0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan7 halaman

Sejarah dan Dampak Fintech

fintech

Diunggah oleh

Adhie XV
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan7 halaman

Sejarah dan Dampak Fintech

fintech

Diunggah oleh

Adhie XV
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RINGKASAN

FINANCIAL TECHNOLOGY (FINTECH)

OLEH
HARDIANSYAH HARAHAP

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Rahmawati, SE., M.Si, AK., CA., CSRA.

PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALOPO
2024
Sejarah Perkembangan Fintech (Financial Technology)
Fintech adalah inovasi di sektor keuangan yang mengintegrasikan teknologi untuk
memberikan layanan keuangan secara lebih cepat, mudah, dan efisien. Berikut adalah
gambaran sejarah perkembangannya:
1. Era Awal Fintech (1950-an - 1990-an)
 1950-an: Dimulainya penggunaan kartu kredit, seperti kartu kredit pertama oleh
Diners Club, menandai awal teknologi dalam pembayaran.
 1960-an: Pengembangan ATM (Automated Teller Machine) memungkinkan
pelanggan bank melakukan transaksi secara mandiri tanpa perlu ke teller.
 1970-an: SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication)
diperkenalkan, mempermudah transaksi keuangan internasional.
 1980-an - 1990-an: Munculnya platform perdagangan elektronik dan sistem
perbankan online awal.
2. Era Digitalisasi Awal (2000-an)
 Dengan internet yang semakin berkembang, perbankan online menjadi populer,
memungkinkan nasabah untuk mengakses rekening mereka, melakukan transfer, dan
membayar tagihan dari rumah.
 2008: Krisis keuangan global menjadi katalisator bagi perkembangan startup fintech,
terutama yang fokus pada pinjaman peer-to-peer dan crowdfunding.
3. Fintech Modern (2010-an - Sekarang)
 2010-an: Era ini ditandai oleh pertumbuhan pesat layanan berbasis aplikasi seperti
dompet digital (PayPal, Alipay, OVO, GoPay) dan platform pembayaran elektronik.
 Perkembangan teknologi blockchain dan cryptocurrency, seperti Bitcoin, mengubah
cara pandang terhadap mata uang dan keuangan.
 Layanan Fintech yang beragam: Pinjaman online (P2P lending), investasi digital
(robo-advisor), neobank, hingga insurtech (teknologi di bidang asuransi).
 2014: Peluncuran teknologi Apple Pay menjadi tonggak penting dalam pembayaran
berbasis perangkat seluler.
4. Tren dan Masa Depan Fintech
 Artificial Intelligence (AI): Digunakan untuk analisis data, deteksi penipuan, dan
layanan pelanggan melalui chatbot.
 Open Banking: Meningkatkan kolaborasi antara bank dan fintech untuk memberikan
layanan yang lebih terintegrasi.
 Financial Inclusion: Fintech membantu menyediakan layanan keuangan untuk
populasi unbanked dan underbanked.
 Regulasi: Negara-negara mulai mengatur fintech lebih ketat untuk melindungi
konsumen dan menjaga stabilitas keuangan.
Perkembangan fintech tidak hanya memengaruhi sektor keuangan tetapi juga cara masyarakat
berinteraksi dengan uang. Dengan teknologi yang terus berkembang, masa depan fintech
diprediksi akan lebih canggih dan inklusif.
Definisi Fintech
Fintech (Financial Technology) adalah inovasi teknologi di sektor keuangan yang bertujuan
untuk meningkatkan efisiensi, kecepatan, aksesibilitas, dan kenyamanan layanan keuangan.
Fintech mencakup berbagai layanan seperti pembayaran digital, investasi, pinjaman, dan
lainnya, yang didukung oleh teknologi seperti aplikasi seluler, blockchain, dan kecerdasan
buatan (AI).
Jenis-Jenis Fintech
Berikut adalah beberapa jenis fintech beserta contohnya:
1. Payment Gateway (Pembayaran Digital)
o Layanan: Memfasilitasi transaksi pembayaran online.

o Contoh: GoPay, OVO, DANA, LinkAja, PayPal.

2. Peer-to-Peer Lending (P2P Lending)


o Layanan: Platform yang menghubungkan pemberi pinjaman dengan
peminjam secara langsung.
o Contoh: KoinWorks, Investree, Modalku.

3. Crowdfunding
o Layanan: Menggalang dana dari masyarakat untuk proyek, usaha, atau
kegiatan tertentu.
o Contoh: Kitabisa, Indiegogo, Kickstarter.

4. Digital Banking (Neobank)


o Layanan: Bank berbasis digital tanpa kantor fisik.

o Contoh: Jenius (Bank BTPN), Blu (BCA), Bank Aladin.

5. Robo-Advisor
o Layanan: Memberikan saran investasi otomatis menggunakan algoritma.

o Contoh: Bibit, Ajaib, Bareksa.

6. Cryptocurrency dan Blockchain


o Layanan: Mata uang digital dan teknologi blockchain.

o Contoh: Bitcoin, Ethereum, Binance.

7. Insurtech (Insurance Technology)


o Layanan: Digitalisasi layanan asuransi, mulai dari pembelian polis hingga
klaim.
o Contoh: Qoala, PasarPolis.

8. Remittance (Transfer Uang)


o Layanan: Pengiriman uang lintas negara dengan biaya rendah.

o Contoh: Wise, Western Union, Flip.

Dasar Hukum Fintech di Indonesia


Regulasi di Indonesia mengatur fintech untuk memastikan keamanan, transparansi, dan
perlindungan konsumen. Berikut beberapa dasar hukumnya:
1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
o POJK No. 77/POJK.01/2016: Mengatur layanan pinjam meminjam uang
berbasis teknologi informasi (P2P Lending).
o POJK No. 13/POJK.02/2018: Tentang inovasi keuangan digital di sektor
jasa keuangan.
2. Bank Indonesia (BI)
o Peraturan BI No. 20/6/PBI/2018: Tentang penyelenggaraan uang
elektronik.
o Peraturan BI No. 19/12/PBI/2017: Tentang penyelenggaraan teknologi
finansial.
3. Undang-Undang Perlindungan Konsumen
o UU No. 8 Tahun 1999: Memberikan perlindungan hukum kepada konsumen
layanan fintech.
4. Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH)
o Membantu mengatur dan memastikan tata kelola fintech di Indonesia.

Contoh Fintech di Indonesia


 GoPay: Dompet digital untuk transaksi sehari-hari.
 OVO: Layanan pembayaran digital dan investasi.
 Bibit: Platform investasi reksa dana otomatis.
 KoinWorks: P2P lending untuk UKM.
 Kitabisa: Platform crowdfunding untuk donasi.
Dampak dari Fintech
Fintech (Financial Technology) membawa dampak positif dan negatif yang signifikan
terhadap berbagai aspek kehidupan, terutama di sektor keuangan. Berikut penjelasan
lengkapnya:
Dampak Positif Fintech
1. Peningkatan Inklusi Keuangan
o Fintech memungkinkan akses ke layanan keuangan untuk masyarakat
unbanked atau underbanked (yang belum memiliki akses ke bank), terutama
di daerah terpencil.
o Contoh: Layanan dompet digital seperti GoPay dan OVO mempermudah
transaksi tanpa rekening bank.
2. Kemudahan dan Efisiensi Transaksi
o Transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan tanpa batas waktu karena dapat
dilakukan melalui perangkat seluler atau internet.
o Contoh: Transfer uang melalui aplikasi fintech seperti Flip dengan biaya
lebih rendah dibandingkan bank tradisional.
3. Biaya Lebih Rendah
o Biaya administrasi atau bunga yang lebih kompetitif, terutama dalam layanan
pinjaman P2P lending atau investasi.
4. Mendorong Inovasi
o Fintech menciptakan berbagai inovasi, seperti pembayaran tanpa kontak
(contactless), blockchain, dan investasi otomatis dengan algoritma (robo-
advisor).
o Contoh: Bibit menyediakan fitur investasi berbasis kecerdasan buatan.

5. Peningkatan Kesadaran Keuangan


o Dengan kemudahan layanan seperti aplikasi investasi dan manajemen
keuangan, masyarakat lebih teredukasi tentang pengelolaan keuangan.
6. Pengembangan UMKM
o Fintech menyediakan modal usaha yang cepat melalui platform P2P lending
dan crowdfunding, membantu pengusaha kecil mengembangkan bisnis
mereka.
Dampak Negatif Fintech
1. Risiko Keamanan Data
o Dengan layanan berbasis digital, ada ancaman kebocoran data pribadi,
seperti peretasan atau penyalahgunaan informasi.
2. Penipuan dan Investasi Bodong
o Banyak platform fintech ilegal atau tidak terdaftar yang menipu pengguna
dengan tawaran pinjaman atau investasi tidak transparan.
o Contoh: Maraknya investasi palsu berbasis cryptocurrency.

3. Utang Berlebih (Over-Borrowing)


o Kemudahan mendapatkan pinjaman dari fintech, terutama P2P lending,
seringkali membuat orang terjebak dalam utang yang tidak terkendali.
4. Kompetisi dengan Bank Tradisional
o Fintech mengurangi pangsa pasar bank tradisional, terutama dalam layanan
pembayaran dan pinjaman, sehingga memaksa bank untuk terus beradaptasi.
5. Kurangnya Edukasi Pengguna
o Banyak pengguna yang belum memahami cara kerja dan risiko fintech,
sehingga dapat membuat keputusan finansial yang kurang bijak.
6. Ketergantungan Teknologi
o Ketergantungan pada teknologi dapat menjadi masalah jika terjadi gangguan
pada sistem atau infrastruktur digital, seperti koneksi internet.
Dampak fintech bersifat dualistik: ia dapat meningkatkan inklusi keuangan dan efisiensi,
namun juga membawa risiko baru, seperti keamanan data dan utang berlebih. Oleh karena
itu, penting bagi pengguna untuk berhati-hati, menggunakan platform resmi yang diawasi
oleh otoritas seperti OJK atau Bank Indonesia.
Fintech Syariah dan Perbedaannya dengan Fintech Konvensional
Fintech Syariah adalah layanan teknologi keuangan yang beroperasi berdasarkan prinsip-
prinsip syariah Islam. Prinsip ini melarang riba (bunga), gharar (ketidakpastian), dan maisir
(spekulasi), serta mengutamakan konsep keadilan, transparansi, dan kerja sama.
Berikut penjelasan tentang fintech syariah dan perbedaannya dengan fintech konvensional:
Karakteristik Utama Fintech Syariah
1. Berbasis Syariah
o Semua layanan fintech syariah harus sesuai dengan aturan Islam, diawasi
oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) atau lembaga pengawas syariah terkait.
2. Tidak Ada Riba
o Dalam fintech syariah, keuntungan dihasilkan dari kerja sama, bagi hasil
(mudharabah), atau sewa (ijarah), bukan melalui bunga.
3. Akad yang Jelas
o Transaksi menggunakan akad syariah, seperti akad jual beli (murabahah),
investasi (mudharabah), atau pembiayaan bagi hasil (musharakah).
4. Menghindari Maisir dan Gharar
o Transaksi dilarang mengandung unsur spekulasi atau ketidakpastian yang
berlebihan.
5. Tujuan Sosial
o Selain mencari keuntungan, fintech syariah sering mengutamakan
pemberdayaan sosial, seperti pendanaan untuk usaha kecil dan pengentasan
kemiskinan.

Perbedaan Fintech Syariah dan Fintech Konvensional

Aspek Fintech Syariah Fintech Konvensional

Tidak terikat pada prinsip agama


Prinsip Operasi Berdasarkan hukum syariah
tertentu

Biasanya diperoleh dari bunga


Keuntungan Berdasarkan bagi hasil, margin, atau fee
atau margin

Akad Menggunakan akad syariah Tidak ada akad khusus

Diawasi oleh otoritas keuangan


Pengawasan Diawasi oleh Dewan Syariah
(OJK/BI)

Layanan Bisa mencakup sektor halal


Hanya untuk sektor halal
Investasi maupun non-halal

Lebih fokus pada pemberdayaan sosial Lebih berorientasi pada


Pendanaan
dan ekonomi umat keuntungan

Contoh Layanan Fintech Syariah


1. Crowdfunding Syariah
o Platform: Ethis, Ammana

o Layanan pendanaan untuk UKM atau proyek properti berbasis akad


mudharabah atau wakalah.
2. P2P Lending Syariah
o Platform: Investree Syariah, Danasyariah

o Memberikan pembiayaan tanpa riba melalui akad jual beli atau bagi hasil.

3. Pembayaran Syariah
o Platform: LinkAja Syariah

o Dompet digital yang menyediakan transaksi berbasis syariah, seperti


pembayaran zakat, infak, dan sedekah.
4. Investasi Syariah
o Platform: Bareksa Syariah, Bibit Syariah

o Layanan investasi reksa dana atau surat berharga yang hanya berbasis
instrumen halal.
Fintech syariah merupakan alternatif yang cocok untuk masyarakat yang ingin memanfaatkan
teknologi keuangan tanpa melanggar prinsip agama Islam. Sementara fintech konvensional
lebih fleksibel dan mencakup sektor keuangan secara umum, fintech syariah mengutamakan
keselarasan antara teknologi, keuangan, dan nilai-nilai Islam.

Anda mungkin juga menyukai