Wa0001.
Wa0001.
KATA PENGANTAR
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keluarga dengan anak usia remaja dimulai saat anak berusia 13 tahun dan berakhir sampai
usia 19-20 tahun, pada saat anak meninggalkan orang tuanya(Harmoko, 2012). Remaja
merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang memiliki karakteristik yang berbeda
bila dibandingkan dengan tahap perkembangan lainnya, karena pada tahap ini seseorang
mengalami peralihan dari masa anak-anak ke dewasa. Masa remaja adalah masa dimana
terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Karakteristik psikososial remaja yang
sedang berproses untuk mencari identitas diri ini sering menimbulkan banyak masalah pada
diri remaja. Transisi dari masa anak-anak dimana selain mneingkatnya kesadaran dırı remaja.
I ransısı darı masa anak-anak dımana selain mneingkatnya kesadaran diri (self consciousness)
terjadi juga perubahan secara fisik, kognitif, sosial maupun emosional pada remaja sehingga
remaja cenderung mengalami perubahan emosi ke arah yang negatif menjadi mudah marah,
tersinggung bahkan agresif. Perubahan- perubahan karakteristik pada masa remaja tersebut,
ditambah dengan faktor-faktor eksternal seperti kemiskinan, pola asuh yang tidak efektif dan
gangguan mental pada orang tua diprediksi sebagai penyebab timbulnya masalah-masalah
remaja (Pianta, 2005 dalam Santrock, 2007). Masalah yang sering terjadi pada keluarga
dengan anak usia remaja diantaranya kurangnya pengetahuan tentang kesehatan
repdoduksi,kehamilan tidak diinginkan, aborsi, perkawinan dan kehamilan dini, dan penyakit
menular seksual (Mukhatib, 2010). Masalah yang terjadi di indonesia salah satunya seks
bebas, kawin di usia muda, melakukan hubungan seksual pra nikah, serta terinfeksi HIV dan
AIDS. Menurut data hasil penelitian Depkes di 14 kota besar (Medan, Jakarta Pusat, Bandung
dan Surabaya) 39,9 remaja mengaku pernah melakukan hubungan Related titles 29°C
Pusat, Bandung dan Surabaya) 39,9 remaja mengaku pernah melakukan hubungan seksual
(BKKBN, 2012). Berdasarkan Badan Pusat Statistik, penduduk pada tahun 2015 menunjukkan
bahwa jumlah remaja (usia 10-24 tahun) de Indonesia mencapai lebih dari 66 juta jiwa atau
25% dari jumlah penduduk Indonesia 225 juta. Artinya 1 dari setiap 4 orang penduduk
Indonesia adalah remaja (Badan Pusat Statistik, 2018). Hasil sensus Badan Pusat Statistik
Jawa Tengah tahun 2016 jumlah penduduk berumur 10-24 tahun sebesr 8.276.016 jiwa dari
34.019.095 jiwa menurut kelompok umur. Sekitar 25% dari jumlah penduduk di Jawa Tengah
adalah penduduk berumur 10-24 tahun. Sedangkan sensus dari Badan Pusat Statistik tahun
2015 penduduk umur 15-14 tahun sebesar 54.397 jiwa dari 466.405 jiwa atau sekitar 11,5%
penduduk (Badan titles arch Pusat Statistik, 2018). Peran perawat dalam asuhan keperawatan
keluarga dengan tahap anak usia remaja adalah membantu keluarga untuk menyelesaikan
masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan
tugas perawatan kesehatan keluarga, sehingga keluarga dapat melakukan program asuhan
kesehatan secara mandiri, dan masalah yang timbul bisa teratasi.
Rumusan Masalah
1.Apa definisi remaja
2.Bagimana tahap perkembangan remaja
3.Bagaimna tugas perkembagan kelurga terhadap remaja
4.bagaimana asuhan keperawatan pada keluarga dengan pada remaja
Tujuan
1.tujuan umum
2. Tujuan Umum Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan
masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga dengan anak remaja.
Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu :
a. Menyebutkan definisi keluarga dengan anak remaja.
b. Menjelaskan tugas-tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja.
c. Menjelaskan asuhan keperawatan pada keluarga dengan anak remaja
BAB 2
TINJAUN PUSTAKA
Definisi Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence (kata bendanya adolescenta
yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Adolescence artinya berangsur-
angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini
mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu
fase ke fase lainya secara tiba- tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap
(Al-Mighwar, 2006
Tahap Perkembangan Remaja Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan
remaja dalam proses penyesuaian diri menuju dewasa :
a. Remaja Awal (Early Adolescence) Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun
masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada rubuhnya sendiri dan
dorongan- dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan
pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis.
Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan
yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap "ego". Hal ini
menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang dewasa.
b. Remaja Madya (Middle Adolescence) Tahap ini berusia 13-15 tahun. Pada tahap ini
remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. la senang kalau banyak teman yang
menyukainya. Ada kecenderungan "narastic", yaitu mencintai diri sendiri, dengan
menyukai teman- teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu,
ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana: peka
atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau meterialis,
dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari Oedipoes Complex (perasaan
cinta pada ibu sendiri pada masa kanak- kanak) dengan mempererat hubungan dengan
kawan-kawan dari lawan jenis.
c. Remaja Akhir (Late Adolescence) Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi
menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.
Pada periode selanjutnya, individu berharap untuk mencegah otonomi dari keluarga dan
mengembangkan identitas diri sebagai lawan terhadap difusi peran. Identitas kelompok
menjadi sangat penting untuk permulaan pembentukan identitas pribadi. Remaja pada
tahap awal harus mampu memecahkan masalah tentang hubungan dengan teman sebaya
sebelum mereka mampu menjawab pertanyaan tentang siapa diri mereka dalam kaitannya
dengan keluarga dan masyarakat.
1) Identitas kelompok
Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok sonakin kuat.
Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok adalah hal yang penting karena
mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan kelompok dapat memberi mereka
status. Ketika remaja mulai mencocokkan cara dan minat berpenampilan, gaya mereka
segera berubah. Bukti penyesuaian diri remaja terhadap kelompok teman sebaya dan
ketidakcocokkan dengan kelompok orang dewasa memberi kerangka pilihan bagi
remaja sehingga mereka dapat memerankan penonjolan diri mereka sendiri sementara
menolak identitas dari generasi orang tuanva. Menjadi individu yang berbeda
mengakibatkan remaja tidak diterima dan diasingkan dari kelompok.
2) Identitas Individual
Pada tahap pencarian ini, remaja mempertimbangkan hubungan yang mereka
kembangkan antara diri mereka sendiri dengan orang lain di masa lalu, seperti halnya
arah dan tujuan yang mereka harap mampu dilakukan di masa yang akan datang.
Proses perkembangan identitas pribadi merupakan proses yang memakan waktu dan
penuh dengan periode kebingungan, depresi dan keputusasaan. Penentuan identitas
dan bagiannya di dunia merupakan hal yang penting dan sesuatu yang menakutkan
bagi remaja. Namun demikian, jika setahap demi setahap digantikan dan diletakkan
pada tempat yang sesuai, identitas yang positif pada akhirnya akan muncul dari
kebingungan. Difusi peran terjadi jika individu tidak mampu memformulasikan
kepuasan identitas dari berbagai aspirasi, peran dan identifikasi.
Masa remaja merupakan waktu untuk konsolidasi identitas peran seksual. Selama
masa remaja awal, kelompok teman sebaya mulai mengomunikasikan beberapa
pengharapan terhadap hubungan heterokseksual dan bersamaan dengan kemajuan
perkembangan, remaja dihadapkan pada pengharapan terhadap perilaku peran seksual
yang matang yang baik dari teman sebaya maupun orang dewasa. Pengharapan seperti
ini berbeda pada setiap budaya, antara daerah geografis, dan diantara kelompok sosio
ekonomis.
4) Emosionalitas Remaja
lebih mampu mengendalikan emosinya pada masa remaja akhir. Mereka mampu
menghadapi masalah dengan tenang dan rasional, dan walaupun masih mengalami
periode depresi, perasaan mereka lebih kuat dan mulai menunjukkan emosi yang lebih
matang pada masa remaja akhir. Sementara remaja awal bereaksi cepat dan emosional,
remaja akhir dapat mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk
mengendalikan emosinya sampai waktu dan tempat untuk mengekspresikan dirinya
dapat diterima masyarakat. Mereka masih tetap mengalami peningkatan emosi, dan
jika emosi itu diperlihatkan, perilaku mereka menggambarkan perasaan tidak aman ,
ketegangan ,dan kebimbangan
b. Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Wong (2009),
remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode
berpikir konkret; mereka juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi.
Pada saat ini mereka lebih jauh ke depan. Tanpa memusatkan perhatian pada situasi saat
ini, mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang mungkin terjadi, seperti
kemungkinan kuijah dan bekerja; memikirkan bagaimana segala sesuatu mungkin dapat
berubah di masa depan, seperti hubungan dengan orang tua, dan akibat dari tindakan
mereka, misalnya dikeluarkan dari sekolah. Remaja secara mental mampu memanipulasi
lebih dari dua kategori variabel pada waktu yang bersamaan. Misalnya, mereka dapat
mempertimbangkan hubungan antara kecepatan, jarak dan waktu dalam membuat rencana
perjalanan wisata. Mereka dapat mendeteksi konsistensi atau inkonsistensi logis dalam
sekelompok pernyataan dan mengevaluasi sistem, atau serangkaian nilai-nilai dalam
perilaku yang lebih dapat dianalisis.
c. Perkembangan Moral
Teori perkembangan moral menurut Kohlberg dalam Wong (2009), masa remaja akhir
dicirikan dengan suatu pertanyaan serius mengenai nilai moral dan individu. Remaja dapat
dengan mudah mengambil peran lain. Mereka memahami tugas dan kewajiban
berdasarkan hak timbal balik dengan orang lain, dan juga memahami konsep peradilan
yang tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan atau
penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah. Namun demikian, mereka
mempertanyakan peraturan-peraturan moral yang telah ditetapkan, sering sebagai akibat
dari observasi remaja bahwa suatu peraturan secara verbal berasal dari orang dewasa
tetapi mereka tidak mematuhi peraturan tersebut.
d. Perkembangan Spiritual
Pada saat remaja mulai mandiri dari orang tua atau otoritas yang lain, beberapa
diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal keluarga mereka. Sementara itu,
remaja lain tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ini sebagai elemen yang stabil dalam
hidupnya seperti ketika mereka berjuang melawan konflik pada periode pergolakan[ini.
Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi melakukan ibadah secara
individual dengan privasi dalam kamar mereka sendiri. Mereka mungkin memerlukan
eksplorasi terhadap konsep keberadaan Tuhan. Membandingkan agama mereka dengan
orang lain dapat menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaan mereka sendiri
tetapi pada akhirnya menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas mereka.
e. Perkembangan Sosial
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka dari
dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang
tua. Namun, proses ini penuh dengan ambivalensi baik dari remaja maupun orang tua.
Remaja ingin dewasa dan ingin bebas dari kendali orang tua, tetapi mereka takut ketika
mereka mencoba untuk memahami tanggung jawab yang terkait dengan kemandirian
Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari menyayangi dan persamaan
hak. Proses mencapai kemandirian sering kali melibatkan kekacauan dan ambigulitas karena
baik orang tua maupun remaja berajar untuk menampilkan peran yang baru dan
menjalankannya sampai selesai, sementara pada saat bersamaan, penyelesaian sering kali
merupakan rangkaian kerenggangan yang menyakitkan, yang penting untuk menetapkan
hubungan akhir. Pada saat remaja menuntut hak mereka untuk mengembangkan hak-hak
istimewanya, mereka sering kali menciptakan ketegangan di dalam rumah. Mereka
menentang kendali orang tua, dan konflik dapat muncul pada hampir semua situasi atau
masalah.
Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam sebagian besar kehidupan, bagi
sebagian besar remaja, teman sebaya dianggap lebih berperan penting ketika masa remaja
dibandingkan masa kanak-kanak. Kelompok teman sebaya memberikan remaja perasaan
kekuatan dan kekuasaan.
b) Sahabat
Hubungan personal antara satu orang dengan orang lain yang berbeda biasanya terbentuk
antara remaja sesama jenis. Hubungan ini lebih dekat dan lebih stabil daripada hubungan
yang dibentuk pada masa kanak-kanak pertengahan, dan penting untuk pencarian identitas.
Seorang sahabat merupakan pendengar terbaik, yaitu tempat remaja mencoba
kemungkinan peran-peran dan suatu peran bersamaan, mereka saling memberikan
dukungan satu sama lain.
Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut (Hurlock, 2001) antara lain:
a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik
pria maupun wanita
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam
sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak
perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugastugas tersebut
selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat.
Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda
akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku.
b. Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam
sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak
perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugastugas tersebut
selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat.
Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda
akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. yang
menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang
menganggu para remaja
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak
kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang penampilan
diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep
ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri sehingga
lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
a. Nuclear family, sering disebut dengan keluarga inti, yaitu keluarga yang
anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah
b. Extended family, atau keluarga besar, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri
dari ayah, ibu, serta family dari kedua belah pihak.
Masa remaja dikenal banyak orang sebagai masa yang indah dan penuh romantika,
padahal sebenarnya masa ini merupakan masa yang penuh dengan kesukaran.
Bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi keluarga dan lingkungan sosial. Masa ini akan
membuat remaja mengalami kebingungan disatu pihak masih anak-anak, tetapi
dilain pihak harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi ini membuat mereka
dalam kondisi konflik, sehingga akan terlihat bertingkah laku aneh, canggung dan
kalau tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan kenakalan. Dalam usahanya
mencari identitas diri, mereka sering membantah orang tuanya, karena memulai
mempunyai pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan
orang tuanya.
Pendapat orang tua tidak lagi dapat dijadikan pegangan, meskipun sebenarnya
mereka juga belum memiliki dasar pegangan yang kuat. Orang yang dianggap penting
dalam masa ini adalah teman sebaya. Mereka berusaha untuk mengikitu pendapat dan
gaya teman-temannya karena dianggap memiliki kesamaan dengan dirinya.
Karenanya sering kali remaja terlibat dalam geng-geng, dengan menjadi anggota
geng mereka akan saling memberi dan mendapat dukungan mental. Beberapa kasus
terakhir seperti geng-geng motor yang terlibat kegiatan merupakan bentuk dari
kecenderungan tersebut. Mereka akan berani melakukan tindakan-tindakan kejahatan
ketika dilakukan dalam kelompok dan tidak akan berani melakukannya secara
individual. Masalah lain yang sering mengganggu anak remaja adalah masalah yang
berkaitan dengan organ reproduksi (seksual). Satu sisi mereka sudah mencapai
kematangan seksual, yang menyebabkan mereka memiliki dorongan untuk pemuasan
tetapi disisi lain kebudayaan dan norma sosial melarang pemuasan kebutuhan seksual
diluar pernikahan. Padahal untuk menikah banyak persyaratan yang harus dipenuhi,
bukan hanya kemampuan dalam melakukan hubungan seksual, tetapi diperlukan
ekonomi, kematangan psikologi, dan sebagainya.syarat-syarat ini sangat berat dan
mungkin belum dicapai pada usia remaja. Oleh karena itu, para remaja mencari
kepuasan dalam bentuk khayalan, membaca buku atau menonton film porno.
Meskipun tingkah laku ini sebenarnya tetap melanggar norma masyarakat, tetapi
mereka melakukannya dengan sembunyi- sembunyi. Untuk menghadapi situasi ini
orang tua harus lebih bijaksana dalam menyikapi, cara yang tepat dilakukan adalah
dengan mengurangi control secara bertahap terhadap anaknya, sehingga mereka dapat
tumbuh menjadi diri sendiri secara bertahap sampai akhirnya dewasa.
MASALAH-MASALAH KESEHATAN
Pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik. Tapi promosi
kesehatan tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko harus diidentifikasi dan
dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya gaya hidup keluarga yang sehat mulai
dari usia 35 tahun, resiko penyakit jantung koroner meningkat dikalangan pria dan
pada usia ini anggota keluarga yang dewasa mulai merasa lebih rentan terhadap penyakit
sebagai bagian dari perubahan-perubahan perkembangan dan biasanya mereka ini
lebih menerima strategi promosi kesehatan. Sedangkan pada remaja, kecelakaan terutama
kecelakaan mobil merupakan bahaya yang amat besar, dan patah tulang dan cedera
karena atletik juga umum terjadi Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, keluarga
berencana, kehamilan yang tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks
merupakan bidang perhatian yang relevan. Dalam mendiskusikan topik ini dengan
keluarga, perawat dapat terjebak dalam perselisihan atau masalah antara orang tua dan
kaum muda, remaja biasanya mencari pelayanan kesehatan mencakup uji kehamilan,
menggunakan obat-obatan, uji AIDS, keluarga berencana, dan aborsi, diagnosis dan
perawatan penyakit kelamin. Agaknya telah menjadi trend yang sah bagi remaja untuk
menerima perawatan kesehatan tanpa ijin orang tua. Bila orang tua diikutsertakan
maka dilakukan wawancara terpisah sebelum mereka dikumpulkan .
Kebutuhan kesehatan yantg lain adalah dalam bidang hubungan dan bantuan
untuk memperkokoh hubungan perkawinan dan hubungan remaja dengan orang tua.
Konseling langsung yang bersifat menunjang atau mulai rujukan ke sumber-sumber
dalam komunitas untuk konseling, dan juga pendidikan yang bersifat rekreasional, dan
pelayanan lainnya mungkin diperlukan, pendidikan promosi kesehatan umum juga
diindikasikan.
Peran Perawat
pencegahan penyakit. Penyuluhan tentang penyakit kardiovaskuler pada usia
lanjut, Peran perawat pada tahap ini adalah mengarahkan keluarga pada
peningkatan dan penyuluhan tentang penyakit kardiovaskuler pada usia lanjut,
penyuluhan tentang obat-obatan terlarang, minuman keras, seks, pencegahan
kecelakaan pada remaja, serta membantu terciptanya komunikasi yang lebih efektif
antara orang tua dengan anak remajanya ( Mubarak, 2009, hal 90). Peran perawat
dalam peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit pada tahap keluarga
dengan anak remaja menurut Stanhope (1998, Hal 52):
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
I.INDENTITAS PASIEN
1. indentitas kepala keluarga
Nama : Tn.A
Umur : 40 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh Pabrik
Alamat : Surabaya
No.telpon :0812xxxxxxx
2.kompesisi kelurga
Keteragan :
: Klien
4. Type Keluarga
b)
Penghasilan :
Keperluan keluarga sehari – hari adalah untuk makan dan jajan An. K dan An.
L.
Tn. A tidak memiliki jadwal khusus untuk rekreasi keluarga, hanya sesekali
anaknya mengajak berwisata. Waktu liburan biasanya disesuaikan dengan
jadwal libur kerja dan libur anak sekolah, tetapi sekarang jarang dilakukan, hanya
jika ada waktu saja keluarga pergi rekreasi. Ny. N juga mengatakan biasanya
dirinya berkunjung ke rumah kerabat yang letak rumahnya berdekatan dengan
rumah keluarga Tn. A. Di rumah, Ny. N mengatakan keluarganya dapat
menikmati hiburan melalui TV dan radio yang tersedia di rumahnya. An. K
mengatakan jika banyak kegiatan dan membuat dirinya stress maka dia akan
main keluar dengan teman-temannya, biasanya nongkrong sambil mengobrol
tidak jelas, main ke warnet atau rental PS dan menonton balapan
pergi ke puskesmas. Tidak ada pola makan atau jenis makanan yang
dibatasi. c) Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
Imunisasi Tindakan
N Keadaan (BCG/Polio/DP Masalah yang telah
Nama Umur BB T/HB/Campak) dilakukan
kesehata kesehata
1. Tn. A 40 th 68 kg n - Lengkap Tidak
n ada -
2. Ny. N 39 th 48 kg - Lengkap Tidak ada -
3 An k 16 th 55 kg - Lengkap Tidak ada -
4 An t 12 th 48 kg - Lengkap Tidak ada -
5 Nenek 60 th 52 kg - tidak lengkap Tidak ada -
Type rumah
permanen c)
Kepemilikan
e) Ventilasi/cendela
Terdapat 2 jendela yang kurang lebih berukuran 1,5 x 1 meter di
depan samping pintu masuk. Namun, jendela yang terlihat selalu
terbuka ini jarang dibersihkan.
f) Pemanfaatan ruangan
Kondisi rumah, tampak rapi dan bersih dan terdapat beberapa
perabot rumah yang sesuai.
g) Septic tank :
Ada, Letak di belakang rumah
berjarak 1,5 m h) Sumber air minum
Sumber air minum dengan air galon yang dibeli di toko penyedia
minuman isi ulang dekat rumah.
i) Kamar mandi/WC
Kamar mandi terdapat satu yang jadi satu dengan WC dengan kloset
jongkok.
j) Sampah :
b)Aturan/kespakata:
Apabila ada tamu yang menginap harus lapor RT/
RW. c) Budaya :
- An. L Sebagai anak ke dua Tn. A dan Ny. N yang pada tahun ini memasuki
SMP. An. L juga berperan sebagai adik dari An. K.
4. Nilai dan norma keluarga
Nilai dan norma yang dipegang oleh Tn. A adalah sesuai dengan nilai-nilai
ajaran Islam dan tidak terpengaruh oleh norma budaya. Penerimaan keluarga
terhadap perawat sangat baik, setiap masalah yang ada diutarakan dan
menerima kehadiran perawat.
V. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi afektif
Ny. N mengatakan bahwa setiap anggota keluarga dalam rumah dapat
saling terbuka dalam menyampaikan pendapat walaupun An. K termasuk
anak yang pendiam dan jarang menyampaikan pendapatnya.
2. Fungsi sosialisasi
a) Kerukunan hidup dalam keluarga :
b) Akseptor :
5. Fungsi ekonomi
a) Upaya pemenuhan sandang pangan
Tn. A sebagai kepala keluarga dan bekerja sebagai buruh serta pembawa
acara pernikahan
Jika ada keluarga yang sakit tidak parah biasanya Tn. A membelikan obat
di warung, tetapi kalau anggota keluarga yang sakit sudah tidak bisa
ditangani dengan obat warung biasanya dibawa ke puskesmas.
Keluarga Tn. A selalu makan 3 kali sehari dengan menu yang seadanya. Biasanya
Ny. N memasak lauk dan sayur. Ny. N selalu mengusahakan untuk menyediakan
sayur untuk keluarganya karena menganggap sayur penting untuk kesehatan
keluarganya. Untuk lauk biasanya Ny. N menyediakan ayam, ikan, tempe, tahu atau
telur. Keluarga Tn. A jarang mengkonsumsi daging merah.
Upaya lain :
Ny. N berusaha memberikan buah-buahan untuk keluarganya walaupun jarang.
Kadang seminggu sekali Ny.N membeli buah untuk menjaga kesehatan keluarganya
karena merasa tidak mampu membelikan vitamin bagi anak-anaknya.
No Pemeriksaan Identitas
Tn. A Ny. N An. K An. L Nenek T
Fisik
1. Tanda-tanda Td : 120/90mmHg Td : 110/70mmHg Td : 120/80mmHg Td : 110/90mmHg Td : 140/90mmHg
Vital Nadi : 80x/menit Nadi : 84x/menit Nadi : 84x/menit Nadi : 92x/menit Nadi : 96x/menit
RR : 20x/menit RR : 20x/menit RR : 20x/menit RR : 20x/menit RR : 22x/menit
Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC Suhu : 36 oC
BB : 68 kg BB : 48 kg BB : 55 kg BB : 48 kg BB : 52 kg
2. Sistem Tidak terdapat
TB : 172 cm tonjolan Tidak
TB : 154terdapat
cm tonjolan dan Tidak
TB : 156terdapat
cm tonjolan dan Tidak terdapat
TB : 139 cm tonjolan dan Tidak terdapat
TB : 155 cm tonjolan
dan massa pada dada, massa pada dada, tidak massa pada dada, tidak massa pada dada, tidak dan massa pada dada, tidak
Cardiovaskul er tidak ada ada ada ada ada
retraksi intercostae, retraksi intercostae, retraksi intercostae, retraksi intercostae, retraksi intercostae,
terdengar dullness terdengar dullness pada terdengar dullness pada terdengar dullness pada terdengar dullness pada
pada perkusi batas perkusi batas perkusi batas perkusi batas
perkusi batas jantung, BJ 1 jantung, BJ 1 dan BJ 2 jantung, BJ 1 dan BJ 2 jantung, BJ 1 dan BJ 2 jantung, BJ 1 dan BJ 2
dan BJ 2 terauskultasi terauskultasi normal, serta terauskultasi normal, serta terauskultasi normal, terauskultasi normal,
3. Ssistem Paru-paru: Pengembangan Paru-paru: Pengembangan Paru-paru: Pengembangan serta
Paru-paru: Pengembangan serta
Paru-paru: Pengembangan
normal, serta tidak tidak terdapat mur-mur tidak terdapat mur-mur
simetris, warna dada
dan sama simetris, warna dada sama simetris, warna dada sama simetris, warna dada sama simetris, warna dada sama
Respirasi terdapat mur-mur dan gallop. dan gallop. tidak terdapat mur-mur tidak terdapat mur-mur
gallop. kulit lainnya (tidak dengan kulit lainnya (tidak dengan kulit lainnya (tidak dengan
dengan dan gallop. dan gallop.
kulit lainnya (tidak dengan kulit lainnya (tidak
terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan), terdapat lebam, kebiruan),
tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan tidak terdapat tonjolan
abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21 abnormal, pernafasan 21
x/menit, tactil fremitus x/menit, tactil fremitus sama x/menit, tactil fremitus sama x/menit, tactil fremitus sama x/menit, tactil fremitus sama
sama kiri dan kanan, bunyi kiri dan kanan, bunyi nafas kiri dan kanan, bunyi nafas kiri dan kanan, bunyi nafas kiri dan kanan, bunyi nafas
nafas terauskultasi terauskultasi vesikuler, dan terauskultasi vesikuler, dan terauskultasi vesikuler, dan terauskultasi vesikuler, dan
vesikuler, dan tidak tidak terdapat suara tidak terdapat suara tidak terdapat suara tidak terdapat suara
4. Sistem terdapatterlihat
Perut suara tambahan
datar tambahan
Perut terlihat datar dan tambahan
Perut tambahan
terlihat datar dan Perut terlihat datar tambahan
Perut terlihat datar
dan warnanya sama warnanya sama dengan kulit warnanya sama dengan kulit dan warnanya sama dengan dan warnanya sama dengan
Gastrointesti nal dengan kulit kulit
lainnya (tidak ada lebam, lainnya (tidak ada lebam,
kulit lainnya (tidak ada lainnya (tidak ada lebam, lainnya (tidak ada lebam,
lebam, kemerahan), kemerahan), perut kemerahan), perut kemerahan), perut kemerahan), perut
perut teraba lemas, tidak teraba lemas, tidak terdapat teraba lemas, tidak terdapat teraba lemas, tidak teraba lemas, tidak
terdapat nyeri nyeri terdapat nyeri terdapat nyeri
nyeri tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba tekan, tidak teraba
massa, hepar tidak massa, hepar tidak teraba, massa, hepar tidak teraba, massa, hepar tidak teraba, massa, hepar tidak teraba,
teraba, bising usus bising usus bising bising
5. Sistem bising
Kesadaranusus terdengar terdengar
Composmentis, Kesadaran10x/menit
Composmentis, terdengar
Kesadaran10x/menit
Composmentis, usus terdengar
Kesadaran 10x/menit
Composmentis, usus terdengar
Kesadaran 10x/menit
Composmentis,
GCS : 456 GCS : 456 GCS : 456 GCS : 456 GCS : 456, penurunan jarak
Persyarafan 10x/menit
pandang.
6. Sistem Terlihat bahu simetris, Terlihat bahu simetris, warna Terlihat bahu simetris, warna Terlihat bahu simetris, warna Terlihat bahu simetris, warna
warna sama dengan kulit, sama dengan kulit, tidak sama dengan kulit, tidak sama dengan kulit, tidak sama dengan kulit, tidak
Muskoluskel
etal tidak terdapat tonjolan, terdapat tonjolan, dapat terdapat tonjolan, dapat terdapat tonjolan, dapat terdapat tonjolan, dapat
dapat mengangkat dan mengangkat dan menahan mengangkat dan menahan mengangkat dan menahan mengangkat dan menahan
menahan beban dengan beban dengan baik, refleks beban dengan baik, refleks beban dengan baik, refleks beban dengan baik, refleks
baik, refleks brachioradialis brachioradialis nor brachioradialis nor brachioradialis nor brachioradialis nor
nor
7. Sistem Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada Genetalia bersih, tidak ada
Genetalia oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada benjolan oedem, tidak ada
benjolan, menopouse (+).
IX. HARAPAN KELUARGA
1. Terhadap masalah kesehatannya: Keluarga berharap semua keluarga nya sehat
dan tidak ada yang sakit.
kepada teman-temannya
- Identifikasi kebutuhan
dan keinginan terhadap
dukungan social
- Anjurkan mengungkapkan
perasaan dan persepsinya
Mendiskusikan Respon Klien dan keluarga dapat - Fasilitasi dalam
tindakan atau kognitif dan menentukan tindakan atau memperoleh informasi yang
koping yang afektif koping yang dilakukan dibutuhkan
dilakukan untuk
- Diskusikan untuk
keluarga untuk mengatasi mengklarifikasi
masalah kesalahpahaman
mengatasi masalah dan
mengevaluasi perilaku sendiri
- Motivasi terlibat dalam
kegiatan sosial
Mengevaluasi Respon kognitif Klien dan keluarga dapat - Kaji apakah tindakan atau
kemampuan menggunakan koping efektif - Dukung
koping efektif sudah berjalan
penggunaan
keluarga pada permasalahan yang pad keluarga Tn.
mekanisme pertahanA yang
menggunakan ada
koping tepat
2. Setelah efektif
Selama 1x 60 menit Respon verbal Klien dan keluarga mampu -- Identifikasi
Anjurkan keluarga terlibat
peran yang ada
Penampilan Peran
dilakukan kunjungan, Klien mengungkapkan perannya dalam
- Ajarkan keluarga
cara
Tidak Efektif pada An. kunjungan dan keluarga masing-masing dalam
rumah sebanyak mampu : keluarga - Identifikasi
memecahkanadanya
masalahperan
secara
K b/d yang
3 kali, konstruktif
ketidakmampuan
mempertahankan penampilan tidak terpenuhi
peran Mengungkapkan
atau menciptakan peran dalam - Anjurkan
suasana rumah An.K kembali keluarga mengungkapkan masalah yang
tangga yang sehat efektif dialami
Klien dan Respon kognitif Klien dan keluarga dapat - Identifikasi kesiapan dan
keluarga menyebutkan tentang kemampuan orangtua
memahami tahap tugas dan sasaran menerima infirmasi
perkembangan perkembangan
anak - Sediakan materi dan
anak remaja, cara media
remaja
berkomunikasi pada anak pendidikan kesehatan
remaja, dan sikap-sikap mengenai remaja
mengahdapi perilaku
- Jelaskan tugas atau
remaja.
sasaran perkembangan masa
remaja
- Jelaskan pola hubungan
antara orang tua dan remaja
- Jelaskan mekanisme koping
yang digunakan oleh remaja (
misalnya penyangkalan)
Klien dan Respon kognitif - Fasilitasi adaptasi peran
keluarga dapat - Ajarkan
keluarga terhadap perubahan cara
berkomunikasi dengan remaja
memenuhi peran yang tidak diinginkan
perilaku dan - Ajarkan mengenai sikap-
sikap menghadapi
- Fasilitasi diskusi perilaku
tentang
peran remaja
peran orang tua
masing-masing. - Ajarkan mengidentifikasi
- Fasilitasi
adanya stressdiskusi
keluarga tentang
adaptasi peran saat anak
meninggalkan rumah
- Fasilitasi diskusi harapan
dengan keluarga dalam peran
timbale balik
- Diskusikan strategi positif
untuk mengelola perubahn
peran
- Ajarkan perilaku baru
yang
dibutuhkan oleh klien dan
orang tua untuk memenuhi
peran
BAB 4
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
4.2. Saran
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan keluarga
melalui
35
DAFTAR PUSTAKA
Nurjanah, Niken Siti, Siti Mardiayah. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Tahap
Perkembangan Keluarga Dengan Anak Usia Remaja. STIKes Kusuma Husada
Surakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) RepublikIndonesia ,(2018). Kependudukan.bps.
Setiadi. 2008. Konsep dan proses keperawatan keluarga edisi pertama. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi
1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
36