0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan23 halaman

Makalah Wacana 1

Makalah ini membahas tentang pengertian dan jenis-jenis wacana. Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang lebih kompleks dari kalimat. Ada beberapa jenis wacana berdasarkan bentuk dan ujaran, media penyampaiannya, jumlah penutur, isi, gaya dan tujuan, sifat, serta bentuk.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan23 halaman

Makalah Wacana 1

Makalah ini membahas tentang pengertian dan jenis-jenis wacana. Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang lebih kompleks dari kalimat. Ada beberapa jenis wacana berdasarkan bentuk dan ujaran, media penyampaiannya, jumlah penutur, isi, gaya dan tujuan, sifat, serta bentuk.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH MATA KULIAH

WACANA
“JENIS-JENIS WACANA”

KELOMPOK I
1. DESTI PITRI
NIM: 211000488201014
2. PRAMITHA SALSABILA ZAHRA
NIM: 211000488201012
3. UCI KURSIAH
NIM: 211000488201001

DOSEN PENGAMPU:
Dr. REDO ANDI MARTA, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN|
UNIVERSITAS MAHAPUTRA MUHAMMAD YAMIN
SOLOK
2024
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT


yang telah memberikan kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan
tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah
curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Wacana
dengan judul “Jenis-jenis Wacana”. Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di
dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk
makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.
Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf
yang sebesar-besarnya.

Solok, April 2024

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR .................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan........................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 2
A. Pengertian Wacana........................................................................................ 2
B. Jenis-Jenis Wacana ...................................................................................... 3
BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 19
A. Kesimpulan ................................................................................................... 19
B. Saran ............................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam praktek berbahasa ternyata kalimat bukanlah satuan sintaksis terbesar
seperti banyak diduga atau diperhitungkan orang selama ini. Kalimat atau kalimat-
kalimat ternyata hanyalah unsur pembentuk satuan bahasa yang lebih besar yang
disebut wacana (discourse) bukti bahwa kalimat bukan satuan terbesar dalam sintaksis,
banyak kita jumpai kalimat yang jika kita pisahkan dari kalimat-kalimat yang ada
disekitarnya, maka kalimat itu menjadi satuan yang tidak mandiri. Kalimat-kalimat itu
tidak mempunyai makna dalam kesendiriannya. Mereka baru mempunyai makna bila
berada dalam konteks dengan kalimat-kalimat yang berada disekitarnya.

Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan.
Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak
asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan,
kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata
yang digunakan tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih
besar dari kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga
banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi,
politik, komunikasi, sastra dan sebagainya. Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka
dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh yang
bisa dipahami oleh pembaca (wacana tulis) atau pendengar (wacana lisan), tanpa
keraguan apapun. Sebagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, berarti wacana itu
dibentuk dari kalimat atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, dan
persyaratan kewacanaan lainnya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian wacana?


2. Apa saja jenis-jenis wacana?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian wacana.


2. Untuk mengetahui jenis-jenis wacana.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Wacana

Setiawati (2019:4) mengemukakan wacana merupakan salah satu kajian dalam


ilmu linguistik yang ditetapkan dalam kajian tersendiri. Istilah wacana diartikan sebagai
satuan bahasa terlengkap dalam hirarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana
merupakan peristiwa yang terstruktur diwujudkan di dalam perilaku lingutik. Wacana
memiliki bentuk dan proposisi yang berkesinambungan, serta memiliki awalan dan
akhiran yang jelas. Wacana disampaikan secara lisan maupun tulis.

Wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap wacana merupakan satuan


gramatikal tertinggi atau terbesar, wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan
yang utuh (buku, novel, seri ensiklopedia, dan sebaginya). Paragraf kalimat atau kata
yang membawa amanat yang lengkap. Wacana memiliki keragaman definisi.
Keragaman ini muncul karena wacana digunakan pada banyak disiplin ilmu sehingga
diartikan sesuai dengan disiplin ilmu yang melingkupinya. Dalam lingkup linguistik,
beberapa ahli mengaitkan wacana dengan cabang-cabang linguistik, yang di dalamnya
mencakup berbagai displin ilmu bahasa. Menurut Darma dalam Ratnaningsih (2019: 9)
mendefinisikan wacana sebagai tataran tertinggi, terbesar, dan terlengkap karena di
dalam wacana terdapat unsur-unsur linguistik yang cukup kompleks seperti fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik, dan ditunjang oleh situasi pemakaian dalam masyarakat.

Wacana dalam bahasa Inggris disebut discourse. Secara bahasa, wacana berasal
dari bahasa Sansekerta “wac, wak, vak” yang artinya “berkata, berucap” kemudian kata
tersebut mengalami perubahan menjadi wacana. Kata “ana” yang berada di belakang
adalah bentuk sufiks (akhiran) yang bermakna “membendakan”. Dengan demikian, kata
wacana dapat diartikan sebagai perkataaan atau tuturan. Menurut kamus bahasa
kontemporer, kata wacana itu mempunyai tiga arti. Pertama, percakapan; ucapan;
tuturan. Kedua, keseluruhan cakapan yang merupakan satu kesatuan. Ketiga, satuan
bahasa terbesar yang realisasinya merupakan bentuk karangan yang utuh, Panggabean
(2020: 5)

Jadi dapat penulis simpulkan wacana adalah produksi bahasa (lebih kompleks)
karena berada di atas kalimat atau klausa. Wacana juga dilengkapi dengan unsur
koherensi dan kohesi yang berkesinambungan. Selain kaitannya dengan linguistik dan

2
3

cabang-cabang di dalamnya, wacana juga sangat terkait dengan masyarakat


pemakainya. Wacana dipandang sebagai hasil produksi bahasa oleh seorang pengguna
bahasa. Wacana memiliki kaitan yang erat dengan bahasa pemakainya. Wacana adalah
proses komunikasi yang menggunakan simbol-simbol, dan berkaitan dengan intepretasi
atas peristiwa-peristiwa di dalam sistem kemasyarakatan yang luas. Hal ini
menunjukkan bahwa wacana adalah bagian yang tidak terlepas dari tujuan berbahasa,
yaitu melakukan komunikasi.

B. Jenis-jenis Wacana

Bawamenewi (2023:3) mengatakan bahwa klasifikasi atau pembagian wacana


sangat tergantung pada aspek dan sudut pandang yang digunakan, wacana dipilah atas
dasar beberapa segi, yaitu; (1) bentuk dan ujaran, (2) media penyampaiannya, (3)
jumlah penutur, (4) isi, (5) gaya dan tujuan, (6) sifat, dan (7) bentuk. Klasifikasi wacana
diperlukan untuk memahami, mengurai dan menganalisis wacana secara tepat.

1. Berdasarkan Bentuk dan Ujaran

a) Wacana Deskripsi

Wacana deskripsi adalah wacana yang berusaha menyajikan


suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-
olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca
melihat sendiri objek itu. Deskripsi memberi suatu citra mental
mengenal sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang atau
sensasi. Contoh wacana deskripsi.

Pantai Sorake

Di Pulau Nias, Pantai Sorake berada tepat di seberang Samudera


Indonesia. Pantai ini memiliki ombak yang bagus karenanya, dan pada
bulan-bulan tertentu, seperti April hingga September, tingginya bahkan
bisa mencapai 15 meter. Saat bulan purnama tiba, segalanya menjadi
lebih sulit. Ombak bisa bergulung sampai ke pantai dan membuat 11
gelombang sebelum pecah. Selain itu, ombaknya memiliki lima
tingkatan, memungkinkan peselancar beraksi dengan berbagai cara.
4

Selain itu, tidak ada jeda waktu antar ombak di Pantai Sorake,
menjadikannya tujuan selancar yang bagus.

b) Wacana Eksposisi

Wacana eskposisi adalah wacana yang berusaha menguraikan


suatu objek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan
pembaca. Wacana ini digunakan untuk menjelaskan wujud dan hakekat
suatu objek. Contoh wacana eksposisi adalah:

Kuda laut adalah hewan yang berkembang biak dengan cara


kehamilan pada si jantan. Dari situ, kuda laut jantang memiliki kantung
pengeraman yang disebut dengan brood pouch yang terdapat pada
perutnya. Pasangan kuda laut adalah pasangan sehidup semati. Apabila
pada hewan lain terjadi transfer sperma dari jantan ke betina, maka pada
kuda laut malah sebaliknya. Kuda laut betina akan mentransfer sel
telurnya ke kantong pengeraman kuda laut jantan hingga telur tersebut
menetas. Kuda laut biasanya bisa mencapai tingkat dewasa pada usia 7
bulan.

c) Wacana Argumentasi

Wacana argumetasi adalah wacana yang berusaha membuktikan


suatu kebenaran. Lebih jauh sebuah argumentasi berusaha
mempengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat orang lain untuk
menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti-bukti objek yang
diargumentasikan itu. Argumentasi dapat dilihat dari sudut proses
berfikir adalah suatu Tindakan untuk membentuk penalaran dan
menurunkan kesimpulan serta menerapkannya pada suatu kasus dalam
perdebatan. Contoh wacana argumentasi adalah:

Agama Islam adalah salah satu agama yang tersebar di Indonesia


sejak masa penjajahan Indonesia. Pada jaman ini Agama Islam adalah
agama yang mendominasi warga Negara Indonesia ini. Yang memiliki
pengikut lebih dari 80 persen penduduk yang ada di Indonesia. Agama
islam masuk di Indonesia melalui para pedagang dari timur tengah.
Sambil berdagang mereka menyebarkan agama islam, karena keramahan
5

mereka. Tidak sedikit bangsa Indonesia yang tertarik untuk belajar


tentang agama islam.

Selain keramahan yang diberikan para pedagang kepada bangsa


Indonesia, agama islam juga terbukti sebagai agama yang benar. Hal itu
dapat dibuktikan, oleh kitab panutan umat islam yaitu Al-quran dan
Sunnah. Karena sejak ratusan tahun lalu, kedua pedoman umat islam ini
mampu menggambarkan kehidupan masa depan. Dan itu hanyalah salah
satu bukti bahwa agama islam adalah agama yang benar.

d) Wacana Persuasi

Wacana persuasi adalah suatu bentuk wacana yang merupakan


penyimpangan dari argumentasi, dan khusus berusaha mempengaruhi
orang lain atau para pembaca, agar para pendengar atau pembaca
melakukan sesuatu bagi orang yang mengadakan persuasi, walaupun
ynag dipersuasi sebenarnya tidak terlalu percaya akan apa yang
dikatakan itu. Karena itu persuasi condong menggunakan atau
memanfaatkan aspek-aspek psikologis untuk mempengaruhi orang lain.
Contoh wacana persuasi antara lain:

Teh hijau menyehatkan, mampu menetralkan racun-racun jahat


yang bersarang di usus anda. Dengan rutin meminum teh hijau ini, maka
usus anda bisa terbebas dari racun-racun akibat konsumsi bahan kimia
yang bersarang di usus anda.

e) Wacana Narasi

Wacana narasi adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan


suatu peristiwa atau kejadian, sehingga peristiwa itu tampak seolah-olah
di alami sendiri oleh para pembaca. Narasi menyajikan peristiwa dalam
suatu rangkaian peristiwa kecil yang bertalian. Ia mengisahkan sebuah
atau suatu kelompok aksi sedemikian rupa untuk menghasilkan sesuatu
yang secara popular disebut ceritera. Contoh wacana narasi sebagai
berikut:
6

Ulang Tahun Angelo

Hari ini menjadi hari yang tak terlupakan untuk Angelo, karena
ia mendapat kejutan dari teman- teman sekelasnya. Sebelumnya ia sudah
mulai curiga akan tingkah laku yang aneh dari temana- teman sekelasnya
kepadanya. Benar saja, saat pulang sekolah tiba, teman teman Angelo
memberikan kejutan berupa kue ulang tahun dan taburan tepung di
badannya. Selain kue yang didapat dari teman temanya Angelo pun
mendapat beberap hadia dan kartu ucapan dari sahabat-sahabat yang ia
sayangi.

2. Berdasrkan Media Penyampaiannya

Menurut Kanzunnudin (2016:136) media yang digunakan sebagai sarana


untuk mengungkapkan wacana di bagi menjadi dua jenis yaitu:

a) Wacana Tulis

Wacana tulis (written discourse) adalah jenis wacana yang


disampaikan melalui tulisan. Sampai saat ini tulisan merupakan media
yang sangat efektif dan efisien untuk menyampaikan berbagai gagasan,
wawasan, ilmu pengetahuan ataupun yang dapat mewakili kreativitas
individu.

b) Wacana Lisan

Wacana lisan (spoken discourse) adalah jenis wacana yang


disampaikan secara lisan dengan bahasa verbal. Wacana ini disebut
sebagai tuturan (speech) atau ujaran (utterance). Adanya kenyataan
bahwa pada dasarnya bahasa pertama kali lahir melalui mulut atau lisan.

3. Berdasarkan Jumlah Penutur

a) Wacana Monolog

Wacana monolog adalah jenis wacana yang dituturkan oleh satu


orang. Penuturannya bersifat satu arah, yaitu dari pihak penutur. Bentuk
wacana monolog antara lain adalah pidato, pembacaan puisi, pembacaan
berita, dan sebagainya. Contoh wacana monolog antara lain:
7

Bersihkan sekolah

Ada seorang siswa yang termenung di bangku depan sekolah.


Sambil memandangi lingkungan sekolah, ia pun berbicara
sendiri"Bagaimana sekolahku bisa maju? sedangkan lingkungan
sekolahku saja belum terawat sepenuhnya? apa yang harus aku
lakukan?" Siswa itu pun berpikir sejenak."Ah, aku sudah tau caranya.
Aku akan menemui guruku untuk mengajaknya musyawarah agar bisa
membersihkan lingkungan sekolah? Mungkin sekolah ini bisa
mengadakan kegiatan jumat bersih."

b) Wacana Dialog

Wacana dialog adalah jenis wacana yang dituturkan oleh dua


orang atau lebih. Wacana ini bisa berbentuk tulisan atau lisan. bentuk
wacana dialog antara lain dialog ketoprak, lawakan dan sebagainya.
Contoh wacana dialog antara lain:

Ayu: “Menurutmu, seberapa penting pendidikan?”

Ani: “Menurutku, pendidikan sangat penting karena dengan


pendidikan manusia bisa paham tentang berbagai ilmu.”

Ayu: “Benar sekali. Setelah aku lulus SMA, aku juga ingin
melanjutkan pendidikanku sampai S3. Semoga terwujud.”

Ani: “Aku juga ingin melanjutkan hingga S3. Namun, akan lebih
baik jika kita sama-sama belajar dari semua tempat yang kita temui.”

Ayu: “Benar. Kita bisa belajar dari mana saja. Dengan demikian,
kita bisa tahu banyak ilmu dan kita juga bisa lebih tahu cara
membedakan ilmu yang baik dan buruk

4. Berdasarkan isi

a) Wacana Politik

Wacana politik adalah jenis wacana yang berkaitan dengan


lingkungan politik. Yang melahirkan istilah-istilah dan organ politik
8

yang maknanya lebih dipahami oleh penghuni lingkungan. Contoh


wacana politik sebagai berikut:

Ketika dunia reformasi (pembangunan kembali segala aspek


kehidupan bangsa) dirasakan berhenti, banyak pihak kembali berteriak
dan berkeluh. Dari sinilah lahir misalnya wacana Reformasi mati suri.
Maknanya, hal yang diperjuangkan dalam gerakan reformasi tidak lagi
bergerak, alias mati suri. Akibatnya, penyakit bangsa seperti KKN
(korupsi, kolusi, nepotisme) kembali merajalela. Harga-harga bahan
pokok (sembako) tetapi liar, tidak terkontrol kesengsaraan pun tetap
menjadi hidangan sehari-hari rakyat kecil.

b) Wacana Sosial

Wacana sosial adalah jenis wacana yang berkaitan dengan


kehidupan sehari-hari dan sosial masyarakat. Sulit untuk mendefenisikan
masalah yang khas. Sebagian kecil dari masalah sosial tersebut antara
lain masalah pangan, perumahan, tanah, perkawinan, kematian dan lain-
lain. Contoh wacana sosial sebagai berikut:

Persoalan tanah menjadi salah satu persoalan hidup yang utama,


serius, dan sensitif karena persoalan tanah mudah menimbulkan konflik
sosial dan bisa melibatkan lembaga atau institusi. Secara hukum formal,
setatus tanah sebagai atas hak pakai (HP), hak guna bangunan (HGB)
dan hak milik (HM). Bahkan, akhir-akhir ini ada yang menurut adanya
setatus tanah, sebagai hak menetap, tanah rakyat, tahan warisan Tuhan,
dan tanah untuk hak tinggal seumur hidup.

c) Wacana Ekonomi

Wacana ekonomi adalah jenis wacana yang berkaitan dengan


persoalan ekonomi. Ada beberapa daftar dalam wacana ekonomi yang
hanya dikenal dalam bidang bisnis dan ekonomi. Contoh register
ekonomi mencakup istilah seperti “persaingan pasar”, “biaya produksi
tinggi”, “kalangan bahan makanan pokok”, “konsumen dituntut”,
“inflasi”, “devaluasi”, “harga saham gabungan”, “pencucian uang”, dan
yang lain. Contoh wacana ekonomi antara lain:
9

Upaya Pemerintah untuk melakukan kembali kemabil surat utang


negara (buy back SUN) lebih dari Rp 1 triliun pada setiap jatuh tempo
SUN bertujuan untuk mengurangi beban pembayaran pokok utang pada
tahun-tahun yang memiliki jatuh tempo besar.

d) Wacana Kreativitas

Wacana kreativitas adalah jenis wacana yang berkaitan dengan


aktivitas kebudayaan dan wacana ini lebih dimaknai sebagai wilayah
kebiasaan atau tradisi, adat, sikap hidup, kebahasaan, dan hal-hal yang
berkaitan dengan kehidupan. Bentuk-bentuk dan kebiasaan itu sebagai
representasu ativitas yang kemudian disebut sebagai wacana budaya.
Contoh wacana kreativitas antara lain:

Om Swastyastu,

Ibu Guru sane banget baktinin titiang, sareng para semeton


sareng samisane banget sihin titiang. Sadurung titiang matur amatra,
ngiring sareng-sarengnyihnayang rasa pangayubagia majeng ring Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, sangkaning asung kerta wara nugraha ida,
iraga sareng sami iriki prasidanglaksanayang pujaning Saraswati ring
rahina mangkin.

e) Wacana di Militer

Wacana di militer selama ini wacana militer hanya dimanfaatkan


dan dikembangkan dalam konteks militer. Komunikasi dalam bidang
militer biasanya menggunakan istilah yang hanya dikenal dikalangan
militer. Istlah itu biasanya berupa singkatan atau akronim. Contoh
wacana militer antara lain: KORAMIL (Komando Rayon Militer),
WAMIL (Wajib Militer), LETJEN (Letnan Jenderal), DEPHANKAM
(Depertemen Pertahanan dan Keamanan).

f) Wacana Hukum dan Kejahatan

Wacana hukum dan kejahatan adalah tentang hukum dan


kejahatan, yang seperti dua sisi mata uang yang sama walaupun dapat
dipisahkan. Berbeda tetapi satu kesatuan. Dalam wacana hukum dan
10

kejahatan sering menggunakan kata istilah. Contoh wacana hukum dan


kejahatan sebagai berikut: tersangka, tim pembela, kasasi, vonis, hakim.

g) Wacana Olahraga dan Kesehatan

Wacana olahraga dikaitkan dengan diskusi tentang kesehatan.


Misalnya, frasa “joging 10 menit, diagnosis jantung ringan” mengacu
pada masalah kesehatan. Joging mengacu pada olahraga berdampak
rendah yang meningkatkan kesehatan. Contoh wacana olahraga dan
Kesehatan antara lain:

Sempat joging 10 menit, didiagnosis jantung ringan". Istilah


joging adalah aktivitas olahraga ringan yang berkaitan dengan kesehatan.
Oleh karena itu, munculnya istilah 'jantung ringan' pada bagian
berikutnya sama sekali bukan berarti berat jantung yang ringan (tidak
berat), tetapi jenis sakit jantung pada stadium awal (masih belum
mengkhawatirkan)

5. Berdasarkan Gaya dan Tujuan

Iklan adalah berita perintah (untuk mendorong, membujuk)


tentang barang atau jasa yang ditawarkan, iklan biasanya muncul di
media massa cetak atau elektronik. Bahasa yang digunakan dalam iklan
diposisikan secara strategis untuk mmebujuk atau membuat orang
tertarik dan membeli. Contoh wacana iklan antara lain:
11

6. Berdasarkan Sifat

Berdasarkan sifatnya, wacana dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a) Wacana fiksi

Wacana fiksi adalah jenis wacana yang bentuk dan isinya


berorientasi pada imajinasi dan bahasanya menganut aliran konotif,
analogis, dan multi interpretabble. Umumnya penampilan dan rasa
bahasanya dikemas secara literal atau estesis (indah) di samping itu tidak
menutup kemungkinan bahwa karya-karya fiksi mengandung fakta dan
bahkan hampir sama dengan kenyataan. Namun sebagaimana proses
kelahiran dan sifatnya, karya semacam ini tetap termasuk dalam kategori
fiktif. Bahasa yang digunakan wacana fiksi umumnya manganut azas
licentia puitica (kebebasan berpuisi) dan licentia gramatica (kebebasan
bergramatikal). Wacana fiksi dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
wacana prosa, wacana puisi, wacana drama.

a. Wacana Prosa

Wacana prosa adalah jenis wacana yang disampaikan atau


ditulis dalam bentuk prosa. Wacana ini dapat berbentuk tulis atau
lisan. Novel, cerita pendek, artikel, makalah, buku, laporan
penelitian, skripsi, tesis, disertai dan beberapa bentuk kertas kerja
dapat digolongkan sebagai wacana prosa. Contoh wacana prosa
sebagai berikut:

Peri dan Penebang Pohon

Di sebuah hutan, terdapat seorang penebang pohon


bernama arjit. Sehari-hari dia bekerja untuk menebang pohon,
tapi setelah ditebang, arjit menanam tunas pohon yang baru
sehingga pohon di hutan tetap terjaga.

Suatu hari, kapak arjit terjatuh di sungai, dia sangat panik,


sebab kapak itu adalah warisan dari ayahnya. Tiba-tiba datanglah
seorang peri bernama Peri Giaa, dia melihat Arjit sedang panik
lalu dia bertanya "Ada apa pak? kenapa kamu terlihat sedih?"
12

"Kapak warisan ayahku terjatuh di sungai! bagaimana aku bisa


menebang pohon lagi?" jawab Arjit sambil terisak.

Lalu, Peri Giaa memperlihat sebuah kapak berlian dan


bertanya "pak, apa ini kapakmu?" Arjit hanya menggelengkan
kepalanya. Kemudian Peri Giaa memperlihatkan sebuah kapak
emas dan bertanya lagi "apa ini kapakmu, pak?" "bukan, ini
bukan punyaku?" jawab Arjit. Sekali lagi Peri Giaa
memperlihatkan kapak tua dan usang, lalu bertanya "Pak, apa ini
punyamu?" dengan semangat Arjit menjawab "Ya, ini punyaku."

Lalu Peri Giaa memberikan ketiga kapak itu pada Arjit


sambil berkata "karena kamu jujur, akan aku berikan ketiga
kapak ini". "Wah, terima kasih Peri Giaa" ucap Arjit kegirangan.

b. Wacana Puisi

Wacana puisi adalah jenis wacana yang dituturkan atau


disampaikan dalam bentuk puisi. Wacana puisi dapat berbentuk
tulis atau lisan. Contoh wacana tulis misalnya syair, sedangkan
puisi dideklamasiakan dan lagu-lagu merpakan contoh jenis
wacana puisi lisan. Nafas bahasa yang digunakan dan isinya
berorientasi pada kualitas estetika (keindahan). Lagu, tembang
geguritan (jawa) dan sejenisnya merupakan contoh-contoh
wacana puisi. Perhatikan contoh wacana puisi pada sebait lagu
balada karya Ebiet G. Ade berikut ini.

Mari kita tunggu datangnya hujan


Duduk bersanding di pelataran
Sambil menjaga mwndung langit
Agar tak ingkar
Agar tak pergi lagi

Keindahan wacana diatas, anta lain terletak pada


penggunaan gaya bahasa personifikasi: mendung dan hujan
diibaratkan manusia. Diksi datang, ingkar dan pergi menjadi
13

mudah dipahami dan terkesan indah untuk menggambarkan


perilaku alam tersebut

c. Wacana Drama

Wacana drama adalah jenisa wacana yang disampaikan


dalam bentuk drama. Pola yang digunakan umumnya berbentuk
percakapan atau dialog. Oleh karena itu dalam wacana ini harus
ada pembicaraan dan pasangan bicara. Contoh wacana drama
sebagai berikut:

Beratnya Hidup Di Ibu Kota

Di pagi hari, Shinti dan Adi mengunjungi lokasi


perkampungan kumuh. Mereka membawa buku dan alat-alat
untuk mengajar anak-anak kampung di sana. Tujuannya, agar
mereka bisa membaca dan menulis sesuai dengan program
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mereka. Ketika sampai di
sana, Shinti pun bergegas untuk mendekati kerumunan ibu-ibu
yang sedang mencuci di pinggir sungai.

Shinti: "Assalamualaikum ibu-ibu.."

Ibu-ibu: "Waalaikumsalam neng"

Adi: "Bu, sesuai dengan apa yang sudah kita bicarakan


kemarin, kali ini saya dan Shinti datang ke sini untuk mengajari
anak-anak ibu belajar membaca dan menulis"

Titi: "Alaa mas mas..mbok biar anak-anak kerja dulu cari


rongsokan atau ngamen. Mereka juga harus makan, lumayan
hasilnya bisa buat tambah beli makan mereka juga"

Yaya: "Iya... toh bisa membaca dan menulis tidak


jaminan mereka bisa jadi orang yang kerja di kantoran... lebih
baik kerja begini"
14

Shinti: "Ibu-ibu, anak-anak itu berhak untuk bisa menulis


dan membaca"

Yaya: "Memangnya kalau bisa baca tulis bisa otomatis


kenyang? nggak perlu kerja cari duit?

Shinti dan Adi pun sontak saling berpandangan, karena


mereka berdua kaget dengan reaksi ibu-ibu di kampung tersebut.

Adi: "Memang... dengan bisa membaca dan menulis tidak


membuat anak merasa kenyang sekarang. Tapi dengan bisa baca
tulis itu akan membuat anak +anak ibu bisa memiliki kehidupan
yang lebih layak dan baik dari kehidupan ibu-ibu sekarang.

Shinta: "Mosok ibu-ibu mau anaknya jadi pemulung dan


pengemis juga nanti kalau sudah besar? Tidak kan?

Setelah mendengar pernyataan Adi dan Shinti, ibu-ibu


pun terdiam. Tak lama kemudian Ibu Yaya menghampiri mereka
setelah mendengar percakapan tadi.

Yaya: "Benar juga sih, apa yang dibilang mbak dan mas
nya tadi. Kalau bisa baca tulis mungkin anak kita nanti hidupnya
lebih enak. Nggak dibohongi orang terus. Biarlah anak-anak
kalian belajar. Toh tugas mencari uang kan sudah menjadi tugas
orang tua. Lagian, dengan menyuruh anak-anak bekerja sekarang,
tidak membuat kalian menjadi kaya kan?"

Ibu-ibu pun berubah pikiran, kemudian mereka berteriak


memanggil anak-anak yang akan belajar. Akhirnya, setelah anak-
anak sudah terkumpul semua, proses belajar mengajar pun
dimulai.

b) Wacana Nonfiksi

Wacana nonfiksi disebut juga wacana ilmiah. Jenis wacana ini


disampaikan dengan pola dan cara-cara ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bahasa yang digunakan bersifat
15

denotative, lugas, dan jelas. Aspek estetika bukan lagi menjadi tujuan
utama. Secara umum penyampaiannya tidak mengabaikan kaidah-
kaidah gramatika bahasa yang bersangkutan. Beberapa contoh wacana
nonfiksi antara lain laporan penelitian, buku materi perkuliahan,
petunjuk mengoperasikan pesawat terbang dan sebagainya. Contoh dari
wacana nonfiksi (berupa artikel):

Gelombang Tsunami terjadi karena daya dorong dan letupan


yang sangat kuat dari dasar laut, yang dipicu oleh gempa tektonik.
Letupan gempa itu kemudian menghasilkan badai dan gelombang pasang
yang dasyat. Berdasarkan catatan, bencana Tsunami di Amerika
beberapa tahun silam, pernah mencapai ketinggian hampir 27 meter.
Gerakan air pasang menyebar ke segala penjuru arah, termasuk menuju
daratan (pulau terdekat). Ketika gelombang pasang mendekati pantai,
ketinggian dan daya dorongnya semakin meningkat karena air laut
semakin dangkal di wilayah pantai. Itulah sebabnya, ketika mencapai
daratan, gelombang itu tidak mungkin ditahan lagi. Gempa berkekuatan
8,9 skala Richter yang terjadi di Indonesia itu, dianggap oleh para ahli
sebagai gempa dan bencana Tsunami yang paling dahsyat. Banyaknya
korban, berupa harta benda dan nyawa yang mencapai ratusan ribu orang
itu, antara lain disebabkan oleh: (1) tidak adanya peringatan dini, (2)
bangunan dan tempat tinggal tidak dirancang anti bencana.

7. Berdasarkan bentuk

1) Wacana naratif ialah bentuk wacana yang dipergunakan untuk


menceritakan suatu kisah. Contoh wacana naratif antara lain:

Masyarakat Indonesia sebagai pemakai bahasa Indonesia


dianjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Baik artinya sesuai dengan konteksnya. Orang harus selalu
berpikir, bagaimana sebaiknya menggunakan bahasa secara tepat
dan sesuai dengan situasi dan kondisi. Selain tepat, juga harus
benar. Artinya, bahasa yang kita ucapkan sebaiknya disampaikan
atau ditulis dengan pola dan aturan yang benar sesuai dengan
gramatika bahasa
16

2) Wacana prosedural ialah bentuk wacana yang dipergunakan


untuk memberikan petunjuk atau keterangan bagaimana sesuatu
harus dilakukan dan kalimat-kalimatnya berisi persyaratan atau
aturan tertentu agar tujuannya berhasil dengan baik. Contoh
wacana prosedural ialah:

Nasi Kuning

BAHAN: beras, beras ketan, santan kental, garam secukupnya,


lengkuas, serai, daun salam, kunyit parut dan peras airnya, air
jeruk nipis ½ sdm. PENDAMPING: ayam panggang, bumbu
rujak siap pakai, perkedel kentang, telur rebus, mentimun, tempe
kering, seledri, dan cabai merah besar.

CARA MEMBUAT: campur beras dengan beras ketan, cuci


bersih dan tiriskan. Rebus santan, tambahkan bumbu-bumbu
lainnya. Masak hingga mendidih. Kukus beras hingga setengah
matang. Angkatan dan masak dalam air rebusan santan. Ratakan,
kukus kembali hingga matang. Sajikan nasi kuning bersama
pendampinya.

3) Wacana ekspositori ialah bentuk wacana yang sifatnya


menjelaskan sesuatu secara informatif dan bahasa yang
digunakan cenderung denotatif dan rasional. Contoh wacana
ekspositori ialah:

CDMA merupakan salah satu teknologi yang digunakan


dalam sistem telekomunikasi. Beberapa operator seluler
sebelumnya pernah muncul, menggunakan teknologi AMPS,
misalnya Metrosel. Lahir pula operator GSM seperti Telkomsel
dan Indosat. Kini ada operator yang memanfaatkan CDMA.
Ketiganya sama-sama teknologi yang diimplementasikan dalam
penyediaan layanan komunikasi.

4) Wacana hortatori ialah bentuk wacana yang digunakan untuk


mempengaruhi pendengar atau pembaca agar tertarik dengan
17

pendapat yang dikemukakan. Contoh wacana hortatori antara


lain:

Saya menangis melihat jalannya pemerintahan. Banyak


pejabat yang tidak bisa dijadikan teladan. Bahkan, mereka
dengan terang-terangan berani memakan uang rakyat. Sudah
saatnya kita menjemput semangat baru bernama demokrasi.
Saudara- saudara sekalia, kalian tidak perlu takut, cemas atau
khawatir. Bersama saya, kita maju membuka lembaran baru.
Bekerja keras membagun Indonesia baru! Setuju?

5) Wacana dramatik ialah bentuk wacana yang berisi percakapan


antar penutur dan sebisa mungkin menghindari atau
meminimalkan sifat narasi di dalamnya. Contoh wacana
dramatik antara lain:

Ibu: Anakku, kamu sudah dewasa. Apalagi sekarang ini ibu


sudah tua.

Anak: maksud ibu?

Ibu: Ibu ingin segera punya cucu. Ibu ingin sekali menjadi nenek.
Kamu harus segera cari istri.

Anak: Saya kan belum punya pekerjaan tetap, bu, bagaimana


nanti saya menghidupi istri dan anak-anak saya?

Ibu: Tidak usah khawatir. Ibu ada tabungan yang cukup buat
kamu buka usaha. Tapi kamu harus pandai mencari tambahan
modal. Terima ini

Anak: Terimakasih, bu.

6) Wacana epistoleri ialah bentuk wacana yang dipergunakan


dalam surat-menyurat dan memiliki bentuk serta sistem tertentu
yang sudah menjadi aturannya. Seperti biasa wacana ini diawali
oleh Alinea pembuka, dilanjutkan bagian isi, dan diakhiri dengan
alinea penutup. Contoh wacana epistoleri antara lain:
18

Kepada istriku tercinta Retno Evi Widiastuti di rumah. seperti


biasanya suamimu

langsung kangen begitu menginjakan kaki di negeri orang. Tapi


aku sehat dan selamat sampai tujuan.

Oh iya, semester ini mungkin aku tidak bisa Pulang ke Indonesia.


Penelitianku makin sulit. Promotor terus mendorong supaya aku
cepat selesai. Sebenarnya badan dan pikiranku agak lelah juga.
Tapi aku bertekat tahun ini harus lulus!

Istriku, doakan aku suamimu dari jauh.

Terakhir salam dan cintaku untuk anak-anak kita, Vio dan Visna.
Bimbing mereka. Semoga Allah menyayangi kita semua.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan.
Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak
asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan,
kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata
yang digunakan tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih
besar dari kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan.

Kata wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa,
psikologi, sosiologi, politik, komunikasi, sastra dan sebagainya. Wacana merupakan
satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam
konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana
dapat berbentuk lisan atau tulis.

B. Saran

Dalam makalah ini, penulis telah memaparkan beberapa pembahasan


mengenai judul tersebut. Akan tetapi penulis menyadari akan banyaknya kekurangan
baik dalam penulisan maupun dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, kritik maupun
saran sangat diharapkan agar makalah ini menjadi lebih baik lagi. Harapan penulis
semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca maupun penulis pribadi.

19
DAFTAR PUSTAKA
Bawamenewi, dkk. 2023. Buku Ajar Kajian Analisis Wacana dan Pragmatik. Bali: CV.
Intelektual Manifes Media.

Kanzunnudin, Mohammad. 2016. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.


Yogyakarta: Magnum Pustaka.

Panggabean, Sarma. 2020. Pengantar Wacana. Medan: universitas HKBP Nommense.

Ratnaningsih, Dewi. 2019. Analisis Wacana Kritis Sebuah Teori dan Imlementasi.
Lampung Utara: Universitas Muhammadiyah Kotabumi.

Setiawati, Eti dan Roosi Rusmawati. 2019. Analisis Wacana. Malang: Universitas
Brawijaya Press.

20

Anda mungkin juga menyukai