PENGERTIAN BELAJAR DAN JENIS-JENIS BELAJAR
A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses
perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan – perubahan tersebut akan nyata pada
seluruh aspek tingkah laku.
Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut “ Belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengelamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Perubahan yang terjadi pada seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu
sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti
belajar (Daryanto. 2010).
Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui
pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau karakteristik
seseorang sejak lahir. Manusia banyak belajar sejak lahir dan bahkan ada yang berpendapat
sebelum lahir. Bahwa antara belajar dan perkembangan sangat erat kaitannya (Trianto.2012).
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang agar memiliki kompetensi berupa
keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Belajar juga dapat dipandang sebagai sebuah
proses elaborasi dalam upaya pencarian makna yang dilakukan oleh individu. Proses belajar
pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan personal ( Benny.2009 ).
B. Jenis – Jenis Belajar
1. Belajar Bagian (Part learning, fractioned learning)
Umumnya belajar bagian dilakukan oleh seseorang bila ia dihadapkan pada materi belajar
yang bersifat luas atau ekstensif, misalnya mempelajari sajak ataupun gerakan – gerakan
motoris seperti bermain silat. Dalam hal ini individu memecah seluruh metri pelajaran
menjadi bagian – bagian yang satu sama lain berdiri sendiri. Sebagai lawan dari cara belajar
bagian adalah cara belajar keseluruhan atau belajar global.
2. Belajar dengan wawasan (Learning by insight)
Konsep ini diperkenalkan oleh W. Kohler, salah seorang tokoh psikologi Gestalt pada
permulaan tahun 1971.Sebagai suatu konsep, wawasan (insight) ini merupakan pokok utama
dalam pembicaraan psikologi belajar dan proses berfikir. dan meskipun W. Kohler sendiri
dalam menerangkan wawasan berorientasi pada data yang bersifat tingkah laku
( perkembangan yanglembut dalam menyelesaikan suatu persoalan dan kemudian secara tiba
– tiba menjadi reorganisasi tingkah laku) namun tidak urung wawasan ini merupakan konsep
yang secara prinsipil ditentang oleh penganut aliran neo – behaviorisme.
3. Belajar Diskriminatif (Discriminatif learning)
Belajar diskriminatif diartikan sebagai suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi /
stimulus dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam tingkah laku. Dengan
pengertian ini maka dalam eksperimen, subyek diminta untuk berespon secara berbeda- beda
terhadap stimulus yang berlainan.
4. Belajar global / keseluruhan (global whole learning)
Disini bahan pelajaran dipelajari secara keseluruhan berulang sampai pelajar menguasainya,
lawan dari belajar bagian. Metode belajar ini sering disebut metode Gestalt.
5. Belajar Insidental (incidental learning)
Konsep ini bertentangan dengan anggapan bahwa belajar itu selalu berarah tujuan
(intensional). Sebab dalam belajar insidental pada individu tidak ada sama sekali kehendak
untuk belajar. Belajar insidental ini merupakan hal yang sangat penting.
6. Belajar istrumental (instrumental learning)
Pada belajar instrumental, reaksi-reaksi seseorang siswa yang diperlihatkan diikuti oleh
tanda-tanda yang mengarah pada apakah siswa tersebut akan mendapat hadiah, hukuman,
berhasil atau gagal. Oleh karena itu cepat atau lambatnya seseorang belajar dapat diatur
dengan jalan memeberikan penguat (reinforcememnt) atas dasar tingkat-tinkat kebutuhan.
7. Belajar intensional (intentional learning)
Belajar dalam arah tujuan, merupkan lawan dari belajar insidental.
8. Belajar laten (latent learning)
Dalam belajar laten, perubahan – perubahan tingkah laku yang terlihat tidak terjadi secara
segera.
9. Belajar mental (mental learning)
Ada tidaknya belajar mental ini sangat jelas terliahat pada tugas-tugas yang sifatnya motoris.
Sehingga perumusan operasional juga menjadi sangat berbeda. Ada yang mengartikan belajar
mental sebagai belajar dengan cara melakukan observasi dari tingkah laku orang lain,
membayangkan gerakan-gerakan orang lain dan lain-lain.
10. Belajar produktif (productive learning)
R. Berguis (1964) memberikan arti belajar produktif sebagai belajar dengan transfer yang
maksimum. Belajar adalah mengatur kemungkian untuk melakukan transfer tingkah laku dari
satu situasi ke situasi lain. Belajar disebut produktif bila individu mampu mentransfer prinsip
menyelesaikan satu persoalan dalam satu situasi ke situasi lain.
11. Belajar verbal (verbal learning)
Belajar verbal adalah belajar mengenai materi verbal dengan melalui latihan dan ingatan.
Dasar dari belajar verbal diperlihatkan dalam eksperimen klasik dari ebbinghaus. Sifat
eksperimen ini meluas dari belajar asosiatif mengenai hubungan dua kata yang tidak
bermakna sampai pada belajar dengan wawasan mengenai penyelesaian persoalan yang
kompleks yang harus diungkapkan secara verbal (Slameto.2010).
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Telah dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang menimbulkan terjadinya
suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan. Berhasil atau
tidaknya perubahan tersebut tergantung pada bermacam-macam faktor. Adapun faktor-faktor
tersebut, dapat dibedakan menjadi dua golongan yakni :
Faktor internal (faktor dari dalam diri anak), yakni keadaan atau keadaan jasmani dam
rohani, faktor ini dibagi menjadi dua yaitu :
1. Aspek Fisiologis
Aspek fisiologis meliputi hal-hal yang bersifat jasmaniah. Kondisi jasmani yang menandai
tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan
intensitas anak dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ khusus pada anak, seperti tingkat
kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan
siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan yang disajikan.
2. Aspek Psikologis
Aspek psikologis meliputi hal-hal yang bersifat rohaniah. Pada umumnya faktor-faktor
rohaniah yang dipandang lebih esensial adalah sebagai berikut :
a. Kecerdasan/Intelegensi
Intelegensi pada umumnya diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi
rangsangan atau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara yang tepat.
Pada umumnya tidak semua anak memiliki intelegensi yang sama dalam mempelajari suatu
mata pelajaran dan kecakapan-kecakapan yang lainnya, untuk menolong terjadinya
ketidakadilan yang terjadi antara anak yang memiliki intelegensi yang tinggi dan anak yang
berintelegensi dibawah rata-rata perlu adanya perhatian khusus dari seorang guru yang
profesional, sehingga anak itu tetap merasa adil dan tidak merasa bosan ataupun tertinggal.
b. Sikap
Sikap (attitude) adalah gejala internal yang berupa kecenderungan untuk mereaksi atau
merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik
secara positif maupun negatif. Sikap anak dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan
senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya.
c. Bakat
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dalam perkembangan selanjutnya, bakat
diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak
bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Bakat akan dapat mempengaruhi tinggi-
rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karena itu, sebagai orangtua
hendaknya menyekolahkan anak pada jurusan yang sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh
anak tersebut, karena apabila orang tua terlalu memaksakan kehendak pada akhirnya akan
berpengaruh buruk terhadap kinerja akademik atau hasil prestasi belajar anak.
d. Minat
Secara sederhana minat (interest) diartikan sebagai kecenderungan yang tinggi atau keinginan
yang besar terhadap sesuatu. Minat sama halnya dengan kecerdasan, sikap dan bakat, karena
memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, anak akan menjadi tidak bersemangat atau
bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau
pendidik lainnya perlu membangkitkan minat anak agar tertarik terhadap materi pelajaran
yang akan dihadapainya atau dipelajarinya.
e. Motivasi
Motivasi merupakan pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu hal dalam bidang
tertentu sehingga pada akhirnya orang tersebut dapat menjadi seorang spesialis dalam bidang
yang telah dipilihnya tersebut. Motivasi diberikan kepada anak oleh guru atau orang tua,
dimana motivasi ini ditujukan supaya dalam diri anak tersebut muncul suatu dorongan atau
hasrat untuk belajar, sehingga anak tersebut dapat menyadari apa guna belajar dan tujuan
yang hendak dicapai apabila diberi perangsang dan motivasi yang baik dan sesuai.
Faktor eksternal (faktor dari luar diri anak), faktor eksternal terdiri atas dua macam yakni :
1. Faktor Lingkungan Sosial
Yang termasuk dalam lingkungan sosial antara lain adalah lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah dan lingkungan masyarakat.
a. Lingkungan keluarga
Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam mau tidak mau turut serta dalam
menentukan bagaimana dan sampai dimana belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak.
b. Lingkungan sekolah
Keberadaan para guru, staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi
semangat belajar anak. Para guru atau staf administrasi yang menunjukkan sikap dan perilaku
yang memperlihatkan suri tauladan yang baik dalam hal belajar akan menjadi daya dorong
yang positif bagi kegiatan belajar anak.
c. Lingkungan masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal anak juga dapat mempengaruhi tingkat
belajarnya. Misalnya, kondisi lingkungan masyarakat yang kumuh akan sangat
mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kesulitan yang akan dihadapi anak tersebut antara lain
adalah kesulitan untuk mencari teman belajar atau berdiskusi.
2. Faktor Lingkungan non Sosial
Faktor-faktor yang termasuk dalam lingkungan non sosial adalah sebagai berikut :
a. Lingkungan alamiah
Lingkungan alamiah seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar
yang tidak terlalu silau atau tidak terlalu gelap, suasana yang sejuk dan tenang merupakan
faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Apabila lingkungan alamiah
mendukung proses belajar anak akan berlangsung dengan nyaman. Sebaliknya, bila kondisi
lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar anak akan terhambat.
b. Faktor instrumental
Faktor instrumental yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama,
hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olah raga dan
lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah,
buku panduan dan sebagainya. Ketersediaan serta kelengkapan dari kedua perangkat belajar
tersebut akan mempengaruhi aktivitas belajar anak.
c. Faktor materi pelajaran
Faktor materi pelajaran (materi yang diajarkan) ini hendaknya disesuaikan dengan usia
perkembangan anak begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi
perkembangan anak.
A. Kesimpulan
1. Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan atau usaha yang disadari untuk
meningkatkan kualitas kemampuan atau tingkah laku dengan menguasai sejumlah
pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap.
2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar di bedakan menjadi dua yakni : faktor
internal dan faktor eksternal.
3. Fase-fase dalam proses belajar menurut Jerome S Brunner adalah: fase informasi, fase
transformasi, dan fase evaluasi, sedangkan menurut Wittig adalah: acquisition,
storage, retrieval.
4. Beberapa teori belajar adalah teori conditioning yang dibagi menjadi teori
conditioning klasik dan teori conditioning operant, yang berikutnya adalah teori
psikologi gestalt.
5. Macam-macam perwujudan perilaku belajar yaitu kebiasaan, keterampilan,
pengamatan, berpikir asosiatif dan daya ingat, berpikir rasional dan kritis, sikap,
inhibisi, apresiasi, dan tingkah laku afektif.
B. Saran
1. Kepada pemerintah hendaknya memberikan dukungan penuh terhadap proses belajar
mengajar dengan menyediakan sarana dan prasarana yang layak yang dapat
digunakan untuk menunjang keberhasilan proses belajar.
2. Kepada para guru hendaknya memperhatikan anak didiknya sejak dini, sehingga
ketika anak tersebut mengalami masalah dalam belajar akan segera dapat melakukan
tindakan secepatnya untuk mengatasi masalah belajar anak tersebut sehingga tidak
berlanjut. Dan hendaknya seorang guru bisa kreatif menciptakan kegiatan belajar
yang efektif, efisien tidak monoton sehingga dapat menumbuhkan semangat dan
kreativitas anak.
3. Kepada para orang tua hendaknya memberikan perhatian, dukungan dan motivasi-
motivasi yang sebaik-baiknya yang dapat menumbuhkan semangat anak dalam
kegiatan belajarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2010. Belajar dan Mengajar. Jakarta : Yrama Widya.
Dimyati,dkk, 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Hamalik, O. 2011. Proses Belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta
Uno. H. 2010. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Djamarah. S.B, dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Nurhidayah.2011).