0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan37 halaman

Wa0001.

Makalah ini membahas asuhan keperawatan keluarga pada remaja, yang mencakup karakteristik perkembangan remaja dan tantangan yang dihadapi keluarga. Remaja mengalami perubahan fisik, emosional, dan sosial yang dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk perilaku berisiko seperti seks bebas. Peran perawat adalah membantu keluarga mengatasi masalah kesehatan dan meningkatkan kemampuan mereka dalam merawat anggota keluarga yang berusia remaja.

Diunggah oleh

SUPRI YADI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan37 halaman

Wa0001.

Makalah ini membahas asuhan keperawatan keluarga pada remaja, yang mencakup karakteristik perkembangan remaja dan tantangan yang dihadapi keluarga. Remaja mengalami perubahan fisik, emosional, dan sosial yang dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk perilaku berisiko seperti seks bebas. Peran perawat adalah membantu keluarga mengatasi masalah kesehatan dan meningkatkan kemampuan mereka dalam merawat anggota keluarga yang berusia remaja.

Diunggah oleh

SUPRI YADI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA REMAJA

Disusun Oleh: Esteria Lumban Gaol


Nim :2201002

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT KESEHATAN SUMATERA UTARA
MEDAN
TA 2025/2026
kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahuwata'ala, karena berkat


rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan tugas "Asuhan Keperawatan Keluarga
Dengan Remaja". Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah
keperawatan keluarga.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini
memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan
wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Medan 30 januari 2025


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Keluarga dengan anak usia remaja dimulai saat anak berusia 13 tahun dan berakhir sampai
usia 19-20 tahun, pada saat anak meninggalkan orang tuanya(Harmoko, 2012). Remaja
merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang memiliki karakteristik yang berbeda
bila dibandingkan dengan tahap perkembangan lainnya, karena pada tahap ini seseorang
mengalami peralihan dari masa anak-anak ke dewasa. Masa remaja adalah masa dimana
terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Karakteristik psikososial remaja yang
sedang berproses untuk mencari identitas diri ini sering menimbulkan banyak masalah pada
diri remaja. Transisi dari masa anak-anak dimana selain mneingkatnya kesadaran dırı remaja.
I ransısı darı masa anak-anak dımana selain mneingkatnya kesadaran diri (self consciousness)
terjadi juga perubahan secara fisik, kognitif, sosial maupun emosional pada remaja sehingga
remaja cenderung mengalami perubahan emosi ke arah yang negatif menjadi mudah marah,
tersinggung bahkan agresif. Perubahan- perubahan karakteristik pada masa remaja tersebut,
ditambah dengan faktor-faktor eksternal seperti kemiskinan, pola asuh yang tidak efektif dan
gangguan mental pada orang tua diprediksi sebagai penyebab timbulnya masalah-masalah
remaja (Pianta, 2005 dalam Santrock, 2007). Masalah yang sering terjadi pada keluarga
dengan anak usia remaja diantaranya kurangnya pengetahuan tentang kesehatan
repdoduksi,kehamilan tidak diinginkan, aborsi, perkawinan dan kehamilan dini, dan penyakit
menular seksual (Mukhatib, 2010). Masalah yang terjadi di indonesia salah satunya seks
bebas, kawin di usia muda, melakukan hubungan seksual pra nikah, serta terinfeksi HIV dan
AIDS. Menurut data hasil penelitian Depkes di 14 kota besar (Medan, Jakarta Pusat, Bandung
dan Surabaya) 39,9 remaja mengaku pernah melakukan hubungan Related titles 29°C
Pusat, Bandung dan Surabaya) 39,9 remaja mengaku pernah melakukan hubungan seksual
(BKKBN, 2012). Berdasarkan Badan Pusat Statistik, penduduk pada tahun 2015 menunjukkan
bahwa jumlah remaja (usia 10-24 tahun) de Indonesia mencapai lebih dari 66 juta jiwa atau
25% dari jumlah penduduk Indonesia 225 juta. Artinya 1 dari setiap 4 orang penduduk
Indonesia adalah remaja (Badan Pusat Statistik, 2018). Hasil sensus Badan Pusat Statistik
Jawa Tengah tahun 2016 jumlah penduduk berumur 10-24 tahun sebesr 8.276.016 jiwa dari
34.019.095 jiwa menurut kelompok umur. Sekitar 25% dari jumlah penduduk di Jawa Tengah
adalah penduduk berumur 10-24 tahun. Sedangkan sensus dari Badan Pusat Statistik tahun
2015 penduduk umur 15-14 tahun sebesar 54.397 jiwa dari 466.405 jiwa atau sekitar 11,5%
penduduk (Badan titles arch Pusat Statistik, 2018). Peran perawat dalam asuhan keperawatan
keluarga dengan tahap anak usia remaja adalah membantu keluarga untuk menyelesaikan
masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan
tugas perawatan kesehatan keluarga, sehingga keluarga dapat melakukan program asuhan
kesehatan secara mandiri, dan masalah yang timbul bisa teratasi.

Rumusan Masalah
1.Apa definisi remaja
2.Bagimana tahap perkembangan remaja
3.Bagaimna tugas perkembagan kelurga terhadap remaja
4.bagaimana asuhan keperawatan pada keluarga dengan pada remaja
Tujuan
1.tujuan umum
2. Tujuan Umum Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan
masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga dengan anak remaja.
Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu :
a. Menyebutkan definisi keluarga dengan anak remaja.
b. Menjelaskan tugas-tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja.
c. Menjelaskan asuhan keperawatan pada keluarga dengan anak remaja
BAB 2
TINJAUN PUSTAKA

Definisi Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence (kata bendanya adolescenta
yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Adolescence artinya berangsur-
angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini
mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu
fase ke fase lainya secara tiba- tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap
(Al-Mighwar, 2006
Tahap Perkembangan Remaja Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan
remaja dalam proses penyesuaian diri menuju dewasa :
a. Remaja Awal (Early Adolescence) Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun
masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada rubuhnya sendiri dan
dorongan- dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan
pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis.
Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan
yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap "ego". Hal ini
menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang dewasa.

b. Remaja Madya (Middle Adolescence) Tahap ini berusia 13-15 tahun. Pada tahap ini
remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. la senang kalau banyak teman yang
menyukainya. Ada kecenderungan "narastic", yaitu mencintai diri sendiri, dengan
menyukai teman- teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu,
ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana: peka
atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau meterialis,
dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari Oedipoes Complex (perasaan
cinta pada ibu sendiri pada masa kanak- kanak) dengan mempererat hubungan dengan
kawan-kawan dari lawan jenis.

c. Remaja Akhir (Late Adolescence) Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi
menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.

1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.


2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam
pengalaman-pengalaman baru.
3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan
keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
5) Tumbuh "dinding" yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masvarakat
umum (the public)

Karakteristik Perkembangan Remaja


Menurut Wong (2009), karakteristik perkembangan remaja dapat dibedakan menjadi :
a. Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan psikososial menurut Erikson dalam Wong (2009), menganggap
bahwa krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan terbentuknya identitas.
Periode remaja awal dimulai dengan awitan pubertas dan berkembangnya stabilitas
emosional dan fisik yang relatif pada saat atau ketika hampir lulus dari SMU. Pada saat
ini, remaja dihadapkan pada krisis identitas kelompok versus pengasingan diri.

Pada periode selanjutnya, individu berharap untuk mencegah otonomi dari keluarga dan
mengembangkan identitas diri sebagai lawan terhadap difusi peran. Identitas kelompok
menjadi sangat penting untuk permulaan pembentukan identitas pribadi. Remaja pada
tahap awal harus mampu memecahkan masalah tentang hubungan dengan teman sebaya
sebelum mereka mampu menjawab pertanyaan tentang siapa diri mereka dalam kaitannya
dengan keluarga dan masyarakat.

1) Identitas kelompok
Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok sonakin kuat.
Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok adalah hal yang penting karena
mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan kelompok dapat memberi mereka
status. Ketika remaja mulai mencocokkan cara dan minat berpenampilan, gaya mereka
segera berubah. Bukti penyesuaian diri remaja terhadap kelompok teman sebaya dan
ketidakcocokkan dengan kelompok orang dewasa memberi kerangka pilihan bagi
remaja sehingga mereka dapat memerankan penonjolan diri mereka sendiri sementara
menolak identitas dari generasi orang tuanva. Menjadi individu yang berbeda
mengakibatkan remaja tidak diterima dan diasingkan dari kelompok.

2) Identitas Individual
Pada tahap pencarian ini, remaja mempertimbangkan hubungan yang mereka
kembangkan antara diri mereka sendiri dengan orang lain di masa lalu, seperti halnya
arah dan tujuan yang mereka harap mampu dilakukan di masa yang akan datang.
Proses perkembangan identitas pribadi merupakan proses yang memakan waktu dan
penuh dengan periode kebingungan, depresi dan keputusasaan. Penentuan identitas
dan bagiannya di dunia merupakan hal yang penting dan sesuatu yang menakutkan
bagi remaja. Namun demikian, jika setahap demi setahap digantikan dan diletakkan
pada tempat yang sesuai, identitas yang positif pada akhirnya akan muncul dari
kebingungan. Difusi peran terjadi jika individu tidak mampu memformulasikan
kepuasan identitas dari berbagai aspirasi, peran dan identifikasi.

3) Identitas peran seksual

Masa remaja merupakan waktu untuk konsolidasi identitas peran seksual. Selama
masa remaja awal, kelompok teman sebaya mulai mengomunikasikan beberapa
pengharapan terhadap hubungan heterokseksual dan bersamaan dengan kemajuan
perkembangan, remaja dihadapkan pada pengharapan terhadap perilaku peran seksual
yang matang yang baik dari teman sebaya maupun orang dewasa. Pengharapan seperti
ini berbeda pada setiap budaya, antara daerah geografis, dan diantara kelompok sosio
ekonomis.

4) Emosionalitas Remaja

lebih mampu mengendalikan emosinya pada masa remaja akhir. Mereka mampu
menghadapi masalah dengan tenang dan rasional, dan walaupun masih mengalami
periode depresi, perasaan mereka lebih kuat dan mulai menunjukkan emosi yang lebih
matang pada masa remaja akhir. Sementara remaja awal bereaksi cepat dan emosional,
remaja akhir dapat mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk
mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk mengekspresikan dirinya
dapat diterima masyarakat. Mereka masih tetap mengalami peningkatan emosi, dan
jika emosi itu diperlihatkan, perilaku mereka menggambarkan perasaan tidak aman ,
ketegangan ,dan kebimbangan

b. Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Wong (2009),
remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode
berpikir konkret; mereka juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi.
Pada saat ini mereka lebih jauh ke depan. Tanpa memusatkan perhatian pada situasi saat
ini, mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang mungkin terjadi, seperti
kemungkinan kuijah dan bekerja; memikirkan bagaimana segala sesuatu mungkin dapat
berubah di masa depan, seperti hubungan dengan orang tua, dan akibat dari tindakan
mereka, misalnya dikeluarkan dari sekolah. Remaja secara mental mampu memanipulasi
lebih dari dua kategori variabel pada waktu yang bersamaan. Misalnya, mereka dapat
mempertimbangkan hubungan antara kecepatan, jarak dan waktu dalam membuat rencana
perjalanan wisata. Mereka dapat mendeteksi konsistensi atau inkonsistensi logis dalam
sekelompok pernyataan dan mengevaluasi sistem, atau serangkaian nilai-nilai dalam
perilaku yang lebih dapat dianalisis.
c. Perkembangan Moral

Teori perkembangan moral menurut Kohlberg dalam Wong (2009), masa remaja akhir
dicirikan dengan suatu pertanyaan serius mengenai nilai moral dan individu. Remaja dapat
dengan mudah mengambil peran lain. Mereka memahami tugas dan kewajiban
berdasarkan hak timbal balik dengan orang lain, dan juga memahami konsep peradilan
yang tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan atau
penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah. Namun demikian, mereka
mempertanyakan peraturan-peraturan moral yang telah ditetapkan, sering sebagai akibat
dari observasi remaja bahwa suatu peraturan secara verbal berasal dari orang dewasa
tetapi mereka tidak mematuhi peraturan tersebut.

d. Perkembangan Spiritual

Pada saat remaja mulai mandiri dari orang tua atau otoritas yang lain, beberapa
diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal keluarga mereka. Sementara itu,
remaja lain tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ini sebagai elemen yang stabil dalam
hidupnya seperti ketika mereka berjuang melawan konflik pada periode pergolakan[ini.
Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi melakukan ibadah secara
individual dengan privasi dalam kamar mereka sendiri. Mereka mungkin memerlukan
eksplorasi terhadap konsep keberadaan Tuhan. Membandingkan agama mereka dengan
orang lain dapat menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaan mereka sendiri
tetapi pada akhirnya menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas mereka.

e. Perkembangan Sosial

Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka dari
dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang
tua. Namun, proses ini penuh dengan ambivalensi baik dari remaja maupun orang tua.
Remaja ingin dewasa dan ingin bebas dari kendali orang tua, tetapi mereka takut ketika
mereka mencoba untuk memahami tanggung jawab yang terkait dengan kemandirian

1) Hubungan dengan orang tua

Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari menyayangi dan persamaan
hak. Proses mencapai kemandirian sering kali melibatkan kekacauan dan ambigulitas karena
baik orang tua maupun remaja berajar untuk menampilkan peran yang baru dan
menjalankannya sampai selesai, sementara pada saat bersamaan, penyelesaian sering kali
merupakan rangkaian kerenggangan yang menyakitkan, yang penting untuk menetapkan
hubungan akhir. Pada saat remaja menuntut hak mereka untuk mengembangkan hak-hak
istimewanya, mereka sering kali menciptakan ketegangan di dalam rumah. Mereka
menentang kendali orang tua, dan konflik dapat muncul pada hampir semua situasi atau
masalah.

a. Hubungan dengan teman sebaya

Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam sebagian besar kehidupan, bagi
sebagian besar remaja, teman sebaya dianggap lebih berperan penting ketika masa remaja
dibandingkan masa kanak-kanak. Kelompok teman sebaya memberikan remaja perasaan
kekuatan dan kekuasaan.

b) Sahabat

Hubungan personal antara satu orang dengan orang lain yang berbeda biasanya terbentuk
antara remaja sesama jenis. Hubungan ini lebih dekat dan lebih stabil daripada hubungan
yang dibentuk pada masa kanak-kanak pertengahan, dan penting untuk pencarian identitas.
Seorang sahabat merupakan pendengar terbaik, yaitu tempat remaja mencoba
kemungkinan peran-peran dan suatu peran bersamaan, mereka saling memberikan
dukungan satu sama lain.
Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut (Hurlock, 2001) antara lain:

a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik
pria maupun wanita
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam
sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak
perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugastugas tersebut
selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat.
Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda
akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku.
b. Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam
sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak
perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugastugas tersebut
selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat.
Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda
akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. yang
menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang
menganggu para remaja
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak
kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang penampilan
diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep
ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri sehingga
lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab


Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai
banyak kesulitan bagi laki-laki; mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal
masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak perempuan. Sebagai anak-
anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran
sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang
diakui masyarakat dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas
pokok yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun. Karena
adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir
masa kanak-kanak dan masa puber, makan mempelajari hubungan baru dengan
lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui
lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan
pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya
sesama jenis juga tidak mudah.

e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa


lainnya
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri
secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas
perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan
kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan
membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada
orang tua atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang
statusnya dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki
hubungan yang akrab dengan anggota kelompok

f. Mempersiapkan karier ekonomi

Kemandirian ekonomi tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih


pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih
pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan
untuk memperoleh kemandirian ekonomi bilamana mereka secara resmi
menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomi mereka masih harus
tergantung selama beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk
bekerja selesai dijalani.

g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga

Kecenderungan perkawinan muda menyebabkan persiapan perkawinan


merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahuntahun
remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang berangsur-ansur
mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual,
tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit yang dipersiapkan. Kurangnya
persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari masalah yang tidak
terselesaikan, yang oleh remaja dibawa ke masa remaja.

h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk


berperilaku mengembangkan ideology

Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang


sesuai dengan nilai dewasa, orang tua berperan banyak dalam perkembangan
ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan teman sebaya, masa
remaja harus memilih yang terakhir bila mengharap dukungan teman-teman
yang menentukan kehidupan sosial mereka. Sebagian remaja ingin diterima
oleh teman-temannya, tetapi hal ini seringkali diperoleh dengan perilaku yang
oleh orang dewasa dianggap tidak bertanggung jawab.
Definisi Keluarga

Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak tempat anak


belajar dan mengatakan sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak
melakukan interaksi yang intim. Menurut Slameto (2006) keluarga adalah lembaga
pendidikan yang yang pertama dan utama bagi anak-anaknya baik pendidikan
bangsa, dunia, dan negara sehingga cara orang tua mendidik anak-anaknya akan
berpengaruh terhadap belajar. Sedangkan menurut Mubarak, dkk (2009) keluarga
adalah perkumpulan dua orang atau lebih yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu
dengan yang lain.

Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dapat dibagi dalam 3 jenis (Duval,


1972 dalam Setiadi 2008), yaitu :

a. Nuclear family, sering disebut dengan keluarga inti, yaitu keluarga yang
anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah

b. Extended family, atau keluarga besar, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri
dari ayah, ibu, serta family dari kedua belah pihak.

c. Horizontal extended family, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari


ayah, ibu dan anak yang telah menikah dan masih menumpang pada orang
tuanya.

Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Remaja


Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada
saat anakterakhir meninggalkan rumah.Lamanya tahapan ini tergantung jumlah
anak dan adaatau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama
orang tua.Tugas perkembangan :

1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.


2. Mempertahankan keintiman pasangan.
3. Membantu orang tua memasuki masa tua.
4. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
5. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
Masalah-Masalah yang Terjadi Pada Keluarga dengan Tahap Perkembangan
Anak Usia Remaja
Ketidakmatangan dalam hubungan keluarga seperti yang ditunjukkan oleh
adanya pertengkaran dengan anggota-anggota keluarga, terus menerus mengritik atau
buat komentar-komentar yang merendahkan tentang penampilan atau perilaku
anggota keluarga, sering terjadi selama tahun-tahun awal masa remaja. Pada saat ini
hubungan keluarga biasanya berada pada titik rendah. Hubungan keluarga yang buruk
merupakan bahaya psikologis pada setiap usia, terlebih selama masa remaja karena
pada saat ini anak laki-laki dan perempuan sangat tidak percaya pada diri sendiri dan
bergantung pada keluarga untuk memperoleh rasa aman. Yang lebih penting lagi,
mereka memerlukan bimbingan atau bantuan dalam menguasai tugas perkembangan
masa remaja. Jika hubungan-hubungan keluarga ditandai dengan pertentangan,
perasaan-perasaan tidak aman berlangsung lama, dan remaja kurang memiliki
kesempatan untuk mengembangkan pola perilaku yang tenang dan lebih matang.
Remaja yang hubungan keluarganya kurang baik juga dapat mengembangkan
hubungan yang buruk dengan orang-orang diluar rumah. Meskipun semua hubungan,
baik dalam masa dewasa atau dalam masa kanak-kanak, kadang- kadang tegang
namun orang ang selalu mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain
dianggap tidak matang dan kurang menyenangkan. Hal ini menghambat penyesuaian
sosial yang baik.

Masa remaja dikenal banyak orang sebagai masa yang indah dan penuh romantika,
padahal sebenarnya masa ini merupakan masa yang penuh dengan kesukaran.
Bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi keluarga dan lingkungan sosial. Masa ini akan
membuat remaja mengalami kebingungan disatu pihak masih anak-anak, tetapi
dilain pihak harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi ini membuat mereka
dalam kondisi konflik, sehingga akan terlihat bertingkah laku aneh, canggung dan
kalau tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan kenakalan. Dalam usahanya
mencari identitas diri, mereka sering membantah orang tuanya, karena memulai
mempunyai pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan
orang tuanya.

Pendapat orang tua tidak lagi dapat dijadikan pegangan, meskipun sebenarnya
mereka juga belum memiliki dasar pegangan yang kuat. Orang yang dianggap penting
dalam masa ini adalah teman sebaya. Mereka berusaha untuk mengikitu pendapat dan
gaya teman-temannya karena dianggap memiliki kesamaan dengan dirinya.
Karenanya sering kali remaja terlibat dalam geng-geng, dengan menjadi anggota
geng mereka akan saling memberi dan mendapat dukungan mental. Beberapa kasus
terakhir seperti geng-geng motor yang terlibat kegiatan merupakan bentuk dari
kecenderungan tersebut. Mereka akan berani melakukan tindakan-tindakan kejahatan
ketika dilakukan dalam kelompok dan tidak akan berani melakukannya secara
individual. Masalah lain yang sering mengganggu anak remaja adalah masalah yang
berkaitan dengan organ reproduksi (seksual). Satu sisi mereka sudah mencapai
kematangan seksual, yang menyebabkan mereka memiliki dorongan untuk pemuasan
tetapi disisi lain kebudayaan dan norma sosial melarang pemuasan kebutuhan seksual
diluar pernikahan. Padahal untuk menikah banyak persyaratan yang harus dipenuhi,
bukan hanya kemampuan dalam melakukan hubungan seksual, tetapi diperlukan
ekonomi, kematangan psikologi, dan sebagainya.syarat-syarat ini sangat berat dan
mungkin belum dicapai pada usia remaja. Oleh karena itu, para remaja mencari
kepuasan dalam bentuk khayalan, membaca buku atau menonton film porno.
Meskipun tingkah laku ini sebenarnya tetap melanggar norma masyarakat, tetapi
mereka melakukannya dengan sembunyi- sembunyi. Untuk menghadapi situasi ini
orang tua harus lebih bijaksana dalam menyikapi, cara yang tepat dilakukan adalah
dengan mengurangi control secara bertahap terhadap anaknya, sehingga mereka dapat
tumbuh menjadi diri sendiri secara bertahap sampai akhirnya dewasa.

MASALAH-MASALAH KESEHATAN

Pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik. Tapi promosi
kesehatan tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko harus diidentifikasi dan
dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya gaya hidup keluarga yang sehat mulai
dari usia 35 tahun, resiko penyakit jantung koroner meningkat dikalangan pria dan
pada usia ini anggota keluarga yang dewasa mulai merasa lebih rentan terhadap penyakit
sebagai bagian dari perubahan-perubahan perkembangan dan biasanya mereka ini
lebih menerima strategi promosi kesehatan. Sedangkan pada remaja, kecelakaan terutama
kecelakaan mobil merupakan bahaya yang amat besar, dan patah tulang dan cedera
karena atletik juga umum terjadi Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, keluarga
berencana, kehamilan yang tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks
merupakan bidang perhatian yang relevan. Dalam mendiskusikan topik ini dengan
keluarga, perawat dapat terjebak dalam perselisihan atau masalah antara orang tua dan
kaum muda, remaja biasanya mencari pelayanan kesehatan mencakup uji kehamilan,
menggunakan obat-obatan, uji AIDS, keluarga berencana, dan aborsi, diagnosis dan
perawatan penyakit kelamin. Agaknya telah menjadi trend yang sah bagi remaja untuk
menerima perawatan kesehatan tanpa ijin orang tua. Bila orang tua diikutsertakan
maka dilakukan wawancara terpisah sebelum mereka dikumpulkan .

Kebutuhan kesehatan yantg lain adalah dalam bidang hubungan dan bantuan
untuk memperkokoh hubungan perkawinan dan hubungan remaja dengan orang tua.
Konseling langsung yang bersifat menunjang atau mulai rujukan ke sumber-sumber
dalam komunitas untuk konseling, dan juga pendidikan yang bersifat rekreasional, dan
pelayanan lainnya mungkin diperlukan, pendidikan promosi kesehatan umum juga
diindikasikan.

Peran Perawat
pencegahan penyakit. Penyuluhan tentang penyakit kardiovaskuler pada usia
lanjut, Peran perawat pada tahap ini adalah mengarahkan keluarga pada
peningkatan dan penyuluhan tentang penyakit kardiovaskuler pada usia lanjut,
penyuluhan tentang obat-obatan terlarang, minuman keras, seks, pencegahan
kecelakaan pada remaja, serta membantu terciptanya komunikasi yang lebih efektif
antara orang tua dengan anak remajanya ( Mubarak, 2009, hal 90). Peran perawat
dalam peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit pada tahap keluarga
dengan anak remaja menurut Stanhope (1998, Hal 52):

a. Guru tentang faktor-faktor kesehatan


b. Guru dalam isu-isu pemecahan masalah mengenai aklohol dan merokok, diet
dan ferak badan
c. Fasilitator keterampilan interpersonal dengan anak belasan tahun bersama
orang tua.

d. Penolong langsung, konsultan atau pihak yang merujuk ke sumber-


sumber kesehatan mental

e. Konsultan keluarga berencana


f. Pihak yang merujuk ke bagian penyakit yang ditularkan melalui seksual
g. Peserta dalam organisasi masyarakat untuk pengendalian penyakit.
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA FORMAT PENGKAJIAN


KEPERAWATAN KELUARGA PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS
ILMU KESEHATAN

A. PENGKAJIAN
I.INDENTITAS PASIEN
1. indentitas kepala keluarga
Nama : Tn.A
Umur : 40 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh Pabrik
Alamat : Surabaya
No.telpon :0812xxxxxxx

2.kompesisi kelurga

No. Nama L/P Umur Hub. Klg Pekerjaan Pendidikan


1. Ny. N P 39 th Istri Wiraswasta SMA
2. An. K L 16 th Anak Pelajar SMA
3. An. L P 12 th Anak Pelajar SMP
4. Nenek T P 60 th Ibu Tidak Bekerja SMP
3.Genogram

Keteragan :

: Anggota keluarga laki-laki yang sudah meninggal


: Anggota keluarga perempuan yang sudah meninggal
: Anggota keluarga laki-laki

: anggota keluarga perempuan

: Klien

4. Type Keluarga

a) Jenis type keluarga


Keluarga Tn. A merupakan type keluarga extended family. Keluarga Tn. A
(40 tahun) terdiri dari Tn. A, Ny. N, An. K, An. L, dan Ibu dari Tn. A yaitu
Nenek T.

b) Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut

Anggota kelurga kurang mengetahui tentang peran dan tangung


jawabnya
5. Suku Bangsa

a) Asal suku bangsa :


Tn. A dan Ny. N berasal dari Surabaya (Jawa). Bahasa dominan yang mereka
gunakan sehari-hari di rumah adalah bahasa Indonesia dan Jawa. Saat
berada di luar rumah, mereka menggunakan dalam bahasa Indonesia dan
Jawa dalam percakapan. Ny. N mengatakan kelurganya tidak memiliki
kebiasaan khusus yang mempengaruhi status kesehatan keluarga yang
diajarkan turun-temurun.

b) Budaya yang berhubungan dengan


kesehatan : Tidak ada

6. Agama dan Kepercayaan yang mempengaruhi keluarga :


Seluruh keluarga Tn. A beragama Islam. Kegiatan ibadah keagamaan keluarga
TN. A yaitu sholat lima waktu dan puasa dilakukan. Menurut Tn. A, agama
berperan sangat penting dalam kehidupan mereka, bahkan dalam hal kesehatan.
Ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit, keluarga juga selalu mendoakan
untuk kesembuhan anggota keluarga yang sakit tersebut.

7. Status sosial ekonomi keluarga :


a) Anggota keluarga yang mencari nafkah
:
Di keluarga Tn. A, pencari nafkah utama di keluarga adalah Tn. A yang
bekerja sebagai buruh dan pembawa acara nikahan

b)
Penghasilan :

Penghasilan Tn. A + 3.000.000 setiap


bulan. c) Upaya lain :

Tn. A juga masih aktif sebagai pembawa acara di acara-acara pernikahan,


maka dari itu Tn.A terlihat jarang berada dirumah. Selain itu upaya lain yang
dilakukan yaitu Ibu. N sehari-hari membuka warung yang menjual kebutuhan
sehari-hari dan makanan ringan di rumahnya dengan penghasilan perhari
menurut Ibu. N adalah 50.000-an.
d) Harta benda yang dimiliki (perabot, transportasi,
dll) Sepeda motor (1 buah) dan perabot rumah
tangga.

e) Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan


:

Keperluan keluarga sehari – hari adalah untuk makan dan jajan An. K dan An.
L.

8. Aktivitas Rekreasi Keluarga

Tn. A tidak memiliki jadwal khusus untuk rekreasi keluarga, hanya sesekali
anaknya mengajak berwisata. Waktu liburan biasanya disesuaikan dengan
jadwal libur kerja dan libur anak sekolah, tetapi sekarang jarang dilakukan, hanya
jika ada waktu saja keluarga pergi rekreasi. Ny. N juga mengatakan biasanya
dirinya berkunjung ke rumah kerabat yang letak rumahnya berdekatan dengan
rumah keluarga Tn. A. Di rumah, Ny. N mengatakan keluarganya dapat
menikmati hiburan melalui TV dan radio yang tersedia di rumahnya. An. K
mengatakan jika banyak kegiatan dan membuat dirinya stress maka dia akan
main keluar dengan teman-temannya, biasanya nongkrong sambil mengobrol
tidak jelas, main ke warnet atau rental PS dan menonton balapan

motor. An. K juga mengatakan sering main dengan teman-temannya


hingga malam hari.

II RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA

1. Tahap perkembangan keluarga saat ini (ditentukan dengan anak tertua) :


Termasuk keluarga dengan remaja. Tugas perkembangan keluarga
dengan anak remaja.

2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya :


Berkomunikasi secara terbuka dengan anak-anak. Ny. N mengatakan
bahwa An. K adalah anak yang pendiam dan jarang berbicara jika tidak
ditanya. Terutama saat memasuki usia remaja, An. K sudah mulai
jarang berkumpul dengan keluarga, jika berada di rumah An. K banyak
menghabiskan waktunya di dalam kamarnya. An. K mengatakan jarang
berbicara dengan Tn. A karena menurut An. K bapaknya itu galak dan
kalau menyuruh sesuatu, misalkan belajar, Tn. A sering marah-marah
sehingga An. K malas untuk menanggapinya. Ny. N mengatakan
sebenarnya Tn. A baik, tetapi memang agak keras untuk mendidik anak-
anaknya. Ny. N juga mengatakan bahwa An. K sulit untuk diatur
semenjak memasuki SMA. An. K mengatakan tidak mengetahui
tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya sebagai remaja,
karena sebelumnya tidak pernah mendapatkan informasi mengenai
tugas perkembangan maupun tanggung jawabnya sebagai remaja.

3. Riwayat kesehatan kelurga inti :

a) Riwayat kesehatan keluarga saat ini :

Keluarga Tn. A tidak ada yang menderita penyakit berat. Namun


terkadang sakit batuk, pilek, panas, sakit kepala namun setelah
beli obat di warung keluhan sudah hilang.

b) Riwayat penyakit turunan :


Tidak ada riwayat penyakit keluarga yang menurun. Bila sakit,
keluarga Tn. A

pergi ke puskesmas. Tidak ada pola makan atau jenis makanan yang
dibatasi. c) Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
Imunisasi Tindakan
N Keadaan (BCG/Polio/DP Masalah yang telah
Nama Umur BB T/HB/Campak) dilakukan
kesehata kesehata
1. Tn. A 40 th 68 kg n - Lengkap Tidak
n ada -
2. Ny. N 39 th 48 kg - Lengkap Tidak ada -
3 An k 16 th 55 kg - Lengkap Tidak ada -
4 An t 12 th 48 kg - Lengkap Tidak ada -
5 Nenek 60 th 52 kg - tidak lengkap Tidak ada -

d) Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan


Keluarga jika berobat ke puskesmas atau ke
Rumah Sakit
III. PENGKAJIAN
LINGKUNGAN
1.
Karakterist
ik rumah a)
Luas
rumah

Rumah yang ditinggali Tn. A


berukuran 70 m. b) Type rumah

Type rumah
permanen c)
Kepemilikan

Rumah yang ditinggali Tn. A sekeluarga adalah rumah peninggalan


dari orang tua Tn. A.

d) Jumlah dan ratio kamar/ruangan


Desain interior rumah terbagi menjadi 6 ruangan, yang paling depan
adalah ruang tamu. Lalu, 3 ruang tidur dan yang paling belakang
adalah dapur dan kamar mandi. Kamar tidur 1 digunakan oleh Tn. A
dan Ny. N, sedangkan 2 kamar tidur lainnya digunakan oleh anak-anak
dan Nenek. T yang tinggal bersama.

e) Ventilasi/cendela
Terdapat 2 jendela yang kurang lebih berukuran 1,5 x 1 meter di
depan samping pintu masuk. Namun, jendela yang terlihat selalu
terbuka ini jarang dibersihkan.

f) Pemanfaatan ruangan
Kondisi rumah, tampak rapi dan bersih dan terdapat beberapa
perabot rumah yang sesuai.

g) Septic tank :
Ada, Letak di belakang rumah
berjarak 1,5 m h) Sumber air minum
Sumber air minum dengan air galon yang dibeli di toko penyedia
minuman isi ulang dekat rumah.

i) Kamar mandi/WC
Kamar mandi terdapat satu yang jadi satu dengan WC dengan kloset
jongkok.
j) Sampah :

Terdapat tong sampah di depan


rumah k) limbah RT

limbah RT terdapat di TPS sejauh 1


km. l) Kebersihan lingkungan

Kebersihan lingkungan selalu terjaga karena masyarakat rutin melakukan


kerja bakti tiap 1 bulan sekali.

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW


a) Kebiasaa:
Setiap bulan terdapat kegiatan kerja bakti, pengajian dan arisan. Tn. A jarang
mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan karena kesibukannya, namun
Ny. N aktif dengan kegiatan yang ada di lingkungan tempat tinggal.

b)Aturan/kespakata:
Apabila ada tamu yang menginap harus lapor RT/
RW. c) Budaya :

Budaya lingkungan melakukan gotong royong dalam melakukan kerja


bakti.
3. Mobilitas Geografis
Saat ini, keluarga Tn. A sudah tinggal menetap di rumah yang sekarang selama
15 tahun dan tidak berniat untuk pindah. Tn. A sendiri sudah tinggal
dirumah tersebut sejak Tn. A lahir, karena Tn. A adalah anak tunggal dari kedua
orang tuanya yang telah bercerai. maka dirumah tersebut ditinggali keluarga Tn.
A dan ibunya. Rumah Tn. A dibangun di atas tanah milik orang tuanya,
kepemilikan tanah masih milik ibunya Tn. A.

4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Tn. A selalu menekankan pada Ny. N supaya mengikuti acara yang
diadakan oleh RT/RW, misalnya pengajian, arisan RT dan kegiatan lainnya.
Apabila ada waktu luang Ny. N mengajak anaknya bermain ke tetangga.
Hubungan anggota keluarga terlihat rukun, tidak ada konflik antara satu
dengan yang lain (terlihat harmonis). Anak-anak Ny. N tidak ada yang aktif
mengikuti kegiatan kemasyarakatan di daerah setempat RW 02. An. K
mengatakan sudah jarang (suka membolos) dalam mengikuti pengajian. Tn. A
sendiri sering diminta untuk menjadi pembawa acara/ MC di acara-acara
pernikahan ataupun acara yang diadakan RT/ RW. Ny. N juga bersosialisasi
dengan tetangga di kanan, kiri dan depan rumahnya. Saudara Ny. N tinggal
tidak jauh dari rumah Ny. N, setiap hari selalu bertemu. An. K berteman
dengan beberapa teman seusianya, sering nongkrong di pos hansip dekat
rumahnya, bermain ke warnet dan rental PS dan jalan-jalan dengan
menggunakan motor.

5. Sistem Pendukung Keluarga


Bila ada masalah dalam keluarga, keluarga lebih senang menyelesaikan dengan
anggota keluarga. Kadang juga melibatkan orang tua, karena dengan orang tua
tinggal bersama dan berdekatan. Hal yang dirasakan sebagai pendukung
keluarga adalah keluarga yang tinggal tidak jauh dari rumah yang
memperhatikan bila ada anggota keluarga yang sakit dan tetangga yang hidup
saling menghormati serta menghargai. Disamping itu adanya fasilitas dana
kesehatan dari tempat kerja Ny. N untuk anggota keluarga yang sakit menurut
Ny. N sangat membantu keluarga.

IV. STRUKTUR KELUARGA


1. Pola/cara Komunikasi keluarga :
Ny. N mengatakan bahwa komunikasi pada keluarganya menekankan
keterbukaan. Bila ada masalah dalam keluarga, Ny. N mendiskusikan bersama
Tn. A, terkadang meminta bantuan nasihat dari orang tua. Waktu yang biasanya
digunakan untuk komunikasi pada saat santai yaitu malam hari dan waktu
makan bersama dengan anggota keluarga. Namun An. K mengatakan lebih suka
menceritakan masalahnya kepada teman-temannya dibandingkan kepada
orang tua atau pun keluarganya yang lain. Tn. A sibuk bekerja dan
jarang menyempatkan berbicara kepada anaknya.

2. Struktur kekuatan keluarga :


Pemegang keputusan di keluarga adalah Tn. A sebagai kepala keluarga,
tetapi tidak menutup kemungkinan suatu ketika Ny. N punya pendapat sendiri
dan membuat keputusan sendiri, misalnya pada saat membeli keperluan
rumah tangga dan mengatur posisi perabotan rumah tangga. Terkadang Ny. N
juga berinisiatif sendiri untuk membawa anaknya ke pelayanan kesehatan, bila
ada yang sakit dan tidak bisa sembuh dengan mengkonsumsi obat warung

3. Struktur peran (peran masing/masing anggota keluarga)


- Tn. A Sebagai kepala keluarga, bertanggung jawab dalam mencari
nafkah untuk kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.

- Ny. N sebagai ibu rumah tangga mengatakan urusan anaknya lebih


banyak diserahkan kepada ibunya. Sebagai istri Tn. A, sebagai ibu rumah
tangga dan juga membuka usaha warung di rumahnya.

- An. K sebagai anak dan pelajar mengatakan malas belajar dan


jarang mengerjakan tugas sekolahnya. Ny. N mengatakan bahwa anaknya
jarang belajar dan nilainya pas-pasan. Ny. N mengatakan tidak pernah
memantau aktivitas belajar anaknya di rumah.

- An. L Sebagai anak ke dua Tn. A dan Ny. N yang pada tahun ini memasuki
SMP. An. L juga berperan sebagai adik dari An. K.
4. Nilai dan norma keluarga
Nilai dan norma yang dipegang oleh Tn. A adalah sesuai dengan nilai-nilai
ajaran Islam dan tidak terpengaruh oleh norma budaya. Penerimaan keluarga
terhadap perawat sangat baik, setiap masalah yang ada diutarakan dan
menerima kehadiran perawat.

V. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi afektif
Ny. N mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam rumah dapat
saling terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An. K termasuk
anak yang pendiam dan jarang menyampaikan pendapatnya.

2. Fungsi sosialisasi
a) Kerukunan hidup dalam keluarga :

Kehidupan antar anggota keluarga Tn. A baik tidak ada


masalah b) Interaksi dan hubungan dalam keluarga :
Tn. A jarang berinteraksi dengan anak-anak karena kesibukannya bekerja. c)
Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan :

Anggota keluarga yang dominan mengambil keputusan adalah Tn. A.

d) Kegiatan keluarga waktu senggang :

Keluarga mengunjungi sanak-saudara bila waktu


senggang. e) Partisipasi dalam kegiatan social :

Ny. N aktif dalam kegiatan yang ada dilingkungannya namun Tn. A


karena kesibukannya bekerja jarang mengikuti kegiatan yang ada di
lingkungannya.

3. Fungsi perawatan kesehatan


a) Pengetahuan dan persepsi keluarga tentang penyakit/masalah
kesehatan keluarganya:

Menurut Ny. N masalah kesehatan muncul dikarenakan pola hidup yang


tidak sehat.

b) Kemampuan keluarga mengambil keputusan tindakan kesehatan yang


tepat Bila ada anggota kelurga yang sakit, keluarga membeli obat yang
ada di toko namun bila masih belum teratasi keluarga membawa ke
fasilitas kesehatan.

c) Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit


Keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada bila
tidak mampu mengatasi masalah kesehatan anggota keluarga.

d ) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang


sehat

Setiap hari anggota keluarga membersihkan rumah dan lingkungan


rumah, serta memperhatikan ventilasi udara yang masuk dalam rumah.

e) Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di


masyarakat
Keluarga menggunakan fasilitas kesehatan puskesmas yang ada di sekitar
rumahnya.
4. Fungsi reproduksi

a)Perencanaan jumlah anak:


Keluarga Tn. A merancakan memilki 2 anak
cukup.

b) Akseptor :

Ya, yang digunakan IUD lamanya 5 tahun.

5. Fungsi ekonomi
a) Upaya pemenuhan sandang pangan

Tn. A sebagai kepala keluarga dan bekerja sebagai buruh serta pembawa
acara pernikahan

b)Pemanfaatan sumber di masyarakat

Jika ada keluarga yang sakit tidak parah biasanya Tn. A membelikan obat
di warung, tetapi kalau anggota keluarga yang sakit sudah tidak bisa
ditangani dengan obat warung biasanya dibawa ke puskesmas.

VI. STRES DAN KOPING KELUARGA

1. Stressor jangka pendek :


Keluarga Tn. A mencemaskan pergaulan An. K yang sudah memasuki masa
remaja. An. K sudah mulai ditawari untuk mencoba merokok oleh teman-
temannya, baik teman di sekolah maupun teman di lingkungan rumahnya. An.
K juga sering nongkrong tidak jelas dengan teman sekolah maupun teman di
sekitar rumahnya tersebut. An. K juga mengatakan pernah ikut-ikutan tawuran
dengan teman-teman sekolahnya.

2. Stressor jangka panjang :


Ny. N mengeluhkan biaya sekolah kedua anaknya yang semakin
mahal
3. Respon keluarga terhadap stressor :
Jika ada masalah, keluarga berupaya untuk mencari jalan keluar dari
masalah tersebut dengan jalan musyawarah. Keluarga meyakini kalau
setiap masalah ada jalan keluarnya, misalnya dengan minta bantuan dari
orang tua dan tetangga yang terdekat.

4. Strategi koping : Ny. N mengatakan selalu menyerahkan semua masalah


yang terjadi kepada Allah SWT tetapi tetap berusaha untuk mengatasi
masalah yang ada

5. Strategi adaptasi disfungsiona:


Jika terdapat masalah, keluarga menggunakan koping adaptasi yang positif.
Selalu melakukan musyawarah dengan keluarga untuk mencari solusi.

VII. KEADAAN GIZI KELUARGA


Pemenuhan gizi :

Keluarga Tn. A selalu makan 3 kali sehari dengan menu yang seadanya. Biasanya
Ny. N memasak lauk dan sayur. Ny. N selalu mengusahakan untuk menyediakan
sayur untuk keluarganya karena menganggap sayur penting untuk kesehatan
keluarganya. Untuk lauk biasanya Ny. N menyediakan ayam, ikan, tempe, tahu atau
telur. Keluarga Tn. A jarang mengkonsumsi daging merah.

Upaya lain :
Ny. N berusaha memberikan buah-buahan untuk keluarganya walaupun jarang.
Kadang seminggu sekali Ny.N membeli buah untuk menjaga kesehatan keluarganya
karena merasa tidak mampu membelikan vitamin bagi anak-anaknya.
No Pemeriksaan Identitas
Tn. A Ny. N An. K An. L Nenek T
Fisik
1. Tanda-tanda Td : 120/90mmHg Td : 110/70mmHg Td : 120/80mmHg Td : 110/90mmHg Td : 140/90mmHg
Vital Nadi : 80x/menit Nadi : 84x/menit Nadi : 84x/menit Nadi : 92x/menit Nadi : 96x/menit
RR : 20x/menit RR : 20x/menit RR : 20x/menit RR : 20x/menit RR : 22x/menit
Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC
BB : 68 kg BB : 48 kg BB : 55 kg BB : 48 kg BB : 52 kg
2. Sistem Tidak terdapat
TB : 172 cm tonjolan Tidak
TB : 154terdapat
cm tonjolan dan Tidak
TB : 156terdapat
cm tonjolan dan Tidak terdapat
TB : 139 cm tonjolan dan Tidak terdapat
TB : 155 cm tonjolan
dan massa pada dada, massa pada dada, tidak massa pada dada, tidak massa pada dada, tidak dan massa pada dada, tidak
Cardiovaskul er tidak ada ada ada ada ada
retraksi intercostae, retraksi intercostae, retraksi intercostae, retraksi intercostae, retraksi intercostae,
terdengar dullness terdengar dullness pada terdengar dullness pada terdengar dullness pada terdengar dullness pada
pada perkusi batas perkusi batas perkusi batas perkusi batas
perkusi batas jantung, BJ 1 jantung, BJ 1 dan BJ 2 jantung, BJ 1 dan BJ 2 jantung, BJ 1 dan BJ 2 jantung, BJ 1 dan BJ 2
dan BJ 2 terauskultasi terauskultasi normal, serta terauskultasi normal, serta terauskultasi normal, terauskultasi normal,
3. Ssistem Paru-paru: Pengembangan Paru-paru: Pengembangan Paru-paru: Pengembangan serta
Paru-paru: Pengembangan serta
Paru-paru: Pengembangan
normal, serta tidak tidak terdapat mur-mur tidak terdapat mur-mur
simetris, warna dada
dan sama simetris, warna dada sama simetris, warna dada sama simetris, warna dada sama simetris, warna dada sama
Respirasi terdapat mur-mur dan gallop. dan gallop. tidak terdapat mur-mur tidak terdapat mur-mur
gallop. kulit lainnya (tidak dengan kulit lainnya (tidak dengan kulit lainnya (tidak dengan
dengan dan gallop. dan gallop.
kulit lainnya (tidak dengan kulit lainnya (tidak
terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan),
tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan
abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21
x/menit, tactil fremitus x/menit, tactil fremitus sama x/menit, tactil fremitus sama x/menit, tactil fremitus sama x/menit, tactil fremitus sama
sama kiri dan kanan, bunyi kiri dan kanan, bunyi nafas kiri dan kanan, bunyi nafas kiri dan kanan, bunyi nafas kiri dan kanan, bunyi nafas
nafas terauskultasi terauskultasi vesikuler, dan terauskultasi vesikuler, dan terauskultasi vesikuler, dan terauskultasi vesikuler, dan
vesikuler, dan tidak tidak terdapat suara tidak terdapat suara tidak terdapat suara tidak terdapat suara
4. Sistem terdapatterlihat
Perut suara tambahan
datar tambahan
Perut terlihat datar dan tambahan
Perut tambahan
terlihat datar dan Perut terlihat datar tambahan
Perut terlihat datar
dan warnanya sama warnanya sama dengan kulit warnanya sama dengan kulit dan warnanya sama dengan dan warnanya sama dengan
Gastrointesti nal dengan kulit kulit
lainnya (tidak ada lebam, lainnya (tidak ada lebam,
kulit lainnya (tidak ada lainnya (tidak ada lebam, lainnya (tidak ada lebam,
lebam, kemerahan), kemerahan), perut kemerahan), perut kemerahan), perut kemerahan), perut
perut teraba lemas, tidak teraba lemas, tidak terdapat teraba lemas, tidak terdapat teraba lemas, tidak teraba lemas, tidak
terdapat nyeri nyeri terdapat nyeri terdapat nyeri
nyeri tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba
massa, hepar tidak massa, hepar tidak teraba, massa, hepar tidak teraba, massa, hepar tidak teraba, massa, hepar tidak teraba,
teraba, bising usus bising usus bising bising
5. Sistem bising
Kesadaranusus terdengar terdengar
Composmentis, Kesadaran10x/menit
Composmentis, terdengar
Kesadaran10x/menit
Composmentis, usus terdengar
Kesadaran 10x/menit
Composmentis, usus terdengar
Kesadaran 10x/menit
Composmentis,
GCS : 456 GCS : 456 GCS : 456 GCS : 456 GCS : 456, penurunan jarak
Persyarafan 10x/menit
pandang.
6. Sistem Terlihat bahu simetris, Terlihat bahu simetris, warna Terlihat bahu simetris, warna Terlihat bahu simetris, warna Terlihat bahu simetris, warna
warna sama dengan kulit, sama dengan kulit, tidak sama dengan kulit, tidak sama dengan kulit, tidak sama dengan kulit, tidak
Muskoluskel
etal tidak terdapat tonjolan, terdapat tonjolan, dapat terdapat tonjolan, dapat terdapat tonjolan, dapat terdapat tonjolan, dapat
dapat mengangkat dan mengangkat dan menahan mengangkat dan menahan mengangkat dan menahan mengangkat dan menahan
menahan beban dengan beban dengan baik, refleks beban dengan baik, refleks beban dengan baik, refleks beban dengan baik, refleks
baik, refleks brachioradialis brachioradialis nor brachioradialis nor brachioradialis nor brachioradialis nor
nor
7. Sistem Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada
Genetalia oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada
benjolan, menopouse (+).
IX. HARAPAN KELUARGA
1. Terhadap masalah kesehatannya: Keluarga berharap semua keluarga nya sehat
dan tidak ada yang sakit.

2. Terhadap petugas kesehatan yang ada : Dengan adanya petugas kesehatan


keluarga berharap perawat dapat mengatasi masalah da lam keluarganya
terutama mendidik anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik.

No Dat Penyebab Masalah Keperawatan


1 Data Subjektif: a Ketidakmampuan Penampilan Peran
mempertahankan
atau Tidak Efektif pada An. K
- Ny. N mengatakan bahwa An. K
menciptakan suasana
sulit untuk diatur semenjak rumah tangga yang
memasuki SMA dan lebih suka
menghabiskan waktunya di sehat
dalam kamar daripada
berkumpul dengan keluarga

- Ny. N mengatakan An. K


merupakan seorang anak yang
pendiam dan jarang
berbicara jika tidak ditanya
- Ny. N mengatakan di rumahnya
tidak ada peraturan yang
jelas
tentang apa saja tugas
setiap
anggota keluarga
- An. K mengatakan ayahnya
hanya sibuk bekerja
- An. K mengatakan tidak
mengetahui tugas
perkembangan
maupun tanggung jawabnya
- An. K mengatakan pernah ikut-
ikutan tawuran dengan
teman-
teman sekolahnya
Data Obyektif :

- Tn. A terlihat jarang berada


dirumah
- An. K merupakan anak pertama
dalam keluarga
- An. K berusia 16 tahun,
- Di rumahnya tidak ada yang bisa
mengajarkan peran dan
tanggung
jawab kepada remaja
- An. K merupakan anak yang
pendiam dan tertutup
2. Data Subjektif: Ketidakmampuan Ketidakmampuan
melakukan komunikasi mengidentifikasi
terbuka
masalah yang muncul
- Ny. N mengatakan antara anak dan pada masing-masingg
urusan anaknya lebih banyak orang tua
anggota keluarga
diserahkan kepada ibunya

- Ny. N mengatakan An. K

merupakan seorang anak yang


tertutup dan lebih suka
menghabiskan waktunya di dalam
kamar daripada berkumpul dengan
keluarga

- Ny. N mengatakan tn.


A memang agak keras untuk
mendidik anaknya

- An. K mengaku tidak


pernah menceritakan masalah
yang

dihadapinya pada orang tua

- An. K mengatakan lebih


suka menceritakan
masalahnya

kepada teman-temannya

dibandingkan kepada orang tua


atau pun keluarganya yang lain

- Ny. N mengatakan tidak pernah


C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
memantau aktivitas belajar
1. anaknya
Skoringdi rumah, selain itu
memiliki nilai yang pas-pasan
1) Penampilan Peran Tidak Efektif pada An. K b/d Ketidakmampuanmempertahankanatau
- An. K mengatakan
malas belajar dan
No jarang
Kriteria S Pembenaran
1mengerjakan
Sifat Masalah : 2/3 kx 1 = Diperlukan support system
2/3 o
tugasAncaman Kesehatan
sekolahnya r keluarga dalam mengubah pola
perilaku anggota keluarga yang
2 Kemungkinan Masalah 2/2x 2 = tidakkeluarga
Di sesuai harapan
tidak ada yang
2
dapat diubah : mengajarkan tentang
Mudah tanggung jawab dan peran remaja
3DataPotensial
Obyektif :Masalah dapat 3/3 x 1 = Potensial masalah dapat dicegah
dicegah : 1 tinggi dengan memberikan edukasi
Tinggi tentang tanggung jawab dan peran
- Tn. A sibuk bekerja dan remaja
4 Menonjolnya masalah : 2/2 x 1 = Masalah yang terjadi pada An. K
jarang menyempatkan berbicara 1
Mslh
kepada +, tp t/ perlu
anaknya hendaknya segera ditangani.
ditangani
Total
- An. K merupakan anak 4 2/3
yang pendiam dan tertutup selain
2. itu
Prioritas Diagnosa
sering nongkrong dan tidak
1) Ketidakmampuan mengidentifikasi masalah yang muncul pada masing-masing
terlihatanggota
belajar. keluarga b/d ketidakmampuan melakukan komunikasi terbuka antara

anak dan orang tua


2) Penampilan Peran Tidak Efektif pada An. K b/d ketidakmampuan
mempertahankan atau menciptakan suasana rumah tangga yang sehat
D. INTERVENSI DAN EVALUASI
NO DIAGNOSA TUJUAN EVALUASI INTERVENSI
KEPERAWATAN UMUM KHUSUS KRITERIA STANDAR
KELUARGA
1. Ketidakmampuan Setelah Selama 1x 60 menit Respon kognitif Antar anggota keluarga - Identifikasi respon
mengidentifikasi dilakukan kunjungan, keluarga mengungkapan masing- emosional terhadap kondisi
saat ini
masalah yang muncul kunjungan mampu: masing perasaan, harapan
pada masing-masing rumah sebanyak dan - Dengarkan masalah, perasaan
dan pertanyaan keluarga
anggota keluarga b/d 3 kali, masalahny
Mendiskusikan - Fasilitasi pengungkapan
ketidakmampua keluarga masalah a perasaan
n melakukan mampu yang dihadapi antara pasien dan keluarga
mengidentifikasi keluarga atau antar keluarga
komunikasi terbuka
antara anak dan orang masalah Mengidentifika Respon kognitif Klien dan keluarga mampu -- Identifikasi
Identifikasi kegiatan jangka
kesesuaian
tua si masalah- menilai dan merespon antara harapan
panjang klien, keluarga
dan pendek masing-
masalah yang stressor dan kemampuan dan tenaga kesehatan
masing anggota keluarga
dimiliki menggunakan
- Identifikasi kemampuan
keluarg sumber-sumber yang yang dimiliki
a ada
- Identifikasi dampak situasi
terhadap peran dan hubungan

- Identifikasi kebutuhan
dan keinginan terhadap
dukungan social

- Anjurkan mengungkapkan
perasaan dan persepsinya
Mendiskusikan Respon Klien dan keluarga dapat - Fasilitasi dalam
tindakan atau kognitif dan menentukan tindakan atau memperoleh informasi yang
koping yang afektif koping yang dilakukan dibutuhkan
dilakukan untuk
- Diskusikan untuk
keluarga untuk mengatasi mengklarifikasi
masalah kesalahpahaman
mengatasi masalah dan
mengevaluasi perilaku sendiri
- Motivasi terlibat dalam
kegiatan sosial
Mengevaluasi Respon kognitif Klien dan keluarga dapat - Kaji apakah tindakan atau
kemampuan menggunakan koping efektif - Dukung
koping efektif sudah berjalan
penggunaan
keluarga pada permasalahan yang pad keluarga Tn.
mekanisme pertahanA yang
menggunakan ada
koping tepat

2. Setelah efektif
Selama 1x 60 menit Respon verbal Klien dan keluarga mampu -- Identifikasi
Anjurkan keluarga terlibat
peran yang ada
Penampilan Peran
dilakukan kunjungan, Klien mengungkapkan perannya dalam
- Ajarkan keluarga
cara
Tidak Efektif pada An. kunjungan dan keluarga masing-masing dalam
rumah sebanyak mampu : keluarga - Identifikasi
memecahkanadanya
masalahperan
secara
K b/d yang
3 kali, konstruktif
ketidakmampuan
mempertahankan penampilan tidak terpenuhi
peran Mengungkapkan
atau menciptakan peran dalam - Anjurkan
suasana rumah An.K kembali keluarga mengungkapkan masalah yang
tangga yang sehat efektif dialami
Klien dan Respon kognitif Klien dan keluarga dapat - Identifikasi kesiapan dan
keluarga menyebutkan tentang kemampuan orangtua
memahami tahap tugas dan sasaran menerima infirmasi
perkembangan perkembangan
anak - Sediakan materi dan
anak remaja, cara media
remaja
berkomunikasi pada anak pendidikan kesehatan
remaja, dan sikap-sikap mengenai remaja
mengahdapi perilaku
- Jelaskan tugas atau
remaja.
sasaran perkembangan masa
remaja
- Jelaskan pola hubungan
antara orang tua dan remaja
- Jelaskan mekanisme koping
yang digunakan oleh remaja (
misalnya penyangkalan)
Klien dan Respon kognitif - Fasilitasi adaptasi peran
keluarga dapat - Ajarkan
keluarga terhadap perubahan cara
berkomunikasi dengan remaja
memenuhi peran yang tidak diinginkan
perilaku dan - Ajarkan mengenai sikap-
sikap menghadapi
- Fasilitasi diskusi perilaku
tentang
peran remaja
peran orang tua
masing-masing. - Ajarkan mengidentifikasi
- Fasilitasi
adanya stressdiskusi
keluarga tentang
adaptasi peran saat anak
meninggalkan rumah
- Fasilitasi diskusi harapan
dengan keluarga dalam peran
timbale balik
- Diskusikan strategi positif
untuk mengelola perubahn
peran
- Ajarkan perilaku baru
yang
dibutuhkan oleh klien dan
orang tua untuk memenuhi
peran
BAB 4
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada


sistem keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggota
keluarga disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa tahapan atau
kurun waktu tertentu.Pada setiap tahapan mempunyai tugas perkembangan yang
harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses.

Remaja merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang memiliki


karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan tahap perkembangan lainnya,
karena pada tahap ini seseorang mengalami peralihan dari masa anak-anak ke
dewasa. Masalah yang terjadi pada keluarga dengan anak usia remaja pada keluarga
Tn. A adalah ketidakmampuan koping keluarga dan penampilan peran tidak efektif
pada An. K. Peran perawat dalam asuhan keperawatan keluarga dengan tahap anak
usia remaja adalah membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan
dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas
perawatan kesehatan keluarga, sehingga keluarga dapat melakukan program
asuhan kesehatan secara mandiri, dan masalah yang timbul bisa teratasi.

4.2. Saran
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan keluarga
melalui

penyuluhan mengenai peran anggota keluarga dan perkembangan keluarga sesuai


jenjang merupakan langkah yang tepat dilakukan guna mencapai kebutuhan
kesehatan keluarga yang optimal.Upaya ini perlu dikembangkan dan ditingkatkan,
untuk itu perlu dukungan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap kesehatan
keluarga.

35
DAFTAR PUSTAKA

Nurjanah, Niken Siti, Siti Mardiayah. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Tahap
Perkembangan Keluarga Dengan Anak Usia Remaja. STIKes Kusuma Husada
Surakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) RepublikIndonesia ,(2018). Kependudukan.bps.
Setiadi. 2008. Konsep dan proses keperawatan keluarga edisi pertama. Yogyakarta:
Graha Ilmu

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi
1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

36

Anda mungkin juga menyukai