Problematika dan Kebijakan Pendidikan Indonesia
Problematika dan Kebijakan Pendidikan Indonesia
Disusun oleh :
JOMBANG
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan atas kehadirat Allah Swt. yang telah
memberikan nikmat berupa kesehatan dan kesempatan, sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tidak lupa penulis
ucapkan terima kasih kepada Ibu Hidayatur Rohmah, S.Pd, M.Pd selaku
dosen pengampu yang telah membimbing kami dalam proses
pembelajaran mata kuliah Perbandingan Pendidikan juga teman-teman
yang telah yang telah berkontribusi dengan menyumbangkan pikiran
maupun materinya.
Penulisan makalah ini merupakan sebuah tugas dari dosen mata
kuliah. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah
wawasan dan pengetahuan pada mata kuliah Perbandingan Pendidikan
yang sedang dipelajari, agar kami semua menjadi mahasiswa yang
berguna bagi agama, bangsa dan negara. Dengan tersusunnya makalah ini
kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan, demi
kesempurnaan makalah ini kami sangat berharap perbaikan, kritik dan
saran yang sifatnya membangun apabila terdapat kesalahan. Demikian,
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi
saya sendiri umumnya para pembaca makalah ini.
Penyusun
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I 4
PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan Pembahasan 4
BAB II 5
PEMBAHASAN 5
BAB III 15
PENUTUP 15
A. Kesimpulan 13
B.
Saran......................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA 15
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan lembaga yang digunakan untuk
mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam peserta didik. Masa
depan suatu bangsa bergantung pada mutu sumber daya manusianya dan
kemampuan peserta didik dalam mengoleh pegetahuan yang telah
didapatkannya. Perubahan-perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia
menjadi pro dan kontra oleh sebagian pihak. Indonesia perlu memperbaiki
tatanan system pendidikan yang bersifat responsive terhadap perubahan
tuntutan zaman. Pendidikan di Indonesia harus segera diperbaiki guna
melahirkan para generasi yang mempunyai daya unggul sehingga bisa
bersaing dengan bangsa lain dan tidak tertinggal karena arus global. Oleh
karena itu kebijakan yang dibuat haruslah menggunakan system yang
sesuai dengan keadaan Indonesia
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang konsep pendidikan di indonesia?
2. Apa problematika dan kebijakan pendidikan di indonesia?
C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui latar belakang konsep pendidikan di indonesia
2. Menjelaskan problematika dan kebijakan pendidikan di
indonesia
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar belakang konsep pendidikan di Indonesia
Sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia tak lepas
dari sosok Ki Hadjar Dewantara yang kerap di kelas sebagai bapak
pendidikan. Pandangan dan pemikiran beliau yang menjadi pelopor
kemajuan pendidikan di Indonesia hingga kini. Ki Hadjar Dewantara
menilai sistem barat kurang tepat bagi pendidikan di Indonesia,
oleh sebab itu ia memunculkan sistem among, sebuah sistem yang
berbanding terbalik dengan sistem barat atau sistem Belanda pada
masa itu. Sistem among merupakan sistem pendidikan yang
bertujuan untuk menghasilkan manusia yang dapat mengatur
dirinya sendiri, manusia yang berdiri sendiri dalam merasa, berpikir,
dan bertindak, manusia yang berkepribadian dan berkarakter. Bila
menggunakan istilah sekarang adalah pendidikan dengan revolusi
mental.
Suparlan menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan
pendidikan yang seutuhnya, Ki Hadjar Dewantara mengajukan
konsep tri pusat pendidikan, yakni 1:
a. Pendidikan keluarga
Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa dalam sistem Taman
Siswa, Keluarga merupakan lingkup kecil yang menjadikan tempat
yang suci dan luhur, oleh sebab itu keluarga merupakan pusat
pendidikan yang mulia. Jika keluarga merupakan pusat pendidikan
maka orang tua harus bisamenjadi panutan atau guru sekaligus
pengajar yang memberikan kecerdasan pikiran dan ilmu
pengetahuan, serta menjadi teladan dalam kehidupan sosial.
1
Henricus Suparlan, “Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Sumbangannya Bagi
Pendidikan Indonesia”.Jurnal Filsafat. Vol. 25, Nomor 1. Hal 4.
5
Ki Hadjar Dewantara juga mengatakan bahwa hak mendidik anak,
dalam sifat, bentuk, isi, dan alirannya, pada dasarnya ada pada orang
tua bukan pada pihak lain. Pandangannya itu dasari oleh pandangan
bahwa dalam diri orang tua tergabung berbagai golongan baik itu
golongan kebangsaan, kerakyatan atau keagamaan dan golongan
itulah yang memiliki hak untuk menetapkan sifat, bentuk, isi, dan aliran
pendidikan untuk kepentingan anak-anak.2
b. Pendidikan dalam alam perguruan
Bagi Ki Hadjar Dewantara, selama sistem sekolah masih bertujuan
untuk pencarian dan pemberian ilmu pengetahuan dan kecerdasan
pikiran maka pengaruhnya tidak akan terlalu banyak. Apabila sekolah
dan keluarga berpisah maka pendidikan yang dihasilkan dalam ruang
keluarga akan selalu sia-sia, sebab pengaruh sekolah yang mengasah
intelektual yang sangat kuat. Ki Hadjar Dewantara mencontohkan pada
waktu itu, anak-anak harus mengasah inteleknya setiap hari kurang
lebih selama 8 jam. Oleh sebab itu sekolah tidak dapat berpisah
dengan kehidupan keluarga. Sekolah dan keluarga dapat saling
mengisi dan melengkapi agar dapat mencapai tujuan pendidikan3.
c. Pendidikan dalam alam pemuda
2
Ki Hadjar Dewantara,Masalah Kebudajaan . Jogjakarta: Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
1957.
3
Moch Tauchid, “Tugas Taman Siswa dalam Pembangunan Masyarakat Baru.”Pusara 1967, Djilid
XXVIII, No.7-8.
6
Yang melatar belakangi munculnya konsep ini ialah gaya hidup
pemuda yang mulai meniru gaya barat. Ki Hadjar Dewantara
menganggap hal tersebut dapat membahayakan generasi muda karena
ketidak sesuaian dengan pendidikan budi pekerti.
Beliau juga menjelaskan bahwa pergerakan pemuda merupakan
dukungan yang besar bagi pendidikan, baik yang menuju pada
kecerdasan jiwa maupun budi pekerti, serta yang menuju pada perilaku
sosial, maka dipandang perlu untuk menjadikan pergerakan pemuda
sebagai pusat pendidikan dan memasukkannya dalam rencana
pendidikan.
7
Apabila konsep ini diterapkan dimasa kini maka dapat menolong
generasi muda dalam menghadapi masalah moral yang ada di
Indonesia sekarang ini. 4
Dalam penerapam konsep Trilogi pendidikan yang di rumuskan oleh
Ki Hadjar Dewantara tersebut yakni yakni “ing garso sung tulodo, ing
madyo mangun karso, tutwuri handayani” merupakan wasiat luhur
yang patut diterapkan dalam mengembangkan karakter peserta didik
yang bermakna pemberian contoh, pembiasaan, wulang-wuruk , laku,
dan pengalaman lahir-batin5. Dalam penginplementasian konsep
tersebut dalam Indonesia yang dewasa ini tentu mendapat tantangan
tantangan. Hal itu disebabkan karena perubahan makna konsep
pendidikan yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman. Untuk
menghadai era globalisasi pendidikan dapat berperan sebagai
penyaring kebudayaan yang masuk di Indonesia dan menciptakan
generasi emas 20456.
Berbicara mengenai relevansi konsep pendidikan Ki Hadjar
Dewantara di era sekarang ini. Gagasan Ki Hajar Dewantara terkait
dengan teori jiwa merdeka yang tertera dalam buku karyanya bahwa
“hakikat dari tujuan pendidikan ialah memerdekakan hidup, dan
kehidupan anak baik lahir maupun batin”. Pada sistem among
mengandung makna bahwa pengajaran berarti mendidik anak menjadi
manusia merdeka hatinya, merdeka pikirannya, merdeka tenaganya”.
Sistem among inilah yang dijadikan landasan terbentuknya kebijakan
“Merdeka Belajar”. Antara konsep “merdeka belajar” yang dicetuskan
oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim memiliki kesamaan konsep
4
Moch Tauchid, Soeratman, Sajoga, Ratih S. Lahade, Soendoro, Abdurrachman Surjoamihardjo.
Karya K.H. Dewantara, Bagian Pertama: Pendidikan . Jogjakarta: Madjelis Luhur Persatuan Taman
Siswa. 196
5
Sukri, Handayani, Tinus, “Analisis Konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Perspektif
Pendidikan Karakter ”, Vol. 1, No. 1, (2016), Hal. 38.
6
Sigit Vebrianto Susilo, “Refleksi Nilai-nilai Pendidikan Ki Hajara Dewantara dalam Upaya Upaya
Mengembalikan Jati Diri Pendidikan Indonesia ”, Jurnal Cakrawala Pendas, Vol.4, No.1, (2018), Hal.
35-36.
8
pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, yakni keduanya
sama-sama menekankan adanya kemerdekaan dan keleluasaan
lembaga.7
Kebijakan pendidikan terdiri dari dua suku kata yakni kebijakan dan
pendidikan. Menurut Indonesia (KBBI) bahwa kebijakan dapat dimaknai
seperti sebuah kemahiran, kepandaian, kebijaksanaan, yang dipandang
juga menjadi serangkaian konsep beserta asas yang mendasari
rencana dalam melaksanakan suatu kepemimpinan, suatu pekerjaan,
dan cara bertindak dari seorang pemerintahan, organisasi dan menjadi
pedoman dalam melakukan manajemen untuk mencapai suatu target
sasaran. Beberapa pakar lain menjelaskan bahwa kebijakan ialah suatu
irisan perencanaaan yang menyiapkan seprangkat keputusan entah itu
yang berkaitan dengan tenaga, pendanaan, serta waktu guna mencapai
suatu tujuan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintahan, kelompok,
pejabat maupun sekelompok aktor pada bidang-bidang tertentu. Sifat
dari kebijakan sendiri ialah solusi (problem solving) dan juga proaktif.
Selain itu kebijakan juga memiliki sifat yang adaptif dan juga
interparatatif walaupun mengatur apa yang diperbolehkan dan yang
tidak diperbolehkan8.
7
Nurul Istiq’faroh, “Relevansi Filosofi Ki Hajar Dewantara Sebagai Dasar Kebijakan Pendidikan
Nasional Merdeka Belajar Di Indonesia ”, Vol. 3, No. 2, (2020), hal. 2-3.
8
Reza Amin Nur Ihsan dkk, ”Problematika Dan Perubahan Kebijakan Pendidikan Di indonesia” .
Juremi: Jurnal Riset Ekonomi , Vol.1 No.1 Juli 2021, hal 19 .
9
keputusan agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang sudah
dirumuskan sebelumnya9. Kebijakan pendidikan dirumuskan dan
direncanakan oleh pemerintah penyelenggara pendidikan sebagai
bentuk respon terhadap reaksi dari berbagai masalah yang terjadi
didalam dunia pendidikan agar dapat dijadikan suatu panduan atau
pedoman dalam bertindak serta menjadi suatu solusi inovasi guna
tercapainya visi misi tujuan pendidikan yang berasal dari pemerintahan
atau bahkan dari pihak aktor lembaga lainnya yang ikut serta dalam
mengatur dan mengurusi pendidikan dinegara itu sendiri.
9
Ibid 19
10
Ibid 20
11
Emnis, A.M (2014). Menelusuri Kebijakan Pendidikan Islam Di Indonesia, dalam jurnal Edukasi
Islami Jurnal Pendidikan , vol. 03
10
12
diperbincangkan akan menentukan kebijakan yang akan dirumuskan.
Oleh karena itu perumusan kebijakan pendidikan harus disesuaikan
dengan perkembangan yang ada, misalnya :
11
sehingga bisa jadi menghilangkan hak dan kewenangan profesional.
Pemimpin merupakam harapan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
2) Kesenjangan Pendidikan
Pendidikan di Indonesia menunjukkan kualitas yang rendah,
banyak sekali kesenjangan yang ada. Kesenjangan dalam dunia
pendidikan umumnya seperti : sarana, prasarana dan sumber
daya pendidik yang tidak berlangsung secara efektif.
a) Sarana prasarana
Sarana prasarana menjadi penunjang dalam
berlangsungnya pendidikan. Kelayakan dan ketersediaan
nya juga menentukan kualitas pendidikan. Anggaran
pendidikan merupakan aspek yang sangat berpengaruh
dalam kelayakan dan ketersediaan sarana dan prasarana.
Keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan dikota
kecil mengakibatkan rendahnya kualitas pendidikan
disana. Sebaliknya, pendidikan dikota besar cenderung
memiliki kualitas yang lebih tinggi karena memiliki sarana
dan prasarana yang sesuai. Pembenahan pendidikan
dalam hal pemerataan akan menjadi hal yang krusial.
Untuk mewujudkannya salah satunya bisa dengan
diberikannya beberapa dana yang disesuaikan untuk
pengelolaan yang lebih baik.
b) Keterbatasan Teknologi
Keterbatasan penggunaan teknologi menjadi hambatan
dalam berlangsungnya pendidikan. Kenyataannya masih
banyak guru yang belum melek teknologi khususnya guru
senior yang sudah berumur. Hal ini seharusnya terlebih
dahulu diberikan proses pelatihan untuk meningkatkan
kapasitas mengajar para guru.
Hal yang paling mendasar yang perlu dipertimbangkan
oleh pemerintah adalah bagaimana melahirkan sumber
12
daya yang sesuai dengan tuntutan zaman, karena
peningkatan mutu kualitas sumber daya manusia adalah
suatu kehausan bagi dunia pendidikan dan merupakan
investasi untuk melahirkan manusia-manusia yang
berkualitas.
13
karakter akan menentukan kualitas manusia. karena analoginya
jika sebuaah ilmu tidak didampingi dengan perilaku yang baik
maka hal tersebut akan menjadikan ilmu itu hanya siasia.
Pemerintah seyogyanya harus membentuk dan membuat tatanan
system pendidikan yang setiap isi dari pembelajaran dapat
menghubungkan antara pendidikan yang berorientasi terhadap
pengetahuan dan akhlak. 14
14
Ibid 23
14
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
15
(1) Memilih pemimpin yang tegas, jujur, kiat dan peduli terhadap
bangsanya.
(2) Peran pemerintah harus bisa membuat system pendidikan
berjalan aktif tidak pasif dan efektif.
(3) Memberikan sumbangsih berupa dana untuk meningkatkan
sarana dan prasarana di sekolahan.
(4) Meningkatkan kualitas pendidik.
(5) Penanaman pendidikan karakter terhadap para siswa
2. Saran
Penulis sangat berharap akan dilaksanakan penelitian selanjutnya
mengenai loyalitas pemustaka atau pelanggan. Dari kegiatan tersebut, kita
dapat mengetahui variabel lain yang dapat mempengaruhi loyalitas
pemustaka atau pelanggan. Kemudian penulis sangat berterimakasih
kepada pihak¬-pihak yang terlibat dalam penelitian ini sehingga penelitian
ini dapat selesai.
16
DAFTAR PUSTAKA
17