0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan9 halaman

Jenis-Jenis Belajar dan Penerapannya

belajar dan pembelajaran

Diunggah oleh

adi suklan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan9 halaman

Jenis-Jenis Belajar dan Penerapannya

belajar dan pembelajaran

Diunggah oleh

adi suklan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Makalah Jenis-jenis Belajar dan

Penerapannya
Selasa, 21 Juni 2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang
dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Dalam belajar pun
kita harus mengetahui jenis jenis belajar dengan demikian, seorang guru harus mempelajari
terlebih dahulu apa itu jenis jenis belajar yang apat mempermudah proses mengajar. -arena
tanpa adanya jenis jenis belajar seorang guru akan sulit untuk menyampaikan materi sesui
rancangan yang telah ditentukan.Berkaitan dengan ini, kami membuat suatu makalah yang
berisikan tentang jenis jenis belajar.

Dimana disana kami telah menguraikan beberapa konsep yang mungkin dapat dipahami
dan dapat menyelesaikan suatu permasalahan dari seorang guru yang telah mengajar tanpa ada
hambatan apapun. -ami akan menguraikan jenis jenis belajar tentang belajar arti kata, belajar
kognitif, belajar menghapal, belajar teoritis, belajar konsep, belajar berpikir, belajar kaidah,
keterampilan motorik, dan belajar estetis.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari belajar ?
2. Apa saja jenis-jenis belajar ?
3. Bagaima penerapan dalam metode pembelajaran ?

C. Tujuan Penulisan
Dapat mengetahui serta memahami Jenis-jenis belajar serta dapat mengetahui
dan memahami komponen dari jenis-jenis belajar dan penerapannya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Belajar
Sebagai landasan penguaraian mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, terlebih
dahulu akan dikemukakan beberapa definsi. Berikut adalah beberapa definisi yang ditulis oleh
purwanto dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan (1990) :

1. Hilgard dan Bower dalam buku Theories of Learning (1975)


Mengemukakan “belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap
sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya berulang-ulang dalam situasi itu, di
mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon
pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh
obat dan sebagainya)”
2. Gagne dalam buku The condition of learning (1977) menyatakan bahwa : “ belajar terjadi
apabila suatu situasi stimulus besama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa
sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu
ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
3. Morgan, dalam buku introduction to psychology (1978) mengemukakan : “belajar adalah setiap
perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan
atau pengalaman.”
4. Witherington, dalam buku Educational Psychology. Mengemukakan .” belajar adalah suatu
perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi
yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”
5. Menurut Charles E. Skiner ( dalam Dalyono, 2010 : 212). “learning is a process of progressive
behavior adaption”, bahwa belajar adalah proses penyesuaian tingkah laku ke arah yang lebih
maju.
6. Mc. Gooch mengatakan “learning is a change in performance as a result of practice, “ belajar
adalah perubahan pada perbuatan sebagai akibat dari latihan (Dalyono, 2010:212).
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa
elemen penting yang merincikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa:

1. Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah
kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku
yang lebih buruk.

2. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti
perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap
sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi

3. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap; harus merupakan akhir
daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung
sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode
yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita
harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi,
kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian, atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya
berlangsung sementara.

4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek
kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu
masalah/ berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengetian belajar dapat dipahami bahwa belajar
adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga. Gerak
raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu
saja perubahan yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab
masuknya kesan-kesan yang baru. Perubahan sebagai hasil proses belajar adalah perubahan jiwa
yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan suatu tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam
interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
B. Jenis-jenis belajar

Dalam peroses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak
yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam
dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam.
Sebagaimana gagne berpendirian bahwa memang belajar dipengaruhi oleh 2 hal yakni variabel
dalam diri dan di luar diri individu yang saling berinteraksi. Dengan pandangan elitnya itu, gagne
merinci proses belajar menjadi delapan jenis belajar, yaitu:

1. Signal learning atau belajar isyarat


Belajar isyarat adalah belajar yang dimulai dengan mengenal adanya isyarat, tanda atau
petunjuk yang mengimplikasikan pada proses perubahan perilaku, misalnya berhenti bicara
karena mendapat isyarat telunjuk mulut sebagai tanda tidak boleh ribut, berhenti mengendarai
sepeda motor diperempatan jalan saat lampu merah menyala.

2. Stimulus-response learning atau belajar stimulus respon


Belajar stimulus respon adalah proses perubahan perilaku yang dihasilkan oleh
terciptanya relasi antara stimulus atau rangsangan dengan respon atau jawaban atas
stimulus,misalnya timbul selera makan karena mencium bau sate, melakukan perbuatan karena
ada komando, berlari karena mendengar suara anjing menggonggong di belakang.

3. Belajar merantaikan (chaining).


Tipe ini merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya
membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam
yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya

4. Belajar Asosiasi Verbal (Verbal Association).


Tipe ini meruakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa
benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contoh
Bentuk verbal association yang paling sederahana ialah biladiperlihatkan suatu bentuk geometris,
dan anak itu dapat mengatakan “bujursangkar”, atau mengatakan “itu bola saya” bila dilihatnya
bolanya.

5. Belajar membedakan (discrimination).


Tipe belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai
kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa
kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih
dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa
menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
6. Concept learning atau belajar konsep
Belajar konsep adalah aktivitas individu dalam memahami suatu benda, proses, gejala,
aturan, pengalaman melalui proses mengenal ciri-cirinya, contoh, dan sifat dari ciri-ciri itu.
Pemahaman tersebut selanjutnya dapay digunakan oleh individu dalam memahami hal-hal yang
sama yang lebih luas, lebih banyak; misalnya pemahaman terhadap manusia adalah termasuk
makhluk khidup dengan cara melihat contoh dan ciri-ciri manusia dibandingkan dengan non
manusia, misal binatang atau tumbuh-tumbuhan. Nampaknya belajar konsep merupakan
peningkatan dari belajar deskriminasi

7. Rule learning atau belajar hukum atau aturan


Belajar hukum adalah belajar membangun prinsip atau aturan dengan menggunakan
serangkaian fakta, data, peristiwa, dan pengalaman yang telah diketahui atau dialami
sebelumnya. Aturan yang dibangun itu berupa kesimpulan yang berlaku umum dan karenanya
dapat diterapkan pada situasi yang sama yang jangkauan dan cakupannya lebih luas. Misalnya
ditemukan bahwa benda memuai bila dipanaskan, iklim suatu tempat dipengaruhi oleh tempat
kedudukan geografis dan astronomi di muka bumi, harga dipengaruhi oleh penawaran dan
permintaan

8. Belajar memecahkan masalah (problem solving).


Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk
memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order rule).
Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya
untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut.
Selain delapan jenis belajar, Gagne juga membuat semacam sistematika jenis belajar.
Menurutnya sistematika tersebut mengelompokkan hasil-hasil belajar yang mempunyai ciri-ciri
sama dalam satu katagori. Kelima hal tersebut adalah:
1. Keterampilan intelektual : kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya
dengan menggunakan symbol huruf, angka, kata atau gambar.
2. Informasi verbal : seseorang belajar menyatakan atau menceritakan suatu fakta atau suatu
peristiwa secara lisan atau tertulis, termasuk dengan cara menggambar.
3. Strategi kognitif : kemampuan seseorang untuk mengatur proses belajarnya sendiri, mengingat
dan berfikir.
4. Keterampilan motorik : seseorang belajar melakukan gerakan secara teratur dalam urutan
tertentu (organized motor act). Ciri khasnya adalah otomatisme yaitu gerakan berlangsung secara
teratur dan berjalan dengan lancar dan luwes.
5. Sikap keadaan mental yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pilihan-pilihan dalam
bertindak.

C. Jenis-jenis metode pembelajaran dan penerapannya

1. Pengajaran dengan bantuan Komputer ( CAI = Computer Assisted Instruction)


Setiap siswa menggunakan sebuah komputer untuk mempelajari suatu materi pelajaran. Contoh :
Para siswa, diharuskan mengerjakan suatu makalah dengan mengunakan komputer yang ada di
sekolah tersebut, dan dengan bimbingan dari gurunya, agar para siswa tidak mengalami
kesulitan.

2. Demonstrasi ( Demonstration )
Dalam kegiatan pembelajaran menggunakan demonstrasi, guru memperagakan atau
menunjukkan cara mengerjakan suatu prosedur, cara bekerjanya suatu prinsip, cara
menggunakan suatu peralatan, dsb. Contoh : Guru memperagakan bagaimana Ir. Soekarno dalam
membacakan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

3. Pengamatan ( Observasi )
Metode pembelajaran yang hendaknya siswa mengamati secara teliti obyek studi atau materi
yang dipelajari dengan tujuan agar siswa mendapatkan gambaran dan pengertian yang jelas.
Contoh : Siswa mengamati bagaimana perilaku para penghuni Lembaga Permasyarakatan,
dengan bimbingan dari para gurunya.

4. Diskusi
Metode mengajar yang menghendaki sekelompok siswa ( 3 orang atau lebih ) membahas suatu
masalah ditinjau dari berbagai segi atau sudut pandang. Contoh : Siswa membahas tentang
masalah Pemilihan Umum yang langsung, umum, bebas, dan Rahasia, serta Jujur dan Adil.

5. Debat
Metode pembelajaran dimana siswa baik secara individual atau kelompok dilatih, di satu pihak
untuk mengemukkan suatu pendapat terhadap suatu persoalan, sedangkan kelompok lain untuk
mengemukakan bantahan, sanggahan, atau pendapat yang berbeda, dengan disertai alasan.
Contoh : Sekelompok siswa mempresentasikan suatu masalah didepan kelasnya, lalu kelompok
lain memberikan pendapat yang lain, sehingga akan terjadi perdebatan yang sengit.

6. Dramatisasi
Metode mengajar dimana sekelompok siswa ditugasi memerankan atau membawakan suatu
cerita baik cerita fiktif maupun cerita sejarah. Contoh : Siswa disuruh memerankan bagaimana
para pendiri bangsa ini dalam mengadakan rapat untuk perencanaan proklamasi kemerdekaan.

7. Latihan ( Drill )
Kegiatan belajar dengan berlatih secara teratur, berulangkali, dan intensif dengan maksud
membantu siswa menguasai keterampilan ( skills ) tertentu. Contoh : Siswa ditugasi belajar
bagaimana, cara bergaya bagai seorang guru agar nantinya kelak jika ia akan menjadi guru.

8. Percobaan ( Eksperimen )
Kegiatan belajar yang menghendaki siswa memberikan perlakuan ( treatment ) yang berbeda-
beda terhadap suatu obyek atau subyek untuk diamati ada tidaknya pengaruh atau ada tidaknya
perbedaan pengaruh perlakuan tadi.
Contoh : Para siswa ditugasi mengamati kebijakan-kebijakan para politisi apakah kebijakan
tersebut berpengaruh bagi masyarakat Indonesia.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Belajar adalah suatu kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan suatu tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Ada beberapa jenis-jenis belajar diantaranya
adalah belajar arti kata-kata, belajar kognitif, belajar menghafal, belajar teoritis, belajar konsep,
belajar kaidah, belajar berpikir, belajar keterampilan motorik (motor skill), dan belajar estetis.

B. Saran

Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini baik dari
segi sumber maupun penulisan, untuk itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya.
Diharapkan pembaca tidak merasa puas dengan materi yang telah dibaca dan mencoba
mencari definisi dan jenis-jenis belajar yang diungkapkan oleh para ahli lainnya sehingga
mendapatkan ilmu yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Dalyono, M. (2010). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta


Djamarah, S. B. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
Kartadinata, Sunaryo dkk. (1998). Bimbingan di Sekolah Dasar. Bandung: Depdikbud
Purwanto, Ngalim. (1990). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Remaja Rosdakarya

http://www.academia.edu/17516218/Makalah_Belajar_dan_Pembelajaran_Jenis-Jenis_Belajar

Anda mungkin juga menyukai