23
BAB II
KERANGKA TEORETIS
Pada bagian ini akan dikemukakan mengenai teori yang menjadi landasan
kerangka berpikir dalam penelitian. Bagian ini akan menguraikan beberapa pokok
bahasan yang berkaitan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team
Games Tournament) dan model direct instruction yang meliputi definisi,
karakteristik, pengelolaan kelas, tahapan pelaksanaan, evaluasi, tujuan dan
landasan teorinya. Bagian selanjutnya pembahasan mengenai empati meliputi
definisi empati, dimensi empati, proses psikologis dalam empati, fungsi empati
dan teori empati.
A. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
1. Definisi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Mengenai model pembelajaran kooperatif (cooperative learning), ada
beberapa para ahli memberikan pendapatnya. Metzler (2000:221) mendefinisikan
pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
It is a set of teaching strategies that share key attributes, the most
important being the grouping of students into learning teams for set amounts
of time or assigments, with the expectation that all students will contribute to
the learning process and outcomes.
Dari kutipan di atas, model pembelajaran kooperatif diartikan sebagai
Model pembelajaran kooperatif adalah seperangkat strategi pengajaran yang
memberikan atribut kunci, yang terpenting untuk pengelompokan siswa ke dalam
kelompok belajar dalam jumlah waktu dan tugas-tugas tertentu, dengan harapan
24
bahwa semua siswa akan berkontribusi terhadap proses dan hasil belajar. Slavin
(2005:4) mendefinisikan bahwa ”Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai
macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi
pelajaran”. Sedangkan Lie (2010:12) mendefinisikan pembelajaran kooperatif
sebagai: ”Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk
bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur”.
Mengenai pengaturan kelompok dalam model pembelajaran kooperatif,
Lie (2010:41) mengemukakan sebagai berikut:
Pengelompokkan heterogenitas (kemacamragaman) merupakan ciri-ciri
yang menonjol dalam metode pembelajaran Cooperative Learning. Kelompok
heterogenitas bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender,
latar belakang agama sosio-ekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis.
Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran Cooperative
learning biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua
orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok
kemampuan akademis kurang.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, dapat dijelaskan bahwa
model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang membagi siswa
ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari berbagai latar belakang
yang berbeda seperti jenis kelamin, agama, sosio-ekonomi, suku dan kemampuan
akademik untuk bekerja sama, saling membantu baik dalam proses maupun hasil
belajarnya.
Sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, Slavin (2005:170)
mengemukakan bahwa ”TGT terdiri dari siklus reguler dari aktivitas pengajaran,
sebagai berikut: Pengajaran; Belajar Tim; Turnamen; Rekognisi Tim”.
25
Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah model pembelajaran yang membagi
siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari latar belakang yang
berbeda baik jenis kelamin, agama, sosio-ekonomi, suku dan kemampuan
akademik untuk bekerja sama, saling membantu yang pelaksanaannya dilakukan
dengan langkah-langkah: pengajaran (presentasi kelas), belajar tim, turnamen dan
rekognisi tim.
2. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa pengelompokkan siswa dalam
proses pembelajaran kooperatif berbeda dengan proses pembelajaran direct
instruction. Dalam pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya unsur-unsur
dasar yang membedakan dari proses pembelajaran lainnya. Unsur-unsur tersebut
seperti dikemukakan Johnson and Holubec (1994; dalam Metzler (2000:223)
sebagai berikut:
a. Positive interdependence among students.
b. Face-to-face promotive interaction
c. Individual accountability/personal responsibility
d. Interpersonal and small-group skills.
e. Group processing
Hal serupa dikemukakan juga oleh Lie (2010:31) bahwa unsur-unsur
pembelajaran kooperatif sebagai berikut :
a. Saling ketergantungan
b. Tanggung jawab perseorangan
c. Tatap muka
d. Komunikasi antaranggota
e. Evaluasi proses kelompok
26
Dari kedua kutipan di atas, pada dasarnya sama bahwa unsur-unsur dalam
pembelajaran kooperatif meliputi: saling ketergantungan, tanggung jawab
perseorangan, tatap muka, komunikasi antaranggota dan evaluasi proses
kelompok
a. Saling Ketergantungan Positif
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun
tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan
tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Dalam model
pembelajaran kooperatif, jumlah anggota dibatasi antara 4 – 6 orang saja dan
setiap anggota ini ditugaskan mempelajari materi secara berlainan. Masing-
masing anggota berkumpul dan bertukar informasi. Selanjutnya pengajar akan
mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian. Dengan cara ini, mau tidak mau
setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar
yang lain bisa berhasil.
Penilaian terhadap hasil kerja di antara siswa dilakukan dengan cara yang
unik. Setiap siswa mendapat nilainya sendiri dan nilai kelompok. Nilai kelompok
dibentuk dari sumbangan setiap anggota. Untuk menjaga keadilan, setiap anggota
menyumbangkan poin di atas nilai rata-rata mereka. Cara tersebut akan menjadi
suatu kesempatan kepada siswa untuk memberikan sumbangan. Sementara siswa
yang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap rekan-rekan mereka
karena mereka juga dapat memberikan sumbangan. Malahan mereka akan
termotivasi untuk meningkatkan usahanya sehingga akan menaikkan pencapaian
nilai mereka. Sebaliknya, siswa yang lebih pandai juga tidak akan merasa
27
dirugikan karena rekannya yang kurang mampu juga memberikan bagian
sumbangan mereka, sehingga dari setiap anggota dalam kelompok akan
merasakan saling ketergantungan yang positif.
b. Tanggung Jawab Perseorangan
Unsur tanggung jawab ini adalah sebagai akibat langsung dari unsur yang
pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model
pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan cara kerja kelompok adalah
persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.
Sebagai pedoman pelaksanaannya, guru yang efektif dalam model
pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa
sehingga masing-masing kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya
sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. Dalam
pembelajaran kooperatif, bahasan materi dibagikan kepada setiap siswa dalam
kelompok dan masing-masing siswa mendapat dan mempelajari satu dari materi
yang dipelajari. Dengan cara demikian, siswa yang tidak melaksanakan tugasnya
akan diketahui dengan jelas dan mudah. Rekan-rekan dalam satu kelompok akan
menuntutnya untuk melaksanakan tugas agar tidak menghambat yang lainnya.
c. Tatap Muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan
berdiskusi. Kegiatan ini akan memberikan kepada para siswa untuk membentuk
sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa orang
28
akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu orang saja. Lebih jauh lagi,
hasil kerja sama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing
anggota.
Sebagai inti dari sinergi dari tatap muka ini adalah menghargai perbedaan,
memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiap anggota
kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, dan sosial-ekonomi
yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini akan menjadi modal utama
dalam proses saling memperkaya antara anggota kelompok. Sinergi tidak bisa
didapatkan begitu saja dalam waktu singkat, tetapi merupakan proses kelompok
yang memerlukan waktu cukup panjang. Para anggota kelompok perlu diberi
kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan
tatap muka dan interaksi pribadi.
d. Komunikasi Antar Anggota
Unsur ini juga menghendaki agar para siswa dibekali dengan berbagai
keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok,
pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa
mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok
juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan
kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
Oleh sebab itu siswa perlu diberi tahu secara eksplisit mengenai cara-cara
berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana caranya menyanggah pendapat
orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang tersebut. Masih banyak orang
yang kurang sensitif dan kurang bijaksana dalam menyatakan pendapat mereka.
29
Tidak ada salahnya mengajar siswa beberapa ungkapan positif atau sanggahan
dalam ungkapan yang lebih halus.
Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini juga merupakan proses
panjang. Siswa tidak bisa diharapkan langsung menjadi komunikator yang andal
dalam waktu sekejap. Namun, proses ini merupakan proses yang bermanfaat dan
perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan
perkembangan mental dan emosional para siswa.
e. Evaluasi Proses Kelompok
Guru perlu menjadwalkan waktu secara khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi dalam model
pembelajaran kooperatif tidak dilakukan dalam setiap kali ada kerja kelompok,
tetapi bisa dilakukan selang beberapa waktu setelah beberapa kali siswa terlibat
dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan format evaluasi yang digunakan
terdapat banyak macamnya, namun harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan
siswa.
3. Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, tidak semua kerja kelompok dapat
dianggap sama dengan model pembelajaran kooperatif. Ada lima unsur yang
membedakan model pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok biasa. Untuk
memenuhi kelima unsur tersebut memang dibutuhkan proses yang melibatkan niat
dan kiat para anggota dalam kelompok. Para siswa harus mempunyai niat untuk
30
bekerja sama dengan yang lainnya dalam kegiatan belajar kooperatif yang akan
saling menguntungkan. Selain niat, para siswa juga harus menguasai kiat-kiat
berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain.
Niat dan kiat ini tidak dapat diperoleh dalam waktu singkat, namun harus
melalui proses yang cukup panjang. Oleh karena itu niat dan kiat ini dapat dibina
melalui pengelolaan kelas dalam model kooperatif yang bertujuan untuk
mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan siswa yang
lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut Lie (2010:38) mengemukakan bahwa
”Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model
Cooperative learning yaitu pengelompokkan dan semangat gotong royong ...”.
a. Pengelompokkan
Pengelompokkan siswa dalam model pembelajaran kooperatif dilakukan
dengan memperhatikan tingkat heterogenitas siswa. Tingkat heterogentias dalam
pengelompokkan model pembelajaran kooperatif tidak hanya menyangkut gender,
sosio-ekonomi, atau etnik tetapi juga tingkat kemampuan siswa. Sebagaimana
dikemukakan Lie (2010:41) yaitu:
Kelompok heterogentitas bisa dibentuk dengan memperhatikan
keanekaragaman gender, latar belakang agama sosio-ekonomi dan etnik, serta
kemampuan akademis. Dalam kemampuan akademis, kelompok pembelajaran
Cooperative Learning biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan tinggi,
dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok
kemampuan akademis kurang”.
Sistem pengelompokkan siswa seperti di atas, sangat disukai karena
menimbulkan efek yang menguntungkan bagi para guru karena akan memudahkan
dalam proses pembelajarannya. Keuntungan yang diperoleh yaitu diantara siswa
31
akan terjadi saling interaksi untuk saling mengajar (peer tutoring), sehingga para
guru secara tidak langsung akan merasa terbantu dalam penyampaian materi ajar.
Keuntungan lainnya yaitu akan memudahkan guru dalam pengelolaan kelas,
mengingat dari setiap kelompok siswa ada satu yang mengendalikannya.
Sebagaimana dikemukakan Lie (2010:43) sebagai berikut:
Secara umum, kelompok heterogen disukai oleh para guru yang telah
memakai metode pembelajaran Cooperative Learning karena beberapa alasan.
Pertama, kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar
(peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, kelompok ini meningkatkan
relasi dan interaksi antarras, agama, etnik, dan gender. Terakhir, kelompok
heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang
yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk
setiap tiga orang”.
Meskipun demikian, para guru tetap harus memperhatikan salah satu
kendala yang mungkin dihadapi dengan sistem pengelompokkan heterogen yaitu
keberatan dari pihak siswa yang berkemampuan tinggi. Siswa dari kelompok ini
bisa merasa rugi dan dimanfaatkan tanpa bisa mengambil manfaat apa-apa dalam
kegiatan belajar kooperatif karena rekan-rekan mereka tidak merasa lebih pandai
dari mereka. Untuk mengatasinya, perlu dijelaskan mengenai tujuan yang ingin
dicapai dengan cara belajar kooperatif. Siswa yang kemampuannya tinggi tetap
memiliki banyak manfaat. Dalam belajar kooperatif, belajar tidak hanya untuk
dirinya saja, melainkan juga untuk diri orang lain. Dengan mengajarkannya
kepada teman, mereka akan semakin terampil dalam menguasai pengetahuan dan
keterampilannya. Akibatnya, pencapaian tujuan pembelajaran bukan hanya dalam
bentuk keterampilan saja, tetapi berdampak pula pada aspek sosial, yaitu
membantu orang lain. Seperti dikemukakan Lie (2010:43) yaitu:
32
Sebenarnya siswa dengan kemampuan tinggi pun akan menarik manfaat
secara kognitif ataupun afektif dalam kegiatan belajar Cooperative Learning
bersama siswa-siswa lain dengan kemampuan yang kurang. Dengan
mengajarkan apa yang seseorang baru dipelajari, dia akan lebih bisa
menguasai atau menginternalisasi pengetahuan atau keterampilan barunya.
Secara afektif, siswa berkemampuan tinggi juga perlu melatih diri untuk bisa
bekerja sama dan berbagi dengan mereka yang kurang. Kemampuan bekerja
sama ini akan sangat bermanfaat nantinya dalam dunia kerja dan kehidupan
bermasyarakat.
b. Semangat Gotong Royong
Agar kelompok bisa bekerja secara efektif dalam belajarnya, masing-
masing anggota kelompok harus mempunyai semangat gotong royong. Semangat
gotong royong ini bisa dirasakan dengan membina niat dan kiat siswa dalam
bekerja sama dengan siswa-siswa yang lainnya.
Adapun untuk membina niat siswa agar terjadi relasi yang lebih erat di
antara siswa, Lie (2010:48) mengemukakan ada tiga kegiatan yaitu ”Kesamaan
kelompok, identitas kelompok, sapaan dan sorak kelompok”.
1) Kesamaan Kelompok.
Kelompok akan merasa bersatu jika mereka bisa menyadari adanya kesamaan.
Kesamaan ini tidak berarti menyeragamkan semua keinginan, minat, dan
kemampuan anggota kelompok. Justru untuk bisa melihat persamaan yang
mereka miliki, masing-masing anggota kelompok harus bisa melihat keunikan
rekan-rekannya yang lain terlebih dahulu.
2) Identitas Kelompok.
Berdasarkan kesamaan mereka, kelompok dapat merundingkan nama yang
tepat untuk kelompok mereka. Setiap anggota kelompok harus dimintai
33
pendapat dan keputusan tidak boleh dibuat jika ada yang tidak setuju dengan
nama yang dipilih. Sebagai tambahan, masing-masing kelompok juga dapat
membuat atribut yang menyatukan kelompok mereka tanpa mengorbankan
keunikan pribadi.
3) Sapaan dan Sorakan Kelompok.
Untuk lebih mempererat hubungan dalam kelompok, siswa dapat disuruh
membuat sapaan dan sorak khas kelompok. Siswa didorong untuk
mengembangkan kreativitas mereka dengan menciptakan cara menyapa rekan-
rekan dalam satu kelompok yang disesuaikan dengan identitas kelompok
mereka. Demikian pula dengan sorak kelompok. siswa dapat membuat
ungkapan sederhana namun meriah, misalnya ”hebat ...”. Sapaan dan sorakan
kelompok ini dapat dipergunakan untuk memberikan semangat terhadap
rekan-rekannya yang dipanggil maju oleh guru. Cara ini sangat bermanfaat
dalam mengatasi rasa jenuh dan membosankan yang terjadi pada siswa.
4. Tahapan Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah model pembelajaran yang
diakhir kegiatannya ditambah satu kegiatan yang disebut turnamen akademik.
Penggunaan model ini diharapkan siswa dapat saling berinteraksi dalam
kelompoknya, sehingga akan saling mengenal, memahami satu sama lain sehingga
timbul empati yang memberikan kesadaran untuk mau bekerja sama dan
membantu rekan sekelompoknya. Mengenai tahapan pembelajarannya, Slavin
34
(2005:170) mengemukakan yaitu ”Pengajaran; Belajar Tim; Turnamen; Rekognisi
Tim”.
a. Pengajaran, yaitu mempersentasikan atau menyajikan materi, menyampaikan
tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan
motivasi. Presentasi ini dilakukan sama seperti pada pembelajaran langsung
yang dilakukan oleh guru atau menggunakan media audiovisual.
b. Belajar Tim. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran,
maka selanjutnya kelompok yang terdiri dari 4 orang dengan kemampuan
akademik, jenis kelamin, dan ras/suku yang berbeda melakukan kerja sama
untuk berdiskusi dan mempelajari masalah yang berkaitan dengan materi
belajar. Selain itu dalam kelompok, mereka harus saling membantu dan
mengoreksi dalam menguasai materi belajarnya.
c. Turnamen, yaitu merupakan sebuah struktur dimana game berlangsung.
Turnamen biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir pembahasan
dari unit tertentu. Para siswa memainkan game akademik (ketrampilan)
dilakukan berdasarkan tingkat kemampuan yang homogen, misalnya siswa
yang berkemampuan tinggi berhadapan dengan siswa yang berkemampuan
tinggi lagi, siswa ynag kemampuannya sedang dengan siswa yang
kemampuannya sedang, dan begitu seterusnya.
d. Rekognisi Tim. Pada tahap ini yaitu memberikan penghargaan (rewards)
kepada kelompok pemenang yang didasarkan kepada perolehan skor tertinggi
dalam kegiatan turnamen.
35
5. Evaluasi Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Pelaksanaan evaluasi yang dilakukan di banyak sekolah sekarang ini masih
menggunakan sistem peringkat. Sistem ini, siswa yang satu dibandingkan dengan
teman-teman sekelasnya dan dimasukkan dalam urutan berdasarkan prestasi
belajarnya. Padahal kalau ditinjau dari aspek filosofis maupun pedagogis
penilaian dengan sistem peringkat yang diterapkan terhadap anak didik ini
merupakan praktik yang keliru dalam dunia pendidikan. Hal ini sebagaimana
dikemukakan Lie (2010:84) yaitu:
Secara filosofis dan pedagogis sistem peringkat yang diterapkan dalam
penilaian terhadap anak didik merupakan praktik yang sesat dalam dunia
pendidikan. Obsesi ini telah mengerdilkan makna dan tujuan pendidikan yang
sebenarnya melecehkan lembaga pendidikan, dan mengorbankan anak didik.
Dari kutipan tersebut jelas bahwa sistem penilaian yang membandingkan
siswa satu dengan siswa yang lainnya merupakan pelaksanaan penilaian yang
keliru, mengingat setiap anak dalam satu kelas memiliki keunikan masing-masing
sehingga tidak fair jika hanya dilihat dari kemampuan prestasi belajarnya saja.
Lebih celaka lagi, obsesi ini tampaknya sudah membentuk suatu jaringan
dan lingkaran setan. Karena berbagai tuntutan masyarakat termasuk sistem
penerimaan siswa baru dalam jenjang berikutnya dan ditambah obsesi pribadi,
orang tua memperoleh pengertian bahwa mencapai peringkat atas merupakan
suatu prestasi yang terpuji. Oleh karena itu, mereka pun menitipkan anak mereka
pada sekolah dengan harapan bisa menduduki peringkat atas. Para pembuat
kebijakan dan pengurus sekolah menyadari harapan ini dan makin memapankan
budaya sistem peringkat. Tugas mengajar yang diberikan kepada para guru
36
menjadi sarat dengan tuntutan untuk memproduksi beberapa manusia peringkat
atas. Korbannya sudah tentu adalah para siswa didik.
Melihat kenyataan tersebut, maka harus ada alternatif lain yang perlu
ditambahkan untuk mengimbangi atau mengganti sistem peringkat. Alternatif
yang dimaksud yaitu pendidikan dengan sistem belajar kooperatif. Evaluasi yang
dilakukan dalam pembelajaran kooperatif dilakukan dengan menerapkan prinsip
bahwa antara manusia yang satu dengan yang lainya terdapat saling
ketergantungan. Oleh karena itu adanya kerja sama di antara manusia menjadi
penting untuk mencapai kelangsungan hidup. Sebagaimana dikemukakan Lie
(2010:88) yaitu:
Alternatif lain yang perlu ditambahkan untuk mengimbangi atau
mengganti sistem peringkat adalah sistem pendidikan Cooperative Learning.
Sistem ini menganut falsafah homo homini socius. ..., falsafah ini menekankan
saling ketergantungan antarmahkluk hidup. Kerja sama merupakan kebutuhan
yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerja sama, tidak
akan ada individu, keluarga, organisasi, atau masyarakat. Tanpa kerja sama,
keseimbangan lingkungan hidup akan terancam punah.
Dari kutipan tersebut jelas bahwa evaluasi belajar kooperatif sebagai
alternatif yang menekankan hubungan saling ketergantungan antara siswa yang
satu dengan siswa yang lainnya, sehingga mereka akan dapat saling bekerja sama
dalam mencapai kelangsungan dan keseimbangan hidup.
Namun dalam pelaksanaannya, model evaluasi belajar kooperatif belum
banyak diterapkan dalam dunia pendidikan kita walaupun kita sering mendengar
ungkapan bangga dengan nilai-nilai gotong royong dalam budaya bangsa
Indonesia. Kebanyakan guru sepertinya enggan menerapkan sistem kerja
37
kelompok, padahal sangat sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia.
Berdasarkan literatur, keengganan para guru dalam menerapkan sistem
kerja kelompok didasari oleh beberapa alasan. Salah satunya adalah penilaian
dianggap kurang adil. Siswa yang tekun dan pandai merasa dirugikan karena
temannya yang kurang mampu dan berusaha hanya ikut pada hasil jerih payah
mereka, sedangkan siswa yang kurang mampu, merasa seperti benalu (Lie,
2010:88).
Padahal sebenarnya, ketidakadilan ini tidak akan terjadi jika dalam kerja
kelompok guru benar-benar menerapkan prosedur sistem pengajaran/penilaian
pembelajaran kooperatif. Karena dalam pembelajaran kooperatif meskipun siswa
dibagi-bagi dalam kelompok, namun masing-masing siswa dari setiap kelompok
tetap memiliki tanggung jawab pribadi terhadap tugas yang diberikannya,
sehingga tidak hanya mengandalkan kepada salah satu siswa yang pandai. Jadi
pengelompokkan dalam pembelajaran kooperatif berbeda dengan
pengelompokkan biasa. Sebaliknya pembelajaran dengan sistem kerja kelompok
tidak bisa dikatakan pembelajaran sistem kooperatif. Seperti Roger dan Johnson
(1981; dalam Lie, 2010:88) mengemukakan bahwa ”Tidak semua kerja kelompok
bisa dianggap Cooperative Learning. Ada beberapa unsur yang harus diterapkan
dalam sistem pengajaran Cooperative Learning. Diantaranya adalah tanggung
jawab pribadi dan kesaling ketergantungan yang positif”.
Dalam penilaian pembelajaran kooperatif, siswa mendapat nilai pribadi
dan nilai kelompok. Siswa bekerja sama, saling membantu dalam mempersiapkan
38
diri untuk tes. Kemudian, masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan
menerima nilai pribadi.
Adapun nilai kelompok dapat diperoleh dengan cara setiap anggota
kelompok menyumbangkan poin di atas rata-rata mereka sendiri. Misalnya, nilai
rata-rata si A adalah 60 dan kali ini dia mendapat 65. Maka dia akan
menyumbangkan 5 poin untuk kelompok. Hal ini berarti bahwa setiap siswa, baik
yang pandai ataupun lamban, mempunyai kesempatan untuk memberikan
kontribusi. Siswa yang lamban tidak akan merasa minder terhadap rekan-rekan
mereka karena mereka juga bisa memberikan sumbangan. Malahan mereka akan
terpacu untuk meningkatkan kontribusinya dan dengan demikian menaikkan nilai
pribadi mereka sendiri. Hal tersebut terjadi berkat adanya saling kerja sama di
antara para anggota kelompok dengan munculnya tanggung jawab baik sebagai
individu maupun kelompok.
Mengingat banyak kelebihannya dari sistem penilaian pembelajaran
kooperatif ini, terutama dalam membina kerja sama di antara siswa yang berguna
dalam upaya mendewasakan dan mengembangkan siswa, maka perlu diterapkan
dalam dunia pendidikan. Sebagaimana dikemukakan Lie (2010:89) bahwa
”Metode pembelajaran dan penilaian gotong royong perlu lebih sering dipakai
dalam dunia pendidikan. Agar bisa kondusif bagi proses pendewasaan dan
pengembangan siswa, ...”.
Oleh karena itu jelaslah apabila dibandingkan dengan penilaian sistem
peringkat yang hanya menekankan pada hasil belajar kognitif, sistem penilaian
pembelajaran kooperatif merupakan alternatif yang menarik dan dapat mencegah
39
tumbuhnya keagresifan dalam sistem kompetisi serta keterasingan dalam sistem
individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.
6. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Yang menjadi tujuan dari pembelajaran kooperatif tidak hanya tertuju pada
pencapaian aspek kognitif atau ketrampilan psikomotor saja, tetapi aspek afektif
pun secara disengaja menjadi sasaran dalam pencapaian tujuan belajarnya.
Sebagai bukti bahwa aspek afektif dikembangkan dalam pembelajaran kooperatif
adalah adanya pembagian siswa ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari banyak
perbedaan. Hal ini dilakukan agar di antara mereka terjadi interaksi sehingga
saling memahami dan mengerti satu dengan yang lainnya. Jika boleh dikatakan,
aspek afektif dalam pembelajaran kooperatif merupakan jembatan sebagai upaya
untuk mencapai aspek kognitif dan psikomotor. Seperti dikemukakan Metzler
(2000:229) bahwa “If the assigned task has a primarily cognitive learning focus,
the domain priority would be: First priority (shared): affective and cognitive;
Third priority: Psychomotor”. Selanjutnya ia mengatakan bahwa “If the assigned
task has a primarily psychomotor learning focus, the domain priority would be:
First priority (shared): affective and psychomotor; Third priority: cognitive”.
Dari kutipan tersebut dapat dijelaskan bahwa jika dalam pembelajaran diberikan
tugas yang fokus utamanya pada kognitif, maka prioritas domainnya akan menjadi
prioritas pertama adalah afektif dan kognitif, dan prioritas ketiga adalah
psikomotor. Namun jika dalam pembelajaran diberikan tugas yang fokus
utamanya pada psikomotor, maka prioritas domain menjadi: prioritas pertama
40
adalah afektif dan psikomotor, sedangkan prioritas ketiga adalah kognitif. Ini
menunjukkan bahwa meskipun tujuan utama pembelajarnnya kognitif atau
psikomotor, namun tetap yang menjadi prioritas pertamanya adalah afektif
terlebih dahulu. Hal tersebut sebagai pertanda bahwa afektif sebagai salah satu
aspek yang secara sengaja ingin dikembangkan dalam pembelajaran kooperatif.
Mengenai tujuan dari model pembelajaran kooperatif, Metzler (2000:227)
mengemukakan bahwa “The achievement of academic learning goals is a high
priority, but no more important than social learning processes and skills”. Lebih
lanjut Metzler (2000:229) mengemukakan sebagai berikut:
Cooperative learning is designed to promote increased levels of student
achievement, mediated by small-group interactions and social skills. The
former cannot happen if the latter does not accur, making the learning of
progroup social skills a prerequisite to individual and group learning.
Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa tujuan pembelajaran
kooperatif mempunyai tujuan untuk meningkatkan tingkat pencapaian akademik
dan keterampilan sosial.
Begitu juga dengan Joice dan Weil (2000:15) mengemukakan tujuan
pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
Cooperative Learning procedures facilitate learning across all curriculum
areas and ages, improving selft-esteem, social skill and solidarity, and
academic learning goals ranging from the acquisition of information and skill
through the modes of inquiry of the academic discipline.
Kutipan di atas mengandung arti bahwa prosedur pembelajaran kooperatif
memudahkan pembelajaran pada semua lintas kurikulum dan berbagai usia,
memperbaiki selft-esteem, ketrampilan sosial dan kesetiakawanan, dan tujuan
41
belajar akademik yang berasal dari perolehan informasi dan ketrampilan melalui
model inkuiri dari disiplin akademik.
Selain itu, Slavin (2005:100) mengemukakan bahwa “Pembelajaran
kooperatif bukan hanya sebuah teknik pengajaran yang ditujukan untuk
meningkatkan pencapaian prestasi para siswa, ini juga merupakan cara untuk
menciptakan keceriaan, lingkungan yang pro-sosial di dalam kelas”.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
model pembelajaran kooperatif mempunyai tujuan sebagai berikut:
a. Meningkatkan pencapaian prestasi akademik para siswa
b. Memperbaiki selft-esteem
c. Mengembangkan ketrampilan sosial dan kesetiakawanan
d. Menciptakan keceriaan
e. Mengembangkan lingkungan yang pro-sosial.
7. Landasan Teori Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran yang dilaksanakan oleh siswa, dari siswa dan untuk semua siswa
melalui sebuah struktur hubungan yang dilandaskan pada saling ketergantungan.
Dalam penciptaannya, desain model pembelajaran kooperatif adalah sebagai hasil
dari gabungan empat teori utama, yaitu teori motivasi, teori kognitif, teori belajar
sosial dan teori perilaku. Hal tersebut dikemukakan Metzler (2000:227) yaitu
”The design of the Cooperative Learning model is based on the convergence of
42
four major sets of theories: motivational, cognitive, social learning, dan
behavioral”.
a. Teori Motivasi.
Teori ini digunakan sebagai dasar untuk membentuk struktur dalam
memperkenalkan kelompok. Teori ini mempunyai pandangan bahwa hanya
dengan cara berkelompok para siswa dapat mencapai tujuan dan semua anggota
dalam kelompok dapat memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuannya.
Teori ini juga mempunyai peranan dalam mendorong para siswa untuk
memberikan kemampuannya yang terbaik. Selain itu teori ini merupakan
perantara dalam melakukan interaksi dalam mencapai tujuan bersama.
Sebagaimana dikemukakan Metzler (2000:227) sebagai berikut:
Motivation theory is used to create structures that get teams to recognize
that the only way the team can reach its goals is for all of its members to
contribute and achieve. That prompts individual students to give their best,
and initiates group interactions to meet shared goals.
b. Teori Kognitif.
Penggunaan dari teori kognitif berperan dalam memberikan tugas belajar
kepada para siswa dengan cara belajar berkelompok. Seperti dikemukakan
Metzler (2000: 227) bahwa “Cognitive theory is used to provide students with
developmentally appropiate cooperative learning tasks that give teams the right
amount of challenge to accomplish team goals”. Maksudnya adalah pemberian
tugas belajar kelompok yang dirancang dengan tepat akan memberikan sejumlah
tantangan bagi kelompok untuk mencapai tujuan belajarnya.
43
c. Teori Belajar Sosial.
Peranan teori belajar sosial terlihat pada saat proses pembelajaran
berlangsung, yaitu ketika salah satu kelompok mempersentasikan materi
belajarnya sementara kelompok lain menyaksikan dan mendengarkannya. Hal ini
menunjukkan bahwa pembelajaran sebagai suatu proses yang timbal balik. Proses
timbal balik ini dapat digambarkan pula seperti seperti seorang siswa memperoleh
kemajuan dalam belajarnya dan kemudian membagi kemajuan dalam belajarnya
tersebut kepada orang lain dalam kelompoknya. Sebagaimana dikemukakan
Metzler (2000:227) bahwa:
Social learning theory are incorporated into the model when learning
occurs by listening to and watching other team members. The process become
reciprocal as one student makes progress and then shares that learning with
others, most often by showing and explaining to them.
Peranan guru dalam teori belajar sosial dari model ini adalah ketika
menemukan kejadian yang positif atau negatif dari ketrampilan sosial dan
mengelola para siswa pada saat mengajar untuk menentukan ketrampilan interaksi
yang diinginkan dan yang tidak diinginkan.
d. Teori Perilaku
Teori ini digunakan dalam rangka memfasilitasi hubungan dalam proses
kerjasama, pada saat siswa mengerjakan tugas, dan penghargaan terhadap prestasi
regu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Metzler (2000:227) yaitu ”Behavioral
theory is used to provide a relationship between cooperative processes, student
on- task engagement, and the rewards of the team achievement”.
44
Pada pelaksanaannya, tugas kerja sama sebaiknya dijelaskan kepada para
siswa. Penjelasan ini meliputi ketrampilan sosial apa yang diperlukan dalam kerja
sama, apa saja yang menjadi tujuan pelajaran, dan apa konsekuensinya apabila
dicapai keberhasilan atau kegagalan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
Sebagai catatan bahwa berdasarkan teori ini para siswa tidak diberitahu secara
langsung mengenai bagaimana cara menyelesaikan tugas belajarnya.
B. Model Direct Instruction
1. Definisi Model Direct Instruction
Mengenai model direct instruction, Arends (2001:264) mendefinisikan
sebagai berikut “A teaching model that is aimed at helping student learn basic
skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our
purposes here, the model is labeled the direct instruction model”. Dari kutipan
tersebut mengandung arti bahwa model direct instruction adalah suatu model
mengajar yang diarahkan untuk membantu siswa belajar pengetahuan dan
ketrampilan dasar yang dapat diajarkan dengan cara selangkah demi selangkah.
Dalam model direct instruction, guru mempunyai tanggung jawab
terhadap semua hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Mulai dari
pengidentifikasian tujuan pembelajaran, perencanaan materi pelajaran,
penyampaian materi, pengaturan formasi siswa mengenai kapan, dimana, dan
bagaimana melakukan suatu ketrampilan yang dipelajari, memberikan umpan
balik semuanya ditentukan oleh guru. Dengan demikian peranan guru dalam
45
model ini sangat dominan, sedangkan siswa hanya mengikuti apa yang
diinstruksikan oleh gurunya.
2. Karakteristik Model Direct Instruction
Seperti halnya model pembelajaran yang lain, model direct instruction
memiliki karakteristik tersendiri. Adapun yang menjadi karakteristik dari model
pembelajaran ini antara lain yaitu: adanya penentuan keputusan yang berkaitan
dengan proses pembelajaran terpusat pada guru. Artinya, segala sesuatu yang
berkaitan dengan proses pembelajaran mulai dari penentuan tujuan pembelajaran,
keterampilan, konsep, alokasi waktu dan aktivitas belajar ditentukan oleh guru.
Selain itu model ini ditandai dengan adanya dominasi yang lebih besar dari guru
dalam kegiatan belajarnya dibandingkan dengan siswa. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Metzler (2000:162) yaitu:
Direct Instruction is characterized by decidedly teacher-centered
decisions and teacher-directed engagement patterns for learners. The teacher
will have a dinstinc set of learning goals in mind; present students with a
model of the desired movement, skill, or concept; and then organize student
learning activities into segmented blocks of time, providing high rates of
augmented feedback as learners practice each task or skill. Students are
given only a few decisions to make and mostly just follow the teacher’s
directions in class and respon to the teacher’s questions when asked.
Dari kutipan di atas jelas bahwa yang menjadi karakteristik dari model
direct instruction adalah segala ketentuan yang berkaitan dengan proses
pembelajaran semuanya diputuskan oleh guru. Selain itu dalam pelaksanaannya,
guru mempunyai peranan yang sangat dominan dibandingkan siswa. Peranan
siswa hanya mengikuti apa yang menjadi instruksi gurunya.
46
3. Pengelolaan Kelas dalam Model Direct Instruction
Pengelolaan kelas dalam setiap proses pembelajaran memegang peranan
yang menentukan. Pengelolaan kelas diperlukan dengan maksud untuk
mengoptimalkan keterlibatan siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya.
Sebagaimana dikemukakan Suherman (1998:42) bahwa ”Pengelolaan kelas
dimaksudkan untuk mengoptimalkan keterlibatan siswa dalam aktivitas-aktivitas
akademik”.
Dalam pembelajaran direct instruction, guru yang efektif ditandai dengan
kemampuannya dalam menggunakan alokasi waktu semaksimal mungkin untuk
memberikan kesempatan para siswa melakukan kegiatan belajarnya. Hal ini
dikatakan Metzler (2000:174) bahwa ”The most effective Direct Instruction
teacher are those who can maximize allocated time in class to provide students
with high rate of OTR and ALT”. Maksudnya proses pembelajaran dapat
dikatakan efektif, apabila sebagian besar waktu belajar dihabiskan untuk
melakukan aktivitas belajar siswa. Sebagai pedoman dalam mengukur efektivitas
suatu pembelajaran, Suherman (1998:96) mengemukakan kriteria penilaian yang
meliputi: ”Manajemen (M); Aktivitas belajar (A); Instruction (I); Waiting (W)”.
Manajemen adalah waktu yang dihabiskan oleh sebagian besar siswa
(lebih dari 50 %) untuk yang bersifat manajerial (misalnya: penggantian bentuk
latihan, menyimpan dan mengambil bola, mendengarkan aturan-aturan dalam
mengikuti pelajaran (rule), mendengarkan peringatan atau teguran, ganti pakaian,
kehadiran).
47
Aktivitas belajar (A) adalah waktu yang dihabiskan oleh sebagian besar
siswa (lebih dari 50 %) untuk melakukan aktivitas belajar secara aktif (misal:
menangkap bola, melempar, dribling, lari).
Instruction (I) adalah waktu yang dihabiskan oleh sebagian besar siswa
(lebih dari 50 %) untuk mendengarkan informasi bagaimana melakukan
ketrampilan (melihat demonstrasi, mendengarkan instruksi ketrampilan).
Waiting (W) adalah waktu yang dihabiskan oleh sebagian besar siswa
(lebih dari 50 %) tetapi tidak termasuk dalam ketiga kategori di atas (misal:
tunggu giliran, ”off-task behavior”: sebagian besar siswa diam atau ngobrol tidak
melakukan kegiatan yang ditugaskan, menunggu guru untuk memberikan
instruksi.
Dari keempat kriteria penilaian di atas, apabila aspek aktivitas belajar (A)
menduduki waktu paling besar dibandingkan ketiga aspek lainnya, maka proses
pembelajaran tersebut dapat dikatakan berjalan efektif.
Dalam model direct instruction guru harus mampu menciptakan
lingkungan belajar yang meliputi banyak aspek dan kadang-kadang tidak tetap
bagi satu pembelajaran dengan pembelajaran yang lainnya. Kegiatan dalam kelas
yang ditetapkan dalam perencanaan harus berkembang dari satu tahap ke tahap
berikutnya, dan siswa harus dapat menggunakan aktivitas belajarnya dengan cepat
dan benar sesuai dengan arahan dan petunjuk guru.
48
4. Tahapan Pelaksanaan Model Direct Instruction
Mengenai tahapan model direct instruction”, Rosenshine (1983; dalam
Metzler, 2000:163) mengidentifikasi ada enam tahapan, yaitu “Review previously
learned material, presenting new content/skills, initial student practice, feedback
and correctives, independent practice, periodic review”.
a. Review previously learned material (Meriviu materi sebelumnya).
Pada tahap ini, pelajaran dimulai dengan meriviu materi pelajaran sebelumnya
Riviu disampaikan secara singkat berkaitan dengan ketrampilan dasar dan
konsep belajar sebelumnya. Riviu dalam tahap ini berfungsi sebagai berikut:
1) Membantu guru untuk memahami tentang berapa banyak para siswa yang
mengusai ketrampilan sebelumnya.
2) Mengizinkan para siswa untuk mengambil materi belajar sebelumnya ke
letak memori yang lebih baru.
3) Untuk segera menciptakan lingkungan pembelajaran
4) Menghubungkan antara tugas belajar sebelumnya dengan tugas
berikutnya.
b. Presenting new content/skills (menyampaikan ketrampilan baru).
Setelah riviu dilakukan, selanjutnya guru menyampaikan materi baru yang
meliputi ketrampilan, pengetahuan atau konsep. Penyampaian materi baru ini
dapat dilakukan dengan menggunakan media. Hal ini dimaksudkan untuk
memberikan gambaran dari ketrampilan yang akan dipelajari dan bagaimana
cara melakukannya.
49
c. Initial student practice (dimulai dengan latihan siswa).
Dalam tahap ini guru mengarahkan siswa ke dalam segmen latihan. Tugas
latihan sebaiknya memperhitungkan tingkat respon siswa. Dalam kondisi yang
bersamaan, peranan guru yaitu memonitor dan memberikan koreksi unpan
balik.
d. Feedback and correctives (umpan balik dan koreksi)
Saat berlangsungnya pembelajaran, guru memberikan feedback dan koreksi
kepada para siswa. Penyampaian umpan balik atau koreksi dapat dilakukan
secara bersamaan dengan tugas awal pembelajaran atau di antara rangkaian
setiap tugas latihan. Dalam tahap ini, guru boleh memilih untuk mengajar
kembali dari kunci petunjuk penampilan dan bahkan mengulang beberapa
tugas awal belajar untuk meyakinkan bahwa para siswa siap untuk
melakukannya.
e. Independent practice (latihan mandiri)
Pada tahap ini jika guru telah yakin bahwa siswanya cakap dalam ketrampilan
dasarnya, guru dapat merencanakan kembali cara berlatihnya secara lebih
mandiri, namun tetap masih dalam rancangan tugas belajar gurunya. Hal ini
dilakukan untuk meningkatkan tingkat respon siswa yang lebih tinggi. Tujuan
dari aktivitas ini untuk mencapai 95 persen kesuksesan dari setiap tugas secara
mandirinya sebelum bergerak kepada tugas atau materi baru.
50
f. Periodic reviews (riviu secara berkala)
Diakhir pembelajaran, guru meriviu tugas belajar sebelumnya. Hal ini
membantu guru dalam mengecek kemampuan menyimpan mengenai
ketrampilan baru yang dibentuk dari ketrampilan awal dalam unit itu.
5. Evaluasi Model Direct Instruction
Penilaian dalam model direct instruction biasanya dilakukan pada setiap
tugas perencanaan pembelajaran. Penilaian direct instruction dapat dilakukan
secara informal dan formal. Penilaian informal yaitu penilaian yang dilakukan
dengan cara memonitor tingkat ketercapaian siswa. Sedangkan penilaian formal
yaitu penilaian yang secara lebih sistematis, objektif, dan teliti (Metzler,
2000:178-179).
Penilaian formal dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara
antara lain sebagai berikut:
a) Para siswa diberi kartu untuk mencatat keberhasilan dan ketidak berhasilan
dalam setiap tugas belajarnya.
b) Secara berkala, pemberian quiz singkat kepada siswa dan segera dinilai oleh
guru. Quiz ini dapat berupa tulisan, lisan atau ketrampilan.
c) Ketrampilan siswa di observasi oleh guru dengan cara menceklis sebagai
petunjuk atas penampilannya (Metzler, 2000:179).
6. Tujuan Model Direct Instruction
Model direct instruction adalah suatu model pembelajaran yang
didasarkan pada pencapaian hasil, sering digunakan untuk belajar konsep atau
51
pola gerakan. Model pembelajaran ini pada awalnya dikembangkan untuk
membantu mencapai tujuan belajar dalam domain kognitif. Tetapi sekarang model
pembelajaran ini digunakan juga dalam pendidikan jasmani terutama berkenaan
dengan tujuan belajar yang menyangkut domain psikomotor. Untuk lebih jelasnya
mengenai prioritas dari penggunaan model pembelajaran ini, sebagaimana
dikemukakan Metzler (2000:167) yaitu ”First priority: Psychomotor learning;
Second priority: Cognitif learning; Third priority: Affective learning”. Kutipan
tersebut mengandung arti bahwa dalam model pembelajaran direct instruction,
yang menjadi prioritas pertama adalah psikomotor, prioritas pembelajaran kedua
adalah kognitif dan prioritas pembelajaran ketiga adalah afektif.
Dari ketiga prioritas di atas, kadang-kadang dalam proses pembelajarannya
domain kognitif menempatkan prioritas paling tinggi dibanding domain
psikomotor, apabila dalam pembelajaran berkaitan dengan peraturan atau konsep.
Namun peranan domain kognitif ini seringkali digunakan untuk memfasilitasi
belajar domain psikomotor. Pikiran para siswa dibantu untuk mempelajari
ketrampilan gerakan dengan lebih cepat. Jadi sebelum kepada domain psikomotor,
para siswa harus mengenal secara kognitif terlebih dahulu tentang konsep dan
proses belajar serta strateginya sebagai prasyarat untuk membangun pola gerakan
yang diinginkan. Namun dari ketiga domain yang menjadi prioritas di atas, seperti
afektif tidak diarahkan secara langsung dalam model pembelajaran ini. Hal ini
diasumsikan bahwa hasil belajar afektif dapat dicapai melalui proses usaha yang
tekun, pengalaman sukses secara teratur dan mendapatkan kemajuan yang mantap
52
ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan Metzler
(2000:167) sebagai berikut:
The affective domain is not directly addressed in this model. It is assumed
that students will achieve positive affective outcomes through the processes of
working diligently, experiencing regular succes, and making steady progress
toward learning goals.
Dari kutipan di atas dengan jelas dikatakan bahwa domain afektif dalam
pembelajaran ini tidak di arahkan secara langsung, tetapi diduga akan turut
berkembang dengan melalui proses usaha yang tekun, pengalaman sukses yang
teratur, dan mendapatkan kemajuan yang mantap ke arah tercapainya tujuan
belajar.
7. Landasan Teori Model Direct Instruction
Strategi belajar mengajar yang dikembangkan dalam direct instruction
didasarkan pada teori konditioning operant dari B.F Skinner. Banyak
pembedahan-pembedahan dalam pembelajaran direct instruction yang ditafsirkan
dari penelitiannya terhadap binatang. Skinner beranggapan bahwa penghargaan
merupakan faktor penting dalam belajar. Teori ini melihat adanya hubungan yang
jelas antara perilaku belajar dengan konsekuensi. Teori ini beranggapan bahwa
respon yang diikuti dengan konsekuensi disebut dengan ”reinforcement”
(penguatan), yang memungkinkan akan meningkatkan perilaku belajar jika
diberikan lagi. Sedangkan respon yang diikuti dengan konsekuensi lain disebut
”punishment” (hukuman), yang berakibat menurunnya ketika stimulus diberikan
lagi. Dari hubungan yang sederhana ini, kemudian oleh B.F Skinner dan kawan-
kawannya digunakan sebagai dasar dalam pembedahannya yang dilakukan
terhadap binatang dan selanjutnya digunakan pada manusia. Dalam istilah
53
psikologi behaviorisme, proses ini disebut perilaku latihan yang meliputi lima
konsep utama, sebagaimana dikatakan Metzler (2000:165) yaitu ”Shaping,
modeling, practice, feedback, dan reinforcement”.
Shaping (pembentukkan). Proses ini terjadi dengan menentukan hasil akhir
dari cara berlatih dan kemudian mempelajarinya melalui tahapan-tahapan kecil
yang mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran. Pada awalnya proses
shaping ini merupakan bagian-bagian kecil dari bentuk ketrampilan akhir. Namun
sebagai kelanjutan proses yang terus menerus, siswa akan memerlukan pola
ketrampilan gerakan yang lebih kelihatan seperti hasil akhir yang diharapkan.
Modeling (model). Bagian ini mengharuskan siswa untuk meninjau atau
mendengar mengenai kemampuannya sesuai dengan ketrampilan yang diinginkan.
Setelah melihat, mendengar atau membaca mengenai komponen dari model
penampilan, siswa akan mempunyai kerangka yang lebih baik dalam melakukan
latihan seperti yang terdapat dalam model.
Practice (latihan). Bagian ini merupakan struktur paling tinggi dalam
direct teaching yang harus memiliki sebuah kriteria penguasaan dari ketrampilan
siswa. Oleh karena itu guru harus membuat perencanaan yang jelas dari setiap
aspek pembelajaran, termasuk tugas struktur, materi yang digunakan, alokasi
waktu dan pola-pola yang digunakan siswa. Bagian ini harus dirancang dengan
memberikan kesempatan yang tinggi dan memberikan banyak pengulangan untuk
mencapai penampilan yang benar.
Feedback (umpan balik). Dalam model direct instruction, terdapat dua
jenis feedback yang dapat digunakan, yaitu feedback positif dan koreksi.
54
Feedback positif diberikan dengan maksud untuk menguatkan terhadap percobaan
belajar yang dilakukan dengan benar dan memberikan motivasi kepada siswa
untuk mempertahankan hasilnya tersebut. Sedangkan koreksi diberikan apabila
guru melihat adanya kesalahan dalam percobannya.
Reinforcement (penguatan). Reinforcement tidak hanya diberikan untuk
percobaan penampilan yang dilakukan dengan benar. Reinforcement digunakan
tergantung pada jenis penghargaan terhadap perilaku siswa, misalnya: dengarkan,
usaha yang baik, tetap dalam tugas, ikuti petunjuk, berikan perhatian pada aturan
kelas dan biasakan (Metzler, 2000:165).
C. Empati
1. Definisi Empati
Mengenai empati, banyak ahli yang memberikan pandangannya. Menurut
kata asalnya empati berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu em yang berarti di
dalam atau ke dalam dan pathos yang berarti perasaan (Barrett-Lennard, 1981:91).
Dari kata asal tersebut secara harfiah empati diartikan sebagai perasaan yang
mendalam. Empati dalam penggunaannya berbeda dengan simpati. Perasaan
simpati sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan
perasaan seseorang terhadap orang lain. Perbedaannya adalah simpati lebih
memusatkan perhatian pada perasaan diri sendiri terhadap orang lain, sementara
itu perasaan orang lain atau lawan bicaranya kurang diperhatikan. Sedangkan
empati lebih memusatkan perasaanya pada kondisi orang lain atau lawan
bicaranya (Budiningsih, 2008:46).
55
Adler (1931; dalam Barret-Lennard, 1981:91) mengartikan empati yaitu:
“To see with the eyes of another, to hear with the ears of another, [and] to feel
with the heart of another”. Dari kutipan tersebut empati adalah melihat dengan
pandangan orang lain, mendengar dengan pendengaran orang lain, dan merasakan
dengan perasaan orang lain. Rogers (1957; dalam Barret-Lennard, 1981:92)
mengartikan empati yaitu “To perceive the internal frame of reference of another
with accuracy, and with emotional components and meanings which pertain
thereto, as if one were the other person, but without ever losing the ’as if’
condition”. Maksud kutipan tersebut bahwa dalam berempati seseorang
merasakan kerangka berpikir internal berikut komponen emosional yang berkaitan
dengan kerangka berpikir sedemikian rupa, sehingga seolah-olah orang tersebut
menjelma menjadi orang lain yang menjadi subjeknya dalam berempati, namun
tanpa melupakan kenyataan bahwa pemikiran serta reaksi emosional yang
sesungguhnya terjadi pada orang lain. Menurut Allend (1993:21), “Empathy is
often described as seeing the world through another’s eyes, hearing as they might
hear, and feeling and experiencing their internal world.” Maksudnya empati
diartikan seperti melihat dunia dengan penglihatan orang lain, mendengar
sebagaimana mereka dengar, dan merasakan dan mengalami dunia internal
mereka. Pendapat lainnya, Goldman (1993:1) mengartikan empati sebagai “The
ability to put oneself into the mental shoes of another person to understand her
emotions and feelings”. Maksudnya adalah empati sebagai kemampuan untuk
menempatkan diri ke dalam mental orang lain untuk memahami emosi dan
perasaan. Sementara Carkhuff (1969; dalam Budiningsih: 2008:47) mengartikan
56
bahwa ”Empati sebagai kemampuan untuk mengenal, mengerti dan merasakan
perasaan orang lain dengan ungkapan verbal dan perilaku”.
Sedangkan dalam konsep ajaran Islam, empati mengandung makna bahwa
dalam kehidupan bersama harus dilandasi oleh kasih sayang, saling mencintai dan
mengasihi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga menjadikan
keterpaduan rasa dalam jiwa mereka. Ajaran Islam telah mengajarkan bahwa
manusia itu diibaratkan satu tubuh (kal jasadil wahid), jika salah satu anggota
tubuh sakit, maka rasa sakit itu pula akan dirasakan oleh anggota tubuh yang lain.
Artinya, ketika seorang manusia merasakan sakit, maka manusia yang lain juga
akan ikut merasakan hal yang sama. Itulah empati. Sebagaimana sabda
Rosululloh SAW sebagai berikut:
Artinya: “Kamu akan melihat orang-orang yang beriman dalam saling
sayang menyayangi, saling mencintai, saling mengasihi bagaikan satu tubuh.
Apabila satu anggota tubuh sakit, maka tertariklah bagian anggota yang lain
ikut merasakan sakit dengan tidak dapat tidur dan badan panas”. H.R.
Bukhori-Muslim. (Al Gazali, 1993:343)
Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa seseorang memperhatikan orang lain
dengan cara menempatkan dirinya dalam kondisi orang lain yang ditunjukkan
dengan saling menyayangi, saling mencintai, saling mengasihi yang diibaratkan
sebagai satu tubuh, sehingga apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh
anggota tubuh yang lainnya akan ikut merasakan sakit.
Dari beberapa pendapat para ahli, maka dapat dijelaskan bahwa empati
adalah kemampuan untuk memahami kondisi atau keadaan orang lain yang
57
meliputi pikiran, perasaan dan emosional orang lain dengan cara
mengkomunikasikannya dalam bentuk verbal maupun tingkah laku.
2. Dimensi Empati
Dalam arti luas empati berkaitan dengan reaksi perorangan terhadap
pengalaman orang lain yang teramati. Empati menyangkut kemampuan seseorang
untuk mempersepsikan dan merasakan orang lain, menempatkan peranan orang
lain dalam dirinya dan memikirkan konsekuensi tindakan serta pengaruh tindakan
itu terhadap orang lain. Ini berarti bahwa empati melibatkan komponen kognitif
dan komponen afektif. Sebagaimana Davis (1983) mengemukakan empati sebagai
“A reaction to the observed experiences of another" (p. 113) builds on a
multidimensional conception of empathy in the construction of his Interpersonal
Reactivity Index (IRI). His scales for affective and cognitive measures…”. Begitu
juga Hojat et al. (2002:2) mengemukakan sebagai berikut :
Empathy has been described as a concept involving cognitive as well as
affective or emotional domains. The cognitive domain of empathy involves the
ability to understand another person’s inner experiences and feelings and a
capability to view the outside world from the other person’s perspective. The
affective domain involves the capacity to enter into or join the experiences and
feelings of another person.
Berkenaan dengan empati sebagai komponen kognitif dan afektif, Allport
(1937; dalam Ketelle, 2005:145) mengemukakan juga bahwa “Empathy is most
typically defined as including: 1) the affective capacity to share in another’s
feelings; and 2) the cognitive ability to understand another’s feelings and
perspective”.
58
Dari beberapa kutipan di atas, empati dirumuskan ke dalam bangun
berdimensi jamak yang meliputi komponen kognitif dan komponen afektif.
Komponen kognitif yaitu kemampuan untuk memahami perspektif, perasaan dan
pengalaman dalam diri orang lain dan kemampuan untuk memandang dari
perspektif orang lain. Sedangkan komponen afektif yaitu kemampuan untuk
memasuki atau menyatu dengan pengalaman dan perasaan orang lain.
Davis (1983), membagi komponen kognitif dan afektif masing-masing
menjadi dua dimensi, yaitu: fantasi (fantasy) dan pengambilan perspektif orang
lain (perspektif taking). Sedangkan pendekatan afektif terdiri dari kepedulian
empati (empathy concern) dan kesedihan pribadi (personal distress). Dari masing-
masing dimensi dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Fantasi (fantasy), yaitu menunjukkan suatu kecenderungan seseorang untuk
mengidentifikasi dengan benar karakter samaran di dalam buku, film, atau
permainan
b. Pengambilan perspektif orang lain (Perspective-taking), yaitu mencerminkan
kecenderungan atau kemampuan seseorang untuk mengambil perspektif atau
sudut pandang dari orang lain
c. Kepedulian empatik (Empathic concern), yaitu kecenderungan seseorang
untuk mengalami perasaan kehangatan/keramahan, perasaan kasihan dan
kepedulian/simpati terhadap orang yang lain yang mengalami pengalaman
negatif
59
d. Kesedihan pribadi (Personal distress), yaitu menunjukkan pengalaman
perasaan responden dari kegelisahan dan kecemasan ketika menyaksikan
pengalaman negatif dari orang lain.
3. Proses Psikologis dalam Empati
Mengacu kepada pengertian empati yang dikemukakan sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya empati selain melibatkan usaha untuk
memahami kondisi pikiran, perasaan internal orang lain juga melibatkan suatu
usaha untuk memberikan tanggapan yang tepat dalam bentuk verbal atau perilaku
yang mencerminkan pemahaman tersebut. Dari pernyataan tersebut, menandakan
adanya aspek-aspek penting yang dilalui dalam proses terjadinya empati.
Kadushin (1972; dalam Allen, 2003:3) mengemukakan bahwa aspek-aspek dalam
empati yaitu ”Empathy has two important aspects: (1) the perception of the life
experience of another (along with the feeling generated by that perception); and,
(2) the communication of that perception”. Dari kutipan tersebut dapat diartikan
bahwa dalam empati terdapat dua proses penting yang terjadi, yaitu proses
persepsi dari pengalaman hidup orang lain (bersama dengan perasaan yang
dihasilkan oleh persepsi itu) dan komunikasi dari persepsi itu.
Proses persepsi yaitu proses dimana seseorang mengidentifikasi dan
memahami kerangka berpikir internal orang lain. Sedangkan proses komunikasi
yaitu proses penyampaian dan penerimaan pesan yang memungkinkan terjadinya
pemahaman itu.
60
a. Proses Persepsi
Dalam empati, dikenal adanya upaya seseorang untuk memahami orang
lain dengan cara mengidentifikasi pikiran, perasaan dan emosinya serta berupaya
agar dapat menempatkan dirinya ke dalam mental orang lain. Melalui upaya yang
dilakukan tersebut, maka empati dapat dikatakan sebagai proses persepsi
interpersonal.
Mengenai persepsi interpersonal, Echols dan Sadily (2005:424) dalam
Kamus Bahasa Inggris mengartikan perception sebagai ”Penglihatan, tanggapan
atau pemahaman terhadap sesuatu penglihatan, tanggapan atau pemahaman”.
Sobur (2009:445) mengartikan persepsi sebagai ”Pandangan atau pengertian, yaitu
bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Pareek (1996; dalam
Sobur, 2009:446) mengartikan persepsi antara lain yaitu: ”..., mengorganisasi,
mengartikan, menguji, dan memberikan reaksi kepada rangsangan panca indra
atau data”. Sedangkan interpersonal, Echols dan Sadily (2005:328) mengartikan
sebagai ”Antar diri atau perseorangan”. Dari beberapa pengertian tersebut dapat
dijelaskan bahwa persepsi interpersonal adalah suatu proses yang dilakukan oleh
seseorang untuk melihat, memahami, mengorganisir, mengartikan dan
memberikan reaksi terhadap orang lain.
Ditinjau dari proses persepsi interpersonal, terdapat beberapa hal yang
berkaitan dengan pemahaman empati. Pearson (1983; dalam Rubiyanto, 1993:11)
mengemukakan bahwa ”Pemahaman empati didasarkan atas penghargaan
terhadap orang lain atau sering disebut dengan istilah penerimaan tidak bersyarat
(unconditional acceptance)”. Oleh karena itu untuk memahaminya harus disertai
61
usaha untuk menunjukkan pemahaman dan penghargaan atas persamaan yang
mendasar pada setiap manusia, yaitu bahwa setiap manusia memiliki harapan-
harapan, kebutuhan-kebutuhan, dan potensi untuk mewujudkan harapan tersebut
menjadi kenyataan. Setiap manusia memiliki kecemasan-kecemasan, ketakutan-
ketakutan dan memiliki kemampuan untuk mengatasi kecemasan-kecemasan dan
ketakutan-ketakutannya itu. Pemahaman empati juga sering ditunjukkan dengan
istilah-istilah, sebagaimana Rogers (1980; dalam Budiningsih, 2008:47)
mengemukakan bahwa ”Istilah-istilah seperti kehangatan (warmth), kepedulian
(compassion), rasa hormat (respect), penghargaan positif tanpa syarat
(unconditional positive regard), ketulusan (genuineness), dan pemahaman
(understanding)..”. Dengan menunjukkan penerimaan terhadap aspek-aspek
tersebut, seorang tidak akan memberikan penilaian, atau memberikan respon yang
menimbulkan ancaman atau kecemasan pada orang lain.
Selanjutnya, yang menjadi fokus pemahaman dalam empati bukanlah
menekankan pada penderitaan diri orang yang melakukan empati, melainkan
terletak pada penderitaan yang terjadi pada orang lain yang menjadi subjek
empati. Dengan terbebasnya orang lain dari penderitaannya, maka penolong akan
terbebas dari penderitaannya sendiri. Dikemukakan Miller dan Eisenberg (1988;
dalam Sarwono, 2002:330) bahwa ”Dalam berempati, fokus usaha menolong
terletak pada penderitaan orang lain, bukan pada penderitaan sendiri, karena
dengan terbebasnya orang lain dari penderitaan itulah, si penolong akan terbebas
dari penderitaannya sendiri”.
62
Mengingat yang menjadi sasaran dalam empati adalah orang lain, maka
empati juga mengandung makna bahwa orang yang berempati harus menunjukkan
penerimaan kepada pikiran, perasaan dan persepsi yang mungkin saja bisa saling
bertentangan dalam diri orang lain itu. Ia juga harus menghindarkan diri dari
penilaian-penilaian, sikap-sikap dan pemikiran-pemikiran yang sumbernya ada
dalam diri sendiri. Agar dapat memahami secara empirik, fokus perhatian harus
dipusatkan kepada pikiran dan perasaan orang lain serta menarik diri dari kejadian
faktual (Pearson, 1983).
Rogers (1980; dalam Budiningsih, 2008:48) mengemukakan bahwa
”Empati merupakan cara mempersepsi kerangka internal dari referensi orang lain
dengan keakuratan dan komponen emosional, seolah-olah seseorang menjadi
orang lain, tetapi masih menyadari kondisinya yang seolah-olah tadi”. Hal serupa
juga dikemukakan Brammer (dalam Budiningsih, 2008:47-48) yang mengartikan
empati sebagai ”Cara seseorang untuk memahami persepsi orang lain dari
kerangka internalnya”. Dari kedua kutipan tersebut, dapat dijelaskan bahwa dalam
empati, seseorang berusaha untuk mempersepsi kerangka berpikir internal orang
lain dengan menggambarkan seolah-olah dirinya tersebut adalah orang lain. Cara
tersebut dilakukan agar dapat memahami dengan tepat seperti apa yang ada dalam
pikiran dan perasaan orang lain.
Agar dapat meningkatkan ketepatan dalam mengidentifikasi dan
memahami perasaan orang lain dalam empati, Verderber dan Verderber (1977;
dalam Rubiyanto, 1993:13) mengemukakan ada beberapa hal, yaitu: (1) Pernah
mengalami sendiri pengalaman orang lain dalam situasi yang sama, (2) Dapat
63
membayangkan reaksi orang lain terhadap situasi tersebut dan (3) Pernah
mengalami melalui pengamatan bagaimana orang lain bereakai dalam situasi yang
sama.
b. Proses Komunikasi dalam Empati
Seperti dikemukakan Budiningsih (2008:47), ”Berempati tidak hanya
dilakukan dalam bentuk memahami perasaan orang lain semata, tetapi harus
dinyatakan secara verbal dan dalam bentuk tingkah laku”. Hal ini mengandung
arti bahwa dalam mengungkapkan empatinya baik secara verbal dan perilaku
nyata menunjukkan adanya suatu hubungan antara orang yang berempati dengan
orang yang menjadi sasaran empati. Adanya pemahaman terhadap pikiran dan
perasaaan orang lain dengan tepat merupakan akibat dari adanya komunikasi.
Oleh karena itu, empati dikatakan sebagai suatu proses komunikasi. Seperti
halnya dalam pembelajaran kooperatif yang cara belajarnya dengan sistem
berkelompok dan anggotanya terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi,
sedang dan rendah sudah tentu diperlukan komunikasi agar dapat memahami
pikiran dan perasaan teman seregunya, terutama dari siswa yang berkemampuan
tinggi. Siswa yang kemampuannya tinggi harus dapat berkomunikasi dan
menempatkan dirinya dalam posisi siswa yang kemampuannya rendah atau
sedang sehingga dapat memahami dan merasakan apa yang ada dalam siswa yang
berkemampuan sedang atau rendah. Pemahaman akan muncul apabila di antara
mereka terjadi komunikasi. Melalui komunikasi inilah akan muncul ungkapan
empati di antara mereka terutama dari siswa yang berkemampuan tinggi untuk
64
membantu siswa yang kemampuannya sedang atau rendah. Berkaitan dengan hal
tersebut, Barret-Lennard (1981:94) mengemukakan bahwa empati adalah sebagai
proses yang terjadi dalam suatu siklus komunikasi seperti dalam Gambar 2.1
Gambar 2.1
Siklus Empati Sebagai Proses Komunikasi
Schematic outline of the empathy cycle. (Ex=person engaged in primary expression and
ecploration, Em=responding; empathizing person. Lower-case roman Numerals i-v represent Steps
1-5, respectively; dotted circles mark peaks of imfact/arousal/involvement in hearning or being
heard empathically; solid lines represent principal communicative expression; dotted are refers to
feedback or follow-through communication.)
Dari Gambar 2.1 mengenai siklus empati secara detail dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Langkah 1. Empathic set by Em (Pengaturan empati). Pada langkah ini Ex
(orang yang mengekspresikan diri) mengekspresikan perasaan dan
pengalamannya kepada Em (orang yang berempati) disertai dengan harapan dan
kepercayaannya bahwa Em akan menerima pengungkapan dirinya. Melihat
ungkapan dari Ex tersebut, pada langkah ini Em harus menciptakan kondisi-
kondisi yang menunjukkan sikap menerima, menghargai dan mendengarkan apa
yang diungkapkan Ex.
65
Langkah 2. Empathic Resonation (menggemakan empati) atau empati
tahap I. Em membaca atau meresonansi kepada Ex dengan cara langsung atau
tidak langsung mengenai pengalaman kehidupan dari Ex yang diekspresikan
sebelumnya. Pada tahap ini terjadinya pemahaman dari Em terhadap perasaan
dan kerangka internal Ex. Em Tidak menangkap apa yang dibicarakan oleh Ex
sebagai suatu fakta atau realitas objek, akan tetapi yang ditangkap adalah apa yang
dirasakan atau dipikirkan secara subjektif oleh Ex.
Langkah 3. Expressed Empathy (Mengekspresikan empati) atau empati
tahap II. Pada langkah ini Em mengekspresikan atau menunjukkan dengan cara
mengkomunikasikan dengan tingkat kesadaran perasaan dari pengalaman yang
dialami oleh Ex. Langkah ini disebut sebagai empati tahap 2. Pada tahap ini Em
mengungkapkan pemahamannya dalam bentuk respon komunikasi kepada Ex.
Langkah 4. Received Empathy (Menerima empati) atau empati tahap III.
Pada langkah ini Ex memperhatikan kepada Em sedemikian rupa sehingga cukup
baginya untuk membentuk suatu perasaan persepsi tentang tingkat pemahaman
personal Em terhadap Ex. Dengan ungkapan empati dari Em, maka Ex dapat
mempersepsikan sejauhmana Em memahami dirinya dengan tepat.
Langkah 5. Feedback; Fresh Expression dan Resonantion (umpan balik,
ekspresi lanjutan dan menggemakan). Berdasarkan atas persepsi Ex tentang
pemahaman Em terhadap pengungkapannya, Ex melanjutkan atau mengulang
kembali ekspresi dirinya, sehingga menjadi umpan balik bagi pemahaman Em.
Selanjutnya pengungkapan dari diri Ex ini dapat terbagi ke dalam dua macam,
yaitu: Pertama, berupa konfirmasi atau koreksi atas pemahaman Em terhadap Ex
66
yang baru saja diungkapkan. Kedua, berupa pernyataan berkenaan dengan tingkat
dimana Em (A) biasanya merasakan suatu hubungan dari pemahaman pribadi
dengan Ex (B). Seperti dikemukakan Barret Lennard (1981: 94) sebagai berikut:
B then continues or resumes visible self-expression in a way that also
carries feedback elements for A, potentially of two kinds. One kind is
confirming or corrective in respect to the content of A’s just-shared view or
sense of B’s felt experience (expressed at step 3 above). The other possible
kind is informative regarding the extent to which B generally is perceiving a
relationship of personal understanding with A.
Dari uraian siklus empati yang diuraikan di atas, jika dikonversikan ke
dalam konteks pembelajaran kooperatif, maka langkah pertama (empati tahap I)
terjadi pada saat belajar kelompok. Pada langkah ini siswa yang berkemampuan
rendah atau sedang akan mengungkapkan permasalahan atau kesulitan belajarnya
kepada siswa yang kemampuannya tinggi. Di sisi lain siswa yang berkemampuan
tinggi berusaha mendengarkan dan menerima kesulitan yang diungkapkan
rekannya tersebut. Pada langkah kedua atau tahap empati kedua, Siswa yang
berkemampuan tinggi memahami tentang kesulitan yang dialami siswa yang
kemampuannya kurang. Langkah ketiga (empati tahap II), yaitu adanya respon
dari siswa yang kemampuannya tinggi dengan cara mengungkapkan atau
menunjukkan kesadarannya mengenai apa yang dirasakan teman seregunya. Pada
langkah keempat (empati tahap III), timbulnya persepsi dari siswa yang
kemampuannya rendah atau sedang tentang pemahaman mengenai kesulitan yang
di alaminya. Terakhir, Setelah diketahui bahwa siswa yang berkemampuan tinggi
memahaminya, maka siswa yang kemampuannya rendah atau sedang mengulangi
atau menegaskan kembali tentang masalahnya sebagai umpan balik bagi siswa
yang kemampuannya tinggi. Melalui pentahapan proses empati yang
67
diintegrasikan dalam pembelajaran kooperatif tersebut diharapkan dapat
menimbulkan kemauan untuk bekerja sama dan membantu rekan seregunya
sehingga berdampak pada keberhasilan belajarnya. Seperti dikemukakan Slavin
(2005:136) yaitu ”Salah satu keluaran non-kognitif yang dihasilkan dari
pengalaman kooperatif di sekolah adalah bahwa para siswa akan menjadi lebih
kooperatif dan altruistik”. Begitu juga Crabb et al. (dalam Ketelle dan Pete Mesa,
2006:146) mengemukakan bahwa ” ... empathy training to enhance empathetic
feelings and understanding. Researchers widely acknowledge the positive role of
empathy in enhancing helping relations, and training programs have been offered
for empathetic development”.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa empati merupakan suatu proses
komunikasi yang satu sama lain saling mengungkapkan dan saling menanggapi.
Begitu juga dalam konteks pembelajaran dengan model kooperatif akan terjadinya
proses komunikasi di antara para siswa dalam kelompoknya. Mereka (siswa
berkemampuan tinggi, sedang dan kurang) akan saling berkomunikasi sehingga
satu sama lain saling memahami, merasakan dan akhirnya menimbulkan perilaku
untuk saling bekerja sama, saling membantu dalam mencapai keberhasilan
belajarnya.
4. Fungsi Empati:
Dalam kehidupan yang terdiri dari berbagai macam karakteristik yang ada,
tentu diperlukan suatu kemampuan untuk melihat, memahami dan merasakan apa
yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Kemampuan yang dimaksud adalah
kemampuan empati. Empati akan menimbulkan terjalinnya hubungan yang saling
68
pengertian mengingat segala sesuatu yang dilakukannya tidak hanya dilihat
berdasarkan persepsinya sendiri tetapi juga dari persepsi orang lain. Seperti
dikemukakan Smith (2006:1) bahwa ”The display of empathy is considered to be
the ability to see the world, including one's own behavior, from another person's
point of view”. Cara demikian akan membentuk suatu hubungan sosial yang kuat
sebagaimana fungsi utama dari empati yaitu membantu individu untuk
membentuk dan memelihara ikatan sosial yang kekal. Hal tersebut dikemukakan
Anderson dan Keltner (2001:21) bahwa ”The primary function of empathy is to
help individuals form and maintain lasting social bonds”. Adapun cara untuk
memperkuat ikatan sosial yaitu dilakukan melalui empati. Hal tersebut
dikemukakan Anderson dan Keltner (2001:22) sebagaimana dalam ungkapannya:
Empathy strengthens social bonds in at least three ways. First, empathy
coordinates the actions of individuals in rapid, automatic fashion, which
allows them to respond more effectively as a collective to potential
opportunities or threats. Second, empathy helps solve the problem of
understanding others’ thoughts and intentions. Finally, empathy signals
solidarity. When individuals feel similar emotions, they communicate to each
other that they share a common stance and shared interests.
Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa untuk memperkuat ikatan
sosial yang kuat dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu: Pertama, empati
mengkoordinir tindakan individu secara cepat, otomatis, yang memperbolehkan
mereka untuk merespon lebih efektif sebagai suatu kolektif terhadap terbukanya
peluang dan ancaman. Kedua empati membantu memecahkan permasalahan
dengan memahami pikiran dan keinginan orang lain. Terakhir, empati sebagai
tanda solidaritas. Ketika individu merasakan emosi yang sama, mereka saling
berkomunikasi satu sama lain untuk berbagi mengenai pendirian dan minatnya.
69
5. Teori Empati
Empati sebagai kemampuan untuk memahami, memikirkan dan merasakan
apa yang dirasakan orang lain yang ditunjukkan dengan ungkapan verbal dan
tingkah laku, tentu bukan sebatas ungkapan yang terjadi begitu saja, tetapi
didasarkan pada landasan teoretis. Melalui dasar teori, akan dapat dipahami
bagaimana proses empati tersebut terjadi. Pada bagian ini akan dikemukakan tiga
teori empati, yaitu: teori simulasi, teori pikiran dan teori empati. Untuk lebih
jelasnya mengenai teori-teori tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Teori Simulasi (Theory of Simulation)
Sebenarnya teori simulasi bukanlah merupakan teori utama empati,
melainkan teori tentang bagaimana kita memahami orang lain yang dilakukan
sama seperti halnya dalam respon empati. Pada awalnya teori ini didasarkan pada
filosofi pikiran, terutama karya Alvin Golman dan Robert Gordon (dalam
Wikipedia, 2009:1). Dalam karyanya mereka menemukan mirror neuron pada
monyet-monyet yang telah menyediakan mekanisme fisiologis yang merupakan
tanda yang umum antara persepsi dan tindakan. Dari penemuannya tersebut,
mereka berasumsi bahwa mirror neuron yang terdapat pada monyet sama seperti
yang terdapat dalam otak manusia. Sejak penemuan mirror neuron, banyak
penelitian telah dilakukan untuk mengetahui peranan sistem dalam memahami
tindakan, emosi dan fungsi sosial lainnya. Kaitannya dengan empati, dalam
Wikipedia (2009:1) teori ini mengatakan bahwa “The theory holds that humans
anticipate and make sense of the behavior of others by activating mental
70
processes that, if carried into action, would produce similar behavior. This
includes intentional behavior as well as the expression of emotions”.
Dari kutipan tersebut dapat diartikan bahwa manusia mengantisipasi dan
memahami perasaan dari perilaku orang lain dengan cara mengaktifkan proses
mentalnya yang jika dibawa ke dalam tindakan, akan menghasilkan perilaku yang
sama. Ini meliputi perilaku yang disengaja sebagai ekspresi dari emosi.
Dalam pengembangan teorinya yang didasarkan dari keunikan fungsi
mirror neuron, teori ini dapat menjelaskan bagaimana orang mengenali dan
memahami keadaan orang lain. Mirror mengamati tindakan dalam otak seolah-
olah mereka melakukan pengamatan terhadap tindakan tersebut. Sebagaimana
dalam Wikipedia (2009:2) dikatakan bahwa “This unique function of mirror
neurons may explain how people recognize and understand the states of others;
mirroring observed action in the brain as if they conducted the observed action”.
Mengenai pemahaman emosi, dalam Wikipedia (2009:2) teori simulasi ini
mengatakan bahwa “Understanding other's feelings and emotions is driven not by
cognitive deduction of what the stimuli means but by automatic activation of
somatosensory neurons”. Maksudnya adalah memahami perasaan dan emosi
orang lain tidak hanya didukung oleh pengambilan kognitif dari rangsangan yang
berarti saja tetapi dengan gerakan otomatis neuron somatosensori.
b. Teori Pikiran (Theory of Mind)
Berdasarkan hasil penelitian (2001) oleh Simon Baron-Cohen dalam
Wikipedia (2008:1) dikatakan bahwa “Theory of Mind as "...being able to infer
71
the full range of mental states (beliefs, desires, intentions, imagination, emotions,
etc.) that cause action”. Artinya bahwa teori pikiran ini dapat menyimpulkan
secara lengkap keadaan mental yang meliputi keyakinan, keinginan, niat,
imajinasi, emosi, dan lain-lain, yang menyebabkan tindakan. Lebih lanjut dalam
Wikipedia (2008:1) teori pikiran ini mengatakan bahwa “…, having a theory of
mind is to be able to reflect on the contents of one's own and other's minds."
Artinya bahwa yang dimiliki oleh teori pikiran adalah mampu merefleksikan isi
pikiran diri sendiri dan pikiran orang lain.
Dari kutipan tersebut dapat dijelaskan bahwa empati dipandang sebagai
kemampuan untuk menyimpulkan keadaan orang lain yang meliputi keyakinan,
keinginan, niat, imajinasi, emosi, dan lain-lain, yang direflesikan dalam bentuk
tindakan. Untuk kebanyakan dari orang yang autis, teori ini menimbulkan
hambatan, terutama ketika berkomunikasi dan pendekatan. Hambatan ini sering
mengakibatkan orang-orang yang terdekat dengan dirinya dapat merasakan apa
yang dirasakan orang tersebut sehingga kurang empati.
Dalam Wikipedia (2008:4) dikatakan bahwa kekurangan empati dari orang
autis atau asperger adalah karena orang-orang kurang memahami mengenai
pemahaman orang autis. Mengenai hal tersebut, Isabel Dziobek (dalam
Wikipedia, 2008:4) melakukan penelitian untuk menguraikan masalah empati
orang-orang autis. Penelitiannya dilakukan melalui program studi yang
melibatkan 50 orang, kemudian dievaluasi. Data dari hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa orang yang autis atau asperger syndrome memiliki kekurang
mampuan untuk membaca isyarat-isyarat sosial dari orang lain (seperti ekspresi
72
wajah, atau bahasa tubuh). Namun setelah mereka menyadari keadaan atau
perasaan orang lain, mereka memiliki tingkat belas kasihan yang sama seperti
orang lain. Sebagaimana dikatakan Dziobek (dalam Wikipedia 2008:3) bahwa:
More generally speaking, our data shows that people with Asperger
syndrome have a reduced ability to read other peoples' social cues (such as
facial expressions or body language) but once aware of another's
circumstances or feelings, they will have the same degree of compassion as
anyone else.
Dari kutipan di atas jelas bahwa sebenarnya hambatan yang dialami orang
autis atau asperger yang menyebabkan mereka kurang empati adalah karena
kurangnya memahami terhadap isyarat-isyarat yang ditunjukkan orang lain.
Dalam berempati, kemampuan untuk membaca isyarat seperti bahasa tubuh
lainnya sangat penting agar dapat memberikan respon dengan tepat sesuai dengan
yang diinginkan.
c. Teori Empati (Theory of Empathy)
Menurut teori ini, empati adalah suatu emosi sosial. Teori ini mengatakan
juga bahwa timbulnya empati sebagai respon yang dihasilkan dari pengalaman
terhadap emosi orang lain. Sebagaimana dikemukakan Zillmann (2008:1) bahwa
“Empathy is a social → emotion. Its comes in response to bearing witness to the
emotions of others, usually persons but also other beings thought capable of
experiencing emotions”.
Sebenarnya dari bentuk aslinya, teori ini mengatakan bahwa reaksi empati
ditimbulkan oleh pengamatan langsung dari emosi orang lain, dan
memanifestasikan dirinya dalam sebuah pengalaman emosional yang dengan
73
pengalaman tersebut dipercaya memiliki beberapa tingkat kesamaan dengan
emosi yang dialaminya itu. Perkembangan reaksi empati tidak terbatas pada
pengamatan langsung emosi orang lain dalam istilah wajah, tubuh, dan ekspresi
perilaku orang lain.
Teori empati juga mengatakan bahwa untuk mengembangkan kemampuan
empati seseorang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) Menyampaikan
informasi mengenai keadaan orang lain yang dianggap menyebabkan emosi akut
pada orang lain. (2) Melalui informasi tentang situasi dan tindakan orang lain
yang diduga sebagai penyebab emosi akut orang lain yang dialami sebelumnya.
Hal ini dikemukakan Stotland (1969); Hoffman (1978); Zillmann, 2006b:1)
sebagaimana diungkapannya sebagai berikut:
Empathy can be evoked by the presentation of information about the
circumstances of others that are presumed to cause acute emotions in these
others. Moreover, empathy can be evoked by information about others’
situations and actions that are presumed to have been caused by acute
emotions these others experienced earlier
Teori empati juga mengatakan bahwa reaksi yang ditimbulkan empati itu
sendiri merupakan sebuah pengalaman emosional, terutama karena terkait dengan
peningkatan semangat dan kesadaran daripadanya (eksitasi dan gairah). Kesadaran
ini cenderung membantu suatu penghargaan yang subjektif dari reaksi sebagai
perasaannya terhadap perasaan orang yang diamati.
74
DAFTAR PUSTAKA
Al Ghazali, M. 1993. Akhlaq Seorang Muslim. Semarang Adi Grafika
Allend, E. Ivey. (1993). Counseling and Psychotherapy. A Multidimentional
Perspective. Third Edition. Boston.
Allport, G. (1968). The historical background of modern social psychology. In
G. Lindzey & E. Arronson, Handbook of social psychology. New York:
Addison Wessley.
Barret-Lennard, G.T. 1981. The Empathy Cycle. Refinement of a Nuclear
Concept. Rehabilitation Institute, Southern Illinois University. Journal of
Counseling Psychology, 1981, Vol. 28, No. 2, 91 -100
Budiningsih, A. 2008. Pembelajaran Moral. Berpijak Pada Karakteristik Siswa
dan Budayanya. Rineka Cipta. Jakarta.
Crabb, W., Moracco, J. dan Bender, R. (1983). A comparative study of empathy
training with programmed instruction for lay helpers. Journal of
Counseling Psychology, 30(2), 635-653.
Davis, Mark H. (1980). A Multideimentional Approach to Individual Differences
in Empathy. Austin. University of Texas
________ . (1983). Measuring Individual differences in Empathy: Evidence for a
Multidimentional Approach. Jurnal of Personality and social psychology,
44. 113-126
Egan, G. (1994). The skilled helper: A problem-management approach. Monterey,
CA: Brooks/Cole.
Goldman, A. (1993). Ethics and cognitive science. Etika dan ilmu kognitif. Ethics,
103, 337-360. Etika, 103, 337-360.
Goldstein, A. (1981). Psychological skill training. New York: Pergamon.
Educational Management and Administration, 28(3), 317-3388.
Hepworth, D. & Larsen, J. (1993). Direct social work practice: Theory and skills
(4 Edition). Pacific Grove, CA: Brooks/Cole.
Hojat, M. et al. (2002). Physicians’ perceptions of the changing health care
system: comparisons by gender and specialties. J Community Health 2000;
25:455-471
75
Hojat, M. et al. (2001). Empathy in Medical Education and Patient Care (letter).
Acad Med 2001; 76:669
Ketelle, D. (2005). Self-Efficacy development in school leaders: An alternate
paradigm, Journal of Scholarship and Practice, 2(1), 3-6.
Ketelle dan R. Pete Mesa, “Empathetic Understanding and School leadership
Preparation,” Kravis Leadership Institute, Leadership Review, Vol. 6,
Fall 2006. pp. 144-154.
Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect
and responsibility. New York: Bantam Books.
Lie, Anita. 2010. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di
Ruang-Ruang Kelas. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Metzler, M. W. 2000. Instructional Models For Physical Education. Georgia State
University.
Noddings, N. (1992). The challenge to care in schools: An alternative approach to
education. New York: Teachers College Press.
Sarwono, Sarlito. W. 2002. Individu dan teori-teori Psikologi sosial. Jakarta. Balai
Pustaka.
Slavin, E. 2005. Cooperative Learning. Teori, Riset dan Praktik. Nusa media.
Ujung Berung Bandung.
Smith, A. (2006). Cognitive empathy and emotional empathy in human behavior
and evolution. The Psychological Record, 56(1), 3-21.
Sobur, A. (2009). Psikologi Umum. Dalam Lintas Sejarah. Bandung. CV Pustaka
Setia.
Suherman, A. 1988. Revitalisasi Keterlantaran Pengajaran dalam Pendidikan
Jasmani. IKIP Bandung Press.
Wagstaff, L. & Fusarelli, L. (1995). The racial minority paradox: New leadership
academic Citation:
76
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT
TERHADAP KEMAMPUAN EMPATI SISWA
BAB II KERANGKA TEORETIS
A. Model Pembelajaran Kooperatif ---------------------------------
1. Definisi Model Pembelajaran Kooperatif ---------------------
2. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif ---------------
3. Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Kooperatif ---------
4. Tahapan Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe TGT (Teams Games Tournaments) ----------------------
5. Evaluasi Pembelajaran Kooperatif -----------------------------
6. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif ----------------------
7. Landasan Teori Model Pembelajaran Kooperatif ------------
B. Model pembelajaran Konvensional -----------------------------
1. Definisi Model Pembelajaran Konvensional -----------------
2. Karakteristik Model Pembelajaran Konvensional ------------
3. Pengelolaan Kelas dalam Pembelajaran Konvensional ------
4. Tahapan Pelaksanaan Model Pembelajaran Konvensional
5. Evaluasi Pembelajaran Konvensional -------------------------
6. Tujuan Model Pembelajaran Konvensional -------------------
7. Landasan Teori Model Pembelajaran Konvensional ---------
C. Empati ----------------------------------------------------------------
1. Definisi Empati ----------------------------------------------
2. Dimensi empati ----------------------------------------------
3. Proses Psikologis dalam Empati ---------------------------
4. Fungsi Empati -----------------------------------------------
5. Teori Empati -------------------------------------------------