0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan52 halaman

Gangguan Pendengaran Pada Anak

Diunggah oleh

fatimah az zahra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan52 halaman

Gangguan Pendengaran Pada Anak

Diunggah oleh

fatimah az zahra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

GANGGUAN

PENDENGARAN
PADA ANAK
Pembimbing: Dr. dr. Novi Primadewi, Sp. THTBKL., Subsp.NO(K). M.Kes.
PENDAHULUAN
Definisi
Pendengaran adalah panca indra Epidemiologi
yang memfasilitasi komunikasi dan
mendorong interaksi sosial, Berdasarkan data dari Litbang
memungkinkan orang untuk Depkes Terdapat 9 provinsi di
menjalin hubungan dan Indonesia dengan angka
berpartisipasi dalam kegiatan prevalensi gangguan
sehari-hari pendengaran melebihi angka
nasional (2,6%)

Fisiologi
Bagi anak-anak, pendengaran Preventif
adalah kunci untuk belajar bahasa
lisan, berprestasi secara akademis, Semua bayi yang baru lahir
dan terlibat secara sosial. harus menjalani skrining
gangguan pendengaran sebelum
dipulangkan dari rumah sakit.
Perkembangan Pendengaran Normal
Proses pendengaran pada anak pada prinsipnya sama
dengan proses pendengaran pada orang dewasa.
Perbedaannya terdapat pada anatomis liang telinga,
dimana pada anak lebih pendek jika dibandingkan dengan
orang dewasa.
Embriologi - Telinga

Telinga berasal dari celah branquia


pertama sekitar minggu keenam
perkembangan embrio dan
mencapai bentuknya pada minggu
ke-20. Pinna mencapai ukuran
yang mendekati dewasa pada usia
4-5 tahun dan mencapai ukuran
maksimal pada usia 9 tahun
bersamaan dengan pematangan
kartilago daun telinga.
Embriologi - Telinga
Telinga luar : Telinga luar pertama kali berkembang di daerah serviks bagian bawah dan
kemudian bergerak ke posterolateral selama perkembangan. Daun telinga luar terbentuk dari
proliferasi mesenkim lengkung faring pertama dan kedua. Enam bukit daun telinga terbentuk dan
menyatu membentuk daun telinga. Meatus auditorius eksternus muncul dari alur faring pertama
sebagai invaginasi ektoderm. Sumbat epitel di meatus berkembang menjadi cakram yang
menyentuh maleus primordial dan membentuk membran timpani. Meatus auditorius eksternus
sepenuhnya paten pada usia 18 minggu.

Telinga Tengah : Telinga tengah terdiri dari rongga timpani dan saluran Eustachian, yang berasal dari
sulcus tubotimpanik atau rekess tubotimpanik, ekstensi endodermal dari kantong faringalis pertama.
Pada minggu ke-5 perkembangan, sulcus tubotimpanik mengembang ke arah lateral dan terbentuk
menjadi rongga timpani yang terdiri dari ruang atas (attic) dan ruang bawah (atrium), serta saluran
Eustachian yang lebih horizontal, pendek, dan sempit pada lahir. Ossikel telinga tengah, yang berasal dari
kartilago Meckel kantong faringalis pertama dan kartilago Reichert kantong faringalis kedua, mulai
terbentuk sekitar enam minggu perkembangan. Selama perkembangan, rongga timpani mengalami
ossifikasi endokondral dan akhirnya menjadi rongga timpani yang berisi udara dengan ossikel yang
tergantung di dalamnya. Telinga tengah terus berkembang setelah lahir dan selama masa pubertas,
dengan otak tensor tympani dan otak stapedius yang diinervasi oleh saraf trigeminal dan saraf wajah,
masing-masing.
Helwany, M. and Tadi, P. (2021). Embryology, Ear. [online] PubMed. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557588/.
Embriologi - Telinga

Telinga Dalam : Telinga bagian dalam berasal dari ektoderm dan terbentuk dari plakode
otik yang muncul di bagian dorsolateral otak belakang sekitar minggu keempat
perkembangan. Plakode otik berinvaginasi ke dalam mesenkim untuk membentuk vesikel
otik, yang kemudian bergerak ke permukaan ektoderm dan diselimuti mesenkim untuk
membentuk kapsul otik. Vesikel otik membentuk dua daerah: bagian sakular ventral yang
membentuk struktur telinga bagian dalam yang terlibat dalam pendengaran, dan bagian
utrikular dorsal yang membentuk sistem vestibular. Pada akhirnya, vesikel otik akan
berdiferensiasi untuk membentuk semua komponen labirin membran dan struktur telinga
bagian dalam yang terkait dengan pendengaran dan keseimbangan.

Helwany, M. and Tadi, P. (2021). Embryology, Ear. [online] PubMed. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557588/.
TULI PADA ANAK

Tuli Konduksi

● Gangguan pada saluran telinga bagian luar atau bagian tengah.


● Gangguan telinga luar diantaranya atresia liang telinga,
sumbatan serumen, otitis eksterna, osteoma liang telinga.
● Kelainan telinga tengah diantaranya sumbatan tuba eustachius,
otitis media, hemotympanum, dislokasi tulang pendengaran.
● Tuli konduktif pada anak anak dapat dibedakan menjadi acquired
conductive hearing loss dan congenital hearing loss.
Acquired Pediatric Congenital Conductive
Conductive Hearing Loss Hearing Loss

● Disebabkan oleh otitis media dengan efusi dan ● Anomali bawaan telinga diantaranya atresia
otitis media kronik. canalis auricularis, membran timpani perforasi
● Pembatasan mobilitas membran timpani dan atau deformasi, ankilosis stapes, dan beberapa
ossicles sehingga transmisi suara berkurang. yang lain.
● ACHL pada anak dapat menurunkan ● Malformasi ini sering terlewatkan pada
perkembangan bicara dan pemahaman skrining pendengaran bayi baru lahir.
bahasa. ● Disfungsi tuba paling sering terjadi pada anak
● Manifestasi nya ialah kurangnya fokus dan anak.
perhatian, volume berlebihan, perubahan ● Penanganannya dapat akan pembedahan atau
perilaku, serta kegagalan menanggapi dalam rekonstruksi aurikula.
volume normal. ● Perkembangan bahasa dan bicara menjadi
● ACHL pada anak usia sekolah tidak terlalu fokus terapi dan manajemen pada CHL
berpengaruh pada bahasa dan bicara, namun kongenital.
sangat mempengaruhi kemampuan akademik.
Sehingga direkomendasikan untuk
pemantauan pada preferensi tempat duduk
selama belajar.
TULI PADA ANAK

Tuli Sensorineural

Tuli sensorineural ialah kondisi adanya gangguan di dalam koklea (auris


interna) atau di sistem saraf yang mengirimkan impuls sensorik ke otak
(Lieu et al., 2020)
Tuli akibat bising Kongenital

● dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ● SNHL kongenital berdasarkan faktor penyebab
intensitas, karakteristik, durasi, dan sensitivitas dibagi menjadi genetik dan non genetik.
individu. ● Genetik : mutasi gen GJB2 (gap junction
● Gangguan pendengaran akibat pajanan bising protein beta2)
ditandai adanya penurunan pendengaran ● Non genetik : Infeksi
pada frekuensi 4000-6000Hz dan seiring waktu
penurunan pendengaran tersebut menyebar
ke frekuensi lainnya.
● Tata laksana gangguan pendengaran akibat
bising pada anak anak dapat diberikan terapi
medikamentosa berupa steroid dan oksigen
hiperbarik untuk menghambat apoptosis.
● Selain itu, dapat diberikan alat bantu dengan
dan dilakukan implan koklea pada pasien
dengan pengunaan alat bantu lebih dari 6
bulan
Infeksi

● Rubella merusak koklea, saraf


pendengaran, dan os temporal
● Rubella termasuk dalam kelompok
infeksi TORCHS (Toksoplasmosis,
Rubella, Cytomegalovirus, Herpes
simpeks, Sifilis).
● Diagnosis rubella dilakukan dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang berupa tes
laboratorium antibodi Rubella dari
darah atau air liur.
● IgM + : mengidap rubela, tunda
kehamilan
● IgG + :sudah pernah mengidap rubella
atau sudah divaksinasi. Jika sudah
vaksin, bayi aman
FAKTOR RISIKO GANGGUAN
PENDENGARAN PADA ANAK-ANAK
Prenatal Perinatal Postnatal

● Genetik (Down ● Kelahiran prematur ● Infeksi (meningitis,


sindrom, Waardenburg ● BBLR campak, gondong, otitis
sindrom) ● Asfiksia media)
● Riwayat keluarga ● Neonatus rawat inap ● Trauma kepala (fraktur
● Infeksi (rubella, CMV, NICU >5 hari basis kranii, fraktur os
toksoplasmosis) ● Malformasi kraniofasial temporal)
● Ibu kehamilan risiko ● Paparan suara keras
tinggi ● Obat ototoksik
● Obat ototoksik (aminoglikosida,
kemoterapi, aspirin, kina,
diuretik loop)
(Alhazmi, 2023; Frezza et al., 2023; James et al., 2018)
TANDA DAN GEJALA GANGGUAN
PENDENGARAN

0-4 Bulan 4-9 Bulan

● Saat lahir bayi tidak menangis ● Bayi tidak tersenyum ketika ada
● Minggu-minggu berikutnya, bayi orang yang berbicara atau ada
tidak merespon terhadap suara, mainan yang berbunyi
seperti merespon dengan ● Bayi tidak menoleh ketika ada
senyuman, diam ketika ditenangkan suara di sekitarnya
dengan suara lembut ● Bayi tidak bisa “babbling”. Tidak
bisa mengetahui Gerakan tangan
seperti lambaian “bye-bye”
TANDA DAN GEJALA GANGGUAN
PENDENGARAN
15-24
9-15 Bulan
Bulan

● Bayi masih tidak bisa “babbling” atau ● Anak tidak bisa menggunakan kata
mengikuti kata-kata yang simpel. simple bermakna dan tidak bisa
● Bayi tidak bisa menggunakan suaranya menunjuk bagian tubuhnya ketika
untuk menarik perhatian diperintah
● Bayi tidak merespon ketika namanya ● Tidak bisa menyebutkan nama
dipanggil objek di sekitarnya
● Tidak bisa mendengarkan lagu dan
cerita
● Tidak bisa mengikuti perintah dasar
TANDA DAN GEJALA GANGGUAN
PENDENGARAN
24-36
3-5 Tahun
Bulan

● Tidak bisa menggunakan dua atau ● Tidak mampu untuk berkomunikasi


tiga kata bersama-sama, misalnya ● Dapat berkomunikasi namun sulit
“bunda minum air" dipahami oleh orang lain
● Tidak dapat membuat kalimat ● Bicaranya gagap
secara bermakna
● Tidak bisa memahami instruksi
sederhana
● Tidak suka mendengarkan cerita
SKRINING GANGGUAN PENDENGARAN
● Skrining pendengaran pada bayi baru lahir (Newborn Hearing Screening / NHS)
merupakan langkah awal dari program yang diajukan Joint Committee on Infant Hearing
(JCIH), yaitu Early Hearing Detection and Intervention (EHDI) atau program deteksi dini dan
intervensi pendengaran
● Program tersebut ditujukan untuk semua bayi, dengan atau tanpa faktor risiko terhadap
gangguan pendengaran.
● Tujuan: untuk menapis fungsi pendengaran pada semua bayi baru lahir mulai usia 48
jam dan paling lambat usia 1 bulan bila di klinik persalinan tidak tersedia pemeriksaan
OAE skrining.
● Program skrining yang dapat dilakukan di RS atau klinik persalinan: Universal Newborn
Hearing Screening (UNHS) → dilakukan pada semua bayi baru lahir dengan atau tanpa
faktor risiko gangguan pendengaran dan Targeted Newborn Hearing Screening →
dilakukan pada bayi baru lahir dengan faktor risiko gangguan pendengaran.
SKRINING GANGGUAN PENDENGARAN
1. 0 - 12 bulan
Behavioral Observation Audiometry (BOA)
Pemeriksaan ini dilakukan pada bayi kurang dari 6 bulan dengan menilai kemampuan
anak dalam memberikan respons terhadap sumber bunyi.

01 02
Behavioral Reflex Audiometry Behavioral Response Audiometry
Mengamati respons behavioral yang bersifat ● Tes Distraksi
refleks sebagai reaksi terhadap stimulus Dilakukan di dalam ruang kedap suara,
bunyi berupa: mengejapkan mata menggunakan stimulus nada murni..
(auropalpebral reflex), melebarkan mata (eye Diperlukan 2 orang pemeriksa untuk menjaga
widening, mengerutkan wajah (grimacing, konsentrasi bayi dan memberikan stimulus
berhenti menyusu (cessation reflex), denyut bunyi → dengan audiometer yang terhubung
jantung meningkat, refleks Moro (paling dengan pengeras suara. Respons terhadap
konsisten). stimulus bunyi adalah menggerakkan bola
mata atau menoleh ke arah sumber bunyi.
SKRINING GANGGUAN PENDENGARAN
02
Behavioral Response Audiometry
● Visual Reinforcement Audiometry (VRA)
VRA dilakukan untuk bayi atau anak berusia 6-36
bulan. Sebelum pemeriksaan, bayi / anak dilatih
(conditioned) untuk menoleh ke arah “hadiah”
(reward berupa boneka / mainan yang
mengeluarkan cahaya iluminasi atau tayangan
video) ketika bayi / anak merespons stimulus bunyi.
Stimulus bunyi berasal dari loud speaker atau
headphone, yang terhubung dengan audiometer
atau langsung dari alat yang menghasilkan bunyi
(noise maker). Bayi akan memberi respons orientasi
atau melokalisir bunyi dengan cara menoleh ke
arah sumber bunyi. Dengan intensitas yang sama
diberikan stimulus bunyi saja (tanpa stimulus
visual), bila bayi memberi respons diberi hadiah
berupa stimulus visual.
SKRINING GANGGUAN PENDENGARAN
1. 0 - 12 bulan
Timpanometri
● Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai kondisi telinga tengah. Gambaran
timpanometri yang abnormal (adanya cairan atau tekanan negatif di telinga tengah)
merupakan petunjuk adanya gangguan pendengaran konduktif. Melalui probe tone
(sumbat liang telinga) yang dipasang pada liang telinga dapat diketahui besarnya tekanan
di liang telinga berdasarkan energi suara yang dipantulkan kembali (ke arah luar) oleh
gendang telinga.
● Pada orang dewasa atau bayi berusia diatas 7 bulan digunakan probe tone frekuensi 226
Hz.
● JCIH merekomendasikan penggunaan penggunaan timpanometri frekuensi tinggi pada
bayi berusia kurang dari 9 bulan dengan probe tone 900-1000 Hz karena sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi karena tidak terjadi resonansi pada liang telinga sehingga harus
digunakan probe tone frekuensi tinggi
SKRINING GANGGUAN PENDENGARAN
1. 0 - 12 bulan
Otoacoustic emission (OAE)
● Tujuan pemeriksaan OAE adalah mengetahui fungsi koklea dengan menilai kondisi sel-sel
rambut luar koklea (outer hair cells).
● Terdapat 2 jenis OAE yaitu: (1) Spontaneous OAE (SPOAE) dan (2) Evoked OAE.
● Spontaneous OAE adalah mekanisme aktif koklea unluk memproduksi OAE tanpa herus
diberikan stimulus, namun tidak semua orang dengan pendengaran nomal mempunyai
SPOAE.
● Evoked OAE hanya akan timbul bila diberikan stimulus ekustik yang dibedakan menjadi
(1) Transient Evoked OAE (TEOAE) dan (2) Distortion Product OAE (DPOAE).
● Pada TEOAE stimulus akustik berupa click sedangkan DPOAE menggunakan stimulus
berupe 2 buah nada murni yang berbeda frekuensi dan intensitasnya. Pemeriksaan OAE
mulai dapat dilakukan pada bayi baru lahir hingga usia 3 tahun.
SKRINING GANGGUAN PENDENGARAN
1. 0 - 12 bulan
Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA)
● Istilah lain: Auditory Brainstem Response (ABR).
● BERA merupakan cara pengukuran evoked potential (aktivitas listrik yang dihasilkan N. VIII,
pusat-pusat neural, dan traktus di dalam batang otak) sebagai respons terhadap stimulus
auditorik.
● Respons terhadap stimulus auditorik benupa evoked potential yang sinkron, direkam melalui
elektrod surface electrode yang ditempelkan pada kulit kepala (dahi dan prosesus mastoid) →
diproses melalui program komputer dan ditampilkan sabagai 5 gelombang defleksi positif
(gelombang I sampai V) yang terjadi sekitar 2-12 ms setelah stimulus diberikan.

Auditory Automatic
BERA
BERA Tone Brain Stem Auditory Brain
Hantaran
Brust Response Stem Response
Tulang
test (ABR) test (ABR)
SKRINING GANGGUAN PENDENGARAN
2. 1 - 2 tahun
● Pada bayi normal, kemampuan melokalisir sumber bunyi dari segala arah akan tercapai
pada usia 13-15 bulan. Pemeriksaan-pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
bayi usia 6-12 bulan juga dapat dilakukan pada bayi usia 1-2 tahun.
● Pada anak usia 6-24 bulan, dapat digunakan audiometri visual re-enforcement untuk
menilai pendengaran. Variasi lain adalah play audiometry yang dapat digunakan pada
anak usia 2-4 tahun.

3. 2 - 5 tahun
● Conditioned Play Audiometri (CPA)
CPA merupakan pemeriksaan pendengaran behavioural untuk anak berusia antara 2-5
tahun. Sebelum pemeriksaan, anak dilatih melakukan aktivitas bermain seperti
memasukkan suatu benda ke dalam kotak ketika mendengar bunyi. Stimulus suara yang
diberikan dimulai dari intensitas yang cukup besar, lalu diturunkan sampai diperoleh
intensitas terkecil yang masih memberikan respons. Stimulus biasanya diberikan melalui
headphone (spesifik).
Tatalaksana dan Pencegahan

Pencegahan Tatalaksana dan


Gangguan Terapi pada
Pendengaran Ganggaun
pada Anak Usia Pendengaran
Dini Anak Usia Dini
Pencegahan Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Dini

● Gangguan pendengaran pada anak usia dini memengaruhi proses perkembangan anak maka dari
itu perlu dilakukan deteksi dini gangguan pendengaran pada anak usia dini sehingga pemberian
intervensi lebih awal dapat dilakukan apabila ditemukan adanya gangguan pendengaran.
● Keterlambatan dalam melakukan deteksi dini akan menimbulkan keterlambatan untuk memulai
intervensi dan berdampak negatif dalam perkembangan anak selanjutnya
● Edukasi terkait deteksi dini gangguan pendengaran pada anak dinilai sangat penting untuk
masyarakat. Untuk melakukan deteksi dini gangguan pendengaran pada anak dilakukan dengan
memberikan rangsangan suara pada anak tersebut dan responnya dapat dijadikan acuan
penilaian.
● Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak terdapat 4 indikasi yaitu berdasarkan respons
orientasi, vokalisasi dan produksi bunyi, perhatian visual, dan hubungan sosial dan adaptasi serta
perilaku emosional
1. Perkuat Program dan Organisasi Terkait
a. Memperkuat program imunisasi untuk mencegah infeksi yang dapat menyebabkan gangguan
pendengaran seperti rubella kongenital, campak, dan meningitis. Berdasarkan penelitian
Mason (2007) sekitar 19% gangguan pendengaran pada anak-anak dapat dicegah melalui
imunisasi terhadap campak, rubella.
2. Program Skrining dan Intervensi
a. Menerapkan skrining pendengaran bayi baru lahir dan bayi dengan pelacakan, dan memulai
intervensi yang tepat untuk mengidentifikasi dan merawat anak-anak dengan gangguan
pendengaran kongenital atau gangguan pendengaran onset dini. Program skrining pendengaran
bayi baru lahir harus mengikuti pendekatan yang berpusat pada keluarga, di mana keluarga
diberi hak untuk membuat keputusan bagi anak-anak mereka. (WHO, 2016)
b. Menerapkan skrining pendengaran berbasis sekolah dengan tujuan mengidentifikasi, merujuk,
dan mengelola penyakit telinga umum dan gangguan pendengaran. (WHO, 2016)
3. Pelatihan
a. Melatih dokter tingkat primer dan petugas kesehatan tentang relevansi penyakit telinga,
perlunya intervensi dini untuk mengatasi gangguan pendengaran dan pilihan
pengobatan yang tersedia.
4. Meningkatkan Awareness
a. Meningkatkan kesadaran tentang praktik perawatan telinga yang sehat yang dapat
mengurangi infeksi telinga. Misalnya, menghindari penyisipan atau penanaman zat apa
pun (misalnya cotton bud) ke dalam telinga dapat membantu mengurangi masalah
telinga.
Tatalaksana dan Terapi pada Ggn,
Pendengaran pada Anak Usia Dini
Penanganan dini gangguan pendengaran dapat memungkinkan banyak bayi untuk
mengembangkan keterampilan bahasa yang normal. Imunisasi dengan vaksin konjugat pneumokokus
dan vaksin influenzae tampaknya menurunkan frekuensi otitis media akut. Miringotomi dan
timpanosentesis atau pemasangan tabung timpani dan adenoidektomi dan/atau tonsilektomi
direkomendasikan dalam penanganan otitis media efusif.

1. Alat bantu dengar konvensional


Alat bantu dengar konvensional diindikasikan pada anak-anak dengan gangguan
pendengaran sedang hingga berat yang menyebabkan gangguan bicara atau artikulasi yang
tertunda. Namun, semua anak dengan gangguan pendengaran berat hingga sangat berat harus
dipertimbangkan untuk implantasi koklea. Umumnya, efektivitas alat bantu dengar
konvensional bergantung pada derajat dan konfigurasi gangguan pendengaran.
2. Implan koklea
Direkomendasikan untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran berat hingga sangat
berat, yang didefinisikan sebagai ambang pendengaran lebih tinggi dari 90 dB HL pada
frekuensi 2-4 kHz tanpa alat bantu dengar, dan tanpa manfaat yang memadai dari alat bantu
dengar, yang didefinisikan untuk anak-anak sebagai tidak tercapainya keterampilan bicara,
bahasa dan mendengarkan yang sesuai untuk usia, tahap perkembangan dan kemampuan
kognitif.
Rehabilitasi Audiologi &
Terapi Wicara Bahasa
Rehabilitasi merupakan alat yang sangat penting dalam penanganan anak tuna rungu.
Rehabilitasi audiologi adalah proses pemberian pelatihan dan perawatan untuk meningkatkan
pendengaran bagi anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran. Berbagai metode
komunikasi tersedia: mendengarkan dan bahasa lisan (juga disebut auditori-verbal atau
auditori-oral), ucapan isyarat atau bahasa isyarat.
Rehabilitasi pendengaran anak-anak mencakup berbagai keterampilan yaitu :
a. Mengembangkan bahasa,
b. Pelatihan mendengarkan, dan
c. Penggunaan alat bantu dengar dan alat bantu dengar yang tepat.
Komplikasi

● Psikologis anak usia sekolah


● Perkembangan bahasa dan
bicara
● Kemampuan belajar anak
usia sekolah
● Risiko keselamatan diri di
luar pengawasan
Kesimpulan

670,000
Mercury is the closest planet to
the Sun and the smallest one

3,450
Venus has a beautiful name and is
the second planet from the Sun
RISK FACTORS
To modify this graph, click on it, follow the link,
change the data and paste the new graph here 60% 45%

MERCURY VENUS
Mercury is the Venus has a
smallest planet beautiful name
500,000
Big numbers catch your audience’s attention
CONCEPTS AND TYPOLOGIES

TYPE A TYPE B
Despite being red, Jupiter is a gas giant
Mars is a cold place and the biggest planet

Venus is the second Neptune is the farthest


planet from the Sun planet from the Sun

TYPE C GESTATIONAL
SYMPTOMS OF THE DISORDER

SYMPTOM DESCRIPTION

FIRST Despite being red, Mars is a cold place

SECOND Jupiter is a gas giant and the biggest planet

THIRD Saturn is composed of hydrogen and helium


PATHOLOGY

MARS
Despite being red, Mars is a
cold place, not hot

JUPITER
Jupiter is the biggest planet
in the Solar System

SUN
The Sun is the star at the
center of the Solar System
AWESOME
WORDS
“This is a quote, words full of
wisdom that somebody
important said and can make
the reader get inspired”

—SOMEONE FAMOUS
02
DIAGNOSIS
You could enter a subtitle
here if you need it
DIAGNOSIS

SATURN MARS NEPTUNE


Saturn is gas giant and Despite being red, Mars is Neptune is the farthest
the ringed planet actually a cold place planet from the Sun

MERCURY JUPITER VENUS


Mercury is the closest Jupiter is the biggest Venus is the second
planet to the Sun planet in the Solar System planet from the Sun
CONCLUSION

Do you know what helps you make your


point clear? Lists like this one:

● They’re simple
● You can organize your ideas clearly
● You’ll never forget to buy milk!

And the most important thing: the audience


won’t miss the point of your presentation
TREATMENT

JUPITER SATURN MERCURY


Jupiter is a gas giant This gas giant is Mercury is the closest
and the biggest planet composed mostly of planet to the Sun and
in the Solar System hydrogen and helium the smallest too
A
PICTURE
WO IS
RT
HA
ND
SA
U

WOR
O

DS
TH
RECOMMENDATIONS

● Here you can describe what ● Here you can describe what
the patient shouldn’t do the patient should do
● Here you can describe what ● Here you can describe what
the patient shouldn’t do the patient should do
● Here you can describe what ● Here you can describe what
the patient shouldn’t do the patient should do
PREVALENCE

MERCURY
Mercury is the
smallest planet

JUPITER
Jupiter is the
biggest planet
OUR TEAM

JANE TRUST DANNY DOE MERY SMITH


Here you can Here you can Here you can
talk a bit about talk a bit about talk a bit about
this person this person this person
REFERENCES

● AUTHOR (YEAR). Title of the publication. Publisher


● AUTHOR (YEAR). Title of the publication. Publisher
● AUTHOR (YEAR). Title of the publication. Publisher
● AUTHOR (YEAR). Title of the publication. Publisher
● AUTHOR (YEAR). Title of the publication. Publisher
● AUTHOR (YEAR). Title of the publication. Publisher
● AUTHOR (YEAR). Title of the publication. Publisher
SNEAK PEEK
You can replace the images on the
screen with your own work
THANKS!
Do you have any questions?
youremail@freepik.com
+91 620 421 838
yourcompany.com

CREDITS: This presentation template was created


by Slidesgo, including icons by Flaticon, and
infographics & images by Freepik.

PLEASE KEEP THIS SLIDE FOR ATTRIBUTION


ALTERNATIVE RESOURCES
RESOURCES
Did you like the resources on this template? Get them for free at our other websites.

PHOTOS ●

Happy people holding speech bubbles
Young woman teaching sign language
● Young man and woman holding speech ● Friends showing symbols of three
bubbles wise monkeys
● Sign language hand showing letter d ● Man gesturing can’t hear sign
● Portrait of a young woman teaching sign
language VECTORS
● Sign language hand showing letter o
● Sign language hand showing letter c ● Abstract business card template
● Portrait of man teaching sign language ● Mouth with speech bubbles
● Portrait of woman teaching sign ● Red lips collection with flat design
language ● Pack of green speech bubbles in flat
● Portrait of woman teaching sign design
language I

Anda mungkin juga menyukai