0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
898 tayangan36 halaman

Identifikasi Potensi Wilayah Sijungkang

Laporan ini mengidentifikasi potensi wilayah Desa Sijungkang Kecamatan Angkola Timur Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Identifikasi dilakukan untuk mengumpulkan data primer dan sekunder mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan sumber daya alam di desa tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program penyuluhan pertanian di desa. Hasil identifikasi diharapkan dapat membantu penyuluh meningkatkan

Diunggah oleh

jumharmuhammad130
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
898 tayangan36 halaman

Identifikasi Potensi Wilayah Sijungkang

Laporan ini mengidentifikasi potensi wilayah Desa Sijungkang Kecamatan Angkola Timur Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Identifikasi dilakukan untuk mengumpulkan data primer dan sekunder mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan sumber daya alam di desa tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program penyuluhan pertanian di desa. Hasil identifikasi diharapkan dapat membantu penyuluh meningkatkan

Diunggah oleh

jumharmuhammad130
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

IDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH (IPW)


DESA SIJUNGKANG KECAMATAN ANGKOLA TIMUR
KABUPATEN TAPANULI SELATAN
PROVINSI SUMATERA UTARA
TAHUN 2020

OLEH
DICKY MAHMUDI
NIRM. 01.4.3.17.0546

PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERKEBUNAN PRESISI


JURUSAN PERKEBUNAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN MEDAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2020
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah atas kehadirat Allah Swt karena berkat rahmat,


hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan
laporan Identifikasi Potensi Wilayah (IPW) di desa Sijungkang kec. Angkola
Timur Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Sesuai dengan
sistem pendidikan vokasi yang diterapakan di Polbangtan Medan, yaitu dengan 70
% praktik dan 30 % teori.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ir. Yuliana Kansrini, M.Si selaku Direktur Polbangtan Medan.
2. Dr. Iman Arman, SP. MM selaku ketua jurusan perkebunan sekaligus
ketua program studi penyuluhan perkebunan presisi.
3. Arie Hapsani Hasan Basri, SP, MP selaku dosen pembimbing 1 (satu).
4. Silvia Nora, SP, MP selaku dosen pembimbing 2 (dua).
5. Zubriadi Harahap selaku penyuluh desa Sijungkang sekaligus pembimbing
eksternal.
6. Senior, rekan-rekan, adik-adik junior dan seluruh pihak yang telah
membantu dalam proses pembuatan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses pembuatan laporan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran yang
membangun untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi. Sehingga pembaca mudah
mengerti dan memahami isi dari laporan tersebut.
Akhir kata, penulis mengucapkan terimahkasih kepada seluruh pihak yang
telah ikut berperan dalam pembuatan laporan ini. Semoga laporan yang dibuat
dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi orang banyak.

Medan, April 2020

Dicky Mahmudi

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................iv
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................vi
I. PENDAHULUAN.........................................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Tujuan........................................................................................................2
C. Manfaat......................................................................................................3

II. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................4


A. Identifikasi Potensi Wilayah......................................................................4
B. Pengumpulan Data Primer.........................................................................6
C. Pengumpulan Data Sekunder ...................................................................8

III. METODE PELAKSANAAN.......................................................................10


A. Waktu dan Tempat....................................................................................10
B. Prosedur Pelaksanaan................................................................................10

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................................13


A. Pelaksanaan Identifikasi Potensi Wilayah.................................................13
B. Pengumpulan Data Primer.........................................................................13
C. Pengumpulan Data Sekunder....................................................................23

V. PENUTUP......................................................................................................29
A. Kesimpulan................................................................................................29
B. Saran..........................................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................30

ii
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
1. Kalender Musim......................................................................................... 15
2. Tabulasi Analisis Masalah Perilaku Berdasarkan Skor Tertinggi.............. 18
3. Tabulasi Analisis Masalah Non Perilaku Berdasarkan Skor Tertinggi...... 19
4. Bagan Kecenderungan................................................................................ 21
5. Data Kependudukan................................................................................... 24
6. Data Penduduk Berdasarkan Umur............................................................ 24
7. Tingkat Pendidikan..................................................................................... 24
8. Data Curah Hujan....................................................................................... 25
9. Daftar Data Kelembagaan Ekonomi Petani................................................ 25
10. Produktivitas Usaha Tani desa Sijungkang.............................................. 26
11. Data Kelompok Tani................................................................................ 26
12. Nama Gapoktan........................................................................................ 27
13. Kepemilikan Alsintan desa Sijungkang................................................... 27

iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
1. Peta Sumber Daya ..............................................................................14
2. Diagram Venn.....................................................................................16
3. Bagan Mobilitas..................................................................................20
4. Pola Harian Keluarga..........................................................................22
5. Diagram Alur......................................................................................23

iv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sektor Pertanian memegang peranan penting bagi perekonomian
di Indonesia. Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian maka perlu upaya-
upaya untuk membangun pertanian yang tangguh dan kuat serta mampu
menjawab segala permasalahan dalam menghadapi era globalisasi dan
perdagangan bebas dewasa ini. Salah satu usaha untuk membangun pertanian
yang tangguh perlu adanya sistem penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian
merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan,
keterampilan dan sikap petani beserta keluarganya dan pelaku usaha pertanian
lainnya melalui proses pembelajaran agar mereka mau dan mampu menolong
serta mengorganisasikan dirinya, memiliki akses ke sumber informasi, teknologi
dan sumber daya lainnya untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah yang
dihadapi, sehingga mereka dapat meningkatkan hasil usaha taninya.
Potensi secara bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
mempunyai arti kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk
dikembangkan; kekuatan; kesanggupan; daya dan wilayah dalam hal ini bermakna
lingkungan daerah (Provinsi, Kabupaten, Kecamatan). Jadi potensi desa
mengandung arti kemampuan yang dimiliki desa yang memungkinkan untuk
dikembangkan.Oleh karena itu, potensi wilayah memerlukan upaya-upaya tertentu
untuk membuatnya bermanfaat kepada masyarakat diwilayah tersebut.
Identifikasi potensi wilayah dilakukan untuk memperoleh data keadaan
wilayah agroekosistem meliputi keadaan wilayah fisik, keadaan sosial, keadaan
ekonomi dan potensi pendukung dari data primer maupun data sekunder.Hasil
identifikasi disusun dalam laporan yang mengambarkan keadaan, prioritas
masalah dan faktor penyebab masalah, faktor penentu, kebutuhan penyelesaian
masalah dalam bentuk rencana definitif kelompok atau RDK (kebutuhan
teknologi dan lain-lain) dan rencana definitif kegiatan kelompok/RDKK
(kebutuhan pelayanan/ fasilitas kelompok).
Seorang penyuluh baru dapat menyusun programa penyuluhan ditingkat
desa harus mengetahui keadaan didesa tersebut baik sumber daya alam dan

1
sumberdaya manusia. Dengan mengetahui keadaan penyuluh dapat membuat
tujuan apa yang ingin dicapai dalam mencapai tujuan tersebut ada masalah atau
tidak, apa masalahnya, dimana masalahnya, bagaimana cara pemecahannya,
kapan pemecahannya, siapa yang melaksanakan dan berapa biayanya. Semua ini
dituangkan dalam programa penyuluhan ditingkat desa yang merupakan
perencanaan yang akan dikerjakan selama satu tahun. Kemudian, programa
tingkat desa disampaikan kepada balai penyuluhan pertanian untuk ramukan
dimasukan kedalam programa balai penyuluhan pertanian ditingkat kecamatan.
Berdasarkan hal tersebut Politeknik Pembangunan Pertanian Medan sebagai
salah satu lembaga pendidikan kedinasan dibidang pertanian dalam Praktik Kerja
Lapang II mahasiswa semester VI diharapkan dapatmemecahkan masalah tersebut
sehingga mahasiswa mampu mencapai kompetensi antara lain :
1. Menetapkan potensi dan permasalahan agribisnis wilayah desa.
2. Menetapkan komoditas agribisnis unggulan yang bersifat spesifik lokasi.
3. Membuat peta usaha tani desa lokasi PKL sebagai dasar penyusunan
programa penyuluhan pertanian desa.
Memperhatikan hal tersebut maka PKL II dilaksanakan pada tanggal 09
Maret sampai dengan 07 April 2020 di Desa Sijungkang, Kecamatan Angkola
Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara karena memiliki
potensi yang luas dalam pengembangan agribisnis pertanian.

B. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya identifikasi potensi wilayah adalah sebagai
berikut :
1. Mengetahui dan menetapkan potensi dan permasalahan agribisnis di
wilayah Desa Sijungkang, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten
Tapanuli Selata Provinsi Sumatera Utara.
2. Mengetahui dan menetapkan komoditas agribisnis unggulan yang bersifat
spesifik di Desa Sijungkang, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten
Tapanuli Selata Provinsi Sumatera Utara.

2
3. Membuat peta usahatani desa sebagai bahan penyusunan Programa
Penyuluhan Pertanian Desa Sijungkang, Kecamatan Angkola Timur,
Kabupaten Tapanuli Selata Provinsi Sumatera Utara.

C. Manfaat
Adapun manfaat dilakukannya identifikasi potensi wilayah adalah sebagai
berikut :
1. Mengetahui potensi dan permasalahan agribisnis di wilayah Desa
Sijungkang, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selata
Provinsi Sumatera Utara.
2. Mengetahui dan menetapkan komoditas agribisnis unggulan yang bersifat
spesifik di Desa Sijungkang, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten
Tapanuli Selata Provinsi Sumatera Utara.

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Identifikasi Potensi Wilayah


Potensi secara bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
mempunyai arti kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk
dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, daya dan wilayah dalam hal ini bermakna
lingkungan daerah (Provinsi, Kabupaten, Kecamatan). Untuk keperluan ini bisa
dipilih wilayah tertentu, misalnya meliputi potensi wilayah desa. Jadi potensi desa
mengandung arti kemampuan yang dimiliki desa yang memungkinkan untuk
dikembangkan.
IPW merupakan penggalian data potensi wilayah terkait dengan data-data
sumberdaya didesa dan data-data pendukung dalam pengelolaan usahatani. Data
sumberdaya yang ada didesa terdiri dari sumberdaya alam, sumberdaya buatan
dan sumberdaya manusia sebagai pelaku utama dalam mengelola usahatani.
Sedangkan data-data pendukung pengelolaan usahatani terdiri dari data-data
monografi desa, penerapan teknologi budidaya yang biasa dilakukan petani,
komoditi pertanian yang dikelola petani.
Seiring dengan perubahan zaman yang beralih pada pemberdayaan
masyarakat idealnya dalam melakukan penggalian data potensi wilayah dapat
menggunakan metoda PRA (Partisipatory Rural Appraisal) sebagaimana tuntutan
Permentan no. 47 tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Programa
Penyuluhan Pertanian.Data pendukung IPW didapatkan dari data primer dengan
cara wawancara masyarakat yang ada didesa dan berdasarkan data-data sekunder
yang ada di balai desa atau milik penyuluh pertanian diwilayah desa/kelurahan
dan petugas dinas/ instansi terkait lingkup pertanian.
Data primer adalah datayang diperoleh secara langsung dalam kegiatan
penelitian lapangan, dalam bentuk isian kuesioner,jawaban langsung dari
responden/informan berdasarkan masalah yang sedang dikaji, sejumlah analisis
statistik yang digunakan untuk mengolah data-data masuk (menggunakan analisis
komputer), laporan hasil pengamatan dan hasil gambar foto dari event tertentu
yang menjadi tujuan atau selama penelitian berlangsung (Salim, 2005).

4
Identifikasi potensi wilayah dan agroekosistem dilakukan untuk
memperoleh data keadaan wilayah dan agroekosistem dengan menggunakan data
primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh di lapangan baik dari petani
maupun masyarakat yang terkait, sedangkan data sekunder diperoleh dari
monografi desa/ kecamatan/BPP dan atau dari sumber-sumber lain yang relevan.
1. Identifikasi data primer menggunakan pendekatan partisipatif dan wawancara
semi terstruktur menggunakan teknik PRA.
2. Identifikasi data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh data
potensi wilayah dan agroekosistem dari data monografi desa/kecamatan/BPP
dan sumber lain yang mendukung.
3. Analisa SWOT/Penetapan impact point. Dengan menggunakan analisis
masalah dan penyebab masalah, penetapan prioritas dan menetapkan faktor
penentu.
Identifikasi potensi wilayah dan agroekosistem dapat dilakukan dengan
mengidentifikasi data primer melalui pendekatan partisipatif menggunakan teknik
PRA dan wawancara semi terstruktur, sedangkan untuk data sekunder dapat
diperoleh dari monografi desa/kecamatan atau data yang relevan. PRA yang
digunakan terdiri dari:
1. Wawancara semi terstruktur.
2. Teknik pembuatan peta sumberdaya.
3. Teknik penelusuran lokasi/transek.
4. Penyusunan kalender musim.
5. Pembuatan bagan hubungan kelembagaan/diagram venn.
6. Teknik pembuatan bagan peringkat.
7. Pembuatan bagan mobilitas.
8. Pembuatan bagan kecenderungan dan perubahan.
9. Pembuatan bagan keseharian.
10. Pembuatan sketsa kebun.
11. Menjelaskan sejarah desa.
12. Diagram alur.
13. Penyusunan Data.

5
Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahawasanya dalam kegiatan
identifikasi potensi wilayah ini yakni untuk menganalisis potensi wilayah dan
menganalisis masalah di suatu wilayah.

B. Pengumpulan Data Primer


Potensi secara bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
mempunyai arti “kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk
dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, daya,” wilayah dalam hal ini bermakna
“lingkungan daerah (Provinsi, Kabupaten, Kecamatan)”. Untuk keperluan ini bisa
dipilih wilayah tertentu, misalnya meliputi potensi wilayah Kecamatan. Potensi
Kecamatan mengandung arti kemampuan yang dimiliki Kecamatan yang
memungkinkan untuk dikembangkan. (Anonim, 2001).
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari pelaku utama
dan pelaku usaha dengan menggunakan pendekatan partisipatif dan wawancara
semi terstruktur meggunakan teknik PRA.
Wawancara semi terstruktur yang digunakan untuk mengkaji sejumlah
topik informasi mengenai aspek-aspek kehidupan keluarga petani yang disusun di
dalam pedoman wawancara. Pedoman wawancara ini sifatnya semi terbuka
karena hanya merupakan bahan acuan wawancara, yang dapat diubah dan
disesuaikan dengan proses diskusi untuk mencapai tujuan kajian. Jenis wawancara
semi terstruktur antara lain: 1) wawancara individu, 2) wawancara keluarga/rumah
tangga petani, 3) wawancara kelompok (petani) (Deptan, 2012).
Untuk mencapai hasil yang baik dalam menggali potensi wilayah, maka
seorang penyuluh perlu mempersiapkan suatu “instrumen” untuk menggali
potensi wilayah agroekosistem. Adapun instrumen yang harus dipersiapkan untuk
mengumpulkan data primer yaitu :
1. Peta Sumberdaya
Peta sumberdaya bertujuan untuk mengetahui kondisi desa, khususnya
mengenai sumberdaya alam, tataguna lahan, batas wilayah, tata letak sarana dan
prasarana, perumahan, dan lain-lain. Sketsa desa yang merupakan penggambaran
keadaan masyarakat desa yang dituangkan dalam bentuk sebuah peta sederhana

6
yang dapat dibuat di atas tanah, kertas sesuai dengan kesepakatan dan ketersedian
bahan.
2. Bagan Transek
Bagan Transek adalah gambar irisan muka bumi untuk mengamati
lingkungan sumberdaya masyarakat dengan jalan menelusuri wilayah desa
mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. Penelusuran wilayah desa
(transek) bertujuan untuk mengetahui potensi pemanfaatan sumberdaya alam
seperti: 1) bentuk dan keadaan permukaan/ topografi; 2) jenis tanah dan tingkat
kesuburan daerah tangkapan air, sumber air; 3) pemanfaatan lahan; 4) pola
usahatani; 5) teknologi setempat.
3. Kalender Musim
Kalender musim bertujuan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan, peristiwa-
peristiwa dalam kurun waktu tertentu seperti curah hujan, suhu udara, peta tanam,
hama penyakit, tenaga kerja, volume produksi, luas tanam/produksi, dan siklus
usaha.
4. Diagram Venn
Bagan kelembagaan (diagram venn) bertujuan untuk mengetahui: 1)
lembaga-lembaga yang ada di masyarakat baik lembaga formal maupun non
formal, lembaga pemerintah maupun swasta; 2) hubungan antarlembaga dan
dengan masyarakat; 3) keberadaan, peran, dan manfaat lembaga tersebut untuk
masyarakat.
5. Peringkat Masalah
Peringkat masalah bertujuan untuk mengetahui prioritas masalah yang
harus diselesaikan secepatnya, mengetahui peluang usahatani yang akan dikelola
dan mengetahui pilihan teknologi yang harus diterapkan.
6. Bagan Mobilitas
Bagan mobilitas bertujuan untuk mengetahui hubungan masyarakat
dengan pihak lain di luar lingkungan.
7. Bagan Kecenderungan
Bagan perubahan dan kecenderungan bertujuan untuk mengetahui
perubahan-perubahan keadaan desa, baik perubahan sosial maupun perubahan
lingkungan.

7
8. Pola Harian
Pola harian bertujuan untuk mengetahui pola kegiatan keluarga,
mengetahui pola kerja anggota keluarga tani dalam mendukung usaha tani dan
mengetahui pola kerja kelembagaan.
9. Sketsa Lahan
Sketsa lahan yang merupakan penggambaran keadaan masyarakat desa
yang dituangkan dalam bentuk sebuah peta sederhana yang dapat dibuat di atas
tanah, kertas sesuai dengan kesepakatan dan ketersedian bahan.
10. Sejarah Desa
Sejarah desa bertujuan mengetahui asal usul desa dan mengetahui
perkembangan masyarakat desa.
11. Diagram Alur
Diagram alur bertujuan untuk mengetahui alur dari suatu system produksi,
mengetahui alur pemanfaatan modal dan mengetahui pemanfaatan lahan
usahatani.
12. Data
Data bertujuan untuk mengetahui keadaan awal kondisi desa, masyarakat
dan lingkungannya sebagai data pembanding dari data yang diperolehnya dan
mengetahui kondisi nyata dilapangan.

C. Pengumpulan Data Sekunder


Data sekunder dikumpulkan dan diolah untuk mempelajari keadaan
desa/wilayah berdasarkan data informasi yang telah ada dalam bentuk tertulis
yang dibuat oleh pihak tertentu (dinas/instansi/LSM dan lain-lain) (Deptan, 2011).
Di desa yang terpencil biasanya sulit untuk mendapatkan dokumen tentang
keadaan wilayah tersebut, tetapi data sekunder ini sifatnya sebagai pendukung dari
informasi/data yang diperoleh secara langsung melalui teknik PRA.
Data sekunder diperlukan untuk menyusun Programa. Programa
Penyuluhan Pertanian yaitu rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk
memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan
penyuluhan pertanian. Programa penyuluhan terdiri atas programa penyuluhan
Desa/Kelurahan, atau unit kerja lapangan, programa penyuluhan Kecamatan,

8
programa penyuluhan Kabupaten/Kota, programa penyuluhan Provinsi dan
programa penyuluhan Nasional. Programa Penyuluhan pertanian terdiri dari
empat unsur yang saling berkaitan dan tersusun menurut urutan yang tidak dapat
di ubah. Keempat unsur tersebut adalah keadaan, tujuan, permasalahan dan
rencana kegiatan (Anonim, 2009).
Jenis-jenis data sekunder yang dikumpulkan di antaranya:
a. Data agroklimat wilayah
b. Batas wilayah
c. Kependudukan
d. Kelembagaan formal dan non formal yang ada di wilayah
e. Tata guna lahan
f. Jenis usaha rakyat
g. Tingkat pendapatan rata-rata
h. Sarana dan prasarana wilayah
i. Program-program pembangunan pertanian yang sedang berjalan atau yang
pernah dilaksanakan di wilayah
j. Teknologi yang diterapkan
Data produksi, luasan areal usaha tani, jumlah ternak dan komoditi utama
yang dikembangkan di wilayah (Deptan, 2011).

9
III. METODE PELAKSANAAN

A. Waktu dan Tempat


Adapun pelaksanaan kegiatan IPW dilaksanakan pada tanggal 9 Maret
sampai dengan tanggal 9 April 2020. Lokasi kegiatan bertempat di Desa
Sijungkang Kecamatan Angkola Timur Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi
Sumatera Utara.

B. Prosedur Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu menggunakan
wawancara dan pengamatan langsung/observasi/ survei. Metode ini ditujukan agar
masalah dan data yang diperoleh bersifat partisipatif yaitu dari oleh dan untuk
petani.
Dalam pemetaan potensi dan pengumpulan, pengolahan data potensi
wilayah desa menggunakan alat dan bahan buku panduan, kertas karton, spidol,
peta desa, format pengumpulan data, alat tulis serta bahan lain yang dipergunakan.
1. Identifikasi Potensi Wilayah
Identifikasi mengumpulkan data potensi wilayah Desa Sijungkang,
Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera
Utaradengan menggunakan metode wawancara langsung dengan petani. Langkah-
langkah sebagai berikut :
a. Pengumpulan Data Primer
Teknik wawancara petani adalah teknik yang digunakan untuk mengkaji
sejumlah topik informasi mengenai aspek-aspek kehidupan keluarga petani yang
disusun dalam pedoman wawancara. Pedoman wawancara ini sifatnya semi
terbuka karena hanya merupakan bahan acuan wawancara.
1) Wawancara individu
a) Wawancara informan kunci : dilakukan jika dibutuhkan kajian dengan
sumber informasi khusus. Informasi kunci adalah orang yang dianggap
pengalaman dan memiliki pengalaman luas mengenai sesuatu yang terkait
dengan keadaan di masyarakat tersebut baik sosial, ekonomi, budaya
maupun yang lainnya.

10
b) Wawancara perorangan pilihan yaitu orang tertentu yang dapat dianggap
mewakili kelompok masyarakat tertentu misalnya ketua kelompok
tani/poktan/gapoktan, petani buruh, tuan tanah, hasil tersebut disebut profil
perorangan.
2) Wawancara keluarga / rumah tangga petani
a) Wawancara keluarga petani dilakukan untuk mengkaji berbagai aspek
kehidupan keluarga petani, hasilnya disebut profil keluarga petani.
b) Keluarga adalah keluarga inti (ayah, ibu,dan anak) atau keluarga besar.
Rumah tangga adalah unit pengelolaan perekonomian di dalam keluarga
b. Pengumpulan Data Sekunder
Pengumpulan dan pengolahan data sekunder adalah proses untuk
mempelajari keadaan desa/wilayah berdasarkan data informasi yang telah ada.
Beberapa jenis data sekunder yang dikumpulkan sebagai data pendukung untuk
penyuluhan agribisnis antara lain :
1. Data agroklimat wilayah
a) Batas wilayah
b) Kependudukan
c) Kelembagaan formal dan non formal yang ada di wilayah
d) Tata guna lahan
e) Jenis usaha masyarakat
f) Tingkat pendidikan rata-rata
g) Sarana dan prasarana di wilayah
h) Teknologi yang diterapkan
2. Data produksi, luas areal usaha tani, jumlah ternak dan komoditi utama yang
dikembangkan di wilayah
Jenis data yang dilakukan identifikasi dengan menggunakan metode
wawancara, adalah sebagai berikut :
a) Data sumberdaya manusia (SDM)
1) Data penduduk berdasarkan umur, agama, pendidikan, jenis kelamin,
dan mata pencaharian.
2) Data kelembagaan meliputi : lembaga pemerintah, lembaga agama,
lembaga adat, lembaga sosial, dan lembaga kelompoktani.

11
b) Data sumber daya alam (SDA)
1) Karakteristik tanah
2) Data curah hujan 5 tahun terakhir
3) Data luas wilayah berdasarkan penggunaan meliputi : bangunan dan
pekarangan, luas tanaman pangan dan hortikultura, luas tanaman
perkebunan, luas kehutanan, dan luas padang rumput
4) Data populasi tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan,
dan populasi ternak

12
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Identifikasi Potensi Wilayah


Adapun dalam kegiatan identifikasi potensi wilayah dan agroekosistem
pada Praktek Kerja Lapangan II dilakukan dengan cara mengumpulkan data
primer dengan menggunakan teknik pendekatan partisipatif (teknik PRA) dan
wawancara semi terstruktur yaitu wawancara perorangan pilihan yaitu orang
tertentu yang dapat dianggap mewakili kelompok masyarakat tertentu atau
wawancara kelompok tani/keluarga petani. Kemudian dilanjutkan dengan
pengumpulan data sekunder melalui bpp, dinas pertanian dan instansi lainnya
yang sesuai kebutuhan.

B. Pengumpulan Data Primer


Pengumpulan data Primer Potensi wilayah dilakukan dengan metode PRA
melalui Analisis Visualisasi Lapangan dan Pencatatan hasil Wawancara. Secara
visual lapangan yang dilakukan oleh PPL di masing-masing wilayah kerjanya,
pengamatan kebun yang disurvei mencakup pengamatan dan gambaran
lingkungan kebun (pengambilan gambar lapangan dengan handycam/kamera
digital), arbitrasi (lokasi dan jarak tempuh), kondisi fisik lahan (topografi,
landscape, slope/kontur, struktur tanah,), vegetasi (tanaman budidaya, pelindung,
sosialisasi tanaman, cara kultivasi), ketinggian dari permukaan laut (altitude),
posisi kebun dan sistem pengairan (tata air tanah, ketersediaan air, jarak dan
kuantitas).
Data Primer Monografi dan Potensi Wilayah Agroekosistem yang di peroleh
pada Desa Sijungkang dituangkan dalam bentuk : 1) Pembuatan Peta
Sumberdaya, 2) Bagan Transek, 3) Kalender Musim, 4) Diagram Venn, 5)
Pringkat Masalah, 6) Bagan Mobilitas, 7) Bagan Kecenderungan Perubahan, 8)
Pola Harian, 9) Sketsa Lahan, 10) Sejarah Desa, 11) Diagram Alur dan 12) Data.

13
1. Peta Sumber Daya

Gambar 1. Peta Sumber Daya


Salah satu instrument PRA yang pertama yaitu peta sumber daya dimana
dalam pembuatan peta sumber daya desa melibatkan petani, ketua kelompok tani,
perangkat desa, dan penyuluh.Manfaat penyusunan peta sumber daya bagi
masyarakat desa adalah merenungkan keadaan desanya dan termotivasi untuk
merencanakan arah perubahan dan pembangunan desa. Sedangkan bagi
masyarakat luar desa dapat mengetahui gambaran keadaan wilayah, masalah, dan
sumber daya alam.
Berdasarkan peta sumberdaya dari Desa Sijungkang diatas dapat diketahui
beberapa kawasan yaitu kawasan perkebunan dan sekolah. Diketahui juga bahwa
Desa Sijungkang memiliki Jalan, Sungai, Kantor Kepala Desa, Fasilitas
Kesehatan, Sekolah Dasar, dan Masjid.

2. Bagan Transek
Pembuatan peta transek dengan teknik menelusuri wilayah Desa dengan
cara memotong Desa secara horizontal dan melihat serta mencatat potensi yang
ada dan tersedia sewaktu melewati jalan tersebut. Dalam penelusuran desa
Perdanden membuktikan bahwa keluarga petani dalam penggunaan lahan untuk
berusaha tani yang paling banyak diusahakan adalah tanaman Perkebunan.
Sebelum membuatnya dalam bentuk gambar kami melakukan observasi atau

14
penelusuran desa. Dalam observasi kami melakukannya dengan berjalan dari
ujung utara sampai ujung selatan desa. Berikut gambar Transek desa Sijungkang

Ladang, Sawah Sawah Peternakan


Penggunaan Lahan Perkebunan Perkebunan, Ladang
Pemukiman Pemukiman
Ketinggian >50 mdpl 50 mdpl
Padi
Padi
Jagung
Jagung
Kacang Tanah
Sayuran
Ubi kayu
Sapi
Vegetasi Sayuran
Kambing
Tanaman perkebunan
Hak Milik Milik Sendiri Milik Sendiri
Pangan Pangan
Pendapatan Tempat Tinggal
Perkantoran Pendapatan
Pemanfaatan Gedung Sekolah Rumah Ibadah
Tempat Tinggal Perkantoran
Tanaman Pangan, Perkebunan Tanaman Pangan Hortikultura
Potensi
dan Hortikultura Tanaman Perkebunan
Pemeberdayaan Poktan/
Gapoktan Pengunaan benih unggul
Pengadaan Kios Saprodi Modal
Masalah
Produksi Rendah Saprodi
Pengendalian hama dan Alsintan
penyakit

3. Kalender Musim
Setelah melakukan wawancara beberapa petani, maka dihasilkan data
berkaitan dengan kalender musim usahatani. Kalender musim usahatani dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel. 1 Kalender Musim
Bulan
Jenis Tanamam S 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Padi Sawah
Padi Gogo
Kopi
Karet
Kedelai
Jagung

15
Cabai
Tomat

Kalender musim adalah suatu teknik PRA yang dipergunakan untuk


mengetahui kegiatan utama, masalah dan kesempatan dalam siklus tahunan dan
juga memfasilitasi pengkajian kegiatan dan kejadian yang terjadi berulang dalam
satu kurun waktu tertentu (musiman) dalam kehidupan masyarakat.

4. Diagram Venn
Diagram Venn merupakan hubungan kelembagaan antara masyarakat
dengan sarana prasarana dan fasilitas yang ada di sekitar masyarakat desa
menggambarkan hubungan kedekatan maupun hubungan keterlibatan/peran serta.
Bagan Hubungan Kelembagaan/ Diagram Venn disajikan dibawah ini.

GAPOKTAN
PETANI Poktan

PPL
PESANTREN

KIOS SAPRODI MASYARAKAT POSYANDU

PERANGKAT dan PKK


KESEHATAN

BUM DES
PENDIDIKAN

KEPALA DESA BPD

Gambar 2. Diagram Venn


Keterangan :
PPL : Petugas Penyuluh Lapangan
POSYANDU : Pos Pelayanan Terpadu
BPD : Badan Permusyawaratan Desa

16
Diagram venn di atas menunjukkan bahwasanya kelembagaan sangat jauh
dengan masyarakat sehingga sulit untuk dijangkau. Oleh sebab itu sangat di
harapkan perhatian dari pihak yang bersangkutan dengan usaha pertanian untuk
menyediakan lembaga-lembaga tersebut utamanya kios saprotan agar para petani
lebih mudah untuk mendapatkan pupuk dan kebutuhan usaha tani lainnya.
Pola pikir bahwa setiap pertemuan pasti membicarakan bantuan terbentuk
sudah cukup lama, dan hal ini sedikit mempersulit dalam hal melakukan kegiatan
PRA yaitu berkaitan dengan dana jika ingin mengumpulkan petani. Gambar
tersebut menunjukkan bahwa proses perekonomian di Desa Sijungkang didukung
juga beberapa lembaga terkait baik itu lembaga dari pemerintah dan non
pemerintah yang memberikan input dalam proses perekonomian masyarakat Desa
Sijungkang.
Lembaga-lembaga tersebut memiliki peran yang sangat mempengaruji
jalur kegiatan perekonomian masyarakat Desa Sijungkang dalam memberikan
informasi yang dapat mendukung atau menunjang kegiatan usaha agribisnis
masyarakat tani.Keberadaan penyuluh dirasakan sudah memberikan kontribusi
maksimal terhadap kehidupan masyarakat tani hanya saja perlu peran pemerintah
daerah dalam mendukung semua pemberdayaan yang ada. Selain itu faktor
penyebab hal tersebut dikarenakan tenaga penyuluh pertanian yang ada sangat
minim. Peranan penyuluh lebih mengarah pada kepentingan program dinas
kondisi hubungan antara lembaga yang tumbuh dan berkembang di masyarakat
Desa Sijungkang.

5. Peringkat Masalah
Peringkat masalah merupakan proses kegiatan mengkaji berat ringannya
masalah dan menyusun urutan sesuai kemampuan dan kondisi masyarakat. Hal ini
bertujuan untuk memilih dan menentukan secara tepat masalah yang dilakukan
dengan segera, mengetahui mendesak tidaknya suatu masalah bagi masyarakat
untuk segera dipecahkan diperoleh daftar urutan masalah untuk masukan
penyusunan perencanaan pembangunan dan menumbuhkan kesatuan pemahaman
tentang urutan masalah yang ada di desanya. Adapun peringkat masalah untuk
Desa Sijungkang dapat dilihat pada tabel berikut:

17
Tabel 2. Tabulasi Analisis Masalah Perilaku berdasarkan Score yang paling
tinggi
Masalah Jumlah
No Jenis Usaha Tani Jenis Masalah
G M P Skor
I. Tanaman Pangan (Padi, Jagung, Kedelai)
< 35 % yang menggunakan
1 Padi benih unggul dan berlabel 3 3 2 8

< 8 % yang menanam


2 Padi dengan system legowo 3 3 2 8

< 30 % yang melakukan


3 Padi pergiliran varietas 3 2 2 7

20 % yang memakai
4 Padi prinsip PHT 3 2 2 7

< 35 % yang menggunakan


5 Padi pupuk berimbang 2 2 2 6

< 50 % yang hemat


6 Padi pemakaian air 2 2 2 6

< 45 % yang memakai


7 Padi pupuk organik 1 2 1 4

II. Tanaman Perkebunan (Karet, Kopi)


30 % melakukan teknik
1 Karet, Kopi pemupukan sesuai 3 3 3 9
pedoman

40 % mengendalikan
2 Karet penyakit JAP 3 2 2 7

30 % melakukan
3 Kopi fermentasi buah 3 2 2 7

30 % petani kebun
4 Karet, Kopi menanam bibit 2 2 2 6
bersertifikat

45 % mengendalikan
5 Karet, Kopi PBKo 2 2 2 6

18
Tabel 3. Tabulasi Analisis Masalah Non Perilaku Berdasarkan Score Yang
Paling Tinggi
Masalah Jumlah
No Jenis Usaha Tani Jenis Masalah
G M P Skor
I. Sosial
Menjadi anggota < 75 % petani menjadi
1 Kelompok Tani anggota kelompok tani 3 3 2 8

Tujuan < 45 % petani memahami


2 berkelompok tani arti kelompok tani 3 3 2 8

Kerjasama Baru 40 % kelompok


3 Kelompok bekerja sama 3 2 2 7

30 % kelompok yang
4 Menyusun RUK 3 2 2 7
menyusun RUK

20 % membuat
Perencanaan Pola
5 perencanaan pola tanam 2 2 2 6
Usaha Tani
secara tertulis

< 50 % anggota poktan


Menjadi Anggota
6 yang menjadi anggota 2 2 2 6
Gapoktan
Gapoktan

II. Ekonomi
Hanya 10 % anggota
1 Iuran Kelompok poktan yang membayar 3 2 3 8
iuran

Tabungan Hanya 25 % poktan yang


2 Kelompok mempunyai tabungan 3 2 2 7

15 % Poktan menjalin
3 Modal Kerja kemitraan dengan pelaku 2 2 2 6
usaha

45 % pelaku utama
4 Harga Jual menjalin kerja sama 2 2 2 6
dalam pemasaran hasil

19
6. Bagan Mobilitas
Bagan mobilitas merupakan bagan untuk mengetahui hubungan
masyarakat antar perseorangan atau kelompok dengan luar lingkungannya.
Adapun bagan mobilitas Desa Sijungkang dapat disajikan pada bagan berikut.

- PPL
G - Penyuluhan - BPP
- Pelatihan - Ka.UPTD
A - SL-PTT - Dinas Pertanian
- Distributor Obat-obatan
P

O
Pengetahuan,Keterampilan dan Wawasan
K

T - Padi - Agen
- Kopi - Konsumen langsung
A - Karet - Pasar

Sarana Produksi

Gambar 3. Bagan Mobilitas

7. Bagan Kecenderungan
Pembuatan bagan dan kecenderungan dan perubahan dimaksudkan agar
petani dapat mengetahui dan mengikuti perubahan di sektor pertanian sehingga
dapat membuat perencanaan dan penetapan jenis usaha tani yang sesuai serta
dapat berkreasi dalam menghadapi masalah yang timbul akibat perubahan

20
tersebut.Bagan ini menjelaskan perkembangan mengenai berbagai macam jenis
usaha dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Bagan kecenderungan merupakan teknik PRAyang memfasilitasi
masyarakat dalam mengenali perubahan dan kecenderungan berbagai keadaan,
kejadian serta kegiatan masyarakat dari waktu ke waktu. Bagan kecenderungan
desa sijungkang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4. Bagan Kecenderungan


Jenis Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun Catatan
Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
Pertanian musiman bergeser
**** **** **** **** ****
Pertanian karena perkembangan
**** **** **** **** ***
Musiman teknologi pertanian dan
**** *** ** *
perubahan pola tanam
Buruh tani menjadi langka
**** **** **** ****
Buruh Tani **** karena bertambah peluang
**** *** ** *
usaha

**** ****** **** Meningkatnya pedagang


**** ****
Dagang **** ** **** karena semakin meningkat
**** ****
* * ** kebutuhan masyarakat
Pegawai **** **** **** ****
****
Swasta ** *** *** * Adanya peluang menjadi
Pegawai Negeri
Pegawai **** **** **** ****
****
Negeri * ** ** *

**** Bertambahnya jenis usaha


Wiraswast **** ****
** **** **** memunculkan wiraswasta
a ** ****
* berbagai jenis usaha
Semakin banyaknya
** **** **** **** **** pendatang yang berasal dari
Pendatang
* ** *** berbagai daerah karena
perkawinan

21
Tabel 4 menunjukkan bahwa, bagan kecenderungan dan perubahan Desa
Sijungkang di atas menggambarkan peningkatan kualitas hidup masyarakat desa.
Ditandai dengan beberapa indikator antara lain menurunnya jumlah buruh tani dan
meningkatnyapedagang karena semakin meningkat kebutuhan masyarakat. Karena
letak geografis yang strategis maka jumlah pendatang dari luar kecamatan dari
tahun ketahun cenderung meningkat yang berdampak pada peningkatan
kebutuhan pemukiman sehingga menyebabkan laju konversi lahan pertanian
menjadi pemukiman sedikit meningkat akan tetapi perubahan ini tidak
mempengaruhi lahan pertanian sebab masih luasnya lahan pertanian.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat ada yang
membawa pengaruh kearah lebih baik sebaliknya ada juga kearah yang tidak baik,
oleh karena itu dengan menganalisa bagan kecendrungan dan perubahan
masyarakat dapat mengatasi keadaan permasalahan dan mengantisipasi
perubahan-perubahan yang akan terjadi.Akhir- akhri ini lahan di Desa Sijungkang
mulai banyak beralih fungsi menjadi bangunan tempat tinggal tetap tidak terlalu
signifikan. Pada tahun- tahun sebelumnya tidak menunjukkan perubahan tetapi
pada tahun terakhir ada perubahan selain itu para pemuda enggan menjadi petani
dan cenderung menjadi pekerja swasta dan karyawan pabrik di kota dan banyak
yang meninggalkan kampung halaman.

8. Pola Harian
Pola harian merupakan suatu gambaran pola kegiatan keluarga, gambaran
peluang dalam pemanfaatan sumberdaya keluarga. Adapun pola harian kegiatan
keluarga Desa Sijungkang dapat disajikan pada gambar berikut.

22
Gambar 4. Pola Harian Keluarga
Catatan :
a. Gambar ini pada diskusi dengan masyarakat dibuat dalam 3 buah lingkaran
yang terpisah (bapak, ibu, dan anak)
b. Cara menentukan jenis kegiatan adalah dengan menjawab pertanyaan tentang
kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh bapak, ibu dan anak.
c. Cara menentukan jam dan jumlah jam kegiatan adalah : ”biasanya kegiatan
tersebut dilakukan pada jam berapa?” dan ”biasanya sampai jam berapa?’
d. Meskipun tidak setiap hari kegiatan yang dilakukan dan jumlah waktunya
sama, ambil jenis kegiatan yang paling umum & jumlah jam yang biasa
tersedia (perkiraan saja).
e. Jadwal sehari-hari keluarga petani akan sangat bergantung pada kalender
musim kegiatan pertanian : pada musim kerja kebun telah selesai, jadwal
kegiatan menjadi berbeda.

9. Diagram Alur
1. Padi
Panen Agen Pengumpul Kilang/Agen besar

Agen Pengumpul
2. Kopi
Panen Fermentasi Penjemuran Agen Pengumpul

3. Karet

23
Panen Agen Pengumpul Agen Besar

Gambar 5. Diagram Alur

C. Pengumpulan Data Sekunder


Desa Sijungkang merupakan salah satu desa dalam wilayah Kecamatan
Angkola Timur Kabupaten Tapanuli Selatan. Secara Administratif, memiliki batas
wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Sialaman Kecamatan Sipirok,
b. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Pargarutan Julu,
c. Sebelah Barat : Kampung Sikail-kail, dan
d. Sebelah Timur : Kampung Kantin.
Luas wilayah Desa Sijungkang adalah 217,5 ha dan ketinggian tempat ±
850 mdpl. Keadaan topografi Desa Sijungkang secara umum dengan porsi daratan
yang berkisar 70 % dan kemiringan 10 % ,
Sebagaimana wilayah tropis, Desa Sijungkang mengalami musim kemarau
dan musim penghujan dalam tiap tahunnya. Rata-rata perbandingan musim hujan
lebih besar daripada musim kemarau, hal itu disebabkan karena wilayah
pegunungan yang masih hijau dengan vegetasi serta relatif dekat dengan wilayah
hutan.

1. Keadaan penduduk
a. Jumlah Penduduk :
Tabel 5. Data kependudukan

Desa Jlh Jiwa Jumlah Status Pekerjaan (KK)


Lk Pr KK KKT Petani Buruh Pedagang Pengrajin PNS/ DLL
Tani TNI/
POLR
I
Sijungkan 445 401 20 186 186 - 10 - 10
g 6

24
Penduduk yang ada di Desa Sijungkang memiliki profil dan latar belakang
yang berbeda- beda diantara yang memiliki latar belakang sebagai petani ada 186
jiwa, sebagai pedagang ada 10 jiwa, sebagai PNS/TNI/POLRI ada 10 jiwa.
b. Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur :
Tabel 6. Data penduduk berdasarkan umur
Desa Status Pekerjaan (KK) Ket
1-5 6-15 16-25 26-35 36-50 > 50
Sijungkang 120 180 165 155 146 80
Di desa Sijungkang sendiri rata – rata umur masyarakat adalah 16 – 25
tahun. Hal ini berdasarkan data yang menunjukkan bahwa umur 16 – 25 tahun
lebih dominan dengan jumlah 165 orang. Disamping itu juga untuk umur 26 – 35
tahun menempati posisi urutan ke dua dengan jumlah 155 orang dan untuk posisi
terakhir yaitu ditempati oleh kaum lansia (lanjut usia) umur di atas 50 tahun
sebanyak 80 orang.
c. Tingkat Pendidikan :
Tabel 7. Tingkat pendidikan
Desa Status Pekerjaan (KK) Ket
Belum SD SLTP SLTA Perg. Buta
Sekolah Tinggi Huruf
Sijungkang 90 150 306 280 20 -
Tingkat pendidikan penduduk desa Sijungkang rata – rata adalah tamatan
SLTP. Dimana tamatan SLTP sebanyak 306 orang. Meskipun demikian masih
terdapat juga beberapa penduduk masyarakat desa Sijungkang yang melanjutkan
ke perguruan tinggi dengan jumlah sebanyak 20 orang.
Berdasarkan keberadaan/geografinya WKPP Sijungkang Desa Sijungkang
Kecamatan Angkola Timur dengan tingkat kemasaman 5-7. WKPP Sijungkang
termasuk iklim sedang dengan musim kemarau jatuh pada Januari-Agustus dan
musim hujan jatuh antara September-Desember yang mengarah ke Padang
Sidimpuan masuk pada Tife E.2 dan mengarah ke Kecamatan Sipirok masuk pada
Tife C.1 (Tife E.1 CH : 60-115 mm/tahun, Tife E.2 CM : 70-200 mm/tahun).
Tabel 8. Data curah hujan Kecamatan Angkola Timur
DATA CURAH HUJAN (TAHUN)

25
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Bulan CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH CH HH
Januari 73 10 139 15 248 16 193 16 90 9 171 13 149 16 406 16 105 17 313 17
Februari 58 8 44 5 232 15 222 13 240 17 222 18 45 4 75 9 195 14 184 7
Maret 186 19 218 13 139 13 179 16 137 12 201 16 146 13 171 13 102 11 260 9
April 118 15 240 12 72 11 137 12 262 15 125 15 124 18 273 6 184 12 197 7
Mei 95 8 21 4 73 7 85 14 49 11 122 11 190 8 200 16 332 17 246 8
Juni 137 11 22 5 34 9 14 5 75 8 79 8 27 6 115 11 95 6 95 4
Juli 104 11 15 3 33 8 13 3 144 7 45 3 25 8 121 10 183 6 35 2
Agustus 274 19 138 15 125 9 256 12 60 10 104 11 188 14 312 16 46 10 107 4
Septembe 97 14 43 6 94 13 205 15 89 10 94 9 169 16 116 10 47 13 170 6
r
Oktober 165 15 8 22 22 248 20 215 15 350 20 190 9 97 16 23 1
November 24 18 19 22 22 437 17 132 20 373 25 508 24 226 21 268 9
Desember 142 14 12 22 22 509 24 231 13 234 18 217 18 311 20 - -

Jlh CH 1473 880 1089 1370 2340 1741 212 2704 1923 1898
0
Jlh HH 162 78 101 17 160 152 166 158 16 74
2 3

2. Jumlah Lembaga
Tabel 9. Daftar Data Kelembagaan Ekonomi Petani
Jumlah BUUD/ BUUD diluar Bank Kios Lumbung
Desa KUD KUD Unit Saprodi Pangan
Jlh Unit Jlh Jlh UD Jlh Desa
Anggota Anggota
Sujungkang - - - - - - -
Sumber : Monografi Desa Sijungkang 2019
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa, Desa Sijungkang Kecamatan
Angkola Timur tidak mempunyai usaha mendukung dalam kegiatan pertanian
mereka.

3. Keadaan Komoditas Utama


Adapun produktifitas usaha Desa Sijungkang dapat ditampilkan melalui
tabel 10 berikut ini.
Tabel 10. Produktifitas Usaha Tani di Desa Sijungkang
No Sub-sektor/ Luas Luas Produksi Produksi

26
Komoditi tanam / Panen (faktual (Potensial
Pupulasi (Ha) Ton/Ha) ton/Ha)
(Ha)
1 Tanaman Pangan
Padi Sawah 228 228 1824 1800
2 Perkebunan
Karet 50 50 100 95
Kopi 48,5 48,5 145,5 140
Sumber : Monografi Desa Sijungkang 2019

4. Data Kelompok Tani


a. Kelompok Tani (POKTAN)
Kelompok tani merupakan kelembagaan pendukung yang memilki peran
sangat penting dalam rangka pencapaian tujuan – tujuan penyuluhan melalui tabel
berikut.
Tabel 11. Data Kelompok Tani
No. Nama Kelompok Nama Ketua Jumlah Jenis
Anggota Komoditi
1 Saba Napa Kaman Pohan 120 Tanaman
Pangan dan
keras
2 Padang Suluk Ahmad Jamil 120 Tanaman
Harahap Pangan dan
Keras
3 Tobat Godang Habibun Siregar 120 Pangan
4 Sapadan Sumardi Ritonga 120 Pangan
5 Saba Rimba Sofian Siregar 100 Pangan
6 Dosniroha Syarifuddin 100 Pangan
Harahap
7 Aman Sorok Munawir 100 Pangan
8 Seren Anton Siregar 120 Pangan
Sumber : Monografi Desa Sijungkang 2019
b. Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN)
Gabungan kelompok tani merupakan kumpulan dari semua kelompok tani
yang ada di sebuah desa, dan gabungan kelompok tani juga memliliki peran
sangat penting untuk mencapai tujuan penyuluhan. Data gabungan kelompok tani
di sajikan pada tabel berikut.
Tabel 12. Nama Gapoktan
Nama Nama Pengurus Tahun
Gapoktan Berdiri

27
Ketua Sekretaris Bendahara
Sepakat Kaman Kombang Bahar Munaf 2011
Pohan Pohan
Sumber : Monografi Desa Sijungkang 2019
Dari tabel di atas, Gapoktan yang ada di Desa Sijungkang memiliki 1
Gapoktan bernama Sepakat. Yang di ketuai oleh Kaman Pohan, Sekretaris
Kombang Pohan, dan bendahara Bahar Munaf. Gapoktan Sepakat berdiri pada
tahun 2011.
Di dalam kegiatan budidaya pertaniannya pelaku utama di Desa
Sijungkang menggunakan alat dan mesin pertanian, adapun data kepemilikan alat
dan mesin pertanian dapat di lihat pada tabel 10 sebagai berikut :
Tabel 13. Kepemilikan Alat dan Mesin Pertanian di Desa Sijungkang
Kecamatan Angkola Timur Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2020
No. Jenis dan Alat Mesin Pertanian Jumlah Keterangan
(Alsintan) (Unit)
1 Gilingan padi HULER 1
2 Handtractor 2
3 Mesin penggiling kopi 1
4 Mesin pengupas kopi 2
5 Mesin babat 10
6 Cangkul 190
7 Sabit 200
Jumlah 406
Sumber : Monografi Desa Sijungkang 2019
Alat pertanian yang tersedia di Desa Sijungkang adalah gilingan padi huler
sebanyak 1 unit, handtractor 2 unit, mesin pengiling kopi 1 unit, mesin pengupas
kopi 1 unit, mesin babat 10 unit, cangkul 190 unit dan sabit 200 unit sehingga
totalnya ada 406 unit. Dengan demikian petani Desa Sijungkang berharap ada
bantuan untuk alsintan tambahan supaya pada saat masa tanam serentak tidak ada
lagi yang tertinggal menanam.

28
.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Potensi dan Permasalahan Agribisnis, desa Sijungkang termasuk kedalam
lingkup Kecamatan Angkola Timur, yang memiliki sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia yang cukup potensial dalam pertanian khususnya
budidaya kopi, karet dan padi. Desa Sijungkang memiliki jenis tanah
dengan tingkat kesuburan yang baik. Sehingga berpotensi bagi masyarakat

29
untuk menanam tanaman pangan seperti padi baik, kopi dan karet. Sektor
pertanian desa Sijungkang memiliki potensi komoditi unggulan berupa
padi, kopi dan karet.
2. Komoditas Agribisnis Unggulan untuk kopi, karet dan padi merupakan
komoditas unggulan Desa Sijungkang dengan rata-rata produktifitas/hasil
panen mencapai 6-7,5 ton/hektar untuk padi, rata-rata produktifitas/hasil
panen mencapai 2 ton/hektar untuk karet, dan rata-rata produktifitas/hasil
panen mencapai 3 ton/hektar untuk kopi. Selain itu jagung merupakan
tanaman palawija potensial di desa Sijungkang.

B. Saran
1. Sebaiknya Pendampingan penyuluh yang lebih intensif agar kelompok tani
atau gapoktan yang di bina lebih terstruktur dan terarah.
2. sebelum mahasiswa diterjunkan ke lapangan agar di beri pembekalan yang
matang agar mahasiswa lebih mengerti dan memaknai segala kegiatan
yang berkaitan dengan PKL, baik dalam pelaksanaan kegiatan dilapangan
maupun dalam penulisan laporan. Hal ini terkait tentang pemahaman
mahasiswa terhadap modul atau panduan PKL yang diberikan ada
perbedaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2000. Modul Diklat Dasar Penyuluh Pertanian Terampil. Badan


Pengembangan SDM Departemen Pertanian.

Anonim. 2004. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia. http://www.jurnal -


sdm.blogspot.com (diakses 2 Maret 2020)

Data BPS. Tapanuli Selatan Dalam Angka Tahun 2013.

Sugarda. 2001. Penyuluhan Pertanian. Yayasan Pengembangan Sinartani. Jakarta.

30
UU. No.16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan Dan
Kehutanan.

Yahmadi, Mudrig, 2007. Rangkaian Perkembangan dan Permasalahan Budidaya


dan Pengolahan Kopi di Indonesia. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia.
Jawa Timur.

31

Anda mungkin juga menyukai