Supervisi Kepala Ruang dan Kinerja Perawat
Supervisi Kepala Ruang dan Kinerja Perawat
ABSTRAK
Kinerja perawat sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan merupakan masalah yang sangat penting
untuk dikaji dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayan kesehatan. Ada beberapa
hal yang menyebabkan para kepala ruang di RSUD Tugurejo Semarang tidak selalu melakukan
supervisi, salah satunya karena kepala ruang mempunyai tugas lain selain di ruangannya seperti rapat
yang dilakukan mendadak. Hal tersebut yang sering kali membuat para kepala ruang tidak melakukan
supervisi setiap hari seperti yang seharusnya dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pelaksanaan supervisi kepala ruang terhadap kinerja perawat di ruang rawat inap RSUD
Tugurejo Semarang. Desain penelitian ini quasy eksperimen. Rancangan penelitian ini menggunakan
post test-only non equivalent desain. Jumlah sampel 41 perawat dengan teknik proportional random
sampling. Hasil penelitian menunjukkan kinerja perawat junior sesudah dilakukan supervisi kepala
ruang sebagian besar baik sebanyak 12 responden (70,6%) sedangkan kinerja perawat kurang baik
sebanyak 5 responden (29,4%). Kinerja perawat senior sesudah dilakukan supervisi kepala ruang
100% baik. Ada pengaruh yang signifikan pelaksanaan supervisi kepala ruang terhadap kinerja
perawat dengan p value 0,005 (α < 0,05). Rekomendasi hasil penelitian ini adalah diharapkan
manajemen rumah sakit khususnya manajemen keperawatan perlu mengembangkan strategi untuk
meningkatkan kinerja perawat junior dengan cara memberikan kesempatan kepada perawat untuk
mengikuti pendidikan dan pelatihan secara rutin sehingga perawat dapat meningkatkan pengetahuan
dan keterampilannya.
ABSTRACT
Nurses’ performance as the spearheadof health service is an issue that needs to be examined in order
to maintain and to improve health service quality. Lack of supervision by Head Division of Tugurejo
RSUD Semarang can be caused by several things, which one of them is other tasks to be done other
than his/her main duties, such as urgent meetings. As a result, supervision is not done every day as it
supposed to be. This research aims to investigate the effect of supervision implementation of Head
Division toward nurses’ performance in Tugurejo RSUD Inpatient Semarang. This research is quasy
experiment designed. This research program is post test-only and non-equivalent designed. 41 nurses
as samples are investigated using proportional random sampling technique. The research shows good
performance of most junior nurses (12 respondents) after Head Divition’s supervition (70,6%) while 5
other respondent of junior nurse show less good performance (29,4%). However, all senior nurses
show good performance after Head Divition’s supervision (100%). There is a significant effect of
supervision after Head Divition’s toward nurses’ performan with p value 0,005 (α < 0,05). This
research concludes recommendation for hospital management, especially nursing management to
make a strategy in other to improve junior nurses’ performance by giving more chances to nurses to
enhance their knowledge and skills by routine education and training
Bibliography : 40 (2006-2015)
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
1
PENDAHULUAN kepala ruang terhadap kepatuhan perawat pada
Supervisi merupakan kegiatan yang jadwal kegiatan harian perawat diruang Mawar
merencanakan, mengarahkan, membimbing, RSUD Ungaran. Sedangkan pada penelitian
mengajar, mengobservasi, mendorong, yang dilakukan oleh Wirawan (2013), terdapat
memperbaiki, mempercayai, dan mengevaluasi hubungan antara supervisi kepala ruang
secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dengan pendokumentasian asuhan keperawatan
dan keterbatasan yang dimiliki anggota (Knon di Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa (p
dan Gray, 1987, dalam Kuntoro, 2010, value 0,000).
hlm.104). Dalam supervisi seorang supervisor
harus memiliki dan menjaga efektifitas Kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja
komunikasi (Sugiharto, Keliat, &Sri, 2012, secara kualitas yang dicapai oleh seorang
hlm.39). pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan
Supervisi mempunyai tiga kegunaan. Pertama, kepadanya (Simamora, 2012, hlm. 201).
supervisi berguna untuk meningkatkan Kinerja merupakan perilaku yang nyata yang
kemampuan supervisor dalam memberikan ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja
pelayanan kepada para pelaksana kegiatan yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan
(perawat). Peningkatan kemampuan akan perannya dalam perusahaan (Nursalam, 2015,
dialami apabila supervisor sering melakukan hlm. 124).
supervisi. Kedua, supervisi bermanfaat untuk
menigkatkan kemampuan para pelaksana Kinerja perawat sebagai ujung tombak
kegiatan. Ketiga, hasil supervisi berguna untuk pelayanan kesehatan merupakan masalah yang
menyusun pedoman atau petunjuk pelaksanaan sangat penting untuk dikaji dalam rangka
layanan profesional kepada pelaksan kegiatan mempertahankan dan meningkatkan mutu
(Nursalam, 2015, hlm. L-65). pelayan kesehatan. Kinerja perawat yang baik
merupakan jembatan dalam menjawab jaminan
Dengan supervisi, perawat dapat memberikan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan
inspirasi kepada anak buah untuk bersama- terhadap pasien baik sakit maupun sehat.
sama menyelesaikan pekerjaan dengan jumlah Kunci utama dalam peningkatan kualitas
lebih banyak, waktu lebih cepat, cara lebih pelayanan kesehatan adalah perawat yang
mudah, dan hasil yang lebih baik daripada jika mempunyai kinerja tinggi. Namun tak jarang
dikerjakan sendiri. Kegiatan supervisi ditemukan keluhan berkaitan dengan kualitas
hendaknya terlaksana dengan sederhana, pelayanan kesehatan yang muaranya berasal
hendaknya memberikan rasa aman kepada dari kinerja petugas kesehatan termasuk
pihak-pihak yang disupervisi. Dalam perawat. Untuk itu kiranya rumah sakit perlu
pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin memfokuskan masalah kualitas pelayanan
hubungan professional, bukan didasarkan atas terhadap kinerja perawat (Kontoro, 2010, hlm.
hubungan pribadi.Supervisi hendaknya 59).
berdasarkan pada kemampuan, kesanggupan,
kondisi dan sikap pihak yang disupervisi Pada penelitian yang dilakukan Mulyono
(Simamora, 2012, hlm.153). (2013) tentang faktor yang berpengaruh
terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit
Pada penelitian yang dilakukan oleh Widarti Tingkat III ambon. pada penelitian ini
(2014), menunjukan hasil p value = 0,046 menunjukan bahwa ada hubungan antara
dengan taraf signifikan p< 0,05 sehingga kepuasan kerja dan pengawasan dengan kinerja
disimpulkan bahwa ada pengaruh supervisi perawat. Sedangkan pada penelitian yang
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
2
dilakukan oleh Mukti (2013), hasil penelitian Serta menurut salah satu kepala ruang, RSUD
menunjukkan bahwa ada motivasi untuk tugurejo Semarang merupakan rumah sakit
mempengaruhi kinerja perawat dengan nilai p kelas B milik pemerintah provinsi jawa tengah.
= 0,001, tidak ada efek dari kinerja Rumah sakit ini dulunya rumah sakit khusus
kepemimpinan perawat dengan nilai p =0,003, kusta yang kemudian berubah menjadi RSUD
tidak ada efek reward dengan kinerja perawat Tugurejo Semarang sesuai dengan SK Nomor
dengan nilai p = 0,018 dan faktor-faktoryang 1810/Menkes-Kesos/SK/XII/2000. Menurut
paling mempengaruhi kinerja perawat adalah kepala ruang semaksimal mungkin kinerja
motivasi dengan p = 0,004. Studi kesimpulan perawat pelaksana diwajibkan untuk baik, akan
tidak ada pengaruh kemampuan, sikap, tetapi banyak persepsi yang mengatakan
motivasi, kepemimpinan, imbalan dan efek kinerja antar perwat senior dan junior berbeda,
terbesar adalah motivasi akan tetapi kepala ruang tidak pernah
mengevaluasi dari segi senior atau junior yang
Hasil studi pendahuluan di RSUD Tugurejo kepala ruang tahu semua perawat pelaksana
Semarang pada tanggal 11 Januari 2016, bekerja dengan baik sesuai dengan standar
didapatkan dengan cara observasi dan yang ada.
wawancara kepada bagian bidang keperawatan
dan kepala ruang rawat inap di RSUD Dari uraian tersebut diatas peneliti tertarik
Tugurejo Semarang. Didapatkan bahwa dari melakukan penelitian mengetahui kinerja
bidang keperawatan mengatakan semua ruang perawat senior dan junior dengan judul
rawat inap telah melakukan supervisi setiap “pengaruh pelaksanaan supervisi kepala ruang
hari, hasil wawancara beberapa kepala ruang terhadap kinerja perawatdi ruang rawat inap
sebagian besar (5 dari 8) ruangan mengatakan RSUD Tugurejo Semarang”
belum sepenuhnya melakukan supervisi. Ada
beberapa hal yang menyebabkan para kepala Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
ruang di RSUD Tugurejo Semarang tidak pengaruh pelaksanaan supervisi kepala ruang
selalu melakukan supervisi, salah satunya terhadap kinerja perawat di ruang rawat inap
karena kepala ruang mempunyai tugas lain RSUD Tugurejo Semarang.
selain di ruangannya seperti rapat yang
dilakukan mendadak. Hal tersebut yang sering METODE PENELITIAN
kali membuat para kepala ruang tidak Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen
melakukan supervisi setiap hari seperti yang dengan desain post test-only non equivalent.
seharusnya dilakukan. Dari wawancara Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat
tersebut kepala ruang mengatakan telah pelaksana yang bertugas di ruang rawat inap
melakukan pre dan post conference, walaupun kelas III RSUD Tugurejo Semarang dengan
yang mereka lakukan tidak sepenuhnya seperti jumlah sebanyak 129 orang. Jumlah sampel
standar keperawatan yang ada, akan tetapi atau responden dalam penelitian ini adalah
mereka beranggapan bahwa setidaknya mereka sebanyak 41 responden dengan teknik
telah melakukannya (pre dan post conference). probability sampling.
Untuk kinerja perawat menurut salah satu
kepala ruang para perawat pelaksana telah Instrument yang digunakan adalah lembar
melakukan pekerjaannya sesuai dengan kuesioner. Uji statistik yang digunakan dalam
tugasnya. Akan tetapi kepala ruang hanya penelitian ini adalah menggunakan uji
normalitas dengan Shapiro-wilk. Uji statistik
mengobservasi dan hanya sesekali melakukan
yang digunakan yaitu Mann Whitney.
evaluasi hasil kerja para perawat pelaksana.
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
3
HASIL PENELITIAN DAN c. Pendidikan
PEMBAHASAN Tabel 3
1. Karakteristik Responden Distribusi Frekuensi Karakteristik
a. Usia Responden Berdasarkan Pendidikan
Tabel 1 Pada Perawat
Distribusi Frekuensi Karakteristik Pendidikan Perawat Perawat
Responden Berdasarkan Usia Pada Junior Senior
Perawat F % F %
Usia Perawat Perawat D3 3 17,6 12 50,0
Junior Senior S1 14 82,4 12 50,0
F % F % Jumlah 17 100,0 24 100,0
24 tahun 3 17,6 0 0
25 tahun 5 29,5 1 4,2 Berdasarkan tabel 3 diatas, pendidikan
26 tahun 6 35,3 1 4,2 perawat junior di RSUD Tugurejo
27 tahun 3 17,6 7 29,1 Semarang sebagian besar S1 sebanyak
28 tahun 0 0 6 25,0
14 responden (82,4%) dan perawat
29 tahun 0 0 6 25,0
30 tahun 0 0 3 12,5 senior pendidikan D3 dan S1 sama
Jumlah 17 100,0 24 100,0 masing-masing sebanyak 12 responden
(50,0%).
Berdasarkan tabel 1 diatas, usia d. Masa Kerja
responden perawat junior di RSUD Tabel 4
Tugurejo Semarang sebagian besar Distribusi Frekuensi Karakteristik
usia 26 tahun sebanyak 6 responden Responden Berdasarkan Masa Kerja
(35,3%) dan pada perawat senior Perawat
Masa Frekuensi Persentase
sebagian besar usia 27 tahun sebanyak
Kerja
7 responden (29,1%). < 3 tahun 17 41,5
b. Jenis Kelamin ≥ 3 tahun 24 58,5
Tabel 2 Jumlah 41 100,0
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4 dapat diketahui bahwa masa
Perawat
kerja perawat terbanyak ≥ 3 tahun
Jenis Perawat Perawat
sebanyak 24 responden (58,5%) dan
Kelamin Junior Senior
F % F % masa kerja < 3 tahun sebanyak 17
Laki-laki 9 52,9 8 33,3 responden (41,5%).
Perempuan 8 47,1 16 66,7
Jumlah 17 100,0 24 100,0 2. Kinerja Perawat
a. Kinerja Perawat Junior
Berdasarkan tabel 2 diatas, jenis Tabel 5
kelamin perawat junior di RSUD Distribusi Frekuensi Kinerja Perawat
Tugurejo Semarang sebagian besar Junior sesudah dilakukan supervisi
laki-laki sebanyak 9 responden kepala ruang
(52,9%) dan perawat senior sebagian Kinerja Frekuensi Persentase
Perawat
besar perempuan sebanyak 16
Junior
responden (66,7%). Baik 12 70,6
Kurang 5
Baik 29,4
Jumlah 17 100,0
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
4
Hasil penelitian menunjukkan bahwa asuhan keperawatan yang diberikan dan
kinerja perawat junior sesudah dilakukan pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja
supervisi kepala ruang sebagian besar perawat pelaksana.
baik sebanyak 12 responden (70,6%)
sedangkan kinerja perawat kurang baik Hasil penilaian kinerja perawat junior
sebanyak 5 responden (29,4%). Hal ini sesudah dilakukan supervisi menunjukkan
terjadi karena adanya supervisi yang terdapat 5 perawat yang mempunyai
dilakukan oleh kepala ruang. Supervisi kinerja kurang. Hal ini terjadi karena
bertujuan untuk meningkatkan kinerja berdasarkan penilaian supervisi terdapat
perawat. Perawat yang dilakukan perawat yang pada saat pengkajian
supervisi diberikan pengarahan agar terutama dalam hal mencatat data yang
segala kegiatan yang telah direncanakan dikaji sesuai dengan format dan pedoman
dapat terlaksana dengan lancar dan tujuan pengkajian yang baku, perawat
yang ditetapkan, sehingga sesudah melakukannya sering, padahal perawat
dilakukan supervisi kinerja perawat harus selalu mencatat data yang dikaji
sebagian besar baik. sesuai dengan format dan pedoman
pengkajian yang baku. Dalam hal
Sesuai dengan teori Nursalam (2015, hlm. diagnosis keperawatan terutama dalam hal
124) bahwa kinerja merupakan perilaku penyusunan prioritas diagnosis
yang nyata yang ditampilkan setiap orang keperawatan lengkap problrmetiologi juga
sebagai prestasi kerja yang dihasilkan sering dilakukan, padahal seharusnya
oleh karyawan sesuai dengan perannya selalu. Pada saat intervensi/perencanaan,
dalam perusahaan. Kinerja perawat perawat sering merencanakan tindakan
menurut Kontoro (2010, hlm. 59) sebagai keperawatan yang dibuat, padahal
ujung tombak pelayanan kesehatan seharusnya selalu merencanakan tindakan
merupakan masalah yang sangat penting keperawatan. Pada saat evaluasi, perawat
untuk dikaji dalam rangka seharusnya selalu melakukan evaluasi
mempertahankan dan meningkatkan mutu terhadap pengetahuan klien tentang
pelayanan kesehatan. Kinerja perawat penyakitnya, pengobatan dan resiko
yang baik merupakan jembatan dalam komplikasi setelah diberikan promosi
menjawab jaminan kualitas pelayanan kesehatan.
kesehatan yang diberikan terhadap pasien
baik sakit maupun sehat. Agar kinerja Sesuai dengan teori bahwa faktor-faktor
perawat baik dibutuhkan adanya yang berpengaruh terhadap kinerja
supervisi. menurut Gibson (1997, dalam Nursalam,
2015, hlm.124) yaitu: faktor individu
Supervisi merupakan bagian yang penting meliputi kemampuan, ketrampilan, latar
dalam manajemen keperawatan. belakang keluarga, pengalaman keluarga,
Pengelolaan asuhan keperawatan pengalaman kerja, tingkat sosial dan
membutuhkan kemampuan manajer demografi seseorang. Faktor psikologis
keperawatan dalam melakukan supervisi. meliputi : persepsi, peran, sikap,
Kepala ruangan merupakan manajer garda kepribadian, motivasi dan kepuasan kerja.
depan dan penanggung jawab ruangan Faktor organisasi: meliputi struktur
harus mampu menjadi supervisor yang organisasi, desain pekerjaan,
baik terhadap perawat pelaksana, kepemimpinan, sistem penghargaan
sehingga dapat meningkatkan kualitas (reward system). Sedangkan faktor-faktor
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
5
yang mempengaruhi kinerja perawat tahun sebesar 72,7% penulisan
yaitu usia perawat, jenis kelamin, dokumentasi asuhan keperawatan kurang
pendidikan dan lama kerja. lengkap.
Dilihat dari karakteristik perawat junior, Dilihat dari pendidikan perawat junior di
berdasarkan usia sebagian besar usia 26 RSUD Tugurejo Semarang sebagian besar
tahun, hal ini menunjukkan bahwa S1. Hal ini karena kebijakan dari RSUD
perawat junior di RSUD Tugurejo berada Tugurejo yang mengutamakan perawat
pada usia produktif. Hal ini sesuai dengan yang berpendidikan S1. Hal ini sesuai
teori yang dikemukakan oleh Dessler dengan teori menurut Wuryanto (2010,
(1998 dalam Muzaputri, 2008; hlm. 89) hlm.83) bahwa tingkat pendidikan tinggi
yaitu usia produktif adalah 25 – 30 tahun akan meningkatkan kemampuan
di mana pada tahap ini merupakan intelektual, personal dan teknikal yang
penentu seseorang untuk memilih bidang dibutuhkan oleh seorang perawat dalam
pekerjaan yang sesuai bagi karir individu melaksanakan tugasnya, namun
tersebut. Usia 30 – 40 tahun merupakan pendidikan yang tinggi juga harus
tahap pemantapan pilihan karir untuk diimbangi dengan pengalaman yang
mencapai tujuan sedangkan puncak karir cukup untuk menghasilkan kinerja
terjadi pada usia 40 tahun. Hasil perawat yang baik. Hal ini terlihat dari
penelitian menunjukkan umur perawat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa
termasuk umur produktif, maka perlu perawat junior lebih banyak yang
bimbingan dalam bekerja, masih berusaha pendidikan S1 namun masih terdapat
memantapkan karirnya sebagai perawat. perawat yang kinerja kategori kurang
Asumsi peneliti ini didukung oleh baik.
pendapat Siagian (2003 dalam dalam
Muzaputri, 2008; hlm. 89), yang Penelitian oleh Lutfiyah (2014)
menyatakan bahwa usia di bawah 30 menunjukan hasil bahwa tidak ada
tahun belum mempunyai loyalitas pada hubungan antara status pendidikan dengan
organisasi, cenderung hidup santai, kepuasan kerja di ruang rawat inap RSUD
sedangkan umur 30-40 tahun loyal pada kota Salatiga. Didapatkan perawat yang
diri sendiri. Hasil penelitian didukung berpendidikan DIII merasa puas (43,3%)
oleh penelitian Prawoto (2007) dan Riyadi dan perawat yang berpendidikan S1
(2007) yang menemukan ada hubungan merasa puas (13,3%).
bermakna antara umur dengan kinerja
perawat (Muzaputri, 2008; hlm. 89). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan
penelitian yang dilakukan Siagian (2003)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh yang menemukan adanya hubungan yang
Martini (2007) memberikan hasil bermakna antara pengaruh supervisi
penelitian persentasi responden pada kepala ruangan terhadap kinerja perawat
kelompok umur >45 tahun, mempunyai pelaksana rawat inap di RSUD Sidoarjo.
praktik pendokumentasian kurang lengkap Penelitian lain yang mendukung
lebih kecil (54%) dibandingkan dengan dilakukan oleh Kurniati (2001),
responden pada kelompok umur 20-30 Widaningsih (2002), dan Nomiko (2007).
tahun yang mempnyai praktik penulisan Temuan ini sesuai dengan pendapat
dokumentasi kurang lengkap sebesar Gillies (1994) yang menyatakan supervisi
69,6% dan pada kelompok usia 31-35 dapat memperbaiki kinerja perawat, juga
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
6
diperkuat dengan pendapat Ilyas (2001) RSUD Tugurejo berada pada usia
yang mengemukakan supervisi sebagai produktif. Perawat senior dengan usia
salah satu variabel organisasi yang produktif akan mendukung kinerja
mempengaruhi kinerj (Muzaputri, 2008). perawat. Secara teori umur ini tergolong
umur produktif dengan kemampuan
b. Kinerja Perawat Senior psikososial yang dapat dipertanggung
Tabel 6 jawabkan. Kondisi ini dapat digunakan
Distribusi Frekuensi Kinerja Perawat untuk memperbaiki pelayanan dengan
Senior sesudah dilakukan supervisi kepala kinerja yang lebih baik yang berdampak
ruang
terhadap mutu pelayanan rumah sakit.
Kinerja Frekuensi Persentase
Perawat
Senior Hasibuan (2003 dalam Kumajas, 2014),
Kurang Baik 0 0 berpendapat bahwa umur individu
Baik 24 100,0
mempengaruhi kondisi fisik, mental,
Jumlah 24 100,0
kemampuan kerja ,tanggung jawab, dan
Hasil penelitian menunjukkan kinerja cenderung absensi. Sebaliknya, karyawan
perawat senior sesudah dilakukan yang umurnya lebih tua kondisi fisiknya
supervisi kepala ruang 100% baik. Hal ini kurang, tetapi bekerja ulet, dan
terjadi karena perawat senior dilihat dari mempunyai tanggung jawab yang lebih
masa kerja lebih lama sehingga cenderung besar.
lebih berpengalaman. Perawat yang
memiliki masa kerja ≥ 3 tahun lebih Hasil penelitian dari Rudianti (2011)
mampu menyelesaikan masalah-masalah bahwa perawat pelaksana yang berumur
yang ditemukan pada saat melakukan <32 tahun mempunyai kinerja kurang
asuhan keperawatan. (53,4%) lebih besar dibandingkan dengan
perawat pelaksana umur ≥32 tahun
Perawat senior memiliki masa kerja ≥ 3 (33,7%). Hasil penelitian yang dilakukan
tahun sehingga lebih berpengalaman dan oleh Andriani (2012) menyatakan bahwa
memiliki keterampilan dalam bekerja. ada hubungan yang bermakna umur
Tetapi produktivitasnya dapat menurun perawat pelaksana dengan kinerja perawat
apabila tidak diimbangi dengan pelaksana di ruang rawat inap RSUD Dr.
lingkungan kerja yang produktif. Achmad Mochtar Bukittinggi.
Peningkatan kinerja dapat diupayakan
dengan memotivasi dan menciptakan Dilihat dari pendidikan perawat senior di
lingkungan kerja yang mendorong RSUD Tugurejo Semarang sebagian
perawat harus bekerja profesional, bukan pendidikan D3 dan sebagian pendidikan
bekerja hanya karena kewajiban atau hal S1. Hal ini karena kebijakan dari RSUD
yang rutin saja. Hal ini sesuai pendapat Tugurejo yang mengutamakan perawat
Tappen (2004) yang menyatakan bahwa yang berpendidikan S1. Hal ini sesuai
lama kerja yang tidak didukung dengan teori menurut Notodmodjo (2003),
pengembangan staf yang baik akan menyatakan bahwa orang-orang yang
menurunkan kualitas pekerjaannya. memiliki pendidikan yang lebih tinggi
akan memiliki pengetahuan yang lebih
Dilihat dari usia, perawat senior lebih tinggi pula jika dibandingkan dengan
banyak yang berusia 27 tahun. Hal ini orang-orang yang memiliki pendidikan
menunjukkan bahwa perawat senior di yang rendah dan melalui pendidikan
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
7
seseorang dapat meningkatkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
kematangan intelektual sehingga dapat perbedaan yang signifikan antara kinerja
membuat keputusan dalam bertindak. perawat senior dan junior dengan nilai p
value 0,005 (α < 0,05). Kinerja perawat
Dari hasil penelitian yang ada, peneliti junior sebagian besar baik sebanyak 12
berpendapat bahwa salah satu faktor yang responden (70,6%) dan kinerja kurang
dapat meningkatkan produktifitas atau baik sebanyak 5 responden (29,4%).
kinerja perawat adalah pendidikan formal Sedangkan kinerja perawat senior
perawat. Pendidikan memberikan seluruhnya baik yaitu 24 responden
pengetahuan bukan saja yang langsung (100%). Hal ini menunjukkan bahwa ada
dengan pelaksanaan tugas, tetapi juga perbedaan kinerja perawat senior dan
landasan untuk mengembangkan diri serta junior sesudah pelaksanaan supervisi
kemampuan memanfaatkan semua sarana kepala ruang, dimana kinerja perawat
yang ada di sekitar kita untuk kelancaran senior lebih baik dibandingkan perawat
tugas. Tenaga keperawatan yang junior.
berpendidikan tinggi motivasinya akan
lebih baik karena telah memiliki Kinerja perawat senior lebih baik
pengetahuan dan wawasan yang lebih luas dibandingkan perawat junior sesudah
dibandingkan dengan perawat yang pelaksanaan supervisi kepala ruang, hal
berpendidikan rendah. Hal ini terlihat dari ini terjadi karena dilihat dari pengalaman
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perawat senior lebih berpengalaman dan
perawat senior mempunyai kinerja baik memiliki keterampilan dalam bekerja
100%. dibandingkan perawat junior. Sesuai
dengan teori menurut Gibson (1997,
Penelitian Kanestren (2009) menyatakan dalam Nursalam, 2015, hlm.124) yang
bahwa tingkat pendidikan memiliki menyatakan bahwa kinerja seseorang
hubungan bermakna dengan kinerja salah satunya dipengaruhi oleh faktor
perawat. Penelitian oleh Isesreni (2009) individu yang meliputi kemampuan,
juga menyatakan bahwa tingkat ketrampilan dan pengalaman kerja
pendidikan perawat mempengaruhi seseorang. Sedangkan faktor-faktor yang
kinerja perawat.. mempengaruhi kinerja perawat yaitu usia
perawat, jenis kelamin, pendidikan dan
3. Perbedaan Antara Kinerja Perawat lama kerja. Menurut peneliti pengalaman
Senior dan Junior Sesudah Dilakukan kerja sangat mempengaruhi hasil kerja
Supervisi Kepala Ruang seseorang, seseorang yang sudah
Tabel 7 berpengalaman akan lebih mudah dalam
Perbedaan Antara Kinerja Perawat Senior mengatasi masalah kerjaannya
dan Junior Sesudah Dilakukan Supervisi dibandingkan seseorang yang kurang
Kepala Ruang berpengalaman.
Kinerja Junior Senior P value
Perawat F % F % Hasil penelitian didukung oleh penelitian
Kurang 0,005
5 29,4 0 0 yang dilakukan oleh Andriani (2009) yang
Baik
Baik 12 70,6 24 100,0 menyatakan bahwa ada hubungan antara
Jumlah 17 100,0 24 100,0 umur, pendidikan, masa kerja, budaya
organisasi perawat pelaksana dengan
kinerja perawat pelaksana. Perawat
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
8
dengan usia yang lebih dewasa (senior) ini terjadi karena perawat senior memiliki
memiliki kinerja yang lebih baik masa kerja ≥ 3 tahun sehingga cenderung
dibanding dengan perawat yang berusia lebih berpengalaman dalam mengatasi
muda (junior). masalah dibandingkan perawat
junior.Sesuai dengan teori yang
Pada penelitian yang dilakukan Mulyono dikemukakan oleh Robbins (2003) dan
(2013) tentang faktor yang berpengaruh Simanjuntak (2005 dalam Muzaputri,
terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit 2008; hlm.94) yang berpendapat
Tingkat III ambon. pada penelitian ini pengalaman kerja berhubungan dengan
menunjukan bahwa ada hubungan antara kinerja dimana pengalaman kerja dapat
kepuasan kerja dan pengawasan dengan meningkatkan keterampilan individu
kinerja perawat. Sedangkan pada bekerja.
penelitian yang dilakukan oleh Mukti
(2013), hasil penelitian menunjukkan Sesuai dengan pendapat Mc Eachen
bahwa ada motivasi untuk mempengaruhi (2007) yang mengemukakan supervisi
kinerja perawat dengan nilai p = 0,001, merupakan proses mengarahkan, memberi
tidak ada efek dari kinerja kepemimpinan petunjuk dan dapat mempengaruhi
perawat dengan nilai p =0,003, tidak ada outcome kinerja perawat dalam
efek reward dengan kinerja perawat melakukan asuhan keperawatan. Supervisi
dengan nilai p = 0,018 dan faktor-faktor merupakan kegiatan rutin dan terjadwal
yang paling mempengaruhi kinerja yang harus dilakukan kepala ruangan,
perawat adalah motivasi dengan p = untuk memastikan pelaksanaan asuhan
0,004. Studi kesimpulan tidak ada keperawatan dilakukan dengan baik dan
pengaruh kemampuan, sikap, motivasi, sesuai dengan stándar yang telah
kepemimpinan, imbalan dan efek terbesar ditetapkan.
adalah motivasi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Keliat et
4. Pengaruh Pelaksanaan Supervisi all (2006) bahwa supervisi atau
Kepala Ruang Terhadap Kinerja pengawasan adalah proses memastikan
Perawat kegiatan dilaksanakan sesuai dengan
Tabel 8 tujuan organisasi dengan cara melakukan
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi pengawasan terhadap pelaksanaan
Kepala Ruang Terhadap Kinerja kegiatan tersebut. Kompetensi-
Perawat
kompetensi ini harus dimiliki seorang
Sesudah N Median Standar Min Max ρ
Pelaksanaan Deviasi valu supervisor, yaitu kepala ruangan dalam
Supervisi Kepala e upaya peningkatan kinerja perawat
Ruang pelaksana.
Kinerja Junior 17 100 1,437 95 100 0,00
Perawat Senior 24 100 0,000 100 100 5 Hasil penelitian ini juga sesuai dengan
Total 41 penelitian yang dilakukan Siagian (2003
dalam Muzaputri, 2008; hlm.104) yang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada menemukan adanya hubungan yang
pengaruh yang signifikan pelaksanaan bermakna antara pengaruh supervisi
supervisi kepala ruang terhadap kinerja kepala ruangan terhadap kinerja perawat
perawat di RSUD Tugurejo Semarang pelaksana rawat inap di RSUD Sidoarjo.
dengan nilai p value 0,005 (α < 0,05). Hal Temuan ini sesuai dengan pendapat
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
9
Gillies (1994) yang menyatakan supervisi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan-
dapat memperbaiki kinerja perawat, juga nya.
diperkuat dengan pendapat Ilyas (2001) Diharapkan perawat junior perlu
meningkatkan kinerja terutama dalam hal
yang mengemukakan supervisi sebagai
pengkajian yaitu harus selalu mencatat data
salah satu variabel organisasi yang yang dikaji sesuai dengan format dan pedoman
mempengaruhi kinerja (Muzaputri, 2008; pengkajian yang baku, dalam hal diagnosis
hlm.104). keperawatan perlu selalu menyusun prioritas
diagnosis keperawatan lengkap problem
Hasil penelitian didukung oleh penelitian etiologi, dalam hal intervensi/ perencanaan
yang dilakukan Widarti (2014), harus selalu merencanakan tindakan
keperawatan yang dibuat mengacu pada tujuan
menunjukan hasil p value = 0,046 dengan
dengan kalimat perintah, terinci dan jelas, serta
taraf signifikan p < 0,05 sehingga harus selalu melakukan evaluasi terhadap
disimpulkan bahwa ada pengaruh pengetahuan klien tentang penyakitnya,
supervisi kepala ruang terhadap kepatuhan pengobatan dan resiko komplikasi setelah
perawat pada jadwal kegiatan harian diberikan promosi kesehatan.
perawat diruang Mawar RSUD Ungaran.
Sedangkan pada penelitian yang DAFTAR PUSTAKA
dilakukan oleh Wirawan (2013), terdapat
Andriani, (2012).Hubungan Budaya
hubungan antara supervisi kepala ruang Organisasi Dan Karakteristik Perawat
dengan pendokumentasian asuhan Dengan Kinerja Perawat Pelaksana Di
keperawatan di Rumah Sakit Umum Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Achmad
Daerah Ambarawa (p value 0,000). Hasil Mochtar Bukittinggi. (Jurnal Ilmiah
penelitian Walin (2005) menunjukkan STIKes Yarsi Bukittinggi).
bahwa ada hubungan antara supervisi
Emanuel Agung Wirawan. (2013). Hubungan
dengan kinerja perawat puskesmas rawat Antara Supervisi Kepala Ruang Dengan
inap di Kabupaten Kebumen Pendokumentasian Asuhan
Keperawatan Di Rumah Sakit Umum
SIMPULAN Daerah Ambarawa.
Kinerja perawat junior sesudah dilakukan http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JM
supervisi kepala ruang sebagian besar baik K/article/ view/943/995diunduh tanggal
sebanyak 12 responden (70,6%) sedangkan 25 Desember 2015
kinerja perawat kurang baik sebanyak 5
responden (29,4%). Kinerja perawat senior Isesreni, Yeni Warni. (2009). Hubungan
sesudah dilakukan supervisi kepala ruang Karakteristik Perawat dengan Kinerja
100% baik. Ada pengaruh yang signifikan Perawat di RSJ Prof. HB. Sa’anin
pelaksanaan supervisi kepala ruang terhadap Padang Tahun 2008. MNM volume 1
kinerja perawat dengan nilai p value 0,005 (α < (No. 1).
0,05).
Kanestren, D. R. (2009). Analisis hubungan
SARAN karakteristik individu dan lingkungan
Mengingat masih terdapat (29,4%) kinerja kerja dengan kinerja perawat di unit
perawat junior kurang baik, maka diharapkan rawat inap RS Pertamina Jaya. Tesis
manajemen rumah sakit khususnya manajemen Fakultas Kesehatan Masyarakat
keperawatan perlu mengembangkan strategi Universitas Indonesia Jakarta
untuk meningkatkan kinerja perawat junior http://www.lontar.ui.ac.id
dengan cara memberikan kesempatan kepada
perawat untuk mengikuti pendidikan dan Kumajas, 2014), Hubungan Karakteristik
pelatihan secara rutin sehingga perawat dapat Individu Dengan Kinerja Perawat di
Ruang Rawat Inap Penyakit dalam
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
10
RSUD Datoe Binangkang Kabupaten Nursalam. (2015). Manajemen Keperawatan:
Bolaang Mongondow. (Skripsi Aplikasi dalam Praktek Keperawatan
Universitas Sam Ratulangi) Profesional Edisi 5. Jakarta: Salemba
Medika
Kuntoro, A. (2010). Buku Ajar Manajemen
Keperawatan. Yogyakarta: Nuha Riyadi, S., & Kusnanto, H. (2007). Motivasi
Medika kerja dan karakteristik individu perawat
di RSD Dr. H. Moh Anwar Sumenep
Lutfiyah. (2014).Pengaruh Supervisi Kepala Madura. Thesis Yogyakarta:
Ruangan Terhadap Kepuasan Kerja http://lrckmpk.ugm.ac.id diperoleh 18
Menurut Persepsi Perawat Pelaksana Mei 2016 Robbins, S. P. & Timothy A.
Di Ruang Rawat Inap RSUD Kota J. (2008). Perilaku Organisasi. Edisi 12.
Salatiga.http://download.portalgaruda.or Jakarta: Salemba Medika
g/article.php?article=318258&val=6378
&title=PENGARUH%20SUPERVISI% Rudianti, Yulistiana. (2011). Hubungan
20KEPALA%20RUANGAN%20TERH Komunikasi Organisasi dengan Kinerja
ADAP%20KEPUASAN%20KERJA%2 Perawat pelaksana di Ruang Rawat
0MENURUT%20PERSEPSI%20PERA Inap Salah satu Rumah Sakit Swasta
WAT%20PELAKSANA%20DI%20RU Surabaya. Tesis Magister Ilmu
ANG%20RAWAT%20INAP%20RSUD Keperawatan Universitas Indonesia
%20KOTA%20Sdiunduh tanggal 23 Jakarta.
November 2015 www.lontar.ui.ac.id/file?file=pdf/abstra
McEachen, I.., & Keogh. J. (2007). Nurse k-20282765.pdf
management demystified; a self –teach
guide. New York: McGraw Hill. Simanjuntak, P.J. (2005). Manajemen dan
companies. evaluasi kinerja. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
M. Hadi Mulyono .(2013). Factor yang Indonesia.
Berpengaruh terhadap Kinerja Perawat
Di rumah sakit Tingkat III 10.06.01 Simamora, R.H. (2012). Buku Ajar Manajemen
Ambon. http://journal.unhas.ac.id/ Keperawatan. Jakarta: EGC
index.php/jadkkm/article/view/536diund
uh tanggal 3 Januari 2016 Sugiharto A.S., Keliat B.A., Sri R. TH, (2012).
Manajemen Keperawatan: Aplikasi
Martini. (2007). Hubungan Karakterristik MPKP di Rumah sakit. Jakarta: EGC
Perawat, Sikap, Beban Kerja,
Ketersediaan Fasilitas, dengan Walin. (2005). Hubungan Antara Supervisi
Pendokumentasian Askep & Rawat Inap kinerja Perawat di Puskesmas rawat
BPRSUD kota Salatiga. http :// Inap. Kabupaten Kebumen.(Tesis Tidak
www.RPNMTS.Undip.Ac.id// diunduh dipublikasikan )
tanggal 2 Januari 2016.
Wibawani Yunestri Mukti. (2013). Faktor
Muzaputri, G. (2008). Hubungan karakteristik yang Mempengaruhi Kinerja Perawat
individu dan faktor organisasi dengan Dalam Mendokumentasikan Asuhan
kinerja perawat di RSUD Langsa NAD. Keperawatan di Rumah Sakit Woodward
(Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan Palu.http://download.portalgaruda.org/ar
Universitas Indonesia. Tidak ticle.php?article=
dipublikasikan) 148894&val=2172&title=faktor%20yan
g%20mempengaruhi%20kinerja%20per
Notoatmojo, S. (2003). Pendidikan dan awat%20dalam%20mendokumentasikan
Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka %20asuhan%20keperawatan%20di%20r
Cipta umah%20sakit%20woodward%20palu
diunduh tanggal 3 Januari 2016.
Pengaruh Pelaksanaan Supervisi Kepala Ruang Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD
Tugurejo Semarang
11