0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
139 tayangan29 halaman

Action Plan Masrudin

Diunggah oleh

Masrudin Malowangi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
139 tayangan29 halaman

Action Plan Masrudin

Diunggah oleh

Masrudin Malowangi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN SIMULASI PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) PADA

LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA KENDARI

OLEH:

MASRUDIN
NIP. 199602262017121004

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONESIA
BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN HUKUM DAN HAM
SULAWESI UTARA
TAHUN 2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas rahmat dan
hidayahnya sehingga kami mampu menyelesaikan laporan praktek kerja
lapangan ini dengan baik.
Penyusunan laporan praktek kerja lapangan ini oleh Penulis tidak
terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih pada:
1. Bapak Wahju Prihandono, S.H., M.H., selaku Kepala Badiklat Hukum
dan HAM Sulawesi Utara;
2. Bapak Tapianus Antonio Barus, A.Md.I.P., S.H., M.M. Selaku Kepala
Lapas Kelas IIA Kendari.
3. Bapak Andi Fahriadi, S.H., M.H. Selaku Kepala Kesatuan
Pengamanan Lapas Kelas IIA Kendari.
4. Bapak dan ibu tenaga pengajar dan panitia penyelenggara Pelatihan
Teknis Pengamanan Tingkat Dasar angkatan VIII tahun 2024
5. Kedua orang tua yang senantiasa mendoakan setiap langkah yang
penulis tempuh; dan
6. Teman-teman peserta kegiatan Pelatihan Teknis Pengamanan Tingkat
Dasar angkatan VIII tahun 2024 yang selalu membantu memberi
semangat tanpa henti-hentinya selama proses kegiatan berlangsung
dan selalu memotivasi satu sama lain untuk tidak mengeluh.

Penulis menyadari bahwa laporan ini belum sempurna. Oleh


karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Semoga laporan ini memberikan manfaat pada pekerjaan dan
penerapannya di kantor penulis serta mampu dikembangkan lebih lanjut
dikemudian hari.
Bitung, Mei 2024

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................... ii


Daftar Isi .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Tujuan Dan Manfaat .................................................................. 2
C. Ruang Lingkup .......................................................................... 3
D. Dasar Hukum ............................................................................ 3
BAB II TINJAUAN UMUM .................................................................... 4
A. Gambaran Umum Lembaga Pemasyarakatan .......................... 4
B. Visi, Misi dan Nilai Organisasi ................................................... 6
C. Tugas Dan Fungsi Organisasi ................................................... 7
BAB III PRAKTEK KERJA LAPANGAN ............................................... 9
A. Teknik Penjagaan ................................................................... 9
B. Teknik Pengawalan ................................................................. 10
C. Teknik Penggeledahan............................................................ 12
D. Teknik Pengontrolan ............................................................... 16
E. Teknik Penguncian .................................................................. 19
BAB IV ANALISIS ................................................................................ 20
A. Hasil Temuan .......................................................................... 20
B. Analisis Hasil Temuan ............................................................. 21
BAB V PENUTUP ................................................................................ 23
A. Kesimpulan ............................................................................. 23
B. Saran ...................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Balai Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan HAM Sulawesi

Utara merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan

Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan HAM melalui

Kantor Wilayah yang bertugas menyiapkan Pendidikan dan Pelatihan

bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil/AparaturSipil negara pada

Kementerian Hukum dan HAM RI dalam meningkatkan kualitas

Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul di masa depan. Dengan

merubahnya menjadi Corporate University dengan tujuan mencetak

kader PNS/ASN yang mampu bekerja sesuai bidangnya.

Pola Pelatihan pada BPSDM Hukum dan HAM mengadop

sistem pengajaran dan pelatihan antara lain dilaksanakan melalui

kegiatan pengajaran, pelatihan, praktek kerja lapangan, tetapi masih

membutuhkan penanganan dan peningkatan dalam sistem yang

diterapkan. Termasuk dalam praktek kerja lapangan yang masih

membutuhkan langkah nyata bagi para peserta pelatihan untuk terjun

langsung kelapangan dan menerapkan ilmu serta teori yang

didapatkan selama pelatihan. Untuk mengimplementasikan ilmu dan

teori yang didapatkan selama pelatihan tersebut, maka peserta

pelatihan harus turun langsung kelapangan untuk mempraktekkan dan

mengaplikasikan ilmu serta teori selama pelatihan dalam bentuk PKL.

1
Program PKL merupakan salah satu alat panduan antara teori

dan praktik yang akan memberikan kemampuan peserta pelatihan

untuk memahami dan menganalisis fenomena - fenomena dan

perkembangan terbaru dalam dunia kerja yang berkaitan dengan UPT

Pemasyarakatan. Kemampuan ini diharapkan dapat menghasilkan

peserta pelatihan yang mampu mengaplikasikan ilmunya pada

pekerjaannya setelah kembali bekerja.

Laporan ini disusun sebagai bentuk evaluasi terhadap

aktualisasi materi yang telah diberikan pada peserta Pelatihan Teknis

Pengamanan Tingkat Dasar angkatan VIII tahun 2024.

B. Tujuan Dan Manfaat

1. Tujuan

a) Meningkatkan pengetahuan, pengalaman, kemampuan dan

keterampilan Peserta Pelatihan dalam mempraktikkan sesuai

dengan materi yang diajarkan;

b) Sebagai bahan evaluasi pada seminar action plan pada

pelatihan teknis pengamanan tingkat dasar angkatan V tahun

2022

2. Manfaat

a) Melatih keterampilan Peserta Pelatihan berdasarkan

pengetahuan yang diperoleh dari selama proses Pelatihan.

b) Meningkatkan Kompetensi Petugas Pengamanan dalam

mempraktikkan materi yang diajarkan.

2
C. Ruang Lingkup

Proses penulisan laporan ini berdasarKkan kegiatan Praktek

Kerja Lapangan (PKL) yang meliputi Teknik Penjagaan, Teknik

Penguncian, Pengendalian Lingkungan, Teknik Penggeledahan,

Teknik Pengontrolan dan Penempatan dalam Rangka Pengamanan.

D. Dasar Hukum

Dengan pengamanan akan memberikan jaminan terlaksananya

sistem Pemasyarakatan dan pelaksanaan Hak Asasi manusia di

dalam Rutan atau Lapas. Hal ini dapat dilihat dalam Undang-Undang

22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan dan Peraturan Menteri

Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor 8 Tahun 2015 tentang Tentang

Penyelenggaraan Keamanan dan Ketertiban Pada Satuan Kerja

Pemasyarakatan..

3
BAB II

TINJAUAN UMUM

A. Gambaran Umum Lembaga Pemasyarakatan

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik


Indonesia (Kemenkumham RI) adalah kementerian dalam Pemerintah
Indonesia yang membidangi urusan hukum dan hak asasi
manusia.Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.Kementerian Hukum
dan Hak Asasi Manusia dipimpin oleh seorang Menteri yang sejak 27
Oktober 2014 dijabat oleh Yasonna Laoly. Kemenkumham beberapa
kali mengalami pergantian nama yakni: "Departemen Kehakiman"
(1945-1999), "Departemen Hukum dan Perundang-undangan" (1999-
2001), "Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia" (2001-
2004), "Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia" (2004-2009),
dan "Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia" (2009-sekarang).
Kantor wilayah (kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia merupakan instansi vertikal Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia yang berkedudukan di setiap provinsi, yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia. Kanwil terdiri atas beberapa divisi serta sejumlah Unit
Pelaksana Teknis (UPT), termasuk Kantor Imigrasi, Lembaga
Pemasyarakatan (Lapas), Lapas Narkotika, Rumah Tahanan Negara
(Rutan), Cabang Rutan, Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara
(Rupbasan), Balai Pemasyarakatan (Bapas), Balai Harta Peninggalan
(BHP), serta Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).
Lembaga Pemsyarakatan Kelas IIA Kendari atau disebut dengan
Lapas Kendari merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis
Pemasyarakatan Kantor Wilayah kementerian Hukum dan HAM
Sulawesi Tenggara yang terletak di Jalan Kapten Pierre Tendean No.
01 Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga Kota Kendari Provinsi

4
Sulawesi Tenggara. Didirikan pada tahun 1999 dengan menempati
lahan seluas 30.000 meter persegi berikut bangunan gedung kantor
seluas 1.670 meter persegi.
Sejarah singkat berdirinya Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Kendari dapat diuraikan sebagai berikut:
Sebelum berdirinya DIRDAP Kendari para terdakwa yang dijatuhi
hukuman pidana penjara oleh Pengadilan Negeri Kendari dikirim ke
Rumah Penjara Baubau (kini Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA
Baubau) untuk menjalani pidanya. Pada tahun 1972 di Kendari
kemudian dibentuk Rumah Penjara yang bernama Direktorat Daerah
Pemasyarakatan (DIRDAP) Kendari, di masa awal berdirinya,
DIRDAP Kendari belum memiliki kantor tetap sehingga
operasionalnya masih bergabung dengan Pengadilan Negeri Kendari.
Selanjutnya Pada tahun 1975 DIRDAP Kendari pindah di
Kelurahan Punggolaka Kecamatan Mandongga untuk menempati
bangunan sendiri yang didirikan diatas tanah seluas 2.300 meter
persegi.
Pada tahun 1978 DIRDAP Kendari berubah nama menjadi Kantor
Bina Tuna Warga Kendari, perubahan nomenklatur untuk kedua
kalinya terjadi pada tahun 1985, semula Kantor Bina Tuna Warga
Kendari menjadi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kendari.
Di tahun 1999 Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kendari
dipindahkan di Kecamatan Baruga untuk menempati bangunan baru
yang didirikan diatas tanah seluas 30.000 meter persegi, sedangkan
bangunan Lapas yang lama di Kelurahan Punggolaka berubah fungsi
menjadi Rumah Tahanan Kelas IIA Kendari

5
B. Visi, Misi dan nilai-nilai Organisasi

Kementerian Hukum dan HAM 2020-2024 memiliki visi dan misi


sebagai berikut:
a. Visi dari Kementerian Hukum dan HAM adalah “Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia yang Andal, Profesional, Innovatif
dan Berintegritas dalam pelayanan kepada Presiden dan Wakil
Presiden untuk Mewujudkan Visi dan Misi Presiden “ Indonesia
Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan
Gotong Royong”.
b. Misi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dirumuskan ke
dalam 7 (Tujuh) Misi, antara lain:
1) Membentuk Peraturan Perundang-Undangan yang Berkualitas
dan Melindungi Kepentingan Nasional;
2) Menyelenggarakan Pelayanan Publik di Bidang Hukum yang
Berkualitas;
3) Mendukung Penegakan Hukum di Bidang Kekayaan
Intelektual, Keimigrasian, Administrasi Hukum Umum dan
Pemasyarakatan yang Bebas Dari Korupsi, Bermartabat dan
Terpercaya;
4) Melaksanakan Penghormatan, Perlindungan dan Pemenuhan
Hak Asasi Manusia yang Berkelanjutan;
5) Melaksanakan Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat;
6) Ikut Serta Menjaga Stabilitas Keamanan Melalui Peran
Keimigrasian dan Pemasyarakatan;
7) Melaksanakan Tata Laksana Pemerintahan yang Baik Melalui
Reformasi Birokrasi dan Kelembagaan.
Dalam rangka mendukung pelaksanaan visi dan misi 2020-
2024, Kementerian Hukum dan HAM mempunyai tata nilai yang
diyakini masih relevan digunakan sebagai dasar bekerja dan
berkinerja sampai dengan tahun 2020-2024 yaitu “PASTI” yang
merupakan akronim dari Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan,

6
dan Inovatif. Adapun nilai-nilai yang terkandung dari masing-masing
kata tersebut adalah sebagai berikut :
a. Profesional
Aparat Kementerian Hukum dan HAM adalah aparat yang
bekerja keras untukmencapai tujuan organisasi melalui
penguasaan bidang tugasnya, menjunjung tinggi etika dan
integritas profesi
b. Akuntabel
Setiap kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan
dapatdipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai
dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku.
c. Sinergi
Komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan
kerjasama yangproduktif serta kemitraan yang harmonis dengan
para pemangku kepentingan untuk menemukan dan
melaksanakan solusi terbaik, bermanfaat dan berkualitas.
d. Transparan.
Kementerian Hukum dan HAM menjamin akses atau kebebasan
bagi setiaporang untuk memperoleh informasi tentang
penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang
kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-
hasil yang dicapai.
e. Inovatif
Kementerian Hukum dan HAM mendukung kreativitas dan
mengembangkaninisiatif untuk selalu melakukan pembaharuan
dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya

7
C. Tugas dan Fungsi Organisasi
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM R.I No.
03.PR.07.03 Tahun 1985 tertanggal 20 September 1985 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Rumah Tahanan Negara dan Rumah
Penyimpanan Barang Sitaan Negara dan Berdasarkan Keputusan
Menteri Kehakiman R.I No.02-PK.04.10 Tahun 1990 tertanggal 10
April 1990 Tentang pola Pembinaan Narapidana dan Tahanan serta,
Petunjuk Pelaksana dan Petunjuk Teknis No. E76-UM.01.06 Tahun
1986 tertanggal 17 Pebruari 1985 Tentang Perawatan Tahanan dan
dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM R.I No. M.01.PR.07-10
Tahun 2005, Rumah Tahanan Negara Berkedudukan Sebagai Unit
Pelaksana Teknis yang Melaksanakan Tugas Pokok Departemen
Hukum dan HAM R.I.
a. Tugas Pokok Lembaga Pemsyarakatan adalah:
1. Melakukan Pemeliharaan Keamanan dan Tata Tertib Lapas.
2. Melakukan Pengelolaan Lapas.
3. Melakukan Pelayanan Warga Binaan Pemasyarakatan.
b. Fungsi Lapas adalah :
Menyiapkan Warga Binaan Pemasyarakatan untuk dapat

berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat

berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas dan

bertanggung jawab.

8
BAB III

PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Teknik Penjagaan

Keamanan berasal dari kata pokok ”aman” yang berarti: bebas,

terlindung dari bahaya, selamat, tidak membahayakan, yakin, dapat

dipercaya, dapat diandalkan

Dalam literatur kepolisian, pengertian keamanan secara umum

adalah keadaan atau kondisi bebas dari gangguan fisik maupun Psikis

terlindunginya keselamatan jiwa dan terjaminnya_harta benda dari

segala macam ancaman gangguan dan bahaya” (Awaloedin Djamin,

2004).

Keamanan memiliki pengertian yang universal atau sering

disebut dengan security Pada awal mulanya konsep keamanan

(security) hanya menyangkut pengertian yang berkaitan dengan

keamanan suatu negara.

Pengamanan Lapas atau Rutan yang selanjutnya disebut

Pengamanan adalah segala bentuk kegiatan dalam rangka melakukan

pencegahan, penindakan dan pemulihan terhadap setiap gangguan

keamanan dan ketertiban di Lapas atau Rutan.

Penjagaan adalah suatu bentuk kegiatan pengamanan orang

dan fasilitas guna mencegah Gangguan Keamanan dan Ketertiban.

Beberapa teknik pengamanan pada Lapas dan Rutan adalah sebagai

berikut :

9
1. Penjagaan Pintu Gerbang Halaman

2. Penjagaan Pintu Pengawasan dan Pemeriksaan

3. Ruang Kepala Regu Penjagaan (KARUPAM)

4. Penjagaan Pintu Utama (P2U/Portir)

5. Penjagaan Ruang Kunjungan

6. Penjagaan Lingkungan Blok

7. Penjagaan Pos Menara Atas

Standar Pelaksanaan Pengamanan pada Lapas/Rutan

1. Standar Apel Penghuni

2. Standar Timbang Terima Penjagaaan

3. Standar Pemeriksaan Narapidana dan Tahanan yang masuk

Lingkungan Lapas/Rutan

B. Pengendalian Lingkungan

Pengendalian lingkungan merupakan upaya yang dilakukan

untuk memastikan keamanan dan ketertiban di steril area dan lalu

lintas orang di dalam Lapas dan Rutan. Kepala pengamanan

melakukan pengendalian lingkungan

1. Pengendalian Steril area

a. Pemeriksaan

 Petugas memastikan tidak ada bangunan dan aktitifas dalam

jarak 5 (lima) meter dari tembok luar;

 Petugas memastikan tidak ada benda-benda disekitar steril

10
area menghalangi pandangan petugas pos atas;

 Petugas memastikan narapidana dan tahanan tidak berada

di daerah steril area;

 Petugas memastikan tidak ada orang di steril area pagar

luar;

 Petugas memastikan tidak ada benda atau alat-alat yang

dapat digunakan untuk melarikan diri;

 Petugas memastikan steril area yang ada di dalam Lapas

dan Rutan setiap pagi, sore, dan malam;

 Petugas memastikan pagar pembatas steril area dalam

kondisi baik.

b. Penindakan

 Petugas melarang narapidana dan tahanan agar tidak

berada di steril area;

 Petugas melarang masyarakat untuk tidak memasuki steril

area;

 Petugas mengambil tindakan membongkar apabila

ditemukan adanya bangunan di steril area bagian dalam dan

luar;

 Petugas mengambil tindakan memindahkan benda yang

berada di steril area;

11
 Petugas memberikan peringatan kepada setiap masyarakat,

narapidana dan tahanan yang memasuki steril area;

 Petugas memerintahkan masyarakat, narapidana dan

tahanan untuk menghentikan kegiatan pada steril area;

 Petugas dapat menggunakan kekuatan apabila terjadi

perlawanan dan pembangkangan terhadap perintah untuk

meninggalkan steril area.

c. Pelaporan

 Petugas melakukan pencatatan hasil pemeriksaan steril area

ke dalam buku laporan;

 Petugas segera melaporkan kepada atasan apabila

ditemukan kesengajaan untuk menggunakan area steril

sebagai tempat beraktifitas.

2. Pengendalian lalu lintas orang

a. Pencatatan

 Petugas mencatat setiap orang yang masuk dan keluar dari

lingkungan blok dan area kegiatan lainnya;

 Petugas mencatat setiap kegiatan pembinaan narapidana

dan pelayanan tahanan.

b. Penindakan

12
 Petugas melarang narapidana dan tahanan dari blok lain

untuk memasuki blok hunian narapidana dan tahanan lain;

 Petugas menghentikan kegiatan pembinaan narapidana dan

pelayanan tahanan, apabila terjadi gangguan keamanan dan

ketertiban;

 Petugas dapat menggunakan kekuatan apabila terjadi

perlawanan dan pembangkangan terhadap perintah untuk

meninggalkan steril area

c. Pelaporan

 Petugas membuat laporan pencatatan lalu lintas orang

dalam buku laporan;

 Petugas segera melaporkan kepada atasan apabila terjadi

gangguan keamanan dan ketertiban.

C. Teknik Penggeledahan

Penggeledahan adalah kegiatan kegiatan pemeriksaan

terhadap orang, barang ataupun tempat yang diduga dapat

menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban.

1. Penggeledahan Secara Umum :

a. Petugas melakukan penggeledahan terhadap setiap orang,

barang, kendaraan dan area-area di dalam Lapas dan Rutan;

b. Penggeledahan orang meliputi: Penggeledahan Pengunjung,

Penggeledahan Petugas, Penggeledahan Narapidana atau

13
Tahanan dengan Pakaian, Penggeledahan Narapidana atau

Tahanan Tanpa Pakaian,

c. Penggeledahan terhadap orang dilakukan dengan teliti

dengan mengedepankan nilai-nilai kesusilaan dan kesopanan;

d. Penggeledahan pengunjung, petugas, narapidana dan

tahanan perempuan dilakukan oleh petugas perempuan.

e. Penggeledahan selain dilakukan oleh Regu Pengamanan

Lapas dan Rutan, juga dapat dilakukan Satuan Keamanan

dan Ketertiban (Satgas Kamtib) dari Kantor Wilayah dan/atau

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

2. Uraian Pelaksanaan Penggeledahan

a. Langkah-langkah penggeledahan terhadap pengunjung

adalah sebagai berikut:

1) Petugas meminta pengunjung untuk mengeluarkan semua

barang-barang, melepaskan penutup kepala, topi, jaket,

tas,dompet, alas kaki dan/atau kaos kaki yang dibawanya

untuk diperlihatkan dan diletakkan di atas meja;

2) Petugas mempersilahkan pengunjung untuk memasuki x-

tray sensor untuk memastikan tidak ada barang-barang

terlarang yang masih melekat pada tubuh pengunjung;

3) Petugas mempersilahkan pengunjung untuk berdiri

berputar membelakangi petugas dengan posisi kaki

dibuka selebar bahu dan merentangkan tangan lurus ke

14
samping dengan telapak tangan menghadap ke belakang,

ibujari menghadap ke bawah, dan jari-jari diregangkan

sehingga dapat melihat sela di antara jari;

4) Petugas memberitahu pada pengunjung bahwa

penggeledahan akan dimulai;

5) Petugas berdiri dengan posisi kuda-kuda,kaki yang lebih

dominan berada di belakang dan kaki satunya lagi berada

di atar kedua kaki pengunjung;

6) Petugas memeriksa bagian ketiak tangan kanan dan

memeriksa ujung ketiak tangan hingga telapak tangan

kanan. Begitupun pemeriksaan pada ketiak tangan kiri

hingga telapak tangan kanan penggeledah kiri;

7) Petugas memeriksa dada depan dengan menggunakan

kedua telapak tangan dari leher hingga batas pinggang

dan naik ke samping dada kanan dan kiri hingga naik

bagian ketiak;

8) Petugas memeriksa bagian pinggang hingga pangkal

paha bagian depan dilanjutkan ke paha kanan hingga

telapak kaki kanan dan kemudian dilanjutkan pada

pangkal paha kiri hingga paha dan telapak kaki kiri;

9) Petugas kemudian memeriksa bagian punggung belakang

dari leher hingga ke pinggang dan naik kembali ke bagian

leher;

15
10) Petugas kemudian mempersilahkan pengunjung untuk

berbali badan berdiri menghadap petugas;

11) Petugas meminta petugas membuka mulut dan

memeriksa rongga mulut bagian atas,bawah lidah, rongga

mulut, gigi, hidung,rongga telinga, dan mata dengan

dibantu senter jika diperlukan;

12) Petugas memeriksa rambut bagian kanan depan hingga

belakang dan kiri depan hingga belakang;

13) Petugas memeriksa kerah baju, lengan baju, jahitan baju,

saku dan lipatan-lipatan baju;

14) Jika pengunjung perempuan maka dilakukan pemeriksaan

pada: lilitan kain pinggang (stagen) atau aksesoris lainnya,

membuka cadar dan pakaian dalam, pembalut dan

menggantinya dengan yang baru;

15) Jika pengunjung membawa balita, maka dilakukan

pemeriksaan secara seksama pada: Pakaian, peralatan

dan aksesoris yang digunakan dan melakukan

penggantian popok;

16) Jika ditemukan barang, petugas langsung memisahkan

barang-barang yang dilarang dengan mengamankan atau

menitipkan di tempat yang telah disediakan;

17) Petugas mengizinkan pengunjung untuk meninggalkan

tempat penggeledahan

16
D. Teknik Pengontrolan

Pengontrolan beasal dari kata “Kontrol” yang berarti

“serangkaian kegiatan pemeriksaan dan pengendalian secara

seksama terhadap sasaran pelaksanaan tugas pengamanan”.

1. Penjelasan Umum

a. Kontrol dilakukan secara rutin oleh Kepala dan Wakil Kepala

Regu

b. pengamanan;

c. Pelaksanaan kontrol dilengkapi dengan peralatan kontrol;

d. Kepala atau Wakil Kepala Regu Pengamanan sekurang-

kurangnya melakukan kontrol setiap 1 (satu) jam sekali atau

sesuai dengan situasi dan kondisi;

e. Kontrol di area-area sebagai berikut:

1) Pintu Gerbang Halaman;

2) Pintu Gerbang Utama (Wasrik);

3) Pintu Utama (Portir);

4) LIngkungan Blok Hunian;

5) Pos atas;

6) Pagar luar dalam;

7) Kantor;

8) Ruang Kunjungan;

9) Bengkel Kerja;

10) Gudang;

17
11) Dapur;

12) Tempat Ibadah;

13) Ruang Isolasi;

14) Sel Pengasingan;

15) Ruang Kontrol

2. Uraian Pelaksanaan Kontrol

a. Persiapan

1) Kepala Regu dan Wakil Kepala Regu Pengamanan saling

koordinasi saat akan melakukan control;

2) Kepala Regu dan Wakil Kepala Regu Pengamanan salah

satunya tetap berada di ruang pengamanan/control.

b. Pemeriksaan

1) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan

memeriksa keberadaan petugas pengamanan di area

masing-masing;

2) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan

memastikan keberfungsian sarana dan prasarana .

3) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan

memastikan narapidana dan tahanan berada pada blok,

kamar atau melakukan aktifitas di tempat-tempat

4) yang telah ditentukan;

5) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan

18
menghimpun dan mengembangkan informasi terkait

potensi gangguan keamanan dan ketertiban;

6) Apabila diperlukan, Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu

Pengamanan dapat meminta kepada anggota regu

pengamanan melakukan control di areanya masing-

masing;

7) Kepala Lapas dan Kepala Rutan atau Kepala

Pengamanan melakukan control sewaktu-waktu.

c. Penindakan

1) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan

menegur dan memberi motivasi kepada petugas yang lalai

dalam melaksanakan tugasnya;

2) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan dapat

memerintahkan penggunaan kekuatan sesuai dengan

tingkatan gangguan keamanan dan ketertiban.

d. Laporan

1) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan

membuat laporan berkala dan dilaporkan langsung

kepada kepala Pengamanan dan Kepala Lapas atau

Rutan.

2) Kepala Regu atau Wakil Kepala Regu Pengamanan

membuat laporan seketika jika terjadi gangguan

19
keemanan dan ketertiban.

E. Teknik Penguncian

a) Penguncian dimaksudkan agar pintu-pintu di dalam Lapas dan

Rutan tetap terkunci dan dibuka sesuai dengan jadwal dan

kebutuhan;

b) Penguncian meliptui:

1. Pintu Gerbang Halaman, Pintu Gerbang Utama (Wasrik);

2. P2U (Portir);

3. Blok;

4. Kamar;

5. Ruang kegiatan dan ruang kantor.

F. Penempatan dalam Rangka Pengamanan

Narapidana dan tahanan dapat ditempatkan di sel tutupan

sunyi, ruang isolasi dan blok khusus dalam rangka pengamanan

setelah dilakukan pemeriksaan;

Penempatan dalam rangka pengamanan dilakukan karena

pelanggaran disiplin, pelarian, terancam jiwanya, membahayakan jiwa

orang lain, memiliki potensi mengembangkan jaringan kejahatan dan

mengancam stabilitas keamanan Negara.

20
BAB IV

ANALISIS

A. Hasil Temuan

Berdasarkan Simulasi yang telah kami laksanakan, kami

menerapkan lima teknik Pengamanan yang harus dilaksanakan

sebagai seorang petugas pengamanan antara lain: Teknik Penjagaan,

Teknik Penguncian, Pengendalian Lingkungan, Teknik

Penggeledahan, Teknik Pengontrolan, Penempatan dalam Rangka

Pengamanan.

Kami mengambil Isu mengenai Gangguan Keamanan dan

Ketertiban dalam Blok Hunian (Perkelahian) Ilustrasinya sebagai

berikut:

o Setelah pelaksanaan apel timbang terima dengan regu

pengamanan sebelumnya, Karupam melakukan pembagian

tugas penjagaan blok hunian dan pos atas ke masing-

masing anggota jaga yang hadir.

o Pelaksanaan Penjagaan dilakukan dengan pergantian antar

waktu (shift) 3 (tiga) kali dalam 1 (satu) hari

Penjagaan Pagi : 07.00 – 15.00

Penjagaan Siang : 15.00 – 23.00

Penjagaan Malam : 23.00 – 07.00

o Setiap Regu Pengamanan terdiri atas ± 13 orang, dengan

masing-masing tugas:

21
1) Karupam

2) Wakarupam

3) Dan P2U

4) Anggota P2U

5) Wasrik

6) Petugas Area Steril/Pos Utama

7) Petugas Pos Atas 1

8) Petugas Pos Atas 2

9) Petugas Blok 1

10) Petugas Blok 2

11) Petugas Blok 3

12) Petugas Blok 4

13) Petugas Blok 5

o Setelah anggota jaga menempati pos jaganya masing-

masing.

o Petugas blok melaksanakan pembukaan kunci kamar

hunian dan blok.

o Warga Binaan Muslim keluar kamar untuk melaksanakan

Sholat Ashar berjamah di Masjid Lapas, sementara

beberapa Warga Binaan lain bersiap-siap untuk

melaksanakan aktifitas sore.

o Setelah petugas blok melaksanakan pembukaan kamar hunian.

o Petugas blok memastikan keadaan blok hunian dalam keadaan

22
aman dengan memperhatikan lalu lintas WBP yang keluar/masuk

kedalam blok hunian.

o Petugas mencatat pada buku blok dan membatasi jumlah WBP

yang berbelanja ke Koperasi.

o Petugas kemudian melaporkan situasi dan kondisi dalam blok

hunian ke Karupam via Handy Talkie.

o Petugas blok hunian melakukan koordinasi ke Karupam untuk

melaksanakan Sholat Ashar secara bergantian dengan petugas

blok lain.

o Petugas blok meninggalkan posnya untuk melaksanakan Sholat

Ashar.

o Melihat kekosongan pos blok, salah satu WBP memanfaatkan

situasi ini dengan masuk ke kamar hunian lain dan mulai

mengkronfontasi salah satu penghuninya, hingga terjadilah cekcok

dan berakhir menjadi perkelahian antara keduanya. Hingga

menimbulkan kerumunan WBP pada kamar tersebut.

o Salah satu petugas blok terdekat yang melihat kerumunan tersebut

segera menuju sumber kerumunan dan mendapati kedua WBP

sedang berkelahi.

o Petugas blok segera melerai keduanya dan membawa keduanya

ke pos utama.

o Kedua WBP yang dibawa ke pos utama langsung digeledah

badan oleh petugas area steril/pos utama pada pintu 4 sebelum

23
dimintai keterangan oleh Karupam.

o Dan dari hasil penggeledahan badan kedua WBP, tidak didapati

barang terlarang.

o Atas perintah Karupam, petugas blok tempat terjadinya perkelahian

melaksanakan penggeledahan kamar hunian dan barang-

barang di loker kedua WBP yang berkelahi, dibantu salah satu

petugas blok terdekat.

o Penggeledahan ini dilakukan untuk mencari barang bukti atau

penyebab terjadinya perkelahian.

o Sementara Karupam melakukan interogasi kepada kedua WBP,

Wakarupam melaksanakan kontrol pada area blok hunian dan

mengingatkan kepada petugas blok secara langsung untuk tetap

waspada.

o Selain petugas blok, Wakarupam juga mengingatkan petugas pos

atas untuk tetap waspada via Handy Talkie.

o Setelah mendapatkan cukup informasi mengenai latar belakang

perkelahaian keduanya, Karupam melakukan koordinasi kepada

Ka. KPLP.

o Dari hasil koordinasi tersebut, Karupam memerintahkan petugas

blok untuk mengambil kunci blok sel/tutupan sunyi dan membawa

kedua WBP tersebut untuk ditempatkan pada blok sel/tutupan

sunyi.

o Keduanya ditempatkan pada blok sel/tutupan sunyi di kamar

24
terpisah, hal ini merupakan salah satu tindakan Penempatan

Dalam Rangka Pengamanan

B. Analisis Hasil Temuan

Salah satu contoh kejadian yang kami tampilkan dari

Pengalaman Kerja Lapangan di Lapas Kelas IIA Kendari, dapat ditarik

kesimpulan bahwa gangguan keamanan dan ketertiban dalam Lapas

bukan hanya terjadi karena kelalaian. Tetapi WBP selalu dalam

keadaan memantau situasi dan kondisi dalam Lapas.

Bila memungkinkan, mereka tidak akan segan-segan untuk

memanfaatkan situasi dan kondisi tersebut untuk melakukan aktifitas

yang dapat memicu terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban

dalam Lapas .

Olehnya itu kita harus selalu menanamkan kewaspadaan dan

lebih jeli dalam membaca situasi dan kondisi dalam Lapas.

25
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melaksanakan simulasi Praktek Kerja Lapangan dapat

ditarik kesimpulan :

a. Pelaksanaan kegiatan ini telah menambah pengetahuan dan lebih

peduli lagi terhadap permasalahan yang terjadi dilingkungan kerja

dan selalu berinovasi untuk mencari gagasan dan solusi yang

tepat.

b. Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat membantu dalam

pelaksanaan tugas dapat menciptakan situasi yang aman, tertib

dan kondusif di lingkungan satuan kerja masing-masing.

B. Saran

Setelah melakukan simulasi Praktek Kerja Lapangan

diharapkan agar Teknik Pengamanan yang harus dilaksanakan

sebagai soerang petugas pengamanan antara lain: Teknik Penjagaan,

Teknik Penguncian, Pengendalian Lingkungan, Teknik

Penggeledahan, Teknik Pengontrolan dan Penempatan dalam

Rangka Pengamanan tetap dapat terus diimplementasikan dalam

menjalankan tugas sehari-hari.

Diharapkan juga hal ini dapat terus dikembangkan ke

depannya dan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

26

Anda mungkin juga menyukai