LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN HARGA DIRI RENDAH
Disusun Oleh :
Elok Dewi Prastyani
NIM : 7423005
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG
2023
A. Kasus ( Masalah Utama )
Gangguan jiwa (mental illness) adalah sekumpulan perilaku dan
psikologis individu yang menyebabkan terjadinya keadaan tertekan, rasa
tidak nyaman, penurunan fungsi tubuh dan kualitas hidup. Gangguan jiwa
menimbulkan beban ganda bagi mereka yang menderita penyakit tersebut.
Seseorang yang didiagnosis dengan penyakit jiwa harus mengatasi
penolakan, penghindaran, dan bahkan kekerasan fisik yang disebabkan
oleh makna budaya negatif yang terkait dengan gangguan jiwa (Tuasikal,
Hani, dkk,2019)
Gangguan jiwa terbagi menjadi dua yaitu gangguan jiwa berat dan
gangguan jiwa ringan. Gangguan jiwa ringan merupakan suatu yang
didasari oleh kecemasan. Gangguan ini umumnya didasari oleh
kepribadian dengan gejala, seperti cemas berlebihan. Gangguan jiwa berat
merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan kemampuan menilai
realitas atau sering dikenal dengan skizofrenia (Rahanyu, dkk, 2019).
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang bersifat kronis yang
ditandai dengan gangguan komunikasi, gangguan realitas (halusinasi atau
waham), afek tidak wajar atau tumpul, gangguan fungsi kognitif serta
mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari – hari (Pardede &
Hasibuan,2019). Berdasarkan data WHO (2019) menunjukkan angka
prevalensi gangguan jiwa di dunia yang tergolong tinggi yaitu sekitar 264
juta jiwa mengalami depresi, 50 juta mengalami demensia, 45 juta jiwa
mengalami bipolar, dan 20 juta jiwa mengalami skizofrenia dan gangguan
psikis lain (Hadiansyah, dkk, 2022).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (2018), didapatkan bahwa kasus
gangguan jiwa di Indonesia pada tahun 2018 meningkat. Peningkatan ini
terlihat dari kenaikan prevalensi rumah tangga yang memiliki ODGJ di
Indonesia. Ada peningkatan jumlah menjadi 7 permil rumah tangga.
Artinya per 1000 rumah tangga terdapat 7 rumah tangga dengan ODGJ,
sehingga jumlahnya diperkirakan sekitar 450 ribu ODGJ berat. Prevalensi
data skizofrenia di Indonesia mencapai 6,7% penderita. Dimana Provinsi
Bali menjadi urutan pertama dengan prevalensi sebesar 11,1%, Provinsi
DI Yogyakarta 10,4% dan NTB 9,6%, (Riskesdas, 2018).
Data Riskesdas (2018) Provinsi Sumatera Barat berada pada posisi ke
4 dengan prevalensi 8,15%, prevalensi kunjungan gangguan jiwa sebanyak
25.227 orang. Kota Padang berada pada urutan pertama dari 19
kabupaten/kota di Sumatera Barat yaitu sebanyak 4.547 orang . Jumlah
kunjungan penderita gangguan jiwa terbanyak di pelayanan kesehatan kota
Padang yaitu Rumah Sakit Jiwa Prof.HB Saanin Padang dengan jumlah
kunjungan sebanyak 38.332 orang (Dinkes Sumbar,2019).
Harga diri rendah adalah kunci penting dimana yakin terhadap
kemampuannya dalam melakukan suatu perilaku dalam memperoleh hasil
yang diinginkan. Memiliki self-efficacy yang tinggi cenderung memiliki
keyakinan dan kemampuan untuk memperoleh suatu tujuan Selain itu,
terdapat tanda dan gejala harga diri rendah (Pardede, Ariyo, & Purba,
2020).
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Definisi
Harga diri rendah merupakan suatu kesedihan atau perasaan duka
berkepanjangan. Harga diri rendah adalah emosi normal manusia, tapi
secara klinis dapat bermakna patologik apabila mengganggu perilaku
sehari – hari, menjadi pervasive dan muncul bersama penyakit lain.
Harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk
yang beresiko mengalami depresi dan schizophrenia.
Harga diri rendah di gambarkan sebagai perasaan negatif terhadap
diri sendiri termasuk hilangnya rasa percaya diri dan harga diri. Harga
diri rendah dapat terjadi secara situasional atau kronis. Harga diri
rendah kronis adalah evaluasi diri atau perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negatif dan di pertahankan dalam waktu yang
lama.
Harga diri rendah merupakan perasaan over negatif terhadap diri
sendiri, hilangnya kepercayaan diri dan gagal mencapai tujuan yang di
ekspresikan secara langsung maupun secara tidak langsung melalui
tingkat kecemasan yang sedang sampai berat (Deans & Meocevic,
2006; Stuart, 2014).
2. Rentang Respon
Berikut ini adalah rentang respon konsep diri menurut Stuart dan
Sundeen (1998:230) :
a) Aktualisasi diri : pengungkapan perasaan/kepuasan dari konsep diri
positif.
b) Konsep diri positif : dapat menerima kondisi dirinya sesuai dengan
yang diharapkannya dan sesuai dengan kenyataan.
c) Harga diri rendah : perasaan negative terhadap diri sendiri, hilang
kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.
d) Kerancunan identitas : ketidakmampuan individu mengintegrasikan
aspek psikologis pada masa dewasa, sifat kepribadian yang
bertentangan dan perasaan hampa.
e) Depersonalisasi : merasa asing terhadap dirinya sendiri dan
kehilangan identitas.
3. Etiologi
Menurut Stuart dan Sundeen (1998:229) penyebab harga diri rendah
dibedakan menjadi dua yaitu factor predisposisi dan stressor presipitasi.
a. Faktor Predisposisi
Sudah banyak penelitian yang telah dilakukan untuk gangguan
yang mempengaruhi hubungan personal, tetapi belum ada satu
kesimpulan yang spesifik tentang penyebab harga diri rendah.
Kemungkinan karena banyak faktor (multifactor) yang dapat
menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang.
Faktor ini dapat dibedakan menjadi:
1) Faktor Perkembangan
Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan akan
mencetuskan seseorang hingga mempunyai masalah respon
sosial maladaptive. Ini dapat dimulai sejak bayi, seperti
penolakan orang tua yang menyebabkan anak merasa tidak
dicintai dan mengakibatkan anak gagal dalam mencintai
dirinya dan akan gagal mencintai orang lain. Atau saat anak
berusia 4-6 tahun dimana anak mulai mampu mengungkapkan
inisiatifnya namun pihak keluarga selalu mengekang dan
menghalangi ide atau kreatifitas anak. Sikap orang tua yang
terlalu mengontrol dan mengatur, akan membuat anak merasa
tidak berguna. Beberapa hal ini akan berdampak pada fase
perkembangan selanjutnya.
2) Faktor Sosiokultural
Isolasi sosial merupakan gangguan dalam berhubungan, ini
akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap
orang lain tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak
produktif seperti lansia, orang cacat, dan penyakit kronik.
Harapan yang tidak realistik terhadap hubungan merupakan
faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini.
3) Faktor genetik
Faktor yang dapat menunjang terhadap respon sosial
maladaptif. Ada bukti terdahulu tentang terlibatnya
neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini namun
masih tetap diperlukan penelitian lebih lanjut.
b. Faktor Presipitasi
Gangguan konsep diri dapat disebabkan dari luar dan dari dalam.
Dimana situasisituasi yang dihadapi individu tidak mampu
menyesuaikan stressor yang mempengaruhi gambaran diri (Stuart dan
Sundeen, 1998:232-233) yaitu:
1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan
2) Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dimana individu mengalami frustasi. Ada tiga jenis
transisi peran:
a) Transisi peran perkembangan adalah perubahan normative
yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk
tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga
dan norma-norma budaya atau nilai-nilai tekanan untuk
penyesuaian diri.
b) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau
berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau
kematian.
c) Transisi peran sehat sakit akibat pergeseran dari keadaan sehat
menuju sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan
bagian tubuh, perubahan bentuk, perubahan ukuran,
penampilan, dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur
medis, dan keperawatan.
4. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala harga diri rendah yang diungkapkan pasien
dengan menunjukkan penilaian tentang dirinya dan didukung dengan
data wawancara dan observasi, yaitu dari data subjektif dimana pasien
mengungkapkan mengenai perasaan tidak mampu, pandangan hidup
yang pesimis, dan hal negatif diri sendiri atau orang lain. Sedangkan
dari data objektif pasien tampak tidak berani menatap lawan jenis saat
berbicara, lebih banyak menundukkan kepala saat berinteraksi, dan
bicara lambat dengan nada suara rendah. Dalam menangani harga diri
rendah ini perlu peran perawat dalam mengatasi nya (Kemenkes, 2019).
C. Pohon Masalah
D. Masalah Keperawatan
Berdasarkan pohon masalah oleh Keliat (1998), maka masalah
keperawatan yang muncul adalah :
Masalah yang muncul pada kklien dengan harga diri rendah adalah :
a. Koping defensif berhubungan dengan kurangnya kepercayaan diri
b. Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan psikiatri
c. Isolasi sosial berhubungan dengan perubahan penampilan fisik
E. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa prioritas :
1. Harga diri rendah kronis (D.0086)
Diagnosa tambahan :
1. Koping defensif (D.0094)
2. Isolasi sosial (D.0121)
F. Rencana Tindakan Keperawatan
Menurut SDKI 2017 intervensi keperawatan adalahh treatment yang
dilakukan oleh perawat yang dikerjakan berdasarkan pengetahuan dan
penilaian klinis untuk mencapai outcome yang di harapkan. Intervensi atau
perencanaan yang ditetapkan oleh penulis untuk mengatasi masalah Harga
diri rendah kronis (D.0086) adalah :
1. Melakukan SP 1 :
SIKI : Manajemen perilaku (I.12463)
Identifikasi harapan untuk mengendalikan perilaku, diskusikan
tanggung jawab terhadap perilaku. Jadwalkan kegiatan terstruktur.
Ciptakan dan pertahankan lingkungan kegiatan perawatan konsisten
setiap dinas. Tingkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan. Lakukan
kegiatan pengendalian terhadap sumber agitasi. Cegah perilaku pasif
dan agresif. Beri penguatan positif terhadap kebersihan mengendalikan
perilaku.
2. Melakukan SP 2 :
SIKI : Promosi harga diri (I.09308)
Identifikasi kegiatan jangka pendek dan jangka panjang. Identifikasi
kemampuan yang dimiliki. Identifikasi metode penyelesaian masalah.
Identifikasi kebutuhan dan keinginan terhadap dukungan sosial.
Disukusikan perubahan yang dialami, gunakan pendekatan yang
tenang dan meyakinkan. Diskusikan alasan mengkritik diri sendiri.
Diskusikan untuk mengklarifikasi kesalahpahaman dan mengevaluasi
perilaku sendiri. Diskusikan konsekuensi yang tidak menggunakan
rasa bersalah dan rasa malu. Diskusikan resiko yang menimbulkan
bahaya pada diri sendiri. Motivasi untuk menentukan harapan yang
realistis. Tinjau kembali kemampuan dalam mengambil keputusan.
Motivasi terlibat dalam kegiatan sosial. Latihan keterampilan sosial,
sesuai kebutuhan
DAFTAR PUSTAKA
Barlow, D. H., & Durand, V. M. (2017). Abnormal Psychology: An Integrative
Approach (8th ed.). Cengage Learning
Deans, C., & Meocevic, E. (2006). Attitudes of registered psychiatric
nurses towards patients diagnosed with borderline personality
disorder. Contemporary Nurse, 21(1), 43-49.
Elhadi, I. M. T. E. &. A. E. H., (2010). Preliminary Study of the Clinical
Hypoglycemic Effects of Allium cepa (Red Onion) in Type 1 and
Type 2 Diabetic Patients. Environmental Health Insights, Issue
https://doi.org/10.4137/EHI.S5540, p. 71. Federation (IDF), I. D.,
(2013). Clinic Guidelines Task Force. Global guidelines for type 2
Diabetes.
Halter, M. J., Varcarolis, E. M., & Varcarolis, E. M. (2018). Varcarolis'
Foundations of Psychiatric Mental Health Nursing: A Clinical Approach
(8th ed.). Elsevier.
Keltner, N. L., & Steele-Moses, S. K. (2018). Psychiatric Nursing (7th ed.).
Elsevier.
Morrison-Valfre, M. (2019). Foundations of Mental Health Care (6th ed.).
Elsevier.
Stuart, G. W., & Laraia, M. T. (2017). Principles and Practice of Psychiatric
Nursing (10th ed.). Elsevier.
Videbeck, S. L. (2017). Psychiatric-Mental Health Nursing (7th ed.). Wolters
Kluwer.
Varcarolis, E. M. (2018). Foundations of Psychiatric Mental Health Nursing: A
Clinical Approach (8th ed.). Elsevier.