Pemasaran Cabai Rawit Merah Cigalontang
Pemasaran Cabai Rawit Merah Cigalontang
Cabai merupakan salah satu komoditas sayuran menempatkan pedagang pengumpul pada posisi
unggulan nasional dan memiliki nilai ekonomis tawar yang lebih kuat dibandingkan dengan
cukup tinggi. Kebutuhan cabai rawit merah terus petani produsen cabai rawit pada penentuan
meningkat setiap tahun sejalan dengan harga jual. Masa panen pada komoditas cabai
meningkatnya jumlah penduduk dan rawit seringkali hanya ditangani oleh satu orang
berkembangnya industri yang membutuhkan pengumpul dari awal panen hingga akhir panen.
bahan baku cabai rawit merah. Selain itu, cabai Kondisi ini telah membatasi kebebasan petani
tidak dapat disubstitusi oleh komoditas lain, dalam menjual cabai rawit kepada pengumpul
sehingga bila terjadi ketidakseimbangan antara lain pada saat panen berikutnya. Pemasaran
produksi dan serapan pasar pasti akan terjadi cabai rawit selalu melibatkan berbagai lembaga
fluktuasi harga. Kabupaten Tasikmalaya pemasaran pada berbagai tingkat saluran
merupakan salah satu sentra produksi aneka distribusi. Banyaknya lembaga pemasaran yang
cabai di Jawa Barat. Khusus di Kecamatan terlibat berarti pula sistem pemasaran yang
Cigalontang produksi cabai yang melimpah dari terjadi tidak efisien dan farmer’s share yang
kecamatan Cigalontang terbukti mampu diperoleh tidak sebanding atau tidak
menggerakkan roda perekonomian masyarakat. proporsional dengan harga di tingkat konsumen
Cabai di Cigalontang tak hanya terkenal akan akhir (LPPD Kabupaten Garut 2010).
penampilannya yang baik, akan tetapi juga Berdasarkan uraian latar belakang masalah
ketahanannya saat disimpan. Petani Cigalontang tersebut diatas maka masalah yang dapat
juga memasarkan cabai produksinya ke pasar diidentifikasi sebagai berikut :
lokal di sekitar Tasikmalaya. Cabai Cigalontang 1. Bagaimana struktur pasar cabai di
kualitas super bahkan telah dipasarkan ke Kecamatan Cigalontang?
supermarket besar melalui Bimandiri. (Balitbang 2. Bagaimana perilaku pasar cabai di
2016). Pada umumnya, petani cabai tidak Kecamatan Cigalontang?
menjual langsung hasil produksinya ke pasar- 3. Bagaimana kinerja pasar cabai di
pasar di kota besar disebabkan oleh keterbatasan Kecamatan Cigalontang?
yang dimiliki petani, seperti alat transportasi,
pengepakan, dan kegiatan lainnya yang Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui
berhubungan dengan pemasaran komoditi sistem pemasaran cabai rawit merah di
tersebut. Kecamatan Cigalontang meliputi:
Selain itu, adanya keterikatan petani kepada 1. Mengetahui struktur pasar cabai di
pedagang pengumpul dalam permodalan untuk Kecamatan Cigalontang.
pembelian benih atau bibit, pupuk, pestisida, dan 2. Mengetahui prilaku pasacar cabai di
lainnya, yang berjumlah cukup besar. Hal ini Keacamatn Cigalontang.
mendorong petani untuk menjual hasil 3. Mengetahu Kinerja Pasar cabai di
produksinya kepada pedagang pengumpul. Kecamatan Cigalontang.
Sebaliknya, bagi petani yang tidak terikat
pinjaman, bebas dalam menentukan pilihan II. METODE PENELITIAN
kepada siapa ia akan jual hasil produksinya Jenis penelitian yang digunakan adalah
seperti menjual langsung kepada konsumen metode survei dan pengamatan langsung
pemakai melalui pasar-pasar di tingkat desa atau dilapangan. Pengambilan respoden dalam
pasar tingkat kecamatan. Biasanya petani yang penelitian ini adalah dengan metode snowball
demikian mencari pembeli dengan harga sampling. Menurut Suliyanto (2006) snowball
tertinggi (Hutabarat dan Rahmanto 2004). sampling adalah teknik pengambilan sampel
Sama halnya dengan yang terjadi di yang pada mulanya berjumlah kecil, tetapi makin
Kecamatan Cigalontang yaitu mekanisme lama makin banyak dan berhenti sampai
pemasaran untuk komoditas cabai rawit di informasi yang didapatkan dinilai telah cukup.
Kecamatan Cigalontang adalah mekanisme yang Teknik ini baik untuk diterapkan jika calon
menganut sistem pasar terbuka. Sistem pasar responden sulit diidentifikasi. Responden
terbuka pada komoditas cabai rawit merah pertama adalah dasar untuk mencari responden
44
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020
berikutnya dan seterusnya. Dalam penelitian ini Xi = Volume penjualan cabai rawit
responden pertama yang dijadikan dasar adalah (Kg)
pedagang besar di Pasar Kecamatan Cigalontang, T = Volume produksi total cabai
setelah itu ditelusuri pedagang pengecer serta rawit (Kg)
pedagang pengumpul hingga jumlah b. Hambatan Keluar Masuk Pasar
respondennya mencapai jumlah yang diinginkan. Hambatan keluar masuk pasar dapat dihitung
Pemilihan responden, yaitu petani di Desa dengan Minimum Efficiency Scale (MES),
Cidugaleun dan Desa Parentas yang dipilih yaitu perhitungan penjualan cabe yang
berdasarkan rekomendasi dari penyuluh dilakukan oleh bandar terhadap total cabe di
lapangan dengan menggunakan cara snowball Kecamatan Cigalontang. Hambatan masuk
sampling, yaitu melakukan penelusuran secara dapat dihitung dengan rumus:
bertahap berdasarkan informasi dari responden 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑏𝑒 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
MES= 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑐𝑎𝑏𝑒 𝑑𝑖 𝑐𝑖𝑑𝑢𝑔𝑎𝑙𝑒𝑛 × 100%
petani kemudian dicari keterangan mengenai
keberadaan responden lembaga pemasaran. Jika perhitungan menunjukkan lebih dari 10
Sehingga lembaga pemasaran yang terlibat persen maka diindikasikan bahwa pemasaran
berjumlah 30 orang petani, 7 orang pedagang cabe terdapat hambatan masuk ( Jaya 2001).
pengumpul, 7 orang pedagang besar, 8 orang Analisis Perilaku Pasar merupakan aktivitas-
pedagang pengecer. aktivitas yang terjadi di pasar. Perilaku pasar
Analisis struktur pasar dilakukan pada setiap berkaitan erat dengan struktur pasar dan kinerja
interaksi antara dua pelaku lembaga pemasaran pasar. Dengan adanya struktur pasar dan
yang melakukan aktivitas pembelian dan perilaku pasar akan membentuk kinerja pasar.
penjualan kemudian menentukan struktur pasar Perilaku pasar cabai rawit merah dianalisis
yang terjadi. Analisis struktur pasar dapat dilihat secara deskriptif dengan tujuan untuk
dari : memeperoleh informasi perilaku lembaga
a. Konsentrasi Pasar pemasaran. Kohls dan Downey (1972)
Konsentrasi pasar dapat dihitung dengan CR menjelaskan 3 fungsi pemasaran dalam perilaku
(Concentration Rasio) yang merupakan pasar, yaitu fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas
metode analisis dengan tujuan untuk melihat (penyediaan sarana).
output yang mampu dihasilkan oleh bandar di a) Fungsi Pertukaran
Kecamatan Cigalontang. Tingkat konsentrasi fungsi pertukaran adalah kegiatan yang
dapat dihitung dengan menggunakan menyangkut pengalihan hak kepemilikan
Concentration Ratio (CR) merupakan barang dari satu pihak ke pihak lain. Dalam
kombinasi pangsa pasar dari perusahaan fungsi pertukaran terdiri dari penjualan dan
perusahaan oligopolies dimana adanya saling pembelian.
ketergantungan. Kelompok perusahaan terdiri b) Fungsi Fisik
dari 2 sampai 8 perusahaan. Penerimaan Fungsi fisik adalah kegiatan yang melibatkan
(return) rata-rata industri yang terkonsentrasi penanganan, gerakan, dan perubahan fisik
adalah lebih tinggi daripada penghasilan jenis produk. Terdapat 3 fungsi di dalam fungsi
industri yang kurang terkonsentrasi (Jaya fisik, yaitu pengangkutan, penyimpanan, dan
2001). pemrosesan.
Rumus konsentrasi pasar menurut (Jaya 2001) c) Fungsi Fasilitas
yaitu : Fungsi fasilitas atau penyediaan sarana adalah
𝑛
𝑋𝑖
kegiatan yang memper-lancar fungsi
CRn = ∑ x 100% pertukaran dan fisik dalam pemasaran,
𝑖=1 𝑇
Keterangan : meliputi sortasi dan grading, informasi harga,
Cr = Konsentrasi Rasio penanganan risiko, dan pembiayaan. Analisis
N = Jumlah perusahaan yang dipilih Saluran Pemasaran meru-pakan perangkat
berdasarkan peringkat penjualan organisasi yang saling bergantung satu sama
terbesar lainnya, baik dalam menyediakan produk atau
jasa yang igunakan oleh konsumen. Lembaga
45
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020
terdiri dari 7orang pedagang pengumpul, 7 orang analisis pada penelitian ini, konsentrasi pasar
pedagang besar, 8 orang pedagang pengecer. dihitung dengan Four Firm Concentration Ratio
Pedagang pengumpul berasal dari Kecamatan (CR4) Dengan menghitung penjualan terbesar
Cigalontang dimana pedagang pengumpul desa yang dilakukan oleh pedagang pengumpul atau
memperoleh pasokan cabai rawit merah dari Bandar yang menjadi responden di Kecamatan
petani langsung dengan kesepakatan jumlah Cigalontang. Terlihat dari perhitungan
yang diminta dan kesepakatan harga oleh kedua berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa
belah pihak. Pedagang besar terbagi atas dua konsentrasi rasio pedagang pengumpul adalah
wilayah yaitu pedagang besar di Pasar Induk 0.29 atau 29 persen menunjukkan bahwa pasar
Cikurubuk, dan pedagang besar di luar terkonsentrasi lemah. Menurut Hirschey (2009)
Kabupaten Tasikmalaya seperti Pasar Induk menjelaskan nilai CR4 ≤ 0,5 menunjukkan pasar
Kramat jati, Sedangkan pedagang pengecer yang terkonsentrasi lemah. Hal ini berarti bahwa
dikunjungi berlokasi di Pasar Induk Cikurubuk pedagang pengumpul tidak menguasai secara
Kabupaten Tasikmalaya dengan responden yang menyeluruh dari hasil penjualan cabai segar di
berbeda. Karakteristik yang diperhatikan Kecamatan Cigalontang ini. Hal ini
terhadap pedagang responden diantaranya umur, mengindikasi pasar cabai rawit belum mengarah
jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman pada pasar persaingan tidak sempurna. Pada
berdagang cabai rawit merah. Berdasarkan hasil penelitian ini, pasar cabai rawit termasuk
karakteristik umur, pedagang responden pasar kompetitif karena volume penjualan
memiliki umur yang bervariasi dengan jumlah merata dalam jumlah yang kecil dan memiliki
kelompok umur tebanyak adalah pedagang banyak pesaing. Bhinadi (2012) menyatakan
berumur antara 31 – 40 tahun yaitu sebanyak jumlah output yang kecil dengan persaingan
lima pedagang atau 55,55 persen. Sedangkan yang tinggi menjadikan struktur pasar cabai di
empat pedagang lainnya atau sebesar 22,22 level pedagang pengumpul atau bandar semakin
persen berumur lebih dari 41 tahun. Jika dilihat kompetitif. Hal ini berpengaruh pada perilaku
dari tingkat pendidikan pedagang cabai rawit dan kinerja pasar cabai rawit seperti penentuan
merah juga bervariasi didominasi oleh pedagang harga yang ditentukan pasar atau tidak ada
yang tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) perusahaan yang dapat menentukan harga
yaitu sebanyak 4 orang atau sebesar 50 persen, 3 pasar.Sinaga et al, (2013). Menyatakan pasar
orang yang tamat Sekolah Dasar (SD) dan 1 kompetitif memiliki konsentrasi lemah
orang yang tamat lulusan Sekolah Menengah mengindikasikan bahwa pasar memiliki banyak
Atas (SMA). Pengalaman berdagang rata-rata pedagang pengumpul (Bandar) dan pedagang
dari pedagang responden berbeda-beda tetapi besar memberikan peningkatan persaingan antar
bentuk usaha dari masing-masing jenis pedagang produsen untuk menjual kepada konsumen.
adalah sama yaitu perorangan (Tabel 9) dan
terlihat bahwa masing-masing jenis pedagang Tabel1. Nilai Konsentrasi Rasio (CR4) Pedagang
cenderung memiliki pengalaman berdagang yang Pengumpul
relatif cukup lama sehingga sudah terbentuk
kepercayaan dari masing-masing lembaga atau Pedagang Pengumpul Volume Penjualan (Ton/th)
Pedagang pengumpul 1 19,29
pihak yang berhubungan langsung dengannya.
Pedagang pengumpul 2 14,40
entry maka akan semakin lemah ancaman dari Pedagang pengepul 6 5.76
pendatang baru yang hendak masuk ke dalam Pedagang pengepul7 5.28
suatu industri. Beberapa hal mengenai hambatan Total 71.04
memasuki suatu pasar. Pertama, hambatan- Total cabai rawit di
hambatan timbul dalam kondisi pasar yang Kecamatan Cigalontang 190.4
mendasar, tidak hanya dalam bentuk perangkat MES 37 %
yang legal ataupun dalam bentuk kondisi-kondisi
yang berubah dengan cepat. Kedua, hambatan
Analisis Perilaku Pasar
dibagi dalam tingkat mulai dari tanpa hambat an
Lembaga pemasaran adalah salah satu
sama sekali, hambatan rendah, sedang sampai
elemen dari saluran distribusi produk. The
tingkatan tinggi di mana tidak ada lagi jalan
American Marketing Association
masuk. Ketiga, hambatan merupakan sesuatu
mengemukakan bahwa saluran distribusi
yang kompleks. Cara yang digunakan untuk
merupakan suatu struktur organisasi dalam
melihat hambatan masuk adalah dengan
perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri
menggunakan skala ekonomis yang didekati
dari agen, dealer, pedagang besar dan pengecer,
melalui output perusahaa. Hambatan keluar
melalui sebuah komoditi, produk atau jasa yang
masuk pasar dihitung dengan Minimum
dipasarkan. Terdapat dua jenis saluran
efficiency Scale (MES), yaitu penjualan cabai
pemasaran cabai pada petani cabai di
oleh pedagang pengumpul dibagi dengan total
Kecamatan Cigalontang, Saluran pemasaran I
cabai di Kecamatan Cigalontang, sehingga
terdiri dari petani, pedagang
menghasilkan nilai sebesar 37,01 persen. Pada
pengumpul/antarkota, pedagang besar,
penelitian ini berarti adanya hambatan masuk
pedagang pengecer dan konsumen. Saluran
karena nilai MES menunjukkan perhitungan
pemasaran II terdiri dari petani, pedagang
lebih dari 10 persen. Tingginya MES tersebut
pengumpul/antarkota, pedagang pengecer di
dapat menjadi penghalang masuknya perusahaan
kota, dan konsumen. Berdasarkan hasil
baru kedalam industri pasar cabai rawit merah
penelitian jumlah lembaga pemasaran cabai di
ini, yang dipengaruhi adanya ketentuan standar
Kecamatan Cigalontang, ada dua. Lembaga-
syarat mutu produk.
lembaga yang terlibat adalah pedagang
Hambatan masuk disebabkan oleh beberapa
pengumpul, pedagang atarkota, pedagang dan
faktor diantaranya petani pengumpul memiliki
pedagang pengecer. Lembaga tersebut terdiri
modal yang cukup kuat, mempunyai akses
dari tujuh orang pedagang pengumpul juga
kepada petani sebagai sumber input dan akses
sekaligus berperan sebagai pedagang antarkota
kepada pedagang besar (pasar induk) ,pedagang
dan, serta tiga orang pedagang pengecer.
pengumpul sebagai kaki tangan dari pedagang
besar. Terdapatnya informasi perubahan harga 100%
cabai yang terjadi dipasar, harga yang berubah P PP
84,54% PB 51,29% PR 51,29% K
ini disalurkan juga ke pasar-pasar yang lain di
berbagai daerah sebagai tujuan pendistribusian Gambar 1. Jenis Saluran Pemasaran Cabai Rawit I
sehingga aktivitas perdagangan yang terjadi
antara dua pasar atau lebih, memiliki korelasi 100% PP 15,54% PR
15,54%
P K
harga.
Tabel 2. Nilai MES (Minimum Efficiency Scale). Gambar 2. Jenis Saluran Pemasaran Cabai Rawit II
Volume
Penjualan Keterangan :
Pedagang Pengepul (Ton/thn) P = Petani
PP = Pedagang pengumpul
Pedagang pengepul 1 14.40
PB = Pedagang besae
Pedagang pengepul 2 13.92
PR = Pedagang pengecer
Pe dagang pengepul 3 19.29
K = Konsumen
Pedagang pengepul 4 4.70
Pedagang pengepul 5 7.68
48
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020
Dari hasil penelitian saluran pemasaran di pemasaran yaitu fungsi pertukaran berupa jual
Kecamatan Cigalontang terdapat dua saluran beli cabai rawityang fungsi pertukaran berupa
pemasaran, pada saluran yang pertama jual beli dilakukan sekurang-kurangnya satu
merupakan pola yang sering digunakan petani kali selama proses pemasaran, fungsi fisik
dan pedagang pengumpul desa, dapat dilihat berupa pengangkutan cabai dari tempat hasil
bahwa sebanyak 23 petani (100 persen) menjual panen sampai di tempat penggudangan, dan
langsung cabai rawit merah ke pedagang penyimpanansebelum cabai dipasarkan baik
pengumpul atau Bandar, kemudian 5 pedagang keluar kota maupun keluar pulau,serta fungsi
pengumpul menjualnya ke pedagang besar fasilitas berupa sortasi dan pengemasan dengan
sebanyak 1.250 kilogram (85,54 persen), mengelompokkan cabai tersebut berdasarkan
kemudian didistribusikan ke pedagang besar di kualitasnya guna memudahkan penjualan yang
Pasar induk Cikurubuk, pedagang besar pada bertujuan untuk meminimalkan risiko
saluran I melakukan aktivitas pembelian tidak kerusakan pada cabai hingga sampai pada
terfokus pada komoditas cabai rawit merah saja, tempat tujuan. Strategi harga adalah SOP
namun juga melakukan pembelian terhadap (standard operasional prosedur) harga yang
komoditas sayuran lainnya, seperti bawang ditentukan berdasarkan rekomendasi petanian
merah, bawang putih, cabai besar dan cabai mark-up standar atau penentuan harga dengan
keriting, Pedagang besar di Pasar induk menambahkan mark-up pada biaya
Cikurubuk ini melakukan penyortiran cabai produksi.Meskipun demikian, pedagang
rawit merah yang telah mereka beli dari pengumpul tidak menyetujuinya begitu
pedagang pengumpul desa sebelum menjualnya saja.Setelah ada harga, terjadi tawar-menawar
kepada pedagang pengecer dan pedagang besar antara petani dengan pedagang pengumpul
diluar kota. Setelahdi sortir cabai rawit merah sampai tercapai kesepakatan harga. Strategi
ini langsung didistribusikan ke pedagang besar produk yang dilakukan adalahaktivitas yang
luar kota sebanyak 600-1000 kilogram, berasal dari bawah (produsen) menuju ke arah
sedangkan sisanya akan dijual ke pedagang atas (konsumen) melalui lembaga pemasaran
pengecer yang berhadapan langsung dengan disebut aktivitas vertikal. Saluran-saluran bisnis
konsumen akhir. Cabai rawit merah yang yang terdapat pada aktivitas ini memiliki satu
disalurkan ke luar kota merupakan luar lingkup target yang sama pada akhir saluran yaitu
dari penelitian ini. konsumen.
Pada pola saluran II digunakan oleh 7 Analisis perilaku pasar dilakukan secara
orang petani yang menjual hasil panennya ke 2 deskriptif dengan mengacu pada struktur.
orang pedagang pengumpul. Pada pola saluran Berdasarkan hasil analisis, prilaku pasar
II ini pedagang pengumpul menjual langsung menekankan pada aktivitas-aktivitas yang terjadi
cabai rawit merah kepada pedagang pengecer di di pasar. Aktivitas yang terjadi di dalam pasar
pasar induk cikurubuk maupun pedagang sangat dibutuhkan informasi serta kerjasama
pengecer di pasar lokal yang berhubungan diantara lembaga pemasaran. Kohls dan Downey
langsung dengan konsumen akhir. Volume rata- (1972) menjelaskan fungsi pemasaran yang
rata penjualan cabai rawit merah dari pedagang dibagi menjadi tiga bagian, diantaranya fungsi
pengumpul ke pedagang pengecer berkisar 200- pertukaran, fisik, dan penyediaan sarana atau
500 kilogram perminggunya. Sedangakan fasilitas. Adapun pelaku di lembaga pesmasaran
volume rata-rata cabai rawit merah yang dijual cabai rawit merah, diantaranya :
di tingkat pedagang pengecer berkisar antara
70-75 kilogram. 1. Fungsi Pemasaran di Tingkat Petani
Analisis perilaku pasar pada penelitian ini Petani berperan sebagai produsen cabai
meliputi praktik pertukaran/fungsi pemasaran, rawit merah. Komoditas yang diusahakan
strategi harga, strategi produk, penggunaan adalah cabai rawit merah dan beberapa
informasi, dan kerjasama.Berdasarkan komoditas sayuran lainnya, seperti kubis,
penelitian, praktik pertukaran atau fungsi tomat, buncis, jagung, dan komoditas sayuran
pemasaran yang dilakukan oleh lembaga lainnya. Aktivitas yang dilakukan oleh petani di
49
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020
dan dari rumah pedagang pengumpul desa modal untuk membayar cabai rawit merah
menuju ke pasar-pasar tujuan. Pengangkutan kepada pedagang pengumpul, biaya
dari lahan petani atau pinggir jalan biasanya pengangkutan, tenaga kerja, pengemasan,
menggunakan motor pribadi atau menyewa retribusi (biaya masuk pasar), penyusutan,
ojeg. Jika jarak dekat, pengangkutan cabai bongkar muat, sortasi, dan sewa lapak dengan
rawit merah dikenakan biaya sebesar Rp 75,00 sumber modal berasal dari modal sendiri.
per kilogram dan jika jaraknya jauh dikenakan Informasi pasar mengenai perkembangan harga
biaya sebesar Rp 150,00 per kilogram, cabai rawit merah diperoleh pedagang
sedangkan jika tujuannya ke pasar maka pengumpul dari pedagang besar di pasar induk.
pengangkutan dilakukan dengan menggunakan
mobil truk dalam jumlah besar yang tidak 3. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang
hanya memuat cabai rawit merah saja Besar
melainkan sayuran lain seperti kol, kentang, Pedagang besar adalah lembaga pemasaran
tomat, pecai, sawi, dan wortel. Untuk berikutnya setelah pedagang pengumpul.
pengemasan cabai rawit merah ini Aktivitas pedagang besar berada di pasar induk.
menggunakan karung bekas pupuk yang Pedagang besar di Pasar Induk Cikurubuk
memuat 50 kilogram cabai rawit merah per melakukan pertukaran (pembelian dan
karung. penjualan), fungsi fisik (pengangkutan dan
Fungsi fasilitas yang dilakukan pedagang pengemasan), dan fungsi fasilitas (sortasi,
pengumpul yaitu sortasi, penanganan risiko, penanganan risiko, Fungsi pertukaran, transaksi
pembiayaan, dan informasi pasar. Sortasi pembelian baik antara pedagang pengumpul
dilakukan dengan memilih cabai rawit merah dengan pedagang besar maupun antar pedagang
yang dibeli dari para petani yaitu memisahkan besar awalnya dilakukan melalui telepon untuk
cabai rawit merah busuk yang terkena patek menentukan jumlah pesanan yang diminta serta
dan yang tidak, karena jika tidak dipisahkan penetapan harga beli. Jika kedua belah pihak
maka cabai rawit merah yang tidak terkena setuju maka cabai rawit merah langsung dikirim
patek akan ikut terjangkit sehingga penyusutan ke pasar tujuan. Penjualan yang terjadi antar
saat pengiriman akan lebih besar yang akan pedagang besar bertujuan untuk menghabiskan
berdampak pada harga jual nantinya. Cabai pasokan cabai rawit merahsehingga tidak
rawit merah yang terkena patek ini tidak diperlukan fungsi penyimpanan. Selain itu,
dibuang melainkan diberikan kepada para biaya penyusutan yang dapat mempengaruhi
pekerja sortasi untuk dikonsumsi sendiri. harga jual nantinya. Fungsi pembelian ini
Fungsi penanganan risiko yang dihadapi oleh dilakukan dengan sistem nota penjualan dan
pedagang pengumpul yaitu risiko harga yang pembayaran dilakukan pada keesokan harinya.
dapat berubah sesuai kesepakatan awal dan Setelah sampai ke tempat pedagang besar, cabai
risiko keuangan seperti hasil penjualannya tidak rawit merah yang telah dikemas diturunkan dari
dibayar oleh pedagang besar atau kejahilan mobil truk atau mobil pick- up kemudian
tenaga kerja angkut yang mengambilcabai rawit ditimbang dan siap untuk dijual. Begitupun
merah secara diam-diam saat harga jual cabai dengan fungsi penjualan kepada pedagang besar
rawit merah tinggi di pasaran. Risiko harga ini dan pedagang pengecer yang dilakukan secara
tidak dapat diatasi karena harga beli yang nota yaitu sistem keluar masuk atau barang
diterima oleh pedagang pengumpul ini keluar lebih dulu dan pembayaran dilakukan 2
berdasarkan harga jual yang terbentuk di pasar hari atau bahkan 3 hari kedepan dan adapula
induk langsung. Sedangkan risiko keuangan yang membayar secara tunai. Khusus untuk
diatasi dengan cara mencari pedagang besar penjualan ke pedagang pengecer, pedagang
lain yang dapat dipercaya serta melakukan besar memberikan batas minimal pembelian
pemecatan kepada pegawai yang melakukan yaitu 5 kilogram.
kecurangan tersebut. Fungsi fisik seperti pengemasan yang
Fungsi pembiayaan yang dilakukan oleh digunakan untuk pengiriman ke pedagang besar
pedagang pengumpul ini yaitu penyediaan lain menggunakan karung sedangkan jika
51
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020
pembelinya adalah pengecer maka cabai rawit dalam membawanya. Fungsi penyimpanan
merah dikemas dalam plastik bening besar yang kadang-kadang dilakukan, apabila cabai rawit
dapat memuat 10 kilogram cabai rawit merah. merah tidak laku terjual. Penyimpanan yang
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh dilakukan oleh pedagang pengecer biasa saja
pedagang besar yaitu kegiatan penyortiran. tanpa ada perlakuan khususseperti menyimpan
Kegiatan ini dilakukan dengan memisahkan di kios untuk pendagang pengecer yang
cabai rawit merah yang terkena patek dan yang memiliki kios sedangkan pedagang pengecer
tidak untuk mengurangi biaya penyusutan yang yang tidak memiliki kios (hanya sekedar lapak)
ada. Cabai rawit merah yang patek ini akan maka cabai rawit merah akan dibawa pulang ke
dijual setengah harga dari cabai rawit merah rumah mereka.
segar. Risiko yang dihadapi oleh pedagang Fungsi fasilitas seperti sortasi dilakukan
besar yaitu tunggaknya bayaran dari para sendiri oleh pedagang pengecer saat tidak ada
pedagang pengecer dan bahkan cabai rawit pembeli dengan memisahkan cabai rawit merah
merah yang terjual tidak dibayar. yang busuk dan tidak. Cabai rawit merah yang
Penanganannya yaitu dengan memilih-milih busuk akan dijual setengah harga dari cabai
pembeli yang dapatdipercaya. Fungsi rawit merah segar. Penanganan risiko berupa
pembiayaan yang dilakukan oleh pedagang penyusutan akibat penyimpanan, fungsi
besar diantaranya modal untuk pembelian cabai pembiayaan berupa modal untuk membeli cabai
rawit merah kepada pedagang pengumpul, rawit merah, biaya pengangkutan, retribusi,
biaya pengangkutan, pengemasan, tenaga kerja, tenaga kerja, pengemasan, penyusutan, dan
penyusutan, bongkar muat, penyortiran, dan sewa lapak. Sedangkan fungsi informasi berupa
sewa lapak dimana sumber modalnya berasal perkembangan harga beli dan jual yang
dari modal sendiri. Informasi pasar berupa diperoleh dari pedagang besar dan sesama
perkembangan harga beli dan harga jual cabai pengecer di pasar tersebut.
rawit merah langsung terbentuk di pasar dengan
melihat jumlah pasokan cabai rawit merah yang Tabel 3. Fungsi Lembaga Pemasaran Cabai Rawit
ada di pasar serta banyaknya permintaan yang Di Kecamatan Cigalontang
ada.
4. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang PP PB PR
Fungsi-Fungsi Pemasaran P (Pasar
Pengecer Induk)
Pedagang pengecer melakukan kegiatan Pertukara
yang sama yaitu fungsi pertukaran (pembelian n a. Beli − √ √ √
dan penjualan), fungsi fisik (pengangkutan, b Jual √ √ √ √
pedagang besar di Pasar Induk Cikurubuk dan Pada Tabel 15 menunjukkan bahwa bagian
pedagang pengecer yang mendistribusikan terbesar yang diterima petani terdapat pada
cabai rawit merah ke konsumen masing- saluran II yaitu sebesar 70 persen. Saluran II
masing. merupakan saluran dengan total marjin
Pada hasil penelitian kali ini pemasaran pemasaran terendah dan saluran pemasaran
cabai rawit merah berdasarkan hasil analisis terpendek jika dilihat dari jumlah lembaga
efisiensi yang telah dilakukan, pada saluran I pemasaran yang terlibat.
dihasilkan nilai 2,92 persen dan pada saluran II
dihasilkan nilai 2,81 persen.Saluran efisiensi Tabel 6. Farmer’s Share Pada Saluran Pemasaran
pemasaran dikatakan efisien apabila total biaya Cabai Rawit Merah di Kecamatan Cigalontang
pemasaran lebih kecil dibandingkan dengan Kabupaten Tasikmalaya
Harga di Harga di
harga jual atau nilai produk. Dapat dilihat dari tingkat tingkat
kemampuan sistem pemasaran dan Saluran Farmer’s
petani konsumen
mengalokasikan sumber daya serta Pemasaran Share (%)
(Rp/kilogr (Rp/kilogra
mengkordinasi produksi dan pemasaran agar am) m)
sesuai dengan keinginan konsumen sehingga Saluran I 26.500 40.000 66,25
kepuasan akan suatu produk akan tercapai Saluran II 28.000 40.000 70,00
(Baladina 2017).
Menurut kaidah keputusan Soekartiwi, 2010. Seperti pada penelitian sebelumnya
“Berdasarkan hasil analisis efisiensi yang telah (Muslikh 1999) farmer share yang diperoleh
dilakukan, diperoleh bahwa pada pemasaran yaitu sebesar 21,15 persen. Besarnya proporsi
cabai rawit merah telah efisien, karena nilai farmer’s share ini dikarenakan harga jual petani
efisiensi antara 0-50 %. yang cukup tinggi yaitu Rp 4.700,00 – Rp
5.000,00 per kilogram dikarenakan cabai rawit
Tabel 5. Efisiensi Pemasaran Cabai Rawit Merah merah ini didistribusikan keluar Kabupaten
pada Tiap Saluran Pemasaran dilihat dari Besar Garut yaitu wilayah Jakarta dan Bandung, dan
Total Biaya Pemasaran. tingginya marjin pemasaran yang diambil oleh
Saluran Total biaya Nilai Efisiensi pihak pedagang pengumpul desa, pedagang besar
pemasaran pemasaran produk Pemasaran
dan pedagang pengecer.
(Rp/kg) (Rp/kg) (%)
Marjin terbesar pada saluran ini terdapat
Saluran I 1.168 40.000 12,43 pada pedagang pengecer masing-masing
Saluran II 1.124 40.000 11,03 sebesar 44,44 persen pada saluran I dan 75
persen pada saluran II. Hal ini dikarenakan
Analisis farmer’s share merupakan besarnya biaya penyusutan yang harus
perbandingan harga yang diterima olehpetani ditanggung oleh pedagang pengecer yaitu
cabai rawit merah dengan harga yang dibayar sebesar Rp 212,00 per kilogram pada saluran II
oleh konsumen. Analisisfarmer’s share dan Rp 198,00 per kilogram, penyusutan pada
merupakan salah satu indikator untuk saluran I akibat banyaknya cabai rawit merah
menentukan efisiensi operasional pemasaran yang mengalami pembusukan atau rusak.
suatu komoditas. Hal ini tergantung dari upaya
yang dilakukan oleh lembaga pemasaran yang IV. SIMPULAN
terlibat dalam memberikan value added pada
produk sehingga produk yang dihasilkan sesuai 1. Hasil penelitian memberikan simpulan
dengan keinginan konsumen. Analisis farmer’s berdasarkan tujuan penelitian, yaitu struktur
share berbanding terbalik dengan analisis marjin pasar komoditas cabai rawit merah cenderung
pemasaran. oligopsoni. Struktur pasar menunjukkan
Farmer’s share yang diterima petani pada konsentrasi lemah dan terjadi hambatan
saluran pemasaran cabai rawit merah di masuk. Hal ini diindikasikan dengan sulitnya
Kecamatan Cigalontang dapat dilihat pada menjadi seorang bandar,atau pedagang
Tabel 15. Berdasarkan data yang tersaji pada pengumpul karena dibutuhkan modal yang
54
AGIBUSSINES SYSTEM SCIENTIFIC JOURNAL ISSN:xxxx-xxxx
Vol.1 No.1, Desember 2020
55