Anda di halaman 1dari 28

RANCANGAN AKTUALISASI

OPTIMALISASI LAPORAN PENGAWALAN


TERHADAP WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN (WBP)
YANG BEROBAT DAN BEKERJA DI LUAR LINGKUNGAN
LEMBAGA PEMASYARAKATAN TANJUNG PINANG

Oleh

SAMUEL BELMAN SILALAHI


NIP. 19930919 201712 1 001
LAPAS KLAS IIA TANJUNG PINANG

COACH MENTOR

MUH. KHAMDAN, MA.Hum FAJAR KUSNALDI, A.Md.IP

PELATIHAN DASAR GOLONGAN II TAHUN 2018


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM
2018

i
DAFTAR ISI
Pernyataan Persetujuan Mentor / Atasan Langsung
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1


A. Latar Belakang Masalah ..................................................................................... 1
B. Identifikasi Isu Masalah ...................................................................................... 4
C. Analisis Isu Masalah ........................................................................................... 5
D.Penetapan Isu Masalah ....................................................................................... 6
E.Identitas Diri dan Persetujuan Mentor dan Coach .............................................. 7

BAB II ANEKA DAN KEDUDUKAN PNS ........................................................ 10


A. Konsep ANEKA ................................................................................................. 10
B. Konsep Kedudukan PNS .................................................................................... 14

BAB III RANCANGAN AKTUALISASI ........................................................... 19


A. Identitas Rancangan Kegiatan ............................................................................ 19
B. Gagasan Pemecahan Masalah ............................................................................. 20

Lampiran-Lampiran

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pasal 3 Undang-Undang Pemasyarakatan Nomor 12 tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan menyebutkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya
disebut sebagai LAPAS adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan
Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah
nomor 32 tahun 1999, pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku,
profesional, kesehatan jsamani dan rohani Narapidana dan Anak Didik
Pemasyarakatan.
Untuk dapat melaksanakan pembinaan terhadap Narapidana dan Anak
Didik Pemasyarakatan tersebut dibutuhkan kondisi keamanan LAPAS yang
kondusif. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor 33 tahun 2015 tentang Pengamanan Pada Lembaga Pemasyarakatan dan
Rumah Tahanan Negara menyebutkan bahwa kemanan dan ketertiban yang
kondusif di dalam Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara
merupakan syarat utama untuk mendukung terwujudnya keberhasilan pelaksanaan
Sistem Pemasyarakatan.
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor : M.01.07.03 tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemasyarakatan menerangkan bahwa penjaga tahanan merupakan unsur yang
bertugas menjaga keamanan dan ketertiban lapas dan bertanggung jawab langsung
kepada Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) atau
Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR).
Untuk melaksanakan tugas tersebut, penjaga tahanan harus memahami
fungsi lembaga pemasyarakatan sebagaimana dalam asal 3 3 Surat Keputusan
Menteri Kehakiman RI Nomor : M.01-PR.07.03 Tahun 1985 Tentang Organisasi
dan Tata Kerja Lembaga Pemasyarakatan, bahwa lapas mempunyai fungsi :
1. Melakukan pembinaan narapidana/anak didik;
2. Memberikan bimbingan dan mengelola hasil kerja;

3
3. Melakukan bimbingan sosial/kerohanian/anak didik;
4. Melakukan pemeliharaan keamanan dan tata tertib lapas;
5. Melakukan urusan tata usaha dan rumah tangga.

Bahwa keberhasilan pelaksanaan tugas dan penyelenggaraan fungsi


Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) sebagaimana wujud pelaksanaan peran dan
fungsi pemasyarkatan tersebut, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi
bangunan, sarana pengamanan, kepadatan jumlah penghuni, kuantitas dan kualitas
petugas, serta integritas petugas pengamanan.
Berdasarkan evaluasi pelaksanaan tugas dan fungsi Lapas Kelas II B
Tanjung Pinang ditemukan beberapa permasalahan yaitu :
a. Kondisi bangunan
Tembok keliling hanya setinggi 4 meter dengan kawat berduri di atasnya sudah
tidak layak.
b. Sarana pengamanan dan fasilitas
Hanya memiliki senjata api laras pajang 4 buah, laras pendek 3 buah, gembok
pintu kamar hunian dan blok masih kurang serta gembok yang ada tidak sesuai
standar.
1. Jumlah Blok hunian : 7 buah terdiri dari :
- Blok Umum
- Blok Khusus Narkotika
- Blok Khusus Wanita
- Blok Anak
- Blok Warga Negara Asing
- Blok Santri
2. Sarana Ibadah ( Masjid, Gereja, dan Vihara )
3. Poliklinik dengan kapasitas tempat tidur 4 buah
4. Lapangan Olahraga ( Volly Ball, Badminton, Takraw, dan Futsal)
5. Dapur
6. Bengkel Keja
7. Ruang Perkantoran
8. Aula Pertemuan

4
9. Blok Pengasingan
c. Kepadatan jumlah penghuni
Memiliki kapasitas hunian 200 orang dengan isi penghuni pada akhir Mei 2018
sebanyak 437 orang, sehingga over crowded sebesar 109 %.
d. Kualitas dan kuantitas petugas
Memiliki jumlah pegawai 56 orang dengan jumlah petugas pengamanan
berjumlah 24 orang yang terbagi menjadi 4 regu. Artinya, petugas pengamanan
pada setiap jadwal hanya 6 orang yang harus berhadapan dengan 437 penghuni.
Kondisi itu tidak didukung dengan kemampuan petugas yang terampil dan
berkompeten karena berpendidikan SMA dan belum memperoleh pelatihan
keamanan dan ketertiban secara berkala.

Kepala Lembaga
Pemasyarakatan Kelas
IIa TanjungPinang

Kasub. Bag
Tata Usaha

Kaur Kep. Kaur


Keuagan Umum

Kasi Kasi Kasi


Kepala Kesatuan PemNapi/A Keg. Kerja Adm.
Keamanan Lapas nak Kamtib

Kasubsi Kasubsi
Kasubsi
Registrasi Keamanan
Bim.Kerja
REGU
Kasubsi
PENGAMANAN Kasubsi
Pelaporan
Bimpas Kasubsi
dan tata
perawatan Sarana
tertib
Kerja

5
e. Integritas petugas pengamanan
Petugas memiliki integritas yang rendah. Hal demikian terindikasi masuknya
barang-barang terlarang ke dalam lapas seperti handphone, narkoba dan uang
tunai justru melalui petugas. Selama ini petugas tidak pernah digeledah ketika
masuk dan keluar melalui pintu utama.

B. Identifikasi Isu Masalah


Isu adalah sebuah masalah yang belum terpecahkan yang siap diambil
keputusannya. Isu mempresentasikan suatu kesenjangan antara praktik organisasi
dengan harapan-harapan para stakeholder. Berdasarkan definisi tersebut, isu
merupakan suatu hal yang terjadi baik dalam maupun luar organisasi yang
apabila tidak ditangani secara baik, akan memberikan efek negatif terhadap
organisasi bahkan dapat berlanjut pada tahap kritis.
Berkaitan dengan rancangan aktualisasi ini, sumber isu yang diangkat
berasal dari tugas pokok dan fungsi (tupoksi), sasaran Kinerja Pegawai (SKP),
kegiatan inisiatif oleh penulis melalui persetujuan coach dan mentor, serta
penugasan dari atasan. Kesemuanya akan disinkronkan sesuai dengan keterkaitan
materi ANEKA dan juga dengan manajemen ASN, Whole Of Goverment dan
Pelayanan Publik. Penulis menemukan beberapa isu sebagai berikut:
1. Belum optimalnya laporan rekapitulasi bagi petugas pengawalan terhadap
WBP yang mendapat pengawalan berobat maupun yang bekerja di luar
lingkungan Lapas.
2. Belum optimalnya penerimaan saran/tanggapan dari pengunjung terhadap
kualitas pelayanan Lapas
3. Belum optimalnya kecepatan pada saat penggeledahan barang bawaan
pengunjung
4. Belum optimalnnya media informasi pada pelayanan kunjungan
5. Kurang Optimalnya Waktu Besukan Bagi Pengunjungsehingga Terjadi
Penumpukan Diruang Kunjungan
6. Belum efektifnya penggunaan kartu Indentitas Pengunjung WBP

6
C. Analisis Isu Masalah
Berdasarkan identifikasi isu yang telah dipaparkan, perlu dilakukan proses
indentifikasi isu untuk menentukan isu mana yang merupakan prioritas yang dapat
dicarikan solusi oleh penulis. Proses identifikasi Isu tersebut menggunakan alat
bantu penetapan kriteria kualitas Isu. Kriteria yang digunakan adalah metode
APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan dan Layak) untuk memilih 3 dari 6
isu yang ada, kemudian dilanjutkan dengan metode USG (Urgency, Seriousness,
dan Growth) untuk menentukan 1 dari 3 isu teratas hasil metode APKL, analisa
dilakukan dengan menetapkan rentang penilaian (1-5) pada tiap poin.
Metode pertama yang dipakai adalah metode APKL. Aktual adalah Isu
benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat. Problematik
merupakan Isu yang sangat kompleks sehingga pelu dicarikan solusinya.
Kekhalayakan artinya Isu tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak. Layak
ditujukan kepada Isu yang masuk akal dan realistis serta relevan untuk
dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.
Secara lengkap analisis penilaian kualitas Isu dengan metode APKL
tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Kriteria APKL
No Identifikasi Isu Peringkat
A P K L Total
Belum optimalnya laporan
rekapitulasi terhadap WBP yang
1 mendapat pengawalan berobat 3 3 4 5 15 1
maupun yang bekerja di luar
lingkungan Lapas.
Belum optimalnya penerimaan
2 saran/tanggapan dari pengunjung 4 4 3 3 14 2
terhadap kualitas pelayanan Lapas
Belum optimalnya penggeledahan
3 3 3 3 4 12 4
barang bawaan pengunjung
Belum optimalnnya media
4 3 3 3 4 13 3
informasi pelayanan kunjungan
Kurang Optimalnya Waktu
5 Besukan Bagi Pengunjung sehingga 3 3 2 3 12 5
Terjadi Penumpukan
Optimalisasi kartu Indentitas
6 3 3 2 2 10 6
Pengunjung WBP

7
Setelah didapatkan peringkat tiga besar berdasarkan metode APKL, Isu
yang ada di analsis lagi dengan metode USG untuk memilih Isu yang akan
dicarikan solusinya. Urgency adalah seberapa mendesak Isu tesebut harus dibahas,
dianalisa dan ditindaklanjuti. Seriuosness adalah seberapa serius Isu tersebut harus
dibahas, dianalisa dan ditindaklanjuti. Sedangkan Growth adalah seberapa besar
kemungkinan memburuknya Isu tersebut jika tidak ditangani segera.
Secara lengkap analisis penilaian kulaitas isu dengan metode USG dapat
dilihat pada tabel di bawah ini:

No Isu U S G Total Peringkat

Belum optimalnya laporan rekapitulasi


bagi petugas pengawalan terhadap WBP
1 yang mendapat pengawalan berobat 4 4 4 12 1
maupun yang bekerja di luar lingkungan
Lapas.
Belum optimalnya penerimaan
2 saran/tanggapan dari pengunjung 4 3 4 11 2
terhadap kualitas pelayanan Lapas
Belum optimalnnya media informasi
3 4 3 3 10 3
pada pelayanan kunjungan

Keterangan :

U : Urgency Skor 5 : Sangat USG

S : Seriousness Skor 4 : USG

G : Growth Skor 3 : Cukup USG

Skor 2 : Kurang USG

Skor 1 : Tidak USG


D. Penetapan Isu Masalah
Belum optimalnya laporan rekapitulasi bagi petugas pengawalan terhadap
WBP yang mendapat pengawalan berobat maupun yang bekerja di luar
lingkungan Lapas Tanjung Pinang.

8
E. Identitas Diri dan Lembar Persetujuan
1. Peserta
Nama : Samuel Belman Silalahi
NIP : 19930919 201712 1 001
No. Handphone : 0856 6818 8924
Email : samuelbelman@gmail.com
Tugas / Jabatan : Staff Kamtib
2. Coach
Nama : Muh. Khamdan, MA.Hum
NIP : 19850225 200901 1 005
No. Handphone : 0813 26193918
Email : khamdanwi@gmail.com
Tugas / Jabatan : Widyaiswara Ahli Madya
3. Mentor
Nama : Fajar Kusnaldi, A.Md.I.P.
NIP : 19810314 20012 1 001
No. Handphone : 0813 6555 0845
Email :-
Tugas / Jabatan : Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban

Persetujuan Coach dan Mentor

Coach Mentor

Muh. Khamdan, MA.Hum Fajar Kusnaldi, A.Md.I.P

9
BAB II
KONSEPSI NILAI DASAR PNS DAN KEDUDUKAN DALAM NKRI

A. KONSEP NILAI NILAI DASAR PNS


Sesuai dengan Undang Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara (ASN) Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil
dilaksanakan mengacu pada ANEKA sebagai prinsip yang menjadi landasan
dalam menjalankan profesi yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu dan Anti Korupsi. Adapun detail dari nilai-nilai yang
terkandung dalam ANEKA adalah sebagai berikut:

1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi
untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Nilai-nilai
yang terkandung dalam akuntabilitas yang harus dimiliki Aparatur Sipil
Negara (ASN) untuk diterapkan di unit kerja yaitu, kepemimpinan,
transparasi, integritas, tanggung jawab, keadilan, kepercayaan,
keseimbangan, kejelasan dan konsistensi. Amanah seorang ASN adalah
menjamin terwujudnya nilai-nilai publik berikut:
a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik
kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor,
kelompok dan dan pribadi
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan
mencegah keterlibatan ASN dalam politik praktis.
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
d. Menujukan sikap dan prilaku konsisten dan dapat diandalkan sebagai
penyelenggara pemerintahan.
Aspek-aspek akuntabilitas mencakup beberapa hal berikut:
a. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan, menjaga kerjasama dalam tim
dan komunikasi.

10
b. Akuntabilitas beroientasi pada hasil.
c. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan.
d. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi.
e. Akuntabilitas memperbaiki kinerja.
Nilai-Nilai akuntabilitas yaitu:
a. Kepemimpinan
b. Transparansi
c. Integritas
d. Tanggungjawab
e. Keadilan
f. Kepercayaan
g. Keseimbangan
h. Kejelasan
i. Konsisten

2. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar
terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.
Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila.
Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-
nilai Pancasila. Sebagai pelaksana kebijakan peayanan publik tentu setiap
pegawai ASN harus memiliki nilai-nilai kepublikan, berorientasi pada
kepentingan publik dan senantiasa menempatkan kepentingan publik,
bangsa dan negara diatas kepentingan lainnya, mengedepankan
kepentingan nasional ketimbang kepentingan sektoral atau golongan.
Fungsi nasionalisme bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah:
a. ASN yang berorientasi pada kepentingan publik dengan nilai yang
terkandungnya; ketepetan waktu, pelayanan yang akurat, ramah dan
santun dalam memberikn pelayanan, tanggung jawab, kelengkapan,
kemudahan mendapatkan pelayanan, variasi model pelayanan,
kenyamanan, bersikap adil dan tidak deskriminatif.

11
b. ASN yang berintegritas tinggi, dengan melaksanakan tugasnya
dengan jujur,bertanggung jawab dan berintegritas tinggi,
melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin, melayani dengan
sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan, melaksanakan tugasnya
sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang berwenang
sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan etika peerintahan, menjaga kerahasiaan yang
menyangkut kebijakan negara, menggunakan kekayaan dan barang
milik negara secara bertanggung jawab, efektif dan efisien, menjaga
agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam menjalankan tugas,
memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada
pihak lain yang memerlukan informasi, tidak menyalahgunakan
informasi, dan melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. ASN sebagai pemersatu bangsa yang bersikap netral dan adil,
mengawoni kepemtingan kelompok-kelompok minoritas, menjadi
teladan dilingkungan masyarakat.

3. Etika Publik
Etika publik adalah refleksi tentang baik/buruk, benar/salah prilaku,
tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam
rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik. Nilai-nilai dasar
etika publik antara lain adalah
a. Memegang teguh nilai-nilai ideologi pancasila.
b. Setia dan mempertahankan UUD NKRI 1945.
c. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
d. Membuat keputusan berdasarkan keahlian.
e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
f. Memelihara dan menjunjung tinggi prinsip standar etika luhur.
g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.
h. Kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program
pemerintah.

12
i. Memberikan pelayanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,
akurat, berdaya guna, berhasil guna dan santun.
j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.
k. Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama.
l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja kesetaraan
dalam pekerjaan
m. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir.

4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu bertujuan untuk memberikan kepuasan masyarakat
dalam pelayanan publik. Penilaian mutu berdasarkan pada subyektifitas
seseorang. Untuk mengukur penilaian tersebut perlu adanya standar
pelayanan sehingga sebuah mutu pelayanan dapat terkontrol dengan baik.
Berikut adalah nilai-nilai yang perlu diperhatikan dalam komitmen mutu
antara lain:
a. Bekerja dengan berorientasi pada mutu.
b. Inovatif.
c. Selalu melakukan perbaikan mutu.
d. Membangun komitmen pegawai untuk jangka panjang.
e. Membangun kerjasama antar pegawai yang dilandasi kepercayaan
dan kejujuran.
f. Memfokuskan kegiatan pada kepuasan pelanggan, baik internal
maupun eksternal.
g. Menampilkan kinerja tanpa cacat (zerodefect) dan tanpa pemborosan
(zerowaste), sejak memulai setiap pekerjaan.
h. Menjalankan fungsi pengawasan secara efektif dan efisien dalam
bekerja.

5. Anti Korupsi
Anti korupsi Korupsi adalah tindakan melanggar hukum dengan tujuan
untuk memperkaya diri sendiri maupun golongan.

13
Nilai-nilai yang terkandung dalam aspek anti korupsi antara lain:
a. Kejujuran
b. Kepedulian
c. Kemandirian
d. Kedisiplinan
e. Keadilan
f. Tanggung jawab
g. Kerja keras
h. Sederhana
i. Berani

B. KONSEP KEDUDUKAN DAN PERAN PNS DALAM NKRI


1. Whole of Government
WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan
yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan
sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai
tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan
publik. Oleh karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency,
yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait
dengan urusan-urusan yang relevan.
Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan mengapa WoG
menjadi penting dan tumbuh sebagai pendekatan yang mendapatkan
perhatian dari pemerintah. Pertama, adalah adanya faktor-faktor eksternal
seperti dorongan publik dalam mewujudkan integrasi kebijakan, program
pembangunan dan pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintahan
yang lebih baik. Selain itu perkembangan teknologi informasi, situasi dan
dinamika kebijakan yang lebih kompleks juga mendorong pentingnya WoG
dalam menyatukan institusi pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan
dan layanan publik. Kedua, terkait faktor-faktor internal dengan adanya
fenomena ketimpangan kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya
nuansa kompetisi antar sektor dalam pembangunan. Satu sektor bisa
menjadi sangat superior terhadap sektor lain, atau masing-masing sektor

14
tumbuh namun tidak berjalan beriringan, melainkan justru kontraproduktif
atau “saling membunuh”. Masing-masing sektor menganggap bahwa
sektornya lebih penting dari yang lainnya. Ketiga, khususnya dalam
konteks Indonesia, keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat,
serta bentuk latar belakang lainnya mendrong adanya potensi disintegrasi
bangsa. Pemerintah sebagai institusi formal berkewajiban untuk mendorong
tumbuhnya nilai-nilai perekat kebangsaan yang akan menjamin bersatunya
elemen-elemen kebangsaan ini dalam satu frame NKRI.

2. Manajemen ASN
Pengelolaan atau manajemen ASN adalah kebijakan dan praktek dalam
mengelola aspek manusia atau SDM dalam organisasi, baik untuk PNS
maupun PPK. Manajemen ASN akan membuat seorang ASN mengerti apa
saja kedudukan, peran, hak, kewajiban dan kode etik ASN.
a. Kedudukan ASN
Kedudukan ASN berada di pusat, daerah, dan luar negeri, namun
demikian pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
b. Peran ASN
Peran ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik,
dan perekat pemersatu bangsa
c. Hak dan kewajiban ASN
Seorang ASN mempunyai kewajiban dan hak sebagai berikut:
 Gaji, tunjangan dan fasilitas
 Cuti
 Jaminan pensiun dan jaminan hari tua
 Perlindungan
 Pengembangan kompetensi
d. Kode etik dan kode perilaku ASN
Kode etik dan kode perilaku bertujuan untuk menjaga martabat dan
kehormatan ASN. Kode etik dan kode perilaku berisi pengaturan
perilaku agar pegawai ASN:

15
 Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
berintegritas tinggi;
 Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
 Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
 Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
 Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau
pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika
pemerintahan;
 Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
 Menggunakan kekayaan dan BMN secara bertanggung jawab,
efektif, dan efisien; Menjaga agar tidak terjadi konflik
kepentingan dalam melaksanakan tugasnya;
 Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan;
 Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari
keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau orang lain;
 Memagang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi
dan integritas ASN; dan
 Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai disiplin pegawai ASN.

3. Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah pemberian layanan atau melayani keperluan orang
atau masyarakat dan/atau organisasi lain yang mempunyai kepentingan
pada organisasi itu, sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang
ditentukan dan ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada penerima
pelayanan.
Terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu

16
a. Organisasi penyelenggara pelayanan publik;
b. Penerima layanan (pelanggan), yaitu orang, masyarakat atau organisasi
yang berkepentingan;
c. Kepuasan yang diberikan dan/atau diterima oleh penerima layanan
(pelanggan).
Prinsip pelayanan public yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima
adalah:
a. Partisipatif
Pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya.
b. Transparan
Pemerintah harus menyediakan akses bagi warga negara untuk
mengetahui segala hal terkait pelayanan publik yang
diselenggarakan.Masyarakat juga harus diberi akses untuk
mempertanyakan dan menyampaikan pengaduan apabila merasa tidak
puas terhadap pelayanan publik pemerintah.
c. Responsif
Pemerintah wajib mendengar dan memenuhi tuntutan kebutuhan
warga negara. Birokrasi wajib mendengarkan aspirasi dan keinginan
masyarakat yang menduduki posisi sebagai agen. Pelayanan Publik
d. Tidak diskriminatif
Tidak ada perbedaan pemberian layanan kepada masyarakat atas dasar
perbedaan identitas warga negara.
e. Mudah dan murah
Mudah artinya berbagai persyaratan yang dibutuhkan tersebut masuk
akal dan mudah untuk dipenuhi.Murah artinya biaya yang diperlukan
dapat dijangkau oleh seluruh warga negara.
f. Efektif dan efisien
1) Efektif : mampu mewujudkan tujuan yang hendak dicapai (untuk
melaksanakan mandat konstitusi dan mencapai tujuan strategis
negara dalam jangka panjang).

17
2) Efisien : cara mewujudkan tujuan dilakukan dengan prosedur
sederhana, tenaga kerja yang sedikit, dan biaya yang murah.
g. Aksesibel
Pelayanan publik yang harus dapat dijangkau oleh warga negara yang
membutuhkan dalam arti fisik (dekat, terjangkau dengan kendaraan
publik, mudah ditemukan, dan lain – lain) dan dapat dijangkau dalam
arti non – fisik yang terkait dengan biaya dan persyaratan yang harus
dipenuhi.
h. Akuntabel
Penyelenggaraanpelayanan public harus dapat dipertanggungjawabkan
secara terbuka kepada masyarakat melalui media publik baik secara
cetak maupun elektronik.
i. Berkeadilan
Penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dijadikan sebagai alat
pelindung kelompok rentan dan mampu menghadirkan rasa keadilan
bagi kelompok lemah ketika berhadapan dengan kelompok kuat.

18
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI

A. Identitas Rancangan Kegiatan


1. Unit Kerja
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tanjungpinang – Kepulauan Riau

2. Identifikasi Isu
Berdasarkan pengalaman penulis selama bekerja di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Tanjungpinang – Kepulauan Riau kurang lebih 3
bulan yang meliputi kegiatan Melaksanakan tugas pengawalan WBP yang
akan berobat atau melakukan check ke rumah sakit, Pengawalan WBP yang
bekerja di luar lingkungan Lapas, Penggeledahan barang pengunjung,
Melaksanakan tugas penggeledahan badan pengunjung, Melaksanakan
pencatatan identitas pengunjung, Melaksanakan pencatatan barang bawaan
atau titipan untuk WBP, Melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh atasan
atau pimpinan
Terdapat 3 isu yang dapat diangkat yaitu :
a. Belum optimalnya laporan rekapitulasi bagi petugas pengawalan
terhadap WBP yang mendapat pengawalan berobat maupun yang
bekerja di luar lingkungan Lapas.
b. Belum optimalnya penerimaan saran/tanggapan dari pengunjung
terhadap kualitas pelayanan Lapas
c. Belum optimalnnya media informasi pada pelayanan kunjungan

3 Isu yang Diangkat


Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu
USG dapat di ambil masalah yang akan dibahas yaitu Mengoptimalkan
Laporan rekapitulasi bagi petugas pengawalan terhadap WBP yang
mendapat pengawalan berobat maupun yang bekerja di luar lingkungan
Lapas.

19
B. Gagasan Pemecahan Isu dan Kegiatan
Pembuatan Jurnal Rekapitulasi Pengawalan Terhadap Warga Binaan
Pemasyarakatan di Luar Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Tanjung Pinang.
Guna mengimplementasikan gagasan tersebut, akan dilakukan dengan
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Konsultasi Rancangan Kegiatan Aktualisasi Kepada Mentor dan Atasan
2. Menentukan Kerangka Jurnal
3. Membuat Format Jurnal
4. Sosialisasi Prosedur Pengisian jurnal kepada rekan kerja
5. Penerapan Format Laporan
6. Evaluasi Penerapan Format Laporan

20
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

Keterkaitan substansi Kontribusi Terhadap Penguatan Nilai


No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil
Mata Pelatihan Visi-Misi Organisasi Organisasi

1 2 3 4 5 6 7
1 Konsultasi 1. Mengatur pertemuan Jadwal pertemuan Adanya target
dan Mewujudkan layanan Profesional (Bekerja
Rancangan dengan Mentor dan yang telah di sepakati jadwal kerja serta manajemen sesuai kompetensi
administrasi
Kegiatan Atasan langsung oleh Mentor dan pertemuan yang jelas, masing-masing yang
Kementerian Hukum
Aktualisasi Atasan langsung maka pekerjaan akan dan HAM benar secara konsisten
kepada Mentor menjadi efective dan yang berlandaskan SOP
dan Atasan efisien (Komitmen
mutu) Sinergi (hubungan
2. Menyampaikan masukan dan evaluasi Menyampaikan dengan Mewujudkan layanan kerjasama yang
gagasan dan dari Mentor dan tutur kata yang sopan manajemen produktif serta
menyampaikan tujuan Atasan langsung dan santun (Etika administrasi kemitraan yang
kepada Mentor dan Publik) Kementerian Hukum harmonis dengan para
Atasan langsung dan HAM pemangku kepentingan

21
3. Mendapatkan Mendapatkan Mendapat dukungan Mewujudkan aparatur untuk menemukan dan
dukungan dan pernyataan dukungan dalam membentuk Kementerian Hukum melaksanakan solusi
dan Hak Asasi Manusia
persetujuan dari untuk kegiatan kerjasama terbaik, bermanfaat,
yang profesional dan
Mentor dan Atasan aktualisasi (Nasionalisme) dan berintegritas. dan berkualitas
langsung mendapatkan
kepercayaan
(Akuntabilitas)
2 Menentukan 1. Mempelajari SOP Memahami SOP untuk Mendapat pemahaman Mewujudkan aparatur Aparatur Kementerian
kerangka Jurnal pengawalan pengawalan WBP mengenai SOP tersebut Kementerian Hukum Hukum dan HAM
dan Hak Asasi Manusia
dengan cermat adalah aparat yang
yang profesional dan
(Komitmen Mutu) berintegritas. bekerja keras untuk
2. Merangkum point- Rangkuman poin-poin Mendapat pemahaman mencapai tujuan
point yang akan yang akan dipakai mengenai SOP tersebut organisasi melalui
digunakan dalam dengan cermat penguasaan bidang
Jurnal (Komitmen Mutu) tugasnya, menjunjung
3. Membuat kerangka Kerangka Jurnal dalam Dalam membuat laporan tinggi etika dan
Jurnal bentuk Desain manual mengedepankan nilai integirtas profesi;
bertanggung jawab
(Akuntabilitas)

22
3 Membuat format 1. Menunjukkan kerangka Kerangka jurnal Dalam membuat laporan
Jurnal Jurnal kepada atasan diterima oleh atasan mengedepankan nilai
langsung langsung bertanggung jawab
(Akuntabilitas)

2. Mendiskusikan Adanya masukan Menghargai komunikasi


kerangka Jurnal persetujuan dari dan konsultasi (Etika
Atasan Publik)
3. Membuat format Format Jurnal yang Meningkatkan mutu
Jurnal yang sudah di sudah di cetak kedalam (komitmen Mutu)
setujui Atasan buku Menampilkan kinerja
langsung yang baik (etika Publik)
menggunakan
Komputer dan di buat
menjadi buku

23
4 Sosialisasi 1. Meminta waktu rekan Penulis dan rekan kerja Dalam menyampaikan
tentang prosedur kerja untuk berkumpul dalam satu penjelasan menggunakan
pengisian Jurnal menjelaskan tata cara ruangan bahasa yang baik dan
kepada rekan pengisian Jurnal santun Termasuk dalam
kerja pengawalan (Etika Publik)

2. Menjelaskan prosedur Rekan kerja mengerti Dalam menyampaikan


pengisian Jurnal akan prosedur penjelasan menggunakan
pengawalan kepada pengisian Jurnal bahasa yang baik dan
rekan kerja santun Termasuk dalam
(Etika Publik)

24
3. Pelaporan hasil Laporan hasil Evaluasi hasil
kegiatan sosialisasi sosialisasi berupa (akuntabilitas)
dokumentasi dan
sebagainya

25
5 Penerapan 1. Mempersiapkan Pengawalan siap
laporan pengawalan dilakasanakan

2. Melakasanakan Mengawal tahanan (


pengawalan Kerumah Sakit ,
Kejaksaan , Gietja)

26
4. Membuat laporan Buku jurnal terisi Dalam membuat laporan
pengawalan dalam mengedepankan nilai
bentuk jurnal bertanggung jawab
(Akuntabilitas)

6 Evaluasi 1. Mengumpulkan buku Buku jurnal terkumpul


kegiatan yang jurnal
telah dilakukan

27
1. Mengevaluasi buku Adanya koreksi dan
jurnal yang sudah di isi perbaikan

2. Membuat laporan akhir

28