0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan8 halaman

Kontroversi Hadis dalam Ihya' Ulumuddin

Dokumen ini membahas kontroversi mengenai keotentikan hadis dalam Kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Ghazali, dengan mengkaji kritik dari berbagai ulama dan pembelaan terhadap kitab tersebut. Penelitian menggunakan metode kajian pustaka dan menunjukkan bahwa meskipun ada kritik terhadap hadis yang dianggap lemah atau palsu, keotentikan hadis dalam kitab ini tetap dipertahankan oleh beberapa ulama. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hadis-hadis dalam kitab tersebut tidak diragukan periwayatannya, didukung oleh takhrij yang dilakukan oleh Imam Az-Zabidi.

Diunggah oleh

toepil
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan8 halaman

Kontroversi Hadis dalam Ihya' Ulumuddin

Dokumen ini membahas kontroversi mengenai keotentikan hadis dalam Kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Ghazali, dengan mengkaji kritik dari berbagai ulama dan pembelaan terhadap kitab tersebut. Penelitian menggunakan metode kajian pustaka dan menunjukkan bahwa meskipun ada kritik terhadap hadis yang dianggap lemah atau palsu, keotentikan hadis dalam kitab ini tetap dipertahankan oleh beberapa ulama. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hadis-hadis dalam kitab tersebut tidak diragukan periwayatannya, didukung oleh takhrij yang dilakukan oleh Imam Az-Zabidi.

Diunggah oleh

toepil
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENYOAL OTENSITAS HADIS DALAM

KITAB IHYA’ ULUMUDDIN

Muhammad Afzainizam
Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Email: Muhammad.afzainizam17@mhs.uinjkt.ac.id
Dosen Pembimbing : Fatihunnada, M.A.

ABSTRAK

Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah dalam kajian keilmuan. Hal
tersebut dapat kita temukan dalam diskusi keilmuan apapun. Dalam penelitian ini
penulis mencoba memaparkan gugatan-gugatan yang diajukan kepada Imam
Ghazali atas hadis yang dicantumkan dalam Kitab Ihya‟ Ulumuddin, beserta
dengan kontroversi antar ulama‟ mengenai keotentikan hadist tersebut, baik dari
Ibnu Murtadlo az-Zabidi, Zainuddin al-Iroqi sebagai golongan pro AlGhazali
maupun dari golongan yang kontra seperti Ibnu Taimiyyah dan Tajuddin as-
Subkhi, serta dilengkapi dengan dalil-dalil yang logis dan komperehensif.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode library research
(Kajian Pustaka) dengan mengambil referensi dari beberapa sumber. Penulis juga
mengembangkan pendapat yang telah ia ambil dari beberapa sumber rujukan yang
telah dibaca dari kitab Thabaqāt al-Syafi'iyyah al-Kubra (sumber primer) dan
kitab kifayatul al-Mustafid, Falsafah Islam, Majmu‟ Fatawa, Talbis al-Iblis dan
lain-lain (sumber sekunder).
Dari Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keotentikan seluruh hadis
yang terdapat dalam kitab Ihya‟ Ulumuddin tak dapat diragukan dalam
periwayatannya. Hal ini dibuktikan oleh takhrij hadist yang telah dilakukan oleh
Imam Az-Zabidi dalam karangan yang berjudul Ittihafus Sadah al-Muttaqin.

Kata Kunci: Kitab Ihya’ Ulumuddin, Hadis


PENDAHULUAN
Kitab Ihya‟ Ulumuddin merupakan sebuah karya monumental yang hingga
saat ini masih terus dibaca dan selalu dikaji oleh masyarakat baik muslim maupun
non muslim (kaum orientalis), kitab ini berkenaan dengan kajian tasawuf yang
berisi tentang prinsip dan kaidah-kaidah yang berkenan dengan metode penyucian
Jiwa (Tazkiyatun Nufus), kitab ini membahas berbagai perihal tentang penyakit
batin (sifat iri, riya‟,ujub, sum‟ah dan lain-lain), disamping itu juga membahas
berbagai macam metode untuk mengobati dan merawatnya. Sistematika penulisan
Imam Ghazali dalam mengarang kitab ini juga sangat rapi, sederhana dan
berbobot sehingga menjadikan karya ini lebih menarik untuk dikaji oleh setiap
golongan.
Walaupun begitu Ihya‟ Ulumuddin juga menerima banyak komentar negatif
dari berbagai pihak khususnya oleh ulama‟ hadis yang mengklaim bahwasanya
didalam kitab Ihya‟ banyak ditemukan hadis yang tidak bersanad, berderajat
lemah ataupun maudhu‟.
Tulisan ini berusaha memberikan ulasan mengenai Kitab Ihya‟ Ulumuddin,
gugatan para Ulama terhadap kitab ini beserta pembelaan yang disertai dengan
dalil-dalilnya.

METODE PENULISAN
Penelitian ini mengunakan metode library research terhadap literatur kitab
salaf, buku kontemporer dan metode tarjih qoul, kemudian dianalisa dengan
mengunakan data yang ada, baik dari komentar ulama‟ maupun syarah kitab
secara detail dan komperehensif dari berbagai pendekatan; histori, psikologi, dan
filosofi karena tinjaun beberapa pendekatan sangat dibutuhkan untuk mengetahui
otensitas hadis yang terdapat dalam kitab Ihya‟ Ulumuddin.

MENGENAL KITAB IHYA’ ULUMUDDIN


Pengarang Kitab Ihya‟ Ulumuddin, Muhamad bin Muhammad bin Muhamad
Bin ahmad, Imam Abu Hamid al-Ghazali, lebih dikenal dengan nama al-Ghazali.
Beliau lahir disebuah daerah yang terletak di Thus Provinsi Khurasan yang
sekarang termasuk dalam wilayah Negara Irak. 1 Dari segi keilmuan fikih, ushul
fiqh, aqidah, filsafat dan tasawuf kecerdasan tidak dapat diragukan lagi hal ini
dibuktikan dengan banyaknya karya-karya beliau dalam bidang keilmuan tersebut.
Diantaranya, kitab al-Basith, al-Washit, al-Mustafa, al-Iqtishod fil „Iqtiqod dan
lain-lain. Dalam bidang fikih sanad Imam Ghazali juga sampai ke Imam as-
Syafi‟I melalui jalur Imam Ulama, sedangkan sanad yang bersambung ke
Rasulullah SAW bersambung melalu 12 ulama‟ besar.2 Beliau juga bergelar
“Hujjatul Islam” nama tersebut beliau dapatkan lantaran perjuangannya yang
sangat besar terhadap Islam, terutama dalam menghadapi ajaran-ajaran sesat yang
dibawakan oleh kaum Batiniah dan para pakar filosuf. Dalam argumentasinya
Imam Ghazali tidak hanya memberikan landasan dalil Al-Qur‟an dan Hadis,
beliau juga memberikan argumentasi-argumentasi logika yang konsepsional,
sistematis, dan ilmiah sehingga dapat melawan ajaran-ajaran sesat dari mereka
secara menyeluruh. Kitab Fadaa'ih al-Batiniyyah (kesesatan-kesesatan kaum

1
Sirajuddin, Filsafat Islam,( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 155.
2
Mahfudz al-Tarmasy, Kifayah Al Mustafid, ( Darul Basyairil Islamiyyah), hal. 23.
bathiniyyah) dan Tahafut Falasifah.(kekeliruan para filosuf) adalah contoh
kongkrit atas dedikasi beliau dalam memperjuangkan kemurnian ajaran Islam.3
Dalam penulisannya, Imam Ghazali mengklarifikasikan pembahasan
Kitabnya menjadi empat kajian pokok, yang dari setiap kajian pokok melahirkan
sepuluh pembahasan tersendiri. Kitab Ihya‟ sendiri memuat tiga asas dari
persendian agama Islam yakni Syaria‟at, Thariqot, dan Hakikat. Disamping itu
Imam ghazali juga mengupasnya dengan pembahasan yang sederhana, menarik
sistematis juga komperehensif. Sehingga as-Sayyid Abdullah aly-Aydrus
berkomentar bahwa cukup dengan memahami Kitab Ihya‟ seseorang akan bisa
mendapatkan tiga sendi pokok ajaran Islam.

Adapun sub bab dari 4 pokok dalam kitab Ihya‟ Ulumuddin adalah sebagai
berikut:
1. Ibadah :
 Kitab Ilmu  Kitab Akidah
 Kitab Taharah  Kitab Ibadah
 Kitab Zakat  Kitab Puasa
 Kitab Haji  Kitab Tilawah Quran
 Kitab Zikir dan Doa  Kitab Tartib Wirid.

2. Adat Kebiasaan :
 Kitab Adab Makan  Kitab Adab Pernikahan
 Kitab Adab Makan  Kitab Adab Pernikahan
 Kitab Hukum Berusaha  Kitab Halal dan Haram
 Kitab Adab Berteman dan Bergaul  Kitab „Uzlah
 Kitab Bermusafir  Kitab Mendengar dan Merasa
 Kitab Akhlaq  Kitab Amar Ma‟ruf dan Nahi
Munkar

3. Al-Muhlikat (Perbuatan yang Membinasakan) :


 Kitab Keajaiban Hati  Kitab Bahaya Nafsu
 Kitab Bahaya Syahwat  Kitab Bahaya Lidah
 Kitab Bahaya Marah  Kitab Bahaya Dendam
 Kitab Bahaya Harta dan Kikir  Kitab Bahaya Pangkat dan Riya
 Kitab Bahaya Takabbur dan „Ujub  Kitab Bahaya Terpedaya

4. Al-Munjiyat (Perbuatan yang Menyelamatkan) :


 Kitab Taubat  Kitab Sabar dan Syukur
 Kitab Takut dan Berharap  Kitab Fakir dan Zuhud
 Kitab Tauhid dan Tawakal  Kitab Cinta, Rindu,
Senang, dan Ridha
 Kitab Niat, Jujur, dan Ikhlas  Kitab Muraqabah dan
Muhasabah
 Kitab Tafakur  Kitab Mengingat Mati

3
A. Heris dan Yaya Sunarya, Filsafat. (Bandung: CV Insan Mandiri, 2011) hal. 91-92.
KONTROVERSI TERHADAP KITAB IHYA’ ULUMUDDIN
Dalam khazanah keilmuan kitab Ihya‟ ulumuddin mendapatkan banyak
tanggapan yang berbeda dari para ulama‟, baik berupa komentar negatif yang
berupa kritikan terhadap Ihya‟ maupun bentuk pembelaan sebagai sebuah
apresiasi atas keagungan karya Hujjatul Islam.

1. Koreksi Terhadap Kitab Ihya‟ Ulumuddin


Meskipun posisi Kitab Ihya‟ di tengah-tengah kajian disiplin ilmu keIslaman
sangatlah tinggi, namun kitab ini juga tak lepas dari kritik. Banyak sekali
komentar negatif yang ditunjukan kepada karya Imam Ghazali tersebut.
Khususnya dalam kajian studi hadis. Diantaranya;
Terdapat beberapa hadis maudhu‟ didalamnya, seperti :

َٙ‫ش يٍ ركش‬ٛ‫ ركش هللا بخ‬:‫قم‬ٛ‫ ٔن‬،ٙ‫صم عه‬ٛ‫ ٔن‬َٙ‫زكش‬ٛ‫إرا طُت أرٌ أحذكى فه‬

“Jika telinga seorang dari kalian berdenging, maka sebutlah aku dan
bersholawatlah atasku serta ucapkan, Semoga Allah menyebutkanya dengan
kebaikan bagi orang yang menyebutku“. (HR. Ath-Thabrani).

Hadist ini disebutkan oleh Imam Ghazali dalam Kiab Ihya‟ Ulumddin, dinilai
sebagai Hadist Maudhu‟ oleh Ibnul Jauzi dan al-Albani4 karena ada perawi
bernama Muhamamd bin Ubaidillah bin Abu Rafi‟ Al-Hasyimi Al-Kufi yang
dinilai Munkarul hadits oleh sebagian ulama jarh.
Juga hadits :
‫ش انعقم‬ٛ‫ش يٍ كث‬ٛ‫ق خ‬ٛ‫م انتٕف‬ٛ‫قه‬

“Sedikit taufiq lebih banak dari ilmu yang banyak.”

Hadis ini juga dihukumi para ulama sebagai hadis palsu yang tidak terdapat
sanadnya.5
Dan hadis :
‫ٍ عهٗ انُظافة‬ٚ‫ انذ‬ُٙ‫ب‬

Agama Islam dibangun di atas kebersihan.

Hadits ini dihukumi sebagai hadis palsu, karena pada sanadnya terdapat
perawi yang bernama “Umar bin Shubh alKhurâsâni‟. Menurut Ibnu Hajar6 dia
adalah perowi yang matruk (ditingalkan Periwayatanya) karena sangat lemah
bahkan (Imam Ishaq) bin Rahuyah mendustakannya.7

4
Muhammad Nashiruddin, Silsilatul Ahaaditsidh Dha‟ifah wal Maudhu‟ah, (Riyadh: Maktabah
al. Ma'arif), Juz.6 hal. 137.
5
Tajuddin Abi Nasr Abdul Wahab, Thobaqot As-syafi‟iyyah AlKubro, (Mesir: Idaratul
Muhammad Abdul lathif alKhotib), Juz 6 hal. 287
6
Silsilatul Ahaaditsidh Dha‟ifah wal Maudhu‟ah, no. 3264.
7
Ibnu Hajar Asqolani, Taqribut Tahdzib, (Beirut: Ar-Risalah ), hal. 414.
Seorang Ulama‟ dari Mesir yang bernama Imam Tajuddin as-Subkhi juga
melakukan takhrij hadis yaitu dengan menelusuri seluruh periwayatan hadis daam
kitab Ihya‟ dari segi sanad, beliau menemukan setidaknya terdapat 900 hadis yang
tidak ditemukan sanad-nya.8

Selain itu juga terdapat komentar dari ulama‟. Diantaranya adalah :

1. Imam Abu Bakr Muhamammad bin al-Walid Berkata :


“… Kemudian al-Ghzali memenuhi jitab ini dengan kedustaan atas nama
Rasulullah SAW, bahkan aku tidak nebgetahui sebuah kitab di atas muka
bumi ini yang lebih banyak berisi kedustaan atas nama Rasulullah melebihi
kitab ini”9
2. Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata :
“Dia memenuhi kitabnya (Ihya‟ Ulumuddin) dengan hadits-hadits batil yang
dia sendiri tidak mengetahui kebatilannya”.10
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
“Dalam kitab ini terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang lemah,
bahkan (juga mengandung) banyak hadits yang palsu, serta berisi banyak
kebatilan dan kebohongan orang-orang ahli tasawwuf”.11
4. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata :
“Adapun kitab Ihyâ‟ Ulûmiddîn, di dalamnya terdapat sejumlah (besar)
hadits-hadis yang batil (palsu)”.12
5. Ibnu Katsir berkata :
“Ketika berada di damaskus dan Baitul Maqdis Al Ghazali mengarang kitab
Ihya‟ Ulumuddin, itu adalah sebuah kitab yang luar biasa, mengandung
banyak ilmu berkaitan dengan syari‟at, bercampur dengan kehalusan tasawuf
serta amalan hati. Namun saying, di dalamnya banyak hadis yang gharib,
munkar dan bahkan maudhu‟”13

2. Pembelaan Terhadap Kitab Ihya‟ Ulumuddin


Mengenai metode tahrij hadist yang dilakukan Imam Ghazali sebenarnya
tidak jauh berbeda dengan metode yang dipakai as-Subkhi, al-Iraqi pada
umumnya, hanya saja mungkin Imam Ghazali memiliki rujukan hadist yang
berbeda dengan as-Subkhi, al-Iraqi dan lainnya. Hal ini dibuktikan dengan
perbedaan pandangan ulama‟ tentang derajat hadis dalam Ihya‟.
Semisal hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani diatas, dinilai sebagai
hadist mudhu‟ oleh imam al-Albani dan ibnu jauzi karena ada perawi bernama bin
Ubaidillah bin Abu Rafi‟ Al-Hasyimi Al-Kufi yang dinilai Munkarul hadits, Al-
Iraqi juga mengatakan bahwa hadist tersebut memiliki sanad yang dhoif.14

8
Thabaqat Asy Syafi‟iyah Al Kubra, Juz. 6 hal. 287-389
9
Syamsudin Muhammad. Siyarul „Alamin Nubala, (Arab Saudi: Bayt AlAfkar Ad-Dauliyyah) hal.
19/495.
10
Hafidz Abul Faraj, Talbis alIblis, (Birmingham: Darus Sunah ), hal. 190.
11
Ibnu Taimiyyah, Majmu‟ AlFatawa, (Mesir: Darul Falah), hal 10/552.
12
Siyarul „Alamin Nubala, hal. 19/339.
13
Ibnu Katsir, Bidayah wa al-Nihayah, (Riyadh: Dar al-Wathan, 2002 M), Juz.12 hal.214.
14
Zainuddin al-Iraqi, al-Mughni „an Khamli al-Asfar, (Riyadh: Maktabah Thobriyyah) Juz.2
hal.137
namun az-Zabidi memiliki pandangan berbeda yang menguatkan hadist tersebut.
Beliau berkata :

ٍ‫بطم يٍ صعى ضعفّ فضالً عٍ ٔضعّ كاب‬ٚ ‫ ْٔزا‬.ٍ‫ش حس‬ٛ‫ انكب‬ٙ‫ ف‬َٙ‫ إسُاد انطبشا‬:ًٙ‫ث‬ٛٓ‫نكٍ قال ان‬
‫حّ بانهفظ انًزكٕس‬ٛ‫ صح‬ٙ‫ًة ف‬ٚ‫ ششحّ عهٗ انجايع أَّ سٔاِ ابٍ خض‬ٙ‫ َٔقم انًُأٖ ف‬،ٙ‫ه‬ٛ‫انجٕص٘ ٔانعق‬
‫ح فاعشف رنك‬ٛ‫ج انصح‬ٚ‫ ْٕٔ يًٍ انتضو تخش‬،‫ سافع‬ٙ‫عٍ أب‬

“Akan tetapi al-Haitsami mengatakan, “Isnad ath-Thabarani di dalam al-Mu‟jam


al-Kabirnya bernilai hasan“. Ini membatalkan hujjah orang yang menilai hadits
ini dhaif apalagi menilainya palsu seperti Ibnul Jauzi dan al-„Uqaili. Al-Munawi
menukil dalam syarh Jami‟nya bahwasanya hadits itu diriwayatkan oleh Ibnu
Khuzaimah dalam sahihnya dengan lafadz tersebut dari Abi Rafi‟, sedangkan
beliau (Ibnu Khuzaimah) termasuk orang yang valid di dalam mentakhrij hadits,
maka ketahuilah itu“.15

Kemudian Apabila Imam Ghazali dikatakan tidak kapabel dalam Ilmu Hadis,
maka karyanya kitab Al-Mustashfa, cukup sekiranya untuk untuk membuktikan
kecakapan beliau dalam bidang studi hadis. Dalam kitabnya, Imam Ghazali
menjelaskan panjang lebar tentan konsep dan perdebatan mengenai dinamika
kajian hadis, khususnya dalam proses Istinbatul al-Ahkam.16

Beberapa ulama‟ juga melakukan penelitian dan pengkajian untuk


mengetahui keotentikan hadis yang terdapat dalam kitab ini, diantaranya adalah :
1. Imam al-Hafidz Zainuddin al-Iraqi juga pernah melakukan takhrij hadis
secara menyeluruh. Setelah mengkaji lebih dari 4500 hadis dari kitab Ihya‟
beliau menemukan bahwasanya kebanyakan hadis didalam Ihya‟ memiliki
sanad yang bersambung kemudian beliau mengklarifikasikannya menjadi
hadis shahih, hasan dan dhoif. Dari studinya al-Iraqi hanya menemukan
sedikit hadis yang belum dia temukan sanadnya (bukan berarti maudhu‟).17
Dari hal tersebut setidaknya dapat diketahui bahwa kuantitas hadis Imam
ghazali hampir setara dengan hadis yang ada dalam Sunan abu Dawud dan an
Nasa‟i, bahkan melebihi kuantitas hadis yang terdapat dalam sunan Ibu
Majah. Ulama‟ juga menyandarkan gelar Hujjatul Islam terhadap Imam
Ghazali karena prestasinya dalam menghafal 300.000 matan hadis beserta
dengan sanadnya18
2. Setelah Masa al-Iraqi, seorang Ulama‟ yang berasal dari daerah Zabid Yaman
bernama Muhammad bin Muhammad Bin Murtadlo az-Zabidi mengarang
sepuluh jilid kitab yang merupakan syarah dari kitab Ihya‟ Ulumuddin
(Ittihafus Sadah al-Muttaqin). Imam az-Zabidi melakukan penelusuran
riwayat hadis secara mendalam khusunya dari sanad hadist, beliau juga
mengkaji beberapa hadis yang sanad-nya belum ditemukan oleh al-Iraqi.

15
Ibnu Murtadlo az-Zabidi, Ittihaf as-Sadah al-Mttaqin (Mesir: Al-Maimuniyah), 2/831
16
Hasyim Nasution, Filsafat Islam, ( Jakarta: Gaya Media Pratama ), hal. 155.
17
Imam Al-Iraqi juga mengarang Kitab AlMughni „an Hamlil Asfar fi Takhrij Ma fil Ihya‟ min
Akhbar yang membahas takhrij hadis dari kitab Ihya‟ Ulumuddin secara terperinci.
18
Hussein Bahreisj, Ajaran-ajaran Akhlaq Imam Ghozali, (Surabaya: Al-Ikhlas), hal.12.
hasil dari penelitiannya, az-Zabidi berhasil menemukan suluruh sanad hadist
yang ada dalam kitab Ihya‟ Ulumuddin.
Ibnu Murtadlo az-Zabidi Berkata :
“al-Iraqi pernah menyatakan tentang hadits ini dan beliau berkata tidak
mengetahui asal usulnya, tetapi saya sudah mendapatkan sumber dan asal
usulnya.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, maka dapat diambil
kesimpulan bahwasanya otensitas hadis dalam Ihya‟ Ulumuddin tak perlu
diragukan lagi, hal ini mengacu pada takhrij hadist yang dilakukan oleh Ibnu
Murtadlo az-Zabidi. Sebagai pertimbangan, takhrij as-Subkhi dan al-Iraqi
memang sangat membantu dalam meneliti keaslian hadis Ihya‟. Akan tetapi,
sekiranya cukup kita katakan bahwasanya takhrij mereka belum sampai pada
tahap final, karena mereka masih belum menemukan keseluruhan sanad dari
periwayatan hadis atau hanya melihat satu hadis dalam satu riwayat tanpa melihat
riwayat lain, kemudian tergesa-gesa dalam menentukan derajat hadis.
Akhirnya az-Zabidi yang hidup pada zaman setelah al-Iraqi dan as-Subkhi
dapat menemukan periwayatan sanad hadis dalam Ihya‟ Ulumuddin secara
keseluruhan dan mengolongkannya dalam derajat shahih dan hasan tanpa ada
hadis maudhu‟ didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
H. Sirajuddin, 2007, Falsafah Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

at-Tarmasi, Syaikh Mahfudz At-Tarmasy Kifayah Al Mustafid, Darul Basyairil


Islamiyyah.

A. Heris dan Yaya Sunarya, 2011, Filsafat, Bandung: CV Insan Mandiri.

al-Subki, Tajuddin Abi Nasr Abdul Wahab, Thabaqāt AlSyafi'iyyah AlKubra,


Kairo: Dār Ihya' alKutub al'Arabiyah.

al-Albani, Syaikh Muhammad Nashiruddin Alalbani Silsilatul Ahaaditsidh


Dha‟ifah wal Maudhu‟ah, Riyadh: Maktabah al-Ma'arif.

Ibnu Katsir, 20012, Bidayah wa al-Nihayah, Riyadh: Dar al-Wathan.

Asqolani, Ibnu Hajar Taqribut Tahdzib, Beirut: Ar-Risalah.

Hasyim Nasution, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama.

Ibnu Murtadlo az-Zabidi, Ittihaf as-Sadah al-Mttaqin, Mesir: Al-Maimuniyah.

Zainuddin al-Iraqi, al-Mughni „an Khamli al-Asfar, Riyadh:Maktabah Thobriyyah

Al-Jawzi, Abul Faraj al-Jawzi Talbis alIblis, Birmingham: Darus Sunah.

Ibnu Taimiyyah, Majmu‟ AlFatawa, Mesir: Darul Falah.

Hussein Bahreisj, Ajaran-ajaran Akhlaq Imam Ghozali, Surabaya : Al-Ikhlas.

Adz-Dzahabi, Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi


Siyarul „Alamin Nubala, Arab Saudi: Bayt AlAfkar Ad-Dauliyyah.

Anda mungkin juga menyukai