0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan13 halaman

Pemasaran Cabai Rawit Merah Cigalontang

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan13 halaman

Pemasaran Cabai Rawit Merah Cigalontang

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx

Vol.1 No.1, Desember 2020

STRUKTUR, PERILAKU DAN KINERJA PEMASARAN CABAI RAWIT MERAH DI


KECAMATAN CIGALONTANG
Anisa Puspitasari*, Rudi Priyadi, Dedi Sufyadi
Program Pasca Sarjana, Program Studi Agribisnis, Universitas Siliwangi
*Email: nisapuspita253@gmail.com

ARTICLE INFO ABSTRAK


Tujuan Penelitian ini mengetahui saluran pemasaran, struktur, perilaku dan
kinerja pemasaran cabai rawit merah di Kecamatan Cigalontang. Dengan 30
responden petani dan 22 orang lembaga pemasaran yang terdiri dari tujuh orang
Article History: pedagang pengumpul, tujuh orang pedagang besar, dan delapan orang pedagang
Diterima : Oktober pengecer. Data yang digunakan merupakan data primer dan data skunder. Metode
2020 yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan Snowball sampling. Hasil
Diterima dalam bentuk penelitian ini menunjukkan bahwa struktur pasar komoditas cabai rawit merah
revisi: November 2020 cenderung oligopsoni. Struktur pasar menunjukkan konsentrasi lemah dan
Diterbitkan Online : terdapat hambatan masuk. Prilaku pasar dilihat dari proses jual beli yatitu dijual
Desesember 2020 dengan mekanisme pedagang pengumpul akan mengambil langsung ke lahan
petani,Adapun di tingkat pedagang pengumpul desa dan pedagang pengecer
adalah sistem pembayaran tunai ataupun kredit. Kinerja pasar dapat dilihat dari
hasil analisis marjin bahwa marjin pemasaran terkecil terdapat pada saluran II
sedangkan Farmer’s share terbesar terdapat pada saluran II sebesar 75 persen.

Kata kunci : Struktur, Prilaku, Kinerja, Pemasaran Cabai rawit merah.


ABSTRACT
The purpose of this study is to determine the marketing channels, structure,
behavior and marketing performance of red cayenne pepper in Cigalontang
District. With 30 farmer respondents and 22 marketing institutions consisting of
seven traders, seven wholesalers and eight retailers. The data used are primary
data and secondary data. The method used in this study uses Snowball sampling.
The results of this study indicate that the market structure of red cayenne
commodity tends to be oligopsonistic. The market structure shows weak
concentration and barriers to entry. Market behavior can be seen from the
process of buying and selling, which is sold by the mechanism of collecting
traders who will take directly to the farmers' land, while at the level of village
collectors and retailers the system is a cash or credit payment system. Market
performance can be seen from the results of margin analysis that the smallest
marketing margin is in channel II while Farmer's largest share is in channel II
by 75 percent.

Keywords: structure, conduct, market performance, marketing cayenne paper


merupakan negara pertanian, artinya pertanian
I. PENDAHULUAN memegang peranan penting dari keseluruhan
Sektor pertanian di Indonesia berperan perekonomian nasional. Cabai merupakan
sangat strategis dalam perekonomian nasional. komoditas agribisnis yang besar pengaruhnya
Bukti empirik telah menunjukkan disaat sektor terhadap dinamika perokonomian nasional
non pertanian melemah karena berbagai sehingga dimasukkan dalam jajaran komoditas
kemerosotan ekonomi dan resesi, sektor penyumbang inflasi yang terjadi setiap tahun.
pertanian mampu mengatasi masalah tersebut Angka inflasi tahun 2010 sebesar 6,96 persen
dan memberikan pilihan bagi masyarakat untuk dan jenis bahan makanan yang memberikan andil
tidak menganggap remeh sektor pertanian. besar dalam inflasi antara lain beras sebesar 1,29
Pernyataan tersebut selaras dengan Mubyarto persen, cabai merah sebesar 0,32 persen, dan
(1995) yang menyatakan bahwa Indonesia cabai rawit sebesar 0,22 persen (BPS 2011).
43
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

Cabai merupakan salah satu komoditas sayuran menempatkan pedagang pengumpul pada posisi
unggulan nasional dan memiliki nilai ekonomis tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan
cukup tinggi. Kebutuhan cabai rawit merah terus petani produsen cabai rawit pada penentuan
meningkat setiap tahun sejalan dengan harga jual. Masa panen pada komoditas cabai
meningkatnya jumlah penduduk dan rawit seringkali hanya ditangani oleh satu orang
berkembangnya industri yang membutuhkan pengumpul dari awal panen hingga akhir panen.
bahan baku cabai rawit merah. Selain itu, cabai Kondisi ini telah membatasi kebebasan petani
tidak dapat disubstitusi oleh komoditas lain, dalam menjual cabai rawit kepada pengumpul
sehingga bila terjadi ketidakseimbangan antara lain pada saat panen berikutnya. Pemasaran
produksi dan serapan pasar pasti akan terjadi cabai rawit selalu melibatkan berbagai lembaga
fluktuasi harga. Kabupaten Tasikmalaya pemasaran pada berbagai tingkat saluran
merupakan salah satu sentra produksi aneka distribusi. Banyaknya lembaga pemasaran yang
cabai di Jawa Barat. Khusus di Kecamatan terlibat berarti pula sistem pemasaran yang
Cigalontang produksi cabai yang melimpah dari terjadi tidak efisien dan farmer’s share yang
kecamatan Cigalontang terbukti mampu diperoleh tidak sebanding atau tidak
menggerakkan roda perekonomian masyarakat. proporsional dengan harga di tingkat konsumen
Cabai di Cigalontang tak hanya terkenal akan akhir (LPPD Kabupaten Garut 2010).
penampilannya yang baik, akan tetapi juga Berdasarkan uraian latar belakang masalah
ketahanannya saat disimpan. Petani Cigalontang tersebut diatas maka masalah yang dapat
juga memasarkan cabai produksinya ke pasar diidentifikasi sebagai berikut :
lokal di sekitar Tasikmalaya. Cabai Cigalontang 1. Bagaimana struktur pasar cabai di
kualitas super bahkan telah dipasarkan ke Kecamatan Cigalontang?
supermarket besar melalui Bimandiri. (Balitbang 2. Bagaimana perilaku pasar cabai di
2016). Pada umumnya, petani cabai tidak Kecamatan Cigalontang?
menjual langsung hasil produksinya ke pasar- 3. Bagaimana kinerja pasar cabai di
pasar di kota besar disebabkan oleh keterbatasan Kecamatan Cigalontang?
yang dimiliki petani, seperti alat transportasi,
pengepakan, dan kegiatan lainnya yang Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui
berhubungan dengan pemasaran komoditi sistem pemasaran cabai rawit merah di
tersebut. Kecamatan Cigalontang meliputi:
Selain itu, adanya keterikatan petani kepada 1. Mengetahui struktur pasar cabai di
pedagang pengumpul dalam permodalan untuk Kecamatan Cigalontang.
pembelian benih atau bibit, pupuk, pestisida, dan 2. Mengetahui prilaku pasacar cabai di
lainnya, yang berjumlah cukup besar. Hal ini Keacamatn Cigalontang.
mendorong petani untuk menjual hasil 3. Mengetahu Kinerja Pasar cabai di
produksinya kepada pedagang pengumpul. Kecamatan Cigalontang.
Sebaliknya, bagi petani yang tidak terikat
pinjaman, bebas dalam menentukan pilihan II. METODE PENELITIAN
kepada siapa ia akan jual hasil produksinya Jenis penelitian yang digunakan adalah
seperti menjual langsung kepada konsumen metode survei dan pengamatan langsung
pemakai melalui pasar-pasar di tingkat desa atau dilapangan. Pengambilan respoden dalam
pasar tingkat kecamatan. Biasanya petani yang penelitian ini adalah dengan metode snowball
demikian mencari pembeli dengan harga sampling. Menurut Suliyanto (2006) snowball
tertinggi (Hutabarat dan Rahmanto 2004). sampling adalah teknik pengambilan sampel
Sama halnya dengan yang terjadi di yang pada mulanya berjumlah kecil, tetapi makin
Kecamatan Cigalontang yaitu mekanisme lama makin banyak dan berhenti sampai
pemasaran untuk komoditas cabai rawit di informasi yang didapatkan dinilai telah cukup.
Kecamatan Cigalontang adalah mekanisme yang Teknik ini baik untuk diterapkan jika calon
menganut sistem pasar terbuka. Sistem pasar responden sulit diidentifikasi. Responden
terbuka pada komoditas cabai rawit merah pertama adalah dasar untuk mencari responden
44
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

berikutnya dan seterusnya. Dalam penelitian ini Xi = Volume penjualan cabai rawit
responden pertama yang dijadikan dasar adalah (Kg)
pedagang besar di Pasar Kecamatan Cigalontang, T = Volume produksi total cabai
setelah itu ditelusuri pedagang pengecer serta rawit (Kg)
pedagang pengumpul hingga jumlah b. Hambatan Keluar Masuk Pasar
respondennya mencapai jumlah yang diinginkan. Hambatan keluar masuk pasar dapat dihitung
Pemilihan responden, yaitu petani di Desa dengan Minimum Efficiency Scale (MES),
Cidugaleun dan Desa Parentas yang dipilih yaitu perhitungan penjualan cabe yang
berdasarkan rekomendasi dari penyuluh dilakukan oleh bandar terhadap total cabe di
lapangan dengan menggunakan cara snowball Kecamatan Cigalontang. Hambatan masuk
sampling, yaitu melakukan penelusuran secara dapat dihitung dengan rumus:
bertahap berdasarkan informasi dari responden 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑏𝑒 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
MES= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑐𝑎𝑏𝑒 𝑑𝑖 𝑐𝑖𝑑𝑢𝑔𝑎𝑙𝑒𝑛 × 100%
petani kemudian dicari keterangan mengenai
keberadaan responden lembaga pemasaran. Jika perhitungan menunjukkan lebih dari 10
Sehingga lembaga pemasaran yang terlibat persen maka diindikasikan bahwa pemasaran
berjumlah 30 orang petani, 7 orang pedagang cabe terdapat hambatan masuk ( Jaya 2001).
pengumpul, 7 orang pedagang besar, 8 orang Analisis Perilaku Pasar merupakan aktivitas-
pedagang pengecer. aktivitas yang terjadi di pasar. Perilaku pasar
Analisis struktur pasar dilakukan pada setiap berkaitan erat dengan struktur pasar dan kinerja
interaksi antara dua pelaku lembaga pemasaran pasar. Dengan adanya struktur pasar dan
yang melakukan aktivitas pembelian dan perilaku pasar akan membentuk kinerja pasar.
penjualan kemudian menentukan struktur pasar Perilaku pasar cabai rawit merah dianalisis
yang terjadi. Analisis struktur pasar dapat dilihat secara deskriptif dengan tujuan untuk
dari : memeperoleh informasi perilaku lembaga
a. Konsentrasi Pasar pemasaran. Kohls dan Downey (1972)
Konsentrasi pasar dapat dihitung dengan CR menjelaskan 3 fungsi pemasaran dalam perilaku
(Concentration Rasio) yang merupakan pasar, yaitu fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas
metode analisis dengan tujuan untuk melihat (penyediaan sarana).
output yang mampu dihasilkan oleh bandar di a) Fungsi Pertukaran
Kecamatan Cigalontang. Tingkat konsentrasi fungsi pertukaran adalah kegiatan yang
dapat dihitung dengan menggunakan menyangkut pengalihan hak kepemilikan
Concentration Ratio (CR) merupakan barang dari satu pihak ke pihak lain. Dalam
kombinasi pangsa pasar dari perusahaan fungsi pertukaran terdiri dari penjualan dan
perusahaan oligopolies dimana adanya saling pembelian.
ketergantungan. Kelompok perusahaan terdiri b) Fungsi Fisik
dari 2 sampai 8 perusahaan. Penerimaan Fungsi fisik adalah kegiatan yang melibatkan
(return) rata-rata industri yang terkonsentrasi penanganan, gerakan, dan perubahan fisik
adalah lebih tinggi daripada penghasilan jenis produk. Terdapat 3 fungsi di dalam fungsi
industri yang kurang terkonsentrasi (Jaya fisik, yaitu pengangkutan, penyimpanan, dan
2001). pemrosesan.
Rumus konsentrasi pasar menurut (Jaya 2001) c) Fungsi Fasilitas
yaitu : Fungsi fasilitas atau penyediaan sarana adalah
𝑛
𝑋𝑖
kegiatan yang memper-lancar fungsi
CRn = ∑ x 100% pertukaran dan fisik dalam pemasaran,
𝑖=1 𝑇
Keterangan : meliputi sortasi dan grading, informasi harga,
Cr = Konsentrasi Rasio penanganan risiko, dan pembiayaan. Analisis
N = Jumlah perusahaan yang dipilih Saluran Pemasaran meru-pakan perangkat
berdasarkan peringkat penjualan organisasi yang saling bergantung satu sama
terbesar lainnya, baik dalam menyediakan produk atau
jasa yang igunakan oleh konsumen. Lembaga

45
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

pemasaran bertujuan untuk memasarkan efisiensinya (Limbong dan Sitorus 1985).


produk serta menyesuaikan permintaan dan Rasio keuntungan dan biaya setiap lembaga
penawaran. Saluran pemasaran yang efisien pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut:
dapat mengurangi kesenjangan atau risiko 𝜋𝑖
Rasio keuntungan biaya (π/C) = ∁𝑖
yang akan terjadi, seperti risiko keterlambatan
Keterangan :
pengiriman maupun kesalahan tempat
π i = keuntungan lembaga pemasaran,
kepemilikan.
Ci = biaya pemasaran
Analisis kinerja pasar dapat dilihat dengan
Apabila π/C lebih dari satu (π/C >1), maka
menghitung marjin pemasaran dan farmer share.
usaha tersebut efisien, dan apabila π/C kurang
Panjangnya saluran pemasaran yang ada belum
dari satu (π/C < 1), maka usaha tersebut tidak
tentu menunjukkan bahwa kinerja pemasaran
efisien. Meratanya penyebaran rasio keuntungan
tersebut tidak efisien. Jika rantai pemasaran
dan biaya maka secara teknis sistem pemasaran
panjang dan mampu meningkatkan kepuasan
tersebut semakin efisien.
konsumen maka dapat dikatakan bahwa sistem
pemasaran tersebut efisien.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Marjin Pemasaran Efisiensi suatu pemasaran
dapat dilihat dari penyebaran marjin pemasaran, Karakteristik responden
farmer’s share serta rasio keuntungan dan biaya. Indikator yang digunakan dalam
Menurut Asmarantaka (2009), marjin pemasaran menjelaskan petani responden pada Kelompok
adalah perbedaan harga yang dibayarkan Tani ini adalah umur, pendidikan, pengalaman
konsumen (Pr) dengan harga yang diterima usaha tani, luas lahan, dan status kepemilikan
produsen. lahan. Kelompok usia tertinggi terdapat pada
a. (M=Pr-Pf). usia 31 – 40 tahun sebanyak 10 petani atau
Marjin pemasaran ini termasuk semua ongkos sebesar 33.33 persen. Kelompok usia ini
yang dikeluarkan oleh pelaku-pelaku termasuk ke dalam usia produktif atau usia kerja.
pemasaran sehingga marjin pemasaran dapat Di desa ini juga terdapat petani dengan
dirumuskan sebagai berikut: kelompok usia ≥ 61 atau sebesar 26,67 persen.
Mi = Ci + πi Hal ini menggambarkan bahwa petani yang
Keterangan: berusia relatif tua ( ≤ 61 tahun) juga masih
Mi = Marjin pemasaran pada pasar tingkat ke-i , mampu untuk mengelola lahan untuk kebutuhan
Ci = Biaya pembelian pada pasar tingkat ke-i, hidup. Petani responden memiliki tingkat
πi = Keuntungan pemasaran pada pasar tingkat pendidikan yang cukup tinggi karena ada
ke-i, i= 1,2,3,…….,n. beberapa petani yang sudah menyelesaikan
b. Farmer’s share merupakan bagian yang pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi.
diterima petani atau perbandingan persentase Persentase pendidikan petani responden tertinggi
harga yang diterima petani dengan harga yang pada penelitian ini adalah sekolah dasar pada
dibayar oleh konsumen akhir (Limbong dan umumnya petani memiliki tingkat pendidikan
Sitorus 1985). Secara matematis farmer’s sekolah dasar sebesar 43,33 persen, sedangkan
share dapat dirumuskan sebagai berikut : persentase terendah adalah tingkat perguruan
𝑃𝑓 tinggi yaitu 6,67 persen. Rata-rata luas lahan
Fs = 𝑃𝑟 𝑥100%
yang digarap petani responden sebesar 5.140 m2
Keterangan:
Fs = Farmer’s share, (0,514 hektar) dengan luas lahan terkecil adalah
Pf = Harga di tingkat petani 1.000 m2 (0,1 hektar) dan luas terbesar adalah
Pr = Harga yang dibayarkan oleh konsumen 40.000 m2 (4 hektar). Status kepemilikan lahan
akhir. petani responden sebagian besar merupakan
c. Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya milik sendiri dengan persentase sebesar 90
Rasio keuntungan dan biaya adalah persentase persen dan 10 persen merupakan lahan sewa.
keuntungan yang diterima lembaga Pedagang yang terlibat dalam saluran
pemasaran terhadap biaya pemasaran yang pemasaran cabai rawit merah di Kecamatan
secara teknis untuk mengetahui tingkat Cigalontang ini berjumlah 22 responden yang
46
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

terdiri dari 7orang pedagang pengumpul, 7 orang analisis pada penelitian ini, konsentrasi pasar
pedagang besar, 8 orang pedagang pengecer. dihitung dengan Four Firm Concentration Ratio
Pedagang pengumpul berasal dari Kecamatan (CR4) Dengan menghitung penjualan terbesar
Cigalontang dimana pedagang pengumpul desa yang dilakukan oleh pedagang pengumpul atau
memperoleh pasokan cabai rawit merah dari Bandar yang menjadi responden di Kecamatan
petani langsung dengan kesepakatan jumlah Cigalontang. Terlihat dari perhitungan
yang diminta dan kesepakatan harga oleh kedua berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa
belah pihak. Pedagang besar terbagi atas dua konsentrasi rasio pedagang pengumpul adalah
wilayah yaitu pedagang besar di Pasar Induk 0.29 atau 29 persen menunjukkan bahwa pasar
Cikurubuk, dan pedagang besar di luar terkonsentrasi lemah. Menurut Hirschey (2009)
Kabupaten Tasikmalaya seperti Pasar Induk menjelaskan nilai CR4 ≤ 0,5 menunjukkan pasar
Kramat jati, Sedangkan pedagang pengecer yang terkonsentrasi lemah. Hal ini berarti bahwa
dikunjungi berlokasi di Pasar Induk Cikurubuk pedagang pengumpul tidak menguasai secara
Kabupaten Tasikmalaya dengan responden yang menyeluruh dari hasil penjualan cabai segar di
berbeda. Karakteristik yang diperhatikan Kecamatan Cigalontang ini. Hal ini
terhadap pedagang responden diantaranya umur, mengindikasi pasar cabai rawit belum mengarah
jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman pada pasar persaingan tidak sempurna. Pada
berdagang cabai rawit merah. Berdasarkan hasil penelitian ini, pasar cabai rawit termasuk
karakteristik umur, pedagang responden pasar kompetitif karena volume penjualan
memiliki umur yang bervariasi dengan jumlah merata dalam jumlah yang kecil dan memiliki
kelompok umur tebanyak adalah pedagang banyak pesaing. Bhinadi (2012) menyatakan
berumur antara 31 – 40 tahun yaitu sebanyak jumlah output yang kecil dengan persaingan
lima pedagang atau 55,55 persen. Sedangkan yang tinggi menjadikan struktur pasar cabai di
empat pedagang lainnya atau sebesar 22,22 level pedagang pengumpul atau bandar semakin
persen berumur lebih dari 41 tahun. Jika dilihat kompetitif. Hal ini berpengaruh pada perilaku
dari tingkat pendidikan pedagang cabai rawit dan kinerja pasar cabai rawit seperti penentuan
merah juga bervariasi didominasi oleh pedagang harga yang ditentukan pasar atau tidak ada
yang tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) perusahaan yang dapat menentukan harga
yaitu sebanyak 4 orang atau sebesar 50 persen, 3 pasar.Sinaga et al, (2013). Menyatakan pasar
orang yang tamat Sekolah Dasar (SD) dan 1 kompetitif memiliki konsentrasi lemah
orang yang tamat lulusan Sekolah Menengah mengindikasikan bahwa pasar memiliki banyak
Atas (SMA). Pengalaman berdagang rata-rata pedagang pengumpul (Bandar) dan pedagang
dari pedagang responden berbeda-beda tetapi besar memberikan peningkatan persaingan antar
bentuk usaha dari masing-masing jenis pedagang produsen untuk menjual kepada konsumen.
adalah sama yaitu perorangan (Tabel 9) dan
terlihat bahwa masing-masing jenis pedagang Tabel1. Nilai Konsentrasi Rasio (CR4) Pedagang
cenderung memiliki pengalaman berdagang yang Pengumpul
relatif cukup lama sehingga sudah terbentuk
kepercayaan dari masing-masing lembaga atau Pedagang Pengumpul Volume Penjualan (Ton/th)
Pedagang pengumpul 1 19,29
pihak yang berhubungan langsung dengannya.
Pedagang pengumpul 2 14,40

Analisis Struktur Pasar Pedagang pengumpul 3 13,92


Struktur pasar membahas organisasi dari Pedagang pengumpul 4 7,68
Total 55,29
suatu pasar sehingga organisasi pasar Volume total Penjualan
mempengaruhi keadaan persaingan dan Cabai Kecamatan 190,4
penentuan harga di pasar. Struktur pasar Cigalontang
Nilai CR4 (%) 29%
menginterprestasikan nilai konsentrasio ratio
perusahaan dengan jumlah output terbesar (CR4)
Hambatan masuk pasar dapat dilihat dari
dengan keseluruhan penjualan cabai rawit di
mudah atau tidaknya pesaing pesaing potensial
Kecamatan Cigalontang. Berdasarkan hasil
untuk masuk ke pasar. Semakin tinggi barrier to
47
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

entry maka akan semakin lemah ancaman dari Pedagang pengepul 6 5.76
pendatang baru yang hendak masuk ke dalam Pedagang pengepul7 5.28
suatu industri. Beberapa hal mengenai hambatan Total 71.04
memasuki suatu pasar. Pertama, hambatan- Total cabai rawit di
hambatan timbul dalam kondisi pasar yang Kecamatan Cigalontang 190.4
mendasar, tidak hanya dalam bentuk perangkat MES 37 %
yang legal ataupun dalam bentuk kondisi-kondisi
yang berubah dengan cepat. Kedua, hambatan
Analisis Perilaku Pasar
dibagi dalam tingkat mulai dari tanpa hambat an
Lembaga pemasaran adalah salah satu
sama sekali, hambatan rendah, sedang sampai
elemen dari saluran distribusi produk. The
tingkatan tinggi di mana tidak ada lagi jalan
American Marketing Association
masuk. Ketiga, hambatan merupakan sesuatu
mengemukakan bahwa saluran distribusi
yang kompleks. Cara yang digunakan untuk
merupakan suatu struktur organisasi dalam
melihat hambatan masuk adalah dengan
perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri
menggunakan skala ekonomis yang didekati
dari agen, dealer, pedagang besar dan pengecer,
melalui output perusahaa. Hambatan keluar
melalui sebuah komoditi, produk atau jasa yang
masuk pasar dihitung dengan Minimum
dipasarkan. Terdapat dua jenis saluran
efficiency Scale (MES), yaitu penjualan cabai
pemasaran cabai pada petani cabai di
oleh pedagang pengumpul dibagi dengan total
Kecamatan Cigalontang, Saluran pemasaran I
cabai di Kecamatan Cigalontang, sehingga
terdiri dari petani, pedagang
menghasilkan nilai sebesar 37,01 persen. Pada
pengumpul/antarkota, pedagang besar,
penelitian ini berarti adanya hambatan masuk
pedagang pengecer dan konsumen. Saluran
karena nilai MES menunjukkan perhitungan
pemasaran II terdiri dari petani, pedagang
lebih dari 10 persen. Tingginya MES tersebut
pengumpul/antarkota, pedagang pengecer di
dapat menjadi penghalang masuknya perusahaan
kota, dan konsumen. Berdasarkan hasil
baru kedalam industri pasar cabai rawit merah
penelitian jumlah lembaga pemasaran cabai di
ini, yang dipengaruhi adanya ketentuan standar
Kecamatan Cigalontang, ada dua. Lembaga-
syarat mutu produk.
lembaga yang terlibat adalah pedagang
Hambatan masuk disebabkan oleh beberapa
pengumpul, pedagang atarkota, pedagang dan
faktor diantaranya petani pengumpul memiliki
pedagang pengecer. Lembaga tersebut terdiri
modal yang cukup kuat, mempunyai akses
dari tujuh orang pedagang pengumpul juga
kepada petani sebagai sumber input dan akses
sekaligus berperan sebagai pedagang antarkota
kepada pedagang besar (pasar induk) ,pedagang
dan, serta tiga orang pedagang pengecer.
pengumpul sebagai kaki tangan dari pedagang
besar. Terdapatnya informasi perubahan harga 100%
cabai yang terjadi dipasar, harga yang berubah P PP
84,54% PB 51,29% PR 51,29% K
ini disalurkan juga ke pasar-pasar yang lain di
berbagai daerah sebagai tujuan pendistribusian Gambar 1. Jenis Saluran Pemasaran Cabai Rawit I
sehingga aktivitas perdagangan yang terjadi
antara dua pasar atau lebih, memiliki korelasi 100% PP 15,54% PR
15,54%
P K
harga.

Tabel 2. Nilai MES (Minimum Efficiency Scale). Gambar 2. Jenis Saluran Pemasaran Cabai Rawit II
Volume
Penjualan Keterangan :
Pedagang Pengepul (Ton/thn) P = Petani
PP = Pedagang pengumpul
Pedagang pengepul 1 14.40
PB = Pedagang besae
Pedagang pengepul 2 13.92
PR = Pedagang pengecer
Pe dagang pengepul 3 19.29
K = Konsumen
Pedagang pengepul 4 4.70
Pedagang pengepul 5 7.68
48
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

Dari hasil penelitian saluran pemasaran di pemasaran yaitu fungsi pertukaran berupa jual
Kecamatan Cigalontang terdapat dua saluran beli cabai rawityang fungsi pertukaran berupa
pemasaran, pada saluran yang pertama jual beli dilakukan sekurang-kurangnya satu
merupakan pola yang sering digunakan petani kali selama proses pemasaran, fungsi fisik
dan pedagang pengumpul desa, dapat dilihat berupa pengangkutan cabai dari tempat hasil
bahwa sebanyak 23 petani (100 persen) menjual panen sampai di tempat penggudangan, dan
langsung cabai rawit merah ke pedagang penyimpanansebelum cabai dipasarkan baik
pengumpul atau Bandar, kemudian 5 pedagang keluar kota maupun keluar pulau,serta fungsi
pengumpul menjualnya ke pedagang besar fasilitas berupa sortasi dan pengemasan dengan
sebanyak 1.250 kilogram (85,54 persen), mengelompokkan cabai tersebut berdasarkan
kemudian didistribusikan ke pedagang besar di kualitasnya guna memudahkan penjualan yang
Pasar induk Cikurubuk, pedagang besar pada bertujuan untuk meminimalkan risiko
saluran I melakukan aktivitas pembelian tidak kerusakan pada cabai hingga sampai pada
terfokus pada komoditas cabai rawit merah saja, tempat tujuan. Strategi harga adalah SOP
namun juga melakukan pembelian terhadap (standard operasional prosedur) harga yang
komoditas sayuran lainnya, seperti bawang ditentukan berdasarkan rekomendasi petanian
merah, bawang putih, cabai besar dan cabai mark-up standar atau penentuan harga dengan
keriting, Pedagang besar di Pasar induk menambahkan mark-up pada biaya
Cikurubuk ini melakukan penyortiran cabai produksi.Meskipun demikian, pedagang
rawit merah yang telah mereka beli dari pengumpul tidak menyetujuinya begitu
pedagang pengumpul desa sebelum menjualnya saja.Setelah ada harga, terjadi tawar-menawar
kepada pedagang pengecer dan pedagang besar antara petani dengan pedagang pengumpul
diluar kota. Setelahdi sortir cabai rawit merah sampai tercapai kesepakatan harga. Strategi
ini langsung didistribusikan ke pedagang besar produk yang dilakukan adalahaktivitas yang
luar kota sebanyak 600-1000 kilogram, berasal dari bawah (produsen) menuju ke arah
sedangkan sisanya akan dijual ke pedagang atas (konsumen) melalui lembaga pemasaran
pengecer yang berhadapan langsung dengan disebut aktivitas vertikal. Saluran-saluran bisnis
konsumen akhir. Cabai rawit merah yang yang terdapat pada aktivitas ini memiliki satu
disalurkan ke luar kota merupakan luar lingkup target yang sama pada akhir saluran yaitu
dari penelitian ini. konsumen.
Pada pola saluran II digunakan oleh 7 Analisis perilaku pasar dilakukan secara
orang petani yang menjual hasil panennya ke 2 deskriptif dengan mengacu pada struktur.
orang pedagang pengumpul. Pada pola saluran Berdasarkan hasil analisis, prilaku pasar
II ini pedagang pengumpul menjual langsung menekankan pada aktivitas-aktivitas yang terjadi
cabai rawit merah kepada pedagang pengecer di di pasar. Aktivitas yang terjadi di dalam pasar
pasar induk cikurubuk maupun pedagang sangat dibutuhkan informasi serta kerjasama
pengecer di pasar lokal yang berhubungan diantara lembaga pemasaran. Kohls dan Downey
langsung dengan konsumen akhir. Volume rata- (1972) menjelaskan fungsi pemasaran yang
rata penjualan cabai rawit merah dari pedagang dibagi menjadi tiga bagian, diantaranya fungsi
pengumpul ke pedagang pengecer berkisar 200- pertukaran, fisik, dan penyediaan sarana atau
500 kilogram perminggunya. Sedangakan fasilitas. Adapun pelaku di lembaga pesmasaran
volume rata-rata cabai rawit merah yang dijual cabai rawit merah, diantaranya :
di tingkat pedagang pengecer berkisar antara
70-75 kilogram. 1. Fungsi Pemasaran di Tingkat Petani
Analisis perilaku pasar pada penelitian ini Petani berperan sebagai produsen cabai
meliputi praktik pertukaran/fungsi pemasaran, rawit merah. Komoditas yang diusahakan
strategi harga, strategi produk, penggunaan adalah cabai rawit merah dan beberapa
informasi, dan kerjasama.Berdasarkan komoditas sayuran lainnya, seperti kubis,
penelitian, praktik pertukaran atau fungsi tomat, buncis, jagung, dan komoditas sayuran
pemasaran yang dilakukan oleh lembaga lainnya. Aktivitas yang dilakukan oleh petani di
49
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

Kecamatan Cigalontang, diantaranya pembelian beberapa pedagang pengumpul desa yang


bibit, pengolahan lahan, penanaman, melakukan tindak kecurangan seperti
pengendalian hama penyakit, hingga kegiatan pemalsuan nota penjualan.
panen. Petani mengangkut cabai rawit merah
menggunakan karung bekas pupuk untuk 2. Fungsi Pemasaran Pedagang pengumpul
mengemas cabai rawit merah dan satu karung Pedagang pengumpul atau bandar
dapat memuat cabai rawit merah sebanyak 50 merupakan lembaga pemasaran yang berfungsi
kilogram. mengumpulkan hasil panen cabai rawit merah
Fungsi fasilitas seperti sortasi dilakukan dari produsen untuk didistribusikan secara
langsung di lahan petani saat panen yaitu langsung kepada pedagang besar, atau pedgang
dengan memetik cabai rawit merah yang dalam pengecer baik di pasar induk, luar kota, maupun
kondisi baik atau tidak terkena patek yang perusahaan ekspor. Peranan pedagang
sangat parah yang menyebabkan busuk buah pengumpul cukup besar sebagai penghubung
secara keseluruhan. Fungsi penaggungan risiko antara petani dengan lembaga pemasaran
yang dilakukan petani antara lain adalah risiko berikutnya. Pedagang pengumpul juga
produksi seperti terserang hama penyakit memegang kepercayaan pedagang besar dalam
sehigga jumlah cabai rawit merah yang dipanen memasok kebutuhannya sesuai dengan kualitas
lebih kecil dari yang semestinya. Selain itu, yang diinginkan dengan kesepakatan harga
risiko harga juga sering dihadapi petani yaitu yang sudah ditetapkan sebelumnya. Pedagang
harga jual cabai rawit merah yang terkadang pengumpul desa hampir melakukan kegiatan
sangat rendah dan fluktuasi harga yang tajam. yang sama dalam setiap saluran pemasaran
Beberapa orang petani respoden menghadapi cabai rawit merah. Pedagang pengumpul
risiko ini dengan cara melakukan siasat atau memperoleh cabai rawit merah dari para petani
strategi pola tanam cabai rawit merah sehingga langsung yang ada di Kecamatan Cigalontang.
pemanenan tidak dilakukan secara serempak Pedagang pengumpul desa dan petani saling
yang menyebabkan pasokan cabai rawit merah merundingkan syarat-syarat jual beli seperti
di pasaran menumpuk dan harga otomatis akan sistem pembayaran serta penetapan harga jual.
menurun. Selain itu, para pedagang pengumpul juga
Petani responden juga melakukan fungsi menentukan tempat pembelian (yaitu dengan
pembiayaan dan informasi harga. Fungsi mendatangi lahan petani langsung, namun jika
pembiayaan yang dilakukan oleh petani yaitu lahan jauh dari jalan utama maka petani harus
menanggung dan mengusahakan biaya-biaya mengantar cabai rawit merah ke pinggir jalan
untuk produksi dan biaya pasca panen seperti utama). Sedangkan fungsi penjualan, pedagang
biaya input, biaya produksi, biaya tenaga kerja, pengumpul menjual hasil pembeliannya kepada
biaya pengemasan, biaya penyusutan dan biaya pasar pengumpul lokal atau Pasar induk dan
pengangkutan. Sumber pembiayaan usahatani pedagang besar non lokal. Pedagang
petani cabai rawit merah berasal dari modal pengumpul melakukan kesepakan kepada
sendiri dan lembaga keuangan, baik formal pedagang besar seperti penetapan jumlah cabai
maupun non formal. Namun, sedikit sekali rawit merah yang diminta, harga jual serta
yang mengajukan permohonan dana ke sistem pembayaran kepada para pedagang
lembaga keuangan formal. Lembaga keuangan besar, pemesanan dilakukan melalui telepon
non formal yang menjadi sumber pembiayaan selular. Biasanya sistem pembayaran dilakukan
yaitu keluarga. Informasi pasar seperti dengan nota penjualan, dimana hasil penjualan
informasi harga yang diterimapetani bersifat hari ini akan dibayar keesokan harinya atau dua
tidak transparan atau dapat dikatakan informasi hari kedepan. Penggunaan nota ini sebagai
harga sering tidak tersampaikan dengan baik pedoman penetapan harga di tingkat petani
kepada petani. Para petani memperoleh cabai rawit merah.
informasi dari sesama petani dan juga pedagang Pengangkutan dilakukan secara dua kali
pengumpul desa melalui nota penjualan, yaitu dari lahan petani atau pinggir jalan
dimana berdasarkan hasil lapang ternyata ada menuju ke rumah pedagang pengumpul desa
50
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

dan dari rumah pedagang pengumpul desa modal untuk membayar cabai rawit merah
menuju ke pasar-pasar tujuan. Pengangkutan kepada pedagang pengumpul, biaya
dari lahan petani atau pinggir jalan biasanya pengangkutan, tenaga kerja, pengemasan,
menggunakan motor pribadi atau menyewa retribusi (biaya masuk pasar), penyusutan,
ojeg. Jika jarak dekat, pengangkutan cabai bongkar muat, sortasi, dan sewa lapak dengan
rawit merah dikenakan biaya sebesar Rp 75,00 sumber modal berasal dari modal sendiri.
per kilogram dan jika jaraknya jauh dikenakan Informasi pasar mengenai perkembangan harga
biaya sebesar Rp 150,00 per kilogram, cabai rawit merah diperoleh pedagang
sedangkan jika tujuannya ke pasar maka pengumpul dari pedagang besar di pasar induk.
pengangkutan dilakukan dengan menggunakan
mobil truk dalam jumlah besar yang tidak 3. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang
hanya memuat cabai rawit merah saja Besar
melainkan sayuran lain seperti kol, kentang, Pedagang besar adalah lembaga pemasaran
tomat, pecai, sawi, dan wortel. Untuk berikutnya setelah pedagang pengumpul.
pengemasan cabai rawit merah ini Aktivitas pedagang besar berada di pasar induk.
menggunakan karung bekas pupuk yang Pedagang besar di Pasar Induk Cikurubuk
memuat 50 kilogram cabai rawit merah per melakukan pertukaran (pembelian dan
karung. penjualan), fungsi fisik (pengangkutan dan
Fungsi fasilitas yang dilakukan pedagang pengemasan), dan fungsi fasilitas (sortasi,
pengumpul yaitu sortasi, penanganan risiko, penanganan risiko, Fungsi pertukaran, transaksi
pembiayaan, dan informasi pasar. Sortasi pembelian baik antara pedagang pengumpul
dilakukan dengan memilih cabai rawit merah dengan pedagang besar maupun antar pedagang
yang dibeli dari para petani yaitu memisahkan besar awalnya dilakukan melalui telepon untuk
cabai rawit merah busuk yang terkena patek menentukan jumlah pesanan yang diminta serta
dan yang tidak, karena jika tidak dipisahkan penetapan harga beli. Jika kedua belah pihak
maka cabai rawit merah yang tidak terkena setuju maka cabai rawit merah langsung dikirim
patek akan ikut terjangkit sehingga penyusutan ke pasar tujuan. Penjualan yang terjadi antar
saat pengiriman akan lebih besar yang akan pedagang besar bertujuan untuk menghabiskan
berdampak pada harga jual nantinya. Cabai pasokan cabai rawit merahsehingga tidak
rawit merah yang terkena patek ini tidak diperlukan fungsi penyimpanan. Selain itu,
dibuang melainkan diberikan kepada para biaya penyusutan yang dapat mempengaruhi
pekerja sortasi untuk dikonsumsi sendiri. harga jual nantinya. Fungsi pembelian ini
Fungsi penanganan risiko yang dihadapi oleh dilakukan dengan sistem nota penjualan dan
pedagang pengumpul yaitu risiko harga yang pembayaran dilakukan pada keesokan harinya.
dapat berubah sesuai kesepakatan awal dan Setelah sampai ke tempat pedagang besar, cabai
risiko keuangan seperti hasil penjualannya tidak rawit merah yang telah dikemas diturunkan dari
dibayar oleh pedagang besar atau kejahilan mobil truk atau mobil pick- up kemudian
tenaga kerja angkut yang mengambilcabai rawit ditimbang dan siap untuk dijual. Begitupun
merah secara diam-diam saat harga jual cabai dengan fungsi penjualan kepada pedagang besar
rawit merah tinggi di pasaran. Risiko harga ini dan pedagang pengecer yang dilakukan secara
tidak dapat diatasi karena harga beli yang nota yaitu sistem keluar masuk atau barang
diterima oleh pedagang pengumpul ini keluar lebih dulu dan pembayaran dilakukan 2
berdasarkan harga jual yang terbentuk di pasar hari atau bahkan 3 hari kedepan dan adapula
induk langsung. Sedangkan risiko keuangan yang membayar secara tunai. Khusus untuk
diatasi dengan cara mencari pedagang besar penjualan ke pedagang pengecer, pedagang
lain yang dapat dipercaya serta melakukan besar memberikan batas minimal pembelian
pemecatan kepada pegawai yang melakukan yaitu 5 kilogram.
kecurangan tersebut. Fungsi fisik seperti pengemasan yang
Fungsi pembiayaan yang dilakukan oleh digunakan untuk pengiriman ke pedagang besar
pedagang pengumpul ini yaitu penyediaan lain menggunakan karung sedangkan jika
51
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

pembelinya adalah pengecer maka cabai rawit dalam membawanya. Fungsi penyimpanan
merah dikemas dalam plastik bening besar yang kadang-kadang dilakukan, apabila cabai rawit
dapat memuat 10 kilogram cabai rawit merah. merah tidak laku terjual. Penyimpanan yang
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh dilakukan oleh pedagang pengecer biasa saja
pedagang besar yaitu kegiatan penyortiran. tanpa ada perlakuan khususseperti menyimpan
Kegiatan ini dilakukan dengan memisahkan di kios untuk pendagang pengecer yang
cabai rawit merah yang terkena patek dan yang memiliki kios sedangkan pedagang pengecer
tidak untuk mengurangi biaya penyusutan yang yang tidak memiliki kios (hanya sekedar lapak)
ada. Cabai rawit merah yang patek ini akan maka cabai rawit merah akan dibawa pulang ke
dijual setengah harga dari cabai rawit merah rumah mereka.
segar. Risiko yang dihadapi oleh pedagang Fungsi fasilitas seperti sortasi dilakukan
besar yaitu tunggaknya bayaran dari para sendiri oleh pedagang pengecer saat tidak ada
pedagang pengecer dan bahkan cabai rawit pembeli dengan memisahkan cabai rawit merah
merah yang terjual tidak dibayar. yang busuk dan tidak. Cabai rawit merah yang
Penanganannya yaitu dengan memilih-milih busuk akan dijual setengah harga dari cabai
pembeli yang dapatdipercaya. Fungsi rawit merah segar. Penanganan risiko berupa
pembiayaan yang dilakukan oleh pedagang penyusutan akibat penyimpanan, fungsi
besar diantaranya modal untuk pembelian cabai pembiayaan berupa modal untuk membeli cabai
rawit merah kepada pedagang pengumpul, rawit merah, biaya pengangkutan, retribusi,
biaya pengangkutan, pengemasan, tenaga kerja, tenaga kerja, pengemasan, penyusutan, dan
penyusutan, bongkar muat, penyortiran, dan sewa lapak. Sedangkan fungsi informasi berupa
sewa lapak dimana sumber modalnya berasal perkembangan harga beli dan jual yang
dari modal sendiri. Informasi pasar berupa diperoleh dari pedagang besar dan sesama
perkembangan harga beli dan harga jual cabai pengecer di pasar tersebut.
rawit merah langsung terbentuk di pasar dengan
melihat jumlah pasokan cabai rawit merah yang Tabel 3. Fungsi Lembaga Pemasaran Cabai Rawit
ada di pasar serta banyaknya permintaan yang Di Kecamatan Cigalontang
ada.
4. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang PP PB PR
Fungsi-Fungsi Pemasaran P (Pasar
Pengecer Induk)
Pedagang pengecer melakukan kegiatan Pertukara
yang sama yaitu fungsi pertukaran (pembelian n a. Beli − √ √ √
dan penjualan), fungsi fisik (pengangkutan, b Jual √ √ √ √

pengemasan, dan penyimpanan), dan fungsi Fisik a. Angkut √ √ √ √


b. Simpan − − − √
fasilitas (sortasi, penanganan risiko, c. Kemas − √ √ √
pembiayaan, dan informasi pasar). Pedagang Fasilitas a. Sortasi √ √ √ √
pengecer adalah pedagang yang berhubungan Informas
langsung dengan konsumen akhir dan b. i √ √ √ √
Harga
memperoleh pasokan cabai dari para pedagang c. Biaya √ √ √ √
besar dengan jumlah pembelian lebih dari lima d. Resiko √ √ √ √
kilogram. Pedagang pengecer biasanya Keterangan :
P = Petani
langsung mendatangi pedagang besar untuk PP = Pedagang pengumpul
melakukan pembelian cabai rawit merah PB = Pedagang besae
PR = Pedagang pengecer
sehingga transaksi langsung terjadi di pasar K = Konsumen
induk. Oleh karena itu, biaya transportasi
menjadi tanggungan pedagang pengecer. Analisis Kinerja Pasar, kinerja pasar dalam
Pengangkutan biasanya menggunakan motor penelitian meliputi margin pemasaran, farmer’s
atau mobil angkutan umum. Sedangkan untuk share, dan efisiensi pemasaran.Dalam hal ini,
pengemasan dilakukan dengan menggunakan penyesuaian dilakukan oleh lembaga pemasaran
kantong plastik untuk memudahkan pembeli yang terdiri dari pedagang pengecer dan
52
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

pedagang pengumpul yang sekaligus bertindak Berdasarkan total marjin pemasaran


sebagai pedagang antarkota dan pedagang antar terbesar terdapat pada saluran I sebesar
luar kota pada struktur pasar ini termasuk Rp.13.500. Besarnya marjin ini dikarenakan
monopsoni karena hanya terdapat 1 orang saluran I melibatkan dua pedagang besar yang
pembeli yaitu pedagang pengumpul dari banyak saling melakukan transaksi penjualan cabai
penjual yaitu petani.Terdapat biaya-biaya yang rawit merah, cabai rawit merah yang tidak laku
dikeluarkan dan keuntungan yang diterima oleh terjual di Pasar Induk Cikurubuk akan
lembaga pemasaran sebagai penyalur dalam didistibusikan ke pasar lokal, maupun ke pasar
mendistribusikan cabai dari produsen ke Induk di Jakarta, sehingga saluran pemasaran I
konsumen.besarnya biaya yang dikeluarkan dan merupakan salah satu saluran pemasaran
keuntungan yang diterima oleh masing-masing terpanjang.
lembaga pemasaran berbeda-beda. Farmer’s Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat
share menunjukkan besarnya bagian harga yang disimpulkan panjang pendeknya saluran rantai
diterima oleh petani terhadap harga yang pemasaran adalah penentu dari besar kecilnya
dibayarkan oleh konsumen akhir. marjin yang dihasilkan. Besar marjin yang
dihasilkan untuk tiap saluran pemasaran juga
Tabel 4. Analisis Marjin Pemasaran Cabai Rawit ditentukan dari jarak lokasi pemasaran.
Merah di Kecamatan Cigalontang Kabupaten Adapun total biaya pemasaran tertinggi
Tasikmalaya terdapat pada saluran pemasaran I yaitu sebesar
Rp 1.618,00 per kilogram. Hal ini disebabkan
Saluran Pemasaran
Persentase Persent
karena pada saluran ini, pendistribusian cabai
I II rawit merah melibatkan banyak lembaga
(%) ase (%)
Petani pemasaran sehingga masing-masing lembaga
a. Harga jual 26.500 28.000
melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang
PP membutuhkan biaya. Hal ini dikarenakan
a. Harga Beli 26.500 28.000
b. Biaya
masing-masing daerah pemasaran cabai rawit
619 38,25 884
Pemasaran 19,53 merah pada kedua saluran ini memiliki biaya
c. Keuntungan 16.221 73,06 1.832 19,33
d. Harga Jual 30.500 31.000
pengangkutan, biaya tenaga kerja, biaya
e. Marjin 4.000 29,62 3.000 25,00 retribusi, biaya bongkar muat, biaya
PB penyusutan, biaya sortasi, dan biaya sewa lapak
a. Harga Beli 30.500 - - yang berbeda-beda. Biaya pemasaran tertinggi
b. Biaya
Pemasaran
544 33,58 - - berasal dari tingkat pedagang pengumpul
c. Keuntungan 2.744 12,36 - - sebesar 38,25 persen, dengan biaya penyusutan
d. Harga Jual 34.000 - -
sebesar Rp 212,00 per kilogram.
e. Marjin 3.500 25,92 - -
Sedangkan total biaya pemasaran terkecil
PR
a. Harga Beli 34.000 31.000
terdapat pada saluran II yaitu sebesar Rp
b. Biaya
456 28,16 240
1.125,00 per kilogram karena pada jalur ini
Pemasaran 5,29
c. Keuntungan 3.235 14,57 7.755 81,84
jarak distribusinya cukup dekat dan merupakan
d. Harga Jual 40.000 40.000 rantai pemasaran terpendek. Berdasarkan kedua
e. Marjin 6.000 44,44 9.000
75,00
saluran pemasaran yang ada, biaya pemasaran
Total Biaya
1.618 1.124
tertinggi berasal dari biaya penyusutan. Hal ini
Pemasaran
sesuai dengan sifat cabai rawit merah yang
Total
22.200 100 9.475 mudah rusak dan mengalami pembusukan
Keuntungan 100
Total Marjin 13.500 100 12.000 100 (perishable).
Keterangan :
P = Petani Keuntungan pemasaran terbesar terdapat
PP = Pedagang pengumpul pada saluran I sebesar Rp 22.200,00 per
PB = Pedagang besar
PR = Pedagang pengecer kilogram.Keuntungan pemasaran ini terjadi
K = Konsumen karena pada saluran ini terjadi keuntungan yang
besar pada proses pengambilan keuntungan
yang dilakukan pedagang pengumpul desa,
53
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

pedagang besar di Pasar Induk Cikurubuk dan Pada Tabel 15 menunjukkan bahwa bagian
pedagang pengecer yang mendistribusikan terbesar yang diterima petani terdapat pada
cabai rawit merah ke konsumen masing- saluran II yaitu sebesar 70 persen. Saluran II
masing. merupakan saluran dengan total marjin
Pada hasil penelitian kali ini pemasaran pemasaran terendah dan saluran pemasaran
cabai rawit merah berdasarkan hasil analisis terpendek jika dilihat dari jumlah lembaga
efisiensi yang telah dilakukan, pada saluran I pemasaran yang terlibat.
dihasilkan nilai 2,92 persen dan pada saluran II
dihasilkan nilai 2,81 persen.Saluran efisiensi Tabel 6. Farmer’s Share Pada Saluran Pemasaran
pemasaran dikatakan efisien apabila total biaya Cabai Rawit Merah di Kecamatan Cigalontang
pemasaran lebih kecil dibandingkan dengan Kabupaten Tasikmalaya
Harga di Harga di
harga jual atau nilai produk. Dapat dilihat dari tingkat tingkat
kemampuan sistem pemasaran dan Saluran Farmer’s
petani konsumen
mengalokasikan sumber daya serta Pemasaran Share (%)
(Rp/kilogr (Rp/kilogra
mengkordinasi produksi dan pemasaran agar am) m)
sesuai dengan keinginan konsumen sehingga Saluran I 26.500 40.000 66,25
kepuasan akan suatu produk akan tercapai Saluran II 28.000 40.000 70,00
(Baladina 2017).
Menurut kaidah keputusan Soekartiwi, 2010. Seperti pada penelitian sebelumnya
“Berdasarkan hasil analisis efisiensi yang telah (Muslikh 1999) farmer share yang diperoleh
dilakukan, diperoleh bahwa pada pemasaran yaitu sebesar 21,15 persen. Besarnya proporsi
cabai rawit merah telah efisien, karena nilai farmer’s share ini dikarenakan harga jual petani
efisiensi antara 0-50 %. yang cukup tinggi yaitu Rp 4.700,00 – Rp
5.000,00 per kilogram dikarenakan cabai rawit
Tabel 5. Efisiensi Pemasaran Cabai Rawit Merah merah ini didistribusikan keluar Kabupaten
pada Tiap Saluran Pemasaran dilihat dari Besar Garut yaitu wilayah Jakarta dan Bandung, dan
Total Biaya Pemasaran. tingginya marjin pemasaran yang diambil oleh
Saluran Total biaya Nilai Efisiensi pihak pedagang pengumpul desa, pedagang besar
pemasaran pemasaran produk Pemasaran
dan pedagang pengecer.
(Rp/kg) (Rp/kg) (%)
Marjin terbesar pada saluran ini terdapat
Saluran I 1.168 40.000 12,43 pada pedagang pengecer masing-masing
Saluran II 1.124 40.000 11,03 sebesar 44,44 persen pada saluran I dan 75
persen pada saluran II. Hal ini dikarenakan
Analisis farmer’s share merupakan besarnya biaya penyusutan yang harus
perbandingan harga yang diterima olehpetani ditanggung oleh pedagang pengecer yaitu
cabai rawit merah dengan harga yang dibayar sebesar Rp 212,00 per kilogram pada saluran II
oleh konsumen. Analisisfarmer’s share dan Rp 198,00 per kilogram, penyusutan pada
merupakan salah satu indikator untuk saluran I akibat banyaknya cabai rawit merah
menentukan efisiensi operasional pemasaran yang mengalami pembusukan atau rusak.
suatu komoditas. Hal ini tergantung dari upaya
yang dilakukan oleh lembaga pemasaran yang IV. SIMPULAN
terlibat dalam memberikan value added pada
produk sehingga produk yang dihasilkan sesuai 1. Hasil penelitian memberikan simpulan
dengan keinginan konsumen. Analisis farmer’s berdasarkan tujuan penelitian, yaitu struktur
share berbanding terbalik dengan analisis marjin pasar komoditas cabai rawit merah cenderung
pemasaran. oligopsoni. Struktur pasar menunjukkan
Farmer’s share yang diterima petani pada konsentrasi lemah dan terjadi hambatan
saluran pemasaran cabai rawit merah di masuk. Hal ini diindikasikan dengan sulitnya
Kecamatan Cigalontang dapat dilihat pada menjadi seorang bandar,atau pedagang
Tabel 15. Berdasarkan data yang tersaji pada pengumpul karena dibutuhkan modal yang

54
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020

cukup besar, kepercayaan yang tinggi, Hirschey M. 2009. ManagerialEconomics: An


jaringan yang kuat. IntegrativeApproach. New Delhi
2. Perilaku pasar dilihat dari proses jual beli (IN).Cengage Learning.
yatitu dijual dengan mekanisme pedagang Hutabarat, B. dan B. Rahmanto. 2004. Dimensi
pengumpul akan mengambil langsung ke Oligopsonistik Pasar Domestik
lahan petani,Adapun di tingkat pedagang Cabai Merah. www.ipb.ac.id.Pusat
pengumpul desa dan pedagang pengecer Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian.
adalah sistem pembayaran tunai dan Bogor.
kemudian. Sedangkan di tingkat pedagang Jaya, W.K. 2001. Ekonomi Industri. Edisi
besar menggunakan sistem pembayaran Kedua. Badan Penerbit
kemudian. Pembayaran kemudian dilakukan FakultasEkonomi, Universitas Gajah
satu hingga tiga hari ke depan. Mada, Yogyakarta.
3. Kinerja pasar dapat dilihat dari hasil analisis Kohls RL, Downey WD. 1972.Marketing of
marjin bahwa marjin pemasaran terkecil Agricultural Products4th edition.
terdapat pada saluran II sedangkan Farmer’s Macmillan Publishing.New York.
share terbesar terdapat pada saluran II sebesar Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian.
75 persen. PT Pustaka LP3ES. Jakarta.
Muslikh. 2000. Analisis sistem tataniaga cabai
DAFTAR PUSTAKA rawit merah (capsicum frustecens) di
Asmarantaka RW. 2009. Pemasaran Produk- DKI Jakarta (Studi Kasus: Pasar
Produk Pertanian. Dalam Bunga Induk Kramat Jati, Pasar Jatinegara,
Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. dan Pasar Tanah Abang) [skripsi].
Departemen Agribisnis, Fakultas Bogor: Fakultas Pertanian, Institut
Ekonomi dan Manajemen IPB. Pertanian Bogor.
Bogor: IPB Press. Sinaga, RV, Fariyanti, A dan Aprilia, N.2014.
[BPS] Badan Pusat Statistik.2018. Analisis Struktur, Prilaku dan
http//www.bps.go.id/tab_sub/view.ph Kinerja Pemasaran Kentang Granola
p?tabel=1&daftar1.Laporan Bulanan di Kecamatan Pangalengan,
Data Sosial Ekonomi Edisi 10 Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Agustus 2018. Diakses tanggal 01 Jurnal Fourm Agribisnis Institut
Desember 2019. Pertanian Bogor, 4(20), 101-120.
BP3K.2018. Kecamatan Cigalontang. Produksi Soekartawi.2010. Agribisnis: Teori dan
dan Produktivitas Cabai Kecamatan Aplikasinya. Jakarta: PT
Cigalontang RajaGrafindo Persada. 238 hal.

55

Anda mungkin juga menyukai