0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan51 halaman

Asuhan Keperawatan Keluarga Remaja

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan keluarga dengan anak usia remaja. Remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak ke dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, sosial dan emosional. Peran perawat adalah membantu keluarga dalam menyelesaikan masalah kesehatan dengan meningkatkan kapasitas keluarga."

Diunggah oleh

skril7354
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan51 halaman

Asuhan Keperawatan Keluarga Remaja

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan keluarga dengan anak usia remaja. Remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak ke dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, sosial dan emosional. Peran perawat adalah membantu keluarga dalam menyelesaikan masalah kesehatan dengan meningkatkan kapasitas keluarga."

Diunggah oleh

skril7354
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA REMAJA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Keluarga

Disusun Oleh :
Esti Sri Rahayu 2107007
Theresia Sulastri 2107016
Agus Suryanto 2107022

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


TRANSFER KELAS VI C
UNIVERSITAS KARYA HUSADA SEMARANG
2022

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang memiliki
karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan tahap perkembangan lainnya,
karena pada tahap ini seseorang mengalami peralihan dari masa anak-anak ke dewasa.
Masa remaja adalah masa dimana terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas
diri. Karakteristik psikososial remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas
diri ini sering menimbulkan banyak masalah pada diri remaja. Transisi dari masa
anak-anak dimana selain mneingkatnya kesadaran diri (self consciousness) terjadi juga
perubahan secara fisik, kognitif, sosial maupun emosional pada remaja sehingga
remaja cenderung mengalami perubahan emosi ke arah yang negatif menjadi mudah
marah, tersinggung bahkan agresif. Perubahan-perubahan karakteristik pada masa
remaja tersebut, ditambah dengan faktor-faktor eksternal seperti kemiskinan, pola
asuh yang tidak efektif dan gangguan mental pada orang tua diprediksi sebagai
penyebab timbulnya masalah-masalah remaja (Pianta, 2005 dalam Santrock, 2007).
Laporan situasi Kependudukan Dunia Tahun 2012 pada peluncurannya,
disebutkan bahwa jumlah penduduk dunia terus tumbuh dan telah mencapai 7 miliar.
Sebanyak 1,2 miliar penduduk dunia atau hampir 1 dari 5 orang di dunia berusia 10-19
tahun. Adapun 900 juta orang di antaranya tinggal di negara berkembang. Negara
Indonesia sendiri, hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan 1 dari 4 orang
penduduk Indonesia merupakan kaum muda berusia 10-24 tahun, dari 240 juta
penduduk Indonesia, jumlah remaja terbilang besar, mencapai 63,4 juta atau sekitar
26,7 % dari total penduduk (BKKBN, 2012).
Peran perawatn dalam asuhan keperawatan keluarga dengan tahap anak usia
remaja adalah membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan
cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan
kesehatan keluarga, sehingga keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan
secara mandiri, dan masalah yang timbul bisa teratasi.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi remaja?
2. Bagaimana tugas perkembangan remaja?
3. Bagaimana tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja?
4. Bagiamana Asuhan Keperawatan pada keluarga dengan anak remaja?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan masalah
kesehatan yang terjadi pada keluarga dengan anak remaja.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu :
a) Menyebutkan definisi keluarga dengan anak remaja.
b) Menjelaskan tugas-tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja.
c) Menjelaskan asuhan keperawatan pada keluarga dengan anak remaja.
d)

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence (kata
bendanya adolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa.
Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan
dan sosial serta emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa
pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi
pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).
B. Tahap Perkembangan Remaja
Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan remaja dalam proses
penyesuaian diri menuju dewasa :
1. Remaja Awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun masih terheran–heran
akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-
dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan
pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara
erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik.
Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali
terhadap “ego”. Hal ini menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang
dewasa.
2. Remaja Madya (Middle Adolescence)
Tahap ini berusia 13-15 tahun. Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan
kawan-kawan. Ia senag kalau banyak teman yang menyukainya. Ada
kecenderungan “narastic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-
teman yang mempunyai sifat - sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu, ia
berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana:
peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau
meterialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari Oedipoes
Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa kanak-kanak) dengan
mempererat hubungan dengan kawan - kawan dari lawan jenis.
3. Remaja Akhir (Late Adolescence)

1
Tahap ini (16 - 19 tahun) adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa
dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.
a. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan
dalam pengalaman-pengalaman baru.
c. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
d. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan
keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
e. Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
masyarakat umum (the public).
C. Karakteristik Perkembangan Remaja
Menurut Wong (2009), karakteristik perkembangan remaja dapat dibedakan menjadi :
1. Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan psikososial menurut Erikson dalam Wong (2009),
menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan
terbentuknya identitas. Periode remaja awal dimulai dengan awitan pubertas dan
berkembangnya stabilitas emosional dan fisik yang relatif pada saat atau ketika
hampir lulus dari SMU. Pada saat ini, remaja dihadapkan pada krisis identitas
kelompok versus pengasingan diri.
Pada periode selanjutnya, individu berharap untuk mencegah otonomi dari
keluarga dan mengembangkan identitas diri sebagai lawan terhadap difusi peran.
Identitas kelompok menjadi sangat penting untuk permulaan pembentukan
identitas pribadi. Remaja pada tahap awal harus mampu memecahkan masalah
tentang hubungan dengan teman sebaya sebelum mereka mampu menjawab
pertanyaan tentang siapa diri mereka dalam kaitannya dengan keluarga dan
masyarakat.
a. Identitas kelompok
Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok semakin
kuat. Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok adalah hal yang
penting karena mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan kelompok
dapat memberi mereka status. Ketika remaja mulai mencocokkan cara dan
minat berpenampilan, gaya mereka segera berubah. Bukti penyesuaian diri
remaja terhadap kelompok teman sebaya dan ketidakcocokkan dengan
kelompok orang dewasa memberi kerangka pilihan bagi remaja sehingga

1
mereka dapat memerankan penonjolan diri mereka sendiri sementara
menolak identitas dari generasi orang tuanya. Menjadi individu yang berbeda
mengakibatkan remaja tidak diterima dan diasingkan dari kelompok.
b. Identitas Individual
Pada tahap pencarian ini, remaja mempertimbangkan hubungan yang mereka
kembangkan antara diri mereka sendiri dengan orang lain di masa lalu,
seperti halnya arah dan tujuan yang mereka harap mampu dilakukan di masa
yang akan datang. Proses perkembangan identitas pribadi merupakan proses
yang memakan waktu dan penuh dengan periode kebingungan, depresi dan
keputusasaan. Penentuan identitas dan bagiannya di dunia merupakan hal
yang penting dan sesuatu yang menakutkan bagi remaja. Namun demikian,
jika setahap demi setahap digantikan dan diletakkan pada tempat yang sesuai,
identitas yang positif pada akhirnya akan muncul dari kebingungan. Difusi
peran terjadi jika individu tidak mampu memformulasikan kepuasan identitas
dari berbagai aspirasi, peran dan identifikasi.
c. Identitas peran seksual
Masa remaja merupakan waktu untuk konsolidasi identitas peran seksual.
Selama masa remaja awal, kelompok teman sebaya mulai mengomunikasikan
beberapa pengharapan terhadap hubungan heterokseksual dan bersamaan
dengan kemajuan perkembangan, remaja dihadapkan pada pengharapan
terhadap perilaku peran seksual yang matang yang baik dari teman sebaya
maupun orang dewasa. Pengharapan seperti ini berbeda pada setiap budaya,
antara daerah geografis, dan diantara kelompok sosioekonomis.
d. Emosionalitas
Remaja lebih mampu mengendalikan emosinya pada masa remaja akhir.
Mereka mampu menghadapi masalah dengan tenang dan rasional, dan
walaupun masih mengalami periode depresi, perasaan mereka lebih kuat dan
mulai menunjukkan emosi yang lebih matang pada masa remaja akhir.
Sementara remaja awal bereaksi cepat dan emosional, remaja akhir dapat
mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk mengendalikan
emosinya sampai waktu dan tempat untuk mengekspresikan dirinya dapat
diterima masyarakat. Mereka masih tetap mengalami peningkatan emosi, dan
jika emosi itu diperlihatkan, perilaku mereka menggambarkan perasaan tidak
aman, ketegangan, dan kebimbangan.

1
2. Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Wong (2009), remaja tidak
lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode berpikir
konkret; mereka juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi.
Pada saat ini mereka lebih jauh ke depan. Tanpa memusatkan perhatian pada
situasi saat ini, mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang
mungkin terjadi, seperti kemungkinan kuliah dan bekerja; memikirkan bagaimana
segala sesuatu mungkin dapat berubah di masa depan, seperti hubungan dengan
orang tua, dan akibat dari tindakan mereka, misalnya dikeluarkan dari sekolah.
Remaja secara mental mampu memanipulasi lebih dari dua kategori variabel pada
waktu yang bersamaan. Misalnya, mereka dapat mempertimbangkan hubungan
antara kecepatan, jarak dan waktu dalam membuat rencana perjalanan wisata.
Mereka dapat mendeteksi konsistensi atau inkonsistensi logis dalam sekelompok
pernyataan dan mengevaluasi sistem, atau serangkaian nilai - nilai dalam perilaku
yang lebih dapat dianalisis.
3. Perkembangan Moral
Teori perkembangan moral menurut Kohlberg dalam Wong (2009), masa remaja
akhir dicirikan dengan suatu pertanyaan serius mengenai nilai moral dan individu.
Remaja dapat dengan mudah mengambil peran lain. Mereka memahami tugas dan
kewajiban berdasarkan hak timbal balik dengan orang lain, dan juga memahami
konsep peradilan yang tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan
perbaikan atau penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah.
Namun demikian, mereka mempertanyakan peraturan-peraturan moral yang telah
ditetapkan, sering sebagai akibat dari observasi remaja bahwa suatu peraturan
secara verbal berasal dari orang dewasa tetapi mereka tidak mematuhi peraturan
tersebut.
4. Perkembangan Spiritual
Pada saat remaja mulai mandiri dari orang tua atau otoritas yang lain, beberapa
diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal keluarga mereka. Sementara
itu, remaja lain tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ini sebagai elemen yang
stabil dalam hidupnya seperti ketika mereka berjuang melawan konflik pada
periode pergolakan ini. Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal
tetapi melakukan ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar mereka
sendiri. Mereka mungkin memerlukan eksplorasi terhadap konsep keberadaan

1
Tuhan. Membandingkan agama mereka dengan orang lain dapat menyebabkan
mereka mempertanyakan kepercayaan mereka sendiri tetapi pada akhirnya
menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas mereka.
5. Perkembangan Sosial
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri
mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri
dari wewenang orang tua. Namun, proses ini penuh dengan ambivalensi baik dari
remaja maupun orang tua. Remaja ingin dewasa dan ingin bebas dari kendali
orang tua, tetapi mereka takut ketika mereka mencoba untuk memahami tanggung
jawab yang terkait dengan kemandirian.
a. Hubungan dengan orang tua
Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari
menyayangi dan persamaan hak. Proses mencapai kemandirian sering kali
melibatkan kekacauan dan ambigulitas karena baik orang tua maupun remaja
berajar untuk menampilkan peran yang baru dan menjalankannya sampai
selesai, sementara pada saat bersamaan, penyelesaian sering kali merupakan
rangkaian kerenggangan yang menyakitkan, yang penting untuk menetapkan
hubungan akhir. Pada saat remaja menuntut hak mereka untuk
mengembangkan hak-hak istimewanya, mereka sering kali menciptakan
ketegangan di dalam rumah. Mereka menentang kendali orang tua, dan
konflik dapat muncul pada hampir semua situasi atau masalah.
b. Hubungan dengan teman sebaya
Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam sebagian
besar kehidupan, bagi sebagian besar remaja, teman sebaya dianggap lebih
berperan penting ketika masa remaja dibandingkan masa kanak-kanak.
Kelompok teman sebaya memberikan remaja perasaan kekuatan dan
kekuasaan.
a) Kelompok teman sebaya
Remaja biasanya berpikiran sosial, suka berteman, dan suka
berkelompok. Dengan demikian kelompok teman sebaya memiliki
evaluasi diri dan perilaku remaja. Untuk memperoleh penerimaan
kelompok, remaja awal berusaha untuk menyesuaikan diri secara total
dalam berbagai hal seperti model berpakaian, gaya rambut, selera musik,

1
dan tata bahasa, sering kali mengorbankan individualitas dan tuntutan
diri. Segala sesuatu pada remaja diukur oleh reaksi teman sebayanya.
b) Sahabat
Hubungan personal antara satu orang dengan orang lain yang berbeda
biasanya terbentuk antara remaja sesama jenis. Hubungan ini lebih dekat
dan lebih stabil daripada hubungan yang dibentuk pada masa kanak-kanak
pertengahan, dan penting untuk pencarian identitas. Seorang sahabat
merupakan pendengar terbaik, yaitu tempat remaja mencoba kemungkinan
peran-peran dan suatu peran bersamaan, mereka saling memberikan
dukungan satu sama lain.
D. Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut (Hurlock, 2001) antara lain :
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria
maupun wanita
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam
sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak
perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas - tugas tersebut selama
awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan
harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan
dasar - dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku.
2. Mencapai peran sosial pria, dan wanita
Perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa
jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu
sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas - tugas perkembangan dalam
waktu yang relatif singkat sebagai akibat perubahan usia kematangan yang
menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang menganggu
para remaja.
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila
sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang
penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk
memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki
penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab

1
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai
banyak kesulitan bagi laki-laki; mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal
masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak perempuan. Sebagai anak-
anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran sederajat,
sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang diakui masyarakat
dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok yang
memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun. Karena adanya
pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa
kanak-kanak dan masa puber, makan mempelajari hubungan baru dengan lawan
jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui lawan jenis dan
bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan hubungan
baru yang lebih matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah.
5. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang - orang dewasa
lainnya
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri
secara emosional dari orang tua dan orang - orang dewasa lain merupakan tugas
perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan
kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan
membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang
tua atau orang - orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya
dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki hubungan
yang akrab dengan anggota kelompok.
6. Mempersiapkan karier ekonomi
Kemandirian ekonomi tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih
pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih
pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan
untuk memperoleh kemandirian ekonomi bilamana mereka secara resmi menjadi
dewasa nantinya. Secara ekonomi mereka masih harus tergantung selama
beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai dijalani.
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
Kecenderungan perkawinan muda menyebabkan persiapan perkawinan
merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahuntahun remaja.
Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang berangsur - ansur
mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual,

1
tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit yang dipersiapkan. Kurangnya
persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari masalah yang tidak
terselesaikan, yang oleh remaja dibawa ke masa remaja.
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku
mengembangkan ideologi
Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang
sesuai dengan nilai dewasa, orang tua berperan banyak dalam perkembangan ini.
Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan teman sebaya, masa remaja
harus memilih yang terakhir bila mengharap dukungan teman-teman yang
menentukan kehidupan sosial mereka. Sebagian remaja ingin diterima oleh
teman-temannya, tetapi hal ini seringkali diperoleh dengan perilaku yang oleh
orang dewasa dianggap tidak bertanggung jawab.
E. Keluarga
Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak tempat anak
belajar dan mengatakan sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak
melakukan interaksi yang intim. Menurut Slameto (2006) keluarga adalah lembaga
pendidikan yang yang pertama dan utama bagi anak-anaknya baik pendidikan bangsa,
dunia, dan negara sehingga cara orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh
terhadap belajar. Sedangkan menurut Mubarak, dkk (2009) keluarga adalah
perkumpulan dua orang atau lebih yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau
adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu dengan yang lain.
Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dapat dibagi dalam 3 jenis (Duval, 1972
dalam Setiadi 2008), yaitu :
1. Nuclear family, sering disebut dengan keluarga inti, yaitu keluarga yang
anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah.
2. Extended family, atau keluarga besar, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari
ayah, ibu, serta family dari kedua belah pihak.
3. Horizontal extended family, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari ayah, ibu
dan anak yang telah menikah dan masih menumpang pada orang tuanya
F. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Remaja
Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat
anakterakhir meninggalkan rumah.Lamanya tahapan ini tergantung jumlah anak dan
adaatau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang
tua.Tugas perkembangan :

1
1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2. Mempertahankan keintiman pasangan.
3. Membantu orang tua memasuki masa tua.
4. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
5. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
G. Masalah - Masalah yang Terjadi Pada Keluarga dengan Tahap Perkembangan
Anak Usia Remaja
Ketidakmatangan dalam hubungan keluarga seperti yang ditunjukkan oleh
adanya pertengkaran dengan anggota-anggota keluarga,terus menerus mengritik atau
buat komentar - komentar yang merendahkan tentang penampilan atau perilaku
anggota keluarga, sering terjadi selama tahun - tahun awal masa remaja. Pada saat ini
hubungan keluarga biasanya berada pada titik rendah. Hubungan keluarga yang buruk
merupakan bahaya psikologis pada setiap usia, terlebih selama masa remaja karena
pada saat ini anak laki - laki dan perempuan sangat tidak percaya pada diri sendiri dan
bergantung pada keluarga untuk memperoleh rasa aman. Yang lebih penting lagi,
mereka memerlukan bimbingan atau bantuan dalam menguasai tugas perkembangan
masa remaja. Kalau hubungan-hubungan keluarga ditandai dengan pertentangan,
perasaan - perasaan tidak aman berlangsung lama, dan remaja kurang memiliki
kesempatan untuk mengembangkan pola perilaku yang tenang dan lebih matang.
Remaja yang hubungan keluarganya kurang baik juga dapat mengembangkan
hubungan yang buruk dengan orang-orang diluar rumah.
Masa remaja dikenal banyak orang sebagai masa yang indah dan penuh
romantika, padahal sebenarnya masa ini merupakan masa yang penuh dengan
kesukaran. Bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi keluarga dan lingkungan sosial. Masa
ini akan membuat remaja mengalami kebingungan disatu pihak masih anak - anak,
tetapi dilain pihak harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi ini membuat
mereka dalam kondisi konflik, sehingga akan terlihat bertingkah laku aneh, canggung
dan kalau tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan kenakalan. Dalam
usahanya mencari identitas diri, mereka sering membantah orang tuanya, karena
memulai mempunyai pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai sendiri yang berbeda
dengan orang tuanya.
Pendapat orang tua tidak lagi dapat dijadikan pegangan, meskipun sebenarnya
mereka juga belum memiliki dasar pegangan yang kuat. Orang yang dianggap penting
dalam masa ini adalah teman sebaya. Mereka berusaha untuk mengikitu pendapat dan

1
gaya teman-temannya karena dianggap memiliki kesamaan dengan dirinya. Karenanya
sering kali remaja terlibat dalam geng - geng, dengan menjadi anggota geng mereka
akan saling memberi dan mendapat dukungan mental. Beberapa kasus terakhir seperti
geng - geng motor yang terlibat kegiatan merupakan bentuk dari kecenderungan
tersebut. Mereka akan berani melakukan tindakan - tindakan kejahatan ketika
dilakukan dalam kelompok dan tidak akan berani melakukannya secara individual.
Masalah lain yang sering mengganggu anak remaja adalah masalah yang berkaitan
dengan organ reproduksi (seksual). Satu sisi mereka sudah mencapai kematangan
seksual, yang menyebabkan mereka memiliki dorongan untuk pemuasan tetapi disisi
lain kebudayaan dan norma sosial melarang pemuasan kebutuhan seksual diluar
pernikahan. Padahal untuk menikah banyak persyaratan yang harus dipenuhi, bukan
hanya kemampuan dalam melakukan hubungan seksual, tetapi diperlukan ekonomi,
kematangan psikologi, dan sebagainya. Syarat-syarat ini sangat berat dan mungkin
belum dicapai pada usia remaja. Oleh karena itu, para remaja mencari kepuasan dalam
bentuk khayalan, membaca buku atau menonton film porno. Meskipun tingkah laku
ini sebenarnya tetap melanggar norma masyarakat, tetapi mereka melakukannya
dengan sembunyi-sembunyi.

1
MASALAH - MASALAH KESEHATAN
Pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik. Tapi promosi
kesehatan tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko harus diidentifikasi dan
dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya gaya hidup keluarga yang sehat mulai
dari usia 35 tahun, resiko penyakit jantung koroner meningkat dikalangan pria dan
pada usia ini anggota keluarga yang dewasa mulai merasa lebih rentan terhadap
penyakit sebagai bagian dari perubahan-perubahan perkembangan dan biasanya
mereka ini lebih menerima strategi promosi kesehatan. Sedangkan pada remaja,
kecelakaan terutama kecelakaan mobil merupakan bahaya yang amat besar, dan patah
tulang dan cedera karena atletik juga umum terjadi .
Penyalahguanaan obat - obatan dan alkohol, keluarga berencana, kehamilan
yang tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks merupakan bidang
perhatian yang relevan. Dalam mendiskusikan topik ini dengan keluarga, perawat
dapat terjebak dalam perselisihan atau masalah antara orang tua dan kaum muda,
remaja biasanya mencari pelayanan kesehatan mencakup uji kehamilan, menggunakan
obat-obatan, uji AIDS, keluarga berencana, dan aborsi, diagnosis dan perawatan
penyakit kelamin. Agaknya telah menjadi trend yang sah bagi remaja untuk menerima
perawatan kesehatan tanpa ijin orang tua. Bila orang tua diikutsertakan maka
dilakukan wawancara terpisah sebelum mereka dikumpulkan .
Kebutuhan kesehatan yantg lain adalah dalam bidang hubungan dan bantuan
untuk memperkokoh hubungan perkawinan dan hubungan remaja dengan orang tua.
Konseling langsung yang bersifat menunjang atau mulai rujukan ke sumber - sumber
dalam komunitas untuk konseling, dan juga pendidikan yang bersifat rekreasional, dan
pelayanan lainnya mungkin diperlukan, pendidikan promosi kesehatan umum juga
diindikasikan.

1
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Kasus
Pengkajian dilakukan pada tanggal 15 Maret 2022 jam 10.00 WIB pada
keluarga Bp.H (38 tahun). Bp. H merupakan kepala keluarga dari Ibu E (30 tahun),
An.W (14 tahun), An.A (12 tahun), dan Nenek.S (61 tahun). Pendidikan terakhir
Bp.H adalah SMP. Pekerjaan sehari - hari sebagai buruh di pabrik dan MC (pembawa
acara) di acara - acara pernikahan. Alamat tinggal sekarang ini di RT 11 RW 02
Kelurahan Sugihan Kecamatan Tengaran Kota Salatiga.
Keluarga Bp.H merupakan keluarga extended family (keluarga besar) yang terdiri dari
keluarga inti dan orang tua dari Bp.H yaitu Nenek.S. Diamana keluarga Bp.H
merupakan keluarga yang didalamnya masih terdapat hubungan darah, perkawinan dan
saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing - masing, karena
didalam satu rumah di keluarga Bp.H terdiri dari 6 orang yang hidup bersama, segala
kebutuhan dicukupi oleh kepala keluarga. Keluarga Bp.H mengatakan bersuku Jawa.
Keluarga Bp.H mempunyai kebiasaan jika ada anggota keluarga yang sakit dibelikan
obat warung terlebih dahulu untuk pertolongan pertamanya. Ibu.E mengatakan
keluarga beragama Islam. Kegiatan ibadah keagamaan keluarga Bp. H yaitu sholat 5
waktu dan berpuasa. Di keluarga Bp.H pencari nafkah utama adalah Bp.H yang bekerja
sebagai buruh, selain itu Bp.H juga masih aktif sebagai pembawa acara/MC di acara-
acara pernikahan, maka dari itu Bp. H terlihat jarang ada dirumah. Ibu. E mengatakan
bahwa dirinya merasa cukup dengan penghasilan suaminya saat ini. Ibu. E mengatakan
tidak memiliki jadwal khusus untuk rekreasi keluarga, hanya sesekali anaknya
mengajak berwisata. An.W mengatakan jika banyak kegiatan dan dirinya stress maka
dia akan main keluar dengan teman-temannya, biasanya nongkrong sambil mengobrol
tidak jelas, main ke warnet atau rental PS dan menonton balapan motor. An.W juga
mengatakan sering main dengan teman-temannya hingga malam hari.
Riwayat dan tahap perkembangan keluarga Bp.H berada dalam tahap
perkembangan keluarga dengan anak remaja dimana tugas perkembangan keluarga
dengan remaja yaitu: Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab
remaja mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa, mempertahankan hubungan
yang intim dalam keluarga, mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan
orang tua, hindari perdebatan Ibu.E mengatakan bahwa An.W adalah anak pendiam
dan jarang berbicara jika tidak ditanya. Terutama saat memasuki usia remja An.W

1
sudah jarang berkumpul dengan keluarga, jika berada dirumah An.W banyak
menghabiskan waktu di dalam kamarnya. An.W mengatakan jarang berbicara dengan
Bp.H karena menurut An.W bapaknya itu galak dan kalau menyuruh sesuatu, misalkan
belajar, Bp.H sering marah-marah sehingga An.W malas untuk menanggapinya. Ibu.E
mengatakan sebenanrnya Bp.H baik, tetapi memang agak keras untuk mendidik anak-
anaknya. Ibu.E juga mengatakan bahwa An.W sulit diatur semenjak memasuki SMP.
An.W mengatakan tidak mengetahui tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya
sebagai remaja., karena sebelumnya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai
tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya sebagai remaja.
Rumah yang ditinggali Bp.H sekeluarga adalah rumah permanen peninggalan
orang tua Bp.H yang berukuran 70 m2. Desain interior rumah terbagi menjadi 6
ruangan. Terdapat 2 jendela yang kurang lebih yang berukuran 1,5 x 1 meter di depan
samping pintu masuk. Namun, jendela yang selalu terlihat terbuka ini jarang
dibersihkan. Anak-anak Bp.H tidak ada yang aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan
di daerah setempat RW 02. An.W mengatakan sudah jarang (suka membolos) dalam
mengikuti pengajian. An.W berteman dengan beberapa teman seusianya, sering
nongkrong di pos hansip dekat rumahnya, bermain ke warnet dan rental PS dan jalan-
jalan dengan menggunakan motor. Ibu.E mengatakan bahwa komunikasi pada
keluarganya menekankan keterbukaan. Namun, An.W mengatakan lebih suka
menceritakan masalahnya kepada teman-temannya dibandingkan kepada orang tua
atau pun keluarganya yang lain. Bp.H sibuk bekerja dan jarang menyempatkan
berbicara kepada anaknya. Ibu. R juga mengatakan di rumahnya tidak ada peraturan
yang jelas tentang apa saja tugas setiap anggota keluarga. Ibu.E mengatakan urusan
anaknya lebih banyak diserahkan kepada ibuya. An.W mengatakan malas belajar dan
jarang mengerjakan tugas sekolahnya. Ibu.E mengatakan bahwa anaknya jarang
belajar dan nilainya pas-pasan. Ibu.E mengatakan tidak pernah memantau aktivitas
belajar anakya di rumah. Ibu.E mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam
rumah dapat saling terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An.H termasuk
anak yang pendiam dan jarang menyampaikan pendapatnya. Hubungan antar anggota
keluarga dalam rumah berjalan degan baik, Ibu.E mengatakan bahwa ketika ada
anggota yang sakit, maka yang sakit akan langsung diberikan obat dari warung atau
dari apotik. Keluarga Ibu.E juga sering memanfaatkan pelayanan kesehatan di RS,
tetapi jika sudah sembuh dengan mengkonsumsi obat warung maka hanya diobati di
rumah saja. Keluarga Bp.H mencemaskan pergaulan An.W yang sudah memasuki

1
masa remaja. An.W sudah mulai ditawari untuk mencoba merokok oleh teman-
temannya, baik teman di sekolah maupun teman di lingkungan rumahnya. An.W juga
sering nongkrong tidak jelas dengan teman sekoah maupun teman di sekitar rumahnya
tersebut. An.W juga mengatakan pernah ikut - ikutan tawuran dengan teman-teman
sekolahnya. An.W mengatakan sudah memiliki teman dekat wanita (pacar).
B. Pengkajian

Genogram :

Nenek S
61 thn

Bp. H Ibu E
38 thn 30 thn

An. W An. A An. B


14 thn 11 thn 9 thn

1
Keterangan :
: Laki-laki

: Perempuan

: Remaja / Pasien

: Cerai

: Tinggal dalam satu rumah

 Tipe Keluarga :
Keluarga Bp.H termasusk tipe keluarga extended family (keluarga
luas/besar). Keluarga Bp.H (38 thn) terdiri dari Bp. H, Ibu E, ketiga anaknya
dan ibu dari Bp.H yaitu nenek R (61 thn).
 Suku Bangsa :
Bp.H berasal dari Jawa dan istrinya, Ibu.E juga berasal dari Jawa. Bahasa
dominan yang mereka gunakan sehari-hari di rumah adalah Bahasa Indonesia
dalam percakapan. Ibu.E mengatakan keluarganya tidak memiliki kebiasaan
khusus yang mempengaruhi status kesehatan keluarga yang diajarkan turun-
temurun.
 Agama :
Seluruh keluarga Bp.H beragama Islam. Kegiatan ibadah keagamaan
keluarga Bp.H yaitu sholat 5 waktu dan puasa dilakukan. Menurut keluarga
Bp.H, agama berperan penting dalam kehidupan mereka, bahkan dalam hal
kesehatan. Ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit, keluarga uga selalu
mendoakan untuk kesembuhan anggota keluarga yang sedang sakit tersebut.
 Status Sosial Ekonomi Keluarga
Di keuarga Bp.H pencari nafkah utama di keluarga adalah Bp.H yang
bekerja sebagai buruh dengan penghasilan 2.000.000 – 2.500.000 setiap bulan.
Selain itu Bp.H juga masih aktif menjadi pembawa acara/MC di acara-acara
pernikahan, maka dari itu Bp.H terlihat jarang ada di rumah. Ibu.E sehari-hari
membuka warung yang menjual kebutuhan sehari-hari dan makanan ringan di

1
rumahnya dengan penghasilan perhari 50.000-an. Keperluan keluarga sehari-
hari adalah untuk makan dan jajan An.W, An.A dan An.B. Ibu.E mengatakan
bahwa dirinya merasa cukup dengan penghasilan suaminya saat ini. Bp.H saat
ini memiliki tabungan atau dana kesehatan dari tempatnya bekerja.
 Aktivitas Rekreasi Keluarga
Keluarga Bp.H tidak memiliki jadwal khusus untuk rekreasi keluarga,
hanya sesekali anaknya mengajak berwisata. Waktu liburan biasanya
disesuaikan dengan jadwal libur kerja dan libur anak sekolah, tetapi sekarang
jarang dilakukan, hanya jika ada waktu saja keluarga pergi rekreasi. Ibu.E juga
mengatakan biasanya dirinya berkunjung ke rumah kerabat yang letak
rumahnya berdekatan dengan rumah keluarga Bp.H Di rumah Ibu.E
mengatakan keluarganya dapat menikmatihiburan melalui TV dan radio yang
tersedia di rumahnya. An.W mengatakan jika banyak kegiatan dan membuat
dirinya stress maka dia akan main keluar dengan teman-temannya, biasanya
nongkrong sambil mengobrol tidak jelas, main ke warnet atau rental PS dan
menonton balapan motor. An.W juga mengatakan sering main dengan teman-
temannya hingga malam hari.
1. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
 Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini :
Termasuk keluarga dengan remaja. Tugas perkembangan keluarga dengan
anak remaja yang dilakukan oleh keluarga antara lain :
a. Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja
menjadi dewasa dan mandiri.
Keluarga sudah memberikan kesempatan bagi An.W untuk memilih apa
yang ingin dilakukan. An.W mengatakan tanggung jawabnya adalah
belajar dan membantu orang tua, itupun jarang dilakukan atas kemauannya
sendiri. An.W sudah memiliki cita-cita, yaitu menjadi seorang pemain
bola, tetapi hanya sebatas harapan dan tidak tahu bagaimana mencapai
tujuannya.
b. 2
Pernikahan Bp.H dan Ibu.E saat ini sudah berlangsung selama 15 tahu,
anaknya yang paling kecil sudah memasuki usia sekolah. Saat ini, Ibu.E

1
dan Bp.H mengatakan untuk berusaha membesarkan ketiga anaknya
dengan memenuhi segala kebutuhan mereka.
 Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi :
Berkomunikasi secara terbuka dengan anak-anak.
Ibu.E mengatakan bahwa An.W adalah anak yang pendiam dan jarang
berbicara jika tidak ditanya. Terutama saat memasuki usia remaja, An.W
sudah mulai jarang berkumpul dengan keluarga, jika berada di rumah An.W
banyak menghabiskan waktunya di dalam kamarnya. An.W mengatakan
jarang berbicara dengan Bp.H karena menurut An.W bapaknya itu galak dan
kalau menyuruh sesuatu misalnya belajar, Bp.H sering marah-marah sehingga
An.W malas untuk menanggapinya. Ibu.E mengatakan sebenarnya Bp.H baik,
tetapi memang agak keras untuk mendidik anak-anaknya. Ibu.E juga
mengatakan bahwa An.W sulit untuk diatur semenjak memasuki SMP. An.W
mengatakan tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya sebagai remaja,
karena sebelumnya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai tugas
perkembangan maupun tanggung jawabnya sebagai remaja.
 Riwayat Keluarga Inti :
Bp.H dan Ibu.E menikah pada tahun 1998, dan anak pertamanya lahir setahun
kemudian. Ibu.E dan Bp.H baru memutuskan memakai kontrasepsi setelah
kelahiran anak ke-3. Jenis kontrasepsi yang dipih adalah pil KB.
 Riwayat Keluarga Sebelumnya :
Tidak ada riwayat penyakit keluarga yang menurun. Bila sakit, keluarga Bp.H
pergi ke dokter swasta langganan keluarga. Tidak ada pola makan atau jenis
makanan yang dibatasi.
2. Lingkungan
 Karakteristik Rumah :
Rumah yang ditinggali Bp.H sekeluarga adalah rumah permanen peninggalan
orang tua Bp.H yang berukuran 70 m2. Desain interior rumah terbagi menjadi 6
ruangan, yang paling depan adalah ruang tamu. Lalu, 3 ruang tidur dan yang
paling belakang adalah dapur dan kamar mandi. Kamar tidur 1 digunakan oleh
Bp.H dan Ibu.E, sedangkan 2 kamar tidur lainnya digunakan oleh anak-anak
dan Nenek S yang tinggal bersama Bp.H dan Ibu.E Lantai rumah terbuat dari
kerami. Terdapat 2 jendela yang kurang lebih berukuran 1,5 x 1 meter di depan

1
samping pintu masuk. Namun, jendela yang terlihat selalu terbuka ini jarang
dibersihkan. Warna dinding rumah adalah putih yang kondisinya cukup bersih.
Kondisi rumah tampak rapi dan bersih dan terdapat beberapa perabot rumah
yang sesuai. Sumber air yang digunakan oleh keluarga berasal dari tanah
(sanyo) sehingga airnya tidak berasa, tidak berwarna dan tidak berbau. Pada
saat hari mulai gelap pencahayaan lampu dalam rumah Bp.H terbilang terang.

Denah Rumah

Kamar Dapur
Mandi

T
Ruang Ruang e
Tudur Keluarga r 10 m
a
s
Ruang Ruang Warung

Tidur Tamu

Teras

7m

 Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW :


Bp.H jarang berkumpul dengan tentangga karen akesibukannya, namun Ibu.E
aktif di arisan PKK dan pengajian yang ada di lingkungan rumah. Ibu.E sendiri
tidak bekerja hanya menjadi ibu rumah tangga saja dan mengurus warung yang
ada di rumah. Keluarga Bp.H tinggal di RT 11 RW 02, di sisi kanan rumah
Bp.H yaitu rumah saudaranya dan sebelah kiri adalah rumah tetangganya, di

1
belakang rumah ada tanah kosong dan jalan. Kehidupan bertetangga terlihat
rukun dan harmonis.
 Mobilitas Geografis Keluarga :
Saat ini keluarga Bp.H sudah tinggal menetap di rumah yang sekarang selama
15 tahun dan tidak berniat untuk pindah. Bp.H sendiri sudah tinggal di rumah
tersebut sejak Bp.H lahir, karena Bp.H adalah anak tunggal dari kedua orang
tuanya yang telah bercerai maka di rumah tersebut ditinggali keluarga Bp.H
dan ibunya. Rumah Bp.H dibangun di atas tanah milik orang tuanya,
kepemilikan tanah masih milik ibunya Bp.H.
 Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat :
Bp.H selalu menekankan pada Ibu.E supaya mengikuti acara yang diadakan
oleh RT/RW, misalnya pengajian, arisan RT dan kegiatan lainnya. Apabila ada
waktu luang Ibu.E mengajak anaknya bermain ke tetangga. Hubungan anggota
keluarga terlihat rukun, tidak ada konflik antara satu dengan yang lain (terlihat
harmonis).
Anak-anak Bp.H tidak ada yang aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan di
daerah setempat RT 02. An.W mengatakan sudah jarang (suka membolos)
dalam mengikuti pengajian. Bp.H sendiri sering diminta untuk menjadi
pembawa acara/MC di acara-acara pernikahan ataupun acara yang diadakan
RT/RW. Ibu.E juga bersosialisasi dengan tetangga di kanan, kiri dan depan
rumahnya. Saudara Ibu.E tinggal tidak jauh dari rumah Ibu.E, setiap hari selalu
bertemu. An.W berteman dengan beberapa teman seusianya, sering nongkrong
di pos hansip dekat rumahnya, bermain ke warnet dan rental PS dan jalan-jalan
dengan menggunakan motor.
 Sistem Pendukung Keluarga :
Bila ada masalah dalam keluarga, keluarga lebih senang menyelesaikan
dengan anggota keluarga. Kadang juga melibatkan orang tua, karena dengan
orang tua tinggal bersama dan berdekatan. Hal yang dirasakan sebagai
pendukung keluarga adalah keluarga yang tinggal tidak jauh dari rumah yang
memperhatikan bila ada anggota keluarga yang sakit dan tetangga yang idup
saling menghormati serta menghargai. Disamping itu adanya fasilitas dana
kesehatan dari tempat kerja Bp.H untuk anggota keluarga yang sakit menurut
Ibu.E sangat membantu keluarga.

1
3. Struktur Keluarga
 Pola Komunikasi Keluarga :
Ibu.E mengatakan bahwa komunikasi dengan keluarganya menekankan
keterbukaan. Bila ada masalah dalam keluarga, Ibu.E mendiskusikan bersama
Bp.H, terkadang meminta bantuan nasihat dari orang tu. Waktu yang biasanya
digunakan untuk komunikasi pada saat santai yaitu malam hari dan waktu
makan bersama dengan anggota keluarga. Namun An.W mengatakan lebih
suka menceritakan masalahnya kepada teman-temannya dibandingkan kepada
orang tua ataupun keluarganya yang lain. Bp.W sibuk bekerja dan jarang
menyempatkan berbicara kepada anaknya.
 Struktur Kekuatan Keluarga :
Pemegang keputusan di keluarga adalah Bp.H sebagai kepala keluarga, tetapi
tidak menutup kemungkinan suatu ketika Ibu.E punya pendapat sendiri dan
membuat keputusan sendiri, misalnya pada saat membeli keperluan rumah
tangga dan mengatur posisi perabotan rumah tangga. Terkadang Ibu.E juga
berinisiatif sendiri untuk membawa anaknya ke pelayanan kesehatan, bila ada
yang sakit dan tidak bisa sembuh dengan mengkonsumsi obat warung.
 Struktur Peran :
 Bp.H
Sebagai kepala keluarga, bertanggung jawab dalam mencari nafkah untuk
kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.
 Ibu.E
Ibu.E mengatakan urusan anaknya lebih banyak diserahkan kepada
ibunya. Sebagai istri Bp.H, sebagai ibu rumah tangga dan juga membuka
usaha warung di rumah.
 An.W
An.W mengatakan malas belajar dan jarang mengerjakan tugas
sekolahnya. Ibu R mengatakan bahwa anaknya jarang belajar dan nilainya
pas-pasan. Ibu R mengatakan tidak pernah membantu aktivitas belajar
anaknya di rumah.
 An.A

1
Sebagai anak ke dua Bp.H dan Ibu.E yang pada tahun ini akan memasuki
SMP. An.A juga berperan sebagai adik dari An.W dan kakak dari An.B.
 An.B
Sebagai anak ke tiga Bp.H dan Ibu.E juga berperan sebagai adik dari
kedua orang kakaknya yaitu An.W dan An.E.
 Nenek S
Sebagai ibu dari Bp.H dan nenek dari ketiga cucunya yaitu An.W, An.A
dan An.B.
Ibu.E juga mengatakan di rumahnya tidak ada peraturan yang jelas tentang apa
saja tugas setiap anggota keluarga.
 Nilai dan Norma Keluarga :
Nilai dan norma yang dipegang oleh Bp.H adalah sesuai dengan nilai-nilai
ajaran Islam dan tidak terpengaru oleh norma budaya. Penerimaan keluarga
terhadap perawat sangat baik, setiap masalah yang ada diutarakan dan
menerima kehadiran perawat.
4. Fungsi keluarga
 Fungsi Efektif :
Ibu.E mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam rumah dapat saling
terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An.W termasuk anak yang
pendiam dan jarang menyampaikan pendapat.
 Fungsi Sosialisasi :
Hubungan antar anggota keluarga dalam rumah berjalan dengan baik.
Hubungan anggota keluarga dengan tetangga juga baik apalagi keluarga Bp.H
tergolong paling lama tinggal di wilayah tersebut.
 Fungsi Perawatan Keluarga :
Ibu.E mengatakan bahwa ketika ada anggota keluarga yang sakit, maka yang
sakit akan langsung diberikan obat dari warung atau dari apotek. Keluarga
Ibu.E juga sering memanfaatkan pelayanan kesehatan di RS, tetapi jika sudah
sembuh dengan mengkonsumsi obat warung maka hanya diobati di rumah saja.
Bp. R mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki keluhan fisik dan tidak
merokok hanya saja jika sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya
biasanya Bp.H mengeluhkan pegal-pegal pada badannya.

1
5. Stress dan Koping Keluarga
 Stressor Jangka Pendek :
Keluarga Bp.H mencemaskan pergaulan An.W yang sudah memasuki masa
remaja. An.W sudah mulai ditawari untuk mencoba merokok oleh teman-
temannya, baik teman di sekolah maupun teman di lingkungan rumahnya.
An.W juga sering nongkrong tidak jelas dengan teman sekolah maupun teman
di lingkungannya tersebut. An.W juga mengatakan pernah ikut-ikutan tawuran
dengan teman-teman sekolahnya. An.W mengatakan sudah memiliki teman
dekat wanita (pacar).
 Stressor Jangka Panjang :
Ibu.E mengeluhkan biaya sekolah ketiga anaknya yang semakin mahal,
terlebih lagi tahun ini anak keduanya yaitu An.A akan lulus dari SD dan akan
memasuki SMP.
 Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Masalah :
Jika ada masalah, keluarga berupaya untuk mencari jalan keluar dari masalah
tersebut dengan jalan musyawarah. Keluarga meyakini kalau setiap masalah
ada jalan keluarnya, misalnya dengan meminta bantuan dari orang tua dan
tetangga yang terdekat.
 Strategi Koping yang Digunakan :
Ibu.E mengatakan selalu menyerahkan semua masalah yang terjadi kepada
Allah SWT tetapi tetap berusaha untuk mengatasi masalah yang ada.
 Strategi Adaptasi Disfungsional :
Tidak ada.
6. Harapan Keluarga
Keluarga berharap dengan kedatangan perawat berkunjung ke rumahnya adalah
keluarga dapat mengetahui status kesehatan keluarga. Dengan demikian keluarga
berharap akan selalu berada dalam kondisi sehat lahir dan batin. Mereka juga
berharap akan banyak mendapatkan banyak pengetahuan tentang berbagai macam
jenis penyakit dan cara perawatannya.

1
7. Pemeriksaan Fisik
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
1 Bp. H
130/90 86 21 36,7 68 172
(38 tahun)
Keluhan/RPS Tidak memiliki keluhan fisik
Riwayat penyakit dahulu Bp.H mengatakan
Pemeriksaan Fisik Kepala :
Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan benda tumpul dan tajam,
gerakan pipi, rahang, dan alis simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan pemeriksa, tidak ada nyeri
tekan, diameter pupil ± 2 mm, reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea
tidak ikterik, memakai kacamata jika membaca.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat bergerak ke kiri dan ke kanan,
tidak pucat, lidah dapat merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit sekitarnya, tidak terdapat lesi
atau cairan, mukosa hidung lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada benjolan, tidak bengkak, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat pembesaran JPV dan tiroid.
Tidak terdapat massa. Dapat bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah
tanpa ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada retraksi intercostae,
terdengar dullness pada perkusi batas jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal,
serta tidak terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit lainnya (tidak terdapat
lebam, kebiruan), tidak terdapat tonjolan abnormal, pernafasan 21 x/menit, tactil
fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler, dan tidak terdapat
suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat datar dan warnanya sama dengan kulit lainnya (tidak ada lebam dan
kemerahan), perut teraba lemas, tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar
tidak teraba, bising usus terdengar 10x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat tonjolan, dapat
mengangkat dan menahan beban dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri
dan kanan, refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, tidak ada lesi, sensitifitas
terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
2 Ibu. E (30 tahun) 110/70 82 19 36,8 48 154
Pemeriksaan Fisik Kepala :
Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan benda tumpul dan tajam,
gerakan pipi, rahang, dan alis simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan pemeriksa, tidak ada nyeri
tekan, diameter pupil ± 2 mm, reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea
tidak ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat bergerak ke kiri dan ke kanan,
tidak pucat, lidah dapat merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit sekitarnya, tidak terdapat lesi
atau cairan, mukosa hidung lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada benjolan, tidak bengkak, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat pembesaran JPV dan tiroid.
Tidak terdapat massa. Dapat bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah
tanpa ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada retraksi intercostae,
terdengar dullness pada perkusi batas jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal,
serta tidak terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit lainnya (tidak terdapat
lebam, kebiruan), tidak terdapat tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan
19 x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler
dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya (tidak ada lebam dan
kemerahan), perut teraba lemas, tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar
tidak teraba, bising usus terdengar 9x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat tonjolan, dapat
mengangkat dan menahan beban dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri
dan kanan, refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, elastis, tidak ada lesi, sensitifitas
terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
3 An. W (14 tahun) 120/80 88 20 36,5 51 156
Pemeriksaan Fisik Kepala :
Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan benda tumpul dan tajam,
gerakan pipi, rahang, dan alis simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan pemeriksa, tidak ada nyeri
tekan, diameter pupil ± 2 mm, reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea
tidak ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat bergerak ke kiri dan ke kanan,
tidak pucat, lidah dapat merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit sekitarnya, tidak terdapat lesi
atau cairan, mukosa hidung lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada benjolan, tidak bengkak, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat pembesaran JPV dan tiroid.
Tidak terdapat massa. Dapat bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah
tanpa ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada retraksi intercostae,
terdengar dullness pada perkusi batas jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal,
serta tidak terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit lainnya (tidak terdapat
lebam, kebiruan), tidak terdapat tonjolan abnormal, pernafasan 20 x/menit, tactil
fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler dan tidak terdapat
suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya (tidak ada lebam dan
kemerahan), perut teraba lemas, tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar
tidak teraba, bising usus terdengar 9x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat tonjolan, dapat
mengangkat dan menahan beban dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri
dan kanan, refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna gelap, elastis, tidak ada lesi, sensitifitas
terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
4 An. A (12 tahun) 110/80 91 21 36,8 36 139
Pemeriksaan Fisik Kepala :
Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan benda tumpul dan tajam,
gerakan pipi, rahang, dan alis simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan pemeriksa, tidak ada nyeri
tekan, diameter pupil ± 2 mm, reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea
tidak ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat bergerak ke kiri dan ke kanan,
tidak pucat, lidah dapat merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit sekitarnya, tidak terdapat lesi
atau cairan, mukosa hidung lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada benjolan, tidak bengkak, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat pembesaran JPV dan tiroid.
Tidak terdapat massa. Dapat bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah
tanpa ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada retraksi intercostae,
terdengar dullness pada perkusi batas jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal,
serta tidak terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit lainnya (tidak terdapat
lebam, kebiruan), tidak terdapat tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan
21 x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler
dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya (tidak ada lebam dan
kemerahan), perut teraba lemas, tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar
tidak teraba, bising usus terdengar 8x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat tonjolan, dapat
mengangkat dan menahan beban dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri
dan kanan, refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, elastis, tidak ada lesi, sensitifitas
terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
5 An. B (9 tahun) 110/70 92 22 36,9 31 134
Pemeriksaan Fisik Kepala :
Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan benda tumpul dan tajam,
gerakan pipi, rahang, dan alis simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan pemeriksa, tidak ada nyeri
tekan, diameter pupil ± 2 mm, reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea
tidak ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat bergerak ke kiri dan ke kanan,
tidak pucat, lidah dapat merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit sekitarnya, tidak terdapat lesi
atau cairan, mukosa hidung lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada benjolan, tidak bengkak, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat pembesaran JPV dan tiroid.
Tidak terdapat massa. Dapat bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah
tanpa ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada retraksi intercostae,
terdengar dullness pada perkusi batas jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal,
serta tidak terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit lainnya (tidak terdapat
lebam, kebiruan), tidak terdapat tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan
22 x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler
dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya (tidak ada lebam dan
kemerahan), perut teraba lemas, tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar
tidak teraba, bising usus terdengar 8x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat tonjolan, dapat
mengangkat dan menahan beban dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri
dan kanan, refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna gelap, elastis, tidak ada lesi, sensitifitas
terhadap benda tumpul dan tajam baik.
TD Nadi RR Suhu BB TB
No Nama
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C) (Kg) (cm)
6 Nenek. S (61 tahun) 140/90 90 23 37 52 155
Pemeriksaan Fisik Kepala :
Bentuk kepala dan muka simetris, klien dapat merasakan benda tumpul dan tajam,
gerakan pipi, rahang, dan alis simetris.
Mata :
Isokor, bola mata dapat mengikuti arah gerakan tangan pemeriksa, tidak ada nyeri
tekan, diameter pupil ± 2 mm, reaksi cahaya +/+, konjungtiva tidak anemis, kornea
tidak ikterik.
Mulut dan Hidung :
Bibir simetris, mukosa lembab, lidah simetris, dapat bergerak ke kiri dan ke kanan,
tidak pucat, lidah dapat merasakan asam, asin, manis dengan baik.
Bentuk hidung simetris, warna kulit sama dengan kulit sekitarnya, tidak terdapat lesi
atau cairan, mukosa hidung lembab, terdapat bulu hidung, uji penciuman baik.
Telinga :
Daun telinga simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada benjolan, tidak bengkak, tidak
ada nyeri tekan, tidak ada serumen. Klien tampak mendengar dengan baik.
Leher :
Bentuk simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat pembesaran JPV dan tiroid.
Tidak terdapat massa. Dapat bergerak proporsional ke kiri, kanan, atas, dan bawah
tanpa ada nyeri.
Jantung :
Tidak terdapat tonjolan dan massa pada dada, tidak ada retraksi intercostae,
terdengar dullness pada perkusi batas jantung, BJ 1 dan BJ 2 terauskultasi normal,
serta tidak terdapat mur-mur dan gallop.
Paru-paru :
Pengembangan simetris, warna dada sama dengan kulit lainnya (tidak terdapat
lebam, kebiruan), tidak terdapat tonjolan abnormal (juga pada payudara), pernafasan
23 x/menit, tactil fremitus sama kiri dan kanan, bunyi nafas terauskultasi vesikuler
dan tidak terdapat suara tambahan.
Abdomen :
Perut terlihat bulat dan warnanya sama dengan kulit lainnya (tidak ada lebam dan
kemerahan), perut teraba lemas, tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa, hepar
tidak teraba, bising usus terdengar 8x/menit.
Ekstremitas :
Terlihat bahu simetris, warna sama dengan kulit, tidak terdapat tonjolan, dapat
mengangkat dan menahan beban dengan baik, refleks brachioradialis normal kiri
dan kanan, refleks platela normal kiri dan kanan, kekuatan otot : 5 5
5 5
Kulit :
Kulit terlihat bersih, tidak bau, warna sawo matang, elastis, tidak ada lesi, sensitifitas
terhadap benda tumpul dan tajam baik.
Kesimpulan hasil pemeriksaan fisik :
Bp. H :
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tidak memiliki kelainan pada
pemerikasaan fisiknya, Bp. R tidak mengeluhkan keadaan fisiknya, tidak merokok, aktif
berkegiatan, tidak ada riwayat penyakit keturunan.
Ibu E :
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tidak memiliki kelainan pada
pemerikasaan fisiknya, Ibu R tidak mengeluhkan keadaan fisiknya, tidak merokok, aktif
berkegiatan, tidak ada riwayat penyakit keturunan.
An. W
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh seimbang, tidak
meiliki keluhan fisik, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.
An. A
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh seimbang, tidak
meiliki keluhan penyakit, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.
An. B
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, memiliki postur tubuh kurus, tidak meiliki
keluhan fisik, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.
Nenek S
Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, merokok, tidak meiliki keluhan fisik,
penglihatan mulai berkurang, tidak ada riwayat pengobatan dalam 3 bulan.

1
C. Analisa Data
No. Data Etiologi Problem
1. DS : Disorganisasi Penurunan koping
- Ibu.E mengatakan keluargan ,kurangnya saling keluarga Bp.H
dirumahnya tidak ada mendukung, orang - orang
peraturan yang jelas yang dekat dengan anda
tentang apa saja kurang terpapar
tugas setiap anggota informasi,orang yang dekat
keluarga. denganmu terlalu fokus pada
- An.W mengatakan kondisi di luar keluarga
tidak mengetahui
tugas perkembangan
maupun tanggung
jawabnya sebagai
remaja.
- An.W mengatakan
sebelumnya tidak
pernah mendapatkan
informasi mengenai
tugas perkembangan
maupun tanggung
jawabnya sebagai
remaja.
- Ibu.E mengatakan
urusan anaknya lebih
banyak diserahkan
kepada ibunya
DO :
- An.W marupakan
anak pertama dalam
keluarga.
- An.W berusia 14
tahun, berada pada

1
masa remaja awal.
- Dirumahnya tidak
ada yang
mengajarkan peran
dan tanggung jawab
kepada remaja
(An.W)
2. DS : Hubungan keluarga ketidakmampuan
- Ibu.E mengatakan ambivalen,pola koping yang koping keluarga
urusan anaknya lebih berbeda diantara klien dan Bp.H
banyak diserahkan orang
kepada ibunya terdekat,ketidakmampuan
- Ibu.E mengatakan orang terdekat
An.W lebih suka mengungkapkan perasaan
menghabiskan
waktunya didalam
kamar dari pada
berkumpul dengan
keluarga
- Ibu.E mengatakan
Bp.H memang agak
keras untuk mendidik
anak - anaknya
- An.W mengakui
tidak pernah
menceritakan
masalah yang
dihadapinya pada
orang tua
- An.W mengatakan
kadang percakapan
dengan orang tua
akan berakhir dengan

1
ketegangan
- An.W mengatakan
lebih suka
menceritakan
masalahnya kepada
teman-temannya
dibandingkan kepada
orang tua ataupun
keluarganya yang
lain.
DO :
- Bp.H sibuk bekerja
dan jarang
menyempatkan
berbicara kepada
anaknya.

D. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan koping keluarga Bp.H b/d disorganisasi keluarga,tidak tersedianya
informasi bagi orang terdekat,kurang saling mendukung, tidak cukupnya
dukungan yang diberikan klien pada orang terdekat, orang terdekat kurang
terpapar informasi, orang terdekat terlalu fokus pada kondisi di luar keluarga .
2. Ketidakmampuan koping keluarga Bp.H b/d hubungan keluarga ambivalen,pola
koping yang berbeda diantara klien dan orang terdekat,ketidakmampuan orang
terdekat mengungkapkan perasaan.

E. Scoring/ Pembobotan dan Penentuan Prioritas Masalah


1. Diagnosa : Penurunan koping keluarga Bp. H b/d disorganisasi keluarga, tidak
tersedianya informasi bagi orang terdekat, ikurang saling mendukung, tidak
cukupnya dukungan yang diberikan klien pada orang terdekat, orang terdekat
kurang terpapar informasi, orang terdekat terlalu fokus pada kondisi di luar
keluarga.

1
Kriteria SKOR Hasil Pembenaran
SIFAT MASALAH Saat ini An.W masih dalam tahap
(bobot = 1) 3 perkembangan remaja yang
- Tidak sehat 2 3/3 x 1 membutuhkan perhatian dan
- Ancaman kesehatan 1 =1 komunikasi yang efektif dalam
- Krisis atau keadaan mengungkapkan masalahnya.
sejahtera Orang tua biasanya hanya
menanyakan kemana An.W pergi
dan kadang memarahi jika ada
masalah dengan sekolah.
KEMUNGKINAN An. W masih dapat diajak
MASALAH DAPAT berkomunikasi dan menurut pada
DIUBAH (bobot = 2) 2 orang tuanya, melalui pendekatan
- Dengan mudah 1 2/2 x 2 komunikasi yang efektif akan
- Hanya sebagian 0 =2 pengenalan peran dan tanggung
- Tidak dapat jawab remaja maka penerapan
peran pada remaja di keluarga
Bp. H akan efektif.
POTENSIAL Adanya perhatian yang baik dari
MASALAH DAPAT orang tua dan saudara An.W akan
DICEGAH (bobot = 1) 3 perkembangan peran dan
- Tinggi 2 1/3 x 1 tanggung jawabnya.
- Cukup 1 = 1/3
- Rendah
MENONJOLKAN Keluarga mengatakan ada
MASALAH (bobot = 1) masalah dan segera perlu
- Masalh berat, harus 2 2/2 x 1 ditangani karena mereka takut
segera ditangani =1 anaknya tidak bisa penerapkan
- Ada masalah, tapi 1 peran dan tanggung jawab remaja
tidak perlu segera di
ditangani 0 keluarga.
- Masalah tidak
dirasakan

1
Total 4 1/3

2. Diagnosa :Ketidakmampuan koping keluarga Bp.H b/d hubungan keluarga


ambivalen, pola koping yang berbeda diantara klien dan orang terdekat,
ketidakmampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan.
Kriteria SKOR Hasil Pembenaran
SIFAT MASALAH Timbul mekanisme koping negatif
(bobot = 1) 3 baik pada orangtua, keluarga
- Tidak sehat 2 3/3 x 1 maupun remaja karena kurangnya
- Ancaman kesehatan 1 =1 kualitas komunikasi antara mereka.
- Krisis atau keadaan
sejahtera
KEMUNGKINAN Pola komunikasi antara remaja dan
MASALAH DAPAT orang tua merupakan suatu proses
DIUBAH (bobot = 2) 2 yang harus dimulai dan dijaga
- Dengan mudah 1 2/2 x 2 keberlangsungannya, keluarga
- Hanya sebagian 0 =2 sudah memberikan respon positif
- Tidak dapat dengan bertanya cara komunikasi
yang baik dengan remaja.
POTENSIAL terim Keluarga sudah mengetahui
MASALAH DAPAT stressor dan cara mencegahnya.
DICEGAH (bobot = 1) 3
- Tinggi 2 3/3 x 1
- Cukup 1 =1
- Rendah
MENONJOLKAN Keluarga menganggap masalah
MASALAH (bobot = terjadi tetapi tidak menjadikan
1) 2 1/2 x 1 masalah ini prioritas utama.
- Masalah berat, = 1/2
harus segera 1
ditangani
- Ada masalah, tapi 0
tidak perlu segera
ditangani

1
- Masalah tidak
dirasakan
Total 4 1/2

F. Prioritas Diagnosa Keperawatan

1. Diagnosa :Ketidakmampuan koping keluarga Bp.H b/d hubungan keluarga ambivalen,


pola koping yang berbeda diantara klien dan orang terdekat, ketidakmampuan orang
terdekat mengungkapkan perasaan.

2.Diagnosa : Penurunan koping keluarga Bp. H b/d disorganisasi keluarga, tidak


tersedianya informasi bagi orang terdekat, ikurang saling mendukung, tidak cukupnya
dukungan yang diberikan klien pada orang terdekat, orang terdekat kurang terpapar
informasi, orang terdekat terlalu fokus pada kondisi di luar keluarga.

2.

1
No Diagnosa Luaran Keperawatan

1 Ketidakmampuan koping keluarga Bp.H Setelah dilakukan tindakan Dukungan k


DS : keperawatan selama 3 x 24 jam
Observasi
- Ibu.E mengatakan urusan anaknya lebih (T) maka :
banyak diserahkan kepada ibunya Status koping keluarga, 1. Identifika
- Ibu.E mengatakan An.W lebih suka membaik : kondisi sa
menghabiskan waktunya didalam kamar 1. Keterpaparan informasi, 2. Identifika
dari pada berkumpul dengan keluarga meningkat psikologis
- Ibu.E mengatakan Bp.H memang agak 2. Perilaku mengabaikan
Terapeutik
keras untuk mendidik anak - anaknya anggota keluarga,menurun
- An.W mengakui tidak pernah menceritakan 3. Komunikasi antar anggota 1. Dengarkan
masalah yang dihadapinya pada orang tua keluarga ,meningkat pertanyaan
- An.W mengatakan kadang percakapan 4. Toleransi membaik 2. Fasilitasi
dengan orang tua akan berakhir dengan pasien da
ketegangan keluarga
- An.W mengatakan lebih suka menceritakan 3. Fasilitasi
masalahnya kepada teman - temannya mengiden
debandingkan kepada orang tua ataupun konflik nil
keluarganya yang lain. Edukasi : -
DO :
- Bp.H sibuk bekerja dan jarang
Kolaborasi
menyempatkan berbicara kepada anaknya.
keluarga,jik

2 Penurunan koping keluarga Bp.H Setelah dilakukan tindakan Promosi kop


DS : keperawatan selama 3 x 24 jam
Observasi
- Ibu.E mengatakan dirumahnya tidak ada (T) maka:
peraturan yang jelas tentang apa saja tugas Fungsi keluarga membaik 1. Identifikas
setiap anggota keluarga. 1. Anggota keluarga saling panjang se
- An.W mengatakan tidak mengetahui tugas mendukung, meningkat 2. Identifikas
perkembangan maupun tanggung jawabnya 2. Anggota keluarga 3. Identifikas
sebagai remaja. menjalankan peran yang masalah
- An.W mengatakan sebelumnya tidak pernah diharapkan
Terapeutik
mendapatkan informasi mengenai tugas 3. Pelibatan anggota keluarga
1. Sgunakan

1
perkembangan maupun tanggung jawabnya dalam menyelesaikan masalah menyakin
sebagai remaja. 2. Fasilitasi
- Ibu.E mengatakan urusan anaknya lebih yang dibu
banyak diserahkan kepada ibunya
Edukasi
DO :
1. Anjurkan
- An.W marupakan anak pertama dalam
memiliki k
keluarga.
2. Anjurkan
- An.W berusia 14 tahun, berada pada masa
persepktif
remaja awal.
3. Anjurkan
Dirumahnya tidak ada yang mengajarkan
4. Ajarkan
peran dan tanggung jawab kepada remaja
konstrukti
(An.W)

IMPLEMENTASI

No TGL IMPLEMENTASI EVALUASI TTD/NAMA


DP /
JAM

1 11-4-  Mengidentifikasi S: There dan


20 22 respon emosional Esti
Tn. H mengatakan merasa
09.00 terhadap kondisi saat lega “plog “ setelah
ini mengungkapkan perasaannya

Ny. E mengatakan merasa


 Mengidentifikasi
senang bila beban konflik
beban prognosis keluarga dapat diselesaikan
secara psikologis
nak W mengatakan senang
menceritakan masalah kepada
 Mendengarkan
orang tuanya
masalah ,perasaan,
O:
dan pertanyaan
keluarga Tn. H dan Ny. E tampak
mengungkapkan
 Memfasilitasi perasaannya,dapat
menjelaskan dengan baik
pengungkapan

1
perasaan keluarga Anak W tampak kooperatif
dalam menceritakan
 Memfasilitasi masalahnya
anggota keluarga
A:
dalam
Masalah teratasi
mengidentifikasi dan
menyelesaikan P : Intervensi dihentikan

konflik

2 12-4-  Mengidentifikasi S: There dan


2022 kegiatan jangka Esti
pendek dan jangka Tn H dan Ny. E
08.00 panjang sesuai mengungkapkan dengan baik
tujuan tentang
kegiatannya,kemampuannya
 Mengidentifikasi dengan melibatkan anaknya
kemampuan yang
dimiliki Anak W mengatakan paham
setelah diberikan informasi
 Mengidentifikasi tentang peran dan tanggung
metode jawabnya sebagai anak,dan
penyelesaian merasa senang dilibatkan
masalah dalam keluarga

 Menggunakan O:
pendekatan yang
tenang dan Tn. H, Ny. E dan Anak
menyakinkan W,tampak kompak,tenang
dalam mengungkapkan
 Memfasilitasi perasaannya
dalam memperoleh
informasi yang A : Masalah tercapai
dibutuhkan P : Intervensi dihentikan
 Menganjurkan
menjalin hubungan
yang memiliki
kepentingan dan

1
tujuan yang sama

 Menganjurkan
mengungkapkan
perasaan

 Menganjurkan
keluarga terlibat

 Mengajarkan
memecahkan
masalah

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

1
Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada sistem
keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggota keluarga
disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa tahapan atau kurun waktu
tertentu.Pada setiap tahapan mempunyai tugas perkembangan yang harus dipenuhi
agar tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses. Keluarga adalah sekumpulan orang
dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan,
mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional,
serta sosial dari tiap anggota keluarga.
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,
kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga, kelompok dan masyarakat
Saran
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan keluarga melalui
penyuluhan mengenai peran anggota keluarga dan perkembangan keluarga sesuai
jenjang merupakan langkah yang tepat dilakukan guna mencapai kebutuhan kesehatan
keluarga yang optimal.Upaya ini perlu dikembangkan dan ditingkatkan, untuk itu
perlu dukungan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap kesehatan keluarga.

1
DAFTAR PUSTAKA

RAMADHANI, Putri Erika; KRISNANI, Hetty. Analisis dampak perceraian orang tua
terhadap anak remaja. Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial, 2019, 2.1: 109-119

IRIANTO, Agus, et al. Komunikasi Interpersonal antara Orang Tua dan Anak Remaja
serta Identitas Diri Remaja: Studi di Bina Keluarga Remaja Parupuk Tabing, Koto
Tangah, Padang, Sumatera Barat. Populasi, 2018, 26.1: 16-25.

ZEGA, Yunardi Kristian. Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga: Upaya Membangun
Spiritualitas Remaja Generasi Z. JURNAL LUXNOS, 2021, 7.1: 105-116.

SHELLI AYU WARDANI, Shelli. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA REMAJA. 2021.

INDRI SETIAWATI, Indri. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TAHAP


PERKEMBANGAN ANAK USIA REMAJA. 2021. PhD Thesis. Universitas Kusuma
Husada Surakarta.

MUHAMMAD, AKBAR NAIM. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA


ANAK REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATU AMPAR
BALIKPAPAN. 2021.

DEWI LESTARI, Dewi. Asuhan keperawatan keluarga dengan tahap perkembangan


keluarga remaja. 2021. PhD Thesis. Universitas Kusuma Husada Surakarta.

BKKBN. 2012. Laporan situasi kependudukan dunia tahun 2012. Jakarta

Santrock, J. W. 2007. Perkembangan anak edisi kesebelas jilid 2. Jakarta: Erlangga

Setiadi. 2008. Konsep dan proses keperawatan keluarga edisi pertama. Yogyakarta: Graha
Ilmu

Slameto. 2006. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Mubarak, dkk. 2009. Ilmu keperawatan komunitas: konsep dan aplikasi. Jakarta: Salemba
Medika

Al-Mighwar, M. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: CV Pustaka Setia

Wong, D. L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai