dalam Gambar
Kerja, dibuat dengan menggunakan profil kayu khusus untuk itu yang telah
diserut rata, rapi dan siku. Tidak diperkenankan membuat tali air dengan
menggunakan baja tulangan.

5.5.4.2. Plesteran Permukaan Beton.


 Permukaan beton yang akan diberi plesteran harus dikasarkan, dibersihkan
dari bagian – bagian yang lepas dan dibasahi air, kemudian diplester.

Bab 2 - 11
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 Permukaan beton harus bersih dari bahan – bahan cat, minyak, lemak,
lumur dan sebagainya sebelum pekerjaan plesteran dimulai.
 Permukaan beton harus dibersihkan menggunakan kawat baja. Setelah
plesteran selesai dan mulai mengeras, permukaan plesteran dirawat
dengan penyiraman air.
 Plesteran yang tidak sempurna, misalnya bergelombang, retak – retak,
tidak tegak lurus dan sebagainya harus diperbaiki.

5.5.5. Ketebalan Adukan dan Plesteran.


Tebal adukan dan / atau plesteran 10 – 25 mm, kecuali bila dinyatakan lain dalam
Gambar Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan/ MK.

5.5.6. Pengacian.
Pengacian dilakukan setelah plesteran disiram air sampai jenuh sehingga plesteran
menjadi rata, halus, tidak ada bagian yang bergelombang, tidak ada bagian yang retak
dan setelah plesteran berumur 8 (delapan) hari atau sudah kering betul.
Selama 7 (tujuh) hari setelah pengacian selesai dilakukan, Kontraktor harus selalu
menyiram bagian permukaan yang diaci dengan air sampai jenuh, sekurang – kurangnya
dua kali setiap harinya.

5.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

VI. PEKERJAAN KUSEN PINTU, JENDELA ALUMUNIUM


6.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pembuatan dan pemasangan kusen pintu dan jendela, daun
pintu dan daun jendela jalusi aluminium serta pekerjaan lainnya yang menggunakan bahan profil
alumunium, sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.

6.2. STANDAR / RUJUKAN


6.2.1. Standar Nasional Indonesia (SNI)
- SNI 07-0603-1989 – Produk Alumunium Ekstrusi untuk Arsitektur.

6.2.2. British Standard (BS)


- BS 5368 (Part 1) – Air Inflitration
- BS 5368 (Part 2) – Water Inflitration
- BS 5368 (Part 3) – Structural Performance

6.2.3. American Society for Testing and Materials (ASTM).


- ASTM B221M-91 - Specification for Alumunium-Alloy Extruded Bars, Rods, Wire
Shapes and Tubes.
- ASTM E-283 - Metode Pengujian Kebocoran Udara untuk Jendela dan
Curtain Wall
- ASTM E-330 - Metode Pengujian Struktural untuk Jendela dan Curtain Wall
- ASTM E-33 - Metode Pengujian Kebocoran Air untuk Jendela dan Curtain
Wall

Bab 2 - 12
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

6.2.4. American Architectural Manufactures Association (AAMA).


- AAMA – 101 – Spesifikasi untuk Jendela dan Pintu Alumunium

6.2.5. Japanese Industrial Standard (JIS)


- JIS H – 4100 – Spesifikasi Komposisi Alumunium Extrusi
- JIS H – 8602 – Spesifikasi Pelapisan Anodise untuk Alumunium

6.2.6. Spesifikasi Teknis Terkait


- Penutup dan Pengisi Celah
- Alat Penggantung dan Pengunci
- Kaca dan Aksesoris

6.3. DESKRIPSI SISTEM


6.3.1. Kriteria Perencanaan
a. Faktor Pengaman
Kecuali disebutkan lain, bagian – bagian alumunium termasuk ketahanan kaca,
memenuhi faktor keamanan tidak kurang dari 1,5 x maksimum tekanan angin
yang disyaratkan.

b. Modifikasi
Dapat dimungkinkan tanpa merubah profil atau merubah penampilan, kekuatan
atau ketahanan dari material dan harus tetap memenuhi kriteria perencanaan.

c. Pergerakan Karena Temperatur


Akibat pemuaian dari material yang berhubungan tidak boleh menimbulkan suara
maupun terjadi patahan atau sambungan yang terbuka, kaca pecah, sealant yang
tidak merekat dan hal – hal lain. Sambungan kedap air harus mampu
menampung pergerakan ini.

d. Persyaratan Struktur
Defleksi : AAMA = Defleksi yang diijinkan maksimum L / 175 atau 2 cm.
Beban Hidup : Pada bagian – bagian yang menerima hidup terutama pada waktu
perawatan, seperti : meja (stool) dan cladding diharuskan disediakan penguat dan
angkur dengan kemampuan menahan beban terpusat sebesar 62 kg tanpa terjadi
kerusakan.

e. Kebocoran Udara
ASTM E – 283 – Kebocoran udara tidak melebihi 2,06 m3/hari pada setiap m’ unit
panjang penampang bidang bukaan pada tekanan 75 Pa.

f. Kebocoran Air
ASTM E – 331 – Tidak terlihat kebocoran air masuk ke dalam interior bangunan
sampai tekanan 137 Pa dalam jangka waktu 15 menit, dengan jumlah air minimum
3,4 L/m2/minimal.

6.4. PROSEDUR UMUM


6.4.1. Contoh Bahan dan Data Teknis
1. Contoh profil dan penyelesaian permukaan yang harus meliputi tipe alumunium
ekstrusi, pelapisan, warna dan penyelesaian, harus diserahkan kepada Konsultan
Pengawas /MK untuk disetujui sebelum pengadaan bahan kelokasi pekerjaan.
2. Contoh bahan produk alumunium harus diuji di laburatorium yang ditunjuk
Konsultan Pengawas /MK atau harus dilengkapi dengan data-data pengujian.
Data-data ini harus meliputi pengujian untuk :
 Ketebalan lapisan,

Bab 2 - 13
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 Keseragaman warna,
 Berat,
 Karat,
 Ketahanan terhadap air dan angin minimal 100 kg/m2 untuk masing-masing
tipe.
 Ketahanan terhadap udara minimal 15 m3/jam,
 Ketahanan terhadap tekanan air minimal 15 kg/m2.
3. Biaya pengadaan contoh bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

6.4.2. Gambar Detail Pelaksanaan.


1. Gambar detail pelaksanaan yang harus meliputi detail-detail, pemasangan rangka
dan bingkai, pengencangan dan sistem pengukuran seluruh pekerjaan, harus
disiapkan oleh Kontraktor dan diserahkan kepada Konsultan Pengawas /MK untuk
disetujui sebelum pelaksanaan pekerjaan.
2. Semua dimensi harus diukur dilokasi pekerjaan dan di tunjukkan dalam Gambar
Detail Pelaksanaan.
3. Kontraktor bertanggung jawab atas setiap perbedaan dimensi dan akhir penyetelan
semua pekerjaan lain yang diperlukan untuk menyempurnakan pekerjaan yang
tercakup dalam Spesifikasi Teknis ini, sehingga sesuai dengan ketentuan Gambar
Kerja.

6.4.3. Pengiriman dan Penyimpanan


1. Pekerjaan alumunium dan kelengkapan harus diadakan sesuai ketentuan Gambar
Kerja, bebas dari bentuk puntiran, lekukan dan cacat.
2. Segera seteklah didatangkan, pekerjaan alumunium dan kelengkapan harus
ditumpuk dengan baik ditempat yang bersih dan kering dan dilindungi terhadap
kerusakan dan gesekan, sebelum dan setelah pemasangan. Semua bagian harus
dijaga tetap bersih dan bebas dari ceceran adukan, plesteran, cat dan lainnya.

6.4.4. Garansi
Kontraktor harus memberikan kepada Pemilik Proyek, garansi tertulis yang meliputi
kesempurnaan pemasangan, pengoperasian dan kondisi semua pintu, jendela dan
lainnya seperti ditunjukkan dalam spesifikasi ini untuk periode selama 1 tahun setelah
pekerjaan yang rusak dengan biaya Kontraktor.

6.5. BAHAN – BAHAN


6.5.1. Alumunium
1. Alumunium untuk kusen pintu/jendela dan untuk daun pintu/jendela adalah dari
jenis alumunium alloy yang memenuhi ketentuan SNI 07-0603-1989 dan ATSM
B221 M, dalam bentuk profil jadi yang dikerjakan di pabrik, dengan lapisan clear
anodized minimal 18 mikron yang diberi lapisan warna akhir polish snolok di
pabrik dalam warna sesuai Skema warna yang ditentukan kemudian.
Tebal profil minimal 1,35 mm, sekualitas merk YKK, Alexindo ukuran dan bentuk
sesuai Gambar Kerja. Dimensi profil dapat berubah tergantung jenis profil yang
nanti disetujui.
2. kecuali ditentukan lain, semua pintu dan jendela harus dilengkapi dengan
perlengkapan standar dari pabrik pembuatan.

6.5.2. Alat Pengencang dan Aksesori.


1. Alat pengencang harus terdiri dari sekrup baja anti karat ISIA seri 300 dengan
pemasangan kepala tertanam untuk mencegah reaksi elektronik antara alat
pengencang dan komponen yang dikencangkan.
2. Angkur harus dari baja anti karat AISI seri 300 dengan tebal minimal 2mm.
3. Penahan udara dari bahan vinyl.
4. Bahan penutup sekrup agar tidak terlihat

Bab 2 - 14
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

6.5.3. Gasket
Nomor Produk : 9K-20216, 9K-20219
Bahan : EPDM
Sifat Material : Tahan terhadap perubahan cuaca

6.5.4. Sealant Dinding (Tembok)


Bahan : Single komponen
Type : Silicone Sealant

6.5.5. Screw
Nomor Produk : K-6612A, CP-4008, dan lain – lain
Bahan : Stainless Steel (SUS)

6.5.6. Joint Sealer


Sambungan antara profile horisontal dengan vertikal diberi sealer yang berserat guna
menutup celah sambungan profile tersebut, sehingga mencegah kebocoran udara, air
dan suara.
Nomor Produk : 9K-20284, 9K-20212
Bahan : Butyl Rubber

6.5.7. Pengisi daun pintu rangka aluminium kecuali kaca 8 mm adalah panel MDF 8 mm finish
cat duco.

6.6. PELAKSANAAN PEKERJAAN


6.6.1. Fabrikasi
1. Pekerjaan febrikasi atau pemasangan tidak boleh dilaksanakan sebelum Gambar
Detail Pelaksanaan yang diserahkan Kontraktor dan disetujui Konsultan
Pengawas /MK.
2. Semua komponen harus difebrikasi dan dirakit secara tepat sesuai bentuk
dan ukuran aktual dilokasi serta dipasang pada lokasi yang telah ditentukan.
3. Fabrikasi rangka pintu dan jendela dilakukan di workshop, sedangkan pekerjaan
dilapangan hanya diperkenankan untuk pemasangan material siap pasang.
4. Pemasangan
Bagian pertama yang terpasang harus disetujui Konsultan Pengawas /MK
sebagai acuan dan contoh untuk pemasangan berikutnya.
5. Kontraktor bertanggung jawab atas kualitas konstruksi komponen-komponen.
Bila suatu sambungan tidak digambarkan dalam Gambar Kerja, sambungan-
sambungan tersebut harus ditempatkan dan dibuat sedemikian rupa sehingga
sambungan-sambungan tersebut dapat meneruskan beban dan menahan tekanan
yang harus diterimanya.
6. Semua komponen harus sesuai dengan pola yang ditentukan.
7. Bila di pasang langsung ke dinding atau beton, kusen atau bingkai harus
dilengkapi dengan angkur pada jarak setiap 500mm.
8. Semua bagian alumunium yang berhubungan dengan semen atau adukan harus
dilindungi dengan cat transparan atau lembaran plastik Lacquer film.
9. Semua bagian alumunium yang berhubungan dengan elemen baja harus dilapisi
dengan cat khusus yang direkomendasikan pabrik pembuat, untuk mencegah
kerusakan komposisi alumunium.
10. Berbagai perlengkapan bukan alumunium yang akan dipasang pada bagian
alumunium harus trdiri dari bahan yang tidak menimbulkan reaksi elektronik,
seperti baja anti karat, nilon, neoprene dan lainnya.
11. Semua pengencangan harus tidak terlihat, kecuali ditentukan lain.
12. Semua sambungan harus rata pemotongan dan pengeboran yang dikerjakan
sebelum pelaksanaan anokdisasi.
13. Semua pekerjaan pembuatan dan pemasangan kusen, pintu dan jendela
Aluminium harus dilakukan oleh pabrik penghasil dari bahan yang dipergunakan

Bab 2 - 15
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

dengan memperoleh persetujuan Konsultan Pengawas /MK.


14. Semua bahan kusen, daun pintu dan jendela aluminium, boleh dibawa
kelapangan/ halaman pekerjaan jikalau pekerjaan konstruksi benar-benar
mencapai tahap pemasangan kusen, pintu dan jendela.
15. Pemasangan sambungan harus tepat tanpa celah sedikitpun.
16. Semua detail pertemuan daun pintu dan jendela harus runcing (adu manis) halus
dan rata, serta bersih dari goresan-goresan serta cacat-cacat yang mempengaruhi
permukaan.
17. Detail Pertemuan Kusen Pintu dan Jendela harus lurus dan rata serta bersih dari
goresan-goresan serta cacat yang mempengaruhi permukaan.
18. Pemasangan harus sesuai dengan gambar rancangan pelaksanaan dan brosur
serta persyaratan teknis yang benar.
19. Setiap sambungan atau pertemuan dengan dinding atau benda yang berlainan
sifatnya harus diberi “sealent”.
20. Pertemuan pengisi rangka daun pintu aluminium baik dengan kaca atau panel
MDF harus disealent poliuretant dengan rapi dan rapat.
21. Penyekrupan harus tidak terlihat dari luar dengan skrup kepala tanam galvanized
sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus kedap air.
22. Semua alumunium yang akan dikerjakan maupun selama pengerjaan harus tetap
dilindungi dengan “Lacquer Film”.
23. Ketika pelaksanaan pekerjaan plesteran, pengecatan dinding dan bila kosen;
alumunium telah terpasang maka kosen tersebut harus tetap terlindungi oleh
Lacquer Film atau plastic tape agar kosen tetap terjamin kebersihannya.

24. Kecuali disebutkan atau ditunjukkan dalam gambar detail, pemasangan kusen
aluminium dipasang pada posisi tengah/center terhadap tebal dinding.

6.7. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

VII. PEKERJAAN DAUN DAN RANGKA PINTU BESI


7.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pembuatan dan pemasangan daun pintu dan rangka pintu
besi, serta daun pintu dan rangka Pintu Tahan Api. Pekerjaan lainnya yang menggunakan bahan
besi, sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.

7.2. DESKRIPSI
A. Daun Pintu Baja (Steel Door)
1. Penutup terbuat dari bahan plat baja. Ketebalan daun pintu 50 mm. Di bagian dalam daun
pintu diisi Honey Comb Paper. Konstruksi daun pintu dengan sistem penangkupan tanpa
las.
2. Pintu baja adalah produksi Marks, Bostinco, Lion dengan ketebalan frame/kusen: min 1.5
mm, daun pintu: min 0.8 mm.

B. Pintu Kusen dan Pintu Besi Tahan Api (Fire Door)


1. Konstruksi Pintu (Kusen dan Pintu)
a. Tiga factor mutlak yang harus dipenuhi sebuah pintu untuk disyaratkan sebagai Pintu
Tahan Api yaitu :

Bab 2 - 16
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 Stabilitas terhadap api, adalah kemampuan dari bagian konstruksi gedung,


dengan atau tanpa bantalan peluru, untuk menahan keruntuhan pada saat terjadi
kebakaran.
 Integritas terhadap api, adalah kemampuan elemen pembagi ruang pada gedung
untuk mencegah terjadinya celah yang menyebabkan lidah api dan asap panas
dapat menembus dari satu ruang ke ruang lainnya sewaktu terjadi kebakaran.
 Isolasi panas, adalah kemampuan elemen pembagi ruang pada konstruksi
gedung untuk mencegah menjalarnya panas dari satu ruang ke ruang lainnya
sewaktu terjadi kebakaran.
b. Pintu besi tahan api harus telah melalui pengujian dan dinyatakan memenuhi
persyaratan sebagai pintu tahan api oleh lembaga-lembaga pengujian nasional yang
diakui oleh Damkar.
c. Semua bagian pintu yang terbuat dari plat baja, yaitu daun pintu, kusen dan
perangkaan, haruslah terbuat dari jenis plat baja canal dingin / baja putih atau Cold
Rolled Steel Sheet.
d. Daun pintu berbentuk Rebated Door, dilengkapi dengan bibir pintu di sekeliling daun
pintu yang merupakan satu kesatuan plat dengan plat permukaan pintu, sehingga
pemukaan pintu menjadi rata. Ketebalan daun pintu untuk seluruh tingkatan fire
rating 1, 2 atau 3 jam adalah 50 mm. Bagian dalam daun pintu diisi standar isolator
panas, agar pada saat terjadi kebakaran, kenaikan suhu (temperature rise)
permukaan plat pintu pada sisi yang tidak terbakar tidak melebihi 450ºF (23ºC) pada
30 menit pertama.
e. Bentuk Kusen sesuai dengan type yang tertera di dalam Door Window Schedule &
Hardware di dalam gambar berserta ukuran yang disetujui oleh arsitek.
f. Untuk pintu yang menggunakan panel pandang (Vision Panel), maka pintu hanya
boleh dilengkapi dengan kaca tahan api terbuat dari Borosilicate Float Glass dengan
ketebalan 5 mm atau lebih. Ketahanan api (fire rating) pintu akan mengikuti tingkat
ketahanan api dari kaca dengan ukuran di atas.
g. Ketahanan terhadap api (fire rating) yang disyaratkan adalah minimal 2 jam.
h. Standar kualitas adalah produksi Mark’s Steel Doors, Bostinco.
i. Finishing akhir pintu menggunakan cat besi berkualitas tinggi

2. Perangkat Keras (Hardware) Pintu


a. Engsel (hinges).
b. Tungkai pintu (handle/backplate) terbuat dari bahan alloy yang di-anodize warna
natural. Konstruksi handle dan backplate terpisah. Kedua handle dihubungkan
dengan solid square double entry function stabile spindle diameter 9-11 mm,
sedangkan kedua sisi backplate dihubungkan dan dipasang di pintu dengan sistem
back to back through fixing. Pada bagian tengah handle terdapat inti baja (steel core),
yang dimaksudkan agar bila terjadi kebakaran aluminium meleleh maka pintu masih
dapat dioperasikan.
c. Rumah kunci (lockcase) jenis Mortise Lock terbuat dari kuningan, dengan stainless
steel 304 plated (SUS 304).
d. Silinder dengan panjang +/- 70 mm, terbuat dari kuningan (copper and zinc) yang
tahan terhadap korosi dan memiliki 5 pin tumblers, dengan opsi sistem Masterkey.
e. Flushbolt, dipasang di daun pintu non-aktif pada pintu ganda (double door).
Tipe dari Perangkat Keras tersebut sesuai dengan yang seperti tertera di dalam Door
Schedule and Hardware Schedule di dalam gambar dan keterangan arsitek.

7.3. REFERENSI
1) American Society for Testing and Materials (ASTM)
2) American Welding Society (AWS)
3) American Institute of Steel Construction (AISC)
4) American National Standard Institute (ANSI)
5) MPA dengan standar Jerman (DIN), yaitu DIN 4102 : Part 5.
6) LPC Laboratories dengan standar Inggris (BS), yaitu BS 476 : Part 22, yang juga setara ISO.

Bab 2 - 17
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

7) Underwriters Laboratories (UL) dengan standar Amerika (ASTM), yaitu UL 10B


8) Standar Nasional Indonesia (SNI) :
SNI 03-1729-2002 – Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung Dan
juga Rekomendasi Uji Coba Proteksi Kebakaran (Pintu Tahan Api) dari Laboratorium.

7.4. PERSYARATAN SISTEM


Material kusen dan daun pintu baja juga harus memenuhi persyaratan - persyaratan khusus
sebagai berikut:
a. Kusen pintu terbuat dari lembaran pelat baja (cold rolled steel sheet).
1. Ketebalan plat untuk kusen 3 mm untuk Fire Door (pintu tahan api) dan yang telah
melalui pengujian dan dinyatakan memenuhi persyaratan sebagai pintu tahan api oleh
lembaga-lembaga pengujian dengan standar internasional antara lain Underwriters
Laboratories (UL) dengan standar Amerika (ASTM), yaitu UL 10B.
Dan ketebalan plat 2 mm untuk kusen pintu baja lainnya.
2. Selain Fire Door, pada sekeliling kusen / threshold pada sisi bukaan pintu ditanam
Magnetic Gasket Seal, yang berfungsi untuk meredam suara dan termal yang mengalir
melalui celah pintu.
3. Angkur baja 15 mm sebagai pengikat kusen ke kolom.
4. Dilengkapi kotak pengaman baja untuk lidah lockcase dan stang flushbolt dari kotoran
mortar.

b. Daun pintu terbuat dari lembaran pelat baja (cold rolled steel sheet).
1. Ketebalan plat 1.5 mm untuk Fire door. Berbentuk Rebated Door dilengkapi dengan
bibir pintu selebar 24 mm di sekeliling daun pintu yang merupakan satu kesatuan plat
dengan plat permukaan pintu, sehingga permukaan pintu menjadi rata. Ketebalan
daun pintu untuk seluruh tingkatan fire rating 1, 2 atau 3 jam adalah 55 mm. Bagian
dalam daun pintu disi Rock Wool dengan density 110 kg/m3 sebagai isolator panas
(sesuai DIN 4102 : Part 1), agar pada saat terjadi
2. kebakaran, kenaikan suhu permukaan plat pintu pada sisi yang tidak terbakar tidak
melebihi 450oF (232oC) pada 30 menit pertama yang telah melalui pengujian dan
dinyatakan memenuhi persyaratan sebagai pintu tahan api oleh lembaga-lembaga
pengujian dengan standar internasional antara lain Underwriters Laboratories (UL)
dengan standar Amerika (ASTM), yaitu UL 10B.
3. Ketebalan plat 0.8 mm untuk Steel door Doralux series dibuat dengan sistem
penangkupan tanpa las sehingga permukaan pintu sangat rata dan kaku tanpa ada
bekas las. Ketebalan daun pintu adalah 40 mm. Bagian dalam daun pintu disi
Injection Polyurethane dengan kepadatan 33-35 kg/m3 sebagai isolator suara dan
panas
4. Angkur baja 15 mm sebagai pengikat kusen ke kolom.
5. Semua pintu metal harus di finishing dengan powder coating minimal 200 micron.
Warna akan ditentukan kemudian.

c. Perlengkapan pintu seperti engsel, flushbolt, handle dan lockset yang digunakan pada
telah melalui pengujian dan dinyatakan memenuhi persyaratan tahan api oleh lembaga-
lembaga pengujian dengan standar internasional antara lain Underwriters Laboratories
(UL) dengan standar Amerika (ASTM), yaitu UL 10B. Sebagai berikut :
1. Engsel BQ-H04 merek SIMONSWERK tipe KO 5-F/13, terbuat dari bahan baja
digalbani dengan hardened steel axial ball bearing, dengan diameter knuckle 22
mm dan diameter security pin 14 mm, sistem pemasangan yaitu dilas pada sisi kusen
maupun daun pintu. Sesuai dengan DIN 18082.
Untuk Doralux menggunakan engsel tipe V 8087 N terbuat dari bahan baja digalbani
dengan hardened steel axial ball bearing, dengan diameter knuckle 15 mm dan
diameter pin 10 mm, sistem pemasangan yaitu dilas pada sisi kusen dan di-skrup
pada sisi daun pintu.
2. Flushbolt merek GRIMM tipe P/N 5259, dipasang di daun pintu non-aktif pada
pintu ganda dengan satu penguncian untuk menggerakkan stang ke atas dan bawah
pintu.

Bab 2 - 18
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Flushbolt panic device untuk fire door menggunakan merk Corbin tipe PFS 200.
3. Handleset Fire Door menggunakan type Panic Bar Handle Corbin Handleset Airttight
door, Acoustic door, Radiation door menggunakan setara Griff 7201.10-F1.
Handleset Doralux menggunakan setara merk Griff 1205/2012-F1.
4. Lockcase Fire door menggunakan system anti panic dengan setara merk Griff
2202.X4R.
Lockcase Radiation door menggunakan lubang tempat cylinder tidak simetris untuk
menghindari kebocoran radiasi.
5. Cylinder menggunakan jenis yang dapat dibuat system masterkey untuk menjamin
keamanan dan kepraktisan sesuai bagan organisasi.

d. Pabrikan
Pabrik yang membuat pintu-pintu diatas harus memiliki ISO minimal ISO 2001- 2000,
dan khusus pintu anti radiasi harus melampirkan salinan sertfikan rekomendasi layak
fungsi dari BATAN atau yang sudah dikalibrasi oleh Badan Metrologi. Pintu yang
digunakan adalah produk BOSTINCO, MARKS, LION.

7.5. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN


a. Pemasangan harus dilaksanakan oleh kontraktor yang mempunyai pengalaman khusus
untuk pekerjaan ini dan mempunyai tenaga ahli yang berpengalaman.
b. Kontraktor harus mempunyai workshop lengkap dengan peralatan atau mesin-mesin
khusus untuk pekerjaan ini.
c. Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor diwajibkan meneliti gambar- gambar
yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), detail-detail sesuai
gambar sebelum difabrikasi.
d. Kontraktor wajib membuat shopdrawing (gambar detail pelaksanaan) berdasarkan
gambar dokumen kontrak yang telah disesuaikan di lapangan. Di dalam shopdrawing
harus memuat dan memperhatikan detail-detail pemasangan serta discripsi bahan dan
accesorise yang dipakai dan semua data yang diperlukan termasuk keterangan produk,
cara pemasangan atau detail-detail khusus yang tercakup secara lengkap sesuai
dengan standar spesifikasi pabriknya. Gambar shop drawing harus dibuat dengan skala
yang besar untuk mempermudah pemeriksaan.
e. Shopdrawing harus mendapat persetujuan dahulu oleh Direksi Lapangan/Pemberi
Tugas/Perencana sebelum dilaksanakan.
f. Sebelum pemasangan, penimbunan bahan di tempat pekerjaan harus ditempatkan
pada ruang/tempat yang terlindung dari cuaca dan bebas dari karat dan goresan.
g. Pemasangan di site dilakukan dengan menggunakan angkur pada kolom praktis yan dilas
pada kusen dan dilakukan penyetelan mekanisme pintu langsung pada tempatnya.
h. Komponen pintu harus dipasang dalam struktur yang kaku sesuai dengan petunjuk
pemasangan dari pabriknya.
i. Finishing pintu baja dan kusen dengan cat duco, warna akan ditentukan oleh Pemberi
Tugas.

7.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

Bab 2 - 19
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

VIII. PEKERJAAN ENGINEERING DOOR


8.1. LINGKUP PEKERJAAN
1. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
Semua jenis kayu harus kering oven.
2. Pekerjaan ini meliputi pembuatan daun pintu double plywood lapisan laminated PVC Sheet
seperti yang dinyatakan/ditunjukkan dalam gambar.
3. Merk yang direkomendasikan yaitu Daiken, FMM, Hanadoor.

8.2. PERSYARATAN BAHAN


8.2.1. Bahan Kayu
1. Mutu dan kualitas kayu yang dipakai sesuai persyaratan dalam NI-5 (PPKI tahun
1961) dan persyaratan lain yang tertulis dalam bab material kayu.
2. Kayu yang dipakai harus cukup tua , lurus, kering dengan permukaan rata, bebas
dari cacat seperti retak-retak, mata kayu dan cacat lainnya.
3. Kelembaban bahan rangka daun pintu disyaratkan 12%-14%.
4. Untuk kayu yang dipakai adalah kayu meranti batu dengan mutu baik dan atau
setara, keawetan kelas I dan kelas kuat I – II dan sudah di vacuum antirayap. Ukuran
daun pintu yang tertera dalam gambar adalah ukuran jadi.
5. Daun pintu dengan konstruksi kayu LVL meranti dan lapisan PVC sheet di kedua sisi
pintu dan sudah waterproof. Ukuran disesuaikan dengan gambar - gambar detail
(kecuali ditentukan lain dalam gambar).

8.2.2. Bahan Perekat


Untuk perekat digunakan lem kayu (waterbase) yang bermutu baik menggunakan merk
henkel dengan kandungan minimum formalin di angka 0.3%.
a. Bahan Panel Daun Pintu
1. Plywood ketebalan 3 mm produk dalam negeri.
2. Semua permukaan rangka kayu harus diserut halus rata, lurus dan siku.
3. Pada sekeliling tepi daun pintu diberi Edging PVC 0.30 mm, hanya pada sisi lock
case diberi edging 2mm.
4. Frame menggunakan FJL (Finger Joint Laminated) dengan bahan hard rubber
wood.
5. Architrave menggunakan bahan plywood kualitas eksport dengan potongan V
cut.
b. Bahan Finishing
Finishing untuk permukaan plywood menggunakan lapisan PVC laminated Sheet
ketebalan minimal 0,15 mm, mutu terbaik.

8.3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN


1. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar
yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk mempelajari bentuk,
pola, lay-out/penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail sesuai gambar.
2. Sebelum pemasangan, penimbunan bahan-bahan di tempat pekerjaan harus ditempatkan
pada ruang/tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca langsung dan
terlindung dari kerusakan dan kelembaban.
3. Harus diperhatikan semua sambungan siku/sudut untuk rangka kayu dan penguat lain yang
diperlukan hingga terjamin kekuatannya dengan memperhatikan/menjaga kerapian terutama
untuk bidang-bidang tampak tidak boleh ada lubang-lubang atau cacat bekas penyetelan.
4. Semua kayu tampak harus diserut halus, rata, lurus dan siku-siku satu sama lain sisi-sisinya,
dan di lapangan sudah dalam keadaan siap untuk penyetelan/pemasangan.
5. Untuk bahan door stopper harus ditambahkan rubber satu sisi untuk menghindari benturan
pintu dan door stopper sehingga pintu tidak mudah rusak.
6. Lapisan yang dilaminasi pada Arcitrave tidak boleh ada patahan pada sudut 90 derajat yang
dimana dapat menimbulkan lapisan mudah terkelupas pada saat pemakaian.

Bab 2 - 20
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

7. Semua ukuran harus sesuai gambar dan merupakan ukuran jadi. Pemotongan dan
pembuatan profil kayu dilakukan dengan mesin diluar tempat pekerjaan/pemasangan.

8.3.1. Daun Pintu


 Laminated PVC Sheet yang dipasang pada permukaan plywood, adalah dengan cara di-
press di workshop, tanpa pemakuan. Jika diperlukan, harus menggunakan sekrup
galvanized atas persetujuan Konsultan Pengawas Lapangan/MK tanpa meninggalkan
bekas cacat permukaan yang tampak.
 Lembaran plywood harus dipasang rata, tidak bergelombang dan merekat dengan
sempurna.
 Permukaan plywood boleh di dem

8.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

IX. PEKERJAAN KACA


9.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini meliputi pengangkutan, penyediaan tenaga kerja, alat-alat dan bahan-
bahan serta pemasangan kaca dan cermin beserta aksesorinya, pada tempat-tempat seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

9.2. STANDAR / RUJUKAN


Standar Nasional Indonesia (SNI).

9.3. PROSEDUR UMUM


Contoh Bahan dan Data Teknis.
Contoh bahan berikut data teknis bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada
Pengawas Lapangan dalam ukuran dan detail yang dianggap memadai, untuk dapat diuji
kebenarannya terhadap standar atau ketentuan yang disyaratkan.

Semua bahan kaca yang didatangkan harus dilengkapi dengan merek pabrik dan data
teknisnya.
Bahan kaca tersebut harus disimpan di tempat yang aman dan terlindung sehingga terhindar
dari keretakan, pecah, cacat atau kerusakan lainnya yang tidak diinginkan.

Pekerjaan kaca meliputi pengisian bidang-bidang kusen (kaca mati), daun pintu dan jendela,
jendela bovenli. Contoh kaca yang akan dipakai harus diperlihatkan kepada Pengawas/ MK
paling lambat 2 (dua) minggu sebelum dipasang.

9.4. BAHAN
a. Kaca Polos.
Kaca polos harus merupakan lembaran kaca bening jenis clear float glass yang datar
dan ketebalannya merata, tanpa cacat dan dari kualitas yang baik yang memenuhi
ketentuan SNI 15-0047 – 1987 dan SNI 15-0130 – 1987, seperti tipe Indoflot buatan
Asahimas
Ukuran dan ketebalan kaca sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.

b. Kaca Tahan Panas/Tempered Glass.


Kaca tahan panas harus terdiri dari float glass yang diperkeras dengan cara dipanaskan

Bab 2 - 21
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

sampai temperatur sekitar 700ºC dan kemudian didinginkan secara mendadak dengan
seprotan udar secar merata pada kedua permukaannya, seperti tipe Temperlite dari
Asahimas
Ukuran dan ketebalan kaca sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.

c. Kaca Panasap.
Kaca panasap adalah kaca jenis berwarna harus merupakan kaca jenis figured glass
warna yang datar dan ketebalannya merata, tanpa cacat dan dari kualitas yang baik yang
memenuhi ketentuan SNI, seperti buatan Asahimas Ukuran dan ketbalan kaca sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja.

d. Cermin.
Cermin harus merupakan jenis clear mirror dengan ketebalan 5 mm merata, tanpa cacat
dan dari kualitas baik seperti Miralux dari Asahimas Ukuran da
n ketebalan cermin sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.

e. Kaca Reflective.
Kaca reflective merupakan kaca yang diberi lapisan pelindung untuk merefleksikan sinar
matahari, seperti stopsol supersilver glass produk Asahimas

f. Neoprene/Gasket.
Neoprene/Gasket atau bahan sintetis lainnya yang setar untuk perlengkapan
pemasangan kaca pada rangka alumunium.
Dimennsi Neoprene/Gasket yang dibutuhkan disesuaikan dengan ketebalan kaca dan jenis
profil alumunium yang digunakan.

9.5. PELAKSANAAN
9.5.1. Umum.
a. Ukuran-ukuran kaca dan cermin yang tertera dalam Gambar Kerja adalah ukuran
yang mendekati sesungguhnya. Ukuran kaca yang sebenarnya dan besarnya
toleransi harus diukur ditempat oleh Kontraktor berdasarkan ukuran di tempat
kaca atau cermin tersebut akan dipasang, atau menurut petunjuk dari Konsultan
Pengawas /MK, bila dikehendaki lain.
b. Setiap kaca harus tetap ditempeli merek pabrik yang menyatakan tipe kaca,
ketebalan kaca dan kualitas kaca.
c. Merek-merek tersebut baru boleh dilepas setelah mendapatkan persetujuan dari
Konsultan Pengawas /MK.
d. Semua bahan harus dipasang dengan rekomendasi dari pabrik.
e. Pemasangan harus dilakukan oleh tukang-tukang yang ahli dalam bidang
pekerjaannya.

9.5.2. Pemasangan Kaca.


a. Sela dan Toleransi Pemotongan.
Sela dan toleransi pemotongan sesuai ketentuan berikut :
- Sela bagian muka antara kaca dan rangka nominal 3mm.
- Sela bagian tepi antara kaca dan rangka nominal 6mm.
- Kedalaman celah minimal 16mm.
- Toleransi pemotongan maksimal untuk seluruh kaca adalah +3 mm atau -
1,5mm.
- Sela untuk Gasket harus ditambahkan sesuai dengan jenis gasket yang
digunakan.

9.5.3. Persiapan Permukaan.


 Sebelum kaca-kaca dipasang, daun pintu, daun jendela, bingkai partisi dan
bagian-bagian lain yang akan diberikan kaca harus diperiksa bahwa mereka dapat

Bab 2 - 22
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

bergerak dengan baik.


 Daun pintu dan daun jendela harus diamankan atau dalam keadaan terkunci atau
tertutup sampai pekerjaan pemolesan dan pemasangan kaca selesai.
 Permukaan semua celah harus bersih dan kering dan dikerjakan sesuai petunjuk
pabrik.
 Sebelum pelaksanaan, permukaan kaca harus bebas dari debu, lembab dan
lapisan bahan kimia yang berasal dari pabrik.

9.5.4. Neoprene/Gasket dan Seal.


 Setiap pemasangan kaca pada daun pintu dan jendela harus dilengkapi dengan
Neoprene/Gasket yang sesuai.
 Neoprene/Gasket dipasang pada bilang antar kusen dengan daun pintu dan jendela,
kusen dengan dinding yang berfungsi sebagai seal pada ruang yang dikondisikan.

9.5.5. Pemasangan Cermin.


 Cermin harus dipasang lengkap dengan sekrup-sekrup kaca yang memiliki dop
penutup stainless steel.
 Penempatan sekrup-sekrup harus sedemikian rupa sehingga cermin terpasang rata
dan kokoh pada tempatnya seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

9.5.6. Penggantian dan Pembersihan.


 Pada waktu penyerahan pekerjaan, semua kaca harus sudah dalam keadaan bersih,
tidak ada lagi merek perusahaan, kotoran-kotoran dalam bentuk apapun.
 Semua kaca yang retak, pecah atau kurang baik harus diganti oleh Kontraktor tanpa
tambahan biaya dari Pemilik Proyek.

9.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

X. PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN PENGUNCI


10.1. KETERANGAN
Semua daun pintu dan jendela dipasangi alat penggantung dan kunci yang sesuai.
Pekerjaan alat penggantung dan pengunci ini mencakup semua kegiatan pemasangan kunci
dan alat-alat penggantung pada daun pintu dan jendela, meliputi pengadaan bahan, tenaga
dan peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan ini.

10.2. PROSEDUR UMUM


10.2.1. Contoh
Contoh bahan beserta data teknis/brosur bahan alat penggantung dan pengunci yang
akan dipakai harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas Lapangan/ MK untuk
disetujui, sebelum dibawa kelokasi proyek.
10.2.2. Pengiriman dan Penyimpanan
Alat penggantung dan pengunci harus dikirim ke lokasi proyek dalam kemasan asli
dari pabrik pembuatannya, tiap alat harus dibungkus rapi dan masing-masing dikemas
dalam kotak yang masih utuh lengkap dengan nama pabrik dan mereknya.
Semua alat harus disimpan dalam tempat yang kering dan terlindung dari kerusakan.
10.2.3. Ketidaksesuaian.
Konsultan Pengawas Lapangan/MK berhak menolak bahan maupun pekerjaan yang
tidak memenuhi persyaratan dan Kontraktor harus menggantinya dengan yang sesuai.
Bab 2 - 23
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Segala hal yang diakibatkan karena hal di atas menjadi tanggung jawab Kontraktor.

10.3. BAHAN
10.3.1. Umum
Semua bahan/alat yang tertulis dibawah ini harus seluruhnya baru, kualitas baik,
buatan pabrik yang dikenal dan disetujui.
Semua bahan harus anti karat untuk semua tempat yang memiliki nilai kelembapan
lebih dari 70%.
Kecuali ditentukan lain, semua alat penggantung dan pengunci yang didatangkan
harus sesuai dengan tipe-tipe tersebut dibawah.

10.3.2. Alat Penggantung dan Pengunci. Rangka Bagian Dalam.


a. Umum.
Kunci untuk semua pintu luar dan dalam harus sama atau setara dengan merek
Cisa, BRS, Wilka (type U Handle).

b. Semua kunci harus terdiri dari :


- Kunci tipe silinder dengan dua kali putar yang terbuat dari bahan kuningan
atau Nikel stainless steel, dengan 3 (tiga) buah anak kunci.
- Handle/pegangan bentuk gagang atau kenop diatas plat yang terbuat dari
bahan Nikel stainless steel dan finishing stainless steel hair line.
- Badan kunci tipe tanam (mortice lock) yang terbuat dari bahan baja lapis seng
stainless steel hair line dengan jenis dan ukuran yang disesuaikan dengan
jenis bahan daun pintu (besi, kayu atau alumunium), yang dilengkapi
dengan lidah siang (latch bolt), lidah malam (dead bolt), lubang silinder, face
plate, lubang untuk pegangan pintu dan dilengkapi strike plate.

c. Engsel.
- Kecuali ditentukan lain, engsel untuk daun pintu alumunium tipe ayun dengan
bukaan satu arah, harus dari tipe kupu-kupu berukuran 102mm x 76mm x 3mm
dengan ball bearings.
- Kecuali ditentukan adanya penggunaan engsel kupu-kupu, engsel untuk semua
jendela harus dari tipe friction stay 20” dari ukuran yang sesuai dengan ukuran
dan berat jendela.
- Engsel tipe kupu-kupu untuk jendela harus berukuran 76mm x 64mm x 2mm.
- Ketentuan Bahan dan finishing engsel adalah dari bahan Nikel Stainless steel
dengan finish stainless steel hair line.

d. Hak Angin.
Hak angin untuk jendela yang menggunakan engsel tipe kupu-kupu.

e. Pengunci Jendela.
Pengunci jendela untuk jendela dengan engsel atau tipe friction stay menggunakan
jenis rambuncis.

f. Grendel Tanam/Flush bolt.


Semua pintu ganda harus dilengkapi dengan grendel tanam atas bawah yang
sesuai atau setara dengan produk Cisa, BRS, Wilka.

g. Penahan Pintu (Door Stop).


Penahan pintu untuk mencegah benturan daun pintu dengan dinding produk Cisa,
BRS, Wilka.

h. Pull Handle
Pegangan pintu yang memakai floor hing atau semi frame less menggunakan
handle buka model hollow panjang 900 mm setara produk Cisa, BRS, Wilka

Bab 2 - 24
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

i. Lever Handle
Pegangan kunci pintu yang memakai engsel kupu-kupu menggunakan handle
setara produk Cisa, BRS, Wilka.

j. Warna/Lapisan.
Semua alat penggantung dan pengunci harus berwarna stainless steel hair line,
kecuali bila ditentukan lain.

10.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN


10.4.1. Umum.
 Pemasangan semua alat penggantung dan pengunci harus sesuai dengan
persyaratan serta sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatnya.
 Semua peralatan tersebut harus terpasang dengan kokoh dan rapih pada
tempatnya, untuk menjamin kekuatan serta kesempurnaan fungsinya.
 Setiap daun jendela dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 2 (dua) buah
engsel type friction stay dan harus dilengkapi dengan 1 (satu) buah alat
pengunci/window lock yang memiliki pegangan.
 Semua pintu dipasangkan ke kusen dengan menggunakan 3 (tiga) buah engsel,
Untuk pemasangan engsel ke kusen Alumunium harus diberi closer dari kayu tebal
min 3 cm x panjang kusen yang kuat dan dari kayu bermutu baik (Kamper atau Jati)
yang dipasang di balik atau di dalam kusen Alumunium.
 Semua pintu memakai kunci pintu lengkap dengan badan kunci, silinder,
handle/pelat.
 Engsel bagian atas untuk pintu kaca menggunakan pin yang bersatu dengan
bingkai bawah pemegang pintu kaca.
 Lubang untuk pemasangan kunci dan engsel harus dibuat persis dan tidak
boleh longgar. Semua alat kunci harus dipasang dengan sekrup secara lengkap

10.4.2. Pemasangan Pintu.


 Kunci pintu dipasang pada ketinggian 1000 mm dari lantai.
 Pemasangan engsel atas berjarak maksimal 120 mm dari tepi atas daun pintu
dan engsel bawah berjarak maksimal 250mm dari tepi bawah daun pintu, sedang
engsel tengah dipasang diantar kedua engsel tersebut.
 Semua pintu memakai kunci tanam lengkap dengan pegangan (handle), pelat
penutup muka dan pelat kunci.
 Pada pintu yang terdiri dari dua daun pintu, salah satunya harus dipasang slot
tanam sebagaimana mestinya, kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar Kerja.

10.4.3. Pemasangan Jendela.


 Daun jendela dengan engsel tipe kupu-kupu dipasangkan ke kusen dengan
menggunakan engsel dan dilengkapi hak angin, dengan cara pemasangan
sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya dalam Gambar Kerja.
 Daun jendela tidak berengsel dipasangkan ke kusen dengan menggunakan
friction stay yang merangkap sebagai hak angin, dengan cara pemasangan
sesuai petunjuk dari pabrik pembuatnya.
 Penempatan engsel harus sesuai dengan arah buakaan jendela yang diinginkan
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja, dan setiap jendela harus dilengkapi
dengan sebuah pengunci.

10.4.4. Perlengkapan lain


10.4.4.1. Door closer : eks Cisa, BRS, Wilka
10.4.4.2. Floor Hing : eks Cisa, BRS, Wilka
10.4.4.3. Gasket

Ketentuan pemasangan gasket pada pintu adalah sebagai berikut :


 Airtight

Bab 2 - 25
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 Fireproof
 Smokeproof
 Soundproof
 Weatherproof

10.4.5. Dust Strike


Tipe Dust Strike yang digunakan adalah :
 Type lantai/threshold - Glynn Johnson DP2
 Untuk lantai marmer - Modrtz
Semua perlengkapan yang akan dipakai harus diberikan contohnya terlebih dahulu
kepada Konsultan Pengawas /MK untuk disetujui bersama dengan Konsultan
Perencana.

10.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XI. PEKERJAAN BESI NON STRUKTURAL


11.1. KETERANGAN
Pekerjaan ini mencakup semua pembuatan dan pemasangan pipa besi dan baja, seperti yang
tercantum dalam gambar dan RKS, meliputi pengadaan bahan, tenaga kerja dan peralatan
yang diperlukan untuk pekerjaan ini.
Pekerjaan ini mencakup antara lain :
a. Railing : railing void, tangga utama, tangga darurat, koridor, fasilitas penyandang cacat
dan Toilet disable.
Standar / Rujukan:
o American Society for Testing and Materials (ASTM)
o American Welding Society (AWS)
o American Institute of Steel Construction (AISC)
o American National Standard Institute (ANSI)
o Standar Nasional Indonesia (SNI) : SNI 03-1729-2019 – Tata Cara Perencanaan
Struktur Baja untuk Bangunan Gedung

11.2. BAHAN
a. Mutu pipa yang digunakan adalah mild steel yang memenuhi persyaratan ASTM A-36
Bahan-bahan pelengkap harus dari jenis yang sama dengan barang yang dipasangkan
dan yang paling cocok untuk maksud yang bersangkutan.
b. Railing tangga utama serta fasilitas penyandang cacat menggunakan hand railling pipa
stainles steel  3”, Hollow Stainles Steel Uk. 20 x 40 mm untuk pengaman, produk PPI,
Bakrie
Semua kelengkapan yang perlu demi kesempurnaan pemasangan harus diadakan,
walaupun tidak secara khusus diperlihatkan dalam gambar atau RKS ini.
c. Railing tangga darurat menggunakan pipa stainles steel  3”, Hollow Stainles Steel
Uk. 20 x 40 mm untuk pengaman, produk PPI, Bakrie finish cat duco.
Semua kelengkapan yang perlu demi kesempurnaan pemasangan harus diadakan,
walaupun tidak secara khusus diperlihatkan dalam gambar atau RKS ini.
d. Semua pekerjaan besi untuk railling harus dikerjakan oleh kontraktor specialis
sehingga didapatkan hasil yang baik, rapi dan maksimal.

Bab 2 - 26
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

11.3. PELAKSANAAN
a. Contoh bahan-bahan yang akan dipakai harus diperlihatkan kepada Pengawas untuk
disetujui. Contoh itu harus memperlihatkan kualitas pengelasan dan penghalusan untuk
standar dalam pekerjaan ini.
b. Pengerjaan harus yang sebaik-baiknya. Semua pengerjaan harus diselesaikan bebas dari
puntiran, tekukan dan hubungan terbuka.
c. Pengerjaan di bengkel ataupun di lapangan harus mendapat persetujuan Pengawas.
Semua pengelasan, kecuali ditunjukkan lain, harus memakai las listrik. Tenaga kerja yang
melakukan hal ini harus benar-benar ahli dan berpengalaman.
d. Semua bagian yang dilas harus diratakan dan difinish sehingga sama dengan
permukaan sekitarnya. Bila memakai pengikat-pengikat lain seperti clip keling dan lain-
lain yang tampak harus sama dalam finish dan warna dengan bahan yang diikatnya.
e. Penyambungan dengan baut harus dilakukan dengan cara terbaik yang sesuai dengan
maksudnya termasuk perlengkapannya. Lubang-lubang untuk baut harus dibor dan di-
punch.
f. Pemasangan (penyambungan dan pemasangan accesorise) harus dilakukan oleh
tukang yang ahli dan berpengalaman. Semua railling tangga utama harus terbungkus
crome/stainles steel kecuali disebutkan lain.
g. Semua untuk pekerjaan ini harus mengacu pada gambar rencana, kecuali ditentukan
lain.

11.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XII. PENUTUP DAN PENGISI CELAH


12.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan bahan penutup dan pengisi celah
termasuk diantaranya, tetapi tidak terbatas pada hal – hal berikut :
Celah antara kusen pintu / jendela dengan dinding. Celah antara dinding dengan kolom
bangunan.
Celah antara peralatan dengan dinding, lantai atau langit – langit. Celah antara langit – langit
dan dinding.
Dan celah – celah lainnya yang memerlukannya, seperti disebutkan dalam Spesifikasi Teknis
terkait.

12.2. STANDAR / RUJUKAN


American Society for Testing and Materials (ASTM)

12.3. PROSEDUR UMUM


Contoh Bahan dan Data Teknis.
Contoh dan data teknis / brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada
Pengawas Lapangan/MK untuk mendapatkan persetujuan sebelum pengadaan bahan ke
lokasi proyek.

Pengiriman dan Penyimpanan.


Semua bahan yang didatangkan harus dalam keadaan baru, utuh / masih disegel, bermerek
jelas dan harus disimpan di tempat yang kering, bersih dan aman, dan dilindungi dari kerusakan
yang diakibatkan oleh kondisi udara.

Bab 2 - 27
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

12.4. BAHAN - BAHAN


Tipe Umum.
Bahan penutup dan pengisi celah untuk bagian – bagian bangunan yang sifatnya non –
struktural harus merupakan produk yang dibuat dari bahan silikon, yang sesuai untuk daerah
tropis dengan kelembaban tinggi dan dapat diaplikasikan pada berbagai jenis bahan, seperti
produk Dow Corning 795 Silicone Building Sealant, GE Silglaze N 10, IKA Glazing Netral
atau yang setara.

Tipe Struktural.
Bahan penutup dan pengisi celah untuk bagian – bagian bangunan yang sifatnya struktural
harus merupakan produk yang dibuat dari bahan silikon dengan formula khusus sehingga
mampu menahan beban struktural seperti angin, dapat diaplikasikan pada berbagai jenis
bahan, seperti GE Ulgraglaze 4400.

Tipe Akrilik.
Bahan penutup dan pengisi celah untuk bagian – bagian bangunan yang akan dicat harus
dari tipe akrilik yang dapat dicat setelah 2 jam pengeringan, tahan terhadap air, jamur dan
lumur, memiliki daya rekat yang baik pada segala jenis bahan, seperti IKA Glazing Acrylic
atau yang setara yang disetujui Pengawas Lapangan/MK.

12.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


Persiapan.
Semua permukaan yang akan menerima bahan penutup dan pengisi celah harus bebas dari
debu, air, minyak dan segala kotoran.
Bahan metal atau kaca yang berhubungan dengan dinding harus dibersihkan dengan bahan
pembersih yang tidak mengandung minyak seperti methyl.

Desain Pertemuan.
Desain pertemuan pada lokasi bahan penutup celah akan ditempatkan tidak lebih lebar dari
12,7 mm dan tidak lebih sempit dari 4 mm, dengan kedalaman tidak lebih besar dari 6,4 mm
dan tidak lebih kecil dari 4 mm.

Cara Pengaplikasian.
Batang penyangga dari bahan polyethylene closed cell foam dipasang pada dasar celah /
tempat yang akan diberi bahan penutup atau pengisi celah untuk mendapatkan
kedalaman celah yang tepat.
Daerah di sekitar tempat yang akan diberi bahan penutup celah harus dilindungi dengan
lembaran pelindung. Lembaran pelindung ini tidak boleh menyentuh bagian permukaan yang
akan diberi bahan penutup celah. Lembaran pelindung harus segera dibuka setelah bahan
penutup celah selesai diaplikasikan.
Pelapis dasar harus diaplikasikan terlebih dahulu pada permukaan yang berpori, agar bahan
penutup dan pengisi celah dapat melekat dengan baik.
Bahan penutup celah harus diaplikasikan secara menerus (tidak terputus – putus)
Lembaran pelindung harus segera dibuka setelah bahan penutup celah selesai
diaplikasikan.
Bahan penutup celah yang baru saja terpasang tidak boleh diganggu paling sedikit selama
48 (empat puluh delapan) jam.

Lapisan Pelindung.
Penumpu talang datar yang dibuat dari bahan baja harus diberi lapisan cat dasar anti karat
dan cat akhir dalam warna sesuai ketentuan Skema Warna.
Bahan cat dan cara pengecatan harus memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis.

Lapisan Kedap Air.


Talang datar dari beton harus diberi lapisan kedap air. Cara pemasangannya lapisan kedap
air harus sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja dan petunjuk pemasangan dari pabrik pembuat
lapisan kedap air. Bahan lapisan kedap air harus sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.

Bab 2 - 28
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

12.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XIII. PEKERJAAN LANGIT-LANGIT GYPSUM


13.1. KETERANGAN
Pekerjaan ini mencakup pembuatan dan pemasangan langit-langit dengan berbagai bahan
penutup langit-langit (gypsum panel, gypsum tile) sesuai dengan gambar dan RKS, meliputi
penyediaan alat, bahan dan tenaga untuk keperluan pekerjaan ini. Pekerjaan langit-langit /
plafon disini adalah dengan full system dalam arti seluruh rangka dan panel penutupnya
adalah satu pabrikan dan satu system desainnya. Dalam pelaksanaannya dari produk yang
dipakai harus bersedia menyediakan tenaga supervise teknis dari principal.

13.2. BAHAN
a. Bahan yang dipakai pada pekerjaan ini adalah panel gypsum standart 9 mm sesuai
pada gambar perencanaan, produk Jaya Board, Gyproc. Papan gipsum harus dari tipe
standar yang memenuhi ketentuan AS 2588, BS 1230 atau ASTM C 36.
b. Rangka plafond menggunakan sistem metal furing chanel terbuat dari bahan galvalume
tebal 0,55 mm, full system sesuai gambar rancangan pelaksanaan produk Jaya Board,
Gyproc.

13.3. PELAKSANAAN
a. Rangka penggantung dipasang berjarak maksimum 120 cm sesuai gambar rancangan
sedangkan untuk rangka pembagi berjarak 40 cm untuk papan gypsum 9 mm dan 60 cm
untuk papan gypsum 12 mm sesuai persyaratan teknis dari pabrik dan gambar
rancangan pelaksanaan
b. Pemasangan paku atau sekrup harus diberi jarak 10 mm (minimal) dan maksimal 16 mm
dari pinggir bahan penutup. Jarak antara paku sekrup pada bagian tepi gypsum berjarak
20 cm sedangkan pada bagian tengah penutup langit-langit jarak antara paku sekrup
adalah 30 cm.
c. Sambungan pada pemasangan penutup langit-langit antara satu dengan lainnya adalah
serapat mungkin tanpa jarak yang pemasangannya dilakukan zig zag.
d. Untuk mendapatkan hasil permukaan yang benar-benar rata pada setiap sambungan
harus dilapisi dengan base bond dan paper tape dari produk yang sama dengan papan
penutup langit-langit dengan lubang dan garis tengah pelaksanaan sesuai brosur petunjuk.
e. Untuk pekerjaan plafond dengan menggunakan gypsum datar tanpa nat, tebal minimal
9 mm produksi Jaya Board atau setara.
f. Pemasangan penutup langit-langit harus ditimbang rata air agar mendapatkan
permukaan yang benar rata.
g. Langit-langit tanpa penutup/exposed beton di ruang-ruang yang tidak tertutup harus
dirapikan.

Pekerjaan ini mencakup pembuatan dan pemasangan langit-langit dengan berbagai bahan
penutup langit-langit sesuai dengan gambar dan RKS, meliputi penyediaan alat, bahan dan
tenaga untuk keperluan pekerjaan ini.

13.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus

Bab 2 - 29
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XIV. PEKERJAAN PELAPIS DINDING KERAMIK


14.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini mencakup pemasangan pelapis dinding ruangan-ruangan dalam bangunan
sesuai dengan gambar pelaksanaan dan RKS ini, meliputi penyediaan alat, bahan dan
tenaga untuk keperluan pekerjaan ini. Ruangan yang dilapisi keramik sesuai dengan gambar
dan schedule finishing.

14.2. STANDAR / RUJUKAN


14.2.1. Standar Nasional Indonesia (SNI)
- SNI 03-4062-1996 – Ubin Lantai Keramik Berglaris
14.2.2. Australian Standard (AS)
14.2.3. British Standard (BS)
14.2.4. American National Standard Institute (ANSI).
14.2.5. Spesifikasi Teknis.
- Adukan dan Plasteran.
- Penutup dan Pengisi Celah.

14.3. PROSEDUR UMUM


14.3.1. Contoh Bahan dan Data Teknis Bahan.
Contoh bahan dan teknis/brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada
Pengawas Lapangan/MK untuk disetujui terlebih dahulu sebelum dikirim ke lokasi
proyek.
Contoh bahan ubin harus diserahkan sebanyak 3 (tiga) set masing-masing dengan 4
(empat) gradasi warna untuk setiap set.
Biaya pengadaan contoh bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

14.3.2. Pengiriman dan Penyimpanan.


Pengiriman ubin ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang belum
dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.
Kontraktor wajib menyediakan cadangan sebanyak 2,5% dari keseluruhan bahan
terpasang untuk diserahkan kepada Pemilik Proyek.

14.4. BAHAN
14.4.1. Umum.
Ubin harus dari kualitas yang baik dan dari merek yang dikenal yang memenuhi
ketentuan SNI.

Ubin yang tidak rata permukaan dan warnanya, sisinya tidak lurus, sudut-sudutnya
tidak siku, retak atau cacat lainnya, tidak boleh dipasang.

14.4.2. Keramik
a. Ubin keramik yang dipakai ukuran 30 x 30 cm Glazuur, 20 x 20 Matt, 10 x 20 atau
10 x 30 cm semua bahan buatan dalam negeri merek Roman, Asia Tile, Mulia
terdiri dari beberapa jenis seperti tersebut berikut :
- Ubin keramik berglasur untuk tempat-tempat lain seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
- Step nosing dari keramik bergaris degan ukuran sesuai standar dari pabrik
pembuat untuk area yang seperti di tunjukan dalam Gambar Kerja.

Bab 2 - 30
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Homogeneus Tile
- Homogeneus Tile yang dipakai ukuran 60 x 60 mm, 30 x 30 cm produk Granito
Tiles, Niro Granit, Indogress dan digunakan untuk ruangan yang telah
ditentukan dalam schedule finishing.
b. Tipe dan warna masing-masing ubin keramik harus sesuai Skema Warna yang
sudah ditentukan pada pembangunan tahap sebelumnya.

14.4.3. Adukan.
a. Adukan terdiri dari campuran semen dan pasir yang diberi bahan tambahan
penguat dalam jumlah penggunaan sesuai petunjuk dari pabri pembuat.
Bahan-bahan adukan dan bahan-bahan tambahan harus memenuhi ketentuan
Spesifikasi Teknis - Adukan & Plesteran.
b. Adukan perekat khusus untuk memasang ubin, jika ditunjukkan dalam Gambar
Kerja atau sesuai petunjuk Pengawas Lapangan/MK, harus memenuhi ketentuan
AS 2356, ANSI 118.1, 118.4 dan BS 5385, seperti Lemkra FK 101 dan Lemkra FK
103 (khusus daerah basah), AM 30 Mortarflex, ASA Fixall.

14.4.4. Adukan Pengisian Celah.


Adukan pengisi celah harus merupakan produk campuran semen siap pakai, yang
diberi warna dari pabrik pembuat, seperti Lekra FS Nat Flexible, AM 50 Coloured
Ceramic Grout, ASA Coloured Grout.

14.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


14.5.1. Persiapan.
a. Pekerjaan pemasangan ubin baru boleh dilakukan setelah pekerjaan lainnya
benar-benar selesai.
b. Pemasangan ubin harus menunggu sampai semua pekerjaan pemipaan air
bersih/air kotor atau pekerjaan lainnya yang terletak dibelakang atau dibawah
pasangan ubin ini telah diselesaikan terlebih dahulu.

14.5.2. Pemasangan.
a. Sebelum pemasangan ubin pada dinding dimulai, plesteran siap pakai (mortar)
harus dalam keadaan kering, padat dan bersih, seperti yang tertera dalam
Spesifikasi Adukan & Plesteran.
Tebal adukan untuk semua pasangan tidak kurang dari 25mm, kecuali bila
ditentukan lain dalam Gambar Kerja.
b. Adukan untuk pasangan ubin pada dinding harus diberikan pada permukaan
plesteran dan permukaan belakang ubin, kemudian diletakkan pada tempat yang
sesuai dengan yang direncanakan atau sesuai petunjuk Gambar Kerja.
c. Adukan untuk pasangan ubin pada lantai harus ditempatkan diatas lapisan pasir
dengan ketebalan sesuai Gambar Kerja.
d. Ubin harus kokoh menempel pada alasnya dan tidak boleh berongga. Harus
dilakukan pemeriksaan untuk menjaga agar bidang ubin yamg terpasang tetap
lurus dan rat.
Ubin yang salah letaknya, cacat atau pecah harus dibongkar dan diganti.
e. Ubin mulai dipasang dari salah satu sisi agar pola simetri yang dikehendaki dapat
terbentuk dengan baik.
f. Sambungan atau celah-celah antar ubin harus lurus, rat dan seragam, saling tegak
lurus. Lebar celah tidak boleh lebih dari 1,6mm, kecuali bila ditentukan lain.
Adukan harus rapi, tidak keluar dari celah sambungan.
g. Pemotongan ubin harus dikerjakan dengan keahlian dan dilakukan hanya pada
satu sisi, bila tidak terhindarkan.
Pada pemasangan khusus seperti pada sudut-sudut pertemuan, pengakhiran dan
bentuk-bentuk yang lainnya harus dikerjakan serapi dan sesempuna mungkin.
h. Siar antar ubin dicor dengan semen pengisi/grout yang berwarna sama dengan
warna keramiknya dan disetujui Pengawas Lapangan/MK.

Bab 2 - 31
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Pengecoran dilakukan sedemikian rupa sehingga mengisi penuh garis-garis siar.


Setelah semen mengisi cukup mengeras, bekas-bekas pengecoran segera
dibersihkan dengan kain lunak yang baru dan bersih.
i. Setiap pemasangan ubin keramik seluas 8 m2 harus diberi celah mulai yang terdiri
dari penutup celah yang ditumpu dengan batang penyangga berupa polystyrene
atau polyethylene. Lebar celah mulai harus sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja
atau sesuai pengarahan dari Pengawas Lapangan/MK.
Bahan berikut cara pemasangan penutup celah dan penyangganya harus sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis – Penutup & Pengisi Celah.

14.5.3. Pembersihan dan Perlindungan.


Setelah pemasangan selesai, permukaan ubin harus benar-benar bersih, tidak ada yang
cacat, bila dianggap perlu permukaan ubin harus diberi perlindungan misalnya dengan
sabun anti karat atau cara lain yang diperbolehkan, tanpa merusak permukaan ubin.

14.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XV. PEKERJAAN PENUTUP DINDING ALUMUNIUM COMPOSITE PANEL (ACP)


15.1. UMUM
a. Instruksi Umum
- Pekerjaan Bagian ini harus sesuai sebagaimana dipersyaratkan dalam Dokumen
Kontrak.
- Pekerjaan adalah kegiatan pelapisan permukaan kolom dengan bahan panel komposit
aluminium yang menempel pada rangka.

b. Pengalaman
- Pekerjaan ini dilaksanakan oleh perusahaan yang memiliki tempat pembuatan dan
peralatan yang memadai, serta tenaga kerja yang terlatih. Perusahaan telah dikenal dan
memiliki pengalaman yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan sejenis setidaknya
dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir.

c. Pekerjaan Lain Yang Terkait


- Pekerjaan beton cetak di tempat
- Pekerjaan pasangan dinding
- Pekerjaan baja struktur
- Pekerjaan fabrikasi logam

d. Lingkup Pekerjaan
- Pekerjaan ini meliputi tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pekerjaan pemasangan panel alumunium composite seperti yang
ditunjukkan dalam gambar rencana.
- Pekerjaan ini di laksanakan pada tempat-tempat seperti yang ditunjukan dalam gambar.

e. Pengendalian Pekerjaan
- Semua pekerjaan yang disebutkan dalam bab ini harus dikerjakan sesuai dengan
standard dari pabrik
- Bahan-bahan yang harus memenuhi standar-standar antara lain:
 AA The Alumunium Association
 AAMA Architectural Alumunium Manufacture Association

Bab 2 - 32
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 ASTM American Standard for Testing Materials

f. Komponen
- Bracket/angkur dari material besi finish galvanish atau material alumunium ekstrusion
- Rangka Vertikal dan Horizontal dari material alumunium ekstrusion
- Rangka tepi panel alumunium composite panel dan reinforce dari material alumunium
ekstrusion.
- Infill dari sealant warna ditentukan kemudian
- Sealant
 Untuk pekerjaan luar, lihat bab sealant
 Warna akan ditentukan kemudian berdasarkan color chart dari pabrik
 Lokasi Sealant antara panel alumunium dengan komponen lain.

g. Penyerahan Contoh Pekerjaan


- Serahkan gambar kerja yang menunjukkan potongan, rencana, section, dan detail,
metode pengencang, ketebalan material dan pekerjaan lain yang berhubungan.
- Menyerahkan contoh berukuran 300 mm x 300 mm yang dibuat rangkap tiga, yang
menunjukkan finishing panel dan semua komponen dari sistem, untuk mendapat
persetujuan.

h. Pengiriman, Penyimpanan Dan Penanganan


- Lakukan koordinasi mengenai pengiriman sesuai dengan Jadwal Konstruksi dan
sebelumnya lakukan pengaturan untuk menyimpan material tidak langsung di atas muka
tanah.
- Lindungi semua komponen dari kemungkinan terjadinya cacat/rusak dan lendutan.
- Harus dicegah terjadinya kerusakan material pada saat pengantaran dan penyimpanan.
Simpan di tempat yang kering dan dilengkapi dengan penutup.

i. Koordinasi
- Lakukan koordinasi dengan pelaksana pekerjaan lain untuk memastikan kepuasan dan
ketepatan waktu dari penyelesaian pekerjaan.
- Kontraktor pelaksana pekerjaan ini bertanggung jawab atas koordinasi dan
keterkaitannnya dengan pekerjaan lain sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai.
- Jika tidak ada tanda khusus soal dimensi/ukuran namun jaraknya dianggap ’sama’
Kontraktor harus menentukan ukuran yang tepat dengan cara membagi jumlah unit yang
dibutuhkan ke dalam dimensi/ukuran keseluruhan grid/bay.
- Kontraktor harus bertanggung jawab menjamin terkoordinasinya semua dimensi/ukuran
komponen untuk memberi jarak pada unit-unit tersebut, dan bahwa rakitan/komponen
dan elemen juga harus diukur untuk menjaga agar lebar sambungan yang dihasilkan
sesuai dengan spesifikasi.
- Kontraktor harus menjamin bahwa pengukuran seluruh komponen telah dikoordinasi
agar benar-benar pas dan sesuai dengan syarat kinerja.
- Kontraktor harus melakukan survei terukur terhadap struktur yang telah selesai, sebelum
pemfabrikasian elemen-elemen, sehingga jika ada penyimpangan antara nilai toleransi
dengan struktur, hal itu bisa segera dikenali. Setelah diidentifikasi, Kontraktor harus
menyiapkan proposal bergambar untuk mengatasi penyimpangan tersebut dan
mempresentasikan hal ini ke pada Pemberi Tugas/Konsultan Perencana/Konsultan MK
untuk disetujui, sebelum fabrikasi.

15.2. MATERIAL
a. Bahan – Bahan
- Bahan : Aluminium Composite Panel
- Tebal : 4 mm
- Berat : 5-6 kg/m2
- Bending strength : 45 – 60 kg/ 4mm
- Heat Deformation : 200 derajat Celcius

Bab 2 - 33
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

-Sound Insulation : 24 – 39 dB
-Finished : Flourocarbond factory finished
-Warna : lihat gambar / sesuai approval.
-Aluminium skin thickness : 0,3 mm bagian atas dan bawah, untuk bagian tengah
3,4mm
- Aluminium alloy : 5005
- Coating type : PVDF Self Cleaning
- Garansi : 15 Tahun Sertifikat PPG Factory
b. Bahan composite tidak mengandung racun / non toxic
c. Bahan yang digunakan dari produksi ex. Seven, Larson, Dekkson dengan PVDF 0.3 alloy
5005 Self Cleaning

15.3. PELAKSANAAN
a. Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam pekerjaan ini dengan
menunjukkan surat keterangan referensi pekerjaan-pekerjaan yang pernah dikerjakan
kepada Direksi Lapangan untuk mendapatkan persetujuan.
b. Aluminium Composite yang digunakan untuk seluruh proyek harus dari satu macam produk
saja.
c. Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk mempermudah
serta mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan yang akurat, teliti dan tepat
pada posisinya.
d. Rangka-rangka pemegang harus dipersiapkan dengan teliti, tegak lurus dan tepat pada
posisinya.
e. Setelah pemasangan, dilakukan penutupan celah-celah antara panel dengan bahan caulking
dan sealant hingga rapat dan tidak bocor sesuai dengan uraian Bab Caulking dan Sealant
dalam persyaratan ini.
f. Kontraktor harus melindungi pekerjaan yang telah selesai dari hal-hal yang dapat
menimbulkan kerusakan. Bila hal ini terjadi, Kontraktor harus memperbaiki tanpa biaya
tambahan.
g. Hasil pemasangan pekerjaan Aluminium Panel Composite harus merupakan hasil pekerjaan
yang rapi dan tidak bergelombang.
h. Kontraktor harus dapat menyertakan jaminan mutu selama 15 tahun dari PPG Factory
terhadap warna dan kualitas aluminium berupa Sertifikat Jaminan sesuai dengan volume
yang dibutuhkan.

15.4. PEMASANGAN
a. Pekerjaan Persiapan
Tahap awal dalam Sistem kerja pemasangan pekerjaan ACP (Alumunium Composite
Panel) adalah sebagai berikut:
- Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan ACP (Alumunium
Composite Panel)
Dalam hal ini kita dapat mengajukan ukuran-ukuran modul ACP yang akan
digunakan tanpa merubah bentuk desain dari segi perencanaan. Hal ini berguna
untuk memperkecil waste ACP / sisa ACP yang tidak terlalu banyak, sehingga dapat
mengurangi penggunaan ACP yang berlebihan. Contoh ukuran modul ACP yang
terpasang yang dapat memperkecil waste ACP adalah:
 Ukuran modul 118 x 240 cm
 Ukuran modul 118 x 118 cm
 Ukuran modul 57 x 240 cm
 Ukuran modul 57 x 118 cm
 Ukuran modul 57 x 57 cm , dsb
- Approval material yang akan digunakan, Approval material berupa warna dan type
dari ACP itu sendiri dan juga warna sealant yang akan digunakan.
- Persiapan lahan kerja
- Persiapan untuk pabrikasi ACP dan juga penempatan material ACP di lokasi
pekerjaan agar benar-benar dipersiapkan, sehingga aman dari segi keamanan lokasi
pekerjaan dan juga benturan-benturan dari pekerjaan lainnya.

Bab 2 - 34
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

- Persiapan material kerja


- Persiapan material kerja antara lain : ACP (Alumunium Composite Panel), rangka
ACP (disesuaikan dengan spesifikasi teknis pekerjaan), breket siku / stifener
alumunium, baut dynabolt, sekrup, sealant, backup (busa hati) dan juga lakban kertas
- Persiapan alat bantu kerja
- Persiapan alat bantu antara lain : scaffolding, waterpass, meteran, benang, selang
air, cutting well, gerinda, bor beton, bor tangan, gun sealant, router, safty belt, dll.

b. Tahap Pemasangan ACP


Sistem Kerja Pemasangan Pekerjaan ACP (Alumunium Composite Panel) secara umum
terdiri dari 4 (empat) tahap :
- Pekerjaan pemasangan rangka dudukan ACP
Jika bidang yang akan dipasang rangka dudukan ACP terbuat dari pasangan dinding
batu bata, maka dinding batu bata tersebut harus diplester terlebih dahulu, minimal
diplester tanpa di aci atau lebih baik dengan acian. Agar rangka ACP yang dipasang
akan lebih kuat menahan beban rangka ACP itu sendiri dan beban material ACP
nantinya. Tarik benang yang menjadi acuan pemasangan dudukan rangka ACP.
Untuk jarak rangka dudukan ACP disesuaikan dengan modul ACP yang telah kita
ajukan. Sebagai contoh kita gunakan modul ACP dengan ukuran 118x118 cm, untuk
itu detail rangka dudukan ACP sebagai berikut. (Gambar 1)

Note : jarak as 1cm


Gambar 1

- Pekerjaan pabrikasi material ACP


Pekerjaan pabrikasi material ACP ini kita sesuaikan dengan modul ACP yang kita
ajukan sebelumnya. Sebagai contoh dengan modul ukuran ACP 118x118 cm.
Lembaran ACP normal dengan ukuran 122x244 cm dipotong menjadi 2 (dua) bagian,
sehingga didapat ukuran modul yang telah dipotong menjadi ukuran 122x122 cm.
(Gambar 2)

Bab 2 - 35
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Gambar 2

Setelah itu kita mulai pabrikasi modul ACP yang sudah dipotong pada bidang ACP bagian
belakang. Setiap modul ACP yang hendak kita pakai wajib diberikan kupingan ACP 2cm
keliling modul ACP yang mau dipasang.
Fungsi dari kupingan itu sendiri adalah untuk memasang bracket stifener alumunium dan
dari bereket stifener alumunium itu modul ACP disekrup ke rangka dudukan ACP yang
telah kita buat pada tahap ke 1 (satu). (Gambar 3)

Gambar 3

- Pekerjaan pemasangan lembaran atau modul ACP


Tahap ini adalah tahap dimana pemasangan modul ACP yang telah dipabrikasi akan
dipasang pada rangka dudukan ACP. Diusahkan untuk breket stifener alumunium
tidak bertemu dengan breket stifener alumunium modul lainnya, sehingga untuk
sekrup yang akan dipasang ke rangka dudukan ACP tidak menumpuk atau
bersinggungan. Pasang
modul ACP yang sudah dipabrikasi ke rangka dudukan ACP yang terpasang sesuai
dengan ukurannya. Tarik benang untuk menjadi acuan pemasangan modul ACP
menjaga kerataan pemasangan dan dapat berpengaruh pada besar kecilnya nat
yang dibuat. (Gambar 4)

Bab 2 - 36
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Gambar 4

- Pekerjaan pemberian sealant pada pertemuan ACP dan pembersihan


Setelah pekerjaan pemasangan modul ACP selesai terpasang pada rangka dudukan
ACP, maka tahap berikut adalah pekerjaan sealent pada cela / nat antar pertemuan
modul ACP lalu diakhiri pekerjaan pembersihan pada bidang yang terpasang ACP.

Untuk sealent yang digunakan di luar gedung (eksterior) sebaiknya dipergunakan


sealent netral dan memiliki daya tahan terhadap:
 Tahan terhadap Suhu panas Sinar matahari ultra violet
 Tahan terhadap suhu dingin
 Tahan terhadap derasnya air hujan
 Dan memiliki daya rekat yang tinggi pada cela / nat permukaan modul ACP

Sistem pekerjaannya rekatkan lakban kertas dipermukaan ACP yang menjadi cela /
nat bidang ACP, yang berfungsi meratakan permukaan sealent dan juga agar waktu
pekerjaan perapihan sealant tidak mengenai permukaan ACP tersebut.

Kemudian masukkan busa hati / backup yang telah kita siapkan sesuai dengan
kebutuhan lebar nat ACP, yang berfungsi sebagai meratakan bagian dalam nat dan
menjadi dudukan yang akan di sealent. Kedalaman busa hati harus disesuaikan agar
dapat memberi ruang untuk sealent yang akan dimasukan diatasnya.

Pekerjaan sealent dapat dilakukan pada cela / nat pasangan ACP yang telah
dipasang busa hati tersebut, dengan menggunakan bantuan Gun Sealant agar
pekerjaan lebih mudah, terjangkau dan lebih cepat.
Lalu rapikan permukaan sealent tersebut menggunakan busa hati yang telah dibuat
berbentuk persegi empat agar mudah merapikan sealent.

Setelah proses perapihan sealent segera lepaskan lakban kertas dari permukaan
ACP tersebut. Agar mempermudah proses pelepasan lakaban kertas pada
permukaan ACP dapat dilakukan pada selaent dalam kondisi basah (setengah
kering).

Setelah pekerjaan sealent selesai dan sudah kering merekat terhadap permukaan
ACP, maka lakukan pembersihan baik sisa-sisa ACP, pembersihan permukaan ACP
dan juga pelepasan proteksi / sticker pada permukaan ACP tersebut maksimal 45hari
dari ACP terpasang. (Gambar 5)

Bab 2 - 37
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Gambar 5

- Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam pekerjaan ini dengan
menunjukkan surat keterangan referensi pekerjaan-pekerjaan yang pernah
dikerjakan kepada Direksi Lapangan untuk mendapat persetujuan.
- Alumunium Composite Panel yang digunakan untuk seluruh proyek harus dari satu
macam saja.
- Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk
mempermudah serta mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan yang
akurat, teliti dan tepat pada posisinya.
- Rangka-rangka Panel Composite harus di persiapkan dengan teliti, tegak lurus dan
tepat pada posisinya.
- Metode pemasangan antara lain:
 Dijepit diantara bagian-bagian sungkup puncak ganda
 Panel-panel baki menggantung pada pin-pin dan dipasang dengan skrup
 Dinding pelapis yang dijadikan satu unit, sistim ikatan pinggir.

15.5. PEMBERSIHAN
a. Frekuensi pembersihan dan perawatan serta pemilihan bahan pembersih yang cocok
sangat tergantung pada lokasi gedung dan kondisi dipermukaan.
b. Pembersihan dapat dilaksanakan dengan air dan spons atau sikat lembut.
c. Apabila pengotoran labih berat bisa ditambahkan deterjen netral.

15.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XVI. PEKERJAAN GRC CETAK (ORNAMEN GRC)


16.1. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini meliputi pengadaan bahan, tenaga, peralatan serta pemasangan dinding partisi GRC

Bab 2 - 38
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

cetak/ornament+ rangka hollow yang dipasang tegak lurus dari lantai sampai lantai dag atau
balok. Dengan rangka penguat seperti ditunjukkan dalam gambar. Untuk ruang-ruang dalam
seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana Fasade.

16.2. SPESIFIKASI
16.2.1. Material dan Kecakapan Kerja
a. Partisi dinding dan ornament GRC Cetak dan akan mencakup seluruh komponen,
perangkat keras, dan kepingan untuk menyetel, yang perlu untuk menyelesaikan
system dan mengkaitkan ke lantai.
b. Beton cetak yang disesuaikan dengan bentuk atau motif sesua desain
c. Jarak dan ketebalan rangka disesuaikan dengan gambar teknis.
d. Bila system partisi pemilik ditentukan dalam gambar, pemborong akan sepenuhnya
mematuhi rekomendasi pabrikan atas material yang digunakan dan cara
pemasangan pembetulan dari pemasangan yang cacat atau penggantian material
yang tidak sesuai dengan spesifikasi fabrikan akan menjadi tanggung jawab
Penyedia Barang dan Jasa dan atas biayanya sendiri.

16.2.2. Penjelasan Bahan


a. GRC Cetak berbahan dasar beton
b. Ukuran : ketebalan 4 cm
c. Rangka hollow 40x40 tebal 2 mm
d. Motif sesuai desain atau Keputusan bersama
e. Dempul sambungan menggunakan semen PC
f. Sambungan ke rangka menggunakan besi 8 sebagai pengait dan di las.

16.3. CARA PEMASANGAN


1. Cara pemasangan senantiasa harus selalu memperhatikan/ mengikuti gambar dan
spesifikasi yang sudah ditentukan dan sesuai dengan standar cara pemasangan GRC
Cetak.
2. Sebelum pemasangan, kontraktor wajib membuat gambar shopdrawing terlebih dahulu
sebelum melakukan produksi atau pemasangan.
3. Pekerjaan dapat dilaksanakan setelah gambar shopdrawing yang sudah mendapat
petunjuk atau persetujuan Konsultan Pengawas) dan PPK.

XVII. PEKERJAAN PENUTUP LANTAI KERAMIK


17.1. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini mencakup semua pekerjaan penutup lantai dalam bangunan dan teras- teras
termasuk plin dan tangga, seperti yang tercantum dalam gambar dan RKS, meliputi
penyediaan bahan, tenaga dan peralatan untuk pekerjaan ini.
Pengiriman ubin ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang belum
dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.
Kontraktor wajib menyediakan cadangan secukupnya dari keseluruhan bahan terpasang
untuk diserahkan kepada pemberi tugas.

17.2. BAHAN
 Umum.
Ubin harus dari kualitas yang baik dan dari merek yang dikenal yang memenuhi ketentuan
SNI.
Ubin yang tidak rata permukaan dan warnanya, sisinya tidak lurus, sudut-sudutnya tidak
siku, retak atau cacat lainnya, tidak boleh dipasang.

 Ubin Keramik Berglasur.


Ubin keramik berglasur merek Roman, Asia Tile, Mulia terdiri dari beberapa jenis seperti
tersebut berikut :

Bab 2 - 39
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

- Ubin keramik berglasur tipe non-slip ukuran 20 x 20 cm untuk lantai KM/WC.


- Ubin keramik berglasur ukuran 30 cm x 30 cm untuk tempat-tempat lain seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
- Ubin keramik berglasur ukuran 10 x 20 cm dan atau 10 cm x 30 cm digunakan untuk plin
pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

 Homogeneus Tile
- Homogeneus Tile yang dipakai ukuran 60 x 60 cm, 30 x 30 cm produk Granito Tiles,
Niro Granit, Indogress dan digunakan untuk ruangan yang telah ditentukan dalam
schedule finishing.

Tipe dan warna masing-masing ubin keramik harus sesuai Skema Warna yang sudah
ditentukan pada pembangunan tahap sebelumnya.

 Adukan.
Adukan terdiri dari campuran semen dan pasir yang diberi bahan tambahan penguat dalam
jumlah penggunaan sesuai petunjuk dari pabri pembuat.
Bahan-bahan adukan dan bahan-bahan tambahan harus memenuhi ketentuan Spesifikasi
Teknis.
Adukan perekat khusus untuk memasang ubin, jika ditunjukkan dalam Gambar Kerja atau
sesuai petunjuk Pengawas Lapangan, harus memenuhi ketentuan AS 2356, ANSI 118.1,
118.4 dan BS 5385, seperti Lemkra FK 101 dan Lemkra FK 103 (khusus daerah basah), AM
30 Mortarflex, ASA Fixall atau yang setara.

 Adukan Pengisian Celah.


Adukan pengisi celah harus merupakan produk campuran semen siap pakai, yang diberi
warna dari pabrik pembuat, seperti Lekra FS Nat Flexible, AM 50 Coloured Ceramic Grout,
ASA Coloured Grout atau yang setara yang disetujui.

17.3. PELAKSANAAN
a. Pemasangan lantai keramik dan homogeneus tile
Pemasangan keramik lantai sebaiknya pada tahap akhir, untuk menghindari
kerusakan akibat pekerjaan yang belum selesai. Permukaan lantai yang akan dipasang
keramik maupun Homogeneous Tile/Granit Tile harus bersih, cukup kering dan rata
air. Tentukan tulangan/kepalaan dengan mempertimbangkan tata letak ruangan / lantai
yang ada. Pemasangan keramik lantai dimulai dari tulangan ini. Sebelum dipasang,
keramik lantai agar direndam dalam air terlebih dahulu. Setiap jalur pemasangan
sebaiknya ditarik benang dan rata air. Adukan semen untuk pemasangan keramik harus
penuh, baik permukaan dasar maupun di badan belakang keramik lantai yang
terpasang. Perbandingan adukan dan ketebalan rata – rata yang dianjurkan adalah
Semen : Pasir = 1 : 4, dengan ketebalan rata – rata 2 - 4 cm. Lebar nat yang dianjurkan
untuk lantai adalah 2 - 3 mm kecuali untuk keramik type cuting dan homogeneus tile lebar
nat maximum adalah 1,5 mm, dengan campuran pengisi nat (Grout) bahan khusus
AM 50 dengan warna sama dengan penutup lantaiyang dipasang. Bagi area yang luas
dianjurkan untuk diberi expansion joint. Bersihkan segera bekas adukan dari
permukaan keramik, dapat digunakan bahan pembersih yang ada di pasar dengan kadar
asam tidak lebih dari 5 %, setelah itu segera bersihkan dengan air bersih. Karena sifat
alamiah dari produk keramik, yang disebabkan proses pembakaran pada temperatur
tinggi, dapat terjadi perbedaan warna dan ukuran, untuk ini periksa dan pastikan keramik
lantai yang akan dipasang mempunyai seri dan golongan ukuran yang sama.

b. Pemasangan
Pekerjaan ini harus dilakukan dengan serapi-rapinya oleh tukang yang benar- benar ahli
dan berpengalaman, sesuai dengan petunjuk pabrik bahan yang bersangkutan.

Bab 2 - 40
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

17.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XVIII. PENTUP LANTAI EPOXY SELF LEVELING


18.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini mencakup penyediaan bahan dan pemasangan lantai epoxy pada tempat-tempat
sesuai petunjuk Gambar Kerja serta Spesifikasi Teknis ini.

18.2. STANDAR / RUJUKAN


a. Standar peraturan bahan nasional yang berlaku (SNI)

18.3. PROSEDUR UMUM


a. Contoh Bahan dan Data Teknis Bahan.
Bahan yang dipakai pada pekerjaan ini adalah Polydeckote Es.

b. Pengiriman dan Penyimpanan.


Pengiriman bahan ke lokasi proyek harus terbungkus dalam kemasan pabrik yang belum
dibuka dan dilindungi dengan label/merek dagang yang utuh dan jelas.

18.4. BAHAN – BAHAN


a. Produk yang digunakan adalah Carpark Flooring System setara “POLYDECKOTE ES”
dengan karakteristik fisik bahan sebagai berikut :

ITEM RESULT STANDARD TEST


Compressive Strength >50 N/mm² BS-6319 Part 2
Flexural Strength >30 N/mm² ASTM C-580
Bonding Strength >2,5 N/mm² concrete failure ASTM D-4541
Moisture Tolerant 4% Moisture Meter

b. Area parkir yang menggunakan flooring system Polydeckote PS adalah Parking Lot,
Driveway, dan Ramp dengan masing – masing ketebalan sebagai berikut:

PARKING ZONE THICKNESS FINISH


Parking Lot 0.5 mm Smooth Surface
Driveway & Turning Point +/- 1.0 mm Slip Resistance
Ramp +/- 1.0 mm Slip Resistance

c. Material yang digunakan pada masing-masing area parkir adalah sebagai berikut :
- Parking Lot
Surface Preparation
1st Primer Coat : Polyfloor PFP 241 – 2K SB 0.20 kg/m²
2nd Seal Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.20 kg/m²
3rd Top Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.75 kg/m²

- Driveway & Turning Point


Surface Preparation
1st Primer Coat : Polyfloor PFP 241 – 2K SB 0.20 kg/m²

Bab 2 - 41
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

2nd Top Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.35 kg/m²


Sand Scatter : Sand 30/50 mesh 2,00 kg/m²
3rd Top Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.50 kg/m²
4th Top Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.30 kg/m²

- Ramp
Surface Preparation
1st Primer Coat : Polyfloor PFP 241 – 2K SB 0.20 kg/m²
2nd Top Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.50 kg/m²
Sand Scatter : Sand 20/30 mesh 2,00 kg/m²
3rd Top Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.55 kg/m²
4th Top Coat : Polyfloor PFT 215 – 2K SF 0.45 kg/m²

18.5. INSPEKSI & PERSIAPAN PERMUKAAN


a. Kekuatan Beton: Minimum mutu beton K300 ( 25N/mm² compressive strength)
b. Kerataan permukaan lantai (Concrete Level): Beton yang akan menerima lapisan epoxy
memiliki kerataan yang baik, disarankan deviasi tidak melebihi 5 mm per 3 meter (BS8204:
SR2)
c. Test Kelembaban : Gunakan hygromeer yang sudah dikalibrasi untuk mengecek kelembaban
dalam lantai beton. Tingkat kelembaban tidak boleh melebihi dari 5% atau 75% (RH) relative
humanity.
d. Mekanikal Abrasi: Lakukan grinding atau shot blasting pada permukaan beton yang akan
dilapisi epoxy, vacuum dan bersihkan permukaan agar bebas dari laitance, curing
compounds, debu, grease, minyak dan berbagai kontaminasi lainnya.
e. Area perimeter yang tidak terjangkau oleh mesin grinding, harus disiapkan menggunakan
hand grinding.
f. Memberikan grooving sebagai achor (3mm width, 3mm deep) disetiap perimeter dan dalam
jarak antar 30m2 menggunakan concrete cutter.
g. Beton yang rusak harus diperbaiki terlebih dahulu menggunakan epoxy mortar (PFM 222)
atau berkonsultasi dengan Propan Raya untuk material alternative.

18.6. PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Parking Lot
 Aplikasi lapisan primer Polyfloor PFP 241 – 2K SB pada substrate beton yang sudah
digrinda dan bebas dari kontaminasi kotoran dan minyak, tunggu hingga 12 jam sebelum
melanjutkan ketahap berikutnya.
 Aplikasi seal coat Polyfloor PFT 215 – 2K SF menggunakan squeegee dan rol untuk
meratakan. Tunggu 12 jam (tergantung temperature) sebelum melanjutkan ketahap
berikutnya.
 Aplikasikan top coat Polyfloor PFT 215 – 2K SF menggunakan squeegee dan rol untuk
meratakan. Tunggu hingga kering minimum 24 jam sebelum dipakai untuk traffic pejalan
kaki, 48 jam untuk traffic kendaraan.

b. Driveway
 Aplikasi lapisan primer Polyfloor PFP 241 – 2K SB pada substrate beton yang sudah
digrinda dan bebas dari kontaminasi kotoran dan minyak, tunggu hingga 12 jam sebelum
melanjutkan ketahap berikutnya.
 Aplikasikan Polyfloor PFT 215 – 2K SF pada permukaan Polyfloor PFP 241 – 2K SB yang
sudah kering menggunakan squeeze dan roll. Tunggu beberapa menit setelah material
merata, taburkan pasir silica 30/50 mesh menutupi seluruh permukaan Polyfloor PFT 215
– 2K SF yang masih basah. Biarkan kering estimasi 12 jam (tergantung termperatur)
sebelum melanjutkan ketahap berikutnya.
 Setelah kering, bersihkan pasir yang tidak menempel sempurna menggunakan vacuum.
 Aplikasi Polyfloor PFT 215 – 2K SF menggunakan squeegee dan rol untuk meratakan.
Tunggu 12 jam sebelum melanjutkan ketahap berikutnya.

Bab 2 - 42
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 Aplikasikan top coat Polyfloor PFT 215 – 2K SF menggunakan squeegee dan rol untuk
meratakan. Tunggu hingga kering minimum 24 jam sebelum dipakai untuk traffic pejalan
kaki, 48 jam untuk traffic kendaraan.

c. Ramp
 Aplikasi lapisan primer Polyfloor PFP 241 – 2K SB pada substrate beton yang sudah
digrinda dan bebas dari kontaminasi kotoran dan minyak, tunggu hingga 12 jam sebelum
melanjutkan ketahap berikutnya.
 Aplikasikan Polyfloor PFT 215 – 2K SF pada permukaan Polyfloor PFP 241 – 2K SB yang
sudah kering menggunakan squeeze dan roll. Tunggu beberapa menit setelah material
merata, taburkan pasir silica 20/30 mesh menutupi seluruh permukaan Polyfloor PFT 215
– 2K SF yang masih basah. Biarkan kering estimasi 12 jam (tergantung termperatur)
sebelum melanjutkan ketahap berikutnya.
 Setelah kering, bersihkan pasir yang tidak menempel sempurna menggunakan vacuum.
 Aplikasi Polyfloor PFT 215 – 2K SF menggunakan squeegee dan rol untuk meratakan.
Tunggu 12 jam sebelum melanjutkan ketahap berikutnya.
 Aplikasikan top coat Polyfloor PFT 215 – 2K SF menggunakan squeegee dan rol untuk
meratakan. Tunggu hingga kering minimum 24 jam sebelum dipakai untuk traffic pejalan
kaki, 48 jam untuk traffic kendaraan.

18.7. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XIX. PEKERJAAN FLOOR HARDENER


19.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan, tenaga kerja, peralatan kerja, pemasangan adukan
cair pada pekerjaan – pekerjaan seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja dan / atau petunjuk
Konsultan Pengawas /MK.

19.2. STANDAR / RUJUKAN


American Society for Testing and Materials (ASTM) British Standard (BS)
Peraturan Beton Bertulang Indonesia (NI-2,1971)

19.3. PROSEDUR UMUM


Contoh Bahan dan Data Teknis.
Contoh, brosur dan / atau data teknis bahan yang akan digunakan harus diserahkan
kepada Konsultan Pengawas /MK untuk disetujui terlebih dahulu sebelum didatangkan
ke lokasi.
Pengiriman dan Penyimpanan.
Kantong kemasan asli dari pabrik harus dalam keadaan tertutup rapat dan harus disimpan
dalam gudang yang vukup ventilasinya, tidak terkena air, tidak berubah warna dan tidak
berbongkah serta diletakkan pada tempat yang tingginya 300 mm dari lantai.

19.4. BAHAN - BAHAN


Adukan Encer.
Adukan encer harus dibuat dari bahan dasar semen, dan harus memiliki karakteristik
minimal sebagai berikut :
 Merupakan campuran siap pakai.
 Tahan terhadap pukulan dan getaran

Bab 2 - 43
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

 Jenis non-shrinkage, non-metallic, dan tidak beracun


 Memenuhi standar ASTM C-1107
 Memiliki kuat tekan minimal 610 kg/cm2 pada umur 7 hari, sesuai ASTM C- 109 atau
650 kg/cm2 sesuai BS 1881 part 116. Seperti Produk Mortar Utama, Dry Mix yang
disetujui Konsultan Pengawas /MK dan disetujui oleh Konsultan Perencana.

Air .
Air sebagai bahan pencampur / pengencer harus air yang bersih seperti disyaratkan dalam
Spesifikasi Teknis.
Cetakan / Acuan.
Bahan cetakan / acuan dibuat dari bahan besi pelat atau kayu lapis dengan ketebalan
yang sesuai, yang dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan ukuran dan bentuk yang
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
Cetakan / acuan harus sama pada semua tempat yang menhendaki ukuran dan bentuk
yang sama.

19.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


Persiapan.
Cetakan / acuan harus dibuat sedemikian rupa sehingga adukan encer dapat dialirkan
seluruhnya selama pelaksanaan. Jalan masuk yang baik harus disediakan.
Cetakan / acuan harus duah disiapkan dan bagian yang akan menerima adukan encer
harus dibersihkan dari minyak, gemuk dan segala kotoran lainnya yang akan mengurangi
daya lekat. Debu harus ditiup keluar dari cetakan.
Angkur – angkur, baut pengencang dan pelat landasan harus sudah tepat elevasinya
sebelum penuangan adukan encer.

Cuaca.
Cuaca pada saat akan melaksanakan pekerjaan ini harus sesuai dengan persyaratan
dari pabrik pembuat adukan encer bersangkutan.

Campuran Adukan Encer.


Perbandingan campuran antara bahan adukan encer dengan air sesuai petunjuk dari
pabrik pembuat.
Pencampuran harus dilakukan dengan cara mekanis, dengan alat pencampur bertenaga
atau tangkai pengaduk yang sesuai yang dipasang pada mesin bor kecepatan rendah.

Pelaksanaan.
Adukan encer dapat dituangkan atau dipompakan ke dalam cetakan / acuan atau
sesuai petunjuk pabrik pembuat. Penggetaran halus akan memperlancar aliran.

Penggunaan tali atau rantai akan memperlancar aliran pada bagian yang berjarak lebih
dari 100 cm (gerakan menggergaji dari tali atau rantai melancarkan aliran adukan encer
– cara ini harus dilakukan sedemikian rupa agar tidak terbentuk ruang kosong).

Aliran adukan encer harus tetap terjaga sampai adukan encer mengisi rongga cetakan
dan telah memenuhi seluruh panjang cetakan pada sisi lainnya. Penempatan adukan
encer harus dilakukan dari salah satu sisi saja.

19.6. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

Bab 2 - 44
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

XX. PEKERJAAN PENGECATAN


20.1. KETERANGAN
Pekerjaan ini mencakup semua pekerjaan yang berhubungan dan seharusnya dilaksanakan
dalam pengecatan dengan bahan-bahan emulsi, enamel, politur/teak oil, cat dasar,
pendempulan, baik yang dilaksanakan sebagai pekerjaan permulaan, ditengah-tengah dan
akhir. Yang dicat adalah semua permukaan baja/besi, kayu, plesteran tembok dan beton,
dan permukaan-permukaan lain yang disebut dalam gambar dan RKS.
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, tenaga dan semua peralatan yang diperlukan
untuk pekerjaan ini.

20.2. STANDAR / RUJUKAN


 Steel Structures Painting Council (SSPC).
 Swedish Standard Institution (SIS).
 British Standard (BS).
 Petunjuk pelaksanaan dari pabrik pembuat.

20.3. BAHAN
a. Umum.
1. Cat harus dalam kaleng/kemasan yang masih tertutup patri/segel, dan masih jelas
menunjukkan nama/merek dagang, nomor formula atau Spesifikasi cat, nomor takaran
pabrik, warna, tanggal pembuatan pabrikpetunjuk dari pabrik dan nama pabrik
pembuat, yang semuanya harus masih absah pada saat pemakaiannya. Semua
bahan harus sesuai dengan Spesifikasi yang disyaratkan pada daftar cat. Pemakaian
bahan-bahan pengering atau bahan- bahan lainnya tanpa persetujuan Pengawas tidak
diperbolehkan. Selambat-lambatnya sebulan sebelum pekerjaan pengecatan dimulai,
Kontraktor harus mengajukan daftar tertulis dari semua bahan yang akan dipakai untuk
disetujui oleh Konsultan Pengawas Lapangan/MK. Konsultan Pengawas Lapangan/MK
berhak menguji contoh-contoh sebelum memberikan persetujuan.
Untuk menetapkan suatu standar kualitas, disyaratkan bahwa semua cat yang
dipakai harus berdasarkan/mengambil acuan pada cat-cat hasil produksi Jotun,
Nippon Paint.

b. Cat Dasar.
Cat dasar yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut atau setara :
- Water-based sealer untuk permukaan pelesteran, beton, papan gipsum dan panel
kalsium silikat.
- Masonry sealer untuk permukaan pelesteran yang akan menerima cat akhir berbahan
dasar minyak.
- Wood primer sealer untuk permukaan kayu yang akan menerima cat akhir berbahan
dasar minyak.
- Solvent-based anti-corrosive zinc chomate untuk permukaan besi/baja.

c. Undercoat.
Undercoat digunakan untuk permukaan bidang baru yang belum pernah dicat
sebelumnya.

d. Cat Akhir.
Cat akhir yang digunakan harus sesuai dengan daftar berikut, atau yang setar :
- Emulsion untuk permukaan interior pelesteran, beton, papan gipsum dan panel
kalsium silikat.
- Emulsion khusus untuk permukaan eksterior pelesteran, beton, papan gipsum
dan panel kalsium silikat.
- High quality solvet-based high quality gloss finish untuk permukaan interior pelesteran
dengan cat dasar masonry sealer, kayu dan besi/baja.
- Khusus untuk bagian luar yang tidak terlindung atap dipakai jenis

Bab 2 - 45
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Weathershield

20.4. PELAKSANAAN
a. Pelaksanaan Pekerjaan
Pembersihan, Persiapan dan Perawatan Awal Permukaan.
1. Umum.
- Semua peralatan gantung dan kunci serta perlengkapan lainnya, permukaan
polesan mesin, pelat, instalasi lampu dan benda-benda sejenisnya yang
berhubungan langsung dengan permukaan yang akan dicat, harus dilepas, ditutupi
atau dilindungi, sebelum persiapan permukaan dan pengecatan dimulai.
- Pekerjaan harus dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dalam bidang
tersebut.
- Permukaan yang akan dicat harus bersih sebelum dilakukan persiapan permukaan
atau pelaksanaan pengecatan. Minyak dan lemak harus dihilangkan dengan
memakai kain bersih dan zat pelarut/pembersih yang berkadar racun rendah dan
mempunyai titik nyala diatas 38oC.
- Pekerjaan pembersihan dan pengecatan harus diatur sedemikian rupa sehingga
debu dan pecemar lain yang berasal dari proses pembersihan tersebut tidak jauh
diatas permukaan cat yang baru dan basah.
2. Permukaan Pelesteran dan Beton.
Permukaan pelesteran umumnya hanya boleh dicat sesudah sedikitnya selang waktu
4 (empat) minggu untuk mengering di udara terbuka. Semua pekerjaan pelesteran
atau semen yang cacat harus dipotong dengan tepi- tepinya dan ditambal dengan
pelesteran baru hingga tepi-tepinya bersambung menjadi rata dengan pelesteran
sekelilingnya.
Permukaan pelesteran yang akan dicat harus dipersiapkan dengan menghilangkan
bunga garam kering, bubuk besi, kapur, debu, lumpur, lemak, minyak, aspal, adukan
yang berlebihan dan tetesan-tetesan adukan. Sesaat sebelum pelapisan cat dasar
dilakukan, permukaan pelesteran dibasahi secara menyeluruh dan seragam dengan
tidak meninggalkan genangan air. Hal ini dapat dicapai dengan menyemprotkan air
dalam bentuk kabut dengan memberikan selang waktu dari saat penyemprotan
hingga air dapat diserap.

3. Permukaan Gypsum.
Permukaan gipsum harus kering, bebas dari debu, oli atau gemuk dan permukaan
yang cacat telah diperbaiki sebelum pengecatan dimulai.
Kemudian permukaan gipsum tersebut harus dilapisi dengan cat dasar khusus
untuk gipsum, untuk menutup permukaan yang berpori.
Setelah cat dasar ini mengering dilanjutkan dengan pengecatan sesuai ketentuan
Spesifikasi ini.

4. Permukaan Kayu.
Permukaan kayu harus bersih dari minyak, lemak dan serbuk kayu gergajian, sisa
pengamplasan serta kotoran lainnya, sebelum pelapisan cat dimulai.

5. Permukaan Barang Besi /Baja.


 Besi/Baja Baru.
Permukaan besi/baja yang terkena karat lepas dan benda-benda asing lainnya
harus dibersihkan secara mekanis dengan sikat kawat atau penyemprtan pasir/sand
blasting sesuai standar Sa21/2.
Semua debu, kotoran, minyak, gemuk dan sebagainya harus dibersihkan dengan
zat pelarut yang sesuai dan kemudian dilap dengan kain bersih.
Sesudah pembersihan selesai, pelapisan cat dasar pada semua permukaan
barang besi/baja dapat dilakukan sampai mencapai ketebalan yang disyaratkan.
 Besi/Baja Dilapis Dasar di Pabrik/Bengkel.
Bahan dasar yang diaplikasikan di pabrik/bengkel harus dari merek yang sama

Bab 2 - 46
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

dengan cat akhir yang akan diaplikasikan dilokasi proyek dan memenuhi
ketentuan dalam butir 4.2. dari Spesifikasi Teknis ini.
Barang besi/baja yang telah dilapis dasar di pabrik/bengkel harus dilindungi
terhadap karat, baik sebelum atau sesudah pemasangan dengan cara segera
merawat permukaan karat yang terdeteksi.
Permukaan harus dibersihkan dengan zat pelarut untuk menghilangkan debu,
kotoran, minyak, gemuk.
Bagian-bagian yang tergores atau berkarat harus dibersihkan dengan sikat kawat
sampai bersih, sesuai standar St 2/SP-2, dan kemudian dicat kembali (touch-
up) dengan bahan cat yang sama dengan yang telah disetujui, sampai mencapai
ketebalan yang disyaratkan.
 Besi/Baja Lapis Seng/Galvanized.
Permukaan besi/baja berlapis seng/galvanized yang akan dilapisi cat warna
harus dikasarkan terlebih dahulu dengan bahan kimia khsus yang diproduksi untuk
maksud tersebut, atau disikat dengan sikat kawat. Bersihkan permukaan dari
kotoran-kotoran, debu dan sisa-sisa pengasaran, sebelum pengaplikasian cat
dasar.

b. Selang Waktu Antara Persiapan Permukaan dan Pengecatan.


Permukaan yang sudah dibersihkan, dirawat dan/atau disiapkan untuk dicat harus
mendapatkan lapisan pertama atau cat dasar seperti yang disayaratkan, secepat mungkin
setelah persiapan-persiapan di atas selesai. Harus diperhatikan bahwa hal ini harus
dilakukan sebelum terjadi kerusakan pada permukaan yang sudah disiapkan di atas.

c. Pelaksanaan Pengecatan.
Umum.
- Permukaan yang sudah dirapikan harus bebas dari aliran punggung cat, tetesan
cat, penonjolan, pelombang, bekas olesan kuas, perbedaan warna dan tekstur.
- Usaha untuk menutupi semua kekurangan tersebut harus sudah sempurna dan semua
lapisan harus diusahakan membentuk lapisan dengan ketebalan yang sama.
- Perhatian khusus harus diberikan pada keseluruhan permukaan, termasuk bagian
tepi, sudut dan ceruk/lekukan, agar bisa memperoleh ketebalan lapisan yang sama
dengan permukaan-permukaan di sekitarnya.
- Permukaan besi/baja atau kayu yang terletak bersebelahan dengan permukaan yang
akan menerima cat dengan bahan dasar air, harus telah diberi lapisan cat dasar
terlebih dahulu.

Proses Pengecatan.
- Harus diberi selang waktu yang cukup di antara pengecatan berikutnya untuk
memberikan kesempatan pengeringan yang sempurna, disesuaikan dengan kedaan
cuaca dan ketentuan dari pabrik pembuat cat dimaksud.
Penecatan harus dilakukan dengan ketebalan minimal (dalam keadaan cat kering),
sesuai ketentuan berikut.
a. Permukaan Interior Pelesteran, Beton, Gipsum.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis water-based sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan emulsion.

b. Permukaan Eksterior Pelesteran, Beton.


Cat Dasar : 1 (satu) lapis water-based sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan emulsion khusus eksterior
/Weathersield.
c. Permukaan Interior dan Eksterior Pelesteran dengan Cat Akhir Berbahan
Dasar Minyak.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis masonry sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high
quality gloss finish.

Bab 2 - 47
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

d. Permukaan Kayu
Cat Dasar : 1 (satu) lapis wood primer sealer.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high
quality gloss finish.
e. Permukaan Besi/Baja.
Cat Dasar : 1 (satu) lapis solvent-based anti-corrosive zinc
chromate primer.
Undercoat : 1 (satu) lapis undercoat.
Cat Akhir : 2 (dua) lapisan high quality solvent-based high
quality gloss finish.

Penyimpanan, Pencampuran dan Pengenceran.


- Pada saat pengerjaan, cat tidak boleh menunjukkan tanda-tanda mengeras, membentuk
selaput yang berlebihan dan tanda-tanda kerusakan lainnya.
- Cat harus diaduk, disaring secara menyeluruh dan juga agar seragam konsistensinya
selama pengecatan.

- Bila disyaratkan oleh kedaan permukaan, suhu, cuaca dan metoda pengecatan,
maka cat boleh diencerkan sesaat sebelum dilakukan pengecatan dengan mentaati
petunjuk yang diberikan pembuat cat dan tidak melebihi jumlah 0,5 liter zat pengencer
yang baik untuk 4 liter cat.
- Pemakaian zat pengencer tidak berarti lepasnya tanggung jawab kontraktor untuk
memperoleh daya tahan cat yang tinggi (mampu menutup warna lapis di bawahnya).

Metode Pengecatan.
- Cat dasar untuk permuakaan beton, plesteran, gypsum board diberikan dengan
kuas dan lapisan berikutnya boleh dengan kuas atau rol.
- Cat dasar untuk permukaan papan gipsum deberikan dengan kuas dan dan lapisan
berikutnya boleh dengan kuas atau rol.
- Cat dasar untuk permukaan kayu harus diaplikasikan dengan kuas dan lapisan
berikutnya boleh dengan kuas, rol atau semprotan.
- Cat dasar untuk permukaan besi/baja diberikan dengan kuas atau disemprotkan
dan lapisan berikutnya boleh menggunakan semprotan.

d. Pemasangan Kembali Barang-barang yang dilepas.


Sesudah selesainya pekerjaan pengecatan, maka barang-barang yang dilepas harus
dipasang kembali oleh pekerja yang ahli dalam bidangnya.

e. Pengerjaan melamin
Permukaan kayu yang dipertahankan corak naturalnya seperti yang dijelaskan dalam
gambar atau keterangan lainnya (daun pintu, Clading Teakwood, Nurse station counter,
dll sesuai gambar rencana) dimelamin dengan bahan dari produk yang baik.
Pekerjaan harus dilakukan oleh tukang yang ahli dan berpengalaman. Bagian yang
akan dimelamin harus benar-benar bersih dan kering. Bagian yang retak harus ditutup
dulu dengan dempul yang khusus untuk melamin. Sebelum pengecatan dimulai kayu
harus digosok dulu dengan batu kambang sampai rata kemudian dihaluskan dengan
ampelas.
Pengecatan dilakukan setelah permukaan kayu benar-benar telah bersih dan kering.
Tingkat lapisan melamin yang dikehendaki adalah dof.

f. Pekerjaan Epoxy untuk Pengecatan Dinding


Sebelum dilakukan pekerjaan finishing dinding dengan cat Epoxy prosedur dan persiapan
yang harus dilakukan adalah permukaan dinding. Untuk mendapatkan permukaan yang
benar-benar rata permukaan dinding harus dempul yang khusus untuk epoxy. Pekerjaan
ini harus dilakukan berulangkali untuk mendapatkan permukaan yang benar-benar rata
dan mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas /MK. Setelah permukaan benar-benar
rata dan kering barulah pekerjaan pelapisan dengan Epoxy bisa dimulai setelah

Bab 2 - 48
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

mendapatkan persetujuan pengawas. Pengecatan dilakukan sesuai prosedur produk yang


dipakai sampai memperoleh ketebalan 150 mikron. Pertemuan plafon dengan dinding
harus melengkung dengan R. Minimal 10 cm dan permukaan tidak boleh ada celah atau
pemutusan permukaan. Pelaksanaan pekerjaan ini harus dilakukan oleh tukang yang
berpengalaman dan yang telah direkomendasi oleh pabrik.

20.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XXI. PEKERJAAN PERABOT TETAP DAN KELENGKAPAN INTERIOR LAINNYA


21.1. PEKERJAAN PERABOT TETAP
21.1.1. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini mencakup semua pekerjaan fixed furniture ditunjukkan dalam gambar,
meja counter, Panel, dll sesuai gambar rencana. Pekerjaan ini, meliputi penyediaan
alat, bahan dan tenaga untuk keperluan.

21.1.2. STANDAR / RUJUKAN


Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (NI-5, 1961)
Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (SK SNI S-04-1989-F) Standar Konstruksi
Bangunan Indonesia (SKBI)
- SKBI-4.3.53.1987 – Spesifikasi Kayu Awet untuk Perumbahan dan Gedung.
Standar Nasional Indonesia (SNI)
- SNI 03-3233-1998 – Tata Cara Pengawetan Kayu untuk Bangunan Rumah dan
Gedung.
- SNI 01-2704-1999 – Kayu Lapis Penggunaan Umum, Mutu.

21.1.3. PROSEDUR UMUM


Contoh Bahan.
- Contoh bahan harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan/MK untuk
disetujui terlebih dahulu sebelum pengadaan dan pelaksanaan pekerjaan.
- Semua kayu dan kayu lapis dan papan harus berasal dari pemasok yang
dikenal yang dapat menjamin kualitas dan kadar air yang diminta.

Pengiriman dan Penyimpanan.


- Pekerjaan ini harus didatangkan ke lokasi dalam kondisi terbaik, dibungkus
dengan bahan pelindung untuk mencegah kerusakan, disimpan dalam gudang
tertutup yang memiliki ventilasi, terlindung dari perubahan cuaca dan
kelembaban.
- Pekerjaan ini dengan permukaan cacat, retak, rusak dan cacat lainnya tidak
boleh dipasang dan harus diganti dengan yang sesuai ketentuan.

Kualitas Pekerjaan.
- Semua pekerjaan ini harus dikerjakan oleh perusahaan yang memiliki
spesialisasi dalam pekerjaan ini selama minimal 10 tahun dan dengan hasil
yang memuaskan.
- Hanya pekerja yang benar – benar ahli untuk pekerjaan ini yang boleh

Bab 2 - 49
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

dipekerjakan, dan yang benar – benar mengenal dengan baik semua ketentuan
- ketentuan yang disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis ini.

21.2. BAHAN – BAHAN


Kayu dan Kayu Lapis.
- Semua kayu lapis interior untuk penyelesaian transparan harus mempunyai warna dan
serat kayu yang seragam, bebas dari goresan, retakan dan noda – noda dan kedua
permukaannya teramplas rata.
Kayu lapis yang telah diawetkan di pabrik, harus memiliki kekuatan rekat yang tahan
terhadap air dan cuaca. Mutu keawetan kayu lapis tidak boleh kurang dari yang telah
ditetapkan. Kayu lapis harus memiliki venir muka dan belakang berkualitas sama, dari mutu
IBB atau IAA standar SNI 01-2704-1999, dan berasal dari merek dagang yang dikenal baik
serta terdiri dari jenis berikut :
- Kayu lapis biasa
- Kayu lapis dari jati (teakwood)
- Kayu lapis yang terdiri dari pecahan – pecahan atau bahan – bahan sisa pada bagian
tengahnya tidak boleh digunakan.
- Jumlah minimal lapisan untuk kayu lapis harus terdiri 3 lapis untuk tebal 4 sampai dengan
6 mm, 4 lapis untuk tebal 9 sampai dengan 15 mm dan 7 lapis untuk tebal 18 sampai
dengan 25 mm, sesuai ketentuan SNI 01-2704-1999.
- Kayu lapis yang akan digunakan harus memiliki ketebalan sesuai petunjuk Gambar Kerja
dan digunakan pada tempat – tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
Alat Pengencang.
Semua alat pengencang yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini, seperti paku, sekrup,
baut, angkur dan lainnya harus dari baja lapis galban / seng dalam ukuran sesuai
petunjuk Gambar Kerja atau sesuai kebutuhan standar yang berlaku.
Laminasi.
Laminasi dengan tebal minimum 0.8 mm dengan proses HPL (High Pressure Laminated)
harus tahap terhadap panas dan memiliki warna serta corak yang akan ditentukan
kemudian, seperti buatan Formica, Resopal, Supreme Decoluxe.
Perekat.
Semua lem dan perekat yang digunakan harus dari jenis kedap air, seperti produk
neoprene based / synthetic resin based seperti FOX atau yang setara.

21.3. PELAKSANAAN PEKERJAAN


Ukuran dan Pola.
Kayu harus diselesaikan / diratakan pada empat sisinya. Ukuran kayu harus sesuai
persyaratan PKKI (NI-5, 1996).
Kayu harus dikerjakan sesuai dengan pola / desain yang ditentukan dalam Gambar
Kerja.

Pengawetan.
Semua jenis kayu dan kayu lapis yang dipasang tetap dalam bangunan atau struktur
harus sudah diberi bahan pengawet.
Bila kayu yang telah diawetkan dipotong, maka bagian permukaan yang dipotong
tersebut harus diulas dengan bahan pengawet yang sama.

Pengerjaan.
Pekerjaan kayu yang telah selesai harus diamplas, bebas dari bekas mesin dan alat,
kikisan, serta kayu yang timbul atau cacat lain di permukaan yang terlihat. Sambungan
harus rapat sedemikian rupa untuk mencegah penyusutan. Sambungan pasak harus
disetel dengan lem dan diberi baji dan untuk pekerjaan interior harus disemat.

Lapisan Pelindung.
Penyelesaian untuk semua permukaan kayu harus menggunakan cat duko atau melamic
sesuai ketentuan gambar perencanaan. Lapisan pelindung untuk meja (top

Bab 2 - 50
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Table/counter top) menggunakan pelapisan dengan HPL (High Pressure Laminated)

Perbaikan Pekerjaan yang Tidak Sempurna.


Bila diketahui pekerjaan – pekerjaan kayu tersebut menjadi mengkerut atau bengkok,
atau kelihatan ada cacat – cacat lainnya pada pekerjaan kayu halus sebelum masa
pemeliharaan berakhir maka pekerjaan yang cacat tersebut harus dibongkar dan diganti
hingga Konsultan Pengawas /MKmerasa puas dan pekerjaan – pekerjaan lainnya yang
terganggung akibat pembongkaran tersebut harus dibetulkan atas biaya Kontraktor.

Susut (Mengkerut).
Persiapan, penyambungan dan pemasangan semua pekerjaan kayu halus sedemikian
rupa, hingga susut di bagian mana saja dan ke arah manapun tidak akan mengurangi /
mempengaruhi kekuatan dan bentuk dari pekerjaan kayu yang sudah jadi. Juga tidak
menyebabkan rusaknya bahan – bahan yang bersentuhan.
Pembersihan.
Semua tatal, puntung kayu dan kayu bekas harus dibersihkan secara teratur dan pada
waktu penyelesaian pekerjaan.
Semua bekas yang sudah tidak dapat digunakan lagi dan sampah – sampah harus
disingkirkan dan dimusnahkan.

21.4. PEKERJAAN KELENGKAPAN INTERIOR LAINNYA


1) Vertical Blind
Vertical blind digunakan sebagai penutup jendela area publik : main hall/lobby, koridor
produk TOSO, Soraton.
1) Buka tutup dengan sistem satu kontrol (magic pole system)
2) Bahan / fabric blind type Afrimac, New Eclise atau setara

2) Roller Blind
Roller Blind digunakan sebagai penutup jendela masing – masing ruang kerja staff /
karyawan produk TOSO, Soraton atau setara.
1) Buka tutup dengan sistem Spring Type
2) Bahan / fabric blind type HLB – 11, Primera atau setara

3) Papan nama ruang (signage)


Kecuali disebutkan lain dalam gambar seluruh papan nama ruang menggunakan bahan
acrylic putih ketebalan 4 mm sebagai dasar serta plastic laminated / sticker untuk huruf
atau nama ruang. Warna huruf akan ditentukan kemudian.

21.5. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.
Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XXII. PEKERJAAN ALAT-ALAT SANITAIR


22.1. KETERANGAN
Bagian ini mencakup semua pekerjaan sanitair dan yang berhubungan seperti ditunjukkan
dalam gambar, meliputi penyediaan bahan, tenaga dan alat yang diperlukan.

22.2. BAHAN
a. Water Closet dan Wastafel
Barang-barang yang akan dipakai adalah sebagai berikut :
1. Water Closet Duduk

Bab 2 - 51
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

Bahan porselen, produk dalam negeri (setara TOTO type CW 688 J/ SW 668 J,
American Standar, Triliunware), lengkap dengan stop kran dan peralatan lain (warna
standard).

2. Water Closet Jongkok


Bahan porselen, warna standar produk dalam negeri (setara TOTO type CE 6,
American Standar, Triliunware), lengkap dengan stop kran dan peralatan lain (warna
standard).

3. Wastafel
 Wastafel Gantung (Wall Hung) lengkap dengan kran, siphon, warna standar produk
dalam negeri (setara TOTO tipe LW 246 J, American Standar, Triliunware), lengkap
dengan keran, siphon dan perlengkapan lainnya (warna standard).
4. Sink dapur (TOTO, American Standar, Triliunware)
Semua wastafel dan Sanitary yang lainnya sudah lengkap dengan keran, siphon
dan perlengkapan lainnya yang diperlukan.

5. Urinoir (Type Moslem)


Setara Toto type U370M, American Standar, Triliunware. Semua Urinoir sudah lengkap
dengan keran, siphon dan perlengkapan lainnya yang diperlukan.

6. Sekat Urinoir
Toto type A100

b. Keran, Floor Drain, Dll (ex. Toto, American Standar, Triliunware)


1. Keran air (TOTO type TX 1 BN, American Standar, Triliunware)
2. Floor Drain (TOTO type square flange TX 1BN, American Standar, Triliunware)
3. Paper Holder (TOTO type TX 703 AESV1, American Standar, Triliunware)
4. Shower Spray (TOTO type TX 423 SMCR, American Standar, Triliunware)
8. Shop Holder (TOTO type S156N, American Standar, Triliunware)
9. Shower TX. 432 SD, American Standar, Triliunware
c. Barang-barang yang akan dipasang harus benar-benar mulus dan tidak cacat sedikitpun.
Kontraktor harus mengajukan contoh-contoh untuk disetujui oleh Pengawas bersama
dengan Konsultan Perencana.

22.3. PELAKSANAAN
Pemasangan semua peralatan/perlengkapan saniter harus dilakukan oleh ahli pemasangan
barang sanitair yang berpengalaman. Pengerjaan harus dilakukan dengan hati-hati dan
sangat rapi.
a. Semua sambungan harus kedap air dan udara. Bahan penutup sambungan tidak
diijinkan.
Cat, vernis, dempul dan lainnya tidak diijinkan dipasang pada bidang-bidang
pertemuan sambungan sampai semua sambungan dipasang kuat dan diuji.
Semua saluran ekspos ke perlengkapan sanitasi harus diselesaikan sedemikian rupa
sehingga tampak bersih dan rapih dan sesuai ketentuan Gambar Kerja dan petunjuk
pemasangan dari pabrik pembuat.
b. Pemipaan dari perlengkapan sanitasi ke pipa distribusi utama harus dilaksanakan sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis.
c. Bak cuci tangan tipe dinding ahrus dipasang sedemikian rupa sehingga puncak bagian
luar alat-alat tersebut berada 800mm di atas lantai, kecuali bila ditunjukkan lain dalam
Gambar Kerja.
Bak cuci tangan tipe pemasangan di meja harus dipasang pada ketinggian sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja.
d. Bak cuci dari bahan stainless steel harus dipasang sedemikian rupa pada meja/kabinter
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
e. Urinoir harus dipasang sedemikian rupa sehingga puncak tepi bagian depan alat ini
berada 530mm diatas lantai untuk orang dewasa dan 330mm untuk anak-anak, atau

Bab 2 - 52
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.


f. Sistem penumpu dan penopang harus sesuai dengan rekomendasi dari pabrik pembuat
perlengkaan sanitasi atau sesuai persetujuan Pengawasan Lapangan.
g. Pemanas air dengan tenaga listrik harus dipasang sesuai petunjuk pemasangan dari
pabrik pembuatnya, pada tempat-empat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja, dan
pekerjaan elektrikal harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis.
h. Pemasangan alat-alat sanitair lain
Kaca cermin dan tempat alat-alat pada wastafel harus dipasang sipat datar dan
diskrupkan pada dinding. Barang-barang yang akan dipakai harus tidak bercacat
sedikitpun. Floor drain harus dipasang dengan saringannya, dan dipasang rapih. Semua
sela-sela antara floor drain dengan lantai, harus diisi dengan adukan 1 Pc : 2 Ps.
Pasangan harus sedemikian sehingga bidang atas floor drain rata dan sebidang dengan
bidang lantai.
Paper holder hanya dipasang pada toilet yang closetnya duduk. Tempat sabun hanya
dipasang pada toilet yang ada bak airnya saja. Tinggi pemasangan pada dinding 100 cm di
atas lantai.

22.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang
sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XXIII. PEKERJAAN WATERPROOFING COATING


23.1. LINGKUP PEKERJAAN
1). Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu untuk melaksanakan
pekerjaan ini sehinga didapat hasil pekerjaan yang baik dan sempurna.
2). Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan pemasangan waterprofing pada area
SYSTEM COATING.

23.2. PERSYARATAN BAHAN


1). Bahan harus sesuai dengan standard yang ditentukan oleh pabrik dan standard- standard
lainnya, seperti ASTM D412, ASTM D624, ASTM D2240, ASTM D1002, ASTM C502,
ASTM E96, dll.
2). Bahan waterproofing dari jenis Non ekspose.
3). Bahan adalah liquid applied waterproofing coating semen base (cementitious) dua
komponen yang terbuat dari Polimer/Resin Latex dan semen yang dicampur jadi satu
dengan komposisi tertentu. Kuat tarik bahan minimal 16 kgf/cm², elongasi/elastisitas 143%
dan modulus elastisitas 13,5 kgf/cm² dan puncture 9 kgf, serta memiliki Water Vapor
transmission yang cukup untuk mencegah terjadinya gelembung udara pada material
setelah pemasangan.
4). Jenis bahan yang digunakan produk Propan, Fosroc, Pentens
5). Bahan harus menggunakan lapisan dasar/primer dengan dosis sebanyak 0,2 kg/m2,
dicampur air dengan perbandingan 1:3
6). Komposisi pemakaian adalah 2 Kg material waterproofing untuk 1 m2 per lapisan coating
sebanyak 2 kali coating.
7). Semua bahan yang terdiri atas 2 komponen harus dicampurkan sesuai dengan proporsi
berat/volume yang sudah ditentukan oleh pabrikan

23.3. PERSYARATAN PELAKSANAAN


1). Persiapan Permukaan.
a). Permukan plat beton yang akan diberi lapisan waterprofing harus benar- benar bersih,
Bab 2 - 53
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

bebas dari minyak, debu serta tonjolan-tonjolan tajam yang permanen dari tumpahan
atau cipratan adukan dan dalam kondisi kering (baik dalam arti kata kering leveling
screed maupun kering permukaan) serta beton berumur minimum 28 hari.
b). Semua pertemuan 90° atau sudut yang lebih tajam harus dibuat tumpul, yaitu penutup
sepanjang sudut tersebut dengan adukan ex PENTENS T-805 Non-Shrink Grout /
setara atau seperti tercantum dalam gambar kerja.

2). Lapisan Waterproofing


a). Permukaan beton yang akan dipasang waterproofing harus dalam keadaan kering,
bebas dari kotoran dan debu.
b). Aplikasi lapisan dasar (Primer) di atas beton yang sudah bersih dengan menggunakan
kuas/roll, setelah tenggang waktu ± 30 (tigapuluh) menit dilanjutkan dengan aplikasi
waterproofing.
c). Suhu substrat minimum pada saat aplikasi adalah 5ºC. Campur lalu aduk terlebih
dahulu bahan waterproofing secara menyeluruh sebelum digunakan.
d). Bahan waterproofing yang sudah dicampur dikuaskan/roll di atas permukaan beton
sebagai lapisan pertama dengan dosis 1 kg/m2
e). Pekerjaan coating yang ke dua dilakukan setelah tenggang waktu ± 4 (empat) jam dari
pekerjaan pertama dengan dosis 1 kg/m2 dengan arah berlawanan dari lapisan
pertama.
f). Aplikasi waterproofing area vertikal dinding (upstand) minimal 30cm dari lantai.
g). Waterproofing yang sudah terpasang tidak boleh terinjak-injak apalagi oleh sepatu atau
alas kaki yang tajam. Penyedia jasa harus melindungi dan melokalisir daerah yang
sudah terpasang waterproofing ini hingga dilanjutkan dengan pekerjaan finishing
seperti screed atau pemasangan keramik.

3). Jaminan Mutu dan Garansi


a). Setelah semua pemasangan lapisan waterproofing dan sebelum palaksanaan lapisan
pelindung, Penyedia jasa harus melaksanakan pengujian kebocoran (test rendam)
terutama untuk permukaan horizontal plat beton. Cara pengujian adalah dengan
menuangkan air ke area yang tertutup lapisan waterproofing hingga ketinggian air
minimum 50 mm dan dibiarkan selama 3 x 24 jam. Beri tanda bagian-bagian yang tidak
sempurna atau bocor lalu lakukan perbaikan dengan cara memotong area yang tidak
sempurna atau bocor, lalu lakukan pemasangan ulang seperti pada sub bab nomor 2
di atas.
b). Penyedia jasa wajib mengadakan pengamanan dan perlindungan terhadap
pemasangan yang telah dilakukan, terhadap kemungkinan pergeseran, lecet
permukaan atau kerusakan lainnya. Apabila terdapat kerusakan yang disebabkan oleh
kelalaian Penyedia jasa baik pada waktu pekerjaan ini dilaksanakan maupun pada saat
pekerjaan telah selesai, maka Penyedia jasa harus mengganti bagian yang rusak
tersebut sampai dinyatakan dapat diterima oleh Pengguna Jasa/MK. Biaya yang timbul
untuk pekerjaan perbaikan ini adalah tanggung jawab Penyedia Jasa.
c). Garansi. Penyedia jasa harus memberikan jaminan tertulis terhadap pekerjaan
pemasangan waterproofing ini selama jangka waktu 10 (sepuluh) tahun.
d). Data Sheet dan Safety. Penyedia jasa harus memasukkan Technical Data Sheet
material yang akan diajukan beserta MSDS dan contoh material/sampel untuk
persetujuan Pengguna Jasa/Perencana/MK serta sertifikat-sertifikat dan hasil uji
material terkait. Apabila diperlukan, Pengguna Jasa/Perencana/MK dapat meminta uji
coba contoh/mock up produk yang akan digunakan. Hal-hal lain menyangkut teknis
produk, Pengguna Jasa/MK ataupun penyedia jasa dapat menghubungi Pabrikan

23.4. PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN.


Semua pekerjaan harus dengan mudah dapat diperiksa dan diuji. Kontraktor setiap waktu harus
memberi kemudahan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk dapat mengambil contoh pada
bagian yang telah diselesaikan.

Bagian yang ditemukan tidak memuaskan harus diperbaiki dan dikerjakan dengan cara yang

Bab 2 - 54
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

sama dengan sebelumnya tanpa biaya tambahan dari Pemilik Proyek.

XXIV. PEKERJAAN PENUTUP ATAP METAL


24.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, alat-alat dan bahan serta pengangkutan dan
pemasangan penutup atap metal berikut perlengkapannya, seperti seperti ditunjukkan dalam
Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.

24.2. PROSEDUR UMUM


24.2.1. Contoh Bahan dan Data Teknis.
Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan yang dilengkapi dengan data teknis
dan/atau brosur, dan contoh warna, untuk disetujui terlebih dahulu oleh Manajer
Proyek, sebelum melakukan pemesanan dan pembelian atau mendatangkannya ke
lokasi.

24.2.2. Gambar Detail Pelaksanaan.


Sebulan sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor harus menyerahkan Gambar
Detail Pelaksanaan yang dilengkapi dengan data-data seperti tersebut berikut:
 Spesifikasi bahan,
 Dimensi bahan,
 Modul pemotongan dan pemasangan,
 Detail pemasangan dan pengencangan,
 Detail penyelesaian bukaan atap atau dinding,
 Detail-detail lain yang diperlukan,
untuk disetujui terlebih dahulu oleh Manajer Proyek.

24.2.3. Penyimpanan
Bahan penutup atap metal harus disimpan dalam keadaan tetap kering, tidak boleh
berhubungan dengan tanah/lantai dan ditempatkan dalam tempat beratap.
Bila terpaksa disimpan di tempat terbuka, bahan-bahan tersebut harus diselimuti
dengan terpal atau plastik untuk mencegah masuknya air hujan/embun ke dalam. Air
yang masuk dapat menimbulkan cacat terhadap permukaan bahan metal akibat
terjadinya kondensasi.
Bahan penutup atap metal harus ditumpuk dengan bagian luar tetap menghadap ke
atas.

24.3. BAHAN - BAHAN


24.3.1. Penutup Atap Metal

1. Penutup atap metal dibuat dari bahan lembaran metal bergelombang yang
diberi lapisan seng dan aluminium (zincalume) dengan sistem pelapisan celup
panas menerus (continuous hot dip method) yang memenuhi standar AS 1397
dan diberi lapisan akhir Pelangi, seperti Kharisma Indodek produksi PT
BlueScope Lysaght Indonesia, Union atau Mahaspam atau yang
setara yang disetujui Manajer Proyek, dalam warna sesuai Skema Warna.
2. Lembaran metal bergelombang tersebut harus memiliki tebal metal dasar
(base metal thickness) 0,40mm.
3. Bentuk gelombang harus sama dan tidak berubah sepanjang lembaran metal.
4. Mutu baja lembaran metal bergelombang harus memenuhi nilai tegangan
leleh minimal 5500kg/cm².

Bab 2 - 55
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

24.3.2. Penutup Bubungan dan Lembaran Pelindung / Flashing

Penutup bubungan dan lembaran pelindung untuk penutup atap harus dibuat dari
bahan lembaran metal dengan ketebalan, warna serta pabrik pembuat yang sama
dengan pabrik pembuat lembaran penutup atap metal. Penutup bubungan dan
lembaran pelindung harus sudah dibentuk/ditekuk sesuai bentuk dalam Gambar Kerja,
di pabrik pembuatnya

24.3.3. Alat Pengencang

Alat pengencang harus dari jenis sekrup baja lapis seng yang dilengkapi neoprene
washer, seperti merek Teks tipe self-drilling hexagonal head, sesuai rekomendasi
pabrik pembuat lembaran metal. Diameter dan panjang sekrup harus sesuai standar
pabrik pembuat penutup atap metal.

24.3.4. Penutup dan Pengisi Celah

Untuk mencegah kebocoran atau tempias yang diakibatkan oleh hujan, celah
pertemuan antara lembaran penutup atap/dinding dengan lembaran pelindung harus
ditutup dengan bahan penutup dan pengisi celah yang memenuhi
persyaratanpersyaratan berikut:
- tidak berkarat,
- kedap air,
- tahan panas
- tahan sinar ultra violet

24.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN


24.4.1. Persyaratan Umum

Sebelum pelaksanaan dimulai, Gambar Detail Pelaksanaan harus telah disetujui oleh
Manajer Proyek. Gambar Detail Pelaksanaan harus dibuat dengan memperhatikan
petunjuk dari pabrik pembuatnya dan persyaratan-persyaratan berikut:
- Lembaran metal bergelombang harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat
menahan beban angin sesuai dengan jarak gording dalam Gambar Kerja.
- Jarak gording harus sesuai persyaratan dari pabrik pembuat dan/atau sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja.
Ukuran lembaran penutup atap harus sedemikian rupa sehingga memudahkan
pengangkutan dan pemasangannya di lokasi. Ukuran lembaran harus sudah
memperhitungkan panjang tumpangan samping dan akhir.

24.4.2. Pemasangan

1. Sebelum lembaran metal penutup atap dipasang, semua rangka atap harus telah
terpasang dengan baik sesuai ketentuan dan telah disetujui Manajer Proyek.
2. Sebelum pemasangan lembaran penutup atap dimulai, semua permukaan bahan
baja yang berhubungan langsung dengan lembaran penutup atap tersebut harus
sudah diberi lapisan cat anti karat sesuai ketentuan dalam warna sesuai Skema
Warna.
3. Semua lembaran metal untuk penutup atap harus dipasang mengikuti persyaratan
pemasangan dari pabrik pembuat dan sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Gambar
Detail Pelaksanaan yang telah disetujui Manajer Proyek.
4. Persetujuan yang telah diberikan tidak membebaskan Kontraktor dari tanggung
jawab untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.

24.4.3. Pengaplikasian Bahan Penutup dan Pengisi Celah

Sebelum pengaplikasian bahan penutup dan pengisi celah, semua permukaan


Bab 2 - 56
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

lembaran harus dibersihkan dari segala kotoran dan dalam keadaan kering.
Bahan penutup dan pengisi celah harus diaplikasikan pada hari yang sama dengan
persiapan permukaan lembaran.

XXV. PEKERJAAN TALANG


25.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi penyediaan alat, bahan serta pemasangan lembaran pelindung dan metal
lembaran untuk talang air hujan, lapisan anti bocor dan perlengkapan atap lainnya pada seluruh
bangunan sesuai petunjuk Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.

25.2. PROSEDUR UMUM


25.2.1. Contoh Bahan dan Data Teknis.

Contoh dan data teknis/brosur bahan yang akan digunakan harus diserahkan kepada
Manajer Proyek untuk mendapatkan persetujuan.

25.2.2. Gambar Detail Pelaksanaan.

Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar


Detail Pelaksanaan untuk diperiksa dan disetujui Manajer Proyek. Gambar Detail
Pelaksanaan harus mencantumkan ukuran-ukuran, bentuk, cara pemasangan dan
detail lain yang diperlukan.

25.2.3. Pengiriman dan Penyimpanan

Semua bahan yang didatangkan harus segera disimpan di tempat yang kering dan
terlindung dari kerusakan, baik sebelum dan selama pemasangan.

25.3. BAHAN - BAHAN


25.3.1. Saringan Talang

Saringan talang/pembuangan tipe dome grate dari bahan besi tuang, ukuran dan bentuk
lubang yang sesuai dengan talang tegak, atau sesuai Gambar Kerja, seperti buatan
Batur Artha Yulis atau Sanwell Austindo.

25.3.2. Talang Air Hujan

Talang tegak harus dibuat dari pipa PVC standar SNI 06-0084-2002 dengan kelas
tekanan kerja 10kg/cm², seperti Wavinsafe buatan Wavin, Vinilon, Poly Unggul, Unilon,
atau yang setara. Pipa harus dari jenis sambungan solvent cement. Perekat untuk PVC
harus sesuai rekomendasi dari pabrik pembuat pipa PVC. Diameter dan panjang pipa
yang dibutuhkan harus sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.

Talang datar dari bahan zincalume atau galvalume sheet dengan penyangga besi strip
dan rangka besi hollow yang dilas bersatu dengan struktur bangunan harus memiliki
dimensi dan bentuk sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.

25.3.3. Penutup dan Pengisi Celah

Untuk mencegah kebocoran atau tempias yang diakibatkan oleh hujan, celah
pertemuan antara lembaran penutup atap/dinding dengan lembaran pelindung harus
ditutup dengan bahan penutup dan pengisi celah yang memenuhi
persyaratanpersyaratan berikut:
- tidak berkarat,

Bab 2 - 57
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

- kedap air,
- tahan panas
- tahan sinar ultra violet

25.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN


25.4.1. Persyaratan Umum

Pekerjaan fabrikasi dan pemasangan talang harus dilaksanakan sesuai ketentuan dalam
Gambar Kerja dan harus dikerjakan oleh tukang yang ahli dalam bidangnya.

Pekerjaan fabrikasi dan pemasangan talang tegak dari bahan PVC harus sesuai
petunjuk dari pabrik pembuat pipa PVC.

25.4.2. Pemasangan Talang

1. Hubungan antara talang datar dan talang tegak harus dikerjakan dengan cara yang
sesuai dan disetujui sehingga rapi, kuat dan tidak bocor.
2. Talang datar harus dibuat sedemikian rupa sehingga terjadi kemiringan ke arah
lubang talang tegak dan air dapat mengalir dengan lancar ke talang tegak tanpa
menimbulkan genangan air.
3. Pembuatan talang datar dari bahan beton dengan bentuk dan dimensi seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja harus dilaksanakan sesuai ketentuan
4. Setiap lubang menuju talang tegak harus dilengkapi dengan saringan talang yang
ditanam dengan baik ke dalam lubang talang tegak dan setiap belokan talang tegak
harus dilengkapi elbow dari bahan yang sama dengan bahan talang tegak.
5. Pemasangan dan penempatan talang tegak harus sesuai ketentuan Gambar Kerja
dan harus diikatkan ke struktur bangunan dengan cara yang disetujui seperti
ditunjukkan dalam Gambar Detail Pelaksanaan.

25.4.3. Pengaplikasian Bahan Penutup dan Pengisi Celah


Sebelum pengaplikasian bahan penutup dan pengisi celah, semua permukaan
lembaran harus dibersihkan dari segala kotoran dan dalam keadaan kering.
Bahan penutup dan pengisi celah harus diaplikasikan pada hari yang sama dengan
persiapan permukaan lembaran.

XXVI. PEKERJAAN CANSTEIN

26.1. LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan ini meliputi pengangkutan, penyediaan bahan, tenaga, alat – alat bantu lainnya dan
pemasangan Canstein pada tempat – tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

26.2. STANDAR / RUJUKAN


26.2.1. Standar Nasional Indonesia (SNI):
 SNI 03-0691-1996 – Bata Beton (Paving Block)

26.3. PROSEDUR UMUM


26.3.1. Contoh Bahan dan Data Teknis.
 Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan dan data teknis bahan yang
dibutuhkan kepada Pengawas Lapangan/ MK untuk disetujui, sebelum pengadaan
bahan. Data teknis harus meliputi deskripsi, karakteristik dan petunjuk
pemasangan.
 Biaya pengadaan contoh dan pengujian menjadi tanggung jawab Kontraktor.

Bab 2 - 58
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam

26.3.2. Gambar Detail Pelaksanaan.


Kontraktor harus menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan kepada Pengawas
Lapangan/ MK sebelum memulai pekerjaan. Gambar Detail Pelaksanaan harus
mengacu kepada Gambar Kerja dalam bentuk, ukuran, dimensi dan mutu beton yang
disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis ini.

26.3.3. Pemeriksaan dan Pengujian.


 Semua pekerjaan perkerasan blok harus diperiksa dan diuji. Setiap pemasangan
yang dinilai tidak sesuai harus disingkirkan dan diganti dengan yang baru tanpa
tambahan dari Pemilik Proyek.
 Blok beton yang tidak memenuhi persyaratan Spesifikasi Teknis ini akan ditolak
dan Kontraktor harus mengganti dengan blok beton yang memenuhi persyaratan
tanpa tambahan biaya.

26.4. BAHAN - BAHAN


26.4.1. Pinggiran / Canstein.
Pinggiran perkerasan blok harus dari tipe K.04.2 produk BEP yang disetujui Pengawas
Lapangan/ MK.

26.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


26.5.1. Pemasangan Pinggiran Blok Beton.
Pinggiran blok beton harus ditempatkan pada tepi pasangan blok beton seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

Galian untuk pondasi pinggiran beton harus dipadatkan, diberi lapisan beton mutu K-175
dengan tebal minimal 30 mm atau sesuai petunjuk Gambar Kerja. Kedalaman pondasi
harus dibuat sesuai petunjuk Gambar Kerja.
Bahan – bahan asing yang mengganggu harus disingkirkan dari pondasi

Bab 2 - 59
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

DAFTAR ISI

BAB III
PERSYARATAN TEKNIS STRUKTUR
I. URAIAN PEKERJAAN DAN SITUASI ........................................................................................ 1
II. UKURAN TINGGI DAN UKURAN POKOK ............................................................................... 2
III. PEKERJAAN PEMBERSIHAN DAN PEMBONGKARAN ........................................................ 2
IV. O B S T A C L E.............................................................................................................................. 2
V. PEKERJAAN PERBAIKAN KONDISI TANAH GALIAN/URUGAN ....................................... 3
5.1. LINGKUP PEKERJAAN.................................................................................................. 3
5.2. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMADATAN TANAH DI DAERAH
'FILL' ................................................................................................................................ 3
5.3. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH DI DAERAH 'CUT' ........... 4
VI. PEKERJAAN PEMBUATAN SUB BASE COURSE DAN BASE COURSE .............................. 4
6.1. LINGKUP PEKERJAAN.................................................................................................. 4
6.2. PEKERJAAN PEMBUATAN SUB BASE COURSE DAN BASE COURSE ................... 4
VII. PEKERJAAN PONDASI BORE PILE .......................................................................................... 6
7.1. UMUM ............................................................................................................................. 6
7.2. MATERIAL ..................................................................................................................... 7
7.3. PENGEBORAN ............................................................................................................... 8
7.4. PELAKSANAAN PENGEBORAN DAN PENGECORAN ............................................ 10
7.5. LAPORAN ..................................................................................................................... 11
7.6. GANGGUAN-GANGGUAN .......................................................................................... 11
7.7. PENGAMBILAN DAN PENGUJIAN SILINDER BETON ........................................... 11
7.8. TANGGUNG JAWAB PELAKSANA PEKERJAAN / PEMBORONG .......................... 12
7.9. PENGUJIAN PEMBEBANAN (LOADING TEST) DENGAN METODA GROUND
ANCHOR (TIANG JANGKAR). ( REFERENSI : SNI 03-6475-2000)........................... 12
VIII. PEKERJAAN BETON SITE MIX. .............................................................................................. 21
8.1. UMUM ........................................................................................................................... 21
8.2. PENYERAHAN-PENYERAHAN .................................................................................. 22
8.3. PERCOBAAN BAHAN DAN CAMPURAN BETON .................................................... 22
8.4. BAHAN-BAHAN/PRODUK .......................................................................................... 24
IX. PELAKSANAAN BETON READY-MIXED............................................................................... 27
X. PEKERJAAN BETON BERTULANG ........................................................................................ 42
10.1. PEKERJAAN ................................................................................................................. 42
10.2. BAHAN-BAHAN/PRODUK .......................................................................................... 47
XI. PEMBESIAN................................................................................................................................. 50
11.1. PERCOBAAN DAN PEMERIKSAAN (TEST AND INSPECTIONS) ........................... 50
11.2. BAHAN-BAHAN / PRODUK ........................................................................................ 51
11.3. JAMINAN MUTU .......................................................................................................... 51
11.4. PERSIAPAN PEKERJAAN/PERAKITAN TULANGAN ............................................... 52
11.5. PENGIRIMAN, PENYIMPANAN DAN PENANGANANNYA .................................... 52
XII. PELAKSANAAN PEMASANGAN TULANGAN, PEMBENGKOKAN DAN PEMOTONGAN
52
12.1. PERSIAPAN .................................................................................................................. 52
12.2. PEMASANGAN TULANGAN....................................................................................... 52
12.3. PEMASANGAN WIRE MESH ...................................................................................... 55
12.4. PEMASANGAN BONDEK ............................................................................................ 55
12.5. LAS ................................................................................................................................ 55

Daftar Isi - i
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

12.6. SAMBUNGAN MEKANIK............................................................................................ 55


XIII. PEKERJAAN CETAKAN DAN PERANCAH ............................................................................ 55
13.1. UMUM ........................................................................................................................... 55
13.2. BAHAN-BAHAN/PRODUK .......................................................................................... 57
13.3. PELAKSANAAN ........................................................................................................... 61
XIV. PEKERJAAN KEDAP AIR / WATERPROOFING ................................................................... 66
14.1. LINGKUP PEKERJAAN................................................................................................ 66
14.2. BAHAN .......................................................................................................................... 67
14.3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN .......................................................................... 69
14.4. GAMBAR DETAIL PELAKSANAAN / SHOP-DRAWING .......................................... 69
14.5. CONTOH ....................................................................................................................... 69
14.6. PELAKSANAAN ........................................................................................................... 69
XV. PEKERJAAN STRUKTUR RANGKA ATAP ............................................................................ 70
15.1. LINGKUP PEKERJAAN................................................................................................ 70
15.2. BAHAN-BAHAN/KETENTUAN-KETENTUAN STANDAR ....................................... 70
15.3. PENGIKAT-PENGIKAT SEPERTI BAUT, MUR/SEKRUP DAN RING ...................... 71
15.4. BAHAN-BAHAN LAS ................................................................................................... 71
15.5. PERATURAN-PERATURAN DAN STANDAR ATAU PUBLIKASI YANG DIPAKAI:
....................................................................................................................................... 71
15.6. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN .......................................................................... 72
15.7. PENGELASAN .............................................................................................................. 72
15.8. LUBANG-LUBANG BAUT. .......................................................................................... 73
15.9. SAMBUNGAN. .............................................................................................................. 73
15.10. PEMASANGAN PERCOBAAN/TRIAL ERECTION. ................................................... 73
15.11. PENGECATAN.............................................................................................................. 73
15.12. PEMASANGAN AKHIR/FINAL ERECTION ............................................................... 73
15.13. CONTOH BAHAN. ........................................................................................................ 74
15.14. PENGUJIAN MUTU PEKERJAAN ............................................................................... 74
15.15. JUMLAH PENGUJIAN:................................................................................................. 75
15.16. SYARAT-SYARAT PENGAMANAN PEKERJAAN..................................................... 75

Daftar Isi - ii
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

SPESIFIKASI TEKNIS

BAB III

PERSYARATAN TEKNIS STRUKTUR

I. URAIAN PEKERJAAN DAN SITUASI

1. Lingkup pekerjaan ini meliputi :


 Pekerjaan Tanah
 Pekerjaan Pondasi
 Pekerjaan Kolom
 Pekerjaan Balok
 Pekerjaan Pelat Lantai
 Dan Pekerjaan lainnya yang jelas – jelas terkait dengan pekerjaan
penyelesaian struktur dan sipil

2. Untuk pelaksanaan Kontraktoran hendaknya menyediakan :


 Tenaga pelaksana yang terampil dalam bidang pekerjaannya.
 Tenaga-tenaga pekerja harus tenaga-tenaga ahli yang cukup memadai
sesuai dengan jenis pekerjaan.
 Alat-alat pengukur seperti water pass dan alat-alat bantu lain yang
dipergunakan untuk ketelitian, ketetapan dan kerapihan pekerjaan.

3. Pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam


uraian pekerjaan dan syarat-syarat gambar bestek dan detail gambar konstruksi
serta keputusan Pengawas Lapangan.

4. Situasi

 Pembangunan Gedung Pusat Pelayanan Literasi Keagamaan Islam akan


dilaksanakan di Jl.Raya Puncak Gadog No.Km 65, Ciawi, Kec. Ciawi,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16720
 Halaman pembangunan akan diserahkan kepada pelaksana sebagaimana
keadaan / kondisi eksisting saat ini untuk itu hendaknya para Kontraktor
mengadakan penelitian yang seksama terutama mengenai tanah bangunan
yang ada, sifat, luas pekerjaan dan lain-lain yang dapat
mempengaruhi harga penawaran.
 Calon Kontraktor bisa mengadakan pemeriksaan / peninjauan tempat
dimana pembangunan akan dilaksanakan tertera pada gambar.

Bab 3 - 1
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

II. UKURAN TINGGI DAN UKURAN POKOK

Mengukur letak bangunan :


Kontraktor harus menyediakan pekerja yang ahli dalam cara-cara pengukuran alat
penyipat datar, slang plastik, alat penyiku, prisma silang, segitiga siku-siku dan alat-
alat penyipat tegak lurus dan peralatan lain yang diperlukan guna ketetapan
pengukuran.

III. PEKERJAAN PEMBERSIHAN DAN PEMBONGKARAN

Semua benda dan permukaan seperti pohon akar dan tonjolan serta rintangan-
rintangan bangunan beserta pondasinya dan lain-lain yang berada di dalam batas
daerah pembangunan yang tercantum dalam gambar harus dibersihkan dan
dibongkar kecuali untuk hal-hal di bawah ini :
1. Sisa-sisa pohon yang tidak mengganggu dan akar-akar serta benda-benda
yang tidak mudah rusak yang letaknya minimum ± 1 meter di bawah dasar
pondasi.
2. Pembongkaran tiang-tiang saluran-saluran dan selokan-selokan hanya sedalam
yang diperlukan dalam penggalian ditempat tersebut.
3. Kecuali pada tempat-tempat yang harus digali lubang-lubang bekas pepohonan
dan lubang-lubang lain harus diurug kembali dengan bahan-bahan yang baik
dan dipadatkan.
4. Kontraktor bertanggung jawab untuk membuang sendiri tanaman-tanaman dan
puing-puing ketempat yang ditentukan oleh pengawas lapangan.

IV. OBSTACLE
1. Kriteria obstacle berupa konstruksi beton pasangan batu kali, pasangan dinding
tembok besi-besi tua dan lain-lain. Bekas perlindungan maupun bekas kontruksi
bangunan lama (bila ada) yang cara pembongkarannya memerlukan metoda
khusus dengan menggunakan peralatan yang lebih khusus pula (misalnya :
concrete breaker, compressor, mesin potong) dibandingkan dengan peralatan
yang digunakan pada pekerjaan galian tanah.

2. Semua berangkal dan kotoran dari bekas pembongkaran konstruksi existing


galian dan lain-lain harus segera dikeluarkan dari tapak dan dibuang ke tempat
yang ditentukan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi. Semua peralatan yang
diperlukan pada paket pekerjaan ini harus tersedia di lapangan dalam keadaan
siap pakai.

3. Kontraktor harus tetap menjaga kebersihan diarea pekerjaan dan disekitarnya


yang diakibatkan oleh semua kegiatan pekerjaan ini serta menjaga keutuhan
terhadap material/barang-barang yang sudah terpasang (existing)

4. Batasan pembongkaran obstacle adalah sebagai berikut :

Bab 3 - 2
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Pada daerah titik pondasi setempat sampai mencapai kedalaman yang


masih memungkinkan obstacle tersebut bisa dibongkar/digali sesuai dengan
kondisi dan sifat tanah pada daerah tersebut.
 Pada jalur yang akan dibuat pondasi setempat dan sloof mulai dari
permukaan tanah exsisting sampai dengan di bawah permukaan dasar
urugan pasir dari konstruksi pondasi dan sloof.

V. PEKERJAAN PERBAIKAN KONDISI TANAH GALIAN/URUGAN

5.1. LINGKUP PEKERJAAN

Yang termasuk pekerjaan perbaikan kondisi tanah adalah semua pekerjaan yang
berhubungan dengan pekerjaan tanah meliputi :
 Land Screeding
 Pemadatan Tanah
 Penggalian, perataan, pengurugan (Pematangan lahan)

5.2. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMADATAN TANAH DI


DAERAH 'FILL'

 Penimbunan dilakukan sampai pada peil dan kemiringan yang ditentukan sesuai
Gambar Kerja.
 Sebelum penimbunan, daerah kawasan harus dibersihkan dari semua kotoran,
rumput, humus dan akar tanaman.
 Penimbunan baru dilakukan setelah tanah yang selesai dibersihkan itu
dipadatkan mencapai 90% kepadatan maksimum modified proctor.
 Pelaksanaan pemadatan dilakukan lapis demi lapis, tiap lapisan tidak boleh lebih
dari 20 cm tebal sebelum dipadatkan atau 15 cm setelah dipadatkan.
 Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping) dilakukan dengan
blade graders dan 3 wheel power rollers yang beratnya 8 ton sampai 10 ton atau
pneumatic rollers lainnya dengan mendapatkan persetujuan dari Pengawas
Lapangan. Sebelumnya tanah harus digaru dengan sheep foot rollers.
 Tanah yang dipadatkan harus mencapai 90 % kepadatan maksimum yang dapat
dicapai pada kadar air optimum yang ditentukan dengan Modified AASHTO T-99,
kecuali tanah setebal 30 cm di bawah sub base course harus mencapai 90%
compacted (dari modified proctor).
 Selama pemadatan harus dikontrol terus kadar airnya, sebelum pemadatan
kadar air dari fill material harus sama dengan kadar air optimum dari hasil test
Compaction Modified Proctor dari contoh fill material.
 Apabila kadar air bahan timbunan/fill material lebih kecil dari bahan optimum,
maka fill material harus diberi air sehingga menyamai kadar air optimum.
Sebaliknya bila kadar air bahan timbunan/fill material lebih besar dari kadar air
optimum, maka fill material harus dikeringkan terlebih dahulu atau ditambah
dengan bahan timbunan yang lebih kering.

Bab 3 - 3
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Pemadatan harus dilakukan pada cuaca baik, bila hujan dan air tergenang,
pemadatan dihentikan. Diusahakan air dapat mengalir dengan membuat saluran-
saluran drainage sehingga daerah pemadatan selalu kering.
 Setiap lapis dari daerah yang dipadatkan harus ditest dengan 'Field Dry Density
Test' untuk mengetahui kepadatan tanah yang dicapai serta Moisture Content.
Satu test untuk setiap 400 m 2 untuk tanah yang dipadatkan.
 Apabila tanah yang dipadatkan < 1,6 ton/m3, maka tanah tersebut harus diganti
dengan tanah lain atau dicampur pasir sehingga tanah tersebut
3
menjadi >1,6 ton/m .
 Apabila tanah yang dipadatkan telah mencapai nilai 90% compacted dari
modified proctor (untuk lapisan sub grade setebal 30 cm di bawah base) tetapi
tidak mencapai soaked CBR minimum = 4, maka tanah (sub grade) tersebut
harus diganti dengan fill material yang pada 90% maksimum compacted
mencapai nilai soaked CBR = 4.

5.3. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH DI DAERAH 'CUT'

 Setelah galian tanah kontruksi lantai dilakukan, kemudian permukaan tanah


lapisan sub grade tersebut dilakukan pengetesan CBR = 4, apabila ternyata
permukaan atas sub grade tersebut tidak mencapai nilai soaked CBR = 4, maka
tanah tersebut harus digaru / digali setebal 30 cm sehingga menjadi gembur,
kemudian dilakukan pemadatan, sehingga nilai soaked CBR = 4 bisa tercapai.
 Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping) dilakukan dengan
blade graders dan 3 wheel power roller yang beratnya 8 ton sampai 10 ton atau
pneumatic roler lainnya dengan mendapatkan persetujuan dari Pengawas
Lapangan. Sebelumnya tanah harus digaru dengan sheep foot roolers.

VI. PEKERJAAN PEMBUATAN SUB BASE COURSE DAN BASE COURSE


6.1. LINGKUP PEKERJAAN

Yang termasuk pekerjaan ini ialah semua pekerjaan dalam kawasan bangunan
tersebut, meliputi :
 Pekerjaan pembuatan sub base course dan base course.
 Pekerjaan pembuatan lantai kerja adukan 1pc : 3ps : 5kr.

6.2. PEKERJAAN PEMBUATAN SUB BASE COURSE DAN BASE COURSE

 Lingkup Pekerjaan
Yang dimaksud dengan pekerjaan pembuatan sub base course dan base course
ialah pembuatan lapisan sirtu yang terdiri dari agregat kasar (kerikil keras dan
batu-batu bulat) yang bercampur dengan pasir clay, sesuai Gambar Kerja serta
Persyaratan Pelaksanaan dan Uraian Pekerjaan.

 Persyaratan Umum
- Semua bahan-bahan yang dipergunakan harus memenuhi peraturan-
peraturan / normalisasi-normalisasi yang berlaku di Indonesia.

Bab 3 - 4
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Sirtu dipergunakan dalam lapisan sub base course dan base course ini harus
disetujui oleh Konsultan Pengawas Lapangan/Manajemen Konstruksi dan
Perencana.
- Agregat-agregat sub base course harus mempunyai persyaratan gradasi
sebagai berikut :

Ukuran Saringan % Berat Yang Melewati


------------------------- --------------------------------
1,25" 100 %
0,75" 75 -- 85 %
0,50" 65 -- 85 %
No. 4 65 -- 85 %
No. 10 50 -- 65 %
No. 40 35 -- 50 %
No. 100 10 -- 18 %
No. 200 5 -- 12 %

- Agregat-agregat base course harus memenuhi persyaratan gradasi sebagai


berikut :

Ukuran Saringan % Berat Yang Melewati Saringan


------------------------- -------------------------------------------
Saringan yang semua ukurannya 100 %
1/3 x tinggi base course (1/3 x 25 cm = 8 cm)
0,25" 25 - 60 %
No. 200 0 - 10 %

 Agregat kasar

- Untuk Sub Base Course


Agregat kasar terdiri dari kerikil keras dan batu-batu bulat dimana butir-butir
yang keras dan tidak berpori. Agregat kasar yang mengandung butir-butir
pipih hanya dapat dipergunakan bila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak
melebihi 10 % dari berat agregat seluruhnya.
Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak mudah pecah atau
hancur oleh pengaruh cuaca seperti terik matahari dan hujan.

- Untuk Base Course


Agregat kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipergunakan
bila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak melebihi 20 % dari berat agregat
seluruhnya.
Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal artinya tidak mudah pecah atau
hancur oleh pengaruh cuaca seperti terik matahari dan hujan. Agregat kasar
tidak mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap berat kering).
Yang dimaksud dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui
ayakan/saringan 0,63 mm.

Bab 3 - 5
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Apabila kadar lumpur melebihi 1%, maka agregat kasar harus dicuci terlebih
dahulu, agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang merusak beton
seperti zat-zat yang reaktif alkali.

 Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan Untuk Sub Base Course


- Sirtu harus disebarkan secara merata dengan mempergunakan blade
graders, kemudian setelah mencapai kedalaman 15 cm dipadatkan dengan
menggunakan rollers yang beratnya 8 ton sampai dengan 10 ton atau
pneumatic rollers lainnya yang setara dan disetujui oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi.
- Pemadatan sub base course mencapai nilai normal CBR 30%.
- Tebal sub base course dalam keadaan padat adalah 30 cm.
- Setiap luas 400 m2 per lapis pemadatan harus dilakukan field test untuk
mengetahui CBR yang tercapai akibat pemadatan yang dilakukan.
- Untuk mencapai minimal kepadatan yang diinginkan (CBR 30) dipakai rollers
dengan berat 10 ton atau lainnya yang setaraf dan disetujui oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi /Perencana. Kecuali untuk daerah-daerah sempit
diantara yang tidak dapat dilalui oleh rollers, pemadatan dilakukan dengan
menggunakan stamper/compactor dengan kapasitas 2 ton atau yang setaraf
dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/Manajemen Konstruksi.

 Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan Untuk Base Course

- Agregat harus disebarkan secara merata dengan mempergunakan blade


graders agar didapat campuran yang uniform.
Tebal tiap lapisan 10 cm, dipadatkan dengan '3 wheel power rollers' berat 8
ton sampai dengan 10 ton atau pneumatic rollers lainnya yang setara dan
disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.
- Permukaan tiap lapisan harus dijaga kebersihannya dari rumput-rumput/
akar/humus sampai diletakkan lapisan berikutnya.
- Pemadatan base course harus mencapai nilai minimal CBR 80 untuk jalan
dan CBR 60 untuk lantai.
- Setiap luas 400 m 2 per lapis pemadatan harus dilakukan field test untuk
mengetahui CBR yang tercapai akibat pemadatan yang dilakukan.
- Pemadatan base course untuk daerah-daerah yang tidak dapat dilalui oleh
rollers 8 sampai 10 ton, sehingga tidak akan mencapai nilai CBR 80 dan
CBR 60, maka bahan base course tersebut diganti dengan beton tumbuk
mutu K-125 yang tebalnya 25 cm, ukuran sesuai dengan Gambar Kerja.
- Untuk daerah-daerah lain yang masih dapat dilalui rollers yang beratnya
8 ton sampai 10 ton, bahan base course adalah tetap seperti point pertama
di atas dan harus mencapai nilai minimal CBR 80 untuk jalan dan CBR 60
untuk lantai dengan ketebalan sesuai Gambar Kerja.

VII. PEKERJAAN PONDASI BORE PILE


7.1. UMUM
a. Lingkup Pekerjaan

Bab 3 - 6
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Pekerjaan ini termasuk pembuatan pondasi Bor Pile, termasuk pekerjaan beton
seperti yang disyaratkan dalam spesifikasi ini. Pelaksana Pekerjaan /
Pemborong harus menyediakan semua peralatan, material, tenaga kerja
Konsultan MK, alat-alat pengangkutan, alat-alat Bor dan alat-alat lain yang
diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini.

b. Pelaksana Pekerjaan / Pemborong harus menyerahkan kepada Konsultan


Manajemen Konstruksi (MK):
 Gambar kerja yang mencakup detail tiang pondasi Bor Pile dalam pekerjaan
ini.
 Daftar bengkok dan potong dari penulangan.
 Sertifikat dari laboratorium yang telah disetujui Konsultan MK untuk baja
tulangan, semen, air, kerikil, test kubus beton dan material-material lain yang
digunakan sesuai permintaan Konsultan MK.

7.2. MATERIAL
a. Bahan-bahan :
Harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam code PERSYARATAN
BETON STRUKTURAL UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI 2847 : 2019).

b. Portland Cement
Digunakan portland cement jenis fly ash, Type I menurut ASTM atau minimal
memenuhi menurut ketentuan yang digariskan oleh Asosiasi Semen
Indonesia.Semen yang digunakan harus keadaan Fresh dan tidak terdapat
gumpalan-gumpalan.Merek yang dipakai tidak boleh ditukar-tukar kecuali
mendapat persetujuan dari Konsultan MK dan Konsultan Perencana.

c. Agregates
Agregates kasar batu pecah (split) dengan diameter max 3 cm . Agregates
halus (pasir) beton biasa dengan kebersihan yang memenuhi KETENTUAN
YANG BERLAKU Dalam hal gradasi,dapat sedikit menyimpang dari kriteria
normal menurut PERSYARATAN BETON STRUKTURAL UNTUK
BANGUNAN GEDUNG (SNI 2847 : 2019).dengan catatan beton harus
massif (padat, tanpa rongga, pori-pori).

d. Besi Beton
Besi beton biasa (normalround steel bars ),dimana besi yang digunakan
mengacu pada ASTM A 706M,1993. Pada jenis besi yang digunakan ini
pada masa produksinya mengandung elemen paduan (alloys) yaitu niobium
dan Vanadium yang dimaksudkan untuk menambah kemampuan kuat leleh
dan tidak getas. Untuk jenis BJTS 420B untuk diameter 10 mm ke atas,
harus masuk dalam percobaan lengkung 180 derajat tidak menunjukkan
tanda-tanda getas .Pelaksana harus melaksanakan Pengujian tarik dan
lengkung untuk setiap 25 ton besi di laboratorium yang disetujui pihak
Konsultan MK. Disamping itu harus menyerahkan jaminan /sertifikat kwalitas
besi yang dikeluarkan oleh Pabrik.

Bab 3 - 7
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

7.3. PENGEBORAN
a. Pelaksana Pekerjaan harus menggunakan mesin bor atau crane bor sesuai
dengan kondisi tanah , karena ada kandungan pasir dan gravel perlu
disiapkan auger (mata bor yang sesuai), serta melampirkan usulan teknis
pelaksanaan pembuatan Tiang Bor . Usulan teknis harus mencangkup :
 Cara penanganan Proyek
 Pengaturan lokasi kerja
 Metode kerja dan urutan pelaksanaan dengan alat standart crane bor
 Diameter 800 mm
 Cara/metodequality control dan pengukuran kedalaman bor yang akan
diterapkan
 Cara pembersihan lubang bor
 Cara pengontrolan adanya necking
 Cara pengontrolan homogenitas pile
 Cara mengatasi adanya Blow up dan ground loss akibat pengeboran
 Cara pengontrolan dimensi pile
 Cara mengatasi adanya lumpur yang terjebak diujung bawah lubang
 Cara mengatasi bila terjadi kemacetan tremi
 Batasan-batasan toleransi pelaksanaan.
 Posisi casing setinggi 4 m dari muka tanah

b. Sebelum pengeboran dilakukan titik pengeboran harus dicheck kembali


ketepatannya.
c. Vertikalitas dari auger /kelly bar harus dicheck dengan theodolite dari dua
arah yang saling tegak lurus.
d. Berdasarkan data-data karakteristik tanah yang ada , lihat hasil Soil Test
Terlampir
e. Pelaksana pekerja harus memberikan jaminan dengan cara yang
menyakinkan bahwa ketentuan tersebut diatas telah dipenuhi, antara lain
dengan memberikan contoh hasil pengeboran yang diambil masing-masing
pada :
 Setiap perubahan lapisan tanah
 Ujung pengeboran
 0.5 meter sebelum ujung
 1 meter sebelum ujung
 1.5 meter sebelum ujung

Penghentian pengeboran dilakukan pada kedalaman yang menyakinkan


Tenaga Ahli Supervisi Pelaksana pekerja dan Konsultan MK berdasakan
data tanah yang diberikan dan data tanah tambahan jika ada. Jika
pengeboran belum meyakinkan ,pengeboran harus diteruskan.
f. Sebelum Pembesian dimasukkan dasar lubang harus dibersihkan dari
endapan lumpur/sedimen.
g. Segera setelah dilakukan cleaning,pembesian harus dimasukkan pada posisi
yang tepat, jika panjang lubang lebih besar dari panjang besi,harus disiapkan
besi penggantung. Untuk menjaga centrisnya pembesian harus disiapkan
giude yang dipasang pada sisi luar keranjang besi.

Bab 3 - 8
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

h. Sebelum Pengecoran dilaksanakan perlu dicheck kembali ketebalan


endapan lumpur /sedimen pada dasar lubang. Jika ketebalan endapan
melampaui 20 cm maka harus dicleaning kembali.
i. Kedudukan Tiang Bor harus vertikal dengan toleransi sbb:
 Toleransi lokasi maksimum 5 cm dari lokasi yang ditentukan pada posisi
cut of level.
 Toleransi lokasi maksimum untuk Tiang Bor terhadap as pile adalah
maksimal 5 cm
 Toleransi vertikal maksimum 1 : 150
j. Kwalitas Beton yang digunakan untuk Tiang Bor adalah 25 Mpa dengan
cement content > 450 kg, sudah termasuk komposisi fly ash didalamnya dan
harus readymix . pelaksana harus melakukan design mix dan disampaikan
kepada konsultan MK.
k. Kapasitas Tiang Bor :
Kapasitas Tekan izin Tiang Bor (strauss pile) diameter 40 cm dan
Kapasitas lateral izin Tiang Bor (strauss pile) diameter 40 cm
sesuai hasil analisis fondasi.
l. Berdasarkan data tanah diperlukan casing baja sementara sedalam 4 - 6 m
dari muka tanah, yang digunakan untuk menahan longsor pada bagian atas
lubang dan masuknya lumpur kedalam lubang.
m. Penyedia jasa kontraktor harus menyediakan area pencucian kendaraan
yang akan keluar dari lokasi proyek (washing bay). Dimana pada saat
mau keluar area proyek harus dibersihkan dengan zona khusus , sehingga
keluar dengan keadaan bersih. Sehingga tidak mengotori jalan.
Kendaraan dump truk / mixer harus melalui pembersihan dengan air
bertekanan tinggi. Tanah hasil pengeboran ditempatkan pada zona yang
telah disepakati dan secara berkala dibuang keluar zona proyek.
n. Dalam hal dipergunakan campuran fly ash cement ,maka penggunaannya
dibatasi maksimal 15 % dari jumlah cement total.

Gambar 1 Cleaning pit atau washing bay

Bab 3 - 9
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Gambar 2 Alternatif Washing bay

Gambar 3 Alternatif Washing bay

7.4. PELAKSANAAN PENGEBORAN DAN PENGECORAN

a. Sebelum pembetonan dimulai dasar lubang harus dibersihkan dari lumpur dan
sisa-sisa pengeboran serta mendapat persetujuan tertulis dari pengawas.lubang
yang telah dibersihkan harus segera di cor 20 menit setelah lubang di cleaning,
untuk memperkecil terjadinya endapan lumpur.
b. Pembetonan harus dilakukan dengan sistim tremi,sebelum pembetonan dimulai
tremi harus bersih.
c. Slump beton yang diperbolehkan 16 - 18 cm. Tidak diperkenankan
menggunakan vibrator.
d. Kedudukan ujung pipa tremi maximum 5 cm diatas dasar galian sebelum beton
dilepaskan dari dasar tremi. Kedudukan tremi terhadap muka beton pada setiap
phase pembetonan minimum 200 cm . Pembetonan harus dilaksanakan tanpa
interupsi (dilakukan Kontinyu) hingga selesai. Pembetonan dan pembesian
harus ditambah minimal 1,00 m diatas cut out of level (lihat Detail Gambar Tiang
Bor)
e. Jika pada pelaksanaan pembetonan terjadi kemacetan pada tremidan pipa tremi
tidak bisa dicabut,maka pile tersebut dianggap gagal. Dan sebagai pengaganti
titik pile perlu ditentukan oleh Perencana dan dengan persetujuan Konsultan
MK.

Bab 3 - 10
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

f. Pelaksana harus menjamin kesempurnaan pembetonan dan menjamin


tercapainya kapasitas tiang yang diinginkan.
g. 5 jam setelah pengecoran lubang atas Tiang Bor di urug kembali dengan tanah
yang ada
h. Tanah dan lumpur bekas pengeboran harus dibuang keluar proyek oleh
pelaksana.

7.5. LAPORAN
Laporan dari pelaksanaan pembetonan harus meliputi :
 Nomor tiang,dimensi tiang
 Jenis alat,dimensi alat bor
 Dalamnya lubang ,dalamnya Casing
 Dimulainya dan selesainya pembetonan
 Pembesian yang terpasang
 Ketebalan lumpur sebelum pengecoran
 Slump dan kwalitas beton
 Jam keberangkatan Truk mixer
 Volume adukan yang masuk untuk setiap truk mixer
 Tinggi pembetonan yang dicapai tiap satu truk mixer
 Posisi besi sebelum dan sesudah pembetonan
 Warna air yang keluar dari lubang bor saat pembetonan
 Elevasi permukaan beton setelah pembetonan
 Jumlah dan nomor kubus yang diambil
 Photo pelaksanaan/kegiatan penting
 Catatan dari kejadian-kejadian penting.

7.6. GANGGUAN-GANGGUAN
a. Jika terjadi kerusakan pada bangunan sekitarnya sebagai akibat
pelaksanaan bore-piles dan soldier pile ,seluruhnya menjadi tanggungjawab
Pelaksana.

b. Jika ada gangguan dalam pelaksanaan bore-piles atau soldier pile yang dari
segi pelaksanaan tidak bisa diatasi menurut pertimbangan konsultan MK,
maka dimintakan satu atau lebih Tiang Bor tambahan berdasarkan evaluasi
konsultant perencana.Penambahan ini akan diperhitungkan sebagai kerja
tambah.

7.7. PENGAMBILAN DAN PENGUJIAN SILINDER BETON


Dari pelaksanaan pembetonan harus diambil minimum 1 (satu) sample untuk
setiap satu truk mixer.Setiap silinder harus diberi tanggal ,nomor yang jelas
antara lain mencangkup nomor pile, nomor pengecoran. Tata cara pengambilan,
pembuatan dan perawatan silinder percobaan harus mengikuti ketentuan yang
tercantum ketentuan dalam perawatan benda uji dan PERSYARATAN BETON
STRUKTURAL UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI 2847 : 2019). Laporan hasil
pengujian beton harus dapat dilaporkan kepada konsultan MK segera setelah
hasil dari laboratorium diterima.

Bab 3 - 11
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

7.8. TANGGUNG JAWAB PELAKSANA PEKERJAAN / PEMBORONG


a. Pelaksana Pekerjaan / Pemborong bertanggung Jawab atas tercapainya
kwalitas dan kapasitas borepile seperti yang disyaratkan didalam spesifikasi
ini yang tidak terbatas pada masa pemeliharaan.
b. Semua tiang yang dinyatakan gagal oleh Konsultan MK, harus diganti
dengan tiang baru atas biaya pelaksana. Posisi tiang pengganti harus
mendapat persetujuan Konsultan Perencana.
c. Jika setelah pengalian Tiang Bor terjadi adanya pembengkakan permukaan
beton, maka kewajiban kontraktor untuk memperbaiki dengan di bobok dan
diratakan kembali. Jika setelah diadakan ekskavasi dan pembobokan Tiang
Bor ternyata.
 Posisi as Tiang Bor melebihi batas toleransi yang diperkenankan
 Sampai pada elevasi Cut off level belum ditemukan beton yang masif
 Sampai pada elevasi Cut off level jumlah besi yang ditemukan kurang
dari jumlah sebelumya.
Maka segala konsekwensi biaya untuk mengatasi hal tersebut diatas tetap
menjadi tanggungjawab Pelaksana.

7.9. PENGUJIAN PEMBEBANAN (LOADING TEST) DENGAN METODA GROUND


ANCHOR (TIANG JANGKAR). ( REFERENSI : SNI 03-6475-2000)

a. Umum
1. Pelaksana Pekerjaan harus melaksanakan Pile load test pada 1 titik Tiang
Bor dia 40 cm yang meliputi 1 titik untuk test Initial load test pada awal
pengeboran untuk test tekan dengan sistim Ground Anchors (Tiang Jangkar)
dan 1 titik test lateral, lokasinya akan ditentukan oleh Konsultan Manajemen
Konstruksi (MK) dan Perencana dari hasil pengamatan pelaksanaan dan
data tanah
2. Pengujian pembebanan harus dilakukan sesuai dengan persyaratan yang
ditentukan dalam spesifikasi ini. Kontraktor harus mempersiapkan segala
perlengkapan yang dibutuhkan untuk dapat melakukan pengujian
pembebanan, termasuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan
dengan pekerjaan ini, seperti izin, mengamankan lokasi di sekitar titik
pengujian dll.
3. Pengujian harus dilakukan di bawah Direksi Pekerjaanan tenaga ahli yang
berpengalaman di dalam pekerjaan ini. Semua personal yang terlibat harus
sudah betul-betul berpengalaman dan harus sudah terlatih, agar pekerjaan
dapat dilakukan dengan baik.
4. Pengujian tersebut menggunakan Tiang Jangkar (Ground Anchors) , dan
Kontraktor harus mempersiapkan pondasi untuk Tiang Jangkar tersebut,
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbedaan penurunan di antara
pondasi tersebut.
5. Ground anchor ataupun tiang tarik, maka harus dipastikan bahwa semua
beban benar-benar tersalurkan dengan baik melalui angkur ataupun alat
penyambung lain.

b. Benda Uji dan Alat Penguji


1. Kontraktor harus menyediakan benda uji dan alat uji yang diperlukan yang
sudah termasuk dari biasa loading test yang ditawarkan.

Bab 3 - 12
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

2. Kontraktor harus memastikan bahwa semua alat pengukur beban harus


benar-benar duduk dengan posisi yang baik , sehingga pada saat beban
bekerja tetap dalam kondisi stabil. Semua alat penguji yang digunakan harus
dilengkapi dengan sertifikat kalibrasi yang menyatakan bahwa alat tersebut
masih memenuhi syarat untuk digunakan. Alat yang digunakan harus sesuai
dengan besarnya beban yang akan digunakan sehingga akurasi pengujian
dapat dipertanggungjawabkan.

3. Peralatan untuk pengadaan dan penerapan beban tekan yang diketahui


besarnya terhadap tiang bor, harus dibuat sedemikian rupa hingga beban
dapat bekerja aksial menurut sumbu tiang guna menghindari pembebanan
eksentris.
Suatu test plate baja dengan tebal minimum 2,5 cm sesuai beban yang
bersangkutan, harus dipasang diatas pile cap/poer guna mendapatkan
dukungan penuh. Ukuran test plate tidak boleh lebih kecil dari pada ukuran
kepala tiang bor dan juga tidak boleh lebih kecil dari pada dasar Jackram
hidrolis.
Test plate tersebut diatas harus dipasang diatas pile cap dengan grout
berkekuatan tinggi yang cepat mengeras. Test plate harus dipasang secara
centris terhadap tiang bor dan tegak lurus pada sumbu memanjang tiang.
Ram jack hidrolis harus diletakkan sentris pada test plate dengan suatu
bearing plate baja diantara bidang atas jack ram dan bidang dasar test beam.
Bearing plate harus mempunyai ukuran cukup untuk menampung ram jack
serta mendukung bidang dasar test beam sebaik-baiknya.

4. Dengan dipergunakan jack hidrolis untuk beban percobaan, maka jacking


systemnya yang terdiri dari ram hidrolis, coupling, pompa hidrolis dan
pressure gauge harus dikalibrasi terlebih dahulu, sehingga pembebanan
dapat dikontrol dalam batas 5 % dari pada beban total.
Semua alat ukur seperti dial gauges dan pressure gauges harus dikalibrasi
oleh badan/instansi pemerintah yang berwenang.
Sertifikat kalibrasi hanya berlaku untuk satu proyek dan untuk waktu satu
bulan.
Kapasitas dial gauges yang digunakan minimum 50 mm dengan ketelitian
0,01 mm.
Pompa Jack hidrolis harus mempunyai pengatur otomatis untuk menjaga
tetapnya besar beban pada waktu terjadi penurunan tiang.

5. Reference Beam
Semua reference beam harus ditunjang secara mandiri dengan dukungan
yang kokoh didalam tanah. Jarak bebas antara kaki Reference Beam dengan
tiang percobaan harus lebih besar atau sama dengan 2,5 meter. Salah satu
kaki dari tiap reference beam harus fixed (dilas), dan yang lainnya harus
bebas memuai dan menyusut. Reference beam harus cukup kaku untuk
mencegah lendutan yang berlebihan dan harus ada hubungan melintang
untuk menambah kekakuan.

6. Dial Gauge

Bab 3 - 13
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Untuk mengukur penurunan aksial tiang percobaan, dipergunakan alat


pengukur berupa dial gauge.
 Dua buah reference beam, masing-masing pada setiap sisi tiang
percobaan, harus ditempatkan sedemikian rupa hingga searah dengan
test beam.
 Harus ditempatkan atau dipasang 4 buah dial gauge yang ditempatkan
pada tiang percobaan secara diametral. Masih dibutuhkan 2 buah dial
gauge untuk mengukur gerakan horizontal, yang ditempatkan tegak lurus
satu dari yang lain.

c. Pengujian Pembuktian Aksial atau Axial Proving Test


Pengujian ini harus dilakukan pada tiang bor yang diragukan kesempurnaannya
baik dari kapasitas daya dukungnya, maupun dari segi kualitas tiang bor sendiri.
Tiang Bor yang akan diuji akan ditentukan oleh Direksi Pekerjaan jika jumlah
tiang yang terpancang dianggap cukup. Jumlah tiang bor yang diuji ditentukan
dalam BQ, dan jika tidak ditentukan secara khusus, berarti jumlah yang diuji
adalah 1/75 dari jumlah keseluruhan tiang bor. Beban maksimum yang bekerja
adalah 200 % dari Daya Dukung Izin.

d. Pengujian Pembuktian Lateral atau Lateral Loading Test.

Pengujian ini dilakukan untuk membuktikan kebenaran asumsi mengeni respons


tiang bor dan tanah di sekitar tiang bor terhadap suatu pembebanan lateral.
Persyaratan mengenai hal ini harus sesuai dengan ASTM D 3966-81. Jumlah
Pengujian Lateral ini ditentukan di dalam BQ, dan jika tidak disebutukan secara
khusus, maka Kontraktor di dalam penawarannya harus menawarkan jumlah
pengujian lateral sebesar 0.5 % dari jumlah total tiang bor. Tiang Bor yang akan
diuji ditentukan setelah pemancangan mencapai jumlah tertentu, kecuali
diinginkan lain oleh Direksi Pekerjaan. Pengujian Lateral harus dilakukan pada
elevasi Cut Off Level (COL), agar hasil yang diperoleh mendekati kondisi
sesungguhnya dari tiang yang diuji.

Pada pengujian pembebanan statik, kecuali sudah lebih dulu terjadi keruntuhan,
pengujian tiang harus dilakukan untuk beban maksimum 200% dari beban
desain berdasarkan pada standard prosedur pembebanan pada ASTM D3966.

e. Pencatatan Hasil Pengujian

Hasil pengujian tiang bor harus disampaikan kepada Direksi Pekerjaan dalam
waktu 24 jam setelah pengujian selesai, kecuali ditentukan lain oleh Direksi
Pekerjaan.
Hasil-hasil tersebut harus mengikuti sertakan data-data sebagai berikut :
 Nomor Referensi Tiang Bor.
 Kedalaman ujung tiang bor.
 Nomor referensi lubang bor Penyelidikan Tanah terdekat.
 Tanggal pemancangan tiang.

Bab 3 - 14
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Kedudukan akhir dari tiang terpancang.


 Data tentang lapisan pendukung yang dapat diperkirakan.
 Grafik beban/settlement.
 Grafik beban/waktu.
 Grafik settlement/waktu.
 Beban kerja yang disyaratkan untuk tiang bor.
 Settlement total pada ujung tiang bor akibat beban kerja (dari data
pengujian).
 Settlement sisa pada ujung tiang bor akibat beban kerja (dari data
pengujian).
 Faktor keamanan terhadap kegagalan geser umum (dari data pengujian).
 Faktor keamanan terhadap settlement sisa tertentu (dari data pengujian).

7.10. PROSEDUR PENGUJIAN

1. Prosedur pengujian harus sesuai dengan ASTM D 1143-81.


Untuk pengujian ini disyaratkan mempergunakan set-up system Tiang Jangkar
(Ground Anchors), dengan urut-urutan beban seperti tercantum di bawah.
Syarat-syarat pelaksanaan pengujian mencakup hal-hal sbb :
 Prosedur pembebanan
 Peralatan untuk pengadaan beban
 Prosedur pengukuran penurunan tiang
 Peralatan untuk mengukur penurunan
 Laporan hasil testing

2. Prosedur Pembebanan
Resultant beban-beban percobaan harus segaris dengan sumbu memanjang
tiang bor. Jika hal tersebut belum terpenuhi maka pembebanan tidak boleh
dilakukan, karena akan menimbulkan eksentrisitas pada tiang bor yang diuji.\

Bab 3 - 15
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

3. AXIAL PROVING TEST (USED PILE)


( 200 % X Daya Dukung Izin)

SIKLUS BEBAN WAKTU


BEBAN (% X ADL) (MENIT )
0
25 A
I 50 60
25 20
0 60
50 20
75 A
II 100 60
75 20
50 20
0 60
50 20
100 20
III 125 A
150 B
100 60
50 60
0 720
Dst...

Keterangan :

Bab 3 - 16
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 A = Minimum 1 jam dengan ketentuan penurunan lebih kecil atau sama


dengan 0,25 mm/jam; dan maximum 2 jam.
 B = Minimum 12 jam dengan ketentuan penurunan lebih kecil atau sama
dengan 0,25 mm/jam terakhir atau 24 jam kecuali kalau sudah longsor

4. LATERAL LOADING TEST ( ASTM D 3966-81 )


SIKLUS BEBAN WAKTU
BEBAN (% X ADL) (MENIT )
0
25 10
I 50 10
25 10
0 10
50 10
75 15
II 100 20
50 10
0 10
50 10
100 10
125 20
III 150 20
III 75 10
0 10
50 10
100 10
150 10
170 20
180 20
190 20
IV 200 60
150 10
100 10
50 10
0 60

Catatan : Pembacaan harus dilakukan dengan maksimum interval waktu 5 menit.


Keterangan :
 A = Minimum 1 jam dengan ketentuan penurunan lebih kecil atau sama dengan
0,25 mm/jam; dan maximum 2 jam.
 B = Minimum 12 jam dengan ketentuan penurunan lebih kecil atau sama dengan
0,25 mm/jam terakhir atau 24 jam kecuali kalau sudah longsor.

Bab 3 - 17
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

5. EVALUASI HASIL PERCOBAAN PEMBEBANAN


1. Umum
Kontraktor harus menyiapkan dan menyerahkan semua data yang
dibutuhkan untuk melakukan evaluasi terhadap pengujian yang sudah
dilakukannya. Data yang dibutuhkan sudah dijelaskan dalam pasal di atas.

2. Axial Loading Test.


Untuk pengujian ini, evaluasi dilakukan dengan beberapa metode yang
umum digunakan antara lain metode De Beer, Davisson, Fuhler dll. Tentang
metode yang digunakan akan ditentukan oleh Direksi Pekerjaan. Kontraktor
tidak berhak untuk mengajukan klaim atas metode yang dipilih oleh Direksi
Pekerjaan.
Berbagai Metode Interpretasi Uji Statik
Daya dukung ultimit Qu dapat ditentukan dengan menginterpretasikan data
uji yang ada. Ada beberapa metode interpretasi yang dapat digunakan
seperti metode Davisson, metode P-S, metode Mazurkiewick dan metode
Chin. Tiap metode dapat memberikan hasil yang berbeda, namun hal yang
terpenting adalah kita dapat menggambarkan mekanisme yang terjadi
berdasarkan bentuk kurva, sehingga besarnya deformasi plastis atau
kemungkinan terjadinya kegagalan dapat diprediksi.

a. Metode Davisson
- Plot grafik kurva beban vs penurunan
L
- Hitung penurunan elastis (immediate) Si = P dimana A = luas
AE
dasar tiang, E = modulus tiang, L = panjang tiang dan P = beban uji.
- Buat persamaan di atas menjadi persamaan garis sehingga didapat
garis OA.
- Tarik garis BC sejajar garis OA dengan jarak X dimana
D
X = 0.15 + inci.
120
- Titik perpotongan grafik kurva dengan garis BC adalah Qu.
P ( to n )
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900

Qu
10
S e ttle m e n t ( m m )

20 X A
B
30

40
C

50

Gambar 1. Interpretasi Qu menggunakan metode Davisson

b. Metode Mazurkiewick
- Plotkan grafik kurva penurunan vs beban.

Bab 3 - 18
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Tarik garis vertikal dari tiap interval penurunan tertentu sampai


memotong kurva.
- Dari titik perpotongan tarik garis horizontal hingga memotong sumbu
beban.
- Dari tiap titik perpotongan tarik garis dengan kemiringan 45 hingga
memotong garis horizontal di atasnya.
- Tarik sebuah garis lurus melalui tiap titik perpotongan. Jika garis
tersebut diperpanjang akan memotong sumbu vertikal dimana Qu
adalah titik perpotongan tersebut.
Qu

P (to n )
100
0
10 20 30 40 50

S e ttle m e n t (m m )

Gambar 2. Interpretasi Qu menggunakan metode Mazurkiewick


c. Metode P-S
Tarik dua garis lurus dari lengkung kurva sehingga berpotongan. Titik
perpotongan diperkirakan sebagai Qu.
P ( to n )
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900

Qu
10
S e ttle m e n t ( m m )

20

30

40

50

Gambar 3. Interpretasi Qu menggunakan metode P-S


d. Metode Chin
- Plot kurva rasio penurunan dan beban (Si / P) dengan penurunan
(Si).
- Tarik sebuah garis regresi linier yang menghubungkan titik-titik
tersebut.
- Persamaan garis tersebut adalah Si / P = c1 Si + c2.
- Hitung c1 dari persamaan garis atau dari gradien kemiringan.
- Qu adalah 1 / c1.
- Metode ini menghasilkan Qu yang terlalu tinggi hingga harus dibagi
dengan 1.2 sampai 1.4 untuk koreksi.

Bab 3 - 19
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

P (to n )
c1

Q u = 1 / c1

0
10 20 30 40 50

S e ttle m e n t (m m )

Gambar 4. Interpretasi Qu menggunakan metode Chin

Jika dalam pelaksanaan percobaan tidak dijumpai tanda-tanda


kegagalan dari tiang percobaan, maka untuk menentukan daya
dukung izin tiang ditentukan berdasarkan penurunan total sebesar 25
mm, pada beban sebesar 200 % dari Daya dukung izin.

3. Pengujian Lateral
Seperti yang dilakukan untuk evaluasi atas pengujian aksial, maka untuk
pengujian lateral juga akan digunakan metode yang berlaku umum. Dan jika
tidak dijumpai penyimpangan, maka secara umum dapat ditentukan bahwa
daya dukung lateral izin ditentukan berdasarkan pergeseran lateral sebesar
6,25 mm pada beban 200 % dari gaya horisontal izin.

6. KETIDAK SESUAIAN DENGAN PERSYARATAN


Bila tiang bor kerja (used pile) gagal dalam pembuktian maka Kontraktor harus
segera melaporkan hal tersebut kepada Direksi Pekerjaan dan Direksi
Pekerjaan, dan dengan segera melakukan pengujian-pengujian pembuktian
pada tiang bor kerja yang bersebelahan, kemudian menyerahkan kedua laporan
pengujian tersebut pada Direksi Pekerjaan. Laporan tersebut akan dievaluasi
oleh Direksi Pekerjaan untuk memastikan sebab-sebab kegagalan dan
selanjutnya menentukan langkah-langkah yang harus diambil untuk melanjutkan
pekerjaan selanjutnya. Biaya yang timbul akibat hal di atas seperti penambahan
tiang bor ataupun pemecahan lainnya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

7. LAPORAN TEKNIS
Laporan mengenai hasil loading test harus mencakup hal-hal sebagai berikut
 Nomor Referensi Tiang bor.
 Kedalaman ujung Tiang bor.
 Nomor referensi lubang pemboran penyelidikan tanah terdrkat.
 Tanggal pengecoran tiang bor.
 Kedudukan akhir dari tiang bor.
 Data tentang lapisan pendukung yang dapat diperkirakan.
 Grafik beban/lendutan pampat (settlement).
 Grafik beban waktu.
 Grafik lendutan pampat (settlement)/waktu.
 Beban kerja yang disyaratkan untuk tiang bor.
 Lendutan pampat (settlement) total pada ujung tiang bor akibat beban kerja
(dari data pengujian).

Bab 3 - 20
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Lendutan pampat (settlement) sisa pada ujung tiang bor akibat beban kerja
(dari data pengujian).
 Faktor keamanan terhadap kegagalan geser umum (dari data pengujian).
 Faktor keamanan terhadap lendutan pampat (settlement) sisa tertentu (dari
data pengujian).
 Laporan teknis percobaan beban tiang hanya dapat diterima apabila
ditandatangani oleh seorang Ahli Geoteknik yang bersertifikat.

VIII. PEKERJAAN BETON SITE MIX.


8.1. UMUM

Pekerjaan yang termasuk meliputi :


1. Penyediaan dan pendayagunaan semua tenaga kerja, bahan-bahan, instalasi
konstruksi dan perlengkapan-perlengkapan untuk semua pembuatan dan
mendirikan semua baja tulangan, bersama dengan semua pekerjaan
pertukangan/keahlian lain yang ada hubungannya dengan itu, lengkap
sebagaimana diperlihatkan, dispesifikasikan atau sebagaimana diperlukannya.
2. Tanggung jawab "kontraktor" atas instalasi semua alat-alat yang terpasang,
selubung-selubung dan sebagainya yang tertanam di dalam beton. Syarat-syarat
umum pada pekerjaan ini berlaku penuh Persyaratan Beton Struktural untuk
Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019, ASTM dan ACI.
3. Ukuran-ukuran (dimensi) dari bagian-bagian beton bertulang yang tidak
termasuk pada gambar-gambar rencana pelaksanaan arsitektur adalah ukuran-
ukuran dalam garis besar. Ukuran-ukuran yang tepat, begitu pula besi
penulangannya ditetapkan dalam gambar-gambar struktur konstruksi beton
bertulang. Jika terdapat selisih dalam ukuran antara kedua macam gambar itu,
maka ukuran yang harus berlaku harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan
perencana atau Pengawas Lapangan/MK guna mendapatkan ukuran yang
sesungguhnya disetujui oleh perencana.
4. Jika karena keadaan pasaran, besi penulangan perlu diganti guna kelangsungan
pelaksanaan maka jumlah luas penampang tidak boleh berkurang dengan
memperhatikan syarat-syarat lainnya yang termuat dalam Persyaratan Beton
Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019. Dalam
hal ini Pengawas Lapangan/MK harus segera diberitahukan untuk
persetujuannya, sebelum fabrikasi dilakukan.
5. Penyediaan dan penempatan tulangan baja untuk semua pekerjaan beton yang
berlangsung dicor di tempat, termasuk penyediaan dan penempatan batang-
batang dowel ditanamkan di dalam beton seperti terlihat dan terperinci di dalam
gambar atau seperti petunjuk Pengawas Lapangan/MK dan, bila disyaratkan,
penyediaan penulangan untuk dinding blok beton.
6. "Kontraktor" harus bertanggungjawab untuk membuat dan membiayai semua
desain campuran beton dan test-test untuk menentukan kecocokan dari bahan
dan proporsi dari bahan-bahan terperinci untuk setiap jenis dan kekuatan beton,
dari perincian slump, yang akan bekerja/berfungsi penuh untuk semua teknik
dan kondisi penempatan, dan akan menghasilkan yang diijinkan oleh Pengawas
Lapangan/MK. Kontraktor berkewajiban mengadakan dan membiayai Test

Bab 3 - 21
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Laboratorium.
7. Pekerjaan-pekerjaan lain yang termasuk adalah :
- Semua pekerjaan beton yang tidak terperinci di luar ini
- pemeliharaan dan finishing, termasuk grouting
- mengatur benda-benda yang ditanam di dalam beton, kecuali tulangan beton
- koordinasi dari pekerjaan ini dengan pekerjaan dari lain bagian
- sparing dalam beton untuk instalasi M/E
- penyediaan dan penempatan stek tulangan pada setiap pertemuan dinding
bata dengan kolom/dinding beton struktural dan dinding bata dengan pelat
beton struktural seperti yang ditunjukkan oleh Pengawas Lapangan/MK.

8.2. PENYERAHAN-PENYERAHAN
Penyerahan-penyerahan berikut harus dilaksanakan oleh Kontraktor kepada
Pengawas Lapangan/MK sesuai dengan jadwal yang telah disetujui untuk
menyerahkan dan dengan segera sehingga tidak menyebabkan keterlambatan pada
pekerjaan sendiri maupun pada pekerjaan kontraktor lain.
 Gambar pelaksanaan
Merupakan gambar tahapan pelaksanaan yang harus diserahkan oleh
Kontraktor kepada Pengawas Lapangan/MK untuk mendapat persetujuan ijin.
Penyerahan harus dilakukan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja sebelum
jadwal pelaksanaan pekerjaan beton.
 Data dari pabrik/sertifikat
Untuk mendapat jaminan atas mutu beton ready-mix, maka sebelum
pengiriman; Kontraktor harus sudah menyerahkan kepada Pengawas
Lapangan/MK sedikitnya 5 hari kerja sebelum pengiriman; hasil-hasil
percobaan laboratorium, baik hasil percobaan bahan maupun hasil percobaan
campuran (Mix Design dan Trial Mix) yang diperuntukan proyek ini.
 Harus diajukan minimal 2 (dua) supplier beton ready-mix untuk memperlancar
pelaksanaan dan mendapat persetujuan Pengawas Lapangan sebelum
memulai pengecoran.

8.3. PERCOBAAN BAHAN DAN CAMPURAN BETON


 Umum
Test bahan : Sebelum membuat campuran, test laboratorium harus dilakukan
untuk test berikut, sehubungan dengan prosedur-prosedur ditujukan ke
standard referensi untuk menjamin pemenuhan spesifikasi proyek untuk
membuat campuran yang diperlukan.

 Semen : berat jenis semen


Agregat :
Analisa tapis, berat jenis, prosentase dari void (kekosongan), penyerapan,
kelembaban dari agregat kasar dan halus, berat kering dari agregat kasar,
modulus terhalus dari agregat halus.

 Adukan/campuran beton
Adukan beton harus didasarkan pada trial mix dan mix design masing-masing
untuk umur 7, 14 atau 21 dan 28 hari yang didasarkan pada minimum 20 hasil
pengujian atau lebih sedemikian rupa sehingga hasil uji tersebut dapat disetujui
oleh Pengawas Lapangan/MK.

Bab 3 - 22
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Hasil uji yang disetujui tersebut sudah harus disertakan selambat-lambatnya 3


minggu sebelum pengerjaan dimulai, dan selain itu mutu betonpun harus sesuai
dengan mutu standard Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan
Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019. Pekerjaan tidak boleh dimulai
sebelum diperiksa Pengawas Lapangan/MK tentang kekuatan/kebersihannya.
Semua pembuatan dan pengujian trial mix dan design mix serta
pembiayaannya adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. Trial
mix dan design mix harus diadakan lagi bila agregat yang dipakai diambil dari
sumber yang berlainan, merk semen yang berbeda atau supplier beton yang
lain.

 Ukuran-ukuran
Campuran desain dan campuran percobaan harus proporsional semen
terhadap agregat berdasarkan berat, atau proporsi yang cocok dari ukuran
untuk rencana proposional atau perbandingan yang harus disetujui oleh
Pengawas Lapangan/MK.

Percobaan adukan untuk berat normal beton

Untuk perincian minimum dan maximum slump untuk setiap jenis dan kekuatan
dari berat normal beton, dibuat empat (4) adukan campuran dengan memakai
nilai faktor air-semen yang berbeda-beda.

Pengujian mutu beton ditentukan melalui pengujian sejumlah benda uji silinder
beton diameter 15 cm x tinggi 30 cm sesuai Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019, ACI Committee -
304, ASTM C 94-98.

Benda uji (setiap pengambilan terdiri dari 3 buah dengan pengetesan dilakukan
pada hari yang tercantum pada item 6) dari satu adukan dipilih acak yang
mewakili suatu volume rata-rata tidak lebih dari 10 m3 atau 10 adukan atau 2
truck drum (diambil yang volumenya terkecil). Disamping itu jumlah maximum
dari beton yang dapat terkena penolakan akibat setiap satu keputusan adalah
30 m3, kecuali bila ditentukan lain oleh Pengawas Lapangan/MK.
 Hasil uji untuk setiap pengujian dilakukan masing-masing untuk umur 7, 14 atau
21 dan 28 hari.
 Pembuatan benda uji harus mengikuti ketentuan Persyaratan Beton
Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019,
dilakukan di lokasi pengecoran dan harus disaksikan oleh Pengawas
Lapangan/MK. Apabila digunakan metoda pembetonan dengan
menggunakan pompa (concrete pump), maka pengambilan contoh segala
macam jenis pengujian lapangan harus dilakukan dari hasil adukan yang
diperoleh dari ujung pipa "concrete-pump" pada lokasi yang akan dilaksanakan.
 Pengujian bahan dan beton harus dilakukan dengan cara yang ditentukan
dalam Standard Industri Indonesia (SII) dan Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019 atau metoda uji
bahan yang disetujui oleh Pengawas Lapangan/MK.
 Rekaman lengkap dari hasil uji bahan dan beton harus disediakan dan disimpan
dengan baik oleh tenaga pengawas ahli, dan selalu tersedia untuk keperluan
pemeriksaan selama pelaksanaan pekerjaan dan selama 5 tahun sesudah

Bab 3 - 23
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

proyek bangunan tersebut selesai dilaksanakan.

Pengujian slump

 Kekentalan adukan beton diperiksa dengan pengujian slump, dimana nilai


slump harus dalam batas-batas yang diisyaratkan dalam Persyaratan Beton
Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI2 2847: 2019 dan
sama sekali tidak diperbolehkan adanya penambahan air/additive, kecuali
ditentukan lain oleh Pengawas Lapangan/MK.

 "Kontraktor" harus menjamin bahwa ia mampu dengan slump berikut, beton


dengan mutu dan kekuatan yang memuaskan, yang akan menghasilkan hasil
akhir yang bebas keropos, ataupun berongga-rongga. Pelaksanaan dari
persetujuan kontrak adalah bahwa "Kontraktor" bertanggung jawab penuh
untuk produksi dari beton dan pencapaian mutu, kekuatan dan penyelesaian
yang memenuhi syarat batas slump.

Bila dipakai pompa beton, slump harus didasarkan pada pengukuran di


pelepasan pipa, bukan di truk mixer. Maximum slump harus 150 mm.

 Rekomendasi slump untuk variasi beton konstruksi pada keadaan atau kondisi
normal :

Slump pada (cm)

Konstruksi Beton Maksimum Minimum

Pile-Cap, Tie-Beam, Pelat, Balok, 15.00 12.50


Kolom & Shearwall

Untuk beton dengan bahan tambahan plasticizer, slump dapat dinaikkan sampai
maksimum 1,5 cm.

Percobaan tambahan
 Kontraktor, tanpa membebankan biaya kepada pemilik, harus mengadakan
percobaan laboratorium selaku percobaan tambahan pada bahan-bahan beton
dan membuat desain adukan baru bila sifat atau pemilihan bahan diubah atau
apabila beton yang ada tidak dapat mencapai kekuatan spesifikasi.
 Hasil pengujian beton harus diserahkan sesaat sebelum tahapan pelaksanaan
akan dilakukan, yaitu khususnya untuk pekerjaan yang berhubungan dengan
pelepasan perancah/acuan. Sedangkan untuk pengujian di luar ketentuan
pekerjaan tersebut, harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan/MK..
dalam jangka waktu tidak lebih dari 3 hari setelah pengujian dilakukan.

8.4. BAHAN-BAHAN/PRODUK
Sedapat mungkin, semua bahan dan ketenagaan harus disesuaikan dengan
peraturan-peraturan Indonesia.

Bab 3 - 24
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

1. SEMEN

a. Mutu semen

 Semen portland harus memenuhi persyaratan standard Internasional


atau Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A SK SNI 3-04-1989-F atau
sesuai SII-0013-82, Type-1 atau NI-8 untuk butir pengikat awal kekekalan
bentuk, kekuatan tekan aduk dan susunan kimia. Semen yang cepat
mengeras hanya boleh dipergunakan dimana jika hal tersebut
dikuasakan tertulis secara tegas oleh Pengawas Lapangan/MK.
 Jika mempergunakan semen portland pozolan (campuran semen
portland dan bahan pozolan) maka semen tersebut harus memenuhi
ketentuan SII 0132 Mutu dan Cara Uji Semen Portland Pozoland atau
spesifikasi untuk semen hidraulis campuran.
 Di dalam syarat pelaksanaan pekerjaan beton harus dicantumkan
dengan jelas jenis semen yang boleh dipakai dan jenis semen ini harus
sesuai dengan jenis semen yang digunakan dalam ketentuan
persyaratan mutu (semen tipe 1).

b. Penyimpanan Semen
 Penyimpanan semen harus dilaksanakan dalam tempat penyimpanan
dan dijaga agar semen tidak lembab, dengan lantai terangkat bebas
dari tanah dan ditumpuk sesuai dengan syarat penumpukan semen
dan menurut urutan pengiriman. Semen yang telah rusak karena
terlalu lama disimpan sehingga mengeras ataupun tercampur bahan
lain, tidak boleh dipergunakan dan harus disingkirkan dari tempat
pekerjaan. Semen harus dalam zak-zak yang utuh dan terlindung baik
terhadap pengaruh cuaca, dengan ventilasi secukupnya dan
dipergunakan sesuai dengan urutan pengiriman. Semen yang telah
disimpan lebih 60 hari tidak boleh digunakan untuk pekerjaan.
 Curah semen harus disimpan di dalam konstruksi silo secara tepat
untuk melindungi terhadap penggumpalan semen dalam
penyimpanan.
 Semua semen harus baru, bila dikirim setiap pengiriman harus
disertai dengan sertifikat test dari pabrik.
 Semen harus diukur terhadap berat untuk kesalahan tidak lebih dari
2,5 %.
 "Kontraktor" harus hanya memakai satu merek dari semen yang
telah disetujui untuk seluruh pekerjaan. "Kontraktor" tidak boleh
mengganti merk semen selama pelaksanaan dari pekerjaan, kecuali
dengan persetujuan tertulis dari Pengawas Lapangan/MK.

2. AGREGAT
Agregat untuk beton harus memenuhi ketentuan dan persyaratan dari SII
0052-80 "Mutu dan Cara Uji Agregat Beton" dan bila tidak tercakup dalam SII
0052-80, maka harus memenuhi spesifikasi agregat untuk beton.
a. Agregat halus (Pasir)

Mutu pasir untuk pekerjaan beton harus terdiri dari : butir-butir tajam,
keras, bersih, dan tidak mengandung lumpur dan bahan-bahan organis.

Bab 3 - 25
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Agregat halus harus terdiri dari distribusi ukuran partikel-partikel seperti


yang ditentukan di pasal 3.5. dari Persyaratan Beton Struktural untuk
Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.

Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan


terhadap berat kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-
bagian yang dapat melalui ayakan 0.063 mm. Apabila kadar lumpur
melampaui 5 %, maka agregat halus harus dicuci. Sesuai Persyaratan
Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847:
2019.

Ukuran butir-butir agregat halus, sisa di atas ayakan 4 mm harus


minimum 2 % berat; sisa di atas ayakan 2 mm harus minimum 10 %
berat; sisa di atas ayakan 0,25 mm harus berkisar antara 80 % dan 90 %
berat.

Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu
beton.

Penyimpanan pasir harus sedemikian rupa sehingga terlindung dari


pengotoran oleh bahan-bahan lain.

Agregat Kasar (Kerikil dan Batu Pecah)

Yang dimaksud dengan agregat kasar yaitu kerikil hasil desintegrasi alami
dari batu-batuan atau batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu,
dengan besar butir lebih dari 5 mm sesuai Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.

Mutu koral : butir-butir keras, bersih dan tidak berpori, batu pecah jumlah
butir-butir pipih maksimum 20 % bersih, tidak mengandug zat-zat alkali,
bersifat kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca.
Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (terhadap berat kering)
yang diartikan lumpur adalah bagian-bagian yang melalui ayakan 0.063
mm apabila kadar lumpur melalui 1 % maka agregat kasar harus dicuci.
Tidak boleh mengandung zat-zat yang reaktif alkali yang dapat merusak
beton.
Ukuran butir : sisa diatas ayakan 31,5 mm, harus 0 % berat; sisa diatas
ayakan 4 mm, harus berkisar antara 90 % dan 98 %, selisih antara sisa-
sisa kumulatif di atas dua ayakan yang berurutan, adalah maksimum 60
% dan minimum 10 % berat.
Kekerasan butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari
Rudeloff dengan beban penguji 20 t, harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :

- tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9.5 - 19 mm lebih dari 24 %


berat
- tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19-30 mm lebih dari 22 %
atau dengan mesin pengaus Los Angeles, tidak boleh terjadi

Bab 3 - 26
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

kehilangan berat lebih dari 50 % sesuai SII 0087-75, atau


Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019
Penyimpanan kerikil atau batu pecah harus sedemikian rupa agar
terlindung dari pengotoran bahan-bahan lain.

3. AIR
Air untuk pembuatan dan perawatan beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam alkali, garam-garam, bahan organis atau bahan-
bahan lain yang dapat merusak beton serta baja tulangan atau jaringan
kawat baja. Untuk mendapatkan kepastian kelayakan air yang akan
dipergunakan, maka air harus diteliti pada laboratorium yang disetujui oleh
Pengawas Lapangan/MK.

4. BAHAN CAMPURAN TAMBAHAN (ADMIXTURE)


Admixture harus disimpan dan dilindungi untuk menjaga kerusakan dari
container. Admixture harus sesuai dengan ACI 212.2R-71 dan ACI 212 2R-
64. Segala macam admixture yang akan digunakan dalam pekerjaan harus
disetujui oleh Pengawas Lapangan/MK. Admixture yang mengandung
chloride atau nitrat tidak boleh dipakai.

5. MUTU DAN KONSISTENSI DARI BETON


Kekuatan ultimate tekan beton silinder 150 mm X 300 mm umur 28 hari,
kecuali ditentukan lain, harus seperti berikut :

Bore Pile : f’c = 25 MPa


Pelat ,Kolom,Balok : f’c = 25 Mpa
Khhusus untuk bangunan pos jaga bisa menggunakan site mix dengan mutu
beton minimal fc’ = 21 Mpa
Untuk semua beton non-struktural seperti lantai kerja dan sebagainya :
Beton Klas – Bo

IX. PELAKSANAAN BETON READY-MIXED


9.1. Umum
a. Kecuali disetujui oleh Pengawas Lapangan, semua beton haruslah beton
ready-mixed yang didapatkan dari sumber yang disetujui Pengawas
Lapangan, dengan takaran, adukan serta cara
pengiriman/pengangkutannya harus memenuhi persyaratan di dalam
ASTM C94-78a, ACI 304-73, ACI Committee 304.

b. Adukan beton harus dibuat sesuai dengan perbandingan campuran yang


sesuai dengan yang telah diuji di laboratorium, serta secara konsisten
harus dikontrol bersama-sama oleh kontraktor dan supplier beton ready-
mixed. Kekuatan beton minimum yang dapat diterima adalah
berdasarkan hasil pengujian yang diadakan di laboratorium.

c. Pemeriksaan.
Bagi Pengawas Lapangan/MK diadakan jalan masuk ke proyek dan

Bab 3 - 27
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

ketempat pengantaran contoh atau pemeriksaan yang dapat dilalui setiap


waktu. Denah dan semua peralatan untuk pengukuran, adukan dan
pengantaran beton harus diperiksa oleh Pengawas Lapangan/MK
sebelum pengadukan beton.

d. Persetujuan.
Periksa areal dan kondisi pada mana pekerjaan di bawah bab ini yang
akan dilaksanakan. Perbaiki kondisi yang terusak oleh waktu dan
perlengkapan/penyelesaian pekerjaan. Jangan memproses sampai
keadaan perbaikan memuaskan. Jangan memulai pekerjaan beton
sampai hasil percobaan, adukan beton dan contoh-contoh benda uji
disetujui oleh Pengawas Lapangan/MK. Lagipula, jangan memulai
pekerjaan beton sampai semua penyerahan disetujui oleh Pengawas
Lapangan/MK.

e. Adukan Beton dan Kekuatan.


Adukan beton harus didesain dan disesuaikan dengan pemeriksaan
laboratorium oleh kontraktor dan harus diperiksa teratur oleh kedua pihak,
kontraktor dan pemasok beton ready-mix. Kekuatan tercantum adalah
kekuatan yang diijinkan minimum dan hasil dari hasil test oleh percobaan
laboratorium adalah dasar dari yang diijinkan.

f. Temperatur Beton Ready-Mix.


Batas temperatur untuk beton ready-mix sebelum dicor disyaratkan tidak
melampaui 38 oC.

g. Bahan Campuran Tambahan


Penambahan bahan additive dalam proses pembuatan beton ready-mix
harus sesuai dengan petunjuk pabrik additive tersebut. Bila diperlukan
dua atau lebih bahan additive maka pelaksanaannya harus dilaksanakan
secara terpisah. Dalam pelaksanaannya harus sesuai ACI 212-2R-71
dan ACI 212.IR-63 dilakukan hanya oleh teknisi in-charge dengan
persetujuan Pengawas Lapangan/MK sebelumnya.

h. Kendaraan Pengangkut
Kendaraan pengangkut beton ready-mix harus dilengkapi dengan
peralatan pengukur air yang tepat.

i. Pelaksanaan Pengadukan
Pelaksanaan pengadukan dapat dimulai dalam jangka waktu 30 menit
setelah semen dan agregat dituangkan dalam alat pengaduk.

j. Penuangan Beton
Proses pengeluaran beton ready-mix di lapangan proyek dari alat
pengaduk di kendaraan pengangkut harus sudah dilaksanakan dalam
jangka waktu 1,5 jam atau sebelum alat pengaduk mencapai 300
putaran. Dalam cuaca panas, batas waktu tersebut di atas harus
diperpendek sesuai petunjuk Pengawas Lapangan/MK.

Bab 3 - 28
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Perpanjangan waktu dapat diijinkan sampai dengan 4 jam bila


dipergunakan retarder yang harus disetujui oleh Pengawas
Lapangan/MK.

k. Keadaan Khusus
Apabila temperatur atau keadaan lainnya yang menyebabkan perubahan
slump beton maka Kontraktor harus segera meminta petunjuk atau
keputusan Pengawas Lapangan/MK dalam menentukan apakah adukan
beton tersebut masih memenuhi kondisi normal yang disyaratkan. Tidak
dibenarkan untuk menambah air ke dalam adukan beton dalam kondisi
tersebut.

l. Penggetaran
Penggetaran beton agar diperoleh beton yang padat harus sesuai
dengan ACI 309R-87 (Recommended Practice for Consolidation of
Concrete). Sedapat mungkin penggetaran beton dilakukan dengan
concrete-vibrator (engine/electric).

9.2. Pengecoran dan Pemadatan Beton


a. Persiapan
1) Kontraktor harus menyiapkan jadwal pengecoran dan menyerahan
kepada Pengawas Lapangan/MK untuk disetujui paling lambat 1
(satu) minggu sebelum memulai kegiatan pengecoran.
2) Sebelum pengecoran beton, bersihkan benar-benar cetakannya,
semprot dengan air dan kencangkan. Sebelum pengecoran, semua
cetakan, tulangan beton, dan benda-benda yang ditanamkan atau di
cor harus telah diperiksa dan disetujui oleh Pengawas
Lapangan/MK.
Permohonan untuk pemeriksaan harus diserahkan kepada
Pengawas Lapangan/MK setidak-tidaknya 24 jam sebelum beton di
cor. Kelebihan air, pengeras beton, puing, butir-butir lepasan dan
benda-benda asing lain harus disingkirkan dari bagian dalam cetakan
dan dari permukaan dalam dari pengaduk serta perlengkapan
pengangkutan.
3) Galian harus dibentuk sedemikian sehingga daerah yang langsung di
sekeliling struktur dapat efektif dan menerus dicor.

Seluruh galian harus dijaga bebas dari rembesan, luapan dan


genangan air sepanjang waktu, baik di titik sumur, pompa, drainase
ataupun segala perlengkapan dari kontraktor yang berhubungan
dengan listrik untuk pengadaan bagi maksud penyempurnaan.

Dalam segala hal, beton tidak boleh ditimbun di galian manapun,


kecuali bila galian tertentu telah bebas air dan lumpur.

4) Penulangan harus sudah terjamin dan diperiksa serta disetujui.


Logam-logam yang ditanam harus bebas dari adukan lama, minyak,
karat besi dan pergerakan lain ataupun lapisan yang dapat
mengurangi rekatan. Kereta pengangkut adukan beton yang beroda
tidak boleh dijalankan melalui tulangan ataupun disandarkan pada

Bab 3 - 29
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

tulangan. Pada lokasi dimana beton baru ditempelkan ke pekerjaan


beton lama, buat lubang pada beton lama, masukkan pantek baja,
dan kemas cairan tanpa adukan nonshrink.

5) Basahkan cetakan beton secukupnya untuk mencegah timbulnya


retak, basahkan bahan-bahan lain secukupnya untuk mengurangi
penyusutan dan menjaga pelaksanaan beton.

6) Penutup Beton
Bila tidak disebutkan lain, tebal penutup beton harus sesuai dengan
persyaratan SNI 2847:2019

7) Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan tebal penutup


beton, untuk itu tulangan harus dipasang dengan penahan jarak yang
terbuat dari beton dengan mutu paling sedikit sama dengan mutu
beton yang akan dicor.

Bila tidak ditentukan lain, maka penahan-penahan jarak dapat


berbentuk blok-blok persegi atau gelang-gelang yang harus dipasang
sebanyak minimum 8 buah setiap meter cetakan atau lantai kerja.
Penahan-penahan jarak tersebut harus tersebar merata.

b. Pengangkutan
Pengangkutan dan pengecoran beton harus sesuai dengan Persyaratan
Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847:
2019, ACI Committe 304 dan ASTM C94-98.

1) Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat


pengecoran harus dilakukan dengan cara-cara dengan mana dapat
dicegah pemisahan dan kehilangan bahan-bahan (segregasi).
2) Cara pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi
perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara adukan beton
yang sudah dicor dan yang akan dicor. Memindahkan adukan beton
dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran dengan perantaraan
talang-talang miring hanya dapat dilakukan setelah disetujui oleh
Pengawas Lapangan/MK. Dalam hal ini, Pengawas Lapangan/MK
mempertimbangkan persetujuan penggunaan talang miring ini,
setelah mempelajari usul dari pelaksana mengenai konstruksi,
kemiringan dan panjang talang itu. Batasan tinggi jatuh maximum
1,50 m.
3) Adukan beton pada umumnya sudah harus dicor dalam waktu 1 jam
setelah pengadukan dengan air dimulai. Jangka waktu ini harus
diperhatikan, apabila diperlukan waktu pengangkutan yang panjang.
Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang sampai 2 jam, apabila
adukan beton digerakkan kontinue secara mekanis.

Apabila diperlukan jangka waktu yang lebih panjang lagi, maka harus
dipakai bahan-bahan penghambat pengikatan yang berupa bahan
pembantu yang ditentukan dalam Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.

Bab 3 - 30
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

c. Pengecoran
1) Beton harus dicor sesuai persyaratan dalam Persyaratan Beton
Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847:
2019, ACI Committee 304, ASTMC 94-98.
2) Beton yang akan dituang harus ditempatkan sedekat mungkin
kecetakan akhir dalam posisi lapisan horizontal kira-kira tidak lebih
dari ketebalan 30 cm.
3) Tinggi jatuh dari beton yang dicor jangan melebihi 1,50 m bila tidak
disebutkan lain atau disetujui Pengawas Lapangan.
4) Untuk beton expose, tinggi jatuh dari beton yang dicor tidak boleh
lebih dari 1,0 m. Bila diperlukan tinggi jatuh yang lebih besar, belalai
gajah, corong pipa cor ataupun benda-benda lain yang disetujui harus
diperiksa, sedemikian sehingga pengecoran beton efektif pada
lapisan horisontal tidak lebih dari ketebalan 30 cm dan jarak dari
corong haruslah sedemikian sehingga tidak terjadi
segregasi/pemisahan bahan-bahan.
5) Beton yang telah mengeras sebagian atau yang telah dikotori oleh
bahan asing tidak boleh dituang ke dalam struktur.
6) Tempatkan adukan beton, sedemikian sehingga permukaannya
senantiasa tetap mendatar, sama sekali tidak diijinkan untuk
pengaliran dari satu posisi ke posisi lain dan tuangkan secepatnya
serta sepraktis mungkin setelah diaduk.
7) Bila pelaksanaan pengecoran akan dilakukan dengan cara atau
metoda di luar ketentuan yang tercantum di dalam SNI termasuk
pekerjaan yang tertunda ataupun penyambungan pengecoran, maka
"Kontraktor" harus membuat usulan termasuk pengujiannya untuk
mendapatkan persetujuan dari Pengawas Lapangan paling lambat 3
minggu sebelum pelaksanaan di mulai.

d. Pemadatan beton
1) Segera setelah dicor, setiap lapis beton digetarkan dengan alat
penggetar/vibrator, untuk mencegah timbulnya rongga-rongga kosong
dan sarang-sarang kerikil.
2) Alat penggetar harus type electric atau pneumatic power driven, type
"immersion", beroperasi pada 7000 RPM untuk kepala penggetar
lebih kecil dari diameter 180 mm dan 6000 RPM untuk kepala
penggetar berdiameter 180 mm, semua dengan amlpitudo yang
cukup untuk menghasilkan kepadatan yang memadai.
3) Alat penggetar cadangan harus dirawat selalu untuk persiapan pada
keadaan darurat di lapangan dan lokasi penempatannya sedekat
mungkin mendekati tempat pelaksanaan yang masih memungkinkan.
4) Hal-hal lain dari alat penggetar yang harus diperhatikan adalah :
 Pada umumnya jarum penggetar harus dimasukkan ke dalam
adukan kira-kira vertikal, tetapi dalam keadaan-keadaan khusus
boleh miring sampai 45oC.
 Selama penggetaran, jarum tidak boleh digerakkan ke arah
horisontal karena hal ini akan menyebabkan pemisahan bahan-
bahan.

Bab 3 - 31
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Harus dijaga agar jarum tidak mengenai cetakan atau bagian


beton yang sudah mulai mengeras. Karena itu jarum tidak boleh
dipasang lebih dekat dari 5 cm dari cetakan atau dari beton yang
sudah mengeras. Juga harus diusahakan agar tulangan tidak
terkena oleh jarum, agar tulangan tidak terlepas dari betonnya dan
getaran-getaran tidak merambat ke bagian-bagian lain dimana
betonnya sudah mengeras.
 Lapisan yang digetarkan tidak boleh lebih tebal dari panjang jarum
dan pada umumnya tidak boleh lebih tebal dari 30 - 50 cm.
Berhubung dengan itu, maka pengecoran bagian-bagian
konstruksi yang sangat tebal harus dilakukan lapis demi lapis,
sehingga tiap-tiap lapis dapat dipadatkan dengan baik.
 Jarum penggetar ditarik dari adukan beton apabila adukan mulai
nampak mengkilap sekitar jarum (air semen mulai memisahkan
diri dari agregat), yang pada umumnya tercapai setelah maximum
30 detik. Penarikan jarum ini dapat diisi penuh lagi dengan
adukan.
 Jarak antara pemasukan jarum harus dipilih sedemikian rupa
hingga daerah-daerah pengaruhnya saling menutupi.

9.3. Penghentian/Kemacetan Pekerjaan


Penghentian pengecoran hanya bilamana dan padamana diijinkan oleh
Pengawas Lapangan/MK.

Penjagaan terhadap terjadinya pengaliran permukaan dari pengecoran beton


basah bila pengecoran dihentikan, adakan tanggulan untuk pekerjaan ini.

9.4. Siar Pelaksanaan


a. Siar-siar pelaksanaan harus ditempatkan dan dibuat sedemikian rupa
sehingga tidak banyak mengurangi kekuatan dari konstruksi. Siar
pelaksanaan harus direncanakan sedemikian sehingga mampu
meneruskan geser dan gaya-gaya lainnya.

Apabila tempat siar-siar pelaksanaan tidak ditunjukkan didalam gambar-


gambar rencana, maka tempat siar-siar pelaksanaan itu harus disetujui
oleh Pengawas Lapangan/MK. Penyimpangan tempat-tempat siar
pelaksanaan daripada yang ditunjukkan dalam gambar rencana, harus
disetujui oleh Pengawas Lapangan/MK.
b. Antara pengecoran balok atau pelat dan pengakhiran pengecoran kolom
harus ada waktu antara yang cukup, untuk memberi kesempatan kepada
beton dari kolom untuk mengeras. Balok, pertebalan miring dari balok
dan kepala-kepala kolom harus dianggap sebagai bagian dari sistem
lantai dan harus dicor secara monolit dengan itu.
c. Pada pelat dan balok, siar-siar pelaksanaan harus ditempatkan kira-kira
di tengah-tengah bentangnya, dimana pengaruh gaya melintang sudah
banyak berkurang. Apabila pada balok ditengah-tengah bentangnya
terdapat pertemuan atau persilangan dengan balok lain, maka siar
pelaksanaan ditempatkan sejauh 2 kali lebar balok dari pertemuan atau
persilangan itu.

Bab 3 - 32
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

d. Permukaan beton pada siar pelaksanaan harus dibersihkan dari kotoran-


kotoran dan serpihan beton yang rapuh.
e. Sesaat sebelum melanjutkan penuangan beton, semua siar pelaksanaan
harus cukup lembab dan air yang menggenang harus disingkirkan.

9.5. Perawatan Beton


a. Secara umum harus memenuhi persyaratan didalam ACI 301-89.
b. Beton setelah dicor harus dilindungi terhadap proses pengeringan yang
belum saatnya dengan cara mempertahankan kondisi dimana kehilangan
kelembaban adalah minimal dan suhu yang konstan dalam jangka waktu
yang diperlukan untuk proses hydrasi semen serta pengerasan beton.
c. Masa Perawatan dan Cara Perawatan.
1. Perawatan beton dimulai segera setelah pengecoran selesai
dilaksanakan dan harus berlangsung terus menerus selama paling
sedikit 2 minggu jika tidak ditentukan lain. Suhu beton pada awal
pengecoran harus dipertahankan tidak melebihi 38 oC.
2. Dalam jangka waktu tersebut cetakan dan acuan betonpun harus
tetap dalam keadaan basah. Apabila cetakan dan acuan beton
tersebut pelaksanaan perawatan beton tetap dilakukan dengan
membasahi permukaan beton terus menerus dengan menutupinya
dengan karung-karung basah atau dengan cara lain yang disetujui
oleh Pengawas Lapangan/MK.
3. Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan udara luar,
pemanasan atau proses-proses lain untuk mempersingkat waktu
pengerasan dapat di pakai tetapi harus disetujui terlebih dahulu oleh
Pengawas Lapangan/MK.

d. Bahan Campuran Perawatan.


Harus sesuai dengan ASTM C309-80 type I dan ASTM C 171-75.

9.6. Toleransi pelaksanaan.

Sesuai dengan dimensi/ukuran tercantum dan ketentuan toleransi pada


cetakan Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019; ACI-301 dan ACI-347.
a. Toleransi Kedataran pada/untuk Pelat Lantai.
1. Penyelesaian akhir permukaan pelat menyatu. Keseragaman
kemiringan pelat lantai untuk mengadakan pengaliran positif dari
daerah yang ditunjuk. Perawatan khusus harus dilakukan agar halus,
meskipun sambungan diadakan di antara pengecoran yang dilakukan
terus menerus, jangan memakai semen kering, pasir atau campuran
dari semen dan pasir untuk beton kering.
2. Toleransi untuk pelat beton yang akan diexpose dan pelat yang akan
diberi karpet harus 7.0 mm dari 3 m dengan maksimum variasi tinggi
dan rendah yang terjadi tidak kurang dari 6 m.

3. Toleransi untuk pelat dalam menerima kepegasan lantai haruslah 7.0


mm dalam 3 m dengan maksimum variasi tinggi dan rendah yang
terjadi tidak kurang dari 6 m.

Bab 3 - 33
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

4. Toleransi untuk pelat dalam menerima adukan biasa untuk dasar


mengatur keramik, batu, bata, ubin lain dan "pavers" (mesin lapis
jalan beton), harus 10 mm dalam 1 m.

9.7. Penyelesaian dari Pelat (Finished Slab)

Pindahkan atau perbaiki, semua pelat yang tidak memenuhi peraturan ini
seperti yang dicantumkan. Kemiringan lantai beton untuk pengaliran seperti
tercantum. Apabila pelat gagal mengalir, alihkan aliran dari bagian lantai yang
salah lalu akhiri lagi dengan lapisan atas sehingga kemiringan pengaliran
sesuai dengan gambar.

Permohonan toleransi pelaksanaan dalam pengecoran beton harus tidak


mengecualikan kegagalan terhadap pemenuhan syarat-syarat ini.

Buat kesempatan untuk lendutan dari sistem lantai, pelat atau balok untuk
mengadakan pengaliran dari aliran.

9.8. Cacat pada Beton (Defective Work)

Meskipun hasil pengujian benda-benda uji memuaskan, Pengawas


Lapangan/MK mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang
cacat sepeti berikut :

a. Konstruksi beton yang keropos (honey-comb)


b. Konstruksi beton yang tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan
atau posisinya tidak sesuai dengan gambar.
c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang
direncanakan.
d. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lain.
e. Ataupun semua konstruksi beton yang tidak memenuhi seperti yang
tercantum dalam dokumen kontrak .
f. Atau yang menurut pendapat Pengawas Lapangan pada suatu pekerjaan
akhir, atau dapat mengenai bahannya atau pekerjaannya pada bagian
manapun dari suatu pekerjaan, tidak memenuhi pernyataan dari
spesifikasi.
g. Semua pekerjaan yang dianggap cacat tersebut pada dasarnya harus
dibongkar dan diganti dengan yang baru, kecuali Pengawas Lapangan
dan konsultan menyetujui untuk diadakan perbaikan atau perkuatan dari
cacat yang ditimbulkan tersebut. Untuk itu Kontraktor harus mengajukan
usulan-usulan perbaikan yang kemudian akan diteliti/diperiksa dan
disetujui bila perbaikan tersebut dianggap memungkinkan.
h. Perluasan dari pekerjaan yang akan dibongkar dan metoda yang akan
dipakai dalam pekerjaan pengganti harus sesuai dengan pengarahan dari
Pengawas Lapangan.

Dalam hal pembongkaran dan perbaikan pekerjaan beton harus


dilaksanakan dengan memuaskan.

Bab 3 - 34
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

i. Semua pekerjaan bongkaran dan penggantian dari pekerjaan cacat pada


beton dan semua biaya dan kenaikan biaya dari pembongkaran atau
penggantian harus ditanggung sebagai pengeluaran Kontraktor.

j. Retak-retak pada pekerjaan beton harus diperbaiki sesuai dengan


instruksi Pengawasan Lapangan.
k. Dalam hal terjadi beton keropos atau retak yang bukan struktur (karena
penyusutan dan sebagainya) atau cacat beton lain yang nyata pada
pembongkaran cetakan, Pengawas Lapangan/MK harus diberitahu
secepatnya, dan tidak boleh diplester atau ditambal kecuali diperintahkan
oleh Pengawas Lapangan/MK. Pengisian/injeksi dengan air semen
harus diadakan dengan perincian atau metoda yang paling
memadai/cocok.

9.9. Perlindungan dari Kerusakan Akibat Cuaca (Weather Injury)


a. Selama pengadukan
Dalam udara panas, bahan-bahan beton dingin sebelum dicampur
(memakai es sampai air dingin), agar pemeliharaan dari suhu beton
masih dalam batasan yang disyaratkan. Tidak diijinkan pemakaian air
hujan untuk menambah campuran air.
b. Selama pengecoran dan pemeliharaan.

1. Umum
Adakan pemeliharaan penutup selama pengecoran dan perawatan
dari beton untuk melindungi beton terhadap hujan dan terik matahari.
2. Dalam Cuaca Panas
Adakan dan pelihara keteduhan, penyemprotan kabut, ataupun
membasahi permukaan dari warna terang/muda, selama pengecoran
dan pemeliharaan beton untuk melindungi beton dari
kerugian/kehilangan bahan terhadap panas, matahari atau angin
yang berlebihan.
3. Kelebihan Perubahan Suhu
Lindungi beton sedemikian sehingga terjamin perubahan suhu yang
seragam di dalam beton, tidak lebih dari 3oC dalam setiap jamnya.

4. Perlindungan Bahan-bahan
Peliharalah bahan-bahan dan peralatan yang memadai untuk
perlindungan di lapangan dan siap untuk digunakan.

9.10. Pekerjaan Penyambungan Beton


a. Beton lama harus dikasarkan dan dibersihkan benar-benar dengan
semprotan udara bertekanan (compressed air) atau sejenisnya.
b. Kurang lebih 10 menit sebelum beton baru dicor, permukaan dari beton
lama yang sudah dibersihkan, harus dilapisi dengan bonding-agent kental
dengan kuas ex SIKA, Fosroc atau setara.
c. Untuk struktur pelat kedap air, permukaan dari pelat beton lama harus
dilapisi dengan bahan perekat beton polyvinyil acrylic (polyvinyl acrylic
concrete bonding agent) seperti disetujui oleh Pengawasan Lapangan.
d. Untuk struktur balok kedap air, permukaan dari balok beton lama harus
dilapisi dengan bahan perekat beton epoxy dengan bahan dasar semen

Bab 3 - 35
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

(epoxy cement base concrete bonding agent) seperti disetujui oleh


Pengawasan Lapangan.
e. Pengecoran beton baru sesegera mungkin sebelum campuran air dan
semen murni atau bahan perekat beton yang dilapiskan pada permukaan
beton lama mengering.

9.11. Penyelesaian Struktur Beton (Concrete Structure Finishes)

Adakan variasi penyelesaian struktur beton keseluruhan pembetonan seperti


terlihat pada gambar dan perincian disini.

a. Penyelesaian Beton Exposed (Finish of Exposed Concrete)


1. Semua permukaan-permukaan beton cor/tuang (all cast in place
concrete surfaces) yang tampak pada penyelesaian struktur, baik
dicat maupun tidak dicat kecuali untuk permukaan kasar yang
diselesaikan dengan permukaan disemprot pasir dengan tekanan
harus mempunyai penyelesaian halus.

Buatlah permukaan halus, seragam dan bebas dari tambalan-


tambalan, sirip-sirip, tonjolan-tonjolan, baik tonjolan keluar maupun
akibat pemasangan paku, tepian dari serat tanda (edge grain marks),
bersihkan cekungan-cekungan dan daerah permukaan celah semua
ukuran (clean out pockets, and areas of surface voids of any size)".

2. Semua pengikat-pengikat dari logam, termasuk yang dari spreaders,


harus dipotong kembali dan lubang-lubang dirapikan. Semua
tambalan bila diijinkan (pengisian dari cetakan yang diikat dengan
tekanan) harus diselesaikan sedemikian untuk dapat melengkapi
dalam perbedaan pada penyelesaian beton.
Tambalan pada suatu pekerjaan beton textured concrete work harus
diselesaikan dengan tangan untuk mencapai permukaan yang
diperlukan.

b. Penyelesaian Beton Terlindung (Finish of Concealed Concrete)

1. Permukaan beton terlindung harus termasuk beton yang diberi


lapisan termasuk lapisan arsitektur, kecuali cat atau bahan lapisan
yang fleksibel dan terlindung dari tampak pada penyelesaian struktur.
2. Beton terlindung dan beton unexposed perlu ditambal dan diperbaiki
dari keropos dan kerusakan-kerusakan permukaan sebagaimana
semestinya sebelum ditutup permukaannya.

c. Penambalan Beton

Siapkan bahan campuran (mortar) untuk penambahan beton yang terdiri


dari 1 (satu) bagian semen (yang diatur dengan semen putih atau
tambahan bahan pewarna bila diijinkan untuk menyesuaikan dengan
warna disekitarnya) dengan 2 1/2 (dua setengah) bagian pasir dengan air

Bab 3 - 36
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

secukupnya untuk mendapatkan adukan yang diperlukan.

Siapkan campuran percobaan (trial mixes) untuk menentukan mutu yang


sebenarnya. Siapkan panel-panel contoh (30 cm persegi) dan biarkan
sampai berumur 14 hari sebelum keputusan akhir dibuat dan
penambalan dikerjakan.

Olah lagi adukan seperti diatas sampai mencapai kekentalan yang


tertinggi yang diijinkan untuk pengecoran. Sikat bagian yang akan
ditambah dengan bahan perekat yang terdiri dari pasta campuran air dan
semen murni serta tambalkan adukan bila bahan perekat masih basah.

Hentikan penambalan sedikit lebih luas di sekeliling bagian yang ditambal,


biarkan untuk kira-kira satu sampai dua jam untuk memberi kesempatan
terhadap penyusutan dan penyesuaian penyelesaian (finish flush)
dengan permukaan sekelilingnya.

d. Penyelesaian dari Beton Pelat (Concrete Slab Finishes)


1) Semua penyelesaian dari lantai harus diselesaikan sampai
kemiringan yang benar sesuai dengan kemiringan untuk pengaliran.

2) Beton yang ditandai untuk mempunyai penyelesaian akhir dengan


memakai merek lain, harus bebas dari segala minyak, karet ataupun
lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya lekatan pada
penyelesaian.

3) Pemeliharaan dari penyelesaian beton harus dimulai sedini mungkin


setelah selesai pengerjaan.

e. Penyelesaian Menyatu (Monolith Finish)

 Penyelesaian yang monolit harus diadakan untuk lantai beton


expose, dimana permukaan agregat dikehendaki.

 Penyelesaian lantai beton yang monolit harus mencapai level dan


kemiringan yang tepat yang dapat dilakukan dengan atau tanpa
screed dengan power floating yang dilakukan secara merata.
Permukaan harus dapat bertahan sampai semua air permukaan
menghilang dan beton telah mengeras serta bekerja. Permukaan
yang diperbolehkan harus ditrowel dengan besi untuk mencapai
permukaan yang halus.
 Apabila permukaan menjadi keras, harus ditrowel dengan besi
untuk kedua kalinya untuk mendapatkan kekerasan, kehalusan
tapi tidak berlapis, padat, bebas dari segala tanda-tanda/bekas
trowel dan kerusakan-kerusakan lain.

f. Perkerasan Beton (Concrete Hardener)

Untuk keperluan pelat lantai beton expose dengan beban berat,


perkerasan beton harus diadakan dengan kepadatan sebagai berikut:

Bab 3 - 37
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Lantai parkir/sirkulasi lalu lintas normal, kepadatan sedang 5


kg/m2.
 Ruang M/E : kepadatan normal 3 kg/m2.
 Loading dock/sirkulasi lalu lintas berat, kepadatan berat 7 kg/m2.

g. Lapisan Penutup Lantai yang Dikerjakan Kemudian (Separate Floor


Toppings)
 Sebelum pengecoran, kasarkan permukaan dasar dari beton dan
singkirkan benda-benda asing, semprot dan bersihkan.
 Letakan penyekat, tepian-tepian, penulangan dan hal-hal lain yang
akan ditanam/dicor.
 Berikan bahan perekat pada permukaan dasar sesuai dengan
petunjuk. Gunakan lapisan pasir dan semen pada lapisan dasar
secepatnya sebelum mengecor lapisan penutup (topping).
 Pengecoran penutup lantai beton harus memenuhi level dan
kemiringan yang dikehendaki.
 Pada lantai parkir, lantai atap, perkerasan lantai harus diadakan
seperti diperinci pada : 4.3.13.c.2.

h. Beton Massa (Mass Concrete)

 Secara umum harus sesuai dengan ACI 207.1R-87, ACI 207.2R-


90 dan ACI 207.3R-79 Revised 1985.
 Sebelum pekerjaan dilaksanakan, kontraktor harus menentukan
metoda dari perbandingan, cara pengadukan, pengangkutan,
pengecoran serta pengontrolan temperatur dan cara perawatan,
yang harus diserahkan kepada Pengawasan Lapangan untuk
mendapatkan persetujuan.

 Bahan-bahan.
 Semen
Semen haruslah semen ordinary, moderate-heat atau semen
portland yang tahan terhadap sulfat.
 Agregat
Ukuran maksimum dari agregat kasar harus seperti telah
diperinci sebelumnya. Kecuali dinyatakan lain pada catatan,
agregat harus mengikuti ketentuan tentang bentuk dan ukuran
dari potongan melintang serta jarak bersih dari tulangan-
tulangan beton, dan seperti disetujui oleh Pengawasan
Lapangan.
 Bahan Tambahan (Admixture) Pozzolanic
Bahan tambahan (admixtures) Pozzolanic harus seperti
diuraikan pada ASTM C 618 (Specification for Fly Ash and
Raw or Calcined Natural Pozzolan for Use as a Mineral
Admixture in Portland Cement Concrete).
 Bahan Tambahan untuk Permukaan (Surface-active Agent)
Bahan tambahan untuk permukaan harus memenuhi
spesifikasi khusus. Kecuali yang tercantum dalam catatan,
suatu retarder type air entraining dan bahan "pereduce" air
(water reducing agent) atau harus digunakan retarder type

Bab 3 - 38
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

water reducing agent. Bagaimanapun, bahan tambahan


apapun yang akan dipakai, boleh dipakai bila dengan
persetujuan/ijin dari Pengawasan Lapangan.
 Bahan-bahan untuk campuran beton yang akan dipakai
haruslah dari bahan yang mempunyai suhu serendah
mungkin.

i. Proporsi/Perbandingan Campuran.

Perbandingan campuran harus ditetapkan untuk meminimumkan


jumlah semen tehadap campuran dalam batasan dari mutu beton
yang dikehendaki/diminta dan harus distujui oleh Pengawasan
Lapangan.

Slump untuk beton massa tidak boleh lebih dari 12 cm.

Bila penentuan perbandingan campuran berdasarkan umur beton 28


hari, maka umur beton juga perlu diperinci. Dalam hal ini desain
perbandingan campuran harus ditentukan sesuai dengan metoda
yang telah diperinci atau disetujui oleh Pengawasan Lapangan.

j. Penulangan
 Pemasangan tulangan harus sedemikian rupa sehingga posisi dari
bentuk tulangan tidak berubah selama pengecoran.
 Peraturan lain tentang penulangan harus sesuai dengan bab ini pasal
C.4. tentang pembesian.

k. Pengecoran dan Pemeliharaan Temperatur


 Sesudah beton dicor, permukaan harus dibasahi serta dilindungi
terhadap pengaruh langsung dari sinar matahari, pengeringan yang
mendadak dan lain-lain.
 Untuk mengetahui kenaikan temperatur beton serta pemeriksaan
dalam proses perawatan beton maka temperatur permukaan dan
temperatur di dalam beton harus diukur bilamana perlu setelah
pengecoran beton dilaksanakan.
 Apabila temperatur di bagian dalam beton mulai meningkat maka
perawatan beton harus sedemikian sehingga tidak mempercepat
kenaikan temperatur tersebut. Perhatian dicurahkan agar temperatur
pada permukaan beton menjadi tidak terlalu rendah dibandingkan
dengan temperatur di dalam beton.
 Setelah temperatur di dalam beton mencapai maksimum, maka
permukaan beton harus ditutupi dengan kanvas atau bahan penyekat
lainnya untuk mempertahankan panas sedemikian rupa sehingga
bagian dalam dan luar beton atau penurunan temperatur yang
mendadak di bagian dalam beton. Selanjutnya sesudah bahan
penutup tersebut diatas dibuka permukaan tetap harus dilindungi
terhadap pengeringan yang mendadak.
 Campuran beton yang direncanakan utuk adukan beton yang dibuat
harus berdasarkan pada kekuatan beton umur 28 hari.

Bab 3 - 39
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Bila campuran beton yang direncanakan tersebut sudah dibuat maka


perkiraan kekuatan tekan beton dalam struktur harus dilaksanakan
sesuai dengan persyaratan khusus untuk itu atau sesuai instruksi
Pengawasan Lapangan.
 Cara perawatan dari benda uji untuk pengujian kekuatan tekan beton
guna dapat menetukan waktu yang sesuai untuk pembongkaran
cetakan beton sesuai dengan persyaratan khusus untuk itu atau
sesuai persetujuan Pengawasan Lapangan.

9.12. Perlindungan Terhadap Mekanik dan Kerusakan pada Masa


Pelaksanaan
(Protection from Mechanical and Construction Injury).
Selama masa pemeliharaan, beton harus dilindungi dari kerusakan akibat
mekanik, tegangan-tegangan akibat beban utama, kejutan besar (heavy
shock) dan getaran yang berlebihan.

9.13. Percobaan Beton


a. Gudang/Tempat Penyimpanan Contoh Benda Uji.
Gudang penyimpanan yang terjamin atau ruangan harus disediakan oleh
"kontraktor" untuk menyimpan benda-benda uji silinder beton, selama
pemeliharaan. Gudang harus mempunyai ruang yang cukup untuk
menampung semua fasilitas yang diperlukan dan semua benda uji kubus
yang dimaksudkan. Kontraktor harus menyerahkan detail dari gudang
kepada Pengawasan Lapangan untuk persetujuan. Gudang harus
dilengkapi dengan pintu yang kuat dan kunci yang bermutu baik.
Pengawasan Lapangan berhak untuk langsung meninjau ruang/gudang
penyimpanan contoh benda uji silinder tersebut.

b. Percobaan Laboratorium.
Contoh-contoh untuk test kekuatan harus diambil sesuai dengan SNI,
ASTM C-172, ASTM C-31.

c. Penyelidikan dari Hasil Percobaan dengan Kekuatan Rendah.


Apabila mutu benda uji berdasarkan hasiil percobaan kekuatan kubus
ternyata lebih rendah dari yang disyaratkan, maka harus dilakukan
percobaan-percobaan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Hammer test, percobaan palu beton, harus sesuai dengan ASTM C-
805-79. Apabila hasil dari percobaan ini masih lebih rendah dari yang
disyaratkan, maka harus dilakukan percobaan tahap berikut di bawah
ini.
2. Drilled Core Test, harus sesuai dengan ASTM C42-94. Apabila hasil
dari percobaan drilled core ini masih lebih rendah dari yang
disyaratkan, maka harus dilakukan percobaan tahap berikut di bawah
ini.
3. Loading Test/percobaan pembebanan harus sesuai dengan
Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019 dan ACI-318-99. Apabila hasil dari
percobaan pembebanan ini masih lebih rendah dari yang disyaratkan,
maka beton dinyatakan tidak layak dipakai.

Bab 3 - 40
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

9.14. Penyimpangan Maksimum dari Pekerjaan Struktur yang Diijinkan

Kecuali ditentukan lain, secara umum harus sesuai dengan ACI-301


(Specification for Structural Concrete for Building). Apabila didapati beberapa
toleransi yang dapat dipakai bersamaan, maka harus diambil/dipakai adalah
yang terhebat/terkeras.

9.15. Lain-lain

Grouting dan Drypacking

a. Grout/Penyuntikan Air Semen.


Satu bagian semen, 2 bagian pasir dan air secukupnya agar dapat
mengalir dengan sendirinya. Pengurangan air dan bahan tambahan
untuk kemudahan pekerjaan beton boleh diberikan sesuai dengan
pertimbangan "kontraktor" melalui persetujuan Pengawasan Lapangan.

b. Drypack/Campuran Semen Kering


Satu bagian semen, 2 bagian pasir dengan air sekadarnya untuk
mengikat bahan-bahan menjadi satu.

c. Installation/Pengerjaan
Basahkan permukaan sebelum digrout dan taburi (slush) dengan semen
murni. Tekankan grout sedemikian agar mengisi kekosongan/celah-celah
dan membentuk lapisan seragam dibawah pelat. Haluskan penyelesaian
pada permukaan beton expose dan adakan perawatan dengan
pembasahan/pelembaban sedikitnya 3 hari.

Non-Shrink Grout
Campurkan dan tepatkan dibawah pelat dasar baja struktur dan ditempat lain
dimana non-shrink grout diperlukan, sesuai dengan instruksi dan
rekomendasi yang tercantum dari pabrik. Technical service harus dikerjakan
oleh perusahaan/pabrik.
Perusahaan/pabrik yang bahan groutnya dipakai, harus mengerjakan
percobaan hasil yang memperlihatakan bahwa grout non-shrink tidak ada
penyusutan sejak awal pengecoran atau sambungan setelah pemasangan
sesuai CRD-C621-80 (susut); mempunyai kekuatan tekan 1 hari tidak kurang
dari 3000 psi dan 8000 psi pada 28 hari sesuai ASTM C109; mempunyai
waktu pengikatan awal tidak kurang dari 45 menit sesuai ASTM C191,
memperlihatkan luasan bearing effective (EBA = Effective Bearing Area)
sebesar 90 sampai 100 persen.

Grout yang terdiri dari accelatator inorganis, pengurangan air, atau "fluidifiers"
harus tidak boleh mempunyai penyusutan kering lebih besar dari persamaan
semen pasir dan campuran air seperti percobaan di bawah ASTM C 596.
Semua grout harus menurut syarat petunjuk dari CRD-C611-80 (flow cone).

Bab 3 - 41
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

X. PEKERJAAN BETON BERTULANG


10.1. PEKERJAAN
 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan yang termasuk beton bertulang meliputi :

1. Penyediaan dan pendayagunaan semua tenaga kerja, bahan-bahan,


instalasi konstruksi dan perlengkapan-perlengkapan untuk semua
pembuatan dan mendirikan semua baja tulangan, bersama dengan
semua pekerjaan pertukangan/keahlian lain yang ada hubungannya
dengan itu, lengkap sebagaimana diperlihatkan, dispesifikasikan atau
sebagaimana diperlukannya.
2. Tanggung jawab "kontraktor" atas instalasi semua alat-alat yang
terpasang, selubung-selubung dan sebagainya yang tertanam di dalam
beton. Syarat-syarat umum pada pekerjaan ini berlaku penuh
Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019, ASTM dan ACI.
3. Ukuran-ukuran (dimensi) dari bagian-bagian beton bertulang yang tidak
termasuk pada gambar-gambar rencana pelaksanaan arsitektur adalah
ukuran-ukuran dalam garis besar. Ukuran-ukuran yang tepat, begitu pula
besi penulangannya ditetapkan dalam gambar-gambar struktur konstruksi
beton bertulang. Jika terdapat selisih dalam ukuran antara kedua macam
gambar itu, maka ukuran yang harus berlaku harus dikonsultasikan
terlebih dahulu dengan perencana atau Pengawasan Lapangan/MK
guna mendapatkan ukuran yang sesungguhnya disetujui oleh perencana.
4. Jika karena keadaan pasaran, besi penulangan perlu diganti guna
kelangsungan pelaksanaan maka jumlah luas penampang tidak boleh
berkurang dengan memperhatikan syarat-syarat lainnya yang termuat
dalam Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019. Dalam hal ini Pengawasan Lapangan/MK
harus segera diberitahukan untuk persetujuannya, sebelum fabrikasi
dilakukan.
5. Penyediaan dan penempatan tulangan baja untuk semua pekerjaan
beton yang berlangsung dicor di tempat, termasuk penyediaan dan
penempatan batang-batang dowel ditanamkan di dalam beton seperti
terlihat dan terperinci di dalam gambar atau seperti petunjuk
Pengawasan Lapangan
6. dan, bila disyaratkan, penyediaan penulangan untuk dinding blok beton.
7. "Kontraktor" harus bertanggungjawab untuk membuat dan membiayai
semua desain campuran beton dan test-test untuk menentukan
kecocokan dari bahan dan proporsi dari bahan-bahan terperinci untuk
setiap jenis dan kekuatan beton, dari perincian slump, yang akan
bekerja/berfungsi penuh untuk semua teknik dan kondisi penempatan,
dan akan menghasilkan yang diijinkan oleh Pengawas Lapangan.
Kontraktor berkewajiban mengadakan dan membiayai Test Laboratorium.
8. Pekerjaan-pekerjaan lain yang termasuk adalah :
- semua pekerjaan beton yang tidak terperinci di luar ini
- pemeliharaan dan finishing, termasuk grouting
- mengatur benda-benda yang ditanam di dalam beton, kecuali
tulangan beton

Bab 3 - 42
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- koordinasi dari pekerjaan ini dengan pekerjaan dari lain bagian


- sparing dalam beton untuk instalasi M/E
- penyediaan dan penempatan stek tulangan pada setiap pertemuan
dinding bata dengan kolom/dinding beton struktural dan dinding bata
dengan pelat beton struktural seperti yang ditunjukkan oleh Pengawas
Lapangan.

 Referensi dan Standar-Standar


Semua pekerjaan yang tercantum dalam bab ini, kecuali tercantum dalam
gambar atau diperinci, harus memenuhi edisi terakhir dari peraturan,
standard dan spesifikasi berikut ini :

a. SNI 2847: 2019 Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan


Gedung dan Penjelasan

b. ACI - 304 ACI 304.1R-92, State-of-the Art Report on Preplaced


Aggregate Conc. for Structural and Mass Concrete, Part 2
ACI 304.2R-91, Placing Concrete by Pumping Methods, Part 2

c. ASTM - C94 Standard Specification for Ready-Mixed Concrete

d. ASTM - C33 Standard Specification for Concrete Aggregates


e. ACI - 318 Building Code Requirements for Reinforced Concrete

f. ACI - 301 Specification for Structural Concrete of Building


g. ACI - 212 ACI 212.IR-63, Admixture for Concrete, Part 1
ACI 212.2R-71, Guide for Use of Admixture in Concrete, Part 1
h. ASTM - C143 Standard Test Method for Slump of Portland Cement
Concrete

i. ASTM - C231 Standard Test Method for Air Content of Freshly Mixed
Concrete by the Pressure Method
j. ASTM - C171 Standard Specification for Sheet Materials for Curing
Concrete

k. ASTM - C172 Standard Method of Sampling Freshly Mixed Concrete

l. ASTM - C31 Standard Method of Making and Curing Concrete Test


Specimens in the Field

m. ASTM - C42 Standard Method of Obtaining and Testing Drilled


Cores and Sawed Beams of Concrete

n. ASTM - C309 Standard Specification for Liquid Membrane Forming


Compounds for Curing Concrete

o. ASTM - D1752 Standard Specification for Performed Spange


Rubberand Cork Expansion Joint Fillers for Concrete Paving and
Structural Construction

Bab 3 - 43
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

p. ASTM - D1751 Standard Specification for Performed Expansion


Joint Fillers for Concrete Paving and Structural Construction (Non-
extruding and Resilient Bituminous Types)

q. SII Standard Industri Indonesia

r. ACI - 315 Manual of Standard Practice for Reinforced Concrete

s. ASTM - A185 Standard Specification for Welded Steel Wire Fabric for
Concrete Reinforcement.

t. ASTM - A165 Standard Specification for Deformed and Plain Billet


Steel Bars for Concrete Reinforcement, Grade 40, deformed, for
reinforcing bars, Grade 40, for stirrups and ties.
u. Petunjuk-petunjuk lisan maupun tertulis yang diberikan oleh
pengawas.

 Penyerahan-penyerahan
Penyerahan-penyerahan berikut harus dilaksanakan oleh Kontraktor kepada
Pengawas Lapangan sesuai dengan jadwal yang telah disetujui untuk
menyerahkan dan dengan segera sehingga tidak menyebabkan
keterlambatan pada pekerjaan sendiri maupun pada pekerjaan kontraktor
lain.
a. Gambar pelaksanaan

Merupakan gambar tahapan pelaksanaan yang harus diserahkan oleh


Kontraktor kepada Pengawas Lapangan untuk mendapat persetujuan ijin.
Penyerahan harus dilakukan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja
sebelum jadwal pelaksanaan pekerjaan beton.

b. Data dari pabrik/sertifikat

Untuk mendapat jaminan atas mutu beton ready-mix, maka sebelum


pengiriman; Kontraktor harus sudah menyerahkan kepada Pengawas
Lapangan sedikitnya 5 hari kerja sebelum pengiriman; hasil-hasil
percobaan laboratorium, baik hasil percobaan bahan maupun hasil
percobaan campuran (Mix Design dan Trial Mix) yang diperuntukan
proyek ini.

c. Harus diajukan minimal 2 (dua) supplier beton ready-mix untuk


memperlancar pelaksanaan dan mendapat persetujuan Pengawas
Lapangan/MK sebelum memulai pengecoran.

 Percobaan Bahan dan Campuran Beton


a. Umum
Test bahan : Sebelum membuat campuran, test laboratorium harus
dilakukan untuk test berikut, sehubungan dengan prosedur-prosedur
ditujukan ke standard referensi untuk menjamin pemenuhan spesifikasi
proyek untuk membuat campuran yang diperlukan.

Bab 3 - 44
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

b. Semen : berat jenis semen


c. Agregat :
Analisa tapis, berat jenis, prosentase dari void (kekosongan),
penyerapan, kelembaban dari agregat kasar dan halus, berat kering dari
agregat kasar, modulus terhalus dari agregat halus.

d. Adukan/campuran beton
 Adukan beton harus didasarkan pada trial mix dan mix design
masing-masing untuk umur 7, 14 atau 21 dan 28 hari yang
didasarkan pada minimum 20 hasil pengujian atau lebih sedemikian
rupa sehingga hasil uji tersebut dapat disetujui oleh Pengawas
Lapangan.
Hasil uji yang disetujui tersebut sudah harus disertakan selambat-
lambatnya 3 minggu sebelum pengerjaan dimulai, dan selain itu mutu
betonpun harus sesuai dengan mutu Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.
Pekerjaan tidak boleh dimulai sebelum diperiksa Pengawas Lapangan
tentang kekuatan/kebersihannya.
Semua pembuatan dan pengujian trial mix dan design mix serta
pembiayaannya adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor. Trial mix dan design mix harus diadakan lagi bila agregat
yang dipakai diambil dari sumber yang berlainan, merk semen yang
berbeda atau supplier beton yang lain.

 Ukuran-ukuran
Campuran desain dan campuran percobaan harus proporsional
semen terhadap agregat berdasarkan berat, atau proporsi yang
cocok dari ukuran untuk rencana proposional atau perbandingan yang
harus disetujui oleh Pengawas Lapangan.

 Percobaan adukan untuk berat normal beton

Untuk perincian minimum dan maximum slump untuk setiap jenis dan
kekuatan dari berat normal beton, dibuat empat (4) adukan campuran
dengan memakai nilai faktor air-semen yang berbeda-beda.

 Pengujian mutu beton ditentukan melalui pengujian sejumlah benda


uji silinder beton diameter 15 cm x tinggi 30 cm sesuai Persyaratan
Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI
2847: 2019, ACI Committee - 304, ASTM C 94-98.

 Benda uji (setiap pengambilan terdiri dari 3 buah dengan pengetesan


dilakukan pada hari yang tercantum pada item 6) dari satu adukan
dipilih acak yang mewakili suatu volume rata-rata tidak lebih dari 10
m3 atau 10 adukan atau 2 truck drum (diambil yang volumenya
terkecil). Disamping itu jumlah maximum dari beton yang dapat
terkena penolakan akibat setiap satu keputusan adalah 30 m3,
kecuali bila ditentukan lain oleh Pengawas Lapangan.

 Hasil uji untuk setiap pengujian dilakukan masing-masing untuk umur

Bab 3 - 45
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

7, 14 atau 21 dan 28 hari.

 Pembuatan benda uji harus mengikuti ketentuan Persyaratan Beton


Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847:
2019, dilakukan di lokasi pengecoran dan harus disaksikan oleh
Pengawas Lapangan. Apabila digunakan metoda pembetonan
dengan menggunakan pompa (concrete pump), maka pengambilan
contoh segala macam jenis pengujian lapangan harus dilakukan dari
hasil adukan yang diperoleh dari ujung pipa "concrete-pump" pada
lokasi yang akan dilaksanakan.

 Pengujian bahan dan beton harus dilakukan dengan cara yang


ditentukan dalam Standard Industri Indonesia (SII) dan Persyaratan
Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI
2847: 2019, NI-2 atau metoda uji bahan yang disetujui oleh
Pengawas Lapangan.
 Rekaman lengkap dari hasil uji bahan dan beton harus disediakan
dan disimpan dengan baik oleh tenaga pengawas ahli, dan selalu
tersedia untuk keperluan pemeriksaan selama pelaksanaan
pekerjaan dan selama 5 tahun sesudah proyek bangunan tersebut
selesai dilaksanakan.

e. Pengujian slump

 Kekentalan adukan beton diperiksa dengan pengujian slump, dimana


nilai slump harus dalam batas-batas yang diisyaratkan dalam
Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019 dan sama sekali tidak diperbolehkan
adanya penambahan air/additive, kecuali ditentukan lain oleh
Pengawas Lapangan.
 "Kontraktor" harus menjamin bahwa ia mampu dengan slump berikut,
beton dengan mutu dan kekuatan yang memuaskan, yang akan
menghasilkan hasil akhir yang bebas keropos, ataupun berongga-
rongga. Pelaksanaan dari persetujuan kontrak adalah bahwa
"Kontraktor" bertanggung jawab penuh untuk produksi dari beton dan
pencapaian mutu, kekuatan dan penyelesaian yang memenuhi syarat
batas slump.
Bila dipakai pompa beton, slump harus didasarkan pada pengukuran
di pelepasan pipa, bukan di truk mixer. Maximum slump harus 150
mm.
 Rekomendasi slump untuk variasi beton konstruksi pada keadaan
atau kondisi normal :

Bab 3 - 46
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Slump pada (cm)

Konstruksi Beton Maksimum Minimum

Dinding, pelat fondasi dan fondasi telapak 12.50 10.00


bertulang.

Fondasi telapak tidak bertulang, kaison dan 9.00 7.50


konstruksi di bawah tanah.

Pelat, balok, kolom dan dinding. 15.00 12.50

Pembetonan massal. 7.50 7.50

Untuk beton dengan bahan tambahan plasticizer, slump dapat dinaikkan


sampai maksimum 1,5 cm.

f. Percobaan tambahan

 Kontraktor, tanpa membebankan biaya kepada pemilik, harus


mengadakan percobaan laboratorium selaku percobaan tambahan
pada bahan-bahan beton dan membuat desain adukan baru bila sifat
atau pemilihan bahan diubah atau apabila beton yang ada tidak dapat
mencapai kekuatan spesifikasi.
 Hasil pengujian beton harus diserahkan sesaat sebelum tahapan
pelaksanaan akan dilakukan, yaitu khususnya untuk pekerjaan yang
berhubungan dengan pelepasan perancah/acuan. Sedangkan untuk
pengujian di luar ketentuan pekerjaan tersebut, harus diserahkan
kepada Pengawas Lapangan dalam jangka waktu tidak lebih dari 3
hari setelah pengujian dilakukan.

10.2. BAHAN-BAHAN/PRODUK
Sedapat mungkin, semua bahan dan ketenagaan harus disesuaikan dengan
peraturan-peraturan Indonesia.

1. Semen
a. Mutu semen
 Semen portland harus memenuhi persyaratan standard
Internasional atau Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A SK SNI
3-04-1989-F atau sesuai SII-0013-82, Type-1 atau NI-8 untuk butir
pengikat awal kekekalan bentuk, kekuatan tekan aduk dan
susunan kimia. Semen yang cepat mengeras hanya boleh
dipergunakan dimana jika hal tersebut dikuasakan tertulis secara
tegas oleh Pengawas Lapangan.

Bab 3 - 47
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Jika mempergunakan semen portland pozolan (campuran semen


portland dan bahan pozolan) maka semen tersebut harus
memenuhi ketentuan SII 0132 Mutu dan Cara Uji Semen Portland
Pozoland atau spesifikasi untuk semen hidraulis campuran.
 Di dalam syarat pelaksanaan pekerjaan beton harus dicantumkan
dengan jelas jenis semen yang boleh dipakai dan jenis semen ini
harus sesuai dengan jenis semen yang digunakan dalam
ketentuan persyaratan mutu (semen tipe 1).

b. Penyimpanan Semen
 Penyimpanan semen harus dilaksanakan dalam tempat
penyimpanan dan dijaga agar semen tidak lembab, dengan lantai
terangkat bebas dari tanah dan ditumpuk sesuai dengan syarat
penumpukan semen dan menurut urutan pengiriman. Semen
yang telah rusak karena terlalu lama disimpan sehingga mengeras
ataupun tercampur bahan lain, tidak boleh dipergunakan dan
harus disingkirkan dari tempat pekerjaan. Semen harus dalam
zak-zak yang utuh dan terlindung baik terhadap pengaruh cuaca,
dengan ventilasi secukupnya dan dipergunakan sesuai dengan
urutan pengiriman. Semen yang telah disimpan lebih 60 hari tidak
boleh digunakan untuk pekerjaan.
 Curah semen harus disimpan di dalam konstruksi silo secara tepat
untuk melindungi terhadap penggumpalan semen dalam
penyimpanan.
 Semua semen harus baru, bila dikirim setiap pengiriman harus
disertai dengan sertifikat test dari pabrik.
 Semen harus diukur terhadap berat untuk kesalahan tidak lebih
dari 2,5 %.
 "Kontraktor" harus hanya memakai satu merek dari semen yang
telah disetujui untuk seluruh pekerjaan. "Kontraktor" tidak boleh
mengganti merk semen selama pelaksanaan dari pekerjaan,
kecuali dengan persetujuan tertulis dari Pengawas Lapangan.

2. Agregat
Agregat untuk beton harus memenuhi ketentuan dan persyaratan dari SII
0052-80 "Mutu dan Cara Uji Agregat Beton" dan bila tidak tercakup dalam
SII 0052-80, maka harus memenuhi spesifikasi agregat untuk beton.
a. Agregat halus (Pasir)
Mutu pasir untuk pekerjaan beton harus terdiri dari : butir-butir tajam,
keras, bersih, dan tidak mengandung lumpur dan bahan-bahan
organis.
Agregat halus harus terdiri dari distribusi ukuran partikel-partikel
seperti yang ditentukan di pasal 3.5. dari.
Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 %
(ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan dengan lumpur
adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0.063 mm. Apabila
kadar lumpur melampaui 5 %, maka agregat halus harus dicuci.
Sesuai Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung
dan Penjelasan SNI 2847: 2019.
Ukuran butir-butir agregat halus, sisa di atas ayakan 4 mm harus

Bab 3 - 48
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

minimum 2 % berat; sisa di atas ayakan 2 mm harus minimum 10 %


berat; sisa di atas ayakan 0,25 mm harus berkisar antara 80 % dan 90 %
berat.
Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu
beton.

Penyimpanan pasir harus sedemikian rupa sehingga terlindung dari


pengotoran oleh bahan-bahan lain.

b. Agregat Kasar (Kerikil dan Batu Pecah)

Yang dimaksud dengan agregat kasar yaitu kerikil hasil desintegrasi


alami dari batu-batuan atau batu pecah yang diperoleh dari
pemecahan batu, dengan besar butir lebih dari 5 mm sesuai
Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019.

Mutu koral : butir-butir keras, bersih dan tidak berpori, batu pecah
jumlah butir-butir pipih maksimum 20 % bersih, tidak mengandug zat-
zat alkali, bersifat kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh
cuaca.

Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % (terhadap berat


kering) yang diartikan lumpur adalah bagian-bagian yang melalui
ayakan 0.063 mm apabila kadar lumpur melalui 1 % maka agregat
kasar harus dicuci.

Tidak boleh mengandung zat-zat yang reaktif alkali yang dapat


merusak beton.

Ukuran butir : sisa diatas ayakan 31,5 mm, harus 0 % berat; sisa
diatas ayakan 4 mm, harus berkisar antara 90 % dan 98 %, selisih
antara sisa-sisa kumulatif di atas dua ayakan yang berurutan, adalah
maksimum 60 % dan minimum 10 % berat.

Kekerasan butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji


dari Rudeloff dengan beban penguji 20 t, harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :
- tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9.5 - 19 mm lebih dari 24
% berat
- tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19-30 mm lebih dari 22 %
atau dengan mesin pengaus Los Angeles, tidak boleh terjadi
kehilangan berat lebih dari 50 % sesuai SII 0087-75, atau
Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan
Penjelasan SNI 2847: 2019
Penyimpanan kerikil atau batu pecah harus sedemikian rupa agar
terlindung dari pengotoran bahan-bahan lain.

3. Air

Bab 3 - 49
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Air untuk pembuatan dan perawatan beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam alkali, garam-garam, bahan organis atau
bahan-bahan lain yang dapat merusak beton serta baja tulangan atau
jaringan kawat baja. Untuk mendapatkan kepastian kelayakan air yang
akan dipergunakan, maka air harus diteliti pada laboratorium yang
disetujui oleh Pengawas Lapangan.
4. Bahan Campuran Tambahan (Admixture)
Admixture harus disimpan dan dilindungi untuk menjaga kerusakan dari
container. Admixture harus sesuai dengan ACI 212.2R-71 dan ACI 212
2R-64. Segala macam admixture yang akan digunakan dalam pekerjaan
harus disetujui oleh Pengawas Lapangan. Admixture yang mengandung
chloride atau nitrat tidak boleh dipakai.

5. Mutu dan Konsistensi dari Beton


Kekuatan ultimate tekan beton silinder 150 mm X 300 mm umur 28 hari,
kecuali ditentukan lain, harus seperti berikut :

Bore Pile : f’c = 25 MPa


Semua pelat, balok, pile-cap : f’c = 25 MPa
Semua kolom dan dinding beton : f’c = 25 Mpa
Untuk bangunan pos jaga boleh menggunakan site mix dengan mutu
beton minimal fc’ = 21 Mpa.
Untuk semua beton non-struktural seperti lantai kerja dan sebagainya :
Beton Klas – Bo

XI. PEMBESIAN

11.1. PERCOBAAN DAN PEMERIKSAAN (TEST AND INSPECTIONS)


Setiap pengiriman harus berasal dari pemilihan yang disetujui dan harus disertai
surat keterangan percobaan dari pabrik.

Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus diadakan pengujian periodik
minimal 4 contoh yang terdiri dari 3 benda uji untuk uji tarik, dan 1 benda uji untuk uji
lengkung untuk setiap diameter batang baja tulangan. Pengambilan contoh baja
tulangan akan ditentukan oleh Pengawas Lapangan/MK.

Semua pengujian tersebut di atas meliputi uji tarik dan lengkung, harus dilakukan di
laboratorium Lembaga Uji Konstruksi BPPT atau laboratorium lainnya
direkomendasi oleh Pengawas Lapangan/MK dan minimal sesuai dengan SII-0136-
84 salah satu standard uji yang dapat dipakai adalah ASTM A-615. Semua biaya
pengetesan tersebut ditanggung oleh Kontraktor.
Segala macam kotoran, karat, cat, minyak atau bahan-bahan lain yang merugikan
terhadap kekuatan rekatan harus dibersihkan.

Tulangan harus ditempatkan dan dipasang cermat dan tepat dan diikat dengan
kawat dari baja lunak.

Sambungan mekanis harus ditest dengan percobaan tarik.

Bab 3 - 50
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Sebelum pengecoran beton, lakukan pemeriksaan dan persetujuan dari pembesian,


termasuk jumlah, ukuran, jarak, selimut, lokasi dari sambungan dan panjang
penjangkaran dari penulangan baja oleh Pengawas Lapangan/MK.

Sertifikat :
Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baja tulangan, maka pada saat
pemesanan baja tulangan kontraktor harus menyerahkan sertifikat resmi dari
Laboratorium. Khusus ditujukan untuk keperluan proyek ini.

11.2. BAHAN-BAHAN / PRODUK


a. Tulangan
Sediakan tulangan berulir mutu BJTS-420B, sesuai dengan SNI 2052-2017 dan
SNI 2052-2017 seperti dinyatakan pada gambar-gambar struktur.

Tulangan ulir dengan diameter lebih besar atau sama dengan 10 mm harus baja
tegangan tarik tinggi, batang berulir dengan tegangan leleh 4200 kg/cm2.

b. Tulangan Anyaman (Wire mesh)


Sediakan tulangan anyaman , mutu U-50, mengikuti SII 0784-83.
c. Penunjang/Dudukan Tulangan (Bar Support)
Dudukan tulangan haruslah tahu beton yang dilengkapi dengan kawat pengikat
yang ditanam, atau batang kursi tinggi sendiri (Individual High Chairs).
d. Bolstern, kursi, spacers, dan perlengkapan-perlengkapan lain untuk mengatur
jarak.
1. Pakai besi dudukan tulangan menurut rekomendasi CRSI, kecuali
diperlihatkan lain pada gambar.
2. Jangan memakai kayu, bata atau bahan-bahan lain yang tidak
direkomendasi.
3. Untuk pelat di atas tanah, pakai penunjang dengan lapisan pasir atau
horizontal runners dimana bahan dasar tidak akan langsung menunjang
batang kursi (chairs legs). Atau pakai lantai kerja yang rata.
4. Untuk beton ekspose, dimana batang-batang penunjang langsung
berhubungan/ mengenai cetakan, sediakan penunjang dengan jenis hot-dip-
galvanized atau penunjang yang dilindungi plastik.
e. Kawat Pengikat
Dibuat dari baja lunak dan tidak disepuh seng.

11.3. JAMINAN MUTU


Bahan-bahan harus dari produk yang sama seperti yang telah disetujui oleh
Pengawas Lapangan.

Sertifikat dari percobaan (percobaan giling atau lainnya) harus diperlihatkan untuk
semua tulangan yang dipakai. Percobaan-percobaan ini harus memperlihatkan hasil-
hasil dari semua kom- posisi kimia dan sifat-sifat fisik.

Bab 3 - 51
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

11.4. PERSIAPAN PEKERJAAN/PERAKITAN TULANGAN


Pembengkokkan dan pembentukan.
Pemasangan tulangan dan pembengkokan harus sedemikian rupa sehingga posisi
dari tulangan sesuai dengan rencana dan tidak mengalami perubahan bentuk
maupun tempat selama pengecoran berlangsung.
Pembuatan dan pemasangan tulangan sesuai dengan Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.

Toleransi pembuatan dan pemasangan tulangan disesuaikan dengan Persyaratan


Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019 atau
A.C.I. 315.

11.5. PENGIRIMAN, PENYIMPANAN DAN PENANGANANNYA


Pengiriman tulangan ke lapangan dalam kelompok ikatan ditandai dengan
etiket/label yang mencantumkan ukuran batang, panjang dan tanda pengenal.

Pemindahan tulangan harus hati-hati untuk mengindari kerusakan. Gudang di atas


tanah harus kering, daerah yang bagus saluran-salurannya, dan terlindung dari
lumpur, kotoran, karat dsb.

XII. PELAKSANAAN PEMASANGAN TULANGAN, PEMBENGKOKAN DAN


PEMOTONGAN

12.1. PERSIAPAN
a. Pembersihan
Tulangan harus bebas dari kotoran, lemak, kulit giling (mill steel) dan karat lepas,
serta bahan-bahan lain yang mengurangi daya lekat. Bersihkan sekali lagi
tonjolan pada tulangan atau pada sambungan konstruksi untuk menjamin
rekatannya.

b. Pemilihan/seleksi
Tulangan yang berkarat harus ditolak dari lapangan.

12.2. PEMASANGAN TULANGAN


a. Umum
Sesuai dengan yang tercantum pada gambar dan Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019 Koordinasi dengan
bagian lain dan kelancaran pengadaan bahan serta tenaga perlu diadakan untuk
mengindari keterlambatan. Adakan/berikan tambahan tulangan pada lubang-
lubang (openings) / bukaan.

b. Pemasangan

Bab 3 - 52
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Tulangan harus dipasang sedemikian rupa diikat dengan kawat baja, hingga
sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempatnya.

1. Tulangan pada dinding dan kolom-kolom beton harus dipasang pada posisi
yang benar dan untuk menjaga jarak bersih digunakan spacers/penahan
jarak.

2. Tulangan pada balok-balok footing dan pelat harus ditunjang untuk


memperoleh lokasi yang tepat selama pengecoran beton dengan penjaga
jarak, kursi penunjang dan penunjang lain yang diperlukan.

3. Tulangan-tulangan yang langsung di atas tanah dan di atas agregat (seperti


pasir, kerikil) dan pada lapisan kedap air harus dipasang/ditunjang hanya
dengan tahu beton yang mutunya paling sedikit sama dengan beton yang
akan dicor.
4. Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan tebal penutup beton.
Untuk itu tulangan harus dipasang dengan penahan jarak yang terbuat dari
beton dengan mutu paling sedikit sama dengan mutu beton yang akan dicor.
Penahan-penahan jarak dapat berbentuk blok-blok persegi atau gelang-
gelang yang harus dipasang sebanyak minimum 4 buah setiap m^2 cetakan
atau lantai kerja. Penahan-penahan jarak ini harus tersebar merata.
5. Pada pelat-pelat dengan tulangan rangkap, tulangan atas harus ditunjang
pada tulangan bawah oleh batang-batang penunjang atau ditunjang
langsung pada cetakan bawah atau lantai kerja oleh blok-blok beton yang
tinggi. Perhatian khusus perlu dicurahkan terhadap ketepatan letak dari
tulangan-tulangan pelat yang dibengkok yang harus melintasi tulangan balok
yang berbatasan.

c. Toleransi pada Pemasangan Tulangan


1. Terhadap selimut beton (selimut beton) : ± 6 mm
2. Jarak terkecil pemisah antara batang : ± 6 mm
3. Tulangan atas pada pelat dan balok :
- balok dengan tinggi sama atau lebih kecil dari 200 mm : ± 6 mm
- balok dengan tinggi lebih dari 200 mm tapi kurang dari 600 mm : ± 12
mm
- balok dengan tinggi lebih dari 600 mm : ± 12 mm
- panjang batang : ± 50 mm
4. Toleransi pada pemasangan lainnya sesuai Persyaratan Beton Struktural
untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.

d. Pembengkokan Tulangan, Sesuai Dengan Persyaratan Beton Struktural untuk


Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019.

1. Batang tulangan tidak boleh dibengkok atau diluruskan dengan cara-


cara yang merusak tulangan itu.
2. Batang tulangan yang diprofilkan, setelah dibengkok dan diluruskan
kembali tidak boleh dibengkok lagi dalam jarak 60 cm dari bengkokan
sebelumnya.

Bab 3 - 53
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

3. Batang tulangan yang tertanam sebagian di dalam beton tidak boleh


dibengkokkan atau diluruskan di lapangan, kecuali apabila ditentukan
di dalam gambar-gambar rencana atau disetujui oleh perencana.
4. Membengkok dan meluruskan batang tulangan harus dilakukan
dalam keadaan dingin, kecuali apabila pemanasan diijinkan oleh
perencana.
5. Apabila pemanasan diijinkan, batang tulangan dari baja lunak (polos
atau diprofilkan) dapat dipanaskan sampai kelihatan merah padam
tetapi tidak boleh mencapai suhu lebih dari 850 oC.
6. Apabila batang tulangan dari baja lunak yang mengalami pengerjaan
dingin dalam pelaksanaan ternyata mengalami pemanasan di atas
100 oC yang bukan pada waktu las, maka dalam perhitungan-
perhitungan sebagai kekuatan baja harus diambil kekuatan baja
tersebut yang tidak mengalami pengerjaan dingin.
7. Batang tulangan dari baja keras tidak boleh dipanaskan, kecuali
diijinkan oleh perencana.
8. Batang tulangan yang dibengkok dengan pemanasan tidak boleh
didinginkan dengan jalan disiram dengan air.
9. Menyepuh batang tulangan dengan seng tidak boleh dilakukan dalam
jarak 8 kali diameter (diameter pengenal) batang dari setiap bagian
dari bengkokan.

e. Toleransi pada Pemotongan dan Pembengkokan Tulangan.

1. Batang tulangan harus dipotong dan dibengkok sesuai dengan yang


ditunjukkan dalam gambar-gambar rencana dengan toleransi-toleransi yang
disyaratkan oleh perencana. Apabila tidak ditetapkan oleh perencana, pada
pemotongan dan pembengkokan tulangan ditetapkan toleransi-toleransi
seperti tercantum dalam ayat-ayat berikut.
2. Terhadap panjang total batang lurus yang dipotong menurun ukuran dan
terhadap panjang total dan ukuran intern dari batang yang dibengkok
ditetapkan toleransi sebesar ± 25 mm, kecuali mengenai yang ditetapkan
dalam ayat (3) dan (4).
Terhadap panjang total batang yang diserahkan menurut sesuatu ukuran
ditetapkan toleransi sebesar + 50 mm dan - 25 mm.
3. Terhadap jarak turun total dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi
sebesar ± 6 mm untuk jarak 60 cm atau kurang dan sebesar ± 12 mm untuk
jarak lebih dari 60 cm.
4. Terhadap ukuran luar dari sengkang, lilitan dan ikatan-ikatan ditetapkan
toleransi sebesar ± 6 mm.

f. Panjang penjangkaran dan panjang penyaluran.


1. Baja tulangan mutu BJTS 420B
Panjang penjangkaran = 40 diameter tanpa kait
Panjang penyaluran = 40 diameter tanpa kait
2. Penyambungan tidak boleh diadakan pada titik dimana terjadi
tegangan terbesar. Sambungan untuk tulangan atas pada balok dan
pelat beton harus diadakan di tengah bentang, dan tulangan bawah
pada tumpuan. Sambungan harus ditunjang dimana memungkinkan.

Bab 3 - 54
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

3. Ketidak-lurusan rangkaian tulangan kolom tidak boleh melampaui


perbandingan 1 terhadap 10.
4. Standard Pembengkokan
Semua standar pembengkokan harus sesuai dengan SNI 2847:2019

12.3. PEMASANGAN WIRE MESH


Pemasangan pada kepanjangan terpanjang yang memungkinkan dilakukan.

Jangan melakukan penghentian / pengakhiran lembar wire mesh antara tumpuan


balok atau tepat diatas balok dari struktur menerus.
Keseimbangan pengakhiran dari lewatan dalam arah lebar yang berdampingan
untuk mencegah lewatan yan menerus.
Wire mesh harus ditahan pada posisi yang benar selama pengecoran.

12.4. PEMASANGAN BONDEK


Pemasangan bondek didahului dengan pemasangan penyangga sementara. Tiang
penyangga diperlukan untuk meniadakan lendutan. Tiang penyangga harus cukup
kuat agar tidak terjadi penurunan.

Bondek dipasang dengan meletakan di atas penyangga sementara dan di atas


balok. Bondek menumpu minimal 2.5 cm di tepi balok. Pemasangan bondek harus
dapat menutup jarak bentang seefisien mungkin dan meminimalkan sambungan
panel bondek. Penyambungan bondek dilakukan dengan cara over lapping.

Pemasangan bondek diefektifkan terpasang pada arah pendek bentang panel lantai.

12.5. LAS
Bila diperlukan atau disetujui, pengelasan tulangan beton harus sesuai dengan
Reinforcement Steel Welding Code (AWS D 12.1). Pengelasan tidak boleh dilakukan
pada pembengkokan di suatu batang, pengelasan pada persilangan (las titik) harus
diijinkan kecuali seperti di anjurkan atau disahkan oleh Pengawas Lapangan/MK.
ASTM specification harus dilengkapi dengan keperluan jaminan kehandalan
kemampuan las dengan cara ini.

12.6. SAMBUNGAN MEKANIK


Bila jumlah luas tulangan kolom melampaui 3% dari luas penampang kolom
dengan menggunakan diameter 32 mm, sambungan mekanik untuk tulangan
(pada kolom) harus disediakan dan dipakai.

XIII. PEKERJAAN CETAKAN DAN PERANCAH

13.1. UMUM
A. Persyaratan Umum

Bab 3 - 55
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Kecuali ditentukan lain pada gambar atau seperti terperinci disini, Cetakan dan
Perancah untuk pekerjaan beton harus memenuhi persyaratan dalam
Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI
2847: 2019, NI-2, ACI 347, ACI 301, ACI 318.
Kontraktor harus terlebih dahulu mengajukan perhitungan-perhitungan serta
gambar-gambar rancangan cetakan dan perancah untuk mendapatkan
persetujuan Pengawas Lapangan sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Dalam gambar-gambar tersebut harus secara jelas terlihat konstruksi
cetakan/acuan, sambungan-sambungan serta kedudukan serta sistem
rangkanya, pemindahan dari cetakan serta perlengkapan untuk struktur yang
aman.

B. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan-pekerjaan yang termasuk
Bab ini termasuk perancangan, pelaksanaan dan pembongkaran dari semua
cetakan beton serta penunjang untuk semua beton cor seperti diperlukan
dan diperinci berikut ini.
2. Pekerjaan yang berhubungan
 Pekerjaan Pembesian
 Pekerjaan Beton

C. Referensi-Referensi
Pekerjaan yang terdapat pada bab ini, kecuali ditentukan lain pada gambar atau
diperinci berikut, harus mengikuti peraturan-peraturan, standard-standard atau
spesifikasi terakhir sebagai berikut :
1. Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI
2847: 2019
2. SII Standard Industri Indonesia
3. ACI-301 Specification for Structural Concrete Building
4. ACI-318 Building Code Requirement for Reinforced Concrete
5. ACI-347 Recommended Practice for Concrete Formwork

D. Penyerahan
Penyerahan-penyerahan berikut harus dilakukan oleh "Kontraktor" sesuai
dengan jadwal yang telah disetujui untuk penyerahannya dengan segera, untuk
menghindari keterlambatan dalam pekerjaannya sendiri maupun dari kontraktor
lain.
1. Kwalifikasi Mandor Cetakan Beton (Formwork Foreman)
"Kontraktor" harus mempekerjakan mandor untuk cetakan beton yang
berpengalaman dalam hal cetakan beton. Kwalifikasi dari mandor harus
diserahkan kepada Pengawas Lapangan untuk diperiksa dan disetujui,
selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum memulai pekerjaan.

2. Data Pabrik

Data pabrik tentang bahan-bahan harus diserahkan oleh "Kontraktor" kepada

Bab 3 - 56
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Pengawas Lapangan dalam waktu 7 hari kerja setelah "Kontraktor"


menerima surat perintah kerja, juga harus diserahkan instruksi pemasangan
untuk kepentingan bahan-bahan dari lapisan-lapisan, pengikat-pengikat, dan
asesoris serta sistem cetakan dari pabrik bila dipakai.

3. Gambar kerja

Perhatikan sistem cetakan beton seperti pengaturan perkuatan dan


penunjang, metode dari kelurusan cetakan, mutu dari semua bahan-bahan
cetakan, sirkulasi cetakan.

Gambar kerja harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan sekurang-


kurangnya 7 (tujuh) hari kerja sebelum pelaksanaan, untuk diperiksa.

4. Contoh
Lengkapi cetakan dengan "cone" untuk mengencangkan cetakan.

13.2. BAHAN-BAHAN/PRODUK
Bahan-bahan dan perlengkapan harus disediakan sesuai keperluan untuk cetakan
dan penunjang pekerjaan, juga untuk menghasilkan jenis penyelesaian permukaan
beton seperti terlihat dan terperinci.

A. Perancangan Perancah

1. Definisi Perancah
Perancah adalah konstruksi yang mendukung acuan dan beton yang belum
mengeras. Kontraktor harus mengajukan rancangan perhitungan dan
gambar perancah tersebut untuk disetujui oleh Pengawas Lapangan. Segala
biaya yang perlu sehubungan dengan perancangan perancah dan
pengerjaannya harus sudah tercakup dalam perhitungan biaya untuk harga
satuan perancah.

2. Perancangan/Desain
 Perancangan/desain dari acuan dan perancah harus dilakukan oleh
tenaga ahli resmi yang bertanggungjawab penuh kepada kontraktor.
 Beban-beban untuk perancangan perancah harus didasarkan pada
ketentuan ACI-347.
 Perancah dan acuan harus dirancang terhadap beban dari beton waktu
masih basah, beban-beban akibat pelaksanaan dan getaran dari alat
penggetar. Penunjang-penunjang yang sepadan untuk penggetar dari
luar, bila digunakan harus ditanamkan kedalam acuan dan
diperhitungkan baik-baik dan menjamin bahwa distribusi getaran-getaran
tertampung pada cetakan tanpa konsentrasi berlebihan.

3. Acuan
 Acuan harus menghasilkan suatu struktur akhir yang mempunyai bentuk,
garis dan dimensi komponen yang sesuai dengan yang ditunjukkan

Bab 3 - 57
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

dalam gambar rencana serta uraian dan syarat teknis pelaksanaan.


 Acuan harus cukup kokoh dan rapat sehingga mampu mencegah
kebocoran adukan.
 Acuan harus diberi pengaku dan ikatan secukupnya sehingga dapat
menyatu dan mampu mempertahankan kedudukan dan bentuknya.
 Acuan dan perancahnya harus direncanakan sedemikian sehingga tidak
merusak struktur yang sudah selesai dikerjakan.
 Dilarang memakai galian tanah sebagai cetakan langsung untuk
permukaan tegak dari beton.

B. Cetakan untuk Permukaan Beton Ekspose.

1. Cetakan Plastic-Faced Plywood (Penyelesaian Halus dan Penyelesaian


dengan Cat/Smooth Finish and Painted Finish)
Gunakan potongan/lembaran utuh. Pola sambungan dan pola pengikat harus
seragam dan simetris. Setiap sambungan antara bidang panel ataupun sudut
maupun pertemuan-pertemuan bidang, harus disetujui dahulu oleh
Pengawas Lapangan untuk pola sambungannya.

2. Cetakan sambungan panel untuk sambungan beton ekspose antara panel-


panel cetakan harus dikencangkan untuk mencegah kebocoran dari grout
(penyuntikan air semen) atau butir-butir halus dan harus diperkuat dengan
rangka penunjang untuk mempertahankan permukaan-permukaan yang
berhubungan dengan panel-panel yang bersebelahan pada bidang yang
sama.
Gunakan bahan penyambung cetakan antara beton ekspose yang
diperkeras dengan panel-panel cetakan untuk mencegah kebocoran dari
grout atau butir-butir halus dari adukan beton baru ke permukaan campuran
beton sebelumnya. Tambahan pada cetakan tidak diijinkan.

C. Penyelesaian Beton dengan Cetakan Papan

1. Cetakan dengan jenis ini (papan) harus terdiri dari papan-papan yang kering
dioven dengan lebar nominal 8 cm dan tebal min. 2.5 cm. Semua papan
harus bebas dari mata kayu yang besar, takikan, goncangan kuat, lubang-
lubang dan perlemahan-perlemahan lain yang serupa.
2. Denah dasar dari papan haruslah tegak seperti tercantum pada gambar.
Cetakan dari papan haruslah penuh setinggi kolom-kolom, dinding dan
permukaan-permukaan pada bidang yang sama tanpa sambungan mendatar
dengan sambungan ujung yang terjadi hanya pada sudut-sudut dan
perubahan bidang.

3. Lengkapi dengan penunjang plywood melewati cetakan papan untuk


stabilitas dan untuk mencegah lepas/terurainya adukan. Cetakan papan
harus dikencangkan pada penunjang plywood dengan kondisi akhir dari paku
yang ditanam tidak terlihat.
Pola dari paku harus seragam dan tetap seperti disetujui oleh Pengawas
Lapangan.
D. Cetakan untuk Beton yang Terlindung (Unexposed Concrete)

Bab 3 - 58
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

1. Cetakan untuk beton terlindung haruslah dari logam (metal), plywood atau
bahan lain yang disetujui, bebas dari lubang-lubang atau mata kayu yang
besar. Kayu harus dilapis setidak-tidaknya pada satu sisi dan kedua
ujungnya.

2. Lengkapi dengan permukaan kasar yang memadai untuk memperoleh


rekatan dimana beton diindikasikan menerima seluruh ketebalan plesteran.

E. Perancah, Penunjang dan Penyokong (Studs, Wales and Supports)

Kontraktor harus bertanggung jawab, bahwa perancah, penunjang dan


penyokong adalah stabil dan mampu menahan semua beban hidup dan beban
pelaksanaan.

F. Jalur Kayu
Jalur kayu diperlukan untuk membentuk sambungan jalur dan chamfer.

G. Melapis Cetakan

1. Melapis cetakan untuk memperoleh penyelesaian beton yang halus, harus


tanpa urat kayu dan noda, yang tidak akan meninggalkan sisa-sisa/bekas
pada permukaan beton atau efek yang merugikan bagi rekatan dari cat,
plester, mortar atau bahan penyelesaian lainnya yang akan dipakai untuk
permukaan beton.
2. Bila dipakai cetakan dari besi, lengkapi cetakan dengan form-oil (bahan
untuk melepaskan beton) dari pabrik khusus untuk cetakan dari besi. Pakai
lapisan sesuai dengan spesifikasi perusahaan sebelum tulangan dipasang
atau sebelum cetakan dipasang.

H. Pengikat Cetakan
1. Pengikat cetakan haruslah batang-batang yang dibuat di pabrik atau jenis
jalur pelat, atau model yang dapat dilepas dengan ulir, dengan kapasitas tarik
yang cukup dan ditempatkan sedemikian sehingga menahan semua beban
hidup dari pengecoran beton basah dan mempunyai penahan bagian luar
dari luasan perletakan yang memadai.
2. Untuk beton-beton yang umum, penempatannya menurut pendapat
Pengawas Lapangan.
3. Pengikat untuk dipakai pada beton dengan permukaan yang diekspose,
harus dari jenis dengan kerucut (cone snap off type). Kemiringan kerucut
haruslah 2.5 cm maximum diameter pada permukaan beton dengan 3.8 cm
tebal/tingginya ke pengencang sambungan. Pengikat haruslah lurus ke dua
arah baik mendatar maupun tegak di dalam cetakan seperti terlihat pada
gambar atau seperti disetujui oleh Pengawas Lapangan.

I. Penyisipan Besi

Penanaman/penyisipan besi untuk angker dari bahan lain atau peralatan pada
pelaksanaan beton haruslah dilengkapi seperti diperlukan pada pekerjaan.
1. Penanaman/Penyisipan Benda-benda Terulir.

Bab 3 - 59
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Penanaman jenis ini haruslah seperti telah disetujui oleh Pengawas


Lapangan.
2. Pemasangan langit-langit (ceiling).
Pemasangan langit-langit untuk angkur penggantung penahan penggantung
langit-langit, konstruksi penggantung haruslah digalvani, atau type yang
diijinkan oleh Pengawas Lapangan/MK.
3. Pengunci Model Ekor Burung.
Pengunci model ekor burung haruslah dari besi dengan galvani yang lebih
baik/tebal, dibentuk untuk menerima angkur ekor burung dari besi seperti
dispesifikasikan.

Pengunci harus diisi dengan bahan pengisi yang mudah dipindahkan untuk
mengeluarkan gangguan dari mortar/adukan.

J. Pengiriman dan Penyimpanan Bahan.

Bahan cetakan harus dikirim ke lapangan sedemikian jauhnya agar praktis


penggunaannya, dan harus secara hati-hati ditumpuk dengan rapi di tanah
dalam cara memberi kesempatan untuk pengeringan udara (alamiah).

K. Pemasangan Benda-benda yang Akan Ditanam di dalam Beton

Pemasangan pipa saluran listrik dan lain-lain yang akan tertanam di dalam beton:
1. Penempatan saluran/pemimpaan harus sedemikian rupa sehingga tidak
mengurangi kekuatan struktur dengan memperhatikan persyaratan di dalam
Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan
SNI 2847: 2019.
2. Tidak diperkenankan untuk menanam pipa dan lain-lain di dalam bagian-
bagian struktur beton bila tidak ditunjuk secara detail di dalam gambar. Di
dalam beton perlu dipasang sleeve/selongsong pada tempat-tempat yang
dilewati pipa.
3. Bila tidak ditentukan secara detail atau ditunjukkan didalam gambar, tidak
dibenarkan untuk menanam saluran listrik di dalam struktur beton.
4. Apabila dalam pemasangan pipa-pipa, saluran listrik, bagian-bagian yang
tertanam dalam beton dan lain-lain terhalang oleh adanya baja tulangan yang
terpasang, maka kontraktor segera mengkonsultasikan hal ini dengan
Pengawas Lapangan.
5. Tidak dibenarkan untuk membengkokkan/memindahkan baja tulangan
tersebut dari posisinya untuk memudahkan dalam melewatkan pipa-pipa
saluran tersebut tanpa ijin tertulis dari Pengawas Lapangan.
6. Semua bagian-bagian/peralatan tersebut yang ditanam dalam beton seperti
angkur-angkur, kait dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan
pekerjaan beton, harus sudah dipasang sebelum pengecoran beton
dilaksanakan.
7. Bagian-bagian/peralatan tersebut harus dipasang dengan tepat pada
posisinya dan diusahakan agar tidak bergeser selama pengecoran dilakukan.
8. Kontraktor Utama harus memberitahukan serta memberikan kesempatan
kepada pihak lain untuk memasang bagian-bagian/peralatan tersebut
sebelum pelaksanaan pengecoran beton.
9. Rongga-rongga kosong atau bagian-bagian yang harus tetap kosong pada

Bab 3 - 60
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

benda/peralatan yang akan ditanam dalam beton yang mana rongga tersebut
diharuskan tidak terisi beton harus ditutupi dengan bahan lain yang mudah
dilepas nantinya setelah pelaksanaan pengecoran beton.

13.3. PELAKSANAAN
A. Umum
Perancah harus merupakan suatu konstruksi yang kuat, kokoh dan terhindar dari
bahaya kemiringan dan penurunan, sedangkan konstruksinya sendiri harus juga
kokoh terhadap pembebanan yang akan ditanggungnya, termasuk gaya-gaya
prategang dan gaya-gaya sentuhan yang mungkin ada.

Kontraktor harus memperhitungkan dan membuat langkah-langkah persiapan


yang perlu sehubungan dengan lendutan perancah akibat gaya yang bekerja
padanya sedemikian rupa hingga pada akhir pekerjaan beton, permukaan dan
bentuk konstruksi beton sesuai dengan kedudukan (peil) dan bentuk yang
seharusnya.

Perancah harus dibuat dari baja atau kayu yang bermutu baik dan tidak mudah
lapuk. Pemakaian bambu untuk hal ini tidak diperbolehkan. Bila perancah itu
sebelum atau selama pekerjaan pengecoran beton berlangsung menunjukan
tanda-tanda penurunan > 10 mm sehingga menurut pendapat Pengawas
Lapangan hal ini akan menyebabkan kedudukan (peil) akhir sesuai dengan
gambar rancangan tidak akan dapat dicapai atau dapat membahayakan dari
segi konstruksi, maka Pengawas Lapangan dapat memerintahkan untuk
membongkar pekerjaan beton yang sudah dilaksanakan dan mengharuskan
kontraktor untuk memperkuat perancah tersebut sehingga dianggap cukup kuat.
Biaya sehubungan dengan itu sepenuhnya menjadi tanggungan kontraktor.

Gambar rancangan perancah dan sistem pondasinya atau sistem lainnya secara
detail (termasuk perhitungannya) harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan
untuk disetujui dan pekerjaan pengecoran beton tidak boleh dilakukan sebelum
gambar tersebut disetujui.

Perancah harus diperiksa secara rutin sementara pengecoran beton


berlangsung untuk melihat bahwa tidak ada perubahan elevasi, kemiringan
ataupun ruang/rongga. Bila selama pelaksanaan didapati perlemahan yang
berkembang dan pekerjaan perancah memperlihatkan penurunan atau
perubahan bentuk, pekerjaan harus dihentikan, diberlakukan pembongkaran bila
kerusakan permanen, dan perancah diperkuat seperlunya untuk mengurangi
penurunan atau perubahan bentuk yang lebih jauh.
Pada saat pengecoran, pelaksana dan surveyor harus memantau terus menerus
agar bisa dicegah penyimpangan-penyimpangan yang mungkin ada.
Rancangan perancah dan cetakan sedemikian untuk kemudahan
pembongkaran untuk mengeliminasi kerusakan pada beton apabila cetakan &
perancah dibongkar.

Aturlah cetakan untuk dapat membongkar tanpa memindahkan penunjang


utama dimana diperlukan untuk disisakan pada waktu pengecoran.

Bab 3 - 61
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

B. Pemasangan
Perancah dan cetakan harus sesuai dengan dimensi, kelurusan dan kemiringan
dari beton seperti yang ditunjukkan pada gambar; dilengkapi untuk bukaan
(openings), celah-celah, pengunduran (recesses), chamfers dan proyeksi-
proyeksi seperti diperlukan.
Cetakan-cetakan harus dibuat dari bahan dengan kelembaban rendah, kedap air
dan dikencangkan secukupnya dan diperkuat untuk mempertahankan posisi dan
kemiringan serta mencegah tekuk dan lendutan antara penunjang-penunjang
cetakan.

Pekerjaan denah harus tepat sesuai dengan gambar dan kontraktor


bertanggung jawab untuk lokasi yang benar. Garis bantu yang diperlukan untuk
menentukan lokasi yang tepat dari cetakan, haruslah jelas, sehingga
memudahkan untuk pemeriksaan.
Semua sambungan/pertemuan beton ekspose harus selaras dan segaris baik
pada arah mendatar maupun tegak, termasuk sambungan-sambungan
konstruksi kecuali seperti diperlihatkan lain pada gambar.

Toleransi untuk beton secara umum harus sesuai Persyaratan Beton


Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan SNI 2847: 2019 atau
ACI 347-78.3.3.1, Tolerances for Reinforced Concrete Building.

Cetakan harus menghasilkan jaringan permukaan yang seragam pada


permukaan beton yang diekspose.

Pembuatan cetakan haruslah sedemikian rupa sehingga pada waktu


pembongkaran tidak mengalami kerusakan pada permukaan.
Kolom-kolom sudah boleh dipasang cetakannya dan dicor (hanya sampai tepi
bawah dari balok diatasnya) segera setelah penunjang dari pelat lantai mencapai
kekuatannya sendiri. Bagaimanapun, jangan ada pelat atau balok yang dicetak
atau dicor sebelum balok lantai dibawahnya bekerja penuh.

Pada waktu pemasangan rangka konstruksi beton bertulang, Kontraktor harus


benar-benar yakin bahwa tidak ada bagian dari batang tegak yang mempunyai
"plumbness"/kemiringan lebih atau kurang dari 10 mm, yang dibuktikan dengan
data dari surveyor yang diserahkan sebelum pengecoran.

C. Pengikat Cetakan
Pengikat cetakan harus dipasang pada jarak tertentu untuk ketepatannya
memegang/menahan cetakan selama pengecoran beton dan untuk menahan
berat serta tekanan dari beton basah.

D. Jalur Kayu, Blocking dan Pencetakan Bentuk-bentuk Khusus (Moulding)


Pasanglah di dalam cetakan jalur kayu, blocking, moulding, paku-paku dan
sebagainya seperti diperlukan untuk menghasilkan penyelesaian yang berbentuk
khusus/berprofil dan permukaan seperti diperlihatkan pada gambar dan bentuk
melengkapi pemasangan paku untuk batang-batang kayu dari ciri-ciri lain yang
dibutuhkan untuk ditempelkan pada permukaan beton dengan suatu cara
tertentu. Lapislah jalur kayu, blocking dan pencetakan bentuk khusus dengan

Bab 3 - 62
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

bahan untuk melepaskan.

E. Chamfers
Garis/lajur chamfers haruslah hanya dimana ditunjukkan pada gambar-gambar
arsitek saja.

F. Bahan untuk Melepas Beton (Release Agent)


Lapisilah cetakan dengan bahan untuk pelepas beton sebelum besi tulangan
dipasang. Buanglah kelebihan dari bahan pelepas sehingga cukup membuat
permukaan dari cetakan sekedar berminyak bila beton maupun pada pertemuan
beton yang diperkeras dimana beton basah akan dicor/dituangkan.

Jangan memakai bahan pelepas dimana permukaan beton dijadwalkan untuk


menerima penyelesaian khusus dan/atau pakailah penutup dimana
dimungkinkan.

G. Pekerjaan Sambungan
Untuk mencegah kebocoran oleh celah-celah dan lubang-lubang pada cetakan
beton ekspose, perlu dilengkapi dengan gasket, plug, ataupun caulk joints.
Cetakan sambungan-sambungan hanya diijinkan dimana terlihat pada gambar
kerja. Dimana memungkinkan, tempatkan sambungan ditempat yang
tersembunyi. Laksanakan perawatan sambungan dalam 24 jam setelah jadwal
pengecoran.

H. Pembersihan
Untuk beton pada umumnya (termasuk cetakan untuk permukaan terlindung dari
beton yang dicat). Lengkapi dengan lubang-lubang untuk pembersihan
secukupnya pada bagian bawah dari cetakan-cetakan dinding dan pada titik-titik
lain dimana diperlukan untuk fasilitas pembersihan dan pemeriksaan dari bagian
dalam dari cetakan utama untuk pengecoran beton. Lokasi/tempat dari bukaan
pembersihan berdasar kepada persetujuan Pengawas Lapangan.

Untuk beton ekspose sama dengan beton pada umumnya, kecuali bahwa
pembersihan pada lubang-lubang tidak diijinkan pada cetakan beton ekspose
untuk permukaan ekspose tanpa persetujuan Pengawas Lapangan.
Dimana cetakan-cetakan mengelilingi suatu potongan beton ekspose dengan
permukaan ekspose pada dua sisinya, harus disiapkan cetakan yang bagian-
bagiannya dapat dilepas sepenuhnya seperti disetujui oleh Pengawas Lapangan.

Memasang jendela, bila pemasangan jendela pada cetakan untuk beton


ekspose, lokasi harus disetujui oleh Pengawas Lapangan.

Perancah; batang-batang perkuatan penyangga cetakan harus memadai sesuai


dengan metoda perancah. Pemeriksaan perancah secara sering harus dilakukan
selama operasi pengecoran sampai dengan pembongkaran. Naikkan bila
penurunan terjadi, perkuat/kencangkan bila pergerakan terlihat nyata. Pasanglah
penunjang-penunjang berturut-turut, segera, untuk hal-hal tersebut diatas.
Hentikan perkerjaan bila suatu perlemahan berkembang dan cetakan
memperlihatkan pergerakan terus menerus melampaui yang dimungkinkan dari
peraturan.

Bab 3 - 63
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Pembersihan dan pelapisan dari cetakan; sebelum penempatan dari tulangan-


tulangan, bersihkan semua cetakan pada muka bidang kontak dan lapisi secara
seragam/merata dengan release agent untuk cetakan yang spesifik sesuai
dengan instruksi pabrik yang tercantum. Buanglah kelebihan dan tidak diijinkan
pelapisan pada tempat dimana beton ekspose akan dicor.

Pemeriksaan cetakan; Beritahukan kepada Pengawas Lapangan setidaknya 24


jam sebelumnya dalam pengajuan jadwal pengecoran beton.

I. Penyisipan dan Perlengkapan


Buatlah persediaan/perlengkapan untuk keperluan pemasangan atau
perlengkapan-perlengkapan, baut-baut, penggantung, pengunci angkur dan
sisipan di dalam beton.
Buatlah pola atau instruksi untum pemasangan dari macam-macam benda.
Tempatkan expansion joint fillers seperti dimana didetailkan.

J. Dinding-dinding
Buatlah dinding-dinding beton mencapai ketinggian, ketebalan dan profil seperti
diperlihatkan pada gambar-gambar. Lengkapi bukaan/lubang-lubang sementara
pada bagian bawah dari semua cetakan-cetakan untuk kemudahan
pembersihan dan pemeriksaan. Tutuplah bukaan/lubang-lubang tersebut
setepatnya, segera sebelum pengecoran beton ke dalam cetakan-cetakan dari
dinding. Lengkapi dengan keperluan pengunci di dalam dinding untuk menerima
tepian dari lantai-lantai beton.

K. Waterstops
Untuk setiap sambungan pengecoran yang mempunyai selisih waktu
pengecoran lebih dari 4 (empat) jam dan sambungan tersebut berhubungan
langsung dengan tanah atau air di bawah lapisan tanah dan dimana diperlihatkan
pada gambar-gambar, harus dilengkapi dengan waterstop.
Letak/posisi waterstop harus akurat dan ditunjang terhadap penurunan.
Penampang sambungan kedap air sesuai dengan rekomendasi dari
perusahaan. Untuk tipe waterstop dapat digunakan ” Expandable Water Stop “
berbahan dasar “ Bentonite Clay “ ex. Fosroc atau yang setara.

L. Cetakan untuk Kolom


Cetakan-cetakan untuk kolom haruslah dengan ukuran dan bentuk seperti
terlihat pada gambar-gambar. Siapkan bukaan-bukaan sementara pada bagian
bawah dari semua cetakan-cetakan kolom untuk kemudahan pembersihan dan
pemeriksaan, dan tutup kembali dengan cermat sebelum pengecoran beton.

M. Cetakan untuk Pelat dan Balok-balok


Buatlah semua lubang-lubang pada cetakan lantai beton seperti diperlukan untuk
lintasan tegak dari duct, pipa-pipa, conduit dan sebagainya.

Puncak dari chamber (penunjang) harus sesuai dengan gambar. Lengkapi


dengan dongkrak-dongkrak yang sesuai, baji-baji atau perlengkapan lainnya
untuk mendongkrak dan untuk mengambil alih penurunan pada cetakan, baik
sebelum ataupun pada waktu pengecoran dari beton.

Bab 3 - 64
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

N. Pembongkaran Cetakan dan Pengencangan Kembali Perancah (Reshoring)


Pembongkaran cetakan harus sesuai dengan SNI 2847: 2019 Persyaratan
Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan.

Secara hati-hati lepaslah seluruh bagian dari cetakan yang sudah dapat
dibongkar tanpa menambah tegangan atau tekanan terhadap sudut-sudut,
offsets ataupun bukaan-bukaan (reveals). Hati-hati lepaskan dari pengikat.
Pengikatan terhadap segi arsitek atau permukaan beton ekspose dengan
menggunakan peralatan ataupun description ataupun tidak diijinkan. Lindungi
semua ujung-ujung dari beton yang tajam dan secara umum pertahankan
keutuhan dari desain.
Bersihkan cetakan-cetakan beton ekspose secepatnya setelah pembongkaran
untuk mencegah kerusakan pada bidang kontak.

Pemasangan kembali perancah segera setelah pembongkaran cetakan,


topang/tunjang kembali sepenuhnya semua pelat dan balok sampai dengan
sedikitnya tiga lantai dibawahnya. Pemasangan perancah kambali harus tetap
tinggal ditempatnya sampai beton mencapai kriteria umur kekuatan tekan 28
hari. Periksa dengan teliti kekuatan beton dengan test silinder dengan biaya
kontraktor.

Penunjang-penunjang sementara, sebelum pengecoran beton; tulangan


menerus balok-balok dengan bentang panjang (12 m) haruslah ditunjang
dengan penopang-penopang sementara sedemikian untuk me"minimum"kan
lendutan akibat beban dari beton basah.

Penunjang-penunjang sementara harus diatur sedemikian selama pengecoran


beton dan selama perlu untuk mencegah penurunan dari penunjang karena
tingkatan kerja. Perancah harus tidak boleh dipindahkan sampai beton
mencapai kekuatan yang mencukupi ( > 80 % f’c).

O. Pemakaian Ulang Cetakan


Cetakan-cetakan boleh dipakai ulang hanya bila betul-betul dipertahankan
dengan baik dan dalam kondisi yang memuaskan bagi Pengawas Lapangan.
Cetakan-cetakan yang tidak dapat benar-benar dikencangkan dan dibuat kedap
air, tidak boleh dipakai ulang. Bila pemakaian ulang dari cetakan disetujui oleh
Pengawas Lapangan, bagian pembersihan cetakan, dan memperbaiki
kerusakan permukaan dengan memindahkan lembaran-lembaran yang rusak.

Plywood sebelum pemakaian ulang dari cetakan plywood, bersihkan secara


menyeluruh, dan lapis ulang dengan lapisan untuk cetakan. Janganlah memakai
ulang plywood yang mempunyai tambalan, ujung yang usang, cacat/kerusakan
akibat lapisan damar pada permukaan atau kerusakan lain yang akan
mempengaruhi tekstur dari penyelesaian permukaan.

Cetakan-cetakan lain dari kayu, persiapkan untuk pemakaian ulang dengan


membersihkan secara menyeluruh dan melapis ulang dengan lapisan untuk
cetakan. Perbaiki kerusakan pada cetakan dan bongkar/buanglah papan-papan
yang lepas atau rusak.

Bab 3 - 65
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Agar supaya cetakan yang dipakai ulang tidak akan ada tambalannya yang
diakibatkan oleh perubahan-perubahan, cetakan untuk beton ekspose pada
bagian yang terlihat hanya boleh dipakai ulang hanya pada potogan-potongan
yang identik.
Cetakan tidak boleh dipakai ulang bila nantinya mempengaruhi mutu dan hasil
pada bagian permukaan yang tampak dari beton ekspose akibat cetakan akan
ada bekas jalur akibat dari plywood yang robek atau lepas seratnya.
Sehubungan dengan beban pelaksanaan, maka beban pelaksanaan harus
didukung oleh struktur-struktur penunjangnya dan untuk itu kontraktor harus
melampirkan perhitungan yang berkaitan dengan rancangan pembongkaran
perancah.

P. Cetakan untuk Beton Prestress


Cetakan haruslah dari konstruksi sedemikian sehingga tidak akan membatasi
regangan-regangan di dalam beton sementara tarikan mulai dilakukan, dan
kekuatannnya harus ditentukan sehubungan dengan pertimbangan dari
perubahan-perubahan dalam distribusi tegangan bila penarikan dimulai.

Q. Pembongkaran dari Cetakan untuk Pekerjaan Prestress


Cetakan harus dibongkar secara hati-hati tanpa menimbulkan getaran, dan
hanya boleh dilakukan dibawah pengawasan Pengawas Lapangan/MK. Beton
harus diperiksa sebelum pembongkaran dari cetakan. Cetakan dapat dibongkar
hanya bila beton telah mencapai kekuatan yang mencukupi untuk memikul berat
sendiri dan beban-beban pelaksanaan lainnya. Bila diperkirakan ada beban lain
yang merupakan tambahan beban terhadap beban yang direncanakan,
perancah-perancah harus disediakan dalam jumlah yang diperlukan, segera
setelah pembongkaran cetakan.
Untuk perancah yang menyangga balok prategang, perancah balok prategang
boleh dibongkar setelah balok prategang 2 (dua) lantai di atasnya selesai ditarik.

R. Hal Lain-lain
Buatlah cetakan untuk semua bagian pekerjaan beton yang diperlukan dalam
hubungan dengan kelengkapan pekerjaan proyek, meskipun setiap bagian
diperlihatkan secara terperinci atau dialihkan ke "Referred to" ataupun tidak.

Dilarang menanamkan pipa di dalam kolom atau balok kecuali pipa-pipa tersebut
diperlihatkan pada gambar-gambar struktur atau pada gambar kerja.

XIV. PEKERJAAN KEDAP AIR / WATERPROOFING

14.1. LINGKUP PEKERJAAN


Meliputi penyediaan bahan dan pemasangan waterproofing pada permukaan plat
beton atap, plat lantai beton basement, tempat daerah basah (toilet) dan tanki /
ground reservoar penampungan air atau sesuai dengan gambar kerja.

Bab 3 - 66
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

14.2. BAHAN

1. Standar Mutu Bahan


Berdasarkan : ASTM 828, ASTME, TAPP I 803 DAN 407.
2. Untuk pelat atap dan daerah basah lainnya seperti toilet dan sebagainya
menggunakan lembaran dari Produk Awazseal, Sintaproof, Isobond, Bituthene
2000 atau sejenisnya yang setara.
3. Bahan Utama
Jenis bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Untuk struktur pelat dan dinding basement, ground tank menggunakan


bahan additive yang dicampurkan ke dalam adukan beton di batching plant.
Produk yang digunakan dari Cementaid, Sika atau sejenisnya yang setara.

b. Untuk pelat atap dan daerah basah lainnya seperti toilet dan sebagainya
menggunakan lembaran dari Produk Bituthene 2000 atau sejenisnya yang
setara.

Jenis bahan membrane yang digunakan harus memenuhi persyaratan


sebagai berikut:
a. Tebal bahan minimum 1,50 mm, karakteristik fisik, kimiawi dan kepadatan
yang merata dan konstan.
b. Kedap air dan uap, termasuk bagian-bagian yang akan disusun
overlapping nanti.
c. Memiliki ketahanan yang baik terhadap gesekan dan tekanan.
d. Susunan polimer tidak berubah akibat perubahan cuaca.
4. Pengujian

a. Bila diperlukan Kontraktor wajib mengadakan test bahan sebelum


dipasang, pada laboratorium yang ditunjuk pengawas. Dan sebelum
dimulai pemasangannya Kontraktor harus menunjukkan sertifikat
keaslian barang dari supplier disertai data-data teknis komposisi unsur
material pembentuknya.

b. Sewaktu penyerahan hasil pekerjaan, kontraktor wajib memberikan


jaminan atas produk yang digunakan terhadap kemungkinan bocor,
pecah dan cacat lainnya, selama 10 (sepuluh) tahun termasuk
mengganti dan memperbaiki segala jenis kerusakan yang terjadi.
Jaminan yang diminta adalah jaminan dari pihak pabrik untuk mutu
material, serta jaminan dari pihak pemasang (applicator) untuk mutu
pelaksanaan pemasangannya.

c. Kontraktor diwajibkan melakukan percobaan/pengujian dengan


melakukan penyemprotan langsung dengan air serta
menggenanginya dengan air di atas permukaan yang diberi
lapisan/additive kedap air.

5. Pengiriman dan Penyimpanan Bahan

Bab 3 - 67
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

a. Bahan harus didatangkan ke tempat pekerjaan dalam keadaan


tertutup (belum dibuka) dan masih tersegel dan berlabel sesuai
pabriknya.

b. Bahan harus disimpan di tempat yang terlindung, tertutup, tidak


lembab, kering dan bersih.

c. Kontraktor bertanggungjawab atas kerusakan bahan-bahan yang


disimpannya, baik sebelum atau selama pelaksanaan.

6. Jenis bahan membrane yang digunakan harus memenuhi persyaratan


sebagai berikut:

a. Tebal bahan minimum 1,50 mm, karakteristik fisik, kimiawi dan


kepadatan yang merata dan konstan.
b. Kedap air dan uap, termasuk bagian-bagian yang akan disusun
overlapping nanti.
c. Memiliki ketahanan yang baik terhadap gesekan dan tekanan.
d. Susunan polimer tidak berubah akibat perubahan cuaca.
7. Bahan harus didatangkan ke tempat pekerjaan dalam keadaan tertutup
(belum dibuka) dan masih tersegel dan berlabel sesuai pabriknya.
8. Untuk pelat lantai, sloof, pile cap, dinding penahan tanah (sirwall) dan
beton ground reservoar menggunakan beton kedap air (waterproofing
dengan sistem integral), merk yang direkomendasikan setara Fosroc,
Degusa, Slury.
9. Bahan harus disimpan di tempat yang terlindung, tertutup, tidak lembab,
kering dan bersih.
10. Kontraktor bertanggungjawab atas kerusakan bahan-bahan yang
disimpannya, baik sebelum atau selama pelaksanaan.
11. Pengujian
a. Bila diperlukan Kontraktor wajib mengadakan test bahan sebelum
dipasang, pada laboratorium yang ditunjuk pengawas. Dan sebelum
dimulai pemasangannya Kontraktor harus menunjukkan sertifikat
keaslian barang dari supplier disertai data-data teknis komposisi unsur
material pembentuknya.
b. Sewaktu penyerahan hasil pekerjaan, kontraktor wajib memberikan
jaminan atas produk yang digunakan terhadap kemungkinan bocor,
pecah dan cacat lainnya, selama 10 (sepuluh) tahun termasuk
mengganti dan memperbaiki segala jenis kerusakan yang terjadi.
Jaminan yang diminta adalah jaminan dari pihak pabrik untuk mutu
material, serta jaminan dari pihak pemasang (applicator) untuk mutu
pelaksanaan pemasangannya.
c. Kontraktor diwajibkan melakukan percobaan/pengujian dengan
melakukan penyemprotan langsung dengan air serta
menggenanginya dengan air di atas permukaan yang diberi
lapisan/additive kedap air.

Bab 3 - 68
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

14.3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN


1. Semua bahan sebelum dikerjakan harus ditunjukkan kepada pengawas, lengkap
dengan ketentuan / persyaratan pabrik yang bersangkutan untuk mendapatkan
persetujuan Pengawas.
Material yang tidak disetujui harus diganti segera tanpa biaya tambahan. Jika
dipandang perlu diadakan penukaran/penggantian maka bahan-bahan pengganti
harus telah mendapat persetujuan dari pengawas.
2. Sebelum pekerjaan ini dimulai permukaan bagian yang akan diberi lapisan harus
dibersihkan sampai kondisi yang dapat disetujui oleh pengawas. Peil dan ukuran
harus sesuai dengan gambar.
3. Cara-cara dan pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk dan ketentuan
dari pabrik yang bersangkutan serta petunjuk dari pengawas.
4. Bila ada perbedaan dalam hal apapun antara gambar, spesifikasi dan lainnya,
kontraktor harus segera melaporkan kepada pengawas sebelum pekerjaan
dimulai.

Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan dalam hal terdapat


kelainan/perbedaan ditempat itu.

14.4. GAMBAR DETAIL PELAKSANAAN / SHOP-DRAWING


1. Kontraktor wajib membuat shop drawing (gambar detail pelaksanaan)
berdasarkan gambar dokumen kontrak dan keadaan lapangan, untuk
memperjelas detai-detail khusus yang diperlukan pada saat pelaksanaan di
lapangan.
2. Shop drawing harus mencantumkan semua data termasuk tipe bahan
keterangan produk, cara pemasangan atau persyaratan khusus.
3. Shop drawing belum dapat dilaksanakan sebelum mendapatkan persetujuan dari
pengawas.

14.5. CONTOH
1. Kontraktor wajib mengajukan contoh dari semua bahan, disertai brosur lengkap
dan jaminan keaslian material dari pabrik.
2. Contoh bahan harus diserahkan minimal sebanyak 2 (dua) buah yang setara
mutunya.
3. Keputusan bahan jenis, warna, tekstur dan merk akan diberitahukan oleh
pengawas dalam jangka waktu tidak lebih dari 7 (tujuh) hari kalender terhitung
sejak penyerahan contoh-contoh bahan tersebut.
4. Pengawas mempunyai hak untuk meminta kontraktor mengadakan mock-up
guna memperjelas usulan material yang diajukannya.

14.6. PELAKSANAAN
a. Persiapan permukaan yang dilapis waterproofing lantai beton harus bebas dari
kotoran yang melekat seperti bitumen, oli, bercak-bercak cat, lemak dan lain-lain.
b. Lapisan dasar primer untuk meratakan permukaan lantai beton dan membuat
kemiringan dengan screeding beton campuran 1 : 2 ditambahkan 0,5 kg/m2
dengan semen slurry bonding agent lain yang setara. Kemiringan screeding

Bab 3 - 69
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

beton sekurang-kurangnya 2%, selanjutnya Kontraktor melapor Pengawas


Lapangan untuk mendapat persetujuan.
c. Seluruh lapisan waterproofing, jika tidak ditentukan lain harus pula menutupi kaki-
kaki bidang-bidang tegak sampai ketinggian permukaan air (minimal 30 cm).
Pertemuan bidang horizontal dan vertikal harus dipasang polyster mesh.
Disekeliling pipa-pipa pembuang harus dibobok untuk kemudian diisi dengan
semen non shrink.
d. Aplikasi pemasangan oleh tenaga ahli dan persyaratan dari produsen :
Campuran waterproofing adalah semen slurry 3 kg/m2 dicampur dengan
bonding agent (additive) sehingga mencapai ketebalan minimum 3 mm.
e. Waterproofing membrane dilaksanakan pada pekerjaan beton daerah terbuka
yang besinggungan dengan air seperti atap dak beton.
f. Pada pekerjaan beton yang bersinggungan dengan air dan digunakan untuk lalu
lintas manusia, water proofing yang digunakan harus memiliki campuran butiran
berbatu keras.
g. Untuk semua waterproofing yang terpasang harus diadakan uji coba terhadap
kebocoran selama 24 jam atau hingga dapat dipastikan tidak terdapat bukti
adanya kebocoran.
h. Pekerjaan waterproofing harus mendapat sertifikat pemeliharaan cuma-cuma
selama 2 (dua) tahun.
i. Pelaksanaan pemasangan harus dikerjakan oleh ahli yang berpengalaman dan
sesuai dengan "metode pelaksanaan" berdasarkan spesifikasi pabrik.
j. Khusus untuk bahan water proofing yang dipasang di tempat yang berhubungan
langsung dengan matahari tetapi tidak mempunyai lapis pelindung terhadap ultra
violet maka di atasnya harus diberi lapisan pelindung sesuai gambar
pelaksanaan, atau petunjuk pengawas, dimana lapisan ini dapat berupa screed
maupun material finishing lainnya.

XV. PEKERJAAN STRUKTUR RANGKA ATAP


15.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini adalah pemasangan dan perakitan rangka atap dengan baja
konvensional dan baja ringan yang meliputi perhitungan struktur, Spesifikasi
Teknis dan desain oleh pabrikan yang ditunjuk, berikut pengadaan aplikator yang
direkomendasi oleh pabrik penghasil :
 Sistem rangka atap
 Reng
 Ikatan angin
 Dan aksesori pelengkap lainnya untuk melengkapi pemasangan.

15.2. BAHAN-BAHAN/KETENTUAN-KETENTUAN STANDAR


a. Kecuali kalau diatur secara tersendiri, bentuk profil, pelat dan kisi-kisi untuk
tujuan semua konstruksi dibuat atau dilas harus dengan baja carbon yang
memenuhi persyaratan mutu SS400 atau BJ37 atau setara dan harus
mendapat persetujuan Pemberi Tugas.
b. Kecuali kalau diatur secara tersendiri profil tersebut harus dilas dengan baik
dan rata.
c. Kecuali kalau diatur secara tersendiri bahan-bahan harus memenuhi spesifikasi
"American Institute of Steel Construction (AISC)" dan SNI 1729 2020.

Bab 3 - 70
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

15.3. PENGIKAT-PENGIKAT SEPERTI BAUT, MUR/SEKRUP DAN RING


a. Untuk sambungan bukan baja ke baja:
b. Pengikat-pengikat harus dari baja karbon yang memenuhi persyaratan ASTM
A370 dan harus digalvanis.
c. Untuk sambungan baja ke baja :
d. Pengikat-pengikat harus baja karbon yang memenuhi persyaratan ASTM A325
dan atau ASTM A490 dan harus terlapis Cadmium.
e. Untuk sambungan logam yang berlainan (tidak sama):
f. Pengikat-pengikat harus baja tahan korosi memenuhi persyaratan ASTM A276
type 321 atau type lainnya dari baja tahan korosi.
g. Ring-ring bulat untuk baut biasa harus memenuhi ANSI B27, type A.

15.4. BAHAN-BAHAN LAS


Bahan-bahan las harus memenuhi persyaratan dari "American Welding Society"
(AWS D1.0-69, Code for Welding in Building Construction).

BAUT ANGKUR DAN SKRUP/MUR HARUS MEMENUHI PERSYARATAN ASTM


A36 ATAU A325 LAPISAN SENG :

Baja terlapis seng harus memenuhi ASTM A123. Lapisan seng untuk produksi
uliran sekrup harus memenuhi ASTM A153.
Baut dan mur yang tidak terlapis (unfinished) harus memenuhi ASTM A307 dan
type segi enam (hexagon-bolt type).

Semua bahan baja yang dipergunakan harus merupakan bahan baru, yaitu bahan
yang belum pernah dipergunakan untuk konstruksi lain sebelumnya dan harus
disertai sertifikat dari pabrik.

15.5. PERATURAN-PERATURAN DAN STANDAR ATAU PUBLIKASI YANG DIPAKAI:


Peraturan-peraturan dan standar di bawah ini atau publikasi yang dapat dipakai
harus dipertimbangkan serta merupakan bagian dari spesifikasi ini. Dalam hal ada
pertentangan, spesifikasi ini menentukan :

a. Spesifikasi untuk bangunan gedung baja struktural SNI 1729:2020


b. American Institute of Steel Construction (AISC) "Manual of Steel Construction
7th Edition".
c. American National Standards Institute (ANSI) "B27.265 Plain Washers".
d. American Society for Testing and Materials (ASTM) spesification :
"A 36 - 70a Structural Steel"
"A 53 - 72a Welded and Seamless Steel Pipe"
"A 153 - 71 Zink Coating (hot dip) on Iron and Steel Hardware"
"A 307 - 68 Carbon Steel Externally Threaded Standard Fastener"
"A 325 - 71a High Strength Bolts for Structural Steel Joint, including
Suitable Nuts and Plain Hardened Washers"
"A 790 - 71 Quenched and Tempered Alloy Steel Bolts for Structural
Steel Joints"

Bab 3 - 71
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

15.6. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN


Perencanaan dan Pengawasan

a. Gambar Kerja
Sebelum pekerjaan di pabrik dimulai, Kontraktor harus menyiapkan gambar-
gambar kerja yang menunjukan detail-detail lengkap dari semua komponen,
panjang, ukuran, dan tempat baut-baut serta detail-detail lain yang lazimnya
diperlukan untuk fabrikasi.
b. Ukuran-ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap semua
ukuran yang tercantum pada gambar kerja.
c. Kelurusan
Toleransi dari kelurusan tidak lebih dari L/1000 untuk semua komponen.
d. Pemeriksaan dan lain-lain.
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan yang berkualitas
tinggi, seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian rupa
sehingga semua komponen dapat dipasang dengan tepat di lapangan.
Pemberi Tugas mempunyai hak untuk memeriksa pekerjaan di pabrik pada
saat yang dikehendaki, dan tidak ada pekerjaan yang boleh dikirim ke
lapangan sebelum diperiksa dan disetujui Pemberi Tugas. Setiap pekerjaan
yang kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan
ditolak dan bila terjadi demikian, harus diperbaiki dengan segera.

15.7. PENGELASAN
a. Pengelasan konstruksi baja harus sesuai dengan gambar konstruksi, dan
harus mengikuti prosedur yang berlaku seperti AWS atau AISC Spesification.
b. Pekerjaan pengelasan harus di bawah pengawasan personil yang memiliki
persiapan teknis untuk pekerjaan tersebut.
c. Penyambungan bagian-bagian konstruksi baja harus dilakukan dengan las
listrik serta pengelasannya sudah melalui ujian (test) dan harus memiliki ijasah
yang menetapkan kualifikasi serta jenis pengelasan yang diperkenankan
kepadanya.
d. Bagian konstruksi yang segera akan dilas harus dibersihkan dari bekas-bekas
cat, karat, lemak dan kotoran-kotoran lainnya.
e. Pengelasan konstruksi baja, baik secara keseluruhan maupun merupakan
pengelasan-pengelasan bagian-bagiannya hanya boleh dilakukan setelah
diperiksa bahwa hubungan-hubungan yang akan dilas sudah sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk konstruksi itu.
f. Kedudukan konstruksi baja yang segera akan dilas harus menjamin situasi
yang paling aman bagi pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang dilakukan.
g. Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan, baik bekas
lampiran pertama, maupun bidang-bidang benda keras harus dibersihkan dari
kerak (slag) dan kotoran lainnya.
h. Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka lapisan yang
terdahulu harus dibersihkan dari kerak (slag) dan percikan-percikan logam
sebelum memulai dengan lapisan las yang baru. Lapisan las yang berpori-pori,
rusak atau retak harus dibuang sama sekali.
i. Tempat pengelasan dan juga bidang konstruksi yang dilas, harus terlindung
dari hujan dan angin kencang.

Bab 3 - 72
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

15.8. LUBANG-LUBANG BAUT.


Lubang-lubang baut harus dilaksanakan dengan bor. Lubang baut harus lebih
besar 2.0 mm daripada diameter luar baut. Pembuatan lubang baut harus
dilaksanakan di pabrik dan harus dikerjakan dengan alat bor.

15.9. SAMBUNGAN.
Untuk sambungan konstruksi baja yang tidak dapat dihindarkan berlaku ketentuan
sebagai berikut:
a. Hanya diperkenankan satu sambungan
b. Semua penyambungan profil baja harus dilaksanakan dengan las tumpul / full
penetra-tion butt weld.

15.10. PEMASANGAN PERCOBAAN/TRIAL ERECTION.


Bila dipandang perlu oleh Pemberi Tugas, Kontraktor wajib melaksanakan
pemasangan percobaan dari sebagian atau seluruh pekerjaan konstruksi.

Komponen yang tidak cocok atau yang tidak sesuai dengan gambar dan spesi-
fikasi dapat ditolak oleh Wakil Pemberi Tugas dan pemasangan percobaan tidak
boleh dibongkar tanpa persetujuan Wakil Pemberi Tugas.

15.11. PENGECATAN
a. Semua bahan konstruksi baja harus dicat
b. Cat dasar adalah cat zink chromate buatan ICI, Danapaint atau setara, fan
pengecatan dilakukan satu kali di pabrik dan satu kali dilapangan. Baja yang
akan ditanam didalam beton tidak boleh dicat.
c. Untuk lubang baut kekuatan tinggi/high strength bolt permukaan baja tidak
boleh dicat. Pengecatan harus dilakukan setelah baut selesai dipasang.
d. Cat akhir adalah cat gloss enamel paint buatan ICI, Danapaint atau setaraf dan
pengecatan dilakukan dua kali di lapangan, kecuali bila dinyatakan lain dalam
gambar atau spesifikasi arsitektur.
e. Dibagian lain dari base plate harus digrout dengan bahan setara "Master Flow
713 Grout", dengan tebal minimum 2,5 cm. Cara pemakaian harus sesuai
spesifikasi pabrik.

15.12. PEMASANGAN AKHIR/FINAL ERECTION


a. Alat-alat pemakaian harus sesuai untuk pekerjaan dan harus dalam keadaan
baik. Bila dijumpai bagian-bagian konstruksi yang tidak dapat dipasang atau
ditempatkan sebagai- mana mestinya sebagai akibat dari kesalahan fabrikasi
atau perubahan bentuk yang disebabkan pemasangan, maka keadaan itu
harus segera dilaporkan kepada Pemberi Tugas sebelum dimulainya
pekerjaan tersebut. Perbaikan harus dilakukan dihadapan Pemberi Tugas.
Biaya tambahan yang timbul akibat pekerjaan perbaikan tersebut adalah
menjadi tanggungan Kontraktor.

b. Setiap komponen diberi kode/marking dengan gambar pemasangan.


Komponen harus diberi sedemikian rupa sehingga memudahkan pemasangan.

Bab 3 - 73
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

c. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan-ikatan sementara
harus digunakan untuk mencegah tegangan-tegangan yang melewati
tegangan izin. Ikatan-ikatan itu dibiarkan sampai konstruksi selesai.
Sambungan-sambungan sementara dari las maupun baut harus diberikan
kepada bagian konstruksi untuk menahan beban mati, angin dan tegangan-
tegangan selama pembangunan.
d. Setelah satu kuda-kuda baik system single beam atau rangka batang sudah
terpasang, segera dipasang system tahanan lateral dengan kuda-kuda lainnya
sehingga kestabilan struktur secara keseluruhan tetap terjaga selama
konstruksi.
e. Baut-baut, baut angker, baut hitam, baut kekuatan tinggi dan lain-lain harus
disediakan dan harus dipasang sebagaimana mestinya sesuai dengan gambar
detail. Baut kekuatan tinggi harus dikencangkan dengan kunci momen (torque
wrench).
f. Pelat dasar kolom untuk penunjang dan pelat perletakan untuk balok, balok
penunjang dan yang sejenisnya harus dipasang dengan luas perletakan penuh
setelah bagian pendukung ditempatkan secara baik dan tegak. Daerah
dibawah pelat harus diberi adukan lembab/kering yang tidak susut dan disetujui
oleh Pemberi Tugas.

15.13. CONTOH BAHAN.


1. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan contoh-contoh
material, baja profil, kawat las, cat dasar/akhir dan lain-lain untuk mendapatkan
persetujuan Pemberi Tugas.
2. Contoh-contoh yang telah disetujui oleh Pemberi Tugas dipakai sebagai
standar/ pedoman untuk pemeriksaan/menerima material yang dikirim oleh
Kontraktor ke Site.
3. Kontraktor diwajibkan membuat tempat penyimpanan contoh material yang
telah disetujui di bangsal Pemberi Tugas.
4. Pengiriman dan Penyimpanan Bahan
5. Bahan harus disimpan ditempat yang terlindung dan tertutup, kering dan
tidak lembab dan bersih, sesuai dengan persyaratan pabrik.
6. Tempat penyimpanan bahan harus cukup dan bahan ditempatkan dan
dilindungi sesuai dengan jenisnya.
7. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kerusakan selama pengiriman dan
penyimpanan. Bila ada kerusakan, Kontraktor wajib mengganti atas beban
Kontraktor.

15.14. PENGUJIAN MUTU PEKERJAAN


1. Sebelum dilaksanakan fabrikasi/pemasangan, Kontraktor diwajibkan
memberikan pada Pemberi Tugas "Certificate Test" bahan baja profil, baut-
baut, kawat las, cat dari produsen/pabrik.
2. Bila tidak ada "Certificate Test" maka Kontraktor harus melakukan pengujian
atas baja profil, baut, kawat las di laboratorium.
3. Pengujian contoh harus disiapkan untuk tiap type dari pengelasan dan tiap type
dari bahan yang akan dilas. Pengujian bersifat merusak contoh dari prosedur
dan kualifikasi pengelasan harus diadakan sesuai dengan persyaratan ASTM
A370.
4. Pengujian pengelasan yang tidak bersifat merusak:

Bab 3 - 74
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

5. Khusus untuk bagian-bagian konstruksi dengan ketebalan bagian yang dilas


tidak lebih dari 2 cm, pemeriksaan mutu pengelasan dilakukan secara visuil,
bila ditemukan hal-hal yang meragukan, maka bagian tersebut harus diuji
dengan cara-cara seperti dibawah ini dan sesuai standar AWS D1.0.
a. Pemeriksaan dengan "Partikel Magnetic" dan harus sesuai dengan ASTM
E109.
b. Pemeriksaan dengan "Liquid Penetrant" dan harus sesuai dengan E109.
c. Semua lokasi pengujian harus dipilih oleh Wakil Pemberi Tugas.

15.15. JUMLAH PENGUJIAN:


Jumlah pengujian yang akan dilaksanakan oleh Kontraktor harus seperti yang
ditentukan di lapangan oleh Wakil Pemberi Tugas.

Pemeriksaan visuil pengelasan harus dilaksanakan ketika operator membuat las


dan setelah pekerjaan diselesaikan. Setelah pekerjaan diselesaikan, las harus
ditangani atau disikat dengan sikat kawat dan dibersihkan merata sebelum
pemberi Tugas membuat pemeriksaannya. Pemberi Tugas akan memberikan
perhatian khusus pada permukaan yang pecah-pecah, permukaan yang porous,
masuknya kerak-kerak las pada permukaan, potongan bawah, lewatan/overlap,
kantong udara dan ukuran lasnya. Pengelasan yang rusak harus diperbaiki sesuai
dengan persyaratan AWS D.1.0.

Hasil pengujian dari laboratorium/lapangan diserahkan pada Wakil Pemberi Tugas


secepatnya.

Seluruh biaya yang berhubungan dengan pengujian bahan/las dan sebagainya,


menjadi tanggung jawab Kontraktor.

15.16. SYARAT-SYARAT PENGAMANAN PEKERJAAN


Bahan-bahan baja profil dihindarkan/dilindungi dari hujan dan lain-lain.
Baja yang sudah terpasang dilindungi dari kemungkinan cacat/rusak yang
diakibatkan oleh pekerjaan-pekerjaan lain.
Bila terjadi kerusakan, Kontraktor diwajibkan untuk memperbaikinya dengan tidak
mengurangi mutu pekerjaan. Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

Bab 3 - 75
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

DAFTAR ISI
BAB IV
PERSYARATAN TEKNIS MEKANIKAL

4.1 PEKERJAAN PLUMBING ............................................................................................................... 1


4.1.1 LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................ 1
4.1.2 STANDAR / RUJUKAN ............................................................................................. 1
4.1.3 PROSEDUR UMUM .................................................................................................. 1
4.1.4 BAHAN - BAHAN ...................................................................................................... 2
4.1.5 PELAKSANAAN PEKERJAAN.................................................................................. 4
4.2 PEKERJAAN SISTEM POMPA AIR BERSIH ............................................................................... 5
4.2.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................ 5
4.2.2. STANDAR / RUJUKAN ............................................................................................. 6
4.2.3. PROSEDUR UMUM .................................................................................................. 6
4.3 PEKERJAAN SISTEM POMPA HIDRAN ...................................................................................... 9
4.3.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................................ 9
4.3.2. STANDAR / RUJUKAN ............................................................................................. 9
4.3.3. PROSEDUR UMUM .................................................................................................. 9
4.3.4. BAHAN-BAHAN ...................................................................................................... 13
4.3.5. URAIAN PEKERJAAN DAN SPESIFIKASI MATERIAL/PERALATAN .................... 14
4.3.6. MESIN DIESEL POMPA HIDRAN .......................................................................... 18
4.3.7. POMPA ELEKTRIK ................................................................................................. 21
4.3.8. JOCKEY PUMP ...................................................................................................... 21
4.3.9. TANGKI TEKAN (PRESSURE VESSEL, HYDROPHORE) .................................... 21
4.4 PEKERJAAN SISTEM AC ............................................................................................................ 22
4.4.1. SPESIFIKASI TEKNIS UMUM ................................................................................ 22
4.4.2. PEKERJAAN PERALATAN UTAMA ....................................................................... 23
4.4.3. LINGKUP PEKERJAAN PEMBORONG ................................................................. 23
4.4.4. LINGKUP PEKERJAAN TATA UDARA .................................................................. 24
4.4.5. LINGKUP PEKERJAAN PEMBORONG LAIN......................................................... 24
4.4.6. KETENTUAN TEKNIS UNIT AC ............................................................................. 24
4.4.7. KETENTUAN TEKNIS FAN .................................................................................... 25
4.4.8. KETENTUAN TEKNIS PERALATAN BANTU ......................................................... 26
4.4.9. KETENTUAN TEKNIS PENGECATAN ................................................................... 26
4.4.10. KETENTUAN TEKNIS PENGUJIAN (TESTING, ADJUSTING & BALANCING) ..... 26
4.5 SISTEM PEMIPAAN DAN PERALATAN PIPA AC .................................................................... 27
4.5.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 27
4.5.2. PEMASANGAN SISTEM PIPA ............................................................................... 28
4.5.3. ISOLASI GETARAN (VIBRATION ISOLATION) ..................................................... 28
4.5.4. PENGGANTUNGAN DAN PENYANGGA / PENUMPU PIPA ................................. 28
4.5.5. ISOLASI PIPA ......................................................................................................... 28
4.6 PEKERJAAN ISOLASI .................................................................................................................. 28
4.6.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 28
4.6.2. UMUM ..................................................................................................................... 29
4.6.3. MATERIAL ISOLASI ............................................................................................... 29
4.6.4. PEMASANGAN ISOLASI PIPA DRAIN SPLIT DUCT ............................................. 29
4.7 PEKERJAAN SYSTEM DUCTING ............................................................................................... 29
4.7.1 LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 29
4.7.2 STANDARD ............................................................................................................ 30
4.7.3 UMUM ..................................................................................................................... 30
4.7.4 MATERIAL .............................................................................................................. 30
4.7.5 PEMIPAAN.............................................................................................................. 33
4.7.6 KONTROL SISTEM ................................................................................................ 38

Daftar Isi - i
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

4.8 PEKERJAAN DIFFUSER, GRILLE .............................................................................................. 39


4.8.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 39
4.8.2. STANDARD ............................................................................................................ 39
4.8.3. UMUM ..................................................................................................................... 40
4.8.4. MATERIAL .............................................................................................................. 40
4.8.5. PEMASANGAN ....................................................................................................... 40
4.8.6. DIMENSI. ................................................................................................................ 40
4.9 PEKERJAAN SYSTEM VENTILASI MEKANIK ......................................................................... 40
4.9.1. LINGKUP PEKERJAAN .......................................................................................... 40
4.9.2. UMUM. .................................................................................................................... 40
4.9.3. EXHAUST FAN. ...................................................................................................... 41
4.9.4. DUCTING. ............................................................................................................... 41
4.10 PEKERJAAN TESTING, ADJUSTING, BALANCING ............................................................... 41
4.10.1 UMUM ..................................................................................................................... 41
4.10.2 LINGKUP PEKERJAAN. ......................................................................................... 42
4.10.3 PERSETUJUAN HASIL TEST. ............................................................................... 43
4.10.4 SERVICE DAN MAINTENANCE. ............................................................................ 43
4.11 PEKERJAAN SISTEM VENTILASI .............................................................................................. 44
4.11.1. LINGKUP PEKERJAAN ................................................................................................. 44
4.11.2. STANDAR / RUJUKAN ........................................................................................... 44
4.11.3. PROSEDUR UMUM ................................................................................................ 44
4.11.4. BAHAN - BAHAN .................................................................................................... 44
4.11.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN................................................................................ 45

Daftar Isi - ii
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

SPESIFIKASI TEKNIS

BAB IV

PERSYARATAN TEKNIS MEKANIKAL DAN PLUMBING

4.1 PEKERJAAN PLUMBING


4.1.1 LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini mencakup semua pengadaan bahan, tenaga kerja, peralatan dan
pemasangan system pemipaan yang lengkap seperti ditentukan dan/atau ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.
Sistem plambing ini meliputi pemipaan distribusi internal air bersih dari 150 cm diluar
bangunan menuju kran, pemipaan sanitasi internal sampai 150 cm di luar bangunan, berikut
pengujian, penyeimbangan dan semua kebutuhan-kebutuhan lain yang diperlukan agar
system sempurna dalam segala hal dan siap untuk dioperasikan.
Pekerjaan ini juga akan meliputi penyambungan ke pipa distribusi seperti ditunjukkan dalam
Gambar kerja.

4.1.2 STANDAR / RUJUKAN


a. Standar Nasional Indonesia (SNI)
- SNI 06-0135-1989
b. Japanese Industrial Standar (JIS)
c. American Water Works Associantion (AWWA)
d. Spesifikasi Teknis:
- Galian, Urukan Kembali dan pemadatan.
- Jaringan Utilitas.
- Cat.
- Perlengkapan Plambing.
- Distribusi Tegangan Rendah

4.1.3 PROSEDUR UMUM


a. Contoh Bahan dan Data Teknis.
- Kontraktor harus menyerahkan contoh dan data teknis/brosur dari bahan yang akan
dipergunakan untuk mndapatkan persetujuan Pengawas Lapangan / Manajemen
Konstruksi (MK) terlebih dahulu, sebelum mendatangkannya ke lokasi.
- Semua biaya penyerahan dan pengadaan contoh bahan menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
- Bila contoh yang diserahkan berbeda dari yang ditentukan, kontraktor harus
menjelaskan perbedaan tersebut secara tertulis, dengan permohonan pengantian,
bersamaan dengan alasan penggantian, sehingga bila diterima, tindakan yang
sesuai dapat dilakukan untuk penyesuaian. Bila konraktor mengabaikan hal ini
maka Kontraktor tidak dibebaskan dari tanggung jawab untuk menghasilkan
pekerjaan sesuai dengan ketentuan Gambar Kerja.

b. Gambar Detail Pelaksanaan.


- Kontraktor harus menyiapkan dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan
pekerjaan pemipaan yang disebutkan disini, atau yang membutuhkan koordinasi
dengan pekerjaan lain.

Bab 4 - 1
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Gambar kerja hanya berupa diagram pemipaan dan menunjukkan secara gars
besar tata letak bahan dan peralatan. Gambar kerja harus diikuti secara seksama.
Gambar Arsitektural, Struktural dan lainnya yang terkait dan semua elemen yang
akan dipasang harus diperiksa dimensi dan kebutuhan ruang geraknya sebelum
pemasangan dimulai.
- Gambar Detali Pelaksanaan harus diserahkan kepada Pengawas Lapangan se-
segera mungkin sebelum pengadaan bahan sehingga diperoleh cukup waktu untuk
memeriksa, dan tidak ada tambahan waktu bagi Kontraktor bila mengabaikan hal
ini.
Gambar Detail pelaksanaan harus lengkap dan berisi detail-detail yang diperlukan.
- Kontraktor harus membuat Gambar Kerja yang dibutuhkan untuk mendapatkan,
atas biayanya, ijin-ijin tertentu yang diperlukan yang berhubungan dengan sistem
pemipaan yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknis ini.

c. Pengiriman dan Penyimpanan.


- Setiap bahan pipa (satu panjang utuh), sambungan dan perlengkapan lain yang
digunakan dalam system pemipaan harus mempunyai tanda/merek yang jelas dari
pabrik pembuatnya dan kelas produk bila ditentukan oleh standar yang berlaku.
- Semua bahan harus disimpan di tempat yang aman dan terlindung dari segala
kerusakan.

d. Ketidaksesuaian.
- Kontraktor wajib memeriksa Gambar Kerja yang ada terhadap kemungkinan
kesalahan/ketidaksesuaian, baik dari segi dimensi, kapasitas, jumlah maupun
pemasangan dan lain-lain.
- Semua bahan yang didatangkan atau dipasang ternyata tidak memiliki tanda-tanda
yang sesuai harus disingkirkan dan diganti dengan bahan yang memebuhi
persyaratan, tanpa tambahan biaya kepada Pemilik Proyek.

e. Jaminan.
Kontraktor harus memberikan kepada Pemilik Proyek surat jaminan yang menyatakan
bahwa sistem plambing telah bekerja dengan baik untuk jangka waktu 1 (satu) tahun
sejak tanggal penyerahan terakhir. Selama periode tersebut Kontraktor harus
memperbaiki atau mengganti kerusakan dan membayar biaya setiap perbaikan atau
penggantian.

4.1.4 BAHAN - BAHAN


a. Umum.
Semua bahan, peralatan utama dan peralatan tambahan yang akan dipasang harus
dalam keadaan baru, tidak rusak/cacat dan berkualitas baik.

b. Pemipaan Air Bersih.


- Pipa.
Untuk distribusi air bersih dalam bangunan menggunakan pipa Poly Propeline (PPr)
kelas 10kg/cm2 atau PN 10 yang memenuhi standar ISO 4065, ISO 4427 dan atau
DIN 8075.
Diameter dan panjang pipa yang dibutuhkan harus sesuai ketentuan dalam Gambar
Kerja.

- Sambungan Pipa.
Sambungan-sambungan p[ipa seperti socket, elbow, reducer, knee, nipple, tee dan
sebagainya, harus terbuat dari bahan PPr yang sesuai untuk pipa PPr kelas
10kg/cm2, serta berasal dari merek yang sama dengan merek pipa.

Bab 4 - 2
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Sistem Sambungan.
Sistem sambungan terdiri dari compression fitting, butt-fussion welding,
electrofunction atau sesuai petunjuk dari pabrik pembuat pipa PP. Sistem
sambungan yang dipilih harus disetujui Pengawas Lapangan / Manajemen
Konstruksi.

c. Pemipaan Air Panas.


- Pipa.
Untuk distribusi aire panas digunakan pipa PPr klas PN 20 yang memenuhi
ketentuan BS 6920 dan BS 7291 Part 1 & 2 dengan tekanan nominal.

- Sambungan Pipa.
Sambungan-sambungan pipa seperti socket, elbow, reducer, knee, nipple, tee dan
sebagainya, harus terbuat dari bahan PPr yang sesuai untuk pipa PPr PN 20 kelas
10kg/cm2, serta berasal dari merek yang sama dengan merek pipa.

- Sistem Sambungan
Sistem sambungan terdiri dari compressioan fitting, but-fussion welding,
electrifusion atau sesuai petunjuk dari pabrik pembuat pipa PP. Sistem sambungan
yang dipilih harus disetujui Pengawas Lapangan / Manajemen Konstruksi.

d. Perlengkapan Pemipaan.
- Katup/Valve.
Katup bertekanan kerja 125psi, dengan jenis katup dan diameter sesuai Gambar
Kerja, harus dibuat dari bahan kuningan
Katup harus memiliki tanda tekanan kerja, diameter dan arah aliran yang diterakan
pada badan katup.
Katup dengan diameter sampai dengan 65mm harus memiliki ulir untuk
enyambungan dengan pipa, sedang katup dengan diamter lebih besar dari 65mm
harus memiliki flens yang bersatu dengan badan katup.

- Flensa.
Flens harus memenuhi standar ANSI B 16.5 kelas 150 jenis raised face. Flens tipe
slip-on harus memiliki diameter yang sesuai dengan pipa atau peralatan yang akan
disambung.

- Paking.
Paking harus dari ANSI kelas 150, terbuat dari karet gulungan spiral tebal minimal
3mm.
Diameter paking harus sesuai dengan diameter dan jenis flens yang akan
digunakan.
Jumlah pengadaan paking harus dilebihkan 10% dari jumlah yang seharusnya
diadakan.

- Baut, Mur untuk Flensa.


Baut, mur lengkap dengan cincin per dan cincin pelat, harus terbuat dari baja hitam
kelas 8.8., dengan system ulir metric, digunakan untuk pemasangan flens.

Diameter dan panjang baut harus sesuai dengan dimensi flens. Sisa ulir setelah
pemasangan minimal 3 (tiga) ulir.

Jumlah pengadaan baut dan mur dilebihkan 10% dari jumlah yang seharusnya
diadakan.

Bab 4 - 3
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

e. Pipa PVC dan Sambungan

- Pipa.
Pipa air buangan harus dari pipa PVC standar SNI 06-0084-1987 dengan kelas
tekanan kerja 8kg/cm2 . Pipa harus dari jenis sambungan solvent cement.
Diameter dan panjang pipa yang dibutuhkan harus sesuai ketentuan dalam Gambar
Kerja.

- Sambungan Pipa.
Sambungan-sambungan pipa dengan jenis sambungan solven cement seperti
elbow, reducer, knee, tee dan sebagainya, harus terbuat dari bahan dan kelas yang
sama dengan pipa PVC dan memenuhi standar SNI 06-0135-1989, dari merek yang
sama dengan merek pipa yang disetujui digunakan.

- Perekat.
Perekat untuk penyambungan pipa PVC harus dari merek yang direkomendasikan
oleh pabrik pembuat pipa PVC.

4.1.5 PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Umum.
- Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus mempelajari semua pekerjaan
lainnya yang terkait atau yang akan mempengaruhi pekerjaannya, sesuai yang
disyaratkan dalam Spesifikasi teknis ini, dan harus melaporkannya kepada
Pengawas Lapangan semua keadaan yang akan menurunkan atau mengurangi
pekerjaannya.
- Kontraktor harus memeriksa kebutuhan ruang untuk semua peralatan, pipa-pipa
dan sebagainya, untuk menjamin bahwa semuanya dapat dipasang pada tempat
yang direncanakan sesuai rencana.
- Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan mutu kelas satu dan rapi oleh teknisi-
teknisi yang terlatih untuk pekerjaan tersebut dan teknisi-teknisi ini harus disetujui
Pengawas Lapangan.

b. Pemasangan.

1) Pemipaan.
- Semua sistem pemipaan yang akan dipasang harus dijaga tetap bersih dan
tetap teratur serta bekerja dengan baik melalui pengujian berkala yang
dilakukan Kontraktor sampai pekerjaan diserahkan dan diterima Pemilik
Proyek.
- Semua pipa harus dipasang sesuai koordinat yang ditentukan.
- Kontraktor bertanggung-jawab mengadakan bagian sambungan yang
diperlukan untuk melengkapi pemasangan. Semua sambungan yang harus
diperiksai dengan teliti untuk memastikan bagian-bagian yang harus disediakan
untuk melengkapi pemasangan.
- Semua pemipaan yang disambung dan yang akan dihubungkan dengan
peralatan, harus dilengkapi dengan sambungan pipa atu flensa yang sesuai
seperti diebutkan dalam Spesifikasi ini.
- Pipa harus digunakan dalam panjang penuh jika memungkinkan.
- Perubahan ukuran pipa harus dilengkapi dengan alat sambungan reducer atau
increaser.
- Katup yang disediakan untuk kesempurnaan sistem kontrol harus ditempatkan
pada lokasi yang mudah dicapai dengan ruang gerak yang cukup untuk bukaan
penuh, pembongkaran, penggantian dengan batang pengoperasian ke arah
horisontal atau vertikal.

Bab 4 - 4
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Setiap peralatan harus dilengkapi dengan katup penutup air yang ditempatkan
sesuai Gambar Kerja, sehingga setiap peralatan dapat diperiksa secara
terpisah tanpa mengganggu peralatan lainnya.
- Semua sambungan peralihan antara pipa baja dan pipa PVC, sambungan-
sambungan atau belokan dan aksesori peralatan harus dilengkapi dengan
adaptor yang dibuat khusus untuk maksud tersebut.
- Pekerjaan pemipaan yang membutuhkan penggalian dan pengurukan harus
dilaksanakan sesuai ketentuan dalam Spesifikasi Teknis Galian, Urugan
Kembali dan Pemadatan.

2) Pembersihan dan Penyesuaian.


- Selama pelaksanaan, Kontraktor harus menutup semua saluran/pipa, untuk
mencegah masuknya pasir, kotoran dan lainnya. Setelh selesai pemasangan
setiap system pemipaan harus dihembus langsung dengan udara selama
mungkin untuk membersihkan seluruh system pemipaan.
- Setelah seluruh system terpasang lengkap, kontraktor harus menjalankan
peralatan pada kondisi normal untuk membuat semua penyesuaian penting
menyeibangkan katup, kontrol tekanan otomatis dan lainnya, sampai
persyaratan tercapai.

3) Pengujian Sistem Tanpa Tekanan.

- Seluruh system saluran harus dilengkapi lubang-lubang yang dapat ditutup


dengan rapat sehingga seluruh system dapat diisi dengan air sampai elevasi
tertinggi saluran.
- Sistem ini harus menahan air tersebut selama 30 menit dan dalam waktu
tersebut ketinggian air tidak berubah.
- Bila menurut pendapat Pengawas Lapangan / Manajemen Konstruksi
dibutuhkan pengujian tambahan, seperti pengujian asap/udara pada system
saluran pembuangan. Kontraktor harus melaksanakan pengujian tersebut
tanpa tambahan biaya kepada Pemilik Proyek.

4) Pengujian Sistem Bertekanan.

- Pengujian system bertekanan harus sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis


Jaringan Utilitas.
- Bila suatu bagian system pemipaan akan ditutup sebelum seluruh pemasangan
selesai, bagian tersebut harus diuji terpisah pada tekanan yang sama dengan
tekanan yang digunakan untuk seluruh system dan disaksikan oleh Pengawas
Lapangan.

5) Lapisan Pelindung.

- Semua pipa, sambungan dan penumpu pipa yang terlihat harus dicat dalam
warna sesuai Skema Warna yang akan diterbitkan kemudian. Semua pipa
yang terlihat juga harus diberi tanda arah aliran.
- Bahan cat dan pekerjaan pengecatan harus sesuai ketentuan Spesifikasi
Teknis – Pengecatan.

4.2 PEKERJAAN SISTEM POMPA AIR BERSIH


4.2.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini mencakup semua pengadaan bahan, tenaga kerja, peralatan dan
pemasangan system pompa yang lengkap seperti ditentukan dan/atau ditunjukkan dalam
Gambar Kerja.

Bab 4 - 5
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Penawar harus menyediakan dan mensuplai “pumping station” dalam keadaan berjalan
sempurna sesuai dengan gambar dan perlengkapannya. Di dalam penawaran, penawar
harus menyertakan paling sedikit hal-hal berikut ini :
a. Gambar secara keseluruhan lengkap, pandangan, suku cadang dan daftar material,
buatan mana dan jenis-jenisnya.
b. Karakteristik pompa selengkapnya, meliputi :
- Kurva Q – H
- Kurva efisiensi
- Kurva NPSH yang diminta/diperlukan
- Kurva NPSH yang tersedia
- Kedalaman benam minimal dan maksimal (untuk sumbersible pump)
c. Penjelasan mengenai patokan penawar untuk menentukan NPSH yang diperlukan
d. Diagram yang menunjukkan operasi paralel pompa
e. Karakteristik motor listrik yaitu :
- Diagram Torsi – putaran
- Diagram daya – putaran
- Diagram arus listrik – putaran
- Efisiensi motor – power factor (Cos Phi)
f. GD2 terperinci untuk impeller, kopling dan rotor motor listrik
g. Rencana pelumasan dan perawatan
h. Suatu uraian tentang prosedur bongkar pasang, termasuk daftar alat-alat kerja khusus
berikut perlengkapan pembantunya.
i. Uraian prosedur untuk penanganan dan instalasi termasuk daftar alat kerja khusus dan
perlengkapan pembantunya.
j. Daftar suku cadang yang dianjurkan, nama dan alamat lengkap suplier suku cadang
yang terdekat.
k. Daftar sertifikat pengujian jenis barang-barang utama yang diberikan oleh badan penguji
di negeri asal.
l. Semua mesin-mesin yang disuplai harus dalam bentuk kesatuan dan tidak terpisahkan.

4.2.2. STANDAR / RUJUKAN


a. NFPA – National Fire Protection Association
b. Seluruh Standard yang berlaku di Indonesia.

4.2.3. PROSEDUR UMUM


a. Pompa Boster
1) Penggunaan :
Air Bersih pada temperatur air maksimum 45 derajat Celsius dan dapat dipakai
didalam atau diluar ruangan.
- Kapasitas dan head :
Capasitas : sesuai gambar perencanaan
Total Head : sesuai Gambar perencanaan
Speed : 1500 rpm
Power : 3 phase – 380/660 volt, 50 Hz
Seal : Mechanical seal
Type : Centrifugal End Suction
Package lengkap 2 pompa paralel
- Situasi :
Vertical end suction
- Jenis pompa :
Bentuk rumah impeller (pump casing). Volute atau bentuk khusus dan bentuk
impeller sentrifugal.
- Batas kecepatan putar :
Tidak lebih dari 1500 rpm dan semua benda yang diputar harus balans
dinamis dan balans hidrolik.

Bab 4 - 6
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Effisiensi :
Harus tinggi (lebih besar dari 60%) dan luas, pada kondisi kerja yang diminta.

2) Motor
- Jenis :
Motor listrik AC, tiga phasa squiral cage motor dan dapat berfungsi dengan
baik didalam maupun diluar ruangan. Sedangkan temperatur udara
maksimum 400 C dan kelembaban udara relatif dapat mencapai 100% (RH
100%).
- Tingkat proteksi : IP 55 (tropicalized) /IEC 34,5/144.
- Tingkat isolasi : B atau H (IEC pulb 85).
- Tegangan : 220/380 Volt, 50 Hz
- Power Factor : Lebih dari 0,8
- Efisiensi : Lebih dari 0,9
- Putaran poros/rotor : Tidak lebih dari 1500 rpm
- Konstruksi : Sistem pendinginan udara dan pada rotor harus
balans dinamis.
- Kondisi kerja : Terhenti-henti (intermitent S2)
- Sistem start : Star Delta (Y) atau menggunakan Auto
Transformer.

3) Material
- Rumah impeller : Besi cor mutu tinggi (GG 25)
- Impeller : Ni-AL-Bronze
- Poros pompa : Baja tahan karat (AISI 316 atau AISI 324)
- Seal poros : Gland packing (grafite asbestos) atau mekanikal
seal (karbon keramik)
- Motor Casing : Besi cor mutu tinggi atau paduan alumunium.

4) Perlengkapan Teknik Lain yang Diperlukan pada Sistem Perpompaan Sentrifugal


dan Motor Penggeraknya
- Di dalam rumah perpompaan pada bagian isap yaitu, katup, saringan,
impeller dan bagian-bagian lain harus bebas dari efek kavitasi.
- Semua pipa baja, pada bagian isap atau Discharge harus sesuai dengan
standar API-5L Grade B code 17.200 atau ASTM-A 106 Grade B-A 520 atau
DIN 50041-3.1.C (XS ShHed 80).
- Semua flens yang dipakai harus sesuai dengan standar ASTM-A 105 Grade
1 code 5.201 atau DIN 50044-3.1.b.
- Long radius elbow, reducer, dan eksentrik reduser harus sesuai dengan
standar ASTM-A 234 Grade WPB code 74.321 dan code 76.131 atau DIN
50049-3.1.B.
- Semua pompa yang disuplai, pada bagian discharge harus dilengkapi tempat
untuk memasang manometer, dan kontraktor harus mensuplai dan
memasang manometer berikut perlengkapannya (katup dan lain-lain sesuai
dengan gambar). Sedangkan mekanisme manometer pada bagian dalam
harus terbuat dari: bahan baja tahan karat AISI 316. Diameter manometer
(dial indicator) harus sama atau lebih besar dari 160 mm dan mempunyai
ketelitian kurang dari 1% terhadap skala penuh.
- Semua rumah impeller (pump casing) harus dapat berfungsi baik pada
tekanan nominal diatas/lebih besar dari 10 kg/cm2.
- Semua pompa tidak boleh rusak, jika putaran poros pompa terbalik untuk
jangka waktu yang relatif pendek.singkat.
- Semua pompa dan unit motor penggeraknya harus disuplai secara integral
berikut landasan (base plate) dan baut-baut angkernya.
- Semua motor listrik yang disuplai harus sesuai dengan standar IEC

Bab 4 - 7
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Semua bantalan gelinding (roller bearing) harus dapat dilumasi dengan


gemuk
- Daya motor, harus lebih besar 10% atau lebih dari daya maksimum yang
diperlukan oleh pompa pada setiap kondisi kerja.

b. Tangki Tekan (Diafragma)


Instalasi pompa distribusi ini dilengkapi dengan tangki tekan (Diafragma). Seluruh
ukuran, pembuatan, pengetesan dan pengoperasiannya harus mengikuti standar-
standar pressure vessel seperti ASTM, AWWA, DIN dan mendapatkan sertifikat dari
badan yang berwenang seperti Depnaker.

- Satu buah tangki tekan Diafragma dengan volume 300 liter dengan ukuran sesuai
dengan gambar dan ketebalan pelat 12 mm serta mampu bekerja pada tekanan
kerja 8 bar untuk air bersih.
- Dilengkapi dengan perpipaan inlet-outlet, valve, check valve.
- Tangki tekan harus dilengkapi dengan plat nama (name plate) yang meliputi
volume, tekanan kerja, nama pemilik, pembuat, tahun pembuatan, dll. yang
dianggap perlu.
- Tangki tekan ( Diafragma ) harus dilengkapi dengan pipa (dan check valve) masuk
udara tekan untuk setting tekanan kerja, dimana tekanan pompa hidup adalah 4,5
bar dan tekanan pompa mati adalah 5,5 bar, pada volume efektif air, yakni selisih
antara switching level, sebesar 1 sampai dengan 1,5 meter kubik.

c. Suku Cadang
Minimal suku cadang yang harus disuplai untuk pompa adalah sebagai berikut :
1) Pompa Sentrifugal Air Bersih
- Satu unit impeller
- Gland packing yang menggunakan konstruksi stuffing box atau mechanical seal
- Bantalan berikut wearing rings
- Poros berikut penguncinya
- Gasket.

d. Pemeriksaan Dan Tes


1) Umum
Semua mesin-mesin berikut perlengkapannya harus diperiksa dan dites di pabrik
sebelum dikirim. Setelah pemasangan mesin-mesin selesai, Kontraktor harus
mengetes ulang di lapangan/di lokasi. Semua tes harus mendapat persetujuan
direksi/tenaga ahli Kontraktor harus bertanggung jawab tentang tes di pabrik atau
dilokasi, dan harus dapat memperlihatkan kefungsian masing-masing peralatan
pada direksi/tenaga ahli. Direksi/tenaga ahli harus diperbolehkan untuk memeriksa
semua peralatan/mesin-mesin pada saat dites. Sertifikat kalibrasi instrumen/alat-
alat ukur yang dipakai dalam pengetesan ini harus mendapat persetujuan dari
direksi/tenaga ahli. Jika selama tes di pabrik dan di lokasi, terdapat cacat maka
Kontraktor harus mengganti komponen yang cacat tersebut dan mengetes ulang.
Kontraktor harus menyerahkan hasil tes di pabrik maupun di lokasi (4 copy) pada
direksi/tenaga ahli.

Semua tenaga kerja, peralatan tes dan kalibrasi peralatan/alat ukur yang dipakai
pada pegnetesan (di pabrik/di lokasi) maupun biaya pengetesan merupakan
tanggung jawab atau disediakan oleh Kontraktor.

2) Tes Pabrik, Pompa dan Motor Listrik


Semua pompa harus dites sesuai dengan ISO 3555 (pompa sentrifugal, aksial dan
semi aksial – tes penerimaan class B), meliputi kondisi berikut ini:
- Semua pompa digerakkan oleh motor listrik
- Prosedur tes harus mendapat persetujuan dari Direksi/tenaga ahli

Bab 4 - 8
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Semua pompa harus dites pada 4 atau lebih kondisi kerja, yaitu:
- Kapasitas nol
- Kapasitas nominal
- Kapasitas maksimal yang diperbolehkan
- Kapasitas minimal yang diperbolehkan
- Karakteristik masing-masing pompa yang harus meliputi :
- Kapasitas aliran air
- Head
- Efisiensi
- Daya listrik yang diserap
- NPSH
- Semua motor listrik harus dites sebelum dikirim, sedangkan prosedur tes motor
listrik di pabrik, sesuai dengan standar yang berlaku di negara asal (pembuat
motor listrik). Sertifikat tes pabrik tentang performance dan manual motor listrik
harus diserahkan pad direksi/tenaga ahli. Semua motor listrik yang bekerja atas
dasar otomatis harus dites kefungsiannya. Kontraktor harus melakukan tes
tentang tahanan isolasi motor pada masing-masing phasanya dengan arde (IEC
34).

3) Tes Pompa dan Motor Listrik di Lokasi


- Setelah pompa berikut perlengkapannya dipasang, karakteristik yang sama pada
kondisi kerja yang sama pada saat dites di pabrik harus dites kembali di lokasi.
- Tes tahanan isolasi pada masing-masing motor listrik antara phase dengan arde
(IEC 34), jika harga tahanan isolasi motor listrik jauh di bawah harga tahanan
isolasi pada saat dites di pabrik maka Kontraktor harus memperbaiki motor
tersebut dengan cara pengeringan yang biasa dipakai.
- Pengetesan lain meliputi, arah rotasi, kelurusan sumber poros pompa dengan
sumbu poros motor, dan setelah pompa bekerja selama 4 jam perlu diperiksa
suara maupun getaran dan juga temperatur yang timbul pada sistem bantalan,
dan pemanasan lokal pada motor winding.

4.3 PEKERJAAN SISTEM POMPA HIDRAN


4.3.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pengadaan, pemasangan dan pengisian sistem pemadam kebakaran yang meliputi:
- Sistem pompa, pemipaan beserta perlengkapannya yang meliputi pemipaan pada
instalasi pompa, pemipaan distribusi pada setiap titik pengeluaran.
- Lingkup pekerjaan secara umum adalah pemasangan system pompa hidran di area
Rumah pompa beserta perlengkapannya, peralatan valve-valve, kontrol, fitting dan
instrumentasi.

4.3.2. STANDAR / RUJUKAN


a. NFPA – National Fire Protection Association
b. Seluruh Standard yang berlaku di Indonesia.

4.3.3. PROSEDUR UMUM


a. Gambar-gambar
1) Gambar-gambar rencana dan persyaratan-persyaratan ini merupakan suatu
kesatuan yang saling melengkapi dan sama mengikat.
2) Gambar-gambar sistem ini menunjukkan secara umum tata letak dari peralatan,
sedangkan pemasangan harus dikerjakan dengan memperhatikan kondisi dari
bangunan yang ada dan mempertimbangkan juga kemudahan service/maintenance
jika peralatan-peralatan sudah dioperasikan.

Bab 4 - 9
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

3) Gambar-gambar arsitek dan struktur/sipil harus dipakai sebagai referensi untuk


pelaksanaan dan detail finishing instalasi.
4) Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor harus mengajukan gambar kerja dan detail
kepada Konsultan pengawas untuk dapat diperiksa dan disetujui terlebih dahulu.
Dengan mengajukan gambar-gambar tersebut, Kontraktor dianggap telah
mempelajari situasi dari instalasi lain yang berhubungan dengan instalasi ini.
5) Kontraktor instalasi ini harus membuat gambar-gambar instalasi terpasang yang
disertai dengan operating dan maintenance instruction serta harus diserahkan
kepada Konsultan pengawas pada saat penyerahan pertama dalam rangkap 4
(empat) terdiri 1 kalkir dan 3 blurprint, dijilid serta dilengkapi dengan daftar isi dan
data notasi.

b. Koordinasi
1) Kontraktor instalsi ini hendaknya bekerja sama dengan Kontraktor instalasi lainnya,
agar seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan waktu yang
telah ditetapkan.
2) Koordinasi yang baik perlu ada, agar instalasi yang satu tidak menghalangi
kemajuan instalasi yang lain.
3) Apabila pelaksanaan instalasi ini menghalangi instalasi yang lain, maka semua
akibatnya tanggung jawab Kontraktor.

c. Pelaksanaan Pemasangan, Testing dan Commisioning


1) Sebelum pelaksanaan pemasangan instalasi ini dimuali, Kontraktor harus
menyerahkan gambar kerja dan detailnya kepada Konsultan pengawas dalam
rangkap 3 (tiga) untuk disetujui.
2) Kontraktor harus mengadakan pemeriksaan ulang atas segala ukurandan kapasitas
peralatan yang akan dipasang. Apabila ada sesuatu yang diragukan, Kontraktor
harus segera menghubungi Konsultan pengawas. Pengambilan ukuran dan/atau
pemilihan kapasitas peralatan yang salah akan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
3) Kontraktor instalasi ini harus melakukan semua testing dan pengukuran yang
dianggap perlu untuk mengetahui apakah keseluruhan instalasi dapat berfungsi
dengan baik dan dapat memenuhi semua persyaratan yang diminta.
4) Semua bahan perlengkapannya yang diperlukan untuk mengadakan testing
tersebut merupakan tanggung jawab Kontraktor.

d. Masa Pemeliharaan dan Serah Terima Pekerjaan


1) Peralatan instalasi ini harus digaransi selama satu tahun terhitung sejak saat
penyerahan pertama.
2) Masa pemeliharaan untuk instalasi ini adalah selama enam bulan terhitung sejak
saat penyerahan pertama.
3) Selama masa pemeliharaan ini, Kontraktor instalasi ini diwajibkan mengatasi segala
kerusakan yang akan terjadi tanpa adanya tambahan biaya.
4) Selama masa pemeliharaan ini, seluruh instalasi yang telah selesai dilaksanakan
masih merupakan tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
5) Selama masa pemeliharaan ini, apabila Kontraktor instalasi ini tidak melaksanakan
teguran dari Konsultan pengawas atas perbaikan/penggantian/penyetelan tersebut
kepada pihak lain atas biaya Kontraktor instalasi ini.
6) Selama masa pemeliharaan ini, Kontraktor instalasi ini harus melatih petugas-
petugas yang ditunjuk oleh Pemilik sehingga dapat mengenali sistem instalasi dan
dapat melaksanakan pemeliharaannya.
7) Serah terima dari instalasi ini baru dapat dilaksanakan setelah ada bukti
pemeriksaan dengan hasil yang baik yang ditanda tangani bersama oleh Kontraktor
dan Konsultan MK sert dilampiri Surat Ijin Pemakaian dari Jawatan Keselamatan
Kerja.
8) Serah terima setelah masa pemeliharaan instalasi ini baru dapat dilaksanakan
setelah:

Bab 4 - 10
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Berita Acara Serah Terima Kedua yang menyatakan bahwa instalasi ini dalam
keadaan baik, ditandatangani bersama Kontraktor dan Konsultan pengawas.
 Kontraktor telah menyerahkan semua Surat Ijin Pemakaian dari Instansi
Pemerintah yang berwenang, misalnya Instansi Keselamatan Kerja, dan lain-
lain, sehingga instalasi tanpa menyalahi peraturan instansi yang bersangkutan.
 Semua gambar instalasi terpasang beserta operating, instruction, technical dan
maintenance manual rangkap 6 (enam) termasuk 1 (satu) set asli telah
diserahkan kepada Konsultan pengawas.

e. Laporan-laporan
Kontraktor wajib membuat laporan harian dan laporan mingguan yang memberikan
gambaran mengenai:
1) Kegiatan fisik
2) Catatan dan perintah Konsultan pengawas yang disampaikan secar lisan maupun
secara tertulis
3) Jumlah material masuk/ditolak
4) Jumlah tenaga kerja
5) Keadaan cuaca dan
6) Pekerjaan tambah/kurang

f. Penanggungjawab Pelaksanaan
Kontraktor instalasi ini harus menempatkan seorang penanggungjawab pelaksanaan
yang ahli dan berpengalaman yang harus selalu berada di lapangan, yang bertindak
sebagai wakil dari Kontraktor dan mempunyai kemampuan untuk memberikan keputusan
teknis dan yang bertanggungjawab penuh dalam menerima segala instruksi yang akan
diberikan oleh pihak Konsultan pengawas.
Penanggungjawab tersebut diatas juga harus berada ditempat pekerjaan pada saat
dipelukan/dikehendaki oleh pihak Konsultan pengawas.

g. Penambahan/Pengurangan/Perubahan Instalasi
1) Pelaksanaan instalasi yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan dengan
kondisi lapangan, harus mendapat persetujuan tertulis dahulu dari Konsultan
pengawas.
2) Kontraktor instalasi ini harus menyerahkan setiap gambar perubahan yang ada
kepada pihak Konsultan pengawas dalam rangkap 3 (tiga).
3) Perubahan material, dan lain-lainnya, harus diajukan oleh Kontraktor kepada
Konsultan pengawas secara tertulis dan pekerjaan tambah/kurang. Perubahan yang
ada harus disetujui oleh Konsultan pengawas secara tertulis.

h. Pembobokan, Pengelasan dan Pengeboran.


1) Pembobokan lantai, dinding dsb yang diperlukan dalam pelaksanaan instalasi ini
serta mengembalikannya ke kondisi semula, menjadi lingkup pekerjaan instalasi ini.
2) Pembobokan/pengelasan/pengeboran hanya dapat dilaksanakan apabila ada
persetujuan dari pihak Konsultan pengawas secara tertulis.

i. Pemeriksaan Rutin dan Khusus


1) Pemeriksaan rutin harus dilaksanakan oleh Kontraktor instalasi secara periodik dan
tidak kurang dari tiap dua minggu.
2) Pemeriksaan khusus harus dilaksanakan oleh Kontraktor instalasi ini, apabila ada
permintaan dari pihak Konsultan pengawas/Pemilik dan atau bila ada gangguan
dalam instalasi ini.

j. Klausul yang disebutkan kembali


1) Apabila dalam Dokumen Tender ini ada Klausal yang dikembalikan pada item/ayat
lain, maka ini bukan berarti menghilangkan item tersebut, tetapi dengan pengertian
lebih menegaskan masalahnya.

Bab 4 - 11
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

2) Kalau terjadi hal yang saling bertentangan antar gambar atau terhadap spesifikasi,
maka yang diambil sebagai patokan adalah yang mempunyai bobot teknis dan atau
yang mempunyai bobot biaya yang paling tinggi.
3) Pemilik bebas dari segala claim atau tuntutan terhadap hak-hak khusus seperti
paten dan lain-lain.

k. Instruksi Pemakaian dan Operator serta Training


Menjadi kewajiban Kontraktor untuk menyerahkan 4 (empat) set instruksi
pemakaian/operasi serta cara-cara maintenance kepada Pemilik 3 (tiga) bulan sebelum
Serah Terima Pertama Pekerjaan. Termasuk disini mendidik operator atau orang-orang
yang ditunjuk oleh Pemilik untuk menggunakan/ mengoperasikan, dan maintenance
seperlunya terhadap instalasi Fire Extinguisher. Segala biaya tersebut adalah menjadi
tanggungan Kontraktor.

l. Tangki Tekan (Diafragma Tank)


Instalasi pompa distribusi ini dilengkapi dengan tangki tekan. Seluruh ukuran,
pembuatan, pengetesan dan pengoperasiannya harus mengikuti standar-standar
pressure vessel seperti ASTM, AWWA, DIN dan mendapatkan sertifikat dari badan yang
berwenang seperti Depnaker.
1) Satu buah tangki tekan Diafragma Tank dengan volume sesuai dengan gambar
serta mampu bekerja pada tekanan kerja 8 bar untuk air bersih.
2) Dilengkapi dengan perpipaan inlet-outlet, valve, check valve, drain, pressure gage
dan pressure switch yang dapat di set pada tekanan kerja yang diinginkan pada
range 0-10 bar.
3) Tangki tekan harus dilengkapi dengan plat nama (name plate) yang meliputi
volume, tekanan kerja, nama pemilik, pembuat, tahun pembuatan, dll. yang
dianggap perlu.
4) Tangki tekan harus dilengkapi dengan pipa (dan check valve) masuk udara tekan
untuk setting tekanan kerja, dimana tekanan pompa hidup adalah 4,5 bar dan
tekanan pompa mati adalah 5,5 bar, pada volume efektif air, yakni selisih antara
switching level, sebesar 1 sampai dengan 1,5 meter kubik.

m. Suku Cadang
Minimal suku cadang yang harus disuplai untuk pompa adalah sebagai berikut :
1) Pompa Sentrifugal Air Bersih
 Satu unit impeller
 Gland packing yang menggunakan konstruksi stuffing box atau mechanical
seal
 Bantalan berikut wearing rings
 Poros berikut penguncinya
 Gasket.

n. Pemeriksaan Dan Tes


1) Umum
Semua mesin-mesin berikut perlengkapannya harus diperiksa dan dites di pabrik
sebelum dikirim. Setelah pemasangan mesin-mesin selesai, Kontraktor harus
mengetes ulang di lapangan/di lokasi. Semua tes harus mendapat persetujuan
direksi/tenaga ahli Kontraktor harus bertanggung jawab tentang tes di pabrik atau
dilokasi, dan harus dapat memperlihatkan kefungsian masing-masing peralatan
pada direksi/tenaga ahli. Direksi/tenaga ahli harus diperbolehkan untuk memeriksa
semua peralatan/mesin-mesin pada saat dites. Sertifikat kalibrasi instrumen/alat-
alat ukur yang dipakai dalam pengetesan ini harus mendapat persetujuan dari
direksi/tenaga ahli. Jika selama tes di pabrik dan di lokasi, terdapat cacat maka
Kontraktor harus mengganti komponen yang cacat tersebut dan mengetes ulang.
Kontraktor harus menyerahkan hasil tes di pabrik maupun di lokasi (4 copy) pada
direksi/tenaga ahli.

Bab 4 - 12
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Semua tenaga kerja, peralatan tes dan kalibrasi peralatan/alat ukur yang dipakai
pada pegnetesan (di pabrik/di lokasi) maupun biaya pengetesan merupakan
tanggung jawab atau disediakan oleh Kontraktor.

2) Tes Pabrik, Pompa dan Motor Listrik


Semua pompa harus dites sesuai dengan ISO 3555 (pompa sentrifugal, aksial dan
semi aksial – tes penerimaan class B), meliputi kondisi berikut ini:
 Semua pompa digerakkan oleh motor listrik
 Prosedur tes harus mendapat persetujuan dari Direksi/tenaga ahli
 Semua pompa harus dites pada 4 atau lebih kondisi kerja, yaitu:
 Kapasitas nol
 Kapasitas nominal
 Kapasitas maksimal yang diperbolehkan
 Kapasitas minimal yang diperbolehkan
 Karakteristik masing-masing pompa yang harus meliputi :
 Kapasitas aliran air
 Head
 Efisiensi
 Daya listrik yang diserap
 NPSH
 Semua motor listrik harus dites sebelum dikirim, sedangkan prosedur tes motor
listrik di pabrik, sesuai dengan standar yang berlaku di negara asal (pembuat
motor listrik). Sertifikat tes pabrik tentang performance dan manual motor listrik
harus diserahkan pad direksi/tenaga ahli. Semua motor listrik yang bekerja
atas dasar otomatis harus dites kefungsiannya. Kontraktor harus melakukan
tes tentang tahanan isolasi motor pada masing-masing phasanya dengan arde
(IEC 34).

3) Tes Pompa dan Motor Listrik di Lokasi


 Setelah pompa berikut perlengkapannya dipasang, karakteristik yang sama
pada kondisi kerja yang sama pada saat dites di pabrik harus dites kembali di
lokasi.
 Tes tahanan isolasi pada masing-masing motor listrik antara phase dengan
arde (IEC 34), jika harga tahanan isolasi motor listrik jauh di bawah harga
tahanan isolasi pada saat dites di pabrik maka Kontraktor harus memperbaiki
motor tersebut dengan cara pengeringan yang biasa dipakai.
 Pengetesan lain meliputi, arah rotasi, kelurusan sumber poros pompa dengan
sumbu poros motor, dan setelah pompa bekerja selama 4 jam perlu diperiksa
suara maupun getaran dan juga temperatur yang timbul pada sistem bantalan,
dan pemanasan lokal pada motor winding.

4.3.4. BAHAN-BAHAN
Seluruh bahan dan alat yang akan dipasang harus benar-benar baru dengan kualtias yang
dapat diterima.
a. Daftar Material
Pada waktu mengajukan penawaran Kontraktor harus menyertakan/melampirkan Daftar
Material yang lebih diperinci daris emua bahan yang akan dipasang pada proyek ini
nantinya, dan yang sesuai dengan dipersyaratkan dalam spesifikasi.
Dalam daftar material ini harus disebut pabrik, merk, manufacturer, type, lengkap dengan
brosur/katalog.
Dalam brosur/katalog atau keterangan-keterangan lain yang harus dimasukkan pada
waktu penawaran harus dinyatakan:
o Kapasitas peralatan
o Cara pemasangan
o Karakteristik cara kerjanya

Bab 4 - 13
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

o Dimensi
o Dan lain-lain

b. Nama Pabrik/merk yang ditentukan


Apabila pada spesifikasi teknik ini disebutkan nama pabrik/merk dari satu jenis bahan
maka Kontraktor wajib menawarkan dan memasang sesuai dengan yang ditentukan.
Apabila pada saat pemasangan bahan/merk tersebut tidak/sukar diperoleh, maka
Konsultan pengawas akan menunjuk merk lain tapi dengan spesifikasi yang setara.

c. Contoh Bahan
1) Apabila dianggap perlu oleh Konsultan pengawas dan hal itu memungkinkan, maka
Kontraktor wajib memperlihatkan contoh pada Konsultan pengawas Lapangan dan
Perencana. Apabila contoh-contoh tersebut ditolak oleh Konsultan pengawas
Lapangan dan Perencana, maka Kontraktor harus mengganti dan memperlihakan
yang sesuai dengan spesifikasi untuk disetujui.
2) Kualitas teknis/listrik, merk/pabrik, karakteristik kerja, besar fisik dan kualitas
estetika dari contoh material/bahan maupun instalasi yang telah disetujui adalah
mengikat.
3) Biaya mengadakan contoh material adalah menjadi tanggungan dan biaya
Kontraktor.

4.3.5. URAIAN PEKERJAAN DAN SPESIFIKASI MATERIAL/PERALATAN


a. Perpipaan
1) Umum
Lingkup pekerjaan sistem perpipaan meliputi:
 Pipa
 Sambungan
 Katup
 Stariner
 Penggantungan dan penumpu
 Sleeve
 Bak kontrol
 Blok beton
 Galian
 Pengecatan
 Pengakhiran
 Pengujian
 Peralatan bantu

Spesifikasi dan gambar menunjukkan diameter nominal dari pipa dan letak serta
arah dari masing-masing sistem pipa.
Seluruh pekerjaan, terlihat pada gambar dan/atau spesifikasi dipasang terintegrasi
dengan kondisi bangunan dan menghindari gangguan dengan bagian lainnya.

Bahan pipa maupun perlengkapan harus terlindung dari kotoran, air karat dan
stress sebelum, selama dan sesudah pemasangan.
Semua orang yang dipergunakan harus jelas menunjukkan identitas pabrik
pembuat.

2) Ringkasan Spesifikasi Bahan Perpipaan

Sistem Tekanan Spesifikasi


Hidran 10 bar BSP SCH 40
Spesifikasi BSP
Penggunaan : Pemadam kebakaran
Uraian Keterangan

Bab 4 - 14
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

Pipa Black Steel pipe 1387 Skedul 40


Sambungan/fitting Dia 40 mm ke bawah
malleable iron ANSI B 16.3 class 150 lb, W.O.G.
screwed end.
Dia 50 mm keatas, wrought steel butt weld fitting
ANSI B 16.9, sch 40.
Flange Dia 40 mm kebawah black maleable cas iron RF
class 150 lb, screwed dia 50 mm keatas cast iron
RF class 300 lb, welding joint.
Valves Dia 40 mm kebawah black melleable cast iron RF
class 150 lb dengan ulir, BS 21/ANSI B.2.1. dia
50 mm keatas, cast iron body class 150 lb
dengan sambungan flange.

3) Persyaratan Jenis Peralatan


Jenis peralatan yang boleh dipergunakan disini adalah sebagai berikut :

Fungsi Peralatan Ukuran & Joint Jenis


Katup-katup s/d 40 mm screwed Butter Fly
(stop valve) Gate
Diafragma
50 mm keatas flanged Butterfly
Gate
Katup Pengatur s/d 40 mm screwed Globe
(regulating valve) ButterFly
Diafragma
50 mm keatas flanged Butterfly
Gate

Non return valve s/d 40 mm screwed Swing check


Globe check
50 mm keatas flanged Double Swing Check
Dick Check
Pressure Reducer Die and flow type
Pressure Indicator Dial dia 100 m Dial Type

4) Persyaratan Pemasang
- Umum
 Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin
kebersihan, kerapihan, ketinggian yang benar, serta memperkecil
banyaknya penyilangan.
 Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak kurang
dari 50 mm diantara pipa-pipa atau dengan bangunan dan peralatan.
 Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan teliti sebelum
dipasang, membersihkan semua kotoran, benda-benda tajam atau runcing,
serta penghalan lainnya.
 Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang
diperlukan antara lain katup penutup, pengatur, katup balik dan sebagainya,
sesuai dengan fungsi system dan yang diperlukan digambar.
 Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus
dilengkapi dengan UNION atau FLANGE.
 Sambungan lengkung, reducer dan expander dan sambungan-sambungan
pada pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan pabrik.
 Semua pekerjaan perpipaan harus dipasang secara menurun kearah titik
buangan. Drains dan vents harus disediakan guna mempermudah
pengisian maupun pengurasan.

Bab 4 - 15
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Katup/valve harus mudah dicapai untuk pemeliharaan dan penggantian.


Pegangan katup/valve handled tidak boleh menukik.
 Kecuali jika tidak terdapat dalam spesifikasi, pipe sleeves harus disediakan
dimana pipa-pipa menembus dinding-dinding, lantai, balok, kolom atau
langit-langit. Dimana pipa-pipa melalui dinding tahan api, ruang-ruang
kosong diantara sleeves dan pipa-pipa harus dipakai dengan bahan rock-
wool.
 Selama pemasangan bila terdapat ujung-ujung pipa yang terbuka dalam
perpipaan yang tersisa pada setiap tahap pekerjaan harus ditutup dengan
menggunakan caps/plugs untuk mencegah masuknya benda-benda lain.
 Semua galian, harus juga termasuk penutupan kembali serta pemadatan.
 Pekerjaan galian, harus juga termasuk penutupan kembali serta
pemadatan.

- Penggantung dan Penunjang Pipa


 Perpipaan harus ditunjang atau digantung dengan hanger, brackets atau
sadle dengan tepat dan sempurna agar memungkinkan gerakan-gerakan
pemuaian atau perenggangan pada jarak yang tidak boleh melebihi jarak
yang diberikan dalam tabel berikut ini:

Batas max Ruang (mm)


Jenis pipa Ukuran pipa
Interval mendatar (m) Interval tegak (m)
BSP 1 Sampai 20 1.8 2
25 s/d 40 2.0 3
50 s/d 80 3.0 4
100 s/d 150 4.0 4
200 s/d lebih 5.0 4

 Penunjang atau penggantung tambahan harus disediakan pada pipa berikut


ini:
- Perubahan-perubahan arah
- Titik percabangan
- Beban-beban terpusat karena katup, saringan dan hal-hal lain yang
sejenis.

 Ukuran baja bulat untuk penggantung pipa datar adalah sebagai berikut :
- Diameter Batang

Ukuran pipa Batang


Sampai 20 mm 6 mm
25 mm s/d 50 mm 9 mm
65 mm s/d 150 mm 13 mm
200 mm s/d 300 mm 15 mm
300 mm atau lebih besar dihitung dengan faktor keamanan 5
Gantungan ganda 1 ukuran lebih kecil dari tabel diatas.
Penunjang pipa lebih dari 2 Dihitung dengan faktor keamanan 5
terhadap kekuatan puncak

- Bentuk gantungan
- Split ring type atau clevis type

 Penggapit pipa baja yang digalvanis harus disediakan untuk pipa tegak.
 Semua gantungan dan penumpu harus dicat dengan cat dasar zinchromat
sebelum dipasang.

Bab 4 - 16
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Pemasangan Katup-Katup
Katup-katup harus disediakan sesuai yang diminta dalam gambar, spesifikasi
dan untuk bagian-bagian berikut ini:
 Sambungan masuk dan keluar peralatan
 Sambungan ke saluran pembuangan pada titik-titik rendah.

Di ruang mesin:
Ukuran pipa Ukuran katup
Sampai 75 mm 20 mm
100 mm s/d 200 mm 40 mm
250 mm atau lebih besar 50 mm

Lain-lain ukuran katup 20 mm

- Pemasangan strainer
Strainer harus disediakan sesuai dengan gambar, spesifikasi dan untuk alat-
alat berikut ini :
 Katup-katup pengontrol
 Katup-katup pengurang tekanan

- Pemasangan Katup-katup
Katup-katup pelepasan tekanan harus disediakan ditempat-tempat yang
mungkin timbul kelebihan tekanan.
Katup-katup pengaman harus disediakan di tempat-tempat yang dekat dengan
sumber tekanan.
Katup-katup pengurangan tekanan harus disediakan ditempat-tempat dimana
tekanan pemakai lebih rendah dari tekanan suplai.

- Pemasangan Vent Otomatis


Vent udara otomatis harus disediakan ditempat-tempat tertinggi dan kantong
udara.

- Penyambungan pipa-pipa
Sambungan Ulir
 Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan sambungan ulir
berlaku untuk ukuran sampai dengan 40 mm
 Kedalaman ulir pada pipa harus dibuat sehingga fitting dapat masuk pada
pipa dengan diputar tangan sebanyak 3 ulit
 Semua sambungan ulir harus menggunakan perapat Henep dan zinkwite
dengan campuran minyak
 Semua sambungan pipa harus memakai pipe cutter dengan pisau roda.

Sambungan Las
 Sambungan las ini berlaku antara pipa baja dan fitting las.
 Kawat las atau elektroda yang dipakai harus sesuai dengan jenis pipa yang
dilas
 Sebelum pekerjaan las dimulai Kontraktor harus mengajukan kepada direksi
contoh hasil las untuk mendapatkan persetujuan tertulis
 Tukang las harus mempunyai sertifikat dan hanya boleh bekerja sesudah
mempunyai ijin tertulis dari Konsultan pengawas.
 Setiap bekas sambungan las harus segera dicat dengan cat khusus untuk
ini

Sleeves
 Sleeves untuk pipa-pipa harus dipasang dengan baik
 Rongga antara pipa dan sleeve harus dibuat kedap air dengan rubber
sealed atau Caulk.

Bab 4 - 17
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Pembersihan
Setelah pemasangan dan sebelum uji coba pengoperasian dilaksanakan,
pemipaan di setiap service harus dibersihkan dengan seksama, menggunakan
cara/metoda yang disetujui sampai semua benda-benda asing disingkirkan.

5) Pengecatan
- Umum
Barang-barang yang harus dicat adalah sebagai berikut :
 Pipa service
 Support pipa dan peralatan
 Konstruksi besi
 Flange
 Peralatan yang belum dicat dari pabrik
 Peralatan yang catnya harus diperbaharui

- Pengecatan
Pengecatan harus dilakukan seperti berikut :

Lokasi pengecatan Pengecatan


Pipa dan peralatan Zinchromate primer 2 lapis dan dicat warna
merah
Pipa dan peralatan expose Zinchromate primer 2 lapis dan dicat akhir 2
lapis warna merah
Pipa dalam tanah Bitumin 2 lapis

- Label Katup (valve tag)


 Tags untuk katup harus disediakan ditempat-tempat penting guna operasi
dan pemeliharaan
 Fungsi-fungsi seperti Normally Open atau Normally Closed harus
ditunjukkan di tags katup.
 Tags untuk katup harus terbuat dari plat metal dan diikat dengan rantai atau
kawat.

- Peralatan-peralatan Hidrant
 Hidrant box dalam/luar gedung terdiri dari:
Steel box indoor tebal plat mm
Hose rack
Linen hose dia 40 mm, panjang 30 mm
Hidrant valve dia 40 mm dan 65 mm kombinasi
Hidrant nozzle, short straight type 1 ½” x ½”.
 Hidrant pillar dia 100 mm
 Siamese dia 100 mm

4.3.6. MESIN DIESEL POMPA HIDRAN


a. Umum
Salah satu pompa hidran pemadam kebakaran digerakkan oleh mesin diesel (diesel
driven)

b. Mesin Diesel
1) Tipe
Mesin diesel empat langkah, vertikal sebaris atau bentuk Vee, aspirasi natural atau
Turbo Charge, Stasioner, berpendingin udara (air cooled) dengan radiator.
Power : 3 phase-380/660 volt

2) Putaran mesin
Putaran mesin tidak boleh melebihi 2950 rpm (sesuai standar NFPA 20)

Bab 4 - 18
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

3) Kapasitas
Kapasitas sesuai gambar perencanaan

4) Total Head
Kapasitas sesuai gambar perencanaan

5) Sistem Pendinginan
Sistem pendinginan mesin menggunakan udara (radiator air cooled) dan sistem
pendinginan ini merupakan satu unit kesatuan (tidak terpisahkan). Dilengkapi
dengan saluran udara fleksibel yang dipasang di antara unit pendingin dan dinding
rumah diesel genset. Dimensi ventilasi dan saluran udara fleksibel harus sesuai
dengan kapasitas pendinginan mesin yang diperlukan. Pada beban penuh
temperatur udara pada sekeliling genset tidak boleh naik melebihi 10 derajat
Celsius dari temperatur udara ambien. Setiap genset harus dilengkapi dengan alat
pengaman yang berfungsi untuk mematikan mesin pada saat temperatur mesin
berlebih.

6) Sistem Pelumasan
Menggunakan pompa roda gigi yang dilengkapi dengan duplex filter dan
pendinginan minyak pelumas. Pompa tangan minyak pelumas, yang dapat
berfungsi untuk mengeluarkan minyak pelumas dari dalam panci (oil pan). Setiap
genset harus dilengkapi dengan alat pengaman yang berfungsi untuk mematikan
mesin pada saat tekanan minyak pelumas terlalu rendah.

7) Sistem Bahan Bakar


Kontraktor harus memberikan data tentang pemakaian bahan bakar pada beban
penuh. Sistem bahan bakar terdiri dari :
1. Tangki bahan bakar harian, kapasitas penyimpanan (volume) mampu untuk
memenuhi kebutuhan operasi selama 3 jam pada beban penuh. Tangki bahan
bakar harian harus dilengkapi :
- Tempat outlet bahan berikut katup
- Tempat pemasukan bahan bakar.
- Lubang penguras bahan bakar berikut katupnya
- Perpipaan ventilasi udara
- Peralatan penduga isi bahan bakar pada tangki harian (level indicator)
- Perpipaan bahan bakar berikut konstruksi penyangga tangki harian bahan
bakar
2. Pompa injeksi bahan bakar (fuel injection pump)

8) Sistem Pembuangan Gas (Knalpot)


Expansion piece terbuat dari bahan baja tahan karat lengkap berikut flens dan
harus dipasang diantara manifold gas buang dengan pipa gas buang. Pada sistem
saluran gas buang harus dilengkapi silencer, sedang silencer diletakkan pada
bagian luar rumah genset. Pada saluran/perpipaan bahan bakar yang terletak di
dalam rumah genset harus diisolasi dengan rock wool setebal 2 inch dan dilapisi
dengan plat alumunium dengan ketebalan 2 mm.

9) Sistem Aspirasi
Tipe filter udara yang dipakai tipe kering atau tipe basah (oil bath air filter) dan
lengkap berikut Air Intake Manifold.

10) Sistem Start


12 Volt atau 24 Volt DC starting motor. Battery charger, 220 Volt AC/12 Volt atau 24
Volt DC/5 Amper. Kapasitas masing-masing batere 120 Amper jam (120 AH),
lengkap berikut kabel dan konektornya dan tempat batery tersebut yang terbuat dari
kayu. System start untuk hydrant diesel yang dimaksud adalah auto start yang
terintegrated dengan pompa elektriknya.

Bab 4 - 19
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

11) Pengatur Putaran Mesin (Engine Speed Governor)


Pengatur putaran mesin tipe mekanis/automatic dengan penurunan putaran 3%
diantara tanpa beban (no load) dan beban penuh (full load).

12) Proteksi Putaran Berlebih (Over Speed Protection)


Mesin harus dilengkapi dengan peralatan pengaman putaran berlebih elektronik,
dimana jika terjadi putaran poros engkol mesin terlalu besar maka mesin segera
mati.

13) Panel Kontrol dan Indikator


Panel ini meliputi:
1. Saklar pengontrol
- Key operated engine on/off/start switch
- Lamp test push button
- Alarm reset push button

2. Indikator
- Water jacket temperature meter/silinder head temperatur meter
- Temperatur minyak pelumas
- Manometer minyak pelumas
- Signal lamps indicating shut down by overspeed, high waterjacket
temperature, low lub oil pressure
- Signal lamp battery charger failure
- Volt meter 380/220 Volt yang dilengkapi dengan selector switch 3 phase
- Jam meter
- DC volt meter 10 – 30 Volt
- Frekuensi meter 47-50-53 Hz

c. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan untuk lokasi adalah sebagai berikut :
- Temperatur : 330 C
- Kelembaban : 70 s/d 80% RH
- Ketinggian : 25 s/d 50 m diatas laut

d. Pondasi
Mesin diesel harus disatukan/dikopel di fleksibel kopling. Mesin tersebut harus ditumpu
dengan peredam getaran yang diletakkan diatas batang baja (base frame), dan batang
baja tersebut, diletakkan diatas lantai dasar. Kontraktor harus membuat dan
menyerahkan gambar tentang instalasi genset lebih dulu pada Direksi sebelum
pelaksanaan instalasi diesel hydrant dimulai.

e. Garansi
Genset harus dites di pabrik sebelum dikirim ke lokasi. Sertifikat laporan tentang hal
tersebut diatas harus diserahkan oleh pabrik pada tenaga ahli untuk membuktikan
guaranteed performance. Setelah genset dipasang, Kontraktor harus melakukan tes di
lapangan/di lokasi.

f. Suku Cadang
Sesuai dengan sub bagian 9.6.2.a., suku cadang umumnya, suku cadang genset paling
sedikit (tetapi tidak dibatasi) terdiri dari beberapa bagian yaitu:
- Penyaring udara
- Penyaring minyak pelumas
- Penyaring bahan bakar
- Piston ring set
- Connecting rod bearing
- Main bearing
- Connecting rod boult

Bab 4 - 20
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Top overhaule gasket


- Valve cone
- Valve seating
- Valve guide
- Nozzle
- Injector sleeve
- Valve gasket
- Safety valve for oil pump
- AVR
- Waterpump repair kit (jika mesin diesel berpendingin air)
- Turbo repair kit (jika mesin diesel dilengkapi turbo charger)

4.3.7. POMPA ELEKTRIK


a. Putaran mesin
Putaran mesin tidak boleh melebihi 2950 rpm (mengikuti standar NFPA 20)

b. Kapasitas
Kapasitas sesuai gambar perencanaan

c. Total Head
Kapasitas sesuai gambar perencanaan

d. Jenis Pompa
Horizontal Split casing.

e. Standar
Refer to NFPA 20.

4.3.8. JOCKEY PUMP


a. Putaran mesin
Putaran mesin tidak boleh melebihi 2950 rpm.

b. Kapasitas
Kapasitas sesuai gambar perencanaan

c. Total Head
Kapasitas sesuai gambar perencanaan

d. Jenis Pompa
Vertical Multistages.

e. Standar
Refer to NFPA 20.

4.3.9. TANGKI TEKAN (PRESSURE VESSEL, HYDROPHORE)


Instalasi pompa distribusi ini dilengkapi dengan tangki tekan. Seluruh ukuran, pembuatan,
pengetesan dan pengoperasiannya harus mengikuti standar-standar pressure vessel seperti
ASTM, AWWA, DIN dan mendapatkan sertifikat dari badan yang berwenang seperti
Depnaker.
- Dua buah tangki tekan dengan volume masing-masing 4 meter kubik dengan ukuran
sesuai dengan gambar dan ketebalan pelat 12 mm serta mampu bekerja pada tekanan
kerja 8 – 12 bar untuk air bersih, dan satu buah dengan volume 2 meter kubik bekerja
pada tekanan 10 bar untuk hidran.
- Dilengkapi dengan perpipaan inlet-outlet, valve, check valve, manhole, drain, pressure
gage dan pressure switch yang dapat di set pada tekanan kerja yang diinginkan pada
range 8-12 bar.

Bab 4 - 21
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Permukaan luar dan dalam tangki tekan harus di cat dasar dan top coat (cat luar) epoxy
yang tahan karat. Tebal lapisan cat luar minimal 400 mikron untuk bagian dalam dan 200
mikron untuk bagian luar. Warna cat bagian luar tangki adalah abu-abu.
- Tangki tekan harus dilengkapi dengan plat nama (name plate) yang meliputi volume,
tekanan kerja, nama pemilik, pembuat, tahun pembuatan, dll. yang dianggap perlu.
- Tangki tekan harus dilengkapi dengan pipa (dan check valve) masuk udara tekan untuk
setting tekanan kerja, dimana tekanan pompa hidup adalah 4,5 bar dan tekanan pompa
mati adalah 5,5 bar, pada volume efektif air, yakni selisih antara switching level, sebesar
1 sampai dengan 1,5 meter kubik.
- Instalasi tangki tekan ini harus dilengkapi dengan pompa udara manual (portable,
operasi dengan kaki) untuk setting tekanan udara di dalam tangki tekan dalam daerah
tekanan kerja 0-10 bar.
- Tangki tekan harus dites hidrostatik sebesar 1,5 kali tekanan kerja selama waktu 2 jam
penuh.

4.4 PEKERJAAN SISTEM AC


4.4.1. SPESIFIKASI TEKNIS UMUM
a. Persyaratan Umum
Semua persyaratan umum maupun suplementer yang ada merupakan pula bagian dari
pada persyaratan sistem tata udara ini sejauh yang berlaku bagi pekerjaannya.
Apabila ada beberapa hal dari persyaratan umum yang dituliskan kembali dalam
spesifikasi ini, berarti hanya memintakan khusus dan ini juga tidaklah berarti
menghilangkan hal-hal yang lainnya dari persyaratan umum dan suplementer yang ada.
Hanya apabila ada yang dinyatakan lain tersendiri di dalam spesifikasi ini, maka hal-hal
dari persyaratan umum maupun suplementer tidak berlaku lagi untuk sistem instalasi ini.
b. Persyaratan Pelaksanaan
 Instalasi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini harus dilaksanakan sesuai dengan
undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku saat ini di Indonesia serta
tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dari Jawatan Keselamatan Kerja.
 Semua syarat-syarat penerimaan bahan-bahan, peralatan, cara-cara pemasangan
kualitas pekerjaan dan lain-lain untuk sistem instalasi ini harus sesuai dengan
Standar Internasional maupun Nasional seperti ARI, ASHRAE, SMACNA, ASTM,
NFPA, NEC, ASME dengan senantiasa mengutamakan peraturan / standar /
persyaratan nasional.
 Semua peralatan dan mesin yang dipasang untuk sistem ini, selain dari
persyaratan-persyaratan tersebut diatas, juga tidak boleh menyimpang dari
persyaratan yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya.
c. Pemborong
 Yang dimaksud dengan pemborong dalam spesifikasi ini adalah badan pelaksana
yang telah terpilih dan memperoleh kontrak kerja untuk penyediaan dan
pemasangan instalasi peralatan utama AC ini sampai selesai.
 Pemborong wajib mempelajari dan memahami semua undang-undang dan
peraturan-peraturan, persyaratan umum maupun suplementernya, persyaratan
pabrik pembuat unit-unit AC, buku dokumen pelelangan, gambar-gambar serta
petunjuk tertulis yang telah dikeluarkan.
 Pemborong dapat meminta penjelasan kepada Direksi, Konsultan atau pihak yang
ditunjuk bilamana menurut pendapatnya pada dokumen pelelangan, gambar atau
hal lainnya ada yang kurang jelas.
 Pemborong wajib mempelajari dan memeriksa juga pekerjaan pelaksanaan dari
pihak pemborong lain yang ikut mengerjakan proyek ini apabila pekerjaan pihak-
pihak lain dapat mempengaruhi kelancaran pekerjaannya. Bilamana sampai terjadi
gangguan maka pemborong wajib mengerjakan saran-saran perbaikan untuk
segenap pihak.
d. Koordinasi dengan Pihak Lain
 Pemborong wajib koordinasi dengan pihak-pihak lainnya demi kelancaran

Bab 4 - 22
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

pelaksanaan pekerjaan proyek ini. Terutama koordinasi dengan pihak Pemborong


sipil, elektrikal, plumbing, perlindungan terhadap kebakaran.
 Untuk semua peralatan dan mesin yang disediakan, atau diselesaikan oleh pihak
lain atau yang dibeli dari pihak lain yang termasuk dalam lingkup instalasi ini,
pemborong bertanggung jawab penuh atas segala peralatan dan pekerjaan ini.
e. Izin
 Semua izin-izin dan persyaratan yang diperlukan untuk melaksanakan instalasi ini
harus dilakukan oleh pemborong atas tanggungan dan biaya pemborong.
 Semua pemeriksaan, pengujian dan lain-lain beserta keterangan resminya yang
mungkin diperlukan untuk pelaksanaan instalasi ini.
 Pemborong harus bertanggung jawab atas penggunaan alat-alat yang dipantentkan,
kemungkinan tuntutan ganti rugi dan biaya-biaya yang diperlukan untuk ini.
Pemborong wajib menyerahkan surat pernyataan mengenai hal ini.

4.4.2. PEKERJAAN PERALATAN UTAMA


a. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan pada pasal ini menerangkan spesifikasi dari jenis peralatan utama
yang dapat diterima dalam proyek ini.

b. Umum
 Spesifikasi berikut ini menjelaskan hanya ketentuan-ketentuan dasar saja. Untuk
ketentuan dari kapasitas dan lain-lainnya lihat gambar skedul peralatan/unit mesin.
 Pemborong harus melaksanakan pekerjaan pengadaan, pemasangan dan
pengujian (testing & balancing) dari seluruh peralatn utama yang akan dipasang
dalam proyek ini dengan lengkap dan berfungsi dengan baik sehingga keseluruhan
sistem tata udara dapat memberikan performansi yang diinginkan.
 Keseluruhan peralatan utama harus dari kualitas yang terbaik dan baru (bukan
bekas pakai).
 Dalam memasukan penawaran untuk peralatan utama, pemborong harus
menyatakan dan melampirkan hal-hal berikut dengan jelas :
 Mencantumkan merk dan type unit yang ditawarkan pada BQ. Melampirkan
brosur asli dari unit yang ditawarkan dan pada brosur tersebut diberi tanda
yang menjelaskan mengenai pemilihan unit, kapasitas daya dimensi, berat
kerja, suhu dan volume air/udara dan lain-lain spesifikasi teknik ini.
 Melampirkan pemilihan unit Splite Duct, sehingga dapat dibaca dengan jelas
semua spesifikasi teknis unit-unit tersebut.
 Melampirkan format-format unit yang ditawarkan sesuai skedul dan telah diisi
secara lengkap oleh pemborong.
 Setiap kekurangan dari butir diatas akan mengurangi penilaian evaluasi atas
penawaran pemborong dimana bobot hal-hal tersebut di atas sangat menentukan
dalam evaluasi penawaran.
 Standar yang harus dipenuhi adalah ASHRAE, ARI STANDAR, ASTM & UL.

4.4.3. LINGKUP PEKERJAAN PEMBORONG


a. Pemborong wajib mengadakan, melakukan pemasangan bahan dan peralatan yang
diperlukan didalam instalasi ini dengan baik dan rapi, melakukan penyetelan pada
bagian yang memerlukan serta mengadakan pengujian, baik untuk setiap bagian dari
sistim maupun untuk keseluruhan sistim, guna mendapatkan suatu operasi dari sistim
secara sempurna dan memuaskan.
b. Pemborong wajib melengkapi seluruh bagian dari sistim sehingga secara keseluruhan
merupakan sistim yang lengkap dan dapat berfungsi dengan baik.
c. Pemborong wajib menyatakan kekurangan dan atau ketidakjelasan dan atau kesalahan
yang terdapat didalam dokumen pelelangan pada saat Rapat Penjelasan Pelelangan.
d. Penawaran yang diajukan oleh Pemborong dinilai berlaku untuk seluruh sistim yang
dikehendaki tanpa adanya kekurangan dalam bentuk apapun juga.
`

Bab 4 - 23
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

4.4.4. LINGKUP PEKERJAAN TATA UDARA


a. Sistim tata udara terdiri atas dua bagian besar jenis pekerjaan, yaitu :
- Pekerjaan pendinginan ruangan,
- Pekerjaan ventilasi ruangan.
b. Secara garis besarnya, pekerjaan pendinginan ruangan dapat dibedakan atas beberapa
bagian sebagai berikut :
- Peralatan utama Sistim pendinginan, antara lain berupa Indoor Unit dan Outdoor unit
dan lain-lain seperti ditunjukkan pada gambar Rencana, dan Schedule Peralatan,
- Peralatan Ventilasi ruangan, antara lain berupa Air Intake Fan, Air Exhaust Fan,
dan lain-lain seperti ditunjukkan dalam gambar rencana, dan schedule peralatan,
- Ducting aliran udara lengkap dengan bahan isolasinya, hubungan fleksibel, penguat
dan perlengkapan lainnya
- Pemipaan Air kondensasi dimulai dari setiap mesin pendingin beserta Drain Pan-nya
ke saluran pembuangan termasuk semua peralatan bantunya
- Pekerjaan listrik untuk catu daya semua peralatan termasuk pengkabelannya dan
semua rangkaian kontrol operasinya,
- Pekerjaan sipil sehubungan dengan pekerjaan ini, antara lain mariking, pondasi,
lubang didinding untuk ventilasi dan AC, dan lain-lain,
- Perapian kembali dinding dan bagian lainnya dari pekerjaan Sipil yang terkena
pekerjaan ini,
- Pekerjaan kontrol dari Fire Alarm untuk mematikan unit-unit dan menghidupkan
Pressurization Fan,
- Peralatan bantu,
- Pekerjaan-pekerjaan lainnya sesuai yang disebutkan dalam spesifikasi dan gambar
perencanaan.

4.4.5. LINGKUP PEKERJAAN PEMBORONG LAIN


a. Pekerjaan yang sehubungan dengan lingkup pekerjaan paket ini dan dilaksanakan oleh
pemborong pekerjaan Sipil adalah sebagai berikut :
- Pembuatan shaft pipa.
b. Pekerjaan yang sehubungan dengan lingkup pekerjaan paket ini dan dilaksanakan oleh
pemborong pekerjaan Listrik adalah sebagai berikut :
- Pengadaan catu daya sampai Panel SDB-AC,
- pekerjaan Instalasi Tata Udara (VAC) didalam kereta elevator.

4.4.6. KETENTUAN TEKNIS UNIT AC


a. Setiap bagian dari bahan dan peralatan yang akan dipergunakan harus dapat
dipergunakan secara normal pada temperatur keliling tidak kurang dari 50°C dan
kelembaban relatif tidak kurang dari 90%.
b. Pemborong wajib mengadakan seleksi peralatan pendingin ruang sesuai dengan
kapasitas pada kondisi lapangan sebagai berikut :
- Indoor Drybulb : 75 °F
- Outdoor Drybulb : 95 °F
dimana batasan-batasan lainnya ditunjukkan dalam daftar peralatan dan gambar
rencana.
c. Peralatan pendingin ruang harus merupakan hasil produksi asli dari pabrik tanpa
mengalami perubahan dalam bentuk apapun juga dan harus diuji sesuai dengan
ketentuan dalam ASHRAE.
d. Kompresor alat pendingin ruang adalah jenis Semi Hermetic dengan pendinginan gas
Refrigerant.
e. Motor penggerak fan adalah jenis Permanent Split Capacitor yang dilengkapi dengan
Power Factor Corrector.
f. Operasi motor hendaknya dilengkapi Time Relay untuk mencegah operasi motor
segera setelah penyalaan dan thermal overload relay.

Bab 4 - 24
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

g. Semua bagian dinding dan rangka peralatan ini hendaknya telah diproses anti karat dan
sesuai untuk pemakaian diluar bangunan / ruang. Pada bagian dalam peralatan, harus
disediakan bahan isolasi yang baik untuk mengurangi penambahan beban terhadap
mesin, sedangkan untuk bagian Condenser harus dilengkapi dengan Anti Corrison
Treatment.
h. Bagian penyaring udara adalah jenis yang dapat dicuci dan mempunyai efisiensi
penahan debu tidak kurang dari 65 % dan memberikan tahanan pada aliran udara tidak
lebih dari 2,5mm tekanan air pada kecepatan udara 2 MPS.
i. Alat pengatur operasi mesin / Remote Controller harus dilengkapi dengan pengatur
temperatur kerja dan pengatur kecepatan Fan (3 tingkat). Alat ini harus mampu
menjalankan peralatan tanpa mengakibatkan kompresor bekerja.
j. Coil Condenser harus terbuat dari bahan tembaga yang dilengkapi dengan sirip sirip
yang terbuat dari bahan alumunium yang direkatkan secara mekanis.
k. Coil Condenser harus telah diuji terhadap kebocoran dan telah diproses Dehidrated
serta telah diisi dengan gas Refrigerant secukupnya dipabrik.
l. Fan Condenser adalah jenis propeler dengan arah pembuangan tegak keatas atau
kesamping, dimana fan ini dihubungkan langsung dengan motor penggeraknya.
m. Motor penggerak fan adalah jenis Permanent Split Capacitor dengan perlindungan
secara Inherent dan memakai bantalan peluru yang dilumasi secara tetap.
n. Pemborong wajib menyediakan peredam getaran pada setiap kaki sesuai dengan
petunjuk Manajemen Konstruksi.
o. Evaporator Fan untuk ceiling type atau wall adalah tipe Forward Curve digerakkan
secara langsung oleh suatu motor listrik tanpa mempergunakan Belt.
p. Evaporator Fan untuk duct type adalah tipe Forward Curve digerakkan oleh suatu motor
listrik secara tidak langsung dengan mempergunakan Belt dan dilengkapi dengan
Flexible Pulley guna penyesuaian volume udara yang diperlukan.
q. Fan harus dibuat sedemikian rupa sehingga merupakan suatu beban mekanis yang
balans baik secara statis maupun secara dinamis terhadap motor penggeraknya.
r. Motor fan hendaknya diperlengkapi suatu dudukan yang dapat diatur untuk
menyesuaikan jarak antara fan dan motor.
s. Setiap bagian yang bergerak dari alat ini hendaknya diperlengkapi dengan bantalan
peluru yang dapat dilumasi dari bagian luar dengan mudah.
t. Setiap bagian pada dinding yang merupakan bagian persambungan hendaknya
diberikan bahan pencegah kebocoran udara dan dapat dibuka dengan mudah dan cepat.
u. Dibagian bawah dari alat ini hendaknya mempunyai kemampuan untuk menampung air
kondensasi yang mungkin timbul dan diisolasi sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan kondensasi dibagian luarnya.
v. Pemborong harus melengkapi Mounting Plate untuk Fan Coil Unit (Evaporator) dan
Remote Controller.

4.4.7. KETENTUAN TEKNIS FAN


a. Alat sirkulasi udara yang dipakai harus mampu memindahkan jumlah udara sesuai yang
tertera dalam Gambar Rencana pada tahanan aliran udara yang sesuai.
b. Untuk semua peralatan yang berhubungan dengan udara bebas, harus diberikan
pelindung dari kawat loket dan kawat nyamuk lengkap dengan rangka penguatnya.
c. Khusus untuk alat sirkulasi udara yang ditempatkan diatap bangunan, Pemborong wajib
mengadakan seleksi pemilihan mesin yang tidak akan menimbulkan kebisingan melebihi
batas 54 dB diukur pada jarak 1 meter. Apabila didalam pemilihan mesin, ternyata
tingkat kebisingan melebihi batas tersebut diatas, maka Pemborong wajib memberikan
bahan peredam suara.
d. Khusus untuk alat sirkulasi udara yang ditempatkan diatap / diluar bangunan, konstruksi
fan harus sesuai untuk pemasangan outdoor dengan motor penggerak tipe TEFC.
e. Untuk setiap Fan Fresh Air dan Louvre Fresh Air di ruang AHU dilantai atap harus
dilengkapi dengan Pre Filter dari jenis washable dari filter media (Synthetic Fibre) setebal
2" lengkap dengan box / rangka filter dari galvanized steel U, air tight, efficiency 20-30%

Bab 4 - 25
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

standard ASHRAE 57-76 amosphere dust spot pada keadaan low velocity 300 fpm initial
resistance 0,18 WG.

4.4.8. KETENTUAN TEKNIS PERALATAN BANTU


a. Peralatan bantu dalam terminasi kabel yang berukuran lebih besar dari 16 mm adalah
sepatu kabel yang harus disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
b. Peralatan bantu untuk pemasangan kabel kedalam Panel berupa CABLE GLAND harus
disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
c. Peralatan bantu berupa Fisher dan Dynabolt dan yang sejenis harus mempunyai
kekuatan yang sebanding terhadap bebannya dan harus disetujui oleh Manajemen
Konstruksi.
d. Peralatan bantu dalam penyambungan kawat tembaga telanjang harus mempunyai
permukaan yang dilapisi oleh timah dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
e. Peralatan bantu berupa FISHER dan DYNABOLT dan yang sejenis harus mempunyai
kekuatan yang sebanding terhadap bebannya dan harus disetujui oleh Manajemen
Konstruksi.
f. Peralatan bantu dalam penyambungan kawat tembaga telanjang harus mempunyai
permukaan yang dilapisi oleh timah dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
g. Peralatan bantu dalam penyambungan kabel penerangan dan kotak kontak biasa adalah
tipe LASDOOP produksi 3 M atau legrand.

4.4.9. KETENTUAN TEKNIS PENGECATAN


a. Semua penggantung ducting dan ducting expose harus dicat dasar dengan zinchromate.
b. Semua pipa yang terpasang harus dicat dasar dengan zinchromate primer 2 lapis berikut
penggantungnya/ penyangga, flange.
c. Untuk ducting, pipa, flange dan penggantung/ penyangga setelah di cat dasar harus
dicat dengan cat finish/cat aluminium
d. Cat untuk masing-masing pipa & ducting expose :
CHWS pipe : warna dark blue
CHWR pipe : warna light blue
Make Up Water : warna putih
Ducting Expose : warna dipilih kemudian
Ducting tanpa isolasi luar (baik dibawah ceiling maupun diatas ceiling) warna dipilih
kemudian.
Untuk setiap pipa harus diberi tanda arah aliran dll dengan cara pemberian tanda
dengan warna adalah memakai band strip selebar 2" dan setiap jarak 3 m.
e. Setiap pipa dan valve diberi arah panah sesuai aliran pada jarak setiap 3 m pada dua
sisi yang bisa dilihat.
f. Semua equipment, disebabkan gangguan cuaca atau gangguan setempat atau karat
yang merusak sebagian atau seluruh cat aslinya, harus dicat lagi dengan warna yang
sesuai secara keseluruhan atau warna yang diminta Pemberi Tugas.
g. Cat dasar, dan finishing dari merk ICI atau yang setara yang dapat disetujui.

4.4.10. KETENTUAN TEKNIS PENGUJIAN (TESTING, ADJUSTING & BALANCING)


a. Pemborong wajib melaksanakan pengujian baik untuk setiap bagian dari sistim maupun
sistim secara keseluruhan sesuai dengan permintaan Manajemen Konstruksi.
b. Pemborong wajib memberitahukan rencana pengujian kepada Manajemen Konstruksi
dan Pemberi Tugas. Pengujian yang tidak dihadiri oleh Manajemen Konstruksi dan wakil
Pemberi Tugas akan dinilai tidak sah dan harus diulang.
c. Pengujian hasil pelaksanaan terutama ditujukan untuk memeriksa hal hal sebagai berikut
:
- Pengukuran tahanan isolasi semua kabel listrik,
- Jumlah aliran udara di setiap Diffusser dan Grille, ducting dengan ;
 Electronic Pitot Tube lengkap dengan hood dan ketelitian yang tinggi (Electronic
Volumeter)

Bab 4 - 26
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Electronic Pitot Tube / Elektronik Volumenter untuk ducting dengan ketelitian


tinggi
- Pengukuran besaran listrik pada setiap bagian dari setiap alat.
- Pengukuran temperatur dan kelembaban relative ruangan dengan Sling
Psychrometric dan thermometer.
- Pengukuran kapasitas peralatan.
- Pengukuran kebocoran pipa maksimum 0% dari tekanan pengujian selama 6 jam
pada tekanan pengujian 1,5 kali tekanan kerja.
- Pengukuran putaran (rpm) dengan Tachmometer atau sejenisnya.
- Pengukuran tekanan dengan Barometer/Pressure Gauge.
- Dan lain lainnya yang ditentukan oleh Manajemen Konstruksi.
- Ducting harus di test kebocoran max. 0% dengan asap atau Dry es dengan tekanan
pengujian sesuai tekanan kerja dari fan selama 30 menit.
d. Secara detail TAB harus dilaksanakan terhadap seluruh sistem dan bagian-bagiannya,
sehingga didapat besaran-besaran pengukuran yang sesuai atau mendekati besaran
yang ditentukan dalam rencana.
e. Dalam pelaksanaan TAB, disamping pengukuran yang dilakukan terhadap besaran-
besaran yang ditentukan dalam design, juga diwajibkan melaksanakan pengukuran
terhadap besaran-besaran yang tidak tercantum dalam gambar rencana, tapi besaran ini
sangat diperlukan dalam penentuan kondisi dan kemampuan peralatan dan juga sebagai
data-data yang diperlukan bagi pihak maintenance dan operation.
f. Semua pelaksanaan TAB maupun pengukuran-pengukuran terhadap besaran-besaran
lainnya yang tidak tercantum dalam gambar rencana harus dituangkan dalam suatu
laporan yang bentuknya (formnya) sudah disetujui oleh pengawas.
g. Pelaksanaan TAB dilakukan oleh tenaga engineer yang betul-betul sudah
berpengalaman dalam pelaksanaan TAB ini.
h. Dalam pelaksanaan TAB, harus selalu didampingi oleh tenaga pengawas, dimana hasil-
hasil pengukuran dan pengamatan yang dilakukan juga disaksikan oleh pengawas
tersebut dan ikut menandatangani laporannya.
i. Sebelum melaksanakan TAB, kontraktor harus membuat suatu rencana kerja, mengenai
prosedure pelaksanaan TAB untuk masing-masing bagian pekerjaan, dan prosedure ini
agar dibicarakan dengan pihak Manegement Konstruksi untuk mendapatkan
persetujuannya.

4.5 SISTEM PEMIPAAN DAN PERALATAN PIPA AC


4.5.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini menjelaskan spesifikasi dari pipa, valve, trap, strainer dan peralatan
pipa lain serta instalasinya untuk proyek ini seperti yang ditunjukkan pada gambar-gambar
perencanaan yang harus diikuti oleh pemborong dalam pelaksanaannya.

a. Umum
- Bab ini melengkapi seluruh pekerjaan pemipaan dan adalah tanggung jawab
pemborong untuk mengikuti gambar dan spesifikasi bagian-bagian serta jenis
pemipaan mana yang sesuai untuk proyek ini secara khusus.
- Standar yang digunakan adalah Peraturan Plumbing Indonesia.
- Gambar-gambar menunjukan secara umum ukuran dan lokasi pipa. Karena keadaan
setempat, ketinggian langit-langit dan lain-lain tidak boleh dirubah tanpa persetujuan
dari Direksi Lapangan / Manajemen Konstruksi.
b. Bahan Pipa Dan Peralatan Pipa
- Untuk pipa AC Split Duct dari “Pipa Tembaga” . Sebagai pipa pengembunan (drain
kondensat) dipergunakan pipa PVC jenis AW dengan diisolasi bilamana tidak
dinyatakan lain. Merk pabrik : Westfex, Rucika, Lesso, Supramas, Vinilon yang
disetujui sedangkan untuk pipa Refrigeran yang perlu dibuat atau dirakit di lapangan
dari jenis hard cooper type K kecuali ditentukan lain oleh pabriknya.

Bab 4 - 27
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

- Tidak diperkenankan mengganti bahan kecuali dengan persetujuan tertulis dari


Direksi, Lapangan / Manajemen Konstruksi.
- Semua pipa dan peralatan harus dapat menahan tekanan sampai 8 kg/cm² tanpa
terjadi kebocoran.

4.5.2. PEMASANGAN SISTEM PIPA


a. Pipa drain kondensat harus diperlengkapi dengan alat pembersih, leher angsa serta
peralatan lain yang perlu. Harus diberikan lapisan isolasi sampai sepanjang kira-kira 2
meter atau sampai dengan dimana tidak terjadi pengembunan pada bagian luar pipa.
Isolasi harus dari bahan fiber glass, polyurethene atau stryrofoam type D.1. bagian luar
hendaknya dilapisi dengan vapour barrier jacket seperti sisalation 450 atau yang sejenis
yang direkatkan dengan adhensive tape 2 serta surface finish sampai tidak terjadi
pengembunan pada permukaan luar pipa.
b. Pemborong harus memasang pipa pengembunan (drain) dari mesin Air Conditioning
sampai ke tempat pembuangan yang terdekat dalam saluran yang tersembunyi atau tidak
mengganggu.

4.5.3. ISOLASI GETARAN (VIBRATION ISOLATION)


a. Seluruh sambungan, compressor dan lain-lain unit peralatan AC harus dengan fitting-
fitting yang menyerap getaran (vibration absorbing fittings).
b. Isolasi getaran untuk pipa refrigerant adalah jenis copper below. Pada compressor
reciprocoating, dua buah vibration eliminator digunakan secara seri tegak lurus (right
angles) Satu dengan yang lain.

4.5.4. PENGGANTUNGAN DAN PENYANGGA / PENUMPU PIPA


a. Semua pipa harus ditumpu terhadap kontruksi banguan, kontruksi penggantungan atau
penumpuan harus sedemikian rupa hingga memungkinkan ekspansi thermis pipa tetap
dan mengurangi transmisi vibrasi sesedikit mungkin. Penggantungan dan penyangga
disediakan dan dipasang oleh pemborong.
b. Semua pipa vertikal harus ditumpu dengan klem (pipa klem) yang bertumpu pada
kontruksi bangunan. Paralel dengan dinding dan garis kolom, lurus serta rapih.
c. Tidak boleh ada pipa yang ditumpu atau digantungkan pada pipa lain. Semua pegantung
untuk pipa yang terisolir tidak boleh menembus bahan isolasi. Semua pipa dalam
ruangan masih harus ditumpu dengan penumpu yang mencegah penerusan getaran
(vibration eluminating, hanger, rubber in shear).

4.5.5. ISOLASI PIPA


a. Semua pipa air sejuk dan pipa refrigerant harus diberi lapisan isolasi sesuai dengan
gambar dan spesifikasi. Bagian luar hendaknya dilapisi dengan vapour barrier jacket
yang dirapatkan dengan adhesive tape 3 serta surface finish sampai tidak terjadi
pengembunan pada pipa. Bahan isolasi dari Glass Wool Semirigid class D.1. koefisien
perpindahan panas konduksi 0.32 BTU-IN/SQFT.DEG.F. hr pada suhu udara rata-rata
-in dan tidak berasap yang mengandung racun bila dibakar.
Isolasi harus dipasang sebaik mungkin sampai tidak terjadi pengembunan pada
permukaan luarnya.
b. Metoda isolasi pipa dan spesifikasi bahan isolasi adalah seperti yang dinyatakan dalam
bab isolasi.

4.6 PEKERJAAN ISOLASI


4.6.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup dari bab ini menjelaskan kebutuhan akan isolasi secara umum. Dikarenakan tidak
semua jenis isolasi digunakan dalam tiap proyek, maka adalah tanggung jawab pemborong

Bab 4 - 28
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

untuk menentukan dari gambar spesifikasi, job description, schedule peralatan serta
dokumen tender, bagian-bagian mana dalam spesifikasi ini yang berlaku untuk proyek ini.

4.6.2. UMUM
a. Pemborong harus melaksanakan pengadaan bahan isolasi dan pemasangan sesuai
dengan yang tertera dalam gambar dan spesifikasi. Semua bahan isolasi untuk duct pipa
dan peralatan lainnya harus disediakan dan dipasang oleh pemborong dengan cara
pelaksanaan terbaik.
b. Pemborong harus menyerahkan semua contoh bahan isolasi serta brosurnya yang akan
digunakan dalam proyek ini kepada Direksi Lapangan/Konsultan atau Pejabat yang
ditunjuk dalam waktu 14 hari. Direksi Lapangan/Konsultan berhak untuk
menerima/menolak bahan contoh tersebut, menurut pendapatnya, untuk digunakan
dalam proyek ini. Serta berhak menolak pemasangan isolasi yang telah terpasang bila
menurut pendapatnya hal tersebut tidak memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan,
baik bahan dan metode instalasinya.

4.6.3. MATERIAL ISOLASI


a. XLPE Duct Insulation
- Kepadatan (density) tidak boleh kurang dari 33 kg/m3 dan faktor konduktifitas K tidak
boleh melebihi 0.032 W /mK pada suhu 750F sesuai standard ASTM-C 518.
- XLPE Insulation ini dilengkapi Self Adhesive & Aluminum Foil
- XLPE Insulation ini harus memenuhi standard fire class O mengacu kepada
international standard British Standard 476 Part 6&&, level class O merupkan
standard tertinggi pada material class Isolasi dengan Certificates terlampir
- Merk yang digunakan untuk isolasi ducting adalah; Parawool , ICI , breadford.
b. Pipe Insulation
Kepadatan tidak boleh kurang dari 2 lb/cuft (32 kg/ m3) suhu 650 dan F K-value = 0.23
BTU/in-hr-F. Produk yang dapat diterima adalah armaflex, thermalex, Bradford, Insulflex.
c. Alluminium Foil (Vapour Barrier)
Minimal terdiri atas empat lapis bahan yang dilaminasi dibawah tekanan dan suhu
sehingga membentuk suatu lembar fleksible yang berlapis banyak (multiple flexible
sheet). Mempunyai karakteristik sebagai berikut :
- Permeansi = 0.02 perms (1.13 ng/NS maksimum)
- Tensile Strength = longitudinal : 10-13-KN/m transverse : 6-8 KN/m
- Fire Resistant, smoke develoved = 0-1 : heat evolded = 0
- Non Corrosion
- Beach puncture : 0.75-1.0 J (TAPPI T 803 m)
- Flame spread & ignicability : 0

Merk produk yang dapat diterima adalah sebagai berikut : Thermofoil 730/731, silition.
Untuk duct foil tape, yang dapat diterima adalah produk ; Saba Idenden.

4.6.4. PEMASANGAN ISOLASI PIPA DRAIN SPLIT DUCT


Pipa drain diisolasi, kontinyu dengan ketebalan bahan 1.5”, cara dan metoda yang sama
seperti yang dipersyaratkan pada item isolasi adalah dari drain fan unit ke pembuangan di
lantai atau ke jalur pipa pembuangan terdekat.

4.7 PEKERJAAN SYSTEM DUCTING


4.7.1 LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi seluruh pengadaan bahan, pemasangan dan penyetelan ducting yang
dapat digunakan dalam proyek ini sesuai dengan yang tertera dalam gambar perencanaan
dan spesifikasi.

Bab 4 - 29
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

4.7.2 STANDARD
Sebagai pegangan pelaksanaan pekerjaan ini digunakan standar dari THE GUIDE dari
ASHRAE, SMACNA dan NFPA No. 90A.

4.7.3 UMUM
a. Gambar dan spesifikasi hanya menunjukkan panjang tiap ukuran cerobong, peralatan
dalam ducting dan susunan jalur sistem cerobong udara. Bila ada penyimpangan dan
gambar kontrak yang dirasa perlu untuk diperbaiki oleh Pemborong, maka detail
penyimpangan serta alasannya diserahkan secara tertulis untuk disutujui oleh Konsultan
MK dan Konsultan Perencana.
b. Penyimpangan yang telah disetujui harus dilaksanakan oleh Pemborong tanpa
tambahan biaya kecuali bila hal tersebut menyebabkan perubahan desain atau
kebutuhan.
c. Pemborong diwajibkan membuat gambar kerja (shop drawing) yang disetujui Konsultan
sebelum pelaksanaan pekerjaan instalasi cerobong udara dimulai.

4.7.4 MATERIAL
a. Ketentuan Teknis Cerobong Saluran Udara
01. Semua cerobong aliran udara catu dan aliran balik harus terbuat dari baja lapis
seng sesuai dengan SII, dimana ketebalan bahan yang dipergunakan harus
mengikuti ketentuan sebagai berikut :

Ukuran Cerobong Ketebalan Bahan Sambung Melintang


Terbesar

s/d 12" 0,50 mm Drive Slip setiap 8 Feet


12" s/d 18" 0,60 mm Drive Slip setiap 3 Feet
18" s/d 30" 0,60 mm Siku 40x4 setiap 4 Feet
30" s/d 42" 0,80 mm Siku 40x4 setiap 4 Feet
42" s/d 54" 0,80 mm Siku 50x4 setiap 4 Feet
54" s/d 60" 1,00 mm Siku 50x6 setiap 4 Feet
60" s/d 84" 1,00 mm Siku 50x6 setiap 4 Feet
84" s/d 96" 1,20 mm Siku 50x8 setiap 4 Feet
Lebih dari 96" 1,20 mm Siku 50x8 setiap 4 Feet

02. Bahan baja lapis seng yang dipergunakan adalah tipe bahan yang lapisannya
tidak dapat terkelupas dan pecah pada waktu diadakan pembentukan cerobong.
03. Cerobong aliran udara harus dibentuk sedemikian rupa sehingga mampu
menahan kecepatan aliran udara sampai dengan 2.500 feet per menit dengan
tekanan statis minimum 125 mm tekanan air.
04. Penyambungan cerobong harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak
memungkinkan terjadinya kebocoran dengan memberikan bahan penyekat seal
dan ukuran persambungan harus sama dikedua sisinya.
05. Perubahan arah pada cerobong aliran udara harus dibuat dengan tipe Long
Radius Elbow dan dilengkapi sudu sudu pengarah aliran.
06. Setiap percabangan cerobong harus dilengkapi dengan Adjustable Splitter Volume
Damper yang sesuai dengan kebutuhannya. Panjang Damper ini harus 1,5 kali
lebar cerobong tapi tidak lebih dari 24". Damper ini harus dilengkapi dengan
tangkai pengaturnya yang dapat dikunci. Lubang tangkai pengaturan harus dibuat
rapat kecerobong tapi tidak menghalangi pergerakannya.
07. Setiap Supply Air Diffusser, Fresh Air Grille, Louver, Linier Bar Grille, Exhaust Air
Grille, Return Air Grille harus dilengkapi dengan Multi Blade Volume Damper yang
dapat diatur dan dikunci, jenis Opposed Blade dengan bahan minimum BJLS 80
sedangkan untuk SAR untuk FCU Guest Room harus dilengkapi dengan blade
pengarah dengan bahan BJLS 100.

Bab 4 - 30
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

08. Semua Supply Air Diffusser, Grille, Louver, Linier Bar Grille, Linier Slot diffuser,
SAR harus terbuat dari bahan Anodized Alumunium Profil dan dilengkapi dengan
bahan peredam getaran sehingga tidak menimbulkan kebisingan lebih dari NC 35
dan dicat finish powder coating.
09. Persambungan cerobong udara dengan mesin harus mempergunakan
persambungan fleksibel dengan kain kanvas rangkap dua yang diisolasi
sepanjang 100 mm atau lebih.
10. Cerobong aliran udara yang berukuran lebih dari 24" pada sisi terbesarnya, harus
diberikan Cross kecuali pada cerobong yang diberikan isolasi dalam.
11. Cerobong aliran udara yang ukurannya lebih besar dari 30" pada sisi terbesarnya,
harus diberikan penguat pada sisi tersebut dengan baja siku 30x30x3mm pada
setiap jarak 4 Feet, kecuali untuk cerobong yang lebih besar dari 42" pada sisi
terbesarnya, ukuran penguat adalah 40x40x4mm setiap jarak 3 Feet dan untuk
cerobong yang lebih besar dari 84" pada sisi terbesarnya ukuran penguat adalah
50x50x5mm pada setiap jarak 3 Feet.
12. Penguat cerobong juga harus disediakan pada cerobong aliran udara yang
berukuran lebih kecil dari ketentuan diatas, tetapi setelah dipasang ternyata
cerobong mengalami perubahan bentuk.
13. Pemborong wajib membuat penggantung dan penyanggah cerobong dari bahan
baja siku didekat setiap belokan dan percabangan serta pada setiap jarak berikut :

Ukuran Besi Siku Diameter Jarak


Cerobong Penggantung
Terbesar

s/d 18" 30x30x3 6 mm 200 cm


19" s/d 30" 40x40x4 6 mm 150 cm
31" s/d 42" 40x40x4 9 mm 150 cm
43" s/d 60" 50x50x6 9 mm 150 cm
61" s/d 84" 50x50x6 12 mm 150 cm
85" s/d 96" 50x50x8 12 mm 150 cm
lebih dari 96" 50x50x8 12 mm 150 cm

14. Khusus untuk cerobong yang berada didekat Air Handling Unit sampai jarak batas
6 meter, pada plenum supply / return pada bagian dalamnya juga harus dilapis
dengan bahan isolasi sesuai dengan ketentuan isolasi dalam demikian juga untuk
ducting supply FCU Guest Room.
15. Semua sambungan dan ujung cerobong harus dibuat tanpa adanya kebocoran
dengan mempergunakan Mastic / Plastic Compound.

16. Seluruh ducting harus dilengkapi pintu kontrol / acces door pada setiap jarak 3m,
dengan ukuran acces 18"x28" dan pada setiap ada belokan dan harus air tight
dengan sealant tahan api.
17. Fire Dampers dipasang sesuai dengan gambar dan dari type horizontal / vertical
multi blade yang dilengkapi dengan fusible link bar dan fusiblelink frame dan blade
dari bahan 1,6 mm BJLS dan Fuse yang digunakan mempunyai titik cair 70°C,
dan konstruksi blade sedemikian rupa sehingga dalam keadaan horizontal titik
berat blade akan secara otomatis jatuh dan menutup bila fuse link putus. Frame
dan blade lengkap dengan angle stop, spring catch dan lain-lain.
18. Untuk ducting yang berhubungan dengan control fire, smoke (smoke duct, ducting
yang melewati Firewall, ducting Exhaust dan Fresh Air Parkir, Ducting kitchen,
exhaust & Fresh Air) harus tahan terhadap api selama 2 jam dimana bahan dari
duct yang diginkaan harus BJLS dengan tebal minimum 1,375 mm dengan
sambungan las menerus untuk sambungan memanjang dan sambungan
melintang dengan memakai asbestors sebagai gasket dan dibungkus dengan
promatec’s board (Duct insulation fire rated) 9,5 mm thick lengkap dengan steel

Bab 4 - 31
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

channel & hangers steel angles, sedangkan sambungan duct ke fan tidak
dibenarkan memakai canvas joint tetapi memakai flexible joint yang tahan api.
19. Allumunium Flexible round duct dari jenis 2 lapis allumunium laminate
dincapsulating dengan steel spring helix dan wire spacing 25 mm dan fire
resistance. Tekanan kerja max 10 inch H2O, sedangkan pemasangan keperalatan
memakai klem khusus (quick klem) dari bahan plastik.
20. Seluruh ducting harus ditest kebocoran dengan asap atau dry es dengan
tekanaan pengujian sesuai tekanan kerja fan selama 30 menit.
21. Untuk Kitchen Exhaust Duct harus :
a. Material duct harus BJLS 140,
b. Semua sambungan memanjang harus sambungan las luar yang terus
menerus dan rapat air (liquid tight),
c. Sambungan melintang memakai flens dari besi siku 50x50x5 mm dengan
sealant (tahan api) dengan tebal minimum 2 mm. Sambungan Duct pada
flens harus juga dilas,
d. Pintu kontrol (access door) harus dilengkapi pada jaluar ducting setiap jarak
max 2,5 mm dan pada setiap adanya belokan, ukuran access door 18"x28",
material dari bahan yang sama dengan duct dan konstruksi memakai rangka
penguat sedemikian rupa sehingga Grease Tight dengan memakai sealant
(tahan api) dan mudah dibuka / dipasang.
e. Duct horizontal dipasang dengan kemiringan tidak kurang dari 0,5 %,
f. Suatu Greae Trap dipasang pada titik terendah dari ducting vertikal dan
horizontal serta dilengkapi dengan plug drain untuk pembuangan dan access
door untuk pembersihan.
b. Ketentuan Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Ducting
01. Pemborong wajib menyesuaikan ukuran cerobong udara bila ternyata keadaan
lapangan tidak memungkinkan pelaksanaan sesuai dengan gambar rencana.
Penyesuaian tersebut harus disetujui oleh Manajemen Konstruksi sebelum
dilaksanakan.
02. Pemborong harus mempergunakan lem sebagai perekat bahan isolasi Glasswool
dengan cerobong aliran udara dan isolasi dengan Alumunium Foil. Pemakaian lem
sebagai perekat Glasswool dengan Alumunium Foil harus dibatasi supaya tidak
merusak bahan.
03. Untuk cerobong aliran udara dengan sisi terbesarnya lebih besar dari 30 cm,
Pemborong wajib melilit isolasi dengan tali sebelum pemasangan Alumunium Foil.
04. Penggantung / penyangga cerobong aliran udara dipasangkan ke plat lantai
diatasnya dengan mempergunakan Insert, Dynabolt atau yang sejenis, dimana
ukuran peralatan bantu ini harus sesuai dengan bebannya dan harus disetujui
oleh Manajemen Konstruksi.
05. Pemborong wajib menyediakan beberapa lubang lengkap dengan penutupnya
pada cerobong aliran udara untuk keperluan pemeliharaan dan pengukuran, yaitu
pada tempat didekat saringan udara, Volume Damper dan tempat lainnya sesuai
dengan petunjuk Manajemen Konstruksi.
06. Pemborong wajib memberikan lapisan antikarat pada bahan yang terbuat dari baja
lapis seng dengan mempergunakan Zinchromate buatan ICI sebanyak 2 lapis.
07. Khusus untuk penyambungan pipa dengan Flange, Pemborong hendaknya
menyediakan gasket, mur, baut lengkap dengan Lockwashernya.
08. Khusus untuk pemasangan isolasi dalam, Pemborong harus mempergunakan Self
Adhesive Pin.
09. Pemborong wajib menyediakan rangka kayu untuk alat sirkulasi udara lengkap
dengan Grille yang terbuat dari bahan Anodized Alumunium Profile bersirip ganda
sesuai dengan petunjuk dari Manajemen Konstruksi.
10. Ketentuan lain mengenai pemasangan apabila ada akan diberikan oleh
Manajemen Konstruksi selama periode pelaksanaan.

c. Ketentuan Teknis Bahan Isolasi Ducting


01. Semua cerobong aliran catu udara dingin harus dilapis dengan isolasi dari bahan
Glasswool tebal 1" dengan kepadatan tidak kurang dari 24 kg/m³, dimana

Bab 4 - 32
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

koefisien konduksi panas tidak kurang dari 0,23 BTU.CM/ft².H.F pada temperatur
23,9°C. Bahan isolasi ini harus bersifat Fire Retardant.
02. Khusus untuk bahan isolasi cerobong yang terletak dilantai teratas (dibawah lantai
atap), ketebalan minimum adalah 2" dengan kepadatan bahan sama seperti pada
butir 01 diatas, demikian juga untuk lantai atap dipakai isolasi atap dengan
ketebalan 2" dengan kepadatan sama seperti pada butir 01 diatas.
03. Pemborong wajib memberikan isolasi dalam bagi semua cerobong aliran udara
yang dekat dengan mesin sepanjang 6 m atau lebih dan atau plenum supply dan
return, box diffuser / grille / linier bar grill supply dan ducting expose (kecuali untuk
AHU 3-2 s/d 3-8). Pemborong wajib menyesuaikan ukuran cerobong yang
mempergunakan isolasi dalam ini (ukuran ducting yang tertera dalam gambar
adalah ukuran bersih belum termasuk isolasi luar dan dalam).
04. Alumunium Foil sebagai Vapour Barrier wajib dipakai sebagai lapisan yang
ditempatkan dibagian luar bahan isolasi. Bahan ini harus mempunyai dua lapisan
muka dengan penguatan serat Fibre. Koefisien pantulan radiasi tidak kurang dari
95% dan harus bersifat tahan api (Fire Retardant) serta beratnya tidak kurang dari
200 Gram/m². Tensile strength ASTM 828  11,2 kN/m.
05. Pemborong wajib mempergunakan alat penyambung Alumunium Foil yang
bersifat sama dengan alumunium foil itu sendiri dan mempunyai sifat perekat yang
keras (bahan acrilic) serta bersifat tahan api dan tahan karat. Bahan ini harus
selebar 4" atau lebih tebal minimum 0,13 mm.
06. Khusus untuk isolasi dalam, Pemborong wajib mempergunakan bahan isolasi
dengan ketebalan tidak kurang dari 2" dan ke padatan bahan 48 kg/m³. Setelah
lapisan isolasi, harus ditempatkan lapisan Black Neoprene Compound dan
Perforated Alumunium Foil yang mempunyai berat 300 Gram/m² yang bersifat Fire
Retardant diluarnya, atau dilapisi dengan glass cloth fire retardant. Pemegang
lapisan ini harus cukup kuat dan disetujui Direksi Pengawas.
07. Isolasi Flexible Round Duct sama dengan isolasi ducting.
08. Seluruh atap yang ruang dibawahnya di AC, harus diisolasi atap dengan urutan
sebagai berikut, Aluminium Foil double sided, Glasswool 2", aluminium foil double
sided dan kawat ayam.

4.7.5 PEMIPAAN
a. Ketentuan Teknis Pemipaan
01. Pemborong wajib mempergunakan pipa penyalur air dingin yang terbuat dari
bahan Black Steel Pipe kelas Medium BS 1387 yang diproduksi sesuai dengan
ketentuan dalam Standard Industri Indonesia Nomor 016181 dan tidak
bertentangan dengan ketentuan dalam BRITISH STANDARD 1387/1967 dimana
peralatan bantunya yang dipakai dari kelas 150 LBS.

02. Pipa condenser terbuat dari pipa baja galvanized kelas menengah yang diproduksi
sesuai dengan ketentuan dalam Standard Industri Indonesia No. 016181 dan
British Standard No. 1386/1967 dan peralatan bantunya yang dipakai dari kelas
150 LBS.
03. Pipa pembuangan air kondensasi adalah pipa PVC class AW beserta semua
peralatan bantu pemipaan yang mampu menahan tekanan kerja sebesar 10
kg/cm², dan untuk pipa yang menembus lantai, dinding harus diberi sleeve pipa
dengan diameter 1,5 kali diameter pipa lalu disealant sebagai anti bocor dan pipa
kondensasi dipasang kurang lebih 5cm dari dinding atau lantai serta
kemiringannya 1mm.
04. Pipa Refrigerant yang dipergunakan untuk split unit adalah pipa tembaga jenis K/L
yang telah diproses Dehydrated dan Sealed, khusus untuk AC Split dengan
kapasitas sampai dengan 46.000 BTUH dipakai pipa Copper Tube yang pair coil
lengkap dengan isolasi. Diameter pipa harus ditentukan sesuai standard pabrik
pembuat mesin AC dengan memperhatikan perbedaan ketinggian dan jarak
antara evaporator dan condenser sehingga kapasitas pendingin yang dihasilkan
tidak kurang dari kapasitas yang diminta (schedule).

Bab 4 - 33
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

b. Ketentuan Teknis Peralatan Bantu Pemipaan


01. Katup operasi yang berdiameter lebih besar dari 2" harus terbuat dari bahan cast
iron body dengan sambungan jenis flange, sesuai standard JIS atau standard
lainnya bergantung pada merk katub operasi tersebut. Merk katub operasi
hendaknya dipilih dari satu merk atau standard flange yang sama, sedangkan
untuk katup dengan diameter sampai 2" terbuat dari bahan bronz atau brass
dengan sambungan ulir tekanan kerja minimum 10 kg/cm².
02. Seluruh flange, peralatan bantu sambungan/fitting seperti long elbow, socket,
reducer, fleksible pipe dan peralatan bantu yang sejenis khusus untuk pipa baja
harus dari class 150 LBS/10 kg/ cm².
03. Alat ukur tekanan aliran air yang dipergunakan harus mempunyai batas
pengukuran sampai dengan 1,5 kali tekanan kerja normal dan berdiameter tidak
kurang dari 10 cm. Dalam pemasangannya, alat ini harus diperlengkapi dengan
Check Valve.
04. Check Valve yang dipergunakan harus merupakan bersifat Non Water Hammer
dan selama operasinya tidak menimbulkan bunyi yang berarti. Diameter alat ini
ditunjukkan dalam gambar rencana sesuai dengan ukuran pipanya.
05. Setiap hubungan pipa dengan pompa harus dilengkapi dengan pipa fleksibel
yang terbuat dari bahan karet dimana penyambungannya dengan sistim flange.
Diameter alat ini harus sesuai dengan ukuran pipa yang terhubung.
06. Semua alat bantu pemipaan berupa Fitting, hendaknya dibuat dari bahan yang
sama dengan bahan pipanya. Khusus untuk alat bantu pemipaan pada belokan
jalur pemipaan, Pemborong hendaknya mempergunakan tipe Long Radius Elbouw
dan fitting dari bahan galvanized carbon steel sedangkan untuk flange gasket
dipakai asbestors, kecuali ditentukan lain oleh Manajemen Konstruksi.
07. Pemborong hendaknya melengkapi instalasi dengan Valve, Strainer, Flexible
Joint, Thermometer, Pressure Gauge dan semua perlengkapan lainnya yang
normal disediakan pada instalasi ini, meskipun tidak dijelaskan didalam gambar
rencana.
08. Pemborong hendaknya menyediakan Drain Cock pada sistim pemipaan guna
pengosongan sistim pemipaan yang mungkin diperlukan dalam pemeliharaan.
Ukurannya adalah 0,5" untuk pipa sampai dengan 1,5" dan berukuran 0,75" bagi
pipa yang lebih besar dari 1,5".
09. Pemborong harus menyediakan dan memasang air vent otomatis pada setiap titik
tertinggi dari sistim pemipaan dan pada setiap titik-titik tertinggi dari setiap inlet
dan outlet pipa ke AHU/FCU/Mesin atau disetiap circuit yang perlu adanya
tambahan air vent dengan alasan mempercepat pembuangan udara ataupun
adanya udara yang terperangkap walaupun tidak ditunjukkan pada gambar
rencana.
10. Untuk Gate Valve dengan diameter sampai 2" dapat dipakai type ball valve
sedangkan diameter diatas 2" dipakai type Butterfly Valve dengan Cast Iron body
dan disc, EPDM seat, lever atau Handwheel.
11. Balancing Valve harus dari type plug cock yang dilengkapi dengan penunjuk
pembukaan katup dan lubang untuk mengukur perbedaan tekanan, untuk
menentukan jumlah aliran yang mengalir, dimana diukur dengan alat ukur digital
(measuring device) yang sudah diprogram untuk type-type balancing valve
tersebut.
12. Control Valve (Two Way Valve) yang dipilih harus mendapat persetujuan
perencana (CV yang dipilih) dengan perkiraan bahwa total pressure drop akibat
balancing valve dan two way valve minimum 8 psi pada design flow.
13. Alat ukur temperatur harus mempunyai dua bacaan dalam °F dan °C dan
mempunyai batas-batas temperatur yang diperlukan dan dipasang dimana sumur
dari thermometer harus betul-betul tercelup kedalam media yang diukur.
14. Tangki Pemuaian (Expansion Tank) dari bahan Fibre Glass Reinforced Plastic
(FRP) dari campuran duroplast plastic dengan penguatan Fibre Glass yang
memiliki tensilestrength 18.000 psi, dan tahan terhadap udara, sinar matahari dan
tidak berbau dan pada sisi luar tangki diisolasi dengan Armaflex / Thermaflex tebal
1½" dan dilengkapi dengan pelindung jacketing tanki dari bahan allumunium tebal

Bab 4 - 34
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

0,6 mm, dan juga dilengkapi dengan alat-alat bantu seperti venting udara, over
flow, drain, glass pengukur level air dalam tanki dan lobang periksa.

c. Ketentuan Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Pemipaan


01. Setiap bahan dan peralatan harus dipasang sesuai dengan gambar rencana atau
gambar revisi serta harus mendapat persetujuan oleh Manajemen Konstruksi
sebelum dilakukan pemasangan.
02. Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin kebersihan,
kerapihan, ketinggian yang benar, serta memperkecil banyaknya penyilangan.
03. Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak kurang dari 50
mm diantara pipa-pipa atau dengan bangunan dan peralatan.
04. Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan teliti sebelum
dipasang, membersihkan semua kotoran, benda-benda tajam / runcing serta
penghalang lainnya.
05. Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang diperlukan
antara lain katup penutup, pengatur, katup balik dan sebagainya, sesuai dengan
fungsi sistim dan yang diperlihatkan digambar
06. Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus dilengkapi
dengan flanges .
07. Sambungan lengkung, reducer dan expander dan sambungan-sambungan
cabang pada pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan pabrik.
08. Setiap belokan pipa harus diberi penguat agar sambungan tidak mudah lepas
apabila didalam tanah harus diberi blok-blok beton.
09. Katup (valve) dan saringan (strainer) harus mudah dicapai untuk pemeliharaan
dan penggantian. Pegangan katup (valve handled) tidak boleh menukik.
10. Sambungan-sambungan fleksibel harus dipasang sedemikian rupa dan angkur
pipa secukupnya harus disediakan guna mencegah tegangan pada pipa atau alat-
alat yang dihubungkan oleh gaya yang bekerja kearah memanjang.
11. Pada pemasangan alat-alat pemuaian, angkur-angkur pipa dan pengarah-
pengarah pipa harus secukupnya disediakan agar pemuaian serta peregangan
terjadi pada alat-alat tersebut, sesuai dengan permintaan dan persyaratan pabrik
12. Selama pemasangan, bila terdapat ujung-ujung pipa yang terbuka dalam
pekerjaan perpipaan yang tersisa pada setiap tahap pekerjaan, harus ditutup
dengan menggunakan caps atau plugs untuk mencegah masuknya benda-benda
lain.
13. Semua galian, harus juga termasuk penutupan kembali serta pemadatan.
14. Pekerjaan perpipaan tidak boleh digunakan untuk pentanahan listrik.
15. Pemasangan peralatan kontrol pada pipa harus pada pipa horisontal dan
diperhitungkan agar pada tempat aliran air yang laminer
16. Pemasang semua pipa baik didalam ruangan ataupun diluar ruangan / bangunan
harus dilengkapi dengan suatu dudukan yang terbuat dari baja kanal UNP 100.
Penempatan peralatan harus sedemikian rupa sehingga memudahkan
pemeliharaan dan perbaikan bila diperlukan.
17. Pemotongan pipa baik pada pipa baja maupun pipa PVC, harus dilakukan dengan
memakai alat pemotong khusus pipa, dimana pada bagian bekas dilakukan
pemotongan harus dibersihkan dengan menggunakan reamer.
18. Pipa baja yang berdiameter lebih kecil dari 2½" harus disambungkan dengan tipe
persambungan ulir. Ulir pada pipa sedemikian rupa sehingga alat bantu
persambungan dapat dipasangkan dengan memutarnya sebanyak 3 kali tanpa
mempergunakan alat. Pada persambungan ini, rongga antara ulir pada pipa dan
ulir pada alat bantu persambungan harus diisi dengan suatu bahan pencegah
kebocoran dengan Seal Tape dari bahan Teflon.
19. Persambungan pada pipa PVC adalah tipe persambungan lem. Bagian
persambungan harus dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan pembersih sesuai
dengan yang dianjurkan pabrik pembuat pipa sebelum diadakan penyambungan.
Bagian persambungan harus sesuai dengan yang telah disediakan oleh pabrik
pembautnya.

Bab 4 - 35
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

20. Pipa baja yang berdiameter 2½" atau lebih besar harus disambung dengan cara
las dan flange. Bidang persambungan hendaknya dibuat sedemikian rupa
sehingga merupakan bidang yang tegak lurus terhadap batang pipa. Khusus pada
persambungan las antara pipa baja galvanis dan alat bantunya, seluruh bagian las
harus diberikan lapisan anti karat dengan Zinchromate sebanyak 2 lapis.
21. Sebelum diadakan penyambungan tipe las, Pemborong wajib menyampaikan
contoh hasil pengelasan untuk mendapatkan persetujuan dari Manajemen
Konstruksi.
22. Dalam hal pemasangan pipa, penempatan yang diperkenan adalah yang sejajar
dengan dinding bangunan baik untuk pemasangan yang mendatar maupun yang
tegak terhadap bidang mendatar. Sudut belokan yang diperkenankan adalah
tegak lurus atau 45 derajat.
23. Dalam hal pemasangan pipa yang tidak dapat dilaksanakan sekaligus, maka
bagian ujung pipa harus ditutup sementara sesuai dengan petunjuk Manajemen
Konstruksi.
24. Pada pemasangan pipa yang sangat panjang dan atau didekat katup operasi,
maka Pemborong wajib mepergunakan alat bantu berupa sambungan union bagi
pipa berukuran diameter 2,5" atau kurang dan sambungan flange bagi pipa
berukuran diameter 3" atau lebih. Sambungan seperti disebutkan dalam butir ini
harus dipergunakan dalam pemasangan pipa yang lebih panjang dari 12 meter,
sedangkan untuk pipa tegak disetiap lantai dipakai sambungan flange.
25. Pada setiap bagian dari pipa yang akan dipasangkan menembus lantai, kolom,
balok atau bagian kontruksi lainnya, Pemborong wajib meminta persetujuan
tertulis dari Manajemen Konstruksi terlebih dahulu. Pada Bagian tersebut harus
diberikan pelindung berupa Sleeve yang terbuat dari bahan pipa baja galvanis dan
dipasang sebelum pengecoran bagian yang bersangkutan.
26. Pada pemasangan pipa yang melintas jalan, pada bagian atas jalur pipa harus
ditempatkan pelindung dari pipa beton yang kuat menahan beban mekanis yang
mungkin timbul.
27. Penyangga dan pengantung pipa harus dibuat sedemikian rupa sehingga
memudahkan pengaturan ketinggian. Pemborong wajib membentuk bagian
penggantungan atau penyangga tersebut sedemikian rupa sehingga bagian
tersebut cukup kuat untuk menjalan getaran pompa pada waktu akan berhenti.
28. Jarak pengantung dan atau penyangga pipa harus ditemapat pada jarak yang
tidak lebih dari 2 meter untuk yang berukuran sampai dengan diameter 2,5 dan
untuk pipa yang berdiameter 3" atau lebih jarak penggantung / penyangga adalah
3 meter.
29. Pemborong wajib mempergunakan alat peredam getaran pada setiap pipa,
pengantung dan atau penyangga, dimana alat peredam getaran tersebut harus
disetujui oleh Manajemen Konstruksi terlebih dahulu.
30. Dalam hal pemasangan bahan dan peralatan listrik khusus dalam pekerjaan ini,
Pemborong wajib mengikuti semua ketentuan yang berlaku dalam pekerjaan
listrik.
31. Pemborong wajib melapis semua pemipaan memakai cat buatan ICI sebanyak 2
lapis, dimana warnanya akan ditentukan kemudian, termasuk pemberian arah dan
jalur alirannya.
32. Semua ujung pemipaan harus ditutup dengan bahan yang disetujui oleh
Manajemen Konstruksi.
33. Seluruh pemipaan yang tidak terletak didalam dinding harus ditempatkan pada
penyangga yang disetujui oleh Manajemen Konstruksi dan diklem serta diberikan
penutup yang cukup kuat untuk menahan semua gangguan mekanis yang
mungkin timbul.
34. Pemborong wajib memberikan lapisan antikarat pada bahan yang terbuat dari baja
dengan mempergunakan Zinchromate buatan ICI sebayak 2 lapis.
35. Ketentuan lain mengenai pemasangan apabila ada akan diberikan oleh
Manajemen Konstruksi selama periode pelaksanaan.
36. Penyambungan pipa tembaga secara las harus memakai bahan perak, dengan
diisi gas Nitrogen kering untuk menghilangkan kerak oksida didalam pipa, solder

Bab 4 - 36
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

tin antimonyatau tin lead 95 - 5" boleh dipergunakan, kecuali pada discharge gas
panas. Penyambungan pipa tembaga tanpa las yang diijinkan adalah dengan
perantara Wrought Copper Fitting atau Non Poreus Brass Fitting.
37. Setelah penyambungan dan pemasangan mesin, Pemborong wajib
membersihkan seluruh instalasi dengan gas Nitrogen sebelum seluruh pemipaan
dihampakan.
38. Pipa refrigerant harus disangga atau digantung dengan baik untuk mencegah
lenturan dan meneruskan getaran kompressor ke bagunan.
39. Alat pengering refrigerant (filter drier) dengan kapasitas yang sesuai serta sight
glass moisture indicator harus dipasang untuk seluruh Air Cooled Split Unit.
40. Perbedaan ketinggian dan jarak antara condensing unit dengan evaporator blower
harus diperhitungkan dalam penentuan diameter pipa tembaga untuk Air Cooled
Split tersebut dan memenuhi persyaratan pabrik, kapasitas mesin dan
pemasangan dari pabrik.
41. Setelah pekerjaan instalasi pipa selesai, maka seluruh rangkaian harus diuji
terhadap kebocoran atau per bagian.
42. Sebelum pengisian refrigerant, sistim harus dihampakan terlebih dahulu dengan
memakai vacum pump yang baik, penghampaan sampai pada tekanan 300
mikron dan tekanan sistim setelah diisi tidak lebih dari 500 mikron, dan pengisian
refrigent tidak diijinkan memakai kompressor.

d. Ketentuan Teknis Pengujian Pekerjaan


01. Pemborong wajib melaksanakan pengujian baik untuk setiap bagian dari sistim
maupun untuk sistim secara keseluruhan.
02. Pemborong wajib memberitahukan rencana pengujian kepada Manajemen
Konstruksi dan Pemberi Tugas. Pengujian yang tidak dihadiri oleh Manajemen
Konstruksi dan wakil Pemberi Tugas dinilai tidak sah dan harus diulang.
03. Pengujian atas kebocoran pemakaian pipa Condenser, dan kondensasi
dilaksanakan untuk setiap bagian dari pekerjaan dengan memberikan tekanan
sebesar 1,5 kali tekanan kerja normal tapi tidak kurang dari 15-20 Kg/cm² selama
jangka waktu tidak kurang dari 2 jam. Selama pengujian ini tidak diijinkan adanya
penurunan tekanan kerja.
04. Pengujian atas kebocoran pemakaian pipa Condenser dan kondensasi harus
dilaksanakan untuk keseluruhan bagian dari pekerjaan dengan memberikan
tekanan sebesar 1,5 kali tekanan kerja normal tapi tidak kurang dari 15-20 Kg/cm²
selama jangka waktu tidak kurang dari 6 jam. Selama pengujian ini tidak
diperkenankan adanya penurunan tekanan kerja.
05. Pengujian atas kebocoran pemakain harus dilaksanakan untuk keseluruhan
bagian dari pekerjaan dengan memberikan tekanan kerja normal selama jangka
waktu tidak kurang dari 12 jam dimana selama pengujian tidak diperkenankan
adanya penurunan tekanan kerja.
06. Setelah pengujian kebocoran dilakukan dan berhasil dengan baik, maka
Pemborong diwajibkan melaksanakan pembilasan jaringan dengan mengeluarkan
air disetiap titik pemakaian pada tekanan 2 Kg/cm² selama jangka waktu tidak
kurang dari 5 menit.
07. Pengujian atas kebocoran pemakaian harus dilaksanakan untuk yang terakhir
kalinya dengan pemakaian jaringan selama 6 x 24 jam dimana lama pemakaian
tidak kurang dari 6 jam setiap hari tanpa adanya gangguan dan atau kerusakan.
08. Pengujian hasil pelaksanaan lainnya, ditujukan untuk memeriksa kondisi kerja
setiap sistim pekerjaan termasuk seluruh alat kontrolnya.
09. Pemborong wajib memperbaiki setiap gangguan dan kerusakan yang terjadi
selama pengujian dan seluruh biaya perbaikan tersebut merupakan tanggung
jawab Pemborong.
10. Pengawas berhak menolak adanya penyerahan pekerjaan kepada Pemberi
Tugas, apabila ditemukan adanya gangguan dan atau kerusakan selama
dilakukannya pengujian.

Bab 4 - 37
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

11. Pemborong wajib memperbaiki setiap gangguan dan kerusakan yang terjadi
selama pengujian dan seluruh biaya perbaikan tersebut merupakan tanggung
jawab Pemborong

e. Ketentuan Teknis Bahan Isolasi Pipa


01. Isolasi Pipa Refrigerant/Pendingin adalah Thermaflex yang telah dibentuk sesuai
dengan diameter pipa. Kepadatan bahan Thermaflex adalah 40 kg/m³ dengan
ketebalan 25 mm untuk diameter pipa dibawah 1,5" dan ketebalan 30 mm untuk
diameter pipa 2"-4" dan ketebalan 40 untuk diameter 4" lebih. Khusus untuk
pemipaan yang diluar bangunan, bahan isolasi adalah Styrophore dengan
kepadatan adalah 40 kg/m³ dengan ketebalan 1,5" untuk diameter dibawah 1,5"
dan ketebalan 2" untuk diameter pipa 2" atau lebih, dan dilapisi dengan aluminium
foil, kemudian harus dilapis lagi dengan aluminium Jacketing setebal 0,6 mm.
02. Untuk seluruh pipa dan alat bantu pipa yang berada di dalam ruangan, ruang
terbuka, ruang terbuka yang terkena hujan harus memakai pelindung metal
Jacketing dari bahan alumunium setebal 0,6 mm, hujan tidak dapat merembes
kedalam dan untuk alat bantu pipa cara pelaksanaan pelindung dengan memakai
Jacketing sedemikian rupa sehingga mudah dilepas tanpa merusak isolasi bila
peralatan tersebut dibuka atau diservice.
03. Accesories pipa supply dan return i valve, strainer dll, harus diisolasi dengan
thermaflex dengan tebal 1" dan cara pengisolasiannya harus sedemikian rupa
sehingga tidak merusak isolasi bila peralatan tersebut dibuka atau diservice.
04. Pada bagian seluruh pipa refrigerant dan pipa kondensasi yang akan dipasang,
pemborong hendaknya memberikan bahan isolasi berupa Thermaflex dan
berdiameter yang sesuai dengan diameter pipanya setebal 1" dengan kepadatan
2,5 lbs/cuft, dan konduktivitas panas 0,23 BTU.inch/ft2.h.f pada temperatur 23,9
derajat celcius.
05. Pemborong wajib memberikan lapisan antikarat pada bahan yang terbuat dari baja
dengan mempergunakan Zinchromate buatan ICI sebanyak 2 lapis.
06. Ketentuan lain mengenai pemasangan apabila ada akan diberikan oleh
Manajemen Konstruksi selama periode pelaksanaan.
07. Seluruh isolasi pipa yang terkena matahari harus di coating dengan bahan anti UV
yang sesuai dengan isolasi thermaflex.

4.7.6 KONTROL SISTEM


a. Ketentuan Teknis Alat Kontrol Sistem

01. Alat monitor aliran air atau Flow Switch yang dipergunakan harus sesuai dengan
diameter pipa yang terhubung dimana kerugian tekanan aliran kerja yang
melewatinya harus serendah mungkin.
02. Alat pengatur keseimbangan aliran air pendingin atau Pressure Differential Valve
(type balancing / globe valve) yang dipergunakan harus sesuai dengan diameter
pipa yang terhubung dan harus mampu menahan tekanan aliran air yang mungkin
timbul.
03. Motor Starter / Inverter pada Fan selain berguna untuk mengurangi besarnya arus
mula motor, juga harus dilengkapi dengan alat pengatur putaran motor sedemikian
rupa sehingga mampu menyeseuiakan pemakaian daya listrik dan jumlah aliran
udara yang diperlukan sesuai dengan informasi dari sensor thermostat pada ruang
tersebut atau pressure sensor / flow sensor pada ducting utama.
04. Thermostat yang dipergunakan didalam ducting harus dapat mengoperasikan Two
Way Valve pada saluran pipa air dingin, sedemikian rupa sehingga posisi Two
Way Valve harus sesuai dengan kondisi ruang yang dikondisikan.
05. Alat pengatur jumlah aliran air dingin agar supaya temperatur ruang dipertahankan
sesuai set point adalah Two Way Modulating Motorized Valve dimana sensornya
adalah thermostat dengan PI control sedangkan Controller untuk FCU hanya
dengan Two Way Motorized Valve dari control 2 posisi dengan dilengkapi manual
speed control (3 speed) yang ditempatkan diruangan yang dikondisikan.

Bab 4 - 38
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

06. Untuk penggunaan motorized damper maka ditambahkan alat pengatur duct
pressure sensor yang diletakkan di Ducting Supply sehingga Pressure Differential
Controller, akan mengontrol kecepatan motor melaui variable speed motor
controller / inverter (frequency changer) sedangkan untuk mengatur besar kecilnya
bukaan dari Motorized Damper dilakukan oleh thermostat yang diletakkan didalam
ruangan.
Sedangkan Pressure sensor yang dipasang pada ducting supply sehingga
Pressure Differential Controller akan mengontrol kecepatan motor melalui variable
speed motor controller / inverter (frequency changer) controller (sebagai akibat
perubahan pressure pada filter).
07. Khusus untuk motor starter dan speed adjuster yang dipergunakan adalah tipe
frequency changer, dimana alat ini harus dapat mengurangi besarnya arus mula
motor pada waktu mulai dijalankan selain itu alat ini atas dasar informasi yan
didapat dari tekanan aliran udara didalam saluran uama udara dingin (Duct
Pressure Sensor, Pressure Differential Controller dan atau dari thermostat dalam
ruang) harus dapat mengurangi jumlah putaran motor sedemikian rupa sehinga
jumlah aliran udara adalah sesuai dengan kebutuhan.
08. Untuk Fresh Air supply masing-masing akan melalui ducting fan, demikian juga
untuk exhaust dari toilet melaui exhaust fan sebelum keluar ke udara luar melaui
Air to Heat Exchanger dan pada waktu system Fresh Air Fan on, maka Exhaust
Fan dan Air to Air Heat Exchanger juga on dengan interlock system secara
otomatis dan dapat dirubah secara manual. Sedangkan Fan untuk Fresh Air dari
type variable speed (inverter) yang diatur akibat duct pressure sensor, Pressure
Differential Controller menyensor perubahan dari tekanan didalam ducting akibat
perubahan tekanan static dari filter agar supply udara fresh air oleh fan menjadi
constant volume.
09. Untuk seluruh Fresh Air yang disupply oleh Fan Fresh Air melaui Filter sesuai
yang ditetapkan dalam gambar perencanaan.
10. Exhaust parkir dalam keadaan normal dan kebakaran harus Fire Rated Duct.
11. Pada waktu terjadi kebakaran, unit-unit Fan, Pompa, dll mati sedangkan
Pressurized Fan jalan, semuanya itu berjalan secara otomatis akibat adanya
indikasi dari Fire Alarm dan kontraktor VAC harus menghubungkan antara kontrol
unit AC / Fan dengan konrol Fire Alarm dengan kabel kontrolnya.
12. Pressurisasi Fan bekerja secara otomatis apabila mendapatkan indikasi / deteksi
kebakaran dari fire alarm ataupun adanya sinyal secara manual dari break glass
karena itu kontraktor VAC harus menghubungkan antara kontrol pressurisasi Fan
dan Fire Alarm. Selain itu kontrakator VAC harus memasang smoke detektor pada
ducting masuknya udara dari pressurisasi Fan sehingga apabila pressurisasi Fan
bekerja akibat indikasi dari Fire Alarm dan kebutuhan udara yang dihisap tersebut
mengandung asap maka pressurisasi Fan tersebut secara otomatis akan mati.
Pressurisasi Fan harus dilengkapi dengan variable speed (Inverter) dengan
sensor, pressure difference yang diletakkan ditangga paling bawah dan diset pada
tekanan 0,35 "WG, sehingga apabila tekanan pada tangga kebakaran telah
tercapai, maka sensor akan memerintahkan Fan untuk menurunkan kecepatan
melalui inverter pressurisai Fan dimatikan secara manual.

4.8 PEKERJAAN DIFFUSER, GRILLE


4.8.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi seluruh pengadaan bahan, pemasangan dan penyetelan ducting yang
dapat digunakan dalam proyek ini sesuai dengan yang tertera dalam gambar perencanaan
dan spesifikasi.

4.8.2. STANDARD
Sebagai pegangan pelaksanaan pekerjaan ini digunakan standar dan THE GUIDE dari
ASHRAE, SMACNA dan NFPA No. 90A.

Bab 4 - 39
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

4.8.3. UMUM
a. Gambar dan spesifikasi hanya menunjukkan dimensi, peralatan, dan susunan dan
diffuser, grille atau register yang harus dipasang. Bila ada penyimpangan serta
alasannya harus diserahkan secara tertulis pada Direksi Lapangan dan Konsultan untuk
persetujuannya. Penyimpangan yang telah disetujui dilaksanakan oleh Pemborong tanpa
tambahan biaya kecuali hal tersebut menyebabkan perubahan desain atau kebutuhan.
b. Pemborong diwajibkan membuat gambar kerja (shop drawing) yang disetujui Direksi
sebelum pelaksanaan pekerjaan instalasi dilaksanakan.
c. Baik diffuser, grill maupun light troffer sebelum dipasang terlebih dsplit ductlu harus dites
di laboratorium mengamati noise level, profil kecepatan dan distribusi udara dan lain-lain
dan diminta persetujuannya kepada Direksi.

4.8.4. MATERIAL
Bahan diffuser, grille dan register yang dapat diterima adalah dari alumunium anodized profile
dengan ketebalan minimum 18 US Gauge.

4.8.5. PEMASANGAN
a. Pemborong ini harus menyediakan semua duct register boxes, duct adapters grilles,
diffuser dan peralatan tambahan lainnya, sehingga instalasi lengkap terpasang dan
dapat bekerja dengan baik. Seluruh unit diffuser, grille dan register harus mempunyai
noise level criteria tidak lebih dari NC 40.
b. Pemasangan diffuser dan grille harus tepat berdasarkan gambar. Seluruh diffuser dan
grille yang dipasang pada dinding tembok dan lain-lain harus mempunyai rangka
plesteran (plaster frame) agar dapat dipasang rata dan tidak retak. Seluruh diffuser dan
grille harus dipasang rapat dan diberi karet gasket.
c. Seluruh adjustable volume damper yang terpasang, harus dapat diatur dan dikunci dari
luar. Untuk jenis diffuser yang digabungkan dengan armature lampu (integrated light air
troffer), Pemborong hanya mengerjakan penyambungan ducting flexible round saja ke
troffer tersebut.
d. Semua diffuser harus dari jenis aspirating dan memiliki diffusing cone minimal 4 (empat)
buah. Diffuser yang dapat diterima adalah buatan lokal.
e. Di belakang dan bagian dalam semua diffuser, grille dan register dicat warna hitam
enamel setelah dilapis dengan cat mual (prime coat).
4.8.6. DIMENSI.
a. Ukuran diffuser, grille dan register yang ada hendaknya disesuaikan dengan keadaan.
Ukuran dapat dirubah asalkan luas penampang sama atau lebih besar.
b. Ukuran yang didapat dari register boxes atau plenum harus menunggu ukuranukuran
terakhir dari grilee yang telah disetujui Arsitek. Penempatan yang tepat/sesungguhnya
dari diffuser dan grilee harus mendapatkan persetujuan Arsitek. Diffuser harus dipasang
dengan equalizing deflector dan damper.

4.9 PEKERJAAN SYSTEM VENTILASI MEKANIK


4.9.1. LINGKUP PEKERJAAN
Bab ini menjelaskan kebutuhan untuk peralatan, perlengkapan dan pemasangan sistem
ventilasi mekanik untuk proyek ini.

4.9.2. UMUM.
a. Berikut ini adalah penjelasan secara umum mengenai ventilasi dan ventilator, untuk
spesifikasi teknis yang khusus, disesuaikan dengan spesifikasi yang tertera pada
gambar schedule mesin.

Bab 4 - 40
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

b. Peralatan ventilasi harus dipasang sesuai dengan yang tertera dalam gambar dan atau
yang dipersyaratkan di bawah ini. Seluruh pemasangan ventilasi mekanik harus
memenuhi persyaratan setempat, ordonansi dan atau peraturan yang berlaku.
c. Pemborong harus menyediakan dan memasang kipas angin sesuai dengan gambar
dan spesifikasi. Semua fan dari jenis centrifugal in line duct atau ditentukan sesuai
spesifikasi di bawah ini yang telah dibalance statis maupun dinamis dan diuji oleh
pabriknya.Setelah terpasang fan tidak boleh menimbulkan suara yang berlebihan.
Semua fan dipasang karet sekelilingnya (peredam getaran) sebelum dipasang.
d. Seluruh fan harus disetujui penggunaannya oleh Konsultan MK sebelum pekerjaan
pemasangan dilakukan.

4.9.3. EXHAUST FAN.


a. Seluruh fan harus mempunyai pilot light dan on/off switch pada lokasi/panel yang
tertera dalam gambar serta dapat dimonitor dan atau diremote dari push kontrol panel
di ruang kontrol yang tersedia.
b. Fan dengan daya 1 HP atau lebih kecil dapat berfungsi Single Phase.
c. Pada prinsipnya exhaust fan yang dipasang adalah exhaust fan dari type yang umum
digunakan,dimana :
• Kapasitas : Sesuai gambar rencana
• Type : Sesuai gambar rencana
• Static pressure : 0.2 - 0.5 in WG
• Merk : Conexa, Panasonic, Kruger
• Wama : Ditentukan kemudian
Exhaust fan harus memiliki damper yang secara otomatis bekerja dengan motor
dengan kata lain bila exhaust fan dimatikan untuk dampernya harus dapat tertutup
dan sebaliknya.
Exhaust fan tidak boleh melebihi tingkat kebisingan 40 db. Cara pemasangan dengan
rangka kayu yang dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat dibuka/pasang kembali
untuk maintenance.

4.9.4. DUCTING.
Seluruh ducting ventilasi mekanik yang dibutuhkan harus sesuai dengan bab ducting
(cerobong udara), baik dimensi, bentuk, maupun bahannya. Seluruh ducting ventilasi
mekanik dan tidak perlu diisolasi.
Pemborong diwajibkan untuk mengajukan persetujuan terlebih dsplit ductlu kepada
Konsultan mengenai produk, type dan spesifikasi peralatan yang akan digunakan dalam
proyek ini.

4.10 PEKERJAAN TESTING, ADJUSTING, BALANCING


4.10.1 UMUM
Seluruh pekerjaan pengujian, balancing, kalibrasi dan setting yang perlu dilakukan terhadap
peralatan dan kontrol dilaksanakan oleh Kontraktor.
a. Kontraktor harus menyediakan personil yang cakap dan berpengalaman untuk
pelaksanaan seluruh pengujian.
b. Kontraktor harus melaksanakan seluruh pengujian atau test dan balancing peralatan
sistem air conditioning dengan disaksikan oleh Pemberi Tugas, Konsultan, Pengawas
serta pihak-pihak lain yang diperlukan kehadirannya.
c. Pelaksanaan TAB (Testing Adjusting & Balancing) secara mendasar minimal harus
mengikuti standard yang berlaku secara umum seperti standar NEBB, ASHRAE dan
SMACNA dengan menggunakan peralatan ukur yang memenuhi untuk pelaksanaan
TAB tersebut.

Bab 4 - 41
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

4.10.2 LINGKUP PEKERJAAN.


Lingkup pekerjaan ini adalah pelaksanaan testing, adjusting dan balancing untuk seluruh
sistem tata udara dan ventilasi mekanis sehingga didapatkan besaran-besaran pengukuran
yang sesuai seperti yang terlihat dalam gambar rencana, sehingga sistem dapat berfungsi
dengan baik dan sesuai dengan rencana.
a. Peralatan Ukur
Minimal peralatan ukur seperti dibawah ini harus dimiliki oleh Kontraktor yang
bersangkutan, antara lain :
- Pengukur laju aliran udara
 Pitol tube dengan inclined manometer

- Pengukur temperatur udara /air


 Psikometer
 Thermometer

- Pengukur putaran (rpm)


 Tachometer atau sejenisnya

- Pengukur listrik
 Voltmeter
 Ampermeter

- Pengukurtekanan
 Manometer/pressure gauge

- Pengukur kadar air bersih


Satu test kit produk ICI, Micrement atau setara yang disetujui untuk mengukur
kadar air bersih pada sistem pendinginan yaitu salinity, ph, hardness, undisolved
solids, disolved iron, oxigen dan konsentrasi chlorine.

b. Pelaksanaan TAB
- Secara detail TAB harus dilaksanakan terhadap seluruh sistem dan bagian--
bagiannya, sehingga didapatkan besaran pengukuran yang sesuai dengan
besaran yang ditentukan dalam rencana.

- Dalam pelaksanaan TAB, disamping pengukuran yang dilakukan terhadap


besaran yang ditentukan dalam desain, juga diwajibkan melaksanakan
pengukuran terhadap besaran yang tidak tercantum dalam gambar rencana, tapi
besaran ini sangat diperlukan dalam penentuan kondisi dan kemampuan
peralatan dan juga sebagai data-data yang diperlukan bagi pihak maintenance
dan operation.

- Semua pelaksanaan TAB maupun pengukuran terhadap besaran lainnya yang


tidak tercantum dalam gambar rencana harus dituangkan dalam suatu laporan
yang bentuknya sudah disetujui oleh Pengawas.
- Pelaksanaan TAB dilakukan oleh tenaga engineer yang betul-betul sudah
berpengalaman dalam pelaksanaan TAB ini.

- Dalam pelaksanaan TAB, harus selalu didampingi oleh tenaga pengawas,


dimana hasil pengukuran dan pengamatan yang dilakukan juga disaksikan oleh
Pengawas tersebut dan dalam laporannya ikut menandatangani. Pengawas
ditunjuk oleh Direksi.

- Sebelum melaksanakan TAB, Kontraktor harus membuat suatu rencana kerja,


mengenal membuat suatu rencana kerja, mengenal prosedur pelaksanaan TAB,

Bab 4 - 42
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

untuk masing-masing bagian pekerjaan, dan prosedur ini agar dibicarakan


dengan pihak Direksi untuk mendapatkan persetujuan.

c. Jenis Pekerjaan Pemeriksaan


- Pipa/kebocoran dan tekanan
Seluruh pekerjaan pipa kecuali pipa refrigerement, harus di-flushed dengan air
bersih sebelum dipasang dan digunakan.

- Temperatur
Pengukuran dan pengujian temperatur dan kelembaban pada setiap ruangan,
diffuser, grille, register, fresh air intake, exhaust.

- Semua mesin berputar (rotating) dan torak (recipprocating)


 Seluruh mesin sudah dipasang dengan baik sesuai dengan rekomendasi
pabrik, aligment sistem suspensi, dan lain sebagainya.
 Seluruh drive belts diset ketegangannya dengan seksama serta seluruh belt
dan atau cooling guard terpasang baik.
 Seluruh pompa harus diperiksa untuk pendinginannya dan pelumasannya.
Untuk pompa yang menggunakan packed gland harus diatur dari kebocoran.

d. Listrik
- Pengukuran dan pengujian kuat arus dengan tegangan RPM, setiap phase pada
unit compressor, motor dan sistem pengaturan listrik yang ada. Harus
dibandingkan dengan besaran/kapasitas yang direncanakan atau data
pabriknya.
- Tes berikut ini harus dilaksanakan oleh Kontraktor dengan dihadiri oleh seorang
ahli yang ditunjuk Direksi :
 Tahanan isolasi - section dan overall
 Pentahanan
 Tahanan kontinyu pada konduktor dan sheating section and overall
 Phasing, termasuk keseimbangan phase tidak lebih dari 10%
 Full load (bila disyaratkan)
 Seluruh thermal overload pada starter harus diperiksa dan settingnya dicatat
 Seluruh jaringan / circuit harus di-mergered
 Seluruh instalasi harus disetujui oleh PLN dan Konsultan

4.10.3 PERSETUJUAN HASIL TEST.


Seluruh hasil testing dan balancing harus dicatat dalam suat daftar isian untuk mendapat
persetujuan Konsultan.

4.10.4 SERVICE DAN MAINTENANCE.


a. Kontraktor harus menyediakan seorang ahli/sarjana untuk membantu start up dari plant
kondisi operasi yang disyaratkan benar-benar dapat tercapai. Kontraktor harus
memberikan pendidikan bagi seorang operator yang ditunjuk Pemberi Tugas untuk
menjalankan alat dengan benar, memelihara dan memperbaiki peralatan yang
terpasang sampai operator tersebut mahir dan dapat bekerja dengan baik.

b. Selama masa pemeliharaan, Kontraktor harus :


- Membersihkan/melakukan maintenance minimal 2 (dua) bulan sekali.
- Mengukur dan menyetel aliran udara, suhu dan kelembaban udara, mesin kuat
arus, tegangan dan RPM mesin, tekanan mesin dan lain-lain, laporan dibuat
secara tertulis
- Merawat, memperbaiki atau mengganti peralatan yang rusak dari seluruh
peralatan AC yang terpasang. Laporan ini dibuat secara tertulis
- Membersihkan dan merawat seluruh sistem AC yang ada pada bangunan.

Bab 4 - 43
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

c. Suku cadang dan peralatan


Kontraktor harus menyediakan setiap saat suku cadang dalam jumlah minimum sesuai
dengan rekomendasi pabrik dari seluruh peralatan yang disupply dan atau dipasang
Kontraktor, selama masa pemeliharaan, sehingga pekerjaan maintenance dapat
terjamin kelancarannya.

Suatu salinan daftar recomended spare parts harus diarsipkan dan diberikan kepada
Direksi dan Pemberi Tugas sebelum diberikan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan
secara lengkap. Seluruh peralatan khusus yang disupply oleh pabrik harus diserahkan
pada staff operasi Pemberi Tugas.

4.11 PEKERJAAN SISTEM VENTILASI


4.11.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengangkutan, pengadaan dan pemasnagan peralaatn sistem
ventilasi beserta perlengkapannya seperti ditentukan dalam Spesifikasi dan/atau
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
Pekerjaan ini akan termasuk pengujian dan pengadaan peralatan lain yang dibutuhkan agar
semua sistem bekerja dengan baik dan siap dioperasikan.

4.11.2. STANDAR / RUJUKAN


- Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL – 2011).
- Standar Nasional Indonesia (SNI).
- Spesifikasi Teknis – Distribusi Tegangan Rendah
- National Fire Protection Asociate (NFPA)

4.11.3. PROSEDUR UMUM


a. Data Teknis.
Kontraktor harus menyerahkan semua data teknis bahan yang dibutuhkan kepada
Pengawas Lapangan untuk disetujui. Data teknis harus meliputi deskripsi, karakteristik
dan petunjuk pemasangan dan pemeliharaan.

b. Gambar Detail Pelaksanaan.


- Sebelum pemasangan, Kontraktor harus menyiapkan dan menyerahkan Gambar
Detail Pelaksanaan kepada Pengawas Lapangan / Manajemen Konstruksi untuk
disetujui.
- Kontraktor harus memeriksa semua dimensi dari Gambar Kerja dengan kondisi di
lokasi. Tidak ada tuntutan yang dapat diajukan yang diakibatkan karena adanya
perbedaan antara Gambar Kerja disiplin lain dan/atau pengukuran yang diambil di
lokasi proyek.

- Gambar Detail Pelaksanaan harus meliputi hal-hal berikut:


 Dimensi, ukuran dan tata letak.
 Metode pemasangan.
 Diagram pengkabelan setiap instalasi

Semua dokumen harus digambar sesuai dengan model yang telah disetujui Pengawas
Lapangan

4.11.4. BAHAN - BAHAN


a. Umum.
Semua perealatan ventilasi berikut aksesori harus berasal dari kualitas terbaik dan
dalam kondisi terbaik, dan memenuhi standar yang berlaku dan berasal dari pabrik
pembuat yang disetujui Pengawas Lapangan / Manajemen Konstruksi.

Bab 4 - 44
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

b. Exhaust Fan.
Exhaust Fan harus dari tipe Centrifugal In Line yang memiliki kapasitas sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja.

c. Bahan-bahan Elektrikal
Bahan-bahan elektrikal seperti kabel daya, sklar atau soket, konduit dan lainnya, harus
memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis 16400.

4.11.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Umum.
- Sebelum pemasangan, Kontraktor harus berkonsultasi dengan Pengawas
Lapangan / Manajemen Konstruksi atau mengacu pada Gambar Kerja dari disiplin
lain untuk menentukkan lokasi pemasangan bahan-bahan yang akan dipasang
oleh Kontraktor.
- Kontraktor harus mendapatkan informasi ini dari Pengawas Lapangan /
Manajemen Konstruksi sebelum memulai pemasangan.
- Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis saling melengkapi satu sama lain, dan
tenaga kerja atau bahan yang disebut disini, bila diperlukan untuk keberhasilan
bekerjanya peralatan khusus yang disebutkan dalam pekerjaan ini, harus
disediakan dan dipasang tanpa tambahan biaya kepada Pemilik Proyek.
- Kontraktor harus memeriksa dengan teliti besar ruang yang dibutuhkan dengan
Kontraktor lain untuk memastikan bahwa semua peralatan dan lainnya dapat
dipasang pada tempat yang telah ditentukan.
- Semua perlengkapan yang dibutuhkan, alat kontrol dan lainnya sesuai peraturan
lokal harus diadakan oleh Kontraktor.

b. Pekerjaan Elektrikal.
Semua sistem elektrikal seperti pengkabelan dan lainnya yang dibutuhkan dalam
pekerjaan ini harus dipasang sesuai ketentuan Spesifikasi Teknsi 16400.

c. Pengujian.
- Pengujian dilokasi harus dilaksanakan sesuai standar terbaik yang disetujui
Pengawas Lapangan.
Semua pengujian yang diminta harus dibuat atas biaya Kontraktor yang harus
melengkapi semua bahan dan peralatan pengujian yang diperlukan.
- Semua peralatan harus diuji keamanan sistem listriknya.
- Setelah pengujian dinyatakan berhasil, sistem harus dioperasikan perlahan tanpa
segala jenis kegagalan selama sebulan, sebelum Pengawas Lapangan
memberikan pernyataan selesainya pekerjaan.

d. Pemeliharaan.
- Setiap peralatan yang memerlukan perawatan atau pemeriksaan harus dilengkapi
dengan :
 Spesifikasi teknis detail yang dipersiapkan oleh pabrik pembuat yang
mencakup deskripsi dan karakteristik.
 Kartu pemeliharaan yang menyebutkan:
Nama pabrik pembuat atau pemasok.
Jenis pelaksanaan perawatan (elektrikal, mekanikal dan lainnya) dan
selang waktu (kalender atau sebagai fungsi waktu pengoperasian).
Periode pemeriksaan yang direkomendasikan.
- Dokumen yang harus diserahkan Kontraktor adalah :
 Desikripsi prinsip pengoperasian peralatan.
 Diagram setiap pemasangan.

Bab 4 - 45
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Gedung Unit Percetakan Al Qur,an Bogor

 Petunjuk pengoperasian, petunjuk start-up dan shutdown setiap peralatan


berikut tindakan pencegahan yang harus dilakukan.

Bab 4 - 46
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

DAFTAR ISI

BAB V
PERSYARATAN TEKNIS ELEKTRIKAL & ELEKTRONIKA
5.1. SISTEM PENYALUR PETIR DAN PEMBUMIAN ..................................................... 1
5.1.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................... 1
5.1.2. STANDAR /RUJUKAN ................................................................................. 1
5.1.3. PROSEDUR UMUM ..................................................................................... 1

5.2. DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH ................................................................... 2


5.2.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................... 2
5.2.2. STANDAR /RUJUKAN ................................................................................. 4
5.2.3. KEMAMPUAN OPERASI SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK .......................... 4
5.2.4. PERSYARATAN PERALATAN .................................................................... 4

5.3. PERSYARATAN GENERATOR SET (GENSET) ..................................................... 8


5.3.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................... 8
5.3.2. STANDAR / RUJUKAN ................................................................................ 8
5.3.3. PROSEDUR UMUM ..................................................................................... 8
5.3.4. BAHAN-BAHAN ............................................................................................ 9
5.3.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN .................................................................. 13

5.4. DISTRIBUSI TEGANGAN RENDAH ....................................................................... 14


5.4.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................. 14
5.4.2. STANDAR / RUJUKAN .............................................................................. 14
5.4.3. KONSTRUKSI PANEL DISTRIBUSI .......................................................... 14
5.4.4. MODUL KOMUNIKASI ............................................................................... 15
5.4.5. KEMAMPUAN OPERASI SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK ........................ 16
5.4.6. PROSEDUR UMUM PELAKSANAAN PEKERJAAN ................................ 16
5.4.7. BAHAN – BAHAN ....................................................................................... 17
5.4.8. PELAKSANAAN PEKERJAAN .................................................................. 19

5.5. PEKERJAAN SISTEM PEMBUMIAN ..................................................................... 21


5.5.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................. 21
5.5.2. KETENTUAN UMUM.................................................................................. 21
5.5.3. KONSTRUKSI ............................................................................................ 22
5.5.4. PEMASANGAN .......................................................................................... 22
5.6. PEKERJAAN SISTEM PENERANGAN .................................................................. 23
5.6.1. LINGKUP PEKERJAAN. ............................................................................ 23
5.6.2. STANDAR / RUJUKAN. ............................................................................. 23
5.6.3. PROSEDUR UMUM. .................................................................................. 23
5.6.4. BAHAN – BAHAN. ...................................................................................... 24
5.6.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN. ................................................................. 26

5.7. PEKERJAAN FIRE ALARM .................................................................................... 28


5.7.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................. 28
5.7.2. INSTALASI SISTEM ................................................................................... 29
5.7.3. PENJELASAN SISTEM .............................................................................. 29
5.7.4. KEMAMPUAN OPERASI ........................................................................... 29

Daftar Isi - i
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.7.5. PUSAT KONTROL ..................................................................................... 31


5.7.6. PERALATAN PENDETEKSI (INIATING DEVICES).................................. 32
5.7.7. PERALATAN TANDA ALARM ................................................................... 33
5.7.8. KABEL INSTALASI..................................................................................... 34
5.7.9. PERSYARATAN PEMASANGAN .............................................................. 35
5.7.10. PROSEDUR UMUM. .................................................................................. 35
5.7.11. GAMBAR DETAIL PELAKSANAAN (SHOP DRAWING) .......................... 35
5.7.12. PENGIRIMAN DAN PENYIMPANAN......................................................... 35
5.7.13. KETIDAKSESUAIAN .................................................................................. 36
5.7.14. BAHAN-BAHAN. ......................................................................................... 36

5.8. PRASARANA RUANG SERVER ICT ..................................................................... 36


5.8.1. DESKRIPSI PEKERJAAN .......................................................................... 36
5.8.2. DESKRIPSI UMUM .................................................................................... 36
5.8.3. DESKRIPSI RUANG SERVER .................................................................. 36
5.8.4. PERSYARATAN INSTALASI RUANG SERVER ....................................... 37
5.8.5. RUANG LINGKUP PEKERJAAN RUANG SERVER ................................. 37
5.8.6. PEMBANGUNAN FISIK RUANG SERVER ............................................... 37
5.8.7. BAHAN - BAHAN........................................................................................ 41
5.8.8. PELAKSANAAN PEKERJAAN .................................................................. 45
5.8.9. PENGUJIAN ............................................................................................... 46

5.9. PEKERJAAN SISTEM MATV DIGITAL .................................................................. 46


5.9.1. PERSYARATAN UMUM ............................................................................ 46
5.9.2. STANDAR/ PERATURAN .......................................................................... 46
5.9.3. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................. 46
5.9.4. UMUM ......................................................................................................... 46
5.9.5. MASA JAMINAN ......................................................................................... 47
5.9.6. SISTEM....................................................................................................... 47
5.9.7. DAFTAR MATERIAL DAN BROSUR ......................................................... 47
5.9.8. MEMERIKSA DAN MELENGKAPI GAMBAR-GAMBAR........................... 47
5.9.9. PERALATAN UTAMA MATV ..................................................................... 47
5.9.10. PERSYARATAN BAHAN / MATERIAL ...................................................... 49
5.10. PEKERJAAN SISTEM TELEKOMUNIKASI ........................................................... 50
5.10.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................. 50
5.10.2. KETENTUAN TEKNIS PEKERJAAN TELEKOMUNIKASI ........................ 51
5.10.3. KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN ............................. 55
5.10.4. KETENTUAN TEKNIS PENGUJIAN PEKERJAAN ................................... 56

5.11. PEKERJAAN CLOSED CIRCUITS TELEVISION (CCTV) ..................................... 57


5.11.1. KETENTUAN UMUM.................................................................................. 57
5.11.2. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................. 57
5.11.3. URAIAN LINGKUP PEKERJAAN .............................................................. 57
5.11.4. PENJELASAN SISTEM .............................................................................. 57
5.11.5. KEMAMPUAN OPERASI ........................................................................... 58
5.11.6. KETENTUAN TEKNIS PEKERJAAN CCTV .............................................. 59
5.11.7. PERSYARATAN PELAKSANAAN ............................................................. 68
5.11.8. PENGETESAN & COMMISSIONING ........................................................ 71

5.12. PEKERJAAN SISTEM TATA SUARA .................................................................... 72


5.12.1. LINGKUP PEKERJAAN ............................................................................. 72
5.12.2. TUJUAN PENGGUNAAN ........................................................................... 73
5.12.3. KEMAMPUAN OPERASI ........................................................................... 73

Daftar Isi - ii
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.12.4. INSTALASI ................................................................................................. 74


5.12.5. TERMINAL BOX SISTEM TATA SUARA .................................................. 75

Daftar Isi - iii


Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

SPESIFIKASI TEKNIS

BAB V

PERSYARATAN TEKNIS ELEKTRIKAL & ELEKTRONIKA

5.1. SISTEM PENYALUR PETIR DAN PEMBUMIAN


5.1.1. LINGKUP PEKERJAAN
a. Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan semua material, peralatan, tenaga kerja, dan
lain – lain untuk pemasangan, pengetesan, commisioning dan pemeliharaan yang
sempurna untuk seluruh instalasi sistem penangkal petir seperti disyaratkan di dalam
buku ini dan seperti ditunjukkan pada Gambar Perencanaan. Dalam pekerjaan ini harus
termasuk juga pekerjaan – pekerjaan kecil lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini
yang tidak mungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini, tetapi dianggap perlu
untuk keselamatan dan kesempurnaan fungsi dan operasi instalasi sistem penangkal
petir.
b. Item – item pekerjaan yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut :
 Elektroda penangkal petir ini termasuk batang penangkap petir (air termination),
dudukan air termination dan peralatan bantu lainnya yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan instalasi sistem penangkal petir.
 Hantaran turun. Di dalam item ini termasuk juga pipa pelindung, penyangga dan
klem untuk dudukan dan pemasangan hantaran turun.
 Elektroda pembumian, terminal penyambungan, bak kontrol dan material – material
bantu lainnya.
c. Instalasi sistem penangkal petir harus mengikuti Peraturan Umum Instalasi Penangkal
Petir atau peraturan lainnya yang berlaku di Indonesia, serta harus mendapat
rekomendsi dari Departemen Tenaga Kerja RI.

5.1.2. STANDAR /RUJUKAN


a. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2011, 2020)
b. Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP 1983)
c. British Standard (BS)
d. Standar Nasional Indonesia (SNI)
e. Japanese Industrial Standard (JIS)
f. Institute Electrotechnical Commision (IEC)
g. Spesifikasi Teknis – Beton Cor di Tempat

5.1.3. PROSEDUR UMUM


a. Elektroda Penangkal Petir.
- Air Termination dari jenis Electrostatis Guardian IEC 60-1: 1989 lightning terminal
- Dudukan air termination yang terbuat dari fibre glass dengan diameter 70 mm dan
ketinggian minimum 2.5 m.
- Pemasangan dudukan air terminator harus tahan terhadap pengaruh goncangan
dan angin.
- Air termination yang dipakai harus mendapat ijin atau rekomendasi dari Departemen
Tenaga Kerja RI atau instansi lain yang berwenang.
- Air termination yang dipakai dengan menggunakan air termination dari jenis bukan
radioaktif.

Bab V - 1
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Detail dan tata letak instalasi penangkal petir sesuai dengan Gambar Kerja.
- Air termination harus terbuat dari bahan yang tahan untuk dialiri arus listrik yang
cukup besar tanpa terjadi kerusakan.
- Elektroda penangkal petir harus dihubungan dengan hantaran turun.
- Pemasangan penangkal petir harus diatur sedemikian rupa, sehingga semua
bagian atau benda yang berada di atap sampai dengan lantai basement harus
dapat terlindung oleh sistem instalasi penangkal petir.

b. Hantaran Turun
- Hantaran turun berfungsi untuk mengalirkan muatan listrik petir yang diterima /
ditangkap oleh elektroda penangkal petir ke konduktor pembumian, oleh karena itu
hantaran turun harus dihubungkan secara sempurna baik dengan elektroda
penangkal petir maupun elektroda pembumian.
- Hantaran turun terbuat dari coaxial cable, NYA yang dirancang khusus untuk
hantaran turun sistem penangkal petir.
- Coaxial cable, NYA yang digunakan harus mendapat rekomendasi dari pabrik
pembuatnya yang menyatakan bahwa kabel tersebut dapat digunakan untuk sistem
penangkal petir.
- Coaxial cable, NYA yang digunakan mempunyai ukuran minimal 70 mm2.
- Hantaran turun harus dipasang dengan baik, lurus dan mempunyai kekuatan yang
cukup sehingga mampu menahan gangguan mekanis.

c. Elektroda Pembumian
- Elektroda pembumian terbuat dari pipa GIP  1 ½“ dan plat tembaga serta lilitan
kawat timah dengan konstruksi seperti tercantum di dalam Gambar Kerja.
- Elektroda pembumian harus ditanam langsung di dalam tanah dengan panjang
bagian yang tertanam minimal sepanjang 6 m dan mempunyai tahanan pentanahan
sebesar 2 Ohm.
- Terminal penyambungan untuk menghubungkan elektroda pembumian dengan
hantaran turun harus dilakukan di dalam bak kontrol. Penyambungan tersebut harus
menggunakan mur baut berukuran M-10 sebanyak tiga titik.
- Sistem pembumian untuk penangkal petir ini harus terpisah dari sistem pembumian
untuk sistem elektrikal lainnya.

d. Bak Kontrol / Terminal Penyambungan.


- Bak kontrol berfungsi sebagai tempat penyambungan antara hantaran penyalur
petir dengan elektroda pembumian (terminal pembumian) dan sebagai tempat untuk
melakukan pengukuran tahanan pembumian.
- Dimensi konstruksi bak kontrol sesuai dengan Gambar Kerja.
- Dinding dan tutup bak kontrol terbuat dari konstruksi beton.
- Bak kontrol mempunyai tutup yang dilengkapi dengan handle. Tutup bak kontrol ini
harus dapat dibuka dengan mudah.

e. Penyangga dan Klem


- Penyangga digunakan untuk memegang hantaran penyalur petir.
- Penyangga terbuat dari besi yang digalvanisasi sehingga tahan terhadap karat.
- Dimensi dan konstruksi penyangga sesuai dengan Gambar Kerja.
- Jarak antara dua penyangga yang berdekatan minimal 40 cm.

5.2. DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH


5.2.1. LINGKUP PEKERJAAN
Kontraktor diminta menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam
spesifikasi teknisini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perencanaan, dimana bahan
dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila
ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahanan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasit eknis yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban

Bab V - 2
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

Kontraktor untukmengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuaidengan ketentuan


pada pasal ini tanpa adanya tambahan biaya.
a. Dokumen Penyerta Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan dimaksud di dalamnya termasuk pengadaan semua material peralatan,
penyediaan personil, material dan peralatan di site, pemasangan, pengujian atau
pengetesan (Comissioning) dan pemeliharaannya selama masa pemeliharaan yang
ditetapkan untuk pekerjaan sistem Distribusi Listrik. Semua tertera dalam dokumen
penyerta lingkup pekerjaan yang terdapat dalam:
1) SpesifikasiTeknis
2) GambarPerencanan
3) Bill Of Quantity
4) BeritaAcara( Aanwijzing )
5) Addendum
6) HasilKlarifikasiTeknis
Keterangan:
Hal-hal lain yang perludiperhitungkandalampenawaranpekerjaan:
- Penyediaan perlengkapan instalasi dan tenaga yang kompeten
- Penyediaan perlengkapan untuk instalasi pemipaan
- Tenaga-tenaga yang cakap dan berpengalaman.

b. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan ini termasuk pengadaan dan pemasangan semua material,
peralatan, tenaga kerja dan lain-lain untuk pemasangan, pengetesan, commissioning
dan pemeliharaan yang sempurna untuk seluruh instalasi listrik seperti dipersyaratkan
dalam buku ini dan seperti ditunjukkan dalam gambar-gambar perencanaan listrik.
Dalam Pekerjaan ini harus termasuk sertifikat pabrik dari peralatan yang akan
dipakai dan pekerjaan-pekerjaan kecil lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini
yang tidak mungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap perlu
untuk keselamatan dan kesempurnaan fungsi dan operasi sistem distribusi listrik.

c. Uraian Lingkup Pekerjaan


Uraian dari lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Kabel Daya Tegangan Menengah.
Pekerjaan ini termasuk kabel yang menghubungkan GarduTerdekat dengan
Medium Voltage Main Distribution Panel (MVMDP) yang ada di Power House,
menghubungkan MVMDP dan Transformator Distribusi serta seluruh peralatan-
peralatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem instalasi listrik.
2. Panel-Panel Daya Tegangan Menengah atau Medium Voltage Main Distribution
Panel (MVMDP).
Pekerjaan ini meliputi Incoming Panel, Metering Panel (jika dinyatakan dalam
gambar & BoQ) dan Out-going Panel serta peralatan-peralatan bantu yang
dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem instalasi listrik.
3. Transformator Distribusi.
Pekerjaan ini meliputi trafo distribusi (jenis kering dengan isolasi cast resin dan
belitan tembaga) serta kelengkapan-kelengkapan lain yang dibutuhkan sesuai
persyaratan teknis, gambar perencanaan dan persyaratan keamanan lain yang
diperlukan untuk kesempurnaan sistem.
4. Sistem Pembumian Pengaman.
Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang
elektroda pengebumian dan barecopperconductor atau kabel yang
menghubungkan peralatan yang harus dikebumikan dengan elektroda
pembumian termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan sistem ini.
5. Peralatan Penunjang Instalasi.
Pekerjaan ini meliputi kabel tray, sparing,trench, klem dan peralatan-peralatan lain
yang dibutuhkan untuk kesempurnaan Sistem Distribusi Listrik meskipun
peralatan-peralatan ini tidak disebutkan dan digambarkan dengan jelas di dalam
Gambar Perencanaan.

Bab V - 3
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.2.2. STANDAR /RUJUKAN


a. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL – 2011,2020).
b. Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP – 1983).
c. International ElectrotechnicalCommision (IEC).
d. VerbandDeutscherElectrotechniker (VDE).
e. Japanese Industrial Standar (JIS).
f. Standar Nasional Indonesia (SNI).
g. BritishStandars (BS).
h. Spesifikasi Teknis – Galian, Urugan Kembali dan Pemadatan.

5.2.3. KEMAMPUAN OPERASI SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK


a. Pada keadaan normal, seluruh beban dilayani oleh sumber catu daya listrik utama yang
berasal dari Jaringan Tegangan Menengah PLN (20 kV, 3 phasa, 50 Hertz).
b. Pada saat sumber catu daya utama dari PLN mengalami gangguan, secara otomatis
sebagian kebutuhan daya dilayani oleh sumber catu daya cadangan yang berasal dari
Diesel Generating Set.
c. Pada keadaan darurat (terjadi kebakaran), secara otomatis seluruh beban dimatikan oleh
signal listrik yang dikirimkan dari sentral Sistem Pengindera Kebakaran (FACP) kecuali
daya listrik untuk mencatu beban-beban khusus seperti Electric FirePump, Fuel Pump,
danperalatan bantu evakuasi.

5.2.4. PERSYARATAN PERALATAN


a. Kabel Tegangan Menengah
1) Ketentuan Umum
- Kabel tegangan menengah digunakan untuk menghubungkan:
 Gardu PLN dengan MVMDP di Power House
 Antar MVMDP yang telah dituangkan dalam gambar perencanaan
 MVMDP dengan Transformator Daya
2) Kabel kabel listrik yang digunakan harus sesuai dengan standard SNI dan SPLN
atau standard-standard lain yang diakui di negara Republik Indonesia serta
mendapat rekomendasi dari LMK.

b. Data Teknis
1) Jenis kabel : N2XSYGbY multi core atau single core sesuai dengan
gambar perencanaan.
2) Bahan konduktor : Tembaga
3) Isolasi : XLPE
4) Tegangan nominal : 24 kV
5) Ukuran kabel : Sesuai gambar perencanaan.

c. Persyaratan Pemasangan
1) Pemasangan kabel instalasi tegangan menengah harus memenuhi peraturan
PLN dan PUIL atau peraturan lain yang diakui di negara Republik Indonesia.
2) Kabel harus diatur dengan rapi dan terpasang dengan kokoh sehingga tidak akan
lepas atau rusak oleh gangguan gangguan mekanis.
3) Pembelokan kabel harus diatur sedemikain rupa sehingga jari-jari pembelokan
tidak boleh kurang dari 15 kali diameter luar kabel tersebut atau sesuai dengan
rekomendasi dari pabrik pembuat kabel.
4) Setiap ujung kabel harus dilengkapi dengan sepatu kabel tipe press, ukuran
sesuai dengan ukuran luas penampang kabel serta dililit dengan excelciortape dan
difinish dengan bahan isolasi ciut panas yang sesuai.
5) Kabel yang menghubungkan antara gardu PLN dengan MVMDP dan antara
MVMDP dengan Trafo tidak boleh ada sambungan.

Bab V - 4
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

6) Penarikan kabel harus menggunakan peralatan-peralatan bantu yang sesuai dan


tidak boleh melebihi strength dan stressmaximum yang direkomendasikan oleh
pabrik pembuat kabel.
7) Sebelum dilakukan pemasangan/penyambungan, bagian ujung awal dan ujung
akhir dari kabel daya harus dilindungi dengan 'sealingendcable', sehingga bagian
konduktor maupun bagian isolasi kabel tidak rusak.
8) Kabel antara gardu pln dengan MVMDP (di Power House) dipasang dengan cara
ditanam langsung dalam tanah dan Rak Kabel (seperti dalam Gambar
Perencanaan).

d. Panel TeganganMenengah - MVMDP


1) Ketentuan Umum.
- Medium Voltage Main Distribution Panel (MVMDP) terdiri dari panel:
 Incoming Panel, Metering panel
 Outgoing (transformerprotection) Panel & spare
2) MVMDP yang digunakan harus memenuhi SNI dan SPLN atau standard- standard
lain yang diakui di negara Republik Indonesia.
3) MVMDP yang digunakan harus mempunyai rekomendasi untuk dipasang di
daerah tropis.
4) Konstruksi Box Panel
- Panel berupa indoor installation type dan berbentuk kubikal jenis metal enclosed.
- Panel harus terbuat dari plat baja dengan ketebalan untuk dinding minimum 2
mm dan pintu minimum 3 mm, dengan rangka yang terbuat dari besi siku atau
besi plat yang dibentuk dan diberi cat dasar dengan meni tahan karat serta
difinish dengan powdercoating warna abu abu.

e. Pintu Panel, Saklar Pembumian Dan Disconnecting Switch (DS)


1) Pintu panel, saklar pembumian dan Disconnecting Switch (DS) harus interlock
sehingga :
- Pintu panel dapat dibuka bila saklarpembumian telah menutup/ON dan
sebaliknya pintu panel bisa ditutup bila saklar pembumian telah membuka.
- Saklar pembumian dapat ditutup bila DisconnectingSwitch (DS) telah
membuka.
- Disconnecting Switch (DS) dapat ditutup bila Saklar pembumian sudah
terbuka. Tujuan interlock diatas bertujuan untuk keamanan terhadap operator
dan sistem.
- Dalam box panel harus disediakan sarana pendukung kabel yang
dikebumikan (grounding) dan busbar pembumian yang berfungsi untuk dudukan
ujung kabel pembumian.
2) Kelengkapan – kelengkapan
MVMDP dilengkapi dengan komponen-komponen panel sebagai berikut:
- Fuse tegangan menengah,
- Disconnecting Switch,
- Busbar dari tembaga dengan Zincromate,
- Saklar pembumian,
- Terminal ukur,
- Dudukan kabel (terminating),
- Capasitorvoltagedivider,
- Lampu indikator,
- Mimic diagram,
- Penunjuk untuk posisi saklar pembumian,
- Single phase protector.
- Heater.

f. Persyaratan listrik
1) Komponen komponen MVMDP mempunyai persyaratan teknis sebagai berikut:
- Tegangan kerja nominal : 24 kV
- Tingkat ketahanan isolasi (untuk 1 menit) : 50 kV

Bab V - 5
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Basic InsulationLavel : 125 kV


- Arus nominal : sesuai gambar
- Thermalwithstand (1 detik) : 14,5 kA
- Electrodynamicwithstand (sesaat) : 62.5 kA
2) Busbar
- Panel mempunyai tiga buah busbar phasa dan satu bar atau terminal untuk
pembumian yang terbuat dari tembaga dengan ukuran masing-masing 40 x 10
mm.
- Busbar ditempatkan pada compartement yang terpisah.
- Busbar dipasang menggunakan isolator sehingga kokoh dan tahan oleh
gangguan mekanis akibat electrodynamicforce.
3) CircuitBreaker (CB).
- Peralatan switching panel berupa Circuit Breaker dari Tipe Eco Green dengan
mekanisme penutupan dan pembukaannya sangat cepat dan tidak tergantung
kecepatan operator.
- CB dipasang pada 'fixedelement'.
- CB jenis Motorized Vacuum Circuit Breaker
- CB harus interlock dengan ACB trafo di LVMDP, dimana CB masuk terlebih
dahulu kemudian ACB (kondisi ini untuk menghindari Arus start yang sangat
besar/inrushcurrent yang dapat mengakibatkan FuseLink putus).
4) Peralatan Ukur.MVMDP dilengkapi dengan peralatan ukur digital yang terdiri dari:
- Amperemeter,
- Voltmeter,
- kWH-meter,
- Trafo ukur tegangan menengah.

g. Transformator Daya
1) Ketentuan Umum
- Transformator daya yang digunakan harus memenuhi IEC standar dan SPLN
atau standard-standard lain yang diakui di negara Republik Indonesia serta
mendapat rekomendasi dari LMK.
- Transformator yang digunakan harus mempunyai rekomendasi untuk
dipasang di daerah tropis.
- Transformator yang digunakan harus dari jenis Trafo Kering dengan bahan
belitan dirancang dari jenis tembaga dengan isolasi jenis cat resin.
- Index Proteksi IP 20 dan dilengkapi dengan fan.

h. Konstruksi
1) Inti besi harus kokoh sehingga dijamin tidak akan bergetar dan memiliki rugi-rugi inti
kecil.
2) Kumparan terbuat tembaga harus mempunyai ketahanan dielektrik dan mekanik
yang cukup kuat.
3) Selungkup (housing) terbuat dari pelat baja yang di cat dasar tahan karat dan cat
finish berwarna putih.
4) Bushing isolator terbuat dari porcelin.
5) Kelengkapan-kelengkapan Trafo dilengkapi dengan komponen-komponen sebagai
berikut:
- Nameplate.
- Alat memonitor temperatur yang dihubungkan ke:
 Alarm system,
Fancontrolsystem,
 Trippingsystem.
- Kuping pengangkat,
- Tap changer,
- Roda,
- Terminal pengebumian.
- Internal fan.

Bab V - 6
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5) Persyaratan listrik
a. Kapasitas : sesuaigambarperencanaandanharusmampudibebanisampai 150
% selama 2 jam.
b. Tegangankerja nominal
- Sisi primer : 20 kV,
- Sisi sekunder : 400/230 Volt.
- Jumlah phasa :3
- Frekwensi : 50 Hz.
- Hubunganbelitan : DYn-5
- Bahan : Copper
- Test voltage for 1 minute :
* Primary Winding : 50 KV
- Isolasi : Klass A
- Kenaikan temperaturpada winding oil : max. 65º
c. Perlengkapan
Tranformator dilengkapi dengan:
- Thermometer
- RTS
- Roda
- Lifting eye
- Elastimold bushing
- Grounding

6) Persyaratan Pemasangan.
a. Trafo ditempatkan pada ruang trafo seperti terlihat dalam gambar
perencanaan.
b. Trafo dipasang pada dudukan setempat dengan perkuatan sedemikian rupa
tidak akan bergeser oleh gangguan mekanis.

7) Pengujian dan Commissioning/Testing.


a. Kontraktor harus melakukan semua pengujian dan pengukuran yang dianggap
perlu oleh Pengawas Lapangan untuk memastikan bahwa seluruh instalasi
dapat berfungsi dengan baik dan memenuhi semua persayaratan.
b. Peralatan, fasilitas pengujian, pengawasan pengujian dan pemeliharaan
peralatan agar tetap dalam kondisi baik, harus diadakan oleh Kontraktor.
c. Catatan pengujian harus dibuatoleh Kontraktor dan diserahkan secara resmi
kepada Pengawas Lapangan sebelum serah terima pekerjaan.
d. Pengujian dan uji pengoperasian akan ditentukan oleh Pengawas Lapangan.
e. Seluruh peralatan harus lulus uji fungsional dan ujielektris
f. Kabel-kabel feeder sebelum dan sesudah dipasang harus lulus uji tahanan
isolasi. Tahanan isolasinya dari semua bagian yang tidak diketanahkan baik
antara hantaran maupun antara hantaran dan tanah, prosedur sesuai
ketentuan yang berlaku di PUIL, IEC maupun VDE sesuai yang disepakati
bersama
g. Kabel-kabel feeder sebelum dan sesudah dipasang harus lulus uji kontiunitas.
h. Dalam masa pemeliharaan pekerjaan system elektrikal ini, kontraktor wajib
mengatasi segalakerusakan dan kekurangan.
i. Kontraktor bertanggung-jawab mengganti setiap peralatan/perlengkapan yang
rusak sampai pada saat pemeriksaan terakhir dan penyerahan kepada
Pengawas Lapangan.
j. Kontraktor harus menyerahkan kepada Pengawas Lapangan semua buku asli
petunjuk/manual pemeliharaan dan cara pengoperasiannya dalam bahasa
Inggris dan Indonesia, yang selanjutnya akan diteruskan kepada Pemilik
Proyek.

Bab V - 7
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.3. PERSYARATAN GENERATOR SET (GENSET)


5.3.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini mencakup pengangkutan, pengadaan bahan, tenaga kerja, peralatan
serta pemasangan dan pengujian unit pembangkit listrik, sehingga dapat berfungsi dengan
baik dan dengan hasil pengerjaan yang terbaik.

5.3.2. STANDAR / RUJUKAN


1) Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL).
2) Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP).
3) International Electrotechnical Commission (IEC).
4) Verband Deutcher Electrotechniker (VDE).
5) British Standard (BS).
6) Spesifikasi Teknis Pekerjaan Sipil.
7) Spesifikasi Teknis Sistem Elektrikal.

5.3.3. PROSEDUR UMUM


a. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan
1) Sebelum diadakan/didatangkan ke lokasi, contoh dan/atau brosur/data teknis
bahan/barang/peralatan untuk pekerjaan ini harus diajukan terlebih dahulu kepada
Pengawas Lapangan untuk disetujui.
2) Kontraktor harus membuat daftar yang lengkap untuk bahan, barang, dan peralatan
yang akan digunakan, dan menyerahkannya kepada Pengawas Lapangan untuk
mendapat persetujuan dengan dilampiri brosur-brosur yang lengkap dengan data
teknis serta performance dari peralatan.
3) Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh Kontraktor harus disertai dengan
Surat Keterangan Keaslian Barang (Letter of Origin) dari pabrik pembuatnya
(Manufacturer) atau agen utamanya (Authorized Dealer/Agent).

b. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)


1) Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan sistem
elektrikal kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui.
2) Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan sebelum pengadaan bahan agar
diperoleh cukup waktu untuk pemeriksaan dan tidak ada tambahan waktu bagi
Kontraktor bila mengabaikan hal ini.
3) Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi detail-detail yang diperlukan.
4) Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja yang satu dengan Gambar Kerja yang lain
atau antara Gambar Kerja dengan Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus
melaporkannya kepada Pengawas Lapangan untuk dicarikan jalan keluarnya.
5) Gambar Kerja Elektrikal hanya menunjukan tata letak bahan dan peralatan, jalur
kabel dan sambungan-sambungan.
6) Gambar Kerja ini harus diikuti dengan seksama.
7) Dalam mempersiapkan Gambar Detail Pelaksanaan, dimensi dan ruang gerak yang
digambarkan dalam Gambar Kerja Arsitektur, Struktur dan Gambar Kerja lainnya
yang berkaitan, harus diperiksa.
8) Kontraktor harus dengan teliti memeriksa kebutuhan ruangan dengan Kontraktor
lain yang mungkin bekerja pada lokasi yang sama untuk memastikan bahwa semua
peralatan dapat dipasang pada tempat yang telah ditentukan.

c. Pengiriman dan Penyimpanan


1) Semua bahan dan peralatan yang didatangkan harus dalam keadaan baik, baru,
bebas dari segala cacat dan dilengkapi dengan label, data teknis dan data lain yang
diperlukan.
2) Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh Kontraktor harus disertai dengan
surat jaminan keaslian barang (Letter of Origin) dan mempunyai jaminan serta
garansi (Warranty).

Bab V - 8
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

3) Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada tempat yang
aman dan terlindung dari kerusakan.
4) Unit Genset yang akan digunakan harus sudah lulus uji di pabrik pembuatnya, dan
saat didatangkan ke lokasi harus dilengkapi dengan sertifikat pengujian pabrik, yang
minimal mencantumkan data berikut :
 Tipe motor diesel
 Nomor seri/nomor produksi
 Daya
 Tegangan kerja dan frekuensi
 Putaran
 Pengujian daya dan beban
 Sistem pendinginan
 Faktor daya dan kelas isolasi
 Dimensi dan berat

d. Ketidaksesuaian
1) Pengawas Lapangan berhak menolak semua bahan yang didatangkan atau
dipasang yang tidak memenuhi ketentuan dalam Gambar Kerja dan/atau Spesifikasi
Teknis.
2) Kontraktor harus segera memperbaiki dan/atau mengganti setiap pekerjaan yang
tidak sesuai, tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
3) Bila bahan-bahan yang akan didatangkan ternyata menyimpang atau berbeda
dengan yang ditentukan, Kontraktor harus terlebih dahulu membuat pernyataan
tertulis yang menjelaskan usulan penggantian, dengan maksud bila diterima, akan
segera diadakan penyesuaian. Bila Kontraktor mengabaikan hal di atas, Kontraktor
bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan sesuai Gambar Kerja.

5.3.4. BAHAN-BAHAN
a. Umum
1) Unit Genset yang terdiri dari ENGINE dan AC GENERATOR / ALTERNATOR,
harus berkualitas baik, baru, tidak rusak dan dari merek yang dikenal seperti merek
sesuai outline spek.
2) Unit Genset harus didatangkan langsung dari Pabrik pembuatnya secara lengkap
berikut segala sertifikat uji dan kelengkapan lainnya yang merupakan standar pabrik
dan optional, yang juga memberikan Layanan Purna Jual untuk Perawatan,
Perbaikan, dan Penggantian Suku Cadang.
3) Sebelum dikirim ke lokasi Proyek, terlebih dahulu harus dilakukan Factory Test
(dengan menggunakan Dummy Load / Load Bank) yang dilaksanakan di
Warehouse Pabrik pembuatnya dan disaksikan oleh Pengawas Lapangan.
4) Sebelum dikirim ke lokasi Proyek, terlebih dahulu harus dilakukan Factory Test
(dengan menggunakan Dummy Load / Load Bank) yang dilaksanakan di
Warehouse Pabrik pembuatnya dan disaksikan oleh Pengawas Lapangan.
5) Jenis, Rating dan Klasifikasi
a) Unit Genset harus dari jenis Packaged Diesel-Electric Generating Set dengan
Jacket Water Cooled Radiator Mounted Diesel Engine.
b) Rating Genset adalah Continuous Output pada kondisi kerja sebagai berikut:
Duty : stand-by,
Drive : directly coupled,
Speed : 1500 rpm nominal,
Engine Power : minimal 650 kVA pada 1500 rpm,
Altitude : 0 m di atas muka laut,
Suhu Udara : 30 - 45 °C-grade,
Kelembaban Udara : 70 - 95%
c) Generator Output
Tegangan : 400 V/231 V ± 5%,
Phasa :3
Frekuensi : 50 Hz,

Bab V - 9
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

Daya Netto : Sesuai dengan gambar perencanaan.


Power Factor : 0,80
d) Harus mampu beroperasi sebagai continuous duty, untuk itu harus mampu
dibebani 10% di atas ratingnya selama 1 (satu) jam di dalam 12 jam operasi
pada kecepatan nominal tanpa terjadi “overheating” pada engine maupun
altenator dan mampu beroperasi pada beban nominal terus menerus selama 24
jam.
e) Mampu dibebani sebesar nominal daya outputnya dan PF = 0,8 pada waktu 10
(sepuluh) detik setelah cranking yang berhasil.
f) Dilengkapi peralatan bantu starting sesuai standard / ketentuan pabrik pembuat
(manufacturer) sehingga persyaratan tersebut di atas dapat dipenuhi.

b. Diesel Engine
1) Engine harus dari jenis high speed stationery diesel engine khusus untuk penggerak
sistem pembangkit listrik.
2) Engine Features, harus mengikuti ketentuan berikut:
 Heavy Duty Diesel Engine
 Jacket Water Cooled
 2 atau 4 Strokes Engine Type
 Turbocharged dengan Aftercooled.
 Replaceable Cylinder Liners.
 Replaceable Valve Seat Inserts.
 Main Bearing Caps harus diikat secara Cross-tie terhadap Crankcase.
3) Base frame diperbolehkan menggunakan produk lokal dengan konstruksi sesuai
dengan konstruksi asal dari pabrik pembuat unit mesin diesel, tetapi harus disertai
surat pernyataan yang menjamin kekuatannya, dan dilengkapi dengan peralatan
tambahan untuk peredaman getaran (Vibration Mounting).

c. Sistem Pendingin
1) Pendinginan menggunakan sistem cylinder jacket water cooled dengan bantuan
penukar panas radiator.
2) Harus mampu mendinginkan bagian-bagian engine secara baik.
3) Air pendingin disirkulasikan dengan cooling water pump dari jenis Neoprene
Impeller Pump atau setara yang digerakkan langsung dari putaran poros engkol
atau melalui transmisi roda gigi.
4) Sistem dilengkapi dengan cooling water flow control yang akan memberikan
peringatan bila terjadi kondisi aliran air pendingin terhenti dan kontrol tersebut
mematikan mesin.
5) Water temperature pada sisi engine outlet tidak boleh melebihi 93ºC (200º
Fahrenheit).

d. Radiator
1) Harus dari Heavy Duty Heat Exchanger.
2) Dilengkapi dengan “Jacket Water Heater”, dikontrol oleh “Adjustable Thermostat”.
3) Dilengkapi Silencer dan Attenuator.
e. Sistem Start
1) Sistem starter menggunakan DC electric motor.
2) Sistem pengisian batere menggunakan dua cara yaitu pengisian dari altenator
mesin bila diesel dalam keadaan operasi dan sistem pengisian secara otomatis dari
batere charger.
3) Kapasitas batere harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk starting, dan
dilengkapi dengan Automatic Battery Charger dan Voltage Regulator.

f. Sistem Supply Udara (Intake/Respiration)


1) Harus melalui saringan udara dengan kemampuan saring terkecil untuk partikel 50
micron.
2) Melalui Turbocharged dan Aftercooler.

Bab V - 10
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

g. Sistem Pembuangan (Exhaust-gas)


1) Exhaust pipe diameter harus disesuaikan dengan kemampuan engine back
pressure, dengan memperhitungkan adanya muffler sesuai dengan yang
disyaratkan.
2) Sambungan exhaust pipe dengan engine exhaust port harus menggunakan bellow
type exhaust pipe joint (flexible joint) yang memiliki kemampuan expansi-kontraksi
thermal sebesar 25 mM dan kemampuan geser sebesar 25 mM.
3) Pada bagian pemipaan yang dapat dijangkau oleh orang atau lebih rendah dari 2.10
m harus dilapisi dengan bahan isolasi seperti asbes tali diameter minimal 10 mM
sehingga suhu permukaan tidak melebihi 30ºC pada suhu engine exhaust port
sebesar 565ºC (1000ºF) dan dilapisi metal jacketing.
4) Pemipaan harus dibuat miring dengan slope sebesar 0,5% ke arah menjauhi engine
dan dilengkapi dengan drain cock dan condensation trap.
5) Tidak diperkenankan menggunakan sharp bend harus menggunakan long radius
elbow untuk belokan dan standard tee untuk condensate trap.
6) Seluruh bagian pemipaan dan muffer harus digantung dengan konstruksi gantungan
seperti pada gambar detail.

h. Muffler
1) Muffler harus dari jenis Multi Chamber Reactive Muffler kelas residential.
2) Muffler harus dipasang sedekat mungkin terhadap engine exhaust port.
3) Pemipaan yang menembus dinding atau lantai dan semacamnya harus tidak
menyebabkan atau mendapat tekanan/tarikan dan getaran.
4) Pemipaan, penggantung, penjepit dan semacamnya harus dicat dengan cat
alumunium khusus tahan temperatur sampai dengan 500ºC.

i. Sistem Pelumasan (Lubrication)


1) Minyak pelumas harus disirkulasikan dengan bantuan positive displacement oil
pump dari jenis rotary atau gear pump.
2) Harus dilengkapi oil filter.
3) Pompa harus digerakkan langsung dari putaran poros mesin diesel atau melalui
transmisi roda gigi.
4) Harus dilengkapi dengan Lubricant Oil Pressure Control yang akan memberikan
peringatan bila kondisi tekanan minyak pelumas mengalami penurunan hingga di
bawah batas terendah yang diperbolehkan, dan kontrol tersebut akan menghentikan
kerja mesin diesel.

j. Sistem Pengaturan Putaran


1) Harus menggunakan Constant Speed Governor dari jenis electronic sesuai petunjuk
/ standard manufacturer.
2) Harus mampu mengatur putaran dalam range 3% dari putaran nominal nya saat
ada kejutan-kejutan listrik.

k. Sistem Bahan Bakar


1) Bahan-bakar yang dipergunakan adlah Diesel Fuel Oil (Minyak Solar).
2) Spesifikasi bahan bakar sesuai dengan persyaratan PERTAMINA setempat.
3) Pengiriman bahan bakar dari Daily Tank ke Injector menggunakan Fuel Injection
Pump built-in pada engine.
4) Dilengkapi built-in Fuel Strainer di sisi hulu pompa dan water separator.
5) Strainer harus mampu menyaring partikel yang lebih besar dari 10 micron.

l. Pengisi Batere Otomatis (Battery Charger)


1) Harus dari jenis Float Type Charger.
2) Charger dihubungkan ke jala-jala dan dilengkapi dengan sistem pengatur yang
secara otomatis akan melakukan charging bila tegangan turun hingga mencapai
95% nominal.

Bab V - 11
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

m. Kontrol dan Instrumentasi (EGC)


Genset harus dilengkapi dengan pengaman otomatis terhadap kondisi:
 High Engine Temperature
 Low Water Temperature
 Low Coolent Level
 Low Oil Pressure
 Low Fuel
 Low Battery Voltage
 Over Crank
 Over Speed

n. Alternator
1) Konstruksi
 Merupakan generator sinkron dengan rotor silinder yang dilengkapi dengan
damper cage dan reactive current compensator.
 Direncanakan untuk daerah tropis sehingga mampu beroperasi normal di atas
suhu 35ºC dan kelembaban udara sampai 90%.
2) Penguatan medan excitation dari exciter yang dipasang satu as dengan rotor.
Catuan arus medan secara brushless, dapat dikontrol secara otomatis dari
rangkaian elektronik

o. Data Teknis
1) Daya output nominal (sesuai dengan skedul).
2) Tegangan output 380 V, 3 phasa dengan minimum 4 kawat dan tegangan dapat
diatur dalam batas kecepatan 5%.
3) Frekuensi 50 Hz.
4) Isolasi kelas F.
5) Effisiensi di atas 90% pada variasi beban 50% hingga 110% pembebanan nominal.
6) Pengatur tegangan tidak lebih dari 1% baik pada saat alternator dingin maupun
panas, pada saat PF = 0,8 maupun PF = 1.
7) Response pada beban penuh dan PF = 0,8 tegangan output mencapai steady pada
toleransi +2% dapat dipenuhi dalam waktu 0,25 detik.
8) Overload secara kontinyu maupun sesaat, harus dapat menahan overload curent
sampai 110% selama 1 jam dan 150% selama 120 detik.
9) Pendinginan harus secara axial dengan suatu fan dan dilengkapi filter udara dan
alarm atau peralatan generator tripping dalam hal filter jenuh atau terjadi kenaikan
temperatur pada stator.
10) Exciter ditempatkan dalam arah aliran udara pendingin.

p. Panel Kontrol Generator


1) Konstruksu Panel Kontrol Generator merupakan floor standing indoor installation
type.
2) Panel terbuat dari steel plate dengan ketebalan minimal 3 mM dicat dasar tahan
karat dan cat finish warna abu-abu.
3) Panel kontrol mempunyai pintu yang dilengkapi dengan kunci dan operating handle
yang berada pada sisi sebelah luar pintu.
4) Panel kontrol dilengkapi dengan gambar, diagram yang memperlihatkan hubungan
komponen panel kontrol dengan peralatan-peralatan yang dikontrolnya dan
dilengkapi dengan lampu-lampu indikator yang ditempatkan pada diagram tersebut
di atas.

5) Fungsi
o Panel kontrol generator harus dapat melakukan fungsi-fungsi kontrol sebagai
berikut:
o Pengaturan start-stop mesin diesel
o Pengaturan kecepatan, beban dan lainnya sesuai Spesifikasi Teknis.
o Mengindikasikan tipe gangguan yang terjadi.

Bab V - 12
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

o Bersama-sama dengan atas di panel LV.MDP mampu melakukan pemindahan


beban dari genset ke PLN dan sebaliknya.
o Pengaturan di atas harus dapat dilakukan secara manual dan otomatis
sehingga harus disediakan mode selector switch untuk operasi manual dan
otomatis.
6) Peralatan Ukur
Pada panel kontrol disediakan peralatan-peralatan alat ukur listrik seperti:
 AC voltmeter
 AC amperemeter
 Frequency meter
 KWh Meter
 Cos Phi meter

q. Operasi Sistem Emergency


1) Menghidupkan mesin secara otomatis bila sumber PLN hilang dengan jumlah dan
selang waktu cranking yang dapat diatur dengan maksimal waktu 20 detik.
2) Mematikan mesin secara otomatis bila beban telah dialihkan kembali ke PLN.
3) Dapat memberi alarm bila terjadi kegagalan dalam usaha menghidupkan mesin
diesel dan kegagalan pemindahan beban.
4) Memindahkan beban listrik ke genset secara otomatis dengan selang waktu yang
dapat diset antara 10 - 60 detik setelah cranking yang berhasil.
5) Memindahkan kembali beban ke PLN jika PLN hidup/normal kembali dengan selang
waktu yang dapat diset antara 5 sampai dengan 15 menit setelah PLN hidup/normal
bila operasi diset pada kondisi otomatis.
6) Genset tidak boleh mati/berhenti beroperasi/rusak walaupun beban preference yang
bekerja/on hanya 5% atau kurang dari nominal bebannya.

5.3.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Umum
1) Peralatan yang dipasang harus sesuai dengan persetujuan yang telah diberikan,
serta sesuai dengan data-data dalam sertifikat pengujian Pabrik.
2) Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan:
o Daftar bagian bahan (spare part)
o Buku petunjuk pengoperasian dan pemeliharaan
3) Pemasangan harus dilaksanakan sesuai dengan Gambar Detail Pelaksanaan yang
telah disetujui dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Gambar
Kerja, Spesifikasi teknis ini serta petunjuk dari pabrik pembuat.

b. Pemasangan
1) Motor diesel harus dipasang sesuai dengan petunjuk pemasangan dari pabrik
pembuatnya.
2) Pembuatan landasan/pondasi khusus untuk motor diesel harus disesuaikan dengan
dimensi motor diesel tersebut dan telah memperhitungkan jarak bersih yang
dibutuhkan untuk pengoperasian dan pemeliharaan sesuai dengan petunjuk pabrik
pembuatnya.
3) Pembuatan landasan/pondasi beton harus sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis
Beton cor ditempat.

c. Pengujian Pengoperasian
1) Bila pemasangan motor diesel beserta kelengkapannya telah selesai, Kontraktor
harus melakukan semua pengujian dan pengukuran yang dianggap perlu untuk
mengetahui bahwa keseluruhan instalasi motor diesel berfungsi dengan baik dan
memenuhi persyaratan / ketentuan pengujian yang telah dilaksanakan di pabrik
pembuat.
2) Pengujian harus disaksikan Pengawas Lapangan.
3) Kontraktor harus menyerahkan kepada pemilik Proyek melalui Pengawas Lapangan
o Buku Manual Pengoperasian dan Pemeliharaan Peralatan berikut salinannya
dalam jumlah tertentu

Bab V - 13
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

o Spare part book.


o 1 (satu) set standard tool sesuai dengan spesifikasi dari pabrik pembuat.
o Sesuai persyaratan kontrak.

d. Sertifikat Keamanan / Tera


Kontraktor harus melengkapi Sertifikat Keamanan/Tera dari instansi berwenang untuk:
 Sistem Genset, StorageTank, Daily Tank : Depnaker & PLN
 Flow meter, Stick ukur volume tangki, dan kWh-meter : Metrologi

e. Surat Jaminan / Warranty dan Training


1) Kontraktor harus memberikan jaminan perbaikan, penggantian, atau penyesuaian
yang diperlukan atas produk Diesel Genset, atas kerusakan-kerusakan yang
disebabkan oleh :
o Kesalahan pada saat pembuatan (Material Defect)
o Kesalahan pada saat pemasangan / instalasi.
o Kesalahan yang bukan karena kesalahan pengoperasian.
2) Jangka waktu jaminan atau masa garansi paling sedikit 1 (satu) tahun sejak
penyerahan setelah dilakukan pengujian dan commissioning test, atau sesuai
standard jaminan dari pabrik pembuat genset (manufacturer).
3) Kontraktor harus memberikan pelatihan / training mengenai standard prosedur
pengoperasian mesin Diesel Genset kepada petugas yang ditunjuk oleh pemilik
proyek sampai benar-benar menguasainya dengan baik dan benar.

5.4. DISTRIBUSI TEGANGAN RENDAH


5.4.1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, peralatan dan bahan serta pemasangan
berikut penyerahan sistem elektrikal dalam keadaan baik dan siap untuk dipergunakan.
Pekerjaan ini mencakup tetapi tidak terbatas pada hal-hal berikut :
- Panel-panel TR yang akan dipasang pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam
Gambar Perencanaan.
- Khusus untuk Panel LVMDP, MDP yang ada di setiap substation dan SDP yang ada di
setiap gedung dipersyaratkan harus difabrikasi oleh Panel Maker yang sudah memiliki
sertifikasi Type Test serta dirancang menggunakan form agregasi jenis 3B.
- Jaringan kabel feeder, busbar trunking dari sumber daya yang ada ke panel-panel seperti
ditunjukkan dalam Gambar Perencanaan.

5.4.2. STANDAR / RUJUKAN


Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL – 20110).
1. Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP – 1983).
2. International Electrotechnical Commision (IEC).
3. Verband Deutscher Electrotechniker (VDE).
4. Japanese Industrial Standar (JIS).
5. Standar Nasional Indonesia (SNI).
6. British Standars (BS).
7. Spesifikasi Teknis – Galian, Urukan Kembali dan Pemadatan.

5.4.3. KONSTRUKSI PANEL DISTRIBUSI


1. Panel distribusi yang tertera dalam gambar perencanaan merupakan system Smart Panel
yang akan difungsikan untuk integrasi dengan BAS/BMS dan pengoperasian secara
remote dari Ruang Kontrol sebagai pusat komando operasi.

2. Integrasi yang dimaksud meliputi operasi On/Off untuk pemadaman maupun penyalaan
secara Remote, Pengukuran secara remote baik untuk pengukuran energi listrik, daya,
arus, tegangan sampai pada tingkat mengetahui besarnya harmonisa arus dan tegangan

Bab V - 14
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

bahkan di tingkat Panel LVMDP, MDP dan SDP harus terdapat fasilitas untuk melakukan
remote setting tentang selektifitas serta karakteristik seluruh Circuit Breaker yang
dipasang.

3. Panel Distribusi Tegangan Rendah (LVMDP / MDP, SDP & PP/LP), seperti yang tertera
pada gambar perencanaan, kecuali ditunjuk lain. Seluruh Assembly termasuk housing,
busbar, alat – alat pelindung harus direncanakan, dibuat, dicoba dan dimana perlu
diperbaiki sesuai dengan persyaratan. Panel Distribution Tegangan Rendah dan Panel
Penerangan & Daya harus dari jenis indoor type terbuat dari plat baja, dimana
mempunyai kekuatan Mekanikal dengan IK10 dan dibuat mengikuti standar SNI-IEC
61439-1&2

4. Form Segregasi dari Panel Distribusi Tegangan Rendah untuk Panel LVMDP dan MDP
harus Form 3B (minimum) dan untuk Panel PP dan LP harus minimum Incoming &
Outgoing Form 2B Non Type Tested mengikuti standar SNI-IEC 6139-1&2. Indeks
Proteksi pada Panel Distribusi Tegangan Rendah (PDTR) harus memenuhi standar IP
54.

5. Kontruksi harus terbuat dari rangka baja struktur yang kaku, yang bisa mempertahankan
strukturnya oleh stress mekanis pada waktu hubungan singkat. Rangka ini secara
lengkap di bungkus pada bagian bawah, atas dari sisi dengan plat-plat.

6. Penutup harus cukup louvers untuk ventilasi dimana perlu untuk mengatasi kenaikan
suhu dari bagian-bagian yang mengalirkan arus dan bagian-bagian yang bertegangan
sesuai dengan persyaratan PUIL-2011 dan SNI-IEC 61439-1&2 untuk peralatan yang
tertutup.

7. Material-material yang bertegangan harus di cegah dengan sempurna terhadap


kemungkinan percikan air. Semua meteran dan tombol transfer yang dipersyaratkan
harus di kelompokan pada satu papan panel yang berengsel dan tersembunyi.

8. Setiap panel yang akan di remote dari sistem BMS atau BAS harus dilengkapi fasilitas
dry contact.

5.4.4. MODUL KOMUNIKASI


1. Komponen Incoming Circuit Breaker (ACB,MCCB,MCB) yang berada di LVMDP, MDP,
SDP dan Panel Penerangan dan Daya harus di beri modul Komunikasi, di mana
fungsinya membuat pengelolaan energy didalam gedung menjadi lebih sederhana, aman
dan lebih efisien yang tentunya berdampak langsung pada efisiensi energy melalui 3
langkah : Mengukur, Menghubungkan dan Menyimpan Data. Modul komunikasi pada
tiap-tiap panel tersebut diperlukan untuk mengintegrasikan pemutus ke dalam system
supervise (IBMS/BAS), sehingga fungsi proteksi, control dan monitoring dapat dilakukan
dari jarak jauh, seperti :
a. Identifikasi Pemutus
b. Indikasi status dan kondisi pemutus
c. Setting fungsi proteksi dan alarm
d. Analisa parameter – parameter daya arus bolak balik untuk keperluan
pengoperasian dan pemeliharaan.
2. Komponen breaker (ACB, MCCB, dan MCB) yang mempunyai modul komunikasi yaitu
Ethernet, Modbus atau modul komunikasi lainya dan dapat dihubungkan dengan Building
Management System (BMS) atau Building Automation System (BAS). Modul komunikasi
tidak hanya memonitor status Breaker tapi juga mengontrol Breaker tersebut seperti ON,
OFF dan Trip. Fungsi kontrol tersebut bisa dijalankan baik itu secara Manual melalui
perintah dari Lokal (Push button di Panel) maupun secara Remote (dari BMS atau BAS).

Bab V - 15
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

3. Mempunyai fasilitas Digital Metering tersentralisasi yang mempunyai modul komunikasi


Ethernet dengan Global Accuration 0.2 sehingga memungkinkan untuk memonitor,
mengatur, mengaanlisa dan profiling pengukuran parameter daya.
4. Komponen ACB harus menggunakan fasilitas digital trip unit dan MCCB harus dilengkapi
elektronik trip unit yang keduanya dilengkapi motorize dan assesories pendukung untuk
di remote dari BMS atau BAS.

5.4.5. KEMAMPUAN OPERASI SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK


1. Pada keadaan normal, seluruh beban dilayani dari catuan daya listrik utama di Power
House Existing, yang berasal dari Jaringan Tegangan Menengah PLN 20kV yang telah
dikonversi oleh Unit Trafo Distribusi menjadi bertegangan 380 V, 3 phasa, 50 Hertz.
2. Pada saat sumber catu daya utama dari PLN mengalami gangguan, secara otomatis
beban daya berpindah dengan sistem ATS (Automatic Transfer Switch) dan kebutuhan
daya tersebut dilayani oleh sumber catu daya cadangan yang berasal dari Diesel
Generating Set.
3. Pada keadaan darurat (terjadi kebakaran), secara otomatis seluruh beban pada gedung
yang mengalami kebakaran akan dimatikan oleh signal listrik yang dikirimkan dari
sentral Sistem Pengindera Kebakaran (FACP) kecuali daya listrik untuk mencatu
beban-beban khusus seperti Electric Fire Pump, Fuel Pump lift kebakaran, peralatan
bantu evakuasi.

5.4.6. PROSEDUR UMUM PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan.

1) Sebelum diadakan ke lapangan, contoh dan/atau brosur/data teknsi


bahan/peralatan untuk pekerjaan sistem elektrikal tersebut harus diajukan dahulu
kepada Konsultan MK untuk disetujui.
2) Kontraktor harus membuat daftar bahan/peralatan yang akan digunakan dan
menyerahkannya kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui.

b. Gambar Detail Pelaksanaan.

1) Sebelum pelaksanaan pekerjaan sistem elektrikal dimulai, Kontraktor harus


membuat dahulu Gambar Detail Pelaksanaan serta diajukan kepada Pengawas
Lapangan untuk mendapatkan persetujuan.
2) Dalam membuat Gambar Detail Pelaksanaan dan dalam pelaksanaan pekerjaan,
Kontraktor harus bekerja sama dengan Kontraktor lain yang mungkin bekerja pada
lokasi yang sama agar seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar sesuai
dengan waktu yang ditetapkan.
3) Kontraktor harus membuat Gambar Kerja yang diperlukan untuk mendapatkan ijin
dari PLN.
4) Gambar Kerja Elektrikal hanya menunjukkan secara garis besar letak dari
peralatan, instalasi, jalur kabel, titik penomoran pada sambungan-sambungan.
Pemasangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi setempat
lapangan.

c. Pengiriman dan Penyimpanan.

1) Semua bahan dan peralatan yang didatangkan dan akan dipasang harus dalam
keadaan baru, tidak rusak, bukan barang bekas dan tidak bercacat dan harus
dilengkapi dengan data teknis yang jelas yang menyebutkan bahwa bahan-bahan
tersebut sesuai dengan yang telah disetujui.
2) Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada tempat yang
aman dan terlindung dari kerusakan.

Bab V - 16
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

d. Ketidaksesuaian.

1) Bila bahan-bahan yang didatangkan ternyata menyimpang atau tidak sesuai dengan
yang telah disetujui, maka Kontraktor wajib menggantinya dengan bahan yang
sesuai dan yang disetujui Pengawas Lapangan.
2) Biaya yang ditimbulkan karena hal di atas menjadi tanggung jawab Kontraktor
sepenuhnya dan tanpa tambahan waktu.

e. Persyaratan Lainnya.

1) Pekerjaan sistem elektrikal harus dilaksanakan oleh Kontraktor yang terdaftar di


PLN dan memliki surat ijin dari PLN yang masih berlaku, minimal pas PLN kelas C,
dan sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.
2) Kontraktor diwajibkan untuk mendidik petugas-petugas dari Pemilik Proyek
sehingga memahami seluruh sistem elektrikal ini dan dapat menjalankannya
dengan baik.
3) Dalam hal ada perbedaan antara satu pernyataan dengan pernyataan lain atau
antara Gambar Kerja dan Spesifikasi Teknis ini, maka Kontraktor harus
menginformasikan masalah tersebut kepada Pengawas Lapangan untuk
pemecahannya.

5.4.7. BAHAN – BAHAN


a. Panel.
1) Panel harus dari tipe pemasangan sesuai petunjuk Gambar Kerja, terdiri dari unit
tertutup yang dilengkapi dengan pintu depan dan bagian belakang panel yang dapat
dibuka.
2) Kecuali ditentukan lain, rangka panel harus dibuat dari baja pelat tebal minimal
2mm, bak untuk panel daya maupun panel penerangan dan lainnya dengan dimensi
sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
Panel harus dibuat pada rangka yang kuat dengan pengaku dan penumpu yang
dibutuhkan.
3) Setiap panel harus menggunakan cat bakar dalam warna sesuai Skema Warna
yang akan diterbitkan terpisah.
4) Pintu panel dipasang ke badan panel menggunakan engsel sebanyak 2 buah, dan
pintu panel harus dilengkapi dengan kunci tipe lock handle, yang semuanya harus
berasal dari kualitas terbaik.
5) Sekeliling bidang bukaan/pintu panel harus dilengkapi dengan gasket untuk
mencegah masuknya debu dan air.
6) Tipe dan besaran komponen panel yang akan dipasang harus sesuai dengan
ketentuan dalam Gambar Kerja atau disesuaikan dengan tipe peralatan yang
digunakan.
7) Komponen-komponen pengaman yang dipakai harus dari tipe mini circuit breaker,
moulded case circuit breaker dan air circuit breaker, kecuali bila ditentukan lain
dalam Gambar Kerja.
8) Setiap pintu panel harus dilengkapi dengan lampu indicator pentunjuk fasa serta
lampu pijar yang ditempatkan di dalam panel yang semuanya harus berasal dari
kualitas terbaik. Kabel untuk lampu-lampu tersebut harus dari jenis yang tahan
terhadap hubung singkat.
9) Khusus untuk Panel LVMDP yang ada di setiap substation dan MDP yang ada di
setiap gedung dipersyaratkan harus difabrikasi oleh Panel Maker yang sudah
dirancang menggunakan form agregasi jenis 3B.

Bab V - 17
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

b. Kabel.
1) Kabel-kabel feeder untuk penanaman langsung pada 600V/1kV atau lebih rendah,
harus dari Jenis NYFGbY (SNI 04-2700-1992), dengan ukuran yang sesuai
ketentuan Gambar Kerja.
2) Kecuali ditentukan lain dalam Gambar Kerja, kabel daya dan penerangan yang
dipasang di dalam conduit untuk tegangan kerja 600V/1kV atau lebih rendah, harus
dari tipe NYY (SNI 04-2701-1992) atau NYM (SNI 04-2699-1992) seperti
ditunjukkan dalam gambar perencanaan.
3) Kecuali ditentukan lain, standar warna kabel yang digunakan adalah sebagai
berikut:
- Netral : Biru
- Ground : Hijau – Kuning
- Fasa : Merah, Hitam, Kuning
4) Alat penyambung kabel/mof harus dari merek atau 3M yang dikenal atau dari jenis
yang sesuai dengan tipe kabel yang akan disambung.

c. Konduit.
1) Konduit untuk kabel-kabel yang menuju stop kontak, saklar, titik lampu dan
peralatan harus terbuat dari pipa high impact uPVC tipe high impact dengan kode
angka 332112 yang memenuhi standar BS 6099, dengan diameter sesuai petunjuk
Gambar Kerja.
2) Kabel yang ditanam dalam tanah, dibawah atau melintang jalan dan perkerasan
harus ditempatkan dalam konduit yang terbuat dari pipa baja lapis galvanis kelas
medium standar SNI 07-0039-1987 atau pipa PVC kelas 8kg/cm2 yang memenuhi
standar SNI 06-0084-1987, dengan diameter sesuai Gambar Kerja.
3) Konduit fleksibel harus terbuat dari pipa lentur uPVC yang memenuhi standar BS
4607, digunakan pada tempat-tempat tertentu sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
Konduit fleksibel ini harus tahan cuaca, panas, tidak mudah pecah, serta kedap air
dan debu.

d. Rak Kabel.
Rak kabel harus terbuat dari baja lembaran berlubang lapis seng/galvanis, dengan tipe
lengkap tutup, bentuk dan dimensi sesuai Gambar Kerja.

e. Soket dan Saklar.


1) Stop kontak, baik tipe tunggal maupun ganda, dengan kontak pembumian disisi-
sisinya, harus dari tipe pemasangan terbenam (lengkap dengan kotak) dan harus
memenuhi standar CEE7.
Kapasitas minimal stop kontak adalah 250V 16A, tipe tunggal dan ganda.
Stop kontak yang dipasang pada ketinggian sesuai petunjuk dalam Gambar Kerja.
2) Saklar, baik tipe tunggal, rangkap maupun hotel, harus dari tipe pemasangan
terbenam (lengkap dengan kotak), dengan kapasitas minimal 10A dan harus
memenuhi standar BS3676.
Saklar dipasang 120 cm di atas permukaan lantai, kecuali ditentukan lain dalam
Gambar Kerja.
3) Seluruh saklar dimaksud dalam pekerjaan ini adalah harus buatan dari Panasonic,
Legrand atau Schneider model Mallia dan pemasangannya tersambung sebagai
Digital Input yang sudah disiapakan dalam Direct Digital Control (DDC) yang telah
disediakan dalam lingkup pekerjaan IBMS. Saklar dan Stop kontak harus memiliki
opsi warna dan juga memiliki frame dengan kapasitas lebih dari satu gang untuk
kerapian dan estetika pemasangan.
4) Stop kontak dan tusuk kontak untuk peralatan harus sesuai dengan rekomendasi
dari pabrik pembuat peralatan.Stop kontak dipasang antara 30 – 90 cm diatas
permukaan lantai,kecuali ditentukan lain dalam gambar.
5) Kecuali ditentukan lain, semua stop kontak, sklar dan sklar grid harus berwarna
putih / Ivori.

Bab V - 18
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.4.8. PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Umum.

1) Prinsip Suplai Listrik.


Suplai daya untuk penerangan dan lainnya akan ditentukan kemudian dan harus
terdiri dari 4 (empat) kawat, 3 fasa, 380/220/50 Hz.

2) Prinsip Distribusi.
- Distribusi secara radial dari panel distribusi utama ke panel-panel.
- Distribusi daya untuk penerangan, dipisahkan dari distribusi daya untuk
peralatan lainnya.

3) Prinsip Proteksi.
- Sistem listrik harus dilengkapi dengan proteksi terhadap hubung singkat di
setiap panel, proteksi terhadap beban lebih dan hubung singkat untuk panel
distribusi utama dan panel daya, kecuali bila ditentukan lain dalam Gambar
Kerja.
- Semua bagian metal dari peralatan listrik harus dihubungkan ke kabel PE
seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
- Termasuk dalam hal ini adalah, tetapi tidak terbatas pada kolom bangunan,
konduit, peralatan elektrikal, rangka motor dan lainnya.
- Sistem pembumian sesuai Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP
– 1983).

b. Panel dan Komponen.


1) Sebelum fabrikasi dan pengadaan panel, Kontraktor harus menyerahkan Gambar
Detail Pelaksanaan kepada Konsultan Manajemen Konstruksi untuk disetujui.
2) Panel-panel harus difabrikasi dan dipasang sesuai notasi dalam Gambar Kerja.
3) Semua komponen panel harus dipasang sesuai notasi dalam Gambar Kerja atau
sesuai instruksi Konsultan Manajemen Konstruksi.
4) Seluruh panel kontrol panel daya, pemutus daya (CB), saklar pengaman dan
peralatan elektrikal lainnya, harus dubuatkan papan nama untuk identifikasi dan
petunjuk penggunaan alat tersebut.
5) Papan nama (direktori) harus dibuat dari pelat logam dengan huruf timbul.
Keseluruhan papan nama harus berukuran 1,5” (3,81cm) tinggi dengan lebar
seperlunya. Tinggi huruf 1,0” (2,54cm).
Ketebalan pelat minimal 3mm.
Papan nama harus menempel dengan kokoh dengan cara dibaut atau dirivet.
6) Setiap daun pintu dari masing – masing panel disambungkan/ dipasangkan kawat
pembumian ke badan panel.
7) Setiap panel harus diketanahkan (grounded) dengan harga tahanan pembumian
maksimum 2ohm. Sistem pembumian adalah PNP.
8) Lubang penarik pada panel harus berukuran sesuai dengan ukuran dan jumlah
konduit, penghantar dan konfigurasi penghantar.
9) Pada semua jalur masuk ke panel, lubang penarik atau lubang ke luar tanpa leher
berulir, konduit harus diikat pada tempatnya dengan mur pengunci di luar kotak dan
dengan mur pengikat dan bantalan pada bagian dalam kotak. Bantalan harus dari
jenis penyekat.
10) Setiap panel harus dilengkapi dengan diagram pengkabelan/bagan aliran arus dan
kartu direktori yang ditempatkan di bagian dalam pintu panel.
Kartu direktori harus diisi lengkap oleh Kontraktor dengan mencantumkan semua
beban terhubung.

Bab V - 19
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

c. Pemasangan Kabel.

1) Luar Bangunan.
- Pemasangan kabel didalam tanah harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa
sehingga kabel itu cukup terlindung terhadap kerusakan mekanis dan kimiawi
yang mungkin timbul pada tempat kabel tersebut dipasang.
- Kabel ditanam minimal 800mm dari permukaan tanah dan harus diletakkan di
dalam pasir, diatas galian tanah yang stabil, kuat, rata dan bebas dari batu-
batuan dengan ketentuan tebal lapisan pasir tidak kurang dari 10cm. Sebagai
timbunan perlindungan, diatas urukan pasie harus dipasang beton atau batu
bata pelindung.
- Kabel-kabel yang ditanam melintang jalan harus ditempatkan dalam konduit pipa
baja lapis galbani atau PVC, seperti ditentukan dalam Spesifikasi Teknis ini,
dengan diameter sesuai Gambar Kerja.
- Pemasangan dan jenis konduit yang dipilih sesuai petunjuk dalam Gambar
Kerja.
- Pekerjaan galian, urukan kembali dan pemadatan yang dibutuhkan untuk
penanaman kabel harus dilaksanakan sesuai ketentuan Spesifikasi Teknis
Pekerjaan Galian, Urugan Kembali dan Pemadatan.
- Letak penanaman kabel harus ditandai dengan patok tanda kabel yang kuat dan
jelas.
- Setiap tarikan kabel feeder yang memerlukan sambungan harus dilengkapi
dengan alat penyambung kabel.

2) Dalam Bangunan.
- Pembengkokan dan pengukuran harus seragam dan simetris tanpa memipihkan
atau merusak permukaan konduit. Pembengkokan harus dibuat dengan alat dan
perlengkapan standar yang dibuat khusus untuk maksud tersebut. Jari-jari
pembengkokan konduit minimal 15 (lima belas) kali diameter konduit.
- Sistem konduit harus diadakan dan dipasang sesuai ketentuan Gambar kerja.
Sistem ini harus menghubungkan semua kotak keluaran (termasuk soket dan
saklar), kotak penghubung, perlengkapan penerangan, panel dan lainnya seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
- Konduit harus memenuhi ketentuan butir 4.3 dari Spesifikasi Teknis ini.
- Jalur konduit harus terpasang sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja. Konduit
harus vertikal, horisontal atau sejajar dengan garis struktur.
- Semua konduit horisontal harus diarahkan ke arah konduit vertikal untuk
dihubungkan.
- Semua konduit yang dipasang di bawah lantai harus terdiri dari pipa PVC seperti
ditunjukkan dalam Gambar Kerja. Tipe pipa PVC harus memenuhi ketentuan
butir 4.3 dari Spesifikasi Teknis ini.
- Konduit yang dipasang di bawah lantai harus memiliki penutup minimal 50mm.
- Penyambungan kabel harus diusahakan se-minimal mungkin.
- Semua sambungan harus dibuat dengan junction box atau kotak terminal yang
disetujui.
- Hubungan kabel pada terminal busbar panel harus menggunakan sepatu kabel.
d. Pengujian dan Commissioning/testing.
1) Kontraktor harus melakukan semua pengujian dan pengukuran yang dianggap perlu
oleh Pengawas Lapangan untuk memastikan bahwa seluruh instalasi dapat
berfungsi dengan baik dan memenuhi semua persayaratan.
2) Peralatan, fasilitas pengujian, pengawasan pengujian dan pemeliharaan peralatan
agar tetap dalam kondisi baik, harus diadakan oleh Kontraktor.

Bab V - 20
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

3) Catatan pengujian harus dibuat oleh Kontraktor dan diserahkan secara resmi
kepada Pengawas Lapangan sebelum serah terima pekerjaan.
4) Pengujian dan uji pengoperasian akan ditentukan oleh Pengawas Lapangan.
5) Seluruh peralatan harus lulus uji fungsional.
6) Kabel-kabel feeder sebelum dan sesudah dipasang harus lulus uji tahanan isolasi.
Tahanan isolasi dari semua bagian yang tidak diketanahkan baik anatara hantaran
maupun antara hantaran dan tanah, sekurang-kurangnya 1000ohm untuk setiap
satu volt tegangan nominal.
7) Kabel-kabel feeder sebelum dan sesudah dipasang harus lulus uji kontiunitas.
8) Dalam masa pemeliharaan pekerjaan sistem elektrikal ini, kontraktor wajib
mengatasi segala kerusakan dan kekurangan.
9) Kontraktor bertanggung-jawab mengganti setiap peralatan/perlengkapan yang rusak
sampai pada saat pemeriksaan terakhir dan penyerahan kepada Pengawas
Lapangan.
10) Kontraktor harus menyerahkan kepada Pengawas Lapangan semua buku asli
petunjuk/manual pemeliharaan dan cara pengoperasiannya dalam bahasan Inggris
dan Indonesia, yang selanjutnya akan diteruskan kepada Pemilik Proyek.

5.5. PEKERJAAN SISTEM PEMBUMIAN


5.5.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini harus termasuk pengadaan semua material, peralatan, tenaga kerja
dan lain-lain untuk pemasangan, pengetesan, commissioning dan pemeliharaan yang
lengkap sempurna untuk seluruh pekerjaan sistem pembumian seperti dipersyaratkan di
dalam buku ini dan ditunjukkan di dalam Gambar Perencanaan. Dalam pekerjaan ini harus
termasuk sertifikat pabrik dari pembuat peralatan dan pekerjaan-pekerjaan lain yang
tidakmungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap perlu untuk
keamanan dan kesempurnaan fungsi dan operasi sistem pembumian untuk pengaman
secara keseluruhan.
Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam
spesifikasi teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perencanaan, dimana
bahan-bahan dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi
teknis ini. Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan
yang dipasang dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan
kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai
dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.
Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Titik Grounding, pekerjaan ini meliputi pekerjaan penanaman batang grounding,dan
peralatan-peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem.
2. Titik Kontrol (Test Box), pekerjaan ini meliputi pekerjaan sambungan grounding untuk
proses pengukuran tahanan grounding melalui test box seperti yang disampaikan
dalam gambar.
3. Penghantar Grounding, pekerjaan ini meliputi pekerjaan pengkawatan grounding antar
panel ke titik kontrol yang ditarik melalui shaft/tempat yang disediakan untuk jalur kabel
listrik.
4. Terminal grounding di setiap panel,pekerjaan ini meliputi penyambungan setiap box
panel ke penghantar grounding yang telah tersambung ke titik control yang telah
disediakan.

5.5.2. KETENTUAN UMUM


1. Yang dimaksud dengan sistem pembumian untuk pengaman adalah pembumian dari
badan-badan peralatan listrik atau benda-benda di sekitar instalasi listrik yang bersifat
konduktif dimana pada keadaan normal benda-benda tersebut tidak bertegangan,
tetapi dalam keadaan gangguan seperti hubung singkat phasa ke badan peralatan
kemungkinan benda-benda tersebut menjadi bertegangan.

Bab V - 21
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

2. Sistem pembumian yang diterapkan untuk instalasi kelistrikan gedung adalah system
TN-S, untuk instalasi listrik di ruang OK adalah Sistem IT, dimana systemini menuntuk
instalasinya harus terpisah dari sistem-sistem yang lain.
3. Sistem pembumian ini bertujuan untuk keamanan/keselamatan manusia dari bahaya
tegangan sentuh pada saat terjadinya gangguan.
4. Semua badan peralatan atau benda-benda di sekitar peralatan yang bersifat konduktif
harus dihubungkan dengan sistem pembumian ini.
5. Ketentuan ketentuan lain harus sesuai dengan PUIL, SPLN dan standard lain yang
diakui di Negara Republik Indonesia.

5.5.3. KONSTRUKSI
1. Sistem pembumian terdiri dari grounding rod, kabel penghubung antara benda-benda
yang diketanahkan dan peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk kesempurnaan
sistem ini.
2. Grounding rod dari sistem pembumian terbuat dari pipa GIP dan tembaga dengan
konstruksi seperti Gambar Perencanaan.
3. Konduktor penghubung antara peralatan (yang digrounding) dengan grounding rod
terbuat dari 'bare copper conductor' atau kabel berisolasi sesuai dengan Gambar
Perencanaan.
4. Tahanan sistem pembumian sedemikian rupa sehingga tahanan sentuh yang terjadi
harus lebih kecil dari 50 Volt.

5.5.4. PEMASANGAN
1. Grounding rod harus ditanam langsung dalam tanah dengan bagian grounding rod
yang tertanam di dalam tanah minimum sepanjang 6 M dan masing masing titik
grounding rod mempunyai tahanan tidak lebih dari 1 Ohm.
2. Grounding rod harus ditempatkan di dalam bak kontrol yang tertutup. Tutup bak kontrol
harus mudah dibuka dan dilengkapi dengan handle. Bak kontrol ini mempunyai fungsi
sebagai tempat terminal penyambungan dan tempat pengukuran tahanan pembumian
grounding rod.Ukuran bak kontrol harus sesuai dengan Gambar Perencanaan.
3. Hantaran pembumian harus dipasang sempurna dan cukup kuat menahan gangguan
mekanis.
4. Penyambungan bagian bagian hantaran pembumian yang tertanam di dalam tanah
harus menggunakan sambungan las sedangkan penyambungan dengan peralatan
yang diketanahkan harus menggunakan mur-baut atau sesuai dengan Gambar
Perencanaan.
5. Penyambungan hantaran pembumian dengan grounding rod harus menggunakan mur
baut berukuran M-10 sebanyak tiga titik. Penyambungan ini dilakukan di dalam bak
kontrol.
6. Ukuran hantaran pembumian harus sesuai dengan yang tercantum di dalam Gambar
Perencanaan.
7. Sistem pembumian harus terpisah dari masing-masing sistem :
a. Pembumian jaringan tegangan menengah,
b. Pembumian instalasi sistem penangkal petir,
c. Pembumian sistem tegangan rendah,
d. Pembumian sistem telepon,
e. Pembumian sistem tata suara,
f. Pembumian system pengindra kebakaran
g. Pembumian sistem Komputer.
h. Pembumian peralatan elektronik dan peralatan medis yang memerlukannya

Bab V - 22
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.6. PEKERJAAN SISTEM PENERANGAN


5.6.1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, peralatan dan bahan serta pemasangan
berikut penyerahan seluruh system penerangan dalam keadaan baik dan siap untuk
dipergunakan pada tempat-tempat seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.

5.6.2. STANDAR / RUJUKAN.


a. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL – 2011).
b. International Electrotechnical Commision (IEC).
c. Standar Nasional Indonesia (SNI).
d. Spesifikasi Teknis :
- Cat
- Distribusi Tegangan Rendah

5.6.3. PROSEDUR UMUM.


a. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan.
- Sebelum diadakan ke lapangan, contoh dan/atau brosur/data teknis
bahan/peralatan untuk pekerjaan ini harus diajukan dahulu kepada Pengawas
Lapangan / Manajemen Konstruksi untuk disetujui.
- Kontraktor harus membuat daftar bahan/peralatan yang akan digunakan dan
menyerahkannya kepada Pengawas Lapangan / Manajemen Konstruksi untuk
disetujui.

b. Gambar Detail Pelaksanaan.


- Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan kepada
Pengawas Lapangan / Manajemen Konstruksi untuk disetujui.
Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan sebelum pengadaan bahan sehingga
diperoleh cukup waktu untuk memeriksa dan tidak ada tambahan waktu bagi
Kontraktor bila mengabaikan hal ini.
Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi tata letak dan detail-detail
yang diperlukan.
- Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja yang satu dengan Gambar Kerja yang lain
atau antara Gambar Kerja dengan Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus
menyampaikannya kepada Pengawas Lapangan untuk dicarikan jalan keluarnya.
- Gambar Kerja Elektrikal hanya menunjukkan tata letak bahan dan peralatan, jalur
kabel dan sambungan-sambungan.
- Gambar Kerja ini harus diikuti dengan se-seksama mungkin.
Dalam mempersiapkan Gambar Detail Pelaksanaan, dimensi dan ruang gerak yang
digambarkan dalam Gambar Kerja Arsitektur, Struktur dan Gambar Kerja lainnya
yang berkaitan, harus diperiksa.
- Kontraktor harus dengan teliti memeriksa kebutuhan ruangan dengan Kontraktor
lain yang mungkin bekerja pada lokasi yang sama untuk memastikan bahwa semua
bahan dapat dipasang pada tempat yang telah ditentukan.

c. Pengiriman dan Penyimpanan.


- Semua bahan dan peralatan yang didatangkan dan harus dalam keadaan baik,
baru, bebas dari segala cacat, dan dilengkapi dengan label, data teknis dan data
lain yang diperlukan.
- Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada tempat yang
aman dan terlindung dari kerusakan.

Bab V - 23
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

d. Ketidaksesuaian.
- Pengawas Lapangan / Manajemen Konstruksi berhak menolak setiap bahan yang
didatangkan atau dipasang yang tidak memenuhi ketentuan Gambar Kerja dan/atau
Spesifikasi Teknis.
Kontraktor harus segera memperbaiki dan/atau mengganti setiap pekerjaan yang
dinilai tidak sesuai, tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
- Bila bahan-bahan yang didatangkan ternyata menyimpang atau berbeda dari yang
ditentukan, Kontraktor harus membuat pernyataan tertulis yang menjelaskan usulan
penggantian berikut alasan penggantian, dengan maksud bila diterima, akan segera
diadakan penyesuaian. Bila Kontraktor mengabaikan hal diatas, Kontraktor
bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Gambar Kerja.

5.6.4. BAHAN – BAHAN.


a. Umum.
Semua bahan penerangan harus berasal dari produk pabrikan yang dikenal luas serta
dalam keadaan baru, bebas dari segala cacat dan disetujui Pengawas Lapangan /
Manajemen Konstruksi.

b. Penerangan.
- Lampu
Untuk memastikan kemampuan distribusi cahaya, semua produk lampu yang akan
dipasang harus disertai dengan perhitungan pencahayaan dengan sampling area
untuk menunjukkan kontur isoline dari penyebaran distribusi cahaya, kurva fotometrik
termasuk Light Output Ratio – LOR, DLOR, ULOR & TLOR juga harus disertakan.

Untuk produk indoor, kesilauan diindikasikan dengan UGR - Unified Glare Rating
(mengacu kepada standar dan rumus CIE) harus disertakan untuk setiap armature
indoor untuk menunjukkan pengukuran terhadap gangguan yang diakibatkan oleh
kesilaun dengan skala penilaian dari 10(unnoticeable) to 30 (unbearable).
Semua armature lampu harus dibuat oleh satu pabrikan dengan kualitas yang sesuai
dengan Standar IEC.
1) Lampu TL-LED (LED PANEL)
Lampu TL-LED standar warna putih (Cool Daylight) memiliki indeks colour
rendering (C.R.I>80) yang dilengkapi dengan komponen bawaan pabrik pembuat
seperti built-in ballast, kapasitor yang menghasilkan factor daya minimal 0,9 dan
memiliki nilai Efikasi minimal 100 Lumen/Watt, semuanya buatan PHILIPS,
OSRAM, OPPLE, ARTOLITE.
2) Lampu Down Light LED
Lampu Down Light LED standar warna putih (white.84) merupakan lampu built-
up buatan PHILIPS, OSRAM, OPPLE, ARTOLITE yang di dalamnya sudah
dilengkapi dengan balas dan kapasitor secara built-in sehingga menghasilkan
factor daya minimal 0.9. Dengan nilai Efikasi minimal 80 Lumen/Watt.

- Armature Lampu
1) Armature Lampu TL LED (LED PANEL) & DOWN LIGHT
a) Lampu dan armaturnya harus sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti
yang dilukiskan dalam gambar-gambar detail Elektrikal.
 Produk lampu yang ditawarkan harus dilengkapi dengan jaminan atas
tersedianya barang dalam jangka waktu minimal 5 tahun kedepan
sehingga apabila ada beberapa produk membutuhkan penggantian
maka barang tersebut masih tersedia dan terjamin kontinuitasnya.
 Pabrikan lampu yang dipilih adalah dari pabrikan yang dapat
memberikan garansi atas produk yang dikeluarkanya minimal 1 tahun
sejak barang terpasang di proyek.
 Semua armatur lampu yang terbuat dari metal harus mempunyai
terminal pentanahan (grounding).

Bab V - 24
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

 Jika digunakan Diffuser/reflector lampu-lampu harus terbuat dari bahan


yang cukup kuat terhadap kenaikan temperatur dan beban mekanis
dari diffuser itu sendiri.
 Reflektor harus mempunyai lapisan pemantul kualitas baik.
 Box sebagai armatur dudukan lampu harus cukup besar dan dibuat
sedemikian rupa sehingga panas yang ditimbulkan tidak mengganggu
kelangsungan kerja dan umur teknis komponen lampu. Ventilasi dalam
box harus cukup.
 Kabel-kabel dalam box harus diberikan saluran atau klem-klem
tersendiri sehingga tidak menempel pada ballast atau kapasitor.
 Ballast harus mempunyai dudukan yang kuat dalam box lampu, tetapi
mudah dibuka untuk diperiksa atau diangkat.

b) Pemasangan Out-Bouw / Surface / Permukaan menempel Plafond.


 Armature terbuat dari plat baja putih dengan ketebalan minimal 0,6 mm
atau ketebalan total setelah finis sekitar +- 0,7 mm, pembuatan harus
dengan mesin peralatan lampu Built-in dan dengan proses melalui
system Pre Treatment dengan penyempurnaan finishing cat powder
coating.
 Konstruksi armature harus kuat dan kokoh serta dibuat sedemikian
rupa agar dapat dibuka / dilepas untuk perbaikan / penggantian
komponen yang berada di dalamnya. Armature dan reflektor harus
dilengkapi dengan sekrup, agar dapat dilepas pada waktu memerlukan
perbaikan. Seluruh armature harus lengkap dengan rangka dudukan /
gantungan.

c) Armature Lampu Jalan


Armatur lampu jalan harus merupakan lampu built-up dengan kapasitas
lampu sesuai ketentuan dalam Gambar Kerja.
 Housing, sesuai dengan klasifikasi proteksi (IP 20) dan mengacu
kepada standar Internasional IEC 598.
 Pegangan lampu: Terbuat dari plastik tahan panas hingga suhu
105OC, berwarna biru transparant
 Armature dapat dilengkapi dengan aksesoris berupa reflektor GMS 012
R berwarna putih dan cover acrylic PMMA berwarna putih susu.
 Instalasi armature pada ceiling harus mudah dilakukan.
 Armatur lampu Jalan, mengunakan lampu LED 1x120W atau LED
2x120W atau sejenisnya harus buatan PHILIPS, OPPLE, OSRAM.
Armature harus terbuat dari die-cast tekanan tinggi tahan karat dan
memenuhi Standar Proteksi outdoor IP 65 untuk compartment lampu
dan IP 43 untuk compartment gear.
 Bahan reflektor menggunakan alumunium puritas tinggi dengan sistem
T-POT reflector untuk menjamin pencapaian distribusi cahaya yang
baik. Pegangan lampu adjustable. Cover kaca untuk lamp
compartment terbuat dari kaca flat atau cekung,

d) Armature Lampu Taman


Menggunakan Diffuser PMMA untuk menjamin difusi cahaya yang baik dan
merata.

- Persyaratan Set Lampu LED


 Lampu merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan antara
armature, LED Chip, ballast dan komponen pendingin sehingga
memilikikestabilan dalam pencahayaan, dengan kapasitas lampu
sesuaiketentuandalam gambar Kerja.

Bab V - 25
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

 Semua lampu khususnya untuk kebutuhan penerangan general harus


mempunyai jaringan distribusi penjualan atau kantor cabang resmi yang
berada disetiap wilayah kota di Indonesia.
 Pabrikan lampu bersedia memberi jaminan atas tersedianya barang dalam
jangka waktu minimal 5 tahun kedepan sehingga apabila ada beberapa produk
membutuhkan spare part pengganti maka barang tersebut masih tersedia dan
terjamin kontinuitasnya.
 Pabrikan lampu yang digunakan adalah pabrikan yang dapat memberikan
garansi atas produk yang dikeluarkanya minimal 1 tahun sejak barang
terpasang di proyek.
 Semua lampu LED harus mempunyai terminal pentanahan (grounding).
 Semua lampu harus memiliki faktor daya 90% - 95% dan harmonisa dengan
nilai THDi tidak lebih dari 15%.
 Lampu LED harus memiliki cover/diffuser yang menutupi bagian dalam lampu,
sehingga tidak menjadi sarang serangga dan penempelan debu.
 Lampu LED harus memenuhi standard electrical protection class II, CB,CCC,
dan RoHS.
 Seluruh harus dapat diintegrasikan dengan sistem control pengendalian
otomatis melalui pemasangan perangkat sensor cahaya & sensor kehadiran.
 Seluruh lampu LED dapat dioperasikan dengan menggunakan sistem terpusat
berupa BAS (Building Automation System).
 Diffuser/reflector lampu-lampu harus terbuat dari bahan yang cukup kuat
terhadap kenaikan temperatur dan beban mekanis dari diffuser itu sendiri.
 Housing indoor harus sesuai dengan klasifikasi proteksi (IP20) dan mengacu
kepada standar Internasional IEC.
 Housing outdoor harus sesuai dengan klasifikasi proteksi (IP65) dan kekuatan
impact (IK08).

- Bahan Elektrikal.
Bahan-bahan elektrikal seperti kabel daya, conduit, saklar, soket dan lainnya harus
memenuhi ketentuan Spesifikasi Teknis - Distribusi Tegangan Rendah.

- Penumpu / Penopang.
Semua penumpu/penopang yang dibutuhkan peralatan dalam Spesifikasi Teknis ini
harus disediakan.
Penumpu/penopang dapat terdiri dari rangka baja, pelat, rak dan bentuk lain dengan
ukuran yang memadai, dan harus dipasang dengan baut, sekrup atau las. Semua
penumpang/penopang baja dan/atau metal harus memenuhi ketentuan Gambar
Kerja.

5.6.5. PELAKSANAAN PEKERJAAN.


a. Pemasangan Penerangan.

- Kontraktor harus melengkapi semua armature, perlengkapan penerangan,


komponen, tenaga kerja dan bahan pemasangan yang diperlukan agar system
penerangan terpasang dengan lengkap seperti ditunjukkan dalam Gambar Kerja.
- Semua armatur dan peralatan penerangan harus dipasang lengkap dengan aksesori
penggantung, rumah lampu, soket, pemegang, reflektor, penyebar cahaya, balas,
kapasitor dan komponen lain yang diperlukan serta seluruh pengkabelan yang
dibutuhkan. Armatur dan lampu untuk daerah berbahaya harus dari jenis yang sesuai
untuk tujuan tersebut.
- Perlengkapan penerangan yang tidak sesuai dengan ketentuan tidak diijinkan
dipasang.
- Jika Kontraktor bermaksud menggunakan perlengkapan penerangan selain dari yang
telah ditentukan, perlengkapan pengganti berikut data fotometrik harus diserahkan

Bab V - 26
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui dengan mengacu pada ketentuan dalam
Spesifikasi Teknis ini. Informasi tambahan seperti cara menggantung, penyelesaian
dan/atau contoh bahan perlengkapan harus diserahkan atas permintaan.

b. Pengujian dan commissioning / Testing.


- Setelah selesainya pekerjaan dan sebelum penyerahan, Kontraktor harus melakukan
pengujian lengkap dan pengukuran yang dianggap perlu dengan dihadiri Pengawas
Lapangan. Semua sistem dan peralatan harus dioperasikan agar berfungsi sesuai
ketentuan Spesifikasi Teknis.
- Peralatan, fasilitas pengujian, pengawasan pengujian dan pemeliharaan peralatan
agar tetap dalam kondisi baik, harus diadakan oleh Kontraktor.
- Catatan pengujian harus dibuat Kontraktor dan diserahkan secara resmi kepada
Pengawas Lapangan sebelum serah terima pekerjaan.
- Pengujian dan uji pengoperasian harus ditentukan oleh Pengawas Lapangan.
- Semua peralatan harus lulus uji fungsional.
- Kontraktor bertanggung jawab untuk mengganti setiap peralatan/perlengkapan yang
rusak, termasuk kaca, plastik atau penyebar cahaya sampai pada saat pemeriksaan
terakhir dan penyerahan kepada Pengawas Lapangan.

c. Pembersihan.
Kontraktor dari waktu ke waktu harus menjaga agar tempat kerja dan sekitarnya bersih
dari segala bahan-bahan terbuang atau kotoran yang diakibatkan oleh pekerjaan.
Pada akhir pekerjaan, Kontraktor harus menyingkirkan semua kotoran, alat-alat,
perancah dan bahan sisa dari lokasi pekerjaan, sehingga pekerjaan terlihat bersih dan
siap untuk digunakan.

d. Lapisan Pelindung.
Kecuali ditentukan lain, semua bahan metal yang terlihat, seperti penopang/penumpu,
conduit dan lainnya, harus diberi lapisan pelindung cat anti karet dalam warna sesuai
Skema Warna.
Bahan cat dan cara pengecatan harus memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi Teknis
Pekerjaan Pengecatan.

e. Spesifikasi Lampu Penerangan.


- Lampu LED PANEL
 Housing indoor harus sesuai dengan klasifikasi proteksi (IP20) dan mengacu
kepada standar keamanan CCC/CB.
 Lampu LED harus memiliki ketahanan terhadap lonjakan tegangan minimum 1
kV.
 Lampu LED tidak boleh berkedip pada waktu dinyalakan.
 Lampu LED harus memiliki cover/diffuser yang menutupi bagian dalam lampu,
sehingga tidak menjadi sarang serangga dan penempelan debu.
 Lampu LED harus memiliki Efisiensi cahaya minimal 95lumen/watt.
 Lampu LED indoor harus sesuai dengan klasifikasi proteksi (IP 20) dan
mengacu kepada standar Internasional IEC.
 Lampu harus berbentuk persegi dengan lensa optik berstruktur khusus sehingga
menghasilkan intensitas cahaya yang optimal untuk mencapai illuminasi yang
tinggi dan merata.
 Lampu LED harus memiliki sudut pencahayaan 120 derajat, sehingga mampu
mendistribusikan cahaya dengan merata.
 Lampu LED memiliki ketahanan minimal 50000 jam pada temperatur ambien 25
derajat Celsius.
 Lampu LED memiliki intensitas cahaya 70% pada saat akhir dari life time lampu.
 Daya Lampu tidak melebihi 36 watt dan intesitas cahaya minimal 3400 lumen.

Bab V - 27
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Lampu LED Downlight


 Housing indoorharus sesuai dengan klasifikasi proteksi (IP 20) dan mengacu
kepada standar keamanan CCC/CB.
 Lampu LED harus memiliki ketahanan terhadap lonjakan tegangan minimum 1
kV.
 Lampu LED tidak boleh berkedip pada waktu dinyalakan.
 Lampu LED memiliki harmonik distorsi maksimal 20%, sehingga tidak
menimbulkan gangguan terhadap perangkat elektronik lainnya dengan
impedansi rendah.
 Lampu LED harus memiliki Efisiensi cahaya minimal 100 lumen / watt.
 Lampu LED menghasilkan intensitas cahaya minimal 1600 lumen.
 Lampu LED harus memiliki sudut cahaya 90-100 derajat, sehingga mampu
mendistribusikan cahaya dengan merata.
 Lampu LED memiliki ketahanan minimal 50000 jam pada temperatur ambien 25
derajat Celsius.
 Daya Lampu tidak melebihi 19 watt.
 Lampu LED memiliki intensitas cahaya 70% pada saat akhir dari life time lampu.
 Lampu LED harus memiliki cover/diffuser yang menutupi bagian dalam lampu,
sehingga tidak menjadi sarang serangga dan penempelan debu.
 Lampu harus berbentuk bulat dengan lensa optik berstruktur khusus sehingga
menghasilkan intensitas cahaya yang optimal untuk mencapai illuminasi yang
tinggi dan merata

5.7. PEKERJAAN FIRE ALARM


5.7.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan ini harus termasuk pengadaan semua material, peralatan, tenaga kerja
dan lain-lain untuk pemasangan, pengetesan, commissioning dan pemeliharaan yang
lengkap sempurna untuk seluruh pekerjaan sistem pengindera kebakaran seperti
dipersyaratkan di dalam buku ini dan ditunjukkan di dalam Gambar Perencanaan. Dalam
pekerjaan ini harus termasuk sertifikat pabrik dari pembuat peralatan dan pekerjaan-
pekerjaan lain yang tidak mungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap
perlu untuk keamanan dan kesempurnaan fungsi dan operasi sistem pengindera kebakaran
secara keseluruhan.
Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang dijelaskan baik dalam
spesifikasi teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar-gambar perencanaan, dimana
bahan-bahan dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi
teknis ini. Bila ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan
yang dipasang dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan
kewajiban Kontraktor untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai
dengan ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.

Uraian Lingkup Pekerjaan


Lingkup pekerjaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Pusat Control, Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pekerjaan Central Processing Unit
(CPU) Fire Alarm, dan peralatan-peralatan bantu lain yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan sistem.
2. Initiating Device, Item pekerjaan ini meliputi pekerjaan Smoke Detector, Heat detector,
Gas Detector dan Manual Detector/Alarm.
3. Alarm Device, Pekerjaan ini meliputi pekerjaan Visual Alarm Devices (lampu indikator
dan lampu exit) dan Audible Alarm Device (bell).
4. Annunciator panel, Dalam pekerjaan ini harus termasuk pula baterai cadangan berikut
charger-nya, kapasitas disesuaikan dengan kebutuhan peralatan dan harus mampu
bekerja dalam waktu 12 jam tanpa supply listrik DC.
5. Integrasi antara Master control Fire Alarm dengan CCTV dalam konsep Integrated
Security System.

Bab V - 28
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.7.2. INSTALASI SISTEM


1. Pekerjaan ini meliputi pengkabelan lengkap dengan conduit, sparing, metal doos
untuk fixture unit, pencabangan dan penyambungan serta peralatan bantu lainnya.
2. Peralatan bantu yaitu peralatan-peralatan yang diperlukan untuk kesempurnaan kerja
sistem, meskipun peralatan tersebut tidak disebutkan secara jelas atau terinci di dalam
Gambar Perencanaan dan Persyaratan Teknis.
3. Sistem Pembumian Pengaman, yang termasuk di dalam pekerjaan sistem
pengebumian meliputi batang elektroda pengebumian dan bare copper conductor atau
kabel yang menghubungkan peralatan yang harus dikebumikan dengan elektroda
pembumian termasuk seluruh peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan sistem ini.

5.7.3. PENJELASAN SISTEM


a. Pusat Kontrol
Pusat kontrol merupakan pusat untuk melakukan fungsi monitoring, alerting/signalling
dan controlling baik secara otomatis dan atau manual. Operasi otomatis dilakukan
berdasarkan suatu program tertentu yang telah ditentukan sebelumnya sedangkan
operasi manual berdasarkan suatu prosedur operasi tertentu melalui input unit.
1) Pusat kontrol tersebut harus dapat memonitor dan mengontrol :
a) Pendeteksi kebakaran dan tanda (alarm) kebakaran.
b) Peralatan bantu evakuasi yang terdiri dari lampu exit, lampu emergency,
voice communication, pressurized fan dan pintu darurat.
c) Sistem perlawanan kebakaran yang terdiri dari sistem sprinkler dan sistem
hidran.
d) Lampu lampu penerangan.
e) Pemutusan aliran listrik.
2) Peralatan sentral fire alarm harus diletakkan dalam meja kontrol.
3) Peralatan sentral fire alarm tersebut dalam fungsinya harus terintegrasi dengan
sistem CCTV dalam konsep terpadu Integrated Security System
4) Kontraktor harus mengkoordinasikan bentuk dan ukuran meja kontrol dengan
Perencana Arsitek/Interior.

b. Annunciator Panel
1) Yang dimaksud dengan annunciator adalah bagian sistem yang
menghubungkan antara peralatan input (peralatan deteksi) dan output unit
(alarm system, actuator unit) dan lainnya dengan pusat kontrol.
2) Annunciator panel bertujuan untuk memonitor apabila ada kejadian fire atau fault
alarm pada zoning mana saja terjadinya gangguan tersebut.

c. Peralatan Pendeteksi
Peralatan pendeteksi dapat dikelompokkan menjadi :
1) Pendeteksi kondisi area/ruang/tempat yang terdiri dari :
a) Heat detector, Smoke detector dan manual station untuk mendeteksi
kebakaran dalam ruangan.
b) Water level kontrol untuk mendeteksi kondisi air dalam reservoar dan bahan
bakar dalam tanki bahan bakar.
c) Flow switch untuk mendeteksi adanya aliran air dalam pipa.
2) Pendeteksi operasi peralatan yang disupervisi yang disesuaikan dengan jenis dan
kerja dari peralatannya.
3) Wiring system menggunakan kelas 'A'.

5.7.4. KEMAMPUAN OPERASI


a. Ketentuan Umum
1) Sistem harus mampu melakukan fungsi monitoring yaitu memonitor :

Bab V - 29
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

a) kejadian atau kondisi ruang/tempat yang dilengkapi dengan peralatan deteksi


yang sesuai dengan tujuan penggunaannya,
b) Kondisi operasi peralatan yang disupervisi.
2) Sistem harus mampu melakukan fungsi Alerting dan Signaling yaitu bila terjadi
kondisi yang tidak normal, maka sistem secara otomatis akan memberikan tanda
tanda tertentu dan memerintahkan CCTV di dalam Sistem Security untuk
mengaktivasikan fungsi monitoring untuk melakukan perekaman tentang kejadian di
maksud.
3) Sistem harus mampu melakukan fungsi Controlling yaitu mengoperasikan semua
sistem yang dikontrolnya. Termasuk melakukan aktivasi CCTV untuk melakukann
kegiatan perekaman. Pengoperasian tersebut harus dapat dilaksanakan dengan
cara :
a) Secara otomatis berdasarkan kejadian artinya apabila sistem mendeteksi
adanya ketidak wajaran maka secara otomatis sistem menjalankan fungsi
pengontrolan sebagai contoh apabila sistem mendeteksi adanya asap pada
suatu ruangan, maka sistem akan otomatis memberikan tanda alarm.
b) Secara otomatis mampu melakukan aktivasi CCTV untuk proses monitoring
dan perekaman tentang kejadian yang dimaksud.
c) Secara manual melalui pemantauan dan pengendalian dari pusat kontrol.
4) Pengoperasian seperti dijelaskan diatas harus dapat diprogram sesuai kebutuhan.

b. Fire Detection dan Signaling


1) Dari Pusat Kontrol, harus dapat diprogram (maupun dikerjakan secara manual)
perintah pengoperasian sistem. Adanya indikasi bahaya kebakaran dan bekerjanya
Control Point pada masing masing zone, dapat dimonitor/direkam oleh Fire Alarm
Control Panel dan ditandai dengan adanya alarm cahaya maupun alarm bunyi.
2) Dari pusat kontrol harus dapat dimonitor adanya 'ketidak wajaran operasi sistem
baik pada bagian-bagian instalasi, power supply, monitor point, batere maupun
pusat kontrol sendiri termasuk integrasinya dengan system security.
3) Setelah pusat kontrol menerima Signal dari Initiating Devices dan dinyatakan
kejadian tersebut sudah pada tingkatan General Alarm, maka system harus mampu
(secara otomatis) memberikan perintah Tripping kepada Circuit Breaker di Panel
yang tertera dalam gambar elektrikal dengan tanda terintegrasi dengan Sistem Fire
Alarm sehingga dapat memberikan indikasi signal kebakaran, perintah
pengoperasian fire hydrant pump, perintah pengoperasian smoke vestibule
ventilator dan fire damper extract fan dan lain-lain.
4) Di pusat kontrol harus disediakan fasilitas pesawat telepon khusus yang secara
otomatis langsung akan terhubung dengan Fire Brigade apabila terjadi indikasi
bahaya kebakaran.
5) Pada tiap lantai disediakan pula Annunciator Panel yang menunjukkan lokasi/zone
terjadinya bahaya kebakaran.
6) Dari pusat kontrol harus dapat diprogram secara otomatis atau secara manual untuk
melakukan general alarm ke seluruh ruangan/ lantai/ gedung/zone pengindera
kebakaran.
7) Pada pusat control harus dilengkapi dengan software mapping untuk visualisasi
lokasi detector di setiap ruang di setiap lantai dengan identifikasi kejadian yang
dilengkapi dengan log historical event sebagaimana yang telah disiapkan oleh
pabrik pembuat yang dipilih.

c. Self Diagnostic
1) Pusat kontrol harus mampu melakukan System Self Diagnostic, yaitu penyampaian
indikasi adanya gangguan / ketidak normalan kondisi yang terjadi pada pusat
kontrol atau sistem itu sendiri.
2) Gangguan yang dapat diindikasikan yaitu :
o Gangguan pada jaringan
o Terputusnya jalur kabel ke detector
o Terputusnya fuse untuk Alarm Bell
o Terputusnya suplai daya dari battery

Bab V - 30
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

d. Pemutusan Aliran Listrik


1) Pada saat terjadi indikasi bahaya kebakaran, maka dari pusat kontrol harus dapat
dikirim sinyal kontrol untuk pemutusan aliran listrik terhadap zone yang memberikan
indikasi kebakaran.
2) Pemutusan aliran listrik ini dilaksanakan melalui fasilitas 'Motorized Unit' yang
dipasang pada sisi incoming panel pada jaringan Distribusi Listrik.
3) Pengontrolan Peralatan Bantu Evakuasi
a) Pengontrolan Pintu Darurat,
Pintu darurat harus dilengkapi dengan electric strike dan sensor unit sehingga
dari pusat kontrol dapat dimonitor kondisi pintu tersebut, Sedangkan pada
saat terjadi kebakaran, pintu tersebut dapat dibuka secara remote dari pusat
kontrol.
b) Pengontrolan Voice Communication,
Sistem dilengkapi dengan peralatan Telepon Emergency. Pada keadaan
normal, alat komunikasi tersebut tidak bekerja; sedangkan pada saat terjadi
kebakaran, pusat kontrol akan mengaktifkan alat komunikasi tersebut.
(Peralatan ini digunakan untuk memberi petunjuk kepada Sentral Fire Alarm
tentang kondisi kebakaran melalui sarana telephone emergency.
4) Pengontrolan Peralatan Perlawanan Kebakaran
Monitor Kondisi Air pada Reservoar,
Dari pusat kontrol harus dapat dimonitor kondisi air dalam reservoar. Pelaksanaan
monitoring ini dilakukan dengan pemasangan water level control di dalam reservoar.

5.7.5. PUSAT KONTROL


a. Ketentuan Dasar
1) Pusat kontrol dan annunciator panel yang digunakan adalah Multi Zone Solid
State Micro Processor dengan Presignal type yang bekerja pada sistem
tegangan rendah (24 Volt DC) dan tetap beroperasi dengan normal pada
operating temperature 0 sampai dengan 40 oC.
2) Digunakan peralatan-peralatan dengan sistem module (standard) yang
ditempatkan di dalam Enclosure/Box. Kabel untuk merangkai module harus Factory
Made dan hubungannya secara 'solderless'.
3) Pusat Kontrol dan annuniator panel dapat bekerja secara 'silenceable' maupun 'non
silenceable' untuk Alarm Signal Output dan Trouble Signal Output.
4) Wiring ke semua Initiating Devices (Monitor Point), Alarm Devices dan
Releasing Devices (Control Point) harus dilengkapi dengan alat-alat supervisi
secara elektris, untuk melihat adanya troubles yang terjadi melalui Pusat Kontrol
dan interface unit. Trouble yang perlu dideteksi yaitu Short Circuit, Open Circuit dan
Ground Fault.
5) Pusat Kontrol harus dilengkapi dengan switch kontrol untuk reset silence switch,
alarm lamp test switch, AC power failure switch, batere equalizer normal switch
dan beberapa switch kontrol yang tidak disebutkan di sini (sesuai dengan
produk terpilih).
6) Pusat Kontrol harus dilengkapi dengan software mapping untuk visualisasi lokasi
detector di setiap ruang di setiap lantai dengan identifikasi kejadian yang dilengkapi
dengan log historical event sebagaimana yang telah disiapkan oleh pabrik pembuat
yang dipilih.

b. Power Supply
1) Catu Daya Primer menggunakan sistem tegangan 220V - AC, 50 Hz, 1 phasa,
sistem 3 kawat dan dilengkapi dengan 'Electronics Voltage Stabilizer' sehingga
fluktuasi tegangan sumber berada pada batas kerja Pusat Kontrol dan interface unit.
2) Pusat Kontrol dan interface unit dilengkapi dengan standby battery unit (24V-
DC) jenis Sealed Acid Battery, rechargeable yang dilengkapi dengan Chargernya.
3) Jika Primary Supply mengalami kegagalan, maka secara otomatis beban akan
dilayani oleh Stand by Battery.

Bab V - 31
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

4) Stand by Battery harus mampu melayani sistem selama 24 jam dalam Normal
Operation dan ditambah 30 menit dalam keadaan alarm (terjadi bahaya kebakaran).

c. Peralatan Indikasi Alarm


1) Local FACP yang terpasang disetiap gedung harus mempunyai lampu-lampu
indikator untuk memberitahukan kepada Operator tentang apa yang terjadi.
Indikator tersebut harus bisa divisualisasikan secara remote melalui Master Control
Fire Alarm Panel (MCFA) yang terpasang di gedung A.
2) Indikasi True Alarm,
Lampu indikator berwarna merah :
a) Menandakan adanya initiating device yang aktif. Dari lampu indikator yang
menyala, juga dapat diketahui initiating device dari zone mana yang sedang
aktif.
b) Menandakan bahwa alarm devices pada zone yang sedang aktif tersebut juga
telah berbunyi/menyala.
c) Menandakan bahwa pemutusan daya listrik telah beroperasi.
d) Menandakan bahwa Smoke Vestibule Ventilator telah bekerja.
e) Menandakan bahwa fire hydrant pump telah bekerja.
f) Indikasi False Alarm,
Lampu indikator berwarna kuning :
a) Menandakan adanya trouble seperti: short circuit, open circuit dan lain-lain.
Dalam kondisi seperti ini juga harus dapat diketahui mengenai wiring pada
bagian mana yang mengalami trouble.
b) Menandakan tegangan stand by battery lebih rendah dari harga yang diijinkan.
c) Menandakan catu daya primer mengalami kegagalan.
3) Indikasi Power Supply On
Lampu indikator berwarna hijau, menandakan bahwa catu daya primer dalam
keadaan normal.
4) Konstruksi Enclosure
a. Enclosure harus merupakan Factory made dimana pintu enclosure dilengkapi
dengan kunci.
b. Khusus untuk switch-switch kontrol diberi pintu khusus yang di lengkapi
dengan kunci, sehingga jika akan dilakukan pengontrolan dari switch control
tersebut tidak perlu membuka seluruh pintu enclosure.
c. Enclosure harus dilapisi dengan cat dasar dan diberi cat akhir dengan warna
merah enamel.
d. Kelengkapan-Kelengkapan Lain :
i. Peralatan Recording dan printing Alarm.
ii. Peralatan Monitoring yang terdiri dari LCD Display.
iii. Peralatan hand set telephone emergency sebanyak 5 buah.
iv. Peralatan lain sesuai dengan fungsi sistem yang diharapkan.

d. Persyaratan Pemasangan Pusat Kontrol


Pemasangan enclosure untuk Local Fire Alarm Control Panel harus secara wall
mounting dengan tata letak /penyusunan disesuaikan atau dikoordinasikan dengan
modul ruang kontrol dan peralatan lain yang ada di ruangan tersebut.

5.7.6. PERALATAN PENDETEKSI (INIATING DEVICES)


a. Ketentuan Dasar
1) Initiating Devices yang digunakan terdiri dari Automatic Initiating Devices dan
Manual Initiating Devices dimana Automatic Initiating Devices yang digunakan
terdiri dari Smoke Detector, Heat Detector.
2) Manual Initiating Devices yang digunakan jenis Break glass dan Pre-Signal Alarm.
3) Rangkaian Initiating Devices yang digunakan jenis surface mounting.
4) Rangkaian Initiating Devices harus menggunakan End of Line Resistance (EOLR)
yang ditempatkan dalam Electrical Box (metal doos) atau sesuai dengan
Rekomendasi dari pabrik pembuat.

Bab V - 32
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

b. Detektor Asap
1) Smoke Detector yang digunakan harus jenis Completely Solid State,
pengionisasiannya menggunakan bahan radioaktif berkadar rendah dengan sistem
2 ruang ionisasi (two ionization chamber) sehingga sensitivity deteksinya stabil
walaupun terjadi perubahan kondisi lingkungan.
2) Ionization Smoke Detector harus mempunyai switch untuk mengatur tingkat
sensitivitas (2 posisi) dan mempunyai indikator alarm (LED) yang menyala jika
kondisi alarm.
3) Ionization Smoke Detector harus mampu mendeteksi daerah kebakaran (detector
coverage area) minimal seluas 80 M2 pada ketinggian ceiling 4,5 M.
4) Smoke Detector bekerja pada tegangan nominal sebesar 24 Volt dan tetap bekerja
normal pada tegangan kerja + 25% di atas nominal.
5) Smoke Detector harus mampu bekerja dengan normal pada kondisi temperatur
kerja 0-60 oC, Air Velocity 90 M/menit dan Relative Humidity 95%.
6) Kontraktor harus mengatur posisi pemasangan Ionization Smoke Detector sehingga
sistem pendeteksi kebakaran bekerja dengan tepat dan LED Alarm terlihat dengan
jelas dari arah pintu masuk.

c. Detektor Manual
1) Manual Initiating Devices atau Manual Alarm Station yang digunakan jenis Pre
Signal Alarm dimana Manual Initiating ini juga dilengkapi dengan kunci untuk
General Alarm.
2) Manual Initiating Devices yang digunakan jenis Pulling Handle dengan Break glass
Cover atau jenis lain sesuai dengan merk yang dipilih.
3) Kontraktor harus menyediakan Glass Cover sebanyak 20% dari jumlah Manual
Initiating Devices yang terpasang untuk spare.
4) Manual Initiating Devices harus tetap dapat dioperasikan dengan baik pada
temperatur operasi 0 – 60 oC dan pada Relative Humidity 95%.
5) Manual Initiating Devices dari bahan metal difinish dengan cat merah enamel,
dipasang pada dinding secara inbow dengan menggunakan metal doos (sesuai
dengan Rekomendasi dari pabrik). Sedangkan yang dipasang pada kolom-kolom
beton menggunakan Surface Mounting Box menggunakan box khusus untuk
Manual Initiating Devices sesuai dengan merk yang dipilih.

d. Detektor Panas
1) Heat Detector yang digunakan mempunyai Rate of Rise Setting sebesar 8o
C/menit dan fixed temperature setting 56 oC.
2) Heat Detector harus mampu men deteksi di dalam suatu ruangan minimal seluas
40M2 pada ketinggian ceiling 4,5 M.

e. Persyaratan Pemasangan
Pemasangan Initiating Devices harus menggunakan metal doos.
1) Heat Detector,
Pemasangan Heat Detector setiap 40 M, minimum 1 (satu) buat detector dan jarak
maximum dari dinding 4,4 M. Pemasangan Heat Detector langsung menempel pada
plafond/beton.
2) Smoke Detector,
Pemasangan Smoke Detector setiap 80 M, minimum 1 (satu) detector dan jarak
maximum ke dinding 6,7M. Jarak pemasangan Smoke Detector ke plafond min.
30 mm dan max. 200 mm.

5.7.7. PERALATAN TANDA ALARM


a. Ketentuan Dasar
1) Alarm Devices yang digunakan terdiri dari Audible Alarm Devices dan Visual Alarm
Devices.
2) Audible Alarm Devices yang digunakan terdiri dari Bell (buzzer) sedang Visual
Alarm Devices digunakan Flashlight Lamp.

Bab V - 33
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

3) Semua rangkaian Alarm Devices harus menggunakan/dipasang EOLR walaupun di


dalam Gambar Perencanaan tidak ditunjukkan dengan nyata dan EOLR harus
ditempatkan di dalam metal doos.

b. Alarm Suara ( Audible Alarm )


1) Alarm suara yang digunakan berupa Bell 24V DC atau 220V AC.
2) Bell mempunyai Sound Level kira-kira 115 dB pada jarak 1 M pada tegangan kerja
masing masing/minimum dapat didengar oleh manusia pada titik terjauh.
3) Bell harus dapat bekerja pada tegangan nominal dan harus tetap dapat bekerja
pada tegangan + 25% di atas nominal.
4) Box Alarm Bell harus dibuat Corrosion Proof dicat warna enamel dan didisain untuk
pemasangan di dalam ruangan.
5) Dilengkapi kabel tahap (Flexible Fire Resistance) untuk sumber daya listriknya.

c. Alarm Cahaya ( Visual Alarm )


1) Visual Alarm Devices yang digunakan dari jenis High Intensity Flash Lighting
dengan nyala lampu berwarna merah.
2) Visual Alarm jenis Electronic Flashing dengan menggunakan kapasitor sebagai
penyimpan muatan listrik.
3) Visual Alarm harus tetap dapat bekerja pada kondisi tegangan sebesar + 25% di
atas tegangan nominalnya.
4) Daya Flash Light 15 W dengan kecepatan 60 flash/menit.

d. Paralel Lampu Indikasi


1) Dalam keadaan normal lampu indikator tidak menyala dan harus secara otomatis
dapat menyala pada saat terjadi indikasi kebakaran.
2) Sistem penyalaan Lampu menerima perintah dari Detektor.
3) Lampu indikator dilengkapi dengan 'push button' untuk pengetesan lampu.
4) Kontraktor harus mengkoordinasikan bentuk & ukuran lampu indikator dengan
Perencana Arsitektur/Interior.

e. Persyaratan Pemasangan
1) Dalam pemasangan, Visual Alarm Devices dipasang di bawah Audible Alarm
Devices (Horn) atau bersebelahan.
2) Pemasangan Alarm Devices harus menggunakan Metal Doos.
3) Ukuran 119 x 119 x 54 (mm) atau ukuran lain sesuai dengan produk yang dipilih.

5.7.8. KABEL INSTALASI


a. Persyaratan Pengerjaan
1) Kecuali kabel untuk keperluan Emergency Call (Voice Communication) semua
wiring (kabel) instalasi baik yang ada di dalam MCFA dan LFACP maupun di luar
panel kontrol harus digunakan kabel jenis Solid Conductor (bukan Stranded
Conductor) dari bahan tembaga.
2) Kecuali instalasi untuk control point, Terminal Tripping, Telephone emergency,
electric strike, fire damper, extra fan dan semua instalasi ke circuit yang ada
menggunakan kabel jenis isolasi PVC dengan ukuran luas penampang kabel
minimal 1,5 mm2 atau sesuai Rekomendasi dari produk terpilih.
3) Instalasi untuk control point, Terminal Tripping, Telephone emergency, electric
strike, fire damper, extract fan menggunakan jenis kabel tahan api (Flexible Mineral
Insulated) dengan ukuran luas penampang sesuai dengan rekomendasi dari
pabrik pembuat alat.
4) Semua kabel instalasi, kecuali untuk kabel jenis tahan api harus dimasukkan
dalam conduit High Impact atau RSC thickwall untuk instalasi expose yang sesuai
(minimal 3/4").
5) Semua instalasi harus dilengkapi dengan kabel supervisi atau harus memenuhi
instalasi sistem pengindera kebakaran kelas A. Hal ini harus diperhatikan dalam
pemilihan jumlah kabel untuk setiap titik instalasi.
6) Instalasi Penunjang

Bab V - 34
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

7) Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti konduit, sparing, rak kabel
dan lainnya sama dengan persyaratan penunjang untuk instalasi daya listrik.

5.7.9. PERSYARATAN PEMASANGAN


a. Smoke Detector dan Heat Detector dipasang langsung menempel pada plafond
ruangan.
b. Manual Alarm Station dipasang pada dinding secara exposed (surface mounted) pada
ketinggian sekitar 1,40 meter dari lantai.
c. Alarm Bell dipasang tepat disebelah Manual Alarm Station.
d. Kecuali kabel untuk keperluan komunikasi suara, maka semua kabel instalasi baik yang
ada di FACP maupun di luar panel kontrol harus menggunakan kabel jenis solid
conductor (bukan stranded conductor) dari bahan tembaga.
e. Semua instalasi ke circuit yang ada menggunakan kabel PVC dengan ukuran luas
penampang kabel minimal 1,5 mm2 atau sesuai rekomendasi pabrik pembuat peralatan
sistem.
f. Semua kabel instalasi, kecuali dari jenis tahan api harus dimasukkan dalam konduit yang
sesuai (minimal diameter ¾ inch).

5.7.10. PROSEDUR UMUM.


a. Contoh Bahan, Data Teknis dan Daftar Bahan
b. Sebelum diadakan/didatangkan ke lokasi, contoh dan/atau brosur/data teknis
bahan/barang/peralatan untuk pekerjaan ini harus diajukan terlebih dahulu kepada
Konsultan MK untuk disetujui.
c. Kontraktor harus membuat daftar yang lengkap untuk bahan, barang, dan peralatan
yang akan digunakan, dan menyerahkannya kepada Pengawas Lapangan untuk
mendapat persetujuan dengan dilampiri brosur-brosur yang lengkap dengan data teknis
serta performance dari peralatan.
d. Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh Kontraktor harus disertai dengan Surat
Keterangan Keaslian Barang (Letter of Origin) dari pabrik pembuatnya (Manufacturer)
atau agen utamanya (Authorized Dealer/Agent).

5.7.11. GAMBAR DETAIL PELAKSANAAN (SHOP DRAWING)


a. Kontraktor harus membuat dan menyerahkan Gambar Detail Pelaksanaan sistem
elektrikal kepada Pengawas Lapangan untuk disetujui.
b. Gambar Detail Pelaksanaan harus diserahkan sebelum pengadaan bahan agar
diperoleh cukup waktu untuk pemeriksaan dan tidak ada tambahan waktu bagi
Kontraktor bila mengabaikan hal ini.
c. Gambar Detail Pelaksanaan harus lengkap dan berisi detail-detail yang diperlukan.
d. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja yang satu dengan Gambar Kerja yang lain
atau antara Gambar Kerja dengan Spesifikasi Teknis, Kontraktor harus melaporkannya
kepada Pengawas Lapangan untuk dicarikan jalan keluarnya.
e. Gambar Kerja Elektrikal hanya menunjukan tata letak bahan dan peralatan, jalur kabel
dan sambungan-sambungan.
f. Gambar Kerja ini harus diikuti dengan seksama.
g. Dalam mempersiapkan Gambar Detail Pelaksanaan, dimensi dan ruang gerak yang
digambarkan dalam Gambar Kerja Arsitektur, Struktur dan Gambar Kerja lainnya yang
berkaitan, harus diperiksa.
h. Kontraktor harus dengan teliti memeriksa kebutuhan ruangan dengan Kontraktor lain
yang mungkin bekerja pada lokasi yang sama untuk memastikan bahwa semua
peralatan dapat dipasang pada tempat yang telah ditentukan.

5.7.12. PENGIRIMAN DAN PENYIMPANAN


a. Semua bahan dan peralatan yang didatangkan harus dalam keadaan baik, baru, bebas
dari segala cacat dan dilengkapi dengan label, data teknis dan data lain yang diperlukan.

Bab V - 35
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

b. Semua barang dan peralatan yang diadakan oleh Kontraktor harus disertai dengan surat
jaminan keaslian barang (Letter of Origin) dan mempunyai jaminan serta garansi
(Warranty).
c. Semua bahan dan peralatan harus disimpan dalam kemasannya pada tempat yang
aman dan terlindung dari kerusakan.

5.7.13. KETIDAKSESUAIAN
a. Konsultan MK berhak menolak semua bahan yang didatangkan atau dipasang yang
tidak memenuhi ketentuan dalam Gambar Kerja dan/atau Spesifikasi Teknis.
b. Kontraktor harus segera memperbaiki dan/atau mengganti setiap pekerjaan yang tidak
sesuai, tanpa tambahan biaya dari Pemilik Proyek.
c. Bila bahan-bahan yang akan didatangkan ternyata menyimpang atau berbeda dengan
yang ditentukan, Kontraktor harus terlebih dahulu membuat pernyataan tertulis yang
menjelaskan usulan penggantian, dengan maksud bila diterima, akan segera diadakan
penyesuaian. Bila Kontraktor mengabaikan hal di atas, Kontraktor bertanggung jawab
melaksanakan pekerjaan sesuai Gambar Kerja.

5.7.14. BAHAN-BAHAN.
a. Umum
1) Detector, Manual Alarm Station, dan Alarm Bell harus berasal dari merek yang
dikenal luas seperti merek Siemens, Notifier, Honeywell
2) Sistem harus sesuai untuk daerah dengan temperatur sekeliling maksimal 40 C.

5.8. PRASARANA RUANG SERVER ICT


5.8.1. DESKRIPSI PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi penyediaan dan pemasangan semua komponen Ruang Ruang Server
untuk menunjang beroperasinya Pusat Data dan Informasi yang akan tersambung ke seluruh
dalam lantai pada Gedung melalui infrastruktur ICT yang terurai pada Spesifikasi Pekerjaan
Infrastruktur ICT.
Tercakup dalam lingkup pekerjaan prasarana ruang Server ini meliputi tetapi tidak terbatas
pada uraian berikut ini:

5.8.2. DESKRIPSI UMUM


Ruang Server yang dimaksud terdiri dari beberapa bagian pekerjaan sebagai berikut:
1. Pekerjaan Pengadaan Ruang Server untuk pusat pengelolaan data dan informasi berikut
peralatan penunjang yang diperlukan termasuk UPS, Peralatan Fire Surpression dll.
sehingga system bisa berfungsi dengan baik sesuai dengan yang dikehendaki dalam
dokumen spesifikasi ini.
2. Pekerjaan Pengadaan dan Pemasangan Sistem Rack 42U untuk Rack Core Switch,
Rack Server dan Rack Terminasi Kabel Fiber Optik dan Kabel Data.
3. Pekerjaan Penyambungan Fiber Optik di Rack Core Switch di Ruang Server.
4. Pekerjaan Instalasi UTP Jaringan Data di Ruang Server.

5.8.3. DESKRIPSI RUANG SERVER


1. Ruang Server yang dimaksud adalah ruangan sentral komputer secara lengkap berikut
dengan peralatan-peralatan yang diperlukan termasuk AC ( system pendingin ), Rack
Core Switch, Rack Server, Rack Data Storage & Video Storage, UPS, dll. Sehingga
system bisa berfungsi sebagai Ruang pusat data dan informasi sebagaimana
dikehendaki dalam buku spesifikasi ini.
2. Ruang Server yang dimaksud harus disetting sedimikian rupa sehingga memudahkan
untuk melakukan pemantauan manajemen operasional dan manajemen network
terhadap fasilitas yang terdapat dalam Ruang Server.

Bab V - 36
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

3. Ruang Server yang dimaksud adalah Ruang Server yang hemat energi dan berkonsep
"hijau".
4. Sistem pengkondisian udara di dalam Ruang Server yang dimaksud mengacu kepada
metoda pengaliran udara dingin supaya tetap bersuhu rendah.
5. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah “cara membuang udara panas”, karena
tidak tertampungnya udara panas akan menimbulkan sirkulasi di bagian dalam peralatan
yang akhirnya membuat server terlalu panas dan dapat menyebabkan terjadinya
kerusakan.
6. Prinsip yang diterapkan adalah mengarahkan udara dingin ke sumber panas dan
melakukan pengaturan Relative Humidy secara presisi hingga 35%.

5.8.4. PERSYARATAN INSTALASI RUANG SERVER


1. Pekerjaan Instalasi di Ruang Server seluruhnya harus dikerjakan oleh tenaga-tenaga
yang sudah berpengalaman mengerjakan pekerjaan instalasi data yang dibuktikan
dengan pengalaman pekerjaan.
2. Setiap barang / material utama (Sistem AC, UPS, Server, Fire Suppression, Data
Cabling) yang akan diinstall harus melampirkan spesifikasi teknis dan brosur serta
memiliki surat dukungan principal / distributor resmi.
3. Memiliki tenaga ahli yang berpengalaman dalam pembangunan Ruang Server dengan
Project Manager yang ditempatkan minimal memiliki pengalaman 7 (tujuh) tahun dalam
pembuatan Ruang Server.
4. Memberikan jaminan ketersediaan sparepart selama lima tahun.
5. Memberikan jaminan bahwa system yang diimplementasikan sesuai dengan requirement
dan spesifikasi teknis serta sudah termasuk servis support (standart support 5 hari x 8
jam pada hari kerja) terhitung sejak Berita Acara Serah Terima Pekerjaan ditandatangani.
Dan Vendor wajib menjamin bahwa semua perangkat / system yang di implemantasikan
dapat beroperasi dan berfungsi dengan sempurna.
6. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana, kecuali bilamana perlu dapat usulkan
untuk dilakukan perubahan tanpa pembebanan biaya tambahan kepada Pemberi Tugas.
Perubahan tadi dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Konsultan
Manajemen Konstruksi
7. Kontraktor harus menyerahkan daftar pekerja pelaksana dengan kualifikasi ahli serta
nama penanggung jawabnya.
8. Dalam waktu 30 hari setelah dinyatakan sebagai pelaksana, Kontraktor diharuskan untuk
menyerahkan daftar bahan yang akan dipasang dengan katalog, spesifikasi dari
pabrik,wiring diagram,dll

5.8.5. RUANG LINGKUP PEKERJAAN RUANG SERVER


Ruang lingkup penyediaan Ruang Server yang dimaksud, terdiri dari:
1. Pembangunan Fisik Ruangan Server
2. Penyediaan dan Pemasangan Sistem Kelistrikan Ruang Server
3. Penyediaan dan Pemasangan Sistem Air Conditioning Ruang Server
4. Penyediaan dan Pemasangan UPS System
5. Penyediaan dan Pemasangan Rack System
6. Penyediaan dan Pemasangan Cabling Data System
7. Penyediaan dan Pemasangan Security System Ruang Server
8. Penyediaan dan Pemasangan Perangkat Pendukung Ruang Server

5.8.6. PEMBANGUNAN FISIK RUANG SERVER


Pembangunan Fisik Ruang Server yang dimaksud meliputi pekerjaan pengadaan dan
pemasangan sarana dan prasarana untuk setup ruang server secara lengkap sehingga siap
untuk digunakan dalam melakukan penyimpanan Server dan Video Storage di Ruang Server
termasuk di dalamnya pengadaan dan pemasangan Raised Floor (bila memang dinyatakan
diperlukan) berikut dengan insulation ruangan, Ramp, Fire Rated Partition di jendela &
pembuatan pintu untuk akses masuk ke dalam Ruang Server & ruang penunjang nya,
pemasangan Metal ceiling, termasuk pemasangan wiremesh sebagai pemisah di dalam

Bab V - 37
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

ruang server, dan pemasangan kaca setebal 10 mm sebagai pemisah antara ruang server &
ruang penunjangnya.

a. Penyediaan dan Pemasangan Instalasi Kelistrikan


Penyediaan dan Pemasangan Instalasi Kelistrikan di Ruang Server meliputi pengadaan
& penarikan kabel untuk instalasi dari Panel listrik terdekat dengan Ruang Server sampai
tersambung ke Sistem UPS dan Main Switch Board (MSB) dalam Ruang Server yang
akan digunakan untuk melakukan pasokan listrik ke perangkat Core Swicth, Data
Storage, Video Storage dan seluruh Server yang akan digunakan untuk melakukan
layanan IT serta Sistem Video Surveilance di kompleks bangunan.

b. Penyediaan dan Pemasangan Fire Surpression System


Pekerjaan Fire Surpression untuk Ruang Server yang dikehendaki meliputi pengadaan &
pemasangan system pemadam kebakaran yang ramah lingkungan dan ramah terhadap
manusia yang terintegrasi dengan system pendinginan di ruangan Server.

c. Penyediaan dan Pemasangan Air-Conditioning


Penyediaan dan Pemasangan Sistem Air-Conditioning yang dikehendaki meliputi
pengadaan & pemasangan unit Pendinginan untuk kebutuhan ruang Server
menggunakan Sistem Air-Conditioning yang dapat bekerja terus menerus 24 jam &
dapat diatur kelembaban udara nya.

d. Penyediaan dan Pemasangan UPS System


Penyediaan & pemasangan UPS system yang dimaksud adalah pengadaan dan
pemasangan unit UPS dengan kapasitas sesuai jumlah kebutuhan daya dari masing-
masing server dan Storage yang akan dipasang di dalam ruang server dimaksud.

e. Penyediaan dan Pemasangan Rack System


Penyediaan & pemasangan Rack System yang dimaksud adalah pengadaan dan
pemasangan Sistem Rack yang akan digunakan sebagai tempat perletakan Server,
tempat perletakan Core Switch, perletakan media Storage untuk penyimpanan data dan
hasil perekaman video dari CCTV serta terminasi kabel network baik yang ada di dalam
ruang Server maupun keluar masuk dari ruang Server.

f. Penyediaan dan Pemasangan Cabling Data System


Penyediaan & pemasangan Cabling Data System yang dimaksud meliputi pengadaan
dan pemasangan sistem kabel data antar rak di dalam Ruang Server menggunakan
kabel basket khusus untuk kabel data yang dipasang di atas rack di dalam ruang Server.

g. Penyediaan dan Pemasangan Security System


Penyediaan & pemasangan Security System Ruang Server yang dimaksud adalah
pengadaan dan pemasangan CCTV khusus dan beberapa alat elektronik (seperti Smoke
Detector, Access Control, EMS) yang diperlukan untuk memberikan system
pengamanan & monitoring terhadap operasional Ruang Server dari adanya bahaya
kebakaran, pemantauan aktivitas dalam Ruang Server berikut dengan ruang penunjang
di sekitarnya, pemantauan kondisi power serta pembatasan hak akses untuk memasuki
ruang Server .

h. Penyediaan dan Pemasangan Perangkat Pendukung


Penyediaan & pemasangan Perangkat Pendukung yang dimaksud adalah pengadaan
perangkat penunjang lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu namun
diperlukan untuk menunjang tersedianya fasilitas ruang server yang siap dioperasikan
sebagai ruang pengelolaan Server dan Video Storage sebagaimana telah dituliskan
dalam Spesifikasi Teknis ini.

Bab V - 38
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

i. Speksifikasi Perlengkapan Ruang Server


Berikut ini adalah spesifikasi teknis dari setiap perangkat yang dibutuhkan untuk
mendukung desain di dalam pembangunan Ruang Server:
1) Spesifikasi Partisi
a) Partisi Penutup kaca Ruang Server menggunakan gypsum tahan api
b) Bahan Fire Rated Partition bersertifikat
c) Double Layer Firestop min 12mm + hollow frame
d) Fire Insulation 2 hours
e) Untuk ruang Ruang Server menggunakan metal ceiling
f) Antara ruang Penunjang ke koridor dan ruang Server ada half Glass Partition
g) Perforated Metal Ceiling / Grill diatas Rak server untuk return air PAC

2) Spesifikasi Pintu Tahan Api


a) Pintu tahan api bersertifikat
b) Double Door ukuran 900 x 2200 dan ukuran 30 x 2200
c) Plat Daun Pintu min 2mm
d) Isolator Rock wool min 100kg/m3
e) Accessories + kunci

3) Spesifikasi Pintu Ruang Operator


a) Alumunium door ukuran 900 x 2200
b) Daun Pintu lengkap dengan handle + kunci

4) Instalasi Kabel Listrik & Kabel Data


a) Termasuk penarikan kabel dari Power Panel ke Main Switch Board (MSB) di
Ruang Server
b) Menggunakan Kabel 4 besar PLN
c) Menggunakan Kabel Ladder untuk Data & Kabel power
d) Kabel Power di bawah raised Floor, kabel data diatas rack server

5) Spesifikasi System Air Conditioning


a) Fan Coil Unit model Refrigerant Flow
b) Kapasitas : sesuai kebutuhan pada 24oC – 45% RH
c) Air Flow Type : Down Flow
d) Cooling Type : Air Cooled
e) System Control : Touch screen Display
f) Humidifier
g) Electronic Expansion Valve
h) Heater : Three stage electric reheat
i) Compressor : Dual standart scroll
j) Network : SNMP Card
k) Frame : Modular
l) Auto start : Bila power mati lalu hidup kembali maka akan hidup secara
otomatis
m) Scheduler : mampu melakukan penjadwalan operasi terhadap beberapa unit
secara otomatis.

6) System UPS
a) UPS : Concept Power Conditioning Modular
b) Kapasitas : 10Kva/16Kw (per module)
c) Minimal 3 (tiga) module per frame
d) Topologi : On Line Double Conversion, VFI
e) Parallel Technology : Distributed Parallel Architecture (in one module included
rectifier, inverter, control logic and display)
f) Construction : Modular (Expandable Vertical and Horizontal), Hot Swapable,
No need bypass or shutdown system when adding or replacing modules.
g) Input Power Factor: 0.98
h) Output Power Factor: 0.8

Bab V - 39
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

i) Input Frequency: 35 - 70 Hz
j) Input Current Form: Sinewave
k) Redundancy n + 1: High Reliability
l) Efficiency(double conversion) : Up to 97%
m) Standards: EN 50091, Part 1, 2 and 3, IEC 62040, Part 1, 2 and 3
n) Input Voltage (V) : 3x380V/220V+N, 3x400V/230V+N, 3x415V/240V+N
o) Input Voltage Tolerance: For Loads <100%(-23%,+15%), <80%(-30%,+15%),
<60%(-40%,+15%)
p) Output Voltage (V) : 3x380V/220V+N, 3x400V/230V+N, 3x415V/240V+N
tolerance + 1%
q) Crest Factor: 3 : 1
r) Overload : 150% for 1 min., 125% for 10 min.
s) Power Management Display: With LCD, Mimic Diagram, Control
t) Communication Port: Serial RS - 232
u) SNMP
v) SMS Alert + Probe Temp
w) Battery untuk back-up 30 menit pada load 20Kva.

7) Rack System
a) Ukuran Rak Server 19 “
b) Tinggi : 42 U
c) Depth : 1100mm
d) Pintu Depan & belakang Perforated, dengan engsel bukaan mencapai 1300
e) Terdapat pre-cut untuk lobang masuk kabel di roof
f) Lavelling feet
g) 1 unit Horizontal kabel management
h) unit vertical kabel management
i) Tiap rak dilengkapi 2 PDU minimal outlet 12 port,
j) rak server & 1 rak network yang masing masing memiliki 1 IP monitoring PDU
k) Warna rak adalah Dasar (un finished)

8) System Kabel Data


a) Instalasi Kabel Data (Cabling) harus menurut standart TIA 942
b) Penarikan Kabel Data dari rack network ke semua rak server
c) Tarikan UTP dari Rack network ke masing-masing rack server kabel data yang
digunakan adalah UTP Cat 6 A.
d) Terminasi Cabling Data ke Core Switch
e) Patch Panel Terminasi & Patch Panel 24 port
f) Menyediakan patch cord, ukuran minimal 10 feet di setiap rak server (untuk
penarikan ke server)
g) Membuat Dokumentasi & labeling lengkap untuk cabling data
h) Etherscope
i) Series II mainframe,
j) Battery pack (installed),
k) Protective boot,
l) Rechargeable Li-Ion
m) Carrying strap,
n) AC adapter/battery charger,
o) Remote wire map (WireView #1),
p) CompactFlash® card,
q) Patch cable, RJ-45
r) 802.11a/b/g Cardbus adapter (include untuk WLAN)
s) external directional antenna (include untuk WLAN)
t) Adapter,
u) Getting Started Guide,
v) Resource CD,
w) Carrying
x) Cable Analyzer

Bab V - 40
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

y) Cable tester for Cat 6A & 10 GB Cabling,


z) level IV Accuracy,
aa) 900 Mhz,
bb) Intuitive trouble shooting

9) Smoke Detector
a) HSSD, Very Early Smoke Detector apparatus
b) Sensivity range 0.005 to 20% obs/m
c) Dual Stage Filter
d) Laser detection system
e) stage configure alarm (alert, action, fire1, fire 2)
f) Automatic adjustable system
g) Bar Graph/Indicator LED display (20 segment)

10) EMS Monitoring System


Monitoring Critical environmental condition seperti :
a) Temperature and Humidity sensor
b) Liquid Detection Sensor
c) Motion intrusion, vibration, all door contact
d) FAP System
e) Aalarm beacon & siren
f) TCP/IP Communication
g) Communication by sms & email

11) Kamera CCTV


Spesifikasi sudah tertera dalam persyaratan pekerjaan CCTV.

5.8.7. BAHAN - BAHAN


a. Umum.
Semua bahan yang didatangkan dan akan dipasang harus baru, bebas dari segala
cacat/kerusakan, kualitas terbaik dari produk yang dikenal dan sesuai untuk daerah
tropis.

b. Closed Distribution Frame (CDF) untuk terminasi Core Switch di Ruang Data
Center.
Kotak CDF di Core Switch harus dari tipe pasangan dalam dengan kapasitas sesuai
petunjuk dalam Gambar Kerja, dan harus memiliki karakteristik minimal sebagai berikut :
- Rumah dibuat dari reinforced polyester,
- Dilengkapi dengan pintu yang dapat dilepas untuk terminasi kabel.
- Dilengkapi dengan ventilasi pada bagian atas dan bawah untuk sirkulasi udara dan
mencegah kelembaban,
- Disetujui oleh Telkom,

c. Kotak CDF di setiap bangunan.


Kotak CDF di setiap bangunan merupakan kotak terminsi kabel UTP ke OTB dengan
tipe dan kapasitas sesuai petunjuk dalam Gambar Perencanaan, harus memiliki
karakteristik minimal sebagai berikut:
- Dapat dipasang Flooer Standng di setiap gedung,
- Mudah di pasang,
- Ringan dan Kuat,
- Kotak dibuat dari resin daur ulang,
- Bagian metal dibuat dari bahan baja anti karat AISI 304,
- Dapat dibuka sampai 90°,
- Tahan terhadap UV dengan proteksi indeks IP 53/54,
- Dapat dikunci,

Bab V - 41
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

d. Kabel Serat Optik


- Kabel Serat Optik dalam gedung yang keluar atau masuk dari Kotak CDF merupakan
serat optic jenis Multi Mode. Kabel serat optic yang dimaksud harus dari jenis kabel
serat optik berisolasi PVC dengan pita pelindung statis, seperti tipe R-V (Pe) V, yang
memenuhi ketentuan SNI 04-2077-1990.
- Merk kabel yang direkomendasikan adalah LS Cable , MMC, PANDUIT atau setaraf
dengan jumlah core sesuai ketentuan dalam Gambar Perencanaan.

e. Kabel UTP
1) Kecuali ditentukan lain dalam Gambar Perencanaan, Kabel UTP yang digunakan
harus sesuai dengan produk unit komponen aktif yang terpilih baik dengan tipe
kabel spesifikasi PoE (Power over Ethernet) atau non PoE baik untuk UTP Cat 6.
2) Kabel data pada system jaringan komputer yang akan digunakan direkomendasikan
dari buatan LS Cable , MMC, PANDUIT dengan karakteristik minimal sebagai
berikut:
- Diameter 0,6mm.
- Berisi 4 pasang UTP untuk setiap data.
- Atenuasi maksimal (dB yang hilang per 100m) :
1MHz : 1.8dB
4MHz : 3.2dB
10MHz : 5dB
16MHz : 6.2dB
20MHz : 7dB
31.25MHz : 8.8dB
62.5MHz : 12.5dB
100MHz : 16Db
- Near end crosstalk loss minimal (dB yang hilang per 100m):
1MHz : 65dB
4MHz : 55dB
10MHz : 50dB
16MHz : 47dB
20MHz : 45dB
31.25MHz : 42dB
62.5MHz : 38dB
100MHz : 35dB

f. Stop Kontak./ Outlet


1) Stop kontak / Outlet data harus dari tipe rata permukaan (flush mounted) dengan
warna netral Ivori atau sesuai arahan dari Arsitek.
2) Spesifikasi dari Outlet data yang dimaksud harus sama atau setara dengan produk
Schneider, Legrand, MK sesuai yang telah disetujui oleh perwakilan owner.

g. Pipa konduit
Diameter pipa conduit harus sesuai dengan ketentuan dalam Gambar Kerja atau
disesuaikan dengan jumlah kabel yang akan ditempatkan didalamnya.

h. Kabel Fiber Optic


Kabel Fiber Optic yang di gunakan ada 2 jenis :
1) Kabel Outdoor Direct Buried untuk Backbone
- Mendukung G.652D.
- Redaman kabel per meter 1310 nm adalah max 0.36 dB dan 1550nm adalah
max 0.25 dB.
- Konstruksi kabel adalah armored type untuk direct buried.
- Minimum jumlah core adalah 4 core.
- Outer diamer adalah 8.5 mm.
- Warranty End to End adalah 25 tahun.

Bab V - 42
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

2) Kabel Indoor Dropwire untuk horizontal cabling


- Tipe Fiber adalah G.657a.
- Fiber Optic adalah bend insensitive type untuk indoor instalasi.
- Jaket kabel adalah LSZH.
- Jumlah core fiber adalah 2 core.
- Redaman kabel per meter 1310 nm adalah max 0.3 dB dan 1550nm adalah max
0.2 dB.
- Warranty End to End adalah 25 tahun

i. Accessories Fiber Optic Cable


Aksesoris Kabel Fiber Optic meliputi :
1) Passive Optical Splitter (POS)
- Splitter memiliki beberapa tipe yaitu : 1:4;1:8;1:16:1:32 dan 1:64
- Interface dari splitter adalah SC/APC
- Splitter adalah tipe PLC type
- Insertion loss untuk Splitter tergantung pada splitting ratio
- Same brand with Fiber Optic
- Warranty End to end : 25 tahun

2) Optical Distribution Panel (ODP)


- ODP dapat di tempatkan pada rack 19”
- ODP memiliki beberapa sizing : 1RU,2RU dan 4RU
- Maximum kapasitas ODP : 144 core
- ODP terbuat dari Galvanized Steel
- ODP menggunakan SC Connector
- ODP adalah tipe sliding dan modular
- Same brand with Fiber Optic
- Warranty End to end : 25 tahun

3) Patch Cord FO
- Patch Cord adalah buatan pabrik (factory fabrication)
- Tipe Patch Cord adalah SC/APC-SC/APC
- Panjang Patch Cord : 3mtr dan 5 mtr
- Jaket Patch Cord adalah Low Smoke Zero Halogen
- Tipe Fiber adalah G.652d
- Same brand with Fiber Optic
- Warranty End to end : 25 tahun

j. UTP Cable Category 6


Kabel UTP Cat6 di gunakan untuk instalasi kabel data :
1) Performance Char : 600 MHz
2) Pair Count : 4 pair
3) Outer dimension : 7,15 mm
4) Conductor : 23 AWG Solid bare copper
5) Impedance : 100 ohm
6) NVP : 66
7) Jacket : PE or LSZH
8) Attenuation (dB) : 32,8
9) NEXT (dB) : 38,3
10) ACR (dB) : 5,5
11) Warranty End to End : 25 years

k. Accessories UTP Cable


Aksesoris UTP Cable Category 6 meliputi :
1) Patch Panel Category 6
- Meet or exceed TIA Cat6 performance requirement
- Number of ports available : 24 ports or 48 ports
- Same brand with the proposed Cable

Bab V - 43
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Have rear cable management bars and fixings


- Removable label area
- End to End Warranty : 25 years

2) Modular Jack Category 6


- Meet or exceed TIA Cat6 performance requirement
- IDC punch down type
- RJ45 Jack life : Min. 750 insertions
- IDC Jack life : Min. 250 terminations
- Same brand with proposed Cable
- End to End Warranty : 25 years

3) Patch Cord Category 6


- Meet or exceed TIA Cat6 performance requirement
- Cable construction : stranded flexible copper cable
- Copper conductor : AWG 24
- Injection moulded boot for improved strain relief
- High Grade gold plated RJ45 connector
- Same brand with proposed cable
- End to End Warranty : 25 years

4) 19” Rack Server


- Closed Rack with perforated Door
- Size : W 600 mm x D 1100 mm x H 42U
- Material : Galvanized Steel
- Static load : 1000 kg
- Fan : 6 heavy duty fan
- PDU : 2 x 12 port

5) 19” Wallmount Rack Server


- Type : Wallmounted Closed Rack
- Size : W 600 mm x D 550 mm
- Door : Double door with tamper glass front door
- Fan : 4 unit heavy duty fan
- PDU : 1 x 6 port

l. Switch PoE
Spesifikasi Teknis untuk Switch PoE :
1) Merupakan Manageable switch yang bersifat dapat stackable dan merupakan
switch dengan kemampuan L2+
2) Mendukung 24PoE+ atau 48PoE+
3) Switch Fabric capacity (full duplex) minimum 172 Gbps
4) Forwarding rate capacity minimum 128 Mpps
5) Link Aggregation minimum 128 LAG group, 144 dynamic ports
6) Remote Switch port Analyzer (RSPA) monitor port
7) Mendukung OSPF Routing
8) Mendukung Spaning Tree Protocol
9) Mendukung fitur IPv6
10) Memiliki fitur ACL (Access Control Lists) yang dapat diaplikasikan di level port,
VLAN, dan Router
11) Memiliki fitur port based QoS
12) Memiliki fitur Management CLI (command-line interface)
13) Mendukung VLAN Tagging; Spanning Tree
14) Memiliki fitur SNMP v1/v2/v3
15) Memiliki Lifetime Warranty Support
16) Memiliki Service Support 3x24x7

Bab V - 44
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.8.8. PELAKSANAAN PEKERJAAN


a. Umum.
1) Kontraktor harus memeriksa kebutuhan ruang dengan Kontraktor lain untuk
memastikan semua peralatan dan perlengkapannya dapat dipasang pada tempat
yang telah ditentukan.
2) Kontraktor harus segera memperbaiki setiap pekerjaan yang dinilai tidak sesuai
oleh Konsultan MK.
3) Kontraktor secara teratus harus membuang kotoran dan bahan tak terpakai agar
dapat bekerja dengan aman.
4) Kontraktor harus menyediakan semua alat kerja, peralatan pemasangan, peralatan
pengujian dan melaksanakan pengujian serta mencatatnya.

b. Pemasangan CDF
1) Unit kotak CDF unit harus dipasang pada ruangan seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar Perencanaan.
2) Setiap kotak CDF harus diberikan cadangan titik terminalsi harus memiliki cadangan
sekurang-kurangnya 20% dari total kapasitas.
3) Kabel yang akan ditanam di dalam bagian bangunan (di lantai atau di dinding) harus
ditempatkan di dalam konduit tahan karat seperti disebutkan dalam Spesifikasi
Teknis 16400.
4) Untuk ruangan tanpa langit-langit, kabel harus ditempatkan di dalam konduit atau
rak kabel ( Kabel Try ) dan diklem ke beton pelat pada setiap jarak 100cm.
5) Seluruh kabel harus diberi tanda dengan tanda kabel.
6) Soket telepon dan data harus ditempatkan pada lokasi yang ditunjukkan dalam
Gambar Kerja atau sesuai petunjuk dari Pengawas Lapangan.
7) UTP Category 5 atau Category 6 harus dipasang pada tempat-tempat seperti
ditunjukkan dalam gambar Kerja, dengan tetap memperhatikan batasan jarak yang
diisyaratkan. Total panjang satu segmen dibatasi sampai 90meter.
8) Kontraktor harus menyiapkan diagram pemasangan kotak terminal data CDF.
9) Semua kabel data harus ditempatkan di dalam konduit.
10) Tinggi maksimal pemasangan kotak terminal sambung ± 90 cm dan tinggi minimal ±
30 cm.

c. Peralatan
Koordinat tempat setiap peralatan akan ditentukan kemudian.
1) Kabel Konduit
- Semua kabel yang dipasang mendatar harus dipasang Trunking Kabel.
- Semua kabel yang dipasang di shaft secara vertikal harus di pasang pada
tangga kabel.
- Konduit harus diklem ke struktur bangunan dengan sadle klem dan warna
sesuai spesifikasi.
- Kabel fiber optic dan kabel UTP memakai PVC high impact conduit.
- Kabel data tidak boleh ada sambungan.
- Instalasi yang berada pada plan room menggunakan Steel Conduit.
2) Kabel Trunking (Kabel Tray) dan Tangga Kabel
- Kabel tray harus terbuat dari Galvanized finishing dengan lebar
sesuai gambar perencanaan, dimana untuk panjang dari masing-masing
ukuran tersebut disesuaikan dengan gambar rencana.
- Cara pemasangan kabel tray harus digantung pada dak beton dengan besi
bundar berulir (iron rod diameter 10mm) dengan jarak antar besi penggantung
maksimum 150 cm.
- Pada setiap belokan atau pencabangan bentuk kabel tray harus dibuat
sedemikian rupa sehingga kabel sesuai dengan bending yang diperkenankan.
- Tangga kabel terbuat dari hot dip Galvanized finishing dengan lebar
sesuai gambar perencanaan, dimana untuk panjang dari masing-masing ukuran
tersebut disesuaikan dengan gambar rencana.

Bab V - 45
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Tangga kabel digunakan untuk keperluan instalasi kabel feeder sistem elektronik
(untuk instalasi : Fire Alarm, Telephone/Kabel Data, Sound System, Security,
CATV dan BMS)
- Kabel feeder yang dipasang pada tangga kabel atau cable ladder harus diklem
(diikat) dengan klem-klem kabel (pengikat/kabel tie).
- Tangga kabel di pasang ke dinding dengan memakai 3 buah dynabolt
berukuran ½“ x 2” pada tiap kelipatan maksimum 75 cm.
- Kabel tray dan tangga kabel untuk instalasi sistim elektronik menggunakan kabel
tray Sound System.

5.8.9. PENGUJIAN
Pengujian terhadap sistem kerja peralatan harus dilakukan oleh pihak agen penjualan
peralatan dan pihak tersebut harus menyiapkan surat-surat jaminan pemasangan yang baik.

5.9. PEKERJAAN SISTEM MATV DIGITAL


5.9.1. PERSYARATAN UMUM
Persyaratan umum dan persyaratan khusus termasuk instruksi kepada peserta pelelangan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari isian uraian pekerjaan dan persyaratan
pelaksanaan ini Spesifikasi teknis ini menjelaskan tentang uraian dan syarat-syarat dalam
hal penyediaan dan pemasangan semua peralatan serta bekerjanya semua instalasi sistem
MATV baik yang terpasang di bangunan dan diluar bangunan seperti yang tertera pada
gambar-gambar pada bagian lain dari spesifikasi teknis ini.

5.9.2. STANDAR/ PERATURAN


Semua material maupun instalasi dalam pekerjaan ini harus memenuhi Peraturan Umum
Instalasi Listrik (PUIL 2000), SPLN dan lain-lain.

5.9.3. LINGKUP PEKERJAAN


a. Pengadaan dan pemasangan perangkat system MATV (Master Antena Television
lengkap dengan instalasi coaxial cable Junction Box dan TV Outlet. Peralatan pada
pekerjaan MATV pada dasarnya terdiri dari beberapa peralatan dengan rincian sebagai
berikut :
 Antenna Parabola
 Antenna Terrestrial (UHF & VHF)
 Receiver Digital
 HD ( High definition ) Modulator
 Headend Amplifier
 Booster Amplifier
 Directional Coupler/Tap Off
 Splitter
 TV Outlet
 Coaxial Cable

b. Mengadakan testing & trial run secara menyeluruh semua sistem sehingga diperoleh
sistem dengan performance yang berfungsi tepat dan benar.

5.9.4. UMUM
Ketentuan-ketentuan umum seperti standard gambar koordinasi pekerjaan built in insert,
daftar bahan, contoh bahan, nama pabrik/merk yang ditentukan, klausal yang disebutkan
kembali, shop drawing dan lain-lain disesuaikan dengan pasal 1 (pasal umum dari pekerjaan
instalasi ini).

Bab V - 46
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.9.5. MASA JAMINAN


Semua pekerjaan instalasi MATV harus dijamin akan bekerja dengan sempurna Semua
peralatan yang termasuk dalam lingkup pekerjaan di atas harus diberi pemeliharaan cuma-
cuma selama 6 (enam bulan setelah penyerahan tersebut selama garansi selama ± 1 (satu)
tahun. Setelah masa pemeliharaan cuma-cuma selesai Pemborong dapat saja mengajukan
usulan untuk mengadakan kontrak pemeliharaan kepada Pemilik kecuali apabila ditentukan
lain.

5.9.6. SISTEM
Sistem MATV dengan fungsi menerima sinyal gambar melalui antena / video equipment dan
menguatkan sinyal gambar tersebut sehingga sampai di outlet TV set yang hasilnya dapat
memberikan gambar yang baik.
Siaran MATV yang dikehendaki adalah siaran – siaran sebagai berikut :
1. Overseas Channel dari Satelite Asiasat-III 10ch
Phoenix, V – Channel, NOW , TV – 5, DW – TV, Aljajerah, Sahara, Arirang.,Fashion,
Chanell new asia
2. Siaran berbayar (Premium channel) dari Provider
CNN, CNBC, Discovery, Cartoon , HBO, NHK Premium , National geographic, Animal
Planet,ESPN, Starsport 30ch
3. Lokal Channel dari Terrestrial antenna :
TVRI, TV ONE, Trans – TV, Indosiar, RCTI, SCTV, ANTV, TV – Global, Trans – 7, NET,
Metro – TV, Spacestoon. 15 channel
Disesuaikan dengan kondisi daerah proyek untuk jumlah siaran local yg bs diterima
melalui antenna terrestrial, jika lokasi tsb blm bs melalui terrestrial disarankan
penerimaan melalui parabola

5.9.7. DAFTAR MATERIAL DAN BROSUR


Pada waktu mengajukan penawaran Pemborong wajib menyerahkan/ melampirkan daftar
material/peralatan pekerjaan MATV system yang ditawarkan untuk diinstalasi pada proyek ini
Daftar material harus merupakai daftar yang lebih diperinci dari semua material yang akan
dipasang. Harus disertakan pula brosur/ katalog /manuaì operator atau keterangan lain di
mana disebutkan /dinyatakan hal-hal :
- Power, tegangan supply, frequency range
- Band width
- Dimensi / ukuran fisik
- Rugi sisipan (Insertion loss).

5.9.8. MEMERIKSA DAN MELENGKAPI GAMBAR-GAMBAR


Pemborong wajib memeriksa design terhadap kekurangan ataupun kesalahan/
ketidakcocokan baik dari segi besaran-besaran listriknya maupun pemasangan dan lain-lain
Segala kekurangan/kesalahan harus dilengkapi sesuai sistem yang diajukan dalam
penawaran Pengertian akan hal ini adalah bahwa instalasi harus dapat dilaksanakan dan
semua unit dapat bekerja dengan baik dan benar baik material utama maupun accessories.
Pengkomplitan/ Kelengkapan instalasi secara detail dan konsekwensi dari ayat ini adalah
menjadi tanggung jawab Pemborong.

5.9.9. PERALATAN UTAMA MATV


Bahan dan Peralatan yang akan dipakai harus memenuhi atau mendekati persyaratan teknis
sebagai berikut :
1. Dish Parabola
 Diameter : 6 Ft (1,8m) Fixed Mount Solid
 Frekuensi : C – Band (3,7 – 4,5 Ghz)
 Input Level : 40 – 80 dB
 LNB : Double Polarity ( Vertikal & Horisontal)
 Finishing : Powder Coating

Bab V - 47
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

2. Antenna UHF
 Element : 44 Element
 Channel : 21 – 69
 Frekuensi : 470 – 862 Mhz
 Gain : 10 – 14 Db

3. HD DVB-T Modulator built-in Receiver


 Encoder : H.264/MPEG-4 (HD), MPEG-2SD

a. Satelite Input
 Frequency band : 950 – 2150 MHz
 Impedance : 75 ohm
 AFC Range : 5 MHz
 input level bandwidth : 48-85 dBmicrovolt
 Symbol Rate DVB-S : 2-40 Msymb/sec
 Symbol Rate DVB-S2 : 2-30 Msymb/sec

b. Audio / Video Output


 Video format : 16/9, pan scan combined
 Standard : PAL, SECAM,NTSC
 Video level : 1typ, Vpp
 Video Decoder : MPEG-2 ML@MP
 Audio Decoder : MPEG-2, Layer I and II

c. COFDM Modulator
 Transport stream input : 48 pins on the back panel, type parallel
 Max Bite rate : 100 Mbit/s
 Output frequency : 108-862 MHz
 Frequency step : 10 KHz
 Outpur Carier : 2K, 8K
 Output signal modulation : QPSK, 16QAM, 64QAM
 RF Output : 40-60 dbmicrovolt
 Video Input : 4 XHDMI
 Ref : 4SATPro6

4. Combiner
 Input : 16Ch
 Insertion loss : +/- 10db
 Ref : E-16

5. Headend Amplifier
 Input Frekuensi : 47-860 Mhz
 Gain : 50 dB
 Output Level : 120 dbyv
 Ref : FA-50

6. HD /SD Modulator
 Input Frekuensi : 47-862 Mhz
 Output Level : +/-95 Db microvolt with 30db adjustment
 Modulation type : DVB-T COFDM/ DVB-C QAM
 Video Encoder : H.264 1.0-4.0 Up to 1080p@ 30fps
 Input : HDMI & CVBS
 Network : 10M Ethernet via RJ45 connection
 Ref : MD-892

Bab V - 48
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

7. Receiver Digital
 Input Frekuensi : 950-2150Mhz Mhz
 Signal Level : -65dbm – 5dbm
 LNB supply : 13/18V max 300mA
 Video Encoder : MPEG4 AVC H.264
 AV output : HDMI & RCA left &right

8. Splitter
 Frekuensi Range : 5 – 2400 Mhz
 Available Port : 2W,3W, 4W, 6W, 8W
 Through Loss : 3,6 – 10dB
 Ref : KS series

9. Directional Coupler
 Frekuensi Range : 5 – 2400 Mhz
 Frekuensi : 2W, 4W, 6W
 Through Loss : 0,5 – 3 dB
 Ref : KT series

10. Booster Amplifier


 Frekuensi Range : 47 – 862 Mhz
 Gain : 50 dB
 Output Level : 120 dbyv
 Voltage : 230 VAC
 Ref : FA – 50

11. TV Outlet
 Model : Single
 Losses : 0,4 dB – 1,2 dB

12. Kabel Distribusi


 Ukuran : 5C/RG-6
 Losses : Min 20 dB/100m
 Jacket : PVC
 Braid : Min – 60%, Bonded Foam

13. Kabel Feeder


 Ukuran : 7C/RG-11
 Losses : Min 15 dB/100m
 Jacket : PVC
 Braid : Min – 60%, Bonded Foam

5.9.10. PERSYARATAN BAHAN / MATERIAL


1. Umum
a. Semua material yang disuplai dan dipasang oleh Pemborong harus baru dan
material tersebut khusus untuk pemasangan di daerah tropis, serta sebelum
pemasangan harus mendapat persetujuan tertulis dari MK/Perencana.
b. Pemborong harus bersedia mengganti material yang tidak disetujui karena
menyimpang dari spesifikasi atau hal lainnya, dimana penggantian tersebut tanpa
biaya extra.
c. Komponen-komponen dari material yang mungkin sering diganti harus dipilih yang
mudah diperoleh dipasaran bebas.

2. Persyaratan Teknis Pemasangan


a. Coupler /Spliter ditempatkan pada shaft mekanikal yang ada dikoridor, untuk
memudahkan maintenance.

Bab V - 49
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

b. Penempatan spliter, coupler, booster harus disesuaikan dengan losses & output
level Ke tv outlet yang seharusnya diantara 50-60db
c. Pemasangan instalasi kabel distribusi dari spliter ke outlet tv, dihindari berdekatan
dengan kabel power bertegangan tinggi, yang akan berakibat induksi yang
berpengaruh pada kualitas gambar tv.

5.10. PEKERJAAN SISTEM TELEKOMUNIKASI


5.10.1. LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup Pekerjaan Pemborong

01. Pemborong wajib mengadakan, melakukan pemasangan bahan dan peralatan


yang diperlukan di dalam instalasi ini dengan baik dan rapi, melakukan penyetelan
pada bagian yang memerlukan serta mengadakan pengujian, baik untuk setiap
bagian dari sistem maupun untuk keseluruhan sistem, guna mendapatkan suatu
operasi dari sistem secara sempurna dan memuaskan.
02. Pemborong wajib melengkapi seluruh bagian dari sistem sehingga secara
keseluruhan merupakan sistem yang lengkap dan dapat berfungsi dengan baik.
03. Pemborong wajib menyatakan kekurangan dan atau ketidakjelasan dan atau
kesalahan yang terdapat di dalam dokumen pelelangan pada saat Rapat Penjela-
san Pelelangan.
04. Penawaran yang diajukan oleh Pemborong dinilai berlaku untuk seluruh sistem
yang dikehendaki tanpa adanya kekurangan dalam bentuk apapun juga.

Lingkup Pekerjaan Telekomunikasi

Secara garis besar, pekerjaan Sistem Telekomunikasi & Data Internet dapat dibedakan
atas beberapa bagian sebagai berikut:
01. Peralatan utama terdiri dari sentral telepon tipe digital PABX (Hybrid) dan data
internet, dimana bagian kontrol dan penyambungannya dilengkapi dengan
Microproccessor lengkap dengan 2 set Operator Console.
02. Outlet telepon & data internet.
03. Kotak Hubung Utama (KUHT) dan Kotak Hubung tiap lantai dan kotak TELKOM,
seperti ditunjukkan dalam Gambar Rencana.
04. Pengkabelan dari Operator Console ke Key Telepon, dari KHUT ke setiap KHT,
dari setiap KHT ke setiap Outlet Telepon dan pesawat cabang.
05. Sumber daya cadangan lengkap dengan peralatan pengisian muatan yang bekerja
secara otomatis.
06. Pekerjaan sipil sehubungan dengan pekerjaan ini.
07. Peralatan bantu.
08. Pengurusan semua jenis ijin yang diperlukan sesuai dengan Peraturan Pemerintah
yang berlaku.
09. Pembuatan program operasi peralatan dan penomoran pesawat cabang sesuaikan
dengan kebutuhan.
10. Membuat gambar kerja, gambar hasil pelaksanaan termasuk semua revisinya
yang mungkin terjadi.
11. Melakukan pemeliharaan peralatan, melatih operator dan memberikan jaminan
peralatan.

Lingkup Pekerjaan Pemborong Lain

01. Pekerjaan yang sehubungan dengan lingkup pekerjaan paket ini dan dilaksanakan
oleh Pemborong pekerjaan Listrik adalah sebagai berikut:
a. Pengadaan catu daya sampai Sentral Telepon.
b. Pengadaan catu daya untuk pesawat telephone kartu.

Bab V - 50
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

02. Pekerjaan yang sehubungan dengan lingkup pekerjaan paket ini dan dilaksanakan
oleh Pemborong pekerjaan Tanda Bahaya Kebakaran dan Pemadam Kebakaran
adalah penyediaan indikasi kebakaran ke Sentral Telepon.

5.10.2. KETENTUAN TEKNIS PEKERJAAN TELEKOMUNIKASI


Kondisi Operasi
01. Setiap bagian dari bahan dan peralatan yang akan dipakai harus dapat
dioperasikan secara normal pada temperatur keliling tidak kurang dari 45 °C dan
kelembaban relatif tidak kurang dari 80 %.

02. Semua peralatan yang membutuhkan catu daya listrik, harus dipilih yang sesuai
dengan catu daya di Indonesia.

03. Semua peralatan yang membutuhkan catu daya listrik, harus dipilih yang dapat
bekerja secara normal dengan besaran faktor daya tidak kurang dari 0,9 atau
Pemborong wajib menambahkan kapasitor.

04. Apabila ternyata peralatan yang diajukan Pemborong mempunyai kapasitas yang
lebih besar dari yang direncanakan, Pemborong wajib menyesuaikan semua
perubahan komponen yang berhubungan dengan perubahan kapasitas.

Ketentuan Teknis Sentral Telepon

01. Sistem sentral telepon yang dikehendaki adalah jenis Fully Digital, dengan
teknologi Distributed Proccess with Stored Program Control CMOS Logic yang
terdiri atas beberapa bagian, antara lain:
a. Central Control System, antara lain berguna untuk melaksanakan
pengumpulan informasi baik dari Extension maupun Trunk Line, membaca
program dan data serta melaksanakan penyambungan baik berupa
penyambungan antar Extension maupun antara Extension dan Trunk.
b. Memory System, antara lain berguna untuk menyimpan program dan data.
Penyimpanan program hendaknya dilakukan pada EPROM dan penyimpanan
data hendaknya dilakukan pada RAM yang dilengkapi Batere tipe kering
NICAD, sehingga tak bergantung pada kondisi catu daya setempat.
c. Switching Network, yang berguna untuk melaksanakan hubungan baik antar
Extension maupun hubungan antara Trunk Line dan Extension, serta
hubungan antar alat pengolah data dan antara Trunk Line keperalatan
pengolah data (tidak lebih dari dua alat).
02. Sentral Telepon ini hendaknya dipilih yang mampu melakukan Switching Network
jenis Time Division dengan sistem Multiplexer. Jenis Switching Network lainnya
tidak akan dipertimbangkan.

03. Sentral Telepon ini harus bersifat modular dalam arti bisa dikembangkan dengan
mudah dari kapasitas maupun fasilitas yang diinginkan seperti penambahan
pesawat cabang atau saluran PTT cukup dengan menambahkan modul-modul.

04. Sentral Telepon ini harus telah mempunyai sertifikat dari TELKOM.

05. Peserta Pelelangan hendaknya menyertakan daftar yang telah mempergunakan


sentral telepon jenis ini.

06. Sentral harus dilengkapi dengan perlindungan terhadap petir, hubungan singkat /
short circuit (Lightning Protection).

07. Sentral Telepon yang dikehendaki harus dapat menerima sambungan TELKOM
masing-masing sebanyak 6 PTT dan 16 extention.

Bab V - 51
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

08. Sentral Telepon yang dikehendaki harus dilengkapi dengan beberapa peralatan,
antara lain :
a. Sumber daya cadangan berupa batere NICAD yang mampu mengoperasikan
seluruh peralatan selama enam jam atau lebih,
b. Rectifier/Baterry Charger yang bekerja secara otomatis dengan pembatas
arus pengisian,
c. Station Message Detail System berupa satu set PC klas Petir IV dengan
kecepatan 24 MHz dilengkapi :
- VGA adapter dengan memory 32 Mbyte
- HDD kapasitas 40 GB dengan kecapatan 7.200 RPM
- Printer Dot Matrix 9 pin 80 kolom 360 garis
d. Operator Console sebanyak 2 set.

09. Sentral Telepon yang diinginkan harus dapat dilengkapi dengan dua set RS-232
Paralel untuk keperluan hubungan dengan alat pengolah data lainnya, baik secara
Remote maupun secara lokal dalam bangunan.

10. Station Message Detail System yang dipergunakan harus dapat mencatat nomor
Extension, nomor Trunk, waktu pembicaraan, lama pembicaraan dalam detik dan
mampu menghitung biaya pembicaraan.
Selain itu, perlengkapan ini harus dapat menghasilkan cetakan catatan tersebut
atas dasar kode panggilan dari petugas yang akan ditentukan kemudian.

11. Sentral Telepon yang dinginkan harus dapat dihubungkan pada dua jenis pesawat
cabang, seperti diuraikan dalam ketentuan ini.

Kemampuan Operasi Sistem Telepon

01. Kemampuan operasi sistem telepon ini dibedakan atas tiga kelompok, yaitu:
a. Kemampuan operasi sistem sentral,
b. Kemampuan operasi pesawat cabang,
c. Kemampuan operasi operator console.

02. Kemampuan operasi pesawat cabang dibedakan untuk setiap jenis pesawat
cabang.
03. Kemampuan operasi sistem sentral yang diinginkan untuk disediakan adalah
beberapa operasi dibawah ini:
a. Pengaturan fasilitas penyambungan pesawat cabang, baik untuk
internasional, interlokal, lokal dalam kota, lokal dalam gedung ataupun hanya
sebagai penerima saja (Toll Restriction).
b. Pemakaian sarana Back Ground Music selama Holding (Music on Hold).
c. Pengalihan fungsi operator pada saat saat yang dikehendaki termasuk pada
malam hari (Night Service).
d. Pemberian informasi pada operator, apabila terjadi penempatan Handset
kurang baik (Off Hook Alarm).
e. Pemberian informasi secara periodik pada pembicaraan pesawat cabang
sehubungan dengan lamanya waktu pembicaraan (Periodic Time Indication
Tone).
f. Memberikan panggilan kepada semua pesawat cabang dengan kemampuan
prioritas operasi (Piority Call).
g. Pemakaian gabungan antara pesawat DTMF dan Rotary Dial (DTMF
Pushbutton Calling & DTMF to Decadic Conversion).
h. Dan lain lain kemampuan standard yang telah disediakan oleh pabrik
pembuatnya.

04. Kemampuan operasi pesawat cabang yang diinginkan untuk disediakan adalah
beberapa operasi dibawah ini:

Bab V - 52
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

a. Pengadaan hubungan kembali ke pesawat yang sedang sibuk secara


otomatis (Automatic Call Back).
b. Mengalihkan panggilan pada pesawat lainnya (Transfer).
c. Pemberian informasi pada pesawat yang sedang dipakai bahwa ada suatu
panggilan dari pesawat ketiga (Call Waiting).
d. Penentuan kemampuan operasi pesawat, seperti penentuan jenis pesawat,
pembatasan operasi dan lain lainnya (Class of Service Individual).
e. Pemindahan panggilan dari suatu pesawat ke pesawat lainnya yang telah
ditentukan dalam suatu grup operasi (Grup Hunting).
f. Pemakaian bersama dengan pesawat lainnya dan atau dengan panggilan
lainnya (Conference Call).
g. Dan lain lain kemampuan standard yang telah disediakan oleh pabrik
pembuatnya.

05. Kemampuan operasi Operator Console yang diinginkan untuk disediakan adalah
beberapa operasi dibawah ini:
a. Pengadaan hubungan secara otomatis dengan pesawat yang sedang dipakai,
setelah pesawat tersebut selesai dipergunakan (Attendant Camp on with tone
indication).
b. Melepaskan hubungan antara Operator Console dengan Trunk Line setelah
pesawat cabang menerima hubungan tersebut (Attendant Lockout).
c. Memasuki pembicaraan yang sedang berlangsung, baik pembicaraan antar
pesawat cabang maupun pembicaraan antara pesawat cabang dengan Trunk
Line (Attendant Override).
d. Hubungan kembali dengan Trunk Line yang tidak diterima oleh pesawat
cabang setelah jangka waktu tertentu (Automatic Recall).
e. Melayani panggilan masuk secara berurutan sesuai dengan waktu
diterimanya panggilan tersebut (Call Quering).
f. Dan lain lain kemampuan standard yang telah disediakan oleh pabrik
pembuatnya.

Ketentuan Teknis Pesawat Telepon

01. Pesawat Telepon yang diinginkan terdiri atas dua jenis yaitu:
a. Jenis standard kantor, sebanyak sesuai yang ditunjukkan dalam gambar
rencana.
b. Jenis khusus, untuk setiap ruang seperti Manager, Receptionis dan lain-
lainnya.
02. Pesawat Telepon jenis standard, hendaknya merupakan tipe PUSHBUTTON
DTMF dengan 12 tombol operasi dan sebuah lampu tanda.
03. Pada pesawat telepon jenis standard, harus diberikan perlengkapan berupa
Speaker untuk keperluan Paging dan alat pengatur kuat suara bel panggilan.
04. Pesawat Telepon jenis khusus, hendaknya merupakan tipe PUSHBUTTON DTMF
dengan tombol operasi sesuai dengan kemampuan dan kegunaan pesawat
tersebut. Pada tombol tombol operasi hendaknya diberikan tanda untuk keperluan
hubungan fungsionilnya. Ketentuan mengenai tanda tersebut akan diberikan ke-
mudian.
05. Pada pesawat telepon jenis khusus, harus diberikan perlengkapan berupa Speaker
untuk keperluan Paging, Microphone untuk keperluan operasi secara TOTAL
HANDS FREE, alat pengatur kuat suara bel panggilan dan kuat suara
pembicaraan, LED Display Screen sebanyak 16 karakter, dan lain lain
perlengkapan standard pengadaan dari pabrik pembuatnya.

Ketetuan Teknis Kotak Hubung


01. Kotak Hubung yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus terbuat dari plat baja
setebal 1,20 mm atau lebih yang diproses antikarat dan dicat dengan cat bakar.
Warna kotak hubung akan ditentukan kemudian.

Bab V - 53
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

02. Kotak Hubung hendaknya dilengkapi dengan kunci yang sama dan jumlah kunci
yang disediakan Pemborong adalah sebanyak Kotak Hubung tersebut.
03. Peralatan terminasi yang dipasangkan didalam Kotak Hubung hendaknya sesuai
dengan yang peraturan yang berlaku, khususnya di Bandung dan disetujui oleh
Manajemen Konstruksi.
04. Pengaturan terminal dalam Kotak Hubung harus sedemikian rupa sehingga sesuai
dengan peraturan yang berlaku.

Ketentuan Teknis Kabel


01. Kabel penghantar yang dipergunakan dari setiap terminal pesawat cabang ke
kotak hubung adalah kabel berinti banyak dan setiap intinya terbuat dari tembaga
berbentuk serabut berisolasikan PVC dan secara keseluruhan diisolasi dengan
bahan PVC dimana inti kabel ditempatkan secara TWISTED sesuai untuk
pemakaian didalam ruang.

02. Kabel penghantar yang dipergunakan dari setiap Kotak Hubung ke Kotak Hubung
Utama adalah kabel berinti banyak dan setiap intinya terbuat dari tembaga
berbentuk serabut berisolasikan PVC dan secara keseluruhan diisolasi dengan
bahan PVC dimana inti kabel ditempatkan secara TWISTED sesuai untuk pe-
makaian didalam saluran.
03. Kabel penghantar yang akan ditanam tanpa perlindungan khusus hendaknya
merupakan tipe kabel khusus untuk ditanam yang dilengkapi dengan lapisan pelin-
dung.

Ketentuan Teknis Pipa Pelindung Kabel


01. Pemborong wajib mempergunakan pipa pelindung kabel bagi semua kabel dari
Kotak Hubung ke setiap terminal pesawat dan antar Kotak Hubung. Diameter
dalam dari pipa pelindung kabel hendaknya tidak kurang dari 150% diameter luar
kabel.

02. Apabila tidak ditentukan lain, Pemborong wajib mempergunakan pipa pelindung
kabel yang terbuat dari bahan PVC khusus tipe SUPER HIGH IMPACT HEAVY
GAUGE untuk pemakaian dalam bangunan sesuai dengan Standar BSI.

03. Pipa pelindung kabel yang dipergunakan hendaknya mempunyai sifat sebagai
berikut:
a. Tidak mudah terbakar,
b. Tidak merambatkan api,
c. Dapat memadamkan api dengan sendirinya,
d. Tidak mengeluarkan gas beracun bila terbakar,
e. Dan ketentuan ketentuan lainnya sesuai dengan persyaratan International.

04. Pemborong wajib mempergunakan kotak percabangan yang sesuai dengan


kebutuhan dan tipe pemasangannya serta disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

05. Pemborong wajib mempergunakan alat bantu pemipaan yang sesuai dengan
kegunaannya dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

06. Peralatan bantu untuk pipa pelindung diatur sebagai berikut:


a. Pada setiap jarak 6 meter harus diberikan sambungan tipe EXPANSION
COUPLING,
b. Tipe klem pipa harus sesuai untuk pemakaian jenis sambungan yang
dimaksud, dimana pipa tidak berhubungan langsung dengan tempat kedudu-
kannya,
c. Lem yang dipergunakan harus sesuai dengan ketentuan dari pabrik pembuat
pipa dan bersifat FIRE RETARDANT.
d. Kotak Percabangan harus disediakan pada setiap jarak 25m dan atau pada
setiap 4 belokan arah.

Bab V - 54
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

Ketentuan Teknis Rak Kabel

01. Pemborong wajib mempergunakan rak kabel untuk semua kabel yang ditempatkan
didalam pipa pelindung kabel sebanyak 6 jalur atau lebih dan untuk semua kabel
yang tidak ditempatkan didalam pipa pelindung kabel, bila dipasangkan secara
mendatar dan atau tegak.

02. Rak kabel harus terbuat dari bahan besi anti karat yang diproses dengan Hot Dip
galvanised, ukuran dan tebal plat harus sedemikian rupa sehingga dapat
menampung beban kabel yang ditempatkan pada rak kabel tersebut.

03. Konstruksi rak kabel yang dipergunakan harus sedemikian rupa sehingga
memungkinkan dibentuk dalam arah lengkung sesuai dengan keperluan di
lapangan.

04. Rak kabel harus dilengkapi dengan penggantung yang dibuat dari bahan besi siku
40x40x4 mm dibagian bawah, tiang penggantung dari bahan besi beton berukuran
diameter 10 mm dan kanal baja UNP 10 pada bagian atasnya. Tiap persambungan
pada bagian penggantung ini harus dilengkapi dengan mur dan kontra mur disetiap
sisinya.

05. Penggantung rak kabel harus ditempatkan pada setiap jarak yang tidak lebih dari
200 cm.

06. Pemborong wajib membuat rak kabel selebar kebutuhan dengan


memperhitungkan jarak pemasangan kabel hingga tidak mempengaruhi besarnya
faktor koreksi yang telah ditentukan selama perencanaan.

07. Apabila ternyata lebar rak kabel yang dibutuhkan lebih dari 75 cm, Manajemen
Konstruksi akan menentukan konstruksinya.

08. Semua bagian baja pada rak kabel harus dilapisi oleh bahan anti karat berupa
Zinchromate buatan ICI sebanyak 2 lapis atau lebih sebelum dipasang.

09. Pada hubungan antara kabel dan peralatan, Pemborong harus mempergunakan
sepatu kabel/klem yang sesuai ukurannya dan disetujui oleh Manajemen
Konstruksi.

5.10.3. KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN


01. Setiap bahan dan peralatan harus dipasang sesuai dengan gambar rencana dan
atau gambar revisi nya serta harus disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

02. Kotak Hubung hendaknya ditempatkan secara tegak dilengkapi dengan dudukan
dan atau tempat pemasangan terbuat dari bahan besi siku 50x50x5 mm bila
dipasang pada dinding ruangan atau UNP 10 bila dipasang pada lantai ruangan.

03. Apabila tidak ada ketentuan lain, maka Kotak Hubung harus ditempatkan pada
ketinggian 150 cm dari permukaan lantai ruangan yang bersangkutan.

04. Lokasi yang tepat dari semua bahan dan peralatan akan ditentukan kemudian
dilapangan oleh Manajemen Konstruksi.

05. Semua kabel penghantar harus ditempatkan dalam pipa pelindung kabel.

06. Pemborong wajib mempergunakan peralatan bantu pipa pelindung kabel sesuai
dengan fungsinya tanpa tidak mengadakan perubahan.

Bab V - 55
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

07. Pipa pelindung kabel hendaknya dipasangkan pada bagian bawah plat lantai
diatas lantai yang bersangkutan dan di klem pada setiap jarak tidak lebih dari 100
cm. Pemborong wajib memberikan klem disetiap belokan arah, di dekat kotak
percabangan dan ditempat lain yang akan ditentukan kemudian oleh Manajemen
Konstruksi.

08. Kotak percabangan dari pipa pelindung kabel apabila diperlukan harus
ditempatkan pada bagian bawah plat lantai diatas lantai yang bersangkutan. Kotak
percabangan harus dipasang dengan mempergunakan FISHER tipe S5 sebanyak
2 buah ke plat lantai yang bersangkutan.

09. Pemborong tidak diperkenankan mengadakan penyambungan kabel penghantar


kecuali pada terminal peralatan.

10. Penyambungan kabel pada terminal, baik pada setiap Kotak Hubung maupun
pada setiap peralatan, hendaknya dilakukan dengan solder atau klem khusus
sesuai persetujuan Manajemen Konstruksi.

11. Dalam pemasangan kabel penghantar yang ditanam, Pemborong wajib mengikuti
ketentuan mengenai cara penanaman kabel yang berlaku.

12. Setiap bagian dalam pekerjaan yang terbuat dari bahan baja harus diberikan
lapisan antikarat dengan ZINCHROMATE buatan ICI sebanyak 2 lapis.

13. Pemborong hendaknya memberikan tanda jalur kabel untuk mengetahui hubungan
kabel.

14. Hal lainnya mengenai cara pemasangan bahan dan peralatan akan ditentukan
oleh Pengawas selama periode pelaksanaan pekerjaan.

5.10.4. KETENTUAN TEKNIS PENGUJIAN PEKERJAAN


01. Pemborong wajib melaksanakan pengujian baik untuk setiap bagian dari sistem
maupun untuk sistem secara keseluruhan sesuai dengan permintaan Manajemen
Konstruksi.

02. Pemborong wajib memberitahukan rencana pengujian kepada Manajemen


Konstruksi. Pengujian yang tidak dihadiri oleh Manajemen Konstruksi dan wakil
dari Pemberi Tugas dinilai tidak sah dan harus diulang.
03. Pengujian hasil pelaksanaan ditujukan untuk memeriksa hal-hal sebagai berikut:
a. Pengukuran tahanan isolasi kabel penghantar,
b. Besaran CROSSTALK antar penghantar,
c. Sistem kerja peralatan telepon untuk setiap jenis fungsinya,
d. Tahanan penghantar,
e. Dan lain lainnya yang ditentukan oleh Manajemen Konstruksi.

04. Apabila ditemukan adanya ketidakberesan dalam pemasangan, maka Manajemen


Konstruksi berhak untuk menolak penyerahan pekerjaan kepada Pemberi Tugas.

05. Penyerahan pekerjaan kepada Pemberi Tugas hanya dapat dilaksanakan setelah
diadakannya pemeriksaan oleh Lembaga Pemerintah yang berwenang, dimana
hasil pelaksanaan dapat disetujui oleh Lembaga Pemerintah yang berwenang
dengan memberikan sertifikatnya.

Bab V - 56
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

5.11. PEKERJAAN CLOSED CIRCUITS TELEVISION (CCTV)


5.11.1. KETENTUAN UMUM
1. Pekerjaan yang dimaksud ialah mengenai pelaksanaan pekerjaan: Pengadaan,
pemasangan dan penyetelan INSTALASI CCTV yang terdiri dari : Instalasi-instalasi
pengkabelan dari Peralatan Utama / server Monitor ke Camera Pantau yang diperlukan.
2. Membuat gambar instalasi terpasang secara lengkap.
3. Melatih operator yang ditunjuk oleh pemberi tugas tentang instalasi yang dipasang.
Pemborong diwajibkan pula menyerahkan Dokumen cara operasi maupun
pemeliharaan dari sistem tersebut.
4. Melaksanakan masa pemeliharaan, Pemborong harus menyediakan tenaga yang
cakap untuk pemeliharaan terhadap instalasi yang telah dipasangnya selama 6 (enam)
bulan dihitung dari masa penyerahan instalasi. Pemborong harus bersedia datang
sewaktu-waktu jika terjadi masalah atau kerusakan serta memperbaikinya segera.
5. Garansi
Pemborong harus memberikan garansi dari pabrik selama paling kurang satu tahun
khusus untuk peralatan utama.

5.11.2. LINGKUP PEKERJAAN


1. Lingkup pekerjaan ini harus termasuk pengadaan material peralatan, tenaga kerja dan
lain-lain untuk pemasangan, pengetesan, commissioning dan pemeliharaan yang
lengkap sempurna untuk seluruh pekerjaan CCTV System seperti dipersyaratkan di
dalam buku petunjuk ini dan ditunjukkan di dalam gambar perencanaan.
2. Dalam pekerjaan ini harus termasuk juga pekerjaan pekerjaan lain yang tidak mungkin
disebutkan secara terinci di dalam buku ini, tetapi jika dianggap perlu untuk keamanan
dan kesempunaan fungsi dan masa operasi Security System secara keseluruhan,
masih merupakan bagian pekerjaan Kontraktor untuk melengkapinya, Sehingga sistem
berfungsi sesuai yang diharapkan.

5.11.3. URAIAN LINGKUP PEKERJAAN

Item-item pekerjaan yang termasuk di dalam pekerjaan TV ini adalah:


a. Pengadaan Software Video Surveillance yang merupakan bagian dari Software Video
Manajemen System sebagaimana dikehendaki dalam buku spesifikasi ini.
b. Pengadaan Pusat Kontrol, yang terpasang di Ruang Kontrol terdiri dari Video Storage
berikut dengan Perangkat Server dan perlengkapan hardware lainnya untuk menunjang
beroperasinya Sistem Video Surveillance sebagai bagian dari Security System yang
diimplementasikan dalam proyek ini.
c. Kapasitas storage yang dikehendaki adalah untuk dapat menyimpan hasil perekaman
data Video Surveillance sebanyak kamera di dalam gambar secara kontinu 24 jam
dalam waktu 1 bulan, atau seperti yang telah ditetapkan dalam berita acara penjelasan
lelang.
d. Pengadaan dan pemasangan unit kamera CCTV berikut peralatan bantunya sehingga
dapat berfungsi dengan baik sesuai tujuan dari diadakannya pekerjaan video
surveillance ini.
e. Instalasi Sistem, pekerjaan ini meliputi pengkabelan lengkap dengan conduit, sparing,
metal doos untuk fixture unit, percabangan dan penyambungan serta peralatan bantu
lainnya.
f. Lokasi penempatan unit kamera CCTV telah ditunjukkan dalam gambar namun menjadi
kewajiban kontraktor untuk melakukan penyesuaian sehingga secara geometri
didapatkan cakupan yang terbaik sebagaimana dikehendaki dalam buku spesifikasi ini.

5.11.4. PENJELASAN SISTEM


 Pusat Kontrol,
a. Pusat kontrol merupakan pusat untuk melakukan fungsi monitoring dan control baik
secara otomatis maupun secara manual, operasi otomatis dilakukan berdasarkan

Bab V - 57
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

suatu program yang telah ditentukan, sedangkan operasi manual berdasarkan


suatu prosedur operasi melalui unit input.
b. Peralatan utama CCTV berbasis teknologi IP (Internet Protocol) dioperasikan dari
Ruang Kontrol.
 Surveilance Devices,
Peralatan untuk pendeteksian berupa kamera yang digunakan untuk mendeteksi
kejadian-kejadian diluar/dalam bangunan, di dalam ruang pemeriksaan dan di dalam
ruangan ruangan lain yang memerlukan. Surveilance Devices yang dimaksud harus
sudah menerapkan teknologi berbasiskan IP (Internet Protocol) yang diterapkan dalam
Merk CCTV yang ditawarkan.

5.11.5. KEMAMPUAN OPERASI


1. Ketentuan Umum
a. System harus mampu melakukan fungsi monitoring secara flexibel terhadap
kejadian di dalam bangunan Rumah Sakit.
b. Sistem harus mampu melakukan fungsi alerting dan signalling yaitu bila terjadi
kondisi yang tidak normal, maka sistem secara otomatis akan memberikan tanda
tertentu ( berupa alarm ).
c. Sistem harus mampu melakukan fungsi controlling yaitu mengoperasikan semua
sistem yang dikontrolnya.
d. Pengoperasian tersebut harus bekerja sebagai berikut :
- Pengoperasian dapat dilakukan melalui Ruang Kontrol.
- Dari pusat kontrol dapat melakukan control secara otomatis atau manual
terhadap kamera antara lain.
1) Zoom,
2) Iris,
3) Pencetakan gambar kejadian secara otomatis bila alarm berbunyi.
2. Cakupan Software Video Surveillance
a. Video Surveillance System adalah sarana pengelolaan Video untuk pengawasan
secara detil / menyeluruh seperti pengawasan video secara real-time, memainkan
video yang telah direkam, pengelolaan kamera-kamera IP, NVR (Network Video
Recorder) dan media penyimpanan data.
b. Alat dasar Video Surveillance System terdiri dari NVR, IP Kamera, Workstation dan
Network Switch.
c. NVR (Network Video Recorder), digunakan sebagai media penyimpanan utama
dan dapat melakukan perekaman video selama terus menerus 24 jam sehari
selama 30 hari atau lebih.
d. NVR dapat melakukan pengelolaan perekaman dengan resolusi gambar / frame-
rate lebih rendah pada saat tidak ada kegiatan dan resolusi gambar / frame-rate
optimal pada saat ada kegiatan / gerakan di video sebagai efisiensi pengelolaan
media penyimpanan data video.
e. NVR dapat menyediakan hubungan jaringan data serta daya untuk kemudahan
instalasi dan pemeliharaan Video Surveillance System
f. NVR menyediakan dukungan keamanan maximal dengan adanya akses aman
(secured access – https) antara client dan NVR, Telnet yang di non-aktifkan serta
sistem berdasarkan Software open-source Linux.
g. NVR mempunyai spesifikasi sebagai berikut:
- Video
Tampilan Mode Picture-in-Picture, sequential mode, multi- display
mode
Compression H.264

- Recording
Recording Mode Continuous/manual/ schedule recording Alarm
recording/ multiple alarm recording schedules

Bab V - 58
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Playback
Playback Mode Play, pause, stop, reverse play, next/previous
frame, next/previous video file, different speed control
Search Mode By date & time, timeline, event, and intelligent
video analytics (IVA)

- Security
Operation System Linux-embedded
On-line Users List Record of the users currently logged on and
previously logged on to the NVR
Host Access Control Specify the connections to be allowed and
denied to access NVR
User Management The right to monitor and playback each camera can
be separately, defined for each user
Event Logs Detailed event logs of system warning, hard disk
error, network disconnection, and users’ networking service, and data access.

5.11.6. KETENTUAN TEKNIS PEKERJAAN CCTV


1. Ketentuan Umum
Kondisi Operasi
a. Kemampuan Operasi
- System harus mampu melakukan fungsi monitoring secara flexibel terhadap
kejadian di dalam bangunan.
- Sistem harus mampu melakukan fungsi alerting dan signalling yaitu bila
terjadi kondisi yang tidak normal, maka sistem secara otomatis akan
memberikan tanda tertentu (berupa alarm).
- Sistem harus mampu melakukan fungsi controlling yaitu mengoperasi-kan
semua sistem yang dikontrolnya.

Pengoperasian tersebut harus bekerja sebagai berikut :


- Pengoperasian dapat dilakukan melalui Ruang Kontrol.
- Dari pusat kontrol dapat melakukan control secara otomatis atau manual
terhadap kamera antara lain :
1) Zoom,
2) Iris.
- Pencetakan gambar kejadian secara otomatis bila alarm berbunyi.
b. Semua peralatan yang membutuhkan catu daya listrik, harus dipilih yang sesuai
dengan catu daya di Indonesia.
c. Semua peralatan yang membutuhkan catu daya listrik, harus dipilih yang dapat
bekerja secara normal dengan besaran faktor daya tidak kurang dari 0,9 atau
Pemborong wajib menambahkan kapasitor.
d. Apabila ternyata peralatan yang diajukan Pemborong mempunyai kapasitas yang
lebih besar dari yang direncanakan, Pemborong wajib menyesuaikan semua per-
ubahan komponen yang berhubungan dengan perubahan kapasitas.

2. Ketentuan Teknis Peralatan Utama


a. Pusat kontrol merupakan pusat untuk melakukan fungsi monitoring dan control
baik secara otomatis maupun secara manual,operasi otomatis dilakukan
berdasarkan suatu program yang telah ditentukan, sedangkan operasi manual
berdasarkan suatu prosedur operasi melalui unit input.
Pusat Kontrol dimaksud, terdiri dari namun tidak sebatas pada kelengkapan-
kelengkapan berikut:
- Central Video Management System
- Sistem kontrol dokumentasi
- Printer
- Personal Computer
- Keyboard

Bab V - 59
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Monitor colour
- Grounding sistem, terinterkoneksi dengan grounding arus lemah.

b. Initiating devices merupakan peralatan untuk pendeteksian berupa kamera yang


digunakan untuk mendeteksi kejadian-kejadian diluar/dalam bangunan.
Meliputi pekerjaan :
- Pemasangan unit Kamera, dengan jenis Kamera
1) Kamera Indoor
2) Kamera Indoor Low Light
3) Kamera PTZ
- Peralatan bantu :
1) Bracket Camera
2) Fixed Camera Adafter
3) Track Camera
4) Peralatan bantu lainnya untuk membantu system

3. Ketentuan Teknis Peralatan Initiating Devices


a. Ketentuan Umum
- Initiating device yang digunakan terdiri dari System Controller, Monitor
Colour, Network Video Recorder, Lens, Camera, Housing camera mounting
Bracket.
- Sistem mempunyai tegangan kerja yang sama,
- Perlengkapan CCTV System harus diletakkan dalam satu rack khusus.

b. System Controller
- Dapat mengontrol jauh dan auto iris room lens
- Mengkontrol kamera ON/OFF, Housing, zoom lens.

c. Monitor Colour
- Ukuran 32 inch LED
- Resolusi 1920 x 1080 pixel
- Mempunyai USB & HDMI connector
4. Ketentuan Teknis Network Video Recorder
a. Minimum 16 Channel Camera
b. Mempunyai port PoE
c. Siap Smartphone Aplikasi
d. Memiliki sertifikasi UL, CE, FCC & RCM sekaligus
e. HDMI & VGA output
f. Kompresi rekaman menggunakan format H.265/H.264/MJPEG
g. Kapasitas storage maksimum 2 slot HDD, dimana satu slot HDD mampu
menampung 6TB HDD
h. Display resolusi : 3840 x 2160, 1920 x 1080, 1280 x 1024, 1280 x 720, 1024 x 768
i. Memiliki minimal Mic input 1Ch
j. Temperature operasi alat +0° sampai 40°C
k. Ethernet port RJ45
l. Protocols : HTTP, HTTPS, TCP/IP, IPv4/IPv6, UpnP, RTSP, UDP, SMTP, NTP,
DHCP, DDNS/DNS, IP Filter, PPPoE & FTP

5. Ketentuan Teknis Kamera Indoor


a. Spesifikasi Umum
- Persyaratan Umum
1) Kamera harus merupakan produk resmi produsen, dirancang untuk /
penggunaan industri komersial.
2) Kamera harus didasarkan pada komponen standar dan teknologi terbukti
menggunakan protokol terbuka dan dapat dipublikasikan.
3) Semua peralatan (CCTV) yang disediakan harus didukung oleh minimal
satu tahun garansi produsen.
- Sertifikasi dan standar

Bab V - 60
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

1) Sebuah kamera harus mempunyai sertifikasi CE, UL & CSA (tanpa


terkecuali)
2) Kamera harus memenuhi standar berikut :
a) ONVIF compliance
- EN 50132-5-2, EIC 62676-2-3
b) Networking:
- IEEE 802.3af (Power over Ethernet)
- IPv4, IPv6, HTTP, HTPPS, FTP, DNS, DDNS, SMTP, Dropbox
3) Kamera harus mempunyai proteksi terhadap lingkungan dengan
tingkatan proteksi minimal IP66 & proteksi terhadap benturan sebesar
minimal IK08

b. Spesifikasi Produk
- Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
1) Dirancang untuk menyediakan video di HDTV minimal 1080p
(1920x1080) resolusi pada 30 frame per detik dengan menggunakan
H.265/H.264 atau Motion JPEG.
2) Beroperasi pada open source, platform berbasis Windows, dan web
server built-in.
3) Dapat beroperasi di suhu antara -30C sampai +70C (-22F sampai
158F).
4) Beroperasi dalam rentang kelembaban 0-90% RH

c. Spesifikasi Hardware
- Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
1) Kamera menggunakan lensa berkualitas tinggi 1/2.7 inch
2) Dilengkapi dengan lensa fixed 3.6mm dengan fungsi iris otomatis.
3) Terdapat slot untuk memory card dengan kapasitas microSDHC sampai
dengan 32Gb & microSXDC sampai dengan 2TB

d. Spesifikasi Video
Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
- Resolusi :
1) Kamera harus mampu memberikan video frame rate penuh resolusi
minimal 1080p HDTV melalui jaringan IP.
2) Resolusi video yang didukung meliputi: 144p, 288p, 240p, 432p, 480p,
720p, 1080p
3) Mendukung sampai 30 FPS

- Encoding :
1) Support Motion JPEG encoding
2) Support H.264 encoding
3) Mampu secara independen dikonfigurasi H.264 simultan dan Motion
JPEG streaming (dual streaming)
4) Support estimasi gerak dalam H.264 (motion detection).

- Transmisi Protokol
Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
Kamera harus mampu berjalan pada protocol sebagai berikut:
1) HTTP
2) HTTPS
3) RTP
4) FTP
5) RTSP

Bab V - 61
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Kontrol Gambar
Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
1) Support konfigurasi Otomatis dan Manual White Balance.
2) Support shuter elektronik otomatis antara 1/30 and 1/15.000.
3) Support Wide Dynamic Range.

e. Fungsionitas Umum
- WEB SERVER
1) Kamera harus built-in web server sehingga membuat video dan
konfigurasi yang tersedia untuk beberapa klien dalam sistem operasi
standar dan lingkungan browser menggunakan HTTP, tanpa
membutuhkan software tambahan.
2) Opsional komponen download dari kamera untuk tugas-tugas tertentu.

- IP Address
1) Kamera akan mendukung kedua alamat IP tetap dan alamat IP yang
ditetapkan secara dinamis disediakan oleh Dynamic Host Control
Protocol (DHCP).
2) Kamera support untuk IPv4 dan IPv6.

f. Fungsionitas Kejadian
- Kamera harus dilengkapi dengan fungsi kejadian yang terintegrasi, yang bisa
dipicu oleh:
1) Deteksi gerakan.
2) Jadwal yang telah di konfigurasi.
3) Kamera yang dipukul.
- Respon untuk pemicu meliputi:
1) Pemberitahuan, menggunakan TCP, SMTP atau HTTP
2) Upload gambar, menggunakan FTP, SMTP atau HTTP
- Kamera harus menyediakan setidaknya 10 detik memori untuk pra & pasca
rekaman alarm.
- Fungsi kejadian akan dikonfigurasi melalui antarmuka web.

g. Dukungan Protokol
- Kamera harus mampu mendukung untuk setidaknya IP, HTTP, HTTPS, SSL
/ TLS, TCP, ICMP, RTSP, RTP, UDP, IGMP, RTCP, SMTP, FTP, DHCP,
UPnP , ARP, DNS, DynDNS, Dropbox, SOAP dan CHAP.
- Implementasi SMTP harus mencakup dukungan untuk otentikasi SMTP.

h. Tulisan
Kamera harus:
- Menyediakan teks pada layar dengan dukungan untuk tanggal & waktu, dan
teks- pelanggan yang spesifik, nama kamera, setidaknya 45 karakter ASCII.
- Untuk memastikan akurasi, kamera akan menerima sinkronisasi waktu
eksternal dari server NTP (Network Time Protocol).
- Mempunyain kemampuan untuk menerapkan masker privasi untuk gambar.

i. Keamanan
Kamera harus:
- Mendukung penggunaan HTTPS dan SSL / TLS, menyediakan kemampuan
untuk mengenkripsi dan otentikasi aman dan komunikasi baik data
administrasi dan video stream.

Bab V - 62
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Memberikan dukungan untuk membatasi akses ke alamat IP yang telah


ditetapkan saja, yang disebut alamat IP filtering.
- Membatasi akses ke web server built-in dengan username dan password
pada tiga tingkat yang berbeda.
- Mendukung otentifikasi IEEE 802.1X.

j. Dukungan Api
Kamera harus didukung sepenuhnya oleh API terbuka dan diterbitkan
(Programmer Application Interface), yang akan memberikan informasi yang
diperlukan untuk integrasi fungsionalitas ke aplikasi pihak ketiga.
- Kamera harus sesuai dengan standar jaringan video seperti yang
didefinisikan oleh organisasi ONVIF.

k. Instalasi Dan Pemeliharaan


Kamera harus:
- Disertakan dengan perangkat lunak manajemen berbasis Windows yang
memungkinkan penugasan dari alamat IP, upgrade firmware dan backup
konfigurasi Kamera.
- Mendukung penggunaan alat manajemen berbasis SNMP menurut SNMP v1,
2c & 3 / MIB-II.
- Memungkinkan update perangkat lunak (firmware) melalui jaringan,
menggunakan FTP atau HTTP.
- Semua pengaturan akan disimpan dalam memori non-volatile dan tidak akan
hilang selama kamera restart atau soft reset.

l. Log Pengguna
Kamera harus:
- Menyediakan file log, yang berisi informasi tentang koneksi terbaru dan akses
upaya sejak me-restart unit. File harus mencakup informasi tentang alamat IP
menghubungkan dan waktu menghubungkan.
- Menyediakan daftar koneksi dari semua viewer saat terhubung dengan
kamera. File harus mencakup informasi tentang cara menyambungkan
alamat IP, waktu menghubungkan dan jenis aliran diakses.

m. Diagnostik Kamera
Kamera harus:
- Dilengkapi dengan LED, mampu memberikan informasi status terlihat. LED
akan menunjukkan status operasional kamera dan memberikan informasi
tentang kekuatan, komunikasi dengan penerima, status jaringan dan status
kamera.
- Dipantau oleh fungsi Watchdog, yang akan secara otomatis kembali memulai
proses atau restart unit jika kerusakan yang terdeteksi.

n. Koneksi Jaringan
Kamera harus :
Kamera harus dilengkapi dengan satu 100BASE-TX Fast Ethernet port,
menggunakan standar RJ-45 socket dan akan mendukung negosiasi auto
kecepatan jaringan (100 MBit / s dan 10 Mbit / s) dan modus transfer (full duplex
dan setengah).

o. Perlindungan
Kamera harus :
IP66-rating

Bab V - 63
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

p. Power
Kamera harus :
Power over Ethernet sesuai dengan IEEE 802.3af Kelas 1.
- Ketentuan Teknis Kamera Indoor Low Light

6. Ketentuan Teknis Kamera Indoor Low Light

a. Spesifikasi Umum
- Persyaratan Umum
1) Kamera harus merupakan produk resmi produsen, dirancang untuk /
penggunaan industri komersial.
2) Kamera harus didasarkan pada komponen standar dan teknologi terbukti
menggunakan protokol terbuka dan dapat dipublikasikan.
3) Semua peralatan (CCTV) yang disediakan harus didukung oleh minimal
satu tahun garansi produsen.

- Standar & Peraturan


1) Kamera harus memenuhi beberapa standard dan sertifikasi sebagai
berikut :
2) Sebuah kamera harus mempunyai sertifikasi CE, FCC, UL, cUL, RCM &
CB (tanpa terkecuali)
3) Kamera akan bertemu ONVIF profil S / ONVIF profil G / ONVIF profil Q.

- Kamera harus ada sertifikasi EMC berikut:


1) EN 50130-4
2) EN 50130-5
3) EN 60950-1
4) IEC 62471
5) FSC part 15 Subpart B, class B

- Kamera harus memenuhi standar berikut:


1) IEEE 802.3af (Power over Ethernet)
2) IEEE 802.1X (Authentication)
3) IPv4
4) IPv6

b. Spesifikasi Produk
- Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
1) Dirancang untuk menyediakan video di HDTV minimal 1080p
(1952x1092) resolusi pada 30 frame per detik dengan menggunakan
H.264 atau Motion JPEG.
2) Beroperasi pada open source, platform berbasis Windows dan web
server built-in.
3) Kamera akan beroperasi dalam rentang suhu dari -30 ° C hingga +70 ° C
(-22 ° F sampai 158 ° F).
4) Beroperasi dalam rentang kelembaban 20-90% RH (kondensasi).

c. Spesifikasi Hardware
- Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
1) Kamera harus dilengkapi dengan sensor progressive scan megapixel IR-
sensitif.
2) Kamera akan memberikan gambar dalam warna saat cukup
pencahayaan dan B / W tanpa pencahayaan saat IR aktif.
3) Kamera harus dilengkapi dengan lensa yang mempunyai auto iris.
4) Dilengkapi dengan infra merah, memiliki jangkauan minimal sekitar 10m
(33ft)

Bab V - 64
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

d. Spesifikasi Video
- Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
1) Resolusi :
a) Kamera harus mam
b) pu memberikan video frame rate penuh resolusi minimal 1080p
HDTV melalui jaringan IP.
c) Resolusi video yang didukung meliputi:
 400x720
 704x480
 768x432
 854x480
 1280x720
 1920x1080
d) Mendukung sampai 30 FPS

2) Encoding :
a) Support Motion JPEG encoding
b) Support H.264 encoding
c) Mampu secara independen dikonfigurasi H.264 simultan dan Motion
JPEG streaming (dual streaming)
d) Support estimasi gerak dalam H.264 (motion detection).

3) Transmisi Protokol
1) Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
a) Kamera harus mampu berjalan pada protocol sebagai berikut:
(1). HTTP
(2). HTTPS
(3). RTP
(4). FTP
b) Kamera mampu mendukung Quality of Service (QoS) untuk
dapat memprioritaskan lalu lintas bandwitdh.

4) Kontrol Gambar
Kamera harus mempunyai specs sebagai berikut :
a) Support konfigurasi Otomatis dan Manual White Balance.
b) Support shuter speed otomatis dan manual antara 1/12 dan 1/15000.
c) Support Wide Dynamic Range.

e. Fungsionitas Umum
- WEB SERVER
1) Kamera harus built-in web server sehingga membuat video dan
konfigurasi yang tersedia untuk beberapa klien dalam sistem operasi
standar dan lingkungan browser menggunakan HTTP, tanpa
membutuhkan software tambahan.
2) Opsional komponen download dari kamera untuk tugas-tugas tertentu

- IP Address
1) Kamera akan mendukung kedua alamat IP tetap dan alamat IP yang
ditetapkan secara dinamis disediakan oleh Dynamic Host Control
Protocol (DHCP).
2) Kamera support untuk IPv4 dan IPv6.

f. Fungsionitas Kejadian
- Kamera harus dilengkapi dengan fungsi kejadian yang terintegrasi, yang bisa
dipicu oleh:
1) Deteksi gerakan.

Bab V - 65
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

2) Jadwal yang telah di konfigurasi


- Respon untuk pemicu meliputi:
1) Pemberitahuan, menggunakan TCP, SMTP atau HTTP
2) Upload gambar, menggunakan FTP, SMTP atau HTTP
3) Kamera harus menyediakan setidaknya 10 detik memori untuk pra &
pasca rekaman alarm.
- Fungsi kejadian akan dikonfigurasi melalui antarmuka web.
- Mengaktifkan IR LED saat tidak ada pencahayaan
- Dapat Merekam ke penyimpanan local (SD Card).

g. Dukungan Protokol
- Kamera harus mampu mendukung untuk setidaknya IP, HTTP, HTTPS, SSL
/ TLS, TCP, RTSP, RTP, UDP, IGMP, RTCP, SMTP, FTP, DHCP, UPnP ,
ARP, DNS, DynDNS, Dropbox, SOAP dan CHAP.
- Implementasi SMTP harus mencakup dukungan untuk otentikasi SMTP.

h. Tulisan
Kamera harus:
- Untuk memastikan akurasi, kamera akan menerima sinkronisasi waktu
eksternal dari server NTP (Network Time Protocol).
- Mempunyain kemampuan untuk menerapkan masker privasi untuk gambar.

i. Keamanan
Kamera harus:
- Mendukung penggunaan HTTPS dan SSL / TLS, menyediakan kemampuan
untuk mengenkripsi dan otentikasi aman dan komunikasi baik data
administrasi dan video stream.
- Memberikan dukungan untuk membatasi akses ke alamat IP yang telah
ditetapkan saja, yang disebut alamat IP filtering.
- Membatasi akses ke web server built-in dengan username dan password
pada tingkat yang berbeda.
- Mendukung otentifikasi IEEE 802.1X.

j. Dukungan Api
- Kamera harus didukung sepenuhnya oleh API terbuka dan diterbitkan
(Programmer Application Interface), yang akan memberikan informasi yang
diperlukan untuk integrasi fungsionalitas ke aplikasi pihak ketiga.
- Kamera harus sesuai dengan ONVIF Profil S atau ONVIF Profile Q atau
ONVIF profil G.

k. Installasi Dan Pemeliharaan


Kamera harus:
- Disertakan dengan perangkat lunak manajemen berbasis Windows yang
memungkinkan penugasan dari alamat IP, upgrade firmware dan backup
konfigurasi Kamera.
- Mendukung penggunaan alat manajemen berbasis SNMP menurut SNMP v1,
2c & 3 / MIB-II.
- Memungkinkan update perangkat lunak (firmware) melalui jaringan,
menggunakan FTP atau HTTP.
- Memberikan kemampuan yang dapat digunakan sebagai counter pixel
mengidentifikasi ukuran objek dalam jumlah pixel.

Bab V - 66
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Semua pengaturan akan disimpan dalam memori non-volatile dan tidak akan
hilang selama kamera restart atau soft reset.

l. Log Pengguna
Kamera harus:
- Menyediakan file log, yang berisi informasi tentang koneksi terbaru dan akses
upaya sejak me-restart unit. File harus mencakup informasi tentang alamat IP
menghubungkan dan waktu menghubungkan.
- Menyediakan daftar koneksi dari semua viewer saat terhubung dengan
kamera. File harus mencakup informasi tentang cara menyambungkan
alamat IP, waktu menghubungkan dan jenis aliran diakses.

m. Diagnostik Kamera
Kamera harus:
- Dilengkapi dengan LED, mampu memberikan informasi status terlihat. LED
akan menunjukkan status operasional kamera dan memberikan informasi
tentang kekuatan, komunikasi dengan penerima, status jaringan dan status
kamera.
- Dipantau oleh fungsi Watchdog, yang akan secara otomatis kembali memulai
proses atau restart unit jika kerusakan yang terdeteksi.

n. Koneksi Jaringan
Kamera harus :
- Kamera harus dilengkapi dengan satu 100BASE-TX Fast Ethernet port,
menggunakan standar RJ-45 socket dan akan mendukung negosiasi auto
kecepatan jaringan (100 MBit / s dan 10 Mbit / s) dan modus transfer (full
duplex dan setengah).

o. Perlindungan
Kamera harus :
- Dirancang untuk penggunaan indoor
- Wall Bracket sudah termasuk ke dalam unit.

p. Power
Kamera harus :
Kamera akan mendukung Power over Ethernet menurut IEEE 802.3af/802.3at
Type 1

q. Media Penyimpanan
Kamera harus :
Kamera harus mendukung penyimpanan local menggunakan micro SDHC sampai
memori 32GB / microSDXC sampai memori 2TB.

7. Ketentuan Teknis Housing Kamera


Jenis outdoor dan indoor untuk kamera dengan variasi lensa termasuk zoom lens.
Khusus untuk outdoor tahan terhadap matahari dan air.

8. Ketentuan Teknis Monitoring Bracket


Jenis outdoor dan indoor,

9. Ketentuan Teknis Instalasi


Persyaratan Pengerjaan

Bab V - 67
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

a. Kabel instalasi yang digunakan harus dari produk unit yang terpilih dengan
type cabel data terbaik.
b. Semua kabel instalasi harus dimasukkan ke dalam conduit/sparing yang sesuai
(minimal 3/4").
c. Semua instalasi harus dilengkapi dengan kabel supervisi atau harus memenuhi
instalasi CCTV system.
d. Hal ini harus diperhatikan dalam pemilihan jumlah kabel untuk setiap titik
instalasi.

10. Instalasi Penunjang


Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti konduit, sparing, dan lain
lain sama dengan persyaratan penunjang untuk instalasi daya listrik.

11. Ketentuan Teknis Pipa Pelindung


a. Pemborong wajib mempergunakan pipa pelindung kabel bagi semua kabel yang
diameternya berukuran lebih kecil dari 20mm, dimana diameter dalam dari pipa
pelindung kabel tidak kurang dari 150% diameter luar kabel.
b. Apabila dipergunakan kabel berinti tunggal maka luas penampang dalam pipa
pelindung harus tidak kurang dari 250% jumlah luas penampang kabel yang
akan dipasang.
c. Apabila tidak ditentukan lain, maka Pemborong wajib memakai pipa pelindung
kabel yang terbuat dari bahan PVC khusus SUPER HIGH IMPACT HEAVY
GAUGE khusus untuk pemakaian dalam bangunan sesuai dengan Standar BSI.
d. Pipa pelindung kabel yang dipergunakan harus tidak mempunyai sifat sebagai
berikut:
- Tidak mudah terbakar,
- Tidak merambatkan api,
- Dapat memadamkan api dengan sendirinya,
- Tidak mengeluarkan gas beracun bila terbakar,
- Dan ketentuan ketentuan lainnya sesuai dengan persyaratan International.
e. Pemborong wajib mempergunakan kotak percabangan yang sesuai dengan
kebutuhan dan tipe pemasangannya serta disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
f. Pemborong wajib mempergunakan alat bantu pemipaan yang sesuai dengan
kegunaannya dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.
g. Peralatan bantu untuk pipa pelindung diatur sebagai berikut:
- Pada setiap jarak 6 meter harus diberikan sambungan tipe EXPANSION
COUPLING,
- Tipe klem pipa harus sesuai untuk pemakaian jenis sambungan yang
dimaksud, dimana pipa tidak berhubungan langsung dengan tempat kedu-
dukannya,
- Lem yang dipergunakan harus sesuai dengan ketentuan dari pabrik
pembuat pipa dan bersifat FIRE RETARDANT.
- Pada setiap 4 belokan arah jalur kabel, harus diberikan kotak percabangan.
h. Dalam pemasangan kabel keperalatan utama, Pemborong wajib mempergunakan
pelindung yang bersifat fleksibel dilengkapi dengan semua peralatan bantunya.

5.11.7. PERSYARATAN PELAKSANAAN


1. Instalasi IP Camera
Yang dimaksud dengan intalasi IP Camera adalah instalasi IP Camera secara lengkap
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Semua kamera IP bermuara ke sebuah Komputer yang berfungsi sebagai server
untuk mengontrol Proses perekaman data dari kamera.
b. Dari Komputer Server disambungkanpada TV monitor.
c. Ruang lingkup instalasi IP Camera
- Pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi IP Camera lengkap dengan
peralatan-peralatan yang diperlukan termasuk Switching, Video Wall di ruang
monitor, TV Monitor dan Komputer PC sehingga system bisa berfungsi
dengan baik sesuai dengan perencanaan.

Bab V - 68
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Menyelesaikan seluruh perijinan /sertifikat yang diperlukan sehingga dapat


menjamin kelancaran pekerjaan hingga dilakukan serah terima pekerjaan.
- Melaksanakan pengujian terhadap instalasi dengan disaksikan oleh
Konsultan Manajemen Konstruksi yang akan menyatakan bahwa instalasi
berfungsi dengan baik dan dapat diterima.
- Melaksanakan pemeliharaan sistem (garansi) sekurang-kurangnya
selama 12(duabelas) bulan, termasuk penyediaan suku cadangannya.

2. Persyaratan Umum Pelaksanaan


a. Instalasi IP Camera seluruhnya harus dikerjakan oleh teknisi yang sudah
berpengalaman mengerjakan pekerjaan instalasi data.Yang dibuktikan dengan
pengalaman pekerjaan.
b. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana, bilamana dirasa perlu ada
dapat diusulkan adanya perubahan tanpa pembebanan biaya tambahan kepada
Pemberi Tugas. Perubahan tadidapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan
dari Konsultan Manajemen Konstruksi.
c. Kontraktor harus menyerahkan daftar pekerja pelaksana dengan kualifikasi teknisi
serta nama penanggung jawabnya.
d. Dalam waktu 30 hari setelah dinyatakan sebagai pelaksana, Kontraktor
diharuskan untuk menyerahkan daftar bahan yang akan dipasang dengan
katalog,spesifikasi dari pabrik,wiring diagram,dll.

3. Persyaratan Teknis Pelaksanaan


a. Setiap bahan dan peralatan hendaknya dipasang sesuai dengan gambar rencana
dan atau gambar revisi serta harus disetujui oleh Manajemen Konstuksi,
b. Kotak Hubung hendaknya dipasang secara mendatar dengan dudukan dari bahan
baja siku 40x40x4 mm atau UNP 5.
c. Apabila tidak ada ketentuan lain, maka Kotak Hubung harus ditempatkan pada
ketinggian 150 cm dari permukaan lantai ruangan yang bersangkutan.
d. Lokasi yang tepat dari semua bahan dan peralatan akan ditentukan kemudian
dilapangan oleh Manajemen Konstruksi.
e. Pemborong wajib mempergunakan setiap peralatan bantu pipa pelindung kabel
sesuai dengan fungsinya dengan tidak mengadakan perubahan.
f. Pipa pelindung kabel hendaknya ditempatkan dibagian bawah plat lantai diatas
lantai yang bersangkutan dan diklem pada setiap jarak yang tidak lebih dari 100
cm. Pemborong wajib memberikan klem disetiap belokan arah, didekat kotak
percabangan dan ditempat lain yang akan ditentukan oleh Manajemen Konstruksi.
g. Pemotongan pipa baik pada pipa pelindung kabel harus dilakukan dengan
memakai alat potong khusus pipa, dimana pada bagian bekas dilakukan pemoton-
gan harus dibersihkan dengan mempergunakan REAMER.
h. Bagian persambungan harus dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan
pembersih sesuai dengan yang dianjurkan pabrik pembuat pipa sebelum diadakan
penyambungan. Bagian persambungan harus sesuai dengan yang telah
disediakan oleh pabrik pembuatnya.
i. Dalam hal pemasangan pipa, penempatan yang di perkenankan adalah yang
sejajar dengan dinding bangunan baik untuk pemasangan yang mendatar maupun
yang tegak terhadap bidang mendatar. Sudut belokan yang diperkenankan adalah
tegak lurus atau 45 derajat.
j. Dalam hal pemasangan pipa yang tidak dapat di laksanakan secara sekaligus,
maka bagian ujung pipa harus ditutup sementara sesuai dengan petunjuk
Manajemen Konstruksi.
k. Kotak percabangan dari pipa pelindung kabel apabila diperlukan harus
ditempatkan pada plat lantai diatas lantai yang bersangkutan. Kotak percabangan
harus dipasang dengan mempergunakan FISHER 5 sebanyak 2 buah keplat lantai
yang bersangkutan.
l. Pemborong tidak diperkenankan mengadakan penyambungan kabel penghantar,
kecuali pada terminal peralatan.

Bab V - 69
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

m. Dalam pemasangan kabel penghantar yang ditanam, maka ketentuan penanaman


kabel yang berlaku harus ditaati.
n. Setiap bagian dalam pekerjaan yang terbuat dari bahan baja yang tidak terlindung
harus diberikan lapisan antikarat dengan ZINCHROMATE buatan ICI sebanyak 2
lapis.
o. Apabila terdapat pemasangan pipa pelindung kabel yang tidak dipasang pada
tembok sejumlah 6 jalur atau lebih Pemborong wajib memerikan penutup seperti
yang diminta oleh Manajemen Konstruksi.
p. Hal hal lainnya mengenai pemasangan bahan dan peralatan akan ditentukan oleh
Manajemen Konstruksi selama periode pelaksanaan pekerjaan.

4. Kabel Instalasi
a. Pengawatan instalasi kabel power didalam tembok bangunan dilakukan
secara inbouw (tertanam) dengan sparing kabel menggunakan pipa PVC
high impact-heavy gauge yang memenuhi standar Sll atau di dalam partisi antar
ruang.
b. Pengawatan instalasi kabel data/signal gambar dipasang diluar tembok bangunan
dilakukan secara outbouw (ditempel pada tembok) dengan sparing kabel
menggunakan PVC high impact-heavy gauge yang memenuhi standar Sll.
c. Kabel signal yang digunakan adalah kabel UTP Category 6 diletakan di dalam
conduit PVC heavy/high-impact yang dipasang outbouw pada dinding atau langit-
langit ruangan/selasar.
d. Tidak diperkenankan ada sambungan kabel antara kamera IP CAMERA sampai
ke switching.
e. Kabel instalasi yang digunakan harus dari produk unit yang terpilih dengan type
cabel UTP CAT 5E atau Cat 6 sesuai dengan gambar peencanaan.
f. Semua kabel instalasi harus dimasukkan ke dalam conduit/sparing yang sesuai
(minimal 3/4").
g. Semua instalasi harus dilengkapi dengan kabel supervisi atau harus memenuhi
instalasi CCTV system.
h. Hal ini harus diperhatikan dalam pemilihan jumlah kabel untuk setiap titik instalasi.
i. Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti konduit, sparing, dan lain
lain sama dengan persyaratan penunjang untuk instalasi daya listrik.

5. Ketentuan Teknis Peralatan Lainnya


a. Kotak Hubung yang dipergunakan dalam pekerjaan ini terbuat dari bahan plat
baja setebal 1,20 mm dan diproses anti karat kemudian dicat dengan cat bakar.
Warna kotak hubung akan ditentukan kemudian. Kotak Hubung hendaknya
dilengkapi dengan kunci yang sama dan Pemborong wajib menyediakan satu
kunci untuk setiap Kotak Hubung.
b. Peralatan terminasi yang akan dipasangkan dalam Kotak Hubung harus tipe
Screw dan untuk terminasi ke peralatan harus tipe jack / soket, kecuali di-
tentukan lain oleh Manajemen Konstruksi.
c. Pemborong wajib mempergunakan rak kabel untuk semua kabel yang
ditempatkan didalam pipa pelindung kabel atau pun tidak, bila dipasangkan
secara mendatar dan atau tegak dengan jalur kabel lebih dari enam jalur.
d. Rak kabel harus terbuat dari bahan besi yang diproses dengan Hot Rolled Meld
Steel Sheet yang diproses anti karat dengan sistem hot dip galvanized pada
kedua sisinya dilengkapi dengan penghubung yang terbuat dari bahan yang sama
dengan tinggi 100 mm, tebal 2mm dengan jarak anak tangga minimal 300 mm
e. Konstruksi rak kabel yang dipergunakan harus sedemikian rupa sehingga
memungkinkan dibentuk dalam arah lengkung sesuai dengan keperluan di
lapangan.
f. Rak kabel harus dilengkapi dengan penggantung yang dibuat dari bahan besi
siku 40x40x4mm dibagian bawah, tiang penggantung dari bahan besi beton
berukuran diameter 10mm dan kanal baja UNP 10 pada bagian atasnya. Tiap
persambungan pada bagian penggantung ini harus dilengkapi dengan mur
disetiap sisinya.

Bab V - 70
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

g. Penggantung rak kabel harus ditempatkan pada setiap jarak yang tidak lebih dari
200 cm.
h. 08. Pemborong wajib membuat rak kabel selebar kebutuhan dengan
memperhitungkan cara pemasangan kabel yang baik.
i. 09. Apabila ternyata lebar rak kabel yang dibutuhkan lebih dari 75 cm,
Manajemen Konstruksi akan menentukan konstruksinya.
j. 10. Semua bagian baja pada rak kabel harus dilapisi oleh bahan antikarat
berupa Zinchromate buatan ICI sebanyak 2 lapis atau lebih sebelum dipasang.
k. 11. Pada hubungan sesama kabel kontrol, Pemborong harus memakai
LASDOOP merk 3M.
l. 12. Pada hubungan antara pipa pelindung kabel dengan rak peralatan utama
dan kotak hubung, Pemborong wajib mempergunakan Cable Gland yang sesuai
dan disetujui oleh Manajemen Konstruksi.

5.11.8. PENGETESAN & COMMISSIONING


1. Ketentuan Umum Pengujian Hasil Pekerjaan

a. Pemborong wajib melaksanakan pengujian baik untuk setiap bagian dari sistem
maupun untuk sistem secara keseluruhan sesuai dengan permintaan Manajemen
Konstruksi.
b. Pemborong wajib memberitahukan rencana pengujian kepada Manajemen
Konstruksi. Pengujian yang tidak dihadiri oleh Manajemen Konstruksi dan wakil
dari Pemberi Tugas dinilai tidak sah dan harus diulang.
c. Pengujian hasil pelaksanaan terutama ditujukan untuk memeriksa hal hal sebagai
berikut:
- Kuat penerimaan sinyal dari kamera CCTV sampai dengan Centrail System.
- Operasi peralatan secara keseluruhan,
- Lain-lain yang akan ditentukan oleh Manajemen Konstruksi.
d. Apabila ditemukan adanya ketidakberesan dalam pemasangan, maka Manajemen
Konstruksi berhak untuk menolak adanya penyerahan pekerjaan kepada Pemberi
Tugas.
e. Penyerahan pekerjaan kepada Pemberi Tugas hanya dapat dilaksanakan setelah
hasil pengujian dinyatakan dapat diterima baik oleh Manajemen Konstruksi
maupun oleh Pemberi Tugas, dimana semua kewajiban Pemborong telah
diselesaikan secara keseluruhan.

2. Ketentuan Khusus Pengujian Hasil Pekerjaan


a. Pengetesan dilakukan setelah selesainya pemasangan dari seluruh perlengkapan
instalasi CCTV harus dalam kondisi baik dan bebas cacat.
b. Bagian-bagian yang rusak harus diganti oleh Pemborong atas biaya Pemborong.
c. Mengadakan perbaikan lain terhadap kerusakan-kerusakan yang diakibatkan
kecerobohan para pekerja, baik untuk pekerjaan CCTV maupun pekerjaan lain
yang mengalami kerusakan.
d. Pengetesan dan pemeriksaan instalasi CCTV yang terpasang.
e. Setelah terpasang sistem yang baik, wiring instalasi yang telah sesuai, maka
pemeriksaan dan pengetesan harus dilakukan apakah sistem sudah bekerja
dengan baik dan benar.
f. Pemborong harus melakukan semua pengetesan seperti yang dipersyaratkan
disini dan mendemonstrasikan cara kerja dari segenap sistem, yang disaksikan
oleh Konsultan Pengawas. Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang perlu
untuk pengetesan tersebut, merupakan tanggung jawab Pemborong.

Bab V - 71
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

g. Peralatan, bahan dan pengerjaan yang tidak baik, rusak ataupun cacat harus
diganti dan diperbaiki oleh Pemborong untuk dicoba (di-tes) dan didemonstrasikan
kembali.

5.12. PEKERJAAN SISTEM TATA SUARA


5.12.1. LINGKUP PEKERJAAN
Termasuk pengadaan semua material, peralatan, tenaga kerja dan lain-lain untuk
pemasangan, test commissioning seluruh sistem tata suara seperti dipersyaratkan di dalam
buku ini dan seperti ditunjukkan di dalam gambar rancangan. Dalam pekerjaan ini harus
termasuk juga pekerjaan-pekerjaan lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini yang tidak
mungkin disebutkan secara terinci di dalam buku ini tetapi dianggap perlu untuk
kesempurnaan fungsi dan operasi sistem tata suara.
Kontraktor harus menawarkan seluruh lingkup pekerjaan yang di jelaskan baik dalam
spesifikasi teknis ini ataupun yang tertera dalam gambar rancangan, dimana bahan-bahan
dan peralatan yang digunakan sesuai dengan ketentuan pada spesifikasi teknis ini. Bila
ternyata terdapat perbedaan antara spesifikasi bahan dan atau peralatan yang dipasang
dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan pada pasal ini, merupakan kewajiban
Kontraktor untuk mengganti bahan atau peralatan tersebut sehingga sesuai dengan
ketentuan pada pasal ini tanpa adanya ketentuan tambahan biaya.
Produk Tata Suara yang direkomendasikan adalah buatan dari TOA, Bosch atau produk lain
yang dinyatakan oleh perencana, MK dan Pemberi Tugas.

Uraian Lingkup pekerjaan


Sistem Tata Suara untuk Public Address' yang terdiri dari :
1. Sentral Tata Suara Public Address
Pekerjaan ini meliputi komponen-komponen sebagai berikut :
a. Local Microphone di setiap gedung, Remote Microphone dari Gedung A
b. Digital Streaming Modul
c. Mixer pre amplifier
d. Power amplifier
e. Chime microphone/remote microphone
f. Unit mixing yang dilengkapi dengan filter
g. deck CD/DVD recorder/MP3
h. Radio tuner
i. Chime generator
j. Monitoring panel
k. Speaker selector
l. Blower
m. Perforated panel & blank panel
n. Compressor limiter
o. Rak sentral tata suara, dan
p. Alat-alat bantu/alat-alat penunjang lainnya untuk kesempurnaan system operasi
tata suara seperti yang diper-syaratkan pabrik pembuat.
2. Instalasi
Yang termasuk kedalam pekerjaan instalasi meliputi pekerjaan integrasi dari Remote
Paging Unit dari Gedung A, terminal box tata suara, wiring tata suara lengkap
dengan conduitnya, attenuator serta kelengkapan lainnya yang dibutuhkan untuk
kesempurnaan kerja sistem tata suara.
3. Kelengkapan (Accessories) Ceiling Speaker
Yang termasuk kedalam pekerjaan ini meliputi ceiling speaker, box speaker (dalam &
luar plafond), dudukan speaker, grille, matching transformer dan peralatan bantu
lainnya untuk kesempurnaan sisten Tata suara seperti yang dipersyaratkan dalam
gambar rancangan dan persyaratan teknis ini.
4. Test Commissioning
Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan test commissioning dengan tahapan
sebagai berikut,

Bab V - 72
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

a. Pengecekan instalasi secara parsial yang terpasang di setiap lantai dari sub TBT
sampai titik instalasi speaker yang berada pada tiap ruangan untuk tahanan isolasi
(merger = 6 MΩ) dan fungsi jaringan sesuai gambar rancangan.
b. Pengecekan instalasi dari sub TBS ke sub TBS dan dari M-TBS ke peralatan
utama Tata Suara dengan metoda yang sama seperti tersebut diatas.
c. Akhirnya, pengecekan menyeluruh secara lengkap untuk kepentingan operasional
seperti yang ditunjukan dalam gambar rancangan dan spesifikasi teknis ini.
d. Setiap tahapan pengecekan harus sepengetahuan/diketahui DIREKSI
PENGAWAS / MK.
5. Sistem Pembumian Pengaman,
Yang termasuk di dalam pekerjaan sistem pengebumian meliputi batang
elektrodapengebumian dan bare copper conductor atau kabel yang menghubungkan
peralatan yang harus dikebumikan dengan elektroda pembumian termasuk seluruh
peralatan-peralatan bantu yang dibutuhkan untuk kesempurnaan sistem ini.

5.12.2. TUJUAN PENGGUNAAN


1. Sistem Tata Suara ini digunakan untuk Public Address mempunyai 3 (tiga) tujuan, yaitu
:
a. Back Ground Music
b. Paging and Messaging
c. Emergency Call
2. Pemasangan Sistem Tata Suara untuk Public Address ini diatur sedemikian rupa,
sehingga mempunyai urutan prioritas seperti tersebut di bawah ini :
a. Emergency Call
b. Paging and Messaging
c. Back Ground Music
3. Tidak semua speaker digunakan untuk sarana penunjang ke tiga tujuan seperti
tersebut di atas. Ada speaker yang hanya untuk tujuan b dan ada speaker untuk tujuan
a, b dan c.
4. Untuk ruang-ruang yang dilengkapi dengan speaker untuk tujuan c, di setiap ruangan
disediakan minimal sebuah pengatur tingkat kuat suara (attenuator) untuk melayani
semua speaker yang terpasang di dalam ruang tersebut. Pengatur tingkat kuat suara
ini juga dapat 'menghidupkan'/'mematikan, speaker di ruang tersebut. Pengaturan
tingkat kuat suara dilakukan secara bertingkat dengan menggunakan variable
resitance devices.
5. Dalam kondisi biasa, Sistem Tata Suara digunakan sebagai back ground music yang
dilayani dari Ruang Kontrol.
6. Sistem Tata Suara disusun di dalam rak yang ditempatkan di Ruang Kontrol seperti
ditunjukan dalam gambar rancangan atau atas permintaan Pemberi Tugas. Kontraktor
sudah memperhitungkan kemungkinan kondisi ini tanpa kemungkinan adanya biaya
tambah.

5.12.3. KEMAMPUAN OPERASI


1. Public Address
Pemasangan / pengaturan Sistem Tata Suara Public Address System' sedemikian
rupa sehingga mampu dioperasikan,
a. Untuk keperluan paging, messaging dan untuk keperluan tertentu harus dapat
dilakukan secara remote dari ruang kontrol, yaitu :
- Menghidupkan sistem tata suara jika saat itu sedang di'mati'kan
- Menghentikan back ground music yang sedang berlangsung.
- Menghidup'kan speaker yang di'mati'kan dari pengatur tingkat kuat suara di
setiap ruangan yang dilengkapi dengan sistem tata suara.
- Mengambil alih fungsi seluruh speaker yang terpasang di dalam bangunan
untuk keperluan paging dan messaging atau emergency call, walaupun pada
saat itu sedang difungsikan sebagai sarana back ground music.
- Mengembalikan fungsi sistem tata suara ke keadaan semula, yaitu sebelum
dioperasikan untuk paging dan messaging atau emergency call.

Bab V - 73
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

- Panggilan paging berbasis android remote microphone.


- Local audio system yang menunjang untuk kegiatan mengajar dan pemutaran
multimedia.
- Fasilitas rekaman yang mampu merekam kegiatan mengajar. Data berupa file
yang dapat diputar di software pemutar suara seperti windows media player /
win amp.
- Memiliki fasilitas priority.
- Memiliki fasilitas timer untuk keperluan bell, ataupun announcement yang
terjadwal.
- Timer announcement dapat di assign ke area tertentu maupun all call.
b. Untuk emergency paging dan messaging tingkat kuat suara di setiap speaker
sama dan tidak dipengaruhi oleh posisi pengatur tingkat kuat suara yang
dipasang di setiap ruangan. Tingkat kuat suara untuk paging dan messaging
dapat diset secara terpusat dari sentral sistem tata suara.
c. Nada-nada yang mengawali paging dan messaging serta emergency call harus
mempunyai nada-nada yang cukup spesifik (berbeda dengan sumber audio
lainnya).
d. Back ground music dapat diprogram untuk CD/DVD Palyer/MP3, atau radio tuner.
e. Menggunakan Amplifier berbasis network dengan system decentralize.
f. Memiliki software untuk keperluan zone selection & activation, zone grouping, dan
monitoring status amplifier.

2. Carcall
Untuk perangkat tata suara area carcall perangkat harus terintegrasi dengan paging
system gedung.
Paging carcall dapat dilakukan tiap gedung melalui paging remote microphone. Juga
dapat dilakukan paging dari pusat gedung ke seluruh area parkir baik secara individual
paging ataupun all call.
Speaker yang digunakan adalah type horn speaker dengan sensitifity 107dB atau lebih
besar.
Horn speaker merupakan hi-impedance type dengan operational signal voltage100volt
atau 70volt.
Speaker dapat di mounting menggunakan tiang ataupun wall bracket.

5.12.4. INSTALASI
1. Spesifikasi seluruh instalasi Sistem Tata Suara untuk bangunan ini menggunakan
kabel yang mempunyai tegangan kerja 100 Volt.
2. Kabel instalasi untuk ke speaker dipergunakan kabel jenis NYMHY yang dilengkapi
PVC Insulated dengan jumlah inti dan luas penampang kabel seperti tercantum di
dalam gambar rancangan
3. Kabel yang digunakan untuk attenuator dihubungkan sedemikian rupa sehingga sistem
dapat bekerja dengan baik dan benar.
4. Kabel instalasi yang digunakan dimasukkan dalam conduit atau sparing dan setiap pipa
hanya boleh diisi dengan satu pasang kabel.
5. Jika pemasangan kabel ini paralel dengan kabel daya listrik, maka harus mempunyai
jarak minimum 30 cm.
6. Pada dasarnya pipa untuk kabel sistem tata suara dipasang pada rak kabel atau
ditanam di dalam dinding.
7. Sistem Tata Suara di dalam gambar rancangan tidak mengikat dan penambahan
alat diperbolehkan. Penambahan alat harus disesuai-kan dengan kemampuan
peralatan yang ada pada setiap produk yang dipilih, sehingga pengoperasian dari
Sistem Tata Suara tersebut tetap berada kemampuan puncak.
8. Kontraktor Sistem Tata Suara berkewajiban men-chek dan menyesuaikan kabel
instalasi agar dapat berfungsi dan bekerja dengan baik dan sesuai dengan persyaratan
teknis dan rekomendasi dari produk sistem tata suara yang terpilih.
9. Pipa instalasi tata suara harus dibedakan dengan pipa-pipa untuk keperluan utilitas
lainnya.

Bab V - 74
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

10. Persyaratan teknis mengenai instalasi penunjang seperti conduit, sparing, rak kabel
dan lain lain sama dengan persyaratan penun-jang untuk instalasi sistem daya
listrik dan penerangan.

5.12.5. TERMINAL BOX SISTEM TATA SUARA


1. Terminal Box terbuat dari plat baja/PVC dengan ketebalan minimum 2 mm Konstruksi
las, dicat dengan meni tahan karat dan cat finish dengan warna yang akan
ditentukan kemudian atas persetujuan DIREKSI PENGAWAS / MK.
2. Kapasitas terminal box disesuaikan dengan Gambar rancangan.
3. Terminal Box dipasang flush mounting pada dinding.
4. Terminal Box dilengkapi dengan pintu, kunci, handle. Dalam pabri-kasi harus
mempunyai kesamaan dengan box system lain (kesamaan merk) dan dilengkapi
master key,
5. Penyambungan kabel instalasi sistem tata suara didalam terminal box dilakukan
dengan menggunakan terminal penyambungan dari jenis 'screw type'.

Bab V - 75
Spesifikasi Umum, Administrasi dan Teknis
Pekerjaan Pembangunan Unit Percetakan Al,Qur,an Bogor

BAB VI
PENUTUP

1. Uraian pekerjaan yang belum termuat dalam ketentuan dan syarat-syarat ini tetapi didalam
pelaksanaannya harus ada, maka pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan setelah ada perintah
tertulis dari Pemimpin Proyek dan akan diperhitungkan dalam pekerjaan tambahan.

2. Apabila terdapat jenis pekerjaan yang semula diestimasi oleh Konsultan Perencana perlu
dikerjakan dan sudah termuat dalam Daftar Rencana Anggaran Biaya, tetapi menurut
pertimbangan Pemberi Tugas yang dapat dipertanggungjawabkan tidak perlu lagi dilaksanakan,
maka atas perintah tertulis dari Pemberi Tugas pekerjaan tersebut tidak dilaksanakan dan akan
diperhitungkan sebagai pekerjaan kurangan.

3. Apabila terdapat perbedaan antara gambar, spesifikasi teknis, dan Rencana Anggaran Biaya,
maka sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan harus diadakan rapat terlebih dahulu untuk
mendapatkan kepastian.

Bab 6 - 1

Anda mungkin juga menyukai