LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN KONSEP DIRI :
HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT JIWA
KALAWA ATEI BUKIT RAWI
Di Susun Oleh:
Salsa Bela
(2022-01-14201-088)
YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI SARJANA KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa yang ada di dunia.
Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang dapat mempengaruhi fungsi otak
serta menyebabkan timbulnya distorsi pikiran, persepsi, emosi dan tingkah laku
menjadi terganggu, biasanya pasien dengan skizofrenia memiliki risiko lebih
tinggi berperilaku agresif, sehingga dapat membahayakan diri sendiri, orang lain
dan lingkungan yang disebut sebagai risiko perilaku kekerasan (Videbeck, 2018).
Berdasarkan (WHO 2022). Skizofrenia mempengaruhi sekitar 24 juta
orang atau 1 dari 300 orang (0,32%) di seluruh dunia. Angka ini adalah 1 dari 222
orang (0,45%) di antara orang dewasa (2). Hal ini tidak biasa terjadi seperti pada
gangguan mental lainnya. Timbulnya gejala pada skizofrenia paling sering terjadi
pada masa remaja akhir dan usia dua puluhan, dan cenderung terjadi lebih awal
pada pria daripada wanita. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan,
pravalensi skizofrenia / piskosis di Indonesia sebanyaka 6,7 per 1000 rumah
tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang
mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia/psikosis.
Penyebaran pravalensi tertinggi terdapat di Bali dan DI Yogyakarta dengan
masingmasing 11,1 dan 10,4 per 1.000. Kalimantan sendiri berada di urutan ke-
29 dengan 5,1 per 1.000 rumah tangga yang mempunyai ART mengidap
skizofrenia/psikosis.
Faktor penyebab/ predisposisi terjadinya skizofrenia salah satunya adalah
faktor sikap atau perilaku (konsep diri/harga diri rendah). Dampak dari seseorang
yang memiliki Harga Diri Rendah yaitu menarik diri dari lingkungan, selain itu
halusisnasi dan resiko perilaku kekerasan bahkan resiko bunuh diri bisa menjadi
dampak dari harga diri rendah. Menurut (Yosep, 2025) Harga diri yang rendah
berhubungan dengan interpersonal yang buruk dan terutama menonjol pada klien
skizofrenia.
Menurut (Keliat, 2019) tanda dan gejala Harga Diri Rendah adalah
mengkritik diri sendiri, perasaan tidak mampu, pandangan hidup yang pesimis,
1
penurunan produktifitas, penolakan terhadap kemampuan diri. Perawat memiliki
peran untuk mengatasi Harga Diri Rendah pada klien dengan cara
mengidentifikasi kemampuan dan askpek positif yang masih dimiliki klien,
membantu klien untuk memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih dan
melatih kemampuan yang dipilih klien dan juga membantu untuk menyusun
jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka bagaimana menerapkan
Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Klien yang mengalami Gangguan Konsep Diri:
Harga Diri Rendah di RSJ Kalawa Atei Bukit Rawi.
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan jiwa pada klien
dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah di RSJ Kalawa Atei
Bukit Rawi.
2. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa keperawatan jiwa pada klien
dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah di RSJ Kalawa Atei
Bukit Rawi.
3. Mahasiswa mampu menentukan intervensi keperawatan jiwa pada klien
dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah di RSJ Kalawa Atei
Bukit Rawi.
4. Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi keperawatan jiwa pada
klien dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah di RSJ Kalawa
Atei Bukit Rawi.
5. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan jiwa pada klien
dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah di RSJ Kalawa Atei
Bukit Rawi.
1.4 Manfaat Penulisan
1. Untuk Mahasiswa
Hasil karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi
yang bermakna bagi mahasiswa dalam memberikan Asuhan Keperawatan Jiwa
Pada Klien yang mengalami Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah di RSJ
Kalawa Atei Bukit Rawi.
2
2. Untuk Klien dan Keluarga
Hasil asuhan keperawatan ini dapat digunakan untuk membantu klien dan
keluarga untuk memahami apa itu Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah dan
bagaimana nanti perawatan mandiri untuk klien dengan Gangguan Konsep Diri:
Harga Diri Rendah di RSJ Kalawa Atei Bukit Rawi.
3. Untuk Institusi
Institusi mampu mengembangkan dan memperbaiki pembuatan asuhan
keperawatan pada klien dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah dan
juga mampu mengembangkan ilmu untuk dibagi kepada institusi/ mahasiswa pada
institusi tersebut sehingga dapat membuat institus semakin berkembang menjadi
lebih baik.
4. Untuk IPTEK
IPTEK mampu mengembangkan lebih dalam lagi mengenai pengetahuan
di bidang kesehatan khususnya pada klien dengan Gangguan Konsep Diri: Harga
Diri Rendah.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Harga diri Rendah
2.1.1 Definsi
Harga diri rendah adalah perasaan negatif terhadap dirinya sendiri
menyebabkan kehilangan rasa percaya diri, pesimis, dan tidak berharga di
kehidupan (Atmojo & Purbaningrum, 2021).
Harga diri rendah adalah evaluasi diri negatif yang dikaitkan dengan
perasaan lemah, tidak berdaya, putus asa, ketakutan, rentan, rapuh, tidak lengkap,
tidak berharga, dan tidak memadai (Wijayati et al., 2020).
Harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri
sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat
terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self evaluasi yang telah
berlangsung lama). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung
(nyata atau tidak nyata) (Samosir, 2020).
2.1.2 Rentang Respon Harga Diri Rendah
Berikut ini adalah rentang respon konsep diri menurut (Stuart, 2013 dalam
Dewi, 2019)
1. Respon Adaptif : Aktualisasi diri dan konsep diri yang positif serta
bersifat membangun (konstruktif) dalam usaha mengatasi stressor
yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam diri sendiri.
4
2. Respon Maladaptif : Aktualisasi diri dan konsep diri yang negatif
serta bersifat merusak (destruktif) dalam usaha mengatasi stressor
yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam diri sendiri.
3. Aktualisasi diri : pengungkapan perasaan/kepuasan dari konsep diri
positif
4. Konsep diri positif : dapat menerima kondisi dirinya sesuai dengan
yang diharapkannya dan sesuai dengan kenyataan.
5. Harga Diri Rendah : perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang
kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.
6. Kerancuan identitas : ketidakmampuan individu mengintegrasikan
aspek psikologis pada masa dewasa, sifat kepribadian yang
bertentangan dan perasaan hampa.
7. Depersonalisasi : merasa asing terhadap dirinya sendiri dan
kehilangan identitas.
2.1.3 Etiologi
Menurut (Nur, 2022). Penyebab Harga Diri Rendah dibedakan menjadi
dua faktor yaitu faktor predisposisi dan prespitasi:
a. Faktor Predisposisi
1) Biologi Faktor heriditer (keturunan) seperti adanya riwayat anggota
keluarga yang mengalami gangguan jiwa Selain itu adanya riwayat
penyakit kronis atau trauma kepala merupakan merupakan salah satu
faktor penyebab gangguan jiwa.
2) Psikologis Masalah psikologis yang dapat menyebabkan timbulnya
Harga Diri Rendah adalah pengalaman masa lalu yang tidak
menyenangkan, penolakan dari lingkungan dan orang terdekat serta
harapan yang tidak realistis. Kegagalan berulang, kurang mempunyai
tanggungjawab personal dan memiliki ketergantungan yang tinggi
pada orang lain merupakan faktor lain yang menyebabkan gangguan
jiwa. Selain itu pasien dengan Harga Diri Rendah memiliki penilaian
yang negatif terhadap gambaran dirinya, mengalami krisis identitas,
peran yang terganggu, ideal diri yang tidak realistis.
5
3) Faktor Sosial Budaya Pengaruh sosial budaya yang dapat
menimbulkan Harga Diri Rendah adalah adanya penilaian negatif dari
lingkungan terhadap klien, sosial ekonomi rendah, pendidikan yang
rendah serta adanya riwayat penolakan lingkungan pada tahap tumbuh
kembang anak.
b. Faktor Presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh setiap situasi
yang dihadapi individu dan ia tidak mampu menyesuaikan situasi atas
stresor dapat mempengaruhi komponen. Stresor yang dapat
mempengaruhi gambaran diri adalah hilangnya bagian tubuh, tindakan
operasi, proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi tubuh,
proses tumbuh kembang, prosedur tindakan dan pengobatan.
Sedangkan stressor yang dapat mempengaruhi harga diri dan ideal diri
adalah penolakan dan kurang penghargaan diri dari orang tua dan
orang yang berarti. Faktor pencetus dapat berasal dari sumber internal
ataupun eksternal.
a) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kesehatan.
b) Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya sebagai frustasi. Ada
tiga jenis transisi peran :
1) Transisi peran perkembangan adalah perubahan normative yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam
kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai
serta tekanan untuk menyesuaikan diri.
2) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya
anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3) Transisi peran sehat-sakit terjadi akibat pergeseran dari keadaaan sehat
keadaan sakit. transisi ini dapat dicetuskan oleh :
(a) Kehilangan bagian tubuh
(b) Perubahan ukuran, bentuk, penampilan atau fungsi tubuh.
(c) Perubahan fisik yang berhubungan dengan tumbuh kembang normal.
6
(d) Prosedur medis dan keperawatan. (Stuart, 2013)
2.1.4 Klasifikasi
Gangguan harga diri rendah atau harga diri rendah dapat terjadi secara
(Rahma, 2019) :
a. Kronik, yaitu perasaan negative terhadap diri berlangsung lama, yaitu
sebelum sakit atau dirawat. Klien ini mempunyai cara yang berpikir
yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi
negative terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon mal
yang adaptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik
yang kronik atau pada klien gangguan jiwa.
b. Situasional, yaitu terjadi terutama yang tiba-tiba, misalnya harus
operasi, kecelakaan, dicerai suami atau istri, putus sekolah, putus
hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu ( korban pemerkosaan,
dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).
2.1.5 Tanda dan Gejala
Manifestasi yang biasanya muncul pada pasien dengan masalah Harga
Diri Rendah kronis (Sihombing et al., 2022).:
1. Mayor
a. Subjektif
1) Menilai diri dengan negatif/mengkritik diri
2) Merasa tidak berarti/tidak berharga
3) Merasa malu/minder
4) Merasa tidak mampu melakukan apapun
5) Meremehkan kemampuan yang dimiliki
6) Merasa tidak memiliki kelebihan
b. Objektif
7) Berjalan menunduk
8) Postur tubuh menunduk
9) Kontak mata kurang
10) Lesu dan tidak bergairah
11) Berbicara pelan dan lirih
12) Ekspresi muka datar
7
13) Pasif
2. Minor
a. Subjektif
14) Merasa sulit konsentrasi
15) Mengatakan sulit tidur
16) Mengungkapkan keputusasaan
17) Enggan mencoba hal baru
18) Menolak penilaian positif tentang diri sendiri
19) Melebih-lebihkan penilaian negatif tentang diri sendiri
b. Objektif
20) Bergantung pada pendapat orang lain
21) Sulit membuat keputusan
22) Sering kali mencari penegasan
23) Menghindari orang lain
24) Lebih senang menyendiri
2.1.6 Pohon Masalah
Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan dari harga
diri rendah situasional yang tidak terselesaikan. Atau dapat juga terjadi karena
individu tidak pernah mendapat feed back dari lingkungan tentang prilaku klien
sebelumnya bahkan kecendrungan lingkungan yang selalu memberi respon negatif
mendorong individu menjadi harga diri rendah. Harga diri rendah kronis terjadi
disebabkan banyak faktor. Awalnya individu berada pada suatu situasi yang
penuh dengan stressor (krisis), individu berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak
mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi dan peran. Penilaian individu
terhadap diri sendiri karena kegagalan menjalankan fungsi dan peran adalah
kondisi harga diri rendah situasional, jika lingkungan tidak memberi dukungan
positif atau justru menyalahkan individu dan terjadi secara terus menerus akan
mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah kronis (Samosir, 2022).
8
Isolasi Sosial
Harga Diri Rendah
Koping individu tidak efektif
2.1.7 Komplikasi
Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi sosial : menarik diri,
isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada
tingkah laku yang maladaptif, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
sosial (DepKes RI, 1998, dalam Wijayaningsih, 2015:52). Isolasi sosial menarik
diri sering ditunjukan dengan perilaku antara lain:
a. Data Subjektif :
1) Mengungkapkan enggan untuk memulai hubungan ataupun
pembicaraan.
2) Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang
lain
3) Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain
b. Data Objektif :
1) Kurang spontan dalam diajak bicara.
2) Apatis.
3) Ekspresi wajah kosong.
4) Menurun/tidak adanya komunikasi verbal.
5) Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat bicara
2.1.8 Penatalaksanaan Medis Harga Diri Rendah
Menurut tim Pokja SIKI DPP PPNI (2018) terapi non farmakologi yang
dapat diberikan kepada psien harga diri rendah situaasional yaitu dengan
intervensi utama dan intervensi pendukung. Intervensi utama harga diri rendah
situasional yaitu manajemen perilaku, promosi harga diri, dan promosi koping,
9
sedangkan intervensi pendukung harga diri rendah situasional yaitu dukungan
emosional, dukungan keyakinan, dukungan memaafkan, dukungan pelaksanaan
ibadah, dukungan penampilan peran, dukungan pengambilan keputusan,
dukungan pengungkapan kebutuhan, dukungan perasaan bersalah, dukungan
perlindungan penganiayaan, manajemen stress, manajemen trauma perkosaan,
pencegahan bunuh diri, promosi citra tubuh, promosi keprcayaan diri, promosi
kesadaran diri, restrukturisasi kognitif, terapi kognitif perilaku, dan terapi
diversional.
Terapi diversional merupakan salah satu intervensi pendukung dalam buku
pedoman SIKI (2018) untuk meningkatkan rasa percaya diri seseorang, dimana
terapi ini akan membuat klien mengenal, mempelajari dan menerapkan
kemampuan positif yang dimilikinya. Menurut meryana (2017) salah satu
kegiatan positif yang dapat diterapkan dalam meningkatkan rasa percaya diri
seseorang yaitu dengan melakukan aktivitas merapikan tempat tidur dan menyapu
lantai, dari kegiatan yang sudah dilakukan tersebut selalu berikan respon positif
seperti pujian dan hadiah kepada klien, sehingga perasaan percaya diri klien akan
meningkat.
2.2 Manajemen Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian medis difokuskan pada keadaan patologis, sedangkan
pengkajian keperawatan ditujukan pada respon klien terhadap masalah-
masalah kesehatan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar
manusia. Misalnya dapatkah klien melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga
fokus pengkajian klien adalah respon klien yang nyata maupun potensial
terhadap masalah-masalah aktifitas harian (Sitorus, 2019).
Menurut (Dwi, 2020) isi pengkajian keperawatan jiwa:
1. Identitas : Nama, umur, jenis kelamin, No RM, tanggal masuk RS,
tangal pengkajian.
2. Alasan masuk
Tanyakan kepada klien dan keluarga apa alasan klien dibawa ke rumah
sakit, Keluhan utama klien dengan harga diri rendah kronis biasanya
10
merenung atau menyendiri serta mengkritik atau menyalahkan diri
sendiri.
3. Faktor Predisposisi
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
25) Adanya riwayat gangguan pada klien atau keluarga.
26) Adanya gangguan fisik atau penyakit termasuk gangguan
pertumbuhan dan perkembangan.
b. Riwayat Psikososial
1) Pada klien harga diri rendah riwayat psikososial yang perlu
diketahui adalah pernah atau tidak melakukan atau mengalami
dan atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan
dari lingkungan, kekerasan dalam rumah tangga, aniaya, dan
tindakan kriminal.
2) Merasakan pengalaman masa lalu lain yang tidak
menyenangkan baik biologi, psikologi, sosiologi, kultural,
maupun spiritual.
c. Riwayat Penyakit Keluarga Harga diri rendah kronis dapat
disebabkan oleh keturunan. Oleh karena itu, pada riwayat penyakit
keluarga harus dikaji apakah ada keluarga yang pernah mengalami
gangguan jiwa.
4. Faktor presipitasi
Masalah khusus tentang harga diri rendah kronis disebabkan oleh
setiap situasi yang dihadapi individu dan ia tak mampu menyelesaikan
masalah yang di hadapi . Situasi atas stressor ini dapat mempengaruhi
terjadinya harga diri rendah kronis.
5. Pemeriksaan fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan
apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.
6. Psikososial
a. Genogram
Perbuatan genogram minimal 3 generasi yang menggambarkan
hubungan klien dengan keluarga, masalah yang terkait dengan
11
komunikasi, pengambilan keputusan, pola asuh, pertumbuhan
individu dan keluarga.
b. Konsep Diri
1) Gambaran Diri
Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya,bagian tubuh yang
disukai, reaksi klien terhadap bagian tubuh yang tidak disukai dan
bagian yang disukai.
2) Identitas Diri
Kaji kepuasan klien terhadap jenis kelaminya, status sebelum
dirawat di rumah sakit. Klien merasa tidak berdaya dan rendah diri
sehingga tidak mempunyai status yang di banggakan atau di
harapkan di keluarga ataupun masyarakat.
3) Fungsi peran
Biasanya klien mengalami penurunan produktifitas dan merasa
tidak mampu dalam melaksanakan tugas.
4) Ideal diri
Tanyakan harapan tubuh, posisi status, peran. Harapan klien
terhadap lingkungan, dan harapan klien terhadap penyakitnya.
5) Harga Diri
Klien mengejek dan mengkritik dirinya sendiri, menurunkan
martabat, menolak kemampuan yang dimiliki.
c. Hubungan Sosial
Tanyakan siapa orang terdekat dikehidupan klien tempat mengadu,
berbicara, minta bantuin, atau dukungan. Serta tanyakan organisasi
yang diikuti dalam kelompok/ masyarakat (Febriana et. al, 2016).
1) Klien tidak mempunyai orang yang di anggap sebagai tempat
mengadu dan meminta dukungan.
2) Klien merasa berada di lingkungan yang mengancam.
3) Keluarga kurang memberikan penghargaan kepada klien.
4) Klien sulit berinteraksi.
d. Spritual
12
Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah/ menjalankan keyakinan,
kepuasaan dalam menjalankan keyakinan.
7. Status Mental
a. Penampilan
Penampilan tidak rapi karena klien kurang minat untuk perawatan
diri. Kemunduran dalam tingkat kebersihan dan kerapian, bau badan
karena tidak mandi merupakan salah satu tanda gangguan jiwa
dengan harga diri rendah kronis.
b. Pembicaraan
Klien dengan frekuensi lambat, tertatah, volume suara rendah,
sedikit berbicara inkoheren dan bloking.
c. Aktivitas Motorik
Tegang, lambat, gelisah, dan terjadi penurunan aktivitas interaksin
d. Alam Perasan
Klien biasanya merasakan tidak mampu dan pandangan hidupnya
selalu pesimis.
e. Afek emosi
Terkadang afek klien tampak tumpul, emosi klien berubah-ubah,
kesepian, apatis, depresi atau sedih, dan cemas.
f. Interaksi selama wawancara
1) Tidak kooperatif, atau mudah tersinggung.
2) Kontak mata kurang: tidak mau menatap lawan bicara.
3) Defensif: selalu mempertahankan pendapat dan kebenaran
dirinya.
g. Persepsi-sensori
Klien mengalami halusinasi dengar/lihat yang mengancam atau
memberi perintah.
h. Proses berpikir
1) Arus Pikir:
a) Koheren: pembicaraan dapat dipahami dengan baik.
b) Inkoheren: kalimat tidak berbentuk, kata-kata sulit dipahami.
13
c) Tangensial: pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai
pada tujuan.
d) Flight of ideas: pembicaraan yang melompat dari satu topik ke
topik lainnya masih ada hubungan yan tidak logis dan tidak
sampai pada tujuan.
e) Bloking: pembicaraan terhenti tiba-tiba kemudian dilanjutkan
kembali.
f) Neologisme: membentuk kata-kata baru yang tidak di pahami
oleh umum.
g) Sosiasi bunyi: mengucapkan kata-kata yang mempunyai
persamaan bunyi.
2) Isi Pikir: Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau
menolak diri sendiri, mengejek dan mengkritik diri sendiri.
i. Tingkat kesadaran
Menurut Stuart. (2016) Biasanya klien tampak bingung dan kacau,
stupor adalah gangguan motorik seperti kelakuan, gerakan berulang-
ulang, anggota tubuh klien dalam sikap canggung yang
dipertahankan dalam waktu lama tetapi pasein menyadari semua
yang terjadi dilingkungan, sedasi yaitu klien mengatakan bahwa ia
merasa melayang-layang antara sadar atau tidak sadar.
j. Memori
1) Daya ingat jangka panjang:mengingat kejadian masa lalu lebih
dari satu bulan
2) Daya ingat jangka menengah:dapat mengingat kejadian yang
terjadi 1 minggu terakhir.
3) Daya ingat jangka pendek:dapat mengingat kejadian yang terjadi
saat ini.
k. Tingkat konsentrasi dan berhitung
1) Peratikan klien mudah berganti dari satu obyek ke obyek lain
atau tidak.
2) Tidak mampu berkonsentrasi.
3) Tidak mampu berhitung.
14
l. Kemampuan penilaian mengambil keputusan
1) Ringan: dapat mengambil suatu keputusan yang sederhana
dengan dibantu.
2) Bermakna : tidak mampu mengambil suatu keputusan walaupun
sudah dibantu.
m. Daya tilik diri
Klien tidak menyadari bahwa dia mengalami gangguan jiwa
2.2.2 Diagnosa
1. Harga diri rendah kronis (SDKI, D.0086)
2. Isolasi sosial (SDKI, D.0121)
3. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi (SDKI, D.0085)
2.2.3 Intervensi
1. SP 1: Membangun Hubungan Terapeutik
a. Berikan lingkungan yang mendukung dengan suasana nyaman dan
tidak menghakimi.
b. Lakukan komunikasi terapeutik dengan sikap empati, hangat, dan
menerima.
c. Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya tanpa
rasa takut dihakimi.
d. Identifikasi penyebab rendahnya harga diri pasien.
e. Berikan dukungan emosional dan pujian atas upaya kecil yang
dilakukan pasien.
2. SP 2: Membantu Pasien Mengenali Kelebihan dan Kekuatan Diri
a. Diskusikan dengan pasien tentang kelebihan dan kekuatan yang
dimilikinya.
b. Bantu pasien mengidentifikasi pencapaian atau keberhasilan yang
pernah diraihnya.
c. Berikan tugas sederhana yang dapat meningkatkan rasa percaya diri
pasien.
d. Dorong pasien untuk mulai berpikir positif terhadap dirinya sendiri.
e. Gunakan teknik terapi kognitif untuk membantu pasien mengubah pola
pikir negatif menjadi positif.
15
3. SP 3: Meningkatkan Interaksi Sosial
a. Bantu pasien untuk mulai berinteraksi dengan orang lain dalam
kelompok kecil.
b. Ajarkan keterampilan sosial yang dapat membantu pasien merasa lebih
percaya diri dalam berkomunikasi.
c. Berikan kesempatan kepada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas
kelompok yang positif.
d. Berikan pujian atau reinforcement positif setiap kali pasien
menunjukkan interaksi sosial yang baik.
e. Latih pasien dalam mengatasi ketakutan akan penolakan dengan teknik
bermain peran.
4. SP 4: Mempersiapkan Pasien untuk Kemandirian
a. Dukung pasien dalam membuat rencana hidup yang realistis dan sesuai
dengan kemampuannya.
b. Ajarkan teknik koping adaptif untuk menghadapi situasi yang
menantang.
c. Dorong pasien untuk menetapkan tujuan kecil yang dapat dicapai dan
memberikan penghargaan atas pencapaiannya.
d. Latih pasien untuk mengambil keputusan sendiri dan bertanggung
jawab atas pilihannya.
e. Evaluasi perkembangan pasien secara berkala dan berikan umpan balik
yang konstruktif..
2.2.4 Implementasi
Pada situasi nyata sering pelaksanaan dari rencana keperawatan sering kali
jauh berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa
menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan.
Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan, perawat
perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan
dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya. Perawat juga menilai diri sendiri,
apakah kemampuan interpersonal, intelektual, tekhnikal sesuai dengan tindakan
yang akan dilaksanakan, dinilai kembali apakah aman bagi klien. Setelah
16
semuanya tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan
(Rokhimma, & Rahayu 2020).
2.2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari
tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon
klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan, evaluasi dapat dibagi dua jenis
yaitu: evaluasi proses atau formatif dilakukan selesai melaksanakan tindakan.
Evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada
tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan. Evaluasi keperawatan
yang diharapkan pada klien yang mendapatkan asuhan keperawatan halusinasi,
klien mampu mengenali halusinasi, klien terlatih mengontrol halusinasi, klien
mampu bercakap-cakap dengan orang lain, klien mampu beraktivitas secara
terjadwal (Andri, & Utama 2019).
17
DAFTAR PUSTAKA
Andri, J., Febriawati, H., Panzilion, P., Sari, S. N., & Utama, D. A. (2019).
Implementasi keperawatan dengan pengendalian diri klien
halusinasi pada klien skizofrenia. Jurnal Kesmas Asclepius, 1(2),
146-155 https://doi.org/10.31539/jka.v1i2.922
Diana, P, K. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Klien Skizofrenia Dengan
Masalah Keperawatan Harga Diri Rendah Kronis Di Rumah Sakit
Jiwa Dr. Arif Zainudin Surakarta (Doctoral Dissertation,
Universitas Muhammadiyah Ponorogo).
http://eprints.umpo.ac.id/id/eprint/6155
Dwi, C. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Klien Skizofrenia Dengan
Masalah Harga Diri Rendah Kronik (Doctoral Dissertation,
Universitas Muhammadiyah Ponorogo).
http://eprints.umpo.ac.id/id/eprint/6116
Fajarani, A. S. (2017). Tingkat stres dan harga diri narapidana wanita di
lembaga pemasyarakatan kelas II A Kota Bogor. Jurnal Riset
Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung, 9(2), 26-33.
Purwasih, R., & Susilowati, Y. (2016). Penatalaksanaan Klien Gangguan
Jiwa Dengan Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah Di Ruang
Gathotkoco Rsjd Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Jurnal
Profesi Keperawatan (JPK), 3(2)
Pardede, J. A., Damanik, R. K., Simanullang, R. H., & Sitanggang, R.
(2020) The Effect Of Cognitive Therapy On Changes In Self-
Esteem On Schizophrenia Patients. European Journal of Molecular
& Clinical Medicine, 7(11), 2020
18
Pardede, J. A., Siringo-ringo, L. M., Hulu, T. J., & Miranda, A. (2021).
Edukasi Kepatuhan Minum Obat Untuk Mencegah Kekambuhan
Orang Dengan Skizofrenia. Jurnal Abdimas Mutiara, 2(2), 1-5. 5.
Pardede, J. A. (2022). Koping Keluarga Tidak Efektif Dengan
Pendekatan Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa.
19