0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan37 halaman

SOP Pengeboran: Prosedur dan Tanggung Jawab

SOP ini menjelaskan prosedur kegiatan pengeboran batuan inti untuk memastikan keselamatan dan efektivitas operasional. Tanggung jawab dibagi antara Site Engineer, Driller, dan Helper, dengan fokus pada persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pengeboran. Prosedur juga mencakup pemeriksaan alat dan keselamatan sebelum dan selama operasi pengeboran.

Diunggah oleh

ptkaryasiba
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan37 halaman

SOP Pengeboran: Prosedur dan Tanggung Jawab

SOP ini menjelaskan prosedur kegiatan pengeboran batuan inti untuk memastikan keselamatan dan efektivitas operasional. Tanggung jawab dibagi antara Site Engineer, Driller, dan Helper, dengan fokus pada persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pengeboran. Prosedur juga mencakup pemeriksaan alat dan keselamatan sebelum dan selama operasi pengeboran.

Diunggah oleh

ptkaryasiba
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SOP: KPPN/DRL/02

KEGIATAN PENGEBORAN

Objektif: Objektif dari Pengeboran batuan inti adalah proses teknis


pengambilan dan perlakuan core sample pada kedalaman tertentu untuk
mengetahui jenis litologi, sifat fisik dan kompisisi kimia dari lapisan
yang batuan atau tanah yang dituju.

Tujuan: Prosedur Operasional Standar (SOP) ini bertujuan untuk:


1.1. Mencegah dan atau menghilangkan kecelakaan kerja selama
kegiatan pengeboran;
1.2. Serta mengatur tahapan dan mengendalikan proses kegiatan
pengeboran sesuai standar.
Ditulis oleh: Abdurahman | PT. KPPN
Tahun: 2022
Revisi: 1

1. TANGGUNG JAWAB
1.1. Site Engineer bertanggung jawab untuk:
a. Memastikan kegiatan pengeboran berjalan dengan aman dan
terkendali;
b. Menyiapkan rencana kerja pengeboran beserta target yang ingin
dicapai;
c. Memastikan kegiatan pengeboran sesuai target dan rencana kerja yang
telah disusun sebelumnya secara efektif;
d. Membuat Peta Pengeboran dan Korelasi Pengeboran;
e. Melaporkan kerusakan alat bor dan membuat Surat Pengadaan
Barang/Surat Perbaikan Alat;
f. Melaporkan hasil kegiatan pengeboran setiap bulan ke dalam Laporan
Harian atau Bulanan Kegiatan Pengeboran kepada Kepala Divisi
Engineering TRMP

1
g. Melakukan safety talk di masing-masing area kerja yang dimaksudkan
untuk menanyakan kondisi kesehatan bawahan, memberikan arahan
kepada bawahan mengenai pekerjaan yang akan dilakukan, bahaya-
bahaya yang timbul dan cara pengendaliannya;
h. Menentukan titik bor di lapangan sesuai rencana kerja yang telah
disiapkan Devisi Engineering TRMP
i. Mendeskripsikan batuan hasil coring (core) dan Hasil Pengukurann
SPT ke dalam buku lapangan;
j. Melakukan Instalasi VWP atau Piezometer
k. Melaksanakan penyusunan, pengangkutan dan penyimpanan sample
pengeboran;
l. Melaporkan hasil kegiatan di lapangan kepada Devisi Engineering
TRMP setiap hari ke dalam Lembar Laporan Harian Pengeboran;
m. Membuat Log Bor, dan Ringkasan Data Pengeboran.
n. Memastikan pelaksanaan mobilisasi dan demobilisasi perangkat
pengeboran secara aman;
1.2. Driller (operator bor) bertanggung jawab untuk:
a. Memastikan kegiatan pengeboran berjalan dengan aman dan
terkendali;
b. Melakukan kegiatan pengeboran sesuai titik yang telah ditentukan Site
Engineer;
c. Melaksanakan penyusunan, pengangkutan dan penyimpanan sample
pengeboran;
e. Melaksanakan perawatan perangkat pengeboran;
f. Menjaga alat bor dari kerusakan, keausan atau kondisi alam yang tidak
diinginkan seperti pipa terjepit.

1.3. Helper bertanggung jawab untuk:


a. Membantu Site Engineer dan Driller dalam melaksanakan seluruh
kegiatan pengeboran.

2
2. DEFINISI
2.1. Titik bor adalah titik/lubang (berupa koordinat dan elevasi) dilakukannya
kegiatan pengeboran.
2.2. Chips adalah potongan-potongan batuan hasil kegiatan pengeboran.
2.3. Core adalah sample batuan/tanah yang diambil dengan menggunakan
core barrel.
2.4. Coring adalah kegiatan pemotongan dan pengangkatan batuan dengan
menggunakan core barrel.
2.5. Cutting adalah kegiatan pemotongan dan pengangkatan batuan dengan
teknik open hole menggunakan mata bor.
2.6. Open hole adalah teknik pengeboran tanpa menggunakan selubung
(casing).
2.7. Casing adalah pipa selubung yang ukurannya sama dengan mata bor
guna melindungi pipa/mata bor dari runtuhnya batuan.
2.8. Sample adalah contoh batuan/tanah yang diperoleh dari hasil cutting atau
hasil coring yang diperlakukan khusus sesuai standar dan akan diteliti
kualitasnya di laboratorium.
2.9. Core barrel adalah alat pengambil sample dari dalam tubuh batuan.
2.10.Tabung split adalah tabung tempat mengikat/menjaga sample agar tidak
ikut berputar dengan core barrel.
2.11.Core box adalah kotak kayu tempat diletakkan core sample untuk
memudahkan pendeskripsian dan dokumentasi core sample yang
dibentuk sesuai dengan diameter core sample dan panjangnya
menyesuaikan (biasanya 1 m).
2.12.Buku lapangan adalah buku tulis tempat sementara menuliskan seluruh
kegiatan pengeboran di lapangan.
2.13.Laporan Harian Pengeboran adalah lembar laporan kegiatan harian yang
berisi tanggal, lokasi, alat, deskripsi batuan dan penanggung jawab
laporan.

3
2.14.Log Bor adalah hasil deskripsi batuan setiap titik bor yang dituangkan ke
dalam suatu kolom-kolom.
2.15.Ringkasan Data Pengeboran adalah ringkasan data hasil kegiatan
pengeboran.
2.16.Peta Pengeboran adalah peta pengeboran yang meliputi titik bor, situasi
sekitar kegiatan pengeboran, dan kepemilikan lahan bila datanya telah
ada.
2.17.Korelasi Pengeboran adalah gambar penampang melintang dua dimensi
dari section bor yang telah ditentukan.
2.18.Section bor adalah garis hayal kumpulan titik-titik bor.
2.19.Laporan Bulanan Kegiatan Pengeboran adalah laporan yang meliputi
kemajuan proses pengeboran dan evaluasi kinerja Tim Bor setiap
bulannya.
2.20.Surat Pengadaan Barang adalah surat permohonan pengadaan alat bor
kepada pihak manajemen.
2.21.Surat Perbaikan Alat adalah surat permohonan perbaikan alat bor kepada
pihak manajemen.
2.22.Safety Talk adalah pertemuan K3 yang dilakukan oleh seorang pengawas
dengan anak buahnya untuk memberikan pengarahan tentang K3 yang
berkaitan dengan pekerjaan yang akan dilakukan ataupun membahas hal-
hal yang berkaitan dengan K3 seperti prosedur, kecelakaan yang baru
terjadi, dll. Biasanya dilakukan pada awal gilir kerja dimana kondisi dari
karyawan masih prima.
2.23.Jumlah tumbukan atau Pukulan adalah banyaknya pukulan palu setinngi
76cm pada setiap penetrasi 15cm.
2.24.Konus adalah ujung alat penetrasi yang berbentuk kerucut (Terbuka dan
tertutup untuk menahan perlawanan tanah
2.25.Palu/ Hammer Hammer — Bagian dari rangkaian drive-weight terdiri
dari 140 +/- 2 lb (63.5 +/- 1 kg) berat tumbukan yang diangkat dan
dijatuhkan untuk menyediakan energy untuk mendapatkan sampel dan
penetrasi

4
2.26.Split Barrel Sample adalah alat berupa tabung yang dapat di belah dua
dan kedua ujungnya dipegang oleh mur dan dipasang pada ujung pipa bor
pada saat pelakasanaan pengujian SPT
2.27.Standard Penetration Test (SPT) adalah suatu metode uji yang
dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui
perlawanan dinamik tanah maupun pengambilah contoh sampel
terganggu dengan teknik penumbukan.
2.28.Core Recovery - Core recovery adalah panjang aktual sampel dalam
meter atau persen dari interval logging. % Core recovery = (Core
recovery (m) / core run (m)) x 100 %
2.29.Drill rod - Rods digunakan untuk meneruskan gaya dan torsi kebawah ke
drill bit saat mengebor borehole dan untuk mengalirkan aliran air atau
flushing medium ke drilling bit.
2.30.N-value — Representasi jumlah pukulan dari tahanan penetrasi tanah.
Representasi N-value dilaporkan dalam pukulan per kaki, sama dengan
jumlah angka dari pukulan yang dibutuhkan untuk penetrasi sampler
interval 6 hingga 18 inch (150 hingga 450 mm). Tinggi jatuh hammer
adalah 76 cm (+/- 25mm).

3. REFERENSI
3.1. JORC Code.
3.2. SNI 4153:2008 Cara Uji Penetrasi lapangan Dengan SPT
3.3. SNI 2436:2008 tentang Tata Cara Pencatatan dan Identifikasi Hasil
Pengeboran Inti.
3.4. Peraturan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
3.5. Standar Keselamatan Pengangkutan Alat Berat

4. URAIAN

5
4.1. Penentuan titik bor dilakukan oleh Site Engineer bekerja sama dengan
Driller, dan Helper atas perintah dan rencana Devisi Engineering TRMP.
4.2. Pembuatan lokasi bor yang meliputi pembuatan lasbit, meratakan tanah
untuk pijakan mesin bor dll.
4.3. Moving mesin bor dan peralatan yang menunjang pengeboran lainnya
dengan bantuan crane truck, Excavator dan Flatbed
4.4. Setting dan assembling (pasang) mesin bor dan peralatan yang menunjang
pengeboran.
4.5. Pelaksanaan pengeboran, meliputi :
a. Geotechnical Drilling ( Coring, Pengukuran data SPT, Pengambilan
Sampel Undistrube, Grouting, Instalasi VWP/Piezometer.
b. Pre-Drilling ( Coring, Grouting, Pemasangan PVC casing dan
Pemasangan Papan Informasi)

5. PROSEDUR KERJA AMAN


5.1. Pengecekan Pre-Operational
Lakukan Pengisian Daily Check List sebelum melakukan Pekerjaan
kemudian ditandai di kolom remarks Sebelun memulai pekerjaan.
5.1.1. Pemeriksaan Awal
a. Dokumentasi
o Periksa dokumen perizinan dan sertifikasi alat bor.
o Pastikan manual pengguna dan panduan perawatan tersedia.
b. Kondisi Umum
o Periksa kebersihan dan kondisi fisik alat bor.
o Pastikan tidak ada kerusakan atau keausan pada bagian utama alat
dan Kunci pipa lainnya.
5.1.2. Pemeriksaan Bagian-Bagian Utama
a. Rig Bor

o Cek sistem hidrolik: pastikan tekanan dan level oli sesuai


spesifikasi.
o Periksa sistem penggerak dan kontrol: pastikan berfungsi dengan
baik.

6
o Cek kondisi dan sambungan hose
o Periksa kondisi dan sambungan seling
b. Pipa Bor dan Casing
o Periksa kondisi pipa bor dan casing: tidak ada retakan atau korosi.
o Pastikan koneksi dan sambungan pipa dalam kondisi baik dan
terpasang dengan benar.
c. Mata Bor
o Cek mata bor untuk keausan atau kerusakan: ganti jika diperlukan.
o Pastikan mata bor terpasang dengan aman.
d. Core Barrel dan Inner Tube
o Periksa core barrel dan inner tube: pastikan tidak ada kerusakan.
o Periksa keausan atau sisa tanah di bagian dalam.
e. Sistem Pendingin dan Pelumas
o Pastikan sistem pendingin berfungsi dengan baik: cek level dan
kualitas cairan pendingin.
o Periksa sistem pelumas: pastikan pelumas cukup dan tidak bocor.
5.1.3. Pemeriksaan Keselamatan
a. Alat Pelindung Diri (APD)
o Pastikan semua APD seperti helm, kacamata, sarung tangan, dan
sepatu pelindung tersedia dan dalam kondisi baik.
b. Peralatan Keselamatan
o Periksa adanya perangkat keselamatan tambahan seperti pemadam
kebakaran dan kondisi Alat pelindung Jatuh (Safety Body Harnes)
c. Pemeriksaan Kebocoran
o Periksa kemungkinan kebocoran pada sistem hidrolik dan bahan
bakar.
5.1.4. Pemeriksaan Fungsional
a. Uji Coba Alat
o Lakukan uji coba alat bor untuk memastikan semua fungsi
beroperasi dengan baik.
o Cek kecepatan dan tekanan bor selama uji coba.
b. Pengaturan dan Kalibrasi
o Pastikan semua pengaturan dan kalibrasi alat bor sesuai dengan
spesifikasi pabrik.

7
5.1.5. Pemeriksaan Kesiapan Operasional
a. Kesiapan Personel
o Pastikan operator dan teknisi terlatih dan memahami prosedur
operasional alat bor dan dalam keadaan sehat untuk bekerja.
b. Dokumentasi dan Catatan
o Catat hasil pemeriksaan dan perbaikan dalam buku lapangan atau
laporan checklist alat bor.
Dengan mengikuti SOP ini, Anda memastikan alat bor dalam kondisi optimal
dan siap untuk digunakan, sehingga meningkatkan efisiensi dan keamanan selama
proses pengeboran.
5.2. Lokasi Pengeboran
a. Kebersihan dan Kesiapan Area
o Bebas dari Gangguan: Pastikan area pengeboran bebas dari
gangguan luar dan tidak ada interaksi dengan pekerjaan lain
kecuali untuk supervisi efektif.
o Kebersihan: Area harus dibersihkan dari sampah, puing, atau
material lain yang dapat menghalangi proses pengeboran atau
membahayakan keselamatan.
b. Akses dan Evakuasi
o Akses Lebar: Sediakan akses dengan lebar yang memadai dan
bebas rintangan untuk evakuasi cepat ke area aman jika terjadi
keadaan darurat.
o Rute Evakuasi: Tandai dan jaga rute evakuasi yang jelas dan
mudah diakses, serta pastikan semua personel mengetahui rute
tersebut.
c. Penghalang dan Tanda Keamanan
o Penghalang: Pasang penghalang atau pagar di sekitar area
pengeboran untuk mencegah akses tidak sah.
o Tanda Keamanan: Pasang tanda peringatan dan instruksi
keamanan yang jelas di sekitar area pengeboran, termasuk simbol
bahaya, petunjuk keselamatan, dan larangan masuk.

8
d. Kesiapan Peralatan
o Periksa Peralatan: Pastikan semua peralatan pendukung, seperti
lampu penerangan dan sistem komunikasi, berfungsi dengan baik
untuk mendukung keamanan dan efektivitas operasional.
o Pemeliharaan Rutin: Lakukan pemeliharaan rutin pada alat dan
fasilitas di sekitar area pengeboran untuk mencegah potensi
bahaya.
e. Pengawasan dan Pelatihan
o Supervisi Efektif: Tetapkan personel yang terlatih untuk
mengawasi area pengeboran dan memastikan kepatuhan terhadap
prosedur keselamatan.
o Pelatihan: Berikan pelatihan keterampilan terhadap pertolongan
pertama (First Aid) terhadap semua personel.

5.3. Operasi Pengeboran


a. Selama Operasi
o Pakai Alat Pelindung Diri (APD): Gunakan APD yang sesuai
seperti helm, kacamata pelindung, sarung tangan, dan sepatu
pelindung.
o Monitoring Peralatan: Pantau kondisi peralatan secara berkala
untuk mendeteksi adanya masalah atau keausan yang bisa
membahayakan.
o Pengendalian Risiko: Resiko dalam setiap step pekerjaan harus
sudah terkendali. Jika pekerjaan tersebut tidak aman segera
hentikan pekerjaan dan lapor ke pengawas dan setiap pekerja
paham dan siap dengan rencana darurat misal sistem pemadam
kebakaran jika terjadi kebakaran atau masalah lainnya.
o Komunikasi: Pastikan adanya komunikasi yang jelas dan efektif
antara semua anggota tim untuk menghindari kesalahan dan
kecelakaan.
b. Pemeriksaan Berkala:

9
o Inspeksi Rutin: Lakukan inspeksi rutin sesuai jadwal yang
ditetapkan untuk mendeteksi tanda-tanda keausan atau kerusakan.
o Pembersihan: Bersihkan alat bor secara berkala untuk
menghindari penumpukan debu atau kotoran yang dapat
mengganggu fungsi alat.
c. Perbaikan dan Penggantian:
o Ganti Komponen Rusak: Segera ganti komponen yang rusak atau
aus untuk mencegah kerusakan lebih lanjut atau kegagalan alat.
o Periksa Sistem Pelumasan: Pastikan sistem pelumasan berfungsi
dengan baik untuk menghindari gesekan berlebih yang bisa
menyebabkan kerusakan.
d. Dokumentasi dan Catatan:
o Catat Aktivitas Pemeliharaan: Dokumentasikan semua aktivitas
pemeliharaan, termasuk inspeksi, perbaikan, dan penggantian
komponen.
o Review dan Update: Tinjau dan perbarui prosedur pemeliharaan
berdasarkan pengalaman dan masalah yang ditemukan selama
pemeliharaan.
e. Keamanan Selama Pemeliharaan Komponen Mesin Bor
o Nonaktifkan Sumber Energi: Pastikan alat bor dalam keadaan
mati dan tidak terhubung dengan sumber energi sebelum
melakukan pemeliharaan.
o Gunakan Alat dan Peralatan yang Tepat: Gunakan alat dan
peralatan yang sesuai untuk melakukan pemeliharaan agar tidak
merusak alat bor lebih lanjut atau menyebabkan cedera.
o Isolasi Sumber Energi: Matikan mesin bor dan pompa, serta
isolasikan semua sumber energi (listrik, hidrolik, pneumatik).
o Lockout: Pasang kunci pengaman (lockout) pada saklar atau valve
untuk memastikan tidak ada aliran energi.
o Tagout: Tempelkan label tagout yang mencantumkan informasi
tentang siapa yang melakukan isolasi dan kapan isolasi dilakukan.

10
o Periksa: Verifikasi bahwa mesin dan pompa benar-benar tidak
aktif dengan mencoba mengoperasikan kontrol secara manual.
o Konfirmasi: Pastikan semua anggota tim menyadari bahwa sistem
dalam keadaan lockout-tagout.
o Uji Coba: Setelah perbaikan selesai, lakukan uji coba untuk
memastikan bahwa mesin dan pompa berfungsi dengan baik.
o Periksa Kembali: Periksa semua sambungan dan komponen untuk
memastikan tidak ada masalah yang tersisa.
o Hapus Tag dan Kunci: Setelah memastikan semua perbaikan
selesai dan mesin dalam kondisi baik, hapus tagout dan kunci
lockout.
o Kembalikan Energi: Aktifkan kembali sumber energi dengan
hati-hati.
o Laporkan: Catat semua aktivitas perbaikan dan kembalikan sistem
ke kondisi operasional normal dan Lakukan laporan akhir kepada
supervisor dan dokumentasikan hasil perbaikan.
f. Memastikan keselamatan saat memanjat rig atau melakukan
pekerjaan di ketinggian
o Penggunaan Body Harness: Selalu gunakan body harness yang
lengkap dan penahan jatuh. Pastikan harness dalam kondisi baik
dan sesuai standar.
o Alternatif Akses: Jika memungkinkan, turunkan atau rebahkan
menara rig untuk mengakses area yang bermasalah tanpa perlu
memanjat. Ini mengurangi risiko cedera.
o Persiapan Memanjat: Jika menara tidak bisa direbahkan, pastikan
semua persiapan dilakukan dengan lengkap:
 Ijin Bekerja: Isi form izin bekerja di ketinggian.
 Kondisi Kru: Pastikan semua kru dalam kondisi fit dan
memiliki lisensi atau sertifikasi yang sesuai untuk bekerja di
ketinggian.
g. Pemeriksaan Peralatan

11
 Anchor Point: Identifikasi dan pastikan anchor point kuat dan
aman.
 Pemeriksaan Body Harness: Periksa kelayakan alat pelindung
jatuh secara berkala.
 Tangga: Pastikan tangga terpasang dengan kokoh dan telah
diperiksa.
h. Teknik Keselamatan
 100% Tie Off: Selalu pastikan 100% tie off saat bekerja di
ketinggian.
 3 Point Kontak: Gunakan teknik 3 point contact untuk menjaga
stabilitas saat memanjat atau bergerak di rig.

6. PROSEDUR OPERASIONAL
6.1. Geotechnical Drilling
Pengeboran geotek akan dilaksanakan menggunakan metode dan peralatan
sesuai dengan ASTM D 1452-80, “Standard Practice for Soil Investigation
and Sampling by Auger Borings”, ASTM D 420 - 87, “Standard Guide for
Investigating and Sampling Soil and Rock”, ASTM D 2488 - 84, “Standard
Practice for Description and Identification of Soils (Visual - Manual
Procedure), using rotary boring machine with capacity sufficient for the job”,
dan ASTM D 2113 – 99, “Standard Practice for Rock Core Drilling and
Sampling of Rock for Site Investigation”.
6.1.1. Coring
a. Lakukan pengeboran coring (sesuai instruksi dari Site Engineer).
Menggunakan mata bor PDC atau Diamond ukuran HQ (panjang 20
cm) dan pipa ukuran HQ (panjang 1,5 dan 3 m), pengeboran coring
awal sampai kedalaman 1,5m dilanjutkan dengan pengambilan data
sampel SPT 0,45m. Kemudian coring kembali 1,05m. Lakukan
Pengambilan sampel coring dan pengukuran SPT dengan Interval
SPT 1,5m sampai dengan kedalaman yang dituju.

12
b. Lakukan pemotongan dan pengangkatan core sample jika tabung
core barrel sudah penuh atau terjadi sesuatu yang mengharuskan
core sample untuk dipotong dan diangkat sebelum tabung core
sample penuh (keputusan Driller).
c. Ukur dan catat kedalaman/ketebalan pengeboran pemotongan dan
pengangkatan core sample di buku lapangan.
d. Ukur dan catat kemajuan kedalaman coring di buku lapangan.
e. Keluarkan core sample bersama tabung split dengan cara disemprot
menggunakan air. Dilarang mengeluarkan core sample dan tabung
split dengan cara dipukul-pukul atau dengan cara lain yang dapat
membahayakan kondisi core sample dalam keadaan utuh dan baik.
f. Ukur dan catat panjang core sample yang didapat sebelum diletakan
pada core box.
g. Letakkan dan susun core sample di core box sesuai petunjuk
mengenai perlakuan dan perawatan core sample. (Lihat SOP
Perlakuan dan Perawatan Sample batuan/tanah Hasil Coring)
h. Driller dan helper mengeluarkan core sample yang berada dalam
tabung core barrel bersama-sama dengan tabung split.
i. Panjang core sample langsung diukur untuk mengetahui recovery
core sample.

j. Core sample yang sudah dikeluarkan kemudian diletakkan pada core


box (kotak untuk meletakkan core sample hasil pengeboran). Core
box dibuat sesuai dengan ukuran core sample, panjang 1 meter lebar
disuaikan. Satu core box dibuat untuk total kedalaman 5 meter.
k. Penyusunan core sample dimulai dari ujung pojok kiri (top/roof) dan
seterusnya menyambung dari top/roof sampai bottom/floor.
l. Core box diberi tanda atau kode nomor lokasi bor, interval
kedalaman bor dan nomor box.

13
m. Kondisi core sample maupun core box harus dalam keadaan aman
dan terlindung dari sinar matahari langsung.
n. Bersihkan semua lumpur pengeboran dari core sample menggunakan
air bersih.

Gambar 1. Core Box (pandangan atas), tanda panah dalam box menunjukkan
arah cara meletakan core sample.

o. Lakukan deskripsi/pemerian core sample secara megaskopis dengan


teliti dan benar, kemudian tulis di buku lapangan.
p. Tulis interval core sample di buku lapangan.
q. Potret core box yang sudah terisi core sample seluruhnya dengan
menggunakan kamera.
r. Lakukan pengeboran coring sampai lapisan batuan/tanah terambil
semua atau sampai dengan intruksi dari Site Egineeer atau Pengawas
dilapangan
s. Pengeboran dihentikan sesuai dengan intruksi pengawas (Site
Engineer yang ditunjuk).
t. Cabut satu demi satu pipa bor yang telah masuk hingga selesai. Pipa
bor yang telah dicabut dikumpulkan dan diletakkan tidak terlalu jauh
dari mesin bor.

14
u. Tulis kode core, kode lokasi bor, lokasi pengambilan core sample,
interval core

6.1.2. Standard Penetration Test (SPT)

Metode Pengujian Penetrasi Dengan AIat SPT, yang


mengacu pada ASTM D 1586-84 “Standard penetration test and
split barrel sampling of soils”. Standar ini menetapkan cara uji
penetrasi lapangan dengan SPT, untuk memperoleh parameter
perlawanan penetrasi lapisan tanah di lapangan dengan SPT.
Parameter tersebut diperoleh dari jumlah pukulan terhadap
penetrasi konus, yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi
perlapisan tanah yang merupakan bagian dari desain Jalan
Tanggul Barat dan Tanggul timur di Area Lowland PTFI.

6.1.2.1. Ketentuan dan persyaratan

a. Peralatan : Peralatan yang diperIukan daIam uji penetrasi dengan SPT


adaIah sebagai berikut:
o Mesin bor yang diIengkapi dengan peralatannya
o Mesin pompa yang diIengkapi dengan peraIatannya
o Split barrel sampler yang diIengkapi dengan dimensi seperti
(ASTM D 1586-84)
o PaIu dengan berat 63,5 kg dengan toleransi meIeset 1%.
o AIat penahan (tripod)
o Rol meter
o AIat penyipat datar
o Kerekan
o Kunci-kunci pipa
o Seling yang cukup kuat untuk menarik paIu
o PerIengkapan Iain.

15
Gambar 2 Conus Split spoon SPT sistem terbuka dan tertutup

b. Bahan dan Perlengkapan : Bahan penunjang pengujian yang


dipergunakan adaIah:
o Bahan pelumas
o Balok dan papan
o Tali atau selang
o Alumnium foil
o Pipa PVC ukuran 2 Inc dengan panjang 45cm dan setiap ujung
Pipa PVCnya ditutup dengan Dop
o Formulir untuk pengujian

c. Pengujian penetrasi dengan SPT: HaI-haI yang perIu diperhatikan


daIam pengujian penetrasi dengan SPT adaIah:
o Peralatan harus lengkap dan layak pakai
o Pengujian dilakukan daIam lubang bor
o Interval pengujian dilakukan pada kedalaman antara 1,50 m

16
s.d 2,00 m (untuk lapisan tanah tidak seragam) dan pada
kedalaman 4,00 m kalau Iapisan seragam.
o Pada tanah berbutir haIus, digunakan ujung split barrel
berbentuk konus terbuka (open cone); dan pada lapisan pasir
dan kerikil, digunakan ujung split barrel berbentuk konus
tertutup (close cone).

o Contoh tanah tidak asli diambil dari split barrel sampler;

o Sebelum pengujian dilakukan, dasar lubang bor harus


dibersihkan terlebih dahulu;
o Jika ada air tanah, harus dicatat;
o Pipa untuk jaIur palu harus berdiri tegak lurus untuk
menghindari terjadinya gesekan antara palu dengan pipa
o Formulir-formulir isian hasil pengujian.

6.1.2.2. Cara Pengujian SPT

a. Persiapan pengujian SPT Lakukan persiapan pengujian SPT di


Iapangan dengan tahapan sebagai berikut (Gambar 3):
o Pasang bIok penahan (knocking block) pada pipa bor;

o Beri tanda pada ketinggian sekitar 75 cm pada pipa bor yang


berada di atas penahan;
o Iubang bor pada kedaIaman yang akan diIakukan pengujian
dari bekas-bekas pengeboran;
o Pasang split barrel sampler pada pipa bor, dan pada
ujung Iainnya disambungkan dengan pipa bor yang
teIah dipasangi bIok penahan;
o Masukkan peraIatan uji SPT ke daIam dasar Iubang
bor atau sampai kedaIaman pengujian yang
diinginkan;

17
o Beri tanda pada batang bor muIai dari muka tanah sampai
ketinggian 15 cm, 30 cm dan 45 cm.

b. Prosedur pengujian SPT Lakukan pengujian dengan tahapan


sebagai berikut:
o Lakukan pengujian pada setiap perubahan Iapisan tanah atau
pada intervaI sekitar 1,50 m s.d 2,00 m atau sesuai keperIuan

o Tarik taIi pengikat paIu (hammer) sampai pada tanda yang


teIah dibuat sebeIumnya (kira-kira 75 cm);
o Lepaskan taIi sehingga paIu jatuh bebas menimpa penahan
(Gambar 3)
o UIangi 2) dan 3) berkaIi-kaIi sampai mencapai penetrasi 15 cm;
o Hitung jumIah pukuIan atau tumbukan N pada penetrasi 15 cm
yang pertama;

o UIangi 2), 3), 4) dan 5) sampai pada penetrasi 15 cm yang ke-


dua dan ke-tiga;
o Catat jumIah pukuIan N pada setiap penetrasi 15 cm: 15 cm
pertama dicatat N1, 15 cm kedua dicatat N2, 15 cm ketiga dicatat
N3; Jumlah pukulan yang dihitung adalah N2+N3. Nilai N1
tidak diperhitungkan karena masih ada pengotor bekas
pengeboran (coring)
o BiIa niIai N Iebih besar daripada 50 pukuIan, hentikan
pengujian dan tambah pengujian sampai minimum 6 meter;
o Catat jumIah pukuIan pada setiap penetrasi 5 cm untuk jenis

18
tanah batuan.
Gambar 3 Metode Standard Penetration Test

6.1.3. Sampel Undistrube (UDS)


Undisturbed samples dilaksanakan untuk keperluan
pengujian laboratorium. Pelaksanaan pengambilan contoh tanah
tidak terganggu (Undisturbed Sampling) mengacu pada ASTM D
158-94 “Standard Practice for Thin-Walled Tube Geotechnical
Sampling of Soils”. Contoh tanah undisturbed diambil dari
kedalaman tertentu dengan menggunakan Shelby tube sampler
(thin walled tube sampler) ukuran OD 3 inch dan ID 2 7/8 inch,
tebal tabung 1/16 inch, dengan panjang 50 cm. tabung yang
dipakai tipe fixed – piston sampler yang terbuat dari baja/
kuningan. Selanjutnya contoh tanah dilindungi dari goncangan,
getaran dan perubahan kadar air, yang bertujuan untuk menjaga
struktur tanah dan komposisi fisiknya tetap seperti kondisi aslinya,
sampai contoh tersebut dikeluarkan untuk kemudian diuji di
laboratorium

6.1.3.1. Prosedur Pengambilan Sampel Undistrube (UDS)


a. Dasar lubang bor di mana akan diambil contoh tanah harus
bersih dari sisa pengeboran dengan cara memompakan air ke
dalam lubang bor, lama mencuci minimum 5 menit.
b. Ujung bawah casing pada saat itu harus berada pada dasar
lubang untuk menghindarkan adanya longsoran pada dasar
lubang.
c. Setelah lubang bersih, tabung contoh tanah ditekan dengan
tenaga gearbox secara perlahan. Penekanan dilakukan dengan
hati-hati dan perlahan agar air yang terdapat di dalam tabung

19
diberi kesempatan keluar melalui katup. Dalam segala hal tidak
diperkenankan menekan tabung dengan pukulan.
d. Sebelum ditarik, tabung harus diputar 360 o untuk melepaskan
tabung beserta isi kemudian diangkat keluar.
e. Tanah pada kedua ujung tabung harus dibuang secukupnya dan
ruang itu kemudian diberi parafin panas sebagai penutup dan
pelindung tanah dalam tabung. Tebal parafin minimum1 cm dan
bagian atas 3 cm.
f. Untuk pelaksanaan test laboratorium di lapangan contoh tana
dapat dipotong dengan hati-hati sesuai panjang yang diperlukan.
g. Pengangkutan sample harus dilakukan hati-hati, dijaga dari
guncangan dan beda temperatur yang tinggi.

6.1.3.2. Penanganan dan Penyimpanan Sampel Undistrube (UDS)


o Tutup Sampel: Setelah lapisi dengan parafin Segera tutup tabung
sampel dengan dop untuk mencegah kontaminasi dan kehilangan
kelembaban.
o Label: Labeli sampel dengan informasi yang jelas, termasuk
lokasi, kedalaman, tanggal, dan waktu pengambilan.
o Packing sampel dengan Benar: setelah dilabeli sampel UDS
segera di packing dengan Bubble wrap dan kembali di labeli
mengenai informasi Sampel UDS.

6.1.4. Grouting
6.1.4.1. Persiapan Bahan dan Peralatan
a. Bahan:
o Semen Portland: Digunakan sebagai bahan dasar semen yang
mengikat campuran, memberikan kekuatan dan kestabilan
campuran.
o Bentonite: Menambah sifat pengikatan dan menahan air, serta
meningkatkan plastisitas campuran.

20
o Powder Barite: Digunakan untuk meningkatkan nilai spesifik
gravitas campuran.
o Air: Digunakan untuk mencampur bahan-bahan tersebut.
b. Peralatan:
o Tangki atau Wadah Campur: Untuk mencampur bahan-bahan
grouting.
o Alat Ukur: Untuk mengukur rasio bahan dan spesifik gravitas.
o Pompa Grouting: Untuk menyuntikkan campuran ke dalam
lubang bor.
o Alat Pengaduk: Untuk memastikan campuran homogen.
6.1.4.2. Persiapan Campuran
a. Rasio Campuran:
o Air: 5 bagian
o Semen Portland: 1 bagian
o Bentonite: 0,35 bagian
o Powder Barite: Secukupnya (untuk mencapai spesifik gravitas
yang diinginkan)

b. Langkah-Langkah Campuran:
o Pengukuran: Ukur semua bahan sesuai rasio yang telah
ditetapkan.
o Pengadukan Kering: Campurkan semen Portland, dan bentonite
dalam wadah pengaduk kering untuk memastikan distribusi yang
merata.
o Penambahan Air: Tambahkan air secara bertahap sambil
mengaduk campuran kering sampai mendapatkan konsistensi yang
diinginkan. Biasanya, konsistensi ini adalah yang cukup kental
untuk dapat dipompa dengan baik tetapi tidak terlalu kental
sehingga menyulitkan proses injeksi.

21
o Penambahan Powder Barite: Tambahkan powder barite sedikit
demi sedikit sambil terus mengaduk untuk mencapai nilai spesifik
gravitas yang diinginkan.
6.1.4.3. Pengukuran Spesifik Gravitas
o Metode Pengukuran: Gunakan alat ukur spesifik gravitas (seperti
Mud Balance) untuk mengukur nilai spesifik gravitas campuran.
o Target: Pastikan nilai spesifik gravitas minimal adalah 1,15. Jika
nilai spesifik gravitas kurang dari target, tambahkan lebih banyak
powder barite dan aduk kembali sampai mencapai nilai yang
diinginkan.
6.1.4.4. Proses Injeksi
a. Langkah-Langkah Injeksi:
o Persiapan: Pastikan area dan peralatan siap untuk proses injeksi.
o Injeksi dari Dasar Lubang Bor: Mulailah injeksi campuran
grouting dari dasar lubang bor ke kedalaman yang diinginkan.
Pastikan untuk menyuntikkan campuran secara perlahan dan
merata untuk mencegah terjadinya void atau pengisian tidak
merata.
o Kontrol Tekanan: Monitor tekanan injeksi untuk memastikan
campuran disuntikkan dengan tekanan yang sesuai agar tidak
merusak lubang bor atau material sekitarnya.
6.1.4.5. Pemantauan dan Evaluasi
o Pemantauan: Pantau proses injeksi untuk memastikan bahwa
campuran grouting tidak mengalami masalah seperti penyumbatan
atau kebocoran.
o Evaluasi Hasil: Setelah injeksi selesai, evaluasi hasilnya untuk
memastikan campuran grouting telah memenuhi spesifikasi dan
mencapai kedalaman yang diinginkan.

6.1.5. Instalasi Vibrating Wire Piezometer (VWP)


6.1.5.1. Persiapan Piezometer

22
o Rendam Piezometer: Sebelum pemasangan, rendam piezometer
wire getar (VWP) dalam ember berisi air bersih selama 24 jam.
Tujuan dari proses ini adalah untuk mengisi reservoir di ujung
piezometer dengan air dan memastikan filter pori tidak kering.
o Persiapan Filter Pori: Lepaskan filter pori dari ujung piezometer
dan letakkan piezometer di bawah air dengan ujung menghadap ke
atas. Ini memungkinkan air mengisi reservoir. Rendam juga filter
pori dalam air bersih selama 24 jam sebelum memasangnya
kembali ke ujung piezometer.
6.1.5.2. Kalibrasi dan Pemeriksaan
o Sambungkan dan Kalibrasi: Sambungkan piezometer ke kotak
pembaca VWP dan catat pembacaan awal. Bandingkan pembacaan ini
dengan pembacaan nol pada catatan kalibrasi untuk memastikan
piezometer berfungsi dengan baik. Pembacaan nol lapangan
seharusnya mendekati pembacaan nol pabrik.

6.1.5.3. Persiapan Lubang Bor


o Tinjau Rencana: Tinjau rencana lubang bor untuk
mengidentifikasi formasi target dan kedalaman target piezometer
yang diperkirakan.
o Identifikasi Formasi: Selama pengeboran, identifikasi formasi
yang ditargetkan. Kedalaman akhir lubang bor setelah proses
grouting, harus dikonfirmasi kembali sesuai dengan rencana.
6.1.5.4. Penempatan Pipa Tremie
o Persiapan Pipa Tremie: Letakkan pipa tremie yang kira-kira 4
meter (m) lebih panjang dari kedalaman di bawah permukaan tanah
dari piezometer terdalam. Pipa tremie akan memanjang 2 m di
bawah piezometer terdalam dan sekitar 2 m di atas permukaan saat
pemasangan selesai. Jika pipa tremie disambung, beri label pada

23
setiap bagian pipa untuk melacak pemasangan dan penempatan
piezometer.
6.1.5.5. Pemasangan Piezometer ke Pipa Tremie
o Rekatkan Piezometer: Rekatkan piezometer terdalam ke pipa
tremie kira-kira 2 m dari ujung bawah pipa tremie. Pastikan ujung
piezometer menghadap ke atas selama pemasangan. Kabel
piezometer harus dilipat longgar dan direkatkan ke pipa tremie.
o Penempatan Piezometer Berikutnya: Ukur pipa tremie hingga
ujung piezometer berikutnya dan rekatkan piezometer berikutnya
ke pipa tremie dengan cara yang sama. Jangan menutupi filter pori
dengan selotip. Pastikan kabel piezometer tidak saling bersentuhan;
rekatkan kabel secara terpisah di sisi berlawanan dari pipa tremie.
Ulangi langkah ini untuk piezometer tambahan dan catat nomor
seri piezometer sesuai urutan kedalaman.
6.1.5.6. Pengaturan Kabel
o Rekatkan Kabel: Rekatkan kabel setiap 2 m sepanjang pipa tremie
untuk menjaga kabel terpisah satu sama lain. Langkah ini
memerlukan kehati-hatian untuk memastikan kabel tidak tertarik
atau terjepit.
6.1.5.7. Pemasangan Pipa Tremie di Lubang Bor
o Tandai Permukaan Tanah: Tandai kedalaman permukaan tanah
pada pipa tremie dengan selotip. Pasang pipa tremie di casing
stabilisasi lubang bor, pastikan penanda permukaan tetap pada
tingkat tanah untuk sisa pemasangan.
6.1.5.8. Uji dan Isi Lubang Bor
o Uji Piezometer: Uji setiap ujung piezometer dan catat pembacaan
pada catatan pemasangan. Ini adalah kesempatan terakhir untuk
memastikan piezometer berfungsi dengan baik sebelum
pemasangan selesai.
o Isi Annulus: Mulai isi annulus lubang bor antara casing stabilisasi
luar dan pipa tremie dengan pelet bentonite yang dilapisi. Gunakan

24
bola timah bundar pada tali panjang yang tidak melar untuk
menunjukkan tingkat pelet dan pasir yang dipasang saat lubang bor
diisi kembali.
6.1.5.9. Grouting dan Pengisian
o Isi Lubang Bor: Isi lubang bor dengan bentonite hingga 1 m di
bawah ujung piezometer terdalam. Lakukan ini perlahan untuk
menghindari bridging pada bentonite dan memungkinkan
pengukuran yang lebih akurat dari permukaan pelet bentonite saat
naik.
o Pasir: Gunakan pasir bersih (kurang dari 5% bahan yang lebih
halus dari 0,075 mm [Saringan No. 200]) untuk mengelilingi VWP
sehingga terhubung secara hidraulik dengan tanah pemasangan.
Sekitar 1 m pasir harus digunakan di bawah dan di atas ujung
piezometer. Ketebalan pasir yang sebenarnya harus dikonfirmasi
oleh Perwakilan Klien sebelum pemasangan. Pastikan ada
setidaknya 1 m bentonite antara perubahan stratigrafi tanah.

6.1.5.10. Penyelesaian Pemasangan


o Lapisan Bentonite dan Pasir: Ulangi penempatan lapisan
bentonite dan pasir sesuai kebutuhan hingga backfill bentonite
mencapai bagian atas lubang bor.
o Hapus Casing: Hapus seksi casing stabilisasi lubang bor luar satu
per satu setelah tingkat backfill bentonite dan pasir di dalam casing
mencapai ketinggian sekitar 2 m di atas setiap sambungan casing.
Hati-hati agar tidak menghapus casing dengan laju yang membuat
bagian bawah casing berada di atas bagian atas backfill bentonite /
pasir di dalam casing. Verifikasi pipa tremie dan kedalaman
backfill sebelum dan setelah setiap bagian casing dihapus.
6.1.5.11. Verifikasi Akhir
o Pembacaan VWP: Ambil pembacaan VWP pasca pemasangan
dan catat pada catatan pemasangan.

25
o Catat Informasi: Lengkapi catatan pemasangan instrumen,
sertakan semua informasi pemasangan yang tersedia (kedalaman
as-built, nomor seri, dll.).
o Pembacaan Datalogger: Ambil pembacaan manual dari
datalogger untuk memastikan kabel terhubung dengan benar.
o Atur Datalogger: Atur datalogger untuk merekam pada interval
yang diinginkan.
6.2. Pre Drilling
Pre-Drill adalah Pemboran soil Investigation untuk mendapatkan tanah asli
(Original Ground)
6.2.1. Prosedur Kerja Pre Drill
o Mulai Pengeboran: Nyalakan mesin bor dan mulai pengeboran
dengan kecepatan rendah. Ini penting untuk menghindari tekanan
berlebih pada pipa bor dan untuk mengontrol penggerusan material.
o Kontrol Tekanan dan Kecepatan: Sesuaikan kecepatan putar dan
tekanan pengeboran untuk menghindari kerusakan pada pipa bor
atau mata bor. Tekanan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan pipa
bor terjepit di dalam gravel.
o Tanda Terjepit: Jika pipa bor mengalami kesulitan dalam bergerak
atau terlihat terjepit, hentikan pengeboran segera.
o Sementing: Untuk mengatasi runtuhan atau kesulitan pengeboran,
lakukan sementing. Campurkan semen dengan rasio yang sesuai
dan injeksikan ke dalam lubang bor. Semen ini akan membantu
menstabilkan material di sekeliling pipa bor dan mencegah
runtuhan lebih lanjut.
o Pengaturan Campuran: Sesuaikan rasio campuran semen sesuai
dengan spesifikasi teknis dan kondisi material timbunan.
o Reaming: Setelah semen mengeras, lakukan reaming untuk
membersihkan dan meratakan dinding lubang bor. Gunakan alat

26
reamer yang sesuai untuk menghilangkan sisa-sisa semen dan
material timbunan.
o Ulangi Pengeboran: Lanjutkan pengeboran dengan hati-hati,
ulangi proses sementing dan reaming jika diperlukan, hingga
mencapai kedalaman original ground.
o Verifikasi Kedalaman: Secara berkala, periksa kedalaman lubang
bor dengan menggunakan alat pengukur kedalaman untuk
memastikan bahwa kedalaman yang dicapai sesuai dengan target.
o Kondisi Pipa Bor: Pastikan pipa bor dalam kondisi baik dan tidak
mengalami kerusakan atau keausan yang signifikan.
6.2.2. Pemasanagan Pipa PVC
o Setelah mencapai kedalaman original ground, pasang pipa PVC
berukuran 3 inci ke dalam lubang bor.
o Pasang Pipa PVC: Turunkan pipa PVC ke dalam lubang bor
dengan hati-hati hingga posisi yang diinginkan.
o Periksa Kestabilan: Pastikan pipa PVC terpasang dengan stabil
dan tidak bergerak.
o Penutupan Ujung Pipa: Tutup bagian atas pipa PVC dengan dop
untuk melindungi lubang bor dari kontaminasi dan menjaga
kestabilan hingga pekerjaan Cone Penetration Test dilakukan.
o Catat Data: Dokumentasikan semua data pengeboran, termasuk
kedalaman yang dicapai, waktu pengeboran, serta proses sementing
dan reaming.
o Pemeriksaan Pipa: Periksa pipa PVC dan pastikan semua instalasi
berada dalam kondisi baik.

6.3. Mobilisasi Alat Bor


6.3.1. Persiapan
a. Inspeksi Peralatan

27
o Periksa kondisi crane truck dan flatbed sebelum penggunaan.
Pastikan crane berfungsi dengan baik, termasuk kabel, tambang,
dan alat kontrol.
o Pastikan flatbed dalam kondisi baik, tanpa kerusakan pada
permukaan atau struktur.
b. Persiapan Area Kerja
o Tentukan area kerja yang aman dan cukup luas untuk mobilisasi
alat.
o Pastikan area kerja bebas dari hambatan dan permukaan stabil
untuk parkir crane truck dan flatbed.
c. Pelatihan dan Kualifikasi
o Pastikan operator crane memiliki lisensi dan pelatihan yang sesuai.
o Operator dan kru harus memahami prosedur mobilisasi dan
keselamatan.
6.3.2. Mobilisasi Alat Bor dan Aksesoris
a. Pengangkatan Menggunakan Crane Truck
o Penyiapan Alat: Pastikan semua alat bor, pipa bor, dan mesin
pompa siap untuk dipindahkan.
o Pengikatan: Ikat alat dengan tali pengikat atau sling yang sesuai.
Pastikan pengikatan aman dan alat tidak bergerak selama
pengangkatan.
o Pengangkatan: Operator crane truck harus memastikan bahwa
area di sekitar crane bebas dari orang dan hambatan. Angkat alat
secara perlahan dan stabil, pastikan tidak terjadi goyangan atau
gerakan mendadak.
b. Penempatan pada Flatbed
o Posisi Flatbed: Parkir flatbed pada posisi yang stabil dan aman.
o Pengangkatan ke Flatbed: Gunakan crane truck untuk
mengangkat alat kecil dan mesin-mesin lain ke atas flatbed. Ikat
alat dengan aman pada flatbed untuk mencegah pergeseran selama
perjalanan.

28
o Pemeriksaan: Periksa bahwa semua alat terikat dengan baik dan
tidak ada yang bergerak saat flatbed bergerak.
6.3.3. Transportasi
a. Periksa Kondisi Perjalanan
o Pastikan alat dan aksesoris tetap aman selama perjalanan. Lakukan
pemeriksaan rutin untuk memastikan tidak ada masalah dengan
pengikatan atau alat.
b. Keamanan Selama Transportasi
o Ikuti semua peraturan lalu lintas dan batas kecepatan. Hindari
manuver mendadak dan berhati-hatilah saat melewati jalan yang
tidak rata.
6.3.4. Penurunan dan Penempatan di Lokasi Kerja
a. Penurunan Menggunakan Crane Truck
o Posisi: Tempatkan crane truck di posisi yang stabil dan aman dekat
dengan lokasi kerja.
o Penurunan: Operator crane harus menurunkan alat secara perlahan
dan stabil ke posisi yang telah ditentukan. Pastikan tidak ada orang
di bawah alat selama penurunan.
b. Penempatan di Lokasi Kerja
o Pastikan alat ditempatkan pada area yang stabil dan sesuai dengan
rencana pemasangan. Periksa semua alat dan pastikan mereka siap
untuk digunakan.
6.3.5. Faktor Safety Mobilisasi
a. Keamanan Crane
Truck
o Inspeksi Rutin: Pastikan crane truck menjalani inspeksi rutin dan
pemeliharaan sesuai dengan pedoman pabrikan.
o Penggunaan Sling dan Tali: Gunakan sling dan tali pengikat yang
sesuai dengan kapasitas beban. Pastikan semua pengikat dalam
kondisi baik.
b. Keamanan Flatbed

29
o Penanganan Beban: Pastikan beban pada flatbed terdistribusi
dengan merata. Hindari beban yang terlalu berat di satu sisi flatbed.
o Pengikatan: Ikat alat dengan kuat dan aman untuk mencegah
pergeseran selama perjalanan.
c. Komunikasi
o Komunikasi: Gunakan sistem komunikasi yang efektif antara
operator crane, pengemudi flatbed, dan kru untuk koordinasi yang
lancar.
6.3.6. Dokumentasi
o Catat Semua Proses: Dokumentasikan semua langkah mobilisasi,
termasuk inspeksi, pengangkatan, penempatan, dan pengikatan alat.

7. Drilling Equipment
Beberapa komponen atau peralatan pemboran yang diperlukan untuk kegiatan
pemboran diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mesin Bor
2. Pompa Bor
3. Stang Bor AW
4. Pipa Casing HQ
5. Mata Bor
6. Dan Perlengkapan lainya
7.1. Mesin Bor Hidrolic (Jecro 400)
Pada mesin bor putar hidrolik, pembebanan pada mata bor terutama
diatur oleh sistem hidrolik yang terdapat pada unit mesin bor, disamping beban
yang berasal dari berat stang bor dan mata bor. Cara kerja dari jenis mesin bor
ini adala mengombinasikan tekanan hidrolik, stang bor dan putaran mata bor di
atas formasi batuan.
Formasi batuan yang tergerus akan terbawa oleh fluida bor ke
permukaan melalui rongga anulus atau melalui rongga stang bor yang
bergantung pada sistem sirkulasi fluida bor yang digunakan.

30
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam
pemilihan mesin bor yang digunakan, diantaranya meliputi:
 Tipe/ model mesin bor
 Diameter lubang
 Sliding stroke
 Berat mesin bor
 Power unit
 Kemampuan rotasi/ tumbuk per satuan waktu
 Hoisting capacity (kapasitas)
 Dimensi (panjang x lebar x tinggi)

7.2. POMPA ATAU KOMPRESOR


Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada pompa diantaranya adalah:
a. Tipe acting piston
b. Diameter piston
c. Power
d. Dimensi
e. Berat
f. Volume/ pressure
g. Working pressure

Adapun hal - hal yang penting diperhatikan pada kompresor adalah:


a. Tekanan udara yang dihasilkan
b. Volume udara yang dihasilkan per satuan waktu
Pada tahap pemboran lumpur dan kompresor berfungsi sebagai sumber tenaga
untuk mensirkulasikan fluida bor. Jika fluida bor yang digunakan adalah
lumpur, maka sebagai sumber tenaga adalah pompa lumpur, dan jika fluida bor
yang digunakan adalah udara maka sumber tenaganya adalah kompresor.
Adapun pompa/ kompresoe yang digunakan adalah:
 Merk
 Model

31
 Kapasitas
 Dimensi
 Diameter piston
 Berat
 Power
 Volume/ pressure
 Working pressure
7.3. STANG BOR
Stang bor merupakan pipa yang terbuat dari baja, dimana bagian pipa
ujung – ujungnya terdapat ulir, dimana fungsinya sebagai penghubung
antara dua buah stang bor.Dalam kegiatan pemboran, stang bor berfungsi
sebagai:
a. Menstranmisikan putaran, tekanan, dan tumbuka yang dihasilkan oleh
mesin bor menuju mata bor.
b. jalan keluar masuknya fluida bor Panjang stang bor yang umum
digunakan dalam operasi pemboran adalah 10 ft (3m) dan 30 ft (9m),
tetapi hal ini bisa berubah tergantung dengan tujuan dan efisiensi
pemboran.
Kriteria yang harus diperhatiakan dalam pemilihan ukuran, meliputi:
a. Tujuan pemboran
b. Kedalaman pemboran
c. Kekerasan batuan
d. Metode sirkulasi fluida
e. Diameter lubang bor
Adapun rangkaian stang bor yang digunakan dalam operasi pemboran
tergantung dari mekanisme pemboran yang diterapkan.
a. Rangkaian Stang Bor pada Mesin Bor Putar. Rangkaian stang bor
pada pemboran putar hamper semuanya sama seperti pada
penyambungan pipa air. Stang bor yang dipakai pada pemboran
mempuyai banyak ukuran, hal ini berkaitan dengan diameter luar,

32
diameter dalam , jenis ulir dan sebagainya. Setiap pabrik biasanya
memiliki klasifikasi yang berbeda.
b. Rangkaian Stang Bor pada Mesin Bor Tumbuk.Rangkaian stang bor
pada mesin bor tumbuk terdiri dari:

o Mata bor pahat.


o Drill stem, sebagai pemberat dan pelurus lubang.
o Drilling jars, sepasang batang baja yang bertaut yang dimasukkan
untuk melepaskan bit jika tejepit dengan sentakan ke atas.
o Swivel socket, adalah penghubung antara sling dan alat bor ,
diperlukan untuk meneruskan putaran kabel ke alat bor, di perlukan
untuk meneruskan putaran kabel ke alat bor agar pahat dapat
menumbuk ke segala sisi sehingga lubang bor lurus
Adapun stang bor yang digunakan dalam pemboran air tanah
tersebut adalah : Panjang stang bor yang digunakan adalah 30 ft
atau yang berukuran 9 m.

7.4. Pipa Casing


Didalam operasi pemboran pipa casing berfungsi untuk menjaga lubang bor
dari colaps (keruntuhan) dan peralatan pemboran lain dari gangguan –
gangguan.
Ada dua tipe untuk menghubungkan pipa casing, yaitu:
a. Tipe Flash Joint.Dimana penghubungan antara pipa satu dengan pipa
lainya dilakukan secara Langsung. Tipe Flash Coupled Dimana
penghubungan antara pipa menggunakan sebuah coupling.
Beberapa komponen yang terdapat dalam casing, diantaranya adalah:

33
o Casing Swivel Alat ini untuk menghubungkan antara pipa casing
dan stang bor,
o Casing Head Alat ini dipasang di bagian atas casing, untuk
melindungi drat casing bagian atas,
o Casing Shoe Alat ini digunakan untuk melindungi casing bagian
bawah dari kerusakan
o Casing Cutter, Digunakan pada saat apabila didalam lubang casing
terjadi masalah, fungsinya untuk memotong casing pada titik yang
diinginkan,
o Casing Band Alat ini digunakan untuk menjepit pipa casing selama
operassi pengangkatan dan Penurunan.

7.5. Mata Bor (BIT)


Mata bor merupakan salah satu komponen dalam pemboran yang
digunakan khususnya sebagai alat pembuat lubang (hole making tool).
Gaya yang bekerja pada bit agar bit dapat bekerja sesuai dengan yang
diharapkan secara garis besar terbagi atas dua macam, yaitu gaya dorong
dan gaya putar. Keekfetifan penetrasi yang dilakukan pada pemboran
tergantung pada kedua gaya jenis ini. Gaya dorong dapat dihasilkan
melalui tumbukan yang dilakukan pada pemboran tumbuk,pemuatan bit,
tekanan dibawah permukaan.
Gaya putar dapat dihasilakan pada mekanisme pemboran putar
dengan bantuan mesin putar mekanik yang dapat memutar bit (setelah
ditransmisikan oleh stang bor) dan dengan bantuan gaya dorong static
mengabrasi batuan yang ditembus. Gaya dorong yang bersifat static yang
secara tidak langsung turut menunjang gaya- gaya tersebut diatas
misalnya berat dari stang bor dan berat rig.
Faktor- faktor yang harus diperhatiakan dalam pemilihan bit yaitu:
1. Ukuran dan bentuk mata bor
2. Ukuran gigi mata bor
3. Berat mata bor

34
4. Kekerasan matriks.
Adapun beberapa jenis mata bor diantaranya
1. Mata Bor Rotasi
 Mata Bor Pisau
 Air Coring Bits
 Roller Bits
2. Mata Bor Tumbuk
 Cross Bit
 Button Bit
 Chisel Bit
3. Mata Bor Auger
 Tipe Kelly
 Tipe Auger
4. Mata Bor pada Pengeboran Kabel
 Mata Bor Tabung
 Mata Bor Chisel
5. Mata Bor Intan
 Mata Bor Formasi Lunak
 Surface Set Bits
 Impregnated Bits

7.6. PERALATAN PELENGKAP


Adapun mata bor yang digunakan didalam pemboran air tanah yang menjadi
bahan praktikum adalah :
Beberapa peralatan pelengkap yang sering dipakai dalam kegiatan pemboran
diantaranya meliputi:
a. Water Swivel, Alat ini digunakan untuk melewatkan fluida seperti air,
lumpur, dari pompa menuju ke dalam stang bor.
b. Hoisting Water Swivel
Alat ini didesain untuk melewatkan air ke dalam batang bor yang sedang
berputar selama proses pengangkatan dan penurunan.

35
c. Hoisting Plug
Alat ini dihhubungkan pada rope socket dandigunakan ketika proses
pengangkatan dan penurunan stang bor.
d. Hoisting Rope Socket
Bagian atas alat ini dihubungkan dengan hoisting wire rope yang dilas
menggunakan babbit metal, bagian bawahnya dihubungkan dengan
hoisting plug.
e. Pipe Wrench
Alat ini digunkan untuk mengunci dan melepaskan pipa, stang bor, dan
lain – lain.

f. Snatch Block
Alat ini diletakkan di puncak menara pemboran dan digunakan untuk
mengangkat dan menurunkan stang bor core barrel dan mata bor.
Pada kenyataannya, beban yang diangkat atau diturunkan itu terlalu berat,
oleh karena itu digunakan crown block atau traveling block untuk
membantu proses pengangkatan dan penurunan.
g. Travelling Block
Alat ini digunakan bersama dua/tiga buah kabel untuk mengangkat atau
menurunkan peralatan pemboran.
h. Come Along
Alat ini digunakan untuk menurunkan stang bor dan digukan pada
pemboran dangkal
i. Rod Coupling Tap
Alat I ini digukan untuk mengeluarkan batang bor yang rusak dan
dibiarkan tertinggal dalam lubang bor.
j. Rod Band
Alat ini digukan untuk menjepit batang bor yang tertinggal di lubang bor.
k. Knocking Block
Alat ini digunakan untuk menerima pengaruh pada saat hammering untuk
melindungi peralatan bor.

36
l. Drive Hammer with Chain
Alat ini digunakan untuk hammering ketika peralatan bor mengalami
kemacetan.
m. Menara
Terdapat dua menara yang biasa digunkan dalam pemboran diantaranya
adalah derrick
n. Permale Wrench
Alat ini digunakan untuk mengunci dan melepaskan pipa – pipa yang
kecil, seperti kabel core barrael tanpa merusak tabung.
o. Rod Holder
Alat ini digunakan untuk menjepit stang bor pada saat pengangkatan atau
penurunan.
p. Super Strong
Alat ini digunakan untuk mengunci dan melepaskan pipa – pipa dengan
ukuran besar dengan diameter berukuran di atas 100 mm.

37

Anda mungkin juga menyukai